It's My Secret, Mr. Dong-Hm
Rated: T, Indonesian, Mystic, Romance&Friendship
Warning : OOC, GS, typos, garing, kegalauan, dll.
Cast: Lee Hyukjae as. Choi Eunhyuk
Lee Donghae as Lee Donghae
Lee Sungmin as. Lee Sungmin (Hae's sister)
Cho Kyuhyun as. Cho Kyuhyun (Hyuk's cousin)
KangTeuk as. Hae&Min's parents
HanChul as. Kyu's parents
SiBum as. Hyuk's parents
Some EXO, CN Blue, SHINee and FT Island member's names as. other secret casts
Disclaimer : Semua tokoh dalam ff ini milik Tuhan, nama-nama cast hanya dipinjam untuk kepentingan cerita. Dan udah dibilangin Donghae itu suami saya! *dicekek ELFishy rame2* *lari naek awan kinton* :DD
.
.
0o0o0o0o0o0o0
DON'T LIKE? JUST CLOSE THIS PAGE PLEASE^^
0o0o0o0o0o0o0
.
.
.
2 jam bersama Donghae ternyata tidak buruk. Kami mengobrol banyak hal, mulai dari masa kecilku yang suka berkelahi dan mencuri mangga, kehidupannya di kampus yang tak biasa, sampai kebiasaan Yesung oppa berganti buku setiap hari. Tanya kenapa? Tak lain dan tak bukan akibat hobinya tidur di kelas yang tentu saja menghasilkan 'peta cair'. Aku ngakak parah saat Donghae menirukan wajah Yesung oppa yang sedang bangun tidur. Yah... walaupun agak ganjil rasanya, saat aku melontarkan candaan dia hanya merespon dengan 'hm' karena harus menahan tawa. Kasihan juga, padahal menahan tawa menurutku sangat tidak enak. Mirip-mirip menahan pipis begitu lah. Muehehehehe~
"Hyukkie, noonaku jam segini pasti sudah perjalanan dari kantor. Kau mau ke rumahku atau langsung pulang saja?" tanya Donghae, sambil menyeruput cangkir latte keempatnya.
"Um... aku kerumahmu saja"
"Kau tipe-tipe tidak bisa menahan penasaran ya?" cetusnya jenaka.
Aku memanyunkan bibir "Mulai lagi menggodaku. Nappeun namja!"
"Hm... ya sudah, kaja"
"Sebentar, aku kan belum bayar" aku merogoh tas mencari dompet, tapi tangan Donghae menahan tanganku.
"Aku saja yang bayar..."
"Tidak perlu Hae. Aku punya uang."
"Memang sudah kubayar semua kok tadi. "
Mataku menyipit kesal. "Kau ini selalu saja melakukan hal tak terduga. Aku benci padamu!"
Dan dinosaurus ini malah tersenyum. "Terima kasih kembali"
Aku menyambar tas dan berjalan keluar dengan langkah menghentak. Tadi atmosfernya sudah enak, sekarang kembali menyebalkan. Huuuuh! Namja macam apa sih dia ini?
Donghae menyusulku cepat dan meng-unlock alarm mobilnya. Tanpa menunggu Donghae membukakan pintu, aku masuk begitu saja. Setelah memasang seat belt Donghae tidak langsung menjalankan mobilnya. Sementara aku pura-pura melihat ke arah lain.
"Hyukkie?" panggilnya pelan
"Apa" jawabku tanpa menoleh.
"Kenapa marah?"
"Aku tidak suka dibayari oleh orang yang tidak dekat denganku"
"Sudah kewajiban seorang namja... kau tidak perlu memikirkan itu"
"Tapi aku tidak suka!"
Terlihat dari pantulan kaca, Donghae menggaruk tengkuknya. Haaah aku tak peduli, kalau aku bilang tidak suka ya tetap tidak suka.
"Mianhae... aku tak bermaksud menyinggungmu."
"Lupakan. Jangan kau ulangi."
Donghae menstarter mobilnya tanpa bicara lagi.
.
.
.
"...Tidak... jangan tinggalkan aku..."
"...Abeoji! Lebih baik aku mati!"
.
"Uung..."
.
"...Ini tidak mungkin. Tuan muda..."
