"Akhir-akhir ini aku mendengar gosip aneh dari para penggemar kalian loh."

Ying dan Gopal secara otomatis memandang ke arah dua teman mereka yang dijuluki Pangeran Sekolah. Boboiboy meringis sementara Fang memutar mata. Yaya menatap tajam ke arah dua orang yang menjadi subjek pembicaraannya. Tentu saja, kata 'penggemar' sudah identik sekali dengan duo-princes itu, jadi tidak perlu repot-repot menebak.

"Gosip?" akhirnya Fang memberikan respon setelah Yaya mendelik pada gerakan memutar matanya. Pemuda itu kemudian menyeruput es teh dingin yang dibelinya di kantin bersama beberapa donat lobak merah.

"Iya." Yaya memainkan pulpen berkepala domba yang selalu setia di tangannya sejak SD itu. "Katanya... kalian terlihat berpelukan di perpustakaan dua hari yang lalu."

Fang tersedak tehnya sementara Boboiboy mengerang pelan.


.

Perfect Crime Love Letter

A BoboiBoy fanfiction by Chikara Az

BoboiBoy © Animonsta Studios

This fanfiction © Me

Rating : T

Warning : BL/sho-ai, possibly OOC, semi-Canon, MiddleSchool!AU, minor OC

Author Note : Sebenarnya ini bisa menjadi semacam sequel dari fik "Height". Bisa dibaca terpisah, tapi disarankan baca fik itu sebelum membaca fik ini. Em, di fanfik ini tidak akan ada genre Crime atau Suspense, jadi jangan tertipu dengan judulnya ya! /heh

Don't Like Don't Read!

Enjoy~


Hanya sepotong kisah tentang Fang yang dititipi sebuah surat cinta dari seorang gadis yang ditujukan untuk Boboiboy. Surat cinta yang menyebabkan banyak kesalahpahaman.

.: :.


"Apa—" Fang baru bisa berucap setelah beberapa kali terbatuk.

"Kau mendengarku dengan jelas, Fang." Yaya bersedekap, terlihat seperti ibu yang menginterogasi anaknya—yang baru punya pacar pertama. "Kau. Boboiboy. Perpustakaan—"

"Ber-pe-lu-kan~" lanjut Gopal tanpa diminta, kemudian ia tertawa-tawa geli. Boboiboy langsung menahan tangan Fang yang sudah siap mengeluarkan Cakar Bayang.

Fang mendecih karena gerakannya terhalang Boboiboy. Ia, yang sudah setengah berdiri, akhirnya duduk lagi. Berpelukan di perpustakaan? Ini pasti karena dua penggemarnya yang Boboiboy bilang melihat mereka berpelukan saat itu. Pemuda itu melirik teman bertopi dinosaurus yang duduk di sebelahnya, dan iris hazel yang bertemu pandang dengannya langsung mematahkan pandangan begitu ketahuan melirik.

"Boboiboy, kau tahu sesuatu soal ini kan?" desis Fang galak.

"Err—"

"Hey, hey, jangan berantem sendiri begitu. Pertama, kalian harus beritahu kami, apakah berita itu benar?"

Inilah salah satu hal yang dibenci Fang jika berkumpul bersama keempat temannya sejak SD itu di kantin saat istirahat, sikap Yaya yang agak bossy dan selalu memberi nasihat pada semua orang. Gadis itu baik dan menyenangkan, tapi tetap saja Fang tidak suka diatur-atur seperti itu. Walaupun itu adalah bukti bahwa Yaya peduli. Gopal dan Ying yang duduk di kedua sisi Yaya, di seberang dirinya dan Boboiboy, memandang ke arahnya dengan ekspresi ingin tahu.

Sadar bahwa Fang tampak terlalu kesal untuk menjawab, Boboiboy pun mengambil-alih. "Kalau bagian kami berpelukan, sih, iya. Tapi—percayalah, itu hanyalah tindakan iseng biasa. Tidak ada apa-apa di antara kami!"

Rasanya pipi Fang memanas saat ia mendengar kalimat terakhir Boboiboy.

"Tindakan iseng?" Yaya menaikkan sebelah alis.

"Iya." Anggukan mantap dilakukan oleh Boboiboy. "Kau tahu kan aku senang menjahili Fang—yah, ini salah satu hal yang kulakukan untuk membuatnya kesal. Jangan berpikir macam-macam!"

"Oh, ya, ya. Tentu saja. Siapa sih yang akan memikirkan hal yang macam-macam saat melihat kalian berpelukan di perpustakaan? Oh iya, bukankah perpustakaan yang sepi itu tempat yang pas kalo mau... ehem, berduaan?" goda Ying. Gadis itu terkikik senang saat wajah kedua temannya memerah.

"Apa yang kau bicarakan, Ying...? Boboiboy mana mau sama si Fang yang mood-nya setiap hari seperti gadis PMS? Capek yang ada." Ucap Gopal dengan penuh pengertian.

Kali ini Fang memberi Gopal sebuah deathglare yang cukup untuk membuat pemuda gempal itu menutup mulut. Tangan Fang masih dikunci oleh genggaman Boboiboy, membuatnya tak kuasa bergerak dan melancarkan Elang Bayang untuk mematuk Gopal sampai puas.

Yaya memutar mata. "Yah, baguslah kalau kalian tidak ada apa-apa. Bukan berarti aku tak akan menyetujui kalau kalian memang ada sesuatu, tapi," gadis berjilbab itu memberi jeda pada kalimatnya, mengabaikan tatapan 'WTF' yang dilancarkan Fang dan Boboiboy, "aku tidak ingin kalian diserang oleh fanbase kalian sendiri."

Serempak, Boboiboy dan Fang menelan ludah.

"Wah benar juga, ya..." Ying memberi tatapan prihatin. "Fanbase kalian kan ganas semua, tuh. Aduh, gimana kalau kalian bener-bener ada sesuatu, coba..."

"Fans-nya Boboiboy akan menyerang Fang, dan fans Fang pasti tak akan tinggal diam. Fans Boboiboy pun pasti akan melawan jika fans Fang menyerang Boboiboy—jadi..." Gopal bergidik.

"Fandom war." Yaya melengkapi.

Hening. Kelima sahabat mengabaikan bisik-bisik yang terdengar di sekitar mereka. Well, dua Pangeran Sekolah yang adalah superhero Pulau Rintis berkumpul dengan tiga sahabat mereka yang juga memiliki jam kuasa. Walaupun hal itu sudah biasa, tetap saja menimbulkan atmosfir yang berbeda jika berada dekat dengan mereka.

"H-hey! Kalian ini bicara seolah-olah kami memang memiliki sesuatu saja!" seru Boboiboy kemudian, memecahkan keheningan yang tak mengenakkan itu.

"Kami hanya ingin kalian berhati-hati." Ujar Yaya. "Yah, tidak semua fans kalian fanatik, sih. Tapi jaga-jaga saja."

Rasanya seperti menciut jika dipandang dengan tatapan tajam Yaya itu.

Bukannya apa-apa sih, tapi Yaya hanya tidak ingin kedua temannya berada dalam masalah. Habis, dia tidak buta. Dia bisa melihat bahwa jelas-jelas ada sesuatu di antara dua pemuda itu, namun keduanya sama-sama keras kepala dan tidak bisa mengakuinya. Bahkan, Yaya ragu salah satu dari mereka menyadari sesuatu itu.

Dasar duo tsundere.

.

.: :.


