Saya masih newbie disini, setelah sekian lama menjadi silent reader akhirnya saya mencoba untuk membuat sebuah fanfic.

Ini fanfic pertama saya, ceritanya agak pasaran juga ^_^, dan maaf kalau ada kesalahan penulisan dan lain-lain.

Semoga kalian suka...

Disclaimer : Masashi Kishimoto dengan semua chara-chara dalam anime Naruto

WARNING : OOC, typo, cerita gaje, alur kecepatan dll.

Summary : Aku hanya tidak ingin menjadi rumit/Apa yang kau inginkan, Teme?/Berpacaranlah dengan Hinata/Jadi ini rencanamu? kau sungguh licik Teme!/Kami-sama...ternyata selama ini aku terjebak dalam kebohongan yang dibuat oleh Sasuke-kun/Apa dia sudah membacanya?!/ Apa kau puas UCHIHA SASUKE!/Maafkan aku Cherry...maaf, maafkan aku/

Author by : Hikaru Sora 14

Sebelumnya saya ucapkan terima kasih kepada kalian semua yang telah membaca serta me-review, mem-follow dan mem-fav kan fic ini ^_^ Tanpa kalian fic ini tidak akan berarti apa-apa

Please Enjoy Reading

Don't Like Don't Read


Balasan Review

Racchan Cherry-desu: Sebenarnya Sasuke juga belum mendapatkan rencana untuk membuat Naruto menyukai Hinata, tapi karena kebetulan Sasuke melihat kemungkinan perasaan Naruto menyukai Sakura, jadi Sasuke berpikir untuk menjauhkan Sakura dari Naruto, dengan cara menjadikan Sakura kekasihnya. ^_^ Hehehe, iyah saya juga merasa chapter 2 itu memang kurang greget. Yapp, makasih buat reviewnya. Semoga chapter ini suka ^_^...Dan makasih untuk motivasinya, itu sangat membuat saya menjadi tenang.

Febri Feven: Um, gomen, saya tidak bisa update kilat. Tapi semoga suka dengan chapter 3 ini ^_^ Arigatou~...

SasuSaku: Cup...cup...jangan nangis. Siap ini udha lanjut kok ^_^ ...Makasih udha membaca fic ini.

Hanna Hoshiko: Hm, akan saya coba usahakan ^_^ Arigatou.

Eysha CherryBlossom: Wahh~..Makasih yah Eysha-chan untuk motivasinya. Yosh! Mudah-mudahan saya bisa terus belajar lebih baik lagi. Semangat! ^_^ Selamat menikmati chapter 3 ini...

Sukasns: Salam kenal juga. Hm maaf, ceritanya memang sangat pasaran sekali, selain itu memang banyak kesalahan penulisan dalam chapter 1 dan chapter 2. Un, saya tahu saya kurang bisa memberikan deskripsi yang baik dalam cerita ini ^_^ ...hehe...Saya masih perlu banyak belajar lagi. Wahh~ Saya senang dengan masukkan dan motivasi Anda. Semoga ke depannya saya bisa memperbaiki kesalahan-kesalahan saya. Arigatou~

De Chan: Hallo juga De Chan ^_^ ...Siipp ini udha update kok, semoga suka yah~...dengan chapter 3 ini. Arigatou~...

Yu: Arigatou sudah menyempatkan membaca fic ini. Maaf, karena lama update. Saya usahakan agar Sakura tidak terlalu tersiksa... ^_^ Hehehe, iyah~ kemarin GaaMatsu nya kurang romantis yah...Mungkin lain kali saya akan menampilkan keromantisan mereka ^_^

Firha: Makasih sudah mau baca fic ini. Um, maaf saya tidak bisa update kilat. Mungkin chapter depan sudah tamat...Hehe...Selamat membaca chapter 3 ini, semoga tidak membosankan ^_^

Sasa: Hehehe, gak apa-apa kok. Bagus rekomendasinya, nanti saya coba pakai idenya. Makasih sudah membaca fic ini. Semoga tidak bosan-bosan untuk mengikuti yah~...Arigatou ^_^

Cherry Sakura Heartfilia: Gomen jika cerita fic ini seperti sinetron atau drama Korea. Gomen juga karena karakter Sakura yang seperti itu, saya juga kurang suka sebenarnya ^_^ Tapi itu tuntutan cerita walaupun kelihatannya berlebihan yah. Pastinya Sasuke gak akan semudah itu dapetin maaf dari Sakura. Sekali lagi maaf karena udha buat kamu menjadi kesal dengan fic ini. Oke, saya coba usahakan. Arigatou~...

: Gomen yah kalau ceritanya buat sakit hati... Hm, semoga suka dengan chapter 3 ini. Arigatou, sudah membaca fic ini ^_^

Sekali lagi saya ucapkan banyak terima kasih kepada kalian semua reviewers, silent readers, dan followers fic ini...^_^ Arigatou~...


Hari semakin beranjak sore, matahari pun mulai bergerak perlahan menuju ke peraduannya. Sinar redup yang dihasilkan oleh sang raja siang itu, menambah keromantisan tersendiri bagi kedua insan -ah atau mungkin lebih tepatnya hanya sang gadis yang tengah merasakannya- yang sedang di mabuk asmara ini. Setelah melepaskan pagutannya, Sasuke kembali melirik ke arah pohon tempat Naruto berada tadi memperhatikan dirinya dan Sakura. Bibirnya menyeringai puas, tatkala ia tak mendapati kembali pemuda blonde itu di sana. 'Permainan baru saja dimulai Naruto!' Ucapnya sinis di dalam hati. Sakura yang sedari tadi mencoba mengatur napasnya yang terengah-engah setelah berciuman dengan Sasuke, menatap heran kepada pemuda yang baru saja resmi menjadi kekasihnya itu, ketika pemuda itu tiba-tiba saja menyeringai sambil melihat sebuah pohon.

"Ada apa Sasuke-kun?" Tanya Sakura penasaran, menepuk pundak Sasuke untuk mengalihkan perhatian Sasuke.

"Hn. Tidak ada apa-apa." Sasuke kembali memasang wajah datarnya saat menolehkan wajahnya kembali menghadap gadis musim semi itu. "Oh iya Cherry. Bisakah kau tidak memberitahu siapa pun mengenai hubungan kita ini?" Pinta Sasuke kepada Sakura. Sakura menaikkan sebelah alisnya heran.

"Kenapa? Apa ada hal yang kau sembunyikan da-..." Sakura tidak melanjutkan perkataannya karena disela oleh Sasuke.

"Tidak! Bukan begitu." Sasuke terdiam sejenak, onyx nya beralih menatap emerald dihadapannya. "Kau tahu kan konsekuensi sebagai publik figur?" Tanya Sasuke kepada Sakura.

"Um." Sakura menganggukkan kepalanya pelan. "Lalu?" Lanjutnya bertanya.

"Aku hanya tidak ingin menjadi rumit." Sasuke berpura-pura menampilkan wajahnya yang sendu. "Aku tidak mau jika hubungan kita dipublikasikan. Aku hanya tidak ingin kehidupan pribadiku di umbar di media massa. Kau juga pasti tidak mau seperti itu kan?" Tanya Sasuke.

"Um. Baiklah." Sakura menganggukkan kepalanya pelan, tanda ia menyetujui perkataan Sasuke. "Tapi tidak dengan teman dekatku, Ino dan Sai! Termasuk keluargamu juga! Aku ingin mengenal mereka, bolehkan?" Ucap Sakura menambahkan.

"Hn. Tidak apa-apa jika hanya mereka yang tahu." Ucap Sasuke menyetujui agar Sakura tidak terlalu mencurigai tindakannya.

"Baiklah, kalau begitu." Sakura tersenyum lembut, lalu merengkuh Sasuke ke dalam pelukannya, menyangga dagunya pada bahu lebar pemuda raven itu. Sasuke hanya diam tanpa berniat untuk balas memeluk Sakura. "Tapi, bagaimana jika aku ingin bertemu denganmu?" Tanya Sakura lirih, menampilkan wajahnya yang cemberut.

"Hn. Kita bisa bertemu diam-diam dengan menggunakan penyamaran. Atau jika kau mau, kau juga bisa bermain ke rumahku." Jawab Sasuke sambil melepaskan pelukan Sakura karena merasa tidak nyaman dengan pelukan gadis itu.

"Benarkah? Kalau begitu, aku minta nomor ponselmu, agar aku bisa menghubungimu nanti." Pinta Sakura kepada Sasuke.

"Hn." Sasuke kemudian menyebutkan nomor ponselnya kepada Sakura.

"Arigatou, Sasuke-kun." Ucap Sakura tersenyum setelah menyimpan nomor ponsel Sasuke. Tak lama terdengar bunyi handphone Sakura yang menandakan adanya pesan masuk. Sakura kemudian membuka pesan tersebut yang ternyata Ino lah yang merupakan sang pengirim pesan.

'Sakura kau ada di mana? Kami menunggumu di parkiran.' Tanya Ino dalam pesannya.

'Iya Ino, tunggu sebentar! Aku akan segera ke sana.' Sakura dengan cepat membalas pesan Ino, lalu memasukkan kembali handphone nya pada tas kecil miliknya.

