Saya masih newbie disini, setelah sekian lama menjadi silent reader akhirnya saya mencoba untuk membuat sebuah fanfic.
Ini fanfic pertama saya, ceritanya agak pasaran juga ^_^, dan maaf kalau ada kesalahan penulisan dan lain-lain.
Semoga kalian suka...
Disclaimer : Masashi Kishimoto dengan semua chara-chara dalam anime Naruto
WARNING : OOC, typo, cerita gaje, alur kecepatan dll.
Summary : 'Tidak perlu mengelak Uchiha Sasuke! Aku tahu, aku adalah gadis yang lemah! Sejak dulu aku memang selalu mengandalkan dirimu dan juga Naruto!/Kami-sama, mengapa kau rebut semua kebahagiaan ini di saat aku telah benar-benar menerima Hinata seutuhnya./Hn. Berjuanglah untuk mendapatkan hatinya lagi!/Aku pun akan berjuang untuk mendapatkan kembali cinta sejatiku./Karena kau adalah satu-satunya gadis yang hanya tercipta untuk mendampingiku sampai kapan pun'
Author by : Hikaru Sora 14
Sebelumnya saya ucapkan terima kasih kepada kalian semua yang telah membaca serta me-review, mem-follow dan mem-fav kan fic ini ^_^ Tanpa kalian fic ini tidak akan berarti apa-apa
Please Enjoy Reading
Don't Like Don't Read
Flashback On
Cahaya lemah yang berasal dari sang raja siang yang kini masih berada di bawah garis horizontal itu, menunjukkan bahwa hari kini telah menjelang fajar. Kabut putih tipis kini tampak menyelimuti langit fajar yang masih terlihat gelap. Semilir angin segar berhembus pelan menyeruak ke seluruh penjuru kota Tokyo, memberikan sensasi rasa dingin nan menyejukkan bagi sebagian orang yang kini sudah memulai aktivitasnya mendahului sang mentari. Namun, tentu saja berbeda dengan sebagian orang lainnya yang saat ini masih bergelung dengan nyaman di atas ranjang empuk dan selimut tebal mereka karena merasa tidak tahan dengan udara dingin di luar sana yang terasa begitu menusuk ke dalam permukaan kulit.
Suasana di dalam rumah sakit Konoha pun tampaknya masih terlihat sepi, hanya terlihat beberapa petugas juru masak rumah sakit yang kini tengah sibuk memasak bahan-bahan makanan dan mempersiapkan hidangan sarapan pagi bagi para pasien penghuni rumah sakit, dan juga beberapa petugas kebersihan rumah sakit yang kini tengah sibuk mengepel lantai lorong-lorong rumah sakit dan menyapu halaman taman rumah sakit yang dipenuhi oleh daun-daun yang berguguran dari pohon-pohon rindang yang terdapat di taman itu.
Seorang pemuda berperawakan tinggi kekar, berkulit putih bersih dan bersurai raven, bernama Uchiha Sasuke itu, kini tampak sedang melipat baju pasiennya di sebuah sofa yang terdapat di dalam ruang rawatnya, setelah sebelumnya ia selesai membersihkan tubuhnya di kamar mandi rumah sakit. Perlahan ia beranjak dari sofa dengan membawa baju pasien yang sudah dilipatnya rapi untuk kemudian diletakkan di atas bantal pada ranjang pasien. Onyxnya menatap ke arah sebrang ranjang pasien, di mana kini terlihat sang kakak yang masih tertidur dengan menumpukan kedua tangannya sebagai bantalan kepalanya pada sisi ranjang pasien. Sasuke tahu jika semalam Kaa-san dan Tou-sannya meminta Itachi untuk menjaganya di rumah sakit, sementara mereka akan pulang untuk menghandle urusan bisnis Itachi di Osaka hari ini.
Wajah Itachi terlihat begitu kelelahan, maklum saja karena sejak dua hari kemarin ia tidak bisa beristirahat dengan baik, karena sibuk dengan urusan pekerjaannya di Osaka dan juga kini ia harus terlibat dalam membantu urusan Sasuke. Melihat keadaan Itachi tentu saja membuat Sasuke sedikit merasa bersalah dengan kakaknya ini, sehingga ia memutuskan untuk menyelesaikan urusannya sendiri tanpa bantuan Itachi, meskipun semalam Itachi telah berkata dengan senang hati akan selalu membantunya untuk kembali mendapatkan hati Sakura.
Sasuke melangkahkan kaki kekarnya menuju ke arah meja yang terdapat di samping Itachi untuk mengambil jaket kulit hitam, topi, kacamata hitam dan smartphone miliknya serta kunci mobil milik kakaknya. Sasuke bermaksud untuk kabur dari rumah sakit tanpa sepengetahuan kakaknya itu, untuk pergi kembali menemui Sakura dan berusaha untuk meminta maaf padanya sekali lagi.
.
.
.
Kini Sasuke sudah berada di depan gerbang kediaman Yamanaka, tepat di tempat semalam ia dan kakaknya menunggu kedatangan Sakura. Kini waktu menunjukkan pukul 6 pagi, itu artinya ia sudah menunggu selama satu jam di sana. Masih ada waktu satu jam lagi sebelum Sakura keluar dari kediaman Yamanaka untuk pergi bekerja. Sasuke sama sekali tidak tahu apa jadwal pekerjaan Sakura hari ini, sehingga ia memutuskan untuk membuntuti sang gadis musim semi itu secara diam-diam dan mencari saat yang tepat untuk menemui Sakura.
Satu jam yang tersisa ini terasa begitu lama bagi Sasuke yang kini hanya diam membisu dalam keheningan, namun tidak dengan pikirannya yang terasa begitu kalut memikirkan seribu satu cara untuk memperoleh kata maaf dari Sakura.
.
.
.
Terlihat sebuah mobil volvo hitam keluar dari kediaman Yamanaka, yang Sasuke ketahui sebagai mobil milik kekasih Ino Yamanaka, Shimura Sai. Sasuke tahu jika Sakura selalu pergi dan pulang bersama Ino dan Sai, karena mereka berdua berperan sebagai sahabat sekaligus manager bagi Sakura. Tak ingin kehilangan jejak Sakura, Sasuke mulai menstarter mobilnya-ah, lebih tepatnya mobil milik kakaknya-dan bergegas melajukan mobilnya untuk mengikuti mobil Sai dari belakang.
Melihat arah jalan yang di ambil oleh mobil di depannya, Sasuke tahu bahwa tujuan mereka adalah kantor Namikaze Entertainment. Biasanya butuh waktu satu jam bagi mereka untuk sampai di kantor Namikaze Entertainment, namun karena jalanan kota Tokyo pagi ini tak begitu padat, mereka tiba sepuluh menit lebih awal dari waktu biasanya.
"Sakura, maaf kami tak bisa menemanimu. Aku harus menyelesaikan pemotretanku dulu yang masih tertunda, kau tidak keberatan kan?" Ucap Ino menyesal kepada Sakura yang kini sudah keluar dari mobil dan tengah berdiri di hadapannya.
"Hm, tentu saja tidak apa-apa Ino." Ucap Sakura tersenyum maklum. "Pergilah! Jangan sampai kalian terlambat. Aku masuk dulu! Jaa-ne." Ucap Sakura pamit diri kepada Ino dan Sai. Namun, sebelum benar-benar pergi meninggalkan Ino dan Sai, Sakura kembali membalikkan tubuhnya ke arah Ino dan Sai. "Ah, aku lupa! Nanti kalian tidak perlu menjemputku ya, aku sudah memiliki janji dengan seseorang." Ucap Sakura sambil tersenyum manis, menampilkan kedua lesung pipinya yang cantik. Ino dan Sai hanya menganggukkan kepala mereka dan tersenyum simpul, pertanda mereka menyetujui ucapan Sakura.
Sakura kemudian melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam gedung kantor Namikaze Entertainment, sementara Ino dan Sai kini sudah melesatkan mobilnya keluar dari halaman parkir Namikaze Entertainment menuju ke kantor Yamanaka Entertainment.
Sasuke yang sedari tadi menunggu kepergian Ino dan Sai di dalam mobilnya, kini mulai mempersiapkan dirinya untuk menyusul Sakura ke dalam gedung kantor Namikaze Entertainment. Menghela napasnya pelan, Sasuke berusaha untuk menenangkan pikiran serta hatinya. 'Kali ini aku tidak boleh gagal! Kau harus bisa Uchiha Sasuke! Berjuanglah!' Innernya menyemangati.
Sasuke melangkahkan kakinya menuju ke lobi kantor Namikaze Entertainment. Namun, baru beberapa langkah ia menginjakkan kakinya di lobi kantor, onyxnya menangkap sosok gadis indigo yang saat ini tengah berjalan berlawanan arah dengannya. Gadis itu menatap ke arahnya, namun Sasuke tahu jika pandangan amethyst milik gadis itu tampak kosong. Akhirnya Sasuke berusaha untuk menyadarkan gadis itu dengan cara memanggil namanya. Sasuke sama sekali tak menyangka jika reaksi yang diberikan oleh Hinata begitu diluar dugaannya. Putri sulung Hyuuga itu tiba-tiba saja menampar pipinya tanpa ia ketahui alasannya. Keterkejutan Sasuke tidak berhenti di situ saja, rupanya Hinata menamparnya karena Hinata sudah tahu dengan semua kenyataan tentang kebohongan yang telah ia lakukan selama ini.
