Saya masih newbie disini, setelah sekian lama menjadi silent reader akhirnya saya mencoba untuk membuat sebuah fanfic.

Ini fanfic pertama saya, ceritanya agak pasaran juga ^_^, dan maaf kalau ada kesalahan penulisan dan lain-lain.

Semoga kalian suka...

Disclaimer : Masashi Kishimoto dengan semua chara-chara dalam anime Naruto

WARNING : OOC, typo, cerita gaje, alur kecepatan dll.

Summary : 'Kenapa kau begitu kejam terhadapku Sasuke?!/ KAU BENAR-BENAR BODOH UCHIHA SASUKE!/ Jadi...Kau adalah Haruno Sakura?!/ Jujur saja, sebenarnya berada dekat denganmu membuat jantungku tidak sehat/ Aku tidak pernah berbohong Uchiha-san! Aku tidak seperti Anda yang merupakan seorang aktor berbakat yang pandai dalam melakukan sebuah sandiwara/ Apa yang dilakukan Neji bersama dengan Cherry?!/ Aku rasa tidak ada lagi yang perlu dibicarakan di antara kita, Tuan Uchiha yang terhormat!'

Author by : Hikaru Sora 14

Sebelumnya saya ucapkan terima kasih kepada kalian semua yang telah membaca serta me-review, mem-follow dan mem-fav kan fic ini ^_^ Tanpa kalian fic ini tidak akan berarti apa-apa

Please Enjoy Reading

Don't Like Don't Read


Gadis musim semi itu masih saja memacu kedua kaki jenjangnya untuk terus berlari menjauh dari kediaman Uchiha. Hatinya benar-benar terasa begitu sakit, sungguh teramat sakit atas semua kebohongan yang telah dilakukan oleh pemuda Uchiha itu. Meskipun bisa terbilang kebersamaannya bersama dengan pemuda itu belumlah terlalu lama, namun tak memungkiri kenyataan bahwa Sakura sudah benar-benar mencintai pemuda itu. Benar-benar menyayanginya, meskipun selama ini pemuda itu selalu bersikap dingin kepadanya, tapi terkadang pemuda itu juga bisa bersikap hangat dan perhatian. Namun, sekarang ia tahu bahwa kenyataan yang sebenarnya tidaklah demikian. Semua sikap hangat dan perhatian Uchiha muda itu hanyalah sebuah kepura-puraan belaka, hanya sebuah sandiwara yang dilakukan dengan sangat profesional oleh seorang aktor tampan berbakat, Uchiha Sasuke. Sungguh ia tak menyangka jika ia bisa dengan mudahnya terjebak dalam permainan bodoh yang diciptakan oleh Sasuke. Menyesal? Tentu saja! Kini ia sungguh sangat merasa menyesal dengan semua hal yang sudah terjadi. Menyesal karena dengan mudahnya ia percaya akan perkataan pemuda itu dan tanpa berpikir panjang langsung menerima pernyataan cinta pemuda Uchiha itu.

Sungguh ia benci menjadi seorang gadis yang lemah, ia benci menjadi seorang gadis yang polos yang selalu dimanfaatkan orang lain dengan mudahnya. Ia benci karena selalu menjadi pihak yang tersakiti dalam menjalani setiap hubungan percintaan. 'Tidak! Aku tidak mau lagi selalu tersakiti seperti ini. Sudah cukup! Cukup semua ini menjadi yang terakhir kalinya aku dikhianati oleh seorang pemuda.' Ucapnya dalam hati, sambil mengusap kasar air matanya yang sedari tadi terus saja keluar tanpa henti dari emerald indahnya. Perlahan langkah kakinya mulai melambat, merasa lelah karena sedari tadi ia tak henti-hentinya berlari kencang. Kini ia bawa tubuhnya untuk beristirahat sejenak di sebuah halte bis yang berada di dekatnya itu. Ia dudukkan dirinya pada bangku panjang yang biasanya diisi oleh para penumpang yang sedang menunggu kedatangan bis. Menghela napasnya pelan, gadis musim semi itu mencoba untuk lebih menenangkan perasaan serta pikirannya yang terasa begitu kacau saat ini. Emeraldnya menatap kosong ke arah jalanan di depannya yang tampak begitu sepi tanpa ada satu pun kendaraan yang berlalu lalang karena memang malam semakin larut. Wajah cantiknya terlihat begitu pucat dan tak bercahaya seperti biasanya. Pikirannya mau tidak mau kembali menerawang mengingat kejadian yang baru saja ia alami di kediaman Uchiha tadi. Kembali hatinya terenyuh dengan kenyataan yang begitu menyakitkan ini. Tanpa ia sadari, air mata kembali mengalir melewati pipi putihnya.

Hiks...hiks...hiks...

'Kenapa? Kenapa kau begitu kejam terhadapku Sasuke?! Apa sebenarnya salahku padamu?! Mengapa kau libatkan aku dalam kebohonganmu ini! Kau benar-benar brengsek!' Makinya dalam hati. Tangan mungilnya mencengkram erat baju depannya, seolah-olah menahan rasa sakit yang kini tengah dirasakan hatinya. "KAU BENAR-BENAR BRENGSEK UCHIHA SASUKE!" Teriaknya keras seakan mencoba untuk melepaskan semua emosi yang kini tengah menggebu-gebu dirasakannya. Ia tidak peduli jika semua orang menganggapnya gila karena berteriak-teriak pada malam hari seperti ini, yang terpenting adalah ia bisa melepaskan semua beban di hatinya saat ini. Tanpa ia sadari, sedari tadi ada seorang pemuda tampan yang tengah memperhatikannya dari dalam mobil Porsche hitam yang terparkir di sebelah timur, tidak jauh dari halte bis tersebut. Sebenarnya bukan kemauan pemuda itu untuk secara sengaja memperhatikan Sakura. Namun, saat pemuda yang memiliki mata amethyst ini tengah menelepon sepupunya untuk menanyakan di mana letak rumah sepupunya itu, tak sengaja ia melihat seorang gadis berambut merah muda yang tengah berlari menuju halte bis. Rasa penasaran langsung meliputi hati pemuda itu. 'Malam-malam seperti ini apa yang dilakukan oleh gadis itu seorang diri di luar rumah?' Pikir pemuda itu di dalam hati. Meskipun sebenarnya ia tidak mengenal gadis itu, namun tetap saja ia merasa khawatir dengan keadaan gadis musim semi itu. Hei, tidak baik bukan jika seorang pria membiarkan seorang gadis sendirian malam-malam seperti ini, Ne? Apalagi setelah mendengar teriakan gadis itu yang memaki-maki seseorang yang bernama Uchiha Sasuke, disertai dengan isakan tangis yang terdengar begitu memilukan. Semakin menyakinkan pemuda itu untuk tetap berada di sana dan memperhatikan gadis itu.

'Nii-san? Kau masih di sana?' Tanya seorang gadis dari seberang sana yang merasa heran karena kakak sepupunya itu sedari tadi hanya diam saja tak menjawab pertanyaannya.

'Aa.' Jawab pemuda itu singkat. 'Maaf Hinata, aku ada urusan sebentar saat ini. Nanti aku akan kembali menghubungimu jika aku sudah sampai di kediaman Hyuuga.' Ucapnya lagi melanjutkan perkataannya.

'Hm, baiklah Nii-san. Aku akan menunggumu kalau begitu. Berhati-hatilah Nii-san. Jaa~...' Ucap gadis itu riang mengakhiri pembicaraannya dengan kakak sepupunya itu.

'Baiklah. Arigatou.' Pemuda itu menutup sambungan teleponnya dengan gadis yang ternyata adalah putri sulung keluarga Hyuuga, Hinata. Kembali ia arahkan pandangan matanya menuju ke tempat di mana gadis bubble gum itu tengah duduk sambil menundukkan kepala merah jambunya. Merasa iba dengan kondisi gadis itu yang terlihat sedang tidak dalam keadaan yang begitu baik, ia beranikan dirinya untuk turun dari mobilnya dan berjalan perlahan menghampiri sang gadis musim semi itu. Sakura sendiri tidak menyadari akan kehadiran pemuda yang saat ini tengah berjalan melangkah ke arahnya, pikirannya masih terlalu kalut untuk sekedar memperhatikan keadaan di sekitarnya.

"Nona, kau...baik-baik saja?" Tanya pemuda itu ragu-ragu saat ia sudah berada tepat di hadapan Sakura.

Merasa ada seseorang yang tengah mengajaknya berbicara, Sakura perlahan mengangkat wajah cantiknya untuk menatap seseorang yang kini tengah berdiri di hadapannya. Sesaat matanya terbelalak kaget dengan kehadiran pemuda bersurai panjang hitam tersebut. Tak jauh berbeda dengan Neji, ia pun terkejut karena gadis yang sedari tadi ia perhatikan ternyata adalah Cherry, seorang model baru yang saat ini tengah digandrungi oleh kalangan gadis remaja di Jepang.

"Kau! Hyuuga Neji kan?" Teriak Sakura spontan, saat ia telah berdiri sejajar dengan pemuda di hadapannya.

"Kau...tahu namaku?!" Tanya Neji menaikkan sebelah alisnya merasa heran karena Cherry bisa mengetahui namanya. 'Rasanya aku tak pernah bertemu dengan Cherry sebelumnya, bagaimana ia bisa tahu namaku?' Tanya Neji di dalam hatinya.


Kini Sasuke hanya bisa terus-menerus menyalahkan dirinya sendiri atas semua kebodohan yang dilakukannya terhadap Sakura. Entah mengapa ia sama sekali tidak bisa membuka mulutnya untuk mengucapkan kata maaf kepada Sakura, saat gadis musim semi itu telah mengetahui kenyataan atas semua kebohongan yang dilakukannya selama ini. Lidahnya terasa begitu kelu untuk hanya sekedar mengucapkan satu kata saja kepada gadis itu. Ingin sekali rasanya mencoba memberikan penjelasan kepada Sakura, tetapi mengingat semua hal ini adalah mutlak kesalahannya maka ia urungkan niatnya, ia hanya bisa menelan bulat-bulat makian yang dilayangkan gadis itu padanya. Ya, tentu saja ia merasa pantas untuk mendapatkan makian itu. Jika dibandingkan dengan hati gadis itu yang mungkin saat ini tengah sangat terluka, makian dan tamparan yang diberikan Sakura tidaklah seberapa rasa sakitnya.

Sungguh ia tak menyangka jika kebohongannya selama ini bisa begitu cepat terbongkar oleh gadis yang menjadi kekasihnya itu. Ia menyesal, sangat merasa menyesal dan merasa bersalah terhadap Sakura. Penyesalan itu bukan karena semua kebohongannya telah diketahui oleh gadis itu, tapi lebih kepada rasa penyesalan karena ia tak bisa terlebih dahulu mengungkapkan perasaannya yang perlahan mulai berubah terhadap gadis musim semi itu. Memang pada awalnya ia merasa yakin tidak akan pernah jatuh cinta dengan Cherry. Namun, siapa yang tahu jika Kami-sama ternyata berkehendak lain terhadapnya. Ya, ia sudah mulai bisa menerima keberadaan gadis itu di sisinya. Ia sudah mulai terbiasa dengan kehadiran Sakura dalam hidupnya. Meskipun selama ini ia hanya bersikap tidak peduli terhadap Sakura. Namun, sedikit-sedikit ia selalu memperhatikan setiap gerak-gerik gadis cantik itu.

"Cherry...Maafkan aku. Ku mohon kembalilah...!" Ucapnya lirih sambil menatap tulisan di halaman terakhir pada buku diarynya, tulisan yang mengungkapkan sebuah drama sandiwara yang diciptakan oleh Uchiha Sasuke, sang putra bungsu Uchiha. "Kuso!" Teriaknya penuh emosi sambil merobek semua halaman diary tersebut dan melemparkan kertas-kertas itu hingga berserakan memenuhi lantai kamarnya. Ia tidak peduli jika saat ini kamarnya menjadi sangat berantakan seperti kapal pecah, yang ia pedulikan saat ini adalah kekasihnya, Cherry.

Cih, seharusnya jika kau memang peduli pada Cherrymu itu, bukankah sebaiknya sedari tadi kau mengejar gadis itu keluar dan mencoba untuk menahan kepergiannya, Sasuke?

