Mengapa semua terjadi,
disaat kau mulai menyadari semua kesalahanmu padaku?
Tapi ku tak sanggup lagi...
(Rossa-Tak Sanggup Lagi)
. . .
"Beberapa hari kedepan jadwal kalian akan sangat padat. Tidak ada waktu berleha-leha karena konser dan peluncuran album semakin dekat. Jadi dengan sangat terpaksa, waktu istirahat kalian akan berkurang. Suga, Dowoon, untuk sementara tinggallah di dorm. Oh ya, ada pesan dari Lee Jaehwan Sajangnim. Agar semua kegiatan berjalan maksimal, ponsel dan segala jenis gadget yang kalian milikki, akan ku sita sampai waktu yang di tentukan. Apakah sudah jelas?"
Namjoon menjelaskan dengan rinci, dan keempat member ROCKMANTIC didepannya hanya bisa mengangguk patuh. Namjoon tahu mereka kesal karena disuruh berkumpul lebih pagi dari biasanya -serius ini bahkan belum jam enam- dan parahnya barang-barang elektronik mereka harus disita sementara waktu. Tapi mau bagaimana lagi? Ini tuntutan atasan. Satu persatu dari mereka maju dan (dengan terpaksa) menyerahkan segala macam gadget yang mereka punya. Suga jadi orang terakhir yang mendekatinya. Sang leader itu menyerahkan I-padnya tanpa ragu, namun untuk smartphone, ia tampak sangat keberatan. Lalu bertanya pelan pada managernya itu.
"Apakah...beritanya jadi di rilis hari ini?"
Namjoon mengangguk "hm, mungkin sekitar jam delapan nanti." Jawabnya. Tiga member lain nampak sibuk dengan barang masing-masing.
Mendengar jawaban Namjoon, membuat keraguan Suga untuk menyerahkan ponselnya bertambah besar. Bagaimana jika Jimin tahu berita itu lalu menghubungi dirinya buat meminta penjelasan?
"Tak bisakah ponsel ini tetap denganku? Takkan menganggu latihan. Aku janji..." pintanya sungguh-sungguh, namun managernya tetap dengan aturannya. Ia menggelengkan kepala.
"Maaf Yoongi-a."
.
.
.
Kegiatan yang benar-benar padat nyaris tanpa waktu istirahat, lengkap dengan menghilangnya gadget dari genggaman membuat keempat anggota ROCKMANTIC ini seolah terisolasi. Mereka hanya berkutat dengan alat musik, rekaman, pemotretan, latihan, latihan, latihan, dan latihan. Tanpa tahu perkembangan berita, pun tak dapat berinteraksi dengan penggemar di sosial media.
Hari ini, untuk pertama kalinya ROCKMANTIC kembali menjalani kegiatan selain latihan. Yakni menghadiri sebuah event di salah satu mall. Namun mereka dibuat terkejut dengan membludaknya reporter yang lebih banyak dari biasanya. Walau keempatnya terbiasa dengan kehadiran paparazzi, tapi jika sebanyak ini menakutkan juga. Jumlah bodyguard yang mengawal pun menjadi ekstra. Ini mengingatkan mereka pada situasi saat rumor pertunangan sang leader mencuat.
Ah...bicara tentang leader, pria bermarga Min ini tentu paling tahu apa yang terjadi dibanding tiga rekannya. Suga tahu apa yang harus ia katakan, Sebab pagi tadi, Namjoon sudah memintanya untuk mengaku didepan wartawan jika dia dan Kwon Mina 'berpacaran'. Seperti biasa, ini perintah Lee Jaehwan.
Sayangnya, Suga pikir Mina juga sama tahu sepertinya. Jadi, tanpa ragu ia menggenggam tangan sang bassist lalu mulai memberikan keterangan palsu nya didepan sorot kamera.
"...kami berstatus lebih dari sekedar leader dan anggota. Aku, Min Suga, berpacaran dengan Kwon Mina sejak beberapa minggu yang lalu..."
Tanpa tahu semua member menatap bingung padanya, atau Yoon Jeonghan yang masih mematung dengan ponselnya bahkan hingga keramaian itu berlalu.
. . .
"A-astaga, Astaga Choi Seungcheol. kau dengar itu...?"
Namun tak ada sahutan.
Jeonghan pun mengernyitkan dahi. Lalu melihat layar ponselnya sekilas.
"Masih tersambung." gumamnya "Seungcheol? Halooo? Sekop, kau masih disana? Yah jawab aku Choi Seung...cheol?" Panggilannya tersendat tatkala melihat sosok Seungcheol tengah berlari ke arahnya,
"Yoon Jeonghan!"
...tanpa membawa ponsel.
Tanpa-membawa-ponsel.
Jeonghan lihat lagi layar ponselnya, lalu Seungcheol yang kini ada dihadapannya.
"Jeonghoney, kau baik-baik saja? Huh? Tidak tertubruk reporter kan?"
"S-Seungcheol,"
"Huh?"
"B-bukankah...kita sedang bertelepon?"
"Telepon?"
"Iya! ini, lihat! Aku sedang berbicara denganmu! Ini nomor teleponmu kan?!"
"Oh~ ponselku tertukar dengan milik Jimin. Jadi-"
Tunggu.
Tunggu dulu.
"..."
"..."
Keduanya tersentak. Lalu saling menatap dengan horor.
"Astaga! Matikan sambungannya Yoon Jeonghan!" Seungcheol dengan cepat merebut ponsel Jeonghan dan mematikan sambungannya. Kekasihnya itu hanya diam, dengan tubuh gemetar. Bibirnya menggumamkan sebuah nama dengan penuh kekhawatiran.
"J-Jimini..."
Kim Seokjin membeku di tempatnya.
Akhirnya. Akhirnya Hoseok mengaku juga. Sesuatu yang selama ini membuat Seokjin curiga. Ya, tentang hubungannya dengan Min Yoongi. Mestinya Seokjin sudah bisa menduga, tapi kenapa rasanya tetap sulit dia terima?
BRUKKK!
Suara benda jatuh didekat pintu yang sedikit terbuka, membuatnya sontak menolehkan kepala. Apa ada orang lain yang mendengar pertengkaran dirinya dengan Hos-
"Tuan muda Jimin...? Kau tidak apa-apa?"
DEG !
"J-Jimin...?" Tanpa sadar Seokjin berbisik ditengah rasa terkejutnya.
Jimin ada disana? sejak kapan? Apa anak itu mendengarkan semuanya? Apakah dia-
Belum juga terjawab segala pertanyaan dalam diri Seokjin, tanpa diduga, dengan dinginnya Hoseok berkata ;
"Aku tahu kau disana Park Jimin"
...membuat Seokjin melebarkan mata.
"...kemarilah, sudah saatnya kau tahu semuanya." Lanjutnya, dan Seokjin spontan menggelengkan kepala.
"Hoseok," bisiknya, memohon. Namun Hoseok hanya menatapnya dengan datar. Tanpa perduli.
