"Mungkin ini sulit untuk dilihat dari sudut manapun. Pengakuan cintaku terdengar janggal dan terkesan dipaksakan. Tapi sungguh, aku bukan lagi berada disisimu karena dua hal itu. Bukan demi harta, bukan juga demi membuatnya cemburu dan tersiksa. Karena iya, aku sedang pelan-pelan menerimamu. Seperti inilah caraku. Dan kuharap kau juga begitu. Aku akan berusaha, takkan menyakitimu lagi, Jiminie..."
myfiancé
Jimin membuka mata di pagi hari dengan suatu perasaan yang berbeda. Ingatannya kembali melayang pada peristiwa semalam di halaman rumahnya.
'Kau dan aku. Mari memulai kembali dari awal. Perbaiki hubungan kita seperti seharusnya. Berikan aku kesempatan untuk memperbaiki segalanya, dan berubah menjadi seperti yang kau harapkan.'
Diam-diam Jimin tersenyum seraya menyentuh bibirnya sendiri, lalu beralih ke kelopak matanya. Whoa, berapa kali Suga menyentuhnya semalam?
Kemudian ia teringat kalung yang melingkar di lehernya.
"Hey, bukankah ini berkatmu? Ayo memulai semuanya dari awal?!" Ucapnya seorang diri.
Tersenyum lagi, persis seorang yang tengah kasmaran. Hampir saja ia lupa waktu jika saja tak melirik jam digital pada nakas disampingnya. "Astaga!" ia pun menyibak selimutnya. Duduk sebentar, mengucek matanya sendiri, lalu beranjak ke kamar mandi.
.
.
.
Ponsel Jimin berdering begitu anak itu sudah rapih dengan pakaiannya, dan kini tengah merapikan tempat tidurnya sendiri. Jimin bukan anak yang terbiasa manja walau dia seorang bungsu. jadi selagi mampu, hanya sekedar merapikan saja dia takkan meminta bantuan para pelayannya.
Kembali pada ponsel yang berdering tanda pesan masuk, Jimin meraihnya lalu membuka pesan itu sambil duduk ditempat tidurnya.
From: Yoongihyungie~
Selamat pagi. Kau sudah bangun?
Jimin terkekeh, yang benar saja?
To: Yoongihyungie~
Pagi ^^ Sudah.
From: Yoongihyungie~
Ada jadwal kuliah?
To: Yoongihyungie~
Ada. Kenapa?
.
.
Sebenarnya dalam hati Jimin berharap-harap, jika Suga akan menjemputnya pagi ini.
.
.
From: Yoongihyungie~
Oh, tidak apa-apa. Yasudah.
.
.
Namun ia juga harus sadar, jika tak mungkin secepat ini Suga berubah total. Harus pelan-pelan, dan Jimin akan sabar menunggunya.
To: Yoongihyungie~
Hm. Hyung ada schedule hari ini? Jangan terlalu lelah ya ^^ fighting!
Tak ada balasan lagi, namun Jimin tak mempermasalahkan itu. Suga mengirimnya pesan singkat sepagi ini pun sudah awal yang baik. Ia pun mengambil tasnya lalu keluar dari kamar.
Saat melewati kamar Hoseok, Jimin sempat berhenti sebentar. Ia yakin, semalam mendengar suara ribut dari kamar hyungnya ini. Apa dia sungguh baik-baik saja?.
Masih dengan rasa penasarannya, ia melangkah dan turun ke lantai bawah.
"Pagi Jin hyung!" Sapanya pada Seokjin seperti biasa.
"Hm. Pagi Jimini. Tunggu sebentar ya? Aku mau bicara sesuatu dulu pada Jung Ahjumma. Tapi kalau kau mau sarapan duluan juga tak apa." Seokjin nampak terburu-buru, dan segera meninggalkan Jimin yang bahkan belum membalas ucapannya lagi.
Tapi akhirnya Jimin hanya menaikkan bahu, lalu duduk di kursi biasa. Bagaimana pun ia akan dan harus menunggu kedua hyungnya.
Iseng-iseng mengecek ponselnya lagi, dan secara kebetulan dia berdering. Satu pesan masuk lagi.
From: Jeon Jungkook
Jimin hyung? Pagiiiiiiiiiiiii \^_^/
"Yaampun..." Jimin terkekeh membaca pesan singkat dari anak itu. Jari-jarinya hendak mengetik balasan sebelum tiba-tiba Hoseok datang dengan terburu-buru.
"Seok-"
Jimin meletakkan ponselnya di meja, lalu menyahuti Hoseok yang nampaknya mencari Seokjin.
"Seokjin hyung sedang bicara dengan Jung ahjumma sebentar. Kau-Hyung!"
Jimin terpaksa menghentikan ucapannya manakala Hoseok pergi begitu saja. Namun ada yang janggal dimatanya. Pergelangan tangan kakaknya itu seperti...di perban? Huh? Dia terluka?
"Hyung! Tunggu! "
Jimin pun beranjak mengejar Hoseok,namun kakaknya itu tak berhenti ataupun menyahut sedikitpun.
"Ada apa dengan tanganmu?" Jimin kembali mengajukan pertanyaan selagi mengejar.
Dan Hoseok tetap bersikeras dalam diamnya. Saat jaraknya sudah dekat, Jimin pun meraih bahu kakaknya itu.
"Hyung,"
Kali ini Hoseok menoleh padanya.
"Jika kukatakan aku sekarat, apa yang bisa kau lakukan?"
Pertanyaan Hoseok membuat Jimin mengerjap bingung.
"N-ne?"
"Kau bisa menyembuhkanku?"
"Hoseok hyung-"
"Siapa yang kau panggil hyung? lepas!"
Hoseok menghempaskan tangannya dengan kasar. Menurunkan kemejanya hingga luka itu tertutup , lalu benar-benar pergi meninggalkan Jimin dalam kebingungan.
"Hos-"
Jimin hendak mengejar lagi, namun tiba-tiba ponselnya di meja berdering. Telepon masuk. Dengan terpaksa ia kembali ke meja makan, walau rasa penasarannya pada Hoseok belum hilang.
Nama Jungkook tertera dilayar, dan dengan segera Jimin menggeser ikon hijau untuk menjawabnya.
"Hal-"
"Jimin hyuuuuuuuuuuuuuungggggg!"
"A-astaga!"
Jimin reflek menjauhkan ponsel dari telinganya begitu mendengar suara nyaring Jungkook disana.
"Kau mengagetkanku," keluh Jimin saat ponsel kembali menempel di telinganya. Bukannya meminta maaf, Jungkook malah merajuk manja.
"Kenapa hyung tak membalas pesankuuuuuu?!"
"A-ahh itu- aku baru saja mau membalasnya, tapi kau lebih dulu menelpon. Jadi-"
"Tidak mau tahu! Balas pesanku dulu, nanti aku menelpon lagi. Kutunggu!"
Sambungan telepon terputus, membuat Jimin menatap layar ponselnya dengan tak percaya "Astaga, anak itu..."
Tak mau Jungkook merajuk lagi seperti tadi, ia pun mengetik balasan pesan berupa sapaan selamat pagi. Tak lama setelahnya, Jungkook kembali menelpon.
"Sudah?" Tanya Jimin malas
"Hm. Nah begitu dong! Tidak baik tahu mengabaikan sapaan orang~ apalagi dari anak tampan sepertiku..." Celoteh Jungkook disana
Jimin hanya memutar bola matanya, lalu duduk. Menunggu Seokjin yang belum kembali juga.
"Hyung?"
"Hm..." Jimin membalas Jungkook dengan gumaman
"Apa hari ini kau sibuk?"
"Memangnya kenapa?"
"Jangan jawab pertanyaanku dengan pertanyaan lagi!"
"Ck." Jimin berdecak pelan. Serba salah juga bicara dengan anak SMA. Perasaan Donghyuck tidak begini? Jungkook memang spesies aneh.
"Aku ada kuliah. Memangnya kenapa?" Tanyanya mencoba sabar
"Oh~ kuliah ya. Jadi kau tidak akan datang kesini?"
"Ne?"
"Junghyun hyung pagi-pagi sekali sudah tak ada. Aku jadi tak ada teman bertengkar-"
"Yah!"
"Ng~ maksudku tak ada teman bicara. Jadi, Jimin hyung tak bisa datang?"
Jimin hendak menjawab, tapi Seokjin tiba-tiba muncul dan duduk ditempat biasa. Itu artinya mereka akan segera sarapan.
"Uhm, Jungkook-ah, Aku mau sarapan. nanti ku telepon balik deh, ya? Sekarang-"
"Jangan!"
"Ha?"
"Jangan dimatikan! H-hyung pakai earphone saja, jadi bisa tetap mendengarku bicara. Aku kesepiaaaaaaan~"
"..." Jimin diam menimbang-nimbang, tak tega juga. Diliriknya Seokjin yang tengah menatapnya seolah berkata hentikan-teleponmu-dan-cepat-sarapan!.
"Baiklah. Tapi jika aku tak membalas ucapanmu kau jangan marah ya?"
"Oke-oke!"
Akhirnya Jimin merogoh tasnya, lalu mengambil earphone. Kemudian memasangkan itu di kedua telinganya.
"Siapa? Min Yoongi?" Seokjin bertanya, Jimin menggelengkan kepalanya.
"Bukan. Ohiya, Hoseok hyung tadi mencarimu. Sepertinya ada yang ingin dibicarakan." Kata Jimin memberitahu
"Ah, benarkah? Dimana dia sekarang?"
"Sudah berangkat..." Jawab Jimin lesu, teringat perkataan Hoseok tadi.
"Oh, tak apa. Nanti kutemui dia di kantor."
"Hm. tapi...pergelangan tangan Hoseok hyung sepertinya terluka. Apa Jin hyung tahu karena apa?"
Seokjin sedikit terkejut, namun berusaha agar terlihat biasa saja.
"Ng~ hanya luka biasa. Sudah, cepat sarapan!"
Untunglah Jimin langsung menurut.
Diam-diam, Jungkook mendengarkan suara Jimin dijauh sana. Rasa ingin tahunya pun langsung muncul.
"Hyung hyung hyuungg~ Kau sedang bicara dengan siapa? Hyungmu?"
"Hm."
"Hoseok ituuu, hyungmu juga?"
"Hm." Jimin mengiyakan selagi mengunyah.
"Wah! apa rasanya punya dua kakak? Aku punya satu saja, dikekang luar biasa. Apalagi sejak aku sakit. Junghyun hyung itu menyebalkan! Kolot sekali."
"..." Jimin masih mengunyah, tak berniat membalas. Tapi dalam hati ia menjawab. Hyungnya memang dua, tapi yang berlaku seperti hyung dan mau dipanggil hyung hanya satu saja. Dia juga yang memperhatikannya. Tidak sampai mengekang, hanya memang sedikit menyebalkan jika sudah cerewet soal kesehatan. Dia, Seokjin yang kini ada didekatnya.
"Jimin hyung?!" Suara Jungkook terdengar lagi.
"Hm,"
"Hey, kau sedang mengunyah ya? Kau sarapan apa? Aku disini hanya diberi bubur dan sup hambar setiap hari. Cih, mereka tidak pandai memasak!"
"..."
"Tapi omong-omong, kau terdengar sexy saat mengunyah-"
"Uhuk !"
