. . .
Jika diingat-ingat lagi, saat itu usia Hoseok baru menginjak enam tahun. Masih belum sepenuhnya mengerti, kenapa sang mama membawanya ke sebuah panti asuhan ditengah hujan deras di petang hari. Kebingungannya semakin bertambah saat mamanya justru hanya membiarkannya berdiri didepan gerbang dan membekalinya sebuah payung mini. Dipunggung Hoseok, terdapat sebuah tas kecil hadiah ulang tahunnya baru-baru ini.
"Hoseok tunggu disini. kalau ada orang yang mengajakmu masuk, ikutlah. Sebutkan namamu, dan tunjukkan barang yang ada didalam tasmu. Kau mengerti?"
Tentu Hoseok tak langsung mengerti, jadi dia menggelengkan kepalanya pelan.
"Mama mau kemana?" Tercetak jelas kebingungan dalam nada pertanyaannya.
Sang mama nampak gugup, lalu berjongkok menjajarkan tubuhnya dengan Hoseok
"Pokoknya Hoseok tunggu saja disini. Jika sudah waktunya, mama akan datang lagi. Tapi sekarang, kau tinggal dulu disini. Mereka akan mengurusmu. Pasti mereka akan menemani-"
"Tapi aku takut, mam-"
"Jangan melirih begitu!" Hoseok sangat terkejut mendengar bentakkan itu "...hanya tinggal disini, dan jangan banyak bertanya apalagi mengeluh. Disini kau akan tinggal dan makan dengan layak. Tinggal bersamaku, kau hanya akan mati dipukul laki-laki pengangguran itu saja." Kini malah sang mama lah yang melirih padanya, namun dengan cepat ia mengubah lagi nadanya menjadi penuh ketegasan "kau harus menurut, Jung Hoseok. Tinggal disini, dan hiduplah lebih baik daripada denganku." Lalu dia kembali berdiri, untuk kemudian beranjak pergi.
Hoseok masih berusaha mencerna setiap kalimat yang mamanya lontarkan. Namun tak sedikitpun yang mampu ia pahami, karena kini anak yang memiliki lebam di sudut bibirnya itu sibuk meraung, memanggil sang mama yang mulai menjauh darinya.
"MAMA!"
Ia lempar payung kecilnya.
Satu langkah ia coba mengejar, namun wanita itu langsung berbalik dan menghardiknya,
"Jangan mengikutiku!"
Tapi Hoseok tetap saja tak menurut. Sambil menangis, dia bawa langkah-langkah kecilnya ditengah guyuran hujan ini. Mulutnya tak henti memanggil mama, dan wanita didepannya bersikukuh melarangnya.
"Aku bukan mama mu lagi, Hoseok. Jadi pergi saja. Masuk kedalam sana, dan hiduplah lebih layak."
"Mama,"
"KU BILANG AKU BUKAN MAMA MU!"
Satu bentakkan yang lebih keras, sukses membuat anak itu berhenti. Tangisnya lenyap sesaat, berganti jadi sesak didalam hati. Tak terdengar lagi raungan, tak tersisa lagi panggilan. Mata merahnya tak berkedip menyaksikan langkah wanita itu yang semakin jauh. Jauh dari pandangannya, jauh dari jangkauannya. Tanpa berusaha ia kejar lagi.
Cukup.
Dia terluka.
Luka ini lebih sakit dibanding setiap pukulan yang Hoseok dapat dari lelaki yang ia panggil papa.
Dan luka ini,
Sepertinya akan sulit hilang darinya...
...jika saja anak berpipi chubby itu tak datang.
Iya. Beberapa menit setelahnya, Hoseok masih mematung disana. Membiarkan hujan membasahi tubuh mungilnya. Tanpa ia sadari, sepasang kaki dibelakangnya melangkah dengan pelan-pelan . Dia memungut payung yang Hoseok buang tadi, untuk kemudian memayungi dirinya dan si empunya. Walau percuma, karena mereka sama basahnya.
Hoseok berbalik badan. Cukup terkejut mendapati seorang anak bertubuh lebih gemuk darinya tengah menatapnya sambil tersenyum lebar
"Hai! Aku Kim Seokjin." Sapanya terdengar sangat ceria "namamu Hoseok kan?" Namun yang ditanya malah sibuk membisu, takut. "Aku bukan anak nakal kok. Ayo masuk? Kalau disini terus kita bisa mati kedinginan. Tidak- aku juga bisa dimarahi Omoni. Kajja !"
Itu pertemuan pertama Jung Hoseok dan Kim Seokjin.
. . .
Disini.
Didepan gerbang tempat Seokjin menghentikan mobilnya lah, pertemuan itu terjadi. Sudah lama, lama sekali. Tapi Seokjin tak pernah sedikitpun berniat melupakannya.
Petang itu, ia hanya ingin menghindari sang ibu yang marah karena dia tak sengaja memecahkan guci saat sedang berlarian didalam rumah. Seokjin kecil kesal. Dia kan tidak sengaja?! Jadilah ia memilih keluar tak perduli jika petang sudah tiba dan hujan deras tengah mengguyur.
Namun langkahnya terhenti manakala melihat seorang wanita dengan bocah seumurannya didepan gerbang. Rasa penasaran Seokjin makin besar tatkala wanita itu meninggalkan si bocah (yang kalau ia tak salah dengar bernama Hoseok) itu sendirian. Hoseok menangis, melempar payungnya, lalu berlari kecil mengejar sang mama yang terus melarangnya untuk ikut. Seokjin hanya bisa memperhatikan dalam diam.
Dan yah, saat wanita itu benar-benar menjauh, barulah Seokjin pelan-pelan melangkah. Memungut payung milik Hoseok, dan menghampiri anak itu dengan senyuman. Memperkenalkan diri, lalu mengajaknya masuk.
Entahlah, Seokjin hanya merasa...jika Hoseok adalah seorang yang harus ia lindungi.
Iya, dia perlu melindungi Hoseok.
Karena itulah saat sang ibu menelponnya beberapa jam lalu, Seokjin tanpa buang waktu segera tancap gas kemari tanpa sempat berpamitan pada siapapun.
Dan disini lah dia sekarang, berdiri didepan rumah masa kecilnya. Suasana sangat sepi, mungkin anak-anak sudah tertidur.
"Oh, kau datang Seokjin-a?" Sebuah suara memecahkan lamunannya. Dilihatnya ibu Heo mendekat, lalu membukakan kunci gerbang "Kupikir kau tidak akan datang malam ini?"
Seokjin tersenyum canggung "aku pasti mengganggu ya, Omoni?"
Gerbang terbuka. "hey, mana ada ibu yang merasa terganggu dikunjungi anaknya? Aku justru senang karena akhirnya kau punya waktu kemari. Kau terlalu sibuk sampai kalah dengan tuan muda Jimin yang selalu datang satu bulan sekali." Guraunya "masuklah, nak..."
Sang putra menggangguk pelan lalu bertanya,
"Apa tidak masalah mobilku dibiarkan disini?"
Sang ibu mengangguk, "Disini aman. Lagipula didalam sudah ada mobil Hoseok, kurasa tidak akan muat. Kau hapal kan halaman panti ini tak seluas milik ibu dan ayah Park..." jawabnya sambil terkekeh pelan.
Mendengar itu, senyum Seokjin perlahan pudar. Kembali teringat Hoseok.
"Bagaimana keadaan Hoseok, Omoni..?"
Ibu Heo menghela nafasnya "kau masuklah dulu..."
.
.
.
"Malam itu, Hoseok datang dalam keadaan mabuk dan juga sangat kacau. Aku jelas terkejut, tapi tidak berani bertanya. Mungkin...karena dulu hanya sempat mengasuhnya sebentar, jadi aku canggung. Tak apa, Hoseok sudah mau kemari pun aku senang. setidaknya dia masih ingat pada tempat ini..."
