jika kamu mencari fanfic dimana yoongi dan jimin selalu berbahagia, tanpa orang ketiga keempat bahkan kelima, tanpa bencana dan prahara(?), maka serius, bukan disini tempatnya.
warn! this is a LONG chapter. typo anywhere~
myfiancé
Ponsel di samping lampu nakas itu terus berdering, sementara sang pemilik justru tengah tertidur di ranjangnya seolah tak terusik sama sekali. Jam digital telah menunjukkan angka 01.45, jadi wajar saja jika dia sedang benar-benar terlelap di alam mimpi, tanpa perduli ponselnya berdering bahkan lebih dari tiga kali.
Pintu kamar terbuka, menampilkan sosok Kim Seokjin yang mengenakan pakaian tidurnya. Dia berjalan gontai mendekati ranjang sang adik. Bertepatan dengan itu, bunyi telepon berhenti.
Seokjin duduk disisi kosong ranjang, lalu meraba kening adiknya. Tak perlu waktu lama untuk wajah mengantuknya itu mengeluarkan ekspresi risau yang kentara.
"Kenapa belum turun juga..." keluh Seokjin sambil menyeka keringat di dahi dan leher Jimin dengan tangannya. Sudah dua hari ini adiknya mengeluh tak enak badan hingga tak bisa masuk kuliah, bahkan tak sanggup bangkit dari tempat tidurnya sendiri. Namun anak itu tak mau menjalani perawatan di Rumah Sakit dan memilih beristirahat saja di kamarnya. Seokjin ingin merawatnya, namun pekerjaan di kantor benar-benar menumpuk dan tak bisa ia tinggalkan. Belum lagi-
Ponsel kembali berdering, membuat lelaki bermarga Kim itu sedikit tersentak. Setengah hati ia meraih benda pipih itu dan melihat layarnya. Saat nama pemanggil terbaca, seketika rasa malasnya berganti muak hingga membuat Seokjin dengan cepat menggeser ikon merah -Merejectnya- bahkan tak tanggung mencabut baterai ponsel tersebut. Untuk kemudian mengembalikannya ke tempat semula.
"Adikku bahkan baru bisa tidur satu jam yang lalu. kenapa kau mengganggunya dini hari begini...?" Gerutunya pelan sambil merapikan bedcover yang membungkus tubuh Jimin.
"Hyung~"
Suara berat Jimin sedikit membuat Seokjin terkejut, namun tak urung dia tersenyum juga "Hm? Ada yang sakit, Jimini? Perlu ku panggilkan-"
"Tidak," Jimin menggeleng, dia berbicara stengah terpejam "Hyung kenapa kemari? Tidurlah dikamarmu, kau pasti lelah..."
Kali ini Seokjin yang menggelengkan kepalanya.
"Hyung mau tidur disini, boleh ya?"
Tanpa menunggu persetujuan Jimin, Seokjin segera merebahkan tubuhnya disamping sang adik. Karena ia tahu anak itu takkan kuasa menolak. Lihat, dia bahkan membagi bedcovernya dengan Seokjin hingga keduanya hangat bersamaan.
"Hoseok hyung belum pulang juga?" Tanya Jimin masih dengan mata mengantuknya. Seokjin hanya mengangguk, dengan mata yang sama.
"Jin hyung sudah menelponnya belum? Apa dia baik-baik sa-"
"Sudahlah, mungkin Hoseok menginap di rumah temannya. Tak perlu khawatir."
"..."
"Kalau mau khawatir, lakukan saja pada dirimu sendiri. Sekarang tidurlah, agar besok membaik." Saran Seokjin, dan untunglah Jimin menurut tanpa protes lagi.
"Hm, Jaljayo Seokjin hyung~" bisiknya, dan Seokjin pun membalas dengan bisikan pula.
"Ya, Jaljayo Jimin-ie..."
Dua kakak beradik tanpa hubungan darah itu saling membalas senyum tulus. Untuk kemudian satu diantaranya kembali lelap dalam mimpi, menyisakan si sulung yang masih terjaga dengan berbagai macam pikiran.
-Hoseok belum pulang sejak dua hari lalu.
Ini sangat membuat Seokjin risau. Nyatanya, sampai sekarang dia belum berhasil menghubungi anak itu sama sekali. Ponselnya tak aktif, dan dia belum pernah datang ke kantor sekalipun. Itulah sebabnya pekerjaan begitu menumpuk dan membuat Seokjin cukup kewalahan menghandlenya. Sementara si bungsu tengah sakit di rumah dan Seokjin takkan tega bercerita tentang ini padanya.
"Kau dimana?" Tanyanya dalam hati sambil memijit keningnya sendiri.
Seokjin tahu ada yang tak beres dengan Hoseok, namun anak itu sama sekali tak pernah mau bercerita. Bahkan saat berbicara mengenai 'insiden' malam itu saja Hoseok hanya bilang "Lupakan saja itu dan semua hal yang mungkin aku ucapkan selagi mabuk. Jangan mengingatnya apalagi membahasnya didepanku."
Benar-benar sulit dimengerti.
Belum lagi ingatan tentang kejadian di halaman rumah tempo dulu. Saat Suga, Hoseok, dan Jimin berdiri ditempat berdekatan. Walau tak dapat mengetahui secara spesifik, tapi Seokjin tahu ada yang tak beres dari ketiganya -atau hanya antara Suga dan Hoseok?- entahlah.
Seokjin hanya merasa jika ada aura tegang yang mendominasi meski hanya melihatnya dari jarak jauh.
"Ada apa sebenarnya?"
Dia bertanya lagi entah pada siapa, dan sudah tentu takkan memperoleh jawabannya. Maka dengan segala kebingungan dan lelah yang mendera, pemilik marga Kim itu pelan-pelan terlelap disamping adiknya.
"Jimin angkatlah~"
Sudah kesekian kali Suga coba menghubungi tunangannya, namun tak di jawab jua. Tubuhnya ia bawa mondar-mandir di ruang latihan ini tak ubahnya setrikaan. Dua hari belakangan dia begitu sibuk mempersiapkan album hingga tak ada waktu bertemu dengan Jimin. Jangankan bertemu, mengontak pun ia tak bisa karena tunangannya itu tiba-tiba susah dihubungi.
Nah! Bahkan sekarang tak dapat tersambung sama sekali.
"Sial!" Umpatnya pelan
Cklek~
"Suga!"
Namjoon masuk dan memanggil dengan suara khas orang mengantuk, pun dengan kedua matanya yang kian menyipit. Suga menurunkan ponsel dari telinganya, lalu menoleh.
"Semuanya sudah siap." Ucap Namjoon memberitahu, dan Suga langsung paham maksudnya tanpa harus bertanya lagi. Namun meski begitu sang manager tetap menjelaskan secara rinci.
"Ini..." Namjoon menyerahkan sebuah headset bluetooth yang tak langsung diterima oleh Suga. Dia pun memberi manajernya pandangan bertanya.
"Pakai ini, dan dengarkan setiap intruksi dariku nanti. Kau harus melakukannya sesuai perkataanku, agar wartawan dapat menangkap gambar dengan jelas." Tutur Namjoon, dan Suga hanya menatap benda itu tanpa berkedip.
"Kau mengerti?"
Sang artis menghembuskan nafasnya lelah, untuk kemudian meraih headsetnya.
"Hm."
Tanpa banyak bicara lagi, anak itu pun segera menyambar tasnya lalu hendak pergi. Sebelum Namjoon memanggil kembali.
"Yoongi-a,"
Suga menoleh, "Hm?"
"Jika ada seseorang yang kau khawatirkan akan terkena dampak dari hal ini, sebaiknya kau beritahu dulu agar dia tak salah paham."
"..."
Suga terdiam. Pikirannya kembali tertuju pada Jimin, orang yang ia khawatirkan kini.
Ingin. Ia sangat ingin menghubungi tunangannya itu untuk sekedar memberitahu secara singkat tentang masalah ini. Atau mungkin bertemu agar segalanya menjadi jelas dan tak berujung salah paham. Namun lihat saja situasinya sekarang? Untuk menelpon saja tak bisa, apalagi bertemu.
Keadaan ini menyulitkannya.
"Aku hanya memberi saran saja, Yoongi. Yah, kau tahu sendiri Lee Jaehwan itu orang seperti apa. Melihat rencananya hari ini saja sudah bisa kutebak, dia tak main-main. Jadi sebelum segalanya bertambah runyam, usahakan beritahu dulu orang yang penting bagimu."
"..."