Seokjin tersentak saat adiknya itu tiba-tiba tersedak, lalu buru-buru meminum airnya.
"Bisakah kau matikan dulu teleponnya? Makan yang benar!" Hardiknya kemudian, dan Jimin hanya bisa meminta maaf.
"Uh? Hyung? Kau tersedak ya? Duh, maaf-maaf. Aku hanya bicara jujur kok jika kau itu-"
"Diamlah Jeon Jungkook, atau kumatikan teleponnya!" Gertak Jimin, serius. Dan Jungkook langsung tak bisa berkutik.
"Eh-jangan! Baiklah aku diam."
Seokjin hanya menggelengkan kepala melihat adiknya itu. Dengan siapa sebenarnya dia bicara? Bukan sepenting Min Yoongi, tapi sampai mau mengenakan earphone selagi makan begitu.
Aneh sekali.
"Aku ada kegiatan hingga sore, Jungkook-a. Akan kukabari lagi jika sempat. Lagipula operasimu kan minggu depan?!"
"Tapi aku merindukanmuuuu!"
Lagi-lagi Jimin hanya memutar bola matanya saja mendengar nada merajuk dari Jungkook. Sedari tadi sambungan telepon tak terputus sedikitpun. Untunglah dia menurut, diam sampai Jimin menyelesaikan makannya. Dan kini, Jimin sedang berjalan menuju pintu utama dengan earphone yang masih melekat ditelinga, lengkap dengan Jungkook yang terus mengoceh. Anak itu keukeuh meminta Jimin datang ke Rumah Sakit hari ini.
"Hyung?! Mau ya? Datang ya? Ayolaaaaaah~"
Jimin tak menjawab, dan hanya mempercepat jalannya. Dia harus segera mengejar waktu atau jika tidak, ia akan ketinggalan bis nanti.
"Kalau hyung tak datang, aku tak mau melakukan operasi!" Ancam Jungkook, membuat Jimin tertawa mengejek.
"Aigoo~ ancaman macam apa itu? Jadi kau sudah lupa janjimu pada Dokter Park untuk melakukan operasi kalau sudah dapat nomorku? Sekarang kau bahkan menghubungiku sesukamu, mana boleh kau mau melanggar janji begitu?! Dasar anak nakal!"
"Masa bodoh! Yang penting kan aku sudah dapat nomormu,"
"Oh baiklah aku akan ganti nomor." Jimin balik mengancam seraya menutup pintu utama rumahnya.
"Dan aku akan menerormu di bis, lalu membuntutimu hingga rumah. Kau lihat saja!"
Dia berhenti sebentar, berjongkok untuk membenarkan tali sepatunya "Ya Tuhan- Jungkook, apa kau benar-benar anak SMA?! " Lalu berdiri dan melangkah lagi.
"Pokoknya aku akan tetap melilit Jimin hyung!"
"Memangnya kau pikir dirimu ular?"
"Iya. Ular berbisa. Aku akan menggigitmu dan bisa ku akan meracunimu. Menjalar, hingga ke otak. Jadi setiap hari hanya aku yang selalu ada dipikiranmu!"
"Yaampun, kau ini-"
"Ya habisnya Jimin hyung jahat! Menjengukku sebentar saja apa sulitnya? Kita bahkan baru berkenalan singkat, aku mau bertemu denganmu lagiiii~ tak mau tahu! Hyung-harus-datang-hari-ini! Aku akan menunggumu sampai malam."
"Ck. Baiklah-baiklah. Akan kuusahakan." Akhirnya Jimin menyerah. Bicara dengan anak semacam Jungkook takkan ada habisnya jika terus diladeni.
"Nah~ begitu kan enak. Jadi daritadi kita tak perlu berdebat!"
"..."
Jimin tak membalas. Langkahnya terhenti saat melihat Suga dan Hoseok nampak tengah bicara tak jauh darinya.
Ada dua pertanyaan dalam benaknya.
Pertama, sedang apa Suga disini? Bukankah dia tak berkata akan menjemput?
Kedua, kenapa tunangannya itu nampak serius sekali bahkan hingga memegang bahu Hoseok?
Jimin mencoba untuk mencuri dengar pembicaraan keduanya, namun anak SMA di teleponnya itu terus saja mengoceh.
"Jimin hyung?"
"..."
"Halooo~ hyung, kau masih disana?"
"..."
"Jawablah Jim-"
"Yoongi hyung? Hoseok hyung?"
Dilihatnya Suga menurunkan tangan dari bahu Hoseok, lalu menatap dirinya dengan terkejut. Sementara Hoseok hanya diam tanpa menoleh sedikitpun.
"...Jimin...?" Ucap Suga pelan
Jimin menatap mereka dengan bingung, hendak mendekat sebelum ia ingat teleponnya dengan Jungkook masih tersambung.
"Hyung-"
"Nanti aku hubungi lagi, Jungkook-a." Katanya pelan, mematikan sambungan, lalu mencabut earphone dari kedua telinganya. Tak perduli Jungkook akan mengomel disana.
Dengan segera Jimin berjalan mendekati Suga dan Hoseok yang masih mematung.
.
.
.
Suga spontan menurunkan kedua tangannya dari bahu Hoseok, lalu menoleh pada Jimin dengan wajah tegang. Hoseok didekatnya tak memberi respon dan ekspresi yang begitu berarti. Hah, namja itu sekedar merubah posisi pun tidak.
"Jimin...?"
Panggilnya pelan, mengutuk suaranya yang sedikit bergetar.
Jimin mendekati mereka dengan wajah bingung. Dalam hati Suga menerka-nerka, apakah Jimin mendengar semua pembicaraannya dengan Hoseok tadi? Jika iya, bagaimana ia harus menjelaskan? Demi Tuhan, semalam ia baru berjanji akan bersikap baik dan takkan menyakiti tunangannya itu. Masalah ini tentu akan ia jelaskan, tapi bukan sekarang waktunya.
"Sedang apa kalian disini?"
Pertanyaan yang Jimin lontarkan sontak membuat Suga melirik Hoseok lewat ujung matanya. Takut Hoseok akan mengatakan sesuatu yang berbahaya dari mulutnya. Sial, bahkan dia masih memandangi Suga dengan tatapan seperti tadi. Seolah tengah menerawang sesuatu. Akan mencurigakan bagi siapa saja yang melihatnya.
"Jimin-a, kami hanya-"
"Hoseok hyung!"
Hoseok tiba-tiba melangkah pergi sebelum Suga menyelesaikan ucapannya. Diam-diam Suga menghembuskan nafasnya lega. Lalu menoleh lagi pada Jimin yang masih menatap hyungnya yang pergi tanpa menoleh atau mengucap sepatah kata pun.
"Jimin-a," Suga memegang bahu Jimin pelan, membuat anak itu segera menoleh. "Nggg~ kau jangan salah paham. kami tadi hanya-"
"Sejak kapan Yoongi hyung datang?"
"Hm?"
"Ku kira kau tidak akan menjemputku."
Awalnya Suga terdiam sejenak. Jimin malah menanyakan hal lain, apa itu artinya dia tak mendengar apapun? Simpulkan saja begitu.
"A-ah, Kejutan!" Jawab Suga sebisa mungkin terlihat ceria. Memang benar, dia datang pagi ini ingin memberi kejutan untuk Jimin.
"Ha?" Namun tunangannya itu masih mengerjap dengan bingung. Tampak sekali tak terbiasanya dengan perubahan Suga.
"Sudahlah~ ayo berangkat!"
Suga pun segera menarik Jimin menuju mobilnya.
Tanpa menyadari dijauh sana Seokjin menatap mereka dengan pandangan yang sulit dijelaskan.
"Situasi macam apa ini...?"
Sepanjang perjalanan, Jimin hanya memandang keluar walau diam-diam dia melirik Suga yang tengah menyetir. Sebenarnya, dalam hati ia memekik kegirangan. Suga menjemputnya? Oh tunggu. Memberinya kejutan! Lelaki itu datang bahkan tanpa Jimin minta. Biasanya, dipaksa sekeras apapun tunangannya itu akan menolak dengan alasan pekerjaan. Tapi lihat sekarang?
Ya Tuhan!
Dia benar-benar berusaha untuk berubah. Gumam Jimin dalam hati.
"Kenapa diam saja?"
"Ne?!" Jimin mengalihkan pandangannya dari jalanan, menoleh pada Suga disampingnya.
"Kau tak senang aku beri kejutan?" Tanya Suga lagi, sesekali meliriknya.
Jimin tertegun sepersekian detik. Wah! Suga mengajaknya bicara? Biasanya dia akan diam sepanjang perjalanan, jika mengeluarkan suara pun hanya seperlunya saja bahkan terkesan tak niat.
"Atau, kau masih memikirkan yang tadi? Sungguh Jimin, aku dengan Hoseok itu-"
"Eh, bukan. Bukan karena itu. Sudahlah, mengobrol saja apa salahnya? Aku senang jika kau akrab dengan keluargaku." ujar Jimin sambil tersenyum, dan Suga benar-benar merasa lega karenanya.
"Lalu, kenapa kau diam saja?"
"Ngg~ itu...tentu saja karena aku senang~" jawab Jimin pelan. Sangat pelan diakhir kalimat membuat Suga menaikkan satu alis.
"Kau bilang apa?"
"Aku senang, Yoongi hyung." Ulangnya sambil tersenyum.
Suga membalasnya "Syukurlah."
"Kupikir hyung ada schedule hari ini?"
"Memang ada. Pemotretan dan berlatih hingga sore. Mempersiapkan album baru." Ungkap Suga tanpa menatap Jimin.
"Uh? Kalau begitu kenapa repot-repot menjemputku? Nanti kau terlambat..." ujar Jimin khawatir.
Suga tertawa kecil mendengarnya, lalu menoleh.
"Tidak akan. Kau tenang saja Jiminie."
"Uh? A-ah... begitu ya. Yasudah. Terimakasih sudah meluangkan waktu."
Pungkasnya, lalu kembali memandang keluar. Diam-diam dia merasa gugup mendengar panggilan Jiminie dari Suga. Jimin berani bersumpah, jika orang lain yang memanggilnya begitu akan terasa biasa saja. Tapi jika Suga? Dia-
Hah bagaimana mengatakannya?
Ponsel dalam genggamannya berdering. Bukan hanya Jimin yang terkejut, tapi Suga juga.
"Boleh, aku angkat telepon?" Tanya Jimin hati-hati.
Suga mengangguk saja tanpa ambil pusing. Lucu sekali, mengangkat telepon saja sampai meminta iz-
"Ya Jungkook-a?
-Tunggu.
Apa? Siapa? Suga menoleh dengan menaikkan satu alisnya. Kenapa tiba-tiba ia menyesal memberikan izin? Siapa itu Jungkook?
Apakah dia...pasien yang-
Oh, tolong . Perasaan semacam ini kembali lagi dan Suga sungguh tak suka.
"Maaf. Iya-iya, tapi aku tak janji ya? Kalau hari ini aku tak mengabari berarti aku tak bisa. Yah! Besok-besok kan bisa? Hey apa kau lupa aku kan berjanji padamu minggu depan? Kenapa kau memaksa bertemu sekarang sih?"
"..." Suga masih terdiam mendengar tunangannya bercakap-cakap dengan orang bernama Jungkook itu.
