Ini tentang keseriusan seorang Min Yoongi yang tengah berusaha mengoreksi kesalahannya, memperbaiki kebodohannya, dan menegaskan perasaannya. Ancaman Hoseok berupa pengaduan terhadap Jimin cukup membuat Suga kalang kabut sendiri. Bayangan akan Jimin yang tersakiti jika mengetahui hubungannya dengan Hoseok, membuat sang leader band itu cepat-cepat memutuskan apa yang selama ini ia gantungkan. Hubungannya dengan Hoseok yang terombang-ambing tanpa status jelas selama satu setengah tahun itu, kini telah menemui titik finalnya. Titik dimana Suga dengan tegas mengucapkan "Kita Berakhir !" pada sosok yang pernah ia cintai dan ia milikki beberapa tahun belakangan. Titik dimana Suga mulai menyadari dan yakin akan apa yang ia rasa.
Perasaan abstrak yang orang bilang bernama cinta itu kini telah berpindah pada sosok yang memang seharusnya menerima ini sejak lama, sosok yang tak lain adalah adik dari Jung Hoseok yang baru ia putuskan kini.
Park Jimin.
Kebodohan telah menyeret Suga kedalam situasi rumit nan menyakitkan ini. Jadi sekarang, biarkan dia melakukan segala hal untuk memperbaiki keadaan ini dengan caranya sendiri.
Mengajak Jimin ke tempat peristirahatan terakhir orangtuanya adalah salah satu ide yang terlintas dibenak Suga. Dia mengakui segala kesalahan dan berjanji akan memperbaiki segalanya. Semua itu ia ucapkan dengan sungguh hati didepan pusara kedua orangtua Jimin, dan juga disamping Jimin sendiri. Meski pada akhirnya tunangannya itu malah menangis keras mendengar perkataan Suga. Dan yang Suga lakukan untuk meredamnya adalah, dengan melakukan ide lain yang masuk dalam list rencananya sore ini.
Rencana yang cukup mendadak dan bahkan Suga sendiri ragu eksekusinya akan berjalan lancar.
Yah, Dia melamar...tunangannya.
Terdengar aneh? Memang, Suga pun mengakui. Dia itu punya selera aneh dan tak romantis sama sekali. Melamar orang yang sudah menjadi tunangannya di pemakaman.
PEMAKAMAN.
Siapapun boleh tertawa seperti yang Yoonjae lakukan, tak apa. Suga tak akan marah.
Karena ia melakukan ini bukan tanpa tujuan.
Begini.
Dulu, Suga menyematkan cincin di jari manis pria berlesung pipi itu dengan perasaan benci dan marah yang sangat mendalam. Sama sekali tak ada ketulusan disana. Disaksikan berpuluh-puluh orang yang menatap dengan kagum pun tak membuat Suga merasa bangga.
Jadi sekarang, Suga ingin mengulang semuanya. Tak perlu dihadiri banyak orang. Ia hanya ingin orangtua Jimin saja yang ikut merasakan kesungguhannya. Namun, sejak kedua ayah dan ibu Jimin telah meninggal, maka Suga harus melakukannya disini.
Didepan pusara.
Cincin simbol pengikatan pun ia ganti dengan sesuatu yang mengandung makna lebih bagi keduanya.
Kalung. Benda yang mempertemukan mereka berdua. Benda yang Suga gunakan saat ini untuk melamar Jimin (kembali).
Iya, Suga itu tak romantis. Tapi tak dinyana cukup membuat Jimin terenyuh. Dia mengucapkan terimakasih berulang-ulang kali dalam dekapan hangatnya. Dan Suga senang mengetahui hal itu. Pada dasarnya, Jimin adalah seorang yang akan menghargai sekecil apapun usaha Suga untuknya.
Jimin adalah seorang yang entah memiliki kadar kesabaran seberapa tebal dalam hatinya, karena iya, dia tak pernah terlihat marah didepan Suga. Hingga si blonde itu sempat bertanya dengan bingungnya, Apa Jimin tak punya emosi? Apa tunangannya itu benar-benar manusia?
Oh, Suga hampir saja menguatkan dugaannya jika saja ia tak melihat dengan mata kepala sendiri jika...
...sosok yang ia kira bukan manusia itu, nyatanya tetap punya rasa sakit juga.
Dan itu terbukti kini, saat anak itu nampak bergelut sendiri dengan sakitnya tanpa mau memanggil siapapun untuk ia pinta pertolongan.
Serius, Suga lama-lama jengah akan hal ini.
Namun seperti yang Suga bilang, Park Jimin itu selalu pura-pura baik-baik saja dan berlagak tak terluka. Kini bahkan dengan mudahnya anak itu berkata "Aku tak apa-apa.", Padahal Suga tahu dia tengah menahan sakitnya. Tak sampai disitu, pemilik lesung pipi itu justru mengatakan "Maaf, jika membuatmu khawatir.", Padahal dia tak melakukan kesalahan apapun. Membuat Suga hanya mampu menghembuskan nafasnya dengan lelah.
Ia baru tahu jika Park Jimin sulit dimengerti, susah dipahami, dan tak mudah ditebak. Anak itu nampaknya telah berhasil menutup kesakitannya dengan membentuk dinding tebal tak kasat mata yang tak mudah dihancurkan orang, termasuk Suga sendiri.
Jadi ia menerima saja saat Jimin dengan lembut bersandar dibahunya sambil bertanya beberapa hal. Hingga satu pertanyaan yang membuat Suga teringat kembali dengan rencana yang lainnya.
Membawakan Jimin puding strawberry buatan ibunya.
Selain kalung, puding adalah sesuatu yang punya makna berarti bagi ia dan Jimin. Terbukti, anak itu nampak sangat menikmati saat Suga menyuapinya satu demi satu. Layaknya nostalgia, begitu fla puding itu meluber keluar dari mulut Jimin, Suga tak segan-segan membersihkan dengan lidah dan mulutnya sendiri.
Sial, kenapa bisa bibir Jimin lebih manis dibanding fla puding favoritnya?
Sepertinya ia akan merubah rasa puding dan fla kesukaannya pada sang ibu nanti.
"Bu, bisakah ibu buatkan aku puding strawberry dengan fla rasa bibir Jimin?!"
Oh hentikan pikiran melanturmu, karena sekarang ponsel Jimin di saku jaketmu berdering. Demi Tuhan, siapa yang mengganggu acara 'makannya' dengan Jimin?
"Jungkook?"
Sigh, nama itu lagi. Mendengarnya saja membuat Suga malas dan segera menaruh kotak pudingnya dengan ogah-ogahan. Akhirnya ia hanya bisa menatap danau dengan diam dan berpura-pura tak perduli pada Jimin yang sibuk dengan ponselnya.
Akan tetapi...
"Jeon Jungkook, jangan bercanda! katakan kau kenapa?!"
...Jimin tiba-tiba berdiri dan menjerit, tak ayal membuat Suga ikut terkejut juga.
Dalam hati ia meremehkan, ah paling anak SMA itu sedang melakukan lelucon makanya-
"Kau dimana?! Kembalilah ke kamarmu dan panggil dokter!"
Dokter?
Oh, jadi bocah itu masih jadi pasien sekarang?
"Jeon Jungkook? Kau mendengarku?"
Tunggu, kenapa Jimin jadi bertambah panik begitu? Suga mengadahkan kepala, menatap Jimin dengan bingung.
"Demi Tuhan Jungkook-a, katakan kau dimana? Biar aku menghubungi Dara nuna. Kau dimana?!"
Apa ini benar-benar serius? Sebenarnya apa yang terjadi pada bocah SMA itu?
"Yah! cepat bicara! Jeon Jungkook!?"
Suga mau tak mau ikut berdiri, dan ia cukup terkejut melihat raut panik Jimin yang tak main-main. Dia bahkan menggumamkan nama Jungkook berulang kali, hingga tak tanggung berteriak
"JEON JUNGKOOK!"
Saat itulah Suga memegang bahu Jimin dan bertanya.
"Ada apa?"
Jimin menolehkan wajahnya pada Suga, menunjukkan betapa panik dia sekarang.
"J-Jung...Jungkook-" jawabnya gemetar.
Ia bahkan menggenggam ponselnya dengan tangan gemetar. Membuat Suga membalikkan badan Jimin agar menghadapnya, lalu membawanya kedalam pelukan.
"Hey, tenanglah. Kenapa? Apa yang terjadi pada anak itu?"
Jimin menggelengkan kepalanya dalam dekapan Suga.
"Tidak tahu. Dia- dia seperti kesakitan. Ah! Dara nuna!"
Jimin tiba-tiba melepaskan pelukannya, kemudian mencoba menghubungi seseorang yang Suga perkirakan sebagai Dokter pribadi sekaligus sepupu tunangannya itu, Sandara Park.
"Nuna!" Pekiknya begitu sambungan terangkat.
Suga hanya diam memperhatikan.