"Hn. Kau...mau pulang sekarang?" Tanya Sasuke yang melihat gelagat Sakura saat membalas sms.

"Iya, aku pulang bersama Ino dan Sai. Mereka sudah menungguku di parkiran. Bagaimana denganmu?" Tanya Sakura balik.

"Aku masih ada sedikit urusan dengan Naruto. Ku antar kau sampai lobi kantor." Tawar Sasuke, beranjak dari duduknya dan mengulurkan tangannya pada Sakura. Sakura menyambut dengan senang uluran tangan Sasuke, digenggamnya lembut tangan besar pemuda itu. Lalu mereka berjalan perlahan meninggalkan taman untuk menuju ke lobi kantor Namikaze Entertainmet.

"Jaa~ ne, Sasuke-kun. Sampaikan maaf ku pada Naruto-kun, karena tidak pamit terlebih dahulu padanya." Ucap Sakura tersenyum melambaikan tangannya kepada Sasuke saat hendak keluar dari lobi kantor menuju ke tempat parkiran, di mana Ino dan Sai tengah menunggu dirinya.

"Hn." Sasuke mengangkat tangannya singkat untuk membalas tindakan Sakura. Setelah Sakura benar-benar menghilang, Sasuke membalikkan badannya untuk pergi menuju ke ruangan Naruto yang berada di lantai tiga.


"Apa yang kau inginkan, Teme?" Tanya Naruto menatap tajam onyx dihadapannya. Mereka kini sedang duduk berhadapan pada sofa tamu yang ada di ruangan kerja Naruto. Kini Naruto tengah mencodongkan tubuhnya ke depan, sambil menyanggakan kedua sikut tangannya pada kaki, sementara Sasuke merebahkan tubuhnya santai pada sandaran sofa dengan salah satu tangannya terangkat pada tangan sofa.

"Hn. Kau tadi melihatku bersama Cherry?" Sasuke malah balik bertanya, tanpa mengindahkan pertanyaan Naruto sebelumnya.

"Hn. Lalu...apa maksudmu melakukan hal itu?" Tanya Naruto geram, berusaha menahan emosinya dengan mengepalkan kedua tangannya.

"Hn. Mudah saja." Ucap Sasuke datar memperlihatkan seringai tipis di wajah tampannya. "Aku tahu selama ini kau menyukai Cherry." Ungkap Sasuke akan perasaan yang dimiliki Naruto. Naruto yang mendengar hal itu tiba-tiba saja merasakan tubuhnya menegang. "Tidak perlu terkejut seperti itu, Naruto." Ucap Sasuke santai, saat melihat reaksi Naruto. "Aku hanya ingin menjauhkanmu dari gadis yang kau sukai, karena kedekatanmu dengan Cherry membuat Hinata menjadi terluka." Ucap Sasuke menjelaskan.

BRAAKKKK

"Cih,brengsek! Kau ingin menjauhkan Cherry dariku dengan cara menjadikan Cherry sebagai kekasihmu." Naruto melampiaskan amarahnya pada meja di depannya. "Kau tidak sadar jika hal itu bisa membuat Cherry terluka juga, Hah!" Naruto menggeram marah terhadap perkataan Sasuke.

"Hn. Tenang saja, aku tidak akan berbuat macam-macam. Asal kau menuruti permintaanku." Tanggap Sasuke datar, tidak mempedulikan Naruto yang sedang emosi di hadapannya.

"Apa?" Tanya Naruto sedikit ketus.

"Berpacaranlah dengan Hinata!" Pinta Sasuke tegas, menatap sapphire di hadapannya yang tengah terbelalak kaget.

"Kau! Jadi ini rencanamu? kau sungguh licik Teme! Bukankah sudah ku bilang, jika perasaan itu tidak bisa dipaksakan!" Geram Naruto, berusaha menahan emosinya.

"Hn. Terserah." Ucap Sasuke datar, sambil beranjak dari sofa tanpa menunggu jawaban pasti atas kesediaan Naruto terhadap permintaannya. Memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana, dan berjalan perlahan menjauhi Naruto yang sedang menundukkan kepalanya. Tepat saat ia hendak membuka pintu, Naruto kembali berucap kepadanya. Hal ini tentu saja menimbulkan seringai tipis di wajah Uchiha bungsu tersebut.

"Tunggu!" Ucap Naruto sebelum Sasuke benar-benar pergi. "Aku akan mengikuti permintaanmu." Ucapnya tegas menatap ke arah punggung Sasuke.

"Hn. Baguslah. Aku tunggu secepatnya!" Ucap Sasuke tanpa membalikkan badannya menghadap Naruto. Sasuke kemudian membuka pintu ruangan Naruto, dan melangkah keluar dengan hati yang puas, karena rencananya membuahkan hasil. 'Semoga kau bahagia dengan semua yang ku lakukan Hinata.' Ucapnya lirih dalam hati.


"Benarkah itu Sakura?!" Tanya Ino antusias mendengar cerita Sakura. Sejak Ino melihat wajah Sakura berseri-seri saat masuk ke dalam mobil, ia langsung memberondong Sakura dengan banyak pertanyaan. Terpaksa mau tidak mau Sakura harus menceritakan semua yang di alaminya bersama Sasuke di perusahaan Namikaze Entertainment.

"Iya. Aku pun tidak menyangka jika ia akan menyatakan perasaannya dan memintaku untuk jadi kekasihnya." Sakura tersenyum bahagia saat mengingat Sasuke menyatakan perasaan cinta kepadanya.

"Wahh~...Syukurlah kalau begitu." Ino memeluk sayang sahabat merah mudanya itu. "Aku turut bahagia, Sakura." Ucapnya melanjutkan.

"Hm, arigatou Ino." Sakura membalas pelukan Ino.

"Ah, aku harap kau bisa menjadi gadis yang tegar, Sakura. Jangan lemah terhadap seorang pria. Kau harus berubah! Mengerti!" Ucap Ino menyemangati sambil melepaskan pelukannya.

"Um, tentu saja Ino. Aku pasti akan berubah!" Ucap Sakura meyakinkan Ino dan tersenyum tulus.

"Selamat Sakura-san. Aku turut mendoakanmu berbahagia dengan Uchiha-san." Sai tersenyum di balik kursi kemudinya, turut memberikan ucapan selamat atas kebahagiaan yang tengah dirasakan oleh gadis musim semi itu.

"Arigatou Sai-san." Sakura membalas senyuman hangat Sai.

"Oh iya Sakura. Kami tadi sudah membicarakan tentang kontrak kerjamu sebagai penyanyi di perusahaan Namikaze Entertainment. Namikaze-san memintamu untuk mulai rekaman minggu depan, apa kau keberatan?" Tanya Ino.

"Aku tidak keberatan Ino." Ucap Sakura lembut.

" Baguslah! Kalau begitu, kau harus menyiapkan diri sebaik mungkin. Dan jangan lupa, besok kau ada pemotretan jam 9 pagi. Konsepnya tentang pernikahan, kau akan dipasangkan kembali dengan Yahiko Pain." Terang Ino menjelaskan aktivitas pekerjaan yang harus dilakukan Sakura esok hari.

"Ah, sudah lama aku tidak berjumpa dengannya. Pasti akan sangat menyenangkan bisa bekerja sama lagi dengannya." Sakura tersenyum manis mengingat partner kerjanya, Yahiko Pain. Yahiko Pain memang terkenal sebagai model yang sangat berbakat, murah hati, memiliki kepribadian yang dewasa dan juga mudah bersosialisasi dengan siapa saja. Yahiko juga selalu memberikan Sakura masukan-masukan dalam melakukan pekerjaan sebagai model, meskipun baru pertama kali bertemu, tapi Yahiko Pain tidak merasa canggung saat berkomunikasi dengan Sakura. Ya, baginya tidak ada kata 'teman lama' atau 'teman baru', toh semua orang yang ia kenal-meskipun tidak di ajak berkenalan secara resmi-sudah ia anggap sebagai keluarganya. Oleh karena itu, Sakura merasa sangat nyaman bisa berada di dekat Yahiko, figur seorang kakak tampak sangat dominan pada diri Yahiko.


Naruto duduk termenung menatap kosong langit-langit ruangan kerjanya. Dipikirkannya segala masalah yang telah terjadi hari ini. Memikirkan segala konsekuensi yang mungkin akan terjadi jika ia benar-benar meminta Hinata untuk menjadi kekasihnya. Berpura-pura untuk mencintai dan menerima gadis itu, rasanya ia tak akan sanggup. Tak akan sanggup untuk membohongi gadis polos itu. Tak akan sanggup untuk mempermainkan perasaan putri Hyuuga itu. Tapi, ia sudah terlanjur menyanggupi permintaan Sasuke itu tanpa memikirkan apa yang akan terjadi ke depannya. Sungguh tadi ia merasa sangat emosi kepada Sasuke, sehingga ia tak bisa berpikir dengan kepala dingin. Tapi, berpikir dengan tenang pun tak akan memberikan solusi, karena memang tak ada pilihan lain selain menyanggupi permintaan Sasuke. 'Sial! Kenapa jadi rumit seperti ini?' Naruto mengusap kasar wajahnya yang terlihat kusut itu. Perlahan tangannya meraih Smartphonenya untuk menghubungi seseorang yang saat ini tengah memenuhi pikirannya. Ya, gadis indigo sang putri sulung keluarga Hyuuga.

