It's My Secret, Mr. Dong-Hm
Rated: T, Indonesian, Mystic, Romance&Friendship
Warning : OOC, GS, typos, garing, kegalauan, perasaan terombang-ambing(?), dll.
Cast: Lee Hyukjae as. Choi Eunhyuk
Lee Donghae as Lee Donghae
Lee Sungmin as. Lee Sungmin (Hae's sister)
Kim Ryeowook as. Kim Ryeowook (Hyuk's pal)
Kim Jongwoon as. Kim Jongwoon/Yesung (Wook's namjachingu)
Some EXO, CN Blue, SHINee and FT Island member's names as. other secret casts
Disclaimer : Semua tokoh dalam ff ini milik Tuhan, nama-nama cast hanya dipinjam untuk kepentingan cerita. Dan udah dibilangin Donghae itu suami saya! *pendem diri dalem tanah*
.
.
DON'T LIKE? JUST CLOSE THIS PAGE PLEASE^^
0o0o0o0o0o0o0
"Semalam tidur jam berapa? Mengerjakan apa? Memikirkan siapa?"
"Mau kubocori sebuah rahasia?"
"Bahkan turtle addict-nya pun sama dengan namjachinguku itu. Hahahahaha..."
"Semakin ramai semakin seru kan?"
0o0o0o0o0o0o0
.
.
.
Pukul 9 pagi di kota Seoul. Jalanan dipenuhi orang-orang yang hendak melakukan aktivitas masing-masing. Yang agak berbeda hari ini adalah sedikit sekali anak berseragam sekolah yang biasanya memenuhi halte bus, karena kebanyakan sekolah sudah mulai meliburkan siswanya.
Yap, minggu pertama musim panas. Dimana kalian akan banyak menemukan wanita dengan baju tipis dan hot pants dianggap wajar berseliweran di tengah kota, lumayan juga buat cuci mata para namja-namja gatal.
Tak jauh berbeda dengan Ryeowook. Rambut coklat sebahu yang sehari-harinya halus dan rapi diikat berantakan. Cuaca yang gerah membuat Ryeowook enggan keluar apartemen nyaman miliknya. Sampai saat ini pun kerjaannya hanya berguling-guling di karpet, makan es krim atau menonton TV. Yesung sedang sibuk bimbingan proposal tugas akhir di rumah Jung seonsaengnim, sementara tidak bisa diharapkan untuk menemaninya.
"Uwooohhh..."
Entah sudah keberapa kali Ryeowook merenggangkan tubuh. Bosan, iya. Malas, iya. Tak ada kerjaan, iya. Kampus sudah libur sejak sehari yang lalu.
"Babonikka" Ryeowook menepuk jidatnya "Kenapa aku tidak menyuruh Hyukkie ke sini?"
Ryeowook lari ke kamar mengambil ponsel dan langsung menelepon Eunhyuk, tepat pada nada sambung kelima baru teleponnya diangkat.
"Hngh... hyeo~bhoseyHOAAAAAAHHHHhhmm...?"
"Astaga Hyuk, kau baru bangun? Gadis perawan bangun jam segini?!"
"Hini hiapaaa...?"
Ryeowook mendekatkan bibir ke speaker dan berteriak "AKU EOMMAMU!"
"Hah?" suara Eunhyuk terdengar gelagapan "A-annyeong eomma, mianhae... tidurku semalam tidak nyenyak eomma, ngomong-ngomong suara eomma kok mirip Wookie?"
"MEMANG AKU WOOKIE, BODOH!" keterlaluan sekali. Suara cempreng begitu mana ada miripnya dengan suara low tone Kibum yang berwibawa coba?
"Aigoooo... ini eomma apa Wookie? Ah, aku pasti sedang mimpi... aku tidur lagi saja..."
Hening 5 detik.
"Hyukkie! Banguuun!"
"Hngg... hada hapa hih..."