"...Kau sahabat terbaikku. Jagalah ini untukku"
.
"Akh...!"
"...hyuk?"
.
"...Ingat kata-kataku!"
"...Kalau itu yang abeoji mau, baiklah. Jangan salahkan aku!"
CRAAAAAAASSSHHHHH!
.
"TIDAAAK!"
"HYUKKIE! Ya Tuhan, Hyukkie! Ireona!"
Bayangan-bayangan mulai menghilang berganti layar gelap ketika bahuku diguncang seseorang. Seberkas cahaya samar menyusup di sela kelopak mataku yang entah sejak kapan sangat sulit dibuka. Akh, pusing sekali... kepalaku serasa dihantam ribuan palu. Semuanya terlihat serba putih, bibirku gemetaran, tubuhku pun mengawang ringan seperti kapas. Apa aku sudah mati?
"Hyukkie-ah. Gwenchanayo?" suara seorang namja yang kukenal sedikit menggugah kesadaranku.
"H-Hae... Hae-ah..." panggilku lemah. Aku menggapai-gapai ke segala arah, berharap menemukan benda nyata yang bisa kusentuh.
Tangan kekar yang kuyakini milik Donghae mengusap pipiku. "Ini aku, bukalah matamu..."
Yang kulihat dengan jelas pertama kali adalah tatapan penuh kekhawatiran dari Donghae.
"Uunghhh..." aku melenguh, berusaha bangkit tapi tak sanggup"Aku... dimana?"
"Kau di kamarku, Hyukkie. Sebentar, aku ambilkan minum di kulkas"
Tak lama kemudian Donghae kembali membawa segelas air putih, dibimbingnya bibirku untuk minum. Cairan itu mengalir dingin di tenggorokanku yang memang terasa kering.
"Gomawo."
Seingatku, terakhir kali aku sadar masih berada dalam perjalanan pulang. Mengapa tiba-tiba aku sudah di sini? Aku memang merasa mengantuk waktu diantar Donghae tadi, namun setelah itu aku lupa segalanya.
Donghae meletakkan gelas yang sudah kosong di meja kecil sebelah ranjang. "Kau berteriak dalam mimpimu"
"Benar, sepertinya aku mimpi buruk"
"Hm? Tentang apa?"
"Aku tidak seberapa ingat... " gumamku "...tapi mengerikan. Darah, orang bertengkar, penyiksaan, namja yang meregang nyawa... huek"
Perutku jadi mual.
"Kita tunggu noona pulang. Kau istirahat saja di sini ne, jangan membantah. Aku sungguh cemas melihatmu seperti tadi" dia duduk di sampingku dan mengelus rambut coklatku dengan hati-hati. Senyuman yang biasanya tenang kini tampak dipaksakan. Apa yang sedang kau sembunyikan dariku, Hae?
Ehm. Tapi kalau boleh jujur...
Sekarang aku ingin berkata...
.
.
"KEMANA SEPATUKU?!" aku menjerit histeris melihat kedua kakiku sudah naked tanpa pelindung sehelaipun.
"Hm?"
"SEPATU, HAE! SEPATU!"
"Hyukkie, aku tidak apa-apa" kata Donghae.
"TIDAK APA-APAAAAA?" pekikku emosi "Kau sudah lupa kejadian waktu itu hah? Bau menjijikkan begitu bagaimana bisa kau bilang—"
Ucapanku terhenti seketika saat tubuh Donghae bergeser secepat kilat menuju kakiku, meraihnya dengan kedua tangan, kemudian dia men... men...
MENCIUMNYA.
Mataku melotot tak percaya.
DONGHAE MENCIUM KAKIKU.
SEORANG LEE DONGHAE MENCIUM KAKI BAU CHOI EUNHYUK YANG PERNAH MENYEBABKAN KEKACAUAN DI RUMAH INI.
Katakan aku belum bangun! Katakaaan! *author mual diguncang-guncang Hyuk*. Kau lihat wajah namja itu sekarang hah? Tenang sekali seperti air kolam! Kau lihat apa yang sedang dia lakukan? Matanya bahkan terpejam menikmati setiap jengkal kakiku, menghirupnya dalam-dalam seperti sebongkah isi pengharum ruangan!
