Saya masih newbie disini, setelah sekian lama menjadi silent reader akhirnya saya mencoba untuk membuat sebuah fanfic.

Ini fanfic pertama saya, ceritanya agak pasaran juga ^_^, dan maaf kalau ada kesalahan penulisan dan lain-lain.

Semoga kalian suka...

Disclaimer : Masashi Kishimoto dengan semua chara-chara dalam anime Naruto

WARNING : OOC, typo, cerita gaje, alur kecepatan dll.

Summary : 'Rasanya sudah lama sekali ya Kaa-san,aku tidak tidur di pangkuanmu seperti ini lagi. Sudah lebih dari empat belas tahun yang lalu, bukan?/ Kau yang memutuskanku secara sepihak, Hinata-chan! Seingatku, aku tidak pernah menyetujui permintaanmu untuk putus/ HEI KALIAN! LIHATLAH ADA AKTOR TAMPAN UCHIHA SASUKE DI SINI!/ Padahal aku sudah mempunyai ide untuk membuatmu kembali dekat dengan Cherry.'

Author by : Hikaru Sora 14

Sebelumnya saya ucapkan terima kasih kepada kalian semua yang telah membaca serta me-review, mem-follow dan mem-fav kan fic ini ^_^ Tanpa kalian fic ini tidak akan berarti apa-apa

Please Enjoy Reading

Don't Like Don't Read


Naruto kini tengah terbaring lelah di atas ranjang king sizenya, dengan menggunakan tangan kanannya sebagai bantalan kepalanya. Irisnya menatap lemah ke arah atap-atap langit kamarnya yang berwarna putih itu, seakan-akan sapphire birunya itu telah benar-benar meredup kehilangan cahayanya.

Pikirannya kembali terusik oleh sesosok gadis yang hingga kini masih menempati posisi terspesial di dalam hatinya. Semenjak kejadian yang di alaminya kemarin, kini Naruto merasakan sebuah kekosongan dan kehampaan dalam hatinya. Perasaan sesak yang menyeruak masuk ke dalam hatinya, sampai saat ini tak juga bisa hilang meskipun ia sudah berusaha untuk menghiraukan perasaan sakit yang tengah dirasakannya tersebut.

Seharian ini di kantor, gadis Hyuuga itu terus saja menghindari dan mengacuhkan keberadaan dirinya. Meskipun Naruto sudah berusaha untuk mencari perhatian dari Hinata, namun semua sia-sia saja karena sikap gadis itu berubah menjadi dingin kepadanya.

Jika seandainya ia boleh memilih, Naruto lebih memilih Hinata untuk kembali memakinya dengan kasar, memukulnya, menamparnya atau apapun itu yang bisa dilakukan untuk meluapkan emosi gadis Hyuuga itu, daripada harus mendapat perlakuan dingin nan acuh dari Hinata seperti sekarang ini.

Sungguh Naruto tidak sanggup jika harus mendapat perlakuan seperti itu terus dari Hinata. Secara sadar atau tidak, hatinya membatin menorehkan sebuah luka yang terus-menerus menganga lebar, menimbulkan suatu rasa perih yang tak tergambarkan. Beberapa butir liquid bening menyusup melalui sudut-sudut kedua mata birunya, seakan ikut berduka cita kepada hatinya yang kini tengah merasakan kesakitan.

Tok tok tok

"Naruto-kun, apa kau sudah tidur?" Tanya Kushina lembut dari arah luar kamar pribadi Naruto. Naruto yang mendengar suara ibunya,langsung tersentak dari lamunannya. Segera saja ia beranjak dari posisinya yang tadinya berbaring menjadi duduk.

"Belum Kaa-san. Masuk saja ke dalam!" Teriak Naruto kepada Kushina. Buru-buru ia mengusap kedua sudut matanya yang sampai saat ini masih meneteskan air mata. Naruto tidak ingin Kushina menjadi merasa khawatir dengan melihat keadaannya yang begitu lemah saat ini.

Krrriieettt

Pintu kamar pribadi Naruto terbuka, menampilkan sesosok wanita yang begitu mulia bagi Naruto, sosok wanita yang telah berjuang dengan sekuat tenaga untuk mengandung dan melahirkan dirinya ke dunia ini, sosok wanita yang begitu Naruto kagumi dan hormati, serta sosok wanita yang begitu teramat sangat ia sayangi dan ia cintai, Namikaze Kushina.

Kushina mulai melangkahkan kaki jenjangnya ke arah ranjang putranya, setelah sebelumnya ia menutup kembali pintu yang telah dibukanya tadi.

"Hm, ada keperluan apa Kaa-san, malam-malam seperti ini datang menemuiku?!" Tanya Naruto penasaran, saat Kushina sudah mendudukkan dirinya pada ruang kosong pada ranjang miliknya.

"Naruto-kun, apa kau sedang ada masalah? Kaa-san lihat saat makan malam tadi, kau terlihat begitu murung dan sepertinya kau tengah memikirkan sesuatu hal? Jika kau tidak keberatan, maukah kau membagi sedikit masalahmu dengan Kaa-san, Naruto-kun?" Ucap Kushina lembut, sambil menatap penuh perhatian kepada putranya yang kini tampak sedikit tercengang setelah mendengar perkataan dirinya.

Kushina dan Minato memang sudah pulang dari Kyoto sejak tadi sore, jadi sampai saat ini mereka sama sekali belum mengetahui jika hubungan Naruto dan Hinata telah berakhir.

"Kenapa Kaa-san bisa mengetahuinya?! Padahal aku sudah berusaha sebisa mungkin untuk menutupi semua perasaan gelisahku hari ini." Ucap Naruto menundukkan kepalanya ke arah bawah sambil menghela napas lelah.

"Hm, aku ini adalah Kaa-sanmu, Naruto-kun! Kaa-san bisa merasakannya jika kau sedang mengalami suatu masalah." Ucap Kushina sambil membelai lembut surai blonde putranya tersebut. "Sini!" Kushina menepuk-nepukkan tangan kirinya pada pahanya, seolah meminta putranya itu untuk meletakkan kepalanya pada pangkuan dirinya. Naruto yang mengerti akan tindakan ibunya, langsung tersenyum tipis dan segera saja ia meletakkan kepalanya di atas pangkuan paha Kushina. Kushina kembali membelai sayang rambut putranya itu sambil menampilkan sebuah senyuman manis yang ia tujukan kepada Naruto.

"Rasanya sudah lama sekali ya Kaa-san,aku tidak tidur di pangkuanmu seperti ini lagi. Sudah lebih dari empat belas tahun yang lalu, bukan?" Ucap Naruto pelan, pikirannya kembali ke masa lalu saat dirinya masih berusia sekitar tujuh tahunan.