'Halo, Hinata-chan. Bisa kita bertemu malam ini?' Tanya Naruto to the point.

"Hm, tentu saja Naruto-kun. Kau mau bertemu di mana?' Hinata berucap lembut untuk menyembunyikan rasa senangnya yang begitu besar, saat tahu Naruto meneleponnya.

'Tidak perlu. Aku akan datang ke rumahmu.' Ucap Naruto kepada Hinata.

'Ah, baiklah kalau begitu. Aku akan bersiap-siap sekarang. Sampai bertemu nanti.' Ucap Hinata riang mengakhiri obrolannya.

'Hn.' Naruto menutup panggilannya pada Hinata. Terdiam sejenak, sebelum akhirnya ia beranjak mengambil jas yang tersampir pada kursinya, lalu memakai jas tersebut pada tubuhnya. Kaki kekarnya melangkah gagah keluar dari ruangannya menuju ke arah lift untuk turun ke lobi kantor, dan menuju tempat parkir untuk mengambil mobilnya.

Kini Naruto tengah melajukan mobilnya menuju ke kediaman Hyuuga. Perasaannya sedari tadi sungguh kacau, tak bisa berkonsentrasi pada apapun. Terlalu larut dalam pikirannya yang sedang rumit, ia tak menyadari jika mobilnya kini sudah sampai di kediaman Hyuuga. Naruto turun dari mobilnya, kemudian berjalan ke arah pintu masuk kediaman Hyuuga.

"Ah, Naruto-kun, kau sudah datang." Pekik Hinata senang, saat secara tidak sengaja Hinata keluar dari rumahnya.

"Ah, iya Hinata-chan. Kau mau ke mana?" Tanya Naruto merasa heran melihat Hinata keluar dari rumah.

"Ti-...Tidak ada apa-apa Naruto-kun. Memang aku sengaja keluar, begitu mendengar suara mesin mobilmu." Ucap Hinata tersenyum lembut kepada Naruto, tentu saja disertai semburat tipis di wajahnya. Naruto hanya menatap sendu kepada Hinata, merasa bersalah dengan apa yang akan dilakukannya saat ini.

"Hm, kau ini. Sepertinya benar-benar peka sekali jika menyangkut hal-hal tentang diriku." Ucap Naruto menggoda Hinata, berusaha senatural mungkin bersikap kepada Hinata.

"Na-...Naruto-kun!" Tegur Hinata, wajahnya ia tundukkan karena merasa malu. Naruto terkikik geli karenanya. "Sudahlah, ayo masuk!" Ucap Hinata mempersilakan Naruto untuk masuk.

"Hn." Gumam Naruto.

.

.

.

"Jadi...Apa yang ingin kau bicarakan Naruto-kun?" Tanya Hinata yang baru datang dari arah dapur membawa dua buah cangkir berisi teh.

"Hn. Duduklah dulu Hinata-chan!" Pinta Naruto menepuk sofa di sebelahnya. Hinata mengikuti perkataan Naruto, dan mendudukkan dirinya disebelah pemuda blonde tersebut. Naruto menatap lembut Hinata, namun tetap terpancar kekhawatiran dari sapphire birunya. Hinata yang melihat hal itu, meraih wajah Naruto dan membelainya lembut. Naruto pun meletakkan tangannya di atas tangan Hinata dan menggenggamnya erat.

"Ada apa Naruto-kun? Sepertinya ada sesuatu yang sedang kau pikirkan?" Tanya Hinata lembut.

"Hn. Maaf...Selama ini, aku tahu kau memiliki perasaan khusus terhadapku." Terang Naruto. Hinata yang mendengar hal itu merasa terkejut dan langsung menarik tangannya dari genggaman Naruto.

"Ka-...Kau mengetahuinya?" Tanya Hinata gugup.

"Ya, sudah sejak lama aku mengetahuinya. Tapi aku sebenar-..." Ucapan Naruto terpotong oleh teriakan Hinata.

"Sudah, jangan diteruskan!" Teriak Hinata sambil menutup kedua mata dan kedua telinganya dengan tangannya. "Cukup, aku tidak mau dengar hal itu! Cukup." Ucap Hinata lirih, menyembunyikan genangan air mata yang kini berkumpul di pelupuk matanya dengan menundukkan kepalanya. Ya, ia tidak mau mendengar Naruto menolaknya saat ini, karena ia masih ingin berada di sisi pemuda itu meskipun Naruto tidak membalas perasaannya.

Naruto yang melihat sikap Hinata yang seperti itu, merasa sangat iba. Tidak tega jika harus membohongi gadis di hadapannya. Tapi, ia tidak punya pilihan lain. Ia tetap harus melakukannya mau tidak mau. Perlahan ia angkat dagu gadis itu ragu-ragu, terlihat air mata yang mengalir deras di pipi gembil putri Hyuuga tersebut. Naruto mendekatkan wajahnya pada wajah Hinata yang kini terlihat kacau. Diciumnya lembut bibir basah gadis indigo itu. Hinata hanya bisa terbelalak kaget dengan perbuatan Naruto, namun perasaan hangat juga langsung merambati hatinya saat ini.

"Aku belum selesai bicara, kenapa kau malah bilang tidak ingin mendengarkan perkataanku, Hn?" Tanya Naruto, setelah melepas pagutannya dengan Hinata dan menghapus air mata di pipi Hinata.

"Aku...takut untuk mendengar perkataanmu." Ucap Hinata sendu.

"Hm, kau tak perlu takut." Ucap Naruto menenangkan dengan mengusap lembut surai panjanggadis itu. "Aku hanya ingin mengatakan bahwa aku juga sebenarnya sangat mencintaimu." Naruto tersenyum lembut kepada Hinata. "Kau...mau kan menjadi kekasihku?" Tanya Naruto yang langsung membuat Hinata salah tingkah.

"Um, ano...Na-...Naruto-kun, aku mau." Hinata menganggukkan kepalanya malu.

"Arigatou, Hinata-chan." Naruto menarik Hinata ke dalam pelukannya. Ia tersenyum, namun bukan senyuman tulus seperti biasanya. 'Kami-sama,semoga di masa depan aku tidak menyakiti hati gadis ini.' Mohonnya kepada Kami-sama di dalam hati.


"Nah, sekarang kalian saling berhadapan satu sama lain, saling bergenggaman tangan dan tersenyum." Ucap Sasori sang fotografer. Kini ia tengah mengarahkan Sakura dan juga Yahiko untuk pemotretan dengan konsep pernikahan. Mereka tampak menikmati pemotretan yang dilakukan kali ini.

Sakura yang kini tengah berbalut gaun pernikahan berwarna broken white yang cantik dan feminim dengan aksen pita di dadanya, mengenakan sarung tangan panjang, serta kain putih yang disematkan sebagai tudung kepala untuk menutupi rambut merah muda Sakura yang disanggul tinggi, terlihat sangat cantik dan menawan. Di dampingi oleh Yahiko yang juga tak kalah mempesona dengan balutan kemeja putih dengan dasi kupu-kupu putih, serta jas hitam yang begitu elegan. Keduanya terlihat cukup serasi. Setelah mendapatkan foto yang sesuai dari pose yang sebelumnya, kini Sasori kembali mengarahkan Sakura dan Yahiko untuk berpose di tempat tidur yang sebelumnya telah ditaburi oleh bunga-bunga mawar, terlihat sungguh romantis. Sakura terlentang menyamping ke arah kanan, sementara Yahiko terlentang menyamping ke arah kiri, keduanya saling bertatapan dan tersenyum bahagia. Yahiko meraih wajah Sakura dan mengusap pipinya lembut. Seolah benar-benar seperti pasangan kekasih yang akan menikah.

"Sempurna!" Ucap Sasori takjub, tersenyum senang karena sesi pemotretan hari ini berakhir dengan lancar, dengan hasil yang memuaskan.

"Yahiko-san, Cherry, arigatou atas kerja sama kalian." Ucap Sasori menghampiri Sakura dan juga Yahiko.

"Hn, tidak masalah Sasori-san. Terima kasih juga atas kerja kerasmu hari ini." Balas Yahiko sambil menepuk pelan pundak Sasori dan tersenyum ramah.

"Iya, Sasori-san tidak perlu sungkan begitu. Kita kan sama-sama bekerja keras hari ini." Ucap Sakura lembut.

"Hn. Baiklah aku permisi dulu. Aku masih harus mengedit foto-foto ini." Sasori mohon diri kepada Sakura dan Yahiko, ia berojigi singkat lalu berjalan meninggalkan mereka berdua.

"Hn. Baiklah kalau begitu, aku juga harus pergi." Yahiko menepuk pelan pucuk kepala Sakura dan tersenyum lembut.

"Ah Senpai, tak mau mengobrol dulu denganku? Bukankah sudah cukup lama kita tidak bertemu." Tawar Sakura kepada Yahiko.

