Saya masih newbie disini, setelah sekian lama menjadi silent reader akhirnya saya mencoba untuk membuat sebuah fanfic.

Ini fanfic pertama saya, ceritanya agak pasaran juga ^_^, dan maaf kalau ada kesalahan penulisan dan lain-lain.

Semoga kalian suka...

Disclaimer : Masashi Kishimoto dengan semua chara-chara dalam anime Naruto

WARNING : OOC, typo, cerita gaje, alur kecepatan dll

Summary : Sasuke mulai merelakan perasaan yang dimilikinya terhadap Hinata/Jika aku tidak bisa menjadikanmu milikku, maka aku akan membuat si Dobe itu untuk menjadi milikmu dan selalu melihat ke arahmu/Apakah seperti ini rasanya jatuh cinta?/aku tidak akan membiarkanmu untuk menjalin hubungan dengan gadis itu, tidak akan pernah/Jadilah kekasihku!/Aku sedikit ragu dengan pria ini!/Aku mencintaimu, aku janji tidak akan menyakitimu.

Author by : Hikaru Sora 14

Sebelumnya saya ucapkan terima kasih kepada kalian semua yang telah membaca serta me-review, mem-follow dan mem-fav kan fic ini ^_^, dan juga para silent reader. Tanpa kalian fic ini tidak akan berarti apa-apa...

Please Enjoy Reading... ^_^


Reika Ishida: Gak lancang kok, justru saya senang mendapat masukan seperti ini. Jadi saya tahu letak kesalahan saya ^_^ Arigatou...

Eysha CherryBlossom: Arigatou, tapi saya masih harus banyak belajar lagi, hehe. Semoga chapter ini tidak mengecewakan yah.

Racchan Cherry-desu: Wah~...makasih buat masukannya ^_^. Itu sangat membantu saya untuk memperbaiki kesalahan dalam penulisan fic ini.

Hanna Hoshiko: Salam kenal juga, Yapp makasih. Semoga chapter ini suka yah ^_^.

Febri Feven: Hehehe, maaf kalau alurnya terlalu cepat. Imajinasi saya terlalu pendek dan saya juga tidak bisa mengembangkan cerita dengan baik ^_^ Semoga chapter ini bisa lebih baik lagi. Makasih buat masukannya.

Kumada Chiyu: Hehehe, iyah makasih yah sudah mau baca fic ini. Semoga ceritanya gak ngebosenin...^_^...Yupp, gak apa-apa koq, saya bisa mengerti, karena saya juga seorang Savers. Mungkin adegan SasuSaku-nya baru sedikit di chapter ini, kemungkinan di chapter depan lebih banyak saya tampilkan adegan SasuSaku-nya.

Sasa: Sebenarnya untuk mendukung alur ceritanya saja saya pakai Hinata dan juga Naruto. Naruto memang mencintai Sakura, tapi nanti dia jadi mencintai Hinata kok. Endingnya tetap SasuSaku, karena saya sangat suka dengan pairing ini ^_^. Terima kasih sudah membaca dan mereview fic ini.

Ongkitang: Saya usahakan yah, terima kasih sudah membaca dan mereview fic ini.

De Chan: Salam kenal juga ^_^...iya gak apa-apa kok gak log in, terima kasih sudah membaca dan mereview fic ini.


Chapter 2

"Me-...Menyanyi? Ke-...Kenapa tiba-tiba seperti ini Ino?" Tanya Sakura terbata-bata karena terkejut dengan perkataan Ino saat mereka baru masuk ke dalam mobil milik Sai.

"Iya Sakura, tadi saat kami telah selesai membicarakan tentang kontrak kerjamu, kami berniat untuk menghampirimu di ruang musik. Tapi saat kami akan membuka pintu ruang musik, secara tidak sengaja kami dan Direktur Namikaze mendengarmu sedang bernyanyi di ruang musik." Terang Ino sambil memasangkan seatbelt pada tubuhnya. "Dan kau tahu Sakura, apa yang dikatakan oleh Direktur Namikaze saat mendengarmu bernyanyi?" Tanya Ino antusias menyatukan kedua telapak tangan di depan dadanya disertai dengan matanya yang berbinar-binar.

"Um, entahlah Ino! Aku tidak tahu..." Ucap Sakura dengan polosnya disertai mimik wajah yang penasaran.

"Tentu saja Sakura-san tidak tahu, Hime. Lalu ekspresimu itu terlihat berlebihan." Ucap Sai sambil mengemudikan mobilnya keluar dari halaman parkir Namikaze Entertainment menuju jalanan kota Tokyo. "Namikaze-san hanya mengatakan jika ia suka dengan suaramu, Sakura-san. Menurutnya, suaramu indah dan ia ingin merekomendasikanmu untuk menjadi penyanyi di perusahaannya." Terang Sai kembali melanjutkan.

"Sai-kun~...Kau menyebalkan, harusnya aku yang menjelaskannya!" Ino mendeathglare Sai yang sedang tersenyum dengan wajah tanpa dosanya melalui kaca spion mobil yang berada di depannya.

"Sudahlah Ino, tidak apa-apa. Bukankah sama saja, Ne?" Ucap Sakura menenangkan Ino. "Lalu menurut kalian sendiri bagaimana? Apakah aku harus menerima tawaran itu? Ugh~...Aku tak yakin bisa melakukannya." Keluh Sakura, mengingat Sakura tidak terlalu percaya dengan kemampuan yang dimilikinya.

"Kau harus menerimanya Sakura!" Ucap Ino dengan nada memerintah. "Aku yakin dengan kemampuanmu itu, jangan selalu menganggap dirimu itu lemah dan tidak bisa berbuat apa-apa! Sejak awal aku tahu jika kau memiliki bakat terpendam, terbukti kan dengan bakatmu dalam bidang modeling. Semua menyukaimu Sakura. Jadi, aku harap kali ini kau bisa berubah. Mengerti!" Lanjut gadis bersurai blonde itu dengan tegas.

"Baiklah Ino, aku mengerti." Sakura tersenyum tulus setelah mendengar nasehat dari sahabatnya itu, sungguh ia bersyukur bisa bertemu dan bersahabat dengan Ino.

"Hime, kau terlihat seperti seorang Ibu yang sedang menasehati anaknya." Sai terkekeh geli setelah tadi mendengarkan dan melihat Ino yang sedang menasehati Sakura.