Masa-masa saat dirinya seringkali meminta untuk tidur di pangkuan Kushina, karena Naruto mengatakan bahwa ia merasa sangat senang dan juga dapat tidur dengan lelap jika Kushina sudah membelai lembut rambutnya. Rasanya begitu nyaman dan tenang jika Kushina sudah melakukan hal itu.

"Hm, rupanya kau masih ingat, Naruto-kun. Dulu itu kau benar-benar memonopoli Kaa-san agar selalu menemanimu untuk tidur, sampai-sampai Tou-sanmu itu merasa kesal kepada Kaa-san karena akhirnya ia jadi tidur sendirian di kamar." Kushina tersenyum kecil tatkala mengingat kejadian dulu, saat Minato merasa cemburu pada sikap putranya sendiri.

"Benarkah itu, Kaa-san?! Ah, aku jadi merasa sedikit bersalah kepada Tou-san." Ucap Naruto sendu, sedikit merasa menyesal dengan sikap manjanya sewaktu dirinya masih kecil. Hei, anak kecil memang sudah sewajarnya jika bersikap seperti itu, bukan?!

"Tidak apa-apa, Naruto-kun. Lagipula Tou-sanmu hanya merasa kesal sebentar saja kepada Kaa-san. Oh iya, kenapa kita jadi membicarakan masa lalu sih?! Ayo, cepat katakan apa yang sedang kau pikirkan saat ini, Naruto-kun?!" Pinta Kushina halus kepada Naruto.

Naruto terdiam sejenak sambil menatap lurus ke dalam iris indah milik Kushina. Naruto sedikit ragu untuk menceritakan masalahnya kepada Kushina, namun tatapan lembut yang diekspresikan oleh ibunya itu seakan memberinya suatu perasaan tenang yang dapat membuyarkan semua keraguannya. Akhirnya Naruto memutuskan untuk memberitahu Kushina mengenai masalah yang kini tengah dihadapinya.

"Kaa-san, kemarin Hinata-chan baru saja memutuskan hubungan kami." Ucap Naruto sendu.

"Kau serius, Naruto-kun?! Bagaimana hal itu bisa terjadi?! Bukankah, kemarin pagi hubungan kalian masih baik-baik saja, kan?!" Tanya Kushina bertubi-tubi, merasa terkejut sekaligus heran dengan ucapan putranya itu.

Naruto hanya mampu tersenyum tipis, melihat reaksi dari ibu tercintanya itu. Akhirnya Naruto pun menjelaskan secara terperinci mengenai masalah yang kini tengah membelenggu dirinya. Kushina tampak begitu tertarik untuk mendengarkan semua keluh kesah putra tunggalnya ini, hal ini terlihat dari cara Kushina yang mendengarkan dengan seksama cerita Naruto tanpa sedikit pun berniat untuk memotong perkataan Naruto.

"Seperti itulah, Kaa-san. Hinata-chan sama sekali tidak mempercayai jika perasaanku padanya telah berubah. Perasaanku kali ini lebih dari sekedar menyukai ataupun mengaguminya, aku benar-benar mencintainya, Kaa-san. Aku tak ingin kehilangannya di sisiku." Ucap Naruto pelan, tatapan matanya kembali berubah menjadi sendu.

"Kau memang benar-benar bodoh, Naruto-kun!" Ucap Kushina sambil menyentil keras dahi milik Naruto. Membuat sang putra tunggal Namikaze itu sedikit meringis kesakitan.

"Kau ini, kalau kau memang mencintainya, kejarlah kembali Hinata-chan! Lakukanlah semua hal yang dulu pernah dilakukan oleh Hinata-chan kepadamu! Kau juga pasti menyadarinya kan, jika dulu Hinata-chan selalu berusaha untuk mencari perhatianmu?!" Jeda sejenak sebelum Kushina melanjutkan perkataannya.

"Ia juga selalu mencari kesempatan untuk bisa berada di dekatmu. Seharusnya kau jauh lebih mengerti untuk memikirkan sebuah cara untuk kembali mendapatkan hatinya! Jika Hinata-chan saja tetap gigih tanpa merasa lelah untuk menunggumu menyambut hatinya, bagaimana mungkin kau saat ini sudah merasa lelah dan tak bersemangat untuk kembali mendapatkan kepercayaannya, Naruto-kun?!" Ucap Kushina panjang lebar, sedikit memberikan masukan dan nasehat kepada putranya itu. Naruto sendiri hanya bisa terdiam untuk merenungkan semua ucapan Kushina di dalam pikirannya.

"Kau benar Kaa-san. Jika dibandingkan dengan rasa sakit yang dirasakan oleh Hinata-chan selama tujuh tahun ini menunggu dan mengharapkanku, rasa sakit yang aku rasakan saat ini tidak ada artinya sama sekali." Ucap Naruto sedikit mendengus pelan, mengejek kepada dirinya sendiri yang begitu bodoh karena telah menyia-nyiakan gadis sebaik Hinata.

"Hm, jangan menyerah untuk meraih hatinya lagi, Naruto-kun! Pokoknya Kaa-san tidak mau tahu, Hinata-chan harus tetap menjadi menantu Kaa-san, bagaimana pun caranya!" Ucap Kushina sedikit tegas, membuat Naruto sedikit bergidik ngeri dengan ekspresi yang ditampilkan ibunya.

"Haha...Baiklah, baiklah Kaa-san, aku mengerti." Ucap Naruto sedikit canggung sambil beranjak dari pangkuan Kushina.

"Ya sudah, sekarang kau tidurlah, Naruto-kun! Besok Kaa-san akan buatkan bekal makan siang untukmu dan juga Hinata-chan. Jangan lupa kau harus memberikan bekal itu kepada Hinata-chan, mengerti?!" Ucap Kushina sambil berkacak pinggang, saat dirinya sudah beranjak berdiri dari ranjang Naruto.

"Iya, iya Kaa-san, aku mengerti! Sudah, Kaa-san pergilah, kasihan Tou-san jika sendirian saja di kamar! Aku tidak mau nanti Tou-san merasa kesal lagi seperti dulu, jika Kaa-san berlama-lama di sini." Ucap Naruto sedikit menggoda ibunya, yang tentu saja sukses membuat kedua pipi Kushina sedikit bersemu merah.

"Huh, kau berani mengusir ibu rupanya! Kau tidak sopan, Naruto-kun!" Ucap Kushina kesal sambil menggembungkan kedua pipinya seperti anak kecil, dan melipat kedua tangannya di depan dadanya. Naruto hanya bisa sweatdrop melihat tingkah laku ibunya itu. Tapi, ia juga merasa bersyukur karena dengan sikap ibunya ini, ia sedikit merasa terhibur dan bisa sedikit melepaskan bebannya yang sedari tadi dipendamnya.