"Nuna, kau kenal Jungkook? Iya Jeon Jungkook. Anak itu baru saja menelponku dengan suara kesakitan. Dia juga bilang hyungnya belum datang. Nuna, tolong lihatlah, apa dia tidak ada dikamarnya? Aku takut-"
"..."
"Apa kau bilang?"
"..."
"Astaga anak itu-"
"..."
"B-baiklah, aku mengerti..."
Jimin pun menutup sambungan teleponnya, lalu beringsut duduk dengan lemasnya.
"Uh? Jiminie, kau tak apa? Apa yang terjadi?" Suga pun kembali duduk disampingnya
"Aku sudah panik setengah mati..."
"..."
"Anak itu benar-benar! Yoongi hyung, maukah mengantarku ke Rumah Sakit?"
Dengan rasa penasaran yang masih melekat, Suga pun menuruti permintaan tunangannya itu.
.
.
.
Seperti yang Suga bilang sebelumnya, Jimin itu seperti makhluk yang tak punya emosi untuk marah sama sekali. Lihat, sudah dibohongi Jungkook begini pun dia tetap pergi ke Rumah Sakit untuk menghampiri anak itu seperti kemauannya.
Begini.
Jimin bercerita pada Suga sepanjang perjalanan,
"Jeon Jungkook itu anak SMA yang beberapa kali ku temui di Bis. Secara kebetulan dia selalu duduk disampingku. Tapi beberapa hari belakangan, dia menghilang. Dan secara kebetulan pula, aku menemukannya di Rumah Sakit ."
Suga hanya mendengarkan sambil menyetir.
"...ada kerusakan pada ginjalnya, dan dia harus segera melakukan transplantasi. Pendonornya tak lain adalah hyungnya sendiri, karena kedua orangtuanya sudah meninggal. Tapi anak itu selalu menolak dengan alasan kasihan pada hyungnya. Setelah bertemu denganku, tiba-tiba saja dia menerima operasi itu dengan satu syarat."
"Apa?"
"Memaksa Dara nuna untuk memberikan nomor teleponku. Jadilah dia menghubungiku setiap waktu."
Suga hampir saja menginjak rem nya mendadak. Apa? Menghubungi setiap waktu? Yang bahkan Suga saja baru belajar melakukannya?
Apa dia keduluan anak SMA itu? Yang benar saja!
"L-lalu?" Mau tak mau Suga bertanya lebih jauh.
"Lalu? Ya aku meladeninya. Daripada dia menarik keputusannya lagi? Dia selalu mengancam akan membatalkan operasi jika aku tak menuruti kemauannya. Aku mana tega?"
"..."
Tuh kan!
Jimin itu baiknya tak tidak peka nya juga keterlaluan. Lihat, dia bercerita tentang Jungkook didepan Suga tanpa beban sama sekali. Apa dia tidak sadar tunangannya itu bisa cemburu?
"Terus, yang barusan itu kenapa? Dia sakit betulan, atau cuma menipumu?" Suga lagi-lagi hanya bisa bertanya.
Mendengar pertanyaan itu, Jimin langsung menegakkan duduknya.
"Ah! Yang barusan. kata Dara nuna, anak itu memang kambuh beberapa jam yang lalu. Tapi saat menelponku itu dia sudah baikan dan hanya mendramatisir semuanya."
"Ha?" Suga menoleh, memasang tampang tak mengerti.
"Hm! Sebenarnya dia dikamar dengan Dara nuna dan juga hyungnya. Tapi dia bilang sedang menungguku sendirian. Wah, padahal dia berkata jika hyungnya belum datang. Dia pandai akting juga, aku tertipu. Tidak tahu saja aku sudah panik setengah mati..."
"..."
Astaga! Apa katanya?
Sebagai seorang yang ada disamping Jimin saat dia panik tadi, tentu Suga juga menyangka jika Jungkook memang dalam kondisi tak baik. (Walau sebelumnya dia memang menebak itu hanya lelucon).
"Ingatkan aku untuk memukul kepalanya nanti!" Tukas Jimin yang lagi-lagi hanya ditanggapi dengan diam oleh Suga.
Diam-diam pria itu menyadari sesuatu...
Jimin bisa sepanik itu karena Jungkook, bahkan saat anak itu hanya berpura-pura. Kepanikannya setara dengan Suga saat melihat tunangannya itu kambuh tadi. Malah lebih parah.
Bolehkah Suga mengatakan ini?
Aku tak suka melihat Jimin begitu...
"OH?! JIMIN HYU- "
PLAK!
"AKH! KENAPA KAU MEMUKULKU?!"
Jungkook memekik secara berlebihan saat Jimin datang dan memukul pelan kepalanya.
"Kau pikir apa yang sudah kau lakukan? Dasar pembohong!"
"Aku tak berbohong! Sungguh, tadi itu aku sakit, benar-benar sakit. Tanyakan saja pada Junghyun hyung dan Dara nuna!" Ujar Jungkook mengelak.
Jimin hanya menatap anak itu dengan kesal. Mau membalas lagi pun percuma, karena yakin saja, Jungkook pasti takkan mau kalah. Sandara dan Junghyun yang melihatnya hanya tertawa dan geleng-geleng kepala saja. Mereka sudah mencegah Jungkook tadi, tapi anak itu bersikukuh ingin membuat Jimin datang dengan caranya sendiri. Tahu-tahunya dia malah berakting di telepon.
Entah aktingnya yang memang bagus, atau Jimin nya saja yang terlalu polos.
"Habisnya Jimin hyung jahat! Kalau tak dengan cara itu pasti kau takkan datang."
"Ya tapi tak harus begitu juga, kau tahu aku sudah panik setengah mati? Bisa-bisanya kau membuat lelucon seperti itu?!"
Jungkook tak berkedip melihat Jimin yang meluapkan kekhawatirannya itu. Dalam hati ia memekik kegirangan.
"Whoa Whoa Whoa~ kau benar-benar khawatir ya hyung? Apa aktingku semeyakinkan it-"
PLAK!
"AKH! HYUNG! Kenapa kau jadi seperti Junghyun hyung, suka sekali memukul kepalaku?! Junghyun hyung, marahi dia !" Adu Jungkook pada hyungnya yang tengah duduk di salah satu kursi diruangan ini.
"Kenapa aku harus?" Junghyun tak mau membela, dan Jungkook tak menyerah. Kali ini ia mengadu pada Dara.
"Nunaaa~ sepupu mu ini jahat sekali! Masa pasien sepertiku dipukul begitu. Dua kali pula! Huaaaa~ kalau aku gegar otak bagaimana? Ayo marahi dia~" ujarnya dengan berlebihan.
Dan Dara juga rupanya tak mau membela. dia malah beranjak dari sisi Jungkook.
"Untuk apa aku memarahi sepupuku yang baik ini? Selesaikan sendiri, itukan tanggung jawabmu karena berbohong. Sudahlah, aku mau keluar." Katanya sambil berlalu.
Jimin masih memandang Jungkook dengan kesal, dan anak itu malah meringis tanpa dosa.
"Iya-iya. Aku minta maaf. Lain kali aku takkan begitu lagi, kok. Janji!"
"Aku pulang saja, lagipula kau sudah tak apa-apa." Jimin pun hendak membalikkan badannya, sebelum tiba-tiba Jungkook yang tengah duduk itu memeluk perutnya dengan cepat.
"ANDWAE! Kajima!"
Sontak Jimin terkejut, apalagi ia tahu jika Suga tengah melihat dari jendela sana. Jungkook sih tidak menyadarinya.
"H-Hey, lepaskan-"
"Tidak mau!" Jungkook menggelengkan kepalanya diperut Jimin
"Jungkook-a,"
"Yah Jeon Jungkook! apa yang kau lakukan? Tidak sopan. Lepaskan Jimin-ssi..." Junghyun ikut menegur.
"Tapi Jimin hyung tak boleh pergi sekarang, temani aku dulu sebentar~" Pinta Jungkook mengajukan syarat.
Akhirnya Jimin mengalah.
"Iya baiklah, aku takkan pergi. Lepaskan."
Barulah anak itu melepaskannya. Jimin pun menghembuskan nafasnya lega, namun saat menoleh pada jendela dia tak menemukan tunangannya.
Kemana dia?
Sebenarnya Suga sempat melihat saat Jungkook dengan seenaknya memeluk Jimin. Dan yang ia bisa hanya merutuk dalam hati. Tepat saat itu Dara keluar dari ruangan dan hanya tertawa melihat apa yang disaksikan Suga.
"Anak itu sepertinya terobsesi sekali pada Jimin. Tak nyaman untuk matamu kan, Min Yoongi? Mau menemaniku mengopi dibawah?"
Disinilah Suga sekarang. Duduk berhadapan dengan Dara di salah satu cafe dekat Rumah Sakit. Daripada melihat hal yang tak nyaman dimatanya, ia pun menerima ajakan Dokter wanita sekaligus sepupu Jimin. Lagipula ia yakin, Jimin pasti takkan diizinkan pulang begitu saja oleh bocah SMA itu. Untunglah suasana cafe malam ini tak terlalu ramai, jadi ia tak perlu menggunakan masker atau kacamata untuk menyamar.