"Aku kesepian Hyuuuk~ temani aku di apartemen neee~" Ryeowook merengek manja. Di seberang sana Eunhyuk masih berusaha menyatukan rohnya yang melayang-layang di udara. Monyet satu ini memang paling susah dibangunkan.
"Kau saja yang ke sini... hooaaaaahhh...rohku...masih...tamasya..."
"Huhuhu... di luar panaaaaass Hyuk... kau kan tahan panas, ya ya ya? Mau ya?" rayu Ryeowook.
"...Zzzzzzz..."
Tut-tut-tut-tut-tut-tut-tiiiiiiiiiiiiiiiiiiiittt... #DZING #emang pengukur detak jantung?!
"Kampret, dia tidur lagi!"
Ryeowook putuskan untuk merelakan diri ke rumah Eunhyuk saja. Mau sampai jamuran menunggu juga percuma. Dengan hati dongkol yeoja mungil itu berganti pakaian, mengoleskan sunblock gila-gilaan di sekujur tubuh, tak lupa kacamata hitam dan topi sebagai pelindung panas.
"Tuhan, aku mohon jangan gosongkan kulitku" doanya sambil menepuk tangan dua kali di atas kepala.
.
.
.
Hyuk's house
"Neraka benar-benar bocor"
"Di jalan tadi lidahku sudah terjulur terus minta diberi yang segar-segar"
"Tahu begitu aku bawa minum... huh"
"AC taksi sampai tidak mempan"
"Aigoo badanku jadi lengket lagi, rumahmu tidak ada semutnya kan Hyuk?"
Begitulah keluhan beruntun Ryeowook pada Eunhyuk—yang matanya bengkak dengan lingkaran hitam yang kentara. Lebih tepatnya Ryeowook mengeluh pada dirinya sendiri, habis Eunhyuk di sebelahnya sama sekali tidak menyimak.
"Hyukkieeeeee kau dengar tidak sih!" Ryeowook sebal karena diacuhkan.
"Ha?"
"Teruskan saja ya, kau memang tidak sayang aku!"
"Aku ngantuk..." sahut Eunhyuk seadanya.
"Semalam tidur jam berapa? Mengerjakan apa? Memikirkan siapa?"
Eunhyuk melempar sahabatnya dengan bantal sofa. "Cerewet! Sudah kubilang semalam tidurku tidak nyenyak!"
Yang menjadi sasaran lempar ganti menggebuk kepala Eunhyuk. "Yaaa! Makanya cerita padaku, tidak nyenyaknya karena apa!"
Eunhyuk tidak berkata apapun, malah mengulurkan sebuah buku bersampul kulit yang agak lusuh pada Ryeowook. Yeoja mungil itu membolak-baliknya dengan heran. Sepertinya usia buku ini sudah tua sekali.
"Bacalah sendiri"
Flashback (Eunhyuk's POV)
Mimpi itu datang lagi, seolah melengkapi potongan-potongan pasel yang sempat datang sebelumnya. Sayang harus terpotong lagi di tengah jalan.
Kutopangkan daguku di kedua lutut, berpikir, mencoba menarik benang merah antara mimpi itu dan keadaanku sekarang.
Choi Minhyuk - Lee Donghwa.
Choi Eunhyuk - Lee Donghae.
Astaga dragon.
Tidak mungkin! Jangan bilang Choi Minhyuk itu adalah nenek buyutku, dan Lee Donghwa adalah...
Kakek buyut DONGHAE?!
Lalu siapa namja yang bernama Kim Jongin?
Kim... Kim Jongin... Kim Jongwoon... eh, Jongwoon? Si Yesung?
Otakku memutar ingatan saat pertama kali menceritakan masalahku pada Yesung oppa, kemudian dia bilang appanya kena kutukan karena 'kesalahan kakek buyutnya'.