"Iya Jungkook iya. Yasudah, aku mau kuliah dulu. Iyaaaa. Yaampun anak ini!"
Jimin pun menyudahi percakapannya dan segera memasukkan ponselnya itu kedalam tas. Sesekali menggerutu pelan.
Suga memperhatikannya dengan lekat.
"Siapa?" Tanyanya kemudian.
"Hm? itu-"
"Jungkook? Siapa dia? Apa pasien yang pernah kau temui di Rumah Sakit tempo hari?" Tebak Suga
Jimin spontan mengangguk "Iya dia pas-" namun detik berikutnya dia tersadar sesuatu. "...tunggu, darimana Yoongi hyung tahu?"
Skak.
"A-ah... itu-memangnya dia siapa? Teman kuliahmu?" Tanya Suga berusaha tak terlihat gugup. Sial, dia hampir tertangkap basah membuntuti Jimin waktu itu.
"Kuliah? Bukan. Dia masih SMA."
"SMA? Lalu bagaimana kau bisa mengenalnya?"
"Kami...beberapa kali naik bis yang sama. Itu sa-"
"Apa? Bis?"
Jimin mengangguk pelan. Sedikit merasa aneh juga karena Suga seperti tengah menginterogasinya begini. Dan keanehan itu semakin terasa saat Suga berkata ;
"Mulai besok dan seterusnya, kau akan ku antar jemput. Jangan naik bis lagi!"
"Ha? Tapi kan-"
"Jika ingin kemana-mana hubungi aku!"
"Kalau kau sib-"
"Demi Tuhan Park Jimin, bisakah kau menurut saja?!"
Suga secara tidak sadar menggertak Jimin hingga anak itu berkedip kaget.
"Ah, maaf. Maksudku-kan supir di rumahmu juga bukan hanya seorang, kenapa selalu naik bis sih? Aku hanya... khawatir saja padamu."
"..."
"Park Jimin? Kau mendengarku kan?"
"Uhm? I-iya."
"Jangan naik bis lagi. Ah, dan juga, jangan terlalu sering berhubungan dengan orang yang tak benar-benar kau kenal. Mengerti?"
"Hm, Aku mengerti, Hyungie."
Lagi-lagi Jimin dibuat kebingungan. Yoongi-nya ini sebenarnya kenapa? Kekhawatirannya berlebihan sekali.
Tak beda, Suga pun diam-diam merasa aneh pada sikapnya sendiri. Dia bahkan tak tahu siapa itu Jungkook. Tapi mendengar Jimin berbicara dengan anak itu di telepon saja sudah membuatnya tak nyaman begini. Apalagi jika membiarkannya bertemu di Bis setiap hari? Memang hanya sebentar. Tapi bukan tidak mungkin kan Si Jungkook-Jungkook itu suka pada tunangannya? Oh dia masih SMA, pasti perilakunya sangat labil. Terlihat dari cara Jimin bicara dengannya tadi, seolah pusing akan permintaannya yang selalu harus dituruti.
"Yoongi hyung?!" sesaat kemudian Jimin memanggilnya
"Ada apa?"
"Berhenti disini saja."
Suga mengerutkan dahi. ini bahkan masih jauh dari gerbang utama kampus.
"Kenapa memang?"
"Ha? uhm...kan biasanya juga begitu? Tak usah sampai gerbang, nanti orang lain curiga."
Ujar Jimin, membuat Suga mengerem mobilnya pelan. Sedikit merasa bersalah juga karena selama ini dia selalu memperlakukan Jimin seperti itu. Menyuruhnya keluar bahkan saat belum sampai. Sekarang Jimin sudah terbiasa, tapi Suga malah merasa sakit.
"Aku turun ya?" Jimin melepas sabuk pengamannya dan hendak membuka pintu mobil, tapi Suga mencegah dengan menjegal tangannya.
"Tunggu!"
Jimin berbalik. "Hn? Oh iya,aku belum bilang terimakasih. Maaf. terimakasih ya Yoon-"
"Kau marah?" Tanya Suga memotong seraya menatap Jimin serius.
"Ha?"
"kuperlakukan seperti itu selama ini, tidakkah kau marah padaku?"
Pertanyaan itu malah membuat Jimin mengedipkan mata dengan bingung yang kentara. Sama sekali tak menunjukkan tanda-tanda marah atau kecewa seperti yang Suga kira.
"Kenapa aku harus mar-"
"Kau itu punya emosi tidak sih?! Apa benar kau manusia?" Suga kembali melontarkan pertanyaan yang membuat Jimin bertambah heran.
"Yoongi hyung, serius, sebenarnya ada apa sih denganmu?"
Suga jadi bertambah gemas mendengarnya.
"Oh my God, kau ini..."
Lalu menarik tengkuk tunangannya itu agar mendekat.
"Huh? Ungghhh-"
"Astaga, Yoon Jeonghan tutup matamu!"
"Hah? Yah Sekooooppp! Lepassss~"
Jeonghan nemekik dan berusaha melepaskan telapak tangan Seungcheol yang menutup matanya.
"Choi Seungcheol! Ih! Lepaskaaan~"
Seungcheol tak menggubris. Dia malah menenggelamkan Jeonghan kedalam pelukannya. Matanya masih menatap pemandangan yang tak jauh dari tempat mereka berdiri. Lalu ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling.
Yaampun, untung tidak ada orang lain disini. Min Suga itu ternyata benar-benar pervert! Rutuk Seungcheol dalam hati.
Oh terang saja, yang ia lihat sekarang adalah Min Suga dan Jimin, sahabatnya sedang-
Hah apa tidak ada tempat selain mobil?! Yang benar saja! Lanjut Seungcheol menggerutu.
"Tsk! Choi Seungcheol! Lepas tidak?!, atau aku akan-"
"Tuh, sudah. Dasar berisik!"
"Huaaah?! OMG OMG OMG! Itu Jimini dan Min-"
"Ssst!" Seungcheol menempelkan telunjuknya dibibir Jeonghan. Meredam jeritan yang bisa saja keluar dari mulut kekasihnya itu.
"Yaampun, Seungcheol-ie Seungcheol-ie! Lihat, apa yang mereka lakukan?!" Bisik Jeonghan gemas, membuat Seungcheol memutar bola matanya. Hanya melihat Suga mencium kelopak mata Jimin saja kekasihnya sudah seheboh itu, apalagi kalau Seungcheol tak menutup matanya tadi? Bisa-bisa dia-
hah sudahlah.
"YaTuhan~ Suga hyung itu romantis sekaliiii~" Jeonghan berucap dengan ekspresi berlebihan, membuat Seungcheol lagi-lagi memutar bola matanya malas.
"Aku juga bisa lebih hot dari itu." Katanya.
Jeonghan spontan mendelik tajam "Bedakan antara hot dengan pervert ya Choi Seungcheol. Kau itu mesum, tak ada romantis-romantisnya sama sekali!"
"Whahah, tapi kau menikmatinya kan- aduh! Sakit!" Pekik Seungcheol saat Jeonghan memukul punggungnya sekuat tenaga.
"Kau dan Suga hyung itu jelas beda. Ah~ beruntungnya Jimini~~~"
"Yah, sejak kapan Min Suga menjadi hyungmu?"
"Tentu saja sejak dia adalah tunangan Jimin- Oh! Park Jiminiiii~~~!"
Jeonghan melambaikan tangannya dengan riang saat melihat Jimin tengah berjalan kearah mereka.
"Kalian sedang apa disini?" Tanya Jimin begitu sampai dihadapan Seungcheol dan Jeonghan.
"Tentu saja melihat-uhuk!"
"Menunggumu. Kami sedang menunggumu disini. Ayo masuk?!"
Seungcheol pun merangkul leher Jeonghan dengan 'erat', lalu membawanya berjalan. Walau merasa sedikit aneh, namun Jimin tak mau ambil pusing. Ia pun mengikuti langkah kedua sahabatnya, sesekali melihat ke belakang. Mobil Suga sudah menjauh. Diam-diam ia melambaikan lima jarinya sambil tersenyum.
Didalam mobil sana, Suga tertawa kecil melihat pantulan dari spion.
"Have a nice day..."
Namun, sejurus kemudian ia kembali teringat pada pembicarannya dengan Hoseok beberapa saat lalu. Seketika air mukanya berubah. Jimin sepolos itu, mana bisa Suga langsung to the point berkata 'Sebenarnya aku dan Hoseok pernah-'
Oh, cukup. Itu akan menyakitinya.
Masih dengan menatap spionnya, Suga berkata dalam hati.
"Mungkin ini sulit untuk dilihat dari sudut manapun. Pengakuan cintaku terdengar janggal dan terkesan dipaksakan. Tapi sungguh, aku bukan lagi berada disisimu karena dua hal itu. Bukan demi harta, bukan juga demi membuatnya cemburu dan tersiksa. Karena iya, aku sedang pelan-pelan menerimamu. seperti inilah caraku. Dan kuharap kau juga begitu. aku akan berusaha, takkan menyakitimu lagi, Jimini..."
Yah , kita lihat saja nanti.
"Whoa~ Jadi benar dia tadi mengantarmu?" Tanya Jeonghan kesekian kali.
"Iya. Ssst~ jangan bicara terlalu keras!" Jimin menjawab seraya memperingatkan.
"Hm, arraseo. Huft, beruntungnya Jimini..." balas Jeonghan nampak iri.
Saat ini mereka bertiga tengah berkumpul ditempat 'biasa'. Duduk di rerumputan taman kampus. Bedanya, kali ini Jeonghan bukan tengah menikmati jaringan WiFi, melainkan merecoki Jimin dengan berbagai pertanyaan. Apalagi jika bukan Min Suga.
Fanboying mode : ON.
Dia bahkan sampai melupakan Seungcheol yang sedari tadi hanya menatap dan mendengarkannya dengan malas. Coba hitung, sudah berapa kali Jeonghan berkata 'Betapa beruntungnya dirimu, Jimini~~' ?
Oh tentu saja Seungcheol cemburu. Memangnya kurang beruntung apa dia bagi Jeonghan?
Tapi bukan itu yang membuatnya malas disini. Diam-diam Seungcheol teringat pembicaraan Suga dan Jimin di toilet tempo dulu. Saat berita pertunangan itu mencuat dan dengan seenak hatinya Suga bantah. Betapa kasar perkataannya di toilet, segalanya masih membekas jelas diingatan Seungcheol. Tapi mungkin tidak bagi Jeonghan. Dia pasti sudah lupa. Makanya anak itu terus merasa iri pada Jimin.
"Jimini-Jimini, aku punya semua mini album dan poster ROCKMANTIC! Terutama Min Suga. Banyaaaak sekali. Kalau aku mau minta tanda tangannya, boleh kan Chim?"
"Nggg~ bagaimana ya-"
"Bolehlah Chim yaaaa?!" Pinta Jeonghan memelas. ia bahkan menyender manja dibahu sahabatnya itu. Jimin tertawa geli, lalu mengangguk.
"Hm. Akan kuusahakan."
Tebaklah betapa riangnya reaksi Jeonghan sekarang. Benar-benar Fanboy. lama-lama Seungcheol gerah juga.
"Yatuhan~ Yoon Jeonghan, bisakah kau berhenti menjadi fanboy jika ada aku?!" Protesnya sambil menarik Jeonghan agar menjauh dari Jimin. Kekasihnya itu malah mencibir.