"Aku senang,"
Tuk.
Suga meletakkan cup kopi nya, lalu menatap Dara dengan tak mengerti. Wanita itu lantas tersenyum.
"Aku senang jika kau benar-benar sudah menerima perjodohan ini. Melihat tatapan tak suka mu tadi, biar kutebak. Kau pasti sedang cemburu kan saat Jungkook memeluk Jimin begitu ?"
"C-cemburu?"
Dara menyesap kopinya, lalu mengangguk.
"Ya, cemburu. Perasaan itu wajar saat kau sedang jatuh cinta. Memangnya kau baru tahu?"
"A-ah itu-"
Suga mendadak gugup begini, lalu beralih kembali pada kopinya guna menyembunyikan hal itu. Dara hanya tertawa kecil melihatnya.
"Tak apa, sudah kubilang itu wajar. Kau masih lebih beruntung. Jimin sudah sering merasakan hal semacam itu sejauh ini, sejak kau seorang idol yang punya banyak fans. Tapi sama saja sepertimu, anak itu selalu menghindar dan pura-pura tak merasa jika dia sebenarnya cemburu." Jelas Dara, membuat Suga diam-diam tertegun.
Jimin seringkali merasa cemburu? Karena ia dan fansnya? Benarkah?
Perasaan tak nyaman semacam ini, Jimin juga merasakannya? Kenapa dia tak pernah menunjukkannya sedikitpun? Atau-
Justru Suga sendiri yang tak pernah peka selama ini?
Rentetan pertanyaan dalam pikirannya belum dapat Suga jawab karena Dara kembali bertanya padanya.
"Yoongi-a,"
"Ya, nuna?"
"Kudengar kau habis melamar Jimin di pemakaman paman dan bibi ya?"
"Uh? Darimana nuna tahu?"
Dara kembali tertawa pelan melihat Suga kebingungan.
"Seseorang memberitahuku. Ah, tak usah dipikirkan. Bagaimana? Berjalan lancar? Apa Jimin menerimamu? Dia menangis tidak?" Tanya Dara bertubi-tubi, nampak penasaran sekali.
"Ah- ya, begitulah nuna..." jawab Suga masih sambil menerka, siapa yang memberitahu Dara? Dia rasa Jimin belum sempat bercerita.
"Aish~ Dasar Jimin. Itu artinya kejutanmu benar-benar membuatnya bahagia hingga menangis terharu seperti itu, Yoongi-a! Kau hebat. Romantis~"
"Romantis?"
"Hm, seleramu memang sedikit aneh menurutku,"
Ohya, Suga mengakuinya.
"...tapi apa yang kau lakukan itu pasti bertujuan baik. Jadi aku ikut senang, dan kurasa tak ada salahnya mencoba hal baru. Lagipula pemakaman keluarga kami tak menyeramkan, bukan begitu?"
Kali ini Suga yang tertawa pelan, "A~ ya . pemakaman keluarga Park berbeda. Disana indah sekali."
Dara mengangguk, "Kau tak salah pilih kalau begitu..." katanya, lalu kembali menyesap isi cangkirnya. Suga pun mengikuti.
Suasana hening sejenak, hanya terdengar backsound ballad saja. Sebelum tiba-tiba Suga angkat bicara,
"Ng, Dara nuna,"
"Ya?"
"Bolehkah...aku bertanya sesuatu?"
"Apa?"
"..."
"Kenapa kau menatapku begitu?"
Tanya Jimin heran, saat mendapati Jungkook yang tengah menyender itu menatapnya tanpa berkedip. Ia sendiri sedang duduk disamping tempat tidur anak itu. Sedangkan Junghyun?
Huh, maaf saja. Bocah kurang ajar ini telah mengusir hyungnya beberapa menit lalu.
'Bisakah Junghyun hyung pergi? Aku ingin bicara serius dengan Jimin hyung. Dan in A.' katanya dengan tak sopan.
Untunglah Junghyun menurut tanpa ambil pusing.
Tapi apa yang dilakukan bocah bergigi kelinci itu sekarang? Bukannya berbicara malah diam saja sambil terus menatap Jimin.
"Kau sebenarnya mau bicara ap-"
"Ternyata kau seindah ini,"
"Ha?"
"...Rupanya kau bertambah cantik dari hari ke hari,"
"Heh?"
"...Oh, aku tak bisa menahannya lagi,"
"..."
"...Aku harus mengakui jika aku jatuh hati."
"Yah Jeon Jungkook, kau mengigau ya?"
Jimin mendadak merasa waspada pada Jungkook. Pasalnya, selain menatap dengan tak berkedip, anak itu melafalkan kata-kata aneh seperti merayunya. Sorot matanya juga berbeda, sangat dalam. Dan Jimin hampir saja terhanyut kedalamnya.
"Mengigau apa? Aku sedang menghapalkan tugas puisi dari sekolahku." Ungkap Jungkook tanpa beban, dan Jimin diam-diam menghembuskan nafasnya lega.
Dalam hati ia menggerutu, sudah dua kali dibodohi anak SMA tingkat tiga itu.
"O-oh, begitu ya..."
"Hm, bagus tidak?"
"Ah? bagus, lumayan."
"Aku membuatnya karena terinspirasi olehmu loh~"
Lagi-lagi Jimin dibuat waspada, dan secara tak disadari degup jantungnya bertambah setiap kali Jungkook berkata-kata.
"Aku?"
Jungkook mengangguk.
"Kenapa aku?"
"Karena kau indah."
"Ya?!"
"Jimin hyung, indah."
"..."
"Pertama kali melihatmu di bis itu, aku sudah langsung tertarik. Melihatmu bicara sendiri, bergumam, tersenyum, menggerutu, semuanya menarik perhatianku..."
"..."
"Aku ingin sekali mengajakmu berkenalan, tapi aku malu. Jadilah, aku hanya bisa menatapmu dalam diam. Berangkat lebih pagi atau pulang secepat mungkin agar bisa duduk disampingmu. Menatapmu dari satu sisi kadang membuatku bosan. Tapi aku juga tak berani menatapmu dari depan. Sekarang, kau ada didepanku, dekat sekali. Dan aku tak pernah menyesali pemikiranku, jika kau-"
"..."
"...indah."
Tiba-tiba Jungkook menegakkan tubuhnya, lalu meraih kedua tangan Jimin. Membuat yang lebih tua itu terkejut. Tak sampai disitu, Jungkook juga secara cepat mendekatkan wajahnya tepat didepan Jimin yang mendadak tak mampu berkedip dan bernafas normal. Ia jadi ingat saat anak ini mengedipkan satu matanya dari luar bis.
"Hey, kau benar-benar indah..."
"..." Jimin masih menahan nafasnya, apalagi saat nafas Jungkook menerpa wajahnya. Wangi mint~
Bagaimana bisa orang sakit sewangi ini?
"Bagaimana bisa kau seindah ini?"
"Jungkook-a..."
"Aku sungguh jatuh hati. Kelak, bagaimana jika ternyata kau milik orang lain? Haruskah aku merelakanmu? Haruskah aku menjauh darimu?"
"..."
"Kenapa diam saja? Kau tak menginginkanku?"
"..."
"Ah~ aku mengerti. Apalah aku dimatamu, hanya seorang anak yatim piatu yang tak menarik sama sekali." Jungkook melepaskan tangannya, dan menjauhkan wajahnya. Saat itulah Jimin baru bisa bernafas dengan normal, meski masih gugup.
"Aku pergi."
"Jungkook-a-"
"Hyung! Bagaimana? Apa aktingku bagus?!
Jimin mengerjap bingung, tapi sesaat kemudian dia tersadar-
"Iya aktingku! Tadi itu penggalan drama yang akan dipentaskan bulan depan. Apa aku melakukannya dengan baik?"
-dia dikerjai lagi!
Jimin sebenarnya ingin marah sekarang.
HAH! Baik, baik sekali Jeon Jungkook! Saking baiknya aku jadi tak bisa membedakan mana akting dan mana sungguhan. Lagipula kenapa harus dengan aku sih memeregakannya? Kan aku jadi-
"Hm, bagus. Kau...pasti sukses memerankannya."
Tapi ingat? Marah itu bukan sesuatu yang gampang Jimin lakukan. Jadilah dia malah memuji akting Jungkook. Karena memang pada kenyataannya anak itu melakukannya dengan baik.
"Whoa~ jinjja?! jeongmal?!"
Jimin mengangguk saja
"Hah, aku selalu gugup jika meragakannya dengan lawan mainku saat berlatih. Tapi didepan Jimin hyung aku bisa! Whoaaa~" Tutur Jungkook dengan riangnya, seolah tak menyadari hyungnya itu tengah dongkol setengah mati.
"Jadi..."
"Jadi?"
"Jadi sebenarnya kau mau bicara apa denganku? Sampai berakting di telepon dan mengusir hyungmu begitu?" Ujar Jimin memperjelas pertanyaannya.