Beberapa detik berikutnya, pintu terbuka lebih lebar, menampakan sosok Jimin disana. Menggenggam ponsel dengan tangan gemetar. Dia menjatuhkan pandangan pada lantai, tak berani (atau tak mau?) menatap kedua hyungnya sedikitpun. Wajahnya pucat pasi, bibirnya ia gigit sesekali.
Sepasang bahu Seokjin turun dengan lemasnya.
Jimin mendengar. Anak itu mendengar semuanya...
Dan hal itu membuat Seokjin menyiratkan rasa khawatir yang amat dalam, kontras dengan Hoseok yang tak menampakkan ekspresi sama sekali.
Jimin melangkah maju, dan berhenti beberapa langkah dari dua hyungnya yang tengah berhadapan. Ibu Heo nampak diambang pintu, hendak mengutarakan sesuatu sebelum Hoseok menyela terlebih dulu.
"Kau mendengar?" tanyanya dengan intonasi datar "...kau mendengar semuanya, Park Jimin?"
"..." Jimin tak menjawab.
Jari-jarinya bertaut diantara ponsel yang digenggamnya. Pandangannya tetap ia arahkan pada lantai dibawah sana. Dia masih terkejut. pasti sangat terkejut, Seokjin tahu itu. Maka ia coba bicara pelan-pelan ditengah keringnya tenggorokan.
"Ekhm- J-Jimini, kami bisa jelaskan-"
"Biar ku jelaskan." Lagi-lagi Hoseok menyela. Kali ini ia hadapkan tubuhnya pada sang adik "...kau ingin mendengar lebih jelas tentang pengakuanku barusan kan? tentang hubunganku dengan...Min Yoongi?"
"Hoseok!" Seokjin panik sendiri.
Jelas, kemarin dia mendengar dengan telinganya sendiri saat Jimin berkata ;
'Kecuali jika dia terlibat sesuatu diluar keartisannya, menjalin hubungan dengan orang lain dibelakangku menggunakan nama Min Yoongi...barulah aku akan kecewa.'
Dan Seokjin tahu itu tak main-main. Lalu sekarang Hoseok malah dengan santai mengungkap semuanya. Didepan Jimin. Meski Jimin tetap pada posisinya tanpa menunjukkan emosi sama sekali. Hoseok sendiri tampak tak ambil pusing dengan kepanikan Seokjin. Dia tetap melanjutkan apa yang ingin ia ungkapkan.
"Bagaimana rasanya bertunangan dengan Min Yoongi? Bahagia? Menyenangkan? Astaga! kenapa aku mesti bertanya? Sudah jelas-jelas iya. Sebab kau dipeluknya, diciumnya, dibisikki kalimat-kalimat romantis setiap hari, mengumbar kemesraan dimana-mana seolah dunia hanya punya kalian saja. Apa lagi?" Dia bicara dengan nada menyenangkan yang nampak dibuat-buat "...oh! Atau kau juga sudah tidur dengannya?"
"JUNG HOSEOK!"
Lagi-lagi yang terdengar hanyalah jeritan Seokjin, bukan jawaban dari Jimin. Tak urung membuat Hoseok muak. Ia menoleh pada Seokjin dan menatapnya tajam "Bisakah kau diam?!" desisnya.
Lalu kembali memandang Jimin dengan ekspresi datar "...kenapa tak menjawab? Begitu bahagianya kah sampai susah diungkapkan dengan kata-kata?"
Jimin tetap diam.
"...sayangnya kau bahagia diatas derita orang lain, dongsaeng-a." Hoseok tiba-tiba melirih sedih "...Kau bahagia dengan kekasih orang lain. AKU. Hyungmu sendiri." Dan tiba-tiba pula mendesis tajam diakhir kalimat.
"Hoseok, sudah hentikan! Jimin, jangan dengarkan-"
"Min Yoongi itu kekasihku. Saat kakekmu dengan seenaknya menjodohkan kalian, dia masih berstatus kekasihku. Sampai setahun lebih hubungan kalian pun dia masih kekasihku kalau kau mau tahu."
Ibu Heo membelalakkan mata dengan pernyataan Hoseok. tapi lagi-lagi Jimin sendiri tak menampakkan ekspresi apa-apa, atau justru terlalu sulit dibaca. Dia benar-benar diam tak bergerak sama sekali. Yang terdengar hanyalah hembusan nafasnya yang sedikit demi sedikit makin memburu. Atau genggaman pada ponsel yang semakin erat. Tapi Hoseok tak mau perduli.
"Jauh sebelum pertunangan sialan itu terjadi, Yoongi lebih dulu mengenalku. Dia lebih dulu dekat denganku. Mengikuti kemanapun aku pergi, menenangkanku saat aku merindukan rumah. Kami bahkan hampir debut bersama dalam satu grup. Iya, dia Min Yoongi kekasihku, sebelum kau tiba-tiba datang merebutnya."
Kali ini Jimin menutup matanya erat-erat. Mengatupkan bibir rapat-rapat. Menahan airmata yang siap jatuh, menahan isakkan yang bisa lolos kapan saja. Ponsel Seungcheol digenggamnya kuat-kuat, takkan ia jatuhkan untuk kedua kali hanya karena seluruh tubuhnya gemetar sekarang.
"Dia tidak pernah mengakhiri hubungan kami sekalipun menerima pertunangan itu. Bermesraan denganmu setiap waktu, dan menyembunyikan statusnya denganku. Kau tahu apa sebabnya?"
"Hoseok, tolong hentikan-" Seokjin melirih,
"...dia sedang menyiksaku. Kesalahpahaman terjadi, dan Min Yoongi sedang membalas dendam padaku lewat dirimu. Jadi ketahuilah, dia bisa saja berbohong saat mengatakan cinta padamu. Disamping demi perusahaan keluarganya, Min Yoongi berada disisimu hanya demi membuatku cemburu. Kau hanya alat, Park Jimin!"
"Jung Hoseok, please, please! sudah, tolong berhenti!"
...namun Hoseok tetap tak menggubris.
"...saat kau mengira Min Yoongi benar-benar mencintaimu hanya karena kemesraan yang dia beri, kau harus berpikir dua kali. Nyatanya, dia juga pernah melakukan hal yang sama padaku. Lebih lama dibanding denganmu, bisa jadi lebih tulus dibanding padamu. Kau diciumnya? Aku pernah. Berkali-kali. Kau dipeluknya? Aku juga pernah. Sampai tak bisa kuhitung lagi. Atau jika kau mau tahu, kami bahkan pernah tidur bers-"
BRUKKK!
"ASTAGA JUNG HOSEOK! DEMI TUHAN HENTIKAN! HENTIKAN!"
Ucapan Hoseok seketika terhenti. Bukan, bukan karena ambruknya Seokjin beserta jeritan putus asanya. Tapi karena Jimin yang tiba-tiba menyudahi tunduknya, dan kini menatapnya dengan sorot mata yang...
...apa kata yang cocok untuk mendeskripsikannya?
Tak ada airmata sama sekali, tanpa emosi, namun menyimpan luka tersembunyi. Itu bukan tatapan mengintimidasi, tapi cukup membuat Hoseok bungkam tanpa mampu bersuara lagi.
