Saviours
Death Note is belong to Tsugumi Ohba and Takeshi Obata
Saviours is belong to JustViolet
Mohon maaf apabila ada kesamaan dalam judul, alur, ide cerita, maupun penokohan, semuanya nggak sengaja kok… ^^
Chapter 3: Behind the Scenes
Summary: –2 orang 'mengunjungi Matt dan mengajaknya bergabung dalam sebuah 'misi'. Kenapa? Siapa yang menyuruh mereka? Penasaran? Mari kuberitahu.–
Wammy's House. Panti asuhan tempat anak-anak yatim piatu dengan kemampuan otak diatas rata-rata bernaung. Sore ini, anak-anak sedang bermain bola di lapangan. Riuh suara anak lelaki, juga anak perempan yang berteriak member semangat, membuta suasana sore itu menjadi ramai.
Kecuali di satu tempat.
Kamar Near dan Mello merupakan tempat tersunyi(sekaligus terangker) dari seluruh kamar yang ada di sini.
Mello sedang ikut bermain di lapangan. Memberikan Near ruang yang lebih leluasa untuk bermain–mengingat kamar mereka lebih luas karena mereka merupakan penerus 'L'–
Near menyusun tarot-nya. Sesungguhnya ia tidak begitu suka dengan kamar yang luas. Ia ingin mendapatkan kamar yang sama dengan anak-anak lainnya. Kamar yang luas membuatnya sedikit merasa… takut.
Yah, bagaimanapun Near, kan, juga manusia biasa, tentulah ia bisa takut. Near berharap semoga Mello ada disini menemaninya. Setidaknya ia tak akan sendirian walaupun Mello hanya akan membuat gaduh suasana.
Tirai yang tertiup angin membuatnya bergidik.
Jaket Mello yang tergantung di belakang pintu mmebuatnya mundur selangkah.
Angin membuat tarot-tarot itu berjatuhan.
'Lebih baik aku menonon bola sajalah,' batin Near.
Menonton Mello yang sedang bermain bola membuat Near merasa lebih tenang.
Atau terkesima?
-0-0-0-0-
Mello hendak menendang bola kearah Roy ketika perasaannya mengatakan bahwa ada seseorang memandangnya dengan intens dari atas. Begitu Mello melirik, benar saja. Near sedang memerhatikannya dari atas. Mello merasa baru saja melihat Near tersenyum lembut kearahnya.
Bagi Mello itu seringaian setan.
Mello belum sempat mencibir karena Linda keburu berteriak "MELLO! AWAS BOLA!"
Mello menoleh sekejapdan seketika ia mendapat ciuman panas dari si kulit bundar.
"Awwww!"
-0-0-0-0-
Saat Mello terbangun, didapatinya Near sedang memandanginya dengan pandangan penuh tanya. Si albino menggigit bibir bawahnya, hal yang sangat jarang ia lakukan. Kemudian, sebelum Mello mengambil napas untuk memaki dan menyumpah, Near menginterupsi.
"Maaf, Mello, tadi saya…"
Mello menyeringai dalam hati, berpikir bahwa akhirnya Near memiliki cukup rasa malu untuk meminta maaf atas kejadian memalukan tadi. Ia sengaja diam, mendengarkan dan *pura-pura* bijak adgar ia dapat mendengar permintaan maaf Near dengan telinganya sendiri.
Namun informasi yang ia dapatkan membuatnya ingin menambah kosa kata memakinya.
"Maaf, tadi saya mendahului Mello untuk mendapat informasi dari L. katanya, kita punya misi,"
Akibat rasa nyeri yang masih (dan makin) bersarang di kepala, Mello hanya memelototi Near dengan mata birunya yang anggun (?).
"Dan, kata L, lain kali Mello harus lebih berhati-hati, agar bola yang tadi tidak mengenai bagian tubuh yang lain," Near berkata dengan fokus masih kearah mata biru Mello.
"DASAR BOCAH PUTIH SIALAANNNNN! CERITA APA KAU TENTANG KEJADIAN BARUSANNNNNN!?"
"Mello, kejadian ini tidak bisa dibilang barusan, Mello sendiri pingsan jam 5.45, sedangkan ini sudah jam 6.55, harusnya Mello berkata; bocah putih sialan, cerita apa kau tentang kejadian tadi?" jawab Near dengan suara datar seolah Mello didepannya hanyalah Jell-o yang sedang bergerak-gerak kesana kemari akibat permukaan piring yang sangat licin.
"Oh iya, kita harus berangkat besok, ke Kantou, Jepang. Jadi, daripada pusing-pusing memikirkan aib, lebih baik Mello berkemas," dengan wajahnya yang selalu dingin Near pergi mendahului seniornya.
Mello menahan angkara murka sembari turun dari atas ranjang klinik. Dalam perjalanan menuju kamarnya, Mello meremas-remas rambutnya dengan frustasi. Kurang sial apa ia hari ini, batinnya. Sudah terkena lemparan bola, dan kini informasi dari L yang harusnya ia dapatkan langsung malah direbut oleh si-albino-sialan-tukang-rebut-prestasi-orang.
Dan kini ia harus ke Kantou. Itu berarti ia harus naik pesawat. Dan ia sungguh membenci yang namanya jet lag.
-0-0-0-0-
Di Kantou, mereka tidak langsung ke TKP, melainkan menginap dulu semalam di sebuah motel murahan yang tidak ada sedikit pun rasa nyaman di sana. Belum lagi mereka harus bicara bahasa Jepang. Bicaranya, sih, mudah, tapi, orang-orang Jepang bicara sangat, sangat cepat, dan itu membuatnya pusing.
Setidaknya itulah yang dipikirkan oleh Mello.
Lalu, bagaimana dengan Near? Ia jauh lebih mudah untuk beradaptasi daripada Mello. Bukan, bukan karena bahasa Jepangnya yang sudah begitu lancar, melainkan karena memang ia jarang bicara. Saat orang-orang Kantou menjadikannya pusat perhatian karena penampilannya yang putih dari atas kebawah, Near hanya membalasnya dengan wajah I-care-about-nothing-nya yang selalu dapat diandalkan.
Selama bebek karet dan mainan-mainannya masih aman, tidak ada yang perlu dirisaukan, pikirnya.
-0-0-0-0-
Tidak sulit mencari target. Matt adalah satu-satunya anak laki-laki di Kantou yang berambut merah dan selalu terlihat mengenakan goggle oranye serta rajin membawa PSP di tangannya.
Dan ia merokok.
Untuk pertama kali dalam hidupnya, Near merasa ill-feel terhadap seseorang. Biasanya ia tak merasakan emosi apapun terhadap seseorang. Kecuali Mello yang dianggapnya seperti abangnya sendiri –walaupun ia tetap bersikap dingin padanya-.
Dan untuk pertama kalinya juga, Mello merasakan kekaguman –meskipun sedikit- terhadap anak sebayanya. Bukan berarti ia ingin mencoba rokok juga, tapi, yah, bagaimana bisa seorang bocah merokok dengan santainya di tempat umum!?
-0-0-0-0-
"Maukah kau bergabung dengan kami?"
Matt tersentak.
Aneh memang, tapi orang-orang ini jujur, batin Matt. Lagipula, hey, secara tidak langsung bisa bekerja sama dengan L adalah sesuatu yang membanggakan, bukan? Batin Matt meyakinkan.
Sebuah anggukan kecil dari Matt memantapkan niatnya. Grace. Demi Grace.
-0-0-0-0-
Dirumah Matt, dua orang dengan nama tak lazim : Mello dan Near -Matt berpikir apakah Near punya kembaran yang namanya Far- memulai investigasinya. Tidak seperti investigasi di film-film, Hannibal, misalnya, dimana banyak orang berkerumun dan si tokoh utama berimajinasi lalu ada cahaya seperti light stick berwarna oranye yang bergerak-gerak, investigasi ini cenderung sepi. Hanya ada mereka bertiga, dua orang teknisi, dan seorang berbadan kekar yang bernama Roger yang lebih cocok menjadi pelayan pribadi Mello dan Near ketimbang menjadi bodyguard mereka.
Lama-kelamaan investigasi ini terasa seperti main-main daripada investigasi sungguhan, Matt memang belum pernah mengalami investigasi sebelumnya, tetapi investigasi sungguhan pastinya tidak terasa seperti ini.
-0-0-0-0-
"Kapan peristiwa hilangnya kakakmu itu terjadi?" Si pirang bertanya dengan mulut penuh coklat yang membuat Matt ingin muntah hanya dengan melihatnya.
"3 hari yang lalu. Sekitar… ummm… jam 9 malam, kalau aku tidak salah. Ya, jam 9 malam Grace baru pulang dari balapan" manik hijau Matt mengitari ruang keluarga. Para teknisi mengangkut komputernya, sementara Near terus menerus menyusun kartu domino, lalu dihancurkan lagi, lalu disusun lagi, begitu seterusnya. Roger tiba-tiba datang membawakan tembakau super mahal seperti yang diisap oleh mafia di film-film laga seperti dalam The Godfather. Tak disangka ia menawarkannya untuk Matt.
Aku memang merokok, tapi…
"Roger! Matt ini walaupun merokok tapi dia 'kan, masih bocah! Jangan samakan rokoknya dengan rokokmu begitu, dong!" Mello memotong ucapan batin Matt, seolah-olah tahu apa yang sedang dipikirkan oleh si rambut merah.
"Memangnya, game seperti apa sih yang kau mainkan itu?" Mello mendelik penasaran. "Yah, game online biasa yang tidak seru-seru amat, grafisnya jelek, tidak seperti LoL atau WoT dan semacamnya. Lebih jelek dari minecraft, malah. Tapi, iklannya yang membuatku tergiur untuk memainkan game bodoh itu. Game bodoh yang membuat Grace…" Matt mulai berkaca-kaca.
Mello tertegun. Ia tak pernah merasakan kehilangan anggota keluarga, karena sejak lahir ia memang tak punya. Sesuatu di hati kecil Mello menggelitik indranya. Ia dengan reflek mengusap rambut Matt dan berkata, "Simpan drama-mu untuk nanti saja. Sekarang jelaskan padaku bagaimana bunyi iklan game itu,"
Matt berpikir sejenak.
"Iklan itu membicarakan sesuatu tentang menguabah hidupku, yah, sesuatu yang aneh, sangat aneh,"
"Mengubah hidup? Hmmm… boleh juga. Sepertinya informasi yang kudapatkan sudah cukup. Kau tidak keberatan 'kan, kalau kami menginap di sini hingga kasusnya selesai? Aku benci sekali motel murahan di dekat universitas Kantou, jelek sekali! Iya, kan Near? Near?"
Near menoleh dengan cepat setelah memerhatikan kepala Matt dengan seksama untuk entah berapa lama. Lalu ia mengangguk.
-0-0-0-0-
Matt, Mello, dan Near tidur bersama di kamar Matt. Sedangkan Roger tidur di kamar Grace. Matt berpikir, selama ini ia tidak punya teman, dan investigasi ini mungkin memakan waktu yang agak lama, mengingat penyebabnya yang misterius.
'Apakah Grace sengaja mengirim mereka untuk jadi temanku?' Batin Matt bertanya-tanya. 'Ah, tidak, tidak. Aku tidak boleh berpikir seolah-olah Grace sudah meninggal, tidak.' Matt pun memejamkan matanya.
Mello dan Near yang belum tidur tidak menemukan apa-apa selain kehampaan diantara mereka. Tiba-tiba Mello merasa Near sedang kesurupan karena sebuah pertanyaan konyol yang dilontarkannya.
"Mello, menurut Mello keren tidak, kalau saya pakai goggle setiap hari seperti Matt?" matanya menatap Mello penasaran, seakan menuntut jawaban.
"Kau masih terlalu lelah, otak jeniusmu jadi terganggu. Sudah, tidur sana!"
-0-0-0-0-
Sementara itu…
"Dimana aku!? Ini sudah berapa hari!? Rasanya, aku telah tertidur lama sekali… ah! Cahaya merah itu! Dimana Matt!? Kepalaku pusing sekali.."
Dua orang tentara berbaju hijau lumut pun mengangkat gadis berambut merah yang kembali tak sadarkan diri tersebut untuk dibawa ke markas terdekat.
Continued to chapter 4 –
Gimana? Bagus gaa? Review puh-leaseeeee….
*gila gue udah hiatus berapa lama coba… nih saviours sampe karatan gini… SMA melelahkan yaaaaaa ternyataaaaa….
Review for more update!