"Hn, Gomen. Aku benar-benar sibuk saat ini, masih ada pekerjaan yang harus aku lakukan di Shibuya.Mungkin lain kali kita bisa bercerita-cerita lagi." Ucap Yahiko menyesal.

"Ah, tidak apa-apa. Aku mengerti Senpai." Sakura tersenyum maklum akan kesibukan yang dimiliki oleh Yahiko.

"Nah, kau pulanglah dengan hati-hati. Aku pergi dulu. Sampai jumpa lagi, Cherry." Ucap Yahiko sebelum benar-benar pergi dari hadapan Sakura.

"Hm. Kau juga Senpai, berhati-hatilah." Teriak Sakura, saat Yahiko sudah berjalan jauh di hadapannya.

Sakura membalikkan badannya, berjalan perlahan menuju ruang ganti untuk mengganti gaunnya. Setelah selesai mengganti gaunnya dengan pink dress one shoulder, Sakura meraih Smartphonenya yang terdapat di dalam tas kecil miliknya, lalu mengetikkan sebuah pesan kepada Sasuke.

'Sasuke-kun, kau sedang apa? Apa kau sudah makan siang?" Sakura tersenyum senang saat mengirim pesan tersebut.

Sasuke sendiri hanya memutar kedua bola matanya bosan saat membaca isi pesan Sakura. Dengan malas ia pun membalas pesan tersebut.

'Hn. Baru saja selesai syuting sebuah drama. Belum. Kau?' Jawabnya singkat.

'Ah, Sasuke-kun membalasnya!' Batin Sakura riang. Kemudian cepat-cepat ia balas pesan Sasuke.

'Aku juga baru selesai pemotretan, dan juga belum makan siang. Bagaimana jika kita makan siang bersama? Inikan hari pertama kita resmi menjadi pasangan kekasih.'

"Ck, mendokusei!" Gumam Sasuke mendecak kesal. Dengan berat hati, kembali ia membalas pesan Sakura itu, terpaksa ia menyetujui ajakan Sakura, karena ia tak ingin Sakura mencurigai kebohongan yang dilakukannya.

'Hn. Baiklah. Ku jemput kau di sana.'

'Hm. Baiklah Sasuke-kun. Berhati-hatilah.' Sakura membalas dengan senang pesan dari Sasuke. Kini ia segera mempersiapkan diri untuk bertemu Sasuke. Dipakainya high heels bertali sewarna dengan dressnya, rambut merah mudanya masih disanggul tinggi, tampak sangat menawan. 'Sempurna!' Batin Sakura merasa puas melihat penampilannya pada cermin di hadapannya. Sakura melangkahkan kakinya keluar dari ruangan ganti tersebut, lalu berjalan dengan anggun menuju lobi kantor, menunggu kedatangan Sasuke.


Sakura menggandeng mesra lengan kekar Sasuke saat memasuki salah satu restoran mewah di kota Tokyo ini. Wajahnya tampak berseri-seri saat ini, berbanding terbalik dengan ekspresi wajah yang ditampilkan oleh pemuda Uchiha di sebelahnya. Mereka berjalan menuju ke salah satu meja yang letaknya jauh dari keramaian. Mendudukkan diri mereka pada kursi yang tersedia di sana dan segera memesan makanan kepada pelayan restoran. Saat ini mereka menggunakan kaca mata untuk menyamarkan identitas mereka. Selang beberapa menit pesanan mereka tiba, dan tanpa banyak bicara lagi, mereka langsung menyantap hidangan makan siang dengan lahap, karena merasa lelah dengan pekerjaan yang baru saja mereka lakukan.

"Sasuke?!" Tegur seorang pemuda yang kebetulan baru datang dari arah pintu masuk, sedang bergandengan mesra dengan seorang perempuan.

"Aniki!" Ucap Sasuke terkejut dengan kedatangan seseorang, yang ternyata adalah kakaknya sendiri, Uchiha Itachi yang datang bersama kekasihnya Konan. Sementara Sakura hanya menaikkan sebelah alisnya bingung melihat ekspresi yang ditunjukkan Sasuke.

"Hn. Kau...?!" Itachi melirik ke arah gadis berambut bubble gum yang berada di hadapan Sasuke. "Cherry kan?!" Tanya Itachi memastikan nama gadis tersebut.

"Iya, aku Cherry. Salam kenal." Sakura berojigi singkat kepada Itachi, kemudian tersenyum manis kepada Itachi dan Konan. Itachi dan Konan balas tersenyum kepada Sakura.

"Hn. Boleh kami bergabung bersama kalian?" Tanya Itachi meminta persetujuan Sasuke dan Sakura untuk duduk bersama menikmati makan siang. Sasuke hanya menggumam datar seperti biasa, 'Hn.', sementara Sakura menganggukkan pelan kepalanya. Setelah mendapat persetujuan, Itachi dan Konan kemudian duduk bergabung bersama Sasuke dan Sakura.

"Tak ku sangka Sasuke, kau ternyata berpacaran dengan Cherry. Ku pikir orang dingin sepertimu tidak tertarik untuk memiliki kekasih." Ucap Konan menggejek calon adik iparnya sambil terkekeh pelan. Sasuke hanya berdecak kesal dengan penuturan calon kakak iparnya itu, sementara Sakura sendiri tersenyum malu dengan semburat merah di wajahnya.

"Kau sama sekali tidak bercerita apapun padaku, Sasuke?" Itachi menepuk pelan pundak adik kesayangannya itu.

"Hn. Kami baru resmi berpacaran kemarin. Jadi belum sempat untuk menceritakannya padamu. Kau tahu sendiri jika aku sedang banyak pekerjaan saat ini." Jelas sang Uchiha bungsu itu datar.

"Hn. Aku mengerti." Itachi tersenyum maklum dengan sikap adiknya yang dingin itu. "Ngomong-ngomong, otoutoku ini pintar juga dalam memilih seorang pendamping yang cantik seperti Cherry. Kau beruntung bisa mendapatkan gadis seperti dia." Ucap Itachi memuji Sakura, menyebabkan Sakura kembali berblushing ria.

'Cih, tidak ada gadis yang lebih cantik dari Hinata.' Sasuke mendecih di dalam hatinya.

"Itachi-Nii bisa saja. Justru aku yang beruntung bisa bersanding sebagai kekasih Sasuke-kun." Sakura tersenyum lembut kepada Itachi.

"Sasuke, kapan-kapan ajaklah Cherry ke rumah, pasti Kaa-san dan Tou-san akan merasa senang jika mengetahui kau sudah memiliki kekasih." Saran Itachi kepada Sasuke.

"Hn. Minggu depan saja. Minggu ini aku masih punya banyak pekerjaan. Lagi pula Cherry juga sedang sibuk-sibuknya saat ini." Jawab Sasuke datar.

"Baiklah, jika kalian sudah memiliki waktu senggang. Segeralah datang ke rumah untuk menemui Kaa-san dan Tou-san." Kembali Itachi mengingatkan Sakura dan Sasuke.

"Hm, kita bisa mengobrol bersama-sama dengan Kaa-san, Cherry." Conan ikut menimpali perkataan Itachi.

"Baiklah, aku pasti ke sana." Sakura tersenyum senang dengan ajakan Itachi dan juga Konan.

Akhirnya siang itu mereka habiskan dengan mengobrol banyak hal tentang keluarga Uchiha, pekerjaan dan juga hal-hal lainnya. Karena hari sudah menjelang sore, Itachi dan Konan pamit terlebih dahulu. Sakura dan Sasuke menyusul setelahnya. Sasuke mengantar Sakura ke kediaman Yamanaka.

"Terima kasih Sasuke-kun, sudah mau mengantarku pulang." Ucap Sakura saat mereka tiba di kediaman Yamanaka.

"Hn. Tidak masalah." Tanggap Sasuke datar, menatap wajah Sakura di hadapannya.

"Baiklah, kalau begitu aku turun. Sampai berjumpa nanti Sasuke-kun." Sakura membuka pintu mobil Sasuke, namun sebelum benar-benar keluar dari mobil, Sakura kembali membalikkan badannya dan dengan cepat mengecup singkat bibir tegas pemuda raven tersebut, buru-buru ia bawa tubuhnya keluar dari mobil Sasuke dan berlari masuk ke dalam rumah. Sasuke sendiri hanya diam tak berkutik dengan tindakan Sakura. Tak ingin mempermasalahkan hal itu, Sasuke mulai kembali menjalankan mobilnya dan keluar dari halaman kediaman Yamanaka. Sakura sendiri kini tengah tersenyum bahagia di dalam rumah.


Satu minggu berlalu, kini Sakura tengah melakukan rekaman single pertamanya di perusahaan Namikaze Entertainment. Bersama Kiba Inuzuka sebagai produser musik dan juga Shino Aburame sebagai pencipta lagu sekaligus sebagai orang yang bertanggung jawab dalam membuat dan mengubah aransemen lagu. Lagu yang dibawakan Sakura ini berjudul 'My love is wound.'.