"Ugh~...Sai-kun, diamlah! Jangan mengejekku seperti itu terus, kau menyebalkan sekali hari ini!" Ino mengerucutkan bibirnya kesal, sementara Sakura yang memperhatikan pertengkaran unik pasangan Sai-Ino ini hanya tersenyum simpul, namun terbesit perasaan iri akan keintiman pasangan tersebut. 'Hah~...Mereka benar-benar pasangan yang serasi, aku juga ingin merasakan hubungan yang seperti mereka. Tapi...aku masih terlalu takut untuk menjalin hubungan dengan seorang pria.' Batin Sakura dalam hatinya.

"Tapi, menurutku itu bagus Hime. Kau bisa menjadi seorang ibu yang baik dan perhatian kepada anak-anak kita nanti, Ne?" Ucap Sai menggoda Ino yang tengah cemberut.

BLUUSSHH...

Ino yang mendengar perkataan Sai, langsung tersipu malu. "Sa-...Sai-kun, sekali lagi ku katakan kau ini benar-benar menyebalkan!" Ino merasa malu sekaligus bahagia dengan perkataan Sai, bukankah itu merupakan lamaran tak langsung, Eh?

"Arigatou, aku anggap itu sebagai jawaban 'ya'." Ucap Sai menyeringai memperhatikan Ino.

"Fokuslah menyetir Sai-kun !" Perintah Ino yang tidak mau terus menerus digoda oleh Sai.

"Sudah-sudah Sai-san, jangan menggoda Ino terus. Kasihan kan Ino! Kau tidak lihat, wajahnya sudah matang seperti itu. Kalau terus-terusan kau goda, bisa-bisa wajahnya menjadi gosong." Ucap Sakura sambil terkekeh geli.

"Sakura...! Kenapa kau juga malah ikut-ikutan menggodaku, kau pasti sekongkol dengan Sai-kun kan!" Geram Ino kepada Sakura dan Sai.

"Ahahaha...Maaf Ino, aku hanya bercanda." Sakura tertawa sambil menepuk-nepuk pundak Ino.

"Ck...Mendokusei..." Tanggap Ino malas menirukan gaya sahabatnya, Nara Shikamaru.


At Namikaze Entertainment...

"Cherry..." Gumam seorang pemuda bersurai blonde yang kini tengah menyandarkan punggungnya pada kursi kebesarannya sambil menatap langit-langit ruangannya. Atensinya kini berpusat pada seorang gadis bersurai merah muda yang baru saja ditemuinya siang ini. Memang ia sudah sering melihat Cherry sebagai model di majalah-majalah dan juga televisi. Namun, ia tak menyangka jika pertemuannya secara langsung dengan Cherry dapat menimbulkan suatu perasaan yang berbeda pada dirinya. Perasaan asing yang selama ini tak pernah dirasakannya pada gadis mana pun. 'Apakah seperti ini rasanya jatuh cinta?' Tanyanya pada diri sendiri. 'Tapi, bukankah tadi adalah pertemuan pertama kami? Ah~, aku harus memastikan perasaanku ini secepatnya.' Naruto memegang dada sebelah kirinya tempat dimana jantungnya berada yang kini tengah berdetak dengan kencang. 'Ugh~...hanya memikirkannya saja, efeknya sudah seperti ini!' Naruto terkekeh geli dengan lamunannya.

Tok..Tok..Tok..

"Naruto-kun, apa kau ada di dalam?" Tanya seseorang dari luar ruangan Naruto, yang ternyata adalah putri sulung keluarga Hyuuga.

"Ah, masuklah Hinata-chan." Naruto tersadar dari lamunannya dan mempersilahkan Hinata untuk masuk ke dalam ruangannya.

"Um, apakah aku mengganggumu Naruto-kun?" Tanya Hinata sopan kepada Naruto setelah ia masuk ke dalam ruangan itu.

"Tentu saja tidak, Hinata-chan." Naruto tersenyum menyambut kedatangan Hinata. Kemudian ia beranjak dari kursi kebesarannya dan berjalan ke arah sofa yang berada di depan meja kerjanya. "Ayo, duduklah!" Naruto menepuk-nepuk sofa di sebelahnya, seolah-olah menyuruh Hinata untuk segera duduk di sebelahnya.

"Ha'i, Naruto-kun." Hinata tersenyum senang atas sikap Naruto.

"Ada keperluan apa? Sampai-sampai putri Hyuuga kita ini datang kemari, Hm?" Tanya Naruto setelah Hinata duduk di sebelahnya dan mengusap lembut surai indigo gadis itu.

"Na-...Naruto-kun. A-...Aku membawakan bekal makan siang untukmu." Ucap Hinata gugup menyerahkan kotak bekal yang dibawanya kepada Naruto. Hinata tertunduk malu untuk menutupi semburat merah tipis yang menghisasi kedua pipi gembilnya. Tindakan Naruto selalu saja bisa membuat gadis indigo ini menjadi salah tingkah.

"Aa." Naruto meraih kotak bekal itu. "Arigatou...Hinata-chan." Naruto tersenyum lembut ke arah Hinata. "Seharusnya kau tak perlu repot-repot seperti ini." Lanjut Naruto meneruskan perkataannya.

"Tidak apa-apa Naruto-kun, aku senang melakukannya untukmu." Hinata balas tersenyum kepada Naruto.

"Ayo, kita makan bersama saja! Kalau banyak seperti ini sih, aku tidak akan sanggup untuk menghabiskannya!" Ucap Naruto setelah membuka kotak bekal Hinata dan melihat isinya yang terdapat beraneka ragam makanan.

"Un...Tentu saja." Ucap Hinata senang, kemudian mengambil sumpit dan mulai mengambil sepotong Sushi salmon."Ini, makanlah!" Hinata mendekatkan Sushi itu ke depan mulut Naruto.

"Umm." Naruto menerima suapan dari Hinata.

"Bagaimana...? Enak tidak?" Tanya Hinata penasaran.

"Enak, kau pandai memasak Hinata-chan." Puji Naruto, yang kembali membuat wajah Hinata merona merah.

"Arigatou, Naruto-kun." Hinata tersipu malu.

"Nah ini, makanlah!" Naruto mendekatkan sepotong Tonkatsu ke depan mulut Hinata sambil tersenyum jahil. Hinata membuka mulutnya dan hendak akan memakan Tonkatsu itu, jika saja Naruto tidak menarik kembali Tonkatsu itu keluar, menyebabkan Hinata terheran dengan mulut yang terbuka. Ekspresi yang ditampilkan Hinata sangatlah lucu bagi Naruto, sampai-sampai membuat pemuda pirang itu terkekeh geli. Hinata yang dijahili seperti itu menjadi kesal sekaligus malu.