"Haha...Maaf Kaa-san, terima kasih karena sudah menemaniku malam ini. Aku sedikit merasa lega setelah mendengarkan nasehat darimu, Kaa-san." Ucap Naruto sambil tersenyum tulus kepada Kushina. Kushina pun balas tersenyum lembut ke arah Naruto.

"Hm, kalau begitu Kaa-san tinggal ya, Naruto-kun." Ucap Kushina pamit diri kepada Naruto untuk meninggalkan kamar pribadi putranya. Naruto menganggukkan kecil kepalanya, seolah menyetujui ucapan Kushina.

"Bersenang-senanglah, Kaa-san! Kalau bisa, tolong bilang pada Tou-san untuk memberikanku seorang adik." Teriak Naruto sambil tersenyum jahil kepada Kushina, sebelum Kushina benar-benar pergi meninggalkan kamarnya.

Kushina yang mendengar perkataan putranya langsung menjadi salah tingkah dan buru-buru untuk segera menutup pintu kamar putranya. Naruto sendiri semakin terkikik geli setelah melihat reaksi Kushina, ia tak habis pikir kenapa malam ini ia begitu senang untuk menggoda ibunya.

Lagipula, mengharapkan adanya seorang adik pada usianya yang akan menginjak dua puluh tiga tahun itu, apakah mungkin terjadi?! Hm, mungkin saja, jika Kami-sama sudah menghendakinya untuk terjadi, maka semua hal yang tidak mungkin akan menjadi mungkin atas kebesaran kuasanya, benarkan?

.

.

.

BUUGGHH

"Hm, kau kenapa Hime?!" Tanya Minato sambil menaikkan sebelah alisnya merasa heran dengan tindakan Kushina yang baru saja menutup kasar pintu kamar pribadi mereka dengan menampilkan sebuah ekspresi kekesalan di wajah cantiknya. Sebelumnya Minato tengah membaca sebuah buku sambil menyandarkan punggung tegapnya pada sandaran ranjang king sizenya.

"Ini semua gara-gara ucapan Naruto-kun! Sedari tadi ia terus saja menggodaku, Minato-kun." Ucap Kushina yang kini sudah duduk manis di atas ranjang di sebelah Minato yang kini sudah menutup bukunya untuk lebih fokus mendengarkan perkataan istri tercintanya.

"Memangnya Naruto-kun mengatakan hal apa kepadamu, Hime?!" Tanya Minato meminta penjelasan lebih kepada Kushina. Kushina yang ditanya seperti itu oleh Minato, kembali berblushing ria tatkala ia mengingat ucapan Naruto, putranya.

"A-...Ano, katanya Naruto-kun ingin seorang a-...ah, bagaimana mengatakannya?" Ucap Kushina frustasi sambil mengusap kasar surai merah panjangnya.

"Hm, seorang apa?! Katakan saja, Hime!" Ucap Minato merasa sedikit penasaran.

"Ugh~...Naruto-kun ingin kau memberikan seorang adik untuknya." Ucap Kushina cepat sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya, berusaha menutupi rasa malu yang kini tengah dirasakannya.

Ah, rupanya meskipun sudah menjalani bahtera rumah tangga selama dua puluh empat tahun bersama Minato dan juga mempunyai seorang putra yang kini sudah beranjak dewasa, tapi sikap Kushina masih terlihat seperti gadis remaja-remaja lainnya yang baru saja mengalami jatuh cinta, eh?

"Hahaha...ku pikir apa. Itu kan hal yang wajar, Hime! Kau tidak perlu malu seperti itu." Ucap Minato tertawa geli sambil melepaskan tangan Kushina yang menutupi wajah cantiknya. Minato mengangkat sedikit dagu mungil milik istrinya tersebut, dan dikecupnya lembut. "Bagaimana kalau kita mengabulkan permintaan Naruto-kun, Hime?" Bisik Minato pelan di telinga Kushina, membuat sang wanita Namikaze itu seketika menegang.

"Ka-..." Ucapan Kushina terpotong karena Minato telah terlebih dahulu mencium dengan ganas bibir mungil Kushina, tak ingin memberikan kesempatan kepada Kushina untuk melanjutkan perkataannya ataupun menolak cumbuannya.

Kushina pun akhirnya tak berkutik dengan serangan tiba-tiba yang dilakukan oleh Minato. Kehangatan yang tercipta dari sentuhan bibir tegas Minato begitu membuat dirinya begitu terhanyut dan terbuai untuk selalu menikmati setiap pergerakan lembut yang dilakukan suaminya itu. Sssttt, kita biarkan saja ya pasangan MinaKushi ini untuk menikmati kegiatan percintaannya berdua saja, oke?!

.

.

.


Krieettt

"Bolehkah aku masuk ke dalam, Hinata-chan?!" Ucap Naruto setelah membuka pintu ruang kerja Hinata, tanpa mengetuknya terlebih dahulu. Hinata yang melihat kedatangan Naruto hanya menaikkan sebelah alisnya merasa heran dengan tindakan Naruto tersebut.

"Apa kau tidak bisa mengetuk pintu terlebih dahulu, Naruto-kun?" Ucap Hinata tenang sambil melepaskan kacamatanya yang sedari tadi bertengger dengan manis pada hidung mancungnya.

"Hm, tidak masalah. Lagipula ini perusahaan milikku, jadi aku bisa masuk ke ruangan mana saja sesuka hatiku, Hinata-chan." Ucap Naruto sambil mengendikkan bahunya dan sedikit tersenyum tipis. Perlahan ia melangkahkan kakinya ke arah sofa dan tanpa mendapatkan persetujuan dari Hinata, Naruto mendudukkan dirinya di sana dan meletakkan bungkusan bento yang dibawanya di atas meja.

"Setidaknya hargailah karyawanmu, Naruto-kun. Kau tidak bisa seenaknya saja bertindak sesuka hatimu seperti itu terus." Ucap Hinata sedikit mendesah pelan, setelah mendengar ucapan Naruto yang terdengar sedikit angkuh.

"Hm, baiklah. Lagipula kau itu bukan karyawanku, Hinata-chan! Apa salahnya aku datang menghampiri calon istriku sendiri?!" Ucap Naruto menyeringai tipis. Membuat sang gadis Hyuuga sedikit merasa terkejut.

"Jangan bertindak bodoh! Kita sudah berakhir, Naruto-kun!" Ucap Hinata sambil menyeringai sinis.

"Kau yang memutuskanku secara sepihak, Hinata-chan! Seingatku, aku tidak pernah menyetujui permintaanmu untuk putus." Ucap Naruto acuh, tanpa mempedulikan tatapan tajam yang dilayangkan Hinata. Kini Naruto lebih fokus untuk membuka bekal buatan ibunya, dan menatanya di atas meja.

"Apakah aku mengijinkanmu untuk makan siang di sini, Naruto-kun?!" Ucap Hinata ketus sedikit menahan rasa kesalnya kepada Naruto yang bertindak dengan seenaknya saja di ruangan kerjanya.