'Initially you are pulling me in this love story'

[Awalnya kau yang menarikku dalam kisah cinta ini]

'Made me fall asleep with all your charms'

[Membuatku terlena dengan semua pesonamu]

'Made me fall in love with all the attention'

[Membuatku jatuh cinta dengan semua perhatianmu]

'Until finally I realized that I had been stuck in your game'

[Hingga akhirnya aku menyadari bahwa aku telah terjebak dalam permainanmu]

'You give love and also injured in the same time to me'

[Kau berikan cinta dan juga luka di saat yang sama kepadaku]

'You give hope, but you also destroy the hopes'

[Kau berikan harapan, namun kau juga menghancurkan harapan itu]

'Really do not understand, how your heart'

[Sungguh tak mengerti, bagaimana isi hatimu]

'Do not understand, why you're playing with my love'

[Tak mengerti mengapa kau mempermainkan perasaan cintaku]

'What have I done, until you do all of this to me'

[Apa salahku, hingga kau lakukan semua ini kepadaku]

'Did not I have never made a mistake to you'

[Bukankah aku tak pernah berbuat kesalahan padamu]

'Now there are only wound in my heart'

[Kini hanya ada luka di hatiku]

'No more love for you'

[Tak ada lagi cinta untukmu]

'Do not blame me, if now I hate you'

[Jangan salahkan aku, jika kini aku membencimu]

'Hate you, because I feel the wounds so deep'

[Sangat membencimu, karena luka yang ku rasakan begitu dalam]

'In the past, you are my love, but now you are my wounds'

[Dulu, kau adalah cintaku, tetapi sekarang kau adalah lukaku]

'My love is wound'

[Cintaku adalah lukaku]

'My love is wound'

[Cintaku adalah lukaku]

'My love is wound'

[Cintaku adalah lukaku]

"Bagus sekali, Cherry. Penghayatan yang kau lakukan benar-benar sempurna. Pengalaman pribadi, eh?" Tanya Kiba kepada Sakura saat Sakura keluar dari ruang rekaman.

Sakura hanya tersenyum simpul mendengar perkataan Kiba. "Hm. Kau bisa saja Kiba-san." Tak ingin mengungkit masalah pribadinya di masa lalu, kini Sakura mendudukkan dirinya di kursi sebelah Kiba.

"Bagaimana? Apakah ada yang perlu diperbaiki lagi?" Tanya Sakura kepada Shino.

"Hn. Aku rasa ini sudah bagus. Mungkin tinggal sedikit aku edit saja, semuanya akan beres." Ucap Shino meyakinkan Sakura.

"Hm. Baguslah. Aku pikir butuh waktu berhari-hari untuk menyelesaikan ini semua." Ucap Sakura.

"Karena kau berkonsentrasi dengan baik melakukan rekaman ini. Jadi kita bisa selesai lebih cepat." Ucap Kiba memuji Sakura. Sakura hanya tersenyum saja menanggapi pujian Kiba.

"Kau berlebihan Kiba-san! Kalau begitu...Boleh aku pulang sekarang?" Tanya Sakura ragu-ragu kepada Kiba.

"Ya, tentu saja." Ucap Kiba mempersilahkan Sakura untuk pulang.

"Hm. Arigatou, untuk kerja sama kalian hari ini, Kiba-san, Shino-san." Sakura berojigi kepada Kiba dan Shino.

"Hn. Sama-sama Cherry. Senang bekerja sama denganmu. Pergilah!" Ucap Kiba tersenyum.

"Ha'i." Sakura berjalan menuju pintu keluar ruangan itu.

Sakura melangkahkan kaki jenjangnya menuju ke arah lift.Namun, belum sempat ia sampai di lift,seseorang terlebih dahulu menegurnya.

"Cherry!" Panggil seorang gadis, yang ternyata adalah Hinata yang tengah bergandengan tangan mesra dengan Naruto.

"Eh, Hyuuga-san, Namikaze-san. Apa kabar? Lama kita tidak berjumpa." Ucap Sakura berbasa-basi.

"Hm. Kami baik Cherry." Jawab Naruto menanggapi pertanyaan Sakura, sekilas sapphire nya menatap sendu ke arah emerald Sakura.

"Um, kalian berpacaran?" Tanya Sakura ragu-ragu kepada Naruto dan Hinata yang tengah bergandengan mesra. Di tanya hal seperti itu, sukses membuat pipi Hinata merona merah.

"I-...Iya. Kami baru resmi berpacaran seminggu yang lalu." Terang Hinata.

'Seminggu yang lalu? Rasanya sama seperti hubunganku dengan Sasuke-kun. Aneh, kenapa bisa bersamaan seperti ini? Dan juga semua terkesan seperti mendadak. Setahuku Namikaze-san tidak mempunyai perasaan apapun terhadap Hyuuga-san. Benar-benar aneh, Sasuke-kun dan Namikaze-san, sepertinya ada suatu hal yang tidak ku ketahui.' Sakura terhanyut dalam pikirannya tanpa mempedulikan Hinata dan Naruto yang sedari tadi menatap heran ke arah Sakura.

"Cherry! Kau tidak apa-apa?" Tanya Hinata menyadarkan Sakura dari lamunannya.

"Eh, hahaha...Gomen, aku malah melamun." Sakura tersenyum kecut sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. "Um, Selamat untuk hubungan kalian berdua yah. Semoga kalian selalu berbahagia." Sakura tersenyum tulus mendoakan pasangan di hadapannya.

"Hn. Arigatou." Ucap Naruto berpura-pura merasa bahagia dengan hubungannya bersama Hinata. 'Ku harap, kau juga selalu berbahagia bersama Sasuke, meski semuanya di awali dengan kebohongan.' Doanya di dalam hati.

"Baiklah, aku harus pergi dulu. Aku sedang terburu-buru untuk menemui seseorang." Sakura melirik jam tangannya 'Ah, jam lima sore' pikirnya, Sakura langsung berpamitan pulang begitu tahu ia sudah sangat terlambat untuk menemui Sasuke yang sedari tadi menunggunya di tempat parkir.

"Hn. Berhati-hatilah Cherry." Ucap Hinata mengingatkan Sakura untuk berhati-hati.

Sakura hanya mengangguk ringan, setelah itu bergegas pergi untuk menemui Sasuke. 'Ah, pasti nanti Sasuke-kun akan memarahiku.'

"Lama sekali! Apa yang kau lakukan?" Geram Sasuke saat Sakura sudah masuk ke dalam mobil, merasa kesal karena sudah lama menunggu gadis musim semi itu.

'Tuh kan benar firasatku, pasti ia akan ~'Batin Sakura. Dengan iseng, Sakura menjepit hidung Sasuke dengan jari mungilnya. "Jangan marah-marah seperti itu. Wajahmu jelek saat marah, Sasuke-kun!" Ucap Sakura jahil, sambil terkikik geli.

"Apa-apaan kau ini!" Ucap Sasuke ketus sambil melepaskan tangan mungil Sakura. 'Dasar gadis yang aneh.' Pikirnya. Namun meskipun merasa kesal dengan tingkah gadis ini, entah mengapa hatinya terasa sedikit menghangat. 'Perasaan yang sangat aneh.' Pikirnya lagi. Kau tak sadar Sasuke, jika perlahan-lahan hatimu mulai bisa menerima keberadaan gadis musim semi itu. Egoisme yang begitu tinggi dari seorang Uchiha Sasuke, eh?

"Ugh~...Kau tidak asyik untuk di ajak bercanda Sasuke-kun!" Ucap Sakura melipat kedua tangannya di dada dan mengerucutkan bibirnya kesal. Sepertinya Sakura sudah merasa tidak canggung lagi untuk berhubungan dengan Sasuke. Kini ia merasa sangat nyaman dengan Sasuke, meskipun pemuda itu masih saja bersikap dingin padanya.

"Hn. Terserah!" Ucap Sasuke ketus.

Tak ingin memperpanjang perdebatan yang terjadi, Sasuke segera melajukan mobilnya menuju ke kediaman Uchiha. Sesuai dengan janjinya pada Itachi minggu lalu, kali ini ia mengajak Sakura untuk bertemu dengan kedua orang tuanya. Tentu saja bukan keinginannya untuk mengenalkan Sakura kepada kedua orang tuanya, namun demi mendukung sandiwara yang dilakukannya terhadap Sakura, mau tidak mau harus tetap ia lakukan.


"Jadi...Kau yang bernama Cherry?" Tanya Mikoto menaikkan sebelah alisnya, onyxnya menatap tajam ke arah emerald Sakura yang sedang duduk di sofa yang berada di hadapannya. Saat ini, Sasuke dan Sakura sedang berkumpul bersama anggota keluarga Uchiha lainnya, Fugaku Uchiha, Mikoto Uchiha, Itachi Uchiha dan juga kekasihnya Konan. Suasana tegang kini tengah dirasakan oleh Sakura. Sasuke hanya memutar kedua bola matanya bosan melihat sandiwara sang ibu tercinta. Fugaku hanya duduk terdiam menampilkan ekspresi wajah yang datar seperti biasanya. Sementara Itachi dan Konan tengah berusaha mati-matian untuk menahan tawanya melihat tingkah ibunya yang kekanak-kanakan.

"I-...Iya Baa-san, Jii-san. Salam kenal." Sakura beranjak dari sofa, kemudian menundukkan tubuhnya sopan kepada Mikoto dan Fugaku.