Tak salah lagi, pasti ada hubungannya dengan seseorang bernama Kim Jongin itu. Masalahnya kalau memang benar Kim Jongin menurunkan kutukan pada appanya jin kura-kura itu, kenapa malah aku dan Donghae yang kena? Kenapa bukan Siwon appa atau Kangin ahjussi? Marga kami bertiga sama persis dengan di dalam mimpi, jelas kasus ini mengikuti garis darah pihak laki-laki.
Aku mendesah. Kulirik weker bercorak nemo di sebelahku, sudah jam 10 malam dan aku masih berada di rumah Donghae. Suasana sangat sepi, mungkin mereka semua sudah pergi tidur. Baru saja hendak beranjak turun dari kasur, aku tersadar kalau kakiku tidak tertutupi apapun.
"Aduh, eottokhe? Sepatuku mana?"
Aku memeriksa setiap sudut kamar Donghae, bawah sofa, kolong ranjang, ah ini dia! Ternyata ada di kolong ranjang.
Dengan langkah gontai aku beranjak keluar kamar, siapa tahu ada pelayan yang masih terjaga. Aku ingin bertanya soal mimpiku tadi pada Sungmin eonni.
"Nona Eunhyuk, anda sudah bangun?" tanya seorang maid yang sedang lewat sambil membawa kain pel dan ember.
Aku tersenyum sopan. "Iya, baru saja. Di mana Sungmin eonni dan Donghae?"
"Tuan muda ke bandara menjemput tuan dan nyonya besar, nona muda sedang di kamarnya. Mari saya antar."
Aku mengikuti maid itu naik ke lantai dua dan berhenti di depan kamar berpintu pink.
"Permisi nona muda, nona Eunhyuk ingin bertemu anda..." diketuknya pintu dengan perlahan. Terdengar suara kunci diputar menyusul kepala Sungmin eonni yang menyembul di celah pintu. Sungmin eonni memberiku isyarat untuk masuk, kemudian menggandengku menuju balkon.
"Bagaimana keadaanmu?"
"Baik, eonni" jawabku sambil mendudukkan diri di salah satu kursi balkon. Sungmin eonni memutar arah kursinya menghadapku, lalu meraih cangkir cokelat panas di meja yang terletak di antara kami. Ada sebuah buku kecil—yang menurutku jelek dan kuno—di sebelah cangkir itu. Semacam diary vintage, huh?
"Kau bermimpi hal aneh lagi ya?" tebaknya. Ah, kakak Donghae ini tidak pernah salah menebak pikiranku.
Aku menganggukkan kepala. "Tentang beberapa orang. Di antaranya bernama Minhyuk, Donghwa, dan Jongin. Selain itu aku lupa-lupa ingat..." ujarku.
Yeoja di depanku tersenyum. "Kau tahu siapa mereka?"
"Um... aku merasa sedikit familiar. Tapi kupikir cuma kebetulan saja, bunga tidur."
"Mau kubocori sebuah rahasia?" celetuk Sungmin eonni. Aku memandanginya dengan antusias.
"Ceritakanlah, eonni"
Sungmin eonni membelokkan pandangannya ke langit. "Mimpimu itu, masa lalu pendahulu kita..."
"Lee Donghwa adalah kakek buyut kami. Seseorang yang hampir tidak diketahui namanya dalam silsilah keluarga. Seseorang yang dicoret dari pohon kebangsawanan keluarga Lee karena melanggar aturan dengan mencintai gadis dari keluarga biasa...
Gadis dari keluarga Choi. Choi Minhyuk, nenek buyutmu."
Eunhyuk POV end
Normal POV
"...Gadis dari keluarga Choi. Choi Minhyuk, nenek buyutmu."
'Sudah kuduga...' pikir Eunhyuk.
"Seorang gadis desa yang digambarkan sangat manis, periang, wangi tubuhnya selembut sakura, dan mempunyai kebiasaan berjalan tanpa alas kaki. Bukan tidak mampu beli, sudah dibelikan berkali-kali malah sengaja dirusak atau dibuang. Usut punya usut dia memang suka membiarkan kakinya kotor, jadi punya alasan untuk pergi mencuci kaki di sungai. Padahal sih cuma modus licik agar bisa bertemu dengan kakek.