"Ugh~...Kau jahat Naruto-kun. Kenapa menjahiliku?" Ucap Hinata kesal.

"Ah, maaf-maaf. Ayo, cepat dimakan." Naruto kembali memberikan Tonkatsu itu kepada Hinata.

"Tidak mau! Kau pasti akan menjahiliku lagi kan, Naruto-kun?" Hinata memalingkan wajahnya dari Naruto.

"Tidak...Kali ini aku serius Hime." Bujuk Naruto sekaligus godanya kepada Hinata.

BLUUSSHH...

Hinata membalikkan badannya sehingga dirinya berhadapan dengan Naruto. Lalu ia memukul-mukul pelan dada Naruto. "Awas, kalau kali ini kau bohong. Aku akan membuat Naruto-kun tidak bisa tertawa lagi!" Ancam Hinata kepada Naruto. Mendengar ancaman Hinata, Naruto bukannya merasa takut tetapi merasa geli karena ancaman yang terkesan lucu itu.

"Iya, iya..Aku janji." Janji Naruto sambil menyuapkan Tonkatsu tadi kepada Hinata. Kemudian Naruto mengacak-ngacak rambut Hinata pelan, membuat Hinata merenggut kesal. Sementara Naruto hanya tertawa melihat sikap Hinata yang kekanak-kanakan itu. Tatapan sapphire itu meredup tatkala teringat suatu hal, pikirannya melayang pada kata-kata yang diucapkan Sasuke dulu.

'Kau...bagaimana perasaanmu terhadap Hinata...Hah...! Jangan selalu mempermainkan perasaannya. Kau tahu jika ia mencintaimu kan...!Kenapa kau tak membalas perasaannya...brengsek...!'

Sebenarnya terselip perasaan bersalah terhadap Hinata karena Naruto tidak bisa membalas perasaan gadis indigo itu. Naruto hanya menganggap Hinata sebagai seorang adik dan juga sahabat yang disayanginya. Bukannya Naruto ingin memberikan harapan palsu kepada Hinata dengan bersikap baik dan perhatian padanya. Tapi, Naruto melakukan semua itu hanya karena tidak ingin melihat gadis itu bersedih. Tidakkah kau sadar Naruto, bahwa perlakuanmu itu justru akan semakin membuat Hinata kecewa, Eh?

Di sisi lain Hinata terlihat sangat senang dan bahagia dengan kedekatannya saat ini dengan Naruto. 'Kami-sama, semoga aku bisa selalu berada disamping pemuda ini.' Doa Hinata di dalam hati. Tanpa mereka sadari, sedari tadi ada sepasang onyx yang tengah memperhatikan keduanya dari celah pintu ruangan Naruto dengan tatapan sendu.

"Sasuke, apa yang sedang kau lakukan di situ? Kenapa tidak masuk?" Tanya Kakashi yang merasa heran melihat Sasuke yang masih saja berdiri di depan pintu ruangan Naruto.

"Hn. Lebih baik, lain kali saja kita membicarakan kontrak pekerjaan itu. Sepertinya dia sedang tidak bisa diganggu." Ucap Sasuke datar sambil berjalan menjauhi ruangan Naruto dan juga Kakashi. "Oh iya, satu lagi. Aku ingin pergi sebentar, kau saja yang mengurus kontrak pekerjaan itu!" Perintah Sasuke, sebelum benar-benar pergi meninggalkan Kakashi. Entah mengapa melihat adegan tadi membuat hatinya sakit. Sasuke mengepalkan tangannya kuat untuk menahan emosi dalam dirinya.

"Hah~...Ada apa dengannya? Akhir-akhir ini moodnya sangat buruk, aku cukup kewalahan menghadapinya." Keluh Kakashi sambil menatap punggung Sasuke yang perlahan-lahan menjauh. Penasaran dengan hal apa yang membuat sang Uchiha bungsu itu bad mood, Kakashi sedikit melihat dari celah pintu ruangan Naruto. 'Hn, dasar anak muda!' Dengus Kakashi dalam hati, setelah melihat kedekatan yang dipertunjukkan oleh Naruto dan Hinata di dalam sana.

"Yare-yare...Mungkin nanti saja aku datang lagi kesini." Ucap Kakashi kepada dirinya sendiri sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. Segera ia berjalan menjauhi ruangan Naruto.


Sementara Sasuke, kini tengah mengendarai mobil Lamborghini Venenonya menembus jalanan Kota Tokyo yang begitu padat. Merasa ingin menenangkan pikiran serta hatinya, ia melajukan mobilnya ke arah bukit yang berada di daerah pinggiran kota Tokyo. Tak butuh waktu lama baginya untuk mencapai bukit, hanya lima belas menit saja yang diperlukannya. Sasuke membuka seatbeltnya, kemudian keluar dari mobilnya dan berjalan perlahan ke arah sebuah pohon terbesar yang ada di sana. Sasuke duduk berselonjor diatas rerumputan hijau dengan sebelah kakinya ditekuk, dan menyandarkan punggungnya pada batang pohon itu. Onyxnya menerawang ke arah langit biru yang dihiasi berbagai macam bentuk awan. Pikirannya melayang memikirkan perasaan serta hubungannya dengan putri sulung Hyuuga yang saat ini tidak juga membaik.

Sasuke POV...

'Kenapa hubungan kita menjadi seperti ini, Hinata?' Tanyaku lirih di dalam hati. Semakin dipikirkan, rasanya semakin sesak saja. Aku tahu jika aku yang bersalah, mungkin memang benar aku yang egois, memaksanya untuk mendampingiku dan juga tidak menemuinya selama sebulan ini. Tapi, tidak tahukah dia bahwa perasaanku ini benar-benar tulus kepadanya? Kenapa malah si brengsek itu yang kau pilih! Kenapa kau tidak juga menyadari, jika si brengsek itu tidak memiliki perasaan apapun kepadamu! Kau tahu? Ia hanya berusaha menghargai apa yang telah kau lakukan padanya, tapi tak pernah sekalipun ia melihat ke arahmu. 'Bodoh!' Dengusku di dalam hati. Baiklah kalau begitu, jika aku tidak bisa menjadikanmu milikku, maka aku akan membuat si Dobe itu untuk menjadi milikmu dan selalu melihat ke arahmu. Mungkin, lebih baik aku mulai merelakan perasaanku padanya.'Ya, sepertinya hanya itu yang bisa kulakukan agar kau bahagia, Hinata.' Ucapku lirih dalam hati.

