Qtalita..
.
.
Wonkyu
.
.
Malam itu cukup hening, Siwon yang memang cukup lelah tertidur sambil memeluk tubuhnya sendiri di belakang pintu, Donghae tanpa sadar terlelap di samping Guixian yang bergerak-gerak gelisah, dahinya berkerut cukup lama, pelipisnya mengucurkan beberapa butir keringat, hingga..
"Hhhhhhh..." Guixian terduduk dengan mata terbuka sempurna, dadanya naik turun meraup oksigen sebanyak yang ia mampu, sekilas ia tampak seperti seseorang yang mendapatkan hidupnya kembali setelah tenggelam.
Donghae dan Siwon sontak menatap Guixian khawatir apalagi Donghae bisa merasakan betapa panas tubuh namja itu. ia beringsut, berdiri di samping Guixian memperhatikan Siwon yang menenangkannya.
"Ssstt, Guixian.. Guixian.. tenanglah.." Siwon memaksa Guixian agar menatapnya, ia mencengkeram rahang pucatnya dan meminta untuk menatap matanya.
"Look at me.. hey.."
Guixian mengedipkan matanya sebelum menatap mata tajam Siwon, ia yang mendapatkan kesadarannya menyingkirkan tangan Siwon dari wajahnya dengan pelan.
"Im okay" Lirihnya lemah. Donghae menjulurkan sebotol air di depan Guixian. Sekeras apapun hatinya, ia juga tidak bisa membiarkan namja yang sudah bersama dirinya beberapa hari terakhir ini terlihat seperti itu, ketakutan? Entah, Donghae melihat hal lain dari diri Guixian tapi ia belum bisa menyimpulkannya.
"Tunggu sebentar" Siwon berdiri entah kemana, Donghae hanya melirik Guixian yang menyiramkan setengah air ke kepalanya, dahinya mengernyit, ia melihat sesuatu di pergelangan tangan kanan Guixian, seperti sebuah ukiran berakar.
Seet.
Dan ukiran itu lenyap bertepatan dengan Donghae yang memutuskan untuk menatap lebih rinci. Ia mengucek matanya, berfikir jika dirinya hanya salah lihat.
"Waeyo?"
Siwon menepuk bahunya, ia berjengit sebelum menggeleng, Donghae memilih menyingkir dengan duduk di atas tas besarnya, diraihnya buku kecil berisi catatan yang entah apa, ia menulis sesuatu di beberapa lembar lalu kembali memasukkannya ke dalam saku.
Matanya masih menatap tanya ke arah Guixian yang tengah menelan beberapa obat penenang,tatapannya tidak bisa dibilang biasa, penuh tanda tanya, dan keingintahuan yang sangat besar.
'Siapa kau sebenarnya' Bathinnya.
...
Kyuhyun masih menatap dalam Yunho yang berdiri tegak disisi Iceman, setia dan patuh. Mata caramel itu menyusuri seluruh tubuh Yunho, meyakini dirinya sendiri jika sudah tidak ada sisa luka melepuh di tubuh kokoh si mata musang.
Kyuhyun mengalihkan pandangannya ketika Yunho mengerling padanya, matanya kini fokus pada Iceman yang menyeringai menatap langit dimana purnama tengah menggantung di balik awan.
"Purnama pertama setelah kebangkitanku"
"..."
"Kau tahu Kyuhyun, aku harus menunggu 200 tahun untuk melihatnya lagi"
Kyuhyun mendecih, ia bersandar di railing balkon yang terbuat dari bata yang susuannya tidak lagi sempurna.
"Menunggu 200 tahun setelah Bloody Witch mengutukku, Tapi dia sudah merasakan akibatnya, terkubur oleh kejayaannya"
Rahang Kyuhyun mengeras, ia mengingat kejadian itu. reruntuhan ini bukan tanpa sebab, Kyuhyun mengelus dinding yang mulai rapuh, beberapa menara yang sudah hancur dan balkon ini, balkon dimana Bloody Witch melempar samurainya tepat menghujam jantung Iceman, hujaman yang 'mematikan' Iceman untuk 200 tahun lamanya, Hujaman terakhir sebelum Sang Bloody Witch menutup matanya.
Kyuhyun menghela nafas, dadanya sesak dengan peristiwa itu. Entah kenapa di helaan ke tiga wajah Siwon terpatri di ingatannya, ia melirik Iceman yang tertawa, menyeringai.