Gadis yang kocak dan seenaknya ya? Hihihi..." Sungmin tertawa kecil di sela ceritanya. Eunhyuk ikut tertawa, merasa ada kemiripan antara dia dan Minhyuk.
"Kakek begitu mencintai nenekmu walau harus sembunyi-sembunyi dari ayahnya. Yah, orang jaman dulu amatlah kolot. Perbedaan status amat menentukan kelangsungan hidup seseorang." lanjut Sungmin lagi.
"Lalu apa yang terjadi dengan mereka?"
Sungmin mendesah panjang. "Mereka dipisahkan, tentu saja."
"Dalam mimpiku aku sempat melihat kakek Donghwa dimarahi... sampai situ, lalu aku terbangun."
Sungmin mengulurkan tangannya, menyentuh buku lusuh yang sempat tidak dihiraukan Eunhyuk. Jemari Sungmin menelusuri lekuk buku itu dengan hati-hati, seolah bisa hancur kapan saja jika dia terlalu kasar.
"Buku ini adalah catatan pribadi Kim Jongin, kakek buyut Yesung" kata Sungmin. "Beliau sempat menuliskan kisah mereka di sini, itulah kenapa aku bisa mengetahui segalanya Hyuk."
Eunhyuk terperangah kaget. "Bagaimana bisa eonni mendapatkannya? Yesung oppa sendiri tidak pernah menyinggung tentang keberadaan buku itu."
"Kau ingat kecelakaan beruntun bus pariwisata yang terjadi setahun lalu?"
"Yang menuju arah danau Cheongpungho itu?"
"Ne, kakek Yesung jadi salah satu korban tewas. Akulah yang saat itu bertugas menyisir dan mengevakuasi tempat kejadian perkara. Benda ini tidak sengaja kutemukan sehari setelah kecelakaan, terselip dalam sebuah tas di bawah bahu jalan. Aku lantas menelusuri pemiliknya berdasarkan identitas yang tercecer di sana dan akhirnya bertemu Yesung. Karena banyak huruf yang luntur dia minta tolong aku meneliti terlebih dahulu."
Mulut Eunhyuk membentuk huruf o sambil manggut-manggut tanda mengerti. Dia sendiri tidak tahu kalau kakek Yesung sudah meninggal, karena memang baru beberapa bulan saja dia kenal Yesung dari Ryeowook.
"Bawalah." Sungmin mendorong buku itu ke arah Eunhyuk. "Jangan kaget ya kalau kau akan sering bermimpi setelah membacanya. Karena jalan satu-satunya mereka berkomunikasi dengan kita hanya lewat mimpi..."
Tiba-tiba angin dingin berhembus kencang. Wajah Eunhyuk yang semula biasa menjadi tegang. Sungmin yang menyadari perubahan itu sontak merasa khawatir.
"Hyukkie, museun iliya?" tanya Sungmin. Eunhyuk tetap diam tak bergeming. Tangannya meremas erat ujung kaos yang dia kenakan.
"Hyukkie?" Sungmin mulai menepuk-nepuk bahu Eunhyuk panik.
"Eonni... mianhae..."
"M-mianhae?"
Sambil menggaruk tengkuknya Eunhyuk nyengir malu-malu.
"Aku barusan kelepasan kentut eonni... ehehe... bau tidak?"
Kemudian hening. Hening sekali.
Flashback end
"Ca—catatan—Kim—Jong—In"
Ryeowook susah payah mengeja huruf hangul yang tertulis samar di halaman pertama.
"Kim Jongin itu kakek buyut Yesung oppa." jelas Eunhyuk sebelum ditanya, membuat Ryeowook cengo untuk beberapa saat.
"Jinjja? Bagaimana kau bisa mendapatkannya?"