"Ingin menunjukkan aktingku lah..." jawab anak itu enteng.
"Ha?"
Jungkook kemudian tertawa dengan renyahnya.
"Hanya itu saja?"
Jungkook mengangguk tanpa dosa, dan Jimin hampir saja memukul kepalanya lagi sebelum pasien dihadapannya itu menjegal pergelangan lengannya.
"Whoop! Ish~ kenapa kau suka sekali memukul kepalaku?!"
"Habisnya kau menyebalkan!"
"Baiklah, kuganti alasanku. Kuganti! Aku ingin bertemu Jimin hyung karena...rindu?"
"Apa?" Jimin spontan melepaskan genggaman Jungkook
"Iya, aku rindu. Biasanya aku bertemu kau setiap hari di Bis. Tapi sekarang aku terkurung disini. Bosaaaan~" paparnya.
"Yaampun" Jimin tak habis pikir "...kau tahu? Aku nyaris tak bisa berdiri mendengarmu kesakitan tadi! Leluconmu itu tak lucu, Jungkook-a!"
Jungkook tersenyum simpul walau ada sedikit rasa bersalah diwajahnya.
"Maaf."
"..."
"Hanya ide itu yang terlintas dipikirkanku tadi. Habisnya hyung tak datang-datang."
Jimin pun menumpukan kepalanya pada tempat tidur Jungkook. Sontak anak itu terkejut.
"Hyung?"
"Sakit bukan untuk kau permainkan Jungkook-a, kau bisa membuat orang lain khawatir setengah mati." Ucap Jimin dalam tunduknya.
"Jimin hyung,"
"Itulah kenapa aku tak pernah mau orang lain tahu..'
"Huh? Kau bicara apa? Hey, bangunlah hyung!"
Jimin pun menegakkan tubuhnya lagi, lalu memandang Jungkook dengan sendu.
"Lebih baik kau menelponku dengan ocehan tanpa henti daripada dalam keadaan sakit begitu. Lain kali aku takkan perduli! Jangan diulangi lagi, mengerti?"
"..."
"Kau mengerti tidak?!"
Jungkook mengangguk pelan, walau tak sepenuhnya paham. Sebenarnya apa yang tengah Jimin bicarakan kini? Kenapa serius sekali? Kan dia hanya bercanda-
Tunggu, tiba-tiba mata Jungkook terbelalak.
"Oh! HYUNG?! HIDUNGMU BERDARAH!"
"Apa penyakit Jimin sudah benar-benar parah?"
Trak.
Dara meletakkan cangkirnya sedikit keras hingga menimbulkan bunyi. Senyumnya sedikit memudar.
"Uh, kenapa, nuna? Apa pertanyaanku salah?" Suga kembali bertanya dengan tak enak. Untunglah Dara menggelengkan kepala sebagai responnya.
"Tidak. Tidak ada yang salah."
"Lalu-"
"Kau dan Hoseok adalah orang yang paling kutunggu untuk bertanya perihal ini. Dan aku lega karena akhirnya satu dari kalian melakukannya juga."
Suga mengerjap bingung.
"Hoseok- dia tidak...tahu?" Tanyanya ragu.
Namun Dara malah bertanya balik "Kau tidak tahu?"
"Huh?"
"Jung Hoseok, adalah satu-satunya di keluarga kami yang tak mengetahui jika Jimin masih sakit."
"Kenap-"
"Jika kau bertanya, Kenapa bisa Hoseok tak tahu tentang penyakit adiknya sendiri? Maka ada dua jawabannya."
"..."
"Pertama, karena Hoseok tak pernah mau mencari tahu. Dan kedua, karena Jimin tak pernah mau hyungnya tahu."
Lagi-lagi Suga mengerjap bingung.
"Apa maksud nuna?" Tanyanya, sungguh tak mengerti.
Dara menghela nafasnya berat.
"Sepertinya kau benar-benar tak tahu apapun tentang tunanganmu ya? Satu tahun lebih ini , kau terlalu sibuk dengan duniamu sendiri. Dan lupa pada tugas yang diberi kakekku, menjaga Jimin."
BANG!
Kalimat Dara memukul Suga telak-telak. Benar, sejauh ini sebenarnya apa yang ia tahu tentang Jimin? Selain Jimin adalah satu-satunya putra kandung mendiang Park Yoochun, Jimin mengidap penyakit parah, apalagi yang dia tahu?
Sejurus kemudian Suga menjadi was-was. Apa sebenarnya Dara tahu tentang semua sikap dinginnya terhadap Jimin selama ini ?
"Nuna,"
"Tidak. Aku tidak tahu apapun. karena Jimin tak pernah mengadu sedikitpun. Aku hanya menerka saja, dan kuharap itu salah."
"..."
"Tapi, jika kau ingin bertanya tentang Jimin. Aku akan dengan senang hati memaparkan. Mungkin ini akan menyalahi etika ku sebagai Dokter, tapi sejak kau adalah salah satu orang yang bertanggung jawab menjaga Jimin, maka kurasa kau memang perlu tahu. Kau mau mulai darimana dulu? Tentang penyakit Jimin? Tentang hubungannya dengan Hoseok? Atau-"
"Ceritakan saja semua, dan aku akan mendengarkan."
Karena aku sudah berjanji, akan belajar mencintai Jimin.
Jungkook berdiri didepan pintu toilet yang ada di kamarnya. Sudah beberapa menit sejak Jimin masuk kesana untuk membersihkan darah yang tiba-tiba mengalir dari hidungnya itu. Dan kini belum ada tanda-tanda jika Hyung nya itu akan keluar.
Jungkook menimbang-nimbang dalam hati, haruskah aku ketuk? Atau ku dobrak saja? Oh! Tidak-tidak. Itu tidak sopan.
Tapi, kenapa Jimin hyung lama sekali? Apa dia baik-baik saja?
Jungkook tidak teramat bodoh. Dia sudah sering melihat pasien-pasien di Rumah Sakit ini yang mengalami mimisan begitu. Biasanya, mereka yang seperti itu adalah pengidap-
Uh,tidak. Berpikir apa aku? Tidak semua yang mimisan mengidap penyakit parah kan? Benar.
Tapi setidaknya, kalau sampai mimisan begitu pasti ada yang salah dengan hyungnya.
"Omo! Dia sakit?" Gumamnya pelan. Mendadak dia merasa menyesal telah menipu Jimin di telepon tadi. Duh, jangan-jangan dia tak datang itu karena sakit? Dan aku memaksanya begitu sampai membuatnya panik.
Astaga!
Aish! Lagipula kenapa Jimin hyung tak keluar-keluar juga sih?!
Baru saja dia akan mengetuk pintu itu, namun Jimin terlebih dulu membukanya.
"Uh? Jungkook-a, kau sedang ap-"
"Jimin hyung tak apa-apa?" tanyanya khawatir
Sementara Jimin hanya menatapnya dengan (berpura-pura) heran. Oh, tentu Jimin yakin Jungkook akan curiga setelah melihatnya mimisan tadi. Namun seperti biasa, namja bermarga Park ini takkan jujur semudah itu.
"Memangnya aku kenapa?"
"Ish~ jangan menjawab pertanyaanku dengan pertanyaan lagi! Sudah jelas kau tadi-"
"Berisik! Cepat berbaring lagi..."
Jimin pun mendorong pelan anak itu agar kembali berbaring di ranjangnya. Dengan rasa penasaran yang masih melekat, Jungkook terpaksa menurut.
"Hyung benar tak apa-apa? Jika sakit biar kupanggilkan-"
"Sudah cepat tidur, jangan bicara terus!"
Jimin malah membaringkan anak itu secara paksa, lalu menyelimutinya sebatas dada.
"Ini sudah malam. Kau harus istirahat dan aku harus pulang."
Mendengar kata Pulang, membuat Jungkook kembali bangkit duduk.
"Ha? Pulang ?!" Dan memekik berlebihan membuat Jimin sedikit terkejut
"Tentu saja, memangnya aku tak punya rumah? Sudah cepat tidur!" Dia pun mendorong kening Jungkook dengan jarinya agar berbaring lagi.
"Hyung! Tapi-"
Tapi si cerewet itu malah bangkit lagi dan membuat Jimin kembali mendorong keningnya dengan jari.
"Tidur!"
"Jimin hyung!" Dia menjerit dan berusaha bangkit lagi, namun kali ini telapak tangan Jimin menahan keningnya begitu kencang.
"Jeon Jungkook! Tidur tidak?! Lagipula tak ada yang mau dibicarakan lagi, kan?"
"Iyasih ,"
"Yasudah cepat tidur!"
"Tidurkan aku?"
"Hah?!" Sontak Jimin melepaskan telapak tangannya dari kening Jungkook, lalu memandang anak itu dengan alis bertaut
"Iya~ tidurkan aku. Ajak aku mengobrol apa saja, baru aku bisa mengantuk."
"Kau ini aneh sekali..."
