Qtalita Back again
.
.
A Supranatural Wonkyu
.
.
Check it
.
Siwon menatap lekat Guixian yang tertidur lelap di kursi sambil memeluk dua samurainya. Hembusan nafas Siwon terdengar keras, rumah berdinding kayu itu terlihat lengang, Donghae belum pulang setelah tadi terlibat perkelahian dengan Guixian, sementara langit sudah mendekati pertengahan malam. Siwon menyandarkan tubuhnya, matanya terpejam namun tidak terlelap, fikirannya menerawang pada pembicaraannya bersama Guixian tadi.
Flashback
Guixian kembali memakai pakaiannya, sama sekali tidak menunjukkan rasa sakit di lengannya, seakan luka koyak itu hanya sekedar luka tertusuk jarum saja.
"Eommaku sama seperti Kyuhyun, Iceman menculiknya di depan mataku sendiri"
"..."
"Sahabatku satu-satunya.."
"..."
"Tubuhnya terpenggal di depan mataku sendiri"
Siwon tercekat, Guixian bahkan merasakan hal yang jauh lebih menyakitkan dibanding dirinya, dan lihatlah kini, Guixian bahkan tidak pernah menampakkan ekspresi terluka sedikitpun.
"Apa kau yakin Eommamu masih hidup? Bagaimana jika ternyata ia sudah.."
"Hidup ataupun tidak, Iceman tetap berurusan denganku"
Siwon kembali tercekat, Guixian benar-benar sosok yang berbeda, tak seperti dirinya, ia bahkan sudah beberapa hari ini melupakan Kyuhyun, Ah! Siwon menggelengkan kepalanya, ia tidak melupakan Kyuhyun, hanya saja ia terlalu fokus menghadapi Guixian, Tidak! Siwon kembali menggelengkan kepalanya lebih keras.
"Wae?"
Guixian mengernyitkan dahinya menatap Siwon yang tampak aneh.
"Ani" Jawab Siwon cepat, ia membereskan peralatan obatnya lalu bergegas keluar dari kamar itu, Guixian hanya mengangkat bahunya tidak peduli.
Flashback End
Kriet..
Pintu terbuka pelan, Donghae berdiri disana, masih menatap Guixian curiga, Siwon waspada, berjaga-jaga jika Donghae kembali menyerang Guixian.
"hhh.."
Tapi pemikirannya salah, Donghae malah duduk disampingnya, menyandarkan kepalanya lelah, ia memejamkan mata.
"Mianhe.." Bisiknya, Siwon tersenyum. Tanpa membalas. Donghae membuka kelopak matanya, tatapan kosong itu terpaku pada makhluk dihadapannya, Guixian tertidur begitu damai, seolah tak ada satupun yang patut ia takuti, Donghae terkekeh kecil.
"Wae?"
"Aniyo.. aku hanya tidak percaya jika anak itu masih berada dirumah ini"
Siwon mengikuti pandangan Donghae, ia ikut terkekeh, Mereka seorang Witch hunter, orang-orang yang tidak pernah menaruh kepercayaan mereka pada hal lain, orang-orang tertutup yang terasing di tengah hutan di sudut kota, tapi kini? Mereka bahakan dengan mudahnya memasukkan namja asing kedalam rumah mereka.
"Kau tahu Hae.. aku merasa tidak asing dengan namja itu, entahlah, hanya saja.. terasa seperti itu" Lirih Siwon, Donghae menunduk, sejak awal ia memang tidak nyaman dengan keberadaan namja bernama Guixian itu, tapi ada satu hal yang ia sendiri tidak mengerti, rasa nyaman mengetahui namja itu berada di dekatnya membunuh kecemasan awalnya.
BRAAK!
Donghae dan Siwon berdiri, Guixian yang tadi terlelap kini kembali terjaga dengan posisi waspada.
"Suaranya dari arah depan"
Donghae memberi isyarat agar mengikuti langkahnya ke arah halaman depan, ia membuka pintu kecoklatan itu pelan, kosongnya malam menerpa pandangan Donghae, alisnya mengernyit ketika sebuah kotak kayu berukuran sedang tergeletak di sana, beberapa meter dari tempat ia berdiri.
Donghae membuka pintu rumah mereka lebar saat mengetahui tidak ada yang perlu mereka khawatirkan. Siwon melangkah duluan, diikuti Guixian lalu Donghae.