"...kenapa berhenti?" Itu kalimat yang pertama kali Jimin keluarkan. "...lanjutkan ucapanmu. katakan semua yang mau kau katakan. Kalian pernah apa? Tidur bersama?!"
Dilantai sana Seokjin menghembuskan nafasnya lelah, menyerah. Dia menutup wajah dengan kedua telapak tangannya. Tak berani menatap dua adiknya lagi. Jika nada bicara Jimin sudah sedatar itu, artinya dia benar-benar marah. Oh pasti. Dan baginya, kemarahan Park Jimin akan lebih mengerikan meski tak se-berapi-api Hoseok. Terbukti, hawa diruangan ini mendadak lebih tegang dan suram dari sebelumnya.
Hening.
Detak jam dinding mendominasi selama hampir lima menit.
Baik Hoseok, Jimin, Seokjin, bahkan ibu Heo tak ada yang beranjak dari posisinya sedikitpun.
"Selama ini aku bertanya-tanya..." Jimin akhirnya memecahkan keheningan "...kenapa sikapmu berubah dingin padaku? Kesalahan apa yang sudah kubuat sampai kau tak mau bicara lagi denganku?" Dia bertanya dengan pandangan lurus kearah Hoseok saja "...Ada apa? Apa kehilangan ayah sebegitu menyakitkan bagimu? Aku juga tak menginginkan kecelakaan itu terjadi. Jika bisa ku tukar, biar aku saja yang mati. Atau setidaknya sejak koma itu aku tak perlu bangun lagi..."
...karena bangun dari koma pun banyak kenyataan pahit yang harus ku hadapi.
Lanjut Jimin dalam hati.
"...Aku menunggumu. Menunggu hyung yang biasanya selalu ada disampingku. Menunggu hyung bicara padaku. Setidaknya katakan apa kesalahanku, biar aku memperbaikinya jika mampu. Tapi jangankan bicara, kau kupanggil hyung pun sudah tidak mau."
Hoseok membuka mulutnya, namun tak satupun kata keluar. Tersendat di tenggorokan, tertahan diujung lidah. Dan ia tak mengerti kenapa bisa seperti ini? Kenapa tatapan dan nada bicara Jimin seolah menguncinya begini?
"...dan hari ini akhirnya aku tahu. Jawaban dari semua sikap dinginmu."
Kali ini Jimin melepaskan tatapannya dari Hoseok. Berpindah pada ponsel yang masih digenggamnya. Hal itu mengingatkannya kembali pada 'percakapan' dengan Jeonghan beberapa saat yang lalu.
"...tunanganku?" Bisiknya, namun masih mampu terdengar ketiga orang lainnya."...dia kekasihmu?"
Walau itu kalimat bernada pertanyaan, tapi tak ada seorangpun yang angkat bicara buat menjawab. Lambat laun isak tangis terdengar. Dari Kim Seokjin. Dibalik telapak tangannya dia bergumam sesuatu seperti "Berhenti...kalian berdua tolong hentikan..."
Jimin melirik hyung tertuanya itu sejenak sebelum tiba-tiba sebuah senyum tercipta dari bibirnya. Bukan senyum manis hingga menimbulkan garis cantik dimatanya seperti biasa. Itu sebuah senyum tanda...terluka.
"Aku mengerti," katanya, lalu menatap Hoseok kembali. Mengangguk setuju, entah apa maksudnya. Dia hanya kembali berkata "...akan ku hentikan." membuat Hoseok mengernyitkan dahi dan Seokjin membuka telapak tangannya lagi.
"J-Jimin-ie?"
"Akan ku hentikan." ulangnya, lalu membalikkan tubuh hendak pergi darisana sebelum Seokjin memekik menyuruhnya berhenti.
Jimin menurut. Dia urung melangkahkan kaki. Namun tanpa membalikkan tubuhnya lagi. Kini ia menghadap Ibu Heo yang masih berdiri diambang pintu. Menatapnya dengan cemas.
"A-pa maksudmu? K-kau mau kemana?" Dibelakangnya, Seokjin bertanya. sedangkan Hoseok sama sekali tak bersuara.
Jimin tak segera menjawab. Ia memejamkan mata, menarik nafas sedalam-dalamnya sebelum mengeluarkan kata demi kata-
"Menghidupkan ayah dan ibu, maaf aku tidak mampu. Jadi jika ini satu-satunya cara agar kau tak lagi membenciku, baik. Aku pasti melakukannya. Aku akan menghentikannya. Tenang saja, kau akan mendapatkan kembali apa yang seharusnya menjadi milikmu...Hoseok hyung.
Ah...satu lagi. Soal harta warisan, perusahaan, jabatan, atau apapun itu yang selama ini kau kendalikan, ambil saja. Ambil semuanya. Tak perlu khawatir kurebut, karena aku bahkan tidak yakin umurku akan sampai pada besok pagi..."
-yang berhasil membuat ketiga orang yang lebih tua darinya tertegun dan tak mampu mencegah kepergiannya.
Jungkook duduk sendiri dihalaman rumahnya. Hari sudah nyaris gelap, tapi Junghyun belum pulang bekerja. Jadi anak itu diam disana menunggu. Berkali-kali ia menoleh pada pagar rumah berwarna jingga itu, berharap hyungnya segera muncul. Namun nihil.
Jungkook tahu Junghyun bekerja sangat keras guna menutupi hutang pada perusahaan yang dipinjam untuk biaya operasi kemarin. Mengingat itu, membuat wajah Jungkook merengut sedih. Ia juga jadi teringat kembali dengan kata-kata Jimin saat dirumah sakit malam itu.
'Kelak, kau harus sembuh dan membanggakan hyungmu. Kau harus tahu betapa beruntungnya punya saudara kandung yang menyayangimu. Jangan mengecewakannya, mengerti?'
"Hm. Aku mengerti..." tanpa sadar Jungkook mengangguk dan bergumam sendiri.
Ah~ Ia jadi merindukan hyungnya yang satu itu.
Apa kabar dia? Dan...bagaimana kelanjutan skandal tunangannya yang bodoh itu?
Oh maaf. Jungkook sudah terlanjur men-cap Suga sebagai sosok yang bodoh sejak pertama kali mendengar tentangnya dari Sandara Noona. Ya, sebab Sandara lah yang menceritakan segala sesuatu perihal Jimin padanya. Saat itu, beberapa jam sebelum kedatangan Jimin ke Rumah Sakit di hari kepulangannya.
. . .
"Kau menyukai adik sepupuku ya?" Tanya Dara pagi itu.
Jungkook hampir saja tersedak air putih yang tengah diminumnya lewat sedotan.
"Huh? A-apa nuna bilang?"
Ah...reaksinya membuat dugaan Dara makin kuat.
"Kau menyukai Jimin. Aku bisa melihat itu."
"Dara nuna sok tahu! Mana mungkin aku menyukai-"
"Aku pernah membaca dari salah satu novel. Katanya, 'satu penyangkalan kuat, adalah sebuah pembenaran yang nyata.' Dan gelagatmu itu sudah sangat terbaca, Jeon Jungkook !" Dara menekankan nama Jungkook hingga anak itu gelagapan sendiri. Dara pun tertawa pelan dan menyimpulkan "...kau menyukainya. Akui saja."