Lagi-lagi Suga tak membalas dan sibuk dengan pikirannya sendiri.
Orang seperti apa Lee Jaehwan?
Suga baru menyadarinya sekarang jika CEO nya itu gila.
Dia tak main-main dengan apa yang ia ucapkan. Segala yang ia mau harus dilakukan tanpa mau perduli pendapat orang, tak perduli tempat, waktu, juga keadaan.
Seperti sekarang, sang CEO mengeksekusi rencana gilanya menjelang jam dua pagi.
Yang benar saja!
"Aku mengerti perasaanmu, Min Yoongi. Tapi tak ada hal yang bisa kubantu. Melawan Lee Jaehwan terlalu menakutkan bagiku. Jadi kuharap kau menurut saja. Jalani semuanya seperti yang di rencanakan. Kau paham?"
Kali ini Namjoon bicara sambil menepuk bahu Suga dan anak itu tersenyum tipis padanya.
"Aku mengerti." Jawabnya, lalu benar-benar pergi.
Benar! Lee Jaehwan memang gila, dan Min Yoongi bodoh karena bersedia terlibat dalam permainannya.
"Pertemuan Kwon Mina dan Lee Jaehwan Sajangnim dengan Produser dari Jepang akan berakhir sebentar lagi. Tempatnya sudah kuberi tahu padamu tadi. Suga, pastikan kau turun dari mobil agar wartawan bisa memotretmu. Jangan mengenakan masker atau topi. Instruksi selanjutnya akan kuberi nanti."
Suga melirik spion mobil dengan tatapan datarnya, dan menemukan mobil lain berwarna putih terparkir tak jauh darinya. Tanpa bertanya pun ia sudah tahu milik siapa itu.
Dia membuka seatbeltnya perlahan, lalu menarik nafasnya berulang kali dengan berat. Tak menunggu waktu lama, dia keluar dari mobilnya.
Menatap sebentar bangunan didepannya, untuk kemudian tertawa muak.
Orang gila itu bahkan rela menyewa cafe hingga dini hari begini...
.
.
.
"Rangkul Mina dengan erat, Suga. Oh! Jangan lupa bukakan pintu mobil untuknya. Bila perlu pinjamkan mantelmu padanya. Bergeraklah senatural mungkin agar terlihat sungguhan."
"Kau kedinginan?" Tanya Suga saat merangkul Mina keluar dari Cafe. Anak itu hanya tersenyum canggung saja. "Kenapa selalu kedinginan saat berdua denganku, hm? Ah~~ ini jam dua pagi. Wajar saja. Mau pakai mantelku?" Tawar Suga, yang lantas ditolak Mina dengan gelengan kepala. Tatapan matanya menyiratkan banyak tanda tanya atas sikap leadernya kini. Dia tak minta dijemput tapi gulanya itu tiba-tiba muncul dihadapannya.
Lihat, dia bahkan membukakan pintu mobil untuknya!
"Biar aku buka,"
"Ha? Tak usah, gula. Aku bisa-"
"Kau pasti lelah dan mengantuk. Biar aku yang buka." Katanya sambil membuka pintu "...silahkan masuk." dan mempersilakan Mina masuk. Lalu menutup pintu mobilnya kembali. Dari ekor matanya, Suga bisa melihat mobil putih itu masih berada ditempat semula.
.
.
.
Sepanjang perjalanan menuju dorm, Mina terus menatap Suga dengan heran. Tidak, sebenarnya belakangan ini ia selalu merasakan ini pada leadernya itu. Mulai dari postingan foto di media sosial yang selalu meniru dirinya- yah katakanlah begitu karena, setiap Mina selesai mengunggah selca atau semacamnya, maka beberapa menit setelahnya Suga akan melakukan hal yang sama dan dengan pose yang nyaris sama pula. Atau saat Mina berkata sesuatu di status jejaring sosialnya, lagi-lagi gula nya itu akan memasang status yang tak ubahnya sahutan untuk status Mina sebelumnya.
Tak ayal, hal itu ditanggapi dengan begitu ramainya oleh fans mereka. Banyak komentar yang masuk dengan bunyi menebak-nebak. Bahkan ada diantaranya mendesak agar Mina mengaku bahwa dia dan sang gula berpacaran.
Kwon Mina jelas merasa bingung sendiri harus bagaimana. Masa dia harus menegur Suga yang seenaknya mengikuti gayanya dan menimbulkan gosip ini merebak? Ah, tidak-tidak. biarkan saja. Itukan haknya. Lagipula bisa saja kan, tujuan Suga bukan itu?
"Hey, kenapa melihatku begitu?" Tegur Suga membuat lamunan Mina buyar.
"Ha? T-tidak. Uhm, terimakasih ya sudah menjemputku. Padahal ini sudah dinihari dan kau pasti lelah, gula."
Suga tersenyum "Tak masalah. Ohya, bagaimana pertemuan dengan produser dari Jepang itu? Lancar?" Tanyanya seraya menoleh.
Mina mengangguk pelan dan balas tersenyum.
"Baguslah~ jadi, apa keputusannya?" Tanya Suga lagi , masih menatap Mina. Jalanan cukup lengang, jadi Suga bisa leluasa.
"Engg~~ aku diminta menjadi brand ambassador sebuah produk. Tapi Sajangnim bilang, aku harus menyelesaikan album kita dulu. Barulah tanda tangan kontraknya. Cuma satu tawaran saja, tapi pertemuannya harus terburu-buru di pagi buta begini." Tutur Mina, dan Suga hanya bisa mengumpat dalam hati. Lee Jaehwan memang gila! Tak memikirkan jika artisnya ini lelah.
"Hm, begitu. Ehm...Mina-ya,"
"Hm?"
Suga mengulum bibirnya sejenak, lalu hendak bertanya "Apa kau-"
"Berhenti di persimpangan depan! Jangan berjalan lagi sebelum aku menginstruksikanmu."
...Namun suara Namjoon kembali terdengar, membuat Suga terpaksa menelan kembali pertanyaannya.
"Gula mau bilang apa?"
"Ah? Uhm...Apa kau- mengantuk?"
"Huh?"
"Aku sedikit mengantuk. Bolehkah berhenti sebentar di persimpangan depan?"
Mina mengangguk saja tanpa ambil pusing.
Suga pun menghentikan laju mobilnya disebuah persimpangan yang sepi. Tepat dibawah sebuah bangunan bertingkat.
"Aku bersama wartawan diatas sini." Suara Namjoon terdengar kembali, dan Suga baru menyadari jika mobil putih itu sudah tak mengikuti. Ia melirik ke atas bangunan dengan ekor matanya. Disana gelap, namun Suga yakin banyak mata dan kamera yang mengawasinya.
"Dan juga... Sajangnim." Lanjut Namjoon, membuat Suga sontak menarik ujung bibirnya dengan sinis.
Gila, cepat sekali pergerakan mereka.
Drrrt Drrrrt~~~
Ponsel Mina bergetar, tanda pesan masuk. Otomatis anak itu membukanya, membuat terang dari layar ponsel menyorot wajahnya di kegelapan ini. Diam-diam Suga melirik rekannya itu. Bisa ia lihat, nama Jaehwan tertera di layar.
Tanpa banyak berfikir pun dia menyadari sesuatu.
Ini skenario lagi...
"Buka kap mobilmu, Suga."
"Mina-ya..." panggilnya saat Mina telah memasukkan kembali ponsel kedalam sakunya.
"Ya, gula? Tidur saja dulu jika kau mengantuk."
"Hm. Tapi, bolehkah aku membuka kap mobilku? Kurasa ini sedikit-...gerah."
Tolol!
Anak kecil pun tahu cuaca disini sangat dingin. Mina pun sebenarnya kembali merasa aneh. Gerah? Bingungnya dalam hati. Namun ia lagi-lagi hanya menurut pada keinginan sang gula.
"Terserah gula saja..."
Suga tersenyum, dan dalam sekejap kap mobilnya ini terbuka. Mengundang hawa dingin yang menusuk, dan Suga harus berpura-pura tak merasakannya. Pun dengan Kwon Mina.
Sayangnya, sikap pasrah Mina diartikan lain oleh Suga. Ia pikir, gadis itu dengan mudahnya menurut karena tahu perihal rencana ini. Padahal Mina lebih terbingung-bingung ditempatnya.
Namun dia tak berani banyak tanya, apalagi saat melihat Suga nampak begitu lelah dan kini tengah bersandar memejamkan mata. Jadi yang ia lakukan hanyalah diam, menatap gulanya.