"Hahaha...Bodoh!" Ucapnya pelan sambil menertawakan dirinya sendiri, "Pada akhirnya aku terjebak dalam permainanku sendiri!" Bisik pemuda Uchiha bungsu itu lirih, seolah mengejek dirinya sendiri. "Hahaha...Haha...Ha...Hiks...Hiks..." Tawa pemuda itu lepas, tetapi bukan sebuah tawa kebahagiaan yang diciptakannya melainkan sebuah tawa yang menyiratkan kepedihan dan penyesalan. Kau sudah mulai gila, Ne Sasuke?

"KAU BENAR-BENAR BODOH UCHIHA SASUKE!" Teriaknya keras, tak bosan-bosan ia terus saja memaki dirinya sendiri. "Aaaarrrgghhh!" Teriaknya lagi tiba-tiba, saat ia merasakan sakit yang teramat sangat pada kepalanya. Memang sejak dua bulan yang lalu, ia divonis terkena penyakit vertigo, di mana pada saat-saat tertentu kepalanya terasa begitu pusing dan berputar-putar disertai dengan rasa sakit yang tak tertahankan. Telinganya juga terkadang terasa berdengung dan terasa sakit. Faktor kelelahan, stres dan juga kebiasaan tidur malam yang menyebabkan pemuda Uchiha ini menderita penyakit vertigo. Ia tidak terbiasa untuk mengkonsumsi obat-obatan, baginya cukup dengan tidur maka rasa sakitnya akan sedikit berkurang, karenanya obat yang diberikan oleh dokter pun diabaikan olehnya. Menjambak rambut ravennya kasar dengan kedua tangan kekarnya, mencoba untuk menahan rasa sakit yang kini tengah dirasakannya. Wajahnya yang sudah pucat karena memang ia tengah sakit, semakin bertambah pucat saja. Bibirnya yang biasanya tegas, kini terlihat begitu pucat dan dingin, tubuhnya menggigil, tak kuat menahan rasa sakit yang begitu menyiksanya. Perlahan tubuh lemahnya tumbang ke lantai kamarnya, kedua tangannya masih setia menjambak rambut emonya itu. Kesadarannya mulai hilang secara perlahan-lahan. Namun, sebelum kesadarannya benar-benar sepenuhnya hilang, ia masih sempat menggumamkan nama kekasihnya, "Cherry.".


"Jadi...Kau adalah Haruno Sakura?!" Tanya Neji menaikkan sebelah alisnya merasa sedikit ragu setelah mendengar pengakuan gadis di hadapannya ini. Selama yang ia tahu, Sakura yang ia kenal dulu saat masih bersekolah di Konoha High School adalah seorang gadis yang begitu polos dan juga lugu dengan kaca mata tebal yang selalu bertengger pada wajah cantiknya. Seorang gadis yang selalu tampil apa adanya tanpa mempedulikan penampilan gadis-gadis sebayanya yang berlomba-lomba untuk tampil cantik, feminim dan modis. Serta sikap kekanak-kanakan gadis itu yang selalu berhasil menghibur dirinya saat ia tengah berada dalam kondisi yang terpuruk. Tapi lihatlah sekarang, Sakura berubah menjadi seorang gadis yang sangat cantik dan modis, juga tampak begitu dewasa dengan tampilannya yang berbeda. Terlebih lagi saat mengetahui kenyataan tentang identitas Cherry yang ternyata adalah Sakura Haruno, gadis yang sudah ia anggap sebagai adiknya sendiri.

"Kau tidak percaya padaku? Atau jangan-jangan kau sudah melupakanku setelah enam tahun lamanya kita tidak bertemu, Senpai?" Tanya Sakura lagi sambil memicingkan kedua matanya menatap tajam ke arah Neji, yang merupakan kakak kelasnya dulu saat masih bersekolah di Konoha High School. Mereka hanya berbeda usia satu tahun, Neji lulus terlebih dahulu dari Sakura dan ia memutuskan untuk meneruskan pendidikannya dengan berkuliah di salah satu Universitas ternama di Inggris dan mengambil jurusan bisnis. Sebenarnya Neji tak tega untuk meninggalkan Sakura sendirian, tapi karena permintaan pamannya yang menginginkan Neji menjadi penerus perusahaan Hyuuga, maka ia tetap harus pergi ke Inggris. Mengingat Hinata yang tidak berminat untuk meneruskan usaha bisnis ayahnya karena lebih tertarik menuntut ilmu di sekolah khusus seni bersama dengan Naruto dan Sasuke, maka mau tidak mau Neji harus bersedia menuruti keinginan pamannya itu. Semua ini ia lakukan demi membalas kebaikan paman Hiashi yang sudah mau menjaga dan merawatnya sedari kecil, karena kedua orang tuanya sudah meninggal pada kecelakaan pesawat empat belas tahun yang lalu, saat ia masih berusia sepuluh tahun. Selain berkuliah di Inggris, Neji juga dipercaya untuk memimpin Perusahaan Hyuuga yang ada di karena itu, saat kelulusannya dua tahun yang lalu, ia masih menetap di Inggris untuk mengurus pekerjaan yang belum terselesaikan.

"Hm, tentu saja tidak. Aku tidak pernah melupakanmu." Jawab pemuda itu jujur kepada Sakura, setelah merasa yakin bahwa gadis di hadapannya memang benar adalah Sakura. Ia tersenyum sambil menepuk pelan pucuk kepala merah muda gadis itu. "Hanya saja, sekarang adik kecilku yang manis ini, sudah benar-benar bertambah dewasa dan semakin cantik." Ucapnya lagi melanjutkan perkataannya sambil mencubit kedua pipi chubby Sakura. Sementara Sakura hanya bisa meringis kesakitan saat Neji mencubit kedua pipinya.

"Ugh~...Lepaskan!" Ucap Sakura, tangan mungilnya mencoba melepaskan cubitan tangan Neji pada pipinya. Tapi tak berhasil, karena tangan Neji mencubit pipinya dengan sangat keras. "Sakit Senpai, ku mohon lepaskan!" Ucapnya seraya menampilkan wajah memelasnya. Tak ingin terus-terusan bercanda dengan gadis itu, Neji melepaskan cubitannya pada pipi Sakura. Kini ia gunakan kedua tangannya untuk membingkai wajah cantik Sakura. Menatap emerald indah gadis musim semi itu yang terlihat redup saat ini. Ibu jarinya mengusap lembut pipi gadis itu yang memang terasa basah. Ia tahu karena sedari tadi ia terus memperhatikan Sakura yang sedang menangis.

"Jangan menangis lagi!" Ucapnya tiba-tiba kepada Sakura. Amethystnya menatap lembut ke dalam mata emerald Sakura.

"Kau tahu aku menangis, Senpai?!" Tanya Sakura terkejut, padahal sebisa mungkin ia sudah berusaha menutupi kesedihannya saat tahu jika Neji adalah orang yang menegurnya tadi.

"Hm, aku melihatmu sejak kau berlari menuju halte bis ini. Aku juga mendengar teriakanmu, memaki-maki seorang aktor terkenal, Uchiha Sasuke. Memang ada hubungan apa antara kau dengan Uchiha Sasuke?" Tanya Neji penasaran dengan alasan apa yang membuat adik kecilnya ini menangis. Tangannya ia turunkan dari wajah Sakura, mencoba memberi Sakura kesempatan untuk menjelaskan masalahnya. Namun, Sakura hanya menundukkan kembali kepalanya tanpa menghiraukan pertanyaan Neji. Melihat sikap Sakura, Neji tahu dan mengerti jika gadis yang sudah ia anggap sebagai adiknya ini tidak ingin membicarakan masalah yang saat ini tengah membelenggunya.

"Hm, tidak apa-apa jika kau tidak mau menceritakan masalahmu sekarang. Kau bisa bercerita kapan saja." Ucapnya bijak dan tenang, tak ingin semakin membebani gadis itu.

"Arigatou, Senpai." Ucap Sakura lirih, mengangkat wajahnya dan tersenyum kecil kepada Neji.

"Kalau begitu, ayo aku antar kau pulang! Tidak baik jika malam-malam seperti ini seorang gadis masih berkeliaran sendirian. Bahaya, kau tahu!" Ucap Neji menyentil dahi lebar Sakura pelan. Berusaha untuk mencairkan suasana yang sejenak terasa canggung.

"Itai!" Teriak Sakura berpura-pura meringis kesakitan, tangan halusnya mengusap dahi lebarnya yang baru saja disentil oleh Neji.

"Jangan menipuku Sakura! Aku kan pelan-pelan melakukannya!" Ucap Neji yang mengetahui jika Sakura hanya berpura-pura merasa kesakitan. Sakura yang mendengar perkataan Neji hanya bisa menjulurkan lidahnya sedikit dengan rona merah tipis di wajahnya merasa malu karena Neji mengetahui kebohongannya.

"Hahaha...Dari dulu kau tidak mudah untuk dibohongi Senpai." Ucap Sakura tertawa lepas sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Sepertinya ia mulai bisa melupakan sedikit kesedihannya saat ini.

"Hm, sudah berbasa-basinya Sakura! Ayo, kita pulang." Ucap Neji yang tak ingin menanggapi perkataan Sakura, karena ia pasti tahu Sakura tidak akan pernah berhenti jika sudah mulai mengejek tentang dirinya. Neji membalikkan badannya dan berjalan perlahan ke arah mobilnya.

"Hm." Sakura menganggukkan kepalanya, menyetujui ajakan Neji. Sejenak Ia tatap punggung tegap pemuda yang berjalan di hadapannya itu, 'Aku senang kau kembali di saat yang tepat, Senpai.' Syukurnya di dalam hati. Sakura tersenyum simpul, karena tidak menyangka jika ia bisa bertemu kembali dengan kakak angkatnya ini. Sedari dulu hanya dengan bersama Neji saja, Sakura selalu bisa bersikap lepas tanpa rasa sungkan. Sakura selalu merasa bahagia bila berada di dekat pemuda ini. Baginya Neji adalah sosok seorang kakak yang begitu sempurna, seorang kakak yang benar-benar melindunginya saat dulu ia menjadi bahan olok-olokan teman-temannya. Ia adalah malaikat yang dikirimkan oleh Kami-sama untuk selalu menjaga dan melindunginya. 'Ya, kau adalah malaikatku, Senpai.' Ucapnya lagi dalam hati sembari menampilkan senyum tulusnya.

"Hei, jangan tersenyum-senyum sendiri seperti itu! Jika ada orang yang melihatmu seperti itu, mereka pasti menganggapmu orang gila." Teriak Neji keras, melihat Sakura yang masih saja berdiri manis di halte bis sambil tersenyum-senyum sendiri, saat ia sudah membuka pintu mobil Porsche hitamnya itu.

"Ugh~...Senpai, menyebalkan! Baru saja kita bertemu hari ini, tapi kau sudah mencari masalah denganku!" Gerutu Sakura sambil mengerucutkan bibirnya sebal, sambil menyeret kakinya untuk segera berjalan menuju ke arah mobil Neji.

'Syukurlah kau tidak terlalu terlarut lagi dalam kesedihanmu, Sakura.' Ucap Neji dalam hatinya sambil tersenyum lega, yang kini sudah duduk manis di kursi kemudinya.


Minggu pagi ini udaranya terasa begitu sejuk dan menyegarkan, cuacanya juga sangat cerah. Benar-benar hari libur yang tepat untuk melakukan sebuah aktivitas di luar rumah, baik itu berekreasi bersama keluarga, bermain bersama teman maupun berkencan dengan kekasih. Seperti yang dilakukan oleh pasangan kekasih baru ini, Naruto dan Hinata. Kini mereka tengah berjogging mengelilingi Taman Kota Konoha. Naruto saat ini mengenakan atasan kaos polos berwarna putih dengan jaket berwarna orange yang terikat di pinggangnya serta bawahan celana training panjang berwarna hitam, tak lupa sepatu olahraganya yang berwarna senada dengan kaos putihnya, penampilan yang sangat sederhana namun tampak begitu keren saat Naruto menggunakannya. Hinata yang melihat penampilan Naruto saat menjemputnya tadi, hanya bisa menahan napasnya untuk tidak berteriak senang dan menahan tubuhnya untuk tidak menghambur memeluk pemuda itu karena terkagum-kagum dengan penampilan kekasihnya itu. Sebenarnya memang tidak jadi masalah jika ia mau berteriak di hadapan Naruto, toh ia adalah kekasih dari Naruto. Namun, tentu saja Hinata lebih mengutamakan untuk menjaga image di depan kekasihnya itu. Ia tak mau jika nantinya Naruto akan menganggapnya aneh karena sikapnya yang tiba-tiba berubah. Oleh karena itu, Hinata tetap mempertahankan sikapnya yang lemah lembut kepada Naruto. Kembali ia pacu kedua kakinya untuk berlari kecil mengikuti pemuda blonde di depannya. Rasanya seperti mimpi bisa berolahraga bersama-sama dengan orang yang kau cintai. Amethystnya berbinar-binar menatap sayang punggung tegap pemuda itu. Bibir tipisnya menyunggingkan sebuah senyuman manis tatkala melihat Naruto sedikit melirik ke belakang sambil tersenyum geli melihatnya.