Bel pulang sekolah akhirnya berbunyi.

Fang menghela napas lega. Akhirnya, akhirnya ocehan guru matematika yang menerangkan hal yang sudah Fang ketahui berlalu juga. Guru yang sudah sepuh tersebut terlihat sedang memberikan PR di depan sana, dan Fang menulis nomor halaman yang diminta secara cepat di buku catatannya sebelum berkemas secepat mungkin. Tidak sabar untuk meninggalkan kelas.

Begitu sudah keluar, Fang melirik kelas di sebelahnya secara otomatis. Oh, tinggal ada beberapa orang lagi.

Bukankah dia ada ekskul sepak bola hari ini? Kenapa aku bisa lupa... batinnya dalam hati. Kemudian ia mengangkat bahu dan segera berjalan meninggalkan kelasnya. Beberapa gadis menyapanya, seperti biasa. Namun, ada yang langsung berbisik-bisik dan melemparkan pandangan tak suka padanya begitu ia lewat. Fang mengenali mereka sebagai penggemar Boboiboy...

Peduli amat. Fang memutuskan untuk tidak ambil pusing. Pasti efek dari gosip miring yang dibicarakan Yaya waktu istirahat. Fang melanjutkan jalannya, dan, baru saja ingin berbelok di pertigaan pertama yang ia jumpai, seseorang memanggil namanya.

"Kak Fang?"

Panggilan yang kurang familiar di telinganya membuat Fang tersentak sedikit sebelum berbalik, menghadap ke asal suara.

Seorang gadis berambut hitam kecoklatan pendek segera menghampirinya, dengan sebuah amplop pink pucat di tangan.

Huh? Penggemarnya, kah?

"Euh, ada apa?" tanya Fang dengan agak ragu. Gadis itu lebih pendek darinya, mengenakan seragam sekolah secara resmi (biasanya gadis-gadis lain di sekolah ini menambahkan aksesoris yang tidak diperlukan di seragam mereka), dan memiliki mata hitam. Dia tampak lumayan manis, tapi bukan tipe Fang.

"Um, pe-perkenalkan, aku Risa, dari kelas VIII-B." Suara gadis itu bergetar, namun dia tampak menguasai diri. Kepalanya agak menunduk.

Fang diam, karena ia tidak perlu memperkenalkan diri. Seisi sekolah, terutama para gadis, tentu sudah tahu siapa dirinya.

"Be-begini... kudengar Kakak dan Kak Boboiboy lumayan dekat, kan?" lanjut gadis itu—Risa.

Kehangatan menjalari pipinya lagi. Sialan. Apa maksudnya itu? "Y-ya, uh, bisa dibilang begitu—"

Koridor itu entah sejak kapan kosong. Hanya tersisa dirinya dan si gadis Risa ini. Yang disebut terakhir mendongakkan kepalanya, "Kalau begitu, bisakah aku menitipkan surat ini pada Kak Boboiboy?"

Dan surat beramplop pink pucat itu pun disodorkan pada Fang.

Fang tidak langsung menerimanya, tentu. Dia menatap surat itu dengan pandangan tak yakin sebelum mendongak lagi ke arah Risa.

"Surat cinta?"

Rona merah dengan cepat menghiasi wajah gadis itu.

"E-eh, iya... a-aku sudah mencoba untuk memberikannya langsung kepada Kak Boboiboy, juga meletakkannya di lokernya. Tapi aku ragu Kak Boboiboy membacanya, karena surat yang diserahkan dengan cara begitu kan banyak, jadi mungkin... dia tidak akan sempat?"

"Lalu, kenapa kau menitipkannya padaku?"

"Karena, jika kutitipkan padamu, mungkin... dia akan mau membacanya. Bukankah, bukankah kalian dekat? Apalagi Kak Boboiboy sampai memelukmu di perpustakaan—"

Ah, jadi gadis ini pun tidak luput dari gosip yang beredar itu, ya... Fang menggeram tanpa sengaja. Melihat ekspresi wajahnya yang menjadi masam (dan memerah), Risa buru-buru menambahkan.

"Ta-tapi, aku tahu kalian bukan gay, kok! Itu hanya pelukan sahabat biasa bukan? Tapi, itu membuktikan kalau kalian dekat.."

"Yang dekat dengan Boboiboy kan bukan aku saja. Sebagai penggemar Boboiboy, kau tahu betul soal itu, kan?" Fang berkata, matanya memicing curiga. Dengan sepenuh hati mengabaikan kalimat pertama Risa.

"A-aku kurang enak kalau menitipkan pada sesama perempuan seperti Kak Yaya dan Kak Ying, dan, eng, aku tidak percaya pada Kak Gopal, apalagi teman sekelas Kak Boboiboy. Menurutku Kak Fang bisa menjaga rahasia, jadi kurasa kau orang yang tepat..."

Fang memandang gadis di depannya lekat-lekat. Gadis ini jelas nekat. Kalau saja kini ia terlihat oleh salah satu penggemar Fang, ia akan habis di-bully. Bukankah gadis ini terlihat memberikan surat cinta kepadanya? Untungnya, untuk beberapa saat ini tidak ada yang melewati koridor tempat mereka berada... atau jangan-jangan memang sengaja? Siapa tahu gadis ini sudah merencanakan semuanya dengan matang. Tidak mungkin ia masuk ke mulut buaya begitu saja.

Surat cinta memang tidak jarang ia terima, Boboiboy juga. Benda itulah yang akan banyak ditemui di loker keduanya. Dan keduanya mempunyai kebiasaan yang sama dalam menangani kumpulan kertas yang didominasi warna pink itu, membuangnya secara diam-diam. Boboiboy, sekalipun dia baik hati, tidak tertarik untuk membaca surat cinta penggemarnya. Fang apalagi.

Namun, yang membuat Fang kaget, ternyata ada yang curiga juga kalau mereka—khususnya Boboiboy, tidak membaca surat-surat itu. Walau begitu, tetap saja Fang heran, kenapa harus dirinya yang dititipi surat itu?

"Uh, kurasa kau harus memilih orang lain..." akhirnya penolakan yang sedari tadi tertahan di tenggorokannya meluncur juga. "Aku... kurasa aku tidak akan bisa..."

"Kenapa? Tolonglah bantu aku, Kak Fang. Aku janji, setelah ini aku tidak akan mengganggumu lagi." Risa berucap dengan nada memohon.

Begini, sih... Fang tidak keberatan jika yang dititipkan bukan surat cinta. Bukankah akan aneh jika ia memberikan sebuah surat cinta pada Boboiboy? Memang itu bukan darinya, tapi tetap saja...! Pelukan tanpa maksud apa-apa yang mereka lakukan di perpustakaan saja sudah memancing gosip yang dengan cepat menyebar, apalagi ini?

"Kak Fang, tolonglah..."

Tapi Fang juga tidak berpengalaman dalam menghadapi seorang gadis. Apalagi yang memohon-mohon dengan ekspresi begitu padanya.

Urgh. Ia pasti akan menyesali ini nanti.

.

.: :.


Tidak perlu waktu lama bagi Fang untuk membuktikan pemikirannya. Begitu surat itu sudah ada di tangannya dan ia masukkan ke tas, penyesalan langsung membuat dirinya ingin membanting diri sendiri.

Apalagi, keesokan paginya, ia bertemu dengan Boboiboy saat dalam perjalanan ke sekolah.

"Yo, Fang!" sejak kapan senyuman Boboiboy menyilaukan seperti itu? Memuakkan.