Seokjin mendengarkan penuturan ibu Heo dengan diam. Pandangannya jatuh pada secangkir teh yang baru saja disuguhkan Omoni nya itu. Sebenarnya ia ingin segera melihat keadaan Hoseok, namun sang ibu kekeh menyuruhnya duduk dulu untuk membicarakan sesuatu. Dan disinilah mereka, duduk bersampingan di ruang tamu.
"...kutempatkan dia dilantai atas yang jauh dari jangkauan anak-anak karena kupikir Hoseok hanya sedang stress oleh pekerjaan dan butuh ketenangan. Yah, kukira hanya karena pekerjaan. tapi rupanya lebih dari itu..."
Kali ini bola mata Seokjin mulai bergerak gelisah. apa ibunya tahu sesuatu? Apa Hoseok menceritakan masalahnya?
"Tidak. Hoseok tidak pernah bercerita apapun padaku. Sejak datang, dia hanya diam menyendiri. Tak mau makan, tak ingin minum. Kutanya kenapa? Ada masalah apa? Dia tidak menjawab dan hanya menggelengkan kepalanya. Satu hari, kubiarkan dia. Tapi hari berikutnya, dia malah semakin parah. Setiap ku tengok ke kamar, Hoseok pasti tengah menangis. Kutanya lagi, apa Hoseokkie bertengkar dengan Seokjin? Dia tidak memberi respon berarti. Karena sejak kecil kalian dekat, jadi kutawarkan padanya untuk menghubungimu. Tapi Hoseok tetap saja seperti itu. Ponselnya pun dia tinggalkan begitu saja di mobil dengan kondisi mati. Dari situ aku menyimpulkan, bahwa masalah Hoseok lebih berat dari yang kusangka..." Jelas ibu panjang lebar, dan tanpa sadar penglihatan Seokjin mulai mengabur.
"...kemarin petang, saat hujan deras terjadi. Hoseok menangis lebih keras dari biasanya. Anak-anak dibawah sampai merasa heran dan bertanya padaku 'Omoni , Hoseok hyung kenapa sih?', dan aku tidak bisa menjawab karena benar-benar tak tahu. Kulihat ke kamarnya, dan dia sedang meringkuk di sudut kamar yang gelap. Saat itu muncul niatku untuk menghubungimu, Seokjin. Tapi aku ragu. akhirnya aku memilih masuk dan menenangkan Hoseok. Lagi-lagi dia melakukan hal yang tak kusangka" ibu menghela nafasnya sejenak "...Hoseok memelukku, dan menumpahkan airmatanya. Bahkan dia merengek padaku 'Omoni, Omoni~ tolong selamatkan aku. Aku tidak punya siapa-siapa lagi. tolong selamatkan aku, Omoni~' " Ungkapnya meniru ucapan Hoseok kemarin. Suaranya mulai tercekat, tanda sedang menahan kesedihan "...seorang anak, yang dulu bahkan sangat segan memanggilku ibu, tiba-tiba datang meminta pertolongan dengan isak tangis begitu, menurutmu bagaimana perasaanku?"
Air mata Seokjin benar-benar jatuh , begitupun sang ibu.
"Seokjin-a," wanita itu berusaha meredam tangisnya dan menggenggam tangan puteranya "...terjadi sesuatu? Kau tahu apa sebabnya adikmu seperti itu? Hm? Katakan pada Omoni, barangkali Omoni bisa membantu-"
Belum sempat dia menyelesaikan pertanyaannya, Seokjin sudah lebih dulu menerjangnya dengan sebuah pelukan. Setelah itu menangis kencang di bahunya. Persis seperti Hoseok kemarin. Jadi yang wanita itu lakukan sekarang pun sama, mengusap punggung puteranya dengan lembut.
"Omoni-" Seokjin berusaha mengucapkan sesuatu, namun semuanya terhadang oleh tangisan. Ibu Heo diam-diam meringis, membayangkan seperti apa masalah yang sedang terjadi sampai putranya sulit bicara begini.
"Tak apa Seokjin-ie, tak apa jika kau belum bisa cerita. menangis saja..."
Pecah sudah.
Segala rasa lelah, bingung, sedih, dan air mata yang selama ini dipendam akhirnya pecah juga. Nyatanya, Kim Seokjin pun butuh dekapan. Si sulung ini perlu sandaran. Dan seorang ibu, adalah sosok yang paling tepat untuk dijadikan sasaran.
Mereka bertahan dalam posisi itu selama beberapa menit, sebelum akhirnya tangisan itu mereda dan Seokjin melepaskan pelukannya. Ibu Heo dengan lembut menghapus sisa-sisa airmata di pipi putranya yang sudah tak sebulat dulu.
"Omoni," Seokjin mulai bersuara meski diiringi isakkan pelan
"Hm?"
"Sepertinya aku gagal"
Sepenggal kalimat yang dilontarkan dengan nada lirih itu spontan membuat gerakkan tangan ibu di pipi Seokjin terhenti.
"Kau bicara apa Seok-"
"Aku gagal menjaga adik-adikku. Aku gagal menjalankan pesan ibu dan ayah Park. Benar-benar gagal. Aku harus bagaimana, Omoni?"
"Jangan bicara begitu. kau sudah menjaga mereka sejauh ini, kau juga bekerja di perusahaan secara bersamaan. Jadi, apa yang gagal? Menurutku tidak-"
"...Hoseok memilih kemari dan tak pulang-pulang, dibanding bercerita padaku tentang masalahnya. Jimin sakit, dan sekarang tunangannya kembali membuat ulah. Lagi-lagi Jimin memilih diam dan tak bercerita padaku. Aku tak menyadari karena terlalu sibuk mengurus pekerjaan yang ditinggalkan Hoseok. Semua orang menyudutkanku. Omoni, aku harus bagaimana?"
Kali ini ibu tak langsung menjawab.
"...apa yang salah denganku? Mereka berdua hanya tinggal berbagi, aku juga tak pernah menutup diri. Yang ku mau, masalah sekecil apapun, ceritakanlah! Jangan memendamnya sendirian lalu berakhir kacau begini. Jangan membuatku merasa bersalah karena tak mampu menjalankan tugasku sendiri."
Setelahnya Seokjin terisak lagi.
Ibu Heo menatap putra yang bukan putra kandungnya dengan sedih. Benar, yang salah disini adalah kurangnya komunikasi. Satu masalah disembunyikan, lalu tertimpa masalah yang lain. Tanpa pernah diceritakan, tanpa mau diumbar-umbar dan hanya dipendam seorang diri. Pada akhirnya, semua merasakan sakit yang bertumpuk-tumpuk. Bahkan pihak yang tak tahu apa-apapun ikut kena imbasnya.
Kim Seokjin.
Ibu Heo bisa merasakan betapa frustasinya sang putra. Karena wanita itu tahu, seberapa besar anak itu punya semangat melindungi orang lain, bahkan sejak masih kecil. Ingatannya melayang pada kejadian di sebuah malam beberapa tahun silam.
. . .
"Whoaaaaa! Ayah dan Ibu Park dataaaang~"
Suasana tentram di Panti asuhan itu seketika lenyap, terganti dengan riuh anak-anak yang menyambut pasangan suami istri yang datang berkunjung. Tuan Park, dengan istrinya yang tengah mengandung. Mereka adalah donatur tetap panti asuhan ini.
Biasanya, pasangan itu akan datang dua minggu sekali. Menjenguk anak-anak disini, membawa banyak hadiah untuk mereka. Tapi semenjak kandungan pertamanya itu membesar, keduanya jarang kemari. Dan hanya mengirimkan saja hadiah-hadiahnya. Rupanya, anak-anak sudah terlanjur nyaman dan menyayangi dua orang itu seperti orangtua sendiri. Saat Tuan Park dan istrinya absen, anak-anak mulai bertanya pada ibu Heo tanpa bosan-bosan. 'Kapan ayah dan ibu Park datang lagi, Omoni?' Lalu ibu Heo akan menjawab 'nanti kalau bayinya sudah lahir...'