Dan akhirnya Jungkook tak mampu mengelak lagi.
"Baiklah, baiklah, aku mengaku! Aku menyukai sepupumu, aku menyukai Jimin hyung! Nuna puas?! Akh- sial!" dia berseru keras -berlebihan- membuat luka bekas operasinya terasa sakit kembali "Ish! Nuna menyebalkan~" anak itu merengut entah karena sakit atau justru malu sebab ketahuan.
Namun Dara tak bereaksi apa-apa. Wanita yang duduk disisi tempat tidur itu hanya menatap pasiennya dengan lekat, seolah memikirkan sesuatu. Jungkook pun menangkap gelagat aneh sang dokter.
"Kenapa? Aku kan sudah mengaku, Nuna jangan menatapku begitu!"
Barulah Dara mengedipkan matanya secara normal.
"Kau...serius dengan ucapanmu?" Tanya nya kemudian.
"Ha?"
"Jungkook-a , kau serius menyukai Jimin?"
Jungkook mengangguk tanpa ragu.
"Apa yang kau sukai darinya?"
Anak itu berkedip beberapa kali "...apakah suka harus memiliki alasan? Tidak tahu, terjadi begitu saja. memang dasarnya saja Jimin hyung adorable~"
Dara mengangguk, setuju.
"Kau suka sebagai apa? Hanya sebatas kakak, atau-"
"..."
"-ingin memilikinya?"
"..."
"Opsi kedua?"
Jungkook lagi-lagi hanya berkedip dengan bingung, dan Dara sudah mampu menyimpulkan jawabannya. Dia menghela nafas panjang, kemudian dengan hati-hati berkata ;
"Tapi Jimin sudah bertunangan, Jungkook-a..."
"...apa?"
. . .
Jungkook meringis. Ia masih ingat betul rasa sesaknya saat Dara menuturkan dengan gamblang perihal pertunangan Jimin. Kapan dan kenapa itu dilaksanakan, serta siapa sosok yang beruntung mendapatkan orang seperti Jimin.
Semua.
Sandara menceritakan semuanya hingga tuntas meski tanpa Jungkook minta, dan juga tanpa sekalipun disela. Anak itu benar-benar membisu dan hanya patuh mendengarkan. Entah terlalu shock, atau justru miris mengetahui kehidupan percintaan hyung yang ia sukai itu.
Sejak saat itulah, Jungkook menganggap tunangan Jimin adalah sosok paling bodoh yang pernah ada. Dan perasaan ingin melindungi hyungnya lantas muncul begitu saja. Tekadnya itu diperkuat pula oleh Dara yang ternyata mendukungnya.
. . .
"Kalau kau serius dengan sepupuku, maka nuna mendukungmu. Lindungi dia, jangan menyakitinya. Jangan dulu berharap memilikinya, tapi tunjukkan dulu kalau kau layak berada disisinya. Pertunangan itu bukan final. Jimin...berhak mendapatkan orang yang lebih baik. Dan kau bisa jadi orang itu, Jungkook-a."
. . .
Jungkook tersenyum miris. Benarkah dia bisa jadi orang itu? Jika berkaca dari sikap Jimin yang kekeh mempertahankan hubungannya walau berulang kali disakiti, itu artinya Jimin benar-benar mencintai tunangannya. Dan Jungkook ragu bisa merebut posisi itu. Belum lagi...derajat keluarga yang-
Astaga sudahlah.
Dari awal dia yang salah karena lancang menyimpan rasa seperti ini. Dan lebih lancang lagi karena mengungkapkannya secepat itu kemarin. Jungkook hanya tidak bisa menahannya terlalu lama. Seperti katanya kemarin, dia takkan marah merengek walau perasaanya tak terbalas. Dia akan lebih marah kalau si bodoh itu terus menyakiti hyung yang ia sukai.
"Ah! omong-omong, bagaimana kelanjutan skandal si bodoh itu?"
Gumamnya sambil meraih ponsel yang ia letakkan disampingnya. lalu segera mencari berita di internet. Ia harap skandal itu sudah clear atau minimal tak sepanas kemarin. Namun harapannya pupus seketika manakala melihat top search di berbagai situs yang masih didominasi nama Min Suga, Kwon Mina dan juga ROCKMANTIC.
Jungkook berdecak,
"Astaga, kalau bukan karena Jimin hyung, aku tak sudi menelusuri berita tentang idol begi-"
Seketika matanya melebar begitu melihat deretan judul artikel yang menjadi popular post disana.
[ CONFIRMED ! Min Suga dan Kwon Mina sudah Berpacaran dalam Hitungan Minggu! ]
[ HOT NEWS! Suga mengkonfirmasi langsung tentang hubungannya dengan Mina dan membenarkan foto 'hot' mereka berdua! ]
"WHAT THE F- ASTAGA APA INI?!"
Jungkook spontan memekik bahkan bangkit dari duduknya. Jarinya masih sibuk dengan layar ponsel dan terus menelusuri semua artikel yang ada. Namun semakin Jungkook mencari, semakin parah pula ia merasa emosi. Satu yang ia khawatirkan kini...
"Jimin hyung..."
Dia pun mencoba menghubungi hyungnya itu. Saat tersambung dan diangkat, anak itu hampir saja berteriak. Namun suara diseberang sana berbeda. Bukan Jimin.
"Siapa ini? Mana Jimin hyung?" Tanyanya setenang mungkin. Akan tetapi jawaban yang ia dapat malah membuatnya semakin panik.
"Aku Choi Seungcheol, teman Park Jimin. Ponsel kami tertukar. Aku sudah mencoba menghubunginya namun tak diangkat sama sekali. Sepertinya dia sudah tahu berita tentang Min Su-"
"Shit!" Jungkook memutuskan hubungan itu secara sepihak tanpa mau menunggu Seungcheol menyelesaikan kalimatnya. Mendengar nama si bodoh itu hanya akan membuatnya tambah naik darah.
Opsi terakhir adalah menghubungi Dara sambil sibuk memakai sepatunya.
"Ah! NUNA! Kirimkan alamat Jimin hyung padaku! Cepat!"
"..."
"Iya, si bodoh itu berulah lagi! - Tugas nuna selesai berjam-jam lagi! Biar aku yang mengecek hyung duluan. - Aish~ Aku sudah sembuh! kirimkan saja alamatnya!"
Tanpa buang waktu, Jungkook berlari dan membuka pagar dengan terburu-buru. Saat itulah Junghyun datang dan nampak bingung dengan ekspresi cemas adiknya.
"J-Jungkook-a, ada apa? Kau sakit lagi?"
Jungkook menggelengkan kepala "Tidak. Bukan- aish! Aku harus pergi sekarang hyung! Kau masuk saja!" Dia hendak melanjutkan larinya jika saja Junghyun tak menjegal pergelangan tangannya.
"Pergi kemana? Kau belum sembuh betul!"
"Aku sudah sembuh! Sudahlah, aku buru-buru! Bye hyung!"
"H-hey hey! JEON JUNGKOOK HATI-HATI!" Seru Junghyun pada adiknya yang tengah menuruni anak tangga dengan begitu cepat.