Lee Donghae pasti sudah GILA.
Kini dia mendongak. Aku kehilangan akal sehat saat sepasang mata bening itu memancarkan pesonanya, menatapku sayu, membuat detak jantung ini lebih kencang di luar kontrol.
A-apa yang terjadi pada jantungku?
"Wanginya... hmm..." gumam Donghae lirih.
"Kau tahu? Memabukkan... seperti sakura yang sedang mekar, Hyuk" hidungnya kembali menciumi telapak kakiku dengan intens. Wajahku memanas melihat perlakuannya.
"Aku suka wangi kakimu..."
DEG DEG DEG DEG DEG
"Kau.. kau pasti mengigau Hae. Jangan berbohong."
"Apakah mataku terlihat sedang berbohong, hm?" dia merangkak maju, semakin mendekati tubuhku yang masih terduduk dengan kaki membujur. Eh? Eh? EEEEEEH? Dinosaurus ini mau apaaaaaa?
"Aku sejak dulu ingin selalu bisa menyentuh dan menciumnya..."
Sejak dulu? Hei, Choi Eunhyuk! Kenapa kau diam saja?
Waa, waa, bibirnya sudah sejengkal saja di depan hidungku! Eommaaaa eottokheeee?
DEG DEG DEG DEG DEG DEG DEG DEG DEG DEG DEG DEG DEG DEG DEG—
.
.
"Uehhem!"
Refleks kudorong kepala Donghae hingga dia terjungkal jatuh. Terima kasih pada Leeteuk ahjumma yang membelikan kasur ukuran besar untuk orang ini. Kalau tidak, aku jamin dia sudah gegar otak atau sedikitnya patah tulang ekor.
"S-sungmin eonni?" kataku pada sosok manusia berseragam polisi yang tiba-tiba sudah berdiri di ambang pintu
Pelaku peng-ehem-an tadi melambai-lambaikan tangan tanpa dosa. "Annyeong~"
"Mianhae nee aku harus pakai masker, perlu kujelaskan kenapa?" aku menggeleng. Donghae merengut. Sungmin eonni terkikik.
"Tak kusangka baru bertemu sebentar kalian sudah 'akrab' begini eoh?" goda Sungmin eonni sambil tangannya memberikan gestur kutip pada kata AKRAB. Yaiiish, kenapa dia jadi mirip appa sih?
Donghae yang masih cemberut tanpa penjelasan langsung menyeret kakaknya keluar kamar.
"Tunggu ya yeodongsaengkuuuu!" teriak Sungmin eonni.
BLAM.
Fuuuuuhhhh.
Yang tadi itu... nyata tidak ya?
Aduuuh... pipiku panas...
Eunhyuk POV end
Normal POV
"Noona membuatku malu"
Sungmin tertawa keras sampai perutnya kram melihat wajah adiknya yang seakan berkata brengsek-betul-kau-hancurkan-momen-indahku
"Kau sendiri kenapa main sosor saja? Hahahahhahahaha.. hahahahahaahhahaha..."
"Noona! Aku tidak nyosor!" elak Donghae, blushing.
"Hahahahaha...! Hae-ah, omo... noona sungguh tak mengerti apa yang terjadi padamu. Kau mau mengulang sejarah, eoh?"
"Peduli sejarah atau bukan, tadi instingku menyuruh begitu"
"Oooh... sekarang pintar beralasan yaa..." Sungmin mengedipkan mata genit sambil menoel-noel wajah Donghae yang sudah jadi ungu. Tawa Sungmin meledak lagi melihatnya. Donghae yang biasanya cool, Donghae yang tidak pernah tertawa sedang malu-malu?
"Kau mau aku buat hamil, noona?"
"Huh, ancaman macam apa itu!" protes Sungmin "Baiklah, mau bicara apa?"
Donghae celingak-celinguk waspada, kemudian membisikkan sesuatu di telinga noonanya. Sungmin kemudian tersenyum mengerti.
"Akan kulakukan segera, kau tenang saja..."