Namun, malam ini keduanya tiba-tiba datang. Tentu saja semua penghuni panti merasa terkejut sekaligus senang. Celotehan polos anak-anak mulai terdengar,
"Loh? Omoni bilang ibu akan kemari kalau bayinya sudah lahir?"
"Benar! Tapi kok perut ibu masih besar? Apa adik kecilnya masih ada didalam?"
"Ibu, Ibu, apakah itu berat? Ibu pasti lelah membawanya~"
"Kapan adik kecilnya keluar, bu?"
Dan Nyonya Park hanya tertawa dengan gemasnya sambil sesekali menjawab pertanyaan mereka. Supir keluarga Park muncul dan membawa banyak hadiah seperti biasa, membuat anak-anak yang semula mengepung nyonya Park pun berhamburan ke ruangan yang lain. Menyisakan Tuan dan Nyonya Park serta ibu Heo di ruang tamu.
"Kupikir kalian tidak akan berkunjung sampai kau melahirkan Yeseul-a? Ada apa?" Ibu Heo bertanya lebih dulu. Park Yeseul adalah temannya sejak kecil. karena itulah mereka begitu akrab.
"Hm, rencananya begitu. Tapi ternyata aku sangat merindukan anak-anak. Dan juga..." dia menjeda ucapannya sejenak, untuk membenarkan posisi duduknya senyaman mungkin. "...kami ingin menjemputnya."
"Ya? Menjem...put? Siapa?"
Nyonya Park tersenyum melihat raut kaget sahabatnya itu.
"Anak itu...Kim Seokjin."
"..."
Ibu Heo hendak bersuara, sebelum Tuan Park menyela nya.
"Dia masih ada disini kan? Kami belum 'kecolongan' kan?"
Bukannya menjawab, ibu Heo malah balik bertanya. "Tapi...bukankah satu bulan lagi bayi kalian akan lahir? Kenapa masih mau mengadopsi anak dari sini?" Setelahnya dia dibuat terkejut saat nyonya Park menggenggam telapak tangannya dengan erat dan memandangnya begitu lekat.
"Solji-a," dia menghela nafas, "...kau tahu kan, ada yang salah dalam diriku?"
"..."
Selanjutnya Nyonya Park bercerita hal yang sebenarnya ibu Heo sudah tahu. Yakni tentang dirinya yang mengalami keguguran hampir empat kali dalam delapan tahun pernikahannya. Setiap mengandung, dia akan menjadi sangat lemah. Mencapai usia kandungan seperti sekarang adalah keajaiban bagi keluarga besar mereka. Tapi ada satu fakta pahit yang harus diketahui. Ada sesuatu yang salah dalam tubuh wanita bernama asli Han Yeseul itu. Sesuatu yang salah itu harus diangkat dan membuatnya tak bisa memiliki anak lagi. Melahirkan dengan selamat pun belum tentu. Jika mendesak, harus ada satu antara ibu dan anak itu yang dikorbankan. Tapi dia tetap yakin akan melahirkan bayi yang di prediksi laki-laki itu dengan selamat. Dia yakin. Hanya saja...
"...aku tak mau putraku nanti sendirian. Tidak apa-apa, jika bukan seorang adik. Maka aku akan memberinya kakak. Setidaknya, dia takkan kesepian dan punya teman berbagi. Seorang kakak juga bisa menjaganya."
Sendu menyelimuti ruangan ini. Namun dengan cepat Yeseul merubah situasi. Mimik sedih itu ia ganti menjadi lebih ceria.
"...karena itulah, aku dan Yoochun sepakat untuk mengadopsi seorang anak dari panti ini. Iyakan sayang?"
Yoochun mengangguk sambil tersenyum. Lalu keduanya memandang Solji yang masih tertegun dengan cerita Yeseul barusan.
"Bagaimana Solji-a? Boleh kan?"
"Ne?" Barulah dia tersadar "...ah~ itu terserah kalian...aku sih takkan melarang. Tapi...kalian yakin mau Kim Seokjin?"
Yeseul mengerutkan dahi "...apa maksudnya itu? Tentu saja yakin. Anak itu baik, manis, dan kuperhatikan paling dewasa diantara yang lain. Kami suka. Dia cocok jadi seorang kakak."
"Hey, asal kalian tahu, sebenarnya anak itu...sedikit..nakal-"
"Omoni! Aku tidak nakal!"
Ketiganya sontak terkejut dan menoleh pada sumber suara.
"Ups-" Seokjin langsung membekap mulutnya sendiri saat tanpa sadar keluar dari tempatnya menguping tadi. Ibu Heo meringis pelan mengetahuinya.
"Tuh kan apa kubilang! dia itu benar-benar-"
Lain dengan Yeseul dan Yoochun yang malah tertawa geli.
"Kemari nak!" Kemudian sang suami memanggilnya.
Seokjin dengan malu mendekat. Lantas Yoochun membawanya dalam pangkuan.
"Kau mencuri dengar ya?" Tanya Yeseul dengan pura-pura menyelidik.
"Oh? M-maaf ibu, ayah...aku...itu-"
"Tidak apa-apa Seokjin-a," Lelaki itu mengusak pelan rambut Seokjin "...bagus kalau kau sudah dengar. Jadi kami tidak perlu menjelaskan lagi."
"Seokjin mau ikut dengan ibu dan ayah tidak?" Yeseul bertanya lagi, kali ini dengan senyuman tulusnya.
"Ikut ibu dan ayah? Ke rumah kalian?!"
Yeseul menggangguk "...Benarkah?!" Lalu dia tertawa melihat mata Seokjin yang nampak berbinar. Membuat wanita itu bertambah gemas.
"Seokjin mau?"
"Tentu saja mau!"
"Bagus! kita berangkat malam ini juga, Okay?!"
Namun sorot mata berbinar itu tiba-tiba saja lenyap.
"Uh? Kenapa?" Tanya Yeseul heran.
"mmm~, tadi ibu bilang, aku akan jadi kakak dari adik bayi itu kan? Berarti aku harus menjaga dan menemaninya? Begitu, bu?"
"Ehm~" Yeseul membenarkan.
"...kalau begitu, apa ibu perlu satu penjaga lagi selain aku?"
"Ne?"
Seokjin nampak ragu, namun kembali melayangkan pertanyaan yang sama.
"...bukankah akan lebih baik jika penjaganya lebih dari seorang? Adik bayinya akan lebih senang!"
"Yak Kim Seokjin! Apa maksudnya itu?" Sang Omoni spontan menegur.
"Ibu, ayah, omoni..." Seokjin mengabsen sambil menatap satu persatu "...bolehkah Hoseok ikut? Dia- uh, aku takut dia sendirian kalau aku pergi..."
Ketiga orang dewasa itu saling berpandangan. Sebelum akhirnya Yeseul mengambil keputusan,
"Coba, ibu ingin lihat Hoseok dulu. Panggil dia kemari!"
"OKAY!" Seokjin dengan bersemangat lompat dari pangkuan sang ayah, lalu berlari memanggil Hoseok (yang sebenarnya ikut menguping tadi).
"Solji-a, siapa itu Hoseok? Aku baru mendengar namanya?" Yeseul bertanya setelah Seokjin pergi
Solji pun menjelaskan dengan sedikit tak enak. Jung Hoseok adalah anak seumuran Seokjin yang baru masuk sekitar sebulan lalu. Menurut dugaannya, Hoseok adalah seorang anak korban kekerasan dan sengaja ditinggalkan disini oleh ibunya.
"Anak itu memang hanya dekat dengan Seokjin. Denganku pun dia sangat sungkan. Jadi kuharap kalian mengerti kenapa Seokjin begitu. maaf ya."
