Saya masih newbie disini, setelah sekian lama menjadi silent reader akhirnya saya mencoba untuk membuat sebuah fanfic.
Ini fanfic pertama saya, ceritanya agak pasaran juga ^_^, dan maaf kalau ada kesalahan penulisan dan lain-lain.
Semoga kalian suka...
Disclaimer : Masashi Kishimoto dengan semua chara-chara dalam anime Naruto
WARNING : OOC, typo, cerita gaje, alur kecepatan dll.
Summary : 'Hm, baiklah. Jika memang itu yang Sasuke-kun mau. Kita putus saja!/ Hn. Tidak! Aku hanya bercanda bodoh!/ Kau bermaksud untuk menggodaku dengan bersikap seperti tadi, Hn?/ Apa Kaa-san pernah mengajarimu untuk bersikap tidak menghargai dan mempermainkan hati seorang perempuan, UCHIHA SASUKE?!/ Jangan sampai kau membohongi perasaan Hyuuga-san lebih jauh lagi!/ Apa aku benar-benar terlihat menyedihkan sekali di mata kalian, sampai-sampai kalian harus mengasihaniku seperti ini...hiks...hiks...hiks...?'
Author by : Hikaru Sora 14
Sebelumnya saya ucapkan terima kasih kepada kalian semua yang telah membaca serta me-review, mem-follow dan mem-fav kan fic ini ^_^ Tanpa kalian fic ini tidak akan berarti apa-apa
Please Enjoy Reading
Don't Like Don't Read
Flashback On
Hari menunjukkan tepat pukul 4 sore, sebuah mobil sport mewah Spider McLaren berwarna merah milik seorang aktor tampan dan berbakat bernama Uchiha Sasuke itu kini tengah terparkir rapi di halaman parkir perusahaan Yamanaka Entertainment. Ia baru saja selesai melakukan syuting iklan salah satu produk pembersih wajah terkenal di Jepang. Memang tak diragukan lagi jika ketampanan seorang Uchiha Sasuke itu mampu membius siapa saja yang melihat langsung paras indah ciptaan Kami-sama yang terlihat begitu sempurna itu, terlebih lagi para kaum hawa yang memang sudah tergila-gila akan keeksistensian pemuda raven itu.
Saat ini dirinya tengah menunggu kedatangan kekasih merah mudanya yang kini masih melakukan pemotretan di dalam gedung Yamanaka Entertainment itu. Memang selama seminggu belakangan ini, Sasuke selalu menjemput Sakura dan mengantarkan Sakura pulang ke kediaman Yamanaka atau terkadang mereka pergi kencan terlebih dahulu ke suatu tempat yang biasa dikunjungi oleh pasangan kekasih untuk berkencan, hm tentu saja tak lupa mereka mengenakan penyamaran untuk menutupi identitas mereka.
Pemuda Uchiha itu sesekali mengarahkan onyxnya untuk menatap ke arah jam tangan silver miliknya yang melingkar di pergelangan tangan kanannya, dirinya mendecak sebal karena sudah lebih dari setengah jam yang lalu pemuda raven itu menunggu kedatangan sang gadis musim semi di dalam mobil pribadinya, namun tak juga gadis berusia dua puluh tiga tahun itu menunjukkan batang hidungnya, bahkan mengabarinya lewat sms pun tidak.
Sekali lagi ia arahkan iris hitamnya ke arah pintu lobi kantor bertingkat sepuluh lantai itu, berharap dirinya bisa menemukan sosok kekasihnya yang sedari tadi ia tunggu. Namun sepertinya harapan tinggalah harapan, lagi-lagi ia tak mendapati sang gadis musim semi di sana. Merasa kesabarannya sudah habis untuk menunggu, ia merogoh smartphonenya dalam saku celana jeansnya berniat untuk mengirim sms kepada Sakura. Tapi sedetik kemudian ia urungkan kembali niatnya itu dengan meletakkan smartphonenya pada dashboard mobil miliknya. Ia terlalu gengsi untuk terlebih dahulu mengirim sms kepada kekasihnya itu, karena memang selama ini ia tak pernah sekalipun secara sengaja untuk menghubungi ataupun mengsms gadis Cherry itu.
Tak ingin terus-terusan merasa terkukung dalam kebosanan, ia mulai menyalakan dvd player pada mobilnya yang memang sebelumnya sudah terisi oleh sebuah kaset dvd berisi lagu-lagu favoritenya. Sebuah alunan musik lembut dan menenangkan dari lagu 'Jeff Bernat' yang berjudul 'Call My Mine'menyapa indera pendengaran sang uchiha bungsu, membuat dirinya terhanyut menikmati irama musik yang kini memenuhi ruangan mobilnya. Ia tutup kedua onyx hitam kelamnya, sebelah tangannya ia sanggakan pada pintu mobil, perlahan kepalanya mengangguk-angguk pelan serta kaki kanannya mengetuk-ngetuk pelan lantai mobil mengikuti ketukan irama lagu tersebut.
'(Can I) call you my own, and can i call you my lover'
[(Dapatkah aku) memanggilmu kepunyaanku, dan dapatkah aku memanggilmu pecintaku]
'Call you my one and only girl'
[Memanggilmu satu-satunya dan hanyalah gadisku]
'(Can I) call you my everything, call you my baby'
[(Dapatkah aku) memanggilmu segalanya bagiku, memanggilmu sayangku]
'You're the only one who runs my world'
[Kamulah satu-satunya yang menggerakkan duniaku]
Entah mengapa tiba-tiba saja bayangan sesosok gadis berambut merah jambu muncul di dalam pikirannya saat mendengarkan lirik pada reff lagu tersebut. Sosok gadis musim semi dengan wajah cantiknya yang terlihat begitu ceria kini tengah tersenyum lembut padanya, membuat pemuda tampan itu menyunggingkan sebuah senyuman tipis pada bibir tegasnya. Darahnya terasa berdesir tatkala memikirkan kekasih yang baru dua minggu ini ia kencani, menimbulkan suatu perasaan hangat dan juga bahagia yang sama sekali ia tak ketahui apa alasannya. Memang sejak kedatangan Sakura dalam kehidupannya, ia merasakan suatu perubahan pada dirinya. Seolah Sakura benar-benar menggerakan dunianya, yang selama ini terasa begitu kaku dan tak berwarna. Kini ia seperti keluar dari pride seorang Uchiha Sasuke yang selalu ia jaga selama ini, perasaan kesal, marah, kecewa, cemburu, takut, berdebar dan bahagia terkadang ia rasakan disaat yang bersamaan. Bahkan ia terkesan cerewet saat menghadapi kekasih merah mudanya itu yang memang memiliki sikap kekanak-kanakkan, kini ia merasa lebih leluasa untuk menggambarkan semua perasaannya. Namun, meskipun seperti itu sepertinya Sasuke belum mau mengakui bahwa dirinya sudah menyukai dan mencintai Sakura. Kini ia hanya bisa menikmati saja hubungan sandiwaranya bersama Sakura dengan senyaman mungkin.
Berbeda saat ia bersama Hinata, ia tak pernah merasakan kesemuanya ini. Ia hanya bisa bersikap dingin terhadap Hinata namun selalu memperhatikan dirinya diam-diam, entah mengapa di dalam hatinya timbul rasa ingin selalu melindungi gadis indigo itu, tatkala ia melihat suatu tatapan yang terlihat begitu rapuh terpancar dari iris amethystnya. Ya, tatapan rapuh yang ia tujukan kepada Uzumaki Naruto, karena ia tak pernah bisa menggapai hati pemuda blonde itu. Namun, gadis itu tak pernah sekalipun menyerah untuk mendapatkan perhatian dari Naruto. Melihat sikap tegar Hinata yang sebenarnya rapuh di dalamnya, memunculkan suatu perasaan iba di dalam hatinya. Sehingga ia ingin selalu berada di sisi gadis Hyuuga itu untuk melindunginya. Ia menyimpulkan bahwa dirinya memang menyukai dan mencintai Hinata sampai saat ini. Namun, sepertinya sedikit demi sedikit ia mulai menyadari bahwa perasaannya terhadap Hinata itu kini keliru, itu bukanlah perasaan cinta yang sesungguhnya. Meskipun logikanya sudah berpikir seperti itu, namun hatinya tetap menyangkal dan menolak untuk menerima.
Sebenarnya mungkin saja Sasuke tahu dengan persis bagaimana perasaan yang tengah ia rasakan saat ini terhadap gadis musim semi itu, jika saja pemuda raven ini tidak terus menerus berusaha untuk menyangkal hatinya dan meyakinkan dirinya bahwa ia tidak jatuh cinta pada Sakura. Pikirannya selalu berkata 'Ingatlah Uchiha Sasuke! Ini hanyalah sebuah sandiwara dan kau tidak mungkin jatuh cinta kepada Cherry! Kalau pun kau menyukainya, itu mungkin hanya sebuah perasaan sesaat saja.'. Hm, menyangkal seperti apapun juga jika Kami-sama sudah menakdirkanmu untuk jatuh cinta kepada Cherry, kau tak kan pernah bisa menghindarinya kan Uchiha Sasuke?
Iris tajam milik pemuda itu kini kembali menampakkan keberadaannya tatkala lagu milik Jeff Bernat tersebut telah berakhir. Onyxnya kembali ia arahkan ke arah pintu lobi kantor untuk melihat keberadaan gadis bubble gum yang mungkin saja kini sudah berada di sana. Dan beruntunglah ia kali ini saat ia mendapati Sakura yang baru saja keluar dari lobi kantor dengan penampilan yang terlihat sederhana namun tetap memberi kesan cantik dan menawan. Sakura kini menggunakan atasan tank top berwarna putih dengan aksen renda pada bagian dadanya, sementara kaki jenjangnya ia balut dengan sebuah celana blue jeans panjang yang sedikit terlihat ketat, memperlihatkan lekuk tubuhnya yang begitu indah sehingga menampilkan sebuah kesan seksi kepada gadis musim semi itu. Sasuke tampaknya tak bergeming melihat penampilan kekasihnya itu yang sebenarnya terlihat biasa-biasa saja jika dibandingkan dengan penampilan Sakura yang tampak begitu mempesona saat berpose di depan kamera. Sasuke kembali tersenyum tipis tatkala ia melihat sebuah senyuman indah terukir dari bibir mungil milik gadis itu yang entah mengapa akhir-akhir ini menjadi sebuah candu bagi Sasuke untuk selalu mengecup bibir tipis itu secara sadar ataupun tidak.
Namun, perlahan senyuman yang ditampilkan oleh pemuda raven tersebut memudar tergantikan oleh ekspresi datar dan dingin andalannya, saat ia menyadari jika senyuman kekasihnya itu tidak ditujukan kepadanya melainkan kepada seorang pemuda baby face dengan surai pendek berwarna merah yang kini tengah berdiri berdampingan dengan kekasihnya itu. Sasuke kembali mendecak kesal karena melihat pemandangan yang tersaji di hadapannya itu, hatinya terasa panas dan ia tidak suka jika sesuatu yang sudah menjadi miliknya itu berdekatan dengan pria selain dirinya. Hm, rasanya kau terlalu berlebihan Uchiha Sasuke! Cherry kan tidak melakukan hal-hal aneh bersama Sasori, Ne?
"Ah, Sasuke-kun maafkan aku. Aku benar-benar tidak menyangka jika pemotretan ini akan berlangsung lama. Maaf kau jadi menungguku terlalu lama." Ucap Sakura menyesal saat ia telah sampai di tempat mobil Sasuke terparkir. Sakura tidak langsung masuk ke dalam mobil, melainkan ia menghampiri Sasuke terlebih dahulu yang tengah duduk di kursi kemudinya bermaksud untuk mengungkapkan permintaan maafnya.
"Hn." Tanggap Sasuke datar tanpa mempedulikan permintaan maaf Sakura, ia lebih memilih untuk mematikan dvd player yang masih memutarkan lagu-lagu kesukaannya itu. Melihat ekspresi yang ditunjukkan oleh kekasihnya itu, Sakura hanya bisa menghela napas pasrah menghadapi sikap dingin Sasuke. 'Hah~...Lagi-lagi Sasuke-kun marah. Sudahlah, lebih baik aku diam saja.' Ucapnya dalam hati saat ia memutar tubuhnya ke sisi lain dari mobil milik Sasuke.
Kini Sakura sudah masuk ke dalam mobil dan tengah duduk manis pada kursi di sebelah Sasuke. Wajah ayunya ia arahkan ke depan seolah menghindari untuk menatap paras tampan milik sang kekasih, Uchiha Sasuke. Tidak seperti biasanya dimana Sakura selalu merajuk kepada Sasuke untuk tidak marah kepadanya, kali ini bibir tipis gadis itu tertutup sempurna tanpa mengeluarkan satu patah kata pun kepada Sasuke. Sasuke mengernyitkan keningnya merasa heran dengan sikap Sakura. 'Ck, kenapa dia jadi diam seperti ini!' Ucapnya di dalam hati.
Sebenarnya jika disuruh memilih berada di dalam keramaian atau keheningan, tentu saja ia akan lebih memilih berada dalam keheningan karena itu bisa membuat hatinya terasa lebih tenang. Namun, semenjak kehadiran Sakura dalam kehidupannya sekarang, membuat pemuda raven ini menjadi sedikit menyukai keramaian, ah atau lebih tepatnya keramaian yang hanya diciptakan oleh gadis merah muda itu.
"Ck, kenapa kau hanya diam saja Cherry?! Tak ingin menjelaskan sesuatu kepadaku, heh?" Ucap Sasuke sambil mendengus kesal, berusaha memecah keheningan yang terjadi di antara dirinya dan Sakura. Sakura sedikit melirik Sasuke dari ujung sudut mata bulatnya.
"Bukankah kau sedang marah padaku, Sasuke-kun? Lagipula tadi aku sudah menjelaskan alasan keterlambatanku, tapi kau masih saja marah. Lalu apa yang harus aku jelaskan lagi, hm?" Kini Sakura sudah menghadapkan wajahnya ke arah Sasuke. Ia berucap dengan sangat tenang berusaha menghindari perdebatan yang mungkin akan terjadi di antara dirinya dengan Sasuke.
"Ck, jangan dekat-dekat lagi dengan pria lain selain aku, apalagi kau memberikan senyumanmu itu pada mereka, itu terlihat me-...er...ah sudahlah! Kau mengerti!?" Ucap Sasuke memerintah dengan sikap yang salah tingkah, onyxnya menatap tajam iris emerald milik kekasihnya itu. Sementara Sakura hanya bisa terpaku mendengar permintaan Sasuke atau perintah Sasuke? Entahlah, namun yang pasti Sakura kini tengah mencerna apa maksud dari ucapan Uchiha bungsu itu.
"Pfftt..." Sakura berusaha menahan tawanya untuk tidak lepas tatkala ia menyadari bahwa maksud dari ucapan Sasuke itu menunjukkan bahwa kekasihnya itu tengah cemburu kepadanya. Wajahnya menampilkan ekspresi kegelian akan sikap Sasuke yang begitu kekanak-kanakan.
"Apa ada hal yang lucu dari diriku, sampai-sampai kau menahan tawamu seperti itu, hn?" Ucap Sasuke menatap sinis kepada Sakura.
"Hahaha...Jadi kau marah bukan karena aku terlambat datang Sasuke-kun? Hah~...Syukurlah." Sakura menghela napas lega sambil mengelus pelan dadanya dengan tangan kanannya. "Ne Sasuke-kun, kurasa kau terlalu berlebihan. Aku dan Sasori-san tidak ada hu-...hhmmpp..." Ucapan Sakura terpotong karena Sasuke tiba-tiba saja mencium bibir mungilnya itu. Sasuke melumat dengan lembut bibir bawah kekasih merah mudanya itu, tangan kanannya ia alihkan ke belakang tengkuk sang gadis musim semi, berusaha untuk memperdalam ciuman mereka. Sementara tangan kirinya merangkul pinggang ramping Sakura dan menarik tubuh gadis itu untuk lebih dekat dengannya. Onyx tajam miliknya kini tertutup seolah benar-benar menikmati kelembutan bibir ranum milik Sakura.
Awalnya Sakura hanya diam tak membalas ciuman Sasuke, namun sepertinya pemuda di hadapannya ini belum berniat untuk melepaskan pagutannya sebelum dirinya membalas lumatan sang pemuda raven, tentu saja hal ini terlihat dari sikap Sasuke yang sesekali iris hitamnya terbuka menatap ke dalam iris hijau teduh Sakura seolah berkata, 'Hn, aku tak akan melepaskanmu sebelum kau membalas ciumanku.'. Akhirnya Sakura mengalah untuk membalas ciuman Sasuke dan melumat bibir atas milik Sasuke. Kedua tangan kecilnya menangkup wajah tampan Sasuke, seakan tak ingin melepaskan Sasuke di hadapannya dan mengakhiri kehangatan yang tercipta dari sentuhan bibir tegas Sasuke. Sasuke menyeringai di sela-sela ciumannya, merasa dirinya telah menang dari gadis di hadapannya. Lagipula sejujurnya pemuda Uchiha itu secara sadar ataupun tidak, memang benar-benar merindukan kelembutan bibir ranum sang kekasih yang terasa begitu manis dan menggoda itu. Tak ia pungkiri bahwa sebenarnya ia merasakan perasaan hangat dan bahagia yang membuncah saat ini.
Merasa bosan karena sedari tadi Sasuke hanya melumat bibir bawah sang kekasih, kini ia melesakkan lidahnya ke dalam mulut mungil hangat milik Sakura bermaksud untuk mengajak lidah sang gadis musim semi untuk berdansa bersama(?). Sakura sama sekali tidak menolak perlakuan Sasuke, justru ia lebih menikmati permainan lidahnya bersama Sasuke di dalam mulutnya. Benang saliva tercipta di antara lidah mereka, tatkala mereka melepaskan pagutan bibir mereka untuk sebentar meraup oksigen dari udara di sekitarnya. Sasuke menatap lembut iris hijau bening milik Sakura, tangan kanannya menangkup sebelah pipi chubby kekasihnya. Ibu jarinya mengusap lembut sudut bibir gadis itu yang terasa basah akibat dari saliva yang keluar dari mulutnya maupun mulut kekasihnya itu saat mereka berciuman. Kembali ia mendekatkan wajahnya ke arah wajah kekasihnya yang tampak kelelahan itu, namun tetap terlihat cantik di mata Sasuke. Semburat merah tipis tak pelak menghiasi wajah putih Sakura karena Sasuke kembali mengeliminasi jarak di antara mereka. Sasuke melumat bibir bagian atas Sakura, seolah meminta Sakura untuk bergantian memanjakan dirinya dengan melumat bibir tegas bawahnya. Sakura memeluk mesra kepala raven kekasihnya itu, seolah tak membiarkan sedikit pun jarak tercipta di antara bibir mereka. Hm, rasanya memang berbeda, kini Sakura yang terlihat lebih agresif saat mencumbu kekasihnya itu. Keduanya tampak begitu terhanyut dalam ciuman panjang yang mereka lakukan. Merasa lelah dengan kegiatan yang mereka lakukan, Sasuke mau tidak mau harus melepaskan pagutannya dari Sakura karena keadaan gadis itu yang tampaknya telah kehabisan oksigen.
"Hn, turuti perintahku atau aku akan menghukummu seperti tadi!" Ucap Sasuke setelah pagutan mereka terlepas, bibir tegasnya menampilkan seringaian seksi yang begitu mempesona. Sakura hanya tertawa geli mendengar ancaman Sasuke yang lebih terdengar sebagai suatu penawaran baginya untuk kembali berciuman dengan pemuda Uchiha itu.
"Hm, tapi jika hukuman yang kau berikan seperti tadi. Sepertinya lebih baik aku berdekat-dekatan saja dengan pria lain, Sasuke-kun." Ucap Sakura tersenyum jenaka dengan nada bercanda kepada Sasuke.
"Hn. Kutarik lagi kata-kataku! Jika kau tak menuruti perintahku maka...lebih baik kita...putus." Ucap Sasuke menampilkan senyuman tipisnya yang tampak seperti sebuah seringaian kepada Sakura. Sasuke mencoba untuk menggoda gadis musim semi itu lagi, atau mungkin sebenarnya Sasuke memang ingin putus dari Sakura? Mengingat ini mungkin kesempatan bagus baginya untuk mengakhiri sandiwaranya dengan Sakura.
"Hm, baiklah. Jika memang itu yang Sasuke-kun mau. Kita putus saja!" Ucap Sakura sambil tersenyum tulus ke arah Sasuke, seolah ia tak mempermasalahkan pernyataan Sasuke tersebut. Hei hei hei...Ada apa dengan kalian berdua, kenapa tiba-tiba membicarakan tentang perpisahan seperti ini setelah kalian bermesraan tadi, heh?!
Deg
"Kau...serius?!" Tanya Sasuke ragu, entah mengapa hatinya terasa mencelos dengan ucapan gadis musim semi itu. Seakan tak mempercayai jika Sakura bisa dengan begitu mudahnya menerima pernyataannya yang hanya sekedar candaan itu. Meskipun selama ini hubungan mereka hanyalah sebuah sandiwara yang ia ciptakan, namun ia tak ingin sandiwara ini segera berakhir, karena itu berarti ia tak akan pernah bisa melihat kembali gadis bubble gum di hadapannya ini. Ia sudah mulai terbiasa dengan keberadaan gadis merah jambu ini di sisinya meskipun ia memang selalu menyangkal untuk jatuh cinta kepada Sakura. Lalu jika kau tak ingin sandiwara ini segera berakhir, tidakkah sebaiknya kau menjadikan semua ini menjadi kenyataan saja, Ne Sasuke?
"Hm, menurutmu? Bukankah sejak awal aku sudah mengatakan kalau aku tak ingin merasa tersakiti lagi. Kau tiba-tiba saja bilang mencintaiku dan memintaku untuk menjadi kekasihmu. Baru saja dua minggu kita menjalani hubungan ini, tapi kau sekarang sudah berani untuk mengucapkan kata putus. Menurut pandanganmu, apa yang saat ini tengah aku pikirkan tentangmu mengenai pernyataanmu tadi, Sasuke-kun?" Tanya Sakura kepada Sasuke serius. Kini tak ada lagi senyuman yang menghiasi wajah cantik gadis itu melainkan wajah datar tanpa ekspresi.
"Hn. Kau pasti menganggapku hanya main-main dan tidak serius menjalani hubungan denganmu." Ucap Sasuke mencoba menebak jalan pikiran kekasihnya itu. Sebenarnya Sasuke bukannya menebak jalan pikiran Sakura, hanya saja ia memang benar-benar mengatakan hal sejujurnya yang telah ia lakukan terhadap Sakura.
"Hm, jadi menurutmu kita lebih baik putus saat ini, Sasuke-kun?" Ucap Sakura lagi sambil menaikkan sebelah alisnya, emeraldnya menatap ke arah Sasuke dengan tatapan yang sulit untuk di artikan.
"Hn. Tidak! Aku hanya bercanda bodoh! Apa kau tidak bisa membedakan antara hal yang serius dengan sebuah candaan, hah?!" Sangkal Sasuke ketus, onyxnya mendelik tajam ke arah Sakura. Melihat reaksi Sasuke yang sedikit terlihat panik, Sakura tak bisa lagi menyembunyikan keinginannya untuk tertawa yang sebenarnya sudah sedari tadi ia tahan.
"Pfftt...Hahaha...Kau benar-benar mempercayai ucapanku Sasuke-kun?! Lihatlah wajahmu itu, jelek sekali...hahaha..." Sakura tertawa begitu lepas tanpa mempedulikan Sasuke yang kini tengah mendecak kesal kepadanya. Sampai-sampai Sakura memegang perutnya sendiri yang terasa sakit karena terus menerus tertawa. Emeraldnya pun sedikit menitikkan air mata karena merasa puas telah membuat kekasihnya itu terlihat panik. Hei, jarang sekali bukan seorang Uchiha Sasuke bisa ia kerjai seperti ini, hm?
"Ck, berisik. Jadi sedari tadi kau menipuku, huh!" Sasuke mendelik kesal kepada Sakura yang masih juga menertawakan dirinya tanpa rasa bersalah.
"Hahaha...Gomen Sasuke-kun, habisnya bercandamu kelewatan sekali, jadi terpaksa aku juga harus berakting di hadapanmu. Bagaimana bagus tidak aktingku?" Tanya Sakura tersenyum jenaka ke arah Sasuke.
"Hn. Kalau begitu bergabunglah dengan Uchiha Entertainment karena aktingmu itu sangat bagus sekali nona Cherry." Ucap Sasuke sedikit sinis dengan menekankan ucapannya pada nama kekasihnya itu, tangan kekarnya mengacak-ngacak gemas surai merah muda gadis itu. Kini perasaannya tampak lebih lega dibandingkan sebelumnya. Setidaknya ia tidak harus mengakhiri sandiwaranya saat ini dan berpisah dengan Sakura. Hah~...Sebenarnya apa sih yang kau inginkan Sasuke?!
"Ugh~...Lepaskan Sasuke-kun!" Ucap Sakura sambil menepis pelan tangan Sasuke dari atas kepalanya. Jari-jari indahnya kini menyisir sedikit demi sedikit helaian rambut merah mudanya yang tampak berantakan karena ulah Sasuke. "Hm, biar aku mempertimbangkannya terlebih dahulu tawaranmu itu, tuan Sasuke." Ucap Sakura tersenyum jahil sambil mengetuk-ngetukkan jari telunjuk kanannya pada dagu mungilnya, setelah dirinya selesai merapikan rambut uniknya itu.
"Hn." Gumam Sasuke sambil tersenyum tipis. "Hari ini kau ingin kemana?" Tanya Sasuke kepada Sakura, seolah tahu bahwa Sakura memang menginginkan untuk pergi ke suatu tempat.
"Hm, bagaimana kalau ke pantai! Sudah lama aku tidak pergi ke pantai." Ucap Sakura antusias, iris beningnya menatap penuh harap kepada Sasuke. Sementara Sasuke hanya memutar kedua bola matanya bosan dan mendecak kesal mendengar perkataan Sakura.
"Ck, kau bercanda! Kau tidak lihat jika langit sudah begitu mendung, mungkin tak lama lagi akan turun hujan. Aku menolak!" Ucap Sasuke tegas menolak keinginan Sakura.
"Ugh~...Aku tidak bercanda Sasuke-kun! Oh ayolah, aku rasa hujan tidak akan turun saat ini. Ya ya ya...Kau mau kan?" Ucap Sakura sambil melancarkan jurus puppy eyesnya kepada Sasuke, berharap pemuda itu akan luluh karena tatapan merayunya. Sasuke hanya menghela napas pasrah melihat sikap kekasihnya itu. Mau tidak mau Sasuke akhirnya menyetujui permintaan Sakura. 'Huh...Kenapa aku tak bisa menolak permintaannya! Menyebalkan!' Gerutunya di dalam hati kepada dirinya sendiri.
"Hn." Gumam Sasuke menyetujui ucapan Sakura.
"Yeay...Kau memang kekasih yang sangat pengertian Sasuke-kun." Teriak Sakura bersorak riang sambil mengecup singkat sebelah pipi Sasuke. Sasuke sendiri merasa senang melihat Sakura bersikap seperti itu, namun tentu saja ia menyembunyikan perasaan senangnya itu dari kekasihnya.
"Ck, berisik! Cepat pasang sabuk pengamanmu!" Perintah Sasuke tegas, kembali ia memasang wajah esnya lagi. Sakura hanya bisa menuruti perkataan Sasuke dengan tetap tersenyum senang, tanpa menghiraukan sikap Sasuke yang tampaknya masih terlihat kesal karena menuruti keinginannya. Sasuke pun menyalakan mesin mobilnya dan mulai melajukan mobilnya secara perlahan untuk keluar dari halaman parkir perusahaan Yamanaka Entertainment. Begitu mobilnya mulai memasuki jalan raya, tak segan-segan pemuda Uchiha itu langsung memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi melintasi jalanan kota Tokyo yang terlihat cukup senggang menuju ke arah pantai.
.
.
.
"Heiiii Sasuke-kun, kemarilah! Jangan hanya duduk berdiam diri di sana saja! Di sini menyenangkan sekali." Teriak Sakura sambil melambai-lambaikan tangan kanannya dari pinggir pantai, berusaha untuk mengajak bermain kekasihnya yang sedari tadi hanya duduk bersila beralaskan pasir tak jauh dari tempat Sakura berdiri, sambil menyanggakan wajahnya pada tangan kirinya. Sedari tadi onyxnya terus saja menatap bosan kepada gadis musim semi di depannya yang kini tengah asyik sendiri bermain berkejar-kejaran dengan ombak-ombak kecil di pinggir pantai. Memang saat ini hanya ada mereka berdua saja yang berada di pantai ini, karena tentu saja dengan keadaan cuaca yang kurang bersahabat seperti sekarang, orang-orang merasa malas untuk sekedar main ke pantai, apalagi hari sudah beranjak sore seperti ini.
"Ck, malas." Ucap Sasuke ketus, menolak ajakan Sakura. Ia masih merasa kesal dengan keinginan kekasihnya itu untuk bermain di pantai.
"Hah~...ya sudahlah kalau kau tak mau ikut bermain bersamaku. Aku bermain sendiri saja." Ucap Sakura mengangkat kedua bahunya seolah tak terlalu mempedulikan penolakan Sasuke. Kini dirinya kembali bermain dengan ombak-ombak kecil di pantai. Celana blue jeansnya ia gulung sampai sebatas betis agar tidak terlalu basah terkena air laut.
'Ck, seperti anak kecil saja! Apa asyiknya bermain berkejar-kejaran dengan ombak-ombak itu?! Dasar gadis aneh! Rasanya baru kali ini aku menemui gadis yang seperti dia." Gerutu Sasuke di dalam hati tatkala melihat Sakura yang kini tengah tertawa lepas sambil berlari-lari kecil menuju bibir pantai berusaha untuk menjauh dari ombak-ombak kecil yang seolah-olah mengejarnya dari belakang. Meskipun merasa bosan melihat kegiatan yang dilakukan oleh gadis musim semi itu, namun entah mengapa dirinya ingin selalu memperhatikan kekasihnya itu. Terselip sedikit rasa hangat yang menjalar ke dalam hatinya tatkala melihat wajah polos dan ceria yang terpancar dari wajah cantik Sakura. Onyxnya menatap lembut sosok gadis berambut merah muda di hadapannya, bibir tegasnya menampilkan sebuah senyuman tipis yang tampak begitu menawan.
"Hahaha...Ini benar-benar menyenangkan sekali!" Ucap Sakura tertawa riang sambil memutar-mutar pelan tubuh mungilnya dengan kedua tangannya yang terbentang lebar. Surai merah muda panjangnya tampak melambai-lambai di udara karena terpaan angin laut yang berhembus kencang. Wajah cantiknya ia tengadahkan ke arah langit yang tampak begitu mendung tak berawan, namun sepertinya ia sama sekali tidak mempedulikan hal itu, karena kesenangan yang ia rasakan saat ini sangatlah jarang ia dapatkan. Sungguh saat ini gadis itu terlihat begitu mempesona, sampai-sampai Sasuke tak bergeming menatap ke arah kekasihnya itu. Tanpa sadar, kini Sasuke sudah beranjak berdiri untuk menghampiri sang gadis musim semi yang masih saja menari berputar-putar di pinggir pantai itu. Sakura sendiri tidak menyadari jika saat ini Sasuke tengah berjalan menghampirinya, tampaknya ia masih terhanyut dalam kesenangannya sendiri.
Sasuke mengulurkan tangannya untuk meraih pinggang ramping sang gadis musim semi tatkala ia sudah berada di belakang kekasihnya itu yang kini sudah berhenti memutar-mutar tubuhnya. Tanpa ragu ia merangkul mesra tubuh mungil gadis itu, dan menyusupkan kepala ravennya pada perpotongan leher jenjang Sakura. Dikecupnya lembut leher jenjang milik gadis itu dan dihirupnya aroma Cherry yang menguar dari tubuh Sakura, membuat dirinya semakin terbius oleh pesona sang gadis musim semi.
Sakura sendiri terlonjak kaget saat merasakan sepasang tangan kekar yang kini telah melingkar dengan nyaman di atas perutnya. Bibir tipisnya menampilkan sebuah senyuman manis tatkala ia menyadari siapa pemuda yang tengah memeluknya dari belakang ini. Kedua pipinya menghangat dan jantungnya pun berdetak lebih kencang karena kini Sasuke tengah memeluknya dari belakang dengan mesra. Terlebih lagi saat ia merasakan pemuda itu tengah mengecup lembut leher jenjangnya, yang membuat dirinya merasakan suatu perasaan yang menggelitik namun menyenangkan. 'Kesempatan!' Batin Sakura sambil menyeringai jahil.
"Kau bermaksud untuk menggodaku dengan bersikap seperti tadi, Hn?" Ucap Sasuke tersenyum menyeringai di sela-sela kecupannya pada leher jenjang Sakura. Sakura hanya tersenyum simpul menanggapi ucapan Sasuke, kini ia memutar tubuhnya untuk menghadap ke arah kekasih yang dicintainya itu. Perlahan ia dorong dada bidang milik Sasuke untuk menjauh dari dirinya. Wajahnya berpura-pura menampilkan wajah kesal, seakan tidak suka dengan apa yang telah Sasuke lakukan padanya barusan. Sementara Sasuke hanya mengerutkan keningnya, merasa heran dengan sikap gadisnya yang menolak pelukannya.
"Ugh~...Kenapa kau mengangguku, Sasuke-kun! Aku kan sedang asyik bermain! Sudah sana kau duduk lagi saja!" Ucap Sakura mengomel kepada Sasuke sambil mengarahkan telunjuk kanannya ke tempat Sasuke tadi berdiam diri. Kini ia membalikkan tubuhnya kembali ke arah pantai dan berjalan perlahan menuju ombak-ombak yang menggulung semakin besar ke tepian pantai, wajahnya menyiratkan suatu kepuasan saat ia mengatakan hal itu kepada Sasuke. Sebenarnya itu adalah pancingan untuk Sasuke agar Sasuke mau mengikutinya dan bermain di pantai, dan ternyata memang berhasil. Sasuke yang masih merasa penasaran dengan sikap gadisnya yang tiba-tiba kesal seperti itu, akhirnya mengikuti Sakura dari belakang tanpa mempedulikan dirinya yang kini sudah menceburkan kakinya ke dalam air laut di tepian pantai. Sakura semakin terkikik geli dalam diam tatkala ia melihat Sasuke yang masih tidak menyadari bahwa dirinya kini sudah masuk dalam jebakannya. Namun, Sakura tetap berpura-pura tidak mempedulikan keberadaan Sasuke di belakangnya. Kini ia kembali bermain dengan ombak-ombak pantai itu dengan wajah yang gembira, merasa Sasuke sudah berada semakin dekat dengannya, kini ia merendahkan tubuhnya untuk meraih air laut yang berada di bawahnya. Ia hambur-hamburkan air laut itu ke arah depan, seolah menyuruh sang ombak untuk pergi menjauh darinya. Padahal sebenarnya ia hendak mengarahkan air laut itu kepada Sasuke, hanya saja ia menunggu saat yang tepat untuk melakukannya.
"Sepertinya kau lebih tertarik bermain dengan ombak-ombak itu dibandingkan bermain dengan kekasihmu sendiri, Hn?" Ucap Sasuke ketus sambil tersenyum menyindir kepada Sakura yang kini tengah membelakanginya. Kedua tangannya kini ia masukkan ke dalam saku celananya, membuat penampilan Uchiha Sasuke itu sungguh terlihat cool.
"Hm, tidak. Tentu saja tidak begitu, Sasuke-kun." Sanggah Sakura sambil menggelengkan kepalanya pelan setelah ia membalikkan tubuhnya ke arah Sasuke. Sebuah senyuman lebar namun penuh arti itu kini terpatri di wajah cantik milik Sakura. "Tentu saja aku lebih senang bermain denganmu...Ini...Hahaha..." Ucap Sakura tertawa lepas sambil menyembur-nyemburkan air laut ke arah Sasuke yang tentu saja membuat pemuda itu menjadi kebasahan. Sasuke berusaha menghalangi wajahnya dengan sebelah lengannya agar air laut itu tak mengenai matanya. Sasuke mendecak kesal dengan perbuatan Sakura, ia benar-benar merasa bodoh, bisa-bisanya hari ini ia terjebak dua kali oleh sandiwara kekasihnya itu.
"Kau! Tak akan ku maafkan!" Geram Sasuke, kini ia mulai membalas perbuatan Sakura dengan menyembur-nyemburkan balik air laut itu kepada Sakura, Sakura hanya bisa tertawa senang saat Sasuke melakukannya namun tentu saja Sakura tidak tinggal diam. Ia pun tentunya tak mau kalah untuk membalas perbuatan Sasuke. Sakura benar-benar puas karena pada akhirnya ia bisa mengajak kekasihnya ini untuk bermain bersamanya. Pada akhirnya mereka berdua benar-benar menikmati permainan yang mereka lakukan. Meskipun pakaian yang mereka kenakan akhirnya menjadi basah, namun mereka tetap melanjutkan kegiatan mereka yang kini berubah menjadi aksi saling kejar-kejaran. Terlihat sangat romantis, eh?
"Hosh...hosh...Kau benar-benar gadis yang menyebalkan!" Ucap Sasuke kelelahan saat ia telah berhasil meraih tubuh mungil Sakura dalam dekapannya. Keringat tampak menghiasi wajah tampan pemuda Uchiha tersebut yang semakin membuat dirinya terlihat mempesona. Seulas senyum tipis terpatri pada bibir tegasnya, tatkala ia merasakan perasaan yang begitu menyenangkan saat ini.
"Bagaimana...Menyenangkan bukan, Sasuke-kun?" Ucap Sakura tersenyum lembut sambil menengadahkan wajahnya ke arah wajah Sasuke yang memang lebih tinggi darinya. Sasuke menjawil hidung mungil Sakura karena merasa gemas dengan kekasihnya itu, membuat Sakura berpura-pura memberenggut kesal.
"Hn. Kau pikir menjadi basah seperti ini menyenangkan, heh?" Ucap Sasuke kembali berkilah, tak ingin mengakui bahwa dirinya memang merasakan kesenangan. Mendengar ucapan Sasuke, kembali Sakura mendorong pelan dada bidang Sasuke ke belakang.
"Huuh~...Akui saja kenapa sih, dasar Uchiha!" Ucap Sakura sebal sambil mengerucutkan bibir mungilnya dan melipat kedua tangannya di depan dada.
"Hn. Arigatou." Ucap Sasuke tersenyum tipis setelah menarik kembali Sakura ke dalam pelukannya. Tangan besarnya mengelus pelan rambut merah muda kekasihnya yang tercium begitu harum. Kemudian ia kecup sekilas pucuk kepala gadis itu, seolah menyalurkan rasa terima kasihnya kepada sang gadis musim semi.
"Sama-sama Sasuke-kun." Sakura membalas pelukan Sasuke erat seakan tak ingin kehilangan sosok bungsu Uchiha itu. Kembali dirinya tersenyum lembut dalam dekapan hangat sang pemuda Uchiha.
Sinar kemerahan di langit yang dipancarkan oleh sang raja siang yang kini mulai menghilang di bawah garis cakrawa di sebelah barat, begitu menambah suasana keromantisan di antara kedua pasangan kekasih itu. Kini Sasuke mulai meraih dagu mungil Sakura dengan tangan kanannya dan perlahan mendekatkan wajahnya kepada gadis musim semi itu, dikecupnya sekilas bibir ranum milik kekasihnya itu.
"Sunset Kiss?!" Ucap Sasuke tersenyum sambil menaikkan sebelah alisnya, seolah memberi penawaran kepada Sakura untuk melakukan ciuman saat matahari terbenam. Sakura yang mengerti maksud ucapan Sasuke hanya bisa berblushing ria. Namun, tentu saja ia pun ingin melakukan hal tersebut. Ia ulurkan tangan putihnya untuk menjangkau leher tegas pemuda itu, dan melingkarkannya dengan nyaman di sana. Sementara tangan Sasuke meraih kedua sisi pinggang ramping milik Sakura. Onyxnya membalas tatapan emerald yang menatap lembut dan penuh kasih kepadanya, sebuah senyuman indah dan menawan terpatri di wajah manis kekasihnya itu.
Kini Sakura yang berusaha untuk mendekatkan wajahnya ke arah wajah Sasuke. Kaki jenjangnya sedikit berjinjit tatkala ia mengecup lembut bibir tegas Sasuke.
Merasakan kelembutan bibir Sakura yang begitu membiusnya, Sasuke merengkuh Sakura semakin dalam pada pelukannya. Kini ia yang mengambil alih untuk memimpin ciumannya bersama Sakura. Perlahan ia lumat dengan lembut dan penuh kehangatan bibir mungil kekasihnya itu. Kembali ia alihkan tangannya pada tengkuk sang gadis musim semi, berniat untuk semakin memperdalam ciuman mereka. Sekali lagi keduanya terhanyut dalam ciuman mesra yang begitu membuat iri siapapun yang melihatnya. Mereka terlihat begitu menikmati ciumannya satu sama lain, saling merengkuh, mengecup dan saling membagi kehangatan pada tubuh mereka masing-masing. Mereka sama sekali tidak menyadari jika Kami-sama telah menurunkan air karunianya dari langit yang sedari tadi memang tampak begitu mendung. Rintikkan air hujan itu, kini membasahi kedua insan yang kini tengah di mabuk asmara. Tampaknya, meskipun mereka sudah menyadari bahwa hujan tengah mengguyur tubuh mereka, mereka tak berniat untuk segera mengakhiri ciuman mesra mereka,eh? Hm, biarlah kali ini kita biarkan saja mereka berdua menikmati kesempatan yang jarang-jarang bisa mereka dapatkan ini, Ne?
Flashback Off
Kini suasana di salah satu ruangan rumah sakit Konoha terasa begitu menegangkan. Bagaimana tidak jika saat ini seorang pemuda raven bermarga Uchiha yang terkenal sebagai seorang aktor muda berbakat itu tengah terbaring tak sadarkan diri di atas ranjang rumah sakit. Itachi dan kedua orang tuanya, Fugaku dan Mikoto kini tengah berada di salah satu kamar VVIP tempat Sasuke di rawat, setelah sebelumnya dokter selesai memeriksa keadaan putra bungsu Uchiha itu. Ya, Fugaku dan Mikoto kini sudah kembali ke Jepang begitu Itachi mengabari mereka tentang kondisi Sasuke yang semakin memburuk tadi siang. Mereka langsung mengambil jadwal penerbangan tercepat untuk kembali ke Jepang. Lagipula urusan bisnis di Amerika sudah selesai mereka lakukan tadi siang, jadi mereka lebih leluasa untuk pulang ke Jepang.
Menurut dokter yang menangani Sasuke, keadaan Sasuke tidak terlalu parah, ia hanya sedang merasa tertekan sehingga membuat kondisi tubuhnya yang memang masih belum stabil menyebabkan Uchiha bungsu itu menjadi tak sadarkan diri. Hal ini tentu saja membuat keluarga Uchiha tersebut dapat sedikit bernapas lega karena kenyataannya keadaan Sasuke tidak seburuk yang mereka pikirkan. Namun, meskipun begitu mereka tetap menatap khawatir akan keadaan bungsu Uchiha itu.
"Hn, sebenarnya apa yang sudah terjadi dengan Sasuke, Itachi? Kenapa kau malah mengajak Sasuke keluar malam-malam seperti ini. Bukankah kau sudah tahu jika kondisi adikmu itu masih belum sehat benar." Tanya Uchiha Fugaku tenang, onyxnya menatap wajah putra sulungnya yang kini tengah duduk di sofa yang terletak di depan ranjang tempat Sasuke terbaring, seolah meminta penjelasan kepada Itachi.
Mikoto yang saat ini berada dalam rangkulan sang suami, mengalihkan pandangannya dari wajah putra bungsunya kepada Itachi karena merasa tertarik dengan pertanyaan sang kepala keluarga Uchiha itu. Ia juga merasa penasaran dengan alasan yang membuat keadaan Sasuke menjadi seperti ini. Sedari tadi ia hanya fokus memperhatikan kondisi putra bungsunya itu, tanpa mempedulikan alasan apa yang sebenarnya telah membuat keadaan Sasuke semakin memburuk.
"Hn." Itachi beranjak dari sofa dan perlahan berjalan menghampiri kedua orang tuanya yang kini tengah menatap penuh keheranan ke arahnya. Itachi merogoh saku jasnya dengan menggunakan tangan kanannya, mengambil sesuatu yang sebelumnya telah ia simpan di dalam sana.
"Hn, sepertinya memang bukan hakku untuk memberitahukan kepada kalian mengenai kejadian yang sebenarnya. Tapi, sepertinya Sasuke pun pasti enggan memberitahukan kenyataan yang sebenarnya kepada kalian. Jadi, suka tidak suka aku tetap harus menceritakannya kepada kalian, lagipula ini semua demi kebaikan Sasuke juga." Jeda sejenak setelah Itachi mendapatkan apa yang ia cari di dalam saku jasnya. "Ini, bacalah terlebih dahulu Tou-san, Kaa-san." Pinta Itachi halus, sambil menyodorkan sebuah lipatan kertas yang merupakan sobekan dari diary milik Sasuke. "Setelah itu, baru aku bisa menceritakan hal yang telah terjadi pada Sasuke." Ucap Itachi lagi melanjutkan perkataannya.
Tanpa banyak bicara, Fugaku meraih kertas itu dan menyerahkannya kepada Mikoto. Seolah meminta Mikoto untuk membuka dan membaca kertas itu. Mikoto hanya menganggukkan kepalanya mengerti akan permintaan suaminya itu. Perlahan Mikoto membuka lipatan kertas itu untuk membaca isi tulisan yang tertera di sana. Fugaku pun turut membaca kertas itu di samping istrinya. Iris onyx lembut milik nyonya Uchiha itu bergerak perlahan untuk membaca satu persatu kata-kata yang tertulis di sana, menelusuri setiap kalimat yang merupakan curahan hati sang Uchiha bungsu dari awal hingga akhir. Otot-otot onyx milik wanita cantik itu yang biasanya terlihat tenang kini tampak menegang tatkala ia membaca kebenaran yang tertulis di sana. Tangan hangatnya sebagai seorang ibu yang biasanya membelai sayang anak-anaknya, kini terasa dingin dan bergetar menyebabkan kertas yang saat ini masih dipegangnya jatuh ke lantai ruangan rumah sakit.
Tes tes tes
Air mata lolos keluar dari kedua iris onyx indah milik nyonya Uchiha itu, jatuh bebas ke dasar lantai membasahi kertas yang tadi di bacanya. Ya, ia menangis dalam diam, ibu dari dua anak ini menangis karena ia tidak menyangka jika putra bungsunya yang selama ini selalu terlihat bersikap lembut kepadanya-meskipun terkadang selalu menyebalkan saat ia tengah bersikap dingin-begitu tega mempermainkan perasaan dan hati seorang perempuan. Sungguh ia merasa sangat kecewa terhadap sikap putra bungsunya yang sangat disayanginya itu.
Fugaku yang melihat reaksi Mikoto, hanya bisa mengusap pelan punggung mungil istrinya itu dan merengkuhnya dalam pelukan dada bidang miliknya. "Tenanglah Mikoto!" Ucapnya pelan mencoba untuk menenangkan istrinya. Sebenarnya Fugaku juga merasa kecewa setelah membaca tulisan milik putra bungsunya itu. Sebagai seorang pria dalam anggota keluarga Uchiha, mereka memang dituntut untuk selalu menjaga, melindungi dan menghormati seorang perempuan. Karena seorang perempuan memang sudah sepantasnya untuk selalu dihargai oleh seorang laki-laki.
"Kaa-san, kau baik-baik saja?" Tanya Itachi khawatir melihat keadaan Mikoto yang terlihat shock itu.
"Itachi, katakan apa yang selanjutnya terjadi? Apa ini artinya Cherry sudah mengetahui kebohongan Sasuke?" Tanya Mikoto datar dan dingin, saat ia mengalihkan wajahnya ke arah Itachi. Itachi cukup terkejut tatkala mendapati ekspresi ibunya yang tidak sehangat seperti biasanya itu. Namun, sesegera mungkin Itachi mencoba untuk menjelaskan semua kejadian yang terjadi tadi.
"Hn, tadi siang aku menemukan Sasuke terbaring tak sadarkan diri di lantai kamarnya dan aku pun tak melihat keberadaan Cherry di rumah. Namun, aku melihat begitu banyak kertas-kertas berserakan di atas lantai yang merupakan sobekan dari diary Sasuke, dan kertas yang Kaa-san baca itu termasuk salah satunya yang merupakan kunci dari semua kebohongan yang dilakukan oleh Sasuke. Seharusnya Cherry memang sudah mengetahui semua kebohongan Sasuke ini, saat membacanya tadi malam." Ucap Itachi mengawali penjelasannya. Kini iris hitamnya ia alihkan untuk menatap adik kesayangannya yang terbaring tak berdaya di atas ranjang.
"Seperti yang kukatakan sebelumnya jika Sasuke mengalami vertigo yang menyebabkan dirinya pingsan. Namun, hal lain yang membuatnya merasa tertekan adalah perasaan bersalah yang ia rasakan terhadap Cherry. Saat ia tersadar, ia memintaku untuk mengantarnya menemui Cherry, karena ia ingin meminta maaf kepadanya atas kesalahan yang telah ia perbuat. Sebenarnya aku sempat menolak karena melihat kondisinya yang memang belum pulih seutuhnya." Ucap Itachi lagi, kembali ia tatap iris lembut milik Uchiha Mikoto, ibunya. "Tapi, Kaa-san tahu sendiri bagaimana sifat keras kepala Sasuke itu. Akhirnya mau tidak mau aku mengantarnya menemui Cherry tadi. Namun, sepertinya Cherry tidak berminat untuk bertemu dan berbicara dengan Sasuke. Meskipun Sasuke sudah memintanya untuk memaafkan kesalahannya, tapi Cherry sama sekali mengacuhkan keberadaan Sasuke. Hingga akhirnya Sasuke kembali pingsan karena kondisi tubuhnya yang masih lemah." Terang Itachi mengakhiri ceritanya, ia hanya menjelaskan secara garis besar kronologi kejadian yang dialami dirinya dan juga Sasuke hari ini. Mikoto sedari tadi hanya mampu terdiam, menyimak dengan seksama cerita Itachi. Entahlah ia benar-benar tidak tahu harus berkomentar apa lagi terhadap perilaku anak kesayangannya itu. Apakah ia harus marah kepada anak bungsunya itu, atau ia harus merasa prihatin dengan keadaan Sasuke yang saat ini terlihat begitu lemah? Hm, ibu dua anak ini hanya kembali terdiam, merenungi hal apa yang harus ia lakukan terhadap putra bungsunya itu.
.
.
.
"Cherry..." Igau Sasuke lirih mengucapkan nama kekasihnya dalam ketidaksadarannya. Wajah pucatnya menampilkan ekspresi ketakutan yang terlihat sangat kentara sekali. Itachi, Fugaku dan Mikoto mengalihkan pandangan mereka ke arah Sasuke tatkala mendengar igauan sang putra bungsu Uchiha itu. "Kumohon Cherry...maafkan aku!" Igaunya lagi dengan ekspresi wajah yang penuh dengan penyesalan, setitik air mata merembes keluar dari sudut matanya yang tengah terpejam itu. "Kumohon..." Igaunya lagi lirih. Mikoto, Fugaku dan Itachi merasa terenyuh hatinya tatkala mendengar igauan Sasuke yang terdengar begitu sendu itu. Perlahan Itachi melangkahkan kakinya untuk berjalan ke samping ranjang Sasuke.
"Sasuke, bangunlah!" Ucap Itachi berusaha untuk menyadarkan adik bungsunya itu dengan mengguncang-guncangkan pelan bahu Sasuke.
"Engh~..." Lengguh Sasuke saat ia telah membuka kedua iris onyxnya yang kini terlihat begitu redup. Beberapa kali ia mengedip-ngedipkan matanya berusaha untuk menyesuaikan matanya dengan cahaya yang berasal dari lampu ruangan kamar VVIP itu. "Aniki?" Ucapnya lagi saat ia melihat kakaknya, Uchiha Itachi tengah tersenyum lembut ke arahnya dari samping ranjang tempatnya berbaring.
"Hn. Kau sudah merasa lebih baik, Sasuke?" Tanya Itachi berbasa-basi menanyakan keadaan adiknya itu.
Sasuke tidak menjawab pertanyaan yang diajukan Itachi, menurutnya Itachi bisa melihat sendiri bagaimana persisnya keadaan dirinya saat ini. Kini ia angkat tubuhnya untuk bangkit dari tidurnya dan duduk dengan menyandarkan punggungnya pada sandaran ranjang rumah sakit. Kini onyxnya bisa menatap dengan jelas dua sosok yang tadi selintas dilihatnya saat bangun dari tidurnya.
"Tou-san...Kaa-san...Kalian sudah pulang?!" Tanya Sasuke pelan, iris hitamnya menatap lemah ke arah kedua orang tuanya yang saat ini hanya terdiam memperhatikan dirinya dengan ekspresi wajah datar dan dingin, namun tak menutupi adanya sedikit perasaan khawatir tersirat di sana. Sasuke hanya mengernyitkan keningnya, merasa heran dengan suasana yang terasa begitu tegang saat ini.
Perlahan Mikoto melangkahkan kakinya untuk mendekat ke arah Sasuke. Tangan lembutnya terulur berusaha menggapai wajah tampan yang terlihat pucat itu. Sasuke tahu jika ibunya itu merasa khawatir dengan keadaannya, sedari dulu jika ia sedang sakit ibunya selalu...
Plakkk
membelai rambut ravennya...Namun, sepertinya kali ini berbeda. Belaian kasih sayang itu berubah menjadi sebuah tamparan yang tidak terlalu keras, namun mampu membuat hati sang Uchiha bungsu berdenyut sakit. Tentu saja ia merasa terkejut dengan tindakan ibunya yang terkesan tiba-tiba ini. Selama ini yang ia tahu, ibunya selalu bersikap lembut padanya dan tak pernah sekalipun memukul bahkan menampar dirinya seperti ini. Itachi dan Fugaku pun tak kalah terkejutnya dengan Sasuke, rupanya Mikoto benar-benar merasa kecewa dengan tingkah laku Uchiha Sasuke, putra bungsunya itu.
"Kaa-san..." Ucap Sasuke lirih memanggil ibunya. Kini ia tatap iris hitam milik ibunya yang tengah memancarkan sebuah rasa emosi dan kekecewaan yang begitu dalam terhadapnya.
"Apa Kaa-san pernah mengajarimu untuk bersikap tidak menghargai dan mempermainkan hati seorang perempuan, UCHIHA SASUKE?!" Geram Mikoto pada akhirnya meluapkan emosinya. Kini setetes air mata mengalir dari sudut matanya yang tampak menegang itu. Sasuke hanya bisa menundukkan kepalanya setelah menyadari maksud dari perkataan ibunya.
"Gomennasai...Kaa-san, aku...menyesal. Maaf...maafkan aku!" Ucap Sasuke lirih penuh penyesalan.
"Apa kau tak pernah berpikir Sasuke, jika Kaa-san juga adalah seorang perempuan?! Bagaimana jika saat ini Kaa-san yang berada di posisi Cherry?! Apa kau tak memikirkan perasaannya yang mungkin akan terluka karena perbuatanmu?! Seharusnya kau bisa lebih mengerti hati seorang perempuan jika kau memang benar-benar menyayangi Kaa-san!" Ucap Mikoto lagi bertubi-tubi mengeluarkan semua perasaan kecewanya, seolah menghakimi Sasuke seperti seorang tersangka kejahatan.
Sakit, sungguh hatinya terasa sakit tatkala mendengar ucapan ibunya yang seperti itu. Benar apa yang dikatakan oleh ibunya itu, sangat sangat benar bahwa apa yang telah ia lakukan terhadap Cherry sama saja artinya ia telah menyakiti hati ibunya. Kenapa ia sama sekali tak menyadari akan hal itu sejak awal? Kenapa ia hanya bisa mengikuti emosi sesaat yang sama sekali merugikan untuknya kini? Sungguh ia benar-benar merasa kecewa pada dirinya sendiri. Rasanya menyesal sekarang pun tak akan ada gunanya.
"Hiks...hiks...Maafkan aku...Kaa-san...hiks...hiks...maaf..." Isak Sasuke tertunduk pasrah meminta maaf kepada Kaa-sannya. Melihat sikap putra bungsunya yang seperti itu, naluri keibuannya mengatakan untuk memaafkan kesalahan putranya itu dan merengkuhnya dalam pelukan hangat seorang ibu. Sementara Fugaku dan Itachi hanya menatap penuh kelegaan dan tersenyum simpul karena Mikoto kini sudah bisa memaafkan kesalahan Sasuke.
"Kaa-san memaafkanmu Sasuke." Ucap Mikoto pelan, sambil mengusap lembut surai kebiru-biruan Sasuke. Rasanya Sasuke merasakan perasaan yang begitu hangat dan menenangkan saat Mikoto memeluknya kini.
"Kaa-san...Sekarang apa yang harus kulakukan agar Cherry mau memaafkanku?" Tanya Sasuke sendu saat Mikoto sudah melepaskan pelukannya. Mikoto menatap sayang ke dalam iris hitam milik Sasuke, kemudian bibirnya menyunggingkan sebuah senyuman tipis.
"Apa kau mencintai Cherry, Sasuke?" Tanya Mikoto penasaran dengan perasaan yang sesungguhnya dari putra bungsunya itu. Sasuke yang mendengar perkataan Mikoto hanya menganggukkan kepalanya pelan, seolah menjawab bahwa dirinya memang mencintai Sakura.
"Kalau begitu, teruslah berusaha untuk meminta maaf padanya meskipun ia enggan untuk bertemu denganmu, Sasuke." Ucap Mikoto menepuk pelan pucuk kepala Sasuke. "Jika kau tetap teguh dan tidak menyerah untuk mendapatkan kata maaf dari Cherry, suatu hari nanti perasaannya pun pasti akan luluh juga." Mikoto tersenyum tulus ke arah Sasuke, dengan kedua matanya yang terlihat menyipit. "Karena sekeras apapun hati seorang perempuan, jika kau benar-benar tulus dan menunjukkan keseriusanmu, maka hatinya akan tersentuh juga. Jadi, berjuanglah Sasuke! Berjuanglah untuk mendapatkan kembali cinta Cherry!" Ucap Mikoto menunjukkan tangannya yang mengepal ke atas untuk menyemangati Sasuke.
"Hn. Berjuanglah Nak! " Fugaku pun tersenyum tipis, turut memberikan semangat kepada putra bungsunya itu.
"Tenang saja aku juga akan membantumu untuk mendapatkan kembali hati Cherry." Ucap Itachi menepuk pelan pundak tegap sang adik dan tersenyum tulus.
"Hn. Arigatou Tou-san, Kaa-san, Aniki. Aku pasti akan berusaha!" Ucap Sasuke berterima kasih kepada Fugaku, Mikoto dan Itachi. Onyxnya kini memancarkan sinar keyakinan yang begitu kuat, sebuah senyuman kelegaan pun kini terpatri indah di wajah tampannya. 'Hn. Aku tidak boleh menyerah sekarang! Tunggu aku Cherry!' Batin Sasuke menyemangati dirinya sendiri. Rasanya kini ia merasakan kekuatan yang begitu besar yang ia dapatkan dari keluarganya. Hm, ayo semangat Sasuke!
"Fuahh...udara pagi memang benar-benar terasa sangat menyejukkan!" Ucap Hinata tersenyum ceria, kedua tangannya ia rentangkan lebar, sedikit menggeliatkan kecil tubuhnya mencoba untuk menghirup udara segar di pagi hari pada balkon kamar kekasihnya, Namikaze Naruto. Hm, semalam ia memang menginap di kediaman Namikaze setelah sebelumnya meminta izin terlebih dahulu kepada ayahnya, Hyuuga Hiashi. Ingatannya kembali melayang pada kejadian tadi malam, saat ia dan Naruto berciuman mesra di bawah hamparan bintang tepat di tempat saat ini ia tengah berdiri. Sepertinya kini pipinya kembali merona merah mengingat hal itu.
"Ohayou Hime." Sapa Naruto lembut, yang tiba-tiba saja sudah memeluk mesra pinggang Hinata dari belakang, membuat gadis indigo itu terlonjak kaget.
"Na-...Naruto-kun! Kau mengagetkanku tahu!" Ucap Hinata terkejut.
"Kau tidak membalas sapaanku, Hime?!" Ucap Naruto lagi sambil mengecup pelan pundak mungil Hinata. Hinata hanya bisa terkekeh geli dengan perkataan Naruto. Tangan mungilnya ia angkat untuk meraih surai blonde pemuda di belakangnya dan mengelusnya lembut.
"Ohayou mo, Naruto-kun." Ucap Hinata membalas sapaan Naruto. Wajahnya ia arahkan menghadap kepala Naruto yang masih menunduk di atas pundaknya. Naruto yang menyadari Hinata menatap ke arahnya, langsung menyambar bibir mungil hangat milik gadis indigo itu. Naruto kembali mencium dengan lembut bibir indah Hinata, seolah merasa belum puas atas ciuman panjang yang mereka lakukan tadi malam. Hinata pun sepertinya masih merasa ketagihan untuk bercumbu dengan kekasihnya itu, terlihat dari sikapnya yang balas mencium mesra bibir tegas Naruto. Ah, sungguh pagi yang benar-benar membahagiakan, eh?
"Aku mencintaimu, Hime." Bisik Naruto mesra di telinga Hinata saat pagutan mereka telah terlepas. Hinata tersenyum bahagia saat Naruto mengatakan hal itu, rasanya ia tak mempercayai jika mimpi-mimpinya dan penantiannya selama tujuh tahun ini akhirnya benar-benar menjadi kenyataan. Sungguh rasanya tidak sia-sia pengorbanan dirinya selama ini untuk selalu bersabar menunggu pemuda itu agar bisa berpaling menatap ke arahnya. Kami-sama memang selalu bertindak adil kepada umatnya, Ia memang selalu memberikan hal terindah di saat yang tepat kepada umatnya.
"Aku juga mencintaimu, Naruto-kun." Ucap Hinata tersenyum lembut membalas ucapan cinta Naruto. Naruto kembali bersikap manja terhadap Hinata dengan kembali menyusupkan wajahnya pada leher jenjang Hinata. Menghirup aroma tubuh gadis yang dikasihinya itu dengan intens, seolah-olah ia memperoleh ketenangan dengan menghirup aroma gadisnya. Ah, sepertinya Naruto tak akan pernah bosan untuk bermanja-manja pada kekasihnya itu.
.
.
.
Tok tok tok
"Naruto-kun, Hinata-chan...Apa kalian sudah bangun? Ini sudah pukul tujuh, apa kalian tidak akan berangkat kerja?" Teriak Kushina dari luar kamar Naruto, mencoba untuk memastikan bahwa kedua pasangan kekasih itu sudah bangun dari tidurnya. Naruto yang masih memeluk Hinata kini terpaksa melepaskan pelukannya itu setelah mendengar ibunya berteriak memanggil mereka. Kini ia berjalan perlahan menuju ke arah pintu untuk membukanya, diikuti oleh Hinata yang berjalan di belakangnya.
"Ha'i Kaa-san, maaf kami baru bangun." Ucap Naruto sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal dan tersenyum lebar kepada ibunya, setelah membuka pintu kamarnya dan melihat ibunya yang kini sudah berdandan rapi dan cantik tengah berdiri dengan membawa sebuah pakaian wanita.
"Hm, sudah tidak apa-apa Naruto-kun." Ucap Kushina sambil tersenyum maklum. "Ini Kaa-san bawakan pakaian ganti milik Kaa-san untuk Hinata-chan. Kau tidak membawa baju ganti kan, Hinata-chan?" Tanya Kushina kepada Hinata sambil mengulurkan pakaian yang berada di tangannya kepada Naruto.
"Ha'i Kaa-san. Terima kasih." Ucap Hinata menganggukkan kepalanya pelan.
"Kalau begitu segeralah bersiap-siap! Kaa-san dan Tou-san memiliki urusan bisnis di Kyoto dan kami akan berangkat sebentar lagi. Kalian sarapanlah terlebih dahulu, Kaa-san sudah menyiapkan sarapan untuk kalian berdua di bawah." Terang Kushina kepada Naruto dan Hinata.
"Baiklah Kaa-san, kami mengerti." Ucap Naruto sambil tersenyum tipis.
"Kalau begitu Kaa-san pergi dulu. Kalian berhati-hatilah saat pergi ke kantor." Pamit Kushina sambil menepuk pelan pundak kekar Naruto, kemudian dirinya mengecup singkat dahi putra tunggalnya itu kemudian beralih mengecup pipi gembil Hinata.
"Ha'i, Kaa-san juga berhati-hatilah." Pesan Naruto sebelum Kushina benar-benar pergi meninggalkan mereka. Kushina hanya membalas dengan sebuah senyuman tipis, kemudian berjalan perlahan meninggalkan Naruto dan Hinata.
"Ayo, Hime. Sekarang kita harus bersiap-siap. Kau pakai saja kamar mandiku untuk mandi, sementara aku akan menggunakan kamar mandi yang ada di bawah." Ucap Naruto menepuk pelan pucuk kepala Hinata dan mengajak Hinata untuk segera bersiap-siap dan membersihkan diri.
"Hm, baiklah Naruto-kun." Ucap Hinata menyetujui ucapan Naruto sambil tersenyum manis. Kini Hinata meraih pakaian milik Kushina yang berada di tangan Naruto, kemudian membalikkan dirinya untuk menuju ke kamar mandi yang terdapat di dalam kamar Naruto. Sementara Naruto sendiri berjalan menghampiri lemari pribadinya untuk mengambil pakaian gantinya dan bergegas pergi menuju kamar mandi yang terdapat di lantai bawah.
"Hm, kau tak ingin menemaniku terlebih dahulu mengobrol di dalam ruanganku, Hime?" Tanya Naruto kepada Hinata saat mereka tengah berjalan sambil berpegangan tangan erat menuju ruang kerja Naruto. Entah mengapa sedari pagi tadi, ia ingin selalu berada di dekat kekasihnya itu. Firasatnya mengatakan jika hari ini akan ada suatu hal buruk yang terjadi di antara dirinya dan Hinata. Namun, ia sama sekali tak bisa memprediksikan hal buruk apa yang pastinya akan menimpa dirinya dan Hinata.
"Uhm...Kau ini ada ada saja, Naruto-kun! Bukankah sedari tadi kita sudah mengobrol banyak, memang apa lagi yang ingin kau bicarakan, Hm?" Hinata tersenyum simpul mendengar perkataan Naruto. Entah mengapa ia merasa Naruto menjadi semakin manja kepadanya semenjak tadi pagi saat mereka masih berada di kediaman Namikaze. Namun, meskipun begitu Hinata benar-benar sangat menyukai sikap naruto yang seperti ini.
"Hm, entahlah. Aku hanya ingin tinggal lebih lama bersamamu saja. Apa tidak boleh, Hm?" Ucap Naruto mengangkat sebelah bahunya dengan menampilkan wajahnya yang terlihat sedikit bingung. Lagi-lagi Hinata tersenyum bahagia mendengar ucapan Naruto.
"Boleh, tentu saja boleh. Tapi tidak sekarang! Masih ada banyak pekerjaan yang belum aku selesaikan Naruto-kun. Mungkin nanti saat makan siang kita bisa mengobrol kembali, bagaimana?" Tawar Hinata, berusaha membujuk kekasihnya itu. Naruto tampak diam sesaat, perasaannya semakin bertambah tidak enak. 'Shit, sebenarnya apa yang akan terjadi!' Batinnya menggerutu di dalam hati. Wajahnya kini benar-benar menampilkan ekspresi yang terlihat begitu khawatir.
"Naruto-kun, kau baik-baik saja?" Tanya Hinata sambil mengulurkan tangannya yang bebas untuk meraih wajah tampan kekasihnya yang kini terlihat begitu khawatir. Naruto yang merasakan kelembutan belaian tangan Hinata pada wajahnya, segera tersadar dari aksi diamnya.
"Hm, tidak. Aku baik-baik saja." Ucap Naruto mencoba untuk menutupi rasa khawatirnya. Perlahan ia raih tangan Hinata yang masih membelai wajahnya, kemudian tanpa ragu ia menarik Hinata ke dalam pelukannya dan mendekapnya erat. Hinata merasakan sesuatu yang aneh dengan sikap kekasih blondenya itu.
"Jangan berbohong Naruto-kun! Sebenarnya ada apa? Tidak biasanya kau bersikap seperti ini! Ceritakanlah, jangan membuatku menjadi ikut-ikutan merasa khawatir seperti ini!" Ucap Hinata mengelus lembut punggung tegap Naruto, mencoba untuk menyalurkan rasa tenang kepada pemuda itu.
"Entahlah, aku benar-benar tidak tahu apa yang saat ini tengah aku rasakan. Tapi aku merasa benar-benar takut akan kehilanganmu." Ucap Naruto lirih, jujur mengungkapkan perasaannya.
"Hm, kau ini semakin aneh saja, Naruto-kun! Memangnya aku akan pergi kemana? Sampai-sampai kau takut akan kehilangan diriku." Hinata terkikik geli dalam pelukannya.
"Aku serius Hime!" Ucap Naruto tegas sambil melepaskan pelukannya terhadap Hinata. Sapphirenya menatap tajam amethyst dihadapannya. Tangan kekarnya meraih tangan mungil Hinata dan mengenggamnya erat. Hinata tersenyum lembut ke arah Naruto.
"Hm, sudah-sudah Naruto-kun. Mungkin itu hanya perasaanmu saja. Lebih baik sekarang kau segera pergi ke ruanganmu dan menenangkan diri di sana. Aku benar-benar harus segera pergi sekarang! Jaa-ne Naruto-kun." Pamit Hinata mengecup sekilas pipi kekasihnya itu, sebelum benar-benar pergi meninggalkan Naruto. Naruto hanya tersenyum tipis menatap kepergian kekasihnya, Hyuuga Hinata. Segera ia balikkan tubuhnya untuk berjalan menuju ke arah ruangannya, namun langkahnya terhenti saat mendengar suara seseorang yang menginterupsinya dari belakang.
"Menikmati kebersamaan dengan kekasihmu, eh? Tuan Uzumaki." Ucap seseorang dari arah belakang Naruto, yang terdengar begitu sinis seolah mengejek sang pemuda Uzumaki. Merasa familiar dengan suara gadis yang kini tengah mengajaknya berbicara, Naruto kembali membalikkan badannya untuk menghadap sosok yang berdiri di belakangnya.
"Cherry?! Apa maksud perkataanmu itu?" Ucap Naruto sambil menaikkan sebelah alisnya merasa heran dengan sikap Sakura yang benar-benar terlihat berbeda dari sebelumnya.
"Hm, sebaiknya kau jangan berpura-pura lagi, Tuan Namikaze! Aku sudah mengetahui semua kebenarannya tentang hubunganmu dengan Hyuuga-san!" Ucap Sakura tenang sambil menampilkan wajahnya yang terlihat angkuh.
Deg
"Cherry...Jadi kau sudah mengetahui rencana Sasuke selama ini?" Tanya Naruto ragu, tubuhnya terasa menegang setelah mendengar ucapan Sakura yang mengetahui kebohongannya.
"Hm, sebaiknya kau segera akhiri saja hubunganmu dengan Hyuuga-san, karena aku sudah tidak mempunyai hubungan apa-apa lagi dengan Sasuke." Ucap Sakura tegas. "Kau memang tidak jauh berbeda dengan Sasuke, Tuan Namikaze! Kalian anggap, kami sebagai seorang perempuan sama seperti barang yang bisa dipermainkan dengan seenaknya saja, Hah!" Maki Sakura kepada Naruto, emeraldnya menatap tajam ke dalam iris biru milik Naruto. Wajahnya cantiknya benar-benar menyiratkan amarah yang sangat besar.
"Tidak! Aku...tidak bermak-..." Naruto tidak melanjutkan perkataannya karena Sakura telah terlebih dahulu berbicara kepadanya.
"Hm, tidak usah mengelak Tuan! Sebaiknya kau segera saja memutuskan hubunganmu secepatnya dengan Hyuuga-san. Jangan sampai kau membohongi perasaan Hyuuga-san lebih jauh lagi!" Ucap Sakura lagi mengingatkan. Kini ia membungkukkan tubuhnya untuk memberi salam kepada Naruto sebelum ia beranjak pergi meninggalkan Naruto yang kini hanya bisa terdiam setelah mendengarkan ucapannya. Perlahan Sakura melangkahkan kakinya ke arah ruang rekaman, di mana Kiba dan Shino sudah menunggunya sedari tadi.
Naruto menatap lemas punggung mungil Sakura yang kini perlahan-lahan menjauh. Ia tidak percaya jika hubungan Sasuke dan Sakura sudah berakhir secepat ini. Itu artinya Sakura mengetahui dengan jelas latar belakang dirinya menjalin hubungan dengan sang gadis Hyuuga. Entah mengapa ia merasa takut jika Hinata akan mengetahui kebenaran ini, meskipun pada kenyataannya ia memang telah jatuh cinta sungguhan kepada Hinata.
Mencoba untuk menenangkan pikirannya, ia sandarkan punggung tegapnya pada tembok di belakangnya. Kepalanya ia tundukkan pasrah menatap ke arah lantai keramik yang diinjaknya. Sapphirenya terbelalak lebar saat melihat sepasang sepatu yang begitu sangat ia kenali, ya tentu saja sepatu hak tinggi berwarna coklat itu milik Hyuuga Hinata, kekasihnya. 'Ich,ternyata hal buruk yang sedari tadi aku rasakan adalah terbongkarnya sandiwara ini! Mengapa semuanya menjadi rumit seperti ini, Kami-sama?'Batin Naruto mengadu kepada Kami-sama. Kini ia harus mempersiapkan dirinya untuk menghadapi amukan kekasihnya itu. Perlahan ia angkat wajahnya untuk menghadap ke arah kekasihnya yang tengah berdiri di hadapannya.
Plakkk
Sebuah tangan halus yang biasanya selalu membelai lembut dirinya, kini berubah menjadi sebuah tamparan yang terasa begitu menyakitkan bagi Naruto.
"Jadi selama ini kau hanya berpura-pura untuk mencintaiku, Naruto-kun?" Ucap Hinata dengan suara yang terdengar bergetar seolah menahan dirinya untuk tidak menangis saat ini, setelah dirinya menampar pipi kekasihnya itu. Ya, Hinata memang mendengar percakapan yang dilakukan oleh Naruto dan Sakura tadi. Sebenarnya ia hendak kembali menemui Naruto untuk meminta kunci mobil milik Naruto dan mengambil handphonenya yang tertinggal di dalam mobil Naruto, namun ia urungkan niatnya tatkala ia mendengar pembicaraan Naruto dengan Sakura.
"Kau...mendengar semuanya?" Tanya Naruto menatap ragu ke dalam amethyst milik Hinata.
"Hm, sangat jelas! Aku mendengar dengan sangat jelas apa yang kau dan Cherry bicarakan!" Ucap Hinata sinis dengan nada tinggi.
"Hime...Aku tid-..." Ucapan Naruto lagi-lagi dipotong tanpa sempat memberikan penjelasan kepada Hinata.
"Tak perlu kau panggil aku lagi dengan sebutan itu, Naruto-kun!" Geram Hinata emosi. "Cepat katakan! Apa sebenarnya rencana yang telah dibuat oleh Sasuke-kun?!" Tanya Hinata lagi meminta penjelasan tentang rencana Sasuke selama ini. Naruto benar-benar merasa kewalahan menghadapi Hinata yang seperti ini.
"Asal kau tahu Hinata-chan, ini tidak seperti yang kau pi-..."
"Katakan saja Naruto-kun, jangan terlalu banyak berbasa-basi seperti itu!" Ucap Hinata kembali emosi, kini kesabarannya sudah habis menghadapi Naruto yang selalu mengelak untuk memberinya penjelasan.
"Baiklah jika kau tak ingin mendengarkan perkataanku terlebih dahulu." Ucap Naruto sambil menghela napas berat, sungguh ia begitu merasa berat untuk menceritakan semuanya kepada kekasihnya itu. Tapi mau tidak mau ia tetap harus menjelaskan semuanya kepada Hinata. "Sebenarnya rencana Sasuke adalah ingin selalu melihatmu bahagia. Kau ingat saat hari-hari di mana kita melakukan syuting pembuatan mv Nakama's Band? Saat itu sebenarnya Sasuke menyadari bahwa aku memiliki perasaan khusus terhadap...Cherry." Ucap Naruto sedikit ragu saat mengucapkan nama Sakura.
Deg
Entah mengapa rasanya ada sebuah jarum besar yang kini tengah menusuk-nusuk hati gadis indigo itu tatkala ia mengetahui bahwa Naruto sebenarnya memiliki perasaan khusus kepada Sakura. Kini air mata merembes keluar dari kedua sudut mata bulatnya, namun sebisa mungkin ia tahan isak tangisnya agar tidak terdengar oleh Naruto. Naruto yang melihat Hinata menangis, semakin merasa bersalah kepada gadis itu.
"Lanjutkanlah, Naruto-kun!" Ucap Hinata datar dan dingin, mencoba untuk kuat menghadapi kenyataan lainnya yang selama ini ia tidak ketahui.
"Sasuke...Ia meminta Cherry untuk menjadi kekasihnya pada hari terakhir pembuatan mv tersebut. Secara tanpa sengaja aku memang melihat saat Sasuke meminta Cherry menjadi kekasihnya. Namun, aku merasa janggal dengan sikap Sasuke yang terkesan tiba-tiba seperti itu. Setahuku, gadis yang selama ini ia cintai adalah dirimu." Terang Naruto kepada Hinata. Sapphirenya menatap intens ke arah Hinata yang masih saja bersikap dingin namun air mata masih tetap mengalir melewati pipi putihnya. Ia tahu jika Hinata masih ingin mendengar kelanjutan ceritanya, maka ia kembali meneruskan kronologi kejadian yang terjadi saat itu.
"Hm, Sasuke menyadari jika aku sudah melihatnya di taman bersama Cherry. Sasuke bermaksud untuk menjauhkan Cherry dariku, ia memintaku untuk berpacaran denganmu dan berjanji tidak akan bertindak macam-macam terhadap Cherry." Ucap Naruto lagi melanjutkan perkataannya. Sungguh hatinya benar-benar tidak tega melihat keadaan kekasihnya saat ini. Ingin sekali ia merengkuh Hinata ke dalam pelukannya saat ini, namun pasti tentu saja gadis itu akan menolak.
"Jadi begitu rupanya. Ternyata semua ini hanyalah sandiwara yang kalian lakukan terhadapku dan juga Cherry! Hm, bagus sekali! Sandiwara kalian benar-benar sukses tanpa celah sedikit pun!" Ucap Hinata sinis, amethystnya menatap tajam ke arah Naruto.
"Ku mohon dengarkan dulu ceritaku sampai selesai, Hinata." Ucap Naruto memohon pengertian Hinata. Tangannya berusaha untuk menggapai kedua pundak mungil Hinata, namun Hinata terlebih dahulu menepisnya.
"Sudah Naruto-kun. Cukup! Jangan semakin membuatku menjadi salah paham dengan semua sikapmu ini. Kita akhiri saja semua sandiwara ini!" Ucap Hinata lirih menatap sendu ke arah Naruto.
"Hina-..."
"Cukup!" Ucap Hinata pelan sambil mengangkat sebelah tangannya ke arah Naruto, seolah meminta Naruto untuk berhenti berbicara. "Aku tidak mau mendengar apa pun lagi darimu." Ucap Hinata lagi sebelum akhirnya beranjak pergi meninggalkan Naruto yang tampak begitu frustasi dengan sikap Hinata yang kecewa kepadanya. Sikap dingin gadis itu lebih terasa menyakitkan dibandingkan dengan sikap emosi yang ditunjukkan oleh gadis itu.
"Aaaarrrgghhh...Brengsek kau Sasuke!" Naruto menggeram kesal sambil memukul-mukul tembok di belakangnya. Ia sama sekali tidak peduli jika saat ini tangannya terasa perih akibat luka yang ditimbulkan saat memukul tembok. "Memang seharusnya sejak awal aku tak menyetujui permintaannya itu. Bodoh...kau benar-benar orang yang paling bodoh, Namikaze Naruto!" Makinya kepada dirinya sendiri.
Hinata kini terus berjalan dalam diam menuju ke arah lobi kantor, pandangan matanya terlihat begitu kosong dengan ekspresi wajah yang sangat datar. Tubuhnya terlihat begitu lemah dan tak berdaya. Sepertinya ia harus meralat kembali ucapannya tadi pagi. Hari ini benar-benar hari yang sangat memprihatinkan bagi dirinya. Sungguh ia tak menyangka jika pemuda blonde itu selama ini hanya berpura-pura untuk mencintainya saja. Seharusnya ia bisa lebih peka dan menyadari jika Naruto sedari dulu tak pernah bisa untuk melihat ke arahnya dan menganggap keberadaannya. Seharusnya ia curiga, saat Naruto tiba-tiba saja memintanya untuk menjadi kekasihnya. Kenapa, kenapa ia begitu mudah untuk dibodohi oleh seorang Uzumaki Naruto?! Apakah karena perasaan cintanya yang begitu besar pada pemuda itu, sehingga ia sama sekali dibutakan oleh perasaannya sendiri. Merasa begitu bahagia saat pemuda itu pada akhirnya menyambut cinta yang selama ini ia pendam di dalam hatinya. Entahlah sungguh Hinata tidak tahu, saat ini ia sama sekali tak mampu untuk berpikir jernih.
.
.
.
"Hinata..." Ucap seseorang yang kini tengah berdiri di hadapan Hinata. Merasa ada seseorang yang memanggil namanya, Hinata pun tersadar dari lamunannya. Pandangannya ia alihkan ke arah orang yang berada di hadapannya. Amethystnya sedikit menegang tatkala menyadari jika orang yang kini berdiri di hadapannya adalah orang yang telah membuatnya sakit hati dengan semua kebohongannya. Hm, orang itu adalah Sasuke, sang putra bungsu Uchiha. Hinata mengepalkan tangan-tangannya kuat, berusaha untuk menyalurkan emosi yang terasa membuncah saat ini.
.
.
.
Plakkk
Tangan putih nan mungil itu dengan sukses mendarat pada pipi kiri Sasuke, menyebabkan pipi kiri sang Uchiha bungsu tersebut terlihat sedikit memar kemerahan. Amethystnya tampak berkaca-kaca dengan memantulkan sorot kebencian dan suatu rasa kekecewaan yang begitu mendalam kepada sahabat ravennya itu. Rahang gadis itu yang biasanya terlihat begitu lembut kini berubah menjadi keras karena merasa geram dengan pemuda yang berdiri di hadapannya itu. Sementara Sasuke hanya bisa diam terpaku, merasa terkejut dengan tindakan Hinata yang tiba-tiba menamparnya saat ia baru saja tiba di lobi kantor Namikaze Entertainment.
"Hinata, ada apa denganmu?" Ucap Sasuke pelan saat ia telah mengalihkan pandangannya pada Hinata.
"Jangan berpura-pura tidak tahu UCHIHA SASUKE!" Teriak Hinata emosi, iris putihnya menatap tajam ke dalam onyx milik Sasuke.
"..." Sasuke hanya terus terdiam sambil menaikkan sebelah alisnya karena merasa heran dengan sikap Hinata yang terlihat begitu emosi.
"Ich, tak ku sangka jika seorang Uchiha Sasuke yang ku kenal selama ini ternyata adalah seorang pria yang berhati busuk dan licik!" Ucap Hinata menyeringai ke arah Sasuke seolah mengejek pemuda Uchiha itu. "Kau tahu apa kesalahanmu, Hah?! Kau pikir dengan melakukan semua kebohongan ini aku akan merasa bahagia, begitu?!" Ucap Hinata lagi emosi, berusaha memojokkan sang Uchiha bungsu yang tampaknya kini sudah mulai memahami maksud perkataannya.
Deg
"Kau...mengetahuinya?" Tanya Sasuke terkejut, ia mengepalkan jari-jarinya kuat, mencoba menahan emosinya tatkala ia menyadari jika gadis indigo di hadapannya ini telah mengetahui kebohongan yang telah dilakukannya.
"Kau terkejut? Kau benar-benar bodoh, Uchiha Sasuke!" Maki Hinata lagi. "Apa kau tidak pernah berpikir jika semua kepura-puraan ini hanya akan memberikan luka kepada kita berempat?! Apa kau pikir aku adalah seorang gadis lemah yang tak bisa mendapatkan pemuda yang dicintainya, sampai-sampai kau mengasihaniku seperti ini?" Ucap Hinata lirih menampilkan wajahnya yang terlihat sendu kepada Sasuke. Butiran air mata turun dengan mulus mengalir melewati pipi gadis indigo tersebut. Tatapan emosi yang sedari tadi ia layangkan kepada Sasuke kini tergantikan oleh tatapan kesedihan dan juga ketidakberdayaan.
Hiks hiks hiks
"Apa aku benar-benar terlihat menyedihkan sekali di mata kalian, sampai-sampai kalian harus mengasihaniku seperti ini...hiks...hiks...hiks...?" Ucap Hinata lemah.
-TBC-
Balasan Review
estusetyo paweling: Hm, kebetulan adik saya punya penyakit itu, dan rasanya memang benar-benar menyakitkan. Memang tidak bahaya kalau terjadinya di rumah seperti Sasuke ini, hehehe...^_^ Berhubung Sasukenya masih dalam keadaan sakit dan lemah...jadi dia pingsan karena tidak kuat menahan rasa sakit kepala yang teramat sangat itu. Nanti saya nangis kalau Sasukenya wafat...hehehe...yang pasti fic ini akan berakhir happy ending. Arigatou sudah membaca fic ini...semoga chapter ini suka yah ^_^
parinza ananda 9: Siappp...maaf update lama...semoga suka dengan chapter ini...Arigatou ^_^
haruchan: Hehehe...#garuk-garuk kepala#...iya buat tulisannya saya memang bisa, tapi idenya saya gak punya...^_^ Ok, saya akan semangat...Arigatou.
De Chan: Hehe iyah OOC sekali yah Sasukenya...tapi saya suka Sasuke yang seperti itu...^_^...Arigatou De Chan...semoga chapter ini gak membosankan yah.
Lucy Hinata: Wahh Senpai jangan suka merendah seperti itu...Saya masih perlu banyak belajar dan mengembangkan ide...hehehe...^_^ Arigatou Senpai sudah membaca fic ini, saya tunggu yah Surgeon Love nya...^_^
Chi-chan Najiyah: Siap...Makasih buat semangatnya ^_^ Semoga suka dengan chapter ini yah...^_^
Febri Feven: Ok ini udha lanjut kok, Arigatou ^_^ ...Semoga chapter ini gak mengecewakan yah...^_^
Rachel-Chan Uchiharuno Hime: Salam kenal juga...Iya gak apa-apa kok...^_^ Saya sudah merasa senang karena Rachel-Chan sudah mau menyempatkan membaca fic ini...hehehe Arigatou...semoga chapter ini juga suka...^_^
marukocan: Maaf gak bisa update cepat...Siaapp pasti Saku maafin Sasu kok...Arigatou sudah membaca fic ini...^_^
Anisha Ryuzaki: Arigatou...^_^...Maaf saya tidak bisa update cepat...tapi semoga suka dengan chapter ini.
hanazono yuri: Siippp...maaf update lama...hehehe...Semoga suka dengan chapter ini...Arigatou...^_^
Hanna Hoshiko: Hehehe...Sasu-chan memang ngebuat greget yah...^_^ Arigatou sudah membaca fic ini...semoga chapter ini juga suka.
Eysha CherryBlossom: Hehehe...maaf saya lupa Senpai ^_^...Arigatou untuk koreksinya, saya akan lebih memperhatikannya...Jangan bosan-bosan untuk mengoreksi yah Senpai...mohon bantuannya...^_^
ntika blossom: Hehehe...iya Sasuke kena karma karena dia tidak bisa menghargai dan menjaga perasaan dan hati seorang perempuan. Arigatou sudah membaca fic ini...^_^
AoStraw: Siap Senpai, makasih banyak buat masukkannya. Arigatou sudah menyempatkan membaca fic ini...Semoga masih berkenan untuk mengoreksi lagi kekurangan saya di chapter ini...^_^...mohon bantuannya...
yuriski suryani: Um iya iya...siap laksanakan...hehehe...^_^ Arigatou. Semoga chapter ini sesuai dengan harapan yuriski-san.
Guest: Hm, Iya sebenarnya interaksi SasuHina itu memang tidak ada di manganya. Tapi entah mengapa saat saya mulai membaca cerita fanfiction, banyak cerita dengan pairing SasuHina...Hm, rasanya itu...sangat menyesakkan.. Sejujurnya saya hanya suka pairing SasuSaku dan NaruHina, dan jika pairing ini dibalikkan rasanya sangat tidak rela...#sakit hati#...Nah, alasannya memilih Hinata sebagai pihak ketiga adalah karena feel sakit hatinya sungguh sangat terasa buat saya pribadi...hehehe...^_^...Tapi saya benar-benar tidak bermaksud untuk membashing chara disini kok...Yang pasti saya akan menyatukan SasuSaku dan NaruHina di fic ini...^_^ ...Arigatou...
ongkitang: Arigatou...^_^...semoga chapter ini juga suka yahh...hehe
piscesaurus: Syukurlah...#menghela napas lega#...Semoga kali ini juga gak bosan yah Senpai ^_^...Arigatou...
Gilang 363: Sabar sabar Senpai...#ngelus-ngelus punggung Gilang-san#...semua chara di anime Naruto itu memang semuanya pada kuat kok, masing-masing kan punya jurus yang menjadi kelebihan mereka masing-masing. Saya setuju kok, Hinata bukan gadis yang lemah, dia itu gadis yang kuat dan mempunyai tekad yang besar untuk melindungi orang-orang yang dia sayangi...^_^...Hm, pokoknya anggap saja kata-katanya sebagai angin lalu...hehehe...#padahal saya sendiri murung karena flamenya#...Arigatou Senpai...#maaf juga Senpai, karena fic saya ini jadi ada orang yang menghina Hinata, tapi saya benar-benar tidak bermaksud untuk membuat Hinata menjadi dijelek-jelekkan seperti itu# Gomen...Hountou ni gomennasai...
CherrySand1: Salam kenal juga, maaf gak bisa cepat update, saya lagi buntu ide hehehe...rasanya chapter ini semakin aneh saja...tapi semoga suka yah ^_^ Arigatou...
Maaf lama update, saya benar-benar tidak punya ide untuk membuat chapter ini...
Sama seperti biasanya, chapter ini juga sangat begitu sederhana dan pasaran. Tapi semoga kalian semua suka. Jujur saya katakan, semua review kalian memberikan saya semangat yang luar biasa untuk menulis chapter ini...^_^
Terima kasih kepada para readers, reviewers, followers, favoriters, dan silent readers yang sudah berkenan untuk membaca fic ini...Kalian adalah penyemangat bagi saya untuk terus melanjutkan fic abal ini...Hm, Arigatou Minna-san...^_^
Sekali lagi jika kalian berkenan, maukah kalian memberikan review?