End Sasuke POV...

Sasuke mengeluarkan Smartphone Andoid Vertu TI miliknya dari saku celananya. Membuka aplikasi hangouts, dan mulai mengetikkan pesan kepada Hinata.

'Temui aku malam ini jam tujuh malam di ruanganku! Ada yang ingin aku bicarakan kepadamu.' Tulis Sasuke dalam pesannya. Tak lama kemudian, terdengar Smartphonenya berbunyi menandakan adanya pesan yang masuk.

'Akhirnya kau mau menemuiku, Sasuke-kun~... Baiklah aku akan datang nanti malam.' Balas Hinata terhadap pesan Sasuke.

'Hn.' Sasuke memasukkan kembali Smartphonenya ke dalam saku celana. Perlahan ia bangkit dan berjalan menuju mobilnya untuk pulang kembali ke kantor Uchiha.


Sakura, Ino dan juga Sai tengah menyantap makan siang mereka disebuah restoran Sushi di salah satu mall di kota Tokyo. Mereka duduk di sebuah meja yang terletak di dekat pintu masuk restoran. Mereka membicarakan tentang kontrak kerja dengan perusahaan Namikaze yang baru saja ditandatangani.

"Sakura, syuting mv itu akan dimulai minggu depan. Dan partnermu dalam mv itu adalah aktor tampan dan terkenal, kau tahu?" Tanya Ino.

"Um, siapa?" Sakura merasa penasaran dengan perkataan Ino.

"Dia, Uchiha Sasuke!" Ino berteriak senang. "Kau pasti mengenal dia kan?" Tanya Ino kepada Sakura, namun melihat ekspresi bingung yang diperlihatkan Sakura, Ino menaikkan sebelah alisnya, "Jangan bilang kalau kau tak mengenalnya!" pekik Ino.

"Um, sebenarnya memang tidak Ino." Sakura tersenyum kaku dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Mendengar hal itu, telak saja membuat Sai yang sedang mengunyah makanannya menjadi terbatuk-batuk, dan membuat Ino menjadi sweatdrop.

"Kau serius, Sakura-san?" Tanya Sai setelah sebelumnya meminum segelas air untuk melegakan tenggorokannya karena tersedak oleh makanannya.

"Hah, apa! Ya ampun, kau ini dari dunia mana sih Sakura! Kau ini tidak pernah menonton televisi apa? Masa kau sama sekali tidak mengetahui Uchiha Sasuke?" Tanya Ino sambil memukul jidatnya pelan.

"Un, A-...Aku~ hanya..." Sakura gugup untuk menjawab pertanyaan Ino.

"Ah...Sepertinya dulu kau hanya terfokus pada kekasihmu saja, Ne Sakura?" goda Ino kepada Sakura.

"I-...Ino, bukan begitu! Aku hanya ti-..." Ucapan Sakura terpotong ketika ada seseorang yang memanggil Ino.

"Ino...?!" Seorang gadis berambut coklat panjang menepuk pundak Ino, dan tersenyum kepadanya.

"Ah, kau...?" Ino mengernyitkan keningnya, mencoba mengingat-ngingat gadis yang kini tengah berdiri di hadapannya. "Matsuri, kan?" Ino berdiri dan langsung memeluk Matsuri dengan senang. Sementara Sakura yang mendengar Ino menyebut nama gadis itu langsung membulatkan kedua matanya karena terkejut. 'Apa jangan-jangan Matsuri ini adalah mantan kekasih Gaara-kun?' Tanya Sakura dalam hati.

"Ah~...Kau masih ingat rupanya. Lama kita tidak berjumpa Ino. Bagaimana kabarmu?" Matsuri melepaskan pelukannya dari Ino dan terkekeh geli dengan sikap Ino yang tidak pernah berubah.

"Aku baik-baik saja. Kau ini kenapa tiba-tiba saja menghilang dua tahun yang lalu! Lalu sekarang kau pulang juga tidak memberitahuku, sahabat macam apa kau ini?" Ino melipat kedua tangannya di depan dada dan mengerucutkan bibirnya sebal.

"Hahaha...maaf, aku akan menceritakan kepadamu semuanya. Tapi, bolehkah aku duduk terlebih dahulu, Ino?" Tanya Matsuri kepada Ino.

"Hum, tentu saja. Ayo, duduklah!" Ajak Ino.

"Sai-san, apa kabar?" Tanya Matsuri setelah duduk di kursi sebelah Ino.

"Aku baik. Bagaimana denganmu, Matsuri-san? Kau pergi sendiri ke sini?" Jawab sekaligus tanya Sai.

"Ah, aku juga baik-baik saja. Aku datang bersama dengan kekasihku, dia sedang berada di toilet." Jawab Matsuri, kemudian menoleh kepada Sakura. " Dan kau, siapa namamu? Rasanya aku pernah melihatmu sebelumnya." Tanya Matsuri sambil mengulurkan tangannya kepada Sakura

"Ah, aku Cherry. Senang berkenalan denganmu, Matsuri-san." Sakura tersenyum dan menyambut uluran tangan Matsuri.

"Senang berkenalan denganmu juga, Cherry." Matsuri balas tersenyum kepada Sakura.

"Tentu saja kau merasa pernah melihatnya di televisi dan juga di majalah. Dia kan seorang model." Terang Ino.

"Ah~...Benar juga!" Matsuri terpekik kaget setelah beberapa saat terdiam untuk memikirkan perkataan Ino. "Bagaimana mungkin aku bisa lupa seperti ini. Dasar bodoh! Padahal aku sering sekali membaca majalah tentangmu. Pantas saja aku merasa familiar." Matsuri terkekeh geli dengan ketidaksadarannya akan keeksistensian Sakura. Sedangkan Sakura hanya tersenyum kaku menanggapi reaksi Matsuri.

"Tidak apa-apa, Matsuri-san." Ucap Sakura maklum.

"Ehm, lalu penjelasan apa yang hendak kau berikan kepadaku, Matsuri?" Ino mendeathglare Matsuri yang malah keasyikan mengobrol dengan Sakura.