Tak perlu menunggu lama, Seokjin kembali sambil menuntun Hoseok yang nampak malu.
"Nah ibu, ayah, ini Hoseok. Hoseok-a, beri salam pada ibu dan ayah Park!" Seokjin dengan semangat memperkenalkan mereka. Hoseok membungkuk dengan sungkan, memberi salam lalu menyebutkan namanya dengan intonasi pelan.
Setelahnya hening. Pasangan suami istri itu memperhatikan Hoseok dengan lekat, sebelum akhirnya Yeseul buka suara.
"Hoseok,"
"Y-ya?"
"Kemari..." ia menggerakkan tangannya, menyuruh Hoseok mendekat. Anak itu menurut kemudian berdiri didepan tempat duduknya. Setelah diperhatikan sedekat ini, akan lebih jelas terlihat ada beberapa lebam disekitar tubuh Hoseok. Sebuah memar disudut bibirnya pun belum hilang betul. Yeseul jadi ngilu sendiri melihatnya. "Hoseok mau ikut dengan kami tidak?"
Hoseok tak menjawab dan hanya menatap sepasang mata wanita dihadapannya. Dia bahkan tak berkutik saat Yeseul meraih satu tangannya untuk diletakkan diperut besar itu.
"...sebentar lagi adik bayi yang ada diperut ibu akan lahir. Dia adalah adik Hoseok dan Seokjin. Jadi kalian harus menjaganya bersama-sama. Mengajaknya bermain, menemaninya belajar. Kita akan tinggal bersama di rumah ibu dan ayah. Ibu akan mengantar kalian sekolah, lalu kita semua berjalan-jalan setiap ayah libur bekerja. Seokjin sudah setuju. Hoseok bagaimana? Mau? Hm?"
Airmata Hoseok jatuh bergerombol tanpa bisa ia tahan. Yeseul pun dengan lembut menghapusnya "mau ya...? Ibu dan ayah akan sedih kalau kau menolak. Iya kan 'Yah?"
Yoochun yang tengah memangku Seokjin kembali, memberi senyum tanda membenarkan ucapan sang istri.
"Hoseok?! Ayo katakan saja kau mau! Ayo!" Seokjin mencoba mempengaruhi. Dan tak sia-sia, Hoseok mengangguk dan perlahan tersenyum.
"A-aku mau ibu. Aku akan menjaga adik bayi ini..."
Yeseul menggangguk. Lalu dengan hati-hati membawanya dalam sebuah pelukan.
"Ibu sudah punya dua jagoan, dan satu jagoan akan menyusul sebentar lagi. Wah~ betapa bahagianya~~"
Ibu Heo terdiam menyaksikan pemandangan ini. Ada rasa haru menghampiri. Ia akan kehilangan dua anak yang telah dirawatnya selama ini. Namun disisi lain ia senang. Setidaknya kedua anak itu akan mendapat hidup yang lebih baik.
Dilihatnya Seokjin tersenyum lebar dengan mata berbinar. Dan untuk pertama kalinya, ia melihat Hoseok yang biasanya 'redup', menampakkan senyum sebegitu bersinarnya. Keduanya tak dapat menyembunyikan rasa bahagia mereka.
. . .
Tetapi, kini keduanya juga tak dapat menyembunyikan rasa sedih mereka. Kim Seokjin dan Jung Hoseok, dalam kurun waktu berdekatan menangis dalam pelukannya. Merengek, mengeluh, nyaris putus asa, tanpa ia tahu apa masalah sebenarnya.
"Kim Seokjin," ibu Heo kembali bersuara setelah beberapa menit keheningan menguasai mereka, "...dengarkan Omoni." dia pun kembali membawa Seokjin dalam dekapan hangat. Ia usap punggungnya, memberi ketenangan. Anak itu hanya menerima perlakuan dengan diam. Patuh, mendengarkan.
"Dulu, Kim Seokjin adalah bocah yang nakal. Selalu saja membuat Omoni kesal. Setiap kali kau membuat onar, maka aku akan mengancam dengan mengurangi jatah makanmu." kenangnya "Dan itu ampuh, kau ingat?"
Seokjin menggangguk pelan.
"...awalnya Omoni pikir, kau akan begitu seterusnya dan tumbuh menjadi anak yang menyebalkan. Makanya, saat Ibu dan Ayah Park mengambilmu, Omoni sempat ragu. Tapi begitu kau turut serta mengajak Hoseok, Omoni sadar bahwa Seokjin punya semangat melindungi yang sangat tinggi. Saat ibu bahkan ayah Park meninggal, kau juga tetap disana menjalankan tugasmu. Menjaga serta menemani tuan muda Jimin dan Hoseok. Mengelola perusahaan disaat bersamaan. Kau sudah bertahan sejauh ini, Seokjin-a, dan Omoni tahu itu tidaklah mudah..."
"..."
"...Orang boleh menyudutkanmu, orang boleh menyalahkanmu. tapi Omoni tahu, bahkan Ibu dan Ayah Park dijauh sana pun tahu. Bahwa Kim Seokjin sudah dewasa, sudah berusaha menjalankan tugas sebaik-baiknya. Tuan muda Jimin dan juga Jung Hoseok mungkin tak bercerita karena tahu kau lelah. Mereka hanya tak mau menambah beban pikiranmu. Jadi...jangan merasa gagal lagi. Kau berhasil Seokjin-ie, kau berhasil."
"Kau menangis"
Suara dingin Hoseok adalah hal yang pertama menyambut kedatangan Seokjin ke kamar ini. Sudah hampir tengah malam, dan anak itu masih terjaga. berdiri menghadap ke jendela. sepertinya dia melihat kedatangan Seokjin sejak awal. Bahkan mungkin mendengar tangisan hyung nya itu. Alhasil, niat awalnya Seokjin yang mau bertanya banyak soal masalah Hoseok, malah anak itu yang lebih dulu memaparkan.
"Kenapa menangis...?" Hoseok bertanya tanpa membalikkan tubuhnya.
"..."
"Mulai merasakan betapa lelahnya menjadi bagian dari keluarga itu?"
"Hoseok,"
Hoseok tertawa singkat "Ralat. Kita bukan bagian dari mereka. Kau dan aku hanya berstatus penjaga. Penjaga tuan muda nya, penjaga perusahaannya. Bukan begitu?"
Seokjin mengabaikan itu dan memilih bertanya hal lain, namun Hoseok kembali menyela dengan mengatakan hal yang membuatnya langsung bungkam.
"Aku menyesal"
"..."
"Aku menyesal menyetujui ajakanmu. Harusnya aku diam saja hari itu. Harusnya aku menunggu, barangkali mama yang membuangku benar-benar kembali menjemputku. Iya, harusnya aku begitu. Tapi kenapa aku malah mengikutimu? Masuk kedalam keluarga yang berkedok malaikat, tapi diam-diam hanya memperalatku. Kau tahu Seokjin-a? aku menye-"
"Mana boleh kau berkata begitu Hos-"
"-sal. Sangat menyesal. Sungguh menyesal. Selama ini aku menahannya. Tapi sejak ayah menyusul ibu, tidak ada lagi yang kuharapkan disana. Yang ada aku malah tersiksa. Jadi jika kau kemari untuk menjemputku, aku tidak mau. Aku tidak akan masuk tempat penyiksaan buat kedua kalinya."
Hoseok berbalik badan. Sepasang matanya nampak berkantung dan juga punya lingkar hitam dibawahnya. Tentu saja si sulung itu terkejut. Namun tetap saja, ia perlu menegur kata-kata Hoseok barusan.
"Kau boleh menyalahkanku karena mengajakmu hari itu. Tapi," Seokjin mengepalkan tangannya, menahan suaranya yang kembali bergetar "...tapi kau tidak pantas berkata begitu pada keluarga Park. Aku tak tahu kau kecewa dalam hal apa. Kasih sayang? Kita dapat. Hidup layak? Kita dapat. Apa lagi yang kau kecewakan?"