"Hn." Balasnya pendek, tidak berselera membalas sapaan pemuda yang lebih tinggi darinya itu. Apalagi, ketika ia melihat wajah Boboiboy, yang terpikirkan adalah surat cinta dari Risa, terselip dengan rapi di salah satu bukunya di tas.

"Eh, kenapa wajahmu masam begitu?" Boboiboy menghampirinya, berjalan di sampingnya. Malah, sengaja menyerasikan langkahnya dengan Fang.

Biasanya perkataan seperti itu akan Fang balas dengan ketus, seperti: "Bukan urusanmu", "Diam saja deh" dan semacamnya. Tapi, baru kali ini Fang kebingungan membalasnya.

Berikan saja surat itu padanya dan selesai sudah. Urusan akan dibaca atau tidaknya sih urusan dia! Batinnya berteriak, namun entah kenapa ada sebagian kecil hatinya yang menolak usulan itu. Ada sebagian kecil—kecil, tentu saja, yang ingin agar Fang segera membuang surat itu atau menyerahkannya kembali pada Risa.

Yang mana tak akan dia lakukan, karena dia sudah berjanji (oh ya, dia dibuat berjanji oleh Risa) untuk menyerahkan surat itu pada Boboiboy. Fang mungkin tidak peduli akan urusan orang, tapi ia tidak akan mengingkari janji.

"Fang, hey, jangan melamun begitu, dong!"

"S-siapa yang melamun!" kenapa suaranya bergetar? "Ah, itu ada Ying dan Yaya!"

Beruntunglah, dua sosok gadis yang melambai pada mereka di kejauhan itu muncul. Fang tidak pernah merasa sesenang ini saat melihat mereka. Dua gadis berotak cemerlang itu menghampiri dirinya dan Boboiboy, saat itu pula Fang memutuskan untuk memberikan suratnya nanti saja. masih ada waktu.

Sementara itu, Boboiboy sadar benar akan sikap aneh Fang. Apalagi saat Fang langsung mengajak Yaya bicara, karena... Fang yang biasa tidak akan seperti itu. Matanya menyipit oleh curiga, tapi dia tidak mengatakan apa-apa.

.

.: :.


Fang ingin diam saja di kelas saat bel istirahat berbunyi. Rasanya ia tidak mau menghadapi Boboiboy saat ini, padahal ada surat yang menunggu untuk diserahkan. Fang sudah memutuskan agar hari ini juga ia menyerahkan surat itu, namun semakin lama rasanya ia semakin enggan.

Tinggal berikan saja padahal. Kenapa hatinya malah membuat semua ini tambah rumit?

Lagipula, ada apa dengan hatinya? Jelas-jelas di sini Fang hanya berperan menjadi pihak ketiga, pihak penghubung. Dia hanya tinggal menyerahkan surat itu pada Boboiboy dan urusannya selesai. Kenapa hatinya merintih tidak terima? Memandang surat itu di tasnya saja membuatnya muak dan ingin merobeknya.

Urgh.

"Bukan berarti aku tak akan menyetujui kalau kalian memang ada sesuatu..."

"Ta-tapi, aku tahu kalian bukan gay, kok! Itu hanya pelukan sahabat biasa bukan? Tapi, itu membuktikan kalau kalian dekat.."

Aduh, kenapa ia malah mengingat itu semua di saat seperti ini? Otaknya memang tidak bisa diajak kerja sama...

"Fang! Faang~"

Suara yang familiar itu membuyarkan lamunan sang pemuda berkacamata. Ia mendongak ke arah pintu kelasnya dan iris violetnya menangkap sosok gadis berambut hitam panjang yang diikat dua, berkacamata, dengan senyuman lebar melambai agak malu-malu padanya. Gadis itu ditemani oleh seorang pemuda gempal berkulit kecoklatan yang menyeringai.

"Ayo ke kantin!"

Fang mendesah pelan.

Rencananya untuk tetap diam di kelas sepertinya gagal.

.

.: :.


Jelas-jelas ada yang aneh dengan Fang.

Boboiboy memicingkan matanya untuk mengamati sang pemuda berambut keunguan yang kini mengunyah donat lobak merahnya dengan khidmat. Sesekali, iris violet itu melirik ke arahnya, dan Boboiboy bisa merasakan ada semacam keraguan—bahkan sedikit ketakutan, di sepasang mata itu. Apalagi Fang kelihatan ingin bicara padanya, walaupun tidak ada kata yang keluar. Curiga, siapa yang tidak? Fang hanya diam sejauh ini, bahkan tidak bicara banyak bersama Yaya, Ying, dan Gopal yang bersama dengan mereka.

"Boboiboy? Bagaimana denganmu?" ucapan Gopal menariknya kembali dari lamunannya.

"Eh, apa?" Boboiboy mengerjapkan mata, tidak sadar sudah ketinggalan pembicaraan. Uh, ini salah Fang!

"Ulangan fisika! Kau sudah, kan? Aku baru ulangan tadi, dan entah kenapa aku memiliki firasat buruk..." Gopal menelan ludah dengan keringat dingin mengaliri pelipis.

"Mudah saja, sih, menurutku. Itu semua jawabannya ada di buku paket, harusnya tinggal baca saja." Yaya tersenyum tipis.

"Iya! Aku bahkan hanya memerlukan dua puluh menit untuk mengerjakannya. Aku pasti dapat nilai paling bagus seangkatan!" ujar Ying percaya diri. Mata keabuannya melirik Yaya dengan tajam.

"Oh, ya? Kita lihat saja nanti!" Yaya tak mau kalah. Meskipun sudah berpisah kelas, kedua sahabat ini masih saja bersaing dalam hal nilai. Dan sama halnya dengan di sekolah dasar, keduanya selalu menjadi top-two seangkatan.

"Tidak semua orang melahap buku pelajaran seperti kalian, tahu." Kata Gopal, kesal.

Fang tertawa sinis, "Bukankah kau bisa melahap segala hal, Gopal? Tinggal kau gunakan saja kekuatanmu dan merubah buku pelajaran menjadi makanan, kemudian coba makan. Siapa tahu masuk materinya."

"Eh, kau benar juga, Fang! Tidak ada salahnya dicoba! Tumben kau punya ide bagus!" ekspresi wajah Gopal pun menjadi cerah, sementara keempat sahabatnya sweatdrop.

"Gopal, Gopal. Jangan ikutin perkataan Fang, sesat." Boboiboy berucap ceria, menunggu balasan pedas yang akan dilancarkan oleh Fang, seperti biasanya. Namun, sekarang ini Fang tidak dalam mode biasa, dan pemuda itu hanya memutar mata sambil membuang muka.

Huh? Apa salahnya?

"Eh sudahlah. Tapi bagaimana dengan kalian, Boboiboy, Fang? Kalian belum cerita tentang ulangan fisika kalian. Bukankah kelas Fang yang ulangan paling dulu?" Ying melanjutkan pembicaraan.

"Biasa saja. Tidak ada yang spesial." Fang mengangkat bahu. "Seperti yang Yaya bilang, semuanya ada di buku paket."

"Kalau aku... eh, Fang mengajariku saat istirahat sebelum ulangan, jadi aku bisa mengerjakannya dengan lancar..." lagi-lagi, Boboiboy menunggu reaksi Fang terhadap perkataannya. Biasanya, Fang akan langsung menyombong begitu mendengar ucapan seperti itu dari Boboiboy, tapi...