"Cemburu bilang saja Sekooopppp~~~"
"Hah?"
"Lihat deh Jim, beginilah kalau dia sedang cemburu. tak mau mengaku." Adunya pada Jimin yang lagi-lagi hanya ditanggapi dengan tawa kecil.
"Haha~" Seungcheol tertawa garing "...memangnya hanya kau yang bisa Fanboying begitu? Minggir! Aku mau dekat Jimin!"
"Eh- eh! Yah Choi Seungcheol! Pelan-pelan!"
Seungcheol pun menyeret Jeonghan menjauh, lalu menempati posisinya. Jadi sekarang Seungcheol lah yang duduk ditengah-tengah. Jeonghan hanya berkomat-kamit tak jelas. Apa-apaan dia.
"Maksudmu kau mau Fanboying pada Jimin begitu? Kau pikir aku akan cemburu?"
Seungcheol tak perduli, dan memilih bicara dengan Jimin.
"Jimin-a?"
"Hm?"
"Pinjam ponselmu?" Pinta Seungcheol kali ini. Jimin menurut saja walau bingung. Ia mengambil ponsel dari tasnya.
"Ini. Mau apa ?" Tanyanya.
Seungcheol tak menjawab. dia malah mengeluarkan ponselnya juga dari saku. Kemudian merogoh sesuatu dari tasnya. Jeonghan dan Jimin hanya memperhatikan dengan diam.
"Nah! Selesaaaai~" Serunya girang. Dia baru saja memasangkan Flipcover berwarna Biru Shappire polos pada ponselnya dan ponsel Jimin. Sebut saja mereka kembar.
"Ini untukmu." Kata Seungcheol sambil menyerahkan ponsel Jimin
"Whoah~ warnanya cantik. Untuk ponselku?"
Seungcheol mengangguk.
"Sebenarnya untukku dan si cerewet di sampingku ini. Tapi katanya dia lebih suka warna hijau, yasudahlah. Sayang jika flipcovernya kubuang. kau suka?"
"Suka." Jimin mengangguk antusias "Terimakasih ya. Tapi...Jeonghan tak marah kan?" Tanya Jimin hati-hati pada Jeonghan yang nampak diam saja dari tadi.
"Ha? T-tidak kok Jimini. Hanya flipcover saja kenapa harus marah?"
"Ya barangkali kau cemburu gitu?!" Seungcheol menyela, dan Jeonghan malah tertawa hambar.
"Aku? Cemburu pada flipcover? Kau pasti bercanda."
Seungcheol hendak membalas ucapan pacarnya itu, namun sebuah suara tiba-tiba memanggilnya.
"Scoups hyung!"
Jimin dan Seungcheol menoleh, tapi tidak dengan Jeonghan. Seorang laki-laki yang mengenakan beanie merah berjalan kearah mereka. Seungcheol pun segera berdiri.
"Hai! oh, halo Jimin hyung, Jeonghan hyung!" Sapanya begitu sampai didekat mereka. Jimin membalas dengan senyum. Lain dengan Jeonghan yang memasang wajah flatnya.
"Oh, Wonwoo. Ada apa?"
Namja bernama Wonwoo itu tersenyum "Nanti sore jadi kan latihan bersamaku?" Tanyanya.
Seungcheol mengangguk cepat "Tentu saja!"
"Baguslah. Kukira akan absen semua. Mingyu dan Hansol tidak akan datang. Uhm, tapi hyung, aku harus pulang dulu sebentar. Ada sesuatu yang harus ku ambil dirumah. Tak apa kan menungguku?"
"Ohahaha, tak apa. Aku akan menunggu. Oh atau mau kuantar pulang dulu nanti?" Tawar Seungcheol
"Kau mau mengantarku?"
"Hm. Tapi aku tidak bawa mobil. Naik motor tak masalah kan?"
Wonwoo tersenyum senang dan mengangguk.
"Baiklah. Terimakasih ya Seungcheol-ie hyung!"
"Hey, kita kan teman lama. Tak usah canggung begitu."
Dua namja itu tertawa bersama.
Jimin yang masih duduk menatap Seungcheol dan Wonwoo serta Jeonghan bergantian.
Maaf, tapi Jimin mati-matian menahan tawanya sekarang. Bagaimana tidak? Jeonghan nampak sekali tak sukanya melihat perbincangan Wonwoo dan sang kekasih. Anak itu bahkan secara tak sadar meremas-remas rumput didekatnya.
"Yaampun, apa dia sedang cemburu...?" batin Jimin.
Peluncuran album semakin dekat. Begitupun dengan Konser pertama mereka, ROCKMANTIC. Sekarang nyaris pukul 16.00, itu artinya mereka berempat sudah berlatih kurang lebih selama 4 jam. Tanpa henti. 4 jam sebelumnya, mereka sempat melakukan pemotretan dan interview untuk salah satu majalah.
Jelas, kini semuanya luar biasa kelelahan. Wheein terlihat tengah menenggak minumannya dengan tak sabar. Menyanyi berjam-jam membuat tenggorokannya serasa kering. Dowoon tiba-tiba merangsek kearahnya lalu merebut botol milik Wheein. Sang empunya sempat protes namun terlalu lelah untuk mengomel, jadilah dia mengalah dan mengambil minum yang baru.
Lain Wheein dan Dowoon, lain pula Mina yang malah sibuk memperhatikan Suga. Gula nya itu segera mengemas barang-barangnya tak lama setelah menghabiskan satu botol minum. Nampak buru-buru sekali.
"Gula," Mina berdiri lalu menghampiri Suga yang masih sibuk memasukan handuknya kedalam tas.
"Hm?" Sugamenoleh dan tersenyum.
"Kau mau langsung pulang?" Tanya Mina, dan Suga nampak berpikir sejenak kemudian mengangguk pelan.
"Kenapa?" Dia bertanya balik sambil menarik retsleting tasnya. Lalu menyampirkannya di kedua bahu.
"Ngg~ aku...sebenarnya mau mengajak gula ke suatu tempat." Jawab Mina sedikit ragu.
"Kemana?"
"Hm-aku masih belum menentukan. Tapi kalau gula tak bisa ya-"
"Memangnya dalam rangka apa kau mengajakku keluar?"
"Karena gula sudah mengajariku membuat lagu? Yah, Walau awalnya aku sedikit kurang puas dengan hasilnya, tapi begitu tadi kita coba mainkan ternyata lumayan juga. Dan itu berkatmu, gula. jadi-"
"Jadi kau mau mentraktirku?"
Mina mengangguk, dan Suga tertawa pelan.
"Aku senang dengan ajakanmu. Tapi maaf, aku benar-benar harus pulang sekarang." Ucapan Suga sedikit membuat raut wajah Mina tak senang. Namun Suga dengan cepat menepuk pundaknya sambil tersenyum menenangkan.
"Hey Mina-ya,"
"Hm?"
"Lagumu bagus. Two thumbs up!" Suga kini mengacungkan kedua ibu jarinya. "Lagu kalian semua bagus, dan aku senang. Itu semua berkat usaha kalian masing-masing. Jadi, kau tak perlu repot-repot mentraktirku. Segera pulang saja, siapkan energi untuk latihan besok."
"..."
"Kalian juga, Dowoon-a, Wheein-a?"
"Siap leader-nim!" Jawab mereka serempak. Sementara Mina hanya mengangguk paham.
"Aku mengerti, gula."
"Yasudah, aku duluan ya? Sampai jumpa besok!" Tukas Suga lalu keluar dari ruangan ini.
Mina kembali duduk didekat dua rekannya yang lain.
"Whoah, tidakkah menurut kalian Suga hyung aneh?" Tanya Dowoon tiba-tiba.
"Aneh? aneh bagaimana maksudmu?" Wheein menanggapi.
"Yaa aneh. Setahuku, dia itu sangat gila latihan. Jadwal latihan sudah habis pun dia biasanya tetap disini. Datang paling pertama, dan pulang paling terakhir. Tapi sekarang? Oh aku jadi curiga..." Penuturan sang drummer membuat suasana menjadi hening. Kedua rekannya juga sama-sama merasakan hal itu.
"Kau benar, Woon-a..."
"iya kan Wheein-a? Tapi... kira-kira kenapa ya?"
"Nggg~"
"Apa dia punya pacar?"
"Ha?"
"Whoa! Jangan-jangan benar rumor pertun-"
"akh! Tidak-tidak! Aku tidak mau berprasangka buruk terhadap leaderku sendiri. Jangan berpikir yang tidak-tidak Yoon Dowoon!" Wheein tidak mau melanjutkan perbincangan semacam ini dan akhirnya memilih meneguk minumannya lagi.
Mina yang diam sedari tadi, kini menggumam dalam hati.
'Jangan-jangan pertunangan itu benar adanya...?'
.
.
.
Tanpa mereka ketahui, Lee Jaehwan diam-diam berdiri didepan pintu ruangan ini. Celahnya sedikit terbuka, memungkinkan Jaehwan bisa mendengar semua percakapan dari ruangan yang sebenarnya kedap suara itu. Pelaku yang ceroboh menutup pintu dengan tak rapat, kini tengah berjalan menjauh tanpa sadar sama sekali jika CEO nya memperhatikan sedari tadi. Anak itu melangkah dengan cepat, sedangkan matanya tak lepas dari layar ponsel, nampak sibuk mengetik sesuatu. Jaehwan perlahan melangkah satu demi satu. Menjauhi ruang latihan, sambil bermonolog pelan.
"Mencurigakan. Benar, mencurigakan."
Tap...Tap...Tap~
"...pembohong tetaplah pembohong. Pembangkang takkan semudah itu menurut. Bukannya bersyukur masih tetap ku pungut dan ku terbitkan, kau malah semakin menjadi. Kali ini, apalagi yang kau sembunyikan Min Yoongi?"
Jaehwan mengeluarkan ponsel dari sakunya.
Menghubungi seseorang.
"Ikuti kemana dia pergi!"
From: Yoongihyungie~
Jimin-ie, aku menunggumu ditempat biasa.
Hari ini Jimin pulang sedikit lebih sore dari biasanya. ada beberapa kegiatan yang harus dia ikuti. Setelah semua itu usai, Jimin segera beranjak keluar dari area kampus. Saat itu juga ia menerima SMS dari tunangannya. Dari gerbang utama sini, ia dapat melihat sebuah mobil terparkir. Mobil yang amat ia kenal.
Disana, Min Yoongi menunggu. Ditempat ia biasa menyuruh Jimin turun sebelum sampai di gerbang. Dengan senyum mengembang, Jimin berjalan cepat, menghampiri tunangannya.
.
.
.
Tok tok tok!
Kaca mobil terbuka perlahan, dan benar Suga ada didalamnya. Bukannya masuk, Jimin malah menyapa tunangannya itu dari luar .
"Hai! Yoongi hyung sudah lama menunggu?" Tanyanya. Suga menggelengkan kepala. "Memangnya pekerjaanmu sudah selesai?"
Kali ini Suga terkekeh "Kalau belum, mana bisa aku ada disini?"
"Ha? Oh iya..."
"Yasudah, naik cepat."