Naruto tidak menjawab pertanyaan Hinata, ia terdiam sejenak sebelum dirinya beranjak dan berjalan menghampiri Hinata yang kini tengah duduk di kursi kerjanya. Tanpa aba-aba, Naruto langsung menarik pergelangan tangan Hinata dan membawa Hinata untuk duduk di sofa. Hinata sendiri hanya bisa memberenggut kesal dengan pemaksaan yang dilakukan oleh Naruto kepadanya.

"Diam dan duduklah!" Perintah Naruto tegas. Kini Naruto mulai mengambil sepotong tempura dari kotak bekalnya, untuk disuapkan kepada Hinata. "Makanlah!" Pinta Naruto dengan nada yang sedikit lebih halus kepada Hinata.

"Aku bisa makan sendiri, Naruto-kun! Kau tak perlu repot-repot untuk menyuapiku!" Ucap Hinata datar sambil mengambil sumpit lainnya dan mengambil tempura dari kotak bekal Naruto.

"Hm, tidak apa-apa jika kau menolakku untuk menyuapimu. Setidaknya kau masih mau memakan bekal yang aku bawa, Hinata-chan." Ucap Naruto tersenyum tipis, tak mempermasalahkan penolakan yang diberikan Hinata. Hinata sendiri tampak acuh tak mempedulikan ucapan Naruto, ia lebih memilih untuk menikmati makan siangnya saja.

.

.

.

Kini Naruto tengah menunggu Hinata di luar ruangan kerja gadis indigo itu. Naruto menyandarkan punggung lebarnya ke belakang dinding di sebelah pintu masuk ruang kerja Hinata.

Kriieettt

"Kau sudah selesai, Hinata-chan?!" Tanya Naruto saat Hinata baru saja keluar dari ruangan kerjanya. Hinata hanya memutar kedua bola matanya bosan, melihat Naruto yang tak henti-hentinya datang menghampirinya.

"Hm, untuk apa kau menungguku, Naruto-kun?!" Tanya Hinata acuh.

"Ayo, kita pulang bersama!" Ucap Naruto tersenyum lebar sambil menarik kembali tangan mungil Hinata, tanpa menghiraukan pertanyaan Hinata sebelumnya.

.

.

.

"Pulanglah! Cukup sampai di sini saja kau mengantarku, Naruto-kun! Aku minta kau jangan datang lagi menghampiriku!" Ucap Hinata tegas kepada Naruto.

"Tentu saja aku akan pulang, Hinata-chan." Ucap Naruto tersenyum lembut sambil menyipitkan kedua matanya. "Tapi, aku tidak bisa berjanji untuk tidak datang lagi menghampirimu." Ucap Naruto melanjutkan perkataannya.

"Terserah!" Tanggap Hinata ketus, segera saja Hinata membuka pintu untuk masuk ke dalam rumahnya. Namun, sebelum Hinata benar-benar masuk ke dalam rumah, seseorang telah terlebih dahulu keluar dari dalam rumah.

"Naruto-nii...!" Teriak Hanabi gembira sambil menerjang dengan kuat tubuh Naruto, membuat sang pemuda Namikaze itu sedikit terhuyung ke belakang.

Hanabi tahu jika Naruto datang ke kediaman Hyuuga, karena saat ia tengah belajar di kamarnya, ia bisa melihat kedatangan Naruto dan Hinata dari jendela kamarnya di atas. Segera saja Hanabi meninggalkan tugas sekolahnya dan berlari ke lantai bawah untuk menemui Naruto.

"Hanabi! Apa yang kau lakukan?!" Ucap Hinata sedikit menyentak kepada adiknya. Hinata tidak suka dengan sikap Hanabi yang begitu manja kepada Naruto. Bukannya Hinata merasa cemburu, tapi Hinata tidak ingin Hanabi menjadi ketergantungan dengan keberadaan Naruto, ia tidak mau Hanabi merasa kecewa karena Naruto dan dirinya sudah tidak menjalin hubungan apa-apa lagi.

"Nee-chan, aku kan hanya mau menyambut Naruto-nii! Kenapa Nee-chan malah marah seperti itu?!" Ucap Hanabi murung sambil mengerucutkan bibir mungilnya, cemberut.

"Hanabi! Cepat masuk!" Perintah Hinata tegas.

"Tidak mau! Hanabi masih mau bersama dengan Naruto-nii." Tolak Hanabi atas perintah Hinata. Hanabi semakin mengeratkan pelukannya terhadap Naruto.

"Kau! Ja-..."

"Sudah, sudah! Hanabi sayang, lebih baik kau masuk sana! Besok aku janji akan datang lagi untuk menemuimu, ya?!" Bujuk Naruto secara halus sambil membelai lembut surai panjang milik Hanabi. Naruto sama sekali tidak menginginkan adanya keributan yang terjadi antara kakak beradik ini hanya karena dirinya.

"Ugh~...Baiklah Nii-chan. Tapi kau janji besok harus datang lagi ke sini, ya! Kalau tidak aku tidak akan mau makan selama seharian!" Ancam Hanabi kepada Naruto.

"Kau ini bicara apa sih Hanabi?! Tolong, jangan melakukan hal yang aneh-aneh!" Ucap Hinata menyindir perkataan adiknya.

"Ada apa sih denganmu, Nee-chan?! Kau aneh sekali hari ini!" Sewot Hanabi tak suka dengan perkataan Hinata. Naruto hanya menggelengkan kepalanya, merasa bersalah melihat sedikit perselisihan kakak beradik tersebut.

"Sudah Hanabi-chan, lebih baik aku pulang sekarang, ya? Tidak baik jika kalian jadi ribut begini hanya karenaku." Ucap Naruto menengahi perdebatan di antara Hinata dan Hanabi.

"Hm, baguslah kalau kau mengerti, Naruto-kun!" Ucap Hinata ketus sambil melangkahkan kakinya ke dalam rumah dan meninggalkan Naruto serta Hanabi berdua saja.

"Ada apa sih dengannya, Naruto-nii?!" Tanya Hanabi diliputi penuh rasa penasaran terhadap sikap Hinata yang tiba-tiba berubah drastis kepadanya. Dulu, Hinata memang sama sekali tidak pernah mempermasalahkan jika Hanabi bersikap manja kepada Naruto.

Naruto sendiri hanya tersenyum kecil sambil mengangkat kedua bahunya, seolah ia sendiri juga tidak mengetahui penyebab Hinata berubah sikap seperti itu. Naruto memang tak berminat untuk membuka hubungannya yang telah kandas kepada keluarga Hinata, dan Naruto juga yakin jika Hinata juga tidak akan berani untuk mengatakan kenyataannya kepada Hyuuga Hiashi.

.

.

.