Sekarang, Fang membuang muka lagi, tapi Boboiboy bisa lihat telinganya memerah.

"Huh? Mengajarimu? Kapan?" tanya Yaya.

"Tiga hari lalu. Di perpustakaan. Kenapa?"

Mulut Yaya membulat, mengucap 'Oooh!' tanpa suara. "Jadi, waktu kalian belajar bersama itu—kalian berpelukan?" Oh dasar, gosip itu lagi?

"B-bukan begitu! Si Boboiboy ini yang memelukku, tahu! Aku tidak tahu apa pun!" sembur Fang tanpa diminta. Wajahnya sudah merah, entah karena marah atau malu. Boboiboy mendelik ke arahnya.

"Y-yah, sudah kubilang kan, aku hanya iseng! Bisakah kita tidak membicarakan itu?" kilah Boboiboy.

Namun Ying malah terkikik geli. "Apaan nih? Kau ngemodus pas kalian belajar bareng?"

"A-aku tidak ngemodus!" seru Boboiboy, malu. Wajahnya juga ikut memerah. Ketiga temannya yang lain malah tertawa. Sementara Fang menutup wajah dengan sebelah tangan, bibirnya menggumamkan beragam umpatan.

Beruntunglah, di tengah-tengah suasana yang tak mengenakkan itu, bel masuk berbunyi. Yaya, Ying, dan Gopal terpaksa menghentikan tawanya.

"Sudah masuk! Ayo ke kelas!"

Kelimanya pun beranjak dari meja yang mereka duduki dan setengah berlari menuju kelas masing-masing, hal yang juga dilakukan oleh banyak anak di kantin. Boboiboy mencoba menyamakan kecepatannya dengan Fang, membiarkan Yaya dan Ying yang semangat belajar berlari duluan dan meninggalkan Gopal yang sengaja memperlambat langkah karena tidak ingin terburu-buru bertemu guru.

"Fang? Kau kenapa?" akhirnya pertanyaan yang ingin ia tujukan sedari tadi diucapkan juga.

Fang tampak tersentak, bahkan menghentikan langkahnya. Boboiboy ikut menghentikan langkah, tidak melepaskan pandangan dari wajah Fang. Wajah yang kini terlihat panik.

"Er.. apa—apa maksudmu?"

"Kau bertingkah aneh. Ada yang mau kau bicarakan?" kata Boboiboy to the point. Bagaimana pun, mereka tidak memiliki waktu banyak sekarang ini.

Fang mematung menatap wajahnya dengan mata melebar selama beberapa saat. Boboiboy terus menunggu.

"Eh, itu..." seolah sadar, pemuda itu mengerjapkan mata. Kemudian, tangan Fang memasuki saku celananya, terlihat menarik sesuatu berwarna putih—atau pink muda?—dari dalam sana. Mata Boboiboy membulat, jangan-jangan—?

"Fang! Apa yang kau lakukan?! Bel sudah berbunyi dan kita ada tugas kelompok di pelajaran selanjutnya! Cepat-cepat!" seorang lelaki yang tubuhnya sama tinggi dengan Boboiboy tiba-tiba menghampiri mereka. Boboiboy mengenali lelaki ini sebagai salah satu teman sekelas Fang.

"Oh iya! Maaf!" seru Fang cepat. Ia menoleh ke arah Boboiboy, buru-buru. Kertas yang tadi ia akan keluarkan dimasukkan lagi ke saku. "Kita... kita bicara nanti saja, ya, Boboiboy!"

Dan pemuda tinggi bertopi dinosaurus itu tidak sempat mencegah saat tangan Fang langsung ditarik teman sekelasnya, memasuki gedung sekolah.

.

.: :.


Fang tidak bisa fokus saat kerja kelompok sesudah istirahat.

Yang daritadi ada di pikirannya adalah : Seharusnya tadi ia memberikan surat itu pada Boboiboy!

Tadi benar-benar nyaris berhasil. Ia sudah menarik surat yang sejak keluar kelas sengaja ia masukkan ke saku itu, namun semuanya digagalkan kedatangan teman sekelas yang langsung menyeretnya memasuki gedung sekolah. Ia sempat melirik ke arah Boboiboy saat ditarik begitu, dan wajah Boboiboy mengernyit padanya.

Aduh, memangnya keraguan Fang sangat terlihat ya? Sampai-sampai Boboiboy yang polos dan kurang peka bisa menyadarinya. Untuk kesekian kali, Fang mengutuki diri sendiri.

Tinggal menyerahkannya saja! Tapi kenapa—

"Fang, bisakah kau menempel ini ke kartonnya?"

Ucapan teman sekelompoknya mengagetkan Fang. Ia mengerjap dan segera menerima sepotong kertas yang sudah dihias dari gadis di sampingnya.

"Ditempel di sebelah mana?"

"Di sini..."

Fang melakukan tugasnya, sekalipun kepalanya masih dipenuhi Boboiboy dan surat itu. Kapan lagi ia bisa menyerahkannya, ya? Apa mungkin waktu pulang saja?

"Jangan melamun terus, Fang." Tegur teman sekelasnya yang tadi menginterupsi pembicaraannya dengan Boboiboy saat istirahat.

"Iya." Fang membalas dengan ketus.

Yah, mungkin saat pulang saja. Fang hanya perlu bilang kalau surat itu dari salah satu penggemar Boboiboy dan selesai sudah. Meskipun begitu, ia harap surat ini adalah surat yang pertama dan terakhir yang akan dititipkan padanya. Tidak lucu kan kalau akhirnya para penggemar Boboiboy yang lain memaksanya menyerahkan surat-surat mereka pada sang idola? Mau dikemanakan harga dirinya?

.

.: :.


Tapi pada saat pulang pun, entah apa yang menahannya dari menyerahkan surat pada Boboiboy.

Biasanya, mereka berdua akan pulang bersama Yaya, Ying, dan Gopal. Namun ketiganya sedang ada kegiatan ekstrakulikuler. Mereka pulang hanya berdua. Seharusnya ini kesempatan yang bagus.

Namun, dari saat Boboiboy memasuki kelasnya dan mengajaknya pulang sampai sekarang mereka sedang berjalan keluar dari gerbang sekolah, kertas yang lagi-lagi disimpan di sakunya tidak ia keluarkan.

Fang merutuk dalam diam.

Sebenarnya kenapa...

Kenapa ada rasa tidak rela di hatinya?

"Fang."

Nada tegas yang ada di suara Boboiboy mengejutkannya.

"Apa...?"

"Sebenarnya kau kenapa? Sejak istirahat bertindak aneh. Jangan kira aku sudah lupa akan hal itu."

Oh.

Fang kehilangan kata-kata. Tentu saja. Pembicaraan mereka kan terpotong saat istirahat dan seingatnya Fang belum memberikan jawaban yang memuaskan bagi pertanyaan lawan bicaranya. Boboiboy memang pelupa, tapi... siapa sih yang bisa melupakan rasa penasaran?

"Ah, itu..."

"Ada yang ingin kau serahkan padaku?"

Ada. Sebuah surat cinta. Dari penggemarmu.

Namun jawaban simpel itu tidak bisa keluar dari mulutnya.

Entah sejak kapan mereka berhenti berjalan. Kini keduanya saling berhadapan, dengan iris hazel Boboiboy yang tajam terarah pada mata violetnya. Fang merasa tidak berkutik di bawah pandangan intens itu.

