.

.

Zitao mendapat bunga tidur yang begitu menyenangkan tadi malam. Bulatan pantatnya dielus-elus lembut oleh seorang pangeran tampan yang menunggangi kuda putih cantik, jadi dia tidak rela untuk menyadarkan diri sendiri dari buaian itu. Terlebih bekas elusannya masih terasa, sedikitpun tak bisa dilunturkan dari dalam benak.

Yifan dan Sehun maklum, biasanya kalau Zitao bangun kesiangan itu karena satu praduga yang terkuat. Pasti dia bingung memutuskan g-string mana yang akan dipakai. Seingat Sehun, Zitao pernah berkata kalau dia tidak suka memakai g-string yang sama lebih dari 3 kali. Tentu saja koleksi barang anehnya itu bejibun, hampir sebanyak orang mengedipkan mata dalam sehari.

"Kusarankan yang transparan saja Zi."

"Yang kupilihkan untukmu kemarin juga bisa Peach."

Kedua lelaki tampan itu sudah berdiri tegak didepan pintu menunggu sang Ratu Kebangkitan menampakkan sosoknya. Seragam sekolah telah terpakai rapi membalut tubuh dengan sempurna, meski ada sedikit aturan yang mereka abaikan. Memasang dasi dengan benar? Memakai sabuk hitam kenamaan sekolah? Tolong yang basi-basi dienyahkan saja.

"Hoam~ khalianh bhicarah appaaah hoam~"

Tidak hanya pelototan saja yang diterima Zitao, kode keras untuk segera mengemas tubuhnya dalam karung juga jelas ditujukan. Bagaimana tidak, jam pertama sekolah kurang dari 20 menit, sedang mereka hanya menggunakan kaki untuk menempuh perjalanan. Terlebih bukan dengan porsi berjalan layaknya lelaki normal, melainkan sesuai porsi langkah anggun Zitao.

Waktu mereka terbuang habis menunggu Zitao bersiap, yang katanya sudah secepat kilat meski harus dibantu Sehun untuk memoles BB Cream dan Yifan untuk menata buku-buku materi pelajarannya. Kata sarapan seketika pudar dalam otak Zitao, saat Converse semata-kaki navy bluenya tidak ia temukan. Jam ketiga nanti mereka ada kelas olahraga, jadi mau bagaimanapun juga dia harus mengenakan sneaker itu.

"Converse-ku mana, ada yang tau?" Zitao sudah berjongkok meneliti sampai kedaerah bawah rak sepatu, namun tak kunjung menemukan apa yang dicari. "Pakai yang lain saja Zi, ini…" tawar Sehun sembari menyerahkan sepasang Nike Air Max merah jambu bercampur biru safir dibagian insole-nya pada Zitao.

"Tidak mau Hun-ah~"

"Kita semakin terlambat Princess, cobalah menger—"

"AHA! Ketemu hihihi~" Satu sepatunya ia angkat sambil digoyang-goyangkan kecil didepan Sehun. Sungguh kalau itu bukan Zitao yang melakukannya, bisa jadi pintu apartment sudah tertutup kasar hingga menghentikan pompaan jantung dengan mendadak. Namun Sehun hanya membalas dengan tersenyum, karna moto hidupnya selama mengenal Zitao adalah senyumin saja.

"Pakai diluar saja Peach, kita benar-benar terlambat sekarang." Itu suara tegas Yifan yang memerintah. Bagai sang kepala rumah tangga, apapun yang diperintah Yifan senantiasa dikerjakan dengan baik dan penuh ketelatenan oleh Zitao. Karna memang dia yang memiliki kuasa di apartmentnya sekaligus paling tertua diantara mereka.

Baru saja dia membungkukkan badan kearah tali-temali sneakernya, tiba-tiba pipi gemuk pantatnya diremas bersamaan dari belakang. Namanya orang terlambat, Zitao tentu tidak menggubris keadaan sama sekali. Jemari dengan kuku berglitternya masih fokus merangkai tali putih itu kedalam lubang-lubang yang tersedia. Justru dia semakin keenakan sambil membayangkan pangeran tampan dalam mimpinya semalam yang melakukan hal itu.

Zitao menarik setengah jalinan tali pada kaki sebelah kanan hingga membentuk simpul cantik dengan ukuran sama besar pada untaian akhirnya, sebelum menolehkan kepala ke belakang. "Kalian ini apa-apaan?!" nadanya memang membentak namun dalam hati Zitao menikmati juga terapi gratis tadi. Bukannya itu reflek yang teramat lamban?