"Gomawo nae noona~"
Sementara itu sodara-sodara, uri monkey princess yang berada di dalam tampaknya sedang dalam proses mencerna kejadian yang barusan menimpanya. Bukan, bukan saat Donghae mau nyosor, tapi saat Donghae mencium benda keramat alias kaki Eunhyuk yang kalian tahu efeknya bagi kesehatan kan? Tentunya kalian juga masih ingat kalau Eunhyuk pernah berpikir bulu hidung Donghae lebat sampai tidak bisa mencium bebauan dengan benar. Nyatanya? Donghae malah berkata kaki Eunhyuk seharum sakura... Itu membuktikan hidung Donghae jelas masih waras kan?
"Berarti analisisku dulu salah ya?" Eunhyuk berkata pada dirinya sendiri.
"Aaaash kenapa otakku jadi buntu begini sih!"
Eunhyuk mengacak rambutnya frustasi. Memikirkan hal itu kepalanya malah makin pusing. Eunhyuk merebahkan diri kembali di kasur Donghae, dan beberapa detik kemudian terdengar dengkuran halus dari mulutnya.
"Lho, anak ini sudah tidur lagi?" Donghae yang baru saja membuka pintu kamar menggeleng heran. Sungmin menyusul masuk.
"Sana, mandi dulu Hae. Biarkan dia sendiri." kata Sungmin.
"Noona sudah makan?"
"Belum. Ah, bilang pada mereka aku sedang ingin yukkaejang... Stok kepiting masih ada kan?"
Donghae mengangguk, sebelum beranjak pergi dia menoleh ke arah Eunhyuk sekilas.
"Nal gidalyeo..."
0o0o0o0o0o0o0
Once upon a time...
Seorang gadis manis berusia sekitar 18 tahun duduk di bawah naungan pohon sakura. Rambutnya yang panjang sepunggung hampir penuh dijatuhi putik sakura yang rontok terbawa angin. Ya... ini sedang pertengahan musim semi. Musim yang kebanyakan orang bilang penuh warna, karena banyak sekali jenis bunga yang bermekaran lebat di musim ini. Kaki si gadis berkecipak di pinggir sungai kecil nan bening, sesekali tangannya melempar batu kerikil di genggamannya untuk mengusir rasa bosan. Sepertinya dia sedang menunggu seseorang.
"Chagiyaaaaaaaaaa!"
Gadis itu menoleh. Bukannya senang, wajahnya malah semakin masam melihat namja yang berlari kesetanan ke arahnya.
"Lama!" sungut gadis itu sambil membuang muka. Si namja yang kini sudah berada di sampingnya terduduk kasar dengan napas tersengal.
"Mianhae—hosh—mianhae. Jongin hyung—hosh—agak sulit—hosh—menyelundupkanku tadi"
Kemarahan si gadis menyurut, berganti dengan senyum. "Kali ini apa lagi akalnya?"
"Sebentar, biar aku—hosh—bernapas dulu"
"Jongin hyung mendandaniku jadi wanita panggilan!" sungut si namja setelah berhasil menghirup oksigen sebanyak-banyaknya "Kurang ajar sekali. Bisa-bisanya dia bilang aku habis disewa Kwon ahjussi dan berniat mengantarku pulang ke rumah bordil"
"Mwo? Muahahahahaha..." gadis itu tertawa geli sampai gusinya terlihat.
"Sialnya saat aku dan Jongin hyung bersandiwara di depan penjaga, Kwon ahjussi lewat dan berkata 'sepertinya aku mengenali wajah ini'. Aku hampir mati gugup tadi" lanjut si namja.
"Omona... lalu?"
"Jongin hyung dengan cerdasnya berbisik pada penjaga kalau semalaman Kwon ahjussi mabuk. Ah, panjang pokoknya. Yang penting aku selamat!"
Si gadis merangkul namjachingunya dengan erat. "Kapan-kapan kau harus memberi dia hadiah, Donghwa..."
Namja yang dipanggil Donghwa itu nyengir, "Iya juga ya. Akan kuberi dia salah satu dari koleksi mulgogiku yang baru datang dari Jepang!" ucapnya bersemangat.
"Buat apa kau kurangi saudaramu? Dia kan sukanya kura-kura!"
"Ara, ara, nanti kubelikan dia kura-kura. Kau mau hadiah juga tidak?"