"Fang, aku—"

Fang tidak pernah mendengarkan kelanjutan kalimat itu dan langsung mengeluarkan surat dari sakunya, menyerahkannya pada Boboiboy. Ada sebagian kecil hatinya yang protes keras, tapi Fang berusaha membungkamnya. Tidak, ia harus membungkamnya.

"Surat cinta. Untukmu."

Dan dengan itu, dia langsung berbalik. Meninggalkan Boboiboy begitu saja dan memutuskan untuk mengambil jalan yang memutar dan lebih jauh menuju rumahnya.

Tapi tidak sebelum pandangan Boboiboy melembut dan ia tersenyum tipis, seolah-olah senang.

.

.: :.


Begitu sampai ke rumah, Fang langsung mencari tahu tentang Risa, anak kelas VIII-B SMP Pulau Rintis, yang menitipkan surat cinta padanya. Entahlah, ia hanya ingin tahu tentang salah seorang gadis dari sekian banyak fans Boboiboy. Heran, dia saja tidak pernah begini terhadap salah seorang penggemarnya sendiri.

Mudah saja mendapat informasi tentang Risa. Setelah menjelajahi twitter, facebook, dan berbagai akun media sosial yang dikelola sekolahnya, Fang langsung tahu bahwa gadis itu cukup terkenal di angkatannya. Rupanya ia adalah anggota OSIS sejak tahun pertamanya di sekolah ini. Ia juga mengikuti klub karate.

Semuanya pun jelas bagi Fang.

Boboiboy dulu pernah mengikuti OSIS di tahun pertama dan tahun keduanya, mungkin saat itulah Risa mengenalnya pertama kali. Apalagi, di tahun pertamanya, Risa berada dalam seksi yang dipimpin oleh Boboiboy yang masih duduk di kelas delapan. Bukan tidak mungkin mereka akrab di sana, dan pasti Boboiboy mengenal Risa.

Dan, Boboiboy juga mengikuti klub karate sampai sekarang, seperti Risa. Mungkin, begitu Boboiboy keluar dari OSIS, di sanalah ia berinteraksi lagi dengan Risa. Siapa tahu mereka sangat akrab sampai Risa jatuh hati hingga berani menitipkan surat cinta pada sahabat Boboiboy yang sialnya adalah—Fang. Kalau sudah begitu, kenapa Risa masih menitipkan suratnya pada Fang? Kenapa tidak memberitahukannya langsung kepada si pemuda bertopi itu?

Tapi Fang tidak memikirkannya lebih jauh. Kini terjawablah ekspresi senang yang ditampakkan Boboiboy begitu ia menerima surat cinta itu. Fang mengerang pelan. Bukan tidak mungkin, setelah berinteraksi dengan Risa di OSIS dan klub karate, Boboiboy suka pada Risa. Bukan tidak mungkin, Boboiboy sudah tahu kalau Risa akan memberinya surat cinta. Bukan tidak mungkin, kepekaan Boboiboy akan dirinya yang ragu dalam menyerahkan surat itu dikarenakan Boboiboy memang sudah tahu.

Fang tidak mau mengakuinya, tapi ia merasa ada sakit di dadanya. Ada kekecewaan yang tidak seharusnya ia rasakan di hatinya. Ia membanting laptopnya menutup, terlalu banyak emosi berkecamuk di dada membuatnya bingung sekaligus resah. Saat mengerjakan PR pun, konsentrasinya terpecah.

Ini semua hanya disebabkan oleh seorang sahabatnya yang dapat memikat banyak gadis dengan mudah. Dan jatuh hati pada salah seorang di antaranya.

.

.: :.


Keesokan harinya, Fang tidak bertemu dengan Boboiboy di perjalanannya menuju sekolah. Bahkan, hingga istirahat pun, Boboiboy tidak tampak di meja tempat dia dan para sahabatnya berkumpul.

"Huh? Entahlah... aku juga belum bertemu dengannya hari ini." Jawab Gopal ketika Fang bertanya padanya. Pipinya agak menggembung saat ia bicara, dipenuhi oleh makanan yang dilahapnya sekaligus. Fang tidak pernah bisa merasa nyaman setiap melihatnya.

"Aku juga tuh." Sahut Ying. "Haiya, Fang, kau kan kelasnya bersebelahan dengan dia. Kenapa bertanya pada kami?"

"Aku bertanya karena aku sendiri tidak tahu, Ying." Ujar Fang, menaikkan sebelah alis. Seharusnya itu sudah jelas. Ia bukan penggemar Boboiboy yang mengikuti sang idola ke sana ke mari. "Kau bagaimana, Yaya?"

"Tidak tahu, tuh. Mungkin dia tidak masuk sekolah? Apa dia sakit?" kata Yaya, ekspresinya cemas.

Perkataan Yaya membuat ketiga temannya yang lain menelan ludah dengan khawatir. Benar. Bagaimana jika Boboiboy sakit? Jika iya, pasti Boboiboy sudah melakukan hal yang membuatnya memaksakan diri lagi. Boboiboy adalah pemuda yang memiliki stamina tinggi, dan ia tidak akan sakit jika hanya kecapekan sedikit. Dia hanya pernah demam hingga tak masuk sekolah karena terlalu banyak mengurus OSIS di tahun pertamanya, salah satu alasan ia keluar di tahun keduanya.

"Eh, semoga tidak." Gumam Fang kemudian, sekalipun ia masih belum bisa meyakinkan diri sendiri.

"Nanti tanyakan saja pada teman sekelasnya, Fang." Saran Ying.

"Hah? Kenapa harus aku?"

"Karena kelasmu tepat di sebelahnya. Apa lagi?" Gopal mengernyitkan dahi.

Fang diam. Iya juga sih.

Setelah beberapa kalimat kemudian, pembicaraan keempat sahabat itu terhenti karena bel masuk berbunyi. Fang meringis, baru ingat kalau ia belum selesai mengerjakan PR untuk pelajaran sesdah ini karena terlalu sibuk memikirkan soal Boboiboy dan Risa. Merutuk dalam hati, ia memacu langkah menuju kelas. Kenapa dia bisa begini hanya karena sebuah surat cinta konyol? Juga hanya karena seorang sahabat yang sok pahlawan dan sok tinggi itu?

Sadar-sadar, Fang sudah sendiri saja. Ia mendengus. Padahal tadinya ia ingin berjalan bersama Gopal, berlama-lama karena PR-nya memang belum selesai dan ia tidak mau bertemu kemarahan guru cepat-cepat. Namun sang pemuda gempal berkulit kecoklatan itu entah ada di mana. Fang malas mencarinya. Sementara Yaya dan Ying, tidak perlu ditanya lagi, pasti berlomba-lomba menuju kelas mereka.

Fang menghela napas.

Sekelebat ia melihat sesosok bertopi dinosaurus yang khas berlari beberapa meter di depannya. Iris violet Fang membelalak. Namun, sebelum ia sempat menyerukan nama orang yang belum ia temui sama sekali hari ini itu, sosok itu menghilang di antara murid-murid yang berhamburan menuju kelas masing-masing.

.

.: :.


Saat pulang pun, Boboiboy tidak ada di kelasnya.

"Huh? Tadi dia masuk, kok, meski agak terlambat. Saat istirahat pun, dia seperti yang sedang teburu-buru dan langsung pergi entah ke mana, baru kembali lagi waktu bel masuk. Dia tidak mau cerita dia menghilang ke mana." Jawab teman sebangku Boboiboy, setelah Fang menanyakannya tentang pemuda jangkung itu. Dahi sang pemuda berkacamata nila mengernyit. Jawaban itu menjelaskan kenapa ia tidak menemui Boboiboy saat berangkat sekolah.