Mereka berjongkok, mengelilingi kotak kayu berukir abstrak kuno, Siwon meletakkan jarinya di salah satu ukiran terpanjang.
"SHIT!"
Siwon mengusap ujung jarinya yang terasa seperti tersengat jutaan watt listrik, Donghae melangkah mundur, begitupun Siwon, mereka butuh seuatu untuk menyimpulkan benda apa yang ada didepan mereka, namun tidak dengan Guixian, ia bahkan semakin mencondongkan tubuhnya ke ukiran terpendek. Jarinya bergerak maju.
"Guixian, jangan" Bisik Siwon, Guixian tidak mengindahkannya sama sekali, jarinya semakin terulur dan akhirnya menyentuh ukiran yang kini mengeluarkan cahaya biru terang.
Siwon, Donghae dan Guixian melangkah mundur lebih jauh ketika cahaya itu semakin menyilaukan mata mereka.
Sreet.
Cahaya itu berhembus kencang lalu menghilang, menyisakan kotak kayu yang kini terbuka, Siwon mengambil secarik kertas tua dari pelepah kayu di dalamnya, sebuah catatan kecil, dan Siwon yakin akan siapa pengirimnya.
'Aku menunggumu..Kalian'
Siwon memandangi Guixian dan Donghae bergantian.
"Siapa?"
"Iceman"
Donghae menelan ludahnya sulit, ia tertegun sesaat kemudian kembali mengumpulkan kesadarannya lalu menunjuk Guixian dengan jemarinya.
"Kau! Bagaimana bisa kau tahu cara membuka kotak setan itu huh? Sementara Siwon saja tidak bisa!"
Guixian mendesah panjang, jengah.
"Logika mudah tuan sok tahu, kau hanya perlu memulai untuk mengakhiri, Iceman mengirim pesan ini agar kalian membacanya, bukan sebuah teka-teki klasik, kau tidak perlu menyelesaikan puzzle hanya untuk mengetahui gambar apa yang akan terbentuk jika kau sedari awal tahu akan seperti apa"
"..."
"..."
"Ya Tuhan, kalian bahkan belum mengerti?"
"..."
"..."
"Kau tidak usah memecahkan teka-teki ukiran itu, Iceman mengirim pesan bukan teka-teki"
Guixian mempersingkat penjelasannya, Siwon mengangguk mengerti.
"benar juga, ukiran itu bermula di titik tengah lalu berakhir di ujung atas tepat di tengah tanda kunci, kita tidak memerlukan kunci, kita hanya membutuhkan jalan kesana"
"Hhh, aku sudah katakan tidak usah menjawab teka-tekinya, Tapi analisa kecilmu membuatku kagum tuan Choi" Guixian berkacak pinggang melirik satu-satunya namja yang sedari tadi hanya diam, Lee Donghae.
"Aku tidak mengerti" Ucap Donghae akhirnya.
"Sebaiknya tidak" Guixian memutar bola matanya malas, ia berjalan melewati Donghae lalu diikuti Siwon.
"Ayo kita masuk, kita bisa berangkat secepatnya, sesuai undangan ini" Ucap Siwon sarkastik.
Donghae mengangguk, tapi sebelum masuk, ia kembali berjongkok di sekitar puing-puing kotak, mengambilnya sekeping, memperhatikan guratan ukiran yang masih tampak disana, dahinya mengernyit.
"Aku pernah melihat ini, tapi.. dimana?"
...
Other place..
Iceman berjongkok memperhatikan lekat-lekat makhluk di depannya, makhluk yang masih menatap liar sekelilingnya, takut dan cemas.
"Tenanglah Kyuhyun"
Bagai sihir, seketika itu pula Kyuhyun terdiam, nafasnya menjadi tenang, dan pupilnya membulat besar, warna caramel yang begitu mempesona itu terpancar menusuk telak biru dingin bola mata Iceman. Sang Iceman tertegun.
"Mempesona"
"Hm.." Seringai Kyuhyun.
"Sampai kapan kau menahanku?"
Lembut, suara itu mengalun begitu lembut, Iceman memejamkan matanya, menikmati alunan suara itu menggelitik telinganya.