"Sungmin eonni"
Tak urung jawaban Eunhyuk mendorong Ryeowook untuk segera membaca habis buku itu. Lembar demi lembar dibacanya dengan seksama, sesekali tersenyum atau terbelalak saat menemukan fakta-fakta yang menurutnya menarik.
'Aku ingin sekali kura-kura itu! Ah... sayang sekali harganya sangat mahal. Gajiku 3 bulan pun belum cukup untuk membelinya. Apa aku rayu tuan muda Donghwa saja ya? Hehehe'
"Bahkan turtle addict-nya pun sama dengan namjachinguku itu. Hahahahaha..."
Eunhyuk menanggapi dengan kekehan kecil, karena separuh awal buku itu memang berisi curhatan.
"Eh, apa ini? Beliau bekerja sebagai pelayan pribadi sekaligus sahabat... Lee Donghwa? Mirip Donghae ya namanya? Di sini juga dikatakan beliau sering membantu Donghwa kabur dari rumah menemui Choi—Minhyuk? Lho, kok mirip namamu?" Ryeowook memandangi Eunhyuk dengan tatapan penuh tanda tanya.
Eunhyuk tertunduk. "Mereka memang masa laluku dan Donghae..."
'...Lagi-lagi aku harus memutar otak untuk bisa membebaskan Donghwa—dongsaengku tersayang. Hhh... kenapa cinta harus sesulit ini? Kuharap keadaan akan menjadi lebih baik nantinya.'
Ryeowook menuntaskan setiap kalimat di halaman itu, kemudian membalik selembar lagi, selembar lagi, dan selembar lagi.
'Tuhan, hari ini kami ketahuan dan aku ada dalam pilihan sulit. Tuan besar mengamuk dan menghajar Donghwa, aku hanya mampu terdiam. Aku hanyalah pelayan rendahan yang bahkan batuk pun tak diijinkan di sini.
Kumohon Tuhan, selamatkan Donghwa...'
"Hyukkie..."
"Ne?"
"Aku tak kuat membaca yang selanjutnya..."
'... Dongsaengku nekat kabur sendiri dari rumah. Aku kena amuk lagi kali ini. Disayat, dipukuli dan digantung terbalik di atas bak air. Setiap aku menjawab tidak tahu, kepalaku diceburkan sampai kehabisan napas baru mereka akan menanyaiku lagi. Padahal sumpah demi ibuku aku sungguh tidak tahu apa-apa.
Haha, memangnya apa gunanya aku bercerita padamu buku? Kau tak bisa merasakan sakitnya kan?...'
'...Tuan besar memaksaku menunjukkan rumah keluarga Choi, dan ternyata Donghwa tidak ada di sana. Tuan besar hampir saja menghunuskan pedangnya padaku dan keluarga Choi karena mengira kami bersekongkol. Ya Tuhan.. ingin kubunuh saja orang ini.'
"Wookie-ah, kau tidak akan mengerti jika tidak membacanya sampai akhir"
Mata Ryeowook berkaca-kaca.
'...Cuaca amat buruk, sama sekali tidak ada matahari. Langit gelap gulita beserta angin, menandakan akan ada badai sore ini. Jujur saja hatiku sedikit lega jika ternyata nanti badai, sehingga tuan besar membatalkan niatnya mencari Donghwa dan Minhyukkie. Tapi apa lacur, yang muncul hanya petir tanpa hujan sama sekali.
Aku sebenarnya ingin ngawur saja mencari mereka. Aku berharap mereka tak pernah ditemukan dan bisa menjalani kehidupan dengan bahagia. Tapi apa daya jika anjing pelacak milik tuan besar ikut dalam perburuan ini?
Selanjutnya bisa ditebak, tak butuh waktu terlalu lama mereka ditemukan sedang hendak menaiki kapal. Aku tak kuasa melihat mereka diseret paksa di pelabuhan, melihat tuan besar saling memaki dengan tuan Choi, melihat tangan Minhyuk terlepas dari genggaman Donghwa, melihat mereka menjerit memanggil nama satu sama lain...'