Beberapa gadis di kelas Boboiboy menyapanya, yang ia balas dengan senyuman singkat. Walau lebih banyak yang memandangnya keki, dan ada beberapa yang memandangnya dengan senyuman penuh arti.

"Eeh? Kenapa nanyain Boboiboy, Fang? Kangen, ya?" ujar seorang gadis, seringai jahil terukir di wajahnya. Teman sebangku Boboiboy (yang adalah ketua kelas) langsung menegurnya walau ia tampak tersenyum juga. Fang merasakan wajahnya memanas. Gadis itu tertawa dan kemudian meninggalkan mereka.

"Sori, dia memang suka iseng." Kata teman sebangku Boboiboy, tersenyum tipis. "Tadi Boboiboy juga langsung pergi lagi. Kalau tidak salah dia pergi ke arah perpustakaan."

Fang, masih berharap pipinya tidak dihiasi warna marun memalukan, mengangguk kecil. "Oke. Makasih, ya."

.

.: :.


Fang memang menemukan Boboiboy di sekitar perpustakaan. Namun, pemuda itu tidak sendiri.

Ada Risa bersamanya.

Hati Fang mencelos. Ia tanpa sadar menyembunyikan diri di balik dinding, dalam diam mengamati dua insan yang berdiri berhadapan itu. Risa tampak menunduk malu-malu, sedangkan Fang tak dapat melihat wajah Boboiboy yang membelakanginya. Fang tidak dapat mendengar pembicaraan mereka, namun ekspresi Risa yang pada awalnya agak senang dan berubah menjadi sedih dapat dilihatnya dengan jelas. Sosok Boboiboy kelihatan terperanjat ketika Risa menunduk dalam-dalam, dan kemudian pemuda itu membungkukkan punggungnya sedikit sebelum berbalik meninggalkan gadis berambut sebahu yang mengusap matanya dengan agak kasar.

Fang melotot saat sadar bahwa Boboiboy berjalan— setengah berlari, ke arahnya.

Panik, dia tidak mau ketahuan memata-matai. Lagipula ini sama sekali bukan urusannya, ia tidak punya alasan bagus jika ditanya kenapa melakukan itu. Fang buru-buru menyembunyikan diri, berharap Boboiboy belum melihat batang hidungnya, dan bersiap mengambil langkah seribu.

Namun niatannya terpaksa digagalkan karena Boboiboy keburu memanggilnya.

"Fang! Tunggu, hey!"

Tahu-tahu, terdengar langkah kaki yang terburu-buru dan bahu Fang dicengkeram oleh sebuah tangan yang kuat.

Sialan.

"Kita harus bicara, Fang."

Fang merasa wajahnya merengut. Ia menepis tangan Boboiboy dari bahunya dan berbalik menghadapi pemuda tinggi itu. Dadanya disesakkan oleh sebuah emosi—marah? Kenapa? Kenapa dirinya marah?

"Apa maumu?"

Boboiboy memandang lurus ke arahnya, dan Fang tidak bisa membaca emosi apa yang tampak di paras tampan serta iris tajam sang pengendali elemen itu kecuali jengkel semata. Heh? Apa salahnya?

Tahu-tahu Boboiboy menggenggam tangan kanannya dan mulai berlari, menarik Fang bersamanya.

"W-woy! Mau ke mana?!" seru Fang, berusaha menyamakan kecepatan dengan Boboiboy yang memiliki kaki jenjang dan panjang, apalagi dia ikut dua klub olahraga. Fang butuh usaha agak berlebih untuk menyerasikan langkah mereka. Inilah salah satu hal yang menyebabkannya membenci tinggi Boboiboy hingga sekarang.

"Ke halaman sekolah!" jawab Boboiboy, balas berseru. "Kita benar-benar harus bicara!"

.

.: :.


Pohon-pohon yang tumbuh di sekitar halaman sekolah membuat sinar matahari yang bersinar terang tidak dapat mencapai tanah. Angin sepoi-sepoi membelai tubuh setiap orang di sana, terasa menenangkan. Sekalipun begitu, halaman sekolah hanya diisi beberapa orang, kebanyakan murid sudah pulang atau disibukkan dengan kegiatan tambahan di klub masing-masing.

Boboiboy menariknya ke bawah sebuah naungan pohon yang rindang. Fang sudah terengah ketika akhirnya mereka berhenti berlari. Kemudian ia mendongak, menarik tangannya dari genggaman Boboiboy, dan memberi sang pengendali elemen deathglare terbaiknya.

"Mau bicara apa? Kenapa tidak sekalian di dekat perpustakaan tadi saja?"

"Kalau di sini, resiko akan ada yang mencuri-dengar pembicaraan kita secara diam-diam lebih sedikit." Terang Boboiboy, matanya memicing pada Fang.

Fang merasakan wajahnya memerah. "A-aku tidak menguping pembicaraan kalian, tahu! Aku hanya kebetulan sedang mencarimu dan aku menemukanmu di situ—"

Boboiboy mengangkat sebelah alis. "Lalu? Alih-alih memanggilku atau apa, kau malah sembunyi dan bahkan hampir kabur ketika aku memanggilmu."

"I-itu—" Fang tergagap. Ugh, ia benci jika Boboiboy memojokkannya seperti ini. "Sudahlah! Apa yang kulakukan tidak penting! Sekarang kau mau bicara apa?!"

"Oh ya," Boboiboy masih memandangnya dengan pandangan aneh, "ini tentang surat cinta yang kemarin itu."

Ah.

Fang menelan ludah. Kenapa membicarakan soal itu lagi? Sudah cukup Fang direpotkan oleh surat terkutuk itu kemarin! Pakai acara galau segala setelah memberikannya pada Boboiboy. Sekarang apa yang diinginkan si pemuda dengan hero-complex ini?

Dan kenapa pula hatinya malah terasa sakit—lagi?

"Kau sudah membacanya?" bertolak belakang dengan isi dadanya yang berkecamuk, Fang berusaha terdengar santai. "Bagaimana? Bukankah kau sudah menunggu kedatangan surat itu, hah? Apa yang—"

"Kukira surat itu darimu!"

Melongo. Itulah yang otomatis dilakukan Fang begitu kalimat itu meluncur dari bibir Boboiboy. Yang disebut belakangan menampakkan rona kemerahan di pipinya.

"Kukira selama seharian kemarin kau begitu gugup karena ingin menyatakan perasaan padaku! Tahunya—kau cuma ingin memberikan surat titipan dari salah satu penggemarku!"

Melongo part II.

Iris violet yang membelalak dan mulut yang setengah terbuka menghiasi paras Fang. Setampan-tampannya pemuda berkacamata nila itu, tetap saja ekspresi yang dipasangnya saat ini kelihatan bodoh. Perlu beberapa detik tambahan bagi Fang untuk mencerna semua yang sudah diucapkan Boboiboy.

"Tunggu—apa? Dariku? Kau mengharapkan surat cinta dariku?!"

"A-aku tidak mengharapkan!" Boboiboy mengerang, menutup wajah dengan sebelah tangan. "Aku hanya mengira surat itu darimu!"

Fang tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Di satu sisi, dia ingin tertawa karena perkiraan yang konyol itu. Di sisi yang lain, ia ingin meninju Boboiboy yang sudah seenaknya menganggap dirinya jatuh cinta dengan si pemuda dengan tinggi berlebih itu.