Tentang postingan-postingan di sosial media itu... walaupun bingung, Mina mau tak mau harus mengakui jika ia sedikit senang. Sama sekali tak keberatan ataupun terusik dengan gosip yang perlahan-lahan muncul. Tanpa ia sadari, seulas senyum terukir dibibirnya. Dan tanpa ia sadari pula, Suga tengah menahan amarah didalam pejamnya.
"Cium dia."
Brengsek!!
Skenario macam apa ini? Suga benar-benar merasa disiksa dan dipermainkan sekarang. Lagipula wartawan mana yang bersedia bekerja sama dan meliput berita yang jelas-jelas sandiwara ini?!
Oh, ia lupa. Ini Lee Jaehwan. Lee Jaehwan yang menghalalkan segala cara agar rencana nya berhasil. Uang berbicara, dan rencana apapun akan dengan mudah terlaksana.
"Ayolah Suga!"
Segalanya semakin menyiksa tatkala bayangan wajah Jimin terlintas dalam pejamnya, sementara Namjoon terus mendesak dia melaksanakan instruksinya. Mencium-
oh sialan!
"-Kwon Mina..."
Mina berkedip kaget. Bagaimana tidak? Ia tengah asyik menatap wajah Suga saat orang itu tiba-tiba memanggil dia dengan nama lengkapnya walau sambil terpejam.
"I-iya gula?"
Suga membuka matanya. Masih tetap bersandar, dia berkata.
"Tentang foto di jejaring sosial itu...kau pasti paham apa maksudnya."
"..." maksud apa? Namun Mina tak langsung memotong karena sepertinya Suga masih punya lanjutan dari perkataannya.
"Aku juga tersiksa, tapi...mau bagaimana lagi? Kita harus menjalaninya"
"..."
"Kau tak marah kan? Apa yang ku lakukan ini sudah benar kan?" Tanya Suga sungguh-sungguh. Nampak sekali frustasinya. Dan itu membuat Mina tambah tak bisa bersuara.
Kalimat leadernya ini ambigu, jika Mina boleh bilang. Jadilah dia bingung harus menjawab apa.
Melihat respon Mina yang tak banyak bicara, lagi-lagi Suga mengartikannya sebagai sebuah jawaban, jika rekannya itu sudah paham tentang apa yang tengah mereka lakukan sekarang.
Ia pun menghembuskan nafasnya.
"Kau mengantuk?" Tanya dia dengan suara beratnya, membuat Mina sedikit bergidik.
"S-sedikit"
Suga menegakkan tubuhnya
"Kau kedinginan?"
"Uhm,"
"Mau aku hangatkan?"
"Ya?!"
.
.
.
Dan segalanya terjadi begitu saja.
Potret diambil dari segala angle, tampak sempurna. Ya, sempurna.
Sesempurna kekesalan Min Suga saat ini, sesempurna kebingungan dan keterkejutan Kwon Mina detik ini, serta-
...sesempurna rencana Lee Jaehwan yang tengah tertawa puas dari atas sini.
"Edit terlebih dahulu. Buatlah senyata mungkin, dan kurasa...dipublikasikan lusa nanti bukan ide yang buruk." Instruksinya pada para staff management serta wartawan yang ada didekatnya. Matanya tak lepas dari pemandangan dua sejoli dalam mobil kap terbuka dibawah sana.
"...dua member band kencan dan berciuman di sebuah mobil kap terbuka pada jam dua dini hari. Wow! ini akan sangat menarik..."
Kim Namjoon melirik atasannya itu dengan tak habis pikir, lalu memberi instruksi terakhirnya.
"Cukup, Suga. Kau boleh melepas ciumanmu."
Pagi menjelang, mengakhiri mimpi buruk yang membuat Jimin terbangun dengan keringat membanjiri wajahnya. Ia berkedip pelan, masih berusaha meredakan nafasnya yang tiba-tiba memburu. Tak begitu jelas mimpi apa yang ia alami, tapi segalanya terasa begitu melelahkan hingga membuat tubuhnya lemas dan juga-
...perasaannya... sesak ?
Ia meremas piyama bagian dadanya.
Perasaan macam apa ini?
Namun Jimin tak mau memikirkannya begitu jauh. Baginya, mimpi hanyalah mimpi. Untuk apa diingat-ingat lagi? Selain itu, fokusnya kini teralih pada Seokjin yang masuk sambil membawa sesuatu di nampan.
"Pagi, Jimin-ie..." sapanya sambil mendekat, dan Jimin segera beranjak duduk.
"Pagi, Seokjin-ie hyung..." balasnya, walau dengan suara serak.
Nampan berisi sarapan itu Seokjin letakkan diatas nakas, lalu dia sendiri duduk disamping adiknya.
"Hm, sudah tak sepanas tadi malam" katanya sambil meraba kening Jimin "...tapi aku terlanjur memanggil Dara nuna kemari, jadi kau harus mau diperiksa." Sambungnya memberi tahu, ebih tepatnya mengharuskan. Dan seperti biasa, adiknya itu langsung menolak
"Hyung! Aku tidak-"
"Tidak ada penolakkan, karena-"
"Karena aku sudah dataaaang~~~"
Suara riang itu terdengar di ambang pintu, membuat kakak beradik itu dengan cepat menoleh. Bisa dilihat, Dara tengah berjalan kearah mereka.
"Aigoo-Aigoo~~ lihatlah mochi yang satu ini! Sudah tahu sakit tapi keras kepala sekali tak mau menghubungiku." Cecar Dara sambil menyentil pelan kening sepupunya itu. Seokjin hanya tersenyum kecil saat melihat Jimin yang memandang Dara dengan memelas.
"Nuna, aku tidak sakit. Seokjin hyung berbo-"
"Park Jimin berbohong!" Dara memotong "ah~ mana cerminku ya? Tunggu sebentar..." lantas merogoh salah satu tas yang ia bawa, untuk kemudian mengeluarkan cermin kecil darisana. "NAH! Lihat, Lihat wajahmu Jimin-ie!" Titahnya sambil menghadapkan cermin itu pada wajah Jimin "pucat seperti mayat! masih mau menyangkal jika dirimu sakit?!"
Dan Jimin hanya bisa meringis pelan, membuat Noona serta Hyungnya menggelengkan kepala.
"Sebenarnya apa gunanya dokter pribadi untukm, Jimin-ie? Kau harusnya merasa beruntung karena aku tak pernah meminta bayaran sepeserpun. Makanya jika kau merasa sakit, cepat hubungi aku jangan diam saja!" Hardik Dara, masih dalam posisi berdiri.
"Iya nuna, iya. Aku mengerti. Lagipula sekarang sudah mendingan kok, jadi-"
"Jadi aku harus tetap memeriksamu karena sudah terlanjur datang di pagi yang hujan ini..." sela Dara cepat.
Ah, benar. Pagi ini turun hujan yang cukup deras. Lagipula ini masih jam 7 pagi, tapi Dara sudah repot datang kemari. Mendahulukan dirinya daripada rumah sakit. Mana tega Jimin menolak?
"Yasudah, nuna tunggu sebentar. Aku mau ke kamar mandi dulu."
"Hm , baiklah." Dara mengangguk paham, lalu membiarkan sepupunya itu beranjak ke kamar mandi. Menyisakan dirinya dan Seokjin disini. Seketika senyum riang dan gemas Sandara lenyap, berganti menjadi datar tanpa ekspresi.
"Dia belum pulang juga?" Tanyanya, sudah pasti pada Seokjin walau ia tak memandangnya, dan lebih memilih berjalan membuka gorden kamar . Untunglah lawan bicaranya itu sudah langsung menangkap apa maksud pertanyaannya. Seokjin berdiri, dan menjawab dengan hati-hati.
"Mungkin dia ada urusan yang tak bisa ditinggalkan, jadi-"
"Urusan apa yang sampai harus tak pulang selama berhari-hari?" Dara membalik badan, dengan kedua tangan disilangkan diperutnya. "Apa dia dokter seperti aku, yang selalu kedatangan pasien tanpa diduga-duga?"
"Nuna,"
"Ayahku bahkan lebih sibuk darinya, tapi selalu pulang setiap hari. Menengok keluarga, memanfaatkan waktu sebaik mungkin. Tapi apa yang dilakukan anak itu?" Dara bertanya dengan herannya "kudengar dia juga tak pernah lagi datang ke kantor, lalu kemana dia pergi? Jika memang sudah lelah bekerja, setidaknya diam di rumah dan perhatikan adiknya! Bisa-bisanya Jimin sakit dan tidak ada yang memberitahu aku dengan cepat. Kau pikir apa tugasmu dan Jung Hoseok disini, Kim Seokjin?!"