Sakura kini tengah berjalan menyusuri halaman depan perusahaan Yamanaka Entertainment, ia bermaksud untuk menghampiri Ino dan juga Sai yang telah terlebih dahulu masuk ke dalam mobil milik Sai yang terparkir di halaman parkir Yamanaka Entertainment. Emeraldnya sedikit memutar bosan tatkala dirinya kembali mendapati pemuda raven yang sempat menjadi kekasih hatinya dulu, kini tengah bersandar pada mobilnya sambil tersenyum lembut ke arahnya. 'Mau apa lagi dia datang ke sini?! Dasar pemuda keras kepala!' Innernya bertanya penuh rasa penasaran.

Pasalnya, sejak kejadian dua hari yang lalu saat Sasuke berkata bahwa dia tidak akan pernah berhenti untuk kembali mendapatkan hati Sakura, pemuda itu terus saja secara egois memaksa diri Sakura untuk ikut pergi dengannya, meskipun Sakura sudah menolak mentah-mentah ajakannya itu.

Seperti halnya yang terjadi kemarin, Sasuke memaksa dan menyeret Sakura untuk masuk ke dalam mobil miliknya. Tanpa menghiraukan gadis musim semi itu yang terus saja meronta untuk keluar dari mobil, Sasuke malah sengaja memacu mobil mewahnya dengan kecepatan di atas rata-rata dan membawa Sakura ke suatu restoran mewah di kawasan perbelanjaan elit di kota Tokyo, untuk makan malam. Selama menikmati makan malam, tentu saja Sakura hanya terdiam seribu bahasa tanpa mempedulikan Sasuke yang berusaha untuk mengajaknya berbicara. Poor Sasuke?!

.

.

.

"Apa kau tidak punya pekerjaan lain, selain mengganggu diriku terus, eh Sasuke?!" Tanya Sakura angkuh sambil melipat kedua tangannya di depan dadanya. Emeraldnya menatap tajam ke arah Sasuke, seakan menantang onyx yang berada di hadapannya tersebut.

"Hn, tentu saja ada. Aku punya pekerjaan untuk mengambil kembali sesuatu yang sempat menjadi milikku dulu, dan aku tidak ingin menyia-nyiakan sedikit pun waktu untuk bisa mendapatkannya kembali." Ucap Sasuke yang kini sudah menarik paksa tangan mungil Sakura, untuk membawa gadis musim semi itu ke dalam mobilnya. Kali ini Sakura sama sekali tidak memberontak saat Sasuke memaksanya untuk ikut dengan pemuda Uchiha bungsu tersebut.

"Tumben, kau tidak melakukan perlawanan seperti biasanya, eh?!" Ucap Sasuke yang merasa heran dengan sikap Sakura yang tenang-tenang saja menanggapi tindakan pemaksaannya.

"Percuma saja bukan? Aku memberontak pun, kau tidak akan pernah menuruti perkataanku. Tenagaku hanya akan terbuang sia-sia saja, jika aku terus menerus melakukan hal seperti itu kepadamu." Ucap Sakura tenang, mencoba sebisa mungkin untuk menekan emosinya saat ini.

Sementara Sasuke kini termenung setelah mendengar ucapan Sakura. 'Aku pikir kau sudah mulai bisa menerimaku kembali, Cherry.' Batinnya berucap sendu. Onyxnya menatap lemah ke arah Sakura yang sedari tadi hanya memandang ke arah depan seolah tak menganggap keberadaannya.

"Hn. Seharusnya sejak kemarin kau menjadi gadis penurut seperti ini, Cherry! Jadi aku tidak perlu repot-repot dan bersusah payah untuk menyeretmu ke dalam mobil." Ucap Sasuke berpura-pura tersenyum sambil menepuk pelan pucuk kepala Sakura, berusaha untuk mengalihkan pandangan sang gadis musim semi ke arahnya.

"Jangan macam-macam!" Ucap Sakura menepis kasar tangan Sasuke yang berada di atas kepalanya. Emeraldnya menatap tajam ke arah pemuda raven tersebut. 'Berhasil!' Batin Sasuke berseru senang, kembali ia tampilkan senyuman tipis yang begitu menawan ke arah Sakura.

"Lalu, hari ini kau ingin pergi kemana, Cherry?" Tanya Sasuke sambil mulai melajukan perlahan mobilnya ke arah jalanan raya kota Tokyo.

"Pulang!" Ucap Sakura singkat, tegas, dingin dan datar.

"Hah~...Maksudku suatu tempat yang ingin kau kunjungi." Ucap Sasuke sedikit mendesah lelah menghadapi sikap Sakura yang masih saja dingin kepadanya.

"Bukankah kau sendiri yang bertanya aku ingin pergi kemana?! Sekarang aku ingin pulang, jika kau bisa mendengar dengan jelas perkataanku barusan." Ucap Sakura menyeringai tipis seolah mengejek sang Uchiha bungsu tersebut.

"Tidak mau! Kalau begitu aku saja yang akan menentukan kemana kita akan pergi." Ucap Sasuke menolak tegas permintaan Sakura.

"Kalau begitu, tidak usah bertanya dan meminta pendapatku, Sasuke!" Ucap Sakura kesal sambil memutar bosan kedua emerald indahnya, merasa jengah dengan sikap egois Uchiha Sasuke tersebut. Mau tidak mau, Sakura tetap harus mengikuti ke mana Sasuke akan membawanya. Tak ingin membuat Ino dan Sai khawatir, akhirnya Sakura menelepon Ino untuk memberitahukan bahwa dirinya tidak bisa ikut pulang bersama Ino dan Sai, dan ia akan kembali pulang malam hari ini.

.

.

.

"Kau tidak salah, Sasuke?!" Tanya Sakura kepada Sasuke, ia merasa sedikit terkejut karena Sasuke mengajaknya ke sebuah bioskop yang terdapat di salah satu mall terbesar di kota Tokyo. Kini mereka berdua telah mengenakan penyamaran mereka, agar tidak terlalu menarik perhatian para fans mereka di sini.

Sasuke mengenakan sebuah jaket berwarna biru tua, onyxnya terbingkai indah oleh sebuah kacamata hitam, serta sebuah topi rajutan berwarna senada dengan jaketnya, juga melekat di atas kepalanya. Tak jauh berbeda dengan Sakura, yang kini tengah mengenakan sebuah jaket berwarna merah muda, iris emeraldnya terbingkai indah oleh sebuah kacamata berlensa bening, serta sebuah topi rajutan berwarna senada dengan rambut indahnya, melekat di atas kepalanya.

Memang sebelumnya Sasuke sudah mempersiapkan perlengkapan penyamaran bagi dirinya dan juga Sakura, karena kemungkinan dirinya pasti akan terus-menerus menculik Sakura untuk pergi bersamanya, suka ataupun tidak gadis itu terhadap perlakuaannya, Sasuke tidak akan pernah berhenti ataupun mundur untuk meraih hati Sakura kembali.