"Hahaha...Wahhh~...Kau benar-benar cantik Cherry! Sasuke benar-benar pintar memilih seorang calon menantu untukku." Mikoto secara tiba-tiba memeluk Sakura dengan antusias. Sedangkan keluarga lain hanya bisa sweat drop dengan tingkah laku Uchiha Mikoto. Sakura sendiri hanya bisa menahan rasa malunya karena terjebak dengan sandiwara Uchiha Mikoto, namun rasa hangat menyelimuti hatinya tatkala ia bisa kembali merasakan pelukan seorang ibu. 'Hangat, aku benar-benar merindukan ibu dan ayah.' Ucapnya sendu di dalam hati.

'Dasar, menyebalkan!' Batin Sasuke mendengus kesal.

"Hahaha, Cherry. Harap kau maklum yah dengan tindakan Kaa-san. Sebenarnya Kaa-san itu orangnya baik, tidak seperti tadi. Kaa-san hanya ingin mengerjaimu saja." Terang Itachi meminta pengertian Sakura.

"Tidak apa-apa Itachi Nii-san." Sakura tersenyum maklum. "Aku bisa mengerti jika Baa-san bertindak seperti ini." Ucapnya lagi melanjutkan.

"Jangan panggil aku Baa-san Cherry. Mulai sekarang kau harus memanggilku Kaa-san dan panggil suamiku Tou-san. Mengerti!" Mikoto berkata tegas, seraya melepaskan pelukannya pada Sakura.

"Ah, baiklah. Aku mengerti Kaa-san." Sakura berucap lirih. 'Rasanya sudah lama aku tidak memanggil seseorang dengan sebutan Kaa-san.'Kembali batinnya merasa pilu.

"Hm, kalau begitu. Sekarang ayo kita mulai mempersiapkan untuk makan malam. Konan, ayo bantu kami." Ucap Mikoto meminta Konan untuk bergabung bersama mereka.

Mikoto, Konan dan Sakura kemudian berjalan ke dapur, untuk menyiapkan makan malam. Sementara para laki-laki Uchiha itu hanya menunggu saja di ruang tamu sambil menonton televisi.


Kini keluarga Uchiha tengah menikmati hidangan makan malam mereka dalam suasana hening. Tampaknya tak ada satu pun yang berniat untuk melanggar peraturan keluarga ini. Barulah setelah mereka selesai menghabiskan makan malam, mereka kembali terlarut dalam obrolan ringan.

"Cherry, sering-seringlah main ke sini. Agar Kaa-san ada teman mengobrol." Pinta Mikoto kepada Sakura. "Konan saat ini sedang sibuk sekali, sehingga jarang sekali untuk berkunjung." Mikoto berucap sendu. Sementara Konan hanya tersenyum kikuk mendengar curhatan sang ibu.

"Um, sebisa mungkin Cherry akan usahakan Kaa-san. Jika ada waktu luang, pasti Cherry akan berkunjung ke sini." Sakura tersenyum lembut kepada Mikoto.

"Cherry, sudah malam. Ayo, aku antar kau pulang!" Sasuke sengaja memotong pembicaraan Mikoto dengan Sakura.

"Um, iya Sasuke-kun." Sakura meng-iya-kan ajakan Sasuke.

"Kau ini Sasuke. Kaa-san kan masih ingin mengobrol dengan Cherry!" Mikoto memberenggut sebal kepada Sasuke.

"Hn. Lain kali kan bisa Kaa-san." Sasuke berusaha tenang menghadapi ibunya yang terkadang bisa bersikap seperti anak kecil.

"Ya sudah, berhati-hatilah Cherry. Kau jangan ngebut-ngebut Sasuke! Jaga calon menantuku baik-baik!" Ancam Mikoto kepada Sasuke. Sasuke memutar kedua bola matanya bosan. Sementara yang lain hanya bisa sweat drop kembali melihat tingkah Mikoto yang berlebihan.

"Baiklah Kaa-san, Tou-san, Itachi Nii-san, Conan Nee-san, Cherry pulang dulu." Pamit Sakura sambil memeluk Mikoto. Sementara Sasuke sudah pergi meninggalkan ruang makan menuju ke luar rumah, menyiapkan mobilnya.

"Berhati-hatilah Sakura." Ucap Mikoto lembut. "Sasuke itu tidak sabaran sekali sih!" Geram Mikoto kesal dengan tingkah anaknya.

"Ha'i. Arigatou." Sakura berjalan meninggalkan keluarga Uchiha ini, segera bergegas menyusul Sasuke yang sudah menunggu di dalam mobil.

Kini Sasuke dan Sakura sudah berada di dalam mobil. Mereka tengah berada dalam perjalanan menuju rumah Sakura di kediaman Yamanaka.

"Terima kasih Sasuke-kun." Ucap Sakura tiba-tiba memecah keheningan yang sedari tadi tercipta di antara mereka. Sasuke menaikkan sebelah alisnya heran.

"Untuk?" Tanyanya datar.

"Untuk semuanya yang sudah kau lakukan padaku dan juga untuk hari ini. Aku sudah lama tidak merasakan kehangatan sebuah keluarga seperti tadi. Bagiku, hari ini benar-benar hari yang luar biasa." Ucap Sakura senang.

Deg

Mendengar perkataan Sakura, perasaan bersalah langsung menyelimuti hati dan perasaan Sasuke.

"Hn." Tanggap Sasuke datar, berusaha menyembunyikan perasaannya yang tengah kacau saat ini.

"Oh iya, aku mau bertanya satu hal, boleh?" Sakura menatap Sasuke yang sedang menyetir.

"Hn. Apa itu?"

"Apakah Hinata Hyuuga itu adalah kenalanmu?"

Deg

Kali ini pertanyaan Sakura menambah suasana hati pemuda Uchiha itu bertambah kacau.

"Hn. Dia sahabatku. Kenapa?" Tanya Sasuke berusaha untuk bersikap tenang.

"Tadi sore aku bertemu dengannya dan juga Naruto-kun. Mereka bilang mereka berpacaran sejak seminggu yang lalu. Bukankah itu sama dengan hubungan kita? Aku hanya merasa aneh saja, terkesan tiba-tiba seperti ini. Padahal setahuku, Naruto-kun itu tidak memiliki perasaan pada Hyuuga-san. Apa jangan-jangan semua ini ada kaitannya denganmu Sasuke-kun? Mengingat Naruto-kun dan Hyuuga-san dekat dengamu." Ucap Sakura berusaha menyelidiki.

Deg

Entah mengapa Sasuke merasa takut jika Cherry sampai mengetahui kebohongan yang tengah dilakukannya. Hm, pasti karena tidak ingin semua rencananya berantakan kan? Ne, Sasuke?

"Hn. Itu hanya perasaanmu saja Cherry. Siapa bilang jika Naruto tidak memiliki perasaan terhadap Hinata? Buktinya sekarang mereka berpacaran kan. Semua hal bisa terjadi hanya dalam waktu singkat Cherry. Sama halnya dengan hubungan kita kan?" Terang Sasuke berusaha mengalihkan perhatian Sakura dari hal yang tengah dipikirkannya saat ini.

"Ya, kau benar juga Sasuke-kun. Tapi biasanya feeling ku tidak pernah salah. Ah, semoga semua baik-baik saja." Sakura tersenyum lembut kepada Sasuke.

"Hn. Semoga saja." Sasuke turut mengamini perkataan Sakura. 'Ya, semoga semuanya tidak berjalan sia-sia.' Batinnya melanjutkan.

Kembali keheningan menyelimuti kedua insan ini. Sakura perlahan terlelap dalam mimpinya, sementara Sasuke masih berfokus untuk mengendarai mobilnya. Beberapa menit kemudian, tibalah mereka di kediaman Yamanaka. Sasuke menolehkan kepalanya ke samping, dilihatnya sang gadis musim semi masih juga terlelap dalam tidurnya. Ditatapnya lama, hingga tanpa ia sadari kini wajahnya sudah berjarak sangat dekat dengan wajah gadis itu. Di kecupnya lembut bibir gadis itu, hingga tanpa sadar telah membangunkan sang gadis dari tidurnya.

"Kau, sudah bangun?" Tanya Sasuke berusaha menormalkan detak jantungnya saat ini. Mencoba bersikap dingin seperti biasanya tatkala kepergok oleh Sakura tengah menciumnya.

"Hm. Kalau begitu aku masuk dulu." Sakura berusaha menutupi rasa malunya, dan bergegas keluar dari mobil Sasuke.

Sasuke yang melihat sikap Sakura, hanya bisa tersenyum tipis. Entah mengapa darahnya terasa berdesir saat tadi ia memandangi wajah Sakura. Jantungnya berdetak dengan sangat cepat, sungguh tak karuan. 'Ada apa denganku?' Batinnya berucap lirih.


Dua minggu ini intensitas pertemuan Sakura dan Sasuke semakin sering terjadi, rasanya hubungan mereka menjadi semakin dekat. Meskipun Sasuke masih menganggap hubungannya dengan Sakura hanyalah sebuah sandiwara yang diciptakannya, namun ia juga tak menampik hadirnya suatu perasaan yang lain terhadap Sakura. Tapi ia tetap bersikukuh, bahwa hatinya hanya jatuh kepada gadis Hyuuga itu. Tak mau menyadari perasaanmu yang sesungguhnya terhadap Cherry, eh Sasuke?

Perlahan rasa benci itu mulai terkikis sedikit demi sedikit, meskipun terkadang kembali muncul secara tiba-tiba.

Kini keduanya tengah sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Karena terlalu memforsir pekerjaan , Sasuke akhirnya jatuh sakit. Selain karena faktor kelelahan, asupan gizi yang kurang seimbang pun menjadi penyebab tumbangnya aktor muda ini. Akhirnya, mau tidak mau Sasuke harus beristirahat total di kediamannya. Tanpa memberitahu Sakura, bahwa dirinya tengah terbaring sakit di rumah.


Sakura kini tengah berada di kediaman Uchiha, lebih tepatnya ia sedang duduk di salah satu sofa di ruang tamu kediaman Uchiha. Uchiha Mikoto tiba-tiba saja menelepon Sakura dan meminta Sakura untuk datang ke kediaman Uchiha, karena Sasuke kini sedang sakit. Sakura sendiri tidak mengetahui jika Sasuke sakit, karena Sasuke tidak pernah mau memberitahunya tentang keadaannya. Beruntunglah Uchiha Mikoto berada di pihak Sakura, sehingga ibu muda itu dengan senang hati memberitahu Sakura mengenai keadaan Sasuke. Segera saja, setelah menyelesaikan pekerjaannya, Sakura bergegas pergi menuju ke kediaman Uchiha menggunakan taksi.

"Ah maaf Cherry, kau sudah menunggu lama?" Tanya Mikoto Uchiha yang baru saja tiba di ruang tamu. Sakura segera berdiri dan berojigi kepada Mikoto. Mikoto berjalan menghampiri Sakura, lalu memeluk Sakura dengan lembut.

"Tidak Kaa-san. Cherry baru saja tiba." Jawab Sakura sopan.

"Maaf tiba-tiba menghubungimu, padahal kau sendiri sedang sibuk bekerja. Tapi, Kaa-san tidak punya pilihan lain. Kaa-san dan Tou-san harus pergi malam ini ke Amerika untuk urusan bisnis, sementara Itachi sepertinya ia tidak bisa pulang malam ini. Kaa-san khawatir dengan keadaan Sasuke." Terang Mikoto kepada Sakura menampilkan raut cemas yang tergambar di wajah cantiknya.

"Ah, tidak apa-apa Kaa-san. Cherry bisa mengerti." Sakura tersenyum maklum kepada Mikoto.

"Baiklah kalau begitu, Kaa-san harus pergi ke kantor menemui Tou-san. Kaa-san titip Sasuke yah Cherry. Tidak apa-apa kan, malam ini kau menginap di sini? Kau bisa menggunakan kamar di sebelah kamar Sasuke. Tadi aku sudah meminta Ayame untuk merapikannya." Tanya Mikoto lagi.

"Iya, tidak apa-apa Kaa-san, arigatou. Kaa-san tenang saja, serahkan saja Sasuke-kun kepadaku." Ucap Sakura meyakinkan Mikoto.

"Hn. Kaa-san pergi dulu Cherry, jaga dirimu baik-baik." Mikoto menepuk pundak Sakura, kemudian membalikkan badannya dan berjalan pergi meninggalkan Sakura.

"Hati-hati Kaa-san!" Teriak Sakura sebelum Mikoto benar-benar hilang dari hadapannya. Menolehkan kepalanya sebentar ke belakang, Mikoto tersenyum menganggukkan kepalanya pelan. Kemudian kembali mengarahkan pandangannya ke depan dan berjalan keluar pintu rumah.

Setelah benar-benar memastikan Mikoto pergi, Sakura bergegas untuk menemui Sasuke di kamarnya. Kaki mungilnya perlahan-lahan menginjak satu persatu anak tangga untuk menuju ke lantai dua, tempat kamar Sasuke berada. Setelah berjalan selama dua menit, Sakura tiba di depan kamar Sasuke. Memberanikan diri untuk mengetuk pintu di hadapannya, seolah meminta izin kepada pemilik kamar untuk diperkenankan masuk ke dalam.

"Sasuke-kun, kau ada di dalam?" Tanya Sakura, berharap Sasuke akan menjawab panggilannya.

"..." Tidak ada jawaban dari dalam kamar Sasuke. 'Sepertinya Sasuke-kun sedang tidur, lebih baik aku masuk saja dan melihatnya.' Ucap Sakura di dalam hati.

Sakura kemudian membuka pintu kamar Sasuke dengan pelan, berharap tidak membangunkan pemuda raven yang sedang terlelap dalam tidurnya. Tubuhnya ia bawa untuk masuk ke dalam kamar tersebut, melangkahkan kaki jenjangnya ke arah satu-satunya tempat tidur yang ada di sana. Emeraldnya menatap lembut sesosok pria yang tengah terbaring lemah di tempat tidur. Mencoba untuk meraih wajah sang pujaan hati yang kini tampak pucat, Sakura mendudukkan dirinya di tepian ranjang di samping kekasihnya. Tangan putihnya terulur, untuk mengusap lembut surai raven pemuda itu, mencoba untuk menyalurkan perasaan sayangnya pada kekasih hatinya. 'Ah, panas sekali tubuhnya.' Pikir Sakura saat membelai kening pemuda itu. Lama ia tatap wajah polos sang pemuda yang kini tengah berkutat dengan alam mimpinya. 'Damai sekali wajahnya. Rasanya sangat berbeda jika ia sedang bangun, begitu datar dan penuh misteri.' Sakura terkikik geli dengan pikirannya. Rasanya bahagia sekali bisa memiliki pemuda tampan di hadapannya ini, meskipun baru sebulan menjalani hubungan sebagai kekasih, tapi Sakura begitu menyayangi-ah, lebih tepatnya mencintai-aktor tampan itu. Walaupun Sasuke seringkali bersikap dingin, namun terkadang ia juga bisa menampilkan sikap hangatnya. Tidakkah kau pernah berpikir Sakura, jika selama ini ia hanya terpaksa melakukannya?

Tak ingin mengganggu istirahat Sasuke, Sakura menarik tangannya dari kepala Sasuke yang sedari tadi setia mengelus surai raven pemuda itu. Tapi begitu terkejutnya Sakura ketika ia beranjak dari tempat tidur Sasuke dan berjalan menjauh, bungsu Uchiha itu tiba-tiba mengigau dalam tidurnya dengan mengucapkan sebuah nama gadis lain.

"Hinata~..." Gumam Sasuke mengigau.

Deg

Rasanya seperti ditusuk oleh ribuan jarum, dirinya tak bisa berkutik sama sekali ketika mendengar nama gadis lain terucap dari mulut orang yang kau cintai. Sakit sekali rasanya! Tubuhnya bergetar, tanpa disadari cairan bening mengalir dengan mulusnya melewati pipi putihnya. Tubuhnya kembali ia balikkan untuk menghadap ke arah Sasuke. Di tatapnya pemuda itu dengan pandangan kosong, namun terlihat sendu.

Hiks...hiks...hiks...'Apa maksud semua ini Sasuke-kun?'

Sakura terisak kecil, mencoba untuk menahan rasa sesak didadanya. Dengan gontai, tubuhnya ia bawa ke meja kerja milik Sasuke, mendudukkan dirinya pada kursi kerja tersebut. Kepalanya ia baringkan di atas meja, dengan kedua tangan sebagai tumpuannya. Berusaha menenangkan hatinya yang tengah bergemuruh. 'Hinata? Ada hubungan apa antara kau dengan Hinata, Sasuke-kun?Apa jangan-jangan kecurigaanku benar?' Tanya Sakura dalam hati.

Hiks hiks hiks

Sakura mengusap air mata yang terus menerus keluar dari emeraldnya. Tanpa sengaja, tangannya menyenggol buku-buku yang terdapat di meja itu hingga terjatuh.

BRUUKKK

Sakura merasa terkejut, ia tolehkan kepalanya ke arah ranjang tempat Sasuke beristirahat. 'Ah~...Syukurlah Sasuke-kun tidak bangun.' Ucapnya lega di dalam hati. Segera ia berjongkok untuk membereskan buku-buku yang berserakan itu. Namun, emeraldnya terbelalak kaget saat tak sengaja melihat sebuah foto yang berada di halaman tengah buku diary, menampilkan kekasihnya sedang bersama dengan Hinata. Di mana dalam foto itu, Sasuke tengah tersenyum tipis sambil mengacak surai indigo gadis itu pada saat kelulusan SMA. Tangan mungilnya bergetar untuk meraih foto tersebut, lagi cairan bening itu tanpa permisi mengalir ke pipi mulusnya. Tak ingin melihat lebih lama, Sakura membalikkan foto tersebut. 'My First Love, Hinata Hyuuga.'Terdapat tulisan itu dibalik foto tersebut.