"..."
"Kalau kau bilang sudah tidak ada harapan lagi setelah ditinggalkan ibu dan ayah, maka kau salah. Kau jangan lupa, masih ada Jimin yang-"
"Jangan menyebut namanya."
Hoseok beranjak naik dan merebahkan tubuh di tempat tidur.
"Hoseok, kau harus tahu kalau adikmu-"
"Aku tidak mau tahu. Sudah, tidurlah."
Seokjin menghembuskan nafasnya lelah.
"Jung Hoseok...kenapa kau begini?" Bisiknya putus asa.
Hening.
Yang satu mengubur diri dibalik selimut. Yang lain perlahan duduk disisinya, lalu termenung dengan pikirannya sendiri. Lagi-lagi dia tak mendapat jawaban yang jelas tentang masalah 'adiknya' itu.
.
.
.
Dan berkilo-kilo meter dijauh sana, si bungsu pun sama tengah berada ditempat tidurnya.
Bedanya, keheningan itu terusik tatkala sakit menghampiri. Membuat dia tak mampu memejamkan matanya meski telah dicoba berulang kali. Berguling kesana, berbalik kemari. Sudah menenggak obat berdosis amat tinggi pun tetap saja rasa sakitnya menguasai.
"Akh..." sesuatu seperti menusuk-nusuk kepalanya saat ini. Wajahnya pucat pasi. Tetes-tetes keringat bercampur airmata pun mulai membanjiri.
Dia ingin beteriak, memanggil hyungnya atau apapun itu. Namun kali ini ia benar tak mampu. Sakit, terlalu sakit hingga akhirnya dia hanya bisa melampiaskan dengan gigitan kuat pada selimutnya. Bercak-bercak darah mulai menetes disana.
'Hyung...sakit...'
.
.
Sosok dibalik selimut itu diam-diam masih membuka mata. Membiarkan tetes-tetes air lolos dari maniknya.
"Jangan menyebut namanya, atau keraguanku untuk membenci akan datang lagi..."
...Hanya terucap dalam hati saja.
Pagi hari di kediaman keluarga Park.
Jimin menuruni tangga dengan lesu. Semalaman bergelung dengan rasa sakit membuatnya baru bisa tidur kurang lebih dua jam yang lalu. Namun ia harus segera bangun karena tak mau tertinggal mata kuliahnya.
"Uh? Jung Ahjumma..."
"Ah, ya tuan muda?"
"Kemana Jin hyung? Dia belum turun?"
Jimin heran mendapati Jung Ahjumma menyiapkan sarapan seorang diri. Biasanya Seokjin sudah siap disana sejak pagi hari. Dia hampir saja mengira jika hyungnya itu masih marah karena kejadian sore kemarin. Untung saja Jung Ahjumma langsung menjelaskan,
"Ah~ tuan muda Seokjin mengirim pesan singkat padaku, katanya ada sesuatu yang harus diselesaikan diluar. Dia juga berpesan agar tuan muda Jimin segera sarapan saja karena dia mungkin tidak akan kembali pagi ini."
"Oh~ begitu ya..."
"Ya, silahkan dinikmati." Wanita itu pun beranjak pergi, meninggalkan Jimin seorang diri.
Anak itu duduk, lalu menatap kursi yang biasa ditempati Seokjin. Kursi tempat Hoseok, dan semua kursi yang lain.
Kosong...
Dia sendirian.
Apa jadinya dia jika dulu orangtuanya tak mengadopsi dua hyung buat menemaninya?
Jimin menghembuskan nafasnya pelan, berusaha mengusir kesepian yang ada.
"Ahjumma! Jung Ahjumma!" Panggilnya sedikit keras, dan tak butuh waktu lama untuk wanita itu datang.
"Ya, tuan muda? Ada sesuatu yang kau perlukan? Katakan saja, biar aku-"
"Panggil semuanya kemari."
"Ya?!"
"Panggil semuanya. Kang ahjussi, Go ahjussi, panggil semua pelayan kemari. Sarapan bersamaku disini."
"Tapi-"
"Ahjumma, ayolah. Aku tak mau sendirian..."
"Omo! Kau sudah lihat berita tentang Min Suga?!"
"Astaga~ bukan sudah lagi, seharian kemarin aku hampir gila membaca semua artikelnya. Wah~ bagaimana bisa dia dan Kwon Mina- aigoo, ternyata couple-couple buatan fans itu ada benarnya juga. Aku jadi ikut curiga pada Dowoon dan Wheein!"
"Hm ! Tapi...Menurutmu itu rekayasa atau memang benar terjadi?"
"Hey, pamanku adalah seorang pakar telematika. Dia bilang foto ciuman itu asli! Suga benar-benar menempelkan bibirnya! Whoah~ semua foto-foto sebelum kejadian pun dirinci dengan jelas. ck, paparazzi zaman sekarang juga kenapa bisa sebegitu cekatan ya...?"
"Tapi melihat fanservice mereka setiap tampil dan juga gelagat aneh Suga di sosmed belakangan ini, kurasa itu tidak terlalu mengejutkan. Kita tinggal menunggu konfirmasi saja. Iya kan?"
"Hngg~ sebenarnya aku sedikit tak rela. Tapi setelah diperhatikan, Suga dan Mina cocok juga."
Jimin menyumpal kedua telinganya dengan earphone. Mengalihkan pandangannya pada bahu jalan, dan sesekali menghela nafasnya dalam-dalam. Menghembuskannya setenang mungkin. Sepertinya keputusan untuk berangkat naik bis pagi ini sedikit ia sesali.
.
.
.
"Uh? Jeonghan-ie!"
Jimin mempercepat laju jalannya saat mendapati Namja bersurai panjang itu ada beberapa langkah didepannya. Jeonghan hanya menoleh, lalu berhenti menunggu sang sahabat sampai.
"Oh, Jimin..." sapanya sambil tersenyum tipis. Tidak heboh seperti biasanya. Raut wajahnya juga sedikit kurang bersahabat.
"Kau datang sendiri? Tumben tidak bersama Seungc-"
"Ng~ maaf Chim, aku buru-buru. Kita mengobrol nanti saja ya. Senang melihatmu lagi. Sampai jumpa!" Lalu dia menjauh dengan tergesa-gesa, meninggalkan Jimin dalam kebingungan.
"Kenapa dia?"
.
.
.
Siang ini sedikit mendung. Jimin baru saja keluar dari kelasnya, hendak berbelok menuju toilet untuk sekedar membasuh wajah penatnya. Namun begitu melihat Seungcheol tengah menyendiri di taman tempat biasa mereka berkumpul, niat awalnya pun urung ia lakukan.
"Seungcheol!" Panggilnya, dan anak yang tengah berbaring di rerumputan itu langsung terbangun, menoleh lalu melambaikan tangan dan tersenyum lebar.
"Kau sendirian?" Tanya Jimin sambil mengambil posisi duduk disampingnya "...Jeonghan kemana?"
Tak salah kan Jimin bertanya itu? Toh biasanya Seungcheol dan Jeonghan memang selalu berdua. Apalagi sejak jadi sepasang kekasih. Tapi, kenapa raut wajah Seungcheol jadi tak enak begitu saat ditanya soal kekasihnya?
"Kau melihat Jeonghan hari ini?" Seungcheol malah balik bertanya, membuat Jimin bingung.
"Hm, iya. Tadi pagi kami datang bersama. Tapi...ada yang aneh dengan kalian berdua. Kenapa? Apa ada masalah?"
"Hn? Biasalah Jim," Seungcheol menjawab dengan gamang seraya membolak-balik ponsel di tangannya "...ada sesuatu yang membuatnya tidak nyaman. Sudah dua hari ini kami tidak berkomunikasi. Jeonghan sulit dihubungi."