Flashback Off
"Apa aku benar-benar terlihat menyedihkan sekali di mata kalian, sampai-sampai kalian harus mengasihaniku seperti ini...hiks...hiks...hiks...?" Ucap Hinata lemah.
Sasuke tercengang mendengar ucapan sang putri sulung Hyuuga itu, sungguh ia tak pernah berpikiran seperti itu selama ini pada Hinata. Selama ini ia hanya ingin melindungi dan melihat gadis itu bahagia saja, apakah hal seperti itu bisa dikatakan termasuk sikap yang mengasihani?! Bukankah rasa kasih sayang dan rasa mengasihani itu berbeda?! Hah~...entahlah Sasuke tak tahu mengapa Hinata bisa berpikiran seperti itu.
"Maaf Hinata, aku sama sekali tidak pernah bermaksud seperti itu! Sungguh, aku...dulu aku...Aaarrgghhh...! Bagaimana untuk menjelaskan semua ini padamu!" Teriak Sasuke sambil menjambak surai ravennya dengan kedua tangannya, merasa frustasi dan bingung untuk memberi penjelasan kepada Hinata yang saat ini tengah menatap tak berdaya ke arahnya.
"Tidak perlu mengelak Uchiha Sasuke! Aku tahu, aku adalah gadis yang lemah! Sejak dulu aku memang selalu mengandalkan dirimu dan juga Naruto!" Hinata menatap sendu ke arah Sasuke, amethystnya menyiratkan suatu kepedihan yang luar biasa dalam. "Tapi, meskipun keadaanku seperti ini. Aku rasa kalian tak pernah berhak untuk MENGASIHANIKU SEPERTI INI!" Teriak Hinata kembali meluapkan emosinya. Kembali bulir-bulir air mata jatuh membasahi kedua pipinya.
Sasuke hanya kembali berpuas diri menelan semua makian demi makian yang dilayangkan oleh gadis indigo itu. Ia tahu bahwa untuk mendapatkan kata maaf dari Sakura dan juga Hinata tidaklah mudah. Oleh karena itu, seperti apapun makian yang mereka berikan pada dirinya, ia akan terima dengan hati yang terbuka meskipun pada kenyataannya itu terasa begitu menyakitkan. Menghela napasnya pelan, Sasuke berusaha untuk sedikit membebaskan beban yang terasa begitu berat di hatinya.
"Hinata...Aku tahu jika aku sudah melakukan sebuah kesalahan yang begitu fatal. Tentu saja kau berhak untuk marah, bahkan membenciku pun tidak apa-apa jika kau bisa merasa lebih baik dengan hal itu." Sasuke menatap lembut iris putih di hadapannya dan tersenyum tulus. "Tapi, satu hal yang perlu kau ketahui. Aku dan Naruto sama sekali tidak pernah berpikiran bahwa kau adalah gadis yang lemah. Kami tidak pernah sekalipun berpikir untuk mengasihanimu." Ucap Sasuke tenang sambil meletakkan kedua tangannya pada kedua pundak mungil Hinata, mencoba untuk meminta pengertian Hinata.
"Ich, omong kosong! Tidak perlu berusaha untuk membesarkan hatiku Sasuke!" Ucap Hinata menepis kedua tangan Sasuke dan menyeringai sinis.
"Hn, aku tahu saat ini berbicara seperti apapun percuma saja karena kau tidak akan pernah mempercayai ucapanku." Ucap Sasuke memaklumi sikap Hinata.
"Bersyukurlah karena kau mengerti akan hal itu!" Ucap Hinata angkuh.
"Hn. Tapi, aku perlu menegaskan beberapa hal kepadamu!" Ucap Sasuke sambil berjalan perlahan mendekati Hinata, dan berdiri tepat di samping gadis itu. Sementara Hinata hanya terdiam, menunggu pemuda raven itu untuk melanjutkan perkataannya. "Selama ini aku keliru dengan perasaanku padamu. Tenang saja, kali ini aku tidak memiliki perasaan apapun lagi terhadapmu, Hinata. Aku sudah mulai menemukan gadis lain yang benar-benar aku cintai. Kini aku benar-benar tidak berbohong jika aku telah jatuh cinta kepada Cherry. Lalu masalah Naruto, kau tidak perlu menyalahkannya karena aku yang melibatkannya dalam permainan ini. Jadi...maafkanlah dia." Ucap Sasuke pelan seperti berbisik, namun tentu saja masih dapat terdengar dengan sangat jelas oleh telinga Hinata. Perlahan ia berjalan menjauhi Hinata dengan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya, Sasuke pergi tanpa ingin mengetahui tanggapan gadis itu terhadap perkataannya. Bukannya ia tak memiliki rasa bersalah terhadap Hinata dengan meninggalkan gadis itu seorang diri, seolah dirinya tampak seperti seorang pengecut yang berusaha menghindari tanggung jawab atas masalah yang dibuatnya. Namun, sungguh ia tak bisa lagi memprediksikan bagaimana sikap Hinata nantinya jika ia berbicara lebih jauh lagi untuk menjelaskan semuanya.
Sementara Hinata kini hanya terdiam merenung memikirkan perkataan Sasuke. 'Memaafkannya, eh?! Kau pikir semudah itu, Sasuke?! Meskipun kau yang melibatkannya dalam permainanmu, tetap saja Naruto menerima semua permintaanmu! Memang kau yang secara tidak langsung menyakiti perasaanku, tapi Naruto...maaf saja, dia sudah terlalu banyak memberikan harapan kosong terhadapku selama ini!' Ucap Hinata di dalam hatinya. Sungguh hari ini terasa begitu luar biasa baginya, ya luar biasa terasa begitu menyakitkan. Hah~...sungguh hatinya terasa begitu sesak, pikirannya pun tak bisa berpikir dengan jernih. Rasanya gadis indigo itu perlu mengistirahatkan dirinya sejenak di rumah. Perlahan ia mulai melanjutkan langkah kakinya untuk keluar dari lobi kantor Namikaze Entertainment, ia tak ingin berlama-lama berada di sana yang bisa saja memungkinkan Naruto untuk menyusul dirinya dan mencegahnya untuk pergi.
.
.
.
"Hei Itachi-kun, bangunlah!" Ucap Konan sambil mengguncang-guncangkan tubuh Itachi pelan, berusaha untuk membangunkan sang kekasih yang kini tengah tertidur di samping ranjang pasien.
"Engghh~..." Lengguh Itachi akhirnya, namun sepertinya Itachi tak menunjukkan tanda-tanda akan bangun dari tidurnya.
"Sepertinya dia kelelahan." Konan tersenyum maklum ke arah kekasihnya yang masih terlelap. Perlahan ia arahkan tangan mulusnya untuk mengusap lembut surai hitam panjang milik kekasihnya itu. "Hm, terpaksa aku harus membangunkannya dengan cara seperti biasanya." Ucap Konan tersenyum malu, dengan semburat merah tipis di kedua pipinya. Perlahan ia merendahkan tubuhnya dan mendekatkan wajahnya ke arah wajah kekasihnya itu. Bibir mungilnya dengan sukses menempel pada permukaan bibir tegas milik Itachi, dan mengecupnya lembut penuh perasaan. Itachi yang merasakan pergerakan benda lembut nan basah pada bibirnya yang terasa begitu familiar, akhirnya membuka perlahan onyx hitamnya yang begitu menawan. Dilihatnya kini sang bidadari hatinya tengah mencumbu mesra bibir miliknya. Seperti kebiasaan dirinya sebelumnya, saat Konan membangunkannya dengan cara seperti ini, Itachi pasti akan menyelinapkan tangannya ke belakang tengkuk Konan untuk memperdalam ciuman mereka. Kemudian Itachi akan mendominasi dalam ciuman mereka sampai Konan merasakan kelelahan karena kekurangan pasokan oksigen.
"Hah...hah...Kau sudah sadar sepenuhnya Itachi-kun?" Tanya Konan terengah-engah, mencoba untuk menstabilkan pernapasannya.
Itachi tersenyum manis kepada Konan, kini ia menarik Konan yang masih berdiri di hadapannya ke dalam pelukannya. Ia sandarkan kepalanya pada perut rata milik gadis itu, sementara Konan memeluk dengan hangat kepala sang kekasih dan tersenyum kecil.
"Mau sampai kapan kau bermanja-manja seperti ini, Itachi-kun?" Tanya Konan sambil menepuk-nepuk pelan pucuk kepala kekasihnya.
"Hn. Aku masih sedikit mengantuk, Hime. Biarkan seperti ini dulu." Jawab Itachi pelan.
"Hm, baiklah aku tidak masalah. Tapi, apakah kau tidak merasakan suatu kejanggalan di sini, Ne Itachi-kun?!" Tanya Konan lagi. Itachi yang mendengarkan perkataan Konan langsung mendongakkan wajahnya ke atas, menatap iris lembut kekasihnya itu. Itachi menaikkan sebelah alisnya, pertanda ia tidak mengerti dengan apa yang diucapkan oleh Konan. Konan hanya terkekeh geli dengan reaksi Itachi, tanpa banyak bicara lagi Konan mengarahkan telunjuk kanannya ke arah ranjang pasien yang kini tampak kosong. Pandangan Itachi mengikuti ke arah mana telunjuk sang kekasih tertuju. Onyxnya membulat tatkala ia tak mendapati Sasuke di atas ranjang pasien, segera ia alihkan pandangannya ke arah meja di belakang Konan yang kini tampak kosong.