'... tanpa sedikitpun rasa kasihan, Donghwa dihajar dan dibawa pulang. Dia dikurung dalam gudang gelap bawah tanah yang kurasa tak layak ditinggali makhluk selain setan...'
'... Aku memohon pada tuan besar untuk diperkenankan bertemu dengannya walau hanya mengantarkan makanan. Tuan besar memberikan izin dengan catatan harus dikawal penjaga agar aku tak bisa macam-macam'
Ryeowook makin terisak membaca sambungan cerita di lembar berikutnya.
'...DONGSAENGKU MENUSUK DADANYA DENGAN BELATI!
Aku memeluk tubuhnya yang ambruk. Kepalanya kurebahkan di pangkuanku seraya berteriak pada penjaga untuk segera memanggil tabib. Sebisa mungkin aku menghentikan pendarahannya, namun entah kenapa... dia menolak bantuanku. Dia meraihmu dan meminta pena padaku. Dia menulis pesan untuk Minhyuk dengan sisa-sisa tenaganya.
Dia berkata, "H—hyung... hh... sam—paikan ini... hh... untuk kk—kekasih—ku... Rawatlah kura-kura pemberianku... hh... dengan baik. Kau.. h—harus berjanji untuk menjaga dirimu...
M—mian—hae... Ak—ku... menyayangimu..."
Aku tidak kuat lagi menulis mengingat dia menghembuskan napas terakhir... bibir yang biasanya nyengir, yang selalu memanggilku 'hyung' dengan riang kini membiru.
Dongsaengku tercinta telah pergi untuk selamanya...
AMBIL SAJA AKU TUHAN! AMBIL AKU SEKARANG UNTUK MENGGANTIKAN DIA! KENAPA AKU HARUS KEHILANGAN DIA DI DEPAN MATAKU?!
Aku menangis meraung sendirian. Tangisan kedua dan mungkin terakhir setelah aku dilahirkan. Hatiku sakit... seperti tercabik-cabik...
Aku tak mampu melindunginya. Aku hyung yang bodoh... '
Bulir air mata berjatuhan di pipi Ryeowook. Hatinya terenyuh membaca barisan kalimat yang Jongin tulis di buku itu. Eunhyuk merangkul bahu sahabatnya lembut, mengusap-usapnya agar Ryeowook tenang.
"Uljima Wookie... Itu hanya masa lalu. Kalau tak kuat lebih baik kau lanjutkan lain kali, aku juga belum selesai kok." hibur Eunhyuk.
Ryeowook menghapus air matanya dengan punggung tangan "Tapi tragis Hyuk... hiks..."
"Iya, aku tahu. Taruh saja di situ. Jangan menangis lagi ne?"
"Um!" Ryeowook mencoba tersenyum. Uri monkey princess ikut tersenyum.
"Ah Hyukkie, beli es krim yuk di kafe sebelah? Siapa tahu moodku membaik setelah makan es krim" ajak Ryeowook bersemangat.
"Kajaaaaaaa~!"
-oOo-
'Chagiya, mianhae...
Aku tak bisa mendampingimu selamanya sesuai janjiku. Aku memang pengecut.
Suatu saat kita akan bersatu dan bahagia, kau percaya itu kan?
Hiduplah chagiya, lanjutkan hidupmu demi aku...
Jangan sedih ne?
Sampai jumpa di kehidupan berikutnya...
Neomu saranghae. Neomu Saranghae. Lee Donghwa.'
-oOo-
.
.
.