"Mau aku cepat tidur kan? Yasudah ayo mengobrol!"
Jimin berdecak pelan memutar bola matanya malas. Tapi pada akhirnya dia mengalah dan duduk di kursi samping ranjang Jungkook.
"Ngobrol apa?" Tanya Jimin bingung
"Apa saja, akan ku tanggapi." Jawab Jungkook yang sudah nyaman dalam posisi baringnya. Hyungnya menimbang-nimbang sebentar, sebelum akhirnya menanyakan;
"Tadi itu...kau memang sempat kambuh sungguhan kan?"
Jungkook mengedipkan matanya pelan, lalu bergumam "Hm..."
"Jujur saja, saat mendengarmu merintih di telepon, aku mengira kau benar-benar sakit. Apa jika kau kambuh, kau selalu begitu?"
Hening sejenak sebelum Jungkook bergumam lagi.
Ah~ jadi begini maksud Jungkook mengobrol. Jimin bertugas menanyakan sesuatu, dan anak itu hanya akan bergumam sebagai jawaban. Atau jika tidak-
"Sudah berapa lama kau sakit begini?"
-dia akan menggunakan bahasa tubuh, seperti kini. Anak itu mengangkat enam jarinya.
"Enam bulan?"
Lalu bergumam membenarkan.
"Enggg~ Jika sakitmu datang, apa kau benar akan merintih sampai menangis?"
"Hm"
"Sesakit apa?"
Kali ini Jungkook berbisik "Saaangaaat sakit."
Namun Jimin masih mampu mendengar bisikan itu. Diapun mengangguk paham, lalu mengusap kening Jungkook pelan dengan ibu jarinya, Konon, cara ini ampuh untuk membuat seseorang cepat mengantuk.
"Aku mengerti, pasti sangat sakit. Tapi kau harus merasa beruntung, Jungkook-a..."
"..." Jungkook diam, dengan mata yang hampir sayu. Ah~ Aneh juga jika dia tak berisik ya.
"Seberapa sakitpun yang kau rasa, sebentar lagi semuanya akan lenyap. Kau beruntung karena penolongmu adalah hyungmu sendiri."
"..."
"Makanya, jangan mengamuk terus padanya dan jalani pengobatanmu dengan baik. Kelak, kau harus sembuh dan membanggakan hyungmu."
"..."
"Kau harus tahu betapa beruntungnya punya saudara kandung yang menyayangimu. Jangan mengecewakannya, kau paham?"
"Hm..." Jungkook mengangguk pelan. Namun usapan dikeningnya tiba-tiba berhenti. Dengan mata sayunya, Jungkook masih mampu melihat jika raut wajah Jimin berubah menjadi sendu.
Anak itu hendak bertanya, namun dering ponsel Jimin menghentikan niatnya.
Hyungnya itu segera merogoh ponsel di saku, lalu diam membaca layarnya. Oh, pesan singkat. Lagi, dengan mata sayunya Jungkook kembali melihat perubahan raut wajah Jimin yang kini kembali cerah. Sepertinya SMS itulah penyebabnya.
"Kau sudah mengantuk? Aku pulang ya?"
Jungkook tak menjawab, dan itu Jimin artikan sebagai persetujuan. Dia pun berdiri dan hendak beranjak. Sebelum tiba-tiba Jungkook menggapai lengannya.
"Tunggu," katanya, berat.
"Hn?"
"Hyung, hari operasiku diundur."
"Uh? benarkah? kapan jadinya?"
"Nanti kukabari lagi kapan pastinya. tapi...Jimin hyung tetap akan datang kapanpun itu kan?"
Jimin tersenyum dan mengusap lengan Jungkook pelan, lalu menangguk.
"Pasti. Tapi, maaf jika beberapa hari ini akan jarang datang. Aku sedikit sibuk. Kau jangan menipuku lagi seperti tadi ya?"
Kini giliran Jungkook yang mengangguk.
"Aku pulang, oke?"
"Hm, maaf sudah membohongimu tadi."
Jimin mengangguk paham.
"Sebenarnya aku marah. Tapi tak apa, lagipula aktingmu untuk drama itu bagus sekali. Dialognya juga keren, aku suka. Kau cocok memerankannya."
"..."
"Aku pergi ya? Jaljayo, Jungkook-a~"
Tautan tangan pun terlepas.
"Ya, Terimakasih hyung ..." anak itu berbisik seraya tersenyum, lalu menatap kepergian Jimin hingga hyungnya itu menghilang dibalik pintu.
Tapi tak ada pertunjukan drama di sekolahku, Jimin hyung...
From: Yoongihyungie~
Hey, aku ada didepan kamar anak itu. Cepat keluar, ini sudah malam. Jangan berduaan terus dengannya. Aku bisa cemburu, sayang...
Itulah pesan singkat yang membuat Jimin tersenyum cerah tadi. Lucu juga saat Suga memanggilnya sayang walau hanya lewat SMS.
Dan disinilah dia sekarang. Di mobil Suga dalam perjalanan pulang. Awalnya mereka sempat bercakap-cakap singkat. Jimin bertanya, kemana saja Suga selama dirinya dengan Jungkook tadi. Dan dia cukup senang saat tahu tunangannya pergi ke cafe dengan Dara Noona. Walau saat ia bertanya lagi perihal hal apa yang mereka obrolkan, Suga tak mau menjawab. Dia hanya bilang "Aku menemaninya minum kopi saja..."
Tapi Jimin tak ambil pusing. Mengetahui Suga mulai mencoba akrab dengan satu persatu keluarganya saja dia sudah senang. Jadi dia hanya tersenyum sambil berkata "Oh, begitu..."
Lalu tak lama setelahnya anak itu terlelap tidur, kelelahan.
Mobil berhenti tepat didepan gerbang utama rumah megah ini. Namun melihat raut lelah diwajah Jimin, membuat Suga tak tega membangunkannya. Jadilah dia hanya diam, memandangi tunangannya yang terpejam.
Keheningan lantas membuat Suga teringat dengan percakapannya bersama Dara tadi. Seketika air muka Suga berubah. Antara sedih, menyesal, dan jengkel pada-
...pada dirinya sendiri,
...pada Jimin yang tak pernah mau bercerita,
...dan juga pada...keadaan.
Tiba-tiba kening Jimin bertaut dengan tegangnya. Mimpi buruk kah?
Suga pun mendekatkan wajahnya, lalu mengecup kening tunangannya. Tak cukup disitu, ia pun mengecup kedua kelopak mata Jimin. Sepertinya hal ini akan jadi kebiasaan.
Suga nyaris melakukan lebih dari itu, jika saja mata Jimin tak tiba-tiba terbuka. Tepat saat bibir Suga akan menyentuh bibirnya. Makhluk yang belum sepenuhnya mengumpulkan nyawa itu pun hanya mengedipkan matanya dengan bingung. Mereka bertahan di posisi itu beberapa saat, sebelum akhirnya Suga segera menjauhkan wajahnya, mengurungkan niat mencium Jimin.
"Sudah sampai, sayang." Katanya.
"..."
"Maaf membangunkanmu. Lanjutkan tidurmu dikamar ya? Kalau disini badanmu akan pegal."
Jimin hanya mengangguk saja, lalu melepaskan sabuk pengaman. Namun sebelum benar-benar turun, Jimin sempat mengucapkan beberapa kalimat.
"Terimakasih,"
"..."
"Terimakasih untuk hari ini. Untuk kejutanmu, permintaan maafmu, kalung pemberianmu, puding buatan ibumu. Aku suka semuanya. Terimakasih, Yoongi hyung." ujarnya sambil tersenyum hingga eyesmilenya tercipta. Dan Suga hanya bisa tertegun melihat senyuman itu.
Hanya ini saja. Takkan sanggup mengganti semua waktu yang banyak terbuang selama ini, Jimin.
Bibir pucat tunangannya itu bahkan masih sanggup mengulas senyuman manis saat ini. Untuk pertama kalinya, Suga ingin terus melihat senyuman itu dari bibir betapa selama ini ia telah kehilangan moment menyaksikan senyum yang selalu Jimin tampakkan dengan tulus padanya. Dan Suga hanya bisa membalas senyuman itu dengan perkataan dan perbuatan menyakitkan yang membuat dia luntur sedikit demi sedikit.
Aku sudah sejahat ini, mengapa kau tetap tersenyum indah begini?
"Hm, sama-sama." Pada akhirnya hanya kalimat itu yang mampu ia balas. Ia tak tahu harus berkata apa lagi, bahkan saat Jimin tiba-tiba mengecup dan memagut bibirnya secara singkat pun Suga masih saja membisu dengan mata tak berkedip.
"Selamat malam, sayang."
Saat pintu mobil tertutup, dan Jimin menjauh, barulah Suga mampu mengedipkan matanya dengan normal.
"Ya, selamat malam sayang..." balasnya pelan. Sangat pelan dan takkan mungkin terdengar oleh Jimin yang sudah menghilang dibalik gerbang tinggi rumahnya.
