Original by Jec. Ocha
.
VIZOR
South Korea, 2014
"Kembali lagi dengan saya Lee Tae Kyung dalam Spot News hari ini. Dan untuk berita terakhir ,kali ini mengenai kasus pembunuhan yang terjadi di sebuah gedung tua. Berikut rekan saya Hye Li akan meliput berita langsung dari tempat kejadian…" ujar seorang pembawa berita pada salah satu stasiun tv terkenal di Korea Selatam.
"Ya, dengan saya Hye Li. Kali ini saya akan membawa berita mengenai kasus pembunuhan yang terjadi di sebuah gedung tua di distrik Gangnam. Menurut penyelidikan polisi setempat, motif pembunuhan seperti ini adalah yang pertama kalinya. Terlihat di dahi korban terdapat sebuah ukiran yang diperkirakan dibuat oleh pisau, dan terdapat kata "VIZOR" di dahi korban tersebut. Dan disamping saya sekarang ada Mr. Choi Siwon selaku kepala kepolisian disini..." , sang reporter memberikan kesempatan kepada seorang pria berbadan tegap dengan garis wajah berwibawa dan tegas,
"Sebelumnya kami, polisi setempat belum pernah menemukan motif pembunuhan seperti ini. Memberi goresan luka berupa sebuah kata, dan juga mencuci seluruh darah korban. Dan sepertinya dicuci dengan deterjen pembersih. Ini masih praduga sementara, dan untuk kedepannya kami masih menyelidiki kasus ini lebih lanjut. Karna disamping begitu bersihnya pembunuhan yang dilakukan, sang pembunuh juga tidak meninggalkan jejak apapun. Dan untuk pemirsa sekalian diharapkan untuk berhati-hati selalu, karena kita tidak tahu siapa penjahat disekitar kita." pria tersebut tersenyum sambil membungkukkan sedikit badannya.
"Baiklah, saya kembalikan kepada rekan saya Lee Tae Kyung yang berada di studio. Sekian liputan langsung dari saya Hye Li."
"Ya, sekian perjumpaan kita pada sore hari ini. Jangan lupa untuk terus saksikan Spot News, sekian dan terima kasih." Salam sang reporter sambil sedikit membungkukkan tubuhnya.
.
.
Kringg..kringg..
"Ck, berisik sekali." Dengan sedikit kesal, Kyuhyun beranjak dari kursi malasnya dan mengambil telepon genggam miliknya di meja kecil dekat tv.
Klik…
"Halo?" sapa orang diseberang sana.
"Hm, ada apa?" Kyuhyun kembali duduk di kursi malasnya,
"Kyu, kau sudah dengar berita di televisi?"
"Berita yang mana? Berita dari tv itu tidak hanya satu ada dua, Lee Sun Kyu!" pria itu menghembuskan nafas ̶̶̶̶̶ kesal.
"Tentang pembunuhan itu! Vizor! Kau tahu tidak sih? Korbannya kan murid sekolah sebelah. Si primadona berambut pendek, lalu aku tidak mengerti kenapa rambutnya di cat jadi warna merah kecoklatan pasti dia ingin sepertiku hihi, ah bukan itu yang ingin ku bicarakan. Maksudku, apa kau tahu berita itu?"
"Baru saja aku mendengar berita itu. Menurut ku, sungguh sadis dan mengesankan. Hebat sekali, dia bisa membuat bingung para penyelidik." Kyuhyun mulai menegakkan tubuhnya, tanda bahwa dia mulai menikmati pembicaraan,
"Yap benar sekali, Kyu! Dan dari mana idenya si pembunuh kejam itu! Dia mencuci darah dengan deterjen dan gila! Aku sih mana kuat ya kalau jadi para penyelidik itu. Pasti bau darah dicampur bau deterjen itu, aku tidak bisa membayangkannya, Kyu."
"Kita lihat saja selanjutnya, apakah para penyelidik itu bisa menyelesaikan kasus seperti ini. Atau korban semakin bertambah."
"Iya aku akan melihat berita berikutnya! Haha. Jangan lupa besok sekolah, Kyu!"
"Oh ya, rambut mu kan merah kecoklatan. Hati-hati, jangan-jangan kau korban selanjutnya! Hahaha."
"Kyu! Besok aku akan memukul bokongmu! Percayalah, itu sama sekali tidak lucu. Selamat malam dan semoga kau bermimpi buruk. Bye!"
Klik.
Kyuhyun menatap layar ponselnya sambil tertawa,
"Tentu saja aku hanya bercanda, bodoh."