Gadis itu tersenyum. "Tidak perlu membelikanku apapun, babo"
"Kenapa?"
"Karena Seorang Choi Minhyuk hanya membutuhkan Lee Donghwa..."
Mereka saling memandang untuk beberapa saat, sampai tangan Donghwa terulur meraih Minhyuk, membawa gadis itu dalam pelukannya...
.
.
.
"Jelaskan apa maksudnya"
Suara berat seorang pria berusia 40 tahun memecah keheningan ruangan itu. Asap tembakau dari pipa yang sedang dipegangnya mengepul kemana-mana. Mata pria baya itu—Lee Jonghun— menatap tajam kedua pemuda yang berdiri ketakutan di depan mejanya. Rahang Jonghun mengeras ketika mendapat laporan dari seorang pegawai, bahwa anaknya tertangkap basah sedang bermesraan dengan seorang gadis di tepi desa.
"Lee Donghwa! Kim Jongin!" bentaknya penuh amarah. Dilemparnya vas berlapis emas di atas meja hingga pecah berkeping-keping. Sang istri yang berada di sampingnya menutup mulut dengan kedua tangan, kaget atas tindakan suaminya.
"Sudah kukatakan berapa kali tentang ini, telinga kalian sudah tuli eoh!?"
"Maafkan saya tuan besar, ini bukan salah tuan muda..." Jongin berucap pelan, membela Donghwa.
"Aku mempercayakan Donghwa padamu dan ini balasannya? Anak pelayan tak tahu diri!"
Donghwa mengangkat wajahnya "Abeoji...!"
"Jangan panggil aku abeoji!"
"Yeobo... Sudahlah..." suara serak sang istri mencoba meredam amarah suaminya.
"Diam Hongki! Kau juga tak becus mendidik anakmu!"
Mata wanita itu mulai berair.
Suasana kembali hening. Yang terdengar hanya detak jam kuno di dinding dan isakan pelan Hongki.
"Aku mencintainya, abeoji..."
Ketiga orang lain yang berada di ruangan itu serempak melotot ke arah Donghwa. Emosi Jonghun tak bisa ditahan lagi. Serta merta dia berdiri dan menampar pipi Donghwa sekeras-kerasnya, melampiaskan kemarahan atas sikap Donghwa yang berani menentang abeojinya sendiri. Jongin dan Hongki hanya bisa diam terpaku, tak mampu berbuat apapun atas kuasa mutlak seorang Lee Jonghun.
"Jauhi gadis itu" Jonghun bertitah dengan nada mengintimidasi. Tangannya mencengkram erat krah baju Donghwa.
PLAK! PLAK! "Jangan mengacuhkan aku! Jawab!" dua tamparan lagi melayang. Namun Donghwa tak bergeming sedikitpun. Tangisan Hongki makin keras, hatinya teriris melihat anaknya ditampar berkali-kali. Jongin menunduk dalam. Walaupun nuraninya berteriak ingin menolong Donghwa, dia sadar posisinya di sini tak lebih dari sekedar pelayan.
"Jwesonghamnida abeoji... aku sungguh mencintainya..." ucap Donghwa lembut, tak terpengaruh perlakuan Jonghun.
"Dia gadis baik dan pandai, abeoji. Dia juga tidak matrealistis, apa adanya, tidak seperti gadis lain yang hanya berpura-pura anggun di depanku karena menginginkan harta abeoji..."
Donghawa menghela napas. "Aku menyayangi keluarga ini dan Jongin hyung yang kuanggap kakakku sendiri. Selama ini aku selalu menuruti perintah abeoji dan eommonim tanpa membantah. Prestasiku di sekolah tidak pernah sekalipun di bawah rata-rata. Aku juga belajar ilmu perdagangan demi abeoji. Sekarang aku hanya minta izin untuk memilih sendiri pendampingku, mengapa abeoji tidak mau berbelas kasihan padaku...?"
"CUKUP!" teriak Jonghun murka "Setinggi apapun kau memuji gadis kampung itu, tak ada pengaruhnya bagiku!" Tubuh Donghwa dihempaskan begitu saja ke tembok.