Namun, yang pasti, wajahnya juga memerah.

"M-memangnya aku akan melakukan hal memalukan seperti itu?!" sembur Fang, melipat kedua tangan di depan dada. "A-aku tidak akan membuat surat cinta jika aku benar-benar suka padamu! Aku pasti akan menyatakannya langsung!"

"Kau menyukaiku—?"

"Kubilang 'jika', dasar kau!"

Boboiboy kelihatan akan membalas, namun dia menutup mulut lagi. Keduanya mengendalikan napas karena sudah berteriak satu sama lain.

"Lagipula, bukankah kau menyukai Risa...?"

Ekspresi 'wait-excuse-me?' yang ditunjukkan Boboiboy membuat Fang menyesali kalimat yang meluncur dari bibirnya tanpa disaring terlebih dahulu itu.

"Siapa bilang?" ujar Boboiboy, bingung. "Aku tidak menyukainya. Dianya saja yang suka mengejarku ke mana pun. Dia punya potensi jadi stalker! Tadi saja saat aku menolaknya, dia langsung menangis begitu."

"Eh?" jadi, teori 'Boboiboy-suka-Risa-dan-mereka-bakal-jadian' yang sudah disusun Fang kemarin salah? "Tapi... kalau begitu—kenapa kau tersenyum senang saat aku memberikan surat itu padamu?"

Wajah Boboiboy memerah lagi. "I-itu sih, em, kan sudah kubilang aku mengira surat itu darimu—"

"Kau senang karena mengira surat itu dariku?" Fang membeo perkataan Boboiboy. "Tunggu—apa?"

"Ya!" seru Boboiboy. Dia tampak salah tingkah dan berpikir sebentar, kemudian melanjutkan, "Bayangkan bila surat itu benar-benar darimu! Aku bisa menolakmu dan membuatmu malu di depan seluruh sekolah!"

"Apa kau bilang?!"

Rupanya pertengkaran mereka yang makin memanas itu malah menarik perhatian para murid di sekitar mereka. Tujuan Boboiboy yang tadinya tidak ingin ada yang mendengar pembicaraan mereka terpaksa hanya tinggal harapan, karena—siapa sih yang tidak bisa mendengar teriakan dua orang pemuda itu? Sekalipun sebenarnya melihat dua pangeran sekolah bertengkar itu sudah biasa, tapi tak pernah seheboh ini.

Fang terengah, lalu diam. Baru menyadari mereka sudah mengumpulkan penonton karena perdebatan mereka.

Boboiboy mendesah kesal.

"Baiklah, baiklah. Aku minta maaf." Ujarnya kemudian. "Aku memang terlalu percaya diri sampai mengira surat itu darimu."

Mendengus jengkel, Fang tidak menjawab. Ia sudah bosan dipermalukan seperti ini oleh Boboiboy. Ia tidak mengerti apa mau pemuda ini. Mempermalukannya jika surat itu benar-benar dari Fang? Huh. Mimpi saja sana.

"Fa—eh, tunggu! Mau ke mana?" seru Boboiboy, kaget karena perkataannya tidak jawab. Malah, lawan bicaranya berbalik dan mulai berjalan meninggalkan halaman sekolah. Buru-buru, ia mengejar si pengendali bayang.

"Pulang." Jawab Fang dingin, judes.

"Eh—apa? Kau memaafkanku tidak?" desak Boboiboy, mengabaikan banyaknya murid yang mulai berdatangan ke halaman sekolah dan memandang mereka dengan ingin tahu. Sikap kurang pekanya kambuh rupanya.

"Berisik ah."

Boboiboy tidak bicara lagi, namun dia malah ikut berjalan dengan Fang, yang merasa kekesalan semakin mendidih di perutnya. Ia ingin menjauh dari pemuda ini, namun sepertinya tidak akan mudah.

Namun, dibalik semua kemarahannya, Fang merasakan kelegaan yang aneh. Apalagi ketika ia tahu kalau Boboiboy tidak pernah menyukai Risa dan malah mengira surat itu darinya. Apa ini berarti...

"Boboiboy, Fang!"

Seruan Gopal membuat keduanya mendongak ke asal suara. Pemuda gempal itu berdiri di gerbang sekolah, ditemani oleh dua orang gadis di geng mereka. Ketiganya menyeringai senang.

"Ah, kalian semua!" seru Boboiboy, riang. "Ayo, Fang!"

Seolah tidak menyadari kekesalan Fang yang terarah pada dirinya, Boboiboy kembali menarik tangan pemuda yang lebih pendek dan berlari ke arah ketiga sahabat mereka yang lain. Fang berseru-seru protes, tapi Boboiboy tidak menghiraukannya.

"Kau ke mana saja, hah? Dari tadi tidak kelihatan. Sekalinya ketemu sedang adu teriak dengan Fang." Ujar Yaya, ketika Boboiboy berhenti di depan ketiganya, dan Fang melepaskan tangan mereka yang bertaut. Wajah Yaya terlihat geli melihat pemandangan di depannya.

"Kau melihat kami?" tanya Fang, menaikkan kacamatanya yang melorot sekaligus berusaha menutupi wajahnya yang menghangat.

"Iyalah. Kalian heboh sekali, sih." Jawab Ying, wajahnya yang manis dihiasi senyuman lebar penuh arti. "Tapi kami lewat saja, nanti juga kalian seperti biasa lagi."

"Tumben sekali Yaya tidak berusaha melerai." Tambah Gopal. "Katanya terkadang kesalahpahaman harus diselesaikan tanpa adanya pihak ketiga."

Dua orang pangeran sekolah itu saling membuang muka.

"Boboiboy, kau belum menjawab pertanyaanku." Tegur Yaya, dia menaikkan sebelah alis.

Boboiboy menggerutu, "Tadi pagi aku terlambat bangun. Terburu-buru ke sekolah, tapi sudah masuk. Akhirnya aku mengendap-ngendap saja ke gerbang belakang sekolah. Otomatis aku akan melewati ruang kepala sekolah, kan?"

"Lalu?"

"Semuanya akan berjalan lancar seandainya aku tidak menyenggol vas kesayangan kepala sekolah yang diletakkan di luar." Lanjut sang pemuda bertopi dinosaurus sambil facepalm atas kebodohannya sendiri. "Aku ketahuan. Tadinya akan dihukum langsung, namun kepala sekolah ternyata sadis. Dia menyuruhku ke kelas lagi. Lalu, waktu istirahatku disita dengan membersihkan semua arsipnya yang berantakan dan belum sempat dibereskan. Sial benar."

Yaya, Ying, dan Gopal tertawa terbahak-bahak. Fang bahkan tersenyum sedikit.

"Makanya, jangan melanggar peraturan!" kata Yaya, meninju pelan lengan Boboiboy.

"Huh. Kami kira kau sakit. Fang sampai uring-uringan menanyai setiap orang tentangmu." Ujar Ying tanpa diminta.

"Heh, apa?!" sembur Fang, dan jantungnya berdegup kencang ketika Boboiboy memberinya pandangan bingung. "Aku hanya menanyai kalian dan teman sebangku Boboiboy, tahu!"

"Ya, ya, ya. Terserah. Dasar tsundere."

"Tsun—?"

Boboiboy tiba-tiba tertawa dan mengacak-acak rambut Fang. "Beneran, nih? Terbaik kau, Fang!"