Jimin nampak khawatir "Semoga kalian cepat membaik. Aneh rasanya melihat kalian berjauhan begini..."
Seungcheol tersenyum "oh iya, kau sendiri bagaimana Jimin-a? Kudengar kau sakit. Sudah baikkan?"
"Ah? mmm, sudah kok. Sudah tidak apa-apa." Jawabnya dengan senyuman juga. Namun Seungcheol malah menatap sahabatnya itu lamat-lamat. Seolah ingin bicara sesuatu, namun ragu.
"Jimin-a,"
"Hm?"
"Kau...benar, tidak apa-apa?"
Jimin tersenyum "iya. Kan sudah kubilang-"
"Soal skandal Min Suga?"
Senyumnya perlahan lenyap. Lagi-lagi skandal...
Hening antara mereka berdua. Hanya sayup-sayup suara mahasiswa lain saja yang terdengar sampai Seungcheol kembali bicara
"Kau jangan seperti Jeonghan, Jim. Awalnya berkata 'iya, tak apa-apa. aku baik-baik saja, buat apa cemburu?' Tapi pada akhirnya? Meledak juga..."
"..."
"Kau bukan malaikat, Park Jimin. kau juga manusia. Sebaik apapun dirimu, kau tetap perlu mengeluarkan emosimu seperti seharusnya. Melihatmu hanya diam begini, kadang aku kesal. Membuatku jadi ingin menghajar tunangan-"
"Choi Seungcheol,"
"..."
Jimin menghembuskan nafasnya pelan, lalu menggenggam tangan Seungcheol. "Tidak apa-apa. Okay? Kau tidak perlu ikut pusing memikirkanku. Sekarang, selesaikan saja dulu urusanmu dengan Jeonghan." Kemudian dia merogoh ponsel dari sakunya, "ini, pakai ponselku. Siapa tahu Jeonghan mau mengangkatnya." lalu melepaskan ponsel dari tangan Seungcheol dan mengganti dengan miliknya. Sekilas tak ada yang berbeda karena flipcovernya memang senada. "...Ayo hubungi dia!"
Seungcheol masih menatap Jimin sebegitu lekatnya, untuk kemudian menggerutu pelan,
"Aku baru sadar dirimu begitu keras kepala Park Jimin!" Walau pada akhirnya tetap saja menuruti saran sahabatnya itu.
.
.
.
"Hey Jeon Wonwoo, kulihat beberapa hari belakangan ini kau dekat sekali dengan Choi Seungcheol? Kalian pacaran ya?!"
"Ha?"
"Betul betul! Kemarin bahkan aku melihatmu diantar pulang olehnya malam-malam. Whoa, sudah sejauh apa Wonwoo-a?"
"E-eh, itu tidak seperti yang kalian pikirkan! Duh~"
"Cih, apaan bergosip di koridor kampus?" diam-diam Jeonghan mengumpat saat lewat dan tak sengaja mendengar obrolan beberapa mahasiswa itu. Ia pun mempercepat langkahnya hingga tak mendengar kalimat terakhir Wonwoo.
"Duh~ jangan bergosip sembarangan. Scoups hyung punya Jeonghan hyung. aku juga sudah punya Mingyu. Kemarin itu hanya latihan saja lalu kebetulan pulang bersama. Kami kan bersahabat lama, jadi jangan mengira yang aneh-aneh."
.
.
.
Ponsel Jeonghan bergetar untuk kesekian kali. Dengan terpaksa ia menghentikan langkahnya lalu melihat siapa yang meneleponnya.
Chimin-ie~
Ia hampir menjawabnya, jika saja sepasang matanya tak menangkap pemandangan di taman sana. Seungcheol dan Jimin duduk bersama. Dan yang sedang menempelkan ponsel ke telinganya, jelas-jelas Seungcheol bukan Jimin
"Tsk dia itu!"
.
.
.
"Tersambung?" Tanya Jimin dan Seungcheol mengangguk.
"Tapi tidak di angk-"
"Choi Seungcheol!"
Keduanya menoleh tatkala mendengar seruan itu. Yoon Jeonghan berjalan dengan tegesa-gesa ke arah mereka. Seungcheol pun spontan memutus sambungannya.
"Jeongh-"
"Kemari kau!" Tahu-tahu saja Jeonghan menarik tangannya dan memaksanya untuk berdiri,
PLAKKK!
"...dasar sekop sialan! Kubiarkan malah semakin menjadi-jadi! Kurang ajar !" Amuknya sambil menghujani tubuh kekasihnya dengan tamparan dan pukulan. Jimin sontak ikut berdiri dan menenangkan, namun pemilik marga Yoon itu sepertinya sudah benar-benar emosi.
"Katakan saja! Kau mau putus atau bagaimana?! Jangan menyiksaku begini!"
"H-hey! Hentikan Jeonghan-ie!" Seungcheol akhirnya buka suara dan berusaha menghentikan Jeonghan yang terus memukulnya. Ia genggam kedua pergelangan tangan kekasihnya dengan erat. "...bicara tanpa ujung pangkal begini, apa maksudnya?! Putus apa?!"
"Kau pacaran dengan Jeon Wonwoo kan? Mengaku saja lah Choi Seungcheol!" Balas Jeonghan dengan nafas terengah. Meski begitu matanya nampak berkaca-kaca.
"Astaga Yoon Jeonghan. Kau masih mempermasalahkannya? Bukankah sudah kubilang- tsk, sepertinya kau harus kuhadapkan langsung dengan Wonwoo. Sini ikut aku!"
"Tidak mau."
Seungcheol bersikeras menarik Jeonghan agar mengikutinya. Ia takkan membiarkan masalah ini berlarut-larut.
"Jangan keras kepala! Kau tidak mau tersiksa kan? Makanya ikut aku!"
"Choi Seungcheol! Aku tidak mau!"
Sedikit terseret, kedua sejoli itu pergi. Meninggalkan Jimin seorang diri. Diam-diam ia merenungkan sesuatu.
Jika itu dirinya dan Suga, apakah dia akan mengamuk seperti Jeonghan? Sanggupkah dia menantang untuk putus? Dan...akankah Suga bersikap seperti Seungcheol?
"Ah! apa yang kupikirkan...?" Jimin pun memilih pergi.
Baik Seungcheol maupun Jimin, tak ada yang sadar jika ponsel mereka telah tertukar.
Awalnya Jimin hanya akan berjalan kaki sampai halte saja, namun begitu ingat kejadian di bis tadi pagi, ia mengurungkan niatnya. Lagipula siang ini matahari bersinar tak begitu terik. Jadilah ia terus melangkahkan kaki di trotoar entah sampai mana. Mungkin nanti jika sudah lelah ia akan naik taksi atau menelepon Kang Ahjussi.
Saat melewati salah satu toko pakaian anak, matanya tak sengaja melirik sebuah jersey bola yang dipajang didepan dengan diskon 30%. Langkahnya terhenti. Setelah diamati, sepertinya jersey itu akan cocok sekali dikenakan oleh Dongyeol. Seulas senyum tercipta dari bibirnya
"Aku kan belum sempat memberikan kado ulang tahun waktu itu?"
.
.
.
"Huh? Ini- yaampun ponselnya tertukar!" Jimin baru menyadari itu tatkala keluar dari toko dan hendak mengecek jam. Sempat terpikir olehnya untuk kembali ke kampus. Namun ragu menghadang.
Pertama, ia tak yakin Seungcheol dan Jeonghan masih ada disana.
Kedua, kalaupun ada ia tak mau menganggu mereka.
Siapa tahu masalah keduanya (dengan Wonwoo) belum selesai. Apalagi saat Jimin mencoba menghubungi nomornya dan tak tersambung sama sekali.
"Tsk, yasudahlah."
Akhirnya ia memilih untuk segera memberhentikan taksi dan berangkat menuju stasiun agar tak kesorean sampai di Busan nanti.