"Melamun, Eh?" Tanya Naruto kepada Hinata, sengaja ia pelankan langkah kakinya agar bisa berlari sejajar dengan Hinata. Hinata yang ditanya seperti itu menjadi salah tingkah disertai dengan rona merah tipis menghiasi wajah putihnya.

"Ti-...Tidak! Aku tidak sedang melamun, Naruto-kun!" Ucap Hinata gugup berusaha untuk mengelak dari kenyataan yang sebenarnya. Naruto yang melihat Hinata gelagapan menjadi semakin terkikik geli, karena sikap Hinata yang menggemaskan.

"Kau benar-benar seorang pembohong yang buruk, Hinata-chan." Ucap Naruto tersenyum menggoda, sambil mengacak surai indigo gadis Hyuuga itu.

"Na-...Naruto-kun jangan menggodaku terus!" Ucap Hinata kesal berusaha menutupi rasa malunya saat Naruto tahu bahwa ia sedang melamun, tangan mungilnya ia angkat ke atas untuk menurunkan tangan Naruto yang tengah mengacak surai panjangnya itu. Hinata kemudian berlari pelan mendahului Naruto dengan ekspresi wajahnya yang datar tidak seperti biasanya. 'Eh?! Ada apa dengannya?!' Tanya Naruto heran di dalam hati dengan sikap Hinata yang menjadi dingin. Tak ingin kehilangan jejak kekasihnya itu, Naruto segera berlari menyusul Hinata di depannya.

"Kau...marah?!" Tanya Naruto ragu saat ia telah berada di samping Hinata. Namun, Hinata sama sekali tidak mempedulikan keberadaan Naruto di sampingnya kini. Ia masih mempertahankan wajahnya yang dingin, untuk menyembunyikan rasa malunya.

Tak juga mendapat respon dari Hinata, Naruto menarik pelan tangan Hinata yang masih juga berlari pelan di depannya. Perlahan ia balikkan tubuh mungil gadis itu untuk menghadap ke arahnya.

"Ada apa denganmu, Hinata-chan?! Apa tadi perkataanku menyinggungmu?" Tanya Naruto sedikit khawatir, sambil memegang kedua pundak kecil gadis itu. Sapphirenya menatap teduh ke dalam amethyst Hinata. Melihat Naruto yang menatapnya dari jarak yang begitu dekat seperti ini, tentu saja melunturkan semua usaha Hinata yang sedari tadi bersikap datar kepada Naruto. Rona kemerahan tipis kembali menghiasi wajah putihnya.

"Ti-...Tidak, Naruto-kun!" Ucap Hinata kembali gugup, mengalihkan pandangannya dari wajah Naruto ke arah lain. Naruto yang melihat sikap Hinata menjadi semakin merasa aneh.

"Kau yakin?!" Tanya Naruto ragu. "Katakan saja dengan jujur jika memang tadi perkataanku menyinggungmu." Ucap Naruto meraih dagu Hinata untuk mengalihkan kembali wajah gadis itu ke arahnya. Hinata semakin menjadi salah tingkah dengan perbuatan Naruto, jantungnya semakin berdebar tak karuan melihat wajah tampan di hadapannya. Tak ingin terus menerus diperhatikan oleh Naruto, segera saja ia mendorong pelan tubuh kekar Naruto di hadapannya. Sementara itu, Naruto sendiri merasa terkejut dengan tindakan Hinata yang tiba-tiba mendorongnya.

"Sudah ku bilang aku tidak apa-apa, Naruto-kun!" Ucap Hinata kesal, sambil menggembungkan pipinya dan melipat kedua tangannya didepan dadanya. Irisnya ia arahkan lagi memandang ke arah lain untuk menghindari tatapan tajam Naruto yang seolah mengatakan 'Ada apa denganmu hari ini?'.

Keheningan sejenak tercipta di antara mereka, Naruto masih terdiam menatap heran wajah Hinata yang berpaling darinya. Merasa penasaran karena Naruto tak juga memberikan respon terhadap sikap Hinata, Hinata mencoba untuk melirik sedikit kekasihnya itu dengan ujung matanya. Rasanya Hinata ingin tertawa melihat ekspresi keheranan yang ditunjukkan oleh Naruto, namun sebisa mungkin ia harus bisa menahan keinginannya itu untuk tertawa. Tak ingin membuat Naruto semakin khawatir, akhirnya Hinata mengungkapkan perasaannya. "Jujur saja, sebenarnya berada dekat denganmu membuat jantungku tidak sehat." Ucap Hinata pelan.

Naruto terdiam sejenak setelah mendengar ucapan Hinata. Mengerti akan maksud dari ucapan Hinata, Naruto mengembangkan senyumnya lebar. "Hahaha, kau ini ada-ada saja Hinata-chan. Aku pikir kau marah padaku." Ucap Naruto mengacak surai panjang gadis itu, merasa gemas dengan sikap Hinata.

"Ugh~...Jangan mengacak-acak rambutku lagi Naruto-kun!" Ucap Hinata kesal karena sedari tadi Naruto selalu mengacak-acak rambutnya. Sementara Naruto terus saja mengacak-acak rambut Hinata, tanpa mempedulikan ucapan gadis itu. Entah sejak kapan, Naruto menjadi sangat senang jika sudah mulai menjahili gadis di hadapannya ini. Banyak hal yang tidak ia ketahui dari Hinata selama ia bersahabat dengan gadis ini. Ia pikir Hinata itu hanya seorang gadis yang rapuh dan lemah lembut. Lagipula Hinata selalu bersikap gugup dan malu-malu jika sedang bersama dengan dirinya, meskipun memang saat ini juga Hinata terkadang masih suka bersikap gugup di hadapannya, namun tidak terlalu sering seperti dulu. Naruto sempat merasa bosan juga dengan sikap Hinata yang seperti itu, sehingga ia sama sekali tidak tertarik untuk menjalin hubungan dengan Hinata, dan hanya menganggap Hinata sebagai seorang adik saja. Namun, sejak menjalin hubungan yang lebih dari sekedar sahabat bersama gadis itu selama kurang lebih tiga minggu ke belakang. Naruto mulai terbiasa dengan kehadiran gadis itu, intensitas pertemuan mereka yang semakin sering, sadar atau tidak, Naruto sudah mulai merasakan perasaan yang berbeda pada gadis indigo itu. Gadis itu menjadi lebih terbuka kepadanya, sifat keibuan yang dimiliki Hinata juga membuat Naruto merasa nyaman dengan keberadaan gadis itu. 'Pantas saja Sasuke jatuh cinta kepada Hinata. Ternyata selama ini aku tidak menyadari jika Hinata adalah gadis yang menarik.' Batinnya di dalam hati. Meskipun di awali dengan sebuah kebohongan, namun sepertinya putra tunggal Namikaze ini mulai menikmati dan menerima permainan yang dibuat oleh Uchiha Sasuke.

"Jika memang berada di dekatku membuat jantungmu tidak sehat, kenapa kau mau menjadi kekasihku? Hm." Ucap Naruto tersenyum jahil, kembali menggoda kekasihnya itu.

"Itu kan karena aku mencintaimu!" Ucap Hinata spontan tanpa merasa malu mengungkapkan perasaannya. Naruto tersenyum sumringah saat mendengar ucapan Hinata. "Ups~...Ah, tidak tidak, bukan seperti itu!" Ucap Hinata gelagapan, berusaha mengelak atas perkataannya terhadap Naruto.

"Hahaha...Kau tidak perlu malu seperti itu, Hinata-chan." Naruto tertawa geli dengan sikap Hinata. "Hm, Ayo kita pulang! Hari sudah mulai siang." Ucap Naruto sambil melihat jam tangan di pergelangan tangan kanannya, yang menunjukkan tepat pukul 9 pagi. "Kaa-san dan Tou-san memintaku untuk membawamu ke rumah." Ucap Naruto melanjutkan perkataannya.

"Hm. Ayo! Aku sangat rindu dengan Kushina Kaa-san dan Minato Tou-san. Padahal baru seminggu yang lalu aku bertemu mereka, tapi rasanya sudah terasa lama sekali." Ucap Hinata antusias menyetujui ajakan Naruto.

"Hm, mereka juga pasti merindukanmu Hinata-chan." Naruto tersenyum lembut menatap Hinata. "Ayo!" Naruto menggenggam tangan mungil Hinata, kemudian menarik perlahan tubuh Hinata untuk berjalan berdampingan di sebelahnya, melangkah bersama menuju ke tempat mobil Naruto yang terparkir di sebelah barat Taman Konoha. Hinata menyandarkan kepalanya pada lengan atas Naruto, ia tersenyum kecil, merasa bahagia karena hubungannya dengan Naruto akhir-akhir ini menjadi semakin bertambah dekat. Terlebih lagi keluarganya dan juga keluarga Naruto sangat mendukung sekali dengan hubungan yang dijalani oleh mereka berdua. Sementara Naruto hanya tersenyum maklum dengan sikap Hinata yang terkadang manja seperti ini. Ia tak menampik adanya rasa hangat yang muncul dalam hatinya tatkala Hinata menyandarkan kepalanya pada lengan atasnya. Rasanya nyaman sekali bisa menjadi sandaran bagi seseorang, terutama jika seseorang itu adalah kekasihmu sendiri. 'Kuserahkan semua jalan kehidupanku ini padamu, Kami-sama.' Ucap Naruto di dalam hatinya, manik birunya menerawang ke arah langit biru yang terlihat begitu cerah, seolah melihat keberadaan sang Kami-sama di atas sana.


Sebuah mobil Lamborghini hitam, baru saja memasuki halaman kediaman Uchiha. Seorang pria berperawakan tinggi dengan rambut hitam panjang yang dikucir pada bagian bawahnya, tampak begitu tergesa-gesa keluar dari mobil mewahnya dan segera berlari masuk ke dalam rumah mewah bertingkat dua itu.

"Bodoh, bagaimana mungkin aku bisa melupakan berkas-berkas itu!" Gerutu pria itu kepada dirinya sendiri, saat ini kakinya mulai melangkah menaiki anak-anak tangga, untuk menuju kamar pribadinya yang terdapat di lantai dua bersebelahan dengan kamar adik satu-satunya itu.

"Hah~...Terpaksa aku harus menunda rapat penting di Osaka kali ini." Ucapnya mengeluh sambil menghela napas pelan, saat ia sudah berada tepat di depan pintu kamarnya. Segera saja Uchiha sulung itu membuka pintu kamarnya dan melesat ke dalam kamar untuk mengambil berkas-berkas penting untuk rapat di Osaka. Meskipun ini adalah hari libur, tapi kesempatan untuk berbisnis memang tidak pernah mengenal waktu, kapan pun dan di mana pun harus tetap dilakukan oleh Itachi, mau tidak mau. Melangkahkan kakinya cepat menuju ke meja kerjanya yang terdapat di sudut kamar, ia ingin segera memastikan jika berkas-berkas yang dibutuhkannya masih utuh berada di atas meja kerjanya. Menghela napasnya lega tatkala onyxnya menangkap setumpukkan dokumen yang tersusun rapih di atas meja kerjanya. Segera saja ia ulurkan tangan kekarnya untuk mengambil dokumen-dokumen itu, dan memasukkannya ke dalam tas hitam yang sedari tadi dibawanya. Merasa sudah selesai dengan urusannya, Uchiha Itachi memutar tubuhnya dan berjalan perlahan keluar dari kamar pribadinya. Merogoh handphone miliknya yang terdapat di dalam saku celana, ia membuka kontak teleponnya dan mencari nama Konan, kekasihnya yang juga merupakan sekretaris pribadinya di kantor. Setelah menemukan kontak yang dicari, ia segera menghubungi nomor yang tertera di layar handphone tersebut.