"OH HAHAHA maaf. Tadi seperti disuguhi kue bulat Sourdough, makanya kami gemas ingin melahapnya."

"Dan kue bulat itu berjumlah dua biji, jadi kami membaginya satu-satu HAHAHA."

Untung lorong apartment sudah sepi. Tanpa menunggu sang Princess selesai menaut, Yifan langsung menggendong badan seksi-berisi Zitao kebelakang punggungnya, sedang Sehun harus rela menjadi pesuruh mereka dengan dua backpack dalam genggaman. Hingga sampai didalam lift pun Zitao masih terus meronta, ikatan temalinya kan belum tersimpul semua.

"Ssstt diamlah Barbie, anggap saja ini kereta berkuda jadi cukup peluk erat leherku."

.

.

.

.

.

PECULIAR

Huang Zitao, Wu Yifan, Oh Sehun, EXO and others

AU / Boys' Love / OOC / PG-17

Romance

Semuanya milik yang punya kecuali cerita punya aku

"Apa jadinya kalau Zitao suka memakai g-string dan mini skirt? Kalau Zitao seorang gadis itu wajar. Tapi tidak, Zitao adalah laki-laki."

.

.

.

.

.

Bangun terlambat, tidak sempat sarapan, gerbang sekolah bahkan sudah menutup seluruh bagiannya saat mereka datang. Terpaksa dinding kokoh kecokelatan dua meter setengah di gerbang belakang sekolah mereka panjat dengan penuh perjuangan. Sebenarnya hanya si cantik saja yang kesusahan, karna Yifan dan Sehun adalah penghobi basket jadi melompat tinggi bukan hal diluar batas wajar.

Yifan menurunkan Zitao dari punggung dengan segera, setelah melihat gerbang sekolah sudah tertutup didepan sana. Lelah juga ternyata menggendong Zitao sejauh itu, dia pikir akan semudah menggotong karung beras jika dengan seluruh kain yang dikenakan Zitao hanya sependek itu. Setidaknya beban sedikit berkurang karna membantu seseorang yang luar biasa cantik itu menjadi berkah tersendiri.

"Lihat gara-gara siapa ini kita terlambat." Ucap Yifan antara memberi pertanyaan atau pernyataan tak ada beda. Jika sang objek sindiran menyadari perkataannya itu bagus, namun jika tidak ya sudah lupakan saja toh dia tak sendiri mengalami keterlambatan ini. Terlebih Barbie cantiknyalah yang menjadi alasan keterlambatan itu.

"Bukan karenaku kan Hun-ah, gege?" Tanya Zitao santai sambil kembali membungkuk untuk mengikat temali sepatunya yang belum sempat tersimpul semua tadi. Gucci Bamboo Leather backpack hitam polos berbandul miniatur panda pada setiap restletingnya itu diberikan Sehun setelah urusan dengan ikatan sepatu usai.

"Oh… tentu bukan Princess, salahkan saja gerbangnya. Siapa yang mengontrol besi itu hingga menutup dan terkunci." Entah Sehun buta atau bagaimana, tidak ada alasan apapun yang pantas diberatkan pada Zitao meski itu terlogis dan fakta sekalipun. Huang Zitao memang selalu benar dimata Oh Sehun.

"Lalu bagaimana ini? Aduh~ aku mulai berkeringat! Ambilkan payungku Hun-ah, cepat cepat!" Zitao meminta jawaban, mengeluhkan teriknya cuaca juga mendesak Sehun dalam satu kalimat panjang. Satu telapaknya ia tengadahkan kearah Sehun agar segera diambilkan apa yang menjadi permintaannya dengan cepat.

Yifan cukup diam memperhatikan gerak-gerik lucu Zitao. Dengan kedua lutut digoyangkan bergantian, tangan kiri digesturkan layaknya kipas didepan wajahnya yang mulai memerah, dan satu tangan lainnya berpose seperti pengamen jalanan membuat Yifan geli sendiri.

"Percuma saja, setelah ini kita harus memanjat dinding ini Peach." Yifan membuyarkan suasana sejuk Zitao yang sedang terlindung payung, sementara Sehun dengan hembusan nafasnya meniupi sekitaran leher ber-BB Cream Zitao. "Jadi bersiaplah jangan berleha seperti itu." tambah Yifan kemudian dengan mendongak kearah batas atas dinding didepannya.