"Semoga saja di KTX nanti aku tak mendengar apapun soal skandal Min Suga seperti di bis tadi." Harapnya dalam hati.
.
.
.
Jimin sampai di Busan sekitar jam tiga sore. Untunglah, apa yang ia khawatirkan tidak terjadi di KTX tadi.
Dia segera bertolak ke panti asuhan, tak sabar ingin memberikan hadiah ini pada Dongyeol. Anak itu pasti senang. Apalagi selain jersey bola, Jimin juga membelikannya lengkap dengan sepatu olahraga.
Benar saja, saat dia muncul di depan gerbang, beberapa anak langsung antusias memanggilnya.
"Whoaaa~ ChimChim hyung!"
Jimin melambaikan tangannya, dan anak-anak itu segera berlari. Kebetulan Lee Dongyeol yang paling depan dan membukakan gerbang yang sebenarnya tidak dikunci. Seperti biasa, mereka langsung memeluknya tanpa basa-basi. Seolah sudah berbulan-bulan tak bertemu namja bermarga Park ini.
"Ayo duduk disana hyung!" Mereka pun ramai-ramai menuntun Jimin menuju kursi kayu yang terdapat dihalaman panti ini.
"Chimchim hyung datang sendiri? Kemana ahjuss- ah, maksudku hyung yang tinggi itu?"
"Iya-iya! Yang pandai bermain piano~ pangeran masa kecilnya Oppa. Mana dia?"
Rangkaian pertanyaan yang diajukan anak-anak itu tak ayal membuat Jimin sedikit murung. Belum sempat ia menjawab, Dongyeol yang sepertinya paham raut wajah tak nyaman dari hyungnya itu pun langsung merubah topik.
"Eeeeh~~ Chimchim hyung bawa apa?"
Jimin akhirnya tersenyum, meski sedikit merasa tak enak juga karena hanya membawa hadiah untuk Dongyeol saja.
"Ini...kado yang hyung janjikan buat Dongyeol. Maaf terlamb-"
"YEEEY!" Dongyeol sontak bersorak heboh, membuat yang lain terkejut. Namun tak disangka anak-anak itu ikut senang, malah membuka kado itu bersama-sama tanpa kelihatan iri sama sekali. "Whooaaaah daebak! Ini jersey team bola favoritku! Sepatunya juga kereeeen~ Chimchim hyung memang yang paling daebak!" Dongyeol tak sungkan mencium kedua pipi hyungnya itu "..terimakasih ya hyung!"
"Sama-sama. Syukurlah kalau kau suka..." ujar Jimin turut senang.
"Hm! aku akan menunjukkannya pada Omoni!" Seru Dongyeol kemudian "Ayo Hwanhee-a, Seungkwan-a!" mereka semua pun serentak berlarian kedalam rumah. Menyisakan Jimin dan dua orang anak perempuan disana.
"Chimchim oppa itu baik sekali sih. Aku suka." Pujinya, dan Jimin hanya tersenyum.
"Wah! Tamu hari ini lengkap ya. Ada Hoseok oppa, Seokjin oppa, dan sekarang Jimin oppa~"
"Ha iya benar! Tumben sekali ya~"
Senyum Jimin redup perlahan "ada siapa saja...kalian bilang?"
Barulah ia sadar dengan keberadaan mobil di halaman panti ini.
Milik Hoseok.
.
.
.
"Oh, tuan muda datang." Ibu Heo menyambut dengan hangat saat Jimin masuk, "..terimakasih ya sudah repot-repot membelikan kado untuk Dongyeol. Dia sangat senang." lanjutnya kemudian.
Jimin sendiri hanya menggangguk dan berujar agar tak perlu sungkan.
"Oh iya, bibi..."
"Ya, tuan muda?"
Mengulum bibirnya sejenak, untuk kemudian bertanya "Benarkah hyungku ada disini?"
Ibu Heo sebenarnya sedikit tersentak, namun dengan pandainya menyembunyikan itu. Dengan senyum tipis ia menjawab "Benar, tuan muda."
"Sejak kapan? Apa selama ini dia memang disini?"
Tanpa bertanya lagi pun ibu Heo tahu, bahwa 'dia' yang dimaksud adalah Hoseok. Dan tanpa Jimin tanya pun, dia tahu ibu Heo membenarkan tebakannya jika memang, selama ini Hoseok ada disini.
"Kenapa bibi tidak bilang? padahal Seokjin hyung berusaha keras mencarinya. Semua orang juga mengkhawatirkan dia."
"Maaf. maafkan aku."
Jimin menggelengkan kepalanya. "Tidak perlu minta maaf, Bi. Aku malah berterimakasih padamu. Terimakasih sudah menjaga hyungku ya."
Ibu Heo hanya menatap Jimin dengan perasaan bersalah. Meski begitu ia tetap tersenyum. "sudah tugasku, tuan muda."
Jimin balas tersenyum "Dimana mereka sekarang? Bolehkah aku menemuinya?"
"Pulanglah, Hoseok."
"Sudah kukatakan , aku tak mau. Jangan memaksaku terus Seokjin!"
"Jangan keras kepala, Jung Hoseok! Kau bertindak sesukamu tanpa mau berkata dengan jelas apa masalahnya. kekanak-kanakan! Menyusahkan orang lain! Kau pikir masalahmu akan selesai kalau terus begini?! Hah?"
Sungguh, Seokjin sudah berusaha mengajak dan membujuk Hoseok pulang dengan baik-baik. Namun anak itu entah kenapa begitu sulit diajak bicara halus hingga membuat Seokjin lama-lama jengah juga.
"Menurutlah selagi aku masih bicara baik-baik, Hoseok-a. Pulanglah. Masih banyak tanggung jawabmu disana. Diam disini hanya akan membuatmu semakin buruk dimata keluarga Park!"
"Siapa yang perduli?!" Hoseok berseru sedikit keras "siapa yang perduli...?"
"Jung Hoseok,"
"Mau bersikap sebaik apapun, atau bekerja sekeras apapun, pada akhirnya aku tidak akan dapat apa-apa. Kau juga sama! Jadi untuk apa kita terus ada disana? Percayalah Seokjin-a, lebih baik kita keluar saja dan memulai hidup yang baru."
Seokjin mengerutkan dahi, "apa maksud perkataanmu?"
"Semua yang sudah kita perjuangkan. Perusahaan, jabatan, semuanya, pada akhirnya akan jatuh ke tangan anak itu. Kau dan aku dapat apa? Tidak sepeserpun. Hanya lelah saja. Dan aku tidak mau dibodohi lagi. Sudah kukatakan sejak semalam kan? Aku-tidak-akan-masuk-kedalam-tempat-penyiksaan-buat-kedua-kalinya. Jika kau tetap bersikeras, silahkan. kembalilah sendiri. Jangan mengajakku lagi. " ujar Hoseok panjang lebar.
Seokjin yang berdiri dihadapannya hanya menatap dia dengan tak percaya. Jadi masalahnya adalah...
"Perusahaan dan jabatan?" Bisiknya, "perusahaan dan jabatan katamu? Apa itu yang selama ini kau kecewakan? Apa itu Jung Hoseok?!"
Hoseok memalingkan wajahnya. Menghindari kontak dengan mata.
"A-astaga. Aku tak mengira sebegitu sempit pikiranmu. Bersikap kekanakan begini hanya karena itu? Kau pikir siapa kita ini?"
"..."
"Tanpa keluarga itu, mungkinkah kita hidup dan tinggal di tempat yang enak? Mampukah kita mendapatkan pendidikan yang layak? Bisakah kau dan aku menduduki jabatan setinggi ini dan dihormati orang banyak?!"
"..."
"Dulu hanya sekedar membayangkan pun aku tak berani. Diberi kesempatan sebanyak ini aku selalu merasa seperti mimpi. Demi Tuhan, tak pernah sedikitpun terlintas di pikiranku untuk mendapatkan balasan yang lebih dari ini. Mengejutkan bagiku saat tahu apa yang kau permasalahkan Hoseok-a. jika keluarga Park sampai mendengarnya, apa yang harus kukatakan?"
Lagi-lagi Hoseok tak mengeluarkan balasan, hingga yang terjadi adalah keheningan.
"Tarik kembali ucapanmu." Seokjin kembali bersuara dengan nada yang lebih tenang "..aku akan bersikap seolah itu tak pernah keluar dari mulutmu. Tapi tarik kembali ucapanmu, dan ikut pulang denganku. Jalankan tugasmu seperti sediakala. Masih ada Park Jimin yang-"
"Tidak mau." Barulah Hoseok menatap Seokjin kembali. "Tidak akan kutarik kembali. Aku takkan kembali ke keluarga itu. Muak rasanya harus melihat Park Jimin didepan mataku-"
"Jaga ucapanmu Jung Hoseok!"
"Aku membenci Park Jimin. Dia membuatku kehilangan ayah dan ibu. Dia merebut hasil kerja kerasku. Dia juga-"
"DEMI TUHAN JUNG HOSEOK! Bagaimana bisa hanya karena harta kau jadi begini pada adikmu sendiri-"
"TAPI DIA JUGA MEREBUT KEKASIHKU!"
DEG !
Semenjak bertengkar dengan Seungcheol, Jeonghan jadi kehilangan semangat menjadi fanboy untuk sementara. Dia jadi tak up to date lagi tentang idola-idolanya. Terutama ROCKMANTIC. Jeonghan bahkan baru tahu ada skandal antara Min Suga dan Kwon Mina. Dia benar-benar buta informasi, termasuk hadirnya ROCKMANTIC sebagai brand ambassador sebuah produk di mall ini.
Begini.
Tadi Seungcheol mengajaknya bicara langsung dengan Wonwoo bahkan melibatkan Mingyu lewat telepon. Untunglah masalah bisa diluruskan walau Jeonghan tetap merasa gengsi dan pura-pura sulit memaafkan. Jadilah dia pergi begitu saja tanpa berkata apa-apa. Dan entah mengapa sasaran nya adalah Mall ini. Hanya berjalan-jalan saja dilantai bawah tanpa berniat beli apapun. Yah kecuali bubble tea mungkin. Jeonghan bahkan tengah asik menyedot bubble teanya di dekat pintu keluar masuk. Hitung-hitung istirahat.
Sebenarnya ia berharap Seungcheol mencarinya, atau paling tidak menelepon dan bertanya dimana dirinya berada. Tapi kekasihnya itu tak bertindak sesuai harapan sama sekali. Jeonghan jadi menggerutu sendiri.
"Aish! Harusnya kau meneleponku, tanyakan 'Jeonghoney kau dimana? Ayo kuantar pulang~'. Cih, giliran mengantar Wonwoo saja kau rajin!"
Satu tangannya yang tak sibuk memegang cup bubble tea, ia gunakan untuk merogoh ponsel di saku jeansnya.
"Dasar Sekop tidak peka!" Masih dengan menggerutu, ia coba menghubungi kekasihnya.
Satu kali, dua kali, tak ada jawaban.
"Astaga~ apa dia sedang menyulut emosiku lagi?! Choi Seungcheol itu benar-benar- ah! Akhirnya kau mengangkatnya juga !" Seru Jeonghan pada akhirnya. Tanpa menunggu lawan bicaranya membalas, dia langsung membombardir dengan omelan "Yah Sekop! Dasar pacar tidak peka, kau itu harusnya- tunggu..." namun omelannya mendadak terhenti manakala sepasang matanya menangkap keramaian yang perlahan mendekati tempatnya berdiri kini.
Puluhan reporter dan camera-man berbondong-bondong menghadang langkah seseorang- tidak. Itu...
"Omg! ROCKMANTIC?!" Jeongha bergumam saat yakin yang tengah jadi pusat perhatian itu adalah idolanya. "Seungcheol-a, kau mendengarku? ada ROCKMANTIC! Didepan mataku! Astaga, mereka mendekat- tidak! Sekarang malah berhenti beberapa langkah dariku! Ya Tuhan kenapa ramai sekali disini?"
Muncul didepan publik untuk pertama kali setelah skandal mencuat, membuat kehadiran ROCKMANTIC di pusat perbelanjaan ini menjadi sasaran empuk para pemburu berita. Mereka menyerbu Suga dan tiga rekannya serta beberapa staff, lalu berlomba-lomba menanyakan hal yang belakangan sukses membuat publik penasaran.
"Suga! Bagaimana kau akan mengklarifikasi soal skandal foto itu?"
"Benarkah kalian berpacaran? Kwon Mina, katakan sesuatu!"
Suara reporter terus bersahutan dengan ributnya. Banyak bodyguard dan staff keamanan mall pun tak mampu meredam ini semua, sampai akhirnya Suga sendiri yang angkat bicara dengan suara beratnya.
"Kalian tenang dulu, baru aku akan menjawab semuanya..."
Ampuh. Keributan lenyap seketika.
"...Tentang foto itu, ya, Itu benar aku dan Kwon Mina. Bukan editan sama sekali. Karena iya, kami melakukannya. Maaf telah membuat kalian terkejut."
Reporter sudah siap melayangkan pertanyaan lagi sebelum Suga kembali mengeluarkan suaranya "Tolong jangan memotong. Aku akan mengklarifikasi sejelas-jelasnya."
Hening lagi.
Jeonghan mematung ditempatnya. Ponsel pun masih menempel didaun telinga. Tentu saja ia ikut berdebar menunggu kalimat Suga selanjutnya.
"Aku tidak akan mengulang perkataanku. Jadi mohon simak baik-baik. Tentang hubunganku dengan Kwon Mina..." Suga nampak menelan ludahnya dengan sulit. Wheein dan Dowoon berdiri disamping kanannya, serta Mina disamping kiri. Ketiganya pun nampak penasaran akan jawaban dari semua tingkah aneh leadernya belakangan ini.
Setelah hening beberapa detik, Suga kembali menegakkan tubuh dan menghembuskan kegugupannya. Kemudian dengan lantang berbicara,
"...kami berstatus lebih dari sekedar leader dan anggota. Aku, Min Suga, berpacaran dengan Kwon Mina sejak beberapa minggu yang lalu..."
Mina tak dapat menyembunyikan rasa terkejutnya. Genggaman erat Suga pada tangannya menambah bingung perasaannya. Wheein dan Dowoon pun sama tercengangnya. Mereka melirik sang leader dengan raut tak percaya.
Yoon Jeonghan?
"A-Astaga...Astaga Choi Seungcheol. Kau dengar itu...?"
"A-apa maksudmu? Katakan sekali lagi Jung Hoseok, APA MAKSUD UCAPANMU?!"
"Park Jimin sudah merebut kekasihku. Dia bertunangan dengan lelaki milik orang lain. Dan lelaki itu milikku."
"Omong kosong..."
"...Min Yoongi masih berstatus kekasihku saat kakek Park dengan seenaknya menjodohkan mereka. Melihat Jimin bermesraan dengan kekasihku sepanjang waktu, TEPAT didepan mataku...bukankah wajar kalau aku membencinya?"
"..."
.
.
.
BRUKKK!
Ponsel ber-flipcover biru itu terjatuh begitu saja dari genggamannya. Satu kakinya terseok mundur tanpa ia sadari. Tubuhnya hampir saja rubuh jika ia tak segera menopangkan tangannya pada dinding bagian luar kamar ini. Sorot matanya kosong, tanpa jelas apa objek pandangnya. Bahkan untuk beberapa detik, ia sempat menahan pasokan udara.
Sungguh.
Bolehkah ia bertanya?
Pribahasa apa yang lebih mengenaskan dari...
'Sudah jatuh tertimpa tangga' ?