Seokjin menunduk dan mengulum bibirnya sejenak, lalu menjawab "Aku tahu. aku minta maaf jika sudah gagal menjaganya..." sesalnya.
Dara menatap 'adik sepupu' nya itu dengan pandangan meredup. Dia tahu Seokjin tidak salah. Seokjin adalah orang yang paling bertanggung jawab disini. Si sulung itu menjalankan tugas dirumah -menjaga Jimin- , dan menjalankan tugas di kantor dengan sebaik-baiknya. Pun, menjaga Hoseok yang selalu membangkang pada setiap perintahnya.
Wanita itu menghela nafas dengan dalam, lalu menghembuskannya perlahan.
"Sebenarnya apa yang anak itu inginkan? Bukannya membaik, malah semakin kekanak-kanakkan..." gumam Dara tak habis pikir, dan Seokjin tak menjawab karena dia pun sama bingungnya.
Setelah hening beberapa saat, Dokter muda itu melangkah hingga ke hadapan Seokjin
"Cepat temukan Hoseok, dan bawa dia kemari. Jalankan tugas kalian seperti seharusnya. Jika tidak, aku bisa saja mengadukan ini pada Bibi Lee." Ucapnya sangsi, "Katakan pada Hoseok untuk memperbaiki sikapnya, atau aku dengan terpaksa akan mengadukannya pada Kakek di Amerika." Sambungnya, dan spontan membuat Seokjin mengadah dengan cepat.
"Tidak! T-tidak nuna. kumohon jangan mengadukan ini pada kakek..." dia menggelengkan kepalanya, panik. "S-secepatnya aku akan menemukan Hoseok dan membawanya pulang. Kami akan menjalankan tugas dengan baik. Hoseok akan merubah sikapnya, a-aku bisa pastikan itu..."
Lihat, Kim Seokjin selalu membela Jung Hoseok didepan siapapun. Padahal dia yang paling tahu seburuk apa perilaku Hoseok selama ini. Jika dipikir-pikir, Hoseok dan Jimin sama saja. Membela seseorang yang jelas salah, hanya demi menutupi keadaan sebenarnya. Hoseok sangat beruntung dikelilingi orang seperti mereka, tapi kenapa anak itu sangat keras kepala?
"Tentu saja. Kau harus bisa memastikannya." Dara menepuk bahu Seokjin pelan "Cepat sadarkan Hoseok sebelum dia bertindak terlalu jauh. aku hanya...tak ingin dia menyesal nantinya. Nuna mempercayaimu Seokjin-a." Pintanya dengan sungguh.
Seokjin dengan cepat mengangguk, paham akan ucapan terakhir 'kakak sepupunya' itu.
"Aku mengerti, nuna. Secepatnya Hoseok akan kembali sebelum dia menyesal terlalu dalam..." janjinya "Kalau begitu, aku pergi dulu."
"Yah, hati-hati Seokjin-a."
Kemudian anak itu pergi meninggalkan Dara seorang diri. Ia menatap Seokjin hingga pintu tertutup, dan saat itulah pintu yang lain terbuka. Jimin muncul dibaliknya.
"Uh? Jin hyung sudah berangkat?" Tanyanya. Dengan cepat, ekspresi Dara berubah lagi.
"Tentu saja , dia kan harus bekerja. Kemari kau anak nakal! Waktunya diperiksa." perintahnya, sambil membuka tas peralatan Dokternya.
Jimin mau tak mau mendekat pada noona sekaligus Dokter pribadinya itu.
"...Berbaringlah!"
Hujan diluar membuat jendela kamar Suga nampak berembun. Sang pemilik sendiri kini tengah berdiri dibaliknya. Kedua tangannya berada di saku jeans yang ia kenakan, sementara kedua matanya menatap kaca berembun itu entah memikirkan apa.
Jam sembilan nanti ada pemotretan, dan penampilan Suga sudah rapih bahkan sejak satu jam lalu. Entahlah... walaupun muak memenuhi perasaanya, tapi tubuhnya seolah bergerak secara otomatis mempersiapkan diri untuk bekerja seperti biasa. Padahal ia baru pulang ke rumahnya jam tiga pagi, setelah sebelumnya mengantar Mina ke dorm.
Kwon Mina...
"Apa yang sudah ku lakukan..." tanyanya, bergumam. Entah pada siapa. Dan jawaban yang ia dapat adalah, perasaan muak, kesal, dan sesal yang kian bertambah. Dia memejamkan mata, mencoba menghempas sesak yang ada.
.
.
.
"Agh!"
Namun yang didapati dalam pejamnya adalah, bayangan Jimin akan tersakiti saja. Dan itu membuatnya kembali membuka mata dengan frustasinya.
Besok, kemungkinan berita tentang ia dan Mina akan di rilis ke publik. Dan ia yakin, tak butuh waktu lama untuk khalayak ramai membicarakannya.
Seperti halnya rumor pertunangan dulu.
Dari satu akun ke akun yang lain, dari mulut satu ke mulut yang lain, merembet dengan cepat, dan akhirnya akan sampai ke telinga keluarga Park, tak terkecuali...
"Park Jimin..."
Hari ini adalah kesempatan terakhir untuk Suga memberi tahu tunangannya, sebelum nanti dia salah paham terlalu jauh. Dia akan menjelaskan perihal skandal kencan palsu yang direncanakan CEO nya.
Jimin pasti mengerti, Suga yakin itu.
Tapi-
"Bagaimana cara mengatakannya...?"
Satu tangannya ia keluarkan dari saku, lalu dengan iseng mencoret-coret kaca penuh embun itu.
'Sayang, besok mungkin kau akan terkejut dengan pemberitaanku, tapi-'
Tidak.
'Jimin-ie , jika ada berita tentang aku berkencan dengan-'
Shit!
Gerakkan tangannya terhenti. Belum memulai saja Suga sudah merasa bersalah bukan main. Lalu kiranya kalimat apa yang pantas dia ucapkan? Mau bagaimanapun Jimin pasti terluka.
Jika dia menjelaskan sejelas-jelasnya, bukan tak mungkin hubungannya dengan Hoseok akan terseret dan mau tak mau harus di beberkan juga. Masalahnya, Suga masih terlalu pengecut dan belum siap memberi tahu Jimin soal itu.
Segala kebingungan di pagi berhujan ini kian menumpuk, hingga sampai pada satu masalah paling puncak.
Jimin sulit dihubungi.
Satu solusi yang ia dapat sekarang adalah, pergi ke rumah tunangannya. Maka dengan segera, Suga bergegas mengambil tas dan juga kunci mobilnya. Namun belum juga dia membuka pintu kamar, satu pesan singkat masuk ke ponselnya.
From : Kim Namjoon
Pemotretan dimajukan satu jam. Cepatlah datang!
Astaga...
Berapa banyak kalimat kasar bernada makian yang Suga tahan diujung lidahnya sekarang?
Dan juga, berapa banyak nyalinya untuk menghindar dari perintah staff agensi yang ingin ia maki ini? Seimbangkah dengan keberaniannya berkata jujur didepan Jimin?
Karena Suga nyatanya tetaplah Min Suga.
Seberapa sering dia meyakinkan dunia jika dirinya mau berubah. Atau seberapa kali rasa kesal menghampirinya, toh dia tetap menurut pada setiap perintah pihak agensinya.
Simpulkan saja begini, perbandingan untuk agensi dan Jimin adalah...
51 : 49
Karena iya, tak ada manusia yang mampu merubah perangai nya secepat itu. Buktinya, Leader grup yang jelas-jelas telah dipermainkan agensi tempatnya bernaung itu dengan bodohnya tetap pergi dan menurut. Meninggalkan sepenggal kalimat di kaca berembun yang ia coret dengan tangannya sendiri.
미안헤요...
"Aku minta maaf karena tak menghubungi nuna. jangan cemberut begitu, kau menakuti pasienmu ! Nuna~~~" Jimin merajuk tatkala mendapati raut wajah Dara yang nampak tak bersahabat sepanjang pemeriksaan berlangsung. Sang noona yang tengah membereskan peralatannya hanya melirik sekilas.
"Memangnya sejak kapan kau menganggap aku Dokter?" Sahutnya sarkastik, walau pada akhirnya tetap duduk di samping Jimin yang tengah berbaring, lalu merapikan selimut adik sepupunya itu.
Jimin tersenyum singkat. Dia tahu Dara tak sepenuhnya marah.