Jimin menurut, lantas membuka pintu mobil Suga, dan duduk disampingnya seperti biasa. Dilepasnya tas yang sedari tadi ia pakai, meletakkan ponselnya di dashboard, untuk kemudian mengenakan sabuk pengaman, dan berakhir dengan memeluk tasnya sendiri.
Diam-diam Suga memperhatikan gerak-gerik tunangannya itu dengan senyum tertahan. Tak lama kemudian ia melajukan mobilnya.
"Terimakasih ya..." ucap Jimin beberapa saat kemudian.
Suga menoleh sebentar "aku bahkan belum mengantarmu hingga rumah, kenapa hobi sekali bilang terimakasih?"
Jimin menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Nggg~ aku hanya merasa tak enak saja. Kau pasti lelah seharian ini, dan sekarang malah menjemputku." Ujarnya.
Suga terkekeh lagi, lalu satu tangannya beralih untuk mengusak rambut Jimin sejenak sambil berkata.
"Tak masalah, Jimin-ie."
Jimin tertegun sejenak.
"A-ah... begitu ya. Syukurlah jika tak apa-apa."
Jimin yang baru pertama kali diperlakukan seperti itu pun memilih untuk bungkam dan memalingkan pandangannya keluar. Suga berubah tanpa ia duga, dari kasar menjadi lembut begini membuat Jimin tak terbiasa dan jadi gugup sendiri. Ini terlalu cepat. Ia bahkan tetap menutup mulutnya hingga Suga kembali bersuara. Lampu lalu lintas tengah berwarna merah, jadi dia lebih leluasa untuk bicara sambil menatap Jimin.
"Hey,"
"Hm?" Jimin menoleh, mendapati Suga yang tersenyum kearahnya.
"Kita kaku sekali ya?"
"..."
Tiba-tiba Suga meraih satu tangan Jimin yang tengah memeluk tasnya. Lalu mengaitkan lima jari mereka masing-masing.
"Tanganmu dingin. Oh, atau ACnya terlalu dingin?" Suga bertanya, dan Jimin spontan menggelengkan kepala.
"T-tidak. Tidak hyung..."
Demi Tuhan, tangannya memang dingin tapi percayalah dalam dirinya panas tak karuan entah kenapa.
"Hm. Kalau begitu apa kau gugup?"
"Ne?!"
"Tak apa, aku juga."
"..."
"Makanya, ayo belajar lebih dekat. aku juga sedang mencoba..." katanya, sambil mengeratkan tautan mereka.
Lampu sudah hijau, dan Suga melanjutkan menyetir dengan satu tangan saja. Jimin masih diam untuk beberapa saat. Menatap tautan tangannya dengan Suga. Ia baru menyadari jika tangan tunangannya pun sama dingin. Benarkah dia juga gugup? Sesaat kemudian Jimin tersenyum.
"Ya, ayo mencobanya Yoongi hyung..."
Dan Suga mengangguk juga disertai senyuman.
Benar-benar berubah.
Sepasang mata Jimin tak sengaja menangkap pantulan kursi belakang dari kaca yang terdapat di mobil ini. Ia pun memalingkan wajahnya ke belakang. Benar. Ada sesuatu disana.
Dua buket bunga dan juga-
...sebuah kotak beludru berwarna biru. Perhiasan?
"Ada apa?" Tanya Suga terlebih dahulu. Jimin memalingkan tatapannya.
"Itu, bunga dan perhiasan...punyamu ?" Jimin balik bertanya. Dan sepertinya Suga langsung mengerti. Dia mengangguk. "Untuk siapa? Ibumu?" Kali ini Jimin menerka, sedangkan Suga menggelengkan kepalanya. "Uhm...Yoonjae hyung dan pacarnya?" Jimin menebak lagi. Suga malah tertawa kecil. "Kenapa tertawa?"
"Si manja itu...aku bahkan ragu dia punya pacar." Ujarnya "Bukan, itu bukan untuk mereka."
"Uh? lalu untuk siap-"
"Kita."
"Ne?!"
Suga menoleh "untuk kita berdua, tentu saja." Kemudian tersenyum. Sementara Jimin masih tertegun ditempatnya. Belum sempat ia berkata, Suga kembali mendahuluinya.
"Aku akan mengajakmu ke suatu tempat."
Lalu dia membelokkan stirnya, berlawanan dengan arah rumah Jimin.
"Kemana hyung?"
Tapi Suga tak menjawab dan hanya semakin mengeratkan saja genggaman tangannya dengan Jimin.. Membuat tunangannya itu penasaran.
Ruang Direktur
Jung Hoseok
Seokjin sudah mengetuk pintu itu berulang kali. Namun tak ada respon jua. Jadilah ia memutuskan untuk membukanya dan masuk. Sunyi. Tak ada seorangpun disana. Pantas saja tak ada yang menanggapinya. Padahal ini belum jam pulang kantor.
"Kemana dia?"
Seingatnya, beberapa menit yang lalu Hoseok masih terlihat menemui beberapa klien. Anak itu sangat sibuk membuat Seokjin sulit untuk menemuinya dan mengajak bicara. Seokjin ingin bertanya tentang kondisi tangannya, dan juga...
...perihal Min Yoongi.
Ada sebenarnya hubungan Hoseok dengan anak itu?
Cklek~
Pintu tiba-tiba terbuka, dan muncullah seorang wanita. Dia Park Junghwa, sekretaris Hoseok.
"Oh, Manager Kim?!"
Seokjin menoleh "ya, ah sekretaris Park, kemana Direktur Jung? Apa dia ada pertemuan dengan klien di luar kantor?" Tanyanya kemudian.
Junghwa berjalan mendekat, lalu menggelengkan kepalanya.
"Kalau diluar, tidak ada. Hanya saja sebenarnya Direktur Jung masih harus menemui seorang lagi pukul 6 sore nanti. Tapi, beberapa menit lalu beliau pergi meninggalkan kantor." Jawabnya.
Seokjin mengerutkan dahi.
"Pergi? Apa dia bilang padamu mau kemana?"
Junghwa lagi-lagi menggelengkan kepalanya "Beliau hanya berpesan untuk menunda pertemuannya menjadi besok. Lalu pergi tanpa mengatakan tujuannya."
Seokjin semakin bingung "oh...begitu. Yasudah. Aku permisi."
"Baiklah, manager Kim."
Dia pun pergi dari ruangan itu sambil bertanya-tanya dalam hati. Hendak pergi kemana Hoseok dengan kondisi tangan seperti itu?
"Kemana kau Jung Hoseok?"
Rasa penasaran Jimin perihal kemana Suga akan membawanya pun kini terjawab sudah. Mobil Suga memasuki gerbang besar, dan mereka langsung disambut area luas dan pemandangan serba hijau disana. Disisi kanan dan kiri jalan terdapat pohon-pohon yang berjejer dengan rapi dan tertata. Selain jalan yang dipakai untuk jalur mobil, semua area disini berlapiskan rerumputan.
Butuh satu tikungan lagi, dan akhirnya mobil berhenti dibawah sebuah area menanjak. Keduanya melirik sebuah Plang bertuliskan "P A R K" di pintu masuk. atau, sebut saja itu sebuah gapura berukuran sedang.
Sebenarnya, tanpa melihat atau membaca tulisan itu pun Jimin sudah tahu tempat apa ini semenjak memasuki gerbang tadi.
Ini adalah,
...pemakaman keluarga.
.
.
.
Suga dan Jimin berjalan seiringan saat menaikki anak tangga menuju atas bukit sana, tempat pusara orangtua Jimin berada.
Jimin memeluk dua buket bunga mawar putih pemberian Suga, sedangkan tunangannya itu menggenggam sebuah kotak didalam saku jaketnya.
"Kupikir hyung mau mengajakku kemana,"
Suga menoleh dan tersenyum "Kau tak kecewa kan kuajak kemari?"
Jimin menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Tentu saja tidak. Justru aku berterimakasih karena kau membawaku kesini. Sudah lumayan lama aku tak mengunjungi ayah dan ibu."
"Dan ini pertama kalinya bagiku. Wah, aku tak percaya ini pemakaman. Aku harus mengakui jika Keluarga Park benar-benar hebat." Ujar Suga terkagum.
Sudah setengah dari anak tangga yang mereka lewati. Itu artinya, hamparan hijau dibawah sana sudah mulai terlihat. Suga berhenti sejenak untuk mengedarkan pandangannya ke seluruh area disini.
Dalam hati terkagum tak percaya.
Pemakaman seindah ini benar-benar ada! Dulu ia hanya mendengar cerita dari orang lain, bahwa terdapat sebuah pemakaman milik para konglomerat yang sangat mewah. Bahkan saking mewahnya, kau bisa bermain golf disana jika mau. Tentu saat itu Suga tak mempercayainya. Namun kini, semuanya harus ia telan bulat-bulat.
Pemakaman seindah dan semewah ini, tentu hanya bisa disewa oleh mereka yang punya kantong tebal. Jadi, tebak saja betapa kayanya keluarga Park ini. Dan Suga, harus merasa beruntung karena dapat merasakan langsung semua ini berkat statusnya sebagai tunangan seorang Park Jimin.
"Benar-benar hebat..." ulang Suga sambil kembali melanjutkan langkahnya.
Jimin tertawa kecil "Yoongi hyung juga hebat, bisa tahu bunga kesukaan ibuku." Ujarnya.
"Ohya?"
"Hm!" Jimin mengangguk "ayah pernah bilang padaku jika ibu sangat suka mawar putih."
"Whoa, syukurlah. Sebenarnya aku buruk dalam memilih bunga. Jadi asal membeli saja."
"Tak apa, terimakasih ya."
"Kau ini...hobi sekali bilang terimakasih."
Dan Jimin hanya tertawa saja. Mau bilang apa lagi memangnya?
.
.
.
Jimin meletakkan sebuket mawar putih itu diatas masing-masing pusara orang tuanya yang berdampingan.
"Selamat sore ayah, ibu." Jimin membungkuk "...maaf karena baru sempat datang lagi. Jangan marahi aku, ya ? Wah! Kalian nampak semakin indah. Bahagia sekali ya dapat berdampingan?"
Suga dibelakangnya hanya memperhatikan dengan diam.
"Ayah, ibu...tebak! Aku kemari dengan siapa? Benaaar! Dengan tunanganku. Dia lah yang membelikan ayah dan ibu bunga ini." Jimin menoleh , "Yoongi hyung!"
"Hm?"
"Kau mau beri salam?"
Suga mengangguk cepat. Tentu saja, ini memang bagian dari rencananya. Ia pun maju dua langkah hingga sejajar dengan Jimin.
"Nah, ini dia tun-"
"Aku akan memperkenalkan diriku sendiri." Potong Suga, dan Jimin mengangguk paham sambil tersenyum.
"Baiklah. Silahkan."
"Hm. Tapi tunggu, aku harus panggil apa? Tuan dan Nyonya? Paman dan bibi? Atau-"
"Ayah dan ibu. Itu saja."
"apa itu boleh?"
"tentu saja!"
"Oh...baiklah."
Suga pun menghela nafasnya cukup dalam. Kedua tangannya masih tersembunyi dibalik jaket, dan satu diantaranya diam-diam menggenggam kotak beludru itu cukup erat.
"Ekhm. Selamat sore ayah, ibu. Aku Min Yoongi. Senang bisa datang kemari untuk pertama kalinya." Ucapnya setelah membungkuk hormat.