"Aku menunggu 200 tahun untuk menikmati ini.. Kyuhyun"
Perasaan Kyuhyun tidak enak, ia harus memastikan keadaan Siwonnya, ia tidak ingin terjadi apa-apa terhadap Siwon, bagaimanapun caranya ia harus melarikan diri dari tempat ini.
"Guixian"
Kyuhyun berbisik lirih.
"Guixian, dia masih hidup bukan?" Kyuhyun menatap tajam Yunho dan Iceman bergantian.
Iceman terkekeh, tawa yang membuat binatang malam terbangun. Mengerikan.
"Hidup atau tidak dia bukan tandinganku, Yunho bagaimana keadaanmu?" Iceman mengerling pada tangan kanannya.
"Sangat baik tuan"
Iceman tersenyum menang.
"Lihat? Ia bahkan tidak bisa bermain dengan bagus" Ejek Iceman. Kyuhyun menelan ludahnya, Guixian adalah harapan terakhirnya, tapi apa bisa?
"Manusia setengah penyihir sepertinya tidak akan sanggup mengalahkanku, Kyuhyun"
"..."
"Atau haruskah aku memanggilmu, Queen?"
Kyuhyun mengepalkan jemarinya yang mulai bergetar, andai saja Ya andai saja ia tidak terikat janji untuk tidak menggunakan kekuatannya lagi, sudah bisa ia pastikan jika Iceman akan tertidur kembali untuk waktu yang lebih lama.
...
Siwon menatap lekat purnama yang lebih besar dibanding biasanya, ia tersenyum lirih, memandangi purnama sama saja ia memandangi Kyuhyun, putih dan bersinar. Siwon memejamkan matanya, mencoba menghadirkan Kyuhyun dalam mimpinya, belahan jiwanya. Menghadirkan senyumnya, tawanya, tatapan matanya, pelukannya.. semuanya.
"Kyu, aku merindukanmu"
Siwon bergumam, tanpa memperhatikan seseorang tengah menatapnya datar.
Guixian menghela nafas panjang, ia menaikkan hoodienya, berbalik tanpa bersuara. Sudah saatnya ia memisahkan diri dari Siwon dan Donghae, ia akan melanjutkan perjalanan ini sendiri.
Srek.
Langkah itu terhenti. Donghae berdiri tepat didepannya, menahan langkahnya.
"Kau mau kemana?" Donghae berwajah datar.
"Bukan urusanmu" Tidak sulit bagi Guixian untuk menyingkirkan Donghae dari hadapannya, ia cukup mendorong tubuh kecil itu.
"Aku berusaha untuk bersabar, untuk sekedar kau tahu" Donghae diambang batas kesabarannya.
"Aku juga berusaha untuk mengikuti kalian, untuk sekedar kau tahu!" Guixian setengah berteriak tanpa berbalik.
"..."
"..."
"Lalu?" Donghae menahan lengan Guixian yang semakin menjauh.
"Entah, aku tidak mendapatkan apa yang aku cari" Bisik namja pucat itu, ia tidak berbalik namun tidak pula berusaha melepas genggaman Donghae.
"..."
"..."
"Siwon? Itukah yang kau cari? Kau menginginkan Siwon bukan?" Terka Donghae, ia mengguncang lengan guixian beberapa kali. Menuntut.
Guixian berbalik, dahinya mengerut, ia tertawa tidak senang sambil berkacak pinggang.
"Mwo?" Ucapnya tidak percaya jika Donghae sampai bertanya seperti itu.
"Kau.." Guixian menahan nafasnya, membuangnya kasar. Emosi.
"Apa yang sedang kau fikirkan dengan menuduhku seperti itu huh?" Guixian mengetuk-ngetuk dahi Donghae yang segera ditepis namja berwajah kekanakan itu.
"yak!"
"Ck" Guixian berdecih, ia memperbaiki posisi ransel dan samurainya lalu berjalan membelah hutan meninggalkan Donghae yang masih memanggil-manggil namanya, berusaha menahan namja yang awalnya merupakan musuh bebuyutannya.
...
"APA!"
Suara Siwon melengking di pagi hari, disaat ia terbangun dan tidak menemukan Guixian, dan lebih mengejutkan ternyata hanya dirinya yang tidak mengetahui perihal kepergian namja itu sementara Donghae yang selama ini menjadi musuhnya malah sempat menahan kepergian Guixian.