Kau tentu masih ingatkan, tujuan utamamu dalam perjodohan ini? Selain untuk mempererat kerjasama perusahaan, kau juga ditugaskan kakek untuk menjaga Jimin. Karena anak itu berbeda dari saudaranya yang lain. Dia sudah sering keluar masuk Rumah Sakit sejak kecil, karena imun tubuhnya yang paling lemah. Dan itu berlaku hingga dia beranjak besar, malah bertambah parah.
Kecelakaan itulah penyebabnya.
Kecelakaan yang merenggut nyawa Paman Park , serta membuat sepupuku koma selama empat hari.
Hari dimana dia membuka mata, aku dengan terpaksa memberitahu semua keluarga perihal kondisi Jimin.
Jimin positif mengidap penyakit yang tak semudah itu sembuh dengan pengobatan satu dua minggu. Kau tentu sudah tahu itu apa.
Itulah kenapa kakek lebih mempercayakan Hoseok untuk mengemban tugas sebagai Direktur pengganti Paman Park yang seharusnya jatuh ke tangan Jimin. Karena Jimin berbeda, dan kami takkan tega memberinya pekerjaan seperti itu.
Dengan menjodohkanmu padanya, kakek menganggap itu sebagai salah satu jalan jika Jimin ingin membantu. Itulah sebabnya Jimin tetap berada disisimu, tak perduli sedingin apa sikapmu padanya. Sesibuk apa kau hingga jarang menemuinya. Bahkan saat kau tak mengakuinya didepan publik, bukankah dia tetap membelamu? Menurut cerita bibi Lee, anak itu bahkan sampai menangis saat memohon agar kau tak diadukan pada kakek. Kau tahu apa alasannya?
Pertama, karena dia tak mau kakek khawatir padanya.
Dan kedua, karena...
Jimin mencintaimu. Sangat mencintaimu.
Dia bahkan berkata padaku suatu waktu "Jika bibi Lee mengadukan Yoongi hyung pada kakek, lalu kakek memutuskan pertunanganku dengannya. Lantas apa lagi yang bisa kulakukan untuk membantu? Menjodohkanku dengan yang lain? Yoongi hyung sudah bertahan sejauh ini dengan pengidap penyakit sepertiku pun aku senang. Jika itu orang lain, apa nuna yakin akan ada yang sebaik Yoongi hyung?"
Begitulah yang Jimin katakan.
kenapa kau memandangku begitu? Apa kau tak percaya?
.
.
.
Suga menatap kosong pada dinding dihadapannya. air dari shower terus menghujani tubuhnya sedari tadi. Ini sudah hampir tengah malam, dan Suga seperti tak merasakan menggigil sedikitpun oleh air dingin itu. Karena iya, tubuhnya disana tapi pikirannya melayang jauh pada perbincangannya dengan Dara beberapa jam lalu.
.
.
.
Jika sekarang kau bertanya padaku, apakah penyakit Jimin sudah benar-benar parah?
Maka aku, Sepupu sekaligus Dokter yang menanganinya selama satu tahun lebih ini dengan berat hati harus menjawab, IYA. Jika kau bertanya lagi, memangnya kami tak pernah melakukan usaha untuk mengobatinya? Maka jawabannya, tidak. Sebab anak itu tidak pernah mau. Melihat berbagai macam tablet dan kapsul yang kuberikan saja dia sudah jengah setengah mati. Apalagi ku paksa melakukan terapi atau operasi? Dia bahkan pernah berkata padaku "Nuna lihat saja, aku akan bertahan tanpa pengobatan. Aku pasti bisa hidup lebih lama dari pengidap yang lain. Nuna tahu karena apa? Karena ada Yoongi hyung disisiku. Dia adalah penyemangatku, bahkan efeknya lebih hebat daripada tablet dan kapsul pahit yang nuna berikan itu."
Apa kau percaya?
.
.
.
Suga keluar dari kamar mandi dengan mengenakan bathrobe putih yang membungkus tubuhnya. Rambutnya basah dan jejak-jejak air jatuh kelantai disetiap langkahnya. Sampai dicermin kamar, dia memandang penampakan dirinya sendiri. Ini ilusi, pantulan dirinya seolah tengah mengajaknya berdiskusi.
"Siapa kau? Min Yoongi? Min Suga? Apa? Penyemangat seorang Park Jimin? Orang yang kau sakiti berulang-ulang kali itu menganggapmu penyemangatnya? Whoah~ siapa yang percaya?"
.
.
.
Aku percaya, sebagai Dokter yang menangani Jimin aku percaya. Melihat perkembangan dia hingga bisa bertahan sejauh ini tanpa pengobatan, membuatku percaya jika kau memang penyemangat hidupnya.
Tapi karena aku Dokter, maka aku selalu tahu apa yang terjadi padanya. Disangkal sekuat apa, ditepis sejauh mana, dia tetaplah seseorang yang tak sehat. Jimin bukan dalam keadaan yang baik-baik saja.
Dia hanya terlalu pandai menutup kesakitannya, dan kuharap kau bisa menyadarinya, Yoongi-a.
.
.
.
Suga bertelanjang dada dan duduk diatas ranjangnya. Tangannya menggenggam kotak berisi kalung milik Jimin, dan matanya menatap benda dengan huruf J itu lekat-lekat.
.
.
.
Sejak kau ditugaskan kakek untuk menjaga dia, maka kuharap kau akan sungguh-sungguh melakukannya.
Park Jimin, anak itu lahir dihari yang sama dengan meninggalnya Bibi Park, ibunya. Bila dibandingkan dengan dua kakaknya, Jimin termasuk kurang beruntung. Seokjin dan Hoseok, walau bukan keturunan kandung, mereka sempat merasakan kasih sayang bibi Park meski cuma sekejap. Tapi Jimin sama sekali tidak pernah. Makadari itu, kami yang masih hidup disekelilingnya begitu menjaga dan menyayangi anak itu agar dia tak merasa kekurangan kasih sayang dalam bentuk apapun.
Bicara tentang Hoseok, dia adalah satu-satunya orang yang tak tahu perihal sakitnya Jimin. Sebab hanya Hoseok yang tak ada di Rumah Sakit kala itu, karena dia terlalu sibuk dengan dukacitanya sendiri. Bahkan menjenguk Jimin yang baru sadar pun dia tak mau.
Dulu, Jung Hoseok adalah sosok yang paling telaten menjaga Jimin. tak pernah sedikitpun Jimin luput dari pengawasannya. Hoseok menyayangi dan melindungi adiknya lebih dari siapapun. Saat hendak berangkat menuju tempat pelatihan, yang paling ia khawatirkan adalah Jimin. Dia baru mantap berangkat saat Jimin membujuknya dan mengatakan bahwa kondisinya sudah membaik. Dan memang...saat itu dia sempat membaik. Namun segalanya kembali parah saat kecelakaan itu terjadi, dan sayangnya Hoseok tak mengetahuinya sama sekali.
Hubungan Hoseok dan Jimin, sudah tak sehangat dulu jika kau mau tahu. Yang lebih tua berubah dingin pada adiknya karena menganggap dia lah penyebab meninggalnya ayah yang bahkan bukan ayah kandungnya sendiri. Hal yang sama pernah terjadi saat Bibi Park meninggal dulu, namun tak sampai separah sekarang. Dulu hanya dalam hitungan hari pun segalanya membaik. Tapi sekarang Hoseok tak lagi begitu. Dia mengekspresikan rasa kehilangannya dengan berlebihan. Kami kira, dia akan mereda. Tapi ternyata tidak. Aku sendiri bingung, kenapa Hoseok nampak sulit sekali memaafkan Jimin dan menerima kenyataan?
.
.
.
"Mungkin itu karena aku," gumam Suga masih sambil menatap kalungnya "Iya, karena aku. Aku yang membuat Hoseok bertambah membenci Jimin..."
.
.
.
Karena itu, Yoongi-a. Aku lega saat kau mau bertanya tentang Jimin padaku. Satu dari kalian akhirnya mencoba berubah. Dan aku harap...Hoseok juga akan begitu.
Sebelum segalanya terlambat.
.
.
.
Suga mengaitkan Kalung itu dilehernya, menggenggamnya sejenak, lalu mulai berbaring dan menyelimuti diri.
"Aku akan berusaha. Aku mau berubah, takkan menyakiti dia lagi..."
Tapi aku tak tahu bagaimana dengan Jung Hoseok.
Suga menjalani hari-hari ke depan sesuai janjinya. Bahwa dia ingin berubah, bahwa dia harus menjaga Jimin sesuai tugas yang kakek Park berikan padanya. Setiap pagi ia akan mengirim pesan singkat, menyapa dan bertanya, apakah Jimin ada kegiatan diluar rumah? Jika iya, maka dia takkan ragu mengantarnya.
Saat pekerjaannya memiliki jeda, maka secara sembunyi-sembunyi, Suga mengirim pesan lagi. bertanya kapan Jimin akan pulang? Setelahnya, Suga tak segan mencari alasan untuk menjemput dan mengantar Jimin sampai ke depan gerbang rumah. Tak lupa berbagi ciuman singkat didalam mobil.