"Bodoh sekali aku jika begitu. Nuna adalah Dokter dan kakak sepupu terhebat yang aku punya." Ungkap Jimin dengan bangganya "Dara nuna cantik, masih muda, dan bertanggung jawab pada pekerjaannya. Hampir dua tahun ini...tidak perduli pagi buta atau tengah malam, kau pasti akan cepat datang jika tahu aku sakit. Ya kan?" Penuturan anak itu tak ayal membuat Dara merasa terenyuh. Namun dia tetap membalas dengan ekspresi -pura-pura- juteknya.
"Setiap Dokter pasti begitu pada semua pasiennya, jadi kau jangan kegeeran!"
Jimin terkekeh lagi.
"Jam berapa ini? Kok Nuna belum berangkat?"
"Kau mengusirku?"
"Uh, tidak. aku kan cuma bertanya. Dan juga mengingatkan, barangkali kau ada urusan di Rumah Sakit sana dan melupakannya gara-gara aku...?"
Saat mendengar itu, tiba-tiba saja raut wajah Sandara berubah. Seperti teringat sesuatu.
"Ah, benar! Aku lupa sesuatu!"
"Tuh kan!"
"Jimin-ie,"
"Uhm?"
"Jungkook, Jeon Jungkook."
Kali ini raut wajah Jimin lah yang berubah, heran.
"Jungkook? Ada apa dengan-"
"Dia sudah menjalani operasi..." Sela Dara cepat, membuat Jimin spontan melebarkan pupil matanya. Dia bahkan langsung terduduk.
"Huh?! Kapan? Bukankah-"
"Dua hari yang lalu. Harusnya bukan hari itu, tapi keadaannya semakin menghawatirkan. Jadi, tim Dokter sepakat melakukan operasi Jungkook dan Junghyun saat itu juga." Jelas Dara, dan Jimin nampak sedih mendengarnya.
"Aku sudah berjanji akan datang. anak itu pasti kecewa..." sesalnya, dengan bahu melemas. "Bolehkah aku menjenguknya sekarang?" Tanyanya.
Dara dengan spontan menggelengkan kepala.
"Kenapa? Aku sudah sehat kok-"
"Bukan masalah itu. Selain Dokter dan perawat, Jungkook belum boleh dikunjungi siapapun. Besok saja, itu juga kalau kau membaik." Sarannya.
Dan Jimin mau tak mau menurut, walau penyesalan masih nampak di wajahnya.
"Jungkook pasti kecewa padaku..."
"Ini karena kau sulit dihubungi!" Tuding Dara kemudian "...tadinya aku mau memberitahumu, tapi ponselmu tak juga diangkat. Bahkan semalam tak tersambung sama sekali." Imbuhnya, kesal.
"Benarkah?" ah, kemarin ia memang sama sekali tak punya tenaga untuk bangun, bahkan hanya sekedar meraih ponsel di nakas pun ia tak sanggup. Tapi, kenapa tak tersambung? seingatnya dia tak mematikan ponsel? "Tapi aku tak mematikan ponsel-...ku?" Jimin meragukan kalimatnya sendiri manakala melihat ponselnya di atas nakas nampak 'mengenaskan', dengan flipcover terbuka, dan baterai berada di luar tempatnya. "Huh?"
Jimin meraihnya, dan segera memasukkan baterai itu ke tempat semestinya. Lalu memasangkan flipcover biru pemberian Seungcheol seperti semula.
"Seingatku, benda ini hanya kuletakkan disana tanpa membongkarnya begini. Kenapa bisa...?" Gumamnya, heran.
Dara hanya berdecak pelan memperhatikan sepupunya itu. Ia hendak berkata sesuatu, sebelum tiba-tiba anak itu memekik pelan.
"Astaga!"
"Kenapa?"
"Yoongi hyung menelponku berulang kali sebelum ponsel ini mati... aish~ apa ada hal penting yang mau dia kata-"
Pletak!
"Ash! Nuna!" Jimin meringis, kali ini sebab ulah sang noona yang tiba-tiba menyentil keningnya cukup keras. Jangan lupakan tatapan tajam yang ia arahkan pada Jimin itu.
"Jadi Tunanganmu itu tak tahu jika kau sakit?!"
Dan dengan polosnya, Jimin mengangguk tanda iya, Yoongi tak tahu. Melihatnya, Dara jadi bertambah 'gemas'. Seketika rasa pusing menghampiri, membuatnya mengusap kerutan di keningnya sendiri.
"Astaga Park Jimin~" keluhnya.
Dalam hati ia memaki-maki, tak habis pikir. Kenapa semua orang yang diberi kepercayaan untuk menjaga Jimin justru bertingkah begini ?
Jung Hoseok entah kemana.
Dan Min Yoongi, yang tak pernah tahu kondisi tunangannya. Rasanya baru kemarin ia bicara panjang lebar dengan anak itu dan memintanya menjaga Jimin dengan benar.
Kalau begitu apa gunanya-
"Jangan marah," Jimin menurunkan tangan Dara agar sang noona menatapnya. "...aku yang salah." katanya , seolah tahu isi hati dan pikiran Dara.
"Benar! Kau yang salah! Kau salah karena selalu bersikap terlalu baik hingga jadi bodoh begini! Biar bagaimanapun kau butuh orang lain- dia bahkan tunanganmu sendiri. Maka saat kau sakit beritahu dia!"
"Aku hanya tak mau mengganggunya, Yoongi hyung pasti sibuk-"
"Siapa yang perduli?!" Dara menyela dengan nada lumayan tinggi.
"Nuna,"
"Tugasnya adalah menjagamu, Jimin. Mau sampai kapan kau selalu diabaikan hanya karena pekerjaan?!"
"Yoongi hyung tidak mengabaikanku. Dia-"
...sudah mulai berubah.
"...Dia buktinya menelponku beberapa kali walau tak kuangkat. Jadi, ini murni kesalahanku. aku yang ceroboh. Nuna jangan marah padanya. Ya?"
Dara menghela nafas dalam, berusaha mengusir amarahnya.
"Kemarikan ponselmu," pintanya dengan intonasi lebih rendah.
"Uh?"
"Serahkan ponselmu sekarang! Jika kau segan menghubungi Yoongi, biar aku yang melakukannya. Anak itu harus tahu keadaanmu. Sini!"
"Tapi nuna-"
Melihat tatapan tajam Dara, akhirnya Jimin menyerah dan memberikan ponselnya.
Pemotretan telah berlangsung selama berjam-jam. Berbagai sesi telah mereka lakoni. Dan kini mereka diberi kesempatan beristirahat, untuk kemudian kembali di potret dengan kostum yang lain.
Masing-masing member punya kesibukan sendiri. Wheein yang sibuk meminta perias merapihkan eyelinernya, Dowoon yang duduk di sofa sambil asyik mendengarkan musik lewat headphonenya. Disampingnya, ada Mina yang tengah minum sebotol air mineral. Namun diam-diam melirik sang Leader yang sibuk dengan ponselnya di sudut ruangan. Kejadian dini hari tadi masih begitu membekas dalam ingatannya. Bagaimana tidak? Gula nya itu tiba-tiba saja-
Oh, hanya membayangkannya saja sudah sanggup membuat wajah Mina memerah. Ia segera meneguk kembali airnya.
Tapi, ini sulit untuk tak diingat dan tak dibayangkan! Apalagi setelah melakukan itu padanya, sang gula tak bicara apapun sampai mereka sampai di Dorm.
Banyak pertanyaan dalam benak Mina, namun ia selalu bingung memulainya. Belum apa-apa dia sudah gugup sendiri. Orang yang ingin ditanya juga nampaknya sudah tak mempersalahkan. Buktinya, daritadi dia selalu sibuk dengan ponselnya.
"Ah...sudahlah. interaksi seperti itu antar anggota kan biasa? Apalagi dia leader dan aku anggotanya~" Batin Mina walau keheranan itu belum hilang sepenuhnya.
.
.
.
Sejak datang kemari, Suga langsung disibukkan oleh ini itu dan membuatnya tak memperhatikan ponselnya. Jadi, begitu diberi kesempatan istirahat dia segera menyambar benda pipih itu. Dan ternyata ia langsung 'disuguhi' daftar panggilan gagal dari nomor yang sama...
"Jimin?"
Ah~ Tunangannya itu menghubungi sejak satu jam lalu dan semuanya tak bisa ia jawab. Yang tersisa hanyalah satu pemberitahuan mailbox. Saat Suga membukanya, ia dibuat heran karena bukan suara Jimin yang terdengar, melainkan...