"Kenapa kau tidak membangunkanku?" Murka Siwon. Donghae menggigit bibir bawahnya takut. Ia hanya mampu menatap Siwon yang mondar mandir di depannya, Siwon sesekali mengacak rambutnya frustasi.
"Padahal dia juru kunci kita"
Donghae mengangkat wajahnya.
"Mwo?"
"Kau tidak lihat betapa jenius dia huh? Dia bisa mengantar kita ke tempat Iceman lebih cepat, dan aku bisa bertemu Kyuhyun"
Donghae menutup rapat mulutnya, merapatkan gigi-giginya hingga rahangnya terasa tertarik keras, menegang.
"Kyuhyun! Kyuhyun! Kyuhyun! Difikiranmu Cuma ada Kyuhyun, Kau berambisi pada namja yang sangat mirip dengan Kyuhyunmu itu! Kau tidak pernah memikirkan aku! Sahabatmu!"
Nafas Donghae naik turun dengan sangat cepat, ia menengadah menantang pandangan Siwon yang berubah sendu, Donghae mendesah sebelum ia menunduk dalam.
"Mianhe, aku terbawa emosi"
"..."
"Aku sudah mencoba menahannya, dan.. dia tetap pergi" Sambungnya terduduk, Siwon ikut mendudukkan dirinya dengan kaki di selonjorkan, jakunnya bergerak naik turun, menelan ludah pahit. Ia merasa dirinya sudah terlalu egois dengan memaksa Guixian tetap bersama mereka hanya karena Guixian mengingatkannya pada Kyuhyun.
"Kau tidak salah hae-ah, mianhe aku terlalu egois"
Siwon tersenyum.
"Kita berangkat sekarang?" Lanjutnya yang dibalas anggukan setuju dari Donghae. Siwon membereskan beberapa barang yang sempat keluar dari dalam tas nya, sembari menunggu Donghae berkemas Siwon menerawang jauh melintasi jendela tanpa kaca masuk kedalam hutan yang gelap. Ia memantapkan niat nya, bertemu ataupun tidak ia harus berjuang, langkah mereka sudah terlalu jauh untuk menyerah. Lagipula, ia masih berharap Kyuhyun masih hidup.
"Kajja" Donghae menepuk bahu Siwon, menandakan jika dirinya sudah selesai berkemas dan siap berangkat.
Siwon mengangguk, mempersilahkan Donghae untuk berjalan terlebih dahulu, Siwon melirik pembaringan tempat Guixian kemarin terlelap, dahinya kembali mengernyit, bekas terbakar terlihat menggaris sepanjang lengan dan beberapa helai rambut berwarna putih.
'Mungkin milik penghuni sebelumnya' bathinnya mengangkat bahu.
...
Jaejoong berdiri membeku, tatapannya tidak menyiratkan rasa takut namun otaknya seakan memerintah untuk tidak bergerak sedikitpun. Sementara yang ia tatap kini bermain-main dengan dream catcher yang ia gantung di dekat jendela. Seringainya dapat jaejoong tangkap dari sudut matanya.
"Kau bermimpi?"
"Tidak, itu milik penghuni sebelumnya"
Iceman mendekati Jaejoong, sementara namja pucat itu hanya menatap Yunho yang berdiri beberapa meter di depannya.
"Aku tidak menyangka jika clan kalian masih bertahan hingga saat ini" Iceman menyentuh pipi Jae dengan gerakan seduktif, mengikuti bentuk rahang itu hingga ke telinganya.
"Apa maksudmu?" Tepis jaejoong.
"jangan berpura-pura Jae, kau tahu yang aku maksud"
Jaejoong menelan ludahnya, masih berusaha memasang wajah tenang. Iceman memang tidak bisa membaca fikirannya namun ia sangat pandai membaca bahasa tubuh. Lengah sedikit saja Iceman bisa mempengaruhinya.
"Apa ini tentang Kyuhyun?"
"Bukan, seseorang yang lain"
Iceman mencengkeram rahang Jaejoong membuat Yunho tidak sadar melangkah maju.
"Tetap ditempatmu" tegas dan dingin, Yunho terdiam, ia menatap Jaejoong dengan pandangan tersiksa, tidak tahan melihat kekasihnya diperlakukan seperti itu.