"Kita bisa bernegoisasi dengan Pak Satpam gege, jangan menyiksaku begitu dong. Aku tidak bisa memanjat atau melompat setinggi itu." Badannya ia bawa kearah dinding, bersandar pada permukaan yang tentu berbakteri itu dan memasang tampang cemberut yang berlebihan sambil bersedekap dada mengamit payungnya.

"Terserah kau saja. Sehun juga pasti menyetujui perkataanku Peach, jadi tidak ada yang membelamu." Dengan itu kedua backpack miliknya dan Sehun ia lempar tinggi hingga melewati dinding sekolah dengan mulus, sampai suara benda jatuh akibat tarikan gravitasi bumi terdengar jelas bagi mereka. "Masih tidak mau?"

"Hun-ah~"

"Tidak apa Zi, kubantu naik oke. Sekarang tutup payungmu, kemarikan backpackmu."

Zitao sudah tak tahu harus bagaimana, maka dengan dongkol ia mengikuti seluruh arahan Sehun. Kakinya mencak-mencak saat terik matahari menyapa kulitnya tanpa ijin. Olahraga saja belum tapi sudah berpeluh, bagaimana pandangan orang lain coba? Pasti menjijik-jijikkannya nanti. Zitao benci dengan bau keringat yang berlebihan.

"Biar aku duluan, nanti kutunggu diseberang sana saja Zi." Setelah menunggu Sehun mengkode dengan debuman saat dirinya mendarat dibalik dinding, maka Zitao mulai memasang kuda-kuda. Tangannya memegang rok pendek itu erat seakan waspada pada bahaya yang sedang mengintai.

"Peach ayo naik ke pundakku perlahan, cari pijakan yang pas." Yifan sudah berjongkok menghadap dinding, hanya tinggal menunggu Zitao naik. "Cepat sayang, jangan mengulur waktu." Tukasnya kemudian saat tak segera mendapati si cantik bergerak, malah menemukan lembaran tisu pada kedua pundaknya.

"Maaf Yifan-ge. Hap!" satu pijakan.

"Hap!" pijakan berikutnya.

Pundak sebagai pijakan Zitao, Yifan bawa naik perlahan sesuai tinggi badannya berdiri. "Sepatumu berat Peach urgh. Sudah sana naik." Kedua tangannya masing-masing memegang dinding dengan kuat, supaya badannya tidak limbung kemana-mana.

Yifan tak tahu harus mengumpat apa lagi melihat pemandangan menggoda lekuk Zitao dari bawah tempatnya berpijak. Anak itu bukannya langsung melompat turun tapi malah terus-terusan berdiri disana. Sehun dari seberang sudah bolak-balik menyuruhnya turun padahal. Yifan yang tidak ingin meninggalkan momen intip-mengintip celah g-string Zitao pun hanya berdiam.

"Aku akan menangkapmu Zi. Tak perlu khawatir, pandang saja aku saat kau melompat." Tangan Sehun sudah direntangkan sejajar diatas kepala, pijakkan pada kaki juga sudah ia kuatkan, hanya menanti sang Barbie turun dan mendekapnya erat hingga—

Cup!

Bibir merah berlekuk mengagumkan itu menempel tepat diatas kedua bibirnya. Memang benar tubuh seksi Zitao ia tangkap dengan sempurna, namun pertemuan kedua benda sensitif itu bukanlah hal yang direncanakan meski ia bersyukur sekali didalam hati. Ini kali pertama dia bisa mencium kedua belah bibir menggoda Zitao, dan menjadi yang pertama baginya dalam hal berciuman.

Zitao masih menutup kedua kelopak cantiknya tanpa tahu kalau satu kecupan pertamanya telah diambil Sehun. Hingga satu tarikan pada lengan kanan, membawa jiwanya merangsek masuk kembali namun segera menghilang lagi karena Yifan mempertemukan kedua bibirnya sampai menyentuh permukaan bibirnya sendiri.

"Itu sebagai ucapan terima-kasihmu pada kami Peach. Sudah lebih 17 menit, ayo segera kedalam."

Hanya sebuah kecupan beberapa detik. Yifan memungut backpacknya sekaligus milik Zitao, membawa kedua tas tersebut diatas pundaknya kemudian berjalan agak cepat kearah lorong sekolah. Zitao belum selesai memelototkan kedua matanya sedari tadi, bahkan seruan Sehun tidak ada yang tertangkap gendang telinganya sama sekali. Karena Sehun gemas tak segera mendapat respon, dia langsung menggendong tubuh Zitao ala pasangan pengantin mengejar ketertinggalan langkah Yifan.