"Hn. Bukankah dulu kau sangat ingin pergi menonton film di bioskop, Cherry?!" Ucap Sasuke lembut kepada Sakura yang kini berdiri di sampingnya. Kini Sasuke tengah menggenggam erat tangan Sakura, karena Sasuke tak mau kehilangan Sakura yang mungkin saja mempunyai niatan untuk melarikan diri darinya saat ini.

'Sial, kenapa dia menggenggam tanganku dengan begitu kuat! Aku jadi tidak bisa melarikan diri darinya. Aku harus segera mencari ide untuk mengambil kesempatan kabur dari Sasuke.' Ucap Sakura di dalam hatinya.

"Ya, dan kau selalu mengabaikan serta menolaknya jika aku mengajakmu untuk menonton film di bioskop, Sasuke." Ucap Sakura menyeringai tipis kepada Sasuke, kembali mengejek mantan kekasihnya itu. Iris hijau beningnya kini ia edarkan ke seluruh penjuru aula bioskop itu, berusaha mencari inspirasi untuk melarikan diri dari Sasuke.

"Hn. Itu dulu Sakura! Saat ini tentu saja berbeda!" Ucap Sasuke ketus, merasa tidak suka jika Sakura sudah mulai membahas sikap buruknya di masa lalu kepadanya.

"Apanya yang berbeda, Sasuke? Rasanya sekarang kau terlihat sangat memaksakan diri dengan melakukan hal-hal yang tidak kau sukai, hanya karena untuk mendapatkan kembali hatiku, benarkan?!" Ucap Sakura lagi sambil menampilkan sebuah senyuman manis yang terkesan mengejek Sasuke.

"Jika seperti itu, artinya kau tidak benar-benar melakukan semua ini dengan tulus, Sasuke!" Ucap Sakura sedikit menyeringai tipis, tatkala dirinya mendapati sekumpulan remaja perempuan berjumlah sekitar sepuluh orang sedang menuju ke arah dirinya dan juga Sasuke.

Semua gadis pasti menyukai dan mengidolakan aktor tampan Uchiha kita yang satu ini, kan?!

Hal inilah yang akan dimanfaatkan oleh Sakura untuk bisa melarikan diri dari Sasuke. Meskipun memang di dalam aula bioskop ini juga banyak terdapat orang yang sedang menunggu giliran untuk masuk ke dalam ruang bioskop, tapi Sakura setidaknya membutuhkan pancingan untuk menarik perhatian orang-orang di sana.

"Hn. Kau salah Cherry! Aku tidak pernah merasa terpaksa untuk melakukan semua hal ini." Sanggah Sasuke terhadap perkataan Sakura, Sasuke semakin mengeratkan genggaman tangannya pada Sakura.

"Terserah!" Tanggap Sakura acuh terhadap Sasuke. "Tidak bisakah kau melepaskan genggamanmu ini, aku benar-benar merasa tidak nyaman dengan perlakuanmu saat ini." Ucap Sakura mendelik tajam ke arah Sasuke.

"Hn. Tidak! Kau pasti berniat untuk melarikan diri dariku, kan?!" Ucap Sasuke menyeringai tipis, tentu saja Sasuke tak mudah itu untuk dibodohi oleh perkataan Sakura.

"Lepaskan! Jika tidak, aku akan bertindak sesuatu hal yang tidak kau harapkan saat ini!" Ucap Sakura sedikit mengancam dengan seringaian liciknya terpatri di wajah ayunya.

"Lakukan saja! Aku tetap tidak akan melepaskanmu, nona!" Tantang Sasuke tidak mempedulikan ancaman Sakura tersebut.

"Ich, kau menantangku, Sasuke?! Baiklah, aku tak akan main-main dengan perkataanku. Bersiaplah!" Tanggap Sakura sedikit tertarik dengan tantangan Sasuke.

Sakura terdiam sejenak, sebelum akhirnya ia menarik napas dalam-dalam dan mengeluarkan suara yang begitu terdengar menggelegar memenuhi ruang aula bioskop.

"HEI KALIAN! LIHATLAH ADA AKTOR TAMPAN UCHIHA SASUKE DI SINI!" Teriak Sakura sambil menunjuk-nunjukkan jarinya ke arah Sasuke, seolah memberikan sinyal kepada sekumpulan remaja perempuan tadi untuk melihat ke arahnya. Sasuke melirik kesal ke arah Sakura, bisa-bisanya gadis itu memikirkan sebuah cara seperti ini untuk melarikan diri darinya.

Sontak saja tindakan Sakura tersebut menarik seluruh atensi para pengunjung bioskop di sana. Terutama sekumpulan remaja perempuan tadi, yang dengan antusias langsung menyerbu ke arah Sasuke dan Sakura. Membuat otot-otot mata Sasuke menegang seketika.

'Sial! Aku tidak bisa bergerak sama sekali.' Batinnya berucap kesal, tatkala sekumpulan remaja perempuan itu semakin menghimpit tubuhnya dan juga tubuh Sakura. Apalagi ditambah dengan pengunjung lainnya yang juga penasaran untuk melihat Sasuke dari dekat.

Mau tidak mau Sasuke harus melepaskan genggaman tangannya pada Sakura, agar gadis musim semi itu tidak semakin terdesak oleh para penggemarnya yang cukup mengerikan ini. Sakura menyeringai tipis saat Sasuke melepaskan dirinya, tanpa membuang-buang waktu lagi, segera saja Sakura menerobos kerumunan para fans Uchiha Sasuke untuk segera keluar dari aula bioskop. Sasuke sendiri tetap memfokuskan pandangannya ke arah Sakura, untuk mengawasi ke mana gadis itu akan pergi.

"Kyyaaa...Dia benar-benar Uchiha Sasuke!" Ucap salah satu penggemar Sasuke, memastikan bahwa orang yang berada di hadapannya adalah benar-benar Sasuke.

"Sungguh! Dia benar-benar tampan!" Puji seorang penggemar lainnya. Sasuke hanya tersenyum kikuk menanggapi setiap perkataan fansnya.

"Aku minta tanda-tangannya, Uchiha Sasuke!" Ucap seorang penggemar lainnya sambil mengeluarkan sebuah pena dan juga sebuah kertas.

"Ayo, kita berfoto bersama-sama, Sasuke!" Ucap seorang penggemar Sasuke lagi, yang kini sudah mengeluarkan handphonenya untuk meminta foto bersama Sasuke.

Ya, kira-kira begitulah reaksi dan teriakan histeris yang dilakukan oleh para fans Uchiha Sasuke saat bertemu idolanya. Membuat sang Uchiha bungsu tak bisa berkutik karena kewalahan menghadapi para fansnya, namun tentu saja Sasuke tak bisa membiarkan Sakura semakin pergi jauh dari dirinya. Segera saja Sasuke pun berniat untuk melarikan diri dari para fansnya ini.