"Kalian bertiga harus patuh terhadapku, tak ada lagi Bloody Witch yang akan menolong kalian"
Jaejoong jatuh tersungkur saat Iceman melepas cengkramannya, rahang itu terlihat membiru dengan garis-garis jemari yang tampak jelas.
"Cih, kau tahu bukan? Bloody witch tidak seutuhnya mati"
Iceman tertawa keras.
"Tidak mati? Apa yang harus aku takutkan dari seorang anak kecil dengan temperamental kasar itu huh? Ah samurai? Samurai itu? Aku tidak pernah takut!"
Mata biru itu berkilat marah, menjadikannya lebih gelap, pupilnya membesar lalu kembali mengecil, tawanya menyisakan kekehan mengejek.
"Guixian tidak selemah itu"
Kalimat terakhir Jaejoong sebelum tubuhnya terasa terangkat lalu terbanting kuat dan tidak sadarkan diri. Yunho memekik, ia tidak lagi mengindahkan perintah Tuannya, Yunho mendekati tubuh jaejoong, memeluknya.
"Bawa dia"
Yunho mengerling, rahangnya menegas, ia benar-benar diambang emosi, namun apalah dayanya, ia hany seorang budak seorang Iceman, penguasa kegelapan.
...
Donghae memijit tengkuknya yang terasa pegal, Mereka sudah berjalan membelah hutan dan kini berada di tepi sungai, Siwon sendiri sedang berjongkok di atas sebuah batu, menahan aliran air dengan tangannya lalu membasuh wajahnya, ia memperhatikan sekitarnya, sangat tenang, damai, hanya gemerisik suara air dan gemerincing pohon-pohon bambu yang bergesekan, daun-daun yang berguguran dan burung-burung yang terbang kesana kemari.
Siwon mendekati Donghae yang tengah memijit tungkai kakinya, namja itu meringis sebentar sebelum duduk berselonjor.
"Siap berjalan lagi?"
Donghae menggeleng.
"Kita istirahat sebentar" keluhnya menyeka keringat di pelipisnya.
Siwon mengangguk, ia mengeluarkan beberapa roti dari balik tas nya, membagi bersama Donghae untuk sekedar mengisi tenaga.
"Siwon"
"Eum?"
"Apa kau yakin bisa melawan Iceman?"
Siwon terdiam, kunyahannya terhenti hanya untuk sekedar melirik Donghae.
"..."
Donghae meneguk air sebelum melanjutkan kata-katanya.
"Maksudku, kau tahu bukan, kita hanya manusia biasa"
Siwon mengiyakan, ya mereka hanya manusia biasa, dibandingkan Iceman yang.. ah.
"Entah, aku bahkan tidak bermaksud melawannya" Bingung Siwon.
"Huh?"
"Yeah, awalnya mungkin iya, kau tahu euum maaf tapi Guixian membawa sesuatu yang lain, dia berhasil meyakinkan kemampuanku" Siwon berucap hati-hati, takut jika Donghae kembali salah menyangka.
"Hhh, aku juga menyadari itu Siwon-ah"
"..."
"Guixian memiliki kemampuan luar biasa, aku bisa merasakannya"
Siwon tersenyum, Donghae mulai bisa menerima keberadaan Guixian tatkala namja itu sudah pergi meninggalkan mereka. Luar biasa.
Bruk!
Siwon berdiri waspada, sebuah suara dari balik pepohonan membuyarkan sisi hening mereka, Donghae berkemas tanpa bersuara, takut-takut jika mereka harus berlari tiba-tiba.
Siwon berjalan mendekati rimbunan bambu asal suara itu, menyibak yang terpendek dan matanya membulat. Donghae yang mengendap-endap dibelakangnya berbisk lirih dengan pandangan tidak percaya.
"Tidak mungkin.." Bisiknya.
"..."
"..."
"KYUHYUN!"
TBC...
Satu persatu rahasia timbul hehehe
So ada pencerahan siapa itu Guixian? Atau Kyuhyun? Jaejoong? Atau bahkan Bloody witch? Hahahah tenang-tenang, ff ini akan segera berakhir, mungkin 2- 3 chapter lagi lah..
Maaf kalau qai susah nulis review atau sejenisnya, qai orangnya straight to the point hahahahaha, but tetap qai merasa berterima kasih banget masih banyak yang menunggu ff qai :')
Jadi jika qai bakal bikin ff lagi, masih maukah anda menunggu?
LOVE
Qai_