"Halo, Min Yoongi. Ini aku Sandara Park. Cepat telepon kemari jika sudah sempat. Tunanganmu sakit."
Mata sipitnya melebar.
"Apa? Jimin sakit?!"
Pantas saja dia sulit sekali dihubungi!
Maka tanpa basa-basi Suga segera menghubungi nomor Jimin. Hampir saja ia lupa dimana dirinya berada, jadi diam-diam ia menyelinap keluar. Mencari tempat aman untuknya bicara dengan tunangannya ini.
Tanpa tahu jika sepasang mata itu terus memperhatikan gerak-geriknya.
.
.
.
"Halo?! yah Park Jimin! Kau baik-baik saja? Kenapa tidak bilang jika kau sakit? Aku terus menelponmu, tapi-" Suga menghentikan 'sapaan' nya tatkala mendengar Jimin tertawa kecil dijauh sana "...apa yang lucu?"
"Tidak. caramu mengomel mirip dengan Dara nuna. Kemarin aku memang sedikit tidak enak badan...tapi sekarang sudah baik-baik saja, hyung-ie. Tak perlu khawatir."
Suga menyender pada tembok tempatnya berdiri ini, di atas gedung.
"Bagaimana aku tidak khawatir? Kau tak memberikan kabar apapun dan sulit sekali dihubungi..."
Lagi-lagi ia mendengar Jimin terkekeh.
"Maaf ya, aku baru melihat daftar panggilanmu. sepertinya kau menelponku berulang kali. Apa ada...sesuatu yang ingin kau katakan?"
Pertanyaan Jimin membuat Suga tertegun untuk beberapa detik.
"...Yoongi hyung? Sayang, kau masih disana?"
Barulah Suga tersadar kembali. Dengan sedikit gelagapan ia menjawab,
"I-iya...aku disini."
"Jadi, apa yang mau kau katakan padaku?"
Pemilik marga Min itu nampak menggerakkan bola matanya dengan panik, setelah itu dia menatap langit yang perlahan-lahan berubah warna menjadi abu-abu.
"Itu...Jimin, aku..."
Dia menelan ludahnya kasar. Tidak, ini bukan hal yang bisa dikatakan lewat sambungan telepon. Maka, dia menghela nafasnya dalam, lalu menyambung ucapannya.
"...aku ingin mengatakan sesuatu, tapi sepertinya tak bisa lewat telepon. Bagaimana jika...nanti sore aku ke rumahmu?"
"Uh ? Sore nanti kau pasti lelah. Lain kali saja juga tak apa-apa..."
"Tidak, lagipula aku sekalian menjenguk tunanganku kan?"
"hyung-ie,"
"Kau mau ku bawakan apa, sayang?"
Dan disinilah Suga sekarang, menempuh perjalanan ke rumah tunangannya. Ia melirik kursi disampingnya, lalu tersenyum singkat.
"Ternyata kau juga sangat menyukai puding strawberry..."
.
.
.
Mobil Suga memasuki area rumah Jimin. Dari bawah sini, ia dapat melihat tunangannya itu tengah berdiri di balkon kamar mengenakan pakaian tidur. Namun sepertinya ia melamun.
Suga pun turun dari mobilnya, membawa bingkisan berisi puding yang ia beli dari toko bibi Seo, saudara Jimin.
Tak perlu waktu lama untuk Suga menekan bel, karena pintu langsung terbuka dan menampakkan Jung Ahjumma dibaliknya.
"Oh? Tuan muda Min Yoongi?"
Suga membungkuk, dan memberi salam. Wanita itu berkata agar tak terlalu formal, meski ia tetap tersenyum.
"Tuan muda Jimin ada dikamarnya, silahkan naik saja. Oh iya, kau ingin minum apa? Biar pelayan mengantarkannya nanti..." Tawarnya kemudian. Namun Suga menggelengkan kepala,
"Tidak perlu ahjumma, terimakasih. Aku akan langsung ke kamarnya saja."
.
.
.
Suga membuka pintu kamar yang tak terkunci itu. Entah jarak pintu dengan balkon terlalu jauh, atau memang sang pemilik benar benar sedang asyik dengan dunianya sendiri. Karena Jimin sama sekali tak menoleh sedikitpun.
Bahkan saat Suga mendekat, lalu memeluknya dari belakang, anak itu belum juga sadar dari lamunannya.
"Katanya Tuan muda Jimin sakit,tapi kenapa dia melamun sendiri diluar sore-sore begini?"
Barulah Jimin tersentak.
Sepasang tangan melingkar dipinggangnya, dan sebuah dagu bertumpu di bahunya, serta hembusan nafas menerpa lehernya.
Suara itu-
"Yoongi hyung-ie...?"
"Hmm..." Suga hanya menggumam. Sedangkan Jimin masih dalam rasa terkejutnya.
"Sejak kapan kau-"
"Sejak kapan kau melamun disini sendirian, dan tak menyadari kedatanganku, hm?""
Suga memotong pertanyaan yang hendak Jimin ajukan, dengan pertanyaan lagi. Jimin tak menjawab. Nafas Suga yang menyapu lehernya cukup membuat anak itu gemetar.
"K-ku pikir kau tak jadi datang?"
"Maaf sedikit terlambat. Aku mampir dulu ke toko bibi Seo untuk membeli pesananmu."
"Uh? Ya ampun Yoongi hyung, aku kan cuma bercanda? Kenapa kau benar-benar membelinya?!"
"Jadi kau tak senang nih aku datang dan membawa-"
"B-bukan begitu! Aku...senang kok,"
Suga tertawa kecil. Ia pun membalikkan tubuh Jimin perlahan hingga kini keduanya berhadapan. Dan saat itulah dia baru sadar jika wajah Jimin benar-benar pucat jika dilihat sedekat ini.
"...hanya saja...aku khawatir kau kelelahan. Schedulemu kan pasti pad-"
"Persetan dengan schedule, Jimin. Aku ingin menghabiskan waktu dengan tunanganku. Jadi, jangan membahas dulu tentang pekerjaan ku sekarang."
Karena aku muak.
Jimin mengangguk paham, walau sedikit terkejut karena Suga menyela ucapannya dengan begitu tegas dan tajam.
"Baiklah. Kalau begitu, terimakasih atas waktunya, Tuan Muda Min." Ujarnya sambil tersenyum. Seperti biasa, menampilkan eyesmilenya. Dan Suga hanya bisa tertegun melihat senyuman itu. Ada sesuatu yang menyentil perasaannya.
Entah apa, tapi efeknya begitu menyesakkan.
"Yoongi hyung? Kau tak apa? Kenapa kau mel-mphh~"
Suga tak tahu apa yang mendorongnya melakukan ini. Ini hanya instingnya saja.
Ia hanya ingin bibir itu tak kering dan pucat. Ia hanya ingin membuatnya hangat dan kembali berwarna, agar senyuman itu merekah lebih indah lagi.
Bibir itu selalu tersenyum tulus untukku
Tapi apa yang kulakukan?
Aku hanya bisa melunturkannya saja
Kenapa aku selalu melunturkan nya tanpa bisa mewarnainya kembali?
Suga melepaskan tautan itu sejenak. Takut jika Jiminnya akan kehabisan nafas.
"Ada apa?!" Jimin nampak heran karena Suga tiba tiba menciumnya.
Bukan, bukan dia tak senang.
Hanya saja, tak bisa dibohongi. Jimin adalah salah satu orang yang hapal Suga hanya dengan melihat geriknya saja. Dan yang Jimin simpulkan sekarang adalah, Suga sedang dalam keadaan tak baik.
Seperti bingung, lelah, kesal, atau- entahlah.
Apa ini ada hubungannya dengan sesuatu yang ingin dia katakan?
Suga hendak menjawab, namun saat melihat bibir itu masih saja pucat, ia kembali menempelkannya lagi. Menekan tengkuk kekasihnya agar dia bisa lebih dalam melakukan ini.
Dia nampak frustasi.
Dia kesal, pada dirinya sendiri.
Dia benar benar luntur
Dan itu karena kesalahanku.
Lalu, jika kelak dia tak bisa berwarna lagi, apa yang harus aku lakukan?
Perlahan, Suga membawa tubuh itu kedalam. Angin berhembus pelan, namun rintik-rintik hujan mulai berjatuhan. Suga tak mau tunangannya kedinginan, tapi juga tak ingin tautan itu terlepas. Jadi ia tetap memagutnya selagi berjalan. Dia lingkarkan tangannya di pinggang jimin, untuk kemudian mendekapnya. mempersempit jarak mereka. setelahnya ia tuntun tubuh yang semakin lama semakin ringkih itu.