Iceman tidak menjawab, ia berdiri, Zirah panjangnya ikut bergoyang ketika langkah kakinya melayang, Kyuhyun tampak tidak terganggu ia masih menatap Namja berkulit pucat di depannya dengan tatapan menusuk.
"Entahlah"
Kyuhyun tertawa mendengar jawaban Iceman, ia tertawa begitu keras.
"Kau sama sekali tidak mendapatkan apa yang incar selama ini"
"Paling tidak aku mendapat yang sama"
Kyuhyun menatap dalam makhluk sihir didepannya, genggaman tangannya terlepas seiring dengan mata rantai yang mengikat lengannya, terburai memenuhi lantai.
"Wow" Kagum Iceman.
Kyuhyun berdiri nyaris tanpa menyentuh lantai, ia setengah melayang.
"Kau bahkan belum berubah sedikitpun"
Kyuhyun menyeringai.
...
Masih terlalu pagi, mentari bahkan masih enggan menampakkan cahayanya, seorang namja menarik nafas pelan namun panjang, dadanya yang tidak tertutup sehelai kainpun naik turun teratur, namja itu, Guixian, kembali memejamkan matanya, kedua tangannya terkepal kuat memegang samurai disisi-sisinya, hembusan angin menjadi pertanda, gerakan-gerakan gemulai dari lengannya sebagai penentu, langkah kakinya yang nyaris tak terdengar menyatu dengan bumi, dedaunan jatuh menimpa tubuhnya, tak beruntung bagi sebagian, bertemu mata samurai lalu terbelah menjadi dua.
Seett.
Sreett.
Guixian berputar dengan cukup lincah, membelah dua apel merah yang dengan cepat Donghae lempar dari arah belakang tubuhnya.
Guixian membuka matanya, tampak Donghae menyeringai, namun tampak seperti senyuman anak kecil.
"Kau boleh juga"
Guixian tidak menjawab, ia duduk disamping Donghae berdiri, menyeka keringat di dada dan lehernya, Donghae membelalakkan matanya begitu tahu bentuk tubuh namja di depannya bahkan lebih bagus dari tubuhnya.
"Aku sudah katakan berulang kali, aku ini profesional" Guixian kembali mengenakan atasannya lalu menyelimutinya dengan coat kulit hitam panjangnya.
Mata Donghae beralih ketika Guixian memasukkan kedua samurainya.
"Kau mendapat samurai itu dari mana?"
"Tidak perlu kau tahu"
"Kau bersama kami sekarang, kami pantas untuk tahu"
Guixian berdiri tegak, membuat Donghae yang sedikit lebih pendek mendongak.
"Aku bisa pergi sendiri jika aku mau"
Ucap Guixian sengit, Donghae mengernyit tidak senang, emosinya memuncak, namja di depannya sangat memainkan emosinya dengan lihai, ia benci seperti itu, sangat.
"Yak!"
"Donghae, Guixian"
Donghae menarik nafas pendek, Siwon menyela disaat ia nyaris menyambar kepala Guixian. Namja yang lainnya menoleh dengan acuh, keringat masih terlihat sesekali menetes dari dahinya yang dengan cepat ia seka.
"Pagi ini kita berangkat"
Siwon berjalan mendekati dua namja yang sama-sama kebingungan. Apalagi kala mereka melihat Siwon sudah mengenakan semua perlengkapannya, panah serta anaknya terlampir di punggung tegaknya, senapan laras panjang tergantung di sisi kiri tubuhnya. Donghae mengernyit, dahi itu seakan ditumbuhi akar-akar panjang hingga ke batas hidung.
"Uh?"
Guixian menarik kebelakang rambutnya yang setengah basah, menghasilkan kilatan-kilatan yang diterpa mentari pagi. Siwon menggaruk ujung hidungnya sebelum mengangguk.
"Pagi ini juga?"
Siwon kembali mengangguk, kali ini sedikit cepat, Donghae menunjuk Kyuhyun menggunakan ibu jarinya, ibarat bertanya 'apakah namja ini juga ikut?'.
"Sudah aku katakan 'Kita' Hae, itu berarti dia juga akan ikut"
Guixian menyeringai menang, dengan bertolak pinggang ia terkekeh mengejek, mengangkat bahu sombong.