"Oh, Shit! Si bodoh itu pergi dan menggunakan mobilku! Apa dia itu tidak bisa bersabar sedikit saja untuk bertemu dengan Cherry dan menunggu sampai kondisinya pulih." Ucap Itachi kesal sambil menggebrak keras ranjang pasien di sampingnya, setelah sebelumnya ia beranjak dari kursi yang didudukinya.
"Sudah-sudah Itachi-kun, jangan emosi seperti itu! Tenangkan dirimu!" Ucap Konan sambil mengelus lembut punggung tegap Itachi, berusaha untuk menenangkan sang putra sulung Uchiha.
"Bagaimana aku bisa tenang, Konan! Jika terjadi sesuatu lagi dengan si bodoh itu bagaimana?!" Ucap Itachi khawatir, tak mempedulikan ucapan Konan yang memintanya untuk bersikap tenang. Brother complex, eh?
"Kau ini, sekali-kali percayalah pada Sasuke! Dia itu bukan anak kecil lagi, Itachi-kun!" Ucap Konan sambil memukul pelan punggung lebar Itachi, namun tetap menyebabkan Itachi sedikit meringis kesakitan.
"Tapi Konan, bagaimana ji-..." Ucapan Itachi terpotong oleh Konan.
"Psstt...Jangan banyak bicara lagi! Lebih baik sekarang kita pulang ke rumah!" Ucap Konan tegas. Itachi tahu jika dirinya memang begitu lemah terhadap kekasihnya, Konan. Menghela napasnya pasrah, Itachi menganggukkan kepalanya pelan menyetujui ucapan Konan. Sementara Konan hanya tersenyum simpul melihat sikap Itachi.
.
.
.
Pemuda blonde itu, kini tampak duduk bersandar pada dinding di belakangnya, dengan menyelonjorkan sebelah kakinya ke depan. Kepalanya ia tundukkan, dengan sebelah tangannya menyangga pada lutut kakinya yang ditekuk. Merenung? Ya, sang direktur muda itu kini tengah merenungi semua kejadian yang baru saja terjadi antara dirinya dan Hinata. Ia tak habis pikir, mengapa semua kejadian ini harus terjadi di saat dirinya tengah merasakan kebahagiaan yang benar-benar luar biasa bersama Hinata. 'Kami-sama, mengapa kau rebut semua kebahagiaan ini di saat aku telah benar-benar menerima Hinata seutuhnya.' Batin Naruto mengeluh. Hei, seharusnya kau tidak menyalahkan Kami-sama atas semua hal yang telah terjadi karena kesalahanmu sendiri kan, Naruto?
"Naruto." Sebuah suara baritone yang terasa familiar terdengar berdengung di telinga Naruto. Segera saja Naruto beranjak untuk berdiri dan menghadap ke arah pria yang tadi memanggil namanya.
"Sasuke!" Geram Naruto yang tiba-tiba saja kini sudah mencengkram kuat kerah baju milik Sasuke dan membalikkan tubuh pemuda Uchiha itu untuk bersandar pada dinding di belakangnya.
Sasuke yang mendapat perlakuan seperti itu dari Naruto, hanya bisa bersikap pasrah dan menyiapkan dirinya untuk mendapatkan amukan hebat dari sang pemuda Namikaze. Ia tak akan memberi perlawanan sedikit pun, karena memang ia merasa pantas jika Naruto ingin menghajarnya habis-habisan saat ini. Sasuke tahu jika Naruto pasti sudah terlebih dahulu mendapatkan ledakan emosi dari Hinata.
"BRENGSEK KAU, UCHIHA SASUKE!" Teriak Naruto memaki pemuda Uchiha di hadapannya. Ah, rasanya pendengaran Sasuke sudah mulai kebal dengan kata-kata yang dilayangkan oleh Naruto. Naruto semakin mengeratkan cengkraman tangannya pada kerah baju Sasuke.
"Lakukan saja!" Ucap Sasuke datar saat ia melihat Naruto sudah mengepalkan sebelah tangannya, bersiap untuk melayangkan sebuah pukulan terhadap dirinya.
"Ich, kau menantangku brengsek!" Naruto mendecih kesal. Sapphire milik Naruto menatap tajam ke dalam onyx di hadapannya.
"Hn. Tak perlu banyak bicara! Lakukan saja sesukamu!" Tantang Sasuke datar.
"Hm, menarik! Aku tak akan segan-segan, jika kau yang memintanya." Ucap Naruto menyeringai sinis. Perlahan ia arahkan sebelah tangannya yang kini sudah terkepal kuat ke arah wajah Sasuke.
BUUUGGHH
.
.
.
Sasuke membelalakan matanya terkejut dengan aksi yang dilakukan oleh pemuda Namikaze itu. Tinjuan sang direktur muda itu tidak mengenai dirinya, melainkan mengarah pada tembok di belakangnya dekat dengan kepalanya. Ia sungguh tak menyangka jika Naruto sedari tadi hanya menggertak dirinya dan sama sekali tak berniat untuk meninju dirinya. Seharusnya pemuda blonde itu memang sudah sepantasnya untuk memukul dirinya dan membalas semua kesalahan yang telah dilakukannya.
"Kau..." Gumam Sasuke pelan.
"Haha...Hahaha...Hahaha..." Naruto tiba-tiba tertawa keras tanpa alasan yang jelas, setelah sebelumnya ia melepaskan cengkraman tangannya pada kerah baju Sasuke. Sementara Sasuke mengernyitkan dahinya merasa heran dengan sikap Naruto yang tiba-tiba tertawa seperti itu.
"Entah aku harus merasa marah atau berterima kasih padamu, Teme." Ucap Naruto datar setelah ia menghentikan tawanya.
"Apa maksudmu?!" Tanya Sasuke heran.
"Hm, di satu sisi aku marah denganmu karena kau melibatkanku dalam permainanmu ini, hingga akhirnya Hinata merasa sakit hati setelah mengetahui kenyataan yang sebenarnya." Terang Naruto menjelaskan alasan mengapa dirinya harus merasa marah kepada Sasuke.
"Lalu? Di sisi lain kau ingin berterima kasih padaku karena kau sudah bisa terlepas dari Hinata, begitu?!" Ucap Sasuke datar, mencoba untuk menerka jawaban yang akan diberikan Naruto selanjutnya.
"Cih, sepertinya kau tak pernah bisa berpikiran positif tentangku, Teme!" Maki Naruto kesal dengan perkataan Sasuke.
"Hn. Aku hanya menebak jalan pikiranmu saja, Dobe. Bukankah sejak awal kau memang tidak pernah mencintai Hinata." Ucap Sasuke menatap serius wajah Naruto di hadapannya.
"Kau salah, Teme! Aku sudah mulai bisa menerimanya dan mencintainya. Oleh karena itu, di sisi lain aku merasa berterima kasih kepadamu, karena dengan keterlibatanku dalam permainan ini aku jadi menyadari jika Hinata adalah satu-satunya gadis sempurna yang bisa melengkapi hidupku seutuhnya." Ucap Naruto sambil tersenyum lembut tatkala dirinya mengingat kembali saat-saat kebersamaannya yang terasa begitu indah dengan Hinata. Ah, kapan mereka bisa mengukir kembali moment-moment berharga seperti itu lagi? Entahlah, kita berharap saja jika mereka akan segera menemukan jalan keluar untuk kembali bersama-sama lagi, Ne?
"Hn. Berjuanglah untuk mendapatkan hatinya lagi!" Ucap Sasuke tersenyum tipis sambil menepuk pelan pundak Naruto.
"Teme? Kau?" Sapphire Naruto membulat tatkala pemuda raven itu secara tidak langsung menyatakan bahwa dirinya sudah tidak memiliki perasaan apapun terhadap Hinata.
"Hn. Aku pun akan berjuang untuk mendapatkan kembali cinta sejatiku." Ucap Sasuke tersenyum tulus dan wajahnya sedikit menyiratkan kebahagiaan yang sama dengan Naruto tatkala Naruto memikirkan Hinata, namun tentu saja berbeda karena gadis yang dibayangkannya adalah Sakura, sang gadis musim semi. Naruto mengerti jika Sasuke juga sudah jatuh ke dalam permainannya sendiri. Ya, Sasuke sudah jatuh cinta kepada sang gadis musim semi itu, dan Naruto begitu bersyukur karena dirinya dan Sasuke sudah sama-sama menemukan cinta sejati mereka. Meskipun hubungan mereka di awali dengan cara yang salah, namun mereka tak bisa memungkiri jika sandiwara inilah yang telah mengubah pandangan dan perasaan mereka terhadap pasangannya masing-masing. Kini mereka harus berjuang dari awal lagi untuk kembali meraih hati sang pujaan hati, namun meskipun begitu mereka akan tetap berusaha untuk tidak menyerah demi mendapatkan kembali kebahagiaan mereka.
"Hm, ayo kita berjuang bersama-sama Teme!" Ucap Naruto sambil tersenyum tipis, sapphirenya menyorotkan sebuah cahaya keyakinan yang begitu besar.
"Hn." Sasuke juga turut menampilkan senyum tipisnya yang begitu menawan.
Mereka pun beradu tinju kepalan tangan, seolah masing-masing dari mereka mencoba untuk mengalirkan semangat dan keberanian untuk sama-sama berjuang meraih cinta mereka kembali. Pada akhirnya mereka pun tertawa bersama, berusaha memecah suasana yang terasa begitu menegangkan beberapa saat yang lalu. Hm, kalian pasti bisa! Ayo semangat Sasuke, Naruto!
"Lalu, hari ini kau bermaksud untuk menunggu dan menemui Cherry selesai rekaman, Teme?" Tanya Naruto kemudian.
"Hn. Aku akan mencoba meminta maaf padanya sekali lagi dan memberi penjelasan padanya tentang perasaanku yang sebenarnya." Terang Sasuke.
"Kalau begitu, aku pun akan menyusul Hinata ke rumahnya setelah aku membereskan semua pekerjaanku hari ini." Ucap Naruto lagi, mengikuti tindakan yang akan dilakukan oleh Sasuke.
"Hn." Tanggap Sasuke menyetujui ucapan Naruto.
"Kau mau menunggu Cherry di sini atau ikut bersamaku ke ruanganku dan menunggunya di sana?" Tawar Naruto kepada Sasuke.
"Hn. Tak perlu. Lebih baik aku menunggu di dalam mobil saja. Cherry pasti akan kembali menghindariku, jika aku menunggu di sini." Tolak Sasuke secara halus terhadap tawaran Naruto.
"Ya sudah. Kalau begitu, aku pergi duluan. Berjuanglah Teme!" Ucap Naruto meninju pelan dada bidang sang Uchiha bungsu dan tersenyum tipis, berusaha memberi semangat kepada Sasuke.
"Hn. Kau juga, Dobe. Berjuanglah!" Ucap Sasuke balas menyemangati pemuda blonde itu.
.
.
.
Terik matahari siang ini terasa begitu panas menyengat permukaan kulit, sungguh berkebalikan dengan udara pagi hari tadi yang terasa begitu sejuk dan dingin. Seorang pemuda raven kini tampak masih setia menunggu kedatangan seseorang di dalam mobilnya yang terparkir di halaman Namikaze Entertainment, sepertinya cuaca panas saat ini tidak menjadi hambatan bagi Sasuke untuk tetap menunggu Sakura di dalam mobil. Meskipun sudah empat jam ia menunggu di sana, namun sepertinya ia tak menampakkan rasa lelahnya sama sekali.
Onyxnya sedikit memicing ke arah lobi kantor Namikaze Entertainment, tatkala ia mendapati sang gadis musim semi yang sedari tadi ditunggunya berdiri di sana. Namun, sepertinya ada seorang pemuda lain yang sudah menjemput gadis itu. Tentu saja Sasuke sudah tahu dengan jelas siapa pemuda tersebut. Pemuda yang sama dengan pemuda yang mengantar Cherry tadi malam ke kediaman Yamanaka, Hyuuga Neji. Sasuke hanya mendecih kesal melihat kembali kedekatan Sakura dan Neji di depannya.
Kini Sakura dan Neji sudah masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya keluar dari halaman Namikaze Entertainment. Sasuke pun bergegas untuk mengikuti mobil Neji dari belakang. Huh, sepertinya hari ini kau menjadi seorang stalker, eh Sasuke?
Beberapa menit kemudian, mobil Neji berhenti di sebuah restoran mewah tak jauh dari perusahaan Namikaze Entertainment. Sasuke pun memberhentikan mobilnya di sana dan turut mengikuti Neji dan Sakura yang telah terlebih dahulu masuk ke dalam restoran. Tentu saja Sasuke tidak lupa untuk mengenakan topi dan kacamata hitamnya agar Sakura dan Neji tidak mengenalinya.
Sakura dan Neji kini sudah duduk di sebuah meja dekat dengan jendela kaca, sementara Sasuke mengambil duduk di sebuah tempat strategis untuk mengamati Sakura dan Neji secara diam-diam.
"Sakura, kau ingin memesan apa?" Tanya Neji kepada Sakura yang saat ini tengah melihat-lihat buku daftar menu makanan dan minuman.
"Hm, Aku pesan sashimi saja Senpai, lalu untuk minumannya aku mau jus strawberry." Jawab Sakura mengucapkan pesanannya.
"Baiklah kalau begitu. Kami pesan satu porsi sashimi dan juga satu porsi beef teriyaki. Untuk minumannya satu gelas jus strawberry dan juga satu gelas jus melon." Ucap Neji kepada seorang waitress yang kini tengah berdiri di sampingnya sambil membawa sebuah pena dan juga buku kecil untuk menuliskan pesanan mereka.
"Apakah ada pesanan yang lainnya, Tuan?" Tanya sang waitress setelah selesai menuliskan pesanan Neji sebelumnya.
"Tidak, itu saja sudah cukup. Terima kasih." Tolak Neji secara halus, sambil menggelengkan pelan kepalanya dan tersenyum tipis, yang tentu saja membuat wajah sang waitress itu menjadi bersemu merah.
"Baiklah, mohon ditunggu sebentar untuk makanan dan minumannya, Tuan. Permisi." Ucap sang waitress itu salah tingkah dan tergesa-gesa pergi meninggalkan meja Neji dan juga Sakura. Neji hanya menaikkan sebelah alisnya merasa heran dengan sikap waitress itu. Sementara Sakura hanya terkikik geli melihat ekspresi Neji yang keheranan.
"Kau tampak populer, Senpai!" Ucap Sakura memuji Neji.
"Apa maksudmu Sakura?!" Tanya Neji tidak mengerti akan ucapan Sakura tersebut.
"Kau tidak lihat waitress tadi menjadi salah tingkah karena melihat senyumanmu, Senpai?" Tanya Sakura sambil menyanggakan wajahnya pada kedua tangannya.
"Hn. Lalu apa masalahmu, Sakura?" Tanya Neji datar seolah tak tertarik dengan ucapan Sakura.
"Ugh~...Kau ini selalu saja bersikap dingin, Senpai!" Ucap Sakura memberenggut kesal dengan sikap Neji. "Itu membuktikan jika kau sangat populer di kalangan para gadis, Senpai!" Ucap Sakura melanjutkan perkataannya.
"Hn. Lalu?"
"Hah~...Kau sama sekali tidak mengerti maksud dari ucapanku barusan ya, Senpai?" Tanya Sakura sambil mendesah lelah menghadapi sikap Neji yang tak juga berubah. "Kau ini sudah menginjak usia 24 tahun, Senpai. Lagipula selama aku mengenalmu, rasanya kau tak pernah sekalipun berkencan dengan seorang gadis. Apa kau tidak pernah memikirkan tentang sebuah pernikahan, eh? Kenapa kau tak berminat untuk mencari seorang pendamping hidup, Ne Senpai?" Tanya Sakura kemudian, mengartikan maksud dari ucapannya. Ia sungguh merasa khawatir jika pemuda yang sudah ia anggap sebagai kakak kandungnya itu, tidak juga memiliki seorang kekasih.
"Hn. Kenapa jadi kau yang repot-repot memikirkan hal itu, Sakura?" Tanya Neji sedikit acuh.
"Tentu saja karena aku merasa peduli padamu, Senpai!" Ucap Sakura sambil memutar kedua bola matanya bosan, merasa gemas dengan sikap sang pemuda Hyuuga.
"Hn. Terima kasih, tapi kau tak perlu merisaukan tentang hal itu! Tenang saja, suatu hari nanti aku pasti akan membawa dan mengenalkan seseorang padamu." Ucap Neji sambil menyeringai tipis.
"Siapa?!" Tanya Sakura merasa terkejut dan penasaran. Bukankah perkataan Neji barusan secara tidak langsung mengungkapkan bahwa Neji memang sudah memiliki kekasih, eh?
"Kau tidak perlu mengetahuinya sekarang, Sakura. Lagipula dia sedang tidak berada di Jepang saat ini." Terang Neji kepada Sakura, iris amethystnya kini menatap ke arah langit dari jendela kaca di sampingnya. Sebuah tatapan kerinduan tampak terpancar dengan jelas dari iris putih pemuda Hyuuga itu. Sakura tahu jika Neji saat ini tengah memikirkan kekasihnya yang berada di tempat yang jauh.
"Permisi Tuan, ini pesanan Anda." Ucap sang waitress sambil menyimpan pesanan Neji dan Sakura ke atas meja makan.
"Hm, Arigatou." Ucap Neji tersenyum tipis. Sang waitress itu pun beranjak pergi meninggalkan Neji dan Sakura.
"Itadakimasu..." Ucap Neji dan Sakura bersamaan, sebelum mereka benar-benar menyantap hidangan makan siang mereka kali ini.
.
.
.
"Permisi Tuan, apa Anda ingin memesan sesuatu?" Tanya seorang waitress kepada Sasuke, yang kini tengah menyembunyikan wajahnya dibalik buku menu restoran.
"Hn. Aku pesan satu gelas jus tomat saja." Ucap Sasuke asal tanpa mempedulikan sang waitress yang kini tengah menatapnya penuh keanehan, kini perhatiannya lebih terfokus pada kedua insan yang kini terlihat tengah menyantap makan siang mereka dengan penuh canda tawa. Hal itu tentu saja membuat hati sang Uchiha bungsu menjadi panas.
"Untuk makanannya Anda ingin memesan apa, Tuan?" Tanya waitress itu lagi sopan.
"Ck, sudah ku bilang aku hanya pesan satu gelas jus tomat saja! Lagipula aku tidak la-..."
Kruuyuukkk
Ucapan Sasuke terpotong oleh sebuah bunyi yang berasal dari perutnya sendiri. Sang waitress yang mendengar bunyi tersebut hanya bisa menahan keinginannya untuk tidak tertawa terbahak-bahak. Tentu saja waitress itu masih memiliki etika untuk menghormati para pelanggan yang makan di restoran ini. Sasuke yang melihat ekspresi sang waitress, hanya bisa berdehem pelan, berusaha menutupi rasa malunya saat ini. Ia baru menyadari jika sedari pagi tadi, ia memang belum memakan apapun karena terlalu fokus memikirkan masalahnya saat ini.
"Hn. Kalau begitu aku pesan satu porsi chicken teriyaki dan satu porsi tempura." Ucap Sasuke datar menyebutkan pesanannya.
"Baiklah Tuan. Mohon di tunggu sebentar." Ucap waitress itu sambil berlalu meninggalkan Sasuke.
Sasuke kembali mengamati kebersamaan Sakura dan Neji. Entah mengapa saat ini, ia merasa begitu merindukan waktu kebersamaannya dengan sang gadis musim semi. Seandainya saja waktu dapat ia putar kembali, ia tak akan menyia-nyiakan Sakura di sisinya. Namun, tentu saja hal itu adalah sesuatu yang mustahil baginya.
.
.
.
Kini Neji dan Sakura sudah meninggalkan restoran, dan bergegas melajukan mobil mereka ke arah kantor Yamanaka Entertainment. Begitu pun dengan Sasuke yang kini masih saja mengikuti Neji dan juga Sakura, secara diam-diam.
"Baiklah kalau begitu, nanti sore aku akan kembali menjemputmu Sakura." Ucap Neji sambil tersenyum tipis, saat mereka sudah tiba di kantor Yamanaka Entertainment.
"Hm, arigatou Senpai. Maaf jadi merepotkanmu." Ucap Sakura sambil tersenyum canggung, tangan kanannya menggaruk pelipisnya yang tidak gatal.
"Hn, tidak apa-apa." Ucap Neji sambil menepuk pelan pucuk kepala Sakura.
"Kalau begitu aku pergi dulu. Jaa-ne Senpai." Pamit Sakura sambil membuka pintu dan keluar dari mobil Neji. Sakura melambaikan tangannya kepada Neji, sebelum Neji benar-benar pergi dari hadapannya. Perlahan Sakura melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam kantor Yamanaka Entertainment, karena ia harus menyelesaikan pekerjaan lainnya di sana. Sementara Sasuke, kini mau tidak mau harus kembali menunggu sang gadis musim semi sampai nanti sore. Sepertinya ia harus terlebih dahulu menghampiri Sakura nanti, sebelum akhirnya pemuda Hyuuga itu kembali datang untuk menjemput Sakura.
.
.
.
"Hm, tidak apa-apa Senpai. Aku akan menunggumu di taman kalau begitu, Jaa-ne." Ucap Sakura mengakhiri sambungan teleponnya dengan Neji, yang menghubunginya karena tak bisa menjemputnya tepat waktu. Ia memasukkan kembali handphonenya ke dalam tas kecil berwarna merah maroon miliknya. Perlahan ia langkahkan kaki jenjangnya keluar dari lobi kantor Yamanaka Entertainment menuju ke arah taman yang letaknya tak jauh dari sana. Namun, belum sempat Sakura menginjakkan kakinya di taman, seseorang telah terlebih dahulu menahan pergelangan tangannya dari belakang dan menyeretnya secara perlahan ke arah sebuah mobil yang terparkir tidak jauh dari tempat mereka berada saat ini.
Sakura membelalakkan matanya tatkala ia mengenali dengan pasti siapa pemuda yang kini tengah berdiri membelakanginya. Seorang pemuda brengsek yang dengan seenaknya saja menyeret tubuhnya tanpa permisi, pemuda yang saat ini paling tidak ingin ditemuinya, pemuda tak berperasaan yang tega membuat dirinya begitu terluka saat ini, pemuda yang dulu sempat ia sangat cintai, serta pemuda yang merupakan putra bungsu dari keluarga Uchiha, Sasuke.
"Cih, apa yang kau lakukan, brengsek?!" Ucap Sakura mendecih kesal kepada Sasuke. Sakura berusaha memberontak untuk melepaskan genggaman tangan Sasuke pada pergelangan tangannya. Namun, sepertinya sia-sia saja karena tangan pemuda itu terasa begitu erat menggenggamnya.
"..." Sasuke hanya diam, tak berniat untuk menjawab pertanyaan Sakura kepadanya. Menurutnya, Sakura bisa memperkirakan sendiri maksud dari tindakannya ini.
"Lepaskan, brengsek!" Ucap Sakura kembali menghempas-hempaskan kuat genggaman tangan Sasuke, berharap dirinya bisa segera terlepas dari pemuda Uchiha itu. Namun, lagi-lagi Sasuke tak menggubris permintaan Sakura. Pemuda Uchiha itu malah semakin mempererat genggaman tangannya pada Sakura, karena ia tak ingin melepas kembali kesempatan untuk bertemu dan berbicara dengan Sakura. Pemuda Uchiha itu lebih memilih untuk fokus memandang ke arah depan, di mana mobilnya kini sudah berjarak semakin dekat dengan mereka. Tanpa banyak basa-basi, Sasuke membuka kunci otomatis mobilnya dan segera membawa paksa Sakura untuk masuk ke dalam mobilnya, saat mereka sudah tiba di dekat mobil.
"Apa yang kau inginkan, brengsek?!" Tanya Sakura geram, saat dirinya dan Sasuke sudah berada di dalam mobil. Emeraldnya menatap penuh kebencian ke arah Sasuke yang kini tengah menyalakan mesin mobilnya dan melajukan kencang mobilnya menjauh dari taman. "Cih, apa kau tuli, brengsek?!" Tanya Sakura lagi berucap sinis kepada Sasuke yang tak juga menjawab pertanyaannya. Sasuke sendiri hanya terdiam, mendengarkan dengan tenang ucapan-ucapan Sakura yang terasa begitu menyesakkan dadanya.
"Hn. Kita perlu bicara, Cherry." Ucap Sasuke akhirnya, tanpa mengalihkan sedikit pun padangannya dari arah jalanan kepada Sakura. Sementara Sakura hanya memutar kedua bola matanya bosan, karena Sasuke sudah dua kali mengatakan hal yang sama seperti itu.
"Hm, rupanya kau memang bukan seorang pendengar yang baik ya, Tuan! Bukankah semalam sudah ku katakan dengan sangat jelas, bahwa diantara kita tidak ada lagi yang perlu dibicarakan! Semuanya sudah cukup jelas untuk dapat ku mengerti, sekalipun kau tak pernah memberi penjelasan kepadaku sebelumnya, Tuan!" Ucap Sakura tenang namun terkesan meremehkan pemuda Uchiha di sampingnya.
"Tidak! Kau tidak mengerti semuanya, Cherry!" Ucap Sasuke lirih, hatinya terasa sakit karena gadis musim semi itu tak juga bisa mengerti dengan perasaannya saat ini.
"Apa lagi hal yang tidak ku mengerti, Tuan?!" Tanya Sakura sinis, sambil melipat kedua tangan mungilnya di depan dadanya.
"Perasaanku, Cherry. Kau tidak mengerti dengan perasaanku yang sebenarnya kepadamu selama ini." Ucap Sasuke pelan sambil menatap sendu ke arah Sakura, setelah sebelumnya Sasuke memberhentikan mobilnya tepat di samping sebuah sungai di pinggir jalan, jauh dari taman tadi.
"Hahaha...Perasaanmu kau bilang?!" Sakura tertawa mengejek setelah mendengar perkataan Sasuke. "Bukankah sudah jelas, Tuan. Perasaanmu terhadapku selama ini hanyalah sebuah kepura-puraan yang kau ciptakan di atas perasaan cintamu kepada Hyuuga-san." Ucap Sakura menyeringai angkuh, sungguh ia sama sekali tidak merasa tersentuh dengan tatapan sendu yang ditampilkan oleh sang bungsu Uchiha itu.
"Hn. Ku akui awalnya memang seperti itu, Cherry." Ucap Sasuke jujur mengatakan awal mula dirinya merencanakan sandiwara ini. Sementara Sakura hanya bersikap acuh dengan pengakuan Sasuke, tak berminat untuk menanggapi ucapan Sasuke. Sasuke yang melihat sikap Sakura hanya bisa menghela napas berat. "Aku tahu, saat ini kau pasti enggan untuk mendengarkan semua penjelasanku, Cherry." Ucap Sasuke memaklumi sikap acuh Sakura.
"Baguslah jika kau mengetahuinya, Tuan. Lagipula aku memang merasa malas untuk mendengar semua kebohonganmu lagi." Ucap Sakura sambil tersenyum manis, namun tentu saja tak semanis dengan ucapannya terhadap Sasuke.
"Hn. Aku mengerti jika kau tidak bisa semudah itu untuk mempercayaiku saat ini." Ucap Sasuke tersenyum lembut ke arah Sakura. Sementara Sakura hanya mengendikkan bahunya tak peduli. "Tapi asal kau tahu Cherry, aku...sudah benar-benar jatuh cinta kepadamu." Ucap Sasuke lembut, onyxnya memancarkan sorot keyakinan yang terlihat sangat kentara sekali. Sakura yang mendengar perkataan Sasuke, langsung memfokuskan tatapannya ke arah iris hitam di hadapannya. Mencoba mencari suatu kebohongan di dalam sana, namun sama seperti dulu saat Sasuke memintanya untuk menjadi kekasihnya, onyx itu bersinar penuh dengan keyakinan tanpa adanya suatu kebohongan. Sakura hanya menyeringai tipis, kali ini ia tak mau termakan dua kali dengan ucapan Uchiha bungsu itu. Sementara Sasuke hanya menaikkan sebelah alisnya merasa heran dengan sikap Sakura.
"Hm, tolong jangan salahkan aku Tuan Uchiha, jika pada akhirnya aku tetap tak akan pernah mempercayai ucapanmu." Ucap Sakura tersenyum sambil menyipitkan kedua mata indahnya.
"Apa maksudmu, Cherry?!" Tanya Sasuke penasaran.
"Aktingmu dulu itu sungguh sangat sempurna, Tuan. Sampai-sampai aku tidak bisa membedakan ucapanmu saat kau sedang berkata jujur ataupun saat kau berkata bohong. Sungguh keduanya tampak persis tak ada celah perbedaan, jadi aku tak yakin jika ucapanmu kali ini adalah sebuah kejujuran." Terang Sakura menjelaskan maksud dari ucapannya.
"Cih, rupanya begitu. Lalu bagaimana caranya agar kau dapat mempercayai ucapanku lagi, Cherry?!" Tanya Sasuke gusar.
"Hm, kau tak perlu repot-repot untuk membuatku untuk mempercayai kembali ucapanmu, Tuan. Anggap saja semua masalah ini tidak pernah ada dan anggap saja keberadaanku sebelumnya tidak pernah ada dalam kehidupanmu, mudah kan?!" Saran Sakura kepada Sasuke.
"Begitukah?! Jadi kau ingin menghapus semua hal yang sudah kita lalui selama ini, Cherry?!" Tanya Sasuke lagi memastikan ucapan Sakura.
"Iya, Tuan! Sepertinya pendengaranmu memang bermasalah ya?! Apa tak sebaiknya kau memeriksakan telingamu ke rumah sakit, Tuan?!" Ucap Sakura mengejek sang Uchiha bungsu.
"Jangan mengalihkan pembicaraan, Cherry!" Geram Sasuke merasa kesal dengan sikap Sakura yang tampak tak serius dengan perkataannya tadi.
"Hm, begitulah. Jadi ku mohon padamu untuk tidak lagi mengusik kehidupanku, Tuan." Ucap Sakura sambil sedikit membungkukkan tubuhnya kepada Sasuke.
"Ck, maaf saja Cherry. Tapi aku tak akan pernah mau mengikuti permintaanmu itu!" Ucap Sasuke mendecak kesal terhadap sikap Sakura.
"Terserah! Aku tidak peduli." Ucap Sakura acuh, tak peduli dengan sifat kekeraskepalaan Sasuke.
Drrrttt drrttt drrttt
Terdengar suara getaran ponsel yang berasal dari tas kecil milik Sakura. Segera ia raih ponselnya dan sedikit senyum tipis terpatri di wajah cantiknya tatkala ia mengetahui orang yang menghubunginya adalah Hyuuga Neji. Sasuke sendiri hanya menaikkan sebelah alisnya merasa penasaran dengan seseorang yang menghubungi Sakura.
"Moshi-moshi Senpai." Salam Sakura menjawab panggilan telepon dari Neji.
"Sakura, kau di mana? Kenapa kau tidak menungguku di taman?" Tanya Neji khawatir dari sebrang sana, mengacuhkan salam Sakura.
"Ah, Senpai maafkan aku. Sebenarnya tadi aku sudah hampir sampai di taman, sebelum akhirnya aku diculik oleh seorang manusia es berhati batu." Ucap Sakura sambil melirik sinis ke arah Sasuke di sebelahnya. Sementara Sasuke hanya bisa mendesah pasrah, mendengar ucapan sang gadis musim semi itu.
"Kau serius?! Jangan bercanda Sakura! Memangnya ada manusia es berhati batu?!" Tanya Neji panik sekaligus penasaran.
"Tentu saja aku serius Senpai! Aku memang diculik oleh manusia seperti itu!" Tegas Sakura kepada Neji.
"Baka! Kenapa kau tidak menghubungiku secepatnya, jika kau memang diculik?!" Geram Neji merasa gemas dengan sikap Sakura yang terlihat tenang-tenang saja.
"Aa...Maaf Senpai. Tapi aku sudah menangani penculik itu, jadi kau jangan terlalu khawatir padaku, Ne?" Ucap Sakura tenang.
"Bodoh! Cepat katakan sekarang kau berada di mana?! Aku akan segera menyusulmu." Ucap Neji kepada Sakura.
"Tidak perlu Senpai. Sebentar lagi aku sudah akan sampai di rumah. Jadi lebih baik kau pulang saja sekarang. Nanti aku akan kembali menghubungimu jika aku sudah berada di rumah." Ucap Sakura sedikit berbohong kepada Neji.
"Hm, baiklah kalau begitu. Aku akan menunggu kabar darimu, Sakura." Ucap Neji menyetujui saran Sakura.
"Hm." Balas Sakura singkat mengakhiri sambungan teleponnya dengan Neji. Kini iris hijau beningnya kembali menatap ke arah Sasuke yang sedari tadi hanya diam dan mendengarkan pembicaraannya bersama Neji. "Jadi, bisakah kau mengantarkanku pulang sekarang, Tuan Uchiha?!" Tanya Sakura datar.
"Urusan kita belum selesai, Cherry!" Ucap Sasuke tegas.
"Hah~...Aku benar-benar lelah menghadapimu, Tuan." Ucap Sakura mendesah pelan sambil memijit pelan pangkal hidungnya dengan tangan kanannya. Melihat keadaan Sakura yang seperti itu, tentu saja membuat sang Uchiha bungsu menjadi merasa bersalah terhadap gadis musim semi itu. Tapi ia tak punya pilihan lain untuk tetap mempertahankan Sakura bersamanya lebih lama lagi. Sasuke hanya ingin membuat Sakura memaafkan kesalahannya dan kembali mempercayainya seperti dulu.
"Maafkan aku, Cherry. Aku tidak bermaksud untuk membuatmu menjadi seperti ini. Tapi ku mohon percayalah sekali ini saja padaku, aku benar-benar serius dengan perasaanku padamu." Ucap Sasuke lirih, onyxnya menatap intens ke arah Sakura.
"Tidak semudah itu, Tuan! Maaf saja, saat ini aku tak ingin membahas mengenai hal itu lagi! Jadi tolong secepatnya, kau antarkan aku pulang sekarang juga!" Ucap Sakura tegas. Tak ingin memperpanjang perdebatan dengan pemuda Uchiha itu, Sakura kini menyandarkan punggung mungilnya pada sandaran kursi di belakangnya. Menutup kedua iris hijau bening indahnya, berniat untuk berpura-pura tertidur di hadapan Sasuke.
"Tidurlah, Cherry! Sekali lagi aku minta maaf karena sudah membuatmu menderita seperti ini. Tapi, aku tidak akan pernah berhenti untuk kembali meraih hatimu, meskipun kau akan terus menolak kehadiranku." Ucap Sasuke sendu. Entah mengapa sedikit terselip perasaan iba yang dirasakan oleh Sakura kepada Sasuke, saat mendengar perkataan terakhir Sasuke. Sebutir air mata kini merembes keluar dari sudut matanya yang tertutup, namun tentu saja tak tampak jelas oleh Sasuke yang kini sudah mulai melajukan mobilnya ke arah kediaman Yamanaka untuk mengantar Sakura pulang. 'Hn, buktikanlah jika perkataanmu itu memang benar-benar serius kepadaku, Sasuke-kun!' Ucap Sakura di dalam hati.
.
.
.
Tok tok tok
"Hanabi, tolong kau bukakan pintunya! Sepertinya ada seseorang yang tengah mengetuk pintu di depan." Pinta Hyuuga Hiashi halus kepada Hanabi yang kini tengah menonton televisi di ruang keluarga, sementara kepala keluarga Hyuuga itu tengah asyik membaca dokumen hasil rapatnya di kantor tadi siang.
"Ha'i, Tou-san." Ucap Hanabi menuruti permintaan ayahnya, perlahan ia beranjak untuk berdiri dan berjalan menuju ke arah pintu. Di bukanya perlahan pintu rumah di hadapannya. Sebuah senyum manis terpatri di wajah gadis berusia tujuh belas tahun itu tatkala ia mendapati seorang pemuda tampan berambut blonde tengah berdiri di hadapannya.
"Naruto-niisan!" Ucap Hanabi riang sambil menghambur ke dalam pelukan sang direktur muda itu. Sementara Naruto hanya terkekeh geli dengan sikap spontan sang putri bungsu keluarga Hyuuga itu. Tangan besarnya mengelus lembut surai panjang coklat milik Hanabi, membuat gadis remaja itu tersenyum senang. Memang semenjak pertama kali bertemu dengan Naruto, Hanabi sudah menyukai pemuda Namikaze itu. Parasnya yang tampan dan kepribadiannya yang hangat, begitu memikat sang gadis bungsu Hyuuga itu. Tentu saja bukan perasaan menyukai seperti layaknya kepada kekasih, tetapi lebih kepada perasaan sayang seorang adik kepada kakaknya. Meskipun sudah sering bertemu dengan Naruto, namun sikap manja Hanabi tak pernah ada habis-habisnya terhadap pemuda blonde itu, apalagi setelah mengetahui Naruto dan Hinata berpacaran, sikap manjanya semakin menjadi-jadi kepada Naruto. Tentu saja Naruto tak pernah mempermasalahkan hal itu, karena Hanabi sudah ia anggap sebagai adik kandungnya sendiri. Lagipula, bukankah kau memang berniat untuk menjadikan Hanabi sebagai adik iparmu di kemudian hari, Ne Naruto?
"Hm, bagaimana kabarmu hari ini gadis manis?" Ucap Naruto tersenyum kecil sambil merapikan poni Hanabi yang sedikit berantakan setelah ia melepaskan pelukan Hanabi dari tubuhnya.
"Baik, sangat baik Nii-san. Bagaimana dengan Nii-san sendiri?" Tanya Hanabi sambil tersenyum senang. Mendengar pertanyaan Hanabi membuat Naruto terdiam sejenak untuk memikirkan jawabannya. 'Awalnya hari ini memang berjalan dengan sangat baik dan aku merasa sangat bahagia, sebelum akhirnya semua sandiwara ini terbongkar dan berakhir kacau balau.' Innernya menjawab perkataan Hanabi.
"Naruto-niisan, kenapa kau malah melamun?" Ucap Hanabi sambil mengibas-ngibaskan telapak tangan kanannya di depan wajah Naruto, membuat Naruto tersentak dari lamunannya.
"Ah, gomen Hanabi-chan. Aku sedang memikirkan sesuatu barusan." Ucap Naruto sambil tersenyum kikuk kepada Hanabi. Hanabi menaikkan sebelah alisnya merasa heran dengan sikap calon-ah mantan calon kakak iparnya ini.
"Sepertinya kau sedang dalam keadaan yang tidak baik-baik saja, Ne Naruto-niisan?" Tanya Hanabi penasaran sambil menyipitkan kedua matanya, menatap ke arah Naruto. Naruto hanya tersenyum tipis sebagai jawaban atas pertanyaan Hanabi.
"Hm, ya sudah ayo masuk! Mungkin dengan bertemu dengan Hinata-Nee, keadaanmu akan menjadi lebih baik." Ucap Hanabi sambil mengamit sebelah lengan kekar pemuda blonde itu serta menyandarkan kepalanya pada lengan atas Naruto, dan mengajaknya untuk masuk ke dalam rumah. Naruto sendiri hanya kembali tersenyum canggung, setelah mendengar perkataan Hanabi. Hanabi hanya tahu jika Naruto sedang memiliki banyak masalah, biasanya ia hanya bisa merasa tenang jika sudah bertemu dengan kakaknya, Hyuuga Hinata. Hm, tak tahukah kau jika masalah yang sedang di hadapi Naruto itu adalah kakakmu sendiri, Ne Hanabi?
.
.
.
"Tou-san, lihatlah siapa yang datang kemari!" Teriak Hanabi senang kepada Hiashi yang kini masih saja berkutat dengan dokumen-dokumen perusahaannya di ruang keluarga. Hiashi yang mendengar teriakan Hanabi, segera mengalihkan pandangannya ke arah Hanabi yang tengah menggandeng lengan seorang pemuda yang terasa begitu familiar baginya. Hiashi hanya tersenyum simpul tatkala menyadari bahwa pemuda yang berdiri di samping putrinya adalah Naruto, sang putra tunggal Namikaze.
"Selamat malam, Tou-san." Ucap Naruto berojigi singkat kepada Hiashi dan tersenyum lembut.
"Malam, Naruto." Ucap Hiashi membalas salam Naruto. "Kau ingin menemui Hinata?" Ucap Hiashi menanyakan maksud kedatangan pemuda Namikaze itu. Hiashi sama sekali tidak mengetahui jika Hinata hari ini pulang lebih awal ke rumah, karena Hiashi baru pulang dari perusahaannya pukul tujuh malam, tepat pada waktu makan malam dimulai.
"Ha'i, apa Tou-san tidak keberatan jika aku menemui Hinata sekarang?" Tanya Naruto sopan kepada Hiashi.
"Hm, tentu saja tidak. Tapi mungkin saja Hinata sudah tidur saat ini." Terang Hiashi.
"Tidak apa-apa Tou-san. Aku hanya ingin melihat keadaannya sebentar, sekaligus mengembalikan handphonenya yang tertinggal di dalam mobilku tadi pagi." Ucap Naruto sambil tersenyum kecil.
"Baiklah kalau begitu." Ucap Hiashi menyetujui permintaan Naruto. "Hanabi, antarkan Nii-sanmu ini ke kamar Nee-sanmu dan segeralah kau tidur karena ini sudah malam!" Pinta Hiashi halus kepada Hanabi.
"Baik Tou-san." Ucap Hanabi patuh. "Ayo Nii-san!" Ajak Hanabi sambil menarik tangan Naruto untuk bergegas pergi ke lantai dua, tempat di mana kamar Hinata berada.
.
.
.
"Sudah yah Nii-san, aku akan pergi ke kamarku dan tidur duluan. Selamat malam." Ucap Hanabi setelah sampai di depan pintu kamar Hinata dan mengecup sekilas pipi tegas milik Naruto.
"Hm, selamat malam dan mimpi indah Hanabi-chan." Ucap Naruto sambil tersenyum lembut ke arah Hanabi, sebelum Hanabi benar-benar hilang dari pandangannya.
Perlahan Naruto membalikkan tubuhnya untuk menghadap ke arah pintu kamar Hinata. Menghela napasnya pelan, ia berusaha untuk meyakinkan dirinya bahwa saat ini semuanya akan berjalan baik-baik saja.
Ia angkat ragu-ragu tangan kanannya untuk mengetuk pintu di hadapannya. Naruto sedikit meneguk ludahnya, merasa gugup dengan kemungkinan yang akan terjadi setelah dirinya bertemu dengan Hinata. Apakah gadis itu akan menolak bertemu dengannya dan mengusir dirinya dengan cara yang tidak terhormat atau gadis itu mau menerima dirinya dan memaafkannya? Entahlah, mungkin hanya Kami-sama dan Hinata saja yang tahu, apa yang akan terjadi pada Naruto.
Tok tok tok
"Hinata-chan, apa kau sudah tidur?" Tanya Naruto memastikan keadaan Hinata. Namun, tak terdengar adanya jawaban yang diberikan oleh gadis lavender itu. 'Sepertinya dia sudah tertidur.' Ucap Naruto di dalam hati. Tak juga mendapatkan jawaban, akhirnya Naruto memutuskan untuk masuk saja ke dalam kamar pribadi Hinata.
Kriieettt
Suasana di dalam kamar Hinata tampak begitu sunyi dan tenang, hanya diterangi oleh cahaya redup yang berpendar lemah dari lampu tidur kecil yang terletak di atas meja di sebelah ranjang Hinata. Terdengar suara alunan hembusan napas teratur dan juga lembut, memenuhi ruangan kamar sang putri sulung Hyuuga. Perlahan Naruto melangkahkan kaki kekarnya menuju ke arah ranjang, tempat di mana sang pujaan hatinya tengah tertidur pulas. Sebuah senyuman kerinduan tampak begitu dominan terpatri di wajah tampan pemuda itu. Entah mengapa rasanya Naruto merasa sangat merindukan sang gadis indigo itu. Padahal baru tadi pagi mereka bertemu, tapi sepertinya rasa rindu itu tak juga pernah bisa hilang ia rasakan. Sedikit menghela napas lega, karena gadis itu kini tengah terlelap tenang di atas ranjang, sehingga ia tak perlu merasa khawatir jika Hinata akan menolak untuk menemuinya.
Kini Naruto sudah berada tepat di samping ranjang milik Hinata. Di tatapnya lembut paras cantik yang terlihat begitu polos itu dengan intens. Perlahan ia dudukkan dirinya pada ruang kosong pada ranjang milik Hinata. Tangan kirinya, ia ulurkan untuk meraih pucuk kepala sang gadis Hyuuga dan mengusapnya penuh rasa sayang. Sementara tangan kanannya menggenggam tangan mungil Hinata dan mengecupnya lembut.
"Hime...Aku...merindukanmu." Ucap Naruto lirih, sambil menempelkan tangan mungil Hinata pada pipinya. Sapphirenya menatap sendu ke arah kelopak mata Hinata yang kini tengah tertutup itu. "Aku...Aku ingin meminta maaf padamu, Hime. Aku sungguh menyesal telah berbuat hal seperti itu padamu." Naruto tahu mengucapkan kata maaf saat ini pun percuma saja, karena Hinata pasti tidak akan mendengarkannya. Tapi setidaknya Naruto ingin mengungkapkan sedikit beban hatinya saat ini yang terasa begitu berat. "Aku menyesal karena telah menyakiti perasaanmu seperti ini. Kau tahu?! Sedikit banyak aku merasa bersyukur dengan semua sandiwara ini. Karena pada akhirnya aku menyadari bahwa ternyata aku...mencintaimu, Hime." Ucap Naruto sendu, bulir air mata sedikit mengalir dari pelupuk matanya dan jatuh ke tangan mungil Hinata yang kini masih menempel pada pipinya. "Aku tahu jika aku adalah orang yang sangat bodoh, karena tidak mengatakan hal yang sejujurnya sedari awal. Aku...aku terlalu terhanyut dalam kebahagiaan kita yang terasa begitu indah selama ini, sehingga aku tidak pernah memikirkan untuk memberitahumu tentang sandiwara ini." Terang Naruto lagi melanjutkan perkataannya. "Tapi, asal kau tahu Hime! Perasaanku selama ini benar-benar tulus mencintaimu. Aku benar-benar tak ingin kehilangan dirimu seperti ini, aku ingin mengulangi hubungan ini dari awal tanpa suatu kebohongan lagi di dalamnya." Ucap Naruto mengungkapkan perasaannya. Hening sejenak, sebelum akhirnya Naruto mendengus geli atas perkataan yang baru saja diucapkannya. "Bodoh! Kenapa aku tak bisa menghadapimu secara langsung, Hime?! Mengapa aku begitu pengecut untuk mengucapkan semua kata-kata itu kepadamu, saat kau kini tengah terlelap dalam tidurmu?!" Ucap Naruto memaki pelan dirinya sendiri. Kini terdengar sebuah isakan tangis kecil keluar dari bibir tegas sang pemuda blonde.
Hiks hiks hiks
"Maaf...maafkan aku, Hime." Ucap Naruto lagi sambil terus menerus mengecup lembut punggung tangan milik Hinata. Perlahan Naruto melepaskan kecupannya dan pandangannya beralih ke arah wajah Hinata yang kini tampak begitu damai. Sedikit demi sedikit Naruto mulai mengeliminasi jarak antara dirinya dan juga Hinata. Bibir tegasnya dengan mulus mendarat pada permukaan lembut bibir mungil milik Hinata. Mencoba untuk merasakan kembali kehangatan dan rasa manis yang begitu di sukainya dari bibir Hinata untuk yang terakhir kalinya, sebelum dirinya memulai perjuangannya untuk meraih kembali hati sang putri sulung Hyuuga.
"Aku mencintaimu, Hime. Aku akan terus berjuang untuk mendapatkan hatimu kembali, sebesar apapun rintangannya! Aku tidak akan pernah menyerah! Karena kau adalah satu-satunya gadis yang hanya tercipta untuk mendampingiku sampai kapan pun." Bisik Naruto pelan di telinga Hinata, setelah ia melepaskan kecupannya pada bibir Hinata. Perlahan Naruto beranjak dari ranjang, tangan kanannya merogoh saku celananya untuk mengambil handphone Hinata yang ia simpan di sana. Ia letakkan handphone tersebut di atas meja rias milik Hinata. Naruto kembali melirik sekilas ke arah ranjang Hinata, sebelum akhirnya ia pergi keluar dari kamar pribadi Hinata dan meninggalkan Hinata seorang diri di sana. Naruto sama sekali tidak mengetahui, jika sedari tadi Hinata hanya berpura-pura terlelap di hadapannya. Hinata hanya merasa belum siap untuk kembali bertemu dengan Naruto. Sebutir air mata mengalir dari sudut matanya yang kini masih tertutup. Rasanya Hinata terlalu lelah untuk kembali membuka matanya, kata-kata Naruto tadi sedikit membuat hatinya menjadi ragu untuk mempercayainya atau tidak. Kali ini Hinata sama sekali tidak membutuhkan kata-kata dari Naruto, yang ia butuhkan adalah bukti bahwa pemuda blonde itu benar-benar mencintainya.
-TBC-
Balasan Review
DefenderNHL: Pasti mereka balikkan lagi kok, tapi semuanya butuh proses untuk kembali bersama lagi...Gomen gak bisa update kilat, tapi semoga suka dengan chapter ini...Arigatou...^_^
dylanNHL: Um, nanti saya pertimbangkan. Tapi maaf kemungkinan akan lama munculnya, karena nunggu sampai hubungan NaruHinanya baikkan lagi kan...? Hehe...^_^ Arigatou sudah membaca fic ini...semoga suka dengan chapter ini.
Lucy Hinata: Um, kita sama-sama berjuang Senpai! ^_^ Aa...saya jadi malu...oke ini udha lanjut Senpai...Semoga chapter ini tidak mengecewakan...Arigatou...^_^
Eysha CherryBlossom: Iya Senpai pasti susah untuk mereka meyakinkan Saku dan Hina, karena hati mereka udha terlalu sakit karena dipermainkan oleh Sasu dan Naru...^_^ Oke, siap Senpai...semoga chapter ini tidak mengecewakan...Arigatou...^_^
Gilang363: Waahh saya jadi malu...#sembunyiin muka#...Um, Arigatou Senpai ^_^ Iya, konfliknya cuma kebohongan ini aja kok, kalau pun ada orang ketiga gak akan terlalu dominan juga...hihi...Oke, makasih buat semangatnya...^_^
haruchan: Iya mereka sangat, sangat menyesal dengan sandiwara mereka...Um, saya juga iri melihat moment-moment kebersamaan SasuSaku dan NaruHina...^_^ Oke, semoga suka dengan chapter ini...Arigatou.
estusetyo paweling: Makasih banyak Senpai...Semoga chapter ini tidak mengecewakan...^_^
sakakibaraarisa: Iya gak apa-apa kok, saya senang karena saka-san sudah mau mereview fic ini. Semoga suka dengan chapter ini...Arigatou...^_^
Anka-Chan: Siap...ini udha update kok...Arigatou yah...^_^
Febri Feven: Siap...Ini udha lanjut kok ^_^ Terima kasih banyak.
Anisha Ryuzaki: Hehe...Oke ini udha lanjut kok...semoga tidak mengecewakan...Arigatou...^_^
Cherry Sakura Heartfilia: Pastinya susah kok Senpai, dan meskipun Sakura memaafkan Sasuke, tapi tentu saja gak akan semudah itu Sakura nerima Sasuke lagi. Arigatou...semoga chapter ini tidak mengecewakan...^_^
marukocan: Hihi...gomen. Saya baru menyadari itu...^_^...Saya harus belajar lagi untuk mempersingkat ceritanya...Oke ini udha lanjut kok...Arigatou.
piscesaurus: Hihi...saya juga suka, karena hubungan NaruHina terasa manis banget...^_^ Um, pasti nanti Naruto ngejelasin kok perasaannya yang sebenarnya sama Hinata. Oke, semoga suka dengan chapter ini...Arigatou.
Hanna Hoshiko: Wahh Senpai suka melihat Sasuke menderita yah...hihi...Oke, ini udha lanjut...Arigatou...^_^
Sasa: Iya Sasa-chan...Hiks...hiks...padahal saya menunggu lho waktu di chapter 4 itu...Saya pikir Sasa-chan kecewa dengan chapter 4 itu...hehe...Iya gak apa-apa kok, saya bisa mengerti kesibukan Sasa-chan...^_^. Um, iya itu typo. Saya lupa...gomen. Arigatou buat semangatnya dan dukungannya selama ini...^_^ #peluk-peluk Sasa-chan# Yosh, semua bakalan happy ending kok.
CherrySand1: Siap! Saya tidak akan mendiscountinuekan fic ini kok...hehe...^_^ Makasih buat dukungannya...oh iya, ngomong-ngomong lebih suka isi tiap chapternya panjang atau pendek?
BerryPolkan: Puk...puk...puk...#nepuk-nepuk punggung Berry-san#...Jangan nangis lagi yah...^_^. Blusshh...Aa fic ini masih jauh dari kata bagus...Um, tapi terima kasih banyak sudah menyempatkan untuk membaca fic ini.
Luca Marvell: Um, gak ada kata terlambat kok untuk review. Justru saya senang...^_^ Oh iya, itu typo...hehehe #garuk-garuk kepala#...makasih buat koreksinya...Oke, semoga suka dengan chapter ini...Arigatou.
wedusgembel41: Gomen gak bisa update kilat...Semoga suka dengan chapter ini...Arigatou...^_^
Rfauryn: Aa...Arigatou, hm siap! Saku dan Hina gak akan semudah itu kok memaafkan Sasu dan Naru...hehe...Semoga chapter ini suka...^_^
Waahhh kalian benar-benar luar biasa...^_^ #pinjam kata-kata Ariel Noah# hehe...Terima kasih buat semua dukungan dan semangat kalian...#peluk-cium# buat kalian semuanya yang sudah membaca, me-review, mem-follow, mem-fav kan fic ini, dan juga para silent readers yang sudah berkenan untuk membaca fic ini...Arigatou...Domo Arigatou...Minna-san...^_^
Maaf lama update...#bungkuk-bungkuk badan# Hum, sebenarnya saya merasa kurang percaya diri dengan chapter ini dan rasanya ceritanya semakin aneh dan semakin pasaran...Tapi semoga kalian masih berminat untuk membaca fic ini...hehehe...^_^ Sekali lagi jika kalian berkenan, maukah kalian memberikan review, masukan, ide dan lain sebagainya? Arigatou...^_^