'Moshi-moshi Itachi-kun.' Terdengar sapaan lembut dari Konan yang ditujukan kepada kekasihnya itu. Kini ia masih berada di Osaka untuk menemani rekan bisnis Itachi, selagi Itachi pulang untuk membawa berkas-berkas yang tertinggal.

'Moshi-moshi Hime. Bagaimana keadaan di sana? Apakah mereka masih bersedia untuk menunggu?' Tanya Itachi merasa sedikit khawatir jika kontrak kerja sama dengan Jashin Corp. akan dibatalkan karena penundaan rapat penting kali ini. Kini Itachi sudah berada di luar kamarnya untuk menutup pintu kamarnya, sejenak ia teringat dengan keadaan adiknya yang kini tengah terbaring sakit di dalam kamarnya, segera saja ia melangkahkan kakinya untuk menuju kamar Sasuke. Meskipun semalam, ibunya sudah memberitahu jika Cherry datang untuk menjaga Sasuke. Tapi tetap saja ia mengkhawatirkan keadaan adik bungsunya itu. Bagaimana pun juga, sedari kecil Itachi sangat menyayangi adik semata wayangnya itu.

'Kau tenang saja Itachi-kun. Hidan-san masih menunggu di sini, lagipula tadi ia menyarankan jika lebih baik rapatnya di tunda saja sampai besok. Ia merasa kasihan kepadamu, jika kau harus pulang pergi Osaka-Tokyo. Jadi kau tidak perlu khawatir.' Terang Konan mencoba untuk menenangkan Itachi agar tidak terlalu khawatir.

'Hah~...Syukurlah kalau begitu. Arigatou Ko-...SASUKE!' Teriak Itachi saat ia telah berada di depan kamar adiknya itu dan melihat Sasuke yang kini terbaring tak sadarkan diri di atas lantai kamar. Segera saja ia masuk ke dalam kamar dan menghampiri tubuh Sasuke, onyxnya menatap ke sekeliling kamar. 'Berantakan sekali, apa yang sudah terjadi?' Tanya Itachi penasaran di dalam hatinya.

'Ada apa Itachi-kun?! Apa yang terjadi dengan Sasuke?!' Tanya Konan khawatir setelah mendengar Itachi yang berteriak keras menyebut nama Sasuke.

'Sasuke pingsan di lantai. Kau tahu Konan kamarnya terlihat sangat berantakan. Ck, sepertinya ada sesuatu hal yang sudah terjadi antara Sasuke dan Cherry semalam. Aku tidak melihat keberadaan Cherry sedari tadi di sini.' Terang Itachi gusar kepada Konan, saat ia melihat kertas-kertas berserakan di atas lantai yang merupakan sobekan dari diary milik Sasuke.

'Begitukah?! Cepat bawa Sasuke ke ranjang miliknya, Itachi-kun! Hubungi Dokter Kabuto secepat mungkin untuk memeriksa keadaannya!' Ucap Konan merasa panik dengan keadaan calon adik iparnya itu. Walaupun Sasuke bukan merupakan adik kandungnya, namun ia juga menyayangi Sasuke sebesar Itachi menyayangi Sasuke.

'Hn. Tenanglah Konan. Aku pasti akan melakukannya. Kalau begitu ku tutup dulu sambungan teleponnya. Nanti jika ada apa-apa aku akan segera menghubungimu, dan juga katakan pada Hidan-san kita tunda dulu saja rapatnya besok.' Ucap Itachi tenang kepada Konan.

'Baiklah akan aku sampaikan. Aku tunggu kabar darimu.' Ucap Konan sambil menghela napas lega.

'Hn.' Itachi mengakhiri sambungan teleponnya dengan Konan. Langsung saja ia masukkan kembali handphonenya ke dalam saku celananya, segera ia angkat tubuh Sasuke yang terlihat lemah itu dengan kedua tangan kekarnya dan membawa tubuh adik kesayangannya ke atas ranjang. Ia selimuti tubuh adiknya itu sampai sebatas leher dengan selimut tebal milik Sasuke. Menatap sendu ke arah Sasuke yang terbaring tak berdaya seperti itu, hatinya terasa miris sekali dengan kondisi adiknya itu. Kembali ia ambil telepon genggamnya untuk menghubungi dokter pribadi keluarga Uchiha, Kabuto Yakushi.

'Dokter, bisa kau segera datang kemari? Sepertinya keadaan Sasuke semakin buruk.' Tanya Itachi kepada Kabuto, saat ia tengah berjalan menuju ke depan ranjang Sasuke di mana terdapat kertas-kertas berserakan di lantai.

'Baiklah, akan saya usahakan untuk segera datang ke sana Itachi-san.' Ucap Kabuto menyanggupi permintaan Itachi.

'Hn. Terima kasih Kabuto-san.' Itachi mengakhiri obrolannya dengan Kabuto.

Onyxnya menjelajahi satu persatu kertas-kertas yang berserakan itu, tulisan-tulisan tangan Sasuke memenuhi setiap lembar kertas-kertas tersebut. Di bacanya satu persatu lembar kertas yang merupakan sobekan dari buku diary Sasuke itu. Onyxnya membulat ketika ia membaca tulisan yang menyatakan jika Sasuke selama ini mencintai sahabatnya Hyuuga Hinata, dan sempat melamar gadis itu pada saat ulang tahunnya yang ke-23, yang pada akhirnya Sasuke mendapat penolakan dari gadis indigo itu. Sungguh ia sama sekali tidak mengetahui apa-apa tentang kehidupan pribadi adiknya itu, meskipun bisa terbilang hubungan mereka sangat dekat, tapi tak pernah sekalipun adiknya itu menceritakan tentang masalah pribadinya kepadanya. 'Sepertinya aku bukan sosok kakak yang baik bagi Sasuke.' Batinnya terenyuh saat ia menyadari jika ia tak pernah membantu masalah adiknya itu selama ini. Kembali ia alihkan onyxnya untuk melanjutkan membaca kertas-kertas lainnya. Tak berbeda jauh dengan Sakura, Itachi pun membelalakan matanya terkejut dengan tulisan Sasuke yang tampak lebih panjang jika dibandingkan dengan tulisan-tulisan lainnya yang lebih pendek pada sobekan kertas diary tersebut. Itachi mengepalkan jari-jarinya kuat, tatkala membaca setiap kalimat yang tertulis pada kertas tersebut. Ia merasa geram dengan tulisan Sasuke yang mengungkapkan tentang kebohongan yang dilakukan oleh adik bungsunya itu.

"Baka! Sasuke no Baka!" Maki Itachi kepada adiknya yang sedang tak sadarkan diri itu. Bukankah percuma saja, eh Itachi?

Itachi masukkan sobekan kertas itu ke dalam saku jasnya, ia ingin menyimpannya dan meminta penjelasan secara langsung kepada Sasuke atas apa yang telah dilakukan oleh Sasuke, saat Sasuke sadar nanti. Sambil menunggu kedatangan Dokter Kabuto, Itachi mencoba merapikan buku-buku dan kertas-kertas lainnya yang masih berserakan di atas lantai.


"Hinata-chan, bisa kau membantu Kaa-san untuk membawakan makanan-makanan ini?" Teriak Kushina dari arah dapur kepada Hinata yang tengah berada di ruang tamu bersama Naruto dan Minato. Sebenarnya Hinata ingin sekali membantu Kushina untuk memasak, tapi Kushina menolak bantuan Hinata, karena Kushina ingin menyiapkan hidangan makanan yang terenak untuk calon menantunya ini.

"Ha'i, baik Kaa-san." Ucap Hinata menyanggupi permintaan Kushina. Segera ia beranjak dari sofa dan berjalan ke arah dapur. "Wah, banyak sekali Kaa-san!" Ucap Hinata tercengang saat ia telah sampai di dapur dan melihat masakan Kushina yang begitu banyak.

"Ah kau bisa saja, ini kan tidak banyak. Kaa-san kan hanya membuat sepuluh jenis masakan. Ini semua Kaa-san buatkan khusus untuk menyambut kedatanganmu, Hinata-chan." Ucap Kushina tersenyum senang yang semakin membuat wajah ibu muda itu menjadi semakin cantik.

"Arigatou Kaa-san." Rasanya Hinata senang sekali dengan perhatian yang diberikan oleh Kushina. Sejak kecil memang Hinata hanya dibesarkan oleh ayahnya saja seorang, karena ibunya meninggal saat melahirkan adik semata wayangnya, Hanabi Hyuuga. Tanpa disadari air mata mengalir dengan mulus melalui pipi putih Hinata, saat Hinata menatap punggung Kushina yang kini tengah membelakanginya untuk mengambil nampan yang berisi lima piring masakan buatannya.

"Eh,kenapa kau menangis Hinata-chan?!" Tanya Kushina khawatir saat ia sudah membalikkan badannya dan melihat Hinata yang menangis. Kushina berjalan mendekat kepada Hinata sambil membawa nampan yang tadi diambilnya.

"Ah, tidak apa-apa Kaa-san. Mata Hinata hanya kelilipan saja." Ucap Hinata sambil menggosok kedua matanya untuk menghapus air matanya yang keluar. "Sini, biar nampan ini Hinata yang bawa ya Kaa-san." Ucap Hinata riang sambil mengambil nampan yang ada di tangan Kushina, mencoba untuk mengalihkan perhatian Kushina yang nampaknya tidak percaya dengan alasan yang dibuat oleh Hinata.

"Hm. Ya sudah jika kau baik-baik saja. Kaa-san akan bawa nampan yang satunya lagi." Kushina kembali membalikkan tubuhnya untuk mengambil nampan yang tersisa. "Ayo! Para lelaki itu pasti sudah merasa kelaparan saat ini." Ucap Kushina lagi, mengajak Hinata untuk segera menuju ke ruang makan. Hinata hanya terkikik geli di dalam hati melihat sikap calon ibu mertuanya yang kekanak-kanakan itu.

"Naruto-kun, Minato-kun, cepatlah kemari! Makan siang sudah siap." Teriak Kushina kepada Naruto dan Minato yang masih asyik berbincang mengenai bisnis di ruang tamu. Kedua orang itu jika sudah membicarakan tentang bisnis pasti saja lupa waktu.

"Ya, Kaa-san." Ucap Naruto menyahuti panggilan Kushina. Naruto dan Minato segera beranjak dari sofa dan berjalan menuju ke ruang makan. Mereka tidak berani untuk mengabaikan perintah Kushina, karena mereka tahu konsekuensi apa yang nantinya akan mereka dapatkan dari Kushina. Tak ingin kembali merasakan bogeman mentah Kushina, eh?

"Wah...Kaa-san, ada acara apa ini? Tak seperti biasanya Kaa-san memasak sebanyak ini." Ucap Naruto terkagum-kagum dengan jumlah masakan yang dibuat oleh Kaa-sannya itu, saat ia telah mendudukkan dirinya pada kursi di sebelah Hinata. Hinata yang sudah terlebih dahulu duduk, segera menyiapkan mangkuk untuk Naruto dan mengisi mangkuk itu dengan nasi.

"Ini, Naruto-kun." Hinata tersenyum sambil menyerahkan mangkuk yang berisi nasi itu kepada Naruto.

"Hm, arigatou Hinata-chan." Ucap Naruto berterima kasih kepada Hinata.

"Tentu saja untuk menyambut kedatangan Hinata-chan. Lagipula dua minggu lagi kan Naruto-kun berulang tahun. Jadi sekalian saja Kaa-san memasak banyak makanan kesukaan kalian. Ini khusus untuk merayakan ulang tahun Naruto-kun bersama keluarga kecil kita saja." Ucap Kushina riang, merasa bahagia karena bisa berkumpul bersama dengan suami, anak dan juga calon menantunya. Minato, Naruto dan Hinata yang mendengar perkataan Kushina hanya bisa sweatdrop di tempat.

"Tapi Hime, itu kan masih lama sekali. Lagipula kita bisa merayakannya nanti kan?" Ucap Minato kepada Kushina, saat ia menerima mangkuk yang berisi nasi dari Kushina.

"Tapi kan nanti itu, acaranya diselenggarakan di hotel. Pasti banyak kolega-kolega kita juga yang datang. Tak akan ada waktu lagi untuk berkumpul berempat seperti ini, Minato-kun. Lagipula kalian kan selalu sibuk dengan pekerjaan kalian!" Ucap Kushina tak mau kalah dengan pendapatnya.

"Hah~...Baiklah-baiklah. Kau menang Hime." Tak ingin berdebat lebih lama lagi, Minato akhirnya mengalah dengan pendapat istri kesayangannya itu. Sementara Kushina saat ini tengah berbangga diri, karena menang berdebat dari suami tampannya itu.

"Sudah-sudah Kaa-san, Tou-san, ayo kita mulai makan saja. Nanti makanannya keburu dingin." Ucap Hinata sambil tersenyum kikuk saat merasakan aura yang tidak menyenangkan di antara Minato dan Kushina. Naruto hanya menghela napas pelan saat melihat sikap kedua orang tuanya yang kekanak-kanakan itu, namun Naruto percaya jika itulah cara kedua orang tuanya berkomunikasi untuk saling menunjukkan rasa kasih sayang mereka.


"Bagaimana keadaan Sasuke, Kabuto-san?" Tanya Itachi saat Kabuto keluar dari kamar Sasuke. Itachi memang sengaja keluar dari kamar Sasuke saat Kabuto datang untuk memeriksa keadaan Sasuke. Saat berada di luar kamar, Itachi mencoba untuk menghubungi Kaa-san dan Tou-sannya yang masih berada di Amerika, dan memberitahukan keadaan Sasuke saat ini.

"Hm, Sasuke-san baik-baik saja. Tidak ada yang serius, hanya saja dia pingsan karena sepertinya vertigonya kambuh tadi malam. Karena kondisi tubuhnya yang lemah, ia jadi tak bisa menahan rasa sakit yang ditimbulkan oleh vertigonya. Tetapi tenang saja, tadi aku sudah memberi suntikan penghilang rasa sakit dan juga suntikan vitamin. Kau tinggal menunggu ia siuman saja." Terang Kabuto kepada Itachi.

"Hah~...Bahkan aku tidak tahu jika Sasuke menderita penyakit vertigo." Keluh Itachi yang lagi-lagi tidak tahu menahu tentang adiknya itu. "Syukurlah jika tidak ada hal serius lainnya." Itachi menghela napas lega. "Arigatou Kabuto-san. Jika ada apa-apa pada Sasuke nanti, aku akan kembali menghubungimu." Itachi melanjutkan perkataannya sambil menepuk pelan bahu kiri Kabuto.

"Baiklah, aku siap kapan pun kau butuhkan, Itachi-san. Kalau begitu aku pamit dulu. Selamat siang." Pamit Kabuto kepada Itachi. Itachi hanya mengangguk pelan dengan ucapan Kabuto. Setelah Kabuto menghilang dari pandangannya, ia membawa tubuhnya untuk masuk ke dalam kamar Sasuke. Di lihatnya kini Sasuke tengah menyandarkan punggungnya pada sandaran ranjangnya sambil terdiam menundukkan kepalanya ke bawah, rupanya Uchiha bungsu itu sudah siuman dari pingsannya.

"Kau sudah merasa baik, eh Sasuke?" Tanya Itachi sambil berjalan perlahan menuju ranjang milik Sasuke, dengan kedua tangannya ia masukkan ke dalam saku celana hitamnya. Mencoba bersikap tenang sebelum ia mulai menghakimi Sasuke mengenai perbuatan yang telah dilakukan oleh adiknya itu.

"Hn. Kenapa kau bisa berada di sini, Aniki? Bukankah seharusnya kau berada di Osaka." Tanya Sasuke datar, onyxnya menatap wajah Uchiha Itachi yang juga menampilkan ekspresi datar yang sama sepertinya.

"Hn, aku ketinggalan berkas-berkas penting untuk rapat bersama Jashin Corp. Jadi terpaksa aku harus mengambilnya sendiri ke sini. Karena merasa penasaran dengan keadaanmu aku berniat untuk melihatmu di kamar, tapi ternyata aku menemukanmu tergeletak tak sadarkan diri di atas lantai kamar." Terang Itachi yang sudah mendudukkan dirinya dengan menumpukkan kaki kanannya pada kaki kirinya, pada kursi yang terdapat di depan meja rias milik Uchiha bungsu itu. Sementara Sasuke hanya terdiam menanggapi perkataan Itachi. "Ngomong-ngomong di mana Cherry? Sedari tadi aku tidak melihat keberadaannya." Ucap Itachi berbasa-basi kepada Sasuke, mencoba untuk memancing Sasuke menceritakan kejadian yang telah terjadi antara dirinya dengan Sakura semalam. Jadi ia tidak perlu repot-repot untuk menanyakan tulisan Sasuke pada kertas diary yang kini tersemat di saku jasnya.

"Hn. Jangan berpura-pura tidak mengetahuinya Aniki! Kau pasti sudah membaca semua kertas-kertas itu bukan? Jangan bilang jika kau sama sekali tidak tertarik untuk membaca tulisanku, saat kau sedang merapikan semua kertas-kertas itu. Kau terlalu jenius jika sampai tidak mencurigai sesuatu yang terjadi antara aku dan Cherry semalam." Ucap Sasuke datar, onyx Sasuke mendelik tajam ke arah Itachi yang saat ini tengah menyeringai tipis.

"Hahaha...Jadi begitu yah." Itachi tertawa keras setelah mendengar analisa Sasuke yang benar-benar tepat 100%. "Hn, aku sudah tahu semuanya. Aku perkirakan bahwa semalam Cherry melihat tulisanmu, dan akhirnya ia mengetahui semua kebohongan yang telah kau lakukan selama ini padanya. Sudah pasti ia merasa sangat kecewa padamu, sampai-sampai ia pergi meninggalkanmu, tanpa mempedulikan keadaanmu yang masih sakit." Ucap Itachi mencoba memperkirakan kejadian antara Sasuke dan Cherry semalam. "Dan ku rasa, kau juga tidak bisa menjelaskan apa-apa pada Cherry tentang semua kebohonganmu ini, benar kan?" Itachi mencoba menebak jalan pikiran Sasuke, yang lagi-lagi tepat sasaran.

"Hn." Gumam Sasuke singkat. "Aku...menyesal." Bisik Sasuke pelan sambil menundukkan kembali wajahnya, namun masih bisa terdengar jelas oleh Itachi. Itachi hanya bisa tersenyum simpul melihat sikap adiknya ini. "Sekarang aku harus bagaimana? Cherry pasti tidak akan memaafkanku, ah jangankan memaafkanku. Bertemu denganku saja pasti ia akan menolak." Ucap Sasuke lirih, merasa putus asa untuk mendapatkan maaf dari Sakura.

"Hn. Jangan putus asa seperti itu! Jika kita tidak mencobanya terlebih dahulu, kita tidak akan tahu apakah hasilnya akan baik atau tidak. Tidak ada salahnya kan untuk mencoba?! Lagipula semua ini memang murni kesalahan darimu, jadi kau harus mempertanggungjawabkan semuanya." Ucap Itachi bijak, berusaha menyemangati dan menasehati adiknya itu.

"Hn. Kau benar Aniki." Ucap Sasuke tersenyum tipis, menyetujui ucapan Itachi. "Kalau begitu...bisa kau membantuku?" Tanya Sasuke sedikit ragu untuk meminta bantuan kepada kakaknya itu.

"Dengan senang hati tentunya." Itachi tersenyum senang saat Sasuke meminta bantuannya. "Lalu, apa yang bisa aku lakukan untuk membantumu Sasuke?" Tanya Itachi lagi kepada Sasuke.

"Hn. Bisa kau antarkan aku sekarang ke rumah Cherry?" Tanya Sasuke, mengungkapkan keinginannya kepada Itachi.

"Tidak!" Ucap Itachi tegas, menolak permintaan Sasuke. Sasuke hanya menaikkan sebelah alisnya merasa heran dengan penolakan Itachi.

"Hei, bukankah tadi kau yang dengan senang hati ingin membantuku? Kenapa sekarang kau malah berubah pikiran!" Sewot Sasuke kesal kepada Itachi yang ia anggap tidak memiliki pendirian.

"Hn. Bukan begitu Baka!" Sanggah Itachi terhadap perkataan Sasuke tersebut. Sejenak ia menghela napas pelan sebelum melanjutkan perkataannya lagi. "Aku pasti akan mengantarmu ke rumah Cherry. Tapi tidak sekarang! Kau tidak sadar jika tubuhmu itu masih lemah, Hah!" Ucap Itachi yang sebenarnya masih merasa khawatir dengan kondisi kesehatan Sasuke. Sasuke hanya termenung mendengar ucapan Itachi.

"Tapi...jika aku tidak segera menemuinya dan meminta maaf padanya. Pasti ia akan semakin menganggapku pria yang benar-benar brengsek. Tidakkah kau mengerti, Aniki!" Ucap Sasuke sendu, seolah benar-benar telah kehilangan harapan untuk meminta maaf kepada Cherry.

"Hah~...Baiklah jika itu maumu. Nanti malam kita pergi ke sana." Ucap Itachi mengalah, tangan kanannya mengurut pelan keningnya yang terasa pusing menghadapi kekeraskepalaan Sasuke ini.

"Tapi a-..." Ucapan Sasuke terpotong karena Itachi terlebih dahulu mengeluarkan suaranya.

"Tidak ada bantahan! Kau terima saranku atau kita tidak pergi sama sekali!" Ancam Itachi kepada Sasuke, onyxnya menatap tajam ke arah onyx milik kembarannya itu. Sasuke hanya menghela napasnya pelan, dengan berat hati ia menganggukkan kepalanya, menuruti semua perkataan Itachi. Sepertinya Uchiha bungsu ini tidak berkutik sama sekali di hadapan Uchiha Itachi, eh?

Setelah berhasil meyakinkan Sasuke, Itachi beranjak dari duduknya dan berjalan menghampiri Sasuke di atas ranjang. "Sekarang kau beristirahatlah. Aku akan membangunkanmu jika sudah tiba waktunya." Ucap Itachi tersenyum tipis sambil menepuk pelan pundak Uchiha bungsu itu.

"Hn. Arigatou Aniki." Ucap Sasuke berterima kasih kepada kakak sulungnya itu.

Tak ingin berlama-lama menganggu istirahat adiknya, Itachi segera melangkahkan kakinya untuk keluar dari kamar Sasuke dan menuju ke dalam kamar pribadinya. Perlahan kaki kekarnya melangkah menuju ranjang king sizenya, lalu ia merebahkan sebagian tubuhnya pada ranjang nyamannya itu karena tubuhnya merasa lelah dengan semua aktivitasnya hari ini.


"Sakura-san, kau baik-baik saja? Wajahmu terlihat sangat pucat. Apa sebaiknya kita akhiri saja sesi pemotretan kali ini? Kau tampak tidak sehat." Ucap Sasori merasa khawatir dengan kondisi fisik Sakura yang terlihat lemah itu, saat ia telah selesai membidikkan kameranya ke arah Sakura yang tengah berpose memegang bunga Lili putih yang masih menempel pada tangkainya, matanya tertutup seolah meresapi aroma yang menguar dari bunga Lili putih tersebut. Kini mereka tengah melakukan sesi pemotretan di taman bunga dekat dengan kantor Yamanaka Entertainment.

"Ah, tidak apa-apa Sasori-san. Kau tidak perlu khawatir, aku hanya merasa sedikit lelah. Istirahat sebentar juga akan memulihkan staminaku lagi." Ucap Sakura tersenyum sambil mengangkat tangannya yang mengepal ke atas, seolah dirinya masih bersemangat untuk melanjutkan sesi pemotretan kali ini.

"Hah~...Baiklah kalau kau memang masih sanggup untuk melanjutkan sesi pemotretan ini." Sasori menghela napasnya pelan, ia tak habis pikir kenapa gadis musim semi ini masih saja memaksakan diri untuk bekerja. Padahal ini kan hari libur, tapi Sakura tiba-tiba saja menghubunginya untuk melakukan pemotretan terakhir, terpaksa Sasori menunda kencannya siang ini bersama dengan Shion menjadi nanti malam. Beruntunglah Sasori memiliki kekasih seperti Shion yang sangat pengertian terhadapnya. Meskipun terkadang Shion bersikap manja dan kekanak-kanakan, tapi jika persoalannya sudah menyangkut tentang pekerjaan maka gadis blonde itu pasti akan memaklumi keadaan Sasori.

"Hm, kita pindah lokasi. Sepertinya lokasi di sebelah sana cukup bagus Sasori-san." Ucap Sakura riang menunjuk ke arah danau buatan yang terdapat di sebelah barat dari Taman bunga.

"Hm, pemandangan yang bagus, Sakura-san. Ayo!" Ucap Sasori menyetujui usulan Sakura.

.

.

.

"Ck, mau seperti apapun pose yang kau tampilkan, kau tetap terlihat cantik, Sakura-san." Ucap Sasori berdecak kagum atas hasil pemotretannya kali ini. Sakura yang mengenakan celana jeans berwarna biru tua, tank top berwarna putih dengan blazer berwarna merah muda, serta wedges berwarna putih yang menghiasi kaki jenjangnya tampak begitu modis dan cantik. Rambut merah mudanya dibuat bergelombang dan diurai panjang. Kini ia tengah duduk berselonjor pada sebuah jembatan kecil yang dekat dengan danau buatan tersebut. Tubuhnya ia condongkan ke belakang dengan tangan kanan sebagai tumpuannya, dan tangan kirinya ia letakkan di depan. Sementara kaki kirinya ia tumpukan di atas kaki kanannya. Ia menampilkan wajahnya yang terlihat angkuh dengan tatapan emeraldnya yang tajam ke arah kamera, namun masih tetap tidak menghilangkan aura pesona kecantikan gadis musim semi itu.

"Kau selalu berlebihan Sasori-san!" Sakura sedikit memutar kedua bola matanya bosan, karena Sasori sudah terlalu sering mengucapkan kata-kata pujian itu.

"Hahaha...tampaknya kau sudah mulai bosan dengan perkataanku ini, Sakura-san." Sasori hanya tersenyum lebar melihat reaksi Sakura.

"Hm, memang. Oleh karena itu, jangan memujiku lagi, mengerti!" Perintah Sakura kepada Sasori dengan diselingi nada bercanda.

"Hahaha...Baiklah, baiklah. Aku mengerti. Kalau begitu aku pamit. Hari sudah mulai sore, aku harus bersiap-siap untuk menemui Shion." Ucap Sasori berojigi kepada Sakura, begitu pun sebaliknya.

"Bersenang-senanglah! Terima kasih untuk hari ini." Teriak Sakura melambaikan tangannya dan tersenyum ke arah Sasori yang sudah berjalan di depannya. Sasori hanya mengacungkan jempol tangan kanannya ke atas, tanpa membalikkan tubuhnya untuk menghadap ke arah Sakura. Seolah mengisyaratkan 'Ok. Baiklah.' Setelah itu, Sasori bergegas untuk melangkahkan kakinya menuju Yamanaka Entertainment, untuk mengambil mobilnya yang terparkir di sana.

Sakura kini melangkahkan kaki jenjangnya ke tepian danau, ia mendudukkan dirinya di atas rumput yang tumbuh di sana. Emeraldnya menatap langit sore yang dipenuhi oleh lembayung senja berwarna orange. Rasanya tenang sekali melihat keindahan langit senja ini, apalagi di temani oleh burung-burung yang berkicauan dengan riang di atas sana, seolah mereka benar-benar ingin bersenang-senang menghabiskan waktu mereka sebelum malam tiba dan kembali beristirahat pada sarang mereka. Semilir angin sore yang terasa begitu sejuk, menerpa wajah cantik gadis musim semi ini. Menutup kedua matanya, mencoba untuk menghirup udara sore hari yang begitu segar. Sepertinya pikiran dan hatinya kini sudah mulai tenang, meskipun memang rasa sakit hati itu masih terasa sangat kentara sekali ia rasakan.

"Sendirian saja, eh?" Tanya seseorang dari belakang Sakura. Mendengar suara yang sudah dikenalnya itu, Sakura langsung beranjak dari duduknya, bibirnya menyunggingkan sebuah senyum tipis tatkala melihat pemuda Hyuuga itu berjalan ke arahnya.

"Kau...sengaja datang untuk menjemputku, Senpai?" Tanya Sakura memicingkan kedua matanya dengan ekspresi kekanak-kanakan. Neji yang melihat ekspresi Sakura hanya bisa tersenyum geli, sebenarnya memang Neji sengaja untuk menjemput Sakura di taman ini, karena ia memang masih merasa khawatir dengan Sakura.

"Percaya diri sekali kau! Kebetulan saja mobilku melewati taman ini, dan kulihat sepertinya ada gulali merah muda sedang termenung sendirian di pinggir danau ini." Ucap Neji mencoba mengelak dari kenyataan yang sebenarnya.

"Huh~...Siapa yang kau panggil gulali merah muda itu Senpai! Seenaknya saja memanggil nama orang!" Ucap Sakura sebal sambil mengerucutkan bibir tipisnya.

"Hm, siapa lagi kalau bukan gadis cantik yang sedang berdiri di hadapanku ini kan?!" Neji tersenyum tipis sambil mengarahkan telunjuk tangan kanannya ke hidung Sakura.

"Huuh~...Memangnya aku makanan dipanggil gulali merah muda!" Gerutu Sakura lagi.

"Hahaha...Aku kan hanya bercanda." Neji memijit hidung mungil Sakura yang menyebabkan Sakura meringis kesakitan. "Ayo, aku akan mentraktirmu untuk makan malam. Sekalian menyambut kepulanganku ke Jepang." Ucap Neji kepada Sakura, yang dibalas anggukkan antusias dari Sakura.

"Wah~...Aku pasti akan memesan makanan yang mahal-mahal. Kau jangan menyesal ya Senpai!" Ucap Sakura menampilkan seringai tipisnya kepada Neji.

"Hm." Tanggap Neji datar. "Ayo!" Neji menggenggam tangan mungil Sakura. Mereka berjalan perlahan menuju mobil Neji yang terparkir di depan pintu masuk taman. 'Ah, rasanya senang sekali saat orang yang selalu melindungimu, kembali hadir di dalam kehidupanmu.' Batin Sakura di dalam hati, merasa bersyukur dengan kehadiran Neji saat ini di sampingnya.


Malam hari pun tiba, kini giliran sang ratu malam untuk bertugas menerangi bumi menggantikan singgasana sang raja siang. Angin malam berhembus dengan kencangnya, membuat siapa saja yang berada di luar rumah pasti akan menggigil kedinginan. Namun, hal ini sepertinya tidak berpengaruh kepada pasangan kekasih yang sedang di mabuk asmara ini. Kini Hinata dan Naruto tengah berdiri di dekat pagar balkon kamar Naruto sambil memandangi langit malam yang terlihat begitu cerah dengan kerlipan ribuan bintang yang menggantung di atas sana.

"Wah~...Indah sekali." Ucap Hinata terkagum-kagum melihat lukisan Tuhan yang begitu luar biasa di atas sana.

"Kau suka?" Tanya Naruto yang saat ini berdiri di samping Hinata, sapphirenya sedikit melirik ke arah Hinata yang saat ini tengah tersenyum bahagia.

"Hm. Aku suka sekali melihat bintang. Dulu sewaktu aku kecil, Kaa-san selalu bercerita tentang bintang. Katanya jika suatu hari Kaa-san pergi meninggalkanku, aku tidak boleh bersedih karena Kaa-san akan selalu menjagaku dari atas sana sebagai bintang yang paling besar dan juga terang." Ucap Hinata menatap sendu ke arah langit malam. Sementara Naruto hanya terdiam menatap wajah sendu di sebelahnya tanpa memberikan komentar apapun. Ia tahu jika Hinata masih ingin menceritakan masa lalunya. "Dulu aku sama sekali tidak mengerti maksud dari ucapan Kaa-san. Aku hanya mengangguk seolah mengerti perkataan Kaa-san dan tersenyum senang, kemudian aku memeluk Kaa-san yang saat itu tengah mengandung Hanabi. Tanpa aku sadari jika sebenarnya hari itu adalah hari terakhir bagiku untuk memeluk Kaa-san. Sepertinya Kaa-san sudah mempunyai firasat jika hidupnya sudah tidak lama lagi." Ucap Hinata melanjutkan ceritanya, tanpa disadari kristal bening yang sedari tadi berkumpul di pelupuk matanya mengalir melewati pipi gembilnya.

Naruto yang melihat Hinata menangis, segera merengkuh tubuh mungil gadis itu ke dalam pelukannya. Diusapnya pelan punggung gadis indigo itu, seolah dengan melakukan hal itu bisa memberikan rasa tenang kepada Hinata.

"Menangislah! Jangan kau tahan air matamu itu, Hinata-chan." Ucap Naruto kepada Hinata yang masih saja terdiam menahan isakan tangisnya.

Hiks hiks hiks

"Aku...hiks...benar-benar...hiks...merindukan Kaa-san, Naruto-kun...hiks...hiks..." Ucap Hinata tersedu-sedu mengeluarkan perasaannya yang kini tengah merindukan ibunya.

"Hm, aku mengerti, Hinata-chan. Kau harus tetap kuat! Lagipula masih ada aku di sini. Aku akan selalu menemanimu." Ucap Naruto tersenyum tulus menyemangati Hinata, saat ia telah melepaskan pelukannya terhadap Hinata. Perlahan jari-jarinya menghapus air mata yang masih saja mengalir dari amethyst Hinata.

"Aku pasti kuat jika kau selalu berada di sampingku, Naruto-kun." Hinata tersenyum senang dengan perlakuan Naruto. Naruto yang melihat senyuman Hinata, hanya bisa terpesona dengan kecantikan wajah gadis indigo itu, terlebih lagi kini wajah itu semakin bersinar karena pantulan cahaya dari sang ratu malam. Perlahan ia dekatkan wajah tampannya ke wajah Hinata, tangan kanannya kini beralih ke tengkuk Hinata sedangkan tangan kirinya beralih untuk merangkul pinggang ramping milik Hinata. Naruto semakin mengeliminasi jarak antara dirinya dan Hinata. Menarik tengkuk Hinata dan menempelkan bibir tegasnya pada bibir mungil Hinata. Dilumatnya lembut bibir tipis milik kekasihnya itu, keduanya terhanyut dalam kenikmatan cumbuan itu. Mereka tak menyadari jika sedari tadi ada seseorang yang tengah memperhatikan mereka dari celah pintu kamar yang sedikit terbuka.

"Hihihi...romantis sekali~...Aku jadi iri melihat mereka. Mungkin lebih baik aku tidak menganggu kegiatan mereka." Ucap Kushina terkikik geli setelah melihat adegan putra tunggalnya itu berciuman bersama dengan Hinata. Kembali ia langkahkan kakinya menuju ke ruang makan, di mana Minato tengah menunggu dirinya.

"Lho, kemana Naruto-kun dan Hinata-chan?" Tanya Minato heran, karena Kushina hanya datang seorang diri. Kushina hanya tersenyum-senyum sendiri saat berjalan sambil menatap bahagia kepada suami tercintanya yang kini tengah di duduk di kursi makan. Tanpa menghiraukan pertanyaan Minato, Kushina menangkup wajah tampan Minato dengan kedua tangannya dan langsung saja mencium bibir tegas Minato saat ia telah sampai di hadapan suaminya itu. Minato hanya menaikkan sebelah alisnya merasa heran dengan tindakan Kushina yang terkesan tiba-tiba seperti ini.

"Ada apa?!" Tanya Minato yang saat ini memeluk mesra pinggang istrinya, meminta penjelasan atas tindakan istrinya yang terkesan tiba-tiba ini.

"Sssttt! Naruto-kun dan Hinata-chan sedang tidak bisa diganggu." Ucap Kushina meletakkan jari telunjuknya di depan mulut, seolah menyuruh Minato untuk tidak berbicara. Minato lagsung mengerti dengan isyarat yang diberikan istrinya itu. Minato hanya bisa menyeringai tipis, tatkala mengetahui keinginan istrinya itu.

"Hm, kalau begitu. Ayo, kita lanjutkan!" Minato langsung beranjak dari kursi, dan menggendong Kushina ala bridal style. Di ciumnya lembut bibir istrinya itu, perlahan kakinya ia langkahkan untuk menuju ke dalam kamar pribadi mereka. Ck...ck...ck...sepertinya pasangan MinaKushi ini tidak mau kalah dengan pasangan NaruHina, eh?


Tok tok tok

Terdengar suara ketukan pintu yang berasal dari luar. Namun, sepertinya pasangan kekasih yang tengah asyik berciuman ini tidak mendengar suara ketukan pintu itu, atau mungkin mereka memang sengaja tidak mau mempedulikan suara ketukan pintu itu karena terlalu hanyut dalam keromantisan mereka sendiri.

Tok tok tok

Suara ketukan pintu kali ini semakin bertambah keras, sepertinya orang yang berada di luar sudah tidak sabar untuk meminta pintu di hadapannya itu untuk dibukakan oleh penghuninya.

"Sa-...Sai-kun!" Ucap Ino mendorong pelan dada bidang Sai, berusaha untuk melepaskan pagutan bibir mereka saat Ino dengan samar-samar mendengar suara ketukan pintu dari luar.

"Ada apa Hime?" Tanya Sai mengerutkan keningnya, merasa heran dengan sikap Ino yang mendorong tubuhnya.

"Hosh...hosh...Kau tidak mendengar ada seseorang yang tengah mengetuk pintu, Sai-kun?" Ucap Ino mengusap pelan dadanya, berusaha mengatur pernapasannya yang tidak teratur karena sedari tadi Sai tak henti-hentinya mencumbunya.

"Ck, menganggu saja!" Ucap Sai menggerutu, merasa kesal karena aktivitasnya bersama sang kekasih menjadi terganggu.

"Sudahlah, tidak apa-apa kan?! Masih ada lain waktu. Lagipula aku sudah lelah, sedari tadi kau terus menerus menciumku." Ucap Ino tersenyum simpul mencoba menenangkan kekasihnya itu.

"Hah~...Baiklah Hime." Ucap Sai mencoba mengalah kepada Ino. "Tapi...ini berarti kau mempunyai satu hutang kepadaku, Ne?" Ucap Sai menyeringai ke arah Ino. Ino yang melihat seringaian Sai, hanya bisa bergidik ngeri. Sepertinya ia harus bersiap-siap mengumpulkan sebanyak-banyaknya pasokan udara di dalam paru-parunya, karena Sai pasti tidak akan berhenti untuk mencumbunya, sekalipun Ino meminta untuk berhenti. Wah..wah..wah..Sepertinya kau harus lebih berhati-hati terhadap Sai, Ne Ino-chan?

"Kita lihat saja nanti, Sai-kun!" Ucap Ino menjulurkan sedikit ujung lidahnya, seolah mengejek kepada Sai. Sai yang melihat sikap Ino hanya bisa mengacak poni pirang Ino dengan gemas.

"Sudah, sudah, cepat kau bukakan pintunya! Siapa tahu ada orang penting yang ingin bertemu denganmu." Ucap Sai menyuruh Ino untuk segera membukakan pintu.

"Baiklah. Kau tunggu saja di sini." Ucap Ino beranjak dari sofa, dan segera melangkahkan kakinya menuju ke arah pintu rumah. Tangan mungilnya meraih gagang pintu untuk membuka pintu tersebut. Iris birunya terbelalak kaget tatkala melihat dua orang pria yang memiliki wajah yang hampir serupa tengah berdiri di hadapannya. Tatapan benci ia layangkan kepada salah satu pria yang memiliki rambut raven mencuat.

"Ada urusan apa, Anda datang kemari Uchiha-san?" Ucap Ino datar, berusaha untuk menahan kekesalannya pada pemuda Uchiha di hadapannya ini. Semalam Sakura memang sudah menceritakan semua hal yang telah ia alami di kediaman Uchiha. Tentang semua sandiwara yang dilakukan oleh Uchiha Sasuke kepadanya. Ino yang mendengar cerita Sakura hanya bisa menggeram kesal dengan perbuatan Uchiha Sasuke itu. Ia tak percaya, jika sahabatnya ini kembali merasakan patah hati untuk kedua kalinya. Terlebih lagi, pemuda Uchiha itu hanya berniat untuk memanfaatkan Sakura saja. Sungguh ia tak bisa menerima semua kekonyolan ini.

"Aku ingin bertemu dengan Cherry. Bisakah kau memanggilnya ke sini, Yamanaka-san?" Ucap Sasuke menjelaskan maksud kedatangannya ke kediaman Yamanaka.

"Cherry sedang tidak ada di rumah. Aku juga tidak tahu dia sedang pergi kemana dan pulang kapan. Lebih baik lain kali saja kau datang ke sini Uchiha-san." Ucap Ino ketus, sambil melipat kedua tangannya di depan dadanya.

"Jangan berbohong Yamanaka-san!" Geram Sasuke kepada Ino. Sasuke sama sekali tidak mempercayai kata-kata yang diucapkan Ino tersebut.

"Sabar Sasuke! Kau tidak boleh memaksanya!" Ucap Itachi berusaha menenangkan adiknya itu.

"Aku tidak pernah berbohong Uchiha-san! Aku tidak seperti Anda yang merupakan seorang aktor berbakat yang pandai dalam melakukan sebuah sandiwara." Ucap Ino tenang sambil menampilkan senyum meremehkannya terhadap Uchiha Sasuke. Sasuke yang dikatai seperti itu oleh Ino, hanya bisa terdiam tanpa perlawanan. Ya, tentu saja ia merasa tersindir dengan perkataan Ino, tapi bagaimanapun juga ia tak mempunyai hak untuk marah kepada putri bungsu Yamanaka itu. Ia memang merasa pantas untuk menerima semua ini.

"Ku mohon! Izinkan aku untuk bertemu Cherry saat ini. Aku...harus meminta maaf padanya." Ucap Sasuke memohon dengan lirih, menampilkan wajahnya yang memelas, seakan meminta belas kasihan kepada Ino. Namun sepertinya Ino sama sekali tidak mempedulikan permohonan Sasuke itu.

"Ich, bukankah sudah ku katakan jika Cherry sedang tidak ada di rumah! Berapa kali harus kukatakan padamu, Uchiha-san?!" Teriak Ino keras kepada Sasuke, sampai-sampai Sai yang sedang duduk di ruang tamu pun bisa mendengar suara Ino. 'Ada apa ini ribut-ribut?!' Tanya Sai penasaran di dalam hati. Segera saja ia langkahkan kakinya menuju ke tempat Ino.

"Ada apa ini?! Kenapa kau berteriak seperti itu Hime?" Tanya Sai kepada Ino, saat ia telah sampai di pintu masuk. Sai mengernyit heran ketika ia melihat Sasuke dan Itachi yang tengah berdiri di hadapan Ino. "Apa yang kalian lakukan di sini?" Tanya Sai lagi kepada Sasuke dan Itachi.

"Ah, maaf jika kedatangan kami menganggu kalian." Ucap Itachi sopan sambil tersenyum tipis kepada Ino dan Sai, berusaha untuk mencairkan suasana yang terasa tegang. "Sepertinya Cherry memang tidak ada di rumah. Mungkin lebih baik kita kembali besok saja Sasuke." Itachi menepuk pelan pundak Sasuke seolah mengajak Sasuke untuk pulang. Itachi tak ingin semakin memperkeruh keadaan yang sedang terjadi saat ini. Ia mengerti jika semua orang saat ini masih berada dalam keadaan emosi, jadi lebih baik menunggu saat yang tepat saja untuk membicarakan semua ini.

"Baguslah jika kau mengerti, Uchiha-san." Ino mendengus pelan serta mendelik tajam ke arah Sasuke.

"Tidak! Aku akan tetap menunggu Cherry di sini." Sanggah Sasuke yang mengabaikan perkataan Itachi. "Aniki pulanglah terlebih dahulu!" Ucapnya lagi menyarankan Itachi untuk segera pulang.

"Jangan keras kepala Sasuke!" Ucap Itachi tegas. "Ayo, kita pulang! Jika kau membantah, aku tak akan lagi membantumu lain kali!" Ancam Itachi sambil menyeret Sasuke untuk beranjak dari hadapan Ino dan Sai. "Sekali lagi maaf sudah membuat ketenangan kalian menjadi terganggu." Ucap Itachi lagi sebelum benar-benar meninggalkan Ino dan Sai. Sementara Sasuke hanya bisa pasrah saat Itachi menyeretnya menuju ke arah mobil mereka yang terparkir di halaman kediaman Yamanaka itu.

"Hah~...Kedatangan Uchiha brengsek itu benar-benar menguras emosiku!" Ucap Ino sambil menghela napas lelah. Ia sandarkan kepalanya kepada bahu Sai, berusaha untuk menenangkan perasaannya yang tengah emosi.

"Sudah jangan dipikirkan! Lebih baik kita masuk ke dalam, agar kau juga bisa merasa lebih tenang." Ucap Sai mengusap lembut pucuk kepala kekasihnya itu.

"Hm, ayo!" Ucap Ino mengangguk pelan, menyetujui saran Sai.


"Aniki, biarkan aku menunggu Cherry di sini!" Pinta Sasuke kepada Itachi yang saat ini sudah duduk manis di kursi kemudinya.

"Hn." Gumam Itachi ambigu. Sasuke sama sekali tidak mengerti dengan arti gumaman Itachi.

"Jawaban apa itu? Seriuslah sedikit Aniki!" Pinta Sasuke kesal kepada Itachi. Ck, kau tidak sadar Sasuke, jika kau juga sering sekali membuat orang lain kesal dengan gumamanmu itu?!

"Diamlah Sasuke! Kenapa kau jadi cerewet seperti ini sih?!" Gerutu Itachi mengejek sikap Sasuke yang terlihat tidak tenang itu. "Kemana wibawamu sebagai seorang Uchiha, eh?" Kembali Itachi mengejek adik bungsunya itu.

"Aku tidak peduli dengan hal seperti itu saat ini!" Ucap Sasuke tegas. Ah, sepertinya masalah dengan Cherry ini, membuat Uchiha Sasuke menjadi melupakan kewibawaannya sebagai seorang Uchiha.

"Hah~...Kau sama sekali tidak mengerti maksudku? Kemana otakmu yang jenius itu, eh?" Itachi menepuk pelan jidatnya sendiri dan sedikit menggelengkan kepalanya, sungguh ia merasa gemas dengan sikap Sasuke yang begitu keras kepala ini.

"Hn. Jujur saja aku tidak bisa berpikir saat ini!" Ucap Sasuke membuang wajahnya ke arah kaca mobil di sampingnya. Merasa malu eh, Sasuke?

"Bodoh! Aku tadi hanya berpura-pura untuk mengajakmu pulang. Kau tidak lihat jika Yamanaka-san tadi sudah sangat emosi sekali melihatmu!" Itachi berusaha menerangkan maksud dari tindakannya tadi. "Bukankah lebih baik jika kita menunggu kedatangan Cherry di depan gerbang? Jadi kau bisa langsung menemuinya, tanpa harus membuat keributan di kediaman Yamanaka lagi kan?!" Ucap Itachi lagi memberikan saran kepada Sasuke. Kini ia tengah mengendarai mobilnya untuk keluar dari kediaman Yamanaka.

"Hn." Tanggap Sasuke singkat. Sepertinya ia memang benar-benar sedang merasa kacau, sampai-sampai ia tak bisa berpikir jernih seperti yang dilakukan oleh Itachi.

Akhirnya kedua Uchiha bersaudara itu menunggu kedatangan Cherry di pinggir jalan tak jauh dari gerbang kediaman Yamanaka. Waktu menunjukkan tepat pukul sembilan malam, tiga puluh menit sudah mereka menunggu kedatangan gadis musim semi itu, namun tak juga gadis itu menampakkan batang hidungnya.

"Kau masih ingin menunggu, Sasuke?" Tanya Itachi kepada Sasuke yang kini terlihat kelelahan. "Tidurlah, aku akan membangunkanmu jika Cherry sudah datang." Ucap Itachi khawatir, karena Sasuke memang belum pulih benar dari sakitnya.

"Hn. Tidak apa-apa Aniki. Aku masih ku-...bukankah itu Cherry?!" Ucap Sasuke tiba-tiba sambil menunjuk ke arah depan, di mana Cherry baru saja keluar dari sebuah mobil Porsche hitam, diikuti oleh seorang pria bersurai hitam panjang.

"Siapa pria itu?! Sepertinya aku mengenalnya?" Ucap Sasuke memicingkan matanya agar bisa melihat lebih jelas pria yang sedang bersama dengan Sakura.

"Hyuuga Neji, kan?!" Itachi menjawab pertanyaan Sasuke, setelah ia mengetahui sosok pria yang sedang bersama dengan Sakura.

'Apa yang dilakukan Neji bersama dengan Cherry?! Bukankah Neji sedang berada di Inggris?! Lagipula, kenapa mereka bisa saling mengenal?!' Tanya Sasuke penasaran di dalam hatinya. Rasanya perasaan gelisah kini tengah merambati hati Uchiha bungsu ini. Jari jemarinya kini mengepal kuat, merasa gerah dengan adegan di depannya yang menampilkan Sakura yang sedang memeluk Neji, dan Neji yang mengacak surai merah muda gadis itu. 'Cih, brengsek! Ada hubungan apa di antara mereka!' Geram Sasuke di dalam hati melihat kedekatan Sakura dengan Neji.

"Ah Senpai, terima kasih kau sudah mau mengantarkanku lagi. Aku jadi merepotkanmu terus." Ucap Sakura saat ia sudah melepaskan pelukannya pada Neji. Jangan salah paham dulu, ini bukan pelukan seperti yang dilakukan pasangan kekasih umumnya. Pelukan ini lebih kepada pelukan sayang seorang adik kepada kakaknya saja.

"Hm, tidak masalah. Masuklah Sakura! Malam ini udaranya sangat dingin sekali, kau bisa terkena flu jika terlalu lama berada di luar." Perintah Neji kepada Sakura sembari mengacak surai merah muda gadis itu.

"Tidak, Senpai dulu saja yang pergi. Aku kan tinggal masuk saja ke dalam." Saran Sakura sambil tersenyum lebar kepada Neji.

"Ya sudah, baiklah kalau begitu. Aku pulang dulu, Sakura." Neji membalikkan tubuhnya membelakangi Sakura. Segera ia masuk ke dalam mobil hitamnya itu. Neji melambaikan tangannya kepada Sakura sebelum benar-benar pergi meninggalkan Sakura.

"Hati-hati di jalan Senpai." Teriak Sakura saat mobil Neji sudah melesat pergi menjauhi kediaman Yamanaka.

Sakura membalikkan tubuhnya perlahan, membawa kakinya untuk melangkah masuk ke dalam gerbang. Namun, langkahnya terhenti oleh sebuah tangan kekar yang kini tengah menahan pergelangan tangannya.

"Bisa kita bicara sebentar, Cherry?" Tanya sebuah suara baritone yang amat sangat Sakura kenal, suara Uchiha Sasuke.

Deg

Sakura diam tak berkutik mendengar suara pria tersebut. Berusaha untuk menormalkan perasaannya yang kini terasa tegang, ia memasang wajah datar dan dingin untuk menghadapi pria brengsek di belakangnya ini. Ia beranikan diri untuk menghadap Uchiha bungsu itu. Emeraldnya menatap benci ke dalam onyx hitam milik Sasuke. Sasuke sendiri merasa miris sekali melihat tatapan Sakura yang biasanya adalah tatapan penuh rasa sayang, tapi kini tatapan itu dipenuhi oleh kebencian.

"Aku rasa tidak ada lagi yang perlu dibicarakan di antara kita, Tuan Uchiha yang terhormat!" Ucap Sakura tenang sambil menyeringai tipis, seolah mengejek kepada Uchiha Sasuke yang berada di hadapannya. Dihempaskannya kasar tangan Sasuke yang masih memegang pergelangan tangannya. Tak ingin berlama-lama bersama Sasuke, Sakura kembali melanjutkan langkah kakinya untuk masuk ke dalam rumah, meninggalkan Sasuke. Namun, langkahnya kembali terhenti saat Sasuke tiba-tiba saja berteriak kepadanya.

"MAAFKAN AKU CHERRY! SUNGGUH...AKU BENAR-BENAR MENYESAL MELAKUKAN SEMUA INI! AKU BENAR-BENAR INGIN MEMINTA MAAF PADAMU! KU MOHON, KALI INI SAJA KAU MAU MENDENGARKAN PENJELASANKU! KU MOHON BERI AKU KESEMPATAN UNTUK MENJELASKAN SEMUANYA!" Teriak Sasuke mengungkapkan permintaan maafnya kepada Sakura. Entah harus bagaimana lagi dirinya untuk meyakinkan Sakura.

Rasanya hati Sakura begitu terenyuh dengan perkataan yang diucapkan oleh Sasuke, namun kembali ia meneguhkan hatinya untuk tidak mudah mempercayai ucapan Sasuke. 'Tidak! Aku tidak boleh dengan mudah mempercayai Sasuke lagi!' Ucapnya di dalam hati. Tanpa mempedulikan Sasuke yang memohon maaf di belakangnya, Sakura kembali melenggangkan kaki jenjangnya untuk berjalan menjauhi Sasuke yang kini sudah tergeletak tak sadarkan diri karena tubuhnya yang masih terasa lemah.

-TBC-


Balasan Review

Uchiharuka: Wahh~...Arigatou buat semangatnya ^_^ Iya saya mulai menerima semua kritikan itu kok...Semoga chapter ini tidak mengecewakan...Makasih banyak.

Gilang363: Iya semua berakhir happy ending kok...Arigatou ^_^

birupink: Arigatou sudah membaca fic ini, ini udha lanjut kok...^_^

Febri Feven: Ok ini udha lanjut kok, Arigatou ^_^

Anisha Ryuzaki: Arigatou, siipp ini udha update kok, maaf lama...^_^

Hanna Hoshiko: Nanti pasti semua pada tahu kok nama asli Sakura...^_^ Siipp ini udha lanjut kok, semoga tidak mengecewakan...Arigatou.

Cherry Sakura Heartfilia: Waahh~...Makasih banyak, semua ini juga berkat Cherry-san yang udha ngasih saran ke saya. Arigatou...semoga chapter ini tidak mengecewakan yah ^_^

piscesaurus: Arigatou, maaf gak bisa cepat update. Semoga tidak bosan dengan fic ini ^_^

hanazono yuri: Maaf gak bisa update kilat, semoga suka dengan chapter ini ^_^ Arigatou.

parinza ananda 9: Ok, ini udha lanjut kok. Arigatou ^_^

Zuka: Ok, di chapter ini Naruto udha mulai suka sama Hinata kok. Gomen gak bisa update kilat...tapi semoga chapter ini suka...Arigatou ^_^

no name: Arigatou ^_^ iya gak apa-apa kok...semoga tidak bosan membaca fic ini.

Guest: Gomen jika fic ini memuakkan. Memang mainstream sekali ceritanya, alurnya juga terlalu cepat saya akui itu. Saya tidak merasa hebat kok membuat Sakura tersiksa seperti itu. Jujur saya juga tidak suka dengan pairing SasuHina. Tapi jika Anda memang menganggap saya memiliki modus yang sama dengan author SasuHina juga tidak apa-apa, saya terima itu karena itu adalah hak Anda untuk berpendapat. Mungkin itu saja yang dapat saya katakan, sekali lagi maaf jika fic ini memang memuakkan.

Natsu: Salam kenal juga Natsu-san ^_^ Iya gak apa-apa kok, hehehe...Gomen, iya itu memang typo...Sasuke belum tahu kalau Cherry itu Sakura. Siipp Arigatou...semoga gak bosan juga membaca fic ini.

Scarlet Tsubaki: Ok...saya coba usahakan ^_^ Arigatou.

ichihara saara: Siippp...Saran diterima ^_^ Arigatou...semoga tidak bosan dengan chapter ini.

Guest: Cup...cup...cup jangan nangis...Sakura gak akan sakit hati lagi kok nantinya. Arigatou sudah menyempatkan baca fic ini...^_^

De Chan: Siipp...Sasuke pasti menyesal kok...Arigatou...semoga chapter ini tidak membosankan yah ^_^

Ongkitang: Gomen saya tidak bisa cepat update, tapi semoga suka dengan chapter ini...Arigatou ^_^

Ami: Arigatou...Semoga tetap gak bosan dengan chapter ini...^_^

Sasa: Waahhhh~...#peluk cium Sasa-chan#...^_^...Arigatou buat semangatnya...Saya sampai senyum-senyum sendiri baca reviewnya...Rasanya senang sekali, Sasa-chan benar-benar peduli dengan saya...#hiks...hiks...hiks...menangis terharu#...Sekali lagi terima kasih banyak...dan sarannya saya terima...^_^ Semoga chapter ini gak membosankan yah~...

ga punya akun: Hm, tapi memang seperti itu kok kenyataannya. Saya memang pecinta SasuSaku. Saya juga memang kurang suka jika Sasuke di pair sama Hinata. Waktu menjadi seorang reader, saya juga kadang suka kesal sendiri kalau sudah berhubungan sama pair SasuHina. Tapi saya tidak membenci Hinata, saya hanya tidak suka jika Hinata di pasangkan dengan Sasuke. Namun, setelah jadi serorang author, saya jadi tahu bagaimana perasaan para author yang membuat fic SasuSaku dengan selingan pair SasuHina. Rasanya memang berbeda, saat saya menjadi reader pasti saya menggerutu sendiri, 'Kenapa harus Hinata yang di pair sama Sasuke?'.Tapi saat saya menjadi author, saya justru malah membutuhkan tokoh itu untuk membuat suatu jalan cerita dari fic ini. Meskipun memang banyak chara lain yang mungkin memang bisa di pair sama Sasuke, tapi saya lebih dominan ke Hinata karena feel sakit hatinya lebih terasa. Yah mungkin itu saja yang dapat saya katakan, gomen karena fic ini memang tidak menarik dan sangat pasaran sekali idenya.

AoStraw: Wahh~...Syukurlah AoStraw-san senang, saya takut kalau terlalu panjang chapternya malah jadi membosankan. Iya pasti dilanjut kok, maaf tapi gak bisa cepat update. Semoga suka dengan chapter ini...Arigatou ^_^

Lucy Hinata: Gak apa-apa kok, tapi jika dibandingkan sama ficnya Lucy-chan, fic saya ini masih jauh sekali dari kata bagus...^_^ Iya saya usahakan chapter ini alurnya gak terlalu cepat...Arigatou.

Eysha CherryBlossom: Iya maaf alurnya kecepatan, tadinya chapter 4 ini mau dijadikan ending tapi setelah dipikir lagi, pasti nantinya malah tambah kecepatan alurnya. Hehe iya sepertinya semua chara pakai trademarknya Sasuke dan penulisan Konan juga saya salah menulisnya, saya tidak menyadarinya, gomen. Siippp Arigatou Eysha-chan, maaf masih banyak kekurangan dalam fic ini, semoga tidak bosan-bosan untuk mengajari saya...Hountou ni Arigatou...^_^

Mulberry Redblack: Ok...ini udha lanjut kok, Arigatou ^_^

Chi-chan Najiyah: Cup...cup...cup...maaf udha buat Sakura nangis di chapter kemarin, tapi Sakura sekarang bakalan berubah kok jadi perempuan yang tegar. Arigatou...^_^...semoga gak bosan membacanya.

yuriski suryani: Saya usahakan di chapter ini adegan NaruHinanya lumayan banyak ^_^...Semoga suka ya~...

ntika blossom: Ini udha lanjut kok, semoga gak bosan ya ^_^...Arigatou

Ayumu Nakashima: Arigatou, hm saya coba usahakan buat Sasuke seperti itu. Pastinya happy ending kok...^_^

Rifdi Hayyisa: Salam hangat juga Rifdi-san ^_^...Syukurlah gak bosan dengan chapter yang kemarin, semoga chapter ini juga gak membosankan yah buah Rifdi-san...Arigatou sudah membaca fic ini, maaf gak bisa cepat update.

haruchan: Iya salam kenal juga haruchan ^_^...Iya saya akan berusaha menerima semua flame itu kok, tapi sepertinya meskipun saya sudah berusaha untuk memperbaiki ceritanya, tetap saja rasanya cerita ini masih terasa monoton. Sepertinya saya memang tidak berbakat untuk membuat fic...(~.~)...Tapi terima kasih untuk sarannya, semoga saya bisa belajar lebih baik lagi.


Sekali lagi saya ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada para readers, reviewers, followers, favoriters, silent readers dan flamers.

Hah~...ternyata jadi seorang author itu sulit. Saya memang tidak berbakat untuk menulis suatu cerita...Gomen untuk semuanya jika chapter kali ini mengecewakan...(#_#) #nunduk-nundukin kepala# Tapi semoga kalian masih berkenan untuk melanjutkan membaca fic ini...Sekali lagi maaf untuk semua kesalahan dan kekurangan dari fic ini...Salam hangat untuk semuanya...Arigatou...^_^