"Apa yang terjadi?"
Apa yang terjadi?
Itulah pertanyaan yang muncul dibenak Kang Ahjussi saat sebuah nomor asing menelponnya dan ternyata suara Jimin yang terdengar. Tuan mudanya itu hanya meminta dijemput di stasiun kereta tanpa berkata apa-apa lagi. Dan disinilah Kang Ahjussi sekarang. Pria paruh baya yang sudah mengabdi untuk keluarga Park selama puluhan tahun itu tengah menunggu Jimin sejak beberapa menit lalu.
Tak lama kemudian, Jimin muncul dan segera menghampiri sang Ahjussi dengan tergesa- gesa. Dia terengah-engah, dan raut wajahnya pun tak seperti biasanya. Tentu membuat lelaki yang sudah menganggap Jimin seperti anak sendiri itu heran.
"Tuan muda Jim-"
"Berikan kuncinya."
"Ya?!"
"Berikan kunci mobilnya padaku." Jimin mengulang dengan nada amat datar, bahkan tanpa menatap orang yang lebih tua. Hanya mengadahkan telapak tangannya.
"Tapi tuan muda, kau baik-baik saja kan? Tak apa biar aku saja yang menyet-"
"Kang Ahjussi!" Jimin mendelik tajam bahkan sedikit membentak, membuat Kang Ahjussi terhenyak. "...aku buru-buru, cepat berikan kunci mobilnya padaku!"
Dengan ragu Kang Ahjussi menyerahkan kunci mobil dari saku seragamnya. Dan Jimin pun tanpa buang waktu segera menerimanya lalu masuk kedalam kursi kemudi setelah sebelumnya berkata,
"Ahjussi pulang dengan taxi saja. Aku ada urusan lain."
Kemudian melesat pergi, meninggalkan sang Ahjussi dalam kebingungan serta kekhawatiran.
Entah. Yang barusan itu seperti bukan Jimin. Bukan Tuan muda yang selama ini ia kenal.
Lagi-lagi pertanyaan yang sama terlontar,
"Apa yang terjadi?"
Mobil berwarna silver itu membelah jalanan kota Seoul dengan kecepatan sedang. Sang pemilik tengah berusaha mengemudikannya setenang mungkin. Berusaha menepis suara-suara mengerikan yang terus berbisik di pendengarannya sedari tadi. Bisikkan yang menjadi buah dari betapa kacau perasaanya saat ini.
Belokkan saja mobilmu, lajukan diarah berlawanan. Tunggu mobil lain menabrakmu, membuatmu hancur berdarah-darah, dan akhirnya mati. Dengan begitu masalahmu akan selesai. Sakitmu akan terhenti, lelahmu akan menghilang, dan kau akan bertemu dengan ayah dan ibumu lagi. Jauh dari orang-orang yang membuatmu selalu tersakiti...
Tidak.
Jimin memegang stir mobilnya lebih erat hingga buku jarinya memutih. Menatap jalan di depannya sefokus yang ia bisa. Takkan ia biarkan bisikkan-bisikkan itu mengambil alih kendalinya. Tidak akan. Setidaknya, jika harus mati pun bukan saat ini. Bukan dalam perjalanannya menghampiri dan menyelesaikan masalah dengan-
...Min Yoongi.
Airmata meluncur dikedua pipinya tanpa ia sadari. Bahkan hanya memikirkan nama itu saja efeknya akan sesakit ini.
Suga menatap kosong danau didepannya. Untuk kesekian kalinya, ia menolehkan kepala, namun yang ditunggu belum muncul juga.
Ya. Park Jimin.
Setelah 'konferensi pers dadakan' tadi, ia dan grupnya segera berlari ke van yang akan membawa mereka ke gedung agensi. Selama perjalanan, tak ada seorang pun yang mengeluarkan suara. Membuat Suga mengira tiga anggota yang duduk dibelakangnya itu sudah mengerti apa yang baru saja mereka alami. Ia tak tahu jika Dowoon berulang kali membuka dan mengatupkan bibirnya, hendak bertanya. Namun melihat betapa dinginnya raut wajah sang leader, ia pun mengurungkan niatnya. Wheein hanya menggenggam tangan Mina yang nampak sangat shock dan diam-diam berbisik "nanti kita minta penjelasan Suga oppa kalau sudah sampai..." dan sang eonni hanya mengangguk saja.
Tak sesuai rencana, sebab begitu turun dihalaman gedung, Suga meminta kembali ponselnya pada Namjoon serta menolak masuk.
"Tapi Suga-"
"Aku sudah menuruti permintaan kalian, jadi sekarang berikan ponselku." Desis Suga sebisa mungkin tak meledakkan emosinya. Untunglah Namjoon menurut. Ia memang sudah berjanji, jadi mau tak mau ia harus menepati. Ia pun menyerahkan ponsel milik Suga serta tiga anggota lainnya walau mereka tak meminta.
Tanpa basa-basi, Suga segera menuju mobilnya yang sudah berhari-hari ini dibiarkan di area parkir agensi. Saat duduk di kursi kemudi, dia menyalakan ponselnya, dan hendak menghubungi Jimin. Namun saat itu juga sebuah panggilan masuk dari nomor yang tak dikenalnya. Suga menolak. Ia mengabaikan panggilan itu. Akan tetapi nomor itu terus menerus memanggilnya, membuat Suga mau tak mau mengangkatnya juga.
"Halo-"
"Ini aku."
Saat itu juga dia terperanjat
"J-Jimin?"
Itu suara Jimin.
Benar, ia tak salah dengar. Tapi...nada bicaranya bukan seperti Jimin yang biasa. Apa...dia sudah melihat beritanya? Jimin sudah mendengar konfirmasi palsunya?
Belum sempat Suga melontarkan kata-kata, Jimin sudah lebih dulu menyela.
"Kita harus bertemu. Tunggu aku di Pemakaman keluarga Park."
"Tapi-"
"Aku tidak menerima penolakan."
.
.
Dan disinilah Suga sekarang.
Sudah hampir tiga jam menunggu tunangannya. Rasa bosan perlahan muncul.
Tapi sesaat kemudian ia meringis pelan.
Tiga jam.
Baru tiga jam dan ia sudah sebosan itu, lalu bagaimana dengan Jimin yang menunggunya selama ini? Menunggu dia datang, menunggu dia menerima pertunangan ini, itu semua tidaklah sebentar.
Kenapa baru sekarang terpikir olehnya?
Tanpa sadar ia menyentuh kalung berbandul J yang tersembunyi dibalik bajunya. Sementara hatinya bertanya-tanya;
Menunggu selama itu...apakah Jimin juga merasakan kebosanan? Apakah ada saat dimana ia ingin menyerah?
(Iya, Min Suga. Jawabannya iya kalau kau mau tahu.)
Mobil Jimin memasuki area pemakaman dan ia parkirkan secara sembarang. Tak butuh waktu lama buat pemiliknya segera keluar darisana. Menutup kembali pintu mobilnya dengan sedikit kasar. Nampak sekali kekacauan dalam semua gerak-geriknya.
BRUKKK!