"Dengarkan aku, anak muda" telunjuk Jonghun teracung ke arah Donghwa "Keluarga Lee adalah bangsawan terpandang di seantero Korea sejak puluhan tahun lalu. Kami bekerja keras membangun citra dan kekayaan demi menjaga nama baik, merawat kilaunya bak berlian, dan kau mau menghancurkan jerih payah keluargamu? Hanya demi putri keluarga Choi yang bahkan berstatus petani biasa?"
"Hongki, kurung anak ini di kamar sampai dia menyadari kesalahannya. Dan kau, Jongin, jika kau masih ingin keluargamu bekerja di sini, berhentilah ikut campur urusan keluargaku!" Jonghun melangkahkan kakinya pergi dan membanting pintu ruangan dengan kasar.
Hongki buru-buru menghampiri putranya yang masih bersimpuh lemah, mengusap darah di pelipis Donghwa dengan sapu tangan. Jongin membantu majikannya, menjadikan bahunya sebagai tempat sandaran.
"Anakku, aku tahu tidak seharusnya mengatakan ini. Tapi bagi abeojimu berlian tetap harus dipasangkan dengan berlian..." Hongki membujuk Donghwa dengan berlinang air mata. "Turutilah dia nak, aku tak sanggup melihatmu disiksa seperti ini... hiks..."
"Eommonim, uljima..."
"Aku bisa apa nak? Aku ingin membiarkanmu bahagia, tapi aku bisa apa?" tangis Hongki membuncah. Donghwa memeluk Hongki untuk menenangkannya. Dia tidak tega melihat ibunya menangis terus. Namun Donghwa adalah seorang pria, tak mungkin dia menyerah begitu saja hanya karena satu orang menentangnya.
"Aku akan menghadapi abeoji, eommonim. Apapun yang terjadi aku tetap mencintai Minhyuk"
.
.
.
TBC
Nangis guling-guling x(
Apa iniiii? Kok ga brenti-brenti kebiasaan bikin readers bingung yaaaa! Muehehe. Silahkan pukul aku sepuasnya. Gimana-gimana? Akar permasalahannya udah bisa nebak belum?
Di chap depan semuanya akan aku bongkar total, dan petualangan HaeHyuk yang sebenarnya baru akan dimulai *jeng jeng*. Sori kalo lama updatenya, aku agak ngambek sama siders... jumlah views udah tigarebudelapanratus sodara2, hadeeeh. Padahal aku butuh banget masukan, yah walaupun sekedar say hi juga ga masalah. Jahatnya si siders niih... :(
Lupakan siders, mari membalas review dari yang tercinta saja! :D
Cho eun ji : Lawak? Amacaaaaakk? Heuheuheu gomawo... Tapi jangan kaget sama chap ini yaa... annyeong^^
Kyuminnnnnn : Yaelah ni anak bandel bgt n-nya gamau dikurangin juga :O
Eeh aku bilangin abang Kyu loh ya shippernya ada yang nakal! Ga boleh bikin orang menderita nak... dosa... wkwkwkwkw
Guest : Huweeeeeeeeee, pendeeek? *lari ke pelukan Donghae* mianhae2, kemarin mampunya cuma segitu...
Nurichan4 : Yeeee aku juga mau kali neng... hihihi :D
shizu indah : udah update nih...^^
Arum Junnie : sumpah aku juga mau chingu xO kira-kira aja deh, chingu maunya gimana? :)
PattOws : Sama-sama sayang... keep review yaa^^
ChoI Jaeseumin Hyangsu : makasih banget udah mau ikutin dari awal chingu... :')
Guest : Udaaaaaah sayaaang^^
Lee Chizumi : kalau masih penasaran di chap ini gimana kekeke~
Princess Kim : Annyeong yeodongsaeng^^ iyayaya udah lanjut niih...
chen clouds : Gomawo gomawo gomawo^^ doain aja bisa update cepet terus..
Kim Haemi : Bukan saya yang bikin anak anda gila, ahjumma! Bukan saya! *dipentungi teflon*
Iya sayaaang, udah update ini...^^
Huhuhu...terharu :')
Cuma bisa doain semoga kalian diperlancar semua urusannya, sama seperti kalian mensupport aku :)
Love you as always, lee Shin Hye