0o0o0o0o0o0o0
Punya tempat tinggal di dekat pusat kota ada untungnya. Mau belanja, jalan-jalan, makan di restoran kelas kuli sampai eksekutif bisa diakses hanya dengan berjalan kaki. Awalnya Eunhyuk ditawari apartemen oleh Siwon, namun ditolaknya mentah-mentah karena Eunhyuk tidak suka tinggal berdempetan dengan orang lain. Walhasil Siwon pun mengalah dan mencarikannya rumah kontrakan mungil di pinggiran Myeongdong.
Ryeowook tampaknya sudah sedikit melupakan kejadian tadi. Usut punya usut, rupanya Eunhyuk habis menceritakan tentang Donghae yang kemarin menciumi kakinya dengan *ohok*—bernafsu—*ohok*. Tentu saja Ryeowook kaget sekaligus senang. Halooo, mencium kaki Eunhyuk? Are you kidding me?
"Kyaaa~ sepertinya dia menyukaimu Hyuk!" pekik Ryeowook sambil menangkupkan tangan di pipinya. Eunhyuk berlagak menepis omongan itu, padahal wajahnya kelihatan sekali malu-malu teri(?).
"Ya! Mana mungkin! Kakek buyutnya memang cinta nenek buyutku, tapi cucunya?"
"Dari kata-katamu sepertinya ada keinginan dia menyukaimu" selidik Ryeowook.
"Huwek, namja aneh begitu? Nonnonono! Nnananana! Nuga ne— hummmmmp"
Ryeowook menyumpal mulut Eunhyuk dengan sesendok penuh es krim vanila."Tidak usah membual. Kau tertarik pada Donghae kan?"
"Ani"
"Yang benar..."
"Ani!"
"Yakin tidak suka?"
"Hwagsil haeyo!"
"Lho, itu bukannya Donghae?"
"Eh? Mana? Mana?"
Cengir kemenangan Ryeowook menyadarkan Eunhyuk bahwa ada sesuatu yang salah.
'Ups, keceplosan!' Eunhyuk menunduk sambil menampari mulutnya sendiri.
Dan namja yang sedari tadi dibicarakan malah muncul sungguhan. Radar Donghae untuk mendeteksi Eunhyuk peka sekali sepertinya.
"Annyeonghaseyo... Wah, kebetulan sekali bertemu di sini. Boleh aku bergabung dengan kalian?"
"Annyeonghaseyo Donghae-ssi. Silakan-silakan." Ryeowook mempersilakan Donghae duduk dengan ramah. Tiap meja di kafe itu dilengkapi kursi bergaya melingkar yang terbagi jadi 4 bagian. Donghae memilih duduk di sebelah Eunhyuk.
"Annyeong, Hyukkie-ah. Kau sehat?" tanya Donghae perhatian, karena Eunhyuk sedari tadi tidak membalas salamnya.
"Sangat sehat malah. Coba saja kau dengarkan detak jantungnya, Donghae-ssi." sahut Ryeowook secepat kilat, berhadiah deathglare 1000 volt dari Eunhyuk. "Oh ya, kenalkan aku Kim Ryeowook. Yesung oppa pernah menceritakan tentangmu"
Donghae tersenyum simpati."Panggil aku Hae saja. Hm... dia juga sering menceritakan tentangmu. Katanya suaramu sangat merdu, dan calon ibu rumah tangga yang baik."
Pipi Ryeowook merona karena dipuji. "Ah... gomawo... dia memang kadang suka berlebihan" yeoja itu memilin-milin ujung rambutnya untuk menetralisir rasa malu.
'Cih, bisa-bisanya genit sama pacar orang! Dasar playboy!' Eunhyuk merutuk dalam hati seraya mengaduk es krimnya kesal.
Normal POV end
Ryeowook POV
"Panggil aku Hae saja. Hm... dia juga sering menceritakan tentangmu. Katanya suaramu sangat merdu, dan calon ibu rumah tangga yang baik."
Kyaa~ benarkah oppaku bilang begitu?
"Ah... gomawo... dia memang kadang suka berlebihan" aku memilin rambutku, malu. Kuakui namja ini punya kharisma berbeda. Tindak-tanduknya lembut dan memikat. Aku makin percaya dia adalah duplikat Lee Donghwa.