Belum sampai tiga langkah, ia ambruk.
Ini sudah kedua kalinya dia begini sejak keluar dari panti asuhan tadi.
Entah, kakinya lemas. Seperti tak mampu lagi menopang diri. Dia bahkan terengah-engah seolah telah menempuh perjalanan dengan berlari. Ia remas kuat baju bagian dadanya, tak tahu dapat sugesti darimana.
Butuh beberapa menit buatnya menenangkan diri di posisi itu. Sebelum akhirnya kembali berdiri dan melanjutkan langkahnya lagi,
...menghampiri dimana orang itu berada.
Sumber rasa sakitnya.
.
.
.
Suga kembali menoleh ke belakang, dan kali ini cukup dibuat terlonjak saat melihat Jimin sudah berdiri tegak di puncak anak tangga sana. Antara senang karena akhirnya dia datang, atau justru sedih karena raut wajah Jimin tak seperti biasanya. Rasa was-was pun menghampiri seiring langkah Jimin yang semakin dekat dengannya.
"Kau datang..." Suga mencoba menyapa setenang mungkin, namun kemudian ia meringis pelan karena Jimin sama sekali tak membalasnya. Sekedar menatapnya pun tidak. Tunangannya itu lebih tertarik dengan danau didepan mereka. Dan itu membuat rasa was-was Suga semakin besar.
Skandal.
Pasti skandal itu yang membuat Jimin begini. Yah, mestinya Suga sudah bisa menebak itu sejak tadi.
"Jimin-"
"Aku sudah tahu." Sela Jimin masih enggan menatap Suga "...apa yang mau kau ungkapkan tapi takut aku menangis karenanya, aku akhirnya tahu." Lanjutnya berbisik, namun masih bisa terdengar oleh lawan bicaranya.
"Jimin-ie, aku bisa menjelaskannya. Skandal itu-"
"Persetan. Aku tidak mau tahu tentang skandalmu. Ini soal hubunganmu dengan hyungku."
"A-apa?" Suga berharap ia salah mendengar "...apa maksudmu?" namun detik berikutnya, ia nyaris tersedak ludahnya sendiri manakala Jimin menatapnya dengan tajam seraya berkata ;
"Kau. Kau kekasih Hoseok hyung. Benar kan?"
"..." sepasang mata sipit Suga sontak melebar. Jantungnya berdentum keras dan cepat, hingga menyapa indra pendengarannya. Dan bisa ia lihat, Jimin tersenyum miris karena reaksinya ini.
"Benar. Ternyata benar." gumamnya tanpa menunggu jawaban dari Suga "...aku bertunangan dengan kekasih hyungku,"
"D-Darimana kau tahu? Sejak kapan?" Tanya Suga, gugup dan pelan.
"Apa itu penting? Kenapa? Kau berniat menyimpan ini selamanya?"
"Bukan begitu Jimin," yang keluar dari mulutnya hanya berupa bisikkan saja. Jimin juga sepertinya tak mendengar. Karena ia lantas mengatakan hal lain.
"Jadi...selain demi perusahaan ayahmu, aku juga hanya jadi alat untuk membuat Hoseok hyung cemburu. Benar begitu?"
"Tidak Jimin. itu-" -dulu.
"Jadi lamaran didepan pusara ayah dan ibu kemarin juga bagian dari rencanamu, iya?"
"TIDAK! Itu tidak benar!" Suga spontan memekik dan menggelengkan kepala "...aku tulus melakukannya. Sungguh!"
"Lebih tulus mana dibanding perasaanmu pada Hoseok hyung?"
"Please, Jim. kami sudah berakhir sekarang. Aku dan Hoseok sudah-"
"APA ITU MERUBAH SEGALANYA?!" Kali ini gantian Jimin yang memekik. Lebih tepatnya berteriak. Suaranya bahkan menggema ke seluruh penjuru area. Matanya menatap Suga dengan berkaca-kaca. Nafasnya kembali terengah-engah. Lelah. Dia lelah. "...aku tetap saja bertunangan dengan kekasih hyungku sendiri!"
"Park Jimin, sayang," Suga melangkah, hendak menenangkan Jimin. Namun tunangannya itu dengan cepat memundurkan diri. Menghindar. Dan Suga mendengar suara dalam dirinya berteriak sakit.
Sejenak ia pejamkan mata. Dia tahu ini akan terjadi. Tapi tak secepat ini. Tidak disaat ia bermasalah dengan agensi.
"Please. Kumohon mengertilah Jimin..."
"Apa lagi yang harus ku mengerti?!" Jimin dengan cepat membalas "...selama ini, sikapmu yang mana yang tidak ku pahami?" Kali ini airmatanya benar-benar jatuh. Bergerombol, tanpa bisa ia tahan lagi.
"...Kau lebih banyak menghabiskan waktu dengan bandmu, aku mengerti. Kau bersikap dingin padaku, aku mengerti. Saat kau tak mengakui keberadaanku didepan publik, aku juga mengerti. Sekarang kau terlibat skandal itu pun aku mengerti. Semua yang kau lakukan atas nama Min Suga, sekalipun menyakitkan bagiku, pernahkah aku mengeluh padamu?" Tuturnya, sesekali terisak.
Sesuatu yang menohok hati Suga sedikit demi sedikit.
"...Tidak. Tidak, Min Suga. Aku tidak mengeluh. Sebab aku mengerti. Aku tahu sebesar apa mimpimu. Lakukan semaumu, apapun, apapun demi menyelamatkan karirmu, silahkan. Aku tidak akan mengganggu. Tapi jika kau melakukan sesuatu dengan nama Min Yoongi, terlebih melibatkan hyungku sendiri, maaf. Aku tidak bisa diam saja."
Suga membisu. Semua kata-kata Jimin berhasil menusuknya di titik yang tepat. Membuatnya tak punya kalimat buat membela diri. Iya, dia salah. Sepenuhnya salah.
Dan untuk kesekian kali, bunyi sesuatu yang jatuh, terdengar.
"Jimin!" Suga terhenyak saat tunangannya itu tiba-tiba jatuh terduduk, masih dengan tangisannya. Dia pun mensejajarkan diri, ikut berlutut di dekatnya "Jimin," matanya kini bahkan ikut memerah.
"Bagaimana boleh aku tak tahu? Bagaimana bisa aku tak peka? Hoseok hyung melihat semua kemesraan kita, setiap hari dia merasa terluka, kenapa aku tidak menyadarinya? Adik macam apa aku..." lalu dia terisak lebih kencang meski terhalang oleh dua telapak tangan yang menutup wajahnya.
Suga berkedip tak percaya. Disaat seperti ini Jimin justru mengkhawatirkan orang lain. Orang lain yang jelas-jelas tak pernah sekalipun memikirkan perasaannya. Pelan-pelan ia bawa sosok yang tengah menangis itu kedalam pelukannya.
Kali ini tak ada penolakan.
Putra bungsu keluarga Park itu menumpahkan airmatanya didalam dekapan putra bungsu keluarga Min. Diam-diam putra keluarga Min pun meneteskan airmata, sambil terus menenangkan putra keluarga Park dengan mengusap punggungnya. Berulang kali menggumamkan kata maaf, yang sepertinya tiada berguna.