Kini giliran Jimin yang memperhatikan tunangannya itu dalam diam. Sesekali dia tersenyum.
"Izinkan aku untuk mengatakan sesuatu pada ayah dan ibu..." Suga menghela nafasnya sejenak , lalu melanjutkan "...Satu tahun lebih ini, aku menyandang status sebagai tunangan dari putra kalian. Iya, aku yang bukan siapa-siapa ini dengan beruntungnya menjadi tunangan seorang Park Jimin yang begitu kalian banggakan. Keluargaku, dapat menikmati segala kemewahan lagi berkat kebaikan keluarga kalian juga. Tapi tahukah kalian, apa saja yang malah ku balas untuk semuanya itu?"
"..."
Jimin menautkan alis. Yoongi-nya nampak serius sekali kini. Ia bahkan menghela nafas beratnya berulang kali.
Sebenarnya apa yang sedang dia katakan?
"Aku, melukai putra kalian berulang-ulang kali hingga tak terhitung jumlahnya lagi. Berkata kasar padanya, tapi dia membalas dengan lembut padaku. Tak mengakuinya dihadapan orang banyak, tapi dia malah membelaku didepan semua keluarganya. Menganggap seolah-olah dia benalu bagi karirku, tapi justru dialah yang paling mendukungku."
"..."
"Dia, Park Jimin yang selalu bersikap seolah baik-baik saja dan pura-pura tak terluka. Dan orang yang melukainya, adalah aku. Min Yoongi yang bodoh dan tak tahu berterimakasih."
Kali ini Suga menarik nafasnya dengan susah payah. Jimin hanya mendengarkan dengan ditemani hembusan angin sore yang perlahan datang. Poni rambutnya terusak, kesana kemari karena angin. Tapi Jimin tak bergerak sama sekali selain menunduk, mendengarkan dengan seksama.
"Kalian pasti kecewa dan murka padaku, benar kan? Aku tak tahu harus bagaimana, tapi...aku benar-benar meminta maaf kali ini. Aku...menyesal. Maafkan aku. Maafkan aku..."
Suga menunduk dalam, dan Jimin menatap tunangannya itu dengan pandangan sendu. Kenapa Yoongi-nya sampai bersikap begitu? Sungguh, Jimin sudah memaafkan segalanya. Semua permintaan maafnya sudah Jimin terima, dan ajakan untuk memulai dari awal pun Jimin iyakan dengan senang hati. Jadi, untuk apa lagi dia-
"Maafkan aku,"
"Yoongi hyung, hyung!"
Jimin memegang bahu Suga, menahannya yang hampir saja berlutut didepan pusara orang tuanya.
"Cukup, hyung. tidak perlu begini." Lirihnya masih tetap memegang bahu Suga. Namun tunangannya itu tak menggubris bahkan sekedar menoleh. Matanya yang mulai memerah bahkan berkaca-kaca, hanya menatap kosong pada kedua pusara didepannya.
"Aku bersalah. Hukum saja aku. Apapun, apapun akan kuterima. Asalkan-"
"Yoongi hyung,"
"-asalkan jangan memintaku meninggalkannya. Karena, Min Yoongi bodoh yang dulu menolaknya mati-matian, kini bahkan tak bisa melupakannya barang satu kedipan mata pun."
"..."
"Makadari itu, izinkan aku untuk memulai segalanya dari awal. Memperlakukan dia selayaknya dia memperlakukanku. Mencintainya sebagaimana dia mencintaiku. Menebus segala kesalahanku sebagaimana mestinya. Kumohon, satu kali saja. Beri aku kesempatan untuk memperbaiki segalanya. Ini permintaan dari Min Yoongi bodoh yang baru menyadari perasaannya, pada seorang Park Jimin..."
Pegangan Jimin melemas, tangannya menjuntai bebas. Mendengar semua perkataan dan penyataan Suga membuat airmatanya mengalir deras. Perasaan apa yang dia maksud?
Suga mencintainya? Sungguh?
Dia bahkan mengungkapkan itu dihadapan ayah dan ibunya. Inikah alasan Suga membawanya kemari?
Harusnya Jimin senang, tapi kenapa dia malah merasa perih begini?
Suara isak tangis disampingnya membuat Suga terpaksa menghentikan kalimat yang sebenarnya masih ada untuk ia utarakan. Tapi tunangannya itu malah menangis duluan, mau tak mau Suga segera berbalik badan menghadapnya.
"Astaga Park Jimin! Aku mati-matian menahan airmataku, tapi kau malah menangis begini. Berani-beraninya. Hentikan!" keluhnya, tak sepenuhnya marah. Hanya saja dia...gemas?
"Hiks-"
"Kubilang hentikan, Park Jimin, orangtuamu bisa menyangka aku menyakitimu lagi. Jangan menangis!"
Bukannya berhenti, Jimin malah semakin mengeraskan suara tangisannya. Dan itu membuat Suga menatapnya serba salah. Demi Tuhan, tujuannya berbuat ini bukan untuk membuat anak itu menangis.
"Sudahlah," Suga pun meraup Jimin kedalam pelukannya "...kau ini. Kusakiti berkali-kali tak pernah menangis. Hanya karena kalimat semacam itu sampai tersedu-sedu begini. Harusnya aku yang menangis, kan aku yang sedang mengakui dosa. Kenapa kau jadi cengeng sekali? Sudah."
Suga mengusap dan menepuk pelan punggung Jimin yang bergetar. Jika saja bukan sedang didepan pemakaman, Suga sudah menyambar bibir anak itu agar berhenti terisak begini.
"Park Jimin? berhenti tidak?"
Suga pun menjauhkan tubuh mereka, tidak benar-benar jauh sebenarnya. Hanya memberi jarak agar bisa menatap wajah basah Jimin.
"Aku memang tak berguna. Niatku membawamu kemari untuk menebus kesalahan, tapi kau malah semakin sedih dan menangis. Yasudah, kita pulang saja." Ujar Suga nampak kecewa. Ia pun hendak beranjak dari sana sebelum suara Jimin menghentikannya.
"Aniya! Aku-hiks-aku tak menangis!" Kilahnya sambil menghapus kasar airmatanya sendiri.
Suga hanya menatapnya dengan lekat.
"Aku...hiks- huh, tidak. Tidak. Aku tidak menangis, hyung..." Katanya susah payah, "...jangan pulang dulu," pintanya kemudian.
Suga melangkah lebih dekat. Mereka kembali berhadapan.
"Tentu saja tidak akan. Karena ini belum selesai."
Jimin menatap Suga tak mengerti.
"Putar balik tubuhmu!" Suga memberi instruksi.
"Ne?"
"Kubilang, putar balik. Seperti ini..."
"Oh,hyung!"
Jimin tak sempat melakukan apa-apa saat tiba-tiba Suga memutar tubuhnya.
Semula posisi mereka saling berhadapan, namun kini punggung Jimin menempel dengan bagian depan tubuh Suga. Lengkap dengan satu tangan laki-laki itu melingkar erat dipinggangnya.
Semilir angin senja datang semakin kencang, namun pelukan itu membuat keduanya sama sekali tak merasa kedinginan.
"Dengar Jimin,"
"..."
"Aku mau melamarmu."
"Apa?!"
Tangan yang menggenggam sebuket bunga mawar putih terjuntai lemas. Sepasang matanya memancarkan sorot luka yang bertambah lekat dari detik ke detik.
Jarak mereka jauh, namun cukup dekat bagi dia untuk melihat dan memperjelas pandangannya jika...
Diatas sana,
Kedua sejoli itu tengah berpelukan dengan eratnya.
Sejurus kemudian, ia menyesali keputusannya membawa langkah kaki kemari, mengapa melarikan diri ke tempat ini, kenapa ia tak diberi kesempatan untuk sekedar merenung seorang diri?
Kelak, kemana aku harus bersembunyi? Dimana aku bisa mengubur lukaku sendiri? Kau berdua berlalu lalang didepanku tanpa bisa aku hindari, lantas kemana aku harus pergi?
"Aku bukan seorang yang romantis." Bisik Suga tepat ditelinga Jimin. Membuat anak itu sedikit bergidik merasakan hembusan nafas Suga disekitar lehernya.
"..."
"Mengatakan kalimat sepanjang tadi pun aku sudah merasa seperti bukan diriku sendiri." Suga terkekeh pelan, dan Jimin tetap bungkam "...tapi ini sungguh aku. Min Yoongi yang ingin melamarmu. Apa kau mau?"
Jimin menolehkan kepalanya, bertemu pandang dengan mata Suga yang begitu dekat.
"Min Yoongi,"
"Orang lain melamar kekasihnya ditempat-tempat bersejarah, indah, penuh sorak. Tapi lihat yang kulakukan? Aku malah membawamu ke pemakaman begini. Benar-benar tak romantis kan?"
"..." Jimin hanya berkedip pelan.
"Tak apa. Karena tujuanku bukan itu. Aku, hanya ingin orangtuamu ikut merasakan kesungguhanku saja." Pelukannya pada pinggang Jimin semakin erat, "Satu setengah tahun lalu,dengan disaksikan banyak pasang mata, aku menyematkan cincin dijarimu dengan perasaan tak menentu. Benci, marah, muak, bercampur jadi satu. Tapi sekarang, aku akan mengulangnya hanya dihadapan orang tuamu, dengan satu perasaan abstrak yang belakangan aku ketahui bernama...Cinta?"
"..." Lagi-lagi Jimin hanya mampu mengedipkan matanya saja tanpa balas berkata.
"Putar wajahmu kedepan!"
"N-ne?"
"Jangan menatapku begitu, atau aku akan menciummu disini."
Sebenarnya hanya gurauan, tapi Jimin menganggapnya serius dan akhirnya memalingkan wajah kedepan dengan cepat.
Suga tertawa tanpa suara.
Diam-diam tangannya kini berpindah, menuju leher Jimim. Pelan-pelan, membuka pengait kalung yang anak itu kenakan.
"Yoongi hyung, kau mau apa?"
"Melamarmu." Jawab Suga sekenanya sambil terus berusaha melepaskan kalung itu dari leher Jimin. Setelah berhasil, dia pun memasukkan benda itu ke saku jaketnya. Satu tangannya yang sedari tadi tersembunyi pun kini ia keluarkan bersama dengan sebuah kotak.
"Yoon-"
Ucapan Jimin menggantung manakala sebuah benda melingkari lehernya kembali. Ia meliriknya, itu tak jauh berbeda dengan kalung miliknya yang Suga lepaskan. Dan kini, orang itu memasangkan benda serupa dengan Liontin berbeda .
Huruf Y terukir disana.
"Cha, selesai. sini, putar tubuhmu."
Jimin pun berbalik menghadap Suga.
"Cantik. Kau suka?"
Sambil menggenggam liontinnya erat, Jimin mengangguk.
"Y untuk Yoongi. Dan kalung J mu yang ini ," Suga merogoh sakunya lalu mengeluarkan kalung Jimin yang sebelumnya"...akan kusimpan disini." Sambungnya sambil meletakkan benda perak itu dikotak kecil.
"Anggap saja kita bertukar cincin, tapi kuganti dengan kalung agar berbeda. Karena...kalung memiliki arti sendiri bagi kita berdua. Bukan begitu?"