"J-jangan perlakukan aku seperti anak kecil!" seru Fang, semakin kesal saja. Dia menepis tangan Boboiboy dari kepalanya. Sudah cukup tadi dia dibuat jengkel oleh tuduhan Boboiboy padanya, tidak perlu ditambah perkataan Ying yang membuatnya salah tingkah!

"Sudah, sudah. Kasihan Fang." Ujar Yaya, senyuman masih menghiasi wajahnya. "Yang penting Boboiboy sehat dan dia sudah menyelesaikan kesalahpahamannya dengan Fang."

"Memangnya tadi kalian mempertengkarkan apa, sih? Kami tidak sempat mendengar dengan jelas." Tanya Gopal ingin tahu sambil menggoyangkan alis.

"Bukan urusan kalian!" Fang mendelik.

"Hehe, sori, Gopal. Kapan-kapan saja kami ceritakan deh." Ujar Boboiboy sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Gopal memasang wajah merajuk, namun tidak berkata apa-apa lagi. Dia melirik Fang yang kelihatan sudah siap melancarkan Cakar Bayang. Tentu saja, dia tidak mau cari ribut dengan pengendali bayang yang emosinya seperti gadis sedang PMS itu.

"Eh, pulang yuk? Sudah hampir sore. Ibuku akan mencariku jika aku terlambat." Kata Ying. Gopal langsung menggodanya sebagai anak manja, yang diabaikan oleh gadis yang lebih muda. Malah Yaya yang menegur pemuda besar itu.

Ketiga sahabat itu berjalan duluan, meninggalkan dua orang pemuda dengan selisih tinggi kentara di belakang mereka.

Fang mengutuki jantungnya yang terasa berjumpalitan tidak jelas. Ia berusaha menjaga agar ekspresinya tetap datar dan terus menatap ke depan, tak mempedulikan keberadaan pemuda di sampingnya.

"Jadi... kau memaafkanku atau tidak?" dan—tentu saja, Boboiboy tidak akan diam saja diabaikan begitu.

Yang ditanya menghela napas jengkel. Ia sudah bosan dengan topik ini. "Ugh.. kau ini benar-benar berisik."

"Makanya dijawab pertanyaannya."

Fang memberikan pandangan tajam selama sedetik pada Boboiboy, sebelum kembali memandang punggung ketiga sahabat di depannya. "Terserah lah."

"Yee, terserah itu artinya apa? Yang pasti dong, jawabnya!"

Ini orang mau diserang Harimau Bayang kali, ya?! "Iya. Iya. Dimaafin. Asal jangan tuduh-tuduh sembarangan lagi saja."

Ia tidak tahu apa yang mendorongnya mengeluarkan kalimat itu. Tadinya ia ingin marah lebih lama lagi pada pemuda di sampingnya—namun rasanya tidak tega.

"Nah, begitu dong." Boboiboy menyeringai puas. "Jangan marah-marah ga jelas terus."

"Memangnya kau kira siapa yang membuatku marah?!"

Keduanya pun memulai pertengkaran kecil mereka yang biasa. Namun, kali ini tidak ada emosi kesal dan amarah di hati keduanya—oh, mungkin ada sedikit kekesalan di hati Fang. Tapi... ketika ia melihat tawa Boboiboy yang manambah nilai plus pada parasnya itu, Fang mendadak mendapat dorongan aneh untuk ikut tersenyum juga, sekalipun ia berusaha menahannya kuat-kuat.

Keduanya juga tidak sadar kalau ketiga sahabat mereka memperlambat langkah dan berbalik, memperhatikan pertengkaran kecil itu.

"Haduh, mereka ini kapan akurnya, sih?" keluh Gopal. "Pusing aku mendengar adu mulut mereka."

"Mereka itu kan bertolak belakang sekali, Gopal. Biasanya kalau yang seperti itu suka berseteru." Kata Ying, malah tersenyum-senyum sambil memperhatikan.

"Yang bertolak belakang juga biasanya suka nempel, kayak kutub magnet." Yaya menyeringai. "Biarkan saja, lah. Mereka memang sudah begitu. Kalau ketemu berantem, sekalinya yang satu hilang, langsung dicari."

"Hehe, benar juga!" Ying menganggukkan kepala.

"Tapi, bukankah mereka bertengkar karena seorang perempuan...?" tanya Gopal.

"Ah, itu mah hanya karena Fang dititipkan surat dari seorang penggemar Boboiboy. Tapi Boboiboy malah ngiranya surat itu dari Fang." Yaya mengangkat bahu.

"Eh? Kau tahu ternyata?" Gopal kaget.

"Iya, hehe. Aku sedikit mendengar pertengkaran mereka."

"Tapi kasihan perempuan itu dong, ya." Ujar Ying. "Pasti banyak yang tahu kan, karena pertengkaran mereka tadi berisik sekali. Bagaimana kalau dia habis di-bully?"

"Iya, sih... tapi itu resikonya juga. Kuharap dia baik-baik saja." Yaya menghela napas. "Soalnya aku merasa agak berterima kasih padanya."

"Eh, kenapa?" Gopal mengernyitkan dahi.

"Soalnya... karena insiden ini, mungkin..."

Yaya menoleh lagi, melihat dua pemuda yang masih belum bosan berseteru. Yang lebih tinggi tertawa jahil, sementara yang satunya terlihat kesal. Ada semburat merah yang menghiasi pipi keduanya.

"...mereka sudah menyadari perasaan masing-masing."


.

*~ FIN ~*

.


A/N :

/tepar

Halo lagi~! :'''3

Mau bicara apa ya... ah, pertama-tama, saya sangat bersyukur saya bisa menyelesaikan ini hari ini. Setelah ini, saya bakal hiatus selama beberapa minggu kayaknya, karena minggu depan sudah UTS dan kemudian ada try out juga... jadi yah saya bakal sibuk. Maaf bila ada yang menunggu fanfik in-progress saya yang lain, seperti Step by Step atau Between The Existence of Fire and Shadow, karena saya sepertinya tidak akan update dalam waktu dekat. Saya mau fokus ke sekolah dulu... /menerawang

Dan, ya~ ini sekuel dari Height! Saya sudah bilang kan saya akan buat trilogy? Ini bagian keduanya~ hehe! Terima kasih bagi yang sudah review fanfik Height : Yuktry the Fantasy Girl, Oranyellow-chan, TsubasaKEI, CA Moccachino, , satandowski, Rikanagisa, Inshi-kun, hibiyo0411, Yuriko-chan, rin-san, barbie, MegumiTwister, Guest, dan Erry-kun. Terima kasih juga bagi yang sudah follow, favorite, atau baca tanpa meninggalkan jejak! /lambai-lambai

Saya merasa semua karakter di sini OOC banget hahaha /guling2. Tapi semoga OOC-nya nggak keterlaluan ya.. ._. Oya, adakah yang merasa judul fanfik ini familiar? xD Saya terinspirasi dari lagu Shuuen Project yang dinyanyikan IA. Tapi sungguh, cuma judulnya aja, ceritanya mah... beda banget /der. Saya milih judul ini karena surat cinta yang jadi topik utama di sini berhasil membuat banyak kesalahpahaman yang menyebabkan pertengkaran dua tsundere- eh, Boboiboy dan Fang~

Kritik, saran, dan komentar akan sangat diapresiasi! Terima kasih bagi kalian yang sudah bersedia baca sampai sini! :'''D

Mind to review? Review adalah penyemangat saya!

Azu