"Ah, Ino. Tenanglah." Matsuri sweatdrop dengan sikap Ino yang menurutnya berlebihan. "Jadi dua tahun yang lalu, kedua orang tuaku-atau lebih tepatnya ayahku-dipindah tugaskan ke Amerika. Jadi kami sekeluarga harus pindah ke sana. Sebenarnya aku juga tidak ingin ikut dengan mereka. Tapi, ada sebuah agensi model yang menawarkanku untuk bekerja di Amerika. Aku pikir bagus juga, ini bisa menjadi ajang untukku melebarkan sayap di dunia permodelan Internasional. Maka dari itu, aku memutuskan untuk tinggal dan bekerja di sana. Maaf aku tidak memberitahukanmu, karena memang hal ini sangat tiba-tiba." Terang Matsuri.

"Lalu, kenapa sekarang kau kembali lagi ke sini? Memangnya tidak apa-apa meninggalkan pekerjaanmu di sana?" Tanya Ino yang merasa penasaran dengan cerita Matsuri.

"Aku sudah pulang setengah tahun yang lalu. Aku rasa pengetahuan yang aku dapat di Amerika sudah cukup banyak. Sekarang aku ingin bekerja di Jepang, aku benar-benar rindu dengan Jepang." Matsuri mengungkapkan kebahagiaannya karena telah kembali ke Jepang.

Ino yang melihat raut ceria di wajah Matsuri hanya tersenyum simpul, ikut merasa bahagia dengan perasaan yang tengah dirasakan sahabatnya.

Seorang pemuda berambut merah datang dari arah pintu masuk, dan menghampiri Matsuri. Sakura yang melihat pemuda itu langsung merasakan tubuhnya menegang. 'Ternyata, dugaanku benar! Kami-sama, apa lagi sekarang. Kenapa Kau pertemukan aku lagi dengannya.' Rintih Sakura dalam hati.

"Matsuri-chan, maaf menunggu lama." Ucap Gaara datar.

"Tidak apa-apa Gaara-kun. Ayo duduklah!" Matsuri menyuruh Gaara untuk duduk di kursi sebelahnya.

"Ga-...Gaara?!" Ino mengernyit mendengar nama itu, rasanya seperti nama mantan kekasih Sakura. Untuk meyakinkan Ino melirik ke arah Sakura. Terlihat sekali raut keterkejutan sekaligus tatapan kerinduan yang terpancar dari Emerald Sakura saat ini. 'Ah, sepertinya memang benar dugaanku.'

"Kau mengenalnya Ino?" Matsuri melirik ke arah Ino.

"Tidak, aku hanya merasa pernah mendengar namanya saja dari seseorang." Ino berkilah, seolah-olah tak mengenal Gaara. Padahal sebenarnya ia sudah tahu Gaara dari cerita Sakura sebelumnya.

"Oh iya Gaara-kun. Perkenalkan, mereka ini sahabat-sahabatku saat SMA." Matsuri mencoba memperkenalkan Ino, Sai dan juga Sakura kepada Gaara. Gaara mengulurkan tangannya untuk berkenalan dengan mereka.

"Perkenalkan, aku Cherry." Ucap Sakura menatap ke arah Jade Gaara, sambil menutup rasa gugupnya saat berhadapan dengan Gaara agar tidak menimbulkan kecurigaan bahwa dirinya adalah Sakura.

"Sepertinya, aku merasa mengenalmu?" Gaara menatap intens kepada Sakura, 'Dia...Bukan Sakura, kan?' pikirnya.

"Ahaha...Sepertinya wajah sepertiku ini memang pasaran yah." Sakura tertawa untuk mengalihkan perhatian Gaara, karena tatapan Gaara yang membuat Sakura merasa tak nyaman. Sementara yang lain ikut tersenyum geli mendengar ucapan Sakura, kecuali Gaara tentunya.

'Suaranya dan mata emeraldnya memang sama persis. Hanya saja penampilannya yang berbeda. Tapi, benarkah dia itu Sakura? Ah, tidak-tidak! Mirip bukan berarti orang yang sama, kan?' Gaara masih memikirkan kesamaan Cherry dengan mantan kekasihnya dulu, Sakura.

"Gaara-kun, kau kenapa?" Matsuri merasa aneh dengan sikap Gaara yang hanya diam saja.

"Ah tidak, aku tidak apa-apa." Ucap Gaara datar, tersadar dari lamunannya.

"Baiklah, ayo kita memesan makanan." Matsuri memanggil pelayan restoran untuk menuliskan pesanannya.

"Kau mau memesan apa Gaara-kun?" Tawar Matsuri kepada Gaara.

"Hn. Samakan saja pesananku denganmu." Tanggap Gaara datar. Matsuri tidak menyadari jika pandangan Gaara terfokus pada gadis musim semi di hadapannya yang sedang menundukkan kepalanya. 'Sikapnya mencurigakan?' Batin Gaara.

"Baiklah, 2 porsi Sushi Salmon dan juga 2 gelas jus jeruk." Pesan Matsuri kepada pelayan restoran itu. Pelayan itu pun pergi untuk menyiapkan pesanan pelanggannya, kemudian beberapa saat kemudian kembali lagi dengan membawakan pesanan Matsuri.

"Ayo...Makan!" Ucap Matsuri sesaat setelah menerima sepiring Sushi Salmon.

Makan siang kali ini menjadi terasa canggung bagi Sakura karena kehadiran orang yang tidak terduga baginya. Apalagi dengan keadaan orang itu, yang kini telah memadu kasih kembali dengan mantan kekasihnya. 'Ternyata kecurigaanku dulu memang beralasan kan, Gaara-kun?' Sakura berucap sendu dalam hatinya. Sakura tidak menyadari jika Gaara sedari tadi menatap curiga kepadanya.


Tok Tok Tok...

"Sasuke-kun, apa kau ada di dalam?" Tanya Hinata dari luar ruangan Sasuke.

"Hn, masuklah Hinata." Jawab Sasuke yang kini tengah memandangi pemandangan malam hari kota Tokyo yang begitu indah dari kaca jendela besar yang ada di ruangannya.

Mendengar perkataan Sasuke, Hinata langsung masuk ke dalam ruangan itu. Hinata berjalan mendekat perlahan ke arah Sasuke. Rasa gugup langsung menyergapi hatinya tatkala melihat punggung tegap pemuda itu. Merasakan kehadiran seseorang di belakangnya, Sasuke memutar tubuhnya ke belakang.