"Maaf, aku sedang ada urusan mendadak. Mungkin lain kali kita bisa bertemu kembali." Ucap Sasuke sambil menampilkan sebuah senyuman tipis yang tentu saja mampu membius para fansnya itu.

Segera saja Sasuke menerobos paksa kerumunan penggemarnya itu, dan membawa kaki kekarnya untuk berlari sekencang mungkin untuk menghindari kejaran para penggemarnya. Sasuke memacu kedua kakinya ke arah yang tadi di ambil oleh sang gadis musim semi.

'Pasti dia masih belum jauh dari sini. Sial! Kenapa dia bisa menjebakku seperti ini!' Ucapnya menggerutu di dalam hati. Iris hitamnya melirik ke arah kanan dan kiri, guna memastikan keberadaan Sakura.

'Rupanya kau memang tidak pandai untuk melarikan diri, nona!' Batin Sasuke sambil menampilkan seringaian tipisnya, tatkala Sasuke menemukan Sakura yang kini tengah berjalan di depannya tak jauh dari tempat dirinya saat ini berdiri.

Sasuke sedikit memperlambat langkah kakinya, guna mengikuti sang pujaan hatinya secara diam-diam dari belakang. Kedua tangannya ia masukkan ke dalam saku celananya, berusaha bersikap tenang dan cool.

.

.

.

"Hosh...hosh...tak kusangka jika para fansnya Sasuke akan bersikap seantusias itu." Ucap Sakura terengah-engah sambil mengatur pernapasannya kembali, setelah sebelumnya berlari untuk melarikan diri dari Sasuke.

Meskipun sudah berusaha untuk berlari sekencang mungkin, tapi Sakura tidak bisa melakukannya karena saat ini ia tengah mengenakan sepatu high heels sehingga menyulitkannya untuk berlari kencang.

"Tentu saja itu salahmu, Cherry! Kau seperti memberi sepotong daging kepada sekumpulan singa yang kelaparan, membuat mereka saling berebut untuk mendapatkan makanannya." Ucap Sasuke tiba-tiba sambil tersenyum mengejek kepada Sakura di depannya.

Deg

'Aish, kenapa sekarang dia bisa berada di belakangku, sih! Kami-sama, tolong jauhkan aku dari pemuda egois ini.' Innernya memohon kepada Kami-sama.

Sakura akhirnya dengan terpaksa membalikkan tubuhnya menghadap ke arah Sasuke. Kembali ia pasang wajah datar dan dinginnya.

"Cepat antarkan aku pulang! Jika tidak, aku akan pulang sendiri!" Perintah Sakura kepada Sasuke tegas.

"Tidak bisa! Kita bahkan tidak jadi menonton film. Sebagai gantinya kau harus ikut aku ke rumahku sekarang." Ucap Sasuke memaksa, sambil menarik tangan Sakura dan menuntun gadis itu untuk berjalan mengikutinya.

"Apa kau sudah gila?! Kita sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi, Sasuke! Hei, lepaskan aku, bodoh!" Maki Sakura sambil meronta kepada Sasuke. Tapi, Sasuke sepertinya tidak berniat untuk melepaskan tangan Sakura, dirinya hanya fokus memandang ke arah depan tak mempedulikan tatapan aneh yang dilayangkan para pengunjung mall kepada mereka.

.

.

.

"Ah, Cherry! Lama kita tidak berjumpa." Ucap Mikoto hangat sambil memeluk Sakura dengan penuh kelembutan, saat Sasuke dan Sakura masuk ke dalam ruangan keluarga kediaman Uchiha. Kali ini Mikoto bersikap berpura-pura tidak mengetahui masalah yang tengah terjadi di antara Sasuke dan Sakura. Sakura sendiri hanya bisa tersenyum canggung menanggapi ucapan Mikoto.

"Cherry sedang sibuk, Kaa-san. Jadi baru sekarang dia bisa datang ke sini lagi." Ucap Sasuke mewakili Sakura untuk menjawab pertanyaan Mikoto. Sakura yang mendengar perkataan Sasuke, mendelikkan matanya tajam ke arah Sasuke.

'Bisa-bisanya dia berbicara seperti itu, seolah-olah tak terjadi apa-apa kemarin, huh!' Ucap Sakura menggerutu di dalam hatinya.

"Ya sudah, tidak apa-apa. Ayo masuk! Kaa-san benar-benar merindukanmu, Cherry." Ucap Mikoto sambil menuntun Sakura untuk duduk di sofa. Sasuke sendiri ikut duduk untuk menonton televisi sekaligus mendengarkan pembicaraan Mikoto dan juga Sakura. Sasuke merasa bersyukur karena setidaknya sikap Sakura tidak menjadi berubah kepada ibunya.

"Kemana Tou-san dan Itachi-nii, Kaa-san?!" Ucap Sakura berbasa-basi untuk mengawali pembicaraannya dengan Mikoto.

"Ah, mereka sedang lembur, Cherry. Sejak kemarin, mereka selalu pulang larut malam. Kaa-san jadi sedikit merasa kesepian." Ucap Mikoto sendu.

"Oh begitu, bukankah ada Sasuke-kun di rumah yang menemani, Kaa-san?!" Tanya Sakura lagi, agak sedikit ragu saat akan menyebut nama Sasuke dengan menggunakan suffiks –kun. Sakura tidak menyadari jika Sasuke sedikit tersenyum senang, saat Sakura memanggil namanya dengan panggilannya dulu.

"Hn, aku juga sedang sibuk, Cherry!" Ucap Sasuke menyela pembicaraan Sakura dan juga Mikoto. Sakura kembali mendeathglare Sasuke, sedangkan Mikoto hanya terkikik geli dengan interaksi kedua muda-mudi ini.

"Apa kau sudah makan, Cherry?!" Tanya Mikoto berusaha menetralisir aura tak mengenakan yang menguar di antara Sakura dan Sasuke.

"Um, sudah tadi siang Kaa-san." Ucap Sakura mengatakan apa adanya.

"Ya sudah, sekarang lebih baik kita makan saja ya." Tawar Mikoto lembut kepada Sakura.

"Baiklah Kaa-san." Ucap Sakura menyetujui tawaran Mikoto. Sakura sama sekali merasa bahagia dengan sikap dan perhatian yang diberikan oleh Mikoto kepadanya. Sakura memang merasa benci dengan Sasuke saat ini, namun rasanya sulit jika ia harus membenci Mikoto juga. Menurutnya, Mikoto sama sekali tidak ada hubungannya dengan masalah yang kini tengah di alami oleh dirinya dan juga Sasuke. Mikoto, sudah ia anggap sebagai sosok ibu kandung baginya, dan ia tak ingin lagi kehilangan sosok itu untuk yang kedua kalinya.

.

.