Tak ada paksaan disini.
Suga melakukannya dengan sangat lembut, dan Jimin membalasnya dengan lebih lembut lagi. Matanya terpejam, menurut saja kemana Suga membawanya. Kedua lengannya terkalung di leher Suga, menyangga tubuhnya yang sebenarnya masih lemas hari ini.
Keduanya berhenti tepat disamping tempat tidur Jimin. Yang lebih tua melepaskan bibirnya, menimbulkan bunyi kecipak pelan. Tangannya masih melingkar di pinggang Jimin. Pun tangan Jimin setia melingkar dilehernya.
Perlahan Jimin membuka mata, setelah sebelumnya mendapat kecupan terakhir di kelopaknya -seperti biasa-.
"Ada apa...hyung-ie?" Rupanya anak itu masih saja merasa aneh dengan tindakan Suga barusan.
"Charger"
"Ne?"
Suga tersenyum "Tak bertemu denganmu beberapa hari, membuatku seperti kehilangan energi. Jadi...aku sedang menchargenya sekarang..." Jawabnya. Tak ayal membuat Jimin tertawa tanpa suara.
"Ya Tuhan, kau ini..."
Hening sejenak. Suga nampak masih mencari-cari saat yang tepat untuk berkata yang sebenarnya.
"Kau sudah minum obatmu?" Malah pertanyaan ini yang terlontar. Dilihatnya Jimin menggelengkan kepala. "Kenapa belum?"
"Pahit..."
"Namanya juga obat. Ayo minum, kau kan punya puding untuk menetralisirnya..."
Jimin lagi-lagi menggelengkan kepala, bahkan memasang ekspresi merajuk yang membuat Suga gemas sendiri dibuatnya.
"Tidak mau. itu pahit dan juga banyak sekali. Aromanya saja membuatku mual..."
Suga melirik obat-obatan di nakas, dan itu benar. Mereka dalam jumlah banyak dan juga berbau cukup menyengat.
"Minumlah, supaya kau cepat sembuh." Bujuknya.
"Tapi-"
"Mau aku bantu minumkan?" tawarnya "...siapa tahu rasa pahitnya berkurang"
Jimin berkedip bingung "uh? Apa maksudmu?"
Suga tak menjawab, dan hanya melepaskan tangannya dari pinggang Jimin. Lalu ia mengambil obat-obat itu, untuk kemudian meminumkannya pada Jimin seperti yang ia tawarkan. Dia punya caranya sendiri untuk hal ini.
.
.
.
"Tidurlah..." Instruksi Suga saat keduanya tengah berbaring dengan saling berhadapan. Tubuh mereka terbungkus selimut yang sama, saling menghangatkan.
"Tidur? Bukankah daritadi aku sudah...tertidur?"
Suga mengerutkan dahi "hng?"
"Kau datang. memelukku, menciumku, memperlakukan aku dengan begitu lembutnya, semuanya terasa seperti mimpi."
"..."
"Bahkan semua perubahan sikap hyung belakangan ini, masih sulit kuanggap kenyataan. Semua yang kau lakukan, adalah apa yang aku impikan selama satu tahun hubungan kita, atau mungkin sepuluh tahun lebih sejak pertemuan pertama kita. Yoongi hyung berubah hanya dalam sekejap, kadang membuatku bertanya-tanya... nyatakah ini? Benarkah bukan sekedar mimpi?"
Bukan sayang, ini bukan mimpi.
Ini aku, si bodoh yang baru menyadari perasaannya sendiri
Si brengsek yang hadir dihadapanmu hanya untuk menoreh luka hati
Akan tetapi, jika kau merasa aku lebih baik didalam mimpi,
Maka si egois ini menyuruhmu untuk tetap bermimpi.
Karena mungkin kau akan kembali terluka saat terbangun nanti...
Suga tak menjawab setiap pemaparan Jimin. Dia hanya mendengar dan menatap tunangannya itu tanpa berkedip.
"Aku hanya takut. Aku takut bila obat-obat itu mempengaruhi pikiranku, dan akhirnya imajinasiku jadi setinggi ini. Kau nyata kan? Kau benar-benar ada disini dan memelukku sekarang kan...Yoongi hyung?" Tanya Jimin dengan intonasi yang mulai berat, pengaruh dari obatnya.
Lawan bicaranya itu mengangguk, dan membawa dirinya kedalam rengkuhan yang lebih erat dan hangat. Saat bibirnya kembali di pagut, ia harus percaya jika ini nyata.
Jari-jari yang menyusup ke balik pakaiannya, bergerak halus dan perlahan, menyusuri permukaan kulitnya, menyentuh titik-titik yang membuatnya tak mampu lagi berkata-kata atau sekedar membuka mata. Perlukah ia jabarkan bagaimana rasanya tatkala lidah itu mulai menjelajahi isi mulutnya-
...Astaga. Astaga.
Ini nyata.
Ini nyata dan begitu memabukkan. Membuatnya tak bisa menolak dan dituntut untuk menikmati saja.
Dia tak tahu jika Suga terus bermonolog dalam hatinya.
.
.
Tak apa...
Biarkan begini
Biarkan seperti ini
Sebentar saja, sayang.
Sebelum ini benar benar tak boleh
Sebelum aku tak bisa melakukannya, atau sebelum kau tak mau menerimanya
Karena iya,
Terkadang mimpi selalu lebih indah dari kenyataan.
Maka, Bermimpi saja, sayang...
Jadi kau takkan bertemu kenyataan yang akan lebih menyakitimu nanti
Dan si brengsek yang membuat kenyataan pahit itu ada didepanmu kini
Dengan lancangnya menyentuhmu
Dengan beraninya mendekapmu
Lalu pergi dengan meninggalkan luka
Untuk membuat luka yang baru lagi
Tanpa mampu berbuat apa-apa
Tanpa bisa berkata apa-apa
Selain maaf yang tersisa~
Hujan bertambah deras saat Seokjin sampai dirumahnya.
Kang Ahjussi dengan cepat menghampiri mobil Seokjin yang baru saja masuk ke area parkir. Dia turun, dan mengucapkan terimakasih saat pria paruh baya itu bersiap memayunginya. Namun setelah berjalan beberapa langkah, ia baru tersadar jika sebuah mobil lain terparkir disana.
"Ahjussi..."
"Ya?"
"Itu-"
Kang Ahjussi mengikuti arah pandang Tuan mudanya, lalu dengan cepat mengerti.
"Ah~ itu milik Tuan muda Min Yoongi."
"Oh~ kapan dia datang?"
"Sekitar satu jam yang lalu."
Seokjin tak berucap lagi. Dia hanya memandang lekat mobil itu, nampak berpikir sesuatu. Namun tak lama kemudian ia kembali melangkah dengan Kang Ahjussi yang memayunginya.
.
.
.
Tubuhnya tak seberapa basah, tapi begitu masuk ke dalam rumah, Jung Ahjumma dengan baiknya sudah menyiapkan sebuah handuk kecil untuknya. Kembali, Seokjin mengucapkan terimakasih.
"Akhir-akhir ini hujan deras seringkali turun. Semoga tak mengganggu kesehatan Tuan Muda..." Ujar Jung Ahjumma. Seokjin tersenyum lembut, dan mengangguk pelan. "Belum ada kabar dari Tuan muda Hoseok?"
Rasa bersalah menghampirinya tatkala pertanyaan itu terlontar. Lagi-lagi ia hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban. Dia nampak putus asa.
Seokjin tahu semua orang disini kecewa. Dan ia merasa amat bodoh karena tak kunjung menemukan adiknya. Namun tak sesuai dugaannya, Jung Ahjumma malah tersenyum dan meraih handuk kecil yang Seokjin gunakan. Lalu mengeringkan rambut dan wajah Seokjin sehalus mungkin.
"Tak apa. Tuan muda Seokjin sudah berusaha kan? Mungkin tuan muda Hoseok butuh sendirian, karena ada hal-hal yang belum bisa ia ceritakan." Tutur Jung Ahjumma, menenangkan.
"Aku hanya...merasa gagal, Ahjumma. Adikku yang satu sakit, dan yang lain pergi entah kemana. Apa Hoseok baik-baik saja? Bagaimana jika dia juga sakit seperti Jimin disini?" Cemasnya "...semua orang menyalahkan Hoseok. Katanya dia tak bertanggung jawab. Menelantarkan pekerjaan, dan juga keluarga. Mereka menyudutkannya. Tapi kurasa aku yang paling bersalah disini."