"Zi terima-kasih telah mengambil ciuman pertamaku."

.

.

.

.

Zitao sadar tubuhnya terasa begitu lemas saat menerima sokongan materi pagi ini. Untuk itu ia bertukar duduk dengan Sehun yang berada tepat dibelakang bangkunya. Berhubung saat mereka datang tadi kelas masihlah ribut belum dimasuki guru. Tiba-tiba dia merasa ada sesuatu yang aneh diantara belahan pantatnya, namun karna dia lagi malas ya… mana peduli.

Dengan mata sayu, kaki terjulur lurus ke depan, kedua tangan ditumpukan diatas meja guna menyanggah dagunya yang terasa berat untuk sekedar diangkat dan menyimak tiap kata yang terlontar dari bibir lamis Mr. Lee didepan. Zitao jarang melewatkan sarapannya, meski itu hanya irisan tipis Baguette —roti tawar bulat panjang bertekstur agak keras atau yang biasa kita sebut roti tongkat.

Agar tidak bosan, Zitao bolak-balik mengganti pose duduk. Condong ke depan meja seperti tadi, menyandar pasrah pada kursi atau duduk tegak seperti ibu-ibu Negara menjamu tamu, meski pose yang terakhir tidak akan bertahan lama. Saat ini satu kakinya dia silangkan menumpu pada kaki lainnya, dengan badan condong ke depan dan tangan kiri menyanggah dagu.

'Urgh, pantatku terasa panas'

Karna rasa penasaran Zitao membawa pandangan kearah rok pendeknya, sedikit mengamati pakaian kurang bahan itu sambil menimang-nimang sesuatu. Tidak mungkin tiba-tiba ada benda tumpul disana kan? Dan memutuskan untuk melihat apa yang salah dengan pantatnya. Rok bagian kirinya ia singkap perlahan-lahan, pinggul kirinya juga sedikit dia angkat supaya memudahkan geraknya.

'Omg kaitan g-stringku terlalu kencang, pantas belahan pantatku perih sekali dibuat gerak'

Rupanya tali tipis pengikat benda mungil itu terlalu berlebihan ditariknya saat terburu mengejar waktu tadi pagi. Zitao memang awalnya masa bodoh dengan hal itu, namun pantatnya malah semakin panas setelah ia gesek-gesekkan kearah tempatnya duduk.

Tanpa memperhatikan keadaan sekitar, dengan terpaksa satu tangannya mulai menarik lepas salah satu tali pengikat. Menyebabkan kelonggaran pada daerah pangkal paha sebelah kirinya dan itu terasa aneh sekali. Kain sebelah lainnya sudah akan ia angkat, namun suara tenang Mr. Lee malah menyapanya lebih dulu.

"Huang Zitao, tolong soal ini kau selesaikan di depan."

"…?!"

'MAMPUS KAU ZI, HIDUP DAN MATIMU TERANCAM SEKARANG ASDFGHJKL'

Dagu runcingnya dengan perlahan ia angkat hingga menatap satu sosok paling dewasa berdiri disana. Mengenakan kemeja The Executive berwarna marun, rambutnya yang kecokelatan ditata rapi bermodel faux hawk, serta rautnya yang menyiratkan ketegasan memang cukup mempesona seorang Zitao.

"Boleh beri saya waktu berpikir Mr. Lee?" Nadanya dia buat semanja mungkin dengan menggigiti bibir bagian bawah sedikit sensual. Dulu Sehun yang mengajarinya bertingkah seperti seekor kucing nakal begitu, karna dia paham raut muka Mr. Lee itu setara dengan pasir disela-sela sepatu alias kotor.

"Kau kan sudah pintar, bukannya tadi kau bermain henfon dengan raut tercengang? Sudah jangan membuang waktu, ayo maju."

'Aduh kenapa anak kelas malah menatap kearahku semua, lalu bagaimana aku membenarkan tali g-stringku Tuhan. Apa? Bermain henfon dengan raut tercengang? Aku sedang memperbaiki letak penutup asetku tau.'

Zitao belum juga berdiri dari tempatnya duduk, gurat kecemasan terlihat jelas ditampilkan oleh wajah cantiknya. Yifan bukannya tidak ingin membantu sang Princess, namun dia duduk agak jauh dari tempat Zitao sekarang. Sehun sendiri sudah keki duluan menatap tulisan di papan tulis, dia belum menguasai sub-bab itu sepenuhnya.