"Ne, Sasuke-kun? A-...Apa kau masih marah padaku?" Tanya Hinata was-was menatap onyx dihadapannya, takut Sasuke akan bersikap seperti dulu lagi.

"Hn, tidak." Ucap Sasuke datar.

"Syukurlah~..." Hinata menghela napas lega. "Aku pikir, kau akan membenciku. Aku tidak ingin persahabatan kita menjadi rusak karena masalah ini." Terang Hinata sambil tersenyum senang.

"Hn." Lagi-lagi Sasuke hanya menanggapi datar perkataan Hinata. "Hinata...Aku...akan melepasmu, aku...akan merelakanmu dengan Naruto." Ucap Sasuke lirih. Mendengar hal itu, Hinata membulatkan kedua matanya terkejut.

"Kau..! Serius, Sasuke-kun?" Ucap Hinata mencoba meyakinkan ucapan Sasuke.

"Hn. Tapi...Berjanjilah satu hal padaku!" Pinta Sasuke menatap lembut Amethyst Hinata.

"Apa itu Sasuke-kun?" Tanya Hinata penasaran.

"Berjanjilah padaku untuk selalu bahagia!" Sasuke tersenyum tipis kepada Hinata.

"Hiks...hiks...A-...Arigatou Sasuke-kun. A-...Aku berjanji, aku hiks...aku pasti akan selalu bahagia." Hinata menangis terharu dengan perkataan menarik Hinata ke dalam dekapannya, mencoba menenangkan Hinata yang tak henti-hentinya mengeluarkan air mata.

"Hn. Buktikanlah padaku, Hinata!" Sasuke memeluk erat Hinata seakan tak rela jika harus melepas Hinata kepada pemuda lain. 'Mungkin ini terakhir kalinya aku mendekapmu seperti ini.' pikirnya.

"Sakura, yang tadi itu Gaara mantan kekasihmu, kan?" Tanya Ino saat mereka baru tiba di rumah.

"..." Sakura tidak menjawab, namun ia menganggukkan kepalanya pelan.

"Ah...Pantas saja! Dari tadi aku sudah curiga melihat sikapmu yang aneh saat Gaara datang." Ungkap Ino terhadap kecurigaannya tadi.

"Apa sikapku tadi sangat terlihat, Ino? Aku harap Gaara tidak mencurigai kalau Cherry itu sebenarnya adalah Sakura." Ucap Sakura lesu sambil melangkah ke dalam kamarnya.

"Ah, jika dilihat dari sikap Gaara tadi." Ino mengetuk-ngetuk jari tengahnya di dagu dan matanya menatap ke langit-langit rumah seolah-olah sedang berpikir keras. "Sepertinya ia juga pasti merasa curiga denganmu, Ne Sa-...?" Ucapan Ino terpotong, karena ia tidak menemukan Sakura di depannya. "Hah~...kau tidak sopan Sakura. Membiarkan aku berbicara sendiri seperti orang bodoh." Ucapnya kepada diri sendiri.

Sementara itu, Sakura tengah terisak kecil di dalam kamarnya. Memikirkan pertemuannya dengan pria yang dulu dicintainya tadi, membuat hatinya menjadi sesak. 'Kami-sama, ternyata sejak awal pria itu memang tidak pernah mencintaiku.' Lirih Sakura meratapi nasibnya.


Seminggu berlalu, persahabatan Sasuke dan Hinata pun kembali baik seperti dulu. Saat ini mereka sedang berada di perusahaan Namikaze Entertainment untuk memulai syuting mv Nakama's Band. Sebenarnya hanya Sasuke saja yang akan syuting sedangkan Hinata merupakan seorang Desaigner pakaian, khusus bagi artis-artis yang bekerja di Namikaze Entertainment. Walaupun ayahnya, Hyuuga Hiashi sudah menyuruh Hinata untuk memimpin di perusahaan Hyuuga Corp. Namun gadis itu memiliki impiannya sendiri, menjadi seorang Desaigner pakaian profesional.

Kakashi datang menghampiri Sasuke yang sedang di make-up di ruang rias para artis. Hinata juga ada di sana, untuk mempersiapkan pakaian yang akan dipakai oleh Sasuke.

"Apa sudah selesai?" Tanya Kakashi kepada Sasuke yang tengah duduk menghadap cermin.

"Hn, sedikit lagi." Jawab Sasuke singkat.

"Baiklah, lima belas menit lagi kita akan mulai. Bersiap-siaplah, kita akan bertemu dengan Cherry terlebih dahulu." Terang Kakashi.

"Hn."

"Baiklah, aku akan membantumu merapikan pakaian. Ayo Sasuke-kun, cepat ganti pakaianmu!" Ucap Hinata.

"Kuserahkan padamu Hyuuga-san." Ucap Kakashi mempercayakan persiapan Sasuke kepada Hinata. Kakashi kemudian meninggalkan ruangan itu, dan berjalan menuju lokasi syuting di salah satu ruangan studio perusahaan Namikaze Entertainment.

"Semangat! Sasuke-kun." Ucap Hinata tersenyum saat memasangkan sebuah syal putih kepada Sasuke.

"Hn." Gumam Sasuke.

"Selesai...Kalau begitu cepatlah pergi! Mereka pasti telah lama menunggumu." Saran Hinata setelah selesai memasangkan syal pada Sasuke.

"Baiklah, aku pergi." Sasuke meninggalkan Hinata sendirian di dalam ruang ganti dan berjalan menuju lokasi yang sama dengan yang dituju oleh Kakashi.


"Cherry!" Panggil Naruto, saat melihat Sakura datang.

"Ah, Namikaze-san. Apa kabar?" Tanya Sakura berojigi sopan kepada Naruto.

"Hm, aku baik. Oh iya, jangan terlalu formal begitu Cherry. Aku tidak suka jika kau memanggilku seperti itu. Panggil saja aku Naruto." Pinta Naruto kepada Sakura.

"Ah, maaf. Baiklah Naruto...-kun?" Ucap Sakura pelan, takut jika Naruto tidak suka dengan panggilannya.

"Hm, itu lebih baik Cherry." Naruto tersenyum senang dengan panggilan yang diberikan Sakura untuknya. Hatinya menghangat dan sepertinya ribuan kupu-kupu kini tengah menggerayangi perutnya menghantarkan suatu perasaan menggelitik didirinya. "Oh iya, kau sudah memikirkan tawaranku untuk menjadi seorang penyanyi?" Tanya Naruto kepada Sakura.