Dimalam hari, selelah apapun Suga, dia selalu menyisihkan waktu menelepon Jimin sekedar mengucapkan selamat tidur. atau jika pekerjaan mengharuskan dirinya pulang larut, ia hanya akan mengirim pesan singkat saja. tak ingin menganggu waktu istirahat Jiminnya.
Terkadang, mereka berkirim gambar dan saling menceritakan kegiatan satu sama lain. Jika ada kesempatan, Suga akan membawa Jimin pergi untuk sekedar makan bersama. Meski...yah, sepanjang kebersamaan mereka di ruang publik, masker, topi dan shades tak pernah luput Suga kenakan. Si Blonde acap kali merasa tak enak hati, tapi untunglah tunangannya bisa memahami.
Ada saat-saat dimana keduanya benar-benar tak bisa bertatap muka seharian penuh karena kesibukan. Maka malam harinya Suga akan menghubungi lewat video call, mengobrol dengan kondisi sama-sama mengantuk. Obrolan itu biasanya berakhir dengan Jimin yang tak mampu lagi menahan mata untuk tetap terbuka. Dengan begitu Suga akan mencium layar dan mematikan sambungannya. Setelah itu ia sendiri menyusul Jimin ke alam mimpi.
Di dalam mimpi, segalanya juga berjalan dengan baik.
Tapi ketika Suga kembali membuka mata pagi ini, ia harus menerima fakta, bahwa kenyataan takkan selalu seindah mimpinya. bahwa keinginannya untuk berubah takkan berjalan semulus yang ia rencanakan.
Bahwa...hubungannya dengan Jimin akan menemui lagi berbagai macam kesulitan.
Hoseok memasuki toilet di kantornya dengan langkah dan wajah yang lesu. Ini sudah sore namun pekerjaannya masih saja menumpuk. Beberapa menit yang lalu ia baru menyelesaikan pertemuannya dengan salah satu Klien, dan masih ada satu klien lagi yang harus ia temui nanti.
Oh, Hoseok benar-benar lelah.
Ia pun membasuh wajahnya di wastafel alih-alih menyegarkan diri kembali.
"Uhuk~ ukh~"
Namun sesuatu dari dalam perutnya terasa naik ke kerongkongan, membuat Hoseok secepat mungkin menutup mulutnya dan berlari kedalam bilik toilet. Memuntahkan isinya ke kloset, walau yang keluar hanyalah cairan saja.
Kepalanya mendadak pening, dan tubuhnya lemas bukan main. Iapun bersandar sebentar pada dinding bilik. Hoseok baru ingat, semalam meminum alkohol begitu banyak dan belum makan apapun hingga sekarang. Pantas saja.
Anak ini terlalu malas menatap Jimin bahkan saat di meja makan pagi tadi. Melihat Jimin selalu membuatnya teringat Yoongi. Belakangan ini Yoongi semakin sering tertangkap oleh pandangannya. Intensitas lelaki itu bertemu Jimin terasa meningkat. Dan itu menyebalkan.
Setelah dirasa membaik, Hoseok pun beranjak dan hendak membuka pintu bilik, sebelum tiba-tiba suara dari luar menghentikan niatnya.
"Halo Hongbin-a, hm ini aku Wonshik. Aku dan ayah baru selesai meeting dengan Direktur Park Corp. iya Jung Hoseok."
Hoseok dapat mendengar suara gemericik air di wastafel sebentar, sebelum Wonshik kembali bicara. Ia ingat, Kim Wonshik adalah putra kliennya yang baru ia temui tadi.
"Tampan? Lumayan. Hebat? Yaaa hebatlah karena sudah bisa memimpin perusahaan diusia semuda itu. Apa? Untuk apa aku iri padanya? Dia bahkan bukan pewaris utama Park Corp. "
"..."
"Kau tidak tahu? Dia kan bukan putra kandung di keluarga ini! Lihat saja namanya, dia bahkan masih menggunakan Jung sebagai marga dan bukannya Park. Manager Kim Seokjin pun sama. Mereka itu takkan pernah mendapat gelar Park. kau tahu kenapa?"
"..."
Hening sejenak.
"Karena pewaris utama yang sebenarnya adalah, Park Jimin. Tentu saja! Park Jimin kan satu-satunya putra kandung Park Yoochun. Karena beliau meninggal lebih cepat, jadilah Jung Hoseok yang menggantikannya. Dia dan Kim Seokjin itu, hanya pemegang sementara saja. Nanti jika sudah tiba waktunya, semuanya pasti jatuh pada Park Jimin."
"..."
"Hey, jika marga saja tak di dapatkan mana mungkin warisan sebesar itu jatuh pada mereka yang bukan siapa-siapa? Haha, desas desus itu sudah sering ku dengar dari ayah dan koleganya. Jadi, apa kau masih mau iri pada Jung Hoseok itu? Kalau aku sih justru kasihan. Dia yang lelah tapi Park Jimin yang menikmati hasilnya. Dunia kadang tak adil ya, Hongbin-a..."
"..."
Suara Wonshik perlahan menghilang, menyisakan Hoseok yang membisu. Alih-alih memasang wajah terkejut, dia malah menampakan air muka tanpa ekspresi. Tak terbaca sama sekali.
"Benar sekali, dunia memang tak adil..." Lirihnya, untuk kemudian tertawa begitu menyedihkan.
"Suga! Kau dipanggil Jaehwan Sajangnim." Ujar Namjoon saat ROCKMANTIC baru saja selesai berlatih.
"Sekarang?"
"Tentu saja, cepat! Sajangnim menunggumu di ruangannya." Namjoon pun pergi entah kemana. Menyisakan Suga yang terbingung-bingung di tempatnya. Entahlah, jika Jaehwan sudah memanggil maka aura menegangkan seperti otomatis menghampiri.
Ketiga rekannya pun sama bingung.
"Kenapa Jaehwan Sajangnim hanya memanggil hyung? Apa ada masalah lagi?" Tanya Dowoon yang masih duduk dikursi drum nya.
Suga menoleh "Kurasa tidak. Ah, mungkin tentang album kita?"
"Tapi kenapa cuma oppa saja?" Wheein menimpali sama bingung.
Suga mulai merasa resah. Benar juga. Namun untungnya Mina menenangkannya.
"Sudahlah, pasti hanya tentang album saja. Gula cepatlah pergi, tak baik membuat Sajangnim menunggu."
Dan si Gula pun menurut.
.
.
.
Suga mengetuk pintu kayu itu beberapa kali, sebelum akhirnya Jaehwan menyahut dari dalam. Saat Suga masuk secara perlahan, dilihatnya Jaehwan tengah berdiri didekat jendela. Entah memandang apa.
"Sajangnim memanggil saya?"
Barulah dia menoleh "oh, iya Suga." Jawabnya sambil tersenyum.
Dan Suga paling membenci senyum seperti itu. Karena ia hapal arti dari senyuman itu berbeda, membuat rasa was-wasnya kian meningkat.
"Duduklah." Tawar Jaehwan. Dia sendiri beranjak duduk di kursi kebesarannya. Diikuti oleh Suga yang duduk di hadapannya.
"Latihan berjalan lancar?" Tanya Jaehwan berbasa-basi.
"Ya, Sajangnim." Suga pun menjawab seadanya.
Jaehwan mengangguk.
"Aku sudah mendengar lagu ciptaan kalian masing-masing. Dan semuanya bagus."
"Terimakasih."
"Hm, aku memang tidak salah memilih anggota. Iya kan? Selain pandai bermain musik, menyanyi, menciptakan lagu, ternyata kalian juga pandai berakting. Apalagi kau, Min Yoongi."
"Ya?"
Suga menatap Jaehwan, berusaha menyembunyikan kekagetannya. Apalagi saat melihat senyuman itu lenyap perlahan-lahan.
"T-tentu saja. Bukankah saat Trainee kami semua mendapat pelajarannya?"
"Hm. Tentu. Dan kau mempraktekkannya dengan amat sempurna..."
"..."
"Jika aku memberikan sebuah tugas padamu, maukah kau melakukannya?"
"Apa itu Sajangnim ?"
"Masih tentang akting..."
Kemudian Jaehwan mengambil sesuatu dari laci mejanya. Sebuah amplop tebal, yang begitu dikeluarkan, isinya adalah lembaran foto. Dia ambil tiga lembar, lalu ia letakkan secara terbalik dihadapan Suga yang masih terbingung.
"Min Yoongi..." panggilnya kemudian.
"Iya, Sajangnim ?"
"Selama berada di agensiku, berapa macam sandiwara yang telah kau mainkan?" Tanyanya sambil menatap Suga dengan tajam.
"Ya?!"
"Berapa banyak kebohongan yang berhasil kau sembunyikan?"
"Sajang-"
"Setelah berpacaran dengan Jung Hoseok, kali ini apalagi yang kau coba tutup-tutupi?"