Gerakkan tangan Jung Ahjumma terhenti.
"Tuan muda,"
"Masalah seperti apa yang anak itu hadapi? Selalai apa aku sampai kecolongan begini? Dia mabuk setiap malam, atau mungkin bersedih setiap hari. tapi aku tak tahu sama sekali. Amanat ayah Park dulu, aku...benar-benar gagal menjalankannya..." lirihnya menyesal, seraya menunduk sedih. Wanita paruh baya itu tertegun mendengar keluh kesah Seokjin. Ia angkat dagu Tuan mudanya, lalu kembali memberikan senyum menenangkan.
"Kau tidak gagal, tuan muda. Kau sudah berusaha."
Seokjin menatap Ahjumma yang tengah menangkup lembut pipinya itu dengan mata memerah dan basah.
"Tuan muda Hoseok baik-baik saja. Dan akan pulang secepatnya. Percaya padaku?"
Seokjin tanpa sadar mengangguk pelan, dan Ahjumma yang sudah ia anggap ibunya itu tersenyum kembali.
"Nah, sekarang kau istirahat lah. Nanti ahjumma naik dan membawakanmu minuman hangat."
.
.
.
Tuk.
Secangkir coklat hangat diletakkan oleh Jung Ahjumma di sebuah meja kecil di kamar ini. Kamar Hoseok. Tempat Seokjin tengah menatap pigura besar berisi potret ia dan keluarganya yang retak, tak sempurna. Gambar Hoseok dan Jimin yang tersenyum bahagia mendapatkan rusak paling parah, dan ia yakin ini disengaja.
"Nah, minumlah tuan muda..."
Seokjin menoleh "Terimakasih, ahjumma. Letakkan saja disitu, nanti ku minum."
Jung Ahjumma menghembuskan nafasnya pelan.
"Jangan terlalu dipikirkan, nanti malah kau yang sakit. Minum ini dan istirahatlah." sarannya.
Seokjin mengangguk, lalu kembali memandang foto itu.
"Jimin sedang apa? Apa tunangannya masih disini?" Tanyanya kemudian. Lawan bicaranya mengiyakan.
"Mereka nampaknya sangat menikmati waktu berdua. Aku belum berani masuk, takut mengganggu."
Respon yang Seokjin balas atas jawaban itu tak begitu berarti. Ia hanya sibuk memandang foto itu dengan lekat. Seolah ada hal berat yang ia pikirkan. Makadari itu, Jung Ahjumma memilih undur diri. Namun sebelum ia membuka pintu, sesuatu mendadak teringat dan membuatnya berbalik badan.
"Emmm...Tuan muda Seokjin..." panggilnya sedikit ragu.
Dan yang dipanggil hanya bergumam saja.
"Ada...sesuatu yang ingin aku tanyakan." Jung Ahjumma kembali mendekat, lalu membuka laci nakas milik Hoseok. Ia mengambil sesuatu dari dalamnya, sebuah pigura kecil yang cacat tanpa kaca, dan berisi foto dua orang didalamnya.
"Ini..."
Lewat ekor matanya, Seokjin melirik benda yang diserahkan Jung Ahjumma . Dan perasaan tertarik langsung menghinggapinya.
"Apa itu- Ahjumma?"
"A~ inilah yang mau aku tanyakan padamu. Tadi pagi, aku membereskan kamar ini dan mengganti sprei nya. Tapi secara tak sengaja aku menemukan foto ini dibawah lapisan sprei baru yang ditumpuk di lemari. Sepertinya ini Tuan muda Hoseok dan...tuan muda Min Yoongi, benar kan?"
"..." Seokjin menerimanya dengan alis bertaut. Benar, itu Hoseok dan Yoongi. Tapi-
"...tapi foto ini sedikit usang. Apa mungkin mereka mengenal sejak lama? Seingatku, setiap kali ada pertemuan keluarga, aku tak pernah melihat mereka seakrab ini. Jangankan tersenyum, mengobrol pun-tidak, bahkan bertegur sapa pun jarang. Apa tuan muda Seokjin tahu sesuatu?"
Seokjin menggelengkan kepalanya "aku...entah, aku tidak tahu."
"Ekhm. maaf jika aku lancang. Tapi...kurasa pose mereka di foto ini sedikit...aneh? Maksudku, sangat dekat dan...uh, seperti sepasang...kekasih...?"
DEG!
Sepasang kekasih.
Sepasang kekasih?
Haruskah Seokjin mengakui, jika semua penuturan Jung Ahjumma benar adanya? Haruskah dia juga mengungkapkan, jika selama ini pun dirinya menaruh curiga?
Ia selalu menghempaskan semuanya jauh-jauh, tapi melihat bukti, walau hanya sekecil ini , mau tak mau semua kecurigaannya mendekat kembali.
Jung Hoseok mabuk, mengigau dan merintih bahkan menangis dengan menyebut nama Min Yoongi, Sekarang Hoseok menyimpan fotonya dengan Min Yoongi, dan jangan lupakan peristiwa di halaman rumah pagi itu-
Tapi...
Sepasang kekasih?
Sepasang kekasih, tidak. Sepasang tunangan itu masih setia merengkuh satu sama lain di kamar yang hanya disinari lampu nakas ini. Suara hujan diluar, sesekali diiringi gemuruh petir seolah menjadi backsoundnya.
"Kenapa tidak tidur juga?" Tanya Suga saat melihat Jimin yang tak juga menutup mata meski nampaknya sangat mengantuk "...tidurlah,"
Jimin berkedip "Aku...tidak bisa. Diluar hujan deras, dan hyungku belum pulang..." Jawabnya.
"Ini sudah jam pulang kantor, hyungmu pasti sudah ada disini. Jadi jangan khawa-"
"Tidak. Satu hyungku tak ada dirumah sejak beberapa hari lalu..." ungkap Jimin
"Hn? Siapa?"
"Hoseok hyung."
Jika saja Jimin jeli, dia bisa menemukan pupil mata Suga yang melebar begitu nama Hoseok disebutkan. Pelukan di tubuhnya pun sedikit merenggang serta tubuhnya sedikit menegang.
"H-Hoseok? Memangnya dia kemana?" Tanya Suga hati-hati
Jimin menggelengkan kepalanya.
"Dia tidak pulang dan juga tidak masuk kantor. Aku khawatir padanya. Apa dia baik-baik saja?"
Suga tiba-tiba terbatuk pelan, seperti dibuat-buat.
"Ekhm...mungkin, dia ada urusan lain-"
"Urusan apa sampai tak pulang berhari-hari?" Pertanyaan Jimin mirip dengan Dara tadi pagi. Dan sama seperti Seokjin, Suga juga bingung menjawabnya. "Tak masalah jika Hoseok hyung bersikap dingin padaku. Asal bisa melihatnya di rumah ini, itu sudah cukup. Tapi kalau dia benar-benar tak ada, aku tak suka. Itu membuatku cemas."
"..."
Lagi-lagi Suga nampak menelan air liurnya dengan sulit saat hendak menjawab. Seperti ada sesuatu yang sedang ia tutupi disini.
"Jim-"
"Apa terjadi sesuatu padanya?" Jimin coba menerka "Hoseok hyung tak biasanya begini. Atau mungkin...ada seseorang yang menyakitinya? Makanya dia menyendiri di suatu tempat?" Lanjutnya.
Kali ini Suga benar-benar batuk karena tersedak ludahnya sendiri. Terkaan Jimin seakan memukulnya telak-telak.
Tak ayal Jimin dibuat heran "Yoongi hyung, kau kenapa?"
"Ah? T-tidak. Sudahlah, sebaiknya kau tidur saja. Hoseok pasti bisa menjaga diri, dia akan baik-baik saja."
"Tapi-"
"Percaya padaku..."
Jimin kali ini tak membantah, dan menurut saja saat Suga kembali merengkuhnya. Rasa kantuk yang semakin menyerang, membuatnya tak mampu terus terjaga. Pelan-pelan dia terpejam, menyisakan Suga yang kini mulai menampilkan raut wajah yang sedari tadi ia sembunyikan.
Dia mengetahui sesuatu...
.
.
.
.
.
tobecontinued
Special thx to : Sersanjung, IoriNara,Sugasugababy, Dessy574, minJ7, Pinkerbell97, dhani95, anitacho, ChiminChim, Jiminnie, PikaaChuu, Ayuya24, Hanaikosama, Guest, VminShip, Puterikimsh, Guest, Iybah558.
see u ^^~