"Un, aku mau." Sakura menganggukkan kepalanya pelan dengan ekspresi wajah yang malu-malu.

"Baguslah, aku senang kau tidak menolaknya." Naruto menepuk puncak kepala Cherry pelan dan tersenyum lebar. Sementara Sakura hanya berblushing ria atas perlakuan Naruto.

"Hm...Apa aku mengganggu kalian?" Tanya Sasuke dingin, onyxnyamenatap tajam kepada Naruto.

"Ah, tentu saja tidak Sasuke." Ucap Naruto santai tanpa mempedulikan tatapan menusuk Sasuke. "Sasuke perkenalkan, ini Cherry partnermu dalam syuting mv ini. Lalu Cherry, ini Uchiha Sasuke." Naruto saling memperkenalkan Sasuke dan Sakura satu sama lain, saat mereka sudah berkumpul di lokasi syuting.

"Ha'i, salam kenal Uchiha-san. Mohon kerja samanya." Sakura membungkukkan badannya dan tersenyum lembut.

"Hn." Tanggap Sasuke dingin dengan tatapan tidak suka ke arah Sakura. Namun, Sakura tidak terlalu mempedulikan hal itu. Rasanya sudah terbiasa menghadapi orang yang seperti ini. Mengingat mantan kekasihnya dulu juga, mempunyai sifat seperti Sasuke.

"Baiklah, kalian sudah tahu kan apa yang harus kalian lakukan? Kita akan mulai syuting sekarang! Aku harap kalian bisa bekerja sama dengan baik. Aku sangat mengandalkan kalian berdua saat ini." Naruto menepuk bahu Sakura dan Sasuke. Sementara Sakura dan Sasuke-Ah..atau lebih tepatnya hanya Sakura saja-yang menganggukkan kepalanya mengerti. Naruto secara spontan mengelus kembali pucuk kepala Sakura dan tersenyum lembut. "Hm, berjuanglah." Motivasinya kepada Sakura. Sakura yang diperlakukan seperti itu, hanya bisa tersipu malu. Sasuke yang melihat hal itu menggeram kesal, tentu saja bukan karena cemburu kepada Sakura, melainkan kepada tindakan Naruto yang bersikap lembut kepada gadis itu serta tatapan yang sulit diartikan terpancar dari sapphire Naruto. 'Kau menyukainya, Naruto?" Dengus Sasuke di dalam hati. 'Lihat saja, aku tidak akan membiarkanmu untuk menjalin hubungan dengan gadis itu, tidak akan pernah! Tidak akan kubiarkan Hinata bersedih lagi karenamu.' Batinnya melanjutkan. Sasuke tersenyum menyeringai dan berjalan menjauhi Naruto dan Sakura.

Mereka pun memulai syuting mv Nakama's Band untuk lagu 'Hurting my Heart' yang merupakan lagu andalan Nakama's Band dalam album kali ini. Dalam mv ini, Sakura dan Sasuke berperan sebagai sepasang kekasih. Sementara Uzumaki Karin, yang merupakan sepupu Naruto, berperan sebagai orang ketiga. Lagu ini mengisahkan tentang sepasang kekasih yang awalnya, hubungan mereka berjalan baik-baik saja dan selalu dipenuhi dengan kemesraan serta kebahagiaan. Namun, kehadiran orang ketiga menghancurkan semuanya. Orang ketiga itu, mengadudombakan sepasang kekasih ini, sehingga sang pemuda tidak percaya lagi dengan kekasihnya dan meninggalkannya. Sang gadis tak bisa berkata apa-apa lagi karena hatinya terlalu sakit dengan sikap kekasihnya itu, dan ia hanya bisa menatap kepergian sang kekasih dengan sendu. Pemuda itu kemudian menjalin hubungan dengan gadis yang merupakan orang ketiga itu. Awalnya mereka bahagia, tapi akhirnya setelah sekian lama sang pemuda menyadari jika ia hanya diperalat oleh gadis itu. Pemuda itu hanya bisa menyesal karena sudah menyakiti mantan kekasihnya dulu. Hm, kira-kira seperti itulah gambaran untuk mv ini.


Syuting ini dilakukan di lima lokasi yang berbeda, selama tiga hari. Selama proses syuting, Naruto dan Sakura terlihat semakin dekat. Di sela-sela waktu istirahat syuting, Naruto selalu mengajak Sakura untuk makan siang bersama, tanpa memperhatikan Hinata yang tengah menatap sendu kepada Naruto sambil memegang sekotak bento untuk Naruto. Sasuke yang melihat itu, lagi-lagi hanya bisa menggeram kesal. 'Secepatnya aku harus memulai rencana ini.' Batin Sasuke, sambil menunjukkan seringainya yang sangat mempesona itu.

"Akhirnya selesai juga~..." Ucap Sakura menghela napas lega. Kini ia tengah duduk di sebuah kursi sambil meneguk minumannya. Tanpa di sadari oleh Sakura, Sasuke tengah berjalan menghampirinya.

"Cherry...bisa kita berbicara sebentar...?" Pinta Sasuke secara tiba-tiba, membuat Sakura yang sedang meneguk minumannya tersedak.

"Uhuk...uhuk..., kau mengangetkanku Uchiha-san!" Sakura terbatuk-batuk sambil memukul-mukul dadanya pelan.

"Hn." Gumam Sasuke.

"Apa yang ingin kau bicarakan, Uchiha-san?" Sakura merasa heran dengan ajakan Sasuke. Karena yang ia tahu, selama ini ia tidak pernah berbicara secara pribadi dengan Sasuke. Terkecuali saat melakukan syuting bersama, tentunya mau tidak mau ia harus berkomunikasi dengan Sasuke.

"Tidak di sini, Cherry." Sasuke melihat ke sekeliling, untuk mencari sebuah tempat yang sepi. Dia menemukan dua buah ayunan yang cukup jauh dari tempat syuting. "Ikuti aku!" Perintah Sasuke yang kini tengah berjalan ke arah ayun-ayunan yang berada di taman itu. Sakura mengikuti sang pemuda Uchiha itu di belakangnya. Sesampainya di sana, Sakura mendudukkan dirinya pada salah satu ayunan di samping Sasuke.

"Un, a-apa yang ingin kau bicarakan?" Tanya Sakura gugup melirik ke arah Sasuke.

"Jadilah kekasihku!" Ucap Sasuke dengan nada memerintah dan tiba-tiba.

BLUUSSHH...

"A-...Apa maksud Uchiha-san?" Sakura merona merah mendengar perkataan pemuda raven di sampingnya, tidak menyangka akan pernyataan yang keluar dari mulut pemuda Uchiha itu.

"Kau tidak mendengarnya?" Sasuke mengangkat sebelah alisnya.

"Ti-...Tidak, bukan begitu! Aku mendengarnya dengan jelas. Tapi...Apa alasanmu tiba- tiba saja memintaku untuk menjadi kekasihmu? Bukankah kita baru saja saling mengenal? Bahkan kita tidak dekat sama sekali!" Sakura menatap kedua onyx Sasuke, mencoba mencari kebohongan di dalam sana. Namun, sepertinya Sasuke bisa menghilangkan keraguan yang dirasakan Sakura, yaitu dengan menampilkan keseriusan yang mendalam. Akting yang hebat Eh, Sasuke?

Sasuke beranjak dari ayunan itu dan menghela napas perlahan, kemudian ia menghampiri ayunan Sakura. Dia berjongkok di hadapan Sakura dan meraih kedua tangan Sakura dengan lembut. Digenggamnya tangan mungil gadis musim semi itu, lalu dikecupnya singkat. Hal ini, tentu saja membuat Sakura menjadi salah tingkah. Meskipun dirinya sudah berkata belum siap untuk menjalin hubungan dengan pemuda mana pun, tapi sepertinya pesona telak Uchiha Sasuke tak akan mungkin sanggup untuk ia tolak.

"Memangnya harus ada alasan khusus untuk mencintai seseorang, Eh?" Ucap Sasuke.

"I-...Itu, tentu saja ada." Jawab Sakura gugup.

"Katakan jika memang ada!" Ucap Sasuke datar.

"Misalnya saja, kau mencintai gadis itu karena kepribadiannya. Kepribadian unik yang tidak dimiliki gadis mana pun. Lalu, kau juga merasa nyaman dengan keberadaan gadis itu dan ingin selalu berada di sisi gadis itu untuk membahagiakannya. Mungkin seperti itulah." Terang Sakura. Sasuke yang mendengar jawaban Sakura, sedikit terpaku dan terdiam sesaat. Ya, memang benar jawaban yang diberikan Sakura. Saat ini, itulah yang sedang dilakukan oleh Sasuke. Tidak ingin melihat gadis yang dicintainya bersedih lagi. Tapi, tidak sadarkah kau Sasuke, jika nantinya kau akan menyakiti hati yang lain dengan tindakanmu ini, Eh?

"Hn. Yang aku tahu, aku hanya ingin memilikimu!" Tegas Sasuke.

"..." Sakura hanya diam tanpa memberi jawaban. 'Kami-sama, aku harus bagaimana? Aku sedikit ragu dengan pria ini. Aku tak yakin, jika ia benar-benar serius denganku.' Batin Sakura.

"Lalu...bagaimana jawabanmu? Aku tidak menerima kata tidak!" Tegas Sasuke menatap tajam emerald Sakura.

"Aku..., sudah pernah satu kali mengalami sakit hati. Hal itu, sangat membuatku terpuruk." Sakura menundukkan kepalanya. "Kali ini, jika memang kau hanya ingin mempermainkanku juga, maka lebih baik kau pergi saja." Lirih Sakura pelan.

Sasuke sebenarnya tidak tega untuk bersandiwara mencintai gadis di hadapannya. Tapi semua ini harus ia lakukan, demi gadis yang dicintainya. Sasuke mengangkat dagu Sakura dan perlahan wajahnya didekatkan ke wajah Sakura, diciumnya lembut bibir mungil gadis musim semi itu. Sakura hanya bisa membelalakan matanya ketika Sasuke mencium bibirnya. Rasanya keraguan itu mulai menghilang dari hatinya.

"Aku mencintaimu, aku janji tidak akan menyakitimu." Ucap Sasuke berbohong untuk meyakinkan Sakura akan perasaan yang dimilikinya. Sasuke menarik Sakura ke dalam pelukan dada bidangnya dan menyeringai tipis. 'Ternyata mudah sekali membodohi gadis ini.' Pikir Sasuke. Sementara Sakura menitikkan air matanya karena merasa bahagia dengan perkataan Sasuke, tanpa tahu adanya kebohongan yang terselip dalam sikap Sasuke.

"Baiklah, aku pegang janjimu, Uchiha-san." Sakura balas memeluk Sasuke. Sepertinya ini saat yang tepat bagi Sakura untuk mulai move on dari mantan kekasihnya.

"Hm...? Kau masih memanggilku Uchiha-san?" Sasuke melepas pelukannya dan mengangkat sebelah alisnya heran. Sementara itu Sakura hanya tertunduk malu menyembunyikan rona tipis di pipinya.

"Um...Baiklah, aku akan memanggilmu 'Sasuke-kun'." Sakura tersenyum lembut kepada Sasuke. Sasuke mengalihkan pandangannya di sekitar taman. Tanpa sengaja, onyxnya melihat seseorang yang tengah bersembunyi di balik sebuah pohon. Hal ini, membuat Sasuke semakin menyeringai puas. 'Rambut blonde itu, pasti tidak salah lagi! Dobe, aku tak akan membiarkan Hinata terluka lagi.' Ucap Sasuke di dalam hati. Sasuke kembali memeluk Sakura dan dengan sengaja mencium kembali bibir ranum gadis itu. Sakura sendiri sepertinya menikmati saja perlakuan Sasuke padanya. Sementara itu, sepasang sapphire yang sedari tadi bersembunyi di balik pohon hanya bisa menatap sendu ke arah mereka.'Sasuke...Apa yang tengah kau rencanakan?!' Geram Naruto dalam hatinya.

-TBC-


Um, sepertinya chapter 2 ini agak membosankan? Maaf, jika alurnya yang terlalu cepat dan juga ceritanya kurang bisa diharapkan, Ne? Saya salut dengan para author yang bisa menulis fic dengan cerita yang menarik, karena ternyata menulis fic tidaklah mudah. Butuh perjuangan untuk mewujudkan imajinasi yang muncul dalam bentuk perkataan. Yapp, mungkin hanya ini yang bisa saya berikan di chapter ini. Agak kurang menarik menurut saya pribadi ^_^, tapi semoga kalian semua suka. Jika kalian masih berkenan untuk membaca fic gaje ini, berkenankah untuk memberikan review lagi? Salam hangat dan Terima kasih.