"Lagipula aku yakin kalian masih membutuhkan aku" Yakinnya membuat Donghae merapatkan mulutnya, giginya bahkan bergemeletuk tatkala Guixian menepuk bahu Donghae pelan.
Siwon memijit pelipisnya, menyatukan dua namja di depannya sama saja menyatukan air dan minyak, menyatukan anjing dan kucing, sulit.
...
Kyuhyun menarik zirah berwarna merah darahnya, menguatkan sampulnya di tengah leher, menaikkan tudung kepalanya hingga sangat kontras dengan kulit pipinya yang pucat, hembusan nafasnya terdengar berat dan berembun, membekukan baja jendela kamar barunya, ia menarik sudut bibirnya membentuk seringaian, jemari putihnya meremukkan dalam sekali gerakan bongahan es di depan mata coklatnya.
"Bermain-main?"
Kyuhyun tersenyum, tanpa berbalik ia masih hafal suara itu.
"Sedikit, kau tidak merasakan betapa jenuhnya aku di tengah hutan"
Terdengar kekehan dari belakang tubuhnya serta suara bedebum ringan disertai gesekan, Kyuhyun yakin 'sosok' itu tengah duduk di atas ranjangnya.
"Andai saja kau memutuskan lebih cepat, mungkin kau tidak akan menderita"
Kyuhyun berbalik, melangkah ringan, ikut terduduk disamping 'sosok' itu . ia mengangkat kedua telapak tangannya memperhatikan detail kulitnya yang semakin terlihat pucat, menggerakkan jari jemarinya, mengeluarkan keringat hingga ke ujung kuku dan berakhir dengan serbuk-serbuk salju yang jatuh meleleh ke lantai.
"Impressed, How about Siwon?"
Kyuhyun tertawa kecil, dibukanya tudung kepalanya, menatap 'sosok' yang tidak kalah pucat disampingnya.
"Aku merindukannya, aku sangat merindukannya"
"..."
"Aku sangat merindukan Siwon.. Jae hyung"
...
Donghae berjalan di depan, dengan alat navigasi lengkap ditangan kirinya dan beberapa ransum di ransel besarnya, jika diperhatikan dari belakang, namja itu seperti tidak memiliki kepala akibat ranselnya. Siwon tepat dibelakangnya, mengintai dengan sudut matanya, pisau bermata dua miliknya setia tergenggam, sementara itu Guixian berada beberapa meter dibelakang mereka, berjalan santai dengan lengan terlipat didepan dada.
Mereka baru saja melewati perbatasan daerah, hutan yang mereka belah baru seperempat dari tujuan mereka,Yah walaupun mereka belum memiliki tujuan jelas namun 'undangan' yang mereka terima sudah lebih dari cukup untuk mereka melangkah. Mereka yakin seiring perjalanan, mereka akan mendapat 'undangan' lainnya, entah apa alasannya.
"Stop"
Donghae berhenti di dataran yang cukup lapang, diantara 3 pohon pinus besar, ia berbalik memberi isyarat bagi Siwon. Siwon mengangguk, mereka memang butuh istirahat, matahari sudah semakin tenggelam, berada di kawasan yang asing membuat mereka harus waspada dan memilih untuk berinteraksi dengan lingkungan terlebih dahulu.
"Okay, kita istirahat"
Guixian menaikkan sebelah alisnya, menatap Siwon dan Donghae bergantian mengeluarkan tenda. Ia mengangkat bahunya, menyadari satu hal, jika dirinya tidak memiliki tenda.
Siwon melirik Guixian.
"kau bisa tidur denganku atau bersama Donghae"
"Hah? Denganku? Jangan harap!" Donghae mendengus berjalan beberapa meter dari Siwon lalu menyibukkan dirinya.
"Kau bisa tidur denganku kalau begitu" Pesan Siwon mengerling, jemarinya masih sibuk merentangkan sisi tendanya.
"Hhh, aku bisa tidur dimanapun" Guixian menarik samurainya, menebas beberapa tangkai akar kecil lalu merakitnya dari batang pohon ke batang lainnya, membuat sebuah jalinan akar seperti ayunan yang membentang.
Guixian melayangkan samurainya kembali ke 'sangkarnya' lalu tersenyum menang.
"I can sleep here"
...