Hiks hiks hiks

Sakura mencengkram kuat baju depannya, berusaha menguatkan diri untuk mengambil buku diary yang mungkin bisa mengungkap semua kejanggalan yang dirasakan hatinya. Mencoba membuka buku diary itu, dan membacanya dengan tenang mulai dari halaman depan. Satu persatu halaman itu ia baca dengan hatinya yang terasa sakit. Diary ini ditulis oleh Sasuke tentang perasaan Sasuke kepada Hinata yang sejak dulu ia pendam. Sampai akhirnya Sasuke menyatakan perasaannya dan melamar Hinata, namun akhirnya ditolak oleh gadis itu. Selebihnya isi diary itu bercerita tentang aktivitas Sasuke sehari-hari. Tapi, satu hal yang membuat Sakura tertarik pada halaman terakhir dari buku diary tersebut, yaitu kebenaran atas suatu kebohongan yang diciptakan oleh pemuda Uchiha yang dicintainya.

11 September 20xx

'Hari ini aku memutuskan untuk menjadikan Cherry sebagai kekasihku. Hal ini aku lakukan, karena kulihat Naruto tampaknya menyukai gadis ini. Aku berpura-pura mengatakan jika aku mencintainya. Dan gadis bodoh itu tampaknya ragu dengan kesungguhanku. Namun, bukan Uchiha Sasuke namanya jika tidak bisa menampilkan keseriusan yang dapat meyakinkan gadis itu. Tentu saja hal itu berhasil, ia langsung menerimaku.

Aku benar-benar muak dengan kedekatan yang dipertunjukkan oleh mereka selama syuting tiga hari ini! Mereka tidak menyadari jika ada orang lain yang terluka dengan kedekatan mereka. Ya, gadis yang ku cintai menderita karena mereka! Aku bertekad untuk menjauhkan Naruto dari Cherry, dengan menjadikan gadis yang disukainya itu sebagai kekasihku. Dengan begitu, aku bisa meminta Naruto untuk menjadi kekasih Hinata. Dan tentu saja rencanaku ini tidak pernah gagal. Naruto menyetujuinya, si bodoh itu benar-benar menyanggupi permintaanku. Aku benar-benar merasa puas dengan semua ini. Tak kusangka, jika rencana dadakan ini akhirnya berhasil. Hn, aku berharap semoga kau bahagia, Hinata. Bahagia bersama dengan orang yang kau cintai. Aku hanya akan mencintaimu dan memperhatikanmu dari jauh, selamanya tidak akan pernah berubah.'

Uchiha Sasuke.

.

.

.

Hiks hiks hiks

'Kami-sama...ternyata selama ini aku terjebak dalam kebohongan yang dibuat oleh Sasuke-kun.' Batinnya pilu.

Hiks hiks hiks...'Bodoh..kau benar-benar bodoh Sakura! Seharusnya sejak awal kau curiga kepadanya! Mengapa semudah itu kau terjebak olehnya!' Maki Sakura kepada dirinya sendiri di dalam hati, sambil terisak pelan menundukkan kepalanya.

Sasuke yang samar-samar mendengar suara isak tangis, perlahan membuka kedua matanya, menampilkan onyxnya yang sedikit meredup. Mencoba menajamkan pendengaran dan penglihatannya, sedikit banyak ia bisa melihat seseorang tengah terduduk di lantai dekat dengan meja kerjanya sedang terisak pelan, namun terdengar sangat menyayat hati. Sasuke kemudian beranjak dari kasurnya, dan berjalan menghampiri seseorang itu. Merasa familiar dengan suara seseorang itu, Sasuke menggumamkan namanya.

"Cherry." Gumam Sasuke sambil menghampiri Sakura. Namun, saat ia tiba ditempat gadis itu, onyxnya terbelalak kaget saat melihat Sakura tengah memegang buku diarynya.

Deg

'Apa dia sudah membacanya?!' Batinnya berucap khawatir.

Sakura terdiam mendengar gumaman Sasuke. Isak tangisnya tak terdengar lagi. Berusaha untuk menjadi gadis yang tegar, ia mempersiapkan mentalnya untuk menghadapi Sasuke.

"Cheery, kau...Kau sudah membacanya?" Ucap Sasuke sedikit ragu dan juga takut untuk bertanya.

Sakura hanya diam tak menjawab. Perlahan ia beranjak berdiri, kemudian wajahnya ia beranikan untuk menatap wajah kekasihnya-hm, lebih tepatnya kekasih pura-puranya-yang masih terlihat pucat itu. Sasuke sendiri terlihat merasa bersalah kepada Sakura atas semua kejadian ini.

Plaakkk

Ya, Sakura spontan menampar pipi Sasuke. Mencoba menyalurkan emosinya yang saat ini tengah meluap-luap. Sementara Sasuke tidak berkutik dengan perlakuan Sakura, tentu saja karena ia tahu, bahkan sangat tahu kesalahan fatal apa yang telah ia perbuat, dan tentu saja ia pantas untuk mendapatkan tamparan itu, atau mungkin tamparan ini saja belum cukup rasanya untuk membalas semua kepura-puraan yang dilakukan pria emo tersebut. Sasuke mengalihkan pandangannya kepada Sakura. Menatap emerald gadis itu yang dipenuhi kebencian.

"Apa kau puas UCHIHA SASUKE!" Geram Sakura mengeluarkan emosinya. "Kau puas mempermainkan aku! Kau puas telah membuat aku kembali merasakan sakit hati! Hah!" Sakura berucap keras, kali ini hatinya telah benar-benar berubah membenci pemuda di hadapannya. Sasuke hanya kembali diam mendengar perkataan Sakura. Rasa penyesalan langsung menghinggapi hati pemuda itu. Sungguh ia sangat menyesal dengan perbuatannya menyakiti gadis itu. Padahal sedikit-sedikit ia mulai bisa menerima kehadiran gadis musim semi itu. Tapi, kenapa? Kenapa semua kebohongan itu harus terbongkar disaat ia mulai menaruh hati pada kekasihnya itu?

"Kau tidak bisa berkata apa-apa, BRENGSEK!" Ucap Sakura lagi, kali ini ia benar-benar muak dengan sikap Sasuke yang hanya bisa terdiam. Tak juga mendapat jawaban, Sakura memutuskan untuk pergi meninggalkan Sasuke. Pergi berlari keluar dari kediaman Uchiha tersebut, tanpa mengingat janji yang sempat ia ucapkan kepada Mikoto Uchiha untuk menjaga Sasuke. 'Aku tidak boleh menangis lagi! Untuk apa menangisi orang brengsek seperti dia! Aku tidak boleh lemah! Aku harus kuat! Ya, aku harus kuat!' Batinnya terus berucap menyemangati, saat ia tengah berlari kencang di halaman kediaman Uchiha menuju ke jalan raya.

Sementara Sasuke kini hanya bisa terduduk lesu, bersandar pada kaki tempat tidurnya. Pikirannya melayang pada kejadian yang baru saja terjadi. Mengusap kasar wajahnya yang terlihat kacau dan pucat itu. 'Bodoh...Kau benar-benar Bodoh Uchiha Sasuke! Bisa-bisanya kau mengigaukan nama gadis lain dihadapan Cherry.' Batin Sasuke memaki dirinya sendiri. Ya, Sasuke sadar bahwa tadi ia tengah mengingau tentang Hinata. Namun, bukan karena Sasuke masih mengharapkan Hinata, hanya saja dalam mimpinya ia melihat Hinata sedang menangis. Jadi secara tanpa sadar Sasuke menggumamkan nama gadis itu.

"Maaf." Ucap Sasuke lirih. "Maafkan aku Cherry...maaf, maafkan aku." Berulang kali Sasuke mengucapkan kata maaf. Namun, semua hanya sia-sia saja, karena Sakura sama sekali tak bisa mendengar perkataan maafmu itu, Sasuke! Sasuke terisak pelan, "Hiks...hiks..Aaaarrrgghhh...BRENGSEK!" Sasuke berteriak frustasi, sambil memukul-mukul lantai kamarnya.

-TBC-

Maaf chapter ini rasanya panjang sekali, semoga kalian tidak bosan membacanya. Maaf juga jika dalam lagu yang ditulis di sini, terdapat salah penggunaan bahasa inggrisnya. Soalnya saya menggunakan Google translate untuk menerjemahkannya...^_^...Sebenarnya kemarin saya sempat ragu untuk meneruskan fic ini atau tidak, memang saya ini sangat sensitif sekali orangnya. Sedikit ada perasaan sedih juga saat membaca review yang sedikit mengkritik...^_^ hehe...Tapi, saya tetap harus menerima itu semua. Karena sadar tidak sadar review yang kalian berikan selalu memberikan saya semangat dan kekuatan. Seperti yang dikatakan Sukasns, "Peluklah pujian dan kritik sebagaimana Anda memeluk kelebihan dan kekurangan Anda." . Saya jadi menyadari, bahwa saya harus bisa menerima positif semua bentuk pujian dan kritikan. Arigatou Sukasns atas kata-katanya...^_^ . Dan terima kasih juga untuk kalian semua yang sudah memberikan semangat kepada saya...^_^ Tanpa kalian, saya tidak akan pernah mengalami kemajuan. Saya sadar fic ini jauh dari kata sempurna, masih banyak sekali kekurangan, oleh karena saya masih membutuhkan review kalian untuk bisa memperbaiki fic ini menjadi lebih baik lagi...Sekali lagi Arigatou...