.


Seberkas sinar cahaya mentari pagi kini tampak menyeruak masuk melalui celah-celah jendela kamar seorang pemuda yang kini masih tampak asyik bermanja-manja dengan selimut tebalnya.

Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh pagi, itu artinya sudah waktunya untuk memulai aktivitas sarapan pagi bersama keluarga seperti biasanya. Namun sepertinya pemuda raven ini sama sekali tidak mempedulikan tentang hal tersebut dan lebih memilih mengistirahatkan tubuhnya pada kenyamanan yang di tawarkan oleh ranjang empuknya.

Rasanya ia merasa begitu kelelahan karena selama tiga hari ini ia tidak pernah absen untuk menemui Sakura dan berusaha untuk meyakinkan kembali Sakura akan perasaannya. Walaupun pada kenyataannya gadis musim semi itu terus menerus menolak secara mentah-mentah untuk bertemu dengan dirinya, namun sifat kekeraskepalaan Sasukelah yang membuat dirinya tak pernah menyerah untuk kembali menemui Sakura.

Suasana di kamar pemuda Uchiha itu tampak begitu hening dan tenang, sampai akhirnya sebuah suara berisik nan gaduh membuyarkan semua ketenangan itu.

Tok tok tok

"Hei, baka otouto! Bangunlah! Kau pikir ini sudah jam berapa?! Jangan bermalas-malasan seperti itu, heh!" Teriak Itachi sambil menggedor-gedorkan pintu kamar Sasuke berkali-kali dengan keras. Sasuke yang dengan samar-samar mendengar suara sang kakak yang begitu menggelegar dengan suara pintu yang diketuk dengan berisik, akhirnya perlahan membuka kedua matanya yang terasa begitu berat itu.

Dirinya terdiam sejenak untuk menatap langit-langit kamarnya terlebih dahulu sebelum akhirnya ia beranjak dari tidurnya.

"Hei, Sasuke!" Panggil Itachi lagi berteriak dengan suara yang lebih keras, merasa kesal karena sedari tadi adiknya tak juga memberikan respon terhadap panggilannya.

"Ck, baka aniki!" Ucap Sasuke mendecak kesal sambil mengusap-ngusap kedua lubang telinganya dengan kedua tangannya, yang terasa berdengung karena mendengar teriakan super milik sang Uchiha sulung tersebut.

Tak juga mendapatkan jawaban, Itachi akhirnya memutuskan untuk masuk saja ke dalam kamar Sasuke. "Hei, bodoh ka-...?!"

BUUGGHH

Ucapan Itachi terpotong karena tiba-tiba saja sebuah bantal dengan sarung bantal bermotif garis-garis biru hitam itu melayang ke arahnya yang saat ini tengah berada di ambang pintu kamar Sasuke, dengan kepalanya yang sedikit menongol ke dalam kamar.

Namun Itachi dengan sigap menutup kembali pintu kamar Sasuke untuk menghindari bantal tersebut agar tidak mengenai wajahnya, dan berakhirlah bantal malang tersebut menubruk pintu kamar Sasuke.

"Hei hei, apa kau tidak bisa bersikap sedikit lebih sopan terhadapku, eh?" Ejek Itachi saat dirinya kini sudah masuk kembali ke dalam kamar Sasuke sambil membawa bantal yang tadi dilemparkan oleh Sasuke, dan berjalan perlahan untuk menghampiri adik bungsunya yang tengah duduk berselonjor di atas ranjang. Itachi meletakkan bantal yang dibawanya di atas ranjang Sasuke, dan mendudukkan dirinya di ruang kosong pada ranjang di sebelah Sasuke.

"Memangnya siapa yang pagi-pagi begini, sudah bertindak dengan sangat tidak sopannya membangunkan orang lain dengan cara berteriak-teriak seperti itu, hah!" Maki Sasuke balas mengejek kakak sulungnya itu.

Itachi yang selalu merasa tidak mau kalah dengan adiknya ini, kemudian mengunci leher tegas Sasuke dalam kungkungan lengan kirinya. Sementara tangan kanannya dengan tanpa rasa bersalah menjitak keras kepala raven milik Sasuke, membuat Sasuke menjadi meringis kesakitan.

Aarrgghh

"Baka aniki! Kau pikir pukulanmu ini tidak sakit, hah!" Maki Sasuke lagi sambil mengusap-ngusap cepat kepalanya yang terasa berdenyut nyeri akibat jitakan yang diberikan oleh Itachi, setelah sebelumnya Itachi melepaskan lengannya dari leher Sasuke dan segera beranjak berdiri untuk menghindari kemungkinan aksi balasan dari Sasuke.

"Hahaha...Aku rasa itu tidak terlalu sakit Sasuke, kau terlalu berlebihan!" Ucap Itachi tertawa santai sambil berkacak pinggang, tanpa mempedulikan tatapan Sasuke yang begitu terasa menusuk ke arahnya.

BUUGGHH

Kali ini bantal milik Sasuke dengan sukses mendarat di wajah tampan milik Uchiha sulung itu. Itachi hanya bisa meringis kesakitan karena lemparan bantal yang dilayangkan oleh adiknya itu terasa begitu keras terasa pada wajahnya, segera saja Itachi memeriksakan wajahnya pada cermin rias yang terdapat di sebelah ranjang Sasuke untuk memastikan bahwa wajah tampannya itu baik-baik saja.

Sementara Sasuke hanya bisa memutar kedua bola matanya bosan dengan reaksi Itachi yang terlihat begitu berlebihan. Sasuke tak habis pikir, bagaimana mungkin Konan bisa tahan berada bersama kakaknya selama ini, yang terkadang bisa bersikap autis seperti itu.

Tak ingin mempedulikan Itachi yang masih sibuk bercermin, Sasuke kembali merebahkan tubuhnya dan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut tebalnya, berharap Itachi tidak akan kembali untuk mengganggu tidurnya.

"Kau jahat sekali Sasuke! Kalau sampai terjadi apa-apa pada wajah tampanku, bagaimana?" Ucap Itachi narsis, sambil terus memalingkan wajahnya ke kanan dan ke kiri di depan cermin untuk melihat adanya memar atau tidak pada wajahnya. "Kau harus bertanggungjawab jika suatu hari nanti aku di vonis menderita kanker wajah, Sasuke!" Ucap Itachi sedikit pilu. Ck ck ck, rasanya kau terlalu berlebihan Itachi, lemparan bantal itu tentu saja tidak akan sampai membuatmu terkena kanker wajah, huh!

"Hei, kau mendengarkan aku tidak, Sasuke?!" Tanya Itachi mengernyitkan keningnya merasa heran karena Sasuke tak juga menanggapi perkataannya.

Hening tak ada jawaban. Sepertinya Sasuke lebih memilih untuk berpura-pura tertidur daripada harus menanggapi sikap aneