. . .

Sore menjelang petang itu, Suga keluar dari gedung agensinya. Pembicaraan dengan Lee Jaehwan sebelumnya membuat sang Leader itu keluar dengan perasaan tak tentu. Kesal, kalut, bingung, marah, segalanya bercampur jadi satu.

Dirinya dipaksa mengambil keputusan tanpa diberi kesempatan berpikir sedikitpun. Katakanlah begitu. Karena walaupun menawarkan alternatif yang lain, Lee Jaehwan tetap saja membawanya pada satu jalan buntu dimana Suga mau tak mau harus berkata iya. Siap tak siap harus menurut pada perintahnya.

Itu Lee Jaehwan, orang yang paling dia hormati. Dan kini,

..sepertinya mulai ia benci.

Hujan lebat yang mengguyur semakin membuat moodnya bertambah buruk. Dengan cepat, ia berlari menuju tempat parkir. Namun saat jarak tinggal beberapa langkah lagi, dia berhenti. Cukup terkejut melihat seseorang duduk di kap depan mobilnya. Suga takkan ambil pusing jika itu orang lain. Tapi masalahnya, seseorang itu adalah-

"...Jung Hoseok?" Panggilnya, sedikit ragu.

Orang itu mengangkat wajah. Benar, dia Hoseok. tapi sedang apa dia-

"Hoseok, kau-"

"Yoongi!"

Segalanya terjadi begitu saja saat Hoseok turun dari kap dan tiba-tiba memeluknya. Tentu, Suga terkejut dan bertambah heran. Namun saat Suga merasakan tubuh Hoseok bergetar kedinginan karena pakaiannya telah basah kuyup, dia jadi tak tega melepaskan begitu saja. Apalagi, saat ia sayup-sayup mendengar Hoseok-

... menangis?

"Hos-"

"Selamatkan aku,"

"..."

"Tolong selamatkan aku, Yoongi-a..."

Sepasang mata Suga berkedip bingung.

Suara bergetar milik Hoseok bahkan terdengar jelas, mengalahkan deru hujan yang sangat deras.

Tapi- apa maksudnya kalimat itu?

Tak mau terus larut dalam kebingungan, Suga pun melepas pelukan itu dan hendak bertanya apa yang terjadi. Namun dia semakin dibuat tak mengerti saat menemukan tatapan terluka dari orang dihadapannya ini. Walau samar karena basah oleh hujan, Suga yakin jika airmata juga turut mengalir diwajah Hoseok.

"Ada apa?" Akhirnya Suga mulai bertanya, dan jawaban yang ia dapat lagi-lagi hanyalah kalimat,

"S-Selamatkan aku, Yoongi-a..."

"Iya tapi kau kenapa? Apa yang terjadi?"

"Bantu aku-" dia terisak "...selamatkan aku,"

Suga menghembuskan nafasnya lelah. Banyak pertanyaan dalam benaknya. Sebenarnya apa yang terjadi pada mantan kekasihnya ini? Sejak kapan dia menunggu disini?

Dan juga, kalimat 'selamatkan aku' yang terus diulang itu maksudnya apa?

Jika saja Suga masih terjebak oleh perkataan Lee Jaehwan dulu, ia pasti takkan perduli dan sudah meninggalkan Hoseok ditengah hujan deras ini. Tapi setelah tahu fakta, jika semua perkataan atasannya itu bohong...maka Suga berbaik hati meladeni Hoseok.

Mungkin ini saatnya meluruskan semua kesalah pahaman antar mereka berdua.

"Jung Hoseok," Dia menarik tangan Hoseok dan berniat membawanya masuk kedalam mobil. Karena dia sendiri mulai kedinginan sekarang "...kita bicara di mobil-"

"Mari melarikan diri..."

"...apa?"

Untuk kesekian kalinya, Suga dibuat bertanya-tanya akan sikap dan gerak-gerik Hoseok. Dia menggenggam kedua tangan Hoseok dengan erat dan juga menatap matanya dengan dalam seraya berkata,

"Kita harus pergi dari tempat ini. Kembalilah padaku, dan memulai hidup yang baru."

"...?"

"Tak ada yang merestui kita disini, Yoongi-a. Pergi. kita harus pergi, berdua saja. Ayo pergi, Yoongi-a..." Katanya, sambil memendang sekeliling dengan tatapan paranoid.

Tak ayal Suga semakin mengerutkan dahinya. Hoseok nampak seperti orang linglung yang kesadarannya tertinggal entah dimana.

"Tapi Jung Hoseok-"

"Tidak! Kita belum berakhir, kita tidak boleh berakhir. Aku tidak mau berakhir!" Hoseok menggelengkan kepalanya berkali-kali "Yoongi, ayo pergi. Kemana saja, asal hanya ada kau dan aku disana. Min Yoon-"

"Sebenarnya apa yang terjadi denganmu?! Bicaralah yang jelas Jung Hoseok!" Gertak Suga pada akhirnya

"Pergi. Kita harus pergi. Pertunangan sialan itu sudah terungkap kan? Lee Jaehwan pasti mengusirmu sekarang. Karirmu- tidak, karir kita berdua sudah hancur. Jadi ayo pergi sa-"

"Darimana kau tahu itu?"

"h-huh?"

Suga melepaskan tautan tangan Hoseok, lalu kembali bertanya "Darimana kau tahu jika pertunanganku sudah terungkap?"

Namun yang ia dapati dari lawan bicaranya hanyalah kebisuan bercampur kegugupan saja.

"Katakan! Darimana kau tahu Jung Hoseok?!"

Sebenarnya, dari awal Suga sudah merasa ada yang janggal. Terungkapnya pertunangan ini beserta bukti foto di pemakaman kemarin, bagaimana itu bisa terjadi? Bagaimana foto-foto itu didapat sementara area pemakaman keluarga Park sangatlah private dan dijaga ketat? Orang lain takkan bisa sembarangan masuk, kecuali-

"Hoseok-a," panggil Suga rendah, lengkap dengan tatapan menyelidik. "...kau yang melakukannya?" Lanjut dia bertanya

Hoseok diam dan memalingkan wajahnya kearah lain, dan itu Suga artikan sebagai sebuah jawaban yang sebenarnya tak ia harapkan.

"..."

"Kau mengadukanku pada Lee Jaehwan?!"

"..."

"Jawablah Jung-"

"Benar! Aku. Aku yang mengadukanmu!" Seru Hoseok akhirnya, mengaku.

Suga menatap Hoseok dengan tak percaya. Baru saja ia ingin meminta maaf dan meluruskan kesalahpahaman antara mereka, namun Hoseok malah membuat amarahnya mencuat lagi. Apalagi saat melihat Hoseok yang mengakui segalanya seolah tanpa beban sama sekali. Benar-benar tak sadar jika perbuatannya malah membuat Suga berada dalam posisi sulit.

"Jung Hoseok, kenapa kau-"

"Kenapa? Kau tak terima? Aku mengungkapkan kebenaran yang sudah terlalu lama kau tutupi, Yoongi. Aku membantumu keluar dari genggaman Lee Jaehwan. Dia itu brengsek kan? Jadi ayo kita pergi sa-"

"Kau sadar atas apa yang kau lakukan...?"

"..."

"APA KAU TAHU AKIBAT DARI PERBUATANMU ITU JUNG HOSEOK?!"

Hoseok tak menjawab dan hanya menatap sorot mata Suga yang menunjukkan betapa murkanya dia.

"Aku mendiamkanmu agar dirimu berfikir, tapi kau malah berbuat sesukamu. Hubungan kita, pertunanganku, semua yang ku simpan rapat ini pasti akan ku ungkap suatu waktu. Tapi bukan begini caranya, Hoseok. Kau malah menghancurkan segalanya dan menyakiti banyak perasaan kau tahu?!" Ujar Suga tegas dengan rahang bergemeretak antara menahan marah atau menahan dingin.

Hoseok didepannya pun sama, terdiam dengan wajah mulai memucat dan bibir bergetar karena dingin atau mungkin karena ingin menangis. Bentakkan Suga membuatnya bungkam tak bisa membalas. Namun begitu kalimat ini terlontar,-

"Gara-gara perbuatan gegabah mu ini, Jimin akan tersakiti!"

"PERSETAN DENGAN PARK JIMIN!"

-Bungkam itu tak bisa ditahan lagi. Nyatanya satu nama yang berusaha ia hempas jauh-jauh sedari tadi datang lagi. Nama yang membuat amarahnya seketika memuncak dan menghasilkan raungan tak tertahankan. Sampai Suga dihadapannya berganti terkejut seperti Hoseok barusan.

"Memangnya kenapa jika Jimin tersakiti?!" Tanya nya dengan penuh penekanan.

"Hoseok,"

"Anak itu, hanya karena lututnya lecet tergesek aspal pun akan mengundang banyak perhatian dari keluarganya. Sementara aku? Tertimpa luka berkali-kali pun takkan ada yang mau tahu. Jadi untuk apa aku harus perduli padanya?!"

Tangan nya dibawah mengepal dan bergetar, pun dengan suaranya. Tatapannya menyiratkan rasa terluka yang amat dalam. Dan itu membuat Suga serba salah, antara harus marah atau merasa kasihan. Ia menghela nafasnya pelan, lalu mencoba bicara pelan-pelan.

"Hoseok-a,"

"Tak ada orang yang mau berpihak padaku. Aku tidak punya siapapun untuk kuminta pertolongan." Sela Hoseok dengan nada yang berubah menjadi lirih "...Karena itulah sekarang aku berlari padamu, berharap kau bisa menyelamatkanku. Tapi ternyata aku salah. Orang yang ku harapkan pun lebih berpihak pada Park Jimin dibanding aku"

Suga belum membalas apapun lagi meski dilihatnya Hoseok mulai menitikkan airmata ditengah guyuran hujan ini.

"...Aku terlanjur terbiasa bergantung padamu, dan juga terlalu sering kau bantu. Hingga saat sulit begini, namamu lah yang pertama kali muncul dipikiranku. Namun ternyata aku lupa, bahwa kita sudah berakhir. Kau bukan lagi Min Yoongi yang pernah ku milikki. Dan aku bodoh karena menghampirimu kemari."

Suga menghembuskan nafasnya lelah. Ia mengusap wajah basahnya dengan kasar, terlihat sangat bingung untuk sekedar berkata-kata.

Suga tahu Hoseok terluka, dan dirinya lah penyebab terbesar luka itu. Dia yang mengawali semuanya. Mendekati Hoseok yang ia sangka teman masa kecilnya, menarik perhatian Hoseok hingga si Jutek itu perlahan-lahan bergantung padanya. Parahnya, Suga membawa Hoseok pada suatu hubungan yang membuat keduanya sama terluka. Karena disadari atau tidak, Suga pun pernah mencintai Hoseok sebagai Hoseok. Mengingat bagaimana terpukulnya saat tahu Hoseok pergi dari agensi, merasa hampa terbangun tanpa Hoseok dipagi hari, berlatih dengan banyak orang pun ia merasa kosong seperti seorang diri.

Iya, Suga mengalaminya.

Yang ia sesali kini, kenapa hanya karena sebuah kalimat dari Lee Jaehwan yang bahkan cuma bualan, mampu menghasut pikirannya?

Celakanya, rasa cinta dan sayang itu menguap, berganti jadi muak, lalu berujung rasa dendam dan benci. Dia membuat Hoseok terluka begitu banyak atas kesalahpahaman yang terjadi.

Tapi cara anak itu mengungkapkan rasa terlukanya begitu berlebihan, persis seperti kata Sandara tempo hari. Begitu berlebihannya hingga ia tak sadar, jika ada orang lain yang lebih terluka darinya.

itu Park Jimin.

Lalu siapa yang harus Suga bela, jika sudah begini?

"Aku tahu," Suga menghela nafasnya. "...aku tahu kau terluka, Hoseok-a. Dan itu salahku. Aku juga telah terlanjur terbiasa membantumu. Jadi, masalah sebesar apapun yang menimpamu, silahkan datang padaku. Tapi..."

"..." Hoseok diam tak menyela. Raut wajahnya menjadi lebih tenang walau kepalan di tangannya belum terbuka.

"...kau harus tahu jika bukan hanya kau yang terluka disini. Jangan merasa seolah-olah kau yang paling terhakimi. Karena ada orang lain yang merasakannya bahkan lebih dari yang kau alami,"

"Kau bicara tentang siapa...? Park Jimin lagi?" Tebaknya, sambil tersenyum pahit. "Anak itu tahu apa tentang terluka?"

"..."

"Kutanya padamu Min Yoongi. Apa dia pernah mengalami dibuang oleh orangtuanya sendiri ke sebuah panti? Apa dia pernah mengalami sakit hatinya diusir dari agensi? Apa dia pernah...merasakan dibenci kekasihnya karena kesalahan yang tak ia ketahui? Apa dia...pernah diabaikan dan tak diberi kepastian diatas status yang tak pernah dengan jelas diakhiri? Pernahkah dia...merasakan pedihnya melihat orang yang dicintai bermesraan didepan matanya sendiri? Pernahkah dia merasakan... lelahnya melakukan sesuatu tapi orang lain yang menikmati hasilnya nanti? TIDAK KAN?!" Teriakkan Hoseok kembali bergaung, diikuti dengan gemuruh petir setelahnya.

Suga diam.

Dalam hati, ia menjawab rentetan pertanyaan Hoseok satu persatu. Dan hampir semuanya adalah...

Pernah. dia pernah merasakannya. Sama parah denganmu. Aku tahu karena diriku pelakunya.

Tapi Suga tahu. pasti Hoseok takkan mau mendengar jawabannya. Jadi yang ia lakukan adalah, mencoba berbicara sehalus mungkin. Suga pun memegang kedua bahu Hoseok yang nampak tegang. Ia tatap mata tajamnya sedalam mungkin, berusaha membuat Hoseok mengerti.

"Aku mengerti perasaanmu. Tapi bisakah kau berhenti bersikap egois, Hoseok-a? Hentikan perasaan benci mu dan ubahlah perlakuanmu pada Jimin. Atau kau akan menyesal" ...seperti halnya aku.

"Untuk apa? Satu-satunya penyesalanku sekarang adalah, masuk ke keluarga Park hanya untuk menyokong kehidupan Jimin yang bahkan bukan siapa-siapa ku!"

"Jung Hoseok!"

"APA?! HA?!" Dia balik menggertak dengan lebih keras "Park Jimin, Park Jimin, PARK JIMIN! Kenapa semua orang selalu saja membelanya dengan berlebihan? Aku yang terluka! Tapi kenapa semuanya mengkhawartirkan Park Jimin yang baik-baik saja?!"

"DIA TIDAK BAIK-BAIK SAJA!"

Pada akhirnya Suga tak mampu menahan emosinya. Menghadapi Hoseok benar-benar serba salah. Secara halus tak bisa, tapi dikasari dia akan lebih kasar lagi.

Hoseok bahkan menghempaskan kedua tangan Suga dari bahunya dengan kasar saat mendapat bentakkan itu. Sorot matanya sama sekali tak menandakan keperdulian atas kalimat Suga barusan bahwa "Jimin tak baik-baik saja, Jung Hoseok."

"Ahaha~ sialan!" Hoseok tertawa dengan airmata yang tambah deras mengalir, menyatu dengan hujan "Kalau kau tidak mau menyelamatkan aku, yasudah katakan saja sejak awal! Kenapa malah membahas anak pembawa sial itu didepanku?!"

"Hoseok,"

"Dengar Min Suga! Aku datang untuk meminta pertolongan, bukan untuk mendengarmu membahas orang yang kubenci. Menyebalkan!" Sesalnya, lalu membalikkan badan hendak meninggalkan Suga. Sebelum mantan kekasihnya itu mengeluarkan sepenggal kalimat-

"Sebenarnya apa-"

Tap~

-yang membuat langkahnya terhenti.

"-yang membuatmu begitu membenci Jimin?" Tanya Suga pada Hoseok yang kini memunggunginya.

"..."

"Apa karena ibu kalian meregang nyawa saat melahirkannya?"

"..."

"Atau karena ayah kalian meninggal saat berkendara dengannya?"

Tanpa sadar, kepalan tangan Hoseok semakin erat setiap pertanyaan Suga terlontar. Airmatanya semakin membuncah membuatnya sulit mengeluarkan jawaban.

"Kupikir tidak. Kau sudah cukup dewasa untuk sakit hati hanya karena hal semacam ini. Kurasa kau juga paham, jika dirimu tak ada hak sedikitpun untuk membenci dia yang orangtuanya telah dengan senang hati mengadopsimu. Sekarang, sementara dia yang harusnya paling bersedih, malah kau beri sikap sedingin itu dan membuatnya merasa bersalah. Kau mestinya menjaga dia, bukan bersikap kekanakkan seperti ini!"

"K-kau tak tahu apa-apa, Min Suga! Jadi jangan-"

"Lalu apa? Apa yang membuatmu begitu tak suka padanya?!"

"..."

Hoseok lagi-lagi tak menjawab, bahunya sedikit berguncang dan Suga tahu anak itu menangis lagi. Sebuah tatapan sarat akan rasa bersalah terpancar dari manik tajamnya, lalu dia kembali bertanya.

"Karena aku? Karena diriku kan?"

"..."

"Kau semakin membencinya dari hari ke hari, karena perlakuanku kan? Memeluknya, menciumnya, memujinya didepan matamu, itu kah yang membuatmu bertambah muak padanya, Hoseok-a?"

"..."

Diamnya Hoseok, Suga artikan sebagai jawaban iya. Membuat semua rasa bersalah itu kian menumpuk, membebaninya. Tak habis pikir pada dirinya sendiri, betapa ia telah berhasil menghancurkan hubungan kakak beradik hingga tak tertolong begini.

"Jika iya, maka kau salah besar Hoseok. entah seberapa mulus sandiwaraku sampai kau tertipu begitu. Tapi aku tak sebaik itu pada adikmu. Kau harus tahu itu!" Suga berusaha meyakinkan, tapi sayangnya emosi telanjur menguasai Hoseok dan membuat anak itu memilih untuk melangkah lagi.

"Kumohon, berubahlah Jung Hoseok! Jaga dia seperti seharusnya. Jangan sampai kau menyesal seperti aku!"

Namun nampaknya Hoseok benar-benar tak perduli dan terus melangkahkan kaki menuju mobilnya.

"Hoseok!" Suga terus memanggil dan Hoseok tetap menjauhi tanpa sekalipun menoleh hingga sampai disamping pintu mobilnya. Saat itulah, Suga berseru cukup keras,

"Seberapa sering kau berkata membenci Jimin, aku tahu... Jauh didalam hatimu, Dia masih adik yang kau perdulikan dan ingin kau lindungi!"

...dan kali ini berhasil membuat Hoseok yang hendak membuka pintu berhenti. Tangannya melayang diruang kosong.

"Aku mungkin akan menyakitinya lagi. jadi kuharap kau bisa melindunginya nanti..." ungkap Suga dengan berat hati.

"..."

Tanpa Suga ketahui, dua bola mata Hoseok bergerak gelisah ke kanan dan kiri, ekor matanya seperti ingin melirik Suga dan melihat ekspresi orang itu saat bicara. Hanya ingin membuktikan, apa kalimat itu benar atau hanya jebakan saja. Tangannya sedikit bergetar, namun dengan cepat ia kepalkan kembali lalu berbalik menoleh pada Suga. Dengan menampilkan raut wajah datarnya, dia balas berseru ;

"Katanya kau mencintai anak itu? Maka lindungilah dia sendiri! Karena aku sama sekali tak mau dan tak akan pernah menatapnya lagi." Lalu benar-benar masuk kedalam mobil.

Entah ini hanya perasaan Suga saja atau memang-

Perkataan terakhir Hoseok sedikit mencurigakan baginya. Tidak akan pernah menatap Jimin lagi? Tunggu-

Dengan spontan dia berlari, berusaha mencegah mobil Hoseok yang mulai melaju pelan.

"Hoseok! Berhenti! Jung Hoseok, kau mau kemana?!"

Dengan nafas terengah, akhirnya ia bisa mengejar dan menghadang mobil berwarna silver itu hingga Hoseok mau tak mau berhenti.

Suga ketuk kaca mobil itu dan memanggil pemiliknya.

"Hoseok bukalah!"

Hoseok membuka kacanya setengah, hingga matanya terlihat dan menatap Suga dengan bergetar.

"Kenapa kau begini padaku?"

"..."

"Kau tak mau menyelamatkanku, tapi kenapa kau mengejarku?! Aku mau pergi! Pergi ke tempat dimana aku tak bisa melihatmu dan Jimin lagi, pergi ke tempat dimana aku bisa bersembunyi dan tak merasa sakit hati lagi! Aku ingin pergi!" Pekiknya, frustasi."...Tapi aku tak pernah bisa menemukan tempat itu, apa aku sebaiknya mati? Katakan Min Suga! Apa aku sebaiknya mati saja?!"

Suga masih terengah ditempatnya dan bingung harus menjawab apa, sampai Hoseok kembali berkata.

"Lagipula untuk siapa aku hidup selama ini? Benar, Jung Hoseok harus mati. Jadi jangan mengejarku lagi!" Tandasnya, lalu menutup kembali kaca jendela untuk kemudian melajukan mobil dengan kecepatan lumayan tinggi. Meninggalkan Suga yang masih mencerna segala rangkaian ucapan itu, dan tak lama menyusul dengan mobilnya sendiri.

Cukup sulit mengendarai mobil ditengah hujan deras dan jalanan licin seperti ini. Belum lagi banyak kendaraan lain yang membuat Suga harus ekstra hati-hati. Namun bisa ia lihat, mobil Hoseok didepan sana melaju begitu cepatnya dan tak ayal membuat Suga panik sendiri. Jung Hoseok menyetir seperti kesetanan, menyalip kendaraan lain tanpa perkiraan, bukan tidak mungkin bisa menyebabkan kecelakaan.

Dia gila!

"AGH! BRENGSEK!"

Sial bagi Suga. Saat mobilnya berhasil mendekat, lampu merah menyala dan memisahkan mereka berdua. Mobil silver itu melaju mulus, meninggalkan mobil hitam milik Suga yang tertinggal di barisan paling depan. Yang tersisa hanyalah umpatan saja dari si blonde yang basah kuyup itu.

"Pergi kemana kau Jung Hoseok?!"

. . .

Raga utuh Suga boleh saja ada disini mendekap erat Jimin yang tengah terlelap. Tapi jika ditelisik lebih jauh lagi, sebagian jiwa dan pikirannya melayang entah kemana. Banyak hal yang ia risaukan kini. Jangan bertanya soal bagaimana cara ia bicara pada Jimin mengenai skandal palsu besok, karena dia benar-benar bingung harus memulai darimana. Apalagi mendapati Jimin sakit begini, rasanya semakin tak tega jika ia harus to the point bicara "Besok akan ada pemberitaan tentang skandalku dengan Kwon Mina. Kuharap kau mengerti posisiku, Jim-"

Tidak. Suga tak bisa.

Lebih dari itu, kerisauan Suga kini bertambah saat tahu fakta, bahwa Hoseok belum kembali ke rumah beberapa hari ini.

Tentu ia ikut cemas. Pasalnya, kemungkinan besar dia lah yang terakhir berkomunikasi- lebih tepatnya cekcok dengan Hoseok petang itu. Ia tak menyangka jika anak itu benar-benar serius dengan keinginannya untuk pergi. Setahunya, Hoseok bukanlah sosok yang akan dengan mudahnya putus asa begini (well~ gara-gara dirimu, dia pernah nyaris menyayat nadinya sendiri, kalau kau mau tahu, Suga.).

Tapi...selain konflik yang terjadi antara mereka berdua, kiranya masalah seberat apa yang membuat Hoseok berlari padanya dan memohon agar diselamatkan?

Jika sore itu keduanya tak sama-sama dikuasai emosi, apakah Hoseok akan tetap pergi?

.

.

.

Seokjin hendak mengetuk pintu kamar Jimin, namun tiba-tiba saja rasa ragu menghampiri. Jadilah ia menurunkan kembali kepalan tangannya. Satu tangannya yang lain memegang bingkai foto yang diberikan Jung Ahjumma beberapa saat lalu.

Kedua bola mata Seokjin bergerak dengan gelisah.

Min Yoongi ada didalam, dan ada banyak hal yang ingin Seokjin tanyakan. Ia yakin akan dapat jawaban, sangat yakin. Tapi lagi-lagi rasa ragu menghadang keyakinannya. Karena kini pertanyaanya hanya satu, dan itu untuk dirinya sendiri.

'Kau boleh saja yakin, tapi apa benar kau siap?'

Jika ternyata, Yoongi punya jawabannya, -Misteri tentang hubungannya dengan Hoseok selama ini-, Kalau dia membeberkan semuanya, apa kau yakin dirimu siap, Kim Seokjin?

Dia menelan ludahnya dengan sulit. lalu menghembuskan nafasnya dengan lebih sulit lagi. Si sulung itu menggelengkan kepalanya.

'Tidak, tidak...'

Tiba-tiba saja seluruh tubuhnya gemetar, dan membuatnya segera beranjak dari sana. Kembali ke kamar Hoseok.

"Tidak, aku tidak siap. kenyataan sepahit apa yang akan kudengar nanti? Apa hubunganmu dengan Yoongi selama ini? Apakah Jimin juga menyadari? Kau dan Yoongi, sepasang kekas- astaga, bagaimana bila itu benar terjadi?"

Seokjin menutup pintu kamar Hoseok dengan tangan gemetar. Bersandar disana sejenak. Memejamkan matanya, dan tanpa disadari satu airmatanya mengalir. Buah dari rasa ragu, takut, cemas, dan bingung yang menjadi satu.

Tak lama kemudian, langkah kakinya terseok menuju sisi jendela. Ia langsung disuguhi lampu-lampu di seluruh penjuru rumah megah keluarga Park yang mulai menyala. Hujan deras yang masih setia turun pun tak luput menjadi objek pemandangannya.

"Kau harus menjelaskannya padaku, Hoseok-a. kau harus beritahu aku. Aku temanmu, teman yang selama dua puluh tahun lebih ini menjelma jadi kakakmu. Ceritakan apa yang jadi keluh kesahmu, karena kau punya aku. jangan menyimpannya sendirian dan membuatku cemas begini. Kau kenapa? apa yang terjadi? Dimana kau sebenarnya?"


Disini.

Sosok yang mengklaim dirinya paling terluka itu, ada disini. Sama seperti Seokjin dijauh sana, ia tengah berdiri didekat jendela terbuka, memperhatikan hujan yang turun tanpa henti petang ini. Bedanya, ia berdiri dalam kegelapan. Tak ada secercah pun cahaya yang menyinari ruang tempatnya berada. Semuanya gelap, suram, sesak, dingin.

Tak jauh beda dengan perasaannya.

Tanpa ekspresi, tak bergerak walau hanya se inci.

Sekelebat bayangan muncul dibenaknya. Bagaimana ia sampai di tempat ini setelah sebelumnya bersitegang dengan Min Yoongi kemudian pergi dengan berbalut emosi. (seingatnya dia menyetir secara gila-gilaan hingga hampir menabrak beberapa pengguna jalan, lalu malah balik meneriaki mereka seperti; 'BRENGSEK APA KAU MAU MATI BERSAMAKU HAH?!'

'PAKAI MATAMU TOLOL!' .)

Masih terngiang di telinganya apa saja yang mereka ributkan. Segalanya tak lepas dari nama Park Jimin, Park Jimin, dan Park Jimin. Bagaimana saat Suga membentaknya demi Jimin, atau dengan kekeh memintanya untuk merubah sikap pada adiknya itu.

Bola mata Hoseok bergerak gelisah dan perlahan mulai berkaca-kaca.

Kenapa? Aku datang bukan untuk membahasnya. Kenapa harus Park Jimin yang ada diantara kita?

Dari sekian banyak kalimat yang Suga lontarkan kemarin, ada satu yang masih Hoseok ingat betul.

'Seberapa sering kau berkata membenci Jimin, aku tahu... jauh didalam hatimu, dia masih adik yang kau perdulikan dan ingin kau lindungi!'

Kali ini ia luruh ke lantai, seolah kehilangan tenaganya. Nafasnya memburu, bahkan tersengal saat airmatanya ikut luruh juga.

Nyatanya, separuh dari dirinya membenarkan kalimat itu.

Sebab jika tidak, mungkin sudah sejak lama dia pergi menjauh, bukannya diam saja menyaksikan kebersamaan Suga dan Jimin didepan matanya sendiri hingga membuat rasa benci itu bertumpuk-tumpuk. Tapi lihat? Hoseok malah bertahan disana dengan rasa tersiksanya, tanpa pernah berniat menjauh pergi dari Jimin sedikitpun. Karena iya, seberapa keras ia menepis, seberapa jauh ia menghempaskannya, Jimin memang tetaplah seseorang yang ingin ia jaga dan lindungi.

Faktanya, berkat anak itulah Hoseok bisa ada di keluarga besar ini sekarang.

Tapi... sebab anak itu juga, Hoseok berubah menjadi sosok yang selalu menaruh iri dan benci dalam hatinya.

Lama-kelamaan tangisnya menjadi pecah, bahkan terkesan dipaksakan untuk keluar. Jelas sekali dia sedang berusaha membuang rasa sesaknya. Lewat air mata, Hoseok bisa mengeluarkan segala keluh kesah yang tak pernah mampu ia jabarkan dengan kata-kata.

.

.

Sejak kapan aku jadi sosok penuh dendam begini?

Rasa brengsek itu tak mau pergi,

Rasa keparat itu tak bisa lari

Rasa sepi menyebalkan itu terus mengelilingi

Tak bisa kumengerti,

Tak mampu kupahami,

Tak urung kusesali

Tanpa alasan yang jelas, aku hanya ingin menangis. Ku seka, mengalir lagi. ku seka, mengalir lagi. Begitu seterusnya

Bukan, bukan karena aku tak ingin bicara

Aku hanya, merasa... jika, diriku...tak punya tempat untuk bercerita, dan tidak tahu harus mencurahkannya pada siapa

Apapun itu yang mengganggu pikiranku,

Apa yang ingin kukatakan,

Apa yang mau ku utarakan,

Apa yang harus ku ungkapkan,

Apa yang selalu ku rasakan,

Apa yang mesti aku lakukan?

Perasaan brengsek ini tak kunjung hilang juga

Pada akhirnya, aku hanya bisa menelan kembali apa yg ingin ku celotehkan

Iya...aku menyedihkan.

Lalu aku harus bagaimana?

Berteriak? Merengek? Pada siapa?

Tak perduli seberapa kencang aku berteriak, atau bahkan merengek hingga menjadi gila,

...tetap saja, tak berubah

Memangnya ada yang mendengar?

Memangnya siapa yang perduli?

Memangnya ada yang mau tahu?

Tidak, kan?

Aku, ditinggalkan.

Aku, sendirian.

Aku, kesepian.

Lepas darinya,

Kupikir takkan sesulit ini. Kukira takkan sesakit ini. Ku sangka takkan sesedih ini.

Aku bosan begini

Selalu tak bisa mendapat apa yang ku mau

Selalu harus menahan iri ,

Selalu harus meredam asa

Selalu begini

Dan aku muak,

...lelah,

...jengah,

...aral,

...hingga sampai pada titik ingin...

...Mati.

.

.

Jung Hoseok selalu merasa sendirian. Selalu berpikir bahwa dia yang paling terluka. Dia meringkuk disudut ruang gelap dan dingin, lengkap dengan isakkan yang terus muncul dari bibirnya.

Hoseok tak tahu, dari celah pintu sana sepasang mata yang mulai punya keriput di sisinya itu tengah memperhatikannya dengan tatapan sendu. Tangannya menggenggam ponsel. Di layarnya tertera kontak yang diberi nama,

Seokjinnie~

Hanya tinggal menekan ikon panggil, maka pasti tersambung.

Namun nampaknya ia ragu melakukannya.


Sepasang mata milik Kwon Mina tak pernah lepas dari layar ponselnya.

"Astaga, komentarnya semakin ramai saja..." keluhnya sambil berdecak pelan.

"Apa?" Suara Wheein muncul dari belakangnya. Anak itu baru selesai mandi dan kini tengah mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil.

"Ha?" Mina menyahut dari tempat tidurnya.

"Itu, eonni daritadi memandang terus ponsel sambil berdecak begitu. ada apa? artikel tentang kita?" Kini gadis bermarga Jung itu ikut duduk disamping Mina.

"Bukan... ini tentang-"

"Masih Suga oppa?!" Pekik Wheein manakala berhasil mencuri pandang pada layar ponsel Mina "Astaga, fans benar-benar menanggapi dengan serius. Kkkk~" lalu dia terkikik. Sementara orang disampingnya hanya menghembuskan nafas pelan.

"Ini tidak lucu, Jung! Mereka terus berspekulasi aneh. Aku malah pusing bagaimana memberi klarifikasinya..."

"Pusing apa? Biarkan saja. Apa yang salah dari pose selca yang sama? Aku juga sering begitu dengan Dowoon~"

"Tapi ini beda, Wheein-a. Kau dan Dowoon janjian untuk mempostingnya di sosmed, sementara aku dan gula? Dia tiba-tiba saja bertingkah begini. Aku kan bingung..."

Wheein diam-diam membenarkan. Diam-diam juga dia memperhatikan raut wajah sahabatnya itu.

"Eyyy~ tunggu, kalau ku perhatikan... eonni bukan bingung. Lebih tepatnya, merasa...apa ya namanya? Ah! pada dasarnya kau senang kan Suga oppa begitu?"

"Ha?"

"Aku tahu perasaanmu eonni~ mengaku lah~~~" goda Wheein, membuat Mina nampak gelagapan.

"Y-ya, ya sekarang bayangkan saja jika Beenzino sunbaenim tiba-tiba meniru semua selca dan statusmu di sosmed, apa yang kau rasakan?"

Kini giliran Wheein yang tergagap "siapa?" Tanyanya, padahal dia jelas mendengar.

"Ha~ kau pasti berbunga-bunga hingga ingin mati. Tapi disisi lain kau juga tak tahu apa maksud senior pujaanmu melakukan itu. Sementara fans terus mendesakmu agar mengaku. Ayo, coba apa yang mau kau lakukan?"

"H-ey~ kenapa malah membahas Been-"

"Tuhkan! Kau juga bingung!" Tuding yang lebih tua

Sang Vocalist pun berdehem dengan janggalnya. "B-bukan begitu, eonni-a. Ini kenapa jadi bahas tentang aku sih?!" Lalu dia kembali ke topik utama "...Yah sekarang kau ambil positifnya sajalah! anggap saja Gulamu itu membuka pintu untukmu, dan kau hanya tinggal diam saja menunggu dipersilahkan masuk."

"..."

Mina terdiam. Ucapan Suga tiba-tiba terngiang di telinganya.

'Tentang foto di jejaring sosial itu...kau pasti paham apa maksudnya.'

'Aku juga tersiksa, tapi... mau bagaimana lagi? kita harus menjalaninya...'

'Kau tak marah kan? apa yang ku lakukan ini sudah benar kan?!'

Huh? Apa perkataan Wheein ada benarnya? Apa iya Suga telah membuka pintu buatnya?

Wheein tersenyum lembut lalu merangkul bahu sahabatnya yang nampak semakin bingung itu.

"hey eonni, launching album dan konser perdana sebentar lagi datang! Kita bisa bebas dari larangan berpacaran. bukan begitu? Jadi tak usah bingung lah, bawa santai saja."

"Tapi-"

"Lagipula yang dicuri kan cuma pose selca mu, bukan ciuman dari bibirmu!"

DEG!

Wheein tak menyadari jika tubuh Mina tiba-tiba menegang sepersekian detik, karena gadis itu buru-buru melepas rangkulannya dan pergi.

"A-ah~ aku mau mandi dulu. Terimakasih atas sarannya Wheein-a..."

Wheein sih tak ambil pusing, dan hanya membalasnya dengan gumamman pendek saja. Jadi dia tak tahu jika Mina diam-diam masih menyimpan rasa was-was.

"Astaga... bagaimana jadinya kalau mereka tahu...?"

Mereka akan terluka, Kwon Mina. Hati-hati, karena kau mungkin termasuk didalamnya.


Baru pukul sembilan pagi, tapi sang surya sudah bersinar begitu teriknya, seolah balas dendam atas ketidakhadirannya seharian kemarin.

Oh,

Mengkhawatirkan sesuatu di pagi ini? Apa? Siapa?

Park Jimin?

Well, sepertinya dia malah mengkhawatirkan hal lain.

Anak itu kini duduk di jok belakang mobilnya, dan memasang raut wajah yang tak bisa dikatakan tenang sepanjang perjalanan. Kang Ahjussi yang memegang kemudi didepan pun merasa heran.

"Sebenarnya siapa yang sakit itu, tuan muda? Kelihatannya kau cemas sekali?" Tanya pria paruh baya itu, sambil sesekali melirik kaca kecil di mobil ini.

"Uh? Dia teman baruku ahjussi...eng~ sudah kuanggap adikku sendiri." Jawab Jimin jujur "...aku janji akan datang saat dia operasi, tapi ternyata jadwalnya dimajukan dan saat itu aku juga sedang sakit. Jadilah- aish~ dia pasti marah. bagaimana ini?" Keluhnya diakhir jawaban.

Kang Ahjussi diam sejenak, lalu tersenyum singkat,

"Tidak akan. Bicara saja baik-baik padanya. Anak itu pasti mengerti kondisimu. Kau juga kan tidak menginginkan jatuh sakit. Bukan begitu?" Tuturnya menenangkan.

"Hm? Iya sih, aku bisa menjelaskannya," katanya membenarkan, "...tapi,"

Kang Ahjussi menaikkan satu alisnya karena mendengar jawaban Jimin yang nampak ragu

"Tapi kenapa, tuan muda ?"

Jimin mendongak "ah? T-tidak. Tidak apa-apa..." sangkalnya, kemudian bergumam dalam hati,

"Tapi anak itu kan bawel sekali..."

Nah, benar kan? Jimin justru sibuk mengkhawatirkan sesuatu atau lebih tepatnya seseorang yang lain. Pagi tadi ia bahkan sempat sedikit berdebat dengan Seokjin. Hyungnya itu melarang dia pergi karena belum sembuh betul, apalagi saat Jimin bilang dia akan pergi naik bis. Beruntung Jimin bisa membujuknya dengan bilang "Aku sekalian menemui Dara nuna. Ada beberapa hal yang mau kami bicarakan." Katanya, dan itu sebenarnya tidak bohong. Tadi sang noona sempat mengirim pesan singkat, katanya ada sesuatu yang ingin dibicarakan, entah apa.

Akhirnya sang kakak mengizinkan, walau dengan syarat "Pergilah dengan Kang Ahjussi."

Dan Jimin tak bisa menolak.

Sebelum mencapai ruangan dimana Jungkook berada, rencananya Jimin akan terlebih dahulu menemui Sandara di ruangannya. Namun ternyata noonanya itu tengah mengunjungi Jungkook yang kini telah dipindahkan ke ruang rawat biasa. Jadilah Jimin segera menyusulnya.

Sampai didepan kamar Jungkook, mulai terdengarlah ocehan-ocehan khas anak itu. Junghyun dan Dara menyahut sesekali.

Jimin hendak mengetuk pintunya, namun ia nampak berpikir lagi "Jungkook marah tidak ya padaku?"

Sibuk bergelut dengan pikirannya, membuat dia tak sadar jika pintu terbuka dari dalam.

"Oh? Jimin-ssi?!"

Seseorang yang membuka pintu itu, Jeon Junghyun.

"Ha? Mana? Mana Jimin hyung?!"

Sontak Jungkook segera muncul dibalik hyungnya, membuat Jimin meringis seolah tertangkap basah. Walau bagaimana pun dia tetap memberi salam dan selanjutnya Junghyun mempersilakan dia masuk sedangkan dirinya sendiri pamit keluar untuk mengurus sesuatu.

.

.

.

Ternyata kekhawatiran Jimin akan reaksi Jungkook sama sekali tidak terbukti. Alih-alih marah, anak itu malah menyambutnya terlampau antusias. Dia (dan Junghyun) seolah bukan pasien yang baru saja melakukan operasi. Anak itu bahkan sudah tak memakai seragam khas pasien lagi.

"Aku mau pulang hari ini." ujarnya memberi tahu.

Tentu saja Jimin menaikkan alisnya heran.

"Pulang?" Jungkook mengangguk "...sekarang?" Jimin memastikan.

"Hm, sekarang. Junghyun hyung sedang keluar mengurus semuanya."

"Memangnya sudah sembuh betul? Kalian kan baru menjalani operasi?"

Jungkook tertawa kecil "sudah tidak ada yang sakit kok. Aku bosan disini. ingin istirahat di rumah saja."

"Tapi-"

"Hey~~ kenapa hyung yang resah? Dara nuna sudah mengizinkan kok. Iya kan?"

Jimin menoleh pada Dara yang berdiri diseberangnya. Dia mengangguk, tanda membenarkan ucapan Jungkook.

"Sejauh ini perkembangan Jungkook dan Junghyun lumayan pesat. Jadi ku izinkan mereka pulang, asal nanti melakukan kontrol rutin sesuai jadwal." Jelas Dara.

"Tuh kan, benar apa kataku!" Sahut Jungkook riang.

"Ah~~ baguslah kalau begitu." Jimin bergumam lega, lalu kembali menatap Jungkook yang tersenyum lebar.

Dalam hati ia masih merasa heran. Yang di operasi itu bukan kepalanya kan? Kok tingkah Jungkook jadi berubah begini? Sedikit lebih- ekhm, kalem? Yah begitulah. Dan itu...aneh.

Anak itu bahkan tak menuntut penjelasan soal ketidakhadiran Jimin saat itu (mungkin Dara sudah menjelaskan? Entahlah~), hanya saja dia mengajukan satu permintaan pengganti.

"Apa?"

"Antar aku dan Junghyun hyung pulang ya? Hyung mau kan?"

Dan Jimin tak tega menolak "Baiklah, kebetulan aku bawa mobil. Tunjukkan saja alamatnya, nanti supirku mengantarkan."

Senyum Jungkook semakin lebar.

"Ekhm," Dara menginterupsi "...kau sudah bisa pulang sekarang. Tapi jika ingin diantar Jimin, maka kau harus menunggu sebentar. Ada sesuatu yang mau kami bicarakan dulu."

Ah, Jimin baru ingat.

Untunglah Jungkook mengangguk tanpa banyak protes "Okay! tak masalah~"

Kemudian dua sepupu itu keluar, menyisakan Jungkook yang langsung meredupkan raut wajahnya.

Ada sesuatu.


"Pelan-pelan Jungkook-a, bekas operasimu belum kering betul..." Ujar Jimin memperingatkan, dan Jungkook yang berjalan disebelahnya mengangguk paham

"Arraseo..." lalu menggenggam tangan Jimin dengan erat. Sesekali mengayunkannya pelan.

Mereka berdua kini menaikki satu persatu anak tangga menuju rumah Jungkook. Junghyun berjalan mendahului didepan membawa barang-barang adiknya dibantu Kang Ahjussi.

"Duh, apa luka operasinya akan baik-baik saja? bagaimana kalau terbuka dan infeksi?! Jungkook-a, anak tangga ini banyak sekali. aku jadi ngeri!"

Jungkook terkikik, "Tidak usah parno begitu sih hyung, kalau sakit juga aku akan bilang kok!"

"Lagipula..aku baru tahu di Seoul ada pemukiman seperti ini ?" Ungkap Jimin sambil sesekali mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Tempat tinggal Jungkook berada di dataran tinggi padat penduduk, itu sebabnya mereka harus melalui banyak anak tangga. Mobil pun tak bisa sampai ke depan rumah dan terpaksa diparkir di bawah.

Kembali ke ungkapan Jimin tadi, Jungkook lagi-lagi menanggapinya dengan tawa singkat.

"Itu karena rumah Jimin hyung berada di kawasan elit, iyakan? Makanya hyung tak tahu tempat kumuh macam ini."

"Oh? B-bukan, bukan itu maksudku. ini tidak kumuh kok, pemandangan dari atas sini lebih bagus dibanding balkon kamarku." Jimin justru memuji.

"Benarkah itu?"

"Hm, dari balkon kamarku, hanya deretan rumah saja yang bisa dilihat. Tapi dari sini, pemandangan kota terhampar jelas. Udaranya juga sejuk..."

"Ohya? kupikir tempat tinggal keluarga Park sudah paling sempurna,"

"Hm? Darimana kau menyimpulkan itu?"

"Yaaa~ Itukan tempatnya para pengusaha berada. Rumah-rumah disana pasti sangat mewah, dan keluarga yang tinggal didalamnya pasti bahagia. Termasuk keluargamu." Kali ini Jungkook yang mengungkapkan pikirannya, "...Lain dengan rumah sempit yang ku tempati dengan Junghyun hyung. Huh, aku kadang merasa iri..."

Jimin tersenyum tipis, amat tipis.

"Tidak semua kemewahan berarti bahagia Jungkook-a. walau hanya tinggal berdua, asal kalian saling menyayangi dan melindungi...semuanya akan terasa lebih sempurna, dibanding rumah mewah yang membuatmu iri itu."ucapnya sambil menerawang. Tiba-tiba rasa sedih menyergap di hatinya. Namun dengan cepat ia menekannya agar Jungkook tak curiga. "Ohya Jungkook-a, apa rumahmu masih jauh?" Tanyanya kemudian.

"Sedikit lagi sampai kok. kenapa? Jimin hyung lelah?"

Mulanya Jimin menggelengkan kepala,

"Tidak, aku-"

Tap!

...namun detik berikutnya ia tiba-tiba berhenti dan reflek menggenggam Jungkook lebih erat. Jelas anak itu terkejut,

"Uh, hyung? Kenapa?" Tanyanya sedikit cemas, apalagi Jimin hanya menunduk dan tak segera menjawab.

"Hyung?"

"..."

"Jimin hyung, kau tak apa-apa?"

Jimin mengerjapkan matanya beberapa kali, lalu kembali menatap Jungkook dengan senyum singkat,

"Tak apa. aku- aku baik-baik saja." jawabnya, lalu menghembuskan nafas panjang "...ayo lanjutkan!"

Dan Jungkook hanya bisa mengangguk walau masih merasa heran. Apalagi genggaman Jimin lama-lama semakin basah berkeringat...dingin.

.

.

.

Di kursi kerjanya, Sandara tengah serius menatap selembar kertas. Berulang kali matanya menelusuri kalimat-kalimat yang tertera di kertas itu. Berulang kali pula ia menghembuskan nafas lelahnya, karena iya, sadar tak sadar ia membaca sambil menahan pasokan udara.

Suara-suara itu terngiang kembali...

"Kalimat ini masih mengerikan bagiku walau sudah kubaca puluhan kali. Bagaimana bisa kau sesantai ini, Jimini?"

"Lalu menurut nuna aku harus bagaimana? Menangis? Berteriak? Tak perduli berapa kencang aku melakukannya bahkan hingga menjadi gila, tetap saja tak berubah kan? Cepat lambat pun hal ini terjadi, nuna tahu itu. Jadi kenapa kau mempermasalahkan ini?"

"Masih belum terlambat, Jimin. Pergi ke Amerika dan lakukan pengobatan. Kau masih punya kesempatan-"

"25 persen? Bunuh saja aku sekalian!"

"Jimini,"

"Dua puluh tahun aku hidup, apa nuna bisa menghitung berapa kali tubuhku dirawat ditempat berbau obat ini? bisakah nuna menghitung berapa jumlah kapsul yang kutelan? Apakah nuna ingat...berapa kali tanganku ditusuk jarum infus? Aku bosan dan muak sampai mau gila rasanya. Lalu dengan kesempatan hidup sekecil itu, nuna menyuruhku melakukan pengobatan? Mengurungku di ruangan dengan bau obat menyengat, menyiksaku dengan proses yang luar biasa menyakitkan, padahal akhirnya aku akan mati juga..."

"..."

"Biarkan saja 25 persen itu kujalani dengan bebas, nuna. Aku tidak mau mati secara sia-sia. jadi tolong, jangan membujukku melakukan ini lagi. sebab sampai kapanpun aku tidak akan mau."

"Jangan keras kepala Park Jimin, atau- "

"Jangan mengancamku dengan nama Kakek lagi! Aku bosan, sungguh..."

"Tapi ini demi kebaikanmu,"

"Lupakan saja."

"..."

"Ah, ya...obat yang kemarin nuna beri sudah tidak berpengaruh sama sekali. Berikan saja aku penghilang rasa sakit dengan dosis lebih tinggi."

.

.

.

Dara memijat pangkal hidungnya sambil memejamkan mata. Sepupunya akan sangat emosional jika diajak bicara masalah ini.


"Kenapa kau keras kepala sekali, Park Jimin?"

"Jungkook-a,"

"Ya, hyung?" Jungkook menolehkan kepala pada Jimin yang duduk disampingnya "...ada apa?" Tanyanya karena hyungnya itu justru hanya menatap lurus kedepan.

Ah, mereka berdua kini duduk berdampingan disebuah meja kayu yang ada dihalaman rumah Jungkook. Ada sebuah pohon cukup rindang yang tertanam disana, membuat udara cukup sejuk walau tengah hari begini. Dari tempat duduk ini, keduanya bisa melihat hamparan seoul dibawah sana. Dimana rumah dan gedung pencakar langit berjejer. Yang paling mencolok adalah sebuah bangunan Gereja.

Junghyun ada didalam membereskan tempat tidur Jungkook, jadilah mereka berdua menunggu disini. Kang Ahjussi sendiri sudah kembali ke mobil.

"Ada apa?" Jungkook bertanya lagi karena Jimin tak kunjung meneruskan maksud ucapannya.

"Kau tak marah padaku?"

"Ha?"

Jimin menoleh "kau, apa tak marah? Aku kan mengingkari janji untuk datang saat kau dan hyungmu operasi,"

Jungkook tertawa kecil "Tidak apa-apa. toh aku sudah sembuh kan? Kau juga sudah menggantinya dengan mengantar kami pulang. Jadi, semuanya impas. Omong-omong, Terimakasih atas tumpangannya. "

Jimin menatap Jungkook dengan tak nyaman.

"Jangan begitu, aku jadi tak enak. Lebih baik kau marah atau mengoceh saja. kau yang penurut begini, menurutku aneh..." Katanya, jujur. "Tuh kan! Jangan tersenyum begitu, kau malah membuatku takut!" Imbuhnya saat Jungkook malah tersenyum begitu tenang.

kali ini Jungkook tertawa sedikit keras "takut apa sih hyung? Hn? Aku biasa saja..."

"Jungkook-a,"

"Kan kau sendiri yang bilang, jangan menghubungimu dalam keadaan sakit. Hari itu, semua badanku rasanya mau remuk. Sakit sekali, sampai tak bisa bersuara. Aku tak mau membuatmu panik lagi, jadi...yasudah,"

Jimin nampak melebarkan pupil matanya. Mendengar itu membuat perasaan bersalahnya kian bertambah "yak~ bukan itu maksudku, ck~ selamat, kau sukses membuatku merasa bersalah, Jeon Jungkook..." Ujarnya, dan lagi-lagi membuat Jungkook tertawa.

"Sudah kubilang tidak apa-apa, Jimin hyung. Jangan bersikap seolah-olah aku anak kecil yang kalau tak dituruti kemauannya akan merengek. Aku sudah SMA tingkat akhir lho kalau kau lupa~"

"Tapi kan dulu kau memang begitu! Siapa coba yang berakting sakit di telepon hanya supaya aku datang?" Ungkit Jimin yang membuat Jungkook meringis malu.

"Aku tidak akan seperti itu lagi, maaf deh hyung. Mulai sekarang aku akan jadi Jeon Jungkook yang dewasa dan tak banyak menuntut lagi. Maaf ya?"

Bukannya menjawab, Jimin malah semakin merasa ngeri. Ia menatap Jungkook dengan menyelidik. Sepertinya benar, kepala anak ini juga ikut dioperasi.

"Hyung?"

Jimin mengerjapkan matanya, lalu berdehem pelan.

"S-sudahlah. Jika memang kau tak marah, ya syukurlah."

Junghyun sudah selesai didalam dan mempersilahkan mereka masuk. Namun Jungkook menolak dan meminta waktu sebentar lagi. Entah untuk apa, karena beberapa menit setelahnya hanya ia isi dengan keheningan. Ia seolah memikirkan sesuatu, sampai akhirnya kembali bersuara,

"Jimin hyung,"

Lawan bicara yang daritadi menunggu pun dengan sigap menanggapi.

"Hm? Kau mau masuk sekarang? Sini ku tuntun, kau perlu istirahat. Aku juga akan segera pul-"

"Hey, kenapa kau jadi bawel? Aku kan belum selesai bicara..."

Kali ini gantian Jimin yang meringis malu "Ah~ ya cepat bicaralah..."

"Ng~ apakah aku...boleh minta sesuatu lagi?"

Jimin tersenyum "ini yang aku tunggu. Ayo cepat, kau mau minta apa lagi? Katakan saja. Dengan begitu perasaan bersalahku jadi berkurang." Tawarnya dengan senang hati.

Namun anak itu malah kembali terdiam dan memalingkan wajahnya kedepan. Air mukanya menjadi lebih serius.

"Berlindunglah padaku..."

Hening.

Jimin menaikkan satu alisnya. Ia tetap diam karena mengira kalimat Jungkook masih punya lanjutan. Tapi ternyata anak itu juga hanya diam bahkan tak menatapnya sedikitpun.

"Apa? Kau minta apa barusan?"

Barulah dia menoleh, dan seketika Jimin merasa seolah dirinya akan tertusuk oleh tatapan tajam yang Jungkook arahkan.

"Berlindunglah padaku, Jimin hyung. Aku minta kau berlindung padaku. Duniamu hari ini, hari-hari berikutnya di duniamu, sepertinya akan sedikit menakutkan dan membuatmu lelah. Karena itu, aku menawarkan bahuku untuk tempatmu bersandar, atau jari-jariku untuk sekedar menghapus keringat dan airmatamu. Paling tidak, kau punya teman untuk membagi sakitmu. Dan aku...bersedia jadi orang itu."

Jimin sebenarnya ingin tertawa dengan kalimat itu. Lelucon apa yang sedang anak ini bicarakan? Oh Apakah Jungkook sedang menjadikannya objek berlatih drama lagi?

Maaf ia takkan tertipu-

"Drama. Tidak ada drama di sekolahku." Tapi Jungkook segera menyela seolah tau isi pikiran hyungnya. "Ini tentang drama mu sendiri, hyung." Ia bahkan meraih dan menggenggam kesepuluh jari jemari Jimin dengan erat "Jebal, turuti saja permintaanku." dia menunduk dan suaranya terdengar begitu pilu.

"Jeon Jung-"

"Jeon Jungkook untuk pertama kalinya merasa jatuh cinta. Dia menyukai seseorang yang tak sengaja dijumpai didalam bis dan bahkan belum genap satu bulan dikenalnya. Jeon Jungkook luluh untuk melakukan hal yang selama ini dia hindari, hanya karena ingin tahu nomor ponselnya. Dia tidak suka pertunjukkan drama, dia tidak suka berakting. Tapi demi orang itu, Jungkook mau melakukannya. Jeon Jungkook menyukainya, benar-benar menyukainya. Dia harus bagaimana ?"

Kali ini Jimin tergugu. Tak tahu harus membalas apa. Untuk pertama kalinya, ia melihat Jungkook begitu serius dan juga-

"Jungkook-a,"

...menangis.

Bahu anak itu bergetar walau suara tangisnya tak terdengar. Tapi karena dia menunduk, membuat airmatanya jatuh mengenai punggung tangan Jimin.

"Dia harus bagaimana...?" Kalimat itu terus Jungkook ulang-ulang.

"H-hey, Jeon Jungkook,"

Jimin melepaskan genggamannya, lalu coba mengangkat wajah anak itu. Dan pada detik yang sama dia tersentak. Wajah yang biasanya tertawa bodoh dan jahil itu...kini basah oleh airmata. Spontan Jimin meraba pipi anak itu dengan tangan gemetar.

"Dia harus bagaimana?" Lirihnya dengan airmata yang terus mengalir "...Jeon Jungkook menyukai Park Jimin yang sudah jadi milik orang lain. Dia harus bagaimana?"

Tangan yang semula menangkup pipi Jungkook kini terjuntai lemas. Bukan, bukan pernyataan cinta dari Jungkook yang mengejutkannya. Tapi... kenyataan bahwa anak itu juga sudah tahu tentang statusnya.

"K-kau-"

"Aku menangis bukan karena kau sudah jadi milik orang lain, hyung. Air mata sialan ini entah kenapa memaksa keluar sejak aku tahu," dia tersengal "...kau diperlakukan seperti itu oleh tunanganmu."

Jimin lagi-lagi dibuat tercekat "s-seperti itu...apa maks-"

"Berhenti berpura-pura, hyung!" gertaknya "...Berita itu...kau pasti sudah melihatnya kan? Skandal itu- astaga, bagaimana bisa kau diam saja disaat semua orang sibuk membicarakannya?!" Kini Jungkook sudah berhenti menangis walau suara sengaunya masih tersisa "Jimin hyung, tunanganmu terlibat skandal-"

"Bukan."

Jungkook mengernyitkan dahi saat Jimin menanggapi dengan begitu dingin bahkan tanpa menatapnya lagi.

"Yang terlibat skandal itu bukan tunanganku. Yang terikat denganku bukan Min Suga. Jadi aku tidak mau perduli-"

"Tetap saja kau merasa sakit kan?"

Jimin diam-diam meremas jarinya. Masih tak mau menatap lawan bicaranya. Mungkin dia takut rautnya akan terbaca. Dia ingin bertanya, darimana Jungkook tahu semuanya? Tapi tak sepatah kalimatpun mampu dia keluarkan bahkan saat Jungkook tiba-tiba menariknya kedalam sebuah pelukan.

"Sudah kubilang, berlindunglah padaku. Tak apa jika perasaanku tak terbalas, aku tak marah. Aku tak akan merengek. Karena Jeon Jungkook akan lebih marah jika kau diperlakukan begini oleh orang yang seharusnya melindungimu." Tegasnya "Jeon Jungkook akan berusaha menjadi lebih dewasa. Jadi saat si bodoh itu menyakitimu, kau bisa bersandar padaku." Jungkook memberanikan diri mempererat pelukannya. Tak perduli pada luka operasi yang belum sepenuhnya sembuh. Atau pada Jimin yang hanya diam tak membalas sedikitpun.

"Ini permintaanku yang kau tunggu-tunggu. Berlindunglah padaku, Jimin hyung..."


Jika sepanjang perjalanan pagi tadi Jimin memasang raut wajah khawatir, maka perjalanan pulang sekarang ia tak menampakkan ekspresi apapun. Dan itu karena orang yang sama, Jeon Jungkook.

Ajaib. Bagaimana bisa bocah itu mengobrak-abrik perasaan Jimin begini?

Oh, Jangan lupakan pembicaraan antara ia dengan Dara beberapa jam sebelumnya.

Terlalu banyak yang Jimin pikirkan hingga ia bingung harus bereaksi seperti apa. Air mata pun tak mau mengalir untuk sekedar melepaskan bebannya.

Skandal itu-

Sudahlah, memikirkan semua hal itu membuat kepalanya sakit.

Jimin senderkan kepalanya ke belakang, lalu memejamkan mata. Bentuk pengalihan dari perasaannya yang tak menentu. Ia tarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan-lahan. Sebenarnya akan lebih baik jika airmatanya keluar saja, tapi nyata nya cairan itu tertahan entah dimana.

Jadi yang ia lakukan adalah bergumam dalam hati, berusaha meyakinkan diri sendiri;

"Huft~ semuanya akan baik-baik saja, Chimchim..."

Namun sepertinya tidak.

.

.

.

Bunyi tamparan keras menyambut langkah pertama Jimin di pintu utama rumahnya. Dia pun berhenti hanya untuk menyaksikan apa yang terjadi. Di ruang tamu yang berjarak beberapa langkah darinya, berdirilah Seokjin dengan posisi wajah menyamping. Pipinya memerah, Pemberian lima jari lentik wanita dihadapannya. Lee Shin Ae. Tak cukup sampai disitu, bibi Jimin satu-satunya itu lantas membentak, memaki, meluapkan seluruh emosinya pada si sulung.

"Belum kembali katamu? Yang benar saja Kim Seokjin! ini sudah berapa hari? Sebenarnya kau mencarinya atau tidak?!"

Yang kemudian hanya bisa Seokjin balas dengan permintaan maaf berulang-ulang kali.

"Apa kau tahu, berapa banyak klien yang komplen akibat anak itu menghilang? Tidak tahu terimakasih, sudah diberi jabatan setinggi itu mana boleh dia menyepelekannya?!"

Tanpa perlu Jimin bertanya, ia sudah tahu masalahnya. Ini tentang Hoseok.

Mulanya Jimin tak mau turut campur. Namun begitu melihat tangan sang bibi kembali melayang ke arah Seokjin, anak itu dengan spontan berteriak "Bibi!"

Membuat kedua orang itu sontak menoleh.

Shin Ae terpaksa menurunkan tangannya lagi manakala keponakannya berlari menghampiri. Lalu berdiri disamping keponakan lain yang sedang ia marahi.

"Jangan menampar hyungku lagi," pintanya, membela "...Seokjin hyung sudah berusaha mencari Hoseok hyung. Bibi tak perlu marah padanya hanya karena perusahaan jadi terbengkalai. Mungkin saja Hoseok hyung lelah dan butuh istirahat, jadi-"

"Menurutmu bibi marah karena itu?" Shin Ae menyela "...perusahaan? Oh! benar. aku tahu Jung Hoseok lelah. Aku juga tak akan melarang jika dia ingin istirahat. Yang ku permasalahankan disini adalah, dia menghilang tanpa kabar dan mengabaikan tugasnya yang lain untuk menjagamu."

"Bibi,"

"Oh, ingatkan aku bahwa dia memang mengabaikanmu sejak tahun lalu. Sepertinya anak itu lupa posisinya disini sebagai apa." Ujar Shin Ae sambil melirik Seokjin tajam "...mungkin dia juga lupa apa yang membuatnya bisa ada di keluarga ini."

Seokjin hanya bisa menunduk, dan Jimin terdengar menghela nafasnya.

"Cukup bibi. Seokjin hyung dan Hoseok hyung punya kehidupan sendiri, begitu pun bibi. Jadi jangan berlebihan begini, karena aku bukan anak kecil lagi. Aku bisa menjaga diri-"

"Menjaga diri? Maksudmu dengan diam dan tak melakukan apapun saat orang-orang menyakitimu? Itu yang kau sebut menjaga diri Jimini?!"

"..."

"Kelak jika rasa sakitmu makin bertumpuk dan kau tak sanggup menyembuhkannya, bagaimana? Kau butuh orang lain, kau butuh pelindung! Sekarang mereka yang seharusnya melindungimu justru bertindak melenceng dari tugas, mana bisa bibimu ini diam saja Park Jimin?!" Shin Ae berhenti untuk menetralkan nafasnya yang memburu. Kemudian ia raih tasnya yang tergeletak di kursi. Beberapa lembar koran ia keluarkan, untuk selanjutnya ia lempar ke lantai. Seolah belum cukup, ia pun mengambil tabletnya dan menunjukkan berita online serupa tepat dihadapan dua keponakannya. "Apa ini?" Tanyanya dengan suara lebih rendah, namun tetap dingin.

Seokjin sontak melebarkan mata sipitnya tatkala membaca headline berita, sementara Jimin justru tak menampakkan reaksi apa-apa. Dan hal itu langsung membuat Shin Ae tertawa dengan pahitnya.

"Kau terkejut, Seokjin-a? Lihat, adikmu bahkan tidak bereaksi apapun. Dia sudah tahu dan diam saja, tidakkah kau menyadarinya?"

Seokjin melirik Jimin. Dan benar, adiknya itu tak menunjukkan raut terkejut seperti dirinya. Itu artinya

"Jimin sudah tahu. Tapi dia dengan bodohnya memendam seorang diri seolah tak terjadi apa-apa. Kau tak menyadari karena sibuk menghandle urusan kantor yang harusnya menjadi tanggung jawab Hoseok. Lihat? lagi-lagi masalahnya ada pada Jung Hoseok! Aku marah bukan semata-mata karena perusahaan. Lebih dari itu, aku mengkhawatirkan keponakanku sendiri. Apa salah?"

Hening mendominasi setelahnya. Seokjin tak tahu harus membalas apa, sedangkan Jimin hanya terdiam dengan menjatuhkan tatapannya pada headline koran dilantai sana.

Skandal Min Suga dan Kwon Mina.

BRAK!

Benda pipih itu dibanting juga ke lantai. Jatuh berserakan tak jauh dari lembar-lembar koran sebelumnya. Sang pelaku kini menatap keponakannya dengan pandangan menuntut.

"Bisa kau jelaskan itu, Park Jimin? Setelah menyangkal keberadaanmu dari publik, kini apa yang tunanganmu itu lakukan? Berciuman didalam mobil dengan- oh astaga Tuhan. Skandal macam apa ini?!"

"Dia.." Jimin mengalihkan tatapannya dari koran, lalu berganti pada bibinya "...Yoongi hyung pasti punya alasan dibalik skandal ini. Dia-"

"..." Shin Ae menunggu, namun nyatanya Jimin tak mampu meneruskan kalimatnya. Anak itu menggigit bibirnya yang bergetar, tanda gugup. "Apa? Ayo...keluarkan semua pembelaanmu tentang Min Yoongi. Alasan seperti apa yang membuat tunanganmu sampai terlibat skandal dengan rekannya sendiri? Huh? Ayo yakinkan aku dengan kebohongan seperti biasanya. Bela dia dan katakan kalau ini hanya resiko pekerjaannya. Cepat katakan!"

Tak ada suara.

"Kau ragu? Tidak menemukan alasannya?"

Masih sama.

Shin Ae meraba lehernya sendiri. Pegal. Pegal dengan sikap sok tegar keponakan yang sudah ia anggap seperti anaknya. Jadi dia memilih duduk dan menghela nafas sedalam-dalamnya.

"Lihatlah, lama-lama kau juga merasakan sakitnya kan? Diam-diam kau merasa kecewa. Itulah yang bibi rasakan sekarang, Jimin-ie. Melihat orang-orang yang bibi percayai untuk menjagamu, justru berbalik menyakiti dan parahnya kau selalu membela mereka ! Aku kecewa..." keluhnya seraya memijat kerutan di dahinya "...kalau begini terus, aku bisa saja mengadukan-"

"Bisakah bibi tidak melibatkan kakek dalam masalah ini?! Sebenarnya kenapa kalian semua selalu menggunakan nama kakek sebagai ancamannya?!" Hanya menaikkan suaranya satu nada lebih tinggi, tapi bagi Jimin yang jarang berteriak dalam kesehariannya, ini terdengar mengejutkan.

"Park Jimin!" Seokjin memberi pandangan menegur, namun adiknya itu malah sibuk meredakan kembali emosinya. Shin Ae sendiri masih diam dalam keterkejutannya.

Seokjin melirik Jimin yang kini mulai bergerak. Memungut koran dan tablet yang berserakan, lalu menundanya di meja dan kembali berdiri di tempat semula.

"Aku minta maaf." Katanya kemudian, "...apapun atau siapapun yang membuat bibi kecewa saat ini, aku mewakilkan diri untuk meminta maaf."

Shin Ae tak membalas.

"...skandal ini, aku belum sampai pada titik kecewa sama sekali. Tidak ada alasan untuk aku merasakannya, karena dia yang terlibat bukanlah tunanganku."

Dua orang lain mengernyitkan dahi atas pernyataan ini. Namun sosok yang tengah bicara itu terus melanjutkan kalimatnya dengan amat tenang bahkan terkesan datar.

"...yang dijodohkan denganku, yang memasang cincin di jariku, yang dipercaya buat menjaga dan melindungiku, dia Min Yoongi dan bukanlah Min Suga. Min Suga punya kehidupan sendiri yang tak berhak aku recoki. Mau dia tak mengakuiku, mau dia berciuman atau bahkan berpacaran dengan rekannya, selama dia melakukannya dengan menyandang nama Min Suga, aku tidak mau perduli." Jimin mengatakannya dalam sekali tarikkan nafas dan membuatnya terpaksa menjeda dulu "...kecuali jika dia terlibat sesuatu diluar keartisannya, menjalin hubungan dengan orang lain dibelakangku menggunakan nama Min Yoongi...barulah aku akan kecewa."

DEG !

Mungkin Jimin tak menyadari, jika kalimat yang ia lontarkan dengan intonasi kelewat datar itu justru membuat orang disampingnya merasa tertohok. Ia tidak sadar jika Seokjin diam-diam menahan nafasnya untuk beberapa detik. Hyungnya itu bahkan kesulitan untuk menelan air liurnya sendiri. Seluruh tubuhnya menegang, hingga terasa kaku bahkan hanya untuk menoleh menatap ekspresi Jimin.

Adiknya itu memang jarang marah. Tapi percayalah, intonasi sedatar itu justru lebih menakutkan. Karena Seokjin tahu, Jimin tak main-main dengan kalimat terakhirnya tadi.

"Aku berterimakasih pada kalian yang selalu mengkhawatirkanku walau kadang melewati batas wajar." Ujarnya, kini dengan intonasi lebih normal "...tapi ini hubungan kami. Urusan Min Yoongi bisa ku atasi sendiri. Jadi, kuharap...bibi tak mempermasalahkannya lagi atau bahkan mengadukannya pada kakek. Skandal semacam ini wajar terjadi pada setiap artis. Percayalah, semua akan baik-baik saja..." pungkasnya, berusaha meyakinkan. Namun bibinya itu nampak sudah terlalu lelah hingga tak mau berdebat lagi. Wanita itu pun bangkit seraya membawa tasnya. Ia menghela nafas dalam, lalu menepuk bahu Jimin pelan.

"Yah...kau benar. Park Jimin sekarang bukan anak kecil lagi dan bisa mengatasi semuanya sendiri. Maaf jika bibi terlalu berlebihan."

Jimin perlahan mengangguk "aku juga minta maaf, bibi..."

Shin Ae tersenyum walau hambar "Tapi tetap saja. jika terjadi sesuatu, cepat hubungi aku. Kelihatannya orang-orang di rumah ini..." dia melirik Seokjin dengan ekor matanya "...mulai tidak becus menjalankan tugasnya."

"Bibi," Jimin menegur karena bibinya tetap saja mempermasalahkan hal ini dan menyudutkan hyungnya

"Sudahlah, aku pulang dulu. baik-baiklah disini." Dia menyempatkan diri mencium kening Jimin, sebelum benar-benar pergi. Menyisakan dua kakak beradik di ruangan yang luas ini.

"Jin hyung-" Jimin baru saja mengeluarkan suara, hendak meminta maaf pada Seokjin. Namun sang hyung yang sedari tadi hanya diam itu langsung beranjak menjauh sambil berkata,

"Sudahlah, kepalaku mau pecah rasanya..."

Jimin tidak tahu bahwa itu bukan maksud Seokjin sepenuhnya. Hyungnya hanya sedang menyembunyikan kegugupan saja. Dan Seokjin juga tidak tahu, bahwa Jimin balas bergumam setelahnya

"Ya, aku juga sama..."


Kedua tangan Seokjin sibuk melepaskan ikatan dasinya. Namun sepertinya dia benar-benar lelah bahkan tak mampu menyelesaikan hal sekecil itu. Ia malah menjatuhkan diri ke tempat tidur dengan posisi terlentang. Langit-langit kamar menjadi pemandangannya. Dan lagi-lagi dia sudah terlampau lelah bahkan hanya untuk membuka matanya. Jadi ia gunakan punggung tangannya untuk menutupi indra penglihatannya itu.

Seokjin menghela nafas berkali-kali.

Penat. Lelah. Bingung. Kesal. Malu. Entah mana yang mendominasi karena semuanya datang secara bersamaan.

Bibi Lee memang menamparnya dengan amat keras tadi. Tapi percayalah, bukan hal itu yang membuatnya perih sekarang.

'Kecuali jika dia terlibat sesuatu diluar keartisannya, menjalin hubungan dengan orang lain dibelakangku menggunakan nama Min Yoongi...barulah aku akan merasa kecewa.'

Kalimat itu, menampar Seokjin telak-telak. Rasanya lebih perih dibanding tamparan dari bibinya. Ia jadi semakin takut jika kecurigaan nya tentang Hoseok dan Yoongi benar terbukti.

Ponsel di saku celananya berdering. Dengan ogah-ogahan ia merogohnya. Punggung tangan yang semula dipakai menutup matanya, kini di singkirkan agar bisa melihat siapa yang memanggilnya.

Omoni

"Oh?"

Ibunya.

"...Tumben sekali," gumamnya heran. Walau pada akhirnya tetap menjawab panggilan itu.

"Ya, halo Omoni..." Sapanya dengan suara seriang mungkin, tak mau mencirikan betapa kalut keadaanya "...apa kabar? Maaf jarang menghubungimu. Aku sedikit...sibuk."

Entah apa yang dibalas sang ibu, karena Seokjin langsung tertawa kecil setelahnya "ah~ omong-omong, tumben sekali Omoni menelpon. Ada apa?"

Namun jawaban di seberang sana membuat senyumannya perlahan memudar.

"O-Omoni tahu darimana-" belum selesai dia bertanya, sang ibu kembali mengatakan sesuatu yang spontan membuat Seokjin bangkit dari posisi tidurnya. "A-apa omoni bilang? Hoseok...ada dimana?"


'Maaf, nomor yang anda tuju tidak dapat dihubungi. Silahkan tinggalkan pesan-'

Jimin menjauhkan ponsel dari telinganya. Sementara pandangannya tak lepas dari layar laptop yang ia hadapi kini. Bola matanya bergerak pelan, membaca dengan teliti setiap berita yang ia buka melalui media online.

Dua personil ROCKMANTIC Band, tertangkap kamera berciuman di mobil dengan kap terbuka, menjadi headline utama. Fotonya dengan jelas tertera.

Ada yang meyakini itu nyata, sementara yang lain meragukan dan menganggap ini editan semata. Postingan-postingan Min Suga dan Kwon Mina di akun sosial media pun kembali diungkit-ungkit dan diseret hingga skandal ini makin terasa panasnya.

Dan Jimin? Dia hanya bisa mengamati bagaimana Netizen berkicau dengan ramainya, tanpa berniat ikut campur sama sekali. Ia bahkan baru tahu nama akun sosial media milik Suga berkat skandal ini. Dan ia harus menerima kenyataan, bahwa postingan Suga belakangan ini memang mencurigakan. Jadi bukan hal aneh jika media, baik online maupun cetak semakin gencar memberitakannya. Segalanya semakin tak terkendali, karena pihak yang jadi sorotan utama tak memunculkan batang hidungnya sama sekali.

Bisa menebak ekspresi Jimin sekarang?

Datar. Tak terbaca.

Ia mencoba menghubungi lagi tunangannya, namun yang didapatnya lagi-lagi hanya pengalihan mailbox.

Trep!

Dia menutup laptopnya dengan keras tanpa mematikannya terlebih dulu. Ponselnya ia lempar ke permukaan karpet di kamarnya ini.

Memikirkan ini membuat kepalanya berdenyut nyeri. Dengan malas ia merogoh tasnya, meraih tabung kecil berisi butir-butir kapsul yang sangat ia benci.

Ia menelan beberapa, namun hingga bermenit-menit pun sakitnya tak kunjung mereda. dengan kesal ia melemparkan tabung itu layaknya ponsel tadi, hingga sebagian isinya berceceran di permukaan karpet.

Kemudian ia mengusap wajah dengan kedua telapak tangannya secara kasar. Mengerang samar-samar.

Jimin boleh saja memiliki prinsip, -selama dia melakukannya dengan menyandang nama Min Suga, aku tak mau perduli.- ,

Dia juga bisa saja menyangkal dengan berkata "aku belum sampai pada titik kecewa sama sekali."

Tapi Jimin harus tahu, jika hati tidak bisa dibohongi. Seberapa handal dia meyakinkan orang lain jika 'semuanya akan baik-baik saja...' , toh pada kenyataannya, dirinya sendirilah yang paling meragukan kalimat itu.

Situasi ini...

Jimin sudah tahu ini akan terjadi bahkan sebelum orang lain ramai membicarakannya. Yang dia tidak mengerti, kenapa harus dalam bentuk skandal menjijikan semacam ini?

.

.

.

. . .

Sejak kedatangan Yoongi hyung sore kemarin, aku sudah merasa ada yang tidak beres dengannya. Dia memelukku dan menciumku dengan berlebihan, tak seperti biasanya. Dalam kehangatan sentuhannya, aku bisa merasakan ada sesuatu yang ia sembunyikan. Dia sendiri kan yang bilang di telepon kalau ada yang mau dibicarakan denganku? Tapi apa? Sampai aku nyaris terlelap dalam pelukannya pun dia tak kunjung mengatakan maksudnya.

Yoongi hyung mungkin tidak tahu, jika aku tidak benar-benar tertidur saat itu. Obat-obat pahit yang dia minumkan pada mulutku dengan cara aneh (tapi berhasil) itu tidak berefek sama sekali. Jadi aku tahu kalau dia terus saja mencium kelopak mataku sepanjang aku menutup mata. Mengeratkan pelukannya, untuk kemudian menyentuh bibirku lagi. Begitu seterusnya.

Aku hampir menyerah, dan hendak membuka mataku untuk memaksanya bicara "sebenarnya apa yang mau kau katakan padaku?" Tapi detik itu juga, Yoongi hyung membuka suaranya. Membuatku mengurungkan niatku.

"Sayang, ada sesuatu yang mau kukatakan..." Ucapnya, "...tapi, aku bingung harus darimana memulainya..." keraguan itu terdengar jelas dari nada bicaranya.

Ada jeda sebentar yang dia gunakan untuk mengusap punggungku beberapa kali. Merapikan poni di dahiku, lalu seperti biasa mencium kelopak mataku dan berakhir di bibirku (lagi). Hampir saja aku jatuh tertidur karena perlakuannya yang kelewat lembut itu.

"Maaf..."

Tapi kalimat yang ku perkirakan masih punya lanjutan itu membuatku sadar kembali

"...maaf, tapi aku tidak bisa mengucapkannya saat matamu masih terbuka. Hal ini terlalu-" dia menghela nafas panjang "-menyakitkan." Lalu melanjutkan dengan suara spontan aku mengerutkan dahiku. Entah dia menyadari atau tidak.

"Aku takut kau menangis. Aku benci melihatmu meneteskan airmata karena aku. Karena itulah aku memilih bicara saat matamu tertutup."

Apa? Sebenarnya hal apa yang mau kau katakan sampai takut aku menangis karenanya? Apa kau mau memutuskanku? Huh? Kau sudah bisa meraih impianmu karena itulah mau melepaskanku seperti katamu dulu? Huh? Bicaralah hyung, kenapa diam lagi?!

"Besok,"

Ya, kenapa dengan besok?

"...Besok mungkin-"

Astaga Min Yoongi, kenapa kau diam lagi? Ada apa dengan besok?!

"...mungkin besok akan ada sesuatu yang- astaga, bagaimana cara mengatakannya Jimini?"

Yoongi hyung mengeluh dengan putus asa, seraya mempererat pelukannya. Dan aku tiba-tiba saja merasa sesak. Dia pasti sangat ingin mengutarakan intinya, tapi bingung dalam waktu yang bersamaan.

Sebenarnya...semenyakitkan apa? Semenyakitkan apa sampai kau tak berani mengatakannya padaku?

Kali ini Yoongi hyung memberi jeda sangat lama. Begitu lamanya hingga membuatku hampir benar-benar tertidur karena lelah menunggu. Namun sebelum itu terjadi, Yoongi hyung tiba-tiba melepaskan pelukannya. Dan seketika rasa dingin menghampiriku.

Aku bisa merasakan pergerakannya. Ia bangun dan turun dari tempat tidur lalu merapikan selimutku.

Tidak,

Jangan pergi dulu!

Selesaikan dulu pembicaraanmu...

"Kajima...jangan pergi, Yoongi hyungie..."

Antara sadar dan tidak, aku menggumamkannya dengan mata tetap terpejam. Dan jawaban yang kudapat adalah (lagi-lagi) ciuman di kelopak mata dan juga bibirku. Kali ini lebih lama. Anehnya, aku tak mampu membalasnya.

Selanjutnya, Yoongi hyung berbisik tepat diatas bibirku

"...Tidur yang nyenyak, sayang. Semoga lekas sembuh. Temui aku dimimpimu. Temui aku sebagai kekasih yang sempurna hingga membuatmu tak rela bangun lagi. Karena saat kau membuka mata nanti, dunia takkan lagi seindah mimpimu...dan itu-" dia berhenti sejenak "...itu salahku."

Perlahan-lahan kehangatan di sekitarku benar-benar lenyap. Aku masih bisa mendengar langkah-langkah kakinya menjauh. Dan sayup-sayup ia berkata, "Aku menyayangimu, maafkan aku..."

Sejak saat itu, aku tahu semuanya takkan baik-baik saja...

. . .