Seharusnya Guixian sudah terlelap beberapa waktu yang lalu seperti Siwon dan Donghae yang sudah tenggelam dalam mimpinya masing-masing. Guixian masih melamun dengan pandangan kosong ke langit yang gelap, sangat. Dahinya mengernyit, tangannya terlipat semakin erat di depan dada, malam ini sedikit aneh, gumpalan awan hitam melekat tepat diatas mereka.
Guixian mengacungkan tangan kirinya ke udara, merasakan angin yang tidak berhembus sama sekali. Cukup aneh, jika memang awan itu menandakan hujan, paling tidak sudah ada angin dingin yang berhembus. Matanya mengerling cepat, sebuah gerakan kecil tertangkap indera penglihatannya itu, Guixian tidak berpindah dari posisinya, masih berbaring, namun tangannya sudah menggenggam masing-masing samurai. Ia mempertajam pendengarannya, semua indera ia pergunakan, hingga permukaan kulitnya sekalipun.
Guixian memejamkan matanya. Dan..
Trang..
Bruk!
Guixian mendarat di tanah dengan setengah berlutut, setelah beberapa detik lalu bergerak cepat menghindari sebuah anak panah titanium yang di tembakkan untuknya. Guixian melirik anak panah yang kini menancap di batang pohon. Matanya memicing, berusaha fokus terhadap setiap gerakan yang bisa saja terjadi disekitarnya.
Nafasnya bergerak naik turun tidak seimbang, detak jantungnya berdetak 2 kali lebih cepat.
Angin dingin tiba-tiba berhembus, memadamkan api unggun, satu-satunya penerang mereka. Guixian semakin memicingkan matanya, kuda-kuda dan siaga sudah ia pasang.
"Apa yang terjadi?"
Guixian masih dalam posisi siaga saat suara Siwon terdengar. Lalu disusul suara Donghae.
"Ada apa ini?"
"Sstt.." Guixian memberi isyarat agar lebih tenang dan waspada. Siwon mundur perlahan, meraih senjatanya sementara Donghae memutuskan navigasi yang masih aktif sejak mereka tiba.
Trang!
Trang!
Trang!
Guixian berputar dan melompat dengan gesit ketika tiga anak panah melesat cepat ke arahnya, suara dentingan samurainya memecah malam, kilatan petir terlihat merobek awan pekat. Siwon menelan ludah, firasatnya buruk dengan petir-petir berwarna putih menyala itu.
Sret.
Trang.
Guixian menoleh ke arah Siwon saat sebuah anak panah lain nyaris menyentuh sisi kiri lehernya andai Siwon tidak menghalanginya dengan anak panah miliknya.
Guixian menyeringai senang, namun wajahnya berubah tegang kala kumpulan petir kian menyambar panjang bahkan beberapa telah menyentuh tanah. Ia melangkah mundur, menarik Donghae yang masih sibuk dengan navigasinya, namja kecil itu menurut saja saat Guixian menyembunyikan dirinya dibalik tubuh Siwon.
"Aneh"
"Hm, sepertinya kita harus waspada"
Ctarrrrr!
Kejadian itu terjadi dengan sangat cepat, saat sebuah petir berwarna kelabu menyambar tepat dihadapan mereka, Siwon tidak melihat apapunlagi selain tubuh Guixian yang memeluk dirinya dan Donghae, menghalangi sinar menyilaukan itu menyentuh tubuh mereka. Ia masih bisa merasakan tubuhnya terseret beberapa meter sebelum akhirnya berhenti di sebuah batang pohon tumbang.
"G-gwencana?"
Dan Demi Tuhan, Siwon tidak tahu makhluk apa Guixian sebenarnya, setelah tersambar petir, namja itu masih bisa berdiri tegak bahkan membantunya berdiri dan Donghae yang telah pingsan.
"K-kau?"
Guixian menepuk bahunya yang masih mengeluarkan asap, Siwon menatap tidak percaya ketika Guixian berbalik dan pakaiannya masih utuh, tak sobek sedikitpun.
'Makhluk apa kau?'
TBC
Iya TBC, lanjut nanti lagi..
Disini udah ada yang bisa nebak siapa itu Iceman, Kyuhyun, Guixian, Jaejoong, n tentu saja Siwon? Masih buram? Heheheh
Akan banyak rahasia yang terbongkar seiring berjalannya waktu ya..
Thanks udah nunggu
LOVE
Qai.