"..." Jimin mengangguk sambil tetap menggenggam benda dilehernya itu. Matanya menatap Suga tanpa berkedip dan tunangannya itu tahu pasti dia akan menumpahkan airmata sebentar lagi.
"Uljima!" Hardiknya sebelum itu benar-benar terjadi.
"..."
"Aku tak romantis kan? Iya memang tolong kau jangan menangis. Ekspresikanlah dengan hal lain. Berteriak atau memukulku juga boleh, asal jangan menangis. Kau membuatku tampak semakin bur-"
Grep~
"Terimakasih, terimakasih Min Yoongi. Terimakasih..."
Berulang kali Jimin menggumamkan kata itu dalam dekapan seorang Min Yoongi. Min Yoongi yang kini malah termangu karena Jimin tiba-tiba menerjangnya dengan pelukan erat. Kedua tangannya yang tersampir dibawah, perlahan ia angkat untuk membalas pelukan itu.
"Kembali kasih..." balasnya, tersenyum senang.
Dia tak tahu, Jimin kembali bergumam dalam hatinya.
'Ayah, ibu. Dia berubah. Dia berubah seperti harapanku. Dia mencintaiku. Tapi...kenapa aku malah merasa sakit begini?'
Karena mereka tak tahu, Jimin tak tahu dibalik kebahagiaan mereka terdapat dia yang merasakan luka tak terhingga.
'Ayah, ibu. Dia berubah. Dia berubah jauh dari harapanku. Dia tak lagi mencintaiku. Dia mengakhiri semuanya, dan memulai dengan yang lain dihari yang sama. Bukankah mereka sangat jahat padaku?'
Sosok yang terluka itu membalikkan badan, langkah-langkah pelannya ia bawa menjauh. Menjauh dari sumber kesakitannya, tanpa tahu kemana dan bagaimana dia harus memulihkan luka yang ia rasa.
Ckiiiiit~
Dia menghentikan mobilnya yang hendak meninggalkan pemakaman ini. Mata sendunya melirik mobil lain yang terparkir tak jauh dari gerbang utama pemakaman ini. Pemiliknya nampak tengah mengawasi tempat ini dengan mencurigakan.
Awalnya dia tak perduli, dan kembali melajukan mobilnya. namun setelah dipikir-pikir lagi,
"Sepertinya aku pernah melihat orang itu?"
Dia nampak berpikir, lalu menghentikan mobilnya lagi.
"Salah satu tangan kanan Lee Jaehwan?"
Dia melirik mobil itu, memastikan.
"Benar."
Seketika, sekelebat bayangan menyakitkan yang ia dapat tempo dulu hingga yang beberapa menit lalu terjadi, masuk ke pikirannya. Bercampur dengan perasaan kalut dan sakit yang belum sepenuhnya lenyap.
'Aku takkan memvonis bagaimana kelanjutan hubungan kita. Jika kukatakan putus, kau pasti akan dengan mudahnya berpaling pada yang lain lalu melupakanku. Kali ini aku akan mengajarkanmu sesuatu. Kau harus tahu rasanya ditinggalkan tanpa diberi kepastian oleh orang yang kau cinta dan kau percaya. Kau akan tahu bagaimana sakit dan tersiksanya saat melihat aku dan adikmu bermesraan didepan matamu sendiri. Kita lihat saja...'
'Jadi Jung Hoseok, kuperingatkan kau kali ini. Jangan menggangguku dengan Jimin, karena kami saling mencintai'
"Haha~" dia tertawa pahit "Cinta? Omong kosong!" Tatapannya menggelap "...Mari kita lihat, akan berarti apa perasaanmu itu didepan orang yang sama sekali buta akan cinta seperti Lee Jaehwan."
Kemudian dia turun dari mobilnya. sambil mengenakan shades hitamnya, dia berjalan pelan menuju mobil yang ia curigai sebagai milik tangan kanan Lee Jaehwan.
Dalam setiap langkahnya yang pasti, dia bermonolog dalam hati.
"Aku mengorbankan mimpiku demi dirimu, dan malah luka yang kau balas padaku. Kau pikir hanya dirimu yang bisa? Kau sangka aku akan begitu saja menerima? Dibanding membongkar segalanya didepan Park Jimin, Sepertinya...mengadukanmu pada Lee Jaehwan akan lebih 'menyenangkan'. Kali ini aku akan mengajarkanmu sesuatu. Kau harus merasakan hancur seperti diriku. Biar kutunjukkan tentang arti cinta dan terluka yang sebenarnya. kita lihat saja..."
.
.
.
Tuk tuk tuk!
"Permisi?!"
Kaca mobil terbuka.
"Ya?!"
"Bisa bicara sebentar?"
Pria itu pun turun dari mobilnya dengan ragu.
"Ada apa?" Tanya nya kemudian.
"Saya lihat anda memperhatikan gerbang kami begitu seriusnya. Apakah anda reporter atau-?"
"Ah- maaf, saya-"
"Tak apa. Ohya, Perkenalkan, saya putra kedua mendiang Park Yoochun, sekaligus Direktur Park Corp saat ini. Apakah anda ingin meliput tentang tempat pemakaman keluarga kami?"
"Oh, y-ya.. seperti itulah. Tapi nampaknya akan sulit karena-"
"Ini." Dia mengeluarkan selembar kartu nama.
"Silahkan tunjukkan kartu nama saya pada petugas. Pasti anda akan diizinkan masuk. Setelah meliput, jangan lupa tulis berita baik tentang tempat ini. Atasan anda pasti suka. Selamat bertugas."
"Ya, terimakasih."
Dia pergi, meninggalkan lelaki itu dengan kebingungannya sendiri.
"Direktur...Jung Hoseok? Sepertinya aku pernah mendengar nama ini...?"
"Whoa~ Apa ini benar-benar danau buatan? Sempurna!"
Lagi-lagi Suga berdecak kagum saat keduanya beralih menuju area lain, yakni didepan pembatas sebuah danau buatan yang terdapat di area pemakaman ini.
Seperti yang dia bilang, ini sempurna. Angin senja berhembus dengan tenangnya, membuat air danau bergerak pelan. Jangan lupakan sinar sunset yang dengan indahnya memantul dipermukaan danau. Suasana setenang dan sedamai ini, jarang sekali Suga rasakan sejak ia adalah seorang idol. Dimana perkerjaannya pasti diliputi keramaian.
Jimin yang berdiri disampingnya hanya tersenyum simpul melihat Suga yang nampak begitu menikmati. Sebenarnya, sudah sejak lama ia ingin pergi kemari dengan tunangannya itu. Namun pekerjaan selalu menghambat segala rencananya.
"Jimin-ie,"
"Ya?"
"Ini benar-benar sempurna. Keluargamu benar-benar hebat, kau tahu?!"
Jimin tertawa kecil "Kau sudah mengatakannya berulang kali, Yoongi hyung. Kau sangat suka?"
"Ya, aku suka. Disini tenang."
"Kau boleh masuk kesini sesukamu, kapanpun kau merasa penat dan butuh ketenangan, datanglah kemari." Saran Jimin, membuat Suga menoleh padanya.
"Tentu saja, dan aku akan selalu mengajakmu semauku."
Jimin tertawa lagi sambil mengangguk. Suga menggenggam satu tangannya dengan erat. Jimin pun memandang kedepan, sementara satu tangannya yang lain menggenggam liontin pemberian sang tunangan.
Tiba-tiba ponsel di saku jeans Suga berdering. Iapun merogohnya dengan satu tangan. Saat melihat ID Callernya, Suga tak langsung mengangkat. Ia malah menoleh pada Jimin seraya melepas genggamannya.
"Jimin-ie, aku...angkat telepon sebentar ya? Kau tunggu disini."
Jimin mengangguk saja, lalu Suga pun mulai menjauh pergi meninggalkan Jimin seorang diri.
Entah dia bicara dengan siapa, tapi sepertinya Suga benar-benar tak ingin Jimin tahu. Jadilah dia menunggu tunangannya dengan diam, tanpa mau ikut campur.
Satu menit berlalu dengan tenang, sebelum tiba-tiba Jimin merasa sesuatu yang aneh menyerang penglihatannya. Tubuhnya sedikit limbung, dan mengharuskan dia bertumpu pada pembatas danau dihadapannya. Rasa sakit perlahan datang menghampiri, membuat anak itu dengan cepat memegang kepala dengan satu tangan. Tangan yang semula ia pakai untuk menopang tubuh, kini menggenggam liontin semakin erat. Seolah melampiaskan rasa sakit yang tak bisa ia teriakkan dengan kata-kata. Dalam hati ia memaki-maki.
"Kenapa kau datang disaat seperti ini?!"
Namun yang terlontar dari mulutnya hanya berupa rintihan kecil.
"Akh~"
Dan setetes airmatanya mengalir.
Suga berlari kecil menuju tempat mobilnya terparkir tadi. Yakni didekat gapura bertuliskan P A R K itu. Seseorang tengah menunggunya disana.
"Hyung!"
Yoonjae menatap malas adiknya yang perlahan sampai.
"Sudah kau ambil?" Tanya Suga to the point.
Kakaknya itu berdecak pelan walau tetap menyerahkan bingkisan itu padanya.
"Sudah, nih! Aish~ Dasar merepotkan! kau tahu aku lelah dan baru sampai rumah? Lihat, aku bahkan belum berganti baju kantor, lalu kau malah menyuruhku mengantar ini. Kenapa tidak ambil saja sendiri?!" Dumelnya.
Suga memeriksa isi bingkisan itu, lalu tertawa kecil pada hyungnya.
"Kau tahu kan aku sibuk? Kalau pulang dulu mana sempat menjemput Jimin. Sudah jangan mengomel begitu."
"Ck~ kau yang kencan kenapa aku yang repot sih?! Sudahlah, aku mau pulang. "
Yoonjae pun berbalik hendak meninggalkan Suga, sebelum tiba-tiba adiknya itu memanggil lagi.
"Yoonjae hyung!"
Dia menoleh "apa lagi ha?"
"Terimakasih." Ucap Suga sambil tersenyum "...katakan terimakasih juga pada ibu ya." Lanjutnya.
Yoonjae terdiam sebenta, untuk kemudian ikut tersenyum dan mengangguk.
"Sama-sama. Kami senang jika kau mau berubah dan mulai menerima pertunangan ini. Walau-"
"Apa?"
"Selera mu aneh sekali, serius, berkencan di pemakaman? Apa kau waras?"
"Cih~ seperti dirinya pernah kencan saja!"
"Apa kau bilang?! Aish-sudahlah, nikmati pudingmu dengan Jimin. Sampai jumpa!"
Yoonjae pun masuk ke mobilnya dan melaju pergi. Suga tertawa kecil sambil memperhatikan mobil hyungnya hingga menghilang dibalik tikungan.
Dia berbalik, hendak kembali pada Jimin yang mungkin sudah terlalu lama menunggu.
Tep.
Tapi langkahnya terhenti. Entah, ini hanya insting atau...
Suga mengedarkan pandangannya ke segala penjuru area.
...seperti ada yang mengawasinya?
Dibalik tikungan itu, apa ada seseorang?
Suga melangkah pelan, hendak mendekat. Tapi sebuah suara dari dalam mobilnya membuat dia berhenti. Sepertinya ponsel Jimin tertinggal didalam dan terus berdering. Dia pun membuka pintu mobilnya, dan benar.