Tanya Jaehwan berbarengan dengan tangannya yang membalik satu foto diujung. Dan di detik yang sama, pupil mata Suga melebar.
Itu foto terdahulunya dengan...
Hoseok.
Darimana Jaehwan-
"Tak usah terkejut. aku sudah lama mengetahuinya."
Tak ayal, ucapan Jaehwan membuat Suga menatapnya dengan lebih was-was lagi. Jaehwan tahu? Sejak kapan? Kenapa-
"Kau pasti bingung kan? Kenapa aku tahu, tapi tak menghukummu sama sekali? Kau ingin tahu jawabannya?"
"..."
"Karena Hoseok sudah mewakilkan semuanya."
"Apa?"
Jaehwan tiba-tiba tertawa kecil melihat reaksi artisnya itu.
"Oh, apa sampai sekarang kau benar-benar lost contact dengan Jung Hoseok? Apa itu artinya kau benar-benar mempercayai ucapanku dulu?"
"Apa maksud anda, Sajang-"
"Dengar, semua ucapanku tentang Hoseok yang hengkang karena uang itu, murni kebohonganku."
"Ap-"
"Apa kau tak terima?"
"..."
Suga tanpa sadar mengepalkan tangannya dibawah sana. Apa? Lelucon macam apa yang sedang atasannya lakukan sekarang?
"Simpan semua amarahmu, karena itu sama sekali tak layak kau umbar sekarang. Kau harusnya merasa beruntung karena tak kubuang seperti Hoseok. Bahkan kau sukses debut dibawah tangan dinginku..."
"Tapi kenapa anda harus berbohong tentang Hoseok?!"
"Kau juga berbohong padaku tentang status pertunanganmu!"
DEG!
"A-Apa?"
Jaehwan membuka lembar foto di tengah. Untuk kedua kalinya, mata Suga dibuat terbelalak. Itu fotonya dengan Jimin saat di pemakaman lalu. Kenapa bisa-
Apa dia di buntuti?
"Anda...mengirim mata-mata?"
"Salah? Apa salah jika aku menyelidiki artisku sendiri?"
"Tapi itu kehidupan pribadiku!"
"Tapi kau masih menjadi bawahanku! Seharusnya kau ingat dengan peraturan yang berlaku. Kau-tidak boleh-menjalin hubungan dengan siapapun-sebelum berhasil sukses dengan album dan konser pertamamu!" Ujarnya penuh penekanan, "...Lalu kenapa melanggarnya? KENAPA KAU SELALU MELANGGAR PERATURANKU?!"
Bentakkan dari Jaehwan membuat Suga sedikit terkejut, hingga ia tak mampu lagi membalas perkataannya.
"Harusnya aku menyelidikimu sejak rumor itu mencuat. Harusnya aku menguatkan rasa curigaku padamu. Karena pembohong tetaplah pembohong. Pembangkang takkan semudah itu menurut. Sudah terselamatkan dari skandal berpacaran, kini kau malah melunjak dengan status pertunangan. Bahkan itu adalah adik dari Jung Hoseok sendiri. Wah, betapa hebatnya dirimu Min Yoongi?!"
Dengan menelan ludahnya susah payah, Suga coba membalas.
"Lalu apa mau anda? Anda akan memecat saya? Anda akan menendang saya sama seperti Hoseok dulu?"
Jaehwan lagi-lagi tertawa di situasi yang tak lucu ini.
"Menendangmu? Lalu kau akan bebas dengan mudahnya dan sukses menjadi pejabat di perusahaan tunanganmu itu? Tentu saja tidak."
"Jangan berbasa-basi, Sajangnim. Anda sudah tahu semuanya, maka cepat putuskan apa yang akan anda lakukan." Tuntut Suga dengan penuh penekanan.
"Bicaralah yang sopan, aku ini atasanmu Min Yoongi." Katanya setenang mungkin, lalu membalik foto terakhir.
Bola mata Suga melirik secara waspada. Kali ini, apalagi yang akan dilakukan CEOnya?
"Ini yang akan ku lakukan..."
Suga mengernyitkan dahi, lalu memandang Jaehwan dengan tak mengerti.
Pasalnya, itu adalah fotonya dengan Kwon Mina saat belajar membuat lagu di sebuah cafe beberapa waktu lalu.
Astaga, jadi dia sudah dibuntuti sedari lama?
"Apa maksudnya itu, Jaehwan Sajangnim?!" Suga mati-matian menahan emosinya sekarang. Dia benar-benar merasa di permainkan.
"Maksudnya? Inilah tujuan utamaku memanggilmu kemari."
"..."
Jaehwan menghela nafas panjang, dan Suga benar-benar muak dibuat menunggu.
"Bicara tentang akting. Melihat betapa pandainya kau menyembunyikan hubunganmu, baik dengan Jung Hoseok ataupun dengan tunanganmu sekarang. Maka, aku terpikir untuk memintamu berakting sekali lagi. Kali ini dengan...Kwon Mina."
"Bisakah anda langsung ke inti?"
"Hm, baiklah jika kau tak sabar."
"..."
"Dewasa ini, melakukan pembohongan publik demi mencari sensasi sudah sering dilakukan oleh banyak agensi. Entah itu saat akan debut, comeback, peluncuran album, ataupun menjelang konser. Bagaimana jika kita juga melakukannya? Kulihat, para penggemar sering memasangkan kau dan Mina sebagai couple. Bayangkan jika berita kalian berkencan di rilis? Pasti antusiasme akan bagus sekali. Dan otomatis, penjualan album dan tiket konser kalian akan meningkat drastis. Bukankah ini ide brilian?" Tutur Jaehwan tanpa beban, seolah tak sadar jika orang dihadapannya ini sudah muak setengah mati mendengar rencananya.
"Anda bercanda?"
"Kenapa? Kau takut tunanganmu tahu? Tapi publik sudah terlanjur percaya klarifikasi palsumu dulu, Min Suga."
Sialan! Suga termakan perbuatannya sendiri dulu. Dia pun berusaha mencari alasan lain untuk menentang rencana ini.
"Sajangnim, Bukankah anda sendiri yang bilang kami berbakat? ROCKMANTIC berkarir untuk musik bukan untuk mencari sensasi!"
"Astaga, Naif sekali dirimu Min Yoongi. Jika pada kenyataannya ROCKMANTIC akan lebih sukses karena hal ini bukannya kau juga senang? Album pertama, konser perdana. Bukankah itu yang kalian impikan? Segalanya sudah didepan mata! Tunggu apa lagi?"
"Tapi tidak harus dengan cara itu! Tanpa harus berbohong pada publik semacam inipun album dan konser kami akan sukses!"
"Tapi kau takkan mampu menggelar semua itu sendiri tanpa campur tanganku..." desis Jaehwan tajam.
Suga kembali dibuat tersudut.
"Apa anda bilang?"
Lelaki bermarga Lee itu pun mulai menegakkan tubuhnya.
"Lakukan apa yang ku perintahkan, atau album dan konser kalian akan ku batalkan. Kau tidak mau kan tiga rekanmu menanggung semuanya karena dirimu? Kau tentu tahu kan rasanya hampir gagal saat apa yang kau raih sudah ada didepan matamu?"
"Lee Jaehwan Sajangnim-"
"Kau berada dibawah kendaliku. Jadi, Min Yoongi, Lakukan saja apa yang aku mau karena aku tak menerima penolakan."
"..."
"Ya...kecuali jika kau mau mengecewakan teman-temanmu, Leader-nim?"
Mata sipit Suga menatap nyalang pada orang dihadapannya ini . Dalam diamnya ia tak habis fikir, bagaimana bisa atasan yang sangat ia hormati dan percayai melakukan semua ini? Membuat Suga merasa seperti ditampar keras di pipi kanan dan kiri secara berulang kali.
Ia berhasil terhasut ucapan Jaehwan tentang Hoseok dulu kala, hingga kini membuat hubungan mereka retak tak tertolong lagi.
Lalu sekarang? Orang itu bahkan memerintahkan hal yang sudah pasti akan menyakiti banyak hati.
Tentu saja, Suga langsung mengkhawatirkan tunangannya saat ini.
Ironis...
Leader yang dulu begitu mengagungkan karirnya itu justru terjebak oleh sifat angkuh keras kepalanya sendiri.
Mari menarik diri ke belakang, masihkah kau mengingat ucapanmu dulu?
'Aku Min Suga, orang yang sampai kapanpun akan lebih memilih karirku dibanding dirimu...'
Lalu, Bila sekarang kau dihadapkan pada situasi menyebalkan ini, apakah hal itu masih berlaku? Sudah mengetahui betapa busuk sosok yang kau percayai selama ini, masihkah kau akan memilih karirmu?
Hey, bukankah kau baru saja berjanji akan berubah untuk Jimin?
Jadi, mana yang akan kau pilih kini?
Karirmu,
Atau...tunanganmu?
Keputusan ada ditanganmu sepenuhnya, Min Suga.