Kyuhyun mengendikkan bahunya, lalu menaruh ponselnya di meja dan beranjak ke tempat tidurnya.
.
.
Pria itu menaruh pisau lipat kesayangannya di sebuah laci khusus, sambil menatap televisi yang sekarang sedang menampilkan mayat wanita yang telah disensor. Dia menyeringai,
"Untuk apa gambarnya di blur kalau aku sudah tahu jelas bentuknya? Haha. Dasar bodoh."
Dia berjalan ke arah dapur, membuat secangkir kopi. Lalu kembali beranjak ke ruang tamu, menonton televisi sambil menyesap kopi pahitnya.
"Kalau saja dia tidak secantik itu. Mungkin aku tidak akan menodai wajahnya. Atau, rambutnya yang indah itu, tidak sama dengan warna cairan yang mengalir bila aku menodai wajahnya dengan pisauku."
"Penjahatnya sungguh kejam! Apakah dia tidak tahu, bahwa temanku itu sangat baik? Kenapa harus membunuh dengan cara mengejamkan begini?" terlihat seorang gadis berkuncir di layar televisi, sambil menangis dia mengeluarkan isi hatinya.
"Iya benar! Kenapa bukan orang lain? Kenapa bukan aku saja yang mati? Hiks."
"Bodoh! Kau rela mati demi temanmu? Apa dia sebaik itu? Haha. Kenapa semakin hari, orang-orang semakin memiliki pemikiran yang tidak manusiawi.?" Pria itu menyeringai sambil kembali menyesap kopi pahitnya,
"Lebih tidak manusiawi aku atau mereka? Haha" dia tertawa ̶ terlihat kejam.
"Sudahlah, apa peduliku?"
Pria itu bangkit berdiri lalu beranjak ke arah kursi malasnya.
.
.
"Selamat pagi, semua"
"Selamat pagi, Mr. Kim."
"Hari ini saya hanya akan member tugas, dan jika tugas kalian sudah selesai. Silahkan kirimkan lewat e-mail ke e-mail saya. Nanti, tugas dan e-mail saya akan saya berikan kepada ketua kelas. Dan untuk Cho Kyuhyun, mari ikut saya." Ujar pria paruh baya tersebut.
Cho Kyuhyun hanya mengendikkan bahu saat ditanya "kenapa kau dipanggil?" oleh teman sebangkunya.
.
Suasana ruang guru terlihat sepi, hanya ada sekitar 2/3 orang guru yang sedang menunggu jam mengajar. Di pojok ruangan terlihat Kyuhyun dan yang sedang berbincang.
"Cho Kyuhyun, langsung saja ya saya tanyakan. Apa benar kau pernah memenangkan beberapa lomba di sekolahmu sebelumnya?" tanya
Kyuhyun mengangguk, "Pernah, Mr."
"Mata pelajaran apa saja?"
"Biologi dan Ilmu tentang teknologi dan komputer."
"Bagaimana kalau kau mewakili sekolah kita untuk olimpiade Biologi?" tersenyum, sejujurnya dia sangat mengharapkan persetujuan dari Kyuhyun.
"Aku kan masih baru disini, kenapa tidak senior saja?" Kyuhyun menaikkan sebelah alisnya sambil tersenyum.
" memilih mu. Dia yang akan menjadi Pembina mu untuk olimpiade kali ini. Ah, aku harus pergi. Mohon bantuannya, Cho." bangkit berdiri dan berlalu pergi meninggalkan Kyuhyun yang terbengong-bengong atas tindakan seenaknya sendiri dari gurunya.
Puk..
"Halo, Cho Kyuhyun." Sapa Mr. Sungmin, yang sekarang duduk di hadapan Kyuhyun.
"Kau tentu sudah diberi tahu oleh ? Bisakah kita memulai pelajarannya setelah pulang sekolah hari ini?" tanya
"Hm, sepertinya tidak. Aku bahkan belum menyetujui hal olimpiade itu." Kyuhyun menghembuskan nafasnya ̶ kesal.
"Kalau begitu sekarang? Kau tidak usah masuk ke kelas dulu. Olimpiade ini sangat penting." Sungmin tersenyum ̶ sangat manis, menurut pemikiran Kyuhyun.
"Aku sih malas masuk kelas, Mr. Tapi, aku juga malas untuk belajar sekarang. Aku menyetujui olimpiade itu asalkan setiap belajar kau menyiapkan makanan." Kyuhyun menyengir. Sungmin tertawa mendengarnya,
"Baiklah, asal kau rela berlama-lama dengan ku." Sungmin mengedipkan sebelah matanya sambil tersenyum menunjukkan gigi kelincinya.
Imut..
Pikiran Kyuhyun jadi terpecah karena senyuman itu.
"Ehem, makanan apa yang mau aku bawakan saat kita belajar?" tanya
"Hahaha, tidak usah. Aku hanya bercanda. Memangnya harus hari ini belajar? Aku sedang tidak ingin belajar." Ujar Kyuhyun.
"Kalau begitu, apa hal yang kau sukai?" tanya Sungmin.
"Kenapa seperti mengalihkan pembicaraan? Aku suka bermain game. Kalau olimpiadenya tentang starcraft aku mau ikut." Kyuhyun menyengir mendengar ucapannya sendiri.
"Tapi kau tetap harus menyetujui olimpiade ini. Olimpiadenya akan diadakan disekolah kita, jadi kau tidak perlu repot untuk pergi keluar dari sekolah. Lagipula, kita bisa belajar di luar area sekolah jika kau bosan."
"Dan kau akan mentraktirku, Mr?" Sungmin terkekeh,
"Baiklah, bila aku sedang punya uang lebih."
"Aku yakin kau punya, Mr"
"Kau tidak perlu memanggilku Mr jika sedang seperti ini. Lagipula, aku masih muda. Bahkan umur kita sama sekali tidak beda jauh." Sungmin mengedipkan sebelah mata.
Tidak kuattt..batin Kyuhyun
"Ya, dan aku percaya. Kau sangat imut, Terlihat seperti bayi."
"Dan kau sudah mulai berani dengan gurumu, Cho?" Sungmin membuat senyuman sinis, sementara Kyuhyun hanya menyengir.
"Baiklah, kau boleh kembali ke kelasmu. Besok saja kita belajar. Jika kau sedang tidak bosan." Ucap Sungmin
Kyuhyun bangkit berdiri, saat dia hendak pergi. Dia berkata, "Senang berbincang dengan-mu, Ming." ̶ sambil mengedipkan sebelah matanya dan berlalu.
"Beraninya kau! " Sungmin mengulum senyumnya lalu beranjak pergi.
.
.
Pria itu mengenakan jaket hitamnya dan kacamata hitamnya. Dia berjalan keluar dari gedung apartemennya ke arah taman di dekat situ. Ketika melihat bangku taman yang kosong, dia duduk dan tak lama kemudian. Dering ponselnya terdengar,
Klik.
"Ya?"
"Oke, baiklah." Pria itu bangkit berdiri lalu beranjak pergi.
Dia berjalan dengan tenang, cukup lama.
Dan akhirnya, dia sampai di sebuah toilet umum, matanya tertuju pada sebuah paper bag yang cukup besar dibawah pohon. Dengan cekatan diambilnya paper bag tersebut, lalu dia masuk ke toilet umum.
Ketika melihat bahwa toilet itu sepi, dia menghembuskan nafas lega. Pria itu berjalan ke bilik paling pojok. Lalu, setelah selesai dia keluar dengan pakaian yang telah berganti.
Pria itu keluar dari toilet umum dan menaruh paper bag tersebut ke bawah pohon tadi. Dan berjalan ke arah belakang toilet umum, disitu sudah ada motor pengantar pizza dan 2 kotak pizza juga alamat yang akan ditujunya.
.
.
Terlihat Kyuhyun dan Sun Kyu sedang berjalan keluar dari rumah Sun Kyu,
"Sungguh menyebalkan sekali. Seharusnya paling tidak kau sedikit lebih lama dirumah ku. Apalagi, kau pasti akan semakin jarang bermain karena harus ikut olimpiade." Sun Kyu merengut,
"Aku tidak akan belajar setiap hari. Kau bisa bermain dengan yang lain juga kan. Kalau begitu aku pulang dulu ya. Kau jangan lupa kunci pintu, kau kan sendirian. Dan jangan bertindak ceroboh ya."
"Oke"
Kyuhyun masuk kedalam mobilnya dan pergi. Sementara itu, ketika Sun Kyu hendak masuk ke dalam rumahnya dia dikagetkan oleh suara,
"Permisi, anda nona Lee Sun Kyu kan?" Sun Kyu membalikkan tubuhnya dan menemukan seorang pengantar pizza yang menggunakan masker dan mengenakan topi pengantar pizza.
Sun Kyu menaikkann sebelah alisnya, dia bingung kenapa tiba-tiba ada pizza?
"Perasaanku, aku tidak memesan pizza. Tapi nama yang kau sebutkan memang namaku."
Sun Kyu menutup mulutnya, dia seharusnya tidak membenarkan ucapan si pengantar pizza yang mencurigakan ini.
Ingat, aku tidak boleh ceroboh! Batin Sun Kyu.
"Baiklah, ini pizza anda silahkan dinikmati." Pengantar pizza itu memberi kotak pizza tersebut dan diambil oleh Sun Kyu.
Mungkin ini anugerah dari Tuhan. Setidaknya aku bisa menikmati pizza dirumah, sendirian.
"Baiklah. Aku ambil uang dulu ya."
Tepat saat Sun Kyu membalikkan badannya saat itu juga pengantar pizza itu menangkup mulut Sun Kyu dengan sapu tangan yang telah diberi obat bius.
Sudah kuduga, kenapa aku bodoh…batin Sun Kyu, dan akhirnya dia pingsan.
.
.
Pria itu melepas maskernya dan topi pengantar pizzanya, dia berdiri dihadapan seorang gadis. Warna rambutnya mengingatkan dia tentang sesuatu,
Tidak lama gadis itu mulai kembali kesadarannya, pria itu segera memakai kacamata hitamnya.
"Hngg…" gumam gadis itu. Dia mulai mengerjapkan matanya dan mengangkat kepalanya, saat tersadar dia sangat kaget kalau dirinya sedang duduk disebuah kursi dalam posisi terikat dan juga dihadapannya berdiri seorang pria dan.
"Apa-apaan ini? K-kau, si-siapa?!" Gadis itu ketakutan.
Pria itu tersenyum ̶ kejam.
"Kau akan ku bawa ketempat paling indah, sayang." Pria itu berjalan mendekat ke arah gadis tersebut.
"Kau siapa?! K-kau, pa-pasti pe-penjahat! Yak!" gadis itu tergagap, dan hal itu semakin membuat sang pria senang.
"Kau kenal aku, Sun Kyu. Lee Sun Kyu." Pria itu tersenyum sinis,
Siapa dia? Kenapa rasanya aku pernah mendengar suaranya. Dari postur tubuhnya…
Sun Kyu memperhatikan pria itu dengan seksama, dia mengamati pria tersebut. Dia pengantar pizza tadi, tapi sekarang dia memakai kacamata hitam.
"Cepat lepaskan aku! Atau.. atau.."
"Atau apa? Kau ingin pergi dan melaporkan aku ke polisi? Tidak akan bisa, Sun Kyu." Pria itu tersenyum sinis, lagi. Lalu, dia mengeluarkan sesuatu dari kantong celananya ̶ pisau lipat.
"Yak! Apa yang kau inignkan? Apa itu? Apa kau akan membunuhku? Kau. Kau siapa?! HYAAA!" Sun Kyu, gadis itu. Dia berteriak sangat kencang, namun percuma. Tidak akan ada yang mendengar.
Pria itu menangkup wajah Sun Kyu, lalu mulai menggoreskan sesuat di dahi gadis itu. Karena gadis itu tidak bisa diam dan selalu menggerakkan wajahnya karena menahan sakit. Pria itu merasa murka dan,
"Kau ingin aku bertindak lebih kasar ya?"
Pria itu, dia mulai menggoreskan pisau lipatnya di leher gadis itu. Memutar…gadis itu menjerit menahan sakit. Pisau itu berputar sekali lagi, menggores luka yang lebih dalam di leher gadis itu. Sampai akhirnya, pisau itu terbenam di tengah leher sang gadis, lalu turun sampai tepat di dada sebelah kiri. Dan pria itu menghujamkan pisaunya.
"AHHH!..."
…..
Gadis itu kehilangan kesadaran begitu saja…bukan, kehilangan nyawa.
Pria itu tersenyum,
"Maafkan aku, Sun Kyu. Dan aku cukup mengesankan bukan?"
Dia menghembuskan nafasnya, lalu mulai membereskan segala sesuatunya.
To Be Continued
Halooo! Akhirnya, aku bisa melanjutkan fanfic ini dengan penuh "kemumetan" yang berasal dari segala ujian yang ada(?). Intinya, terima kasih sudah yang mau baca, yang jadi silent/active readers. Jangan sungkan ya untuk nge review atau ngirim Private Message. Karna itu sangat aku butuhkan sebagai motivasi, thankyou^^