Zitao pasrah. Dipandangnya lamat-lamat rumus dan contoh analisis soal yang telah terjabar sistematis di papan tulis, sebelum mulai beranjak berdiri dari kursi. Meski semua yang tertulis disana tidak bisa ia tangkap dengan jelas darimana-bisa-begitu atau darimana-bisa-begini tapi toh tidak ada salahnya kan berdiri?

'Semoga kedua tali tipis ini panjangnya tidak melebihi rok-ku.'

"Silahkan kedepan Zitao."

Zitao sudah akan melangkah saat mendengar bel pergantian jam pelajaran berbunyi. Sang penyelamat baginya juga bagi seluruh murid. Memang bel sekolah adalah salah satu hal terbaik yang dimiliki pelajar dari tempatnya mengejar materi pendidikan. 'MY TOM TO MY JERRY THANKS A LOT GOD!'

"Kau beruntung kali ini cantik. Baik saya akhiri dan selamat pagi."

Zitao sudah hampir melompat-lompat kecil dari pijakannya berada, kalau tidak ingat pada daerah pangkal pahanya yang terasa semakin longgar dan berangin. Bisa ia lihat panjang tali g-string itu bergerak bebas menggantung keluar melewati roknya yang pendek sekali, saat pinggul rampingnya sengaja ia goyangkan ke kanan-kiri.

Yifan tiba-tiba sudah berdiri disampingnya saja, lengkap dengan baju khusus olahraga dan sebotol air minum dalam genggaman. "Ganti disini saja, yang lain sudah pada pergi kok." ucap Sehun yang sibuk melepas seragam atasnya, hingga menunjukkan perut berbatang cokelat itu pada Yifan yang menatapi datar dan Zitao yang sudah memerah disana-sini.

"Hm... kalian hadap sana sebentar ya." mohon Zitao sambil menunjuk kearah papan tulis didepan. Yifan mengikuti arah telunjuk Zitao, dan menemukan tembok depan kelas sebagai tempat yang dimaksud. Kepalanya ia tolehkan lagi menghadap Zitao, yang masih tetap pada ekspresi memohonnya.

"Tak usah malu Peach, sini kubantu melepasnya."

"Atau perlu kubantu memakaikannya juga Zi? Kemarikan badanmu sini."

"Ah ja-jangan, biar aku ke ruang ganti saja." Zitao buru-buru mengambil paper bag berisi seragam yang dibutuhkan, kemudian melenggang pergi tanpa mengucap apapun. Yifan dan Sehun hanya saling melempar pandang satu sama lain sambil menampilkan seringai berartikan mesum di pucuk bibir mereka.

"Ekhm begini Peach, kau tadi melihat si mesum itu masuk kan? Bagaimana kalau dia menarik tali dibelahan pantatmu lagi?"

Langkah Zitao yang baru saja mencapai bangku ketiga alias urutan tengah dari kelas seketika terhenti. Paper bag yang ia bawa semakin didekap erat, sementara arah dagadunya kembali ia bawa menuju rok mini. Dimana kedua tali tipis itu masih setia menggelantung melewati batas bawah kain pendeknya dengan bebas.

Zitao belum bisa membenarkan salah satu ikatan g-stringnya, namun mendengar julukan 'si mesum' terucap tentu sudah membuatnya ketar-ketir duluan. Kalau semisal dia nekat menuju ruang ganti sendiri lalu bertemu Mino disana, sudah pasti dia mencari kesempatan kecil untuk sekedar menggodanya atau malah mengunci tubuhnya dalam salah satu bilik berdua.

Terlebih dengan tali yang menggantung ini, si mesum itu akan tahu jikalau hari ini Zitao sedang memakai g-string bertali lepas. Apabila salah satu ikatan tali tipisnya yang lain sengaja ditarik Mino, maka buyarlah sudah satu-satunya kain sang pelindung aset. Bisa mengelupas bebas nanti kulit-kulit arinya.

Sehun bahkan sudah selesai berganti baju saat menunggu Zitao bergerak atau setidaknya mengeluarkan beberapa kata sebagai jawaban atas candaan mereka tadi. "Yasudah ayo kuantar ke ruang ganti." Ucap Yifan lembut sambil merangkul pinggang Zitao keluar kelas sementara Sehun yang mengambil alih paper bag dari pegangan Zitao, yang belum sempat dia simpan dalam loker pagi tadi.

.

.

.

.