Angin malam menerpa, namun sama sekali tak menyegarkan suasana. Tangisan kencang itu kini berubah menjadi rintihan yang luar biasa menyedihkan bagi siapapun yang mendengarnya.
"Kau harusnya- hiks- kau harusnya bilang padaku sejak awal, Yoongi hyung. Kenapa membuatku jadi orang jahat pada hyungku sendiri? Huh?"
Suga menggelengkan kepala, meski percuma karena Jimin tak melihatnya.
Tidak. Hanya dia yang jahat disini. Park Jimin tidak tahu apa-apa.
"Tidak. Hanya aku yang salah disini. Kau tidak jahat sama sekali. maafkan aku Jimin-ie."
Tiba-tiba Jimin melepaskan pelukannya. Dengan kasar menghapus airmatanya, walau gagal karena cairan itu terus saja mengalir membasahi pipinya.
"Kalau begitu kita hentikan saja."
Min Yoongi membeku ditempatnya. Mencoba tak paham dengan apa yang Jimin maksudkan. Dia tidak meminta-
"Kita hentikan saja semuanya, Yoongi hyung."
-putus, kan?
"J-Jimin?" Suga menatap Jimin seakan memohon agar apa yang ia duga tidaklah benar. Tapi tunangannya itu menghindari tatapannya, bangkit dari posisinya. Suga pun dengan cepat mengikuti. "...apa maksudnya itu? H-hentikan apa?"
"..." Jimin nampak susah payah mengatur nafasnya agar tak ada isakkan lolos dari bibirnya "...kau dan aku. Hubungan ini, pertunangan sialan ini...kita hentikan saja sampai disini."
"Tidak," Suga berbisik, menolak.
"Kembali saja pada Hoseok hyung. Dia masih mencintaimu. Dari awal aku hanya alat bagimu kan? Kurasa tugasku sudah selesai, Yoon-"
"Demi Tuhan, itu dulu! Sekarang aku benar-benar mencintaimu Jim-"
"Itu hanya karena aku teman masa kecilmu saja, iya kan?! Tujuan utamamu tetap saja menyiksa Hoseok hyung, meski aku tak tahu apa masalah kalian sebenarnya"
"Jimin, please. Ada banyak hal yang belum kau ketahui. Semua tentang aku dan Hoseok, aku punya penjelasannya. Kau salah paham. Tolong tarik kembali keputusanmu. Aku benar-benar tulus berada disampingmu!"
"Pembohong. Kita berakhir."
"Tidak, Tidak, Jimin! Tunggu! PARK JIMIN!"
Jimin meninggalkan Suga begitu saja dan secepat mungkin menaikki anak tangga. Namun sepertinya tenaga yang ia punya kian menipis, hingga akhirnya bisa tersusul tak perduli sekencang apa dia berlari. Semakin keras Suga menyerukan namanya, semakin deras air mata mengalir dipipinya. Semakin lemas juga tubuhnya hingga tak sanggup lagi berlari, dan akhirnya pergelangan tangannya digenggam Suga kembali.
"Lepaskan." Pinta Jimin setenang mungkin. Keduanya kini berada persis didepan gapura bertuliskan PARK. Tempat dimana Jimin memarkirkan mobilnya. "Kubilang lepaskan aku MIN YOONGI!" kali ini ia mencoba melepaskan tangannya dari genggaman erat Suga. Dan itu bukan main susahnya.
"Tidak." Suga terengah "...Sebelum kau menarik kembali ucapanmu. Jangan mengakhirinya. Aku tidak menerima keputusanmu."
Jimin tetap berusaha melepaskan genggaman itu, dan Suga pun tak kalah mengeratkannya "Tidak, Park Jimin."
Akhirnya Jimin menyerah. Ia diam sejenak. Menatap tautan tangan mereka.
.
.
Setelah sekian lama , baru ku menyadari...
mengapa ku selalu menahan rasa sakitku ?
Ku akui sekarang engkau mulai berubah.
Namun rasa sakitku terlalu dalam 'tuk terobati...
.
.
"Aku menyesal, kau tahu?" Gumamnya kemudian "...kenapa aku selalu membelamu didepan keluargaku? Kenapa aku bersikeras mempertahankanmu menjadi tunanganku? Kenapa aku-" dia meloloskan satu isakkannya "...menerima semua kemesraan palsumu hingga membuat Hoseok hyung cemburu? Kenapa aku sebodoh itu? Kenapa? Kalau saja aku berterus terang tentang semua perlakuan burukmu, mungkin Hoseok hyung takkan sebenci ini padaku."
"Berhenti menyalahkan dirimu sendiri,"
"Makanya kita hentikan saja semua ini, Min Yoongi!"
"Setidaknya beri kesempatan buatku bicara dulu! kau tidak bisa memutuskannya begitu saja Park Jim-"
"A-Akh !"
Suga terkesiap saat tiba-tiba Jimin merintih sakit. Membuatnya refleks mengendurkan genggaman itu.
Tapi sepertinya bukan itu penyebabnya, Sebab kini Jimin menyentuh pelipisnya sendiri dengan tangannya yang lain. Sorot matanya nampak tak fokus sebelum akhirnya ia memejamkannya dengan erat. Wajahnya kian memucat.
Oh Tidak.
"Jimin? Kau tidak apa-apa?"
Bukan jawaban yang Suga dapatkan, melainkan lepasnya Jimin dari genggaman.
"Park Jimin,"
Dia bisa saja meraihnya lagi. Namun perkataan Jimin selanjutnya membuat si blonde itu tak bisa memaksakan kehendaknya.
"Cukup. Aku lelah Yoongi hyung, biarkan aku pergi."
.
.
.
Biarkan ku pergi,
Karena aku tak sanggup lagi,
Mengingat semua kenangan dulu, disaat engkau menyakitiku.
Mengapa semua terjadi,
Disaat kau mulai menyadari semua kesalahanmu padaku?
Tapi ku tak sanggup lagi...
.
.
.
Menyetir dalam keadaan kalut dan sakit bukanlah ide bagus sama sekali. Karena itulah Suga terus membuntuti mobil Jimin.
Jimin tahu dia diikuti, tapi ia terlalu malas meladeni. Sungguh, denyut dalam kepalanya lebih menyita perhatian saat ini. Pandangannya mengabur sedikit demi sedikit, membuatnya tak fokus dan berulang kali menggelengkan kepalanya.
Satu tangannya ia tanggalkan dari stir, dan mencoba membuka tas yang terletak di jok sampingnya. Berdesis kesal saat yang ia cari tak kunjung ditemukan, sementara fokusnya jadi terbagi-bagi.
Serius, ia butuh pil sialan itu sekarang. Kemana benda itu saat dibutuhk-
TIIIIINNNN-TIIINNNNNN!
Suara klakson yang nyaring membuat perhatiannya kembali kedepan, barulah ia sadari mobilnya sudah berada dijalur lawan, maka reflek ia membelokkan stirnya ke kanan hingga hampir menabrak trotoar.
Nyaris.
Nyaris saja...
.
.