Kulirik Eunhyuk di depanku. Dia mengaduk es krimnya sampai jadi bubur! Hihihi dasar bodoh, sudah jelas ketahuan ada perasaan sama Donghae masih mencoba berbohong padaku.
"Oh ya Hyukkie, Sungmin noona dapat cuti seminggu. Dia menyuruhku mengajakmu liburan ke pantai Gyeongpo selama itu juga. Kau mau ikut kan?"
Sekelebatan akal muncul di otakku, ini dia kesempatan mendekatkan Eunhyuk dengan Donghae!
Eunhyuk tampak masih pikir-pikir. Aduh tolong, jangan turun IQ di saat seperti ini Hyukkie~
"Cuma berdua?" tanya monyet itu.
"Tentu saja aku ikut... ah ya, kalau Ryeowookie mau ikut boleh kok. Yesung hyung sudah kukabari."
"Jinjja? Aku mau!" seruku.
Donghae mengangguk. "Semakin ramai semakin seru kan?" kemudian dia menoleh ke arah Eunhyuk seakan minta persetujuannya. Oho, bau-bau bunga cinta... :D
"Eh, kenapa menoleh padaku? Aku sih setuju-setuju saja." ujarnya sok cuek. Aku jadi ragu dengan keikhlasannya bilang terserah -_-'
"So, kapan rencana berangkat?" ujarku tak sabaran.
Senyum puas terkembang di bibir Donghae "Hm... besok, jam 7 pagi."
.
.
.
TBC
Oh Tuhaaaan... akhirnya chap ini selesai juga...
Apa masih kependekaaaaaan? *asah clurit* hehehe becanda.
Maaf menunggu lama readers. Aku harap kalian ga bosan-bosan ngikuti ya? Kalo bosan juga gapapa kok... :)
Guest : Hwakakakaka, gomawo... Jangan nangis lagi ya di chap ini... :)
Rissna26 : Ehehe mianhae chingu.. kebiasaan ga bisa serius lama-lama #PLAK
eraryeong love : Kepo? Bayar! Wkwkwkwkw... becandaaa. gomawo ya sudah mampir :D
vynyuk : Doneee :)
Miho : Ah... jangan muji gitu ah dongsaengi... jadi malu... *ngumpet di ketek Hae* :D
Nanti di chap agak belakang dongsaengi~ peran para orang tua aku bikin kayak polisi india gitu deh, datengnya belakangan kekeke
Arum Junnie : Oh.. tidak segampang itu chingu :D sembuhin kutukannya dulu...
lyndaariezz : Kalo menurut kepercayaan bisa dibilang gitu, chingu. Tapi kalo bicara ilmiah, mereka punya susunan gen yang mirip :D
Cho eun ji : Gomawoyooooo~ *treak pake TOA* :D banyak garapan nih chingu, jadi pikirannya kemana-mana T_T
ChoI Jaeseumin Hyangsu : Sama chingu =_=' gatau tuh abang Hae boong apa enggak bilang wangi
Princess Kim : Terus kakinya doang yang mau digondol chingu? Kekekeke~ cinta sama semuamuamuanya Eunhyuk doong :)
Chen Clouds : Maap T_T kemarin feelnya dapet segitu. Makasiiih banget pengertiannya :)
Enaknya diwarasin gak ya? #eh
PattOws : ini sudah apdet sayaanng... setia review ne? :D
Terima kasih buat kalian semua para reviewer setia. Aku sangat menghargai kontribusi kalian. Mudah-mudahan selalu dimudahin jalannya sama Yang di Atas yah :) Jeongmal gamsahamnida~
Kalau ada yang punya ff tolong kabari aku, bisa lewat review atau pm biar aku bisa nikmatin karya kalian juga... (di hp tampilannya rada eror)
Wish you all the best,
Lee Shin Hye