Beberapa alunan nada bergenre Swing to Brazillian, Pop Jazz, dan Blues yang easy listening menggema hingga ke seluruh sudut ruang berdesain minimalis dengan sentuhan classy, yang membuat suasana lebih cozy dalam kedai kopi favorit Yifan. Tidak ada hal signifikan yang membedakan tempat ini dengan kedai lain, hanya saja pemilihan genre musik menjadi sangat penting baginya untuk meresonansi suasana.

Ini berkat rengekan Zitao saat jam olahraga berlangsung. Dimana dia hanya duduk-duduk dipinggir lapangan, memilih untuk memakan camilan berserat serta dua botol susu dengan santai, sambil memandangi teman kelasnya yang sibuk kesana-kemari mengejar pantulan bola basket. Lapangan sekolah mereka memang indoor jadi Zitao tak akan susah mengurusi celana training yang juga pendek sekali itu jikalau dirinya terjatuh dan menyebabkan luka.

Zitao merasa sudah lama sekali tak menghampiri kedai kopi dan merasakan secangkir latte, yang menjadi favoritnya sejak berada di sekolah menengah dulu. Untuk itu sewaktu Sehun meminta botol air minum isotonik yang berada tepat disampingnya duduk, dengan manja dia mengutarakan keinginan itu. Sehun memang hanya bisa menyahuti segala permintaan Zitao dengan kata iya tanpa pernah ada kalimat penolakan meskipun didalam batin.

Instrumen piano Sentimentale dari Claude Bolling yang mengalun lembut semakin menambah efek ketenangan bagi tiga lelaki dalam single sofa berkaki pendek di pojok ruangan. Satu diantaranya sedang sibuk menghadap kamera yang tersedia pada fitur henfon, sambil mencemberutkan kedua bibir tipis beroleskan lipbalm merah jambunya.

"Apa bagusnya berpose begitu, mengajakku untuk mencicipinya ya Zi?"

Zitao segera menurunkan kedua siku tangan yang menjadi tumpuan dalam berselca tadi. "Aku tidak memintamu untuk berkomentar Hun-ah." balas Zitao dengan senyum manis. Kembali sikunya ia tumpukan diatas meja, kemudian mulai menutup salah satu kelopak indahnya menunggu jepretan kamera selesai.

"Itu pose apalagi, kenapa ekspresi orang ayan kau tiru sih Peach."

"Loh bukannya itu Jongin? Lihat ke pojok kiri." Tutur Sehun cepat saat menilik keadaan sekitar kedai. Dapat terlihat bahwa Jongin bersama Chanyeol dan satu teman lainnya sedang mengobrol santai di meja pojok seberang. Ketiganya benar-benar mencirikan seorang pacar idaman dengan aura gentleman mengelilingi.

Zitao sebenarnya malas menoleh namun karna penasaran juga, iris beningnya ikut memandang ketempat Jongin dkk duduk sekarang. Ekspresi terperangah tak bisa ia tutupi saat menemukan seorang lelaki tampan menggunakan snapback bergaya swag layaknya seorang rapper diantara Jongin dan Chanyeol. "Itu siapa yang memakai kemeja denim? Ajak mereka kesini dong~"

Yifan mulai melirik-lirik kearah Zitao, mencoba mengumpulkan asumsi apa si cantiknya menyukai lelaki asing disana. Dilihat dari penampilan, Yifan jauh lebih tampan dan berkelas dengan selera berbusana bak designer ternama. Segala hal berbau branded dia miliki terlebih jika itu diproduksi dalam edisi terbatas.

"Buat apa, jangan bilang kau menyukai lelaki itu Peach? Awas saja."

"Ha?! Tidak boleh! Mama Huang hanya menginginkanku sebagai menantu. Kau tidak lupa wejangan penuh makna Mamamu sendiri kan Zi..."

"APA? JADI KALIAN SUDAH BERTUNANGAN?!"

.

.

.

.

.

.

.

.

A/N

Pakabar? Dapet teaser exodus tetep sehat kan?

Ini gak aku kasih konflik sih ya karna tao pake gstring aja udah absurd banget wakakak -_-

Tao rambutnya aku bayangin kaya jepretan chachatao pas tlp yang diedit pake telinga kucing tapi dari rambutnya jadi kaya asli, itu cantik dan imuuut bgt /lebay/

Jujur aja gatau mau ngasih nc apa enggak haha kalo mau nc bisa baca ff aku yg satunya meski gak hot lmao /promosi/

Makasiiih muah muah deh buat reviewnya tapi blm bisa balesin nih

Cantiks review?*