Suga terhenyak. Mobil Jimin didepannya nyaris saja tertabrak kendaraan lain. Untunglah dengan cepat ia menghindar dan akhirnya menabrak trotoar. Tidak. Suga tidak bisa hanya mengawasi begini. Demi Tuhan, Jimin tidak boleh melanjutkan perjalanan seorang diri atau jika tidak kejadian yang sama akan terulang lagi.
Lelaki bersurai blonde itu melepaskan seatbeltnya dan hendak menghampiri mobil Jimin yang masih bertahan ditempat semula. Namun seolah tahu apa yang akan dilakukan Suga, Jimin segera menekan pedal gasnya kembali. Kali ini dengan kecepatan yang lebih tinggi. Masa bodoh dengan sakit di kepala yang terus menggerogoti.
"Sial! Park Jimin kau gila!" Suga mengumpat dan dengan terburu-buru mengaitkan seatbeltnya lagi lalu menyusul kemana Jimin pergi.
Akhirnya peristiwa yang sama harus Suga ulang kembali. Seperti tempo hari dimana ia berusaha mengejar mobil Hoseok yang melaju dengan kecepatan membabibuta. Dan Jimin...ternyata mampu lebih gila dari itu. Sesuatu yang sulit Suga percaya, sebab setahu dia Jimin tidak biasa mengendalikan kendaraan dalam kesehariannya.
Satu yang membuat Suga dapat sedikit bernafas lega, yakni karena Jimin pergi menuju arah rumahnya. Dan kini sudah tak lagi banyak kendaraan lain yang berpotensi membuatnya celaka.
Hanya saja...
CKIIIIIITTTTT~
Lagi-lagi Suga dibuat terhenyak dan terpaksa mengerem mobilnya tepat disebuah tikungan terakhir tak jauh dari tempat Jimin kini menghentikan mobilnya.
Bukan.
Bukan kecelakaan yang membuat Suga berhenti.
Akan tetapi...
Butuh beberapa lama untuk Jungkook menemukan alamat yang Sandara kirimkan padanya melalui pesan singkat. Ia memperhatikan satu demi satu nomor rumah yang berjejer di kawasan elit ini. Decak kekaguman tak henti-henti keluar dari mulutnya.
"Wah~ semua rumah disini megah sekali~ Ini sih istana namanya! Jimin hyung pasti bercanda saat bilang kawasan kumuh itu lebih menyenangkan- oh! Ini rumahnya!"
Ia menghentikan langkah didepan gerbang sebuah rumah yang tak kalah megah dari rumah-rumah sebelumnya. "...gerbangnya saja semegah ini bagaimana isinya?!" Lagi-lagi anak itu berdecak kagum. Tapi sesaat kemudian ia menggelengkan kepalanya. Mengusir pemikiran itu. Yang harus ia utamakan sekarang adalah keadaan hyungnya.
Jimin!
"...tapi bagaimana?" Jungkook bingung sendiri bagaimana harus mengecek apakah Jimin ada didalam atau tidak.
Serius, gerbang ini menjulang tinggi dan tertutup rapat!
Yang terlihat hanyalah balkon-balkon kamar tanpa penerangan. Itu pasti salah satu kamar Jimin hyung , terkanya.
"...aku mana boleh diizinkan masuk? Aish~" ia mengacak rambutnya sendiri. Lalu mondar-mandir tak jelas disana. Bingung dan khawatir bercampur di mimik wajahnya.
Apa Jimin hyung belum pulang ya? Dia baik-baik saja atau tidak? Apa yang harus aku lakuk-
Ponsel di saku jaketnya berdering. Nama Dara tertera, dan dengan segera ia mengangkatnya lalu tanpa sadar memekik,
"Nuna! Ah~ aku sudah menemukan rumah-istananya. Tapi...aku bingung bagaimana- Apa?! Jadi Jimin hyung tidak ada dirumah?! Haissssh~ ini semua gara-gara si bodoh itu! Kalau ketemu dia kupastikan akan menghajar- uh? "
Sepasang mata Jungkook menyipit saat sebuah lampu mobil menyorotnya. Dan saat mobil itu berhenti didekatnya, ia spontan melebarkan pupil matanya
"Jimin hyung!" Sambungan telepon dengan Dara ia putuskan begitu saja dan segera mengembalikan benda pipih itu kedalam saku jaketnya.
Pintu mobil terbuka, dan Jimin keluar dari sana. Jungkook pun tak dapat menyembunyikan raut leganya. Setidaknya Jimin sudah sampai dirumahnya. Kini tinggal satu yang menjadi kekhawatirannya.
Apakah Jimin baik-baik saja?
Apa dia sudah mendengar berita tentang -si bodoh- tunangannya?
"Jimin hyu-" baru saja ia hendak melangkah, Jimin sudah lebih dulu menerjangnya dengan sebuah...
...pelukan.
"J-Jimin hyung?" Tubuh hyungnya itu gemetar hebat, bahkan lambat laun mulai terdengar isak tangis lolos dari bibirnya. "...hyung tidak apa-apa? Jimin hyung baik-baik saja? Huh?"
Jimin tidak menjawab. Ia lingkarkan tangannya di leher Jungkook, dan menyembunyikan wajahnya pada ceruk leher laki-laki yang lebih muda itu. Kedua tangan Jungkook tersampir disamping tubuhnya.
Ragu, apakah harus membalas pelukan ini atau tidak?
Ia hendak berkata sesuatu sebelum matanya menangkap keberadaan seseorang dalam mobil di tikungan tak jauh dari sana. Didetik yang sama, Jimin mengeluarkan suara lirihnya,
"Lindungi aku,"
Jungkook tak melepaskan tatapannya dari mobil itu,
"...aku memintamu melindungiku, Jeon Jungkook..."
...Min Suga. Jungkook tahu itu Min Suga. Si bodoh yang tengah menatap dia dan Jimin begitu lekatnya. Si bodoh itu pasti yang membuat hyungnya begini, terluka.
Pelan-pelan Jungkook gerakkan kedua tangannya, masih sambil memandang Suga, lalu tanpa ragu membalas pelukan itu. Melingkarkannya dipinggang Jimin lebih erat, seraya berkata ;
"Ya, berlindunglah padaku..."
Dan Jungkook mendapati setetes airmata jatuh ke pipinya.
Tak apa. Datang padaku kala kau terluka. Peluk aku saat kau tak berdaya. Aku akan melindungimu semampu yang aku bisa. Kelak, begitu lukamu telah sirna, silahkan kembali padanya. Tinggalkan aku yang tak tahu harus menyembuhkan lukaku sendiri pada siapa...
(-Lukailukai8)
.
.
.
.
.
tobecontinued
special thx to : TobikkoARMY, soonhoonfans, ChimSza95, wijayanti628, Dessy574, yongchan, puterikimsh, ChiminChim, sugasugababy, magnae palsu, matchapeach, fishyhaerin, esazame, ash, jimine, yoongiena, anitacho, Jannes, Iybah558, dhani park, Hozi Kwon, glomii, YUIXIAN, hanaikosama, guest, meganehood, Echa577, ayp, bulatbulatmanis, Cherry, sersanjung.