Ponsel tunangannya tergeletak di dashboard begitu saja.
"Ceroboh sekali..." kekehnya pelan, lalu meraih benda bercover biru itu. Layarnya masih menyala, banyak pesan masuk yang belum terbaca. Namun Suga tak mau sembarangan membukanya.
Akhirnya ia memilih memasukkan ponsel itu kedalam saku jaketnya, lalu pergi.
Tanpa tahu, Seseorang dibalik tikungan memang sedang mengawasi dia. Sesuai dugaannya.
Begini.
Tadi pagi sebelum berangkat menjemput Jimin, Suga meminta sang ibu untuk membuat puding strawberry kesukaannya. Dan ibunya itu mengiyakan dengan senang hati, apalagi saat Suga berkata jika puding itu untuk tunangannya.
Namun karena kesibukannya, ia tak sempat mengambilnya ke rumah. Alhasil, dia meminta tolong pada Yoonjae untuk memgambil dan mengantarkan kemari.
Dan puding strawberry itu kini ada ditangannya!
Ia tak sabar menanti reaksi Jimin jika sudah memakan puding ini. Karena rasanya sama persis dengan puding pemberian Jimin sewaktu kecil dulu.
.
.
.
Langkah Suga terhenti dipuncak tangga. Senyumnya lenyap, seiring dengan matanya yang menangkap pemandangan dibawah sana. Didekat pembatas danau itu, Jimin tengah bersimpuh sambil memegang kepalanya sendiri. Tunangannya nampak sangat kesakitan.
Bukannya cepat menghampiri, Suga malah terpaku sambil menatap dengan nanar.
Ia ingin tahu, sampai kapan Jimin akan diam begitu? Seberapa tahan dia bergulat dengan rasa sakitnya seorang diri?
"Panggil aku! Berteriaklah!" Jerit Suga dalam hati.
Namun tak ada yang berubah, Jimin dibawah sana masih tetap sama. Diam dalam sakitnya. Dan itu membuat Suga gemas setengah mati.
Ia pun meletakkan bingkisan itu diatas tangga. Untuk kemudian berlari kebawah sana.
Ikut bersimpuh, lalu mengangkat dagu Jimin agar menatapnya. Pucat, sayu, berkeringat, berlinang airmata, juga,
...penuh darah.
Tanpa pikir panjang, Suga merobek kaosnya sendiri, guna menghapus airmata dan darah diwajah tunangannya.
Jimin cukup terkejut dengan kehadiran Suga.
"Y-Yoongi hyung- ukh, kaosmu-"
"Diam." Suga menatapnya tajam, membuat Jimin diam selagi Suga membersihkan wajahnya. Suga juga tak berkata apa-apa, walau ia tak dapat menyembunyikan raut paniknya.
Setelah selesai, dan darah itu berhenti mengalir, diam-diam Suga menghembuskan nafas lega. Lalu dia membantu Jimin berdiri, kemudian membawanya menaikki tangga dan duduk berdua dipuncaknya. Jimin hanya menurut saja.
"Terimakasih." Ucap Jimin pelan. Sakitnya berangsur-angsur mereda.
"Jangan biasakan diam begitu."
"Yoon-"
"Jika sakit maka katakan sakit. Berteriaklah! Panggil namaku dengan keras. Apa jadinya jika aku tak kunjung kembali? Apa jadinya kalau aku tak cepat berlari? Kau pikir aku tak khawatir? keterlaluan..."
Jimin menatap tunangannya itu dengan sendu. Tidak. Sesakit apapun rasanya, ia tak terbiasa mengeluh sakit secara terang-terangan. Apalagi didepan Suga. Jadi yang ia ucapkan hanya;
"Aku tak apa-apa. Maaf jika memuatmu khawatir."
Mendengar itu, Suga menghembuskan nafasnya lelah. Dia membalas tatapan Jimin dengan lebih sendu lagi, lalu bertanya.
"Apa masih sakit?"
Jimin menggelengkan kepala sambil tersenyum manis hingga eyesmilenya terlihat, walau pucat diwajahnya masih melekat.
"Kita pulang saja? Sudah petang..." ajak Suga, namun Jimin kembali menggelengkan kepala lalu menyenderkannya dibahu Suga. Setelah itu dia terdiam, menatap pantulan sinar jingga di danau yang semakin meredup.
Hening mendominasi, sesekali deru angin menerpa.
Suga merangkul bahu Jimin agar semakin mendekat padanya.
"Kau tadi habis darimana, hyung?" Tanya Jimin memulai percakapan. Hal itu membuat Suga melirik bingkisan di samping lainnya.
"Menemui Yoonjae hyung." Jawabnya kemudian.
"Yoonjae hyung? Dia datang? Mau apa?"
"Mengantar puding buatan ibuku."
Dalam sekejap Jimin mengangkat kepalanya, lalu menatap Suga dengan antusias.
"Puding buatan ibumu? Yang kau bilang mirip dengan buatan keluargaku?"
Suga mengangguk. Lalu meraih bingkisannya. Ia buka kotaknya pelan-pelan, dan menunjukkannya pada Jimin.
"Waah~ cantik." Puji anak itu.
"Kau mau?"
"Boleh?"
Suga tersenyum mengiyakan, lalu mulai memotong puding itu dengan sendok.
"Aku akan menyuapi mu."
"Huh? Tapi-"
"Cha, buka mulutmu"
Dan Jimin menurut.
Nostalgia.
Kilas balik belasan tahun lalu terbayang. Saat Yoongi sakit dan Jimin membantunya mengayunkan ayunan ditaman , lalu menyuapinya puding strawberry. Dan kini, Saat Jimin merasa sakit, giliran Yoongi yang membantunya. Kemudian menyuapi dia puding strawberry juga.
"Bagaimana?"
Hening.
"Hey, apa rasanya-"
"Enaaak~ Kau benar! Ini sama seperti buatan bibiku. Rasanya benar-benar sama."
Suga kembali tersenyum mendengar pendapat Jimin tentang pudingnya.
"Benar kan? Kau suka?"
Jimin mengangguk.
"Aku akan meminta ibu membuatkannya lagi, dia pasti senang." Ujar Suga sambil kembali menyuapkan puding untuk Jimin.
"Sampaikan terimakasihku pada Bibi Min, ini enak."
"Hm."
"Uhm...Yoongi hyung tak makan juga?"
"Tidak, untukmu saja"
"Tapi-"
"Hey, mengunyahlah yang benar. Fla-nya belepotan diwajahmu. Sini aku bersihkan, "
Jika dulu Jimin membersihkan noda fla itu dengan tangannya, maka biarkan Suga melakukannya juga meski dengan cara yang lain.
Jimin cukup terkesiap saat tunangannya itu mendekat dan membersihkan fla di sekitar mulutnya dengan lidah dan bibir. Bahkan setelah noda itu hilang, Suga masih saja menempelkan bibirnya.
Mungkin dia akan terus saja dalam posisi itu jika dering ponsel tak menginterupsi. Kesempatan itu Jimin gunakan untuk menjauhkan bibir Suga dari miliknya.
"A-ah- sepertinya itu bunyi ponselku? Dimana ya..."
Jimin dengan bingung meraba saku celananya, tapi benda yang ia cari tak ada. Suga yang diam-diam memasang raut kecewa pun merogoh saku jaket dan memberikan ponsel itu pada yang punya.
"Ini,"
"Huh? Kenapa bisa-"
"Ceroboh! Sudah angkat saja sebelum-"
...dia mati.
"Jungkook?" Jimin bertanya-tanya begitu dering itu berhenti dan layarnya menampakkan panggilan tak terjawab berulang-ulang kali. Sepertinya anak itu sudah berusaha menghubungi Jimin sejak tadi. Folder pesan singkatnya pun mendadak penuh, dan semuanya berasal dari...Jungkook.
Mendengar nama itu lagi, membuat Suga meletakkan kotak pudingnya dengan malas. Lalu dia menatap danau, berpura-pura tak perduli pada Jimin yang sibuk dengan ponselnya.
"Astaga..." Jimin bergumam pelan saat membaca deretan pesan itu.
From: Jeon Jungkook
Hyung, kau sudah pulang kuliah?~
From: Jeon Jungkook
Belum ya?
From: Jeon Jungkook
Hyuuuunggg~ kau akan datang kan? Iya kan?!
From: Jeon Jungkook
Kau harus datang, Jimin hyung. Aku akan menunggumu!
From: Jeon Jungkook
Jimin hyuuuung~~~? Angkat teleponnya!
From: Jeon Jungkook
Hyuuuung :(((
From: Jeon Jungkook
Aku masih menunggumu lho~
From: Jeon Jungkook
Hyung, sepertinya aku sakit. Junghyun hyung belum datang. kau cepatlah kemari!
From: Jeon Jungkook
Kau dimana hyung? Sedang dalam perjalanan kan? Uh, disini dingin. Cepatlah sedikit~
From: Jeon Jungkook
Hyung, sakit...
"Apa?"
Jimin mengerutkan dahinya. Teks terakhir yang Jungkook kirim mulai mencurigakan. Apa dia benar-benar sakit, atau hanya tipuan saja?
Maka Jimin buru-buru menelpon balik untuk memastikan.
Cukup lama, hingga akhirnya sambungan itu terangkat.
"Hallo, Jeon Jung-"
"H-hyung- akh!"
Jimin terperanjat mendengar rintihan itu dan spontan berdiri, membuat Suga juga ikut terkejut.
"Jungkook-a, kau kenapa?"
Jungkook tak menjawab dan Jimin semakin dibuat khawatir saat mendengar anak itu nampak kesulitan bernafas.
"Jeon Jungkook jangan barcanda! Katakan kau kenapa?!" Jimin hampir menjerit.
"K-kau akan kemari kan h-hyung? C-cepatlah-uhuk! Huh- aku-aku menunggumu, ukh, disini dingin..."
"Kau dimana, ha?! Kembalilah ke kamarmu dan panggil dokter!"
"..."
Lagi-lagi hanya deru nafas tersendat yang Jimin dengar.
"Jeon Jungkook? Kau mendengarku?"
"B-bukankah...kau, berjanji akan-akh-akan datang? K-kenapa lama sekali?"
"Demi Tuhan Jungkook-a! katakan kau dimana?! Biar aku menghubungi Dara Nuna! Kau dimana?!"
"..."
"Yah cepat bicara! Jeon Jungkook!"
"Uhuk~ Hiks-s..sakit hyung. Ini sakit sekali. Jimin hyung, Sa...kit..."
Sunyi.
Bahkan deru nafas sudah tak terdengar lagi, dan itu membuat kepanikan Jimin memuncak berkali kali lipat.
"Jungkook-a?"
"..."
"J-Jeon Jungkook..."
"..."
"JEON JUNGKOOK!"
.
.
.
a/n : Terimakasih untuk reviewnya kemarin! cuma mau kasih tau sesuatu. Bahwa mulai sekarang sampai tamat nanti, isi disetiap chapternya akan selalu panjang, gak akan kurang dari 6k word. pasti lebih dari segitu. bahkan mungkin ada yg sampai 10k. Jadi, yg berniat mengikuti ff membosankan ini, waspadalah! kalau enggak, yah... up to you xD
Maaf bila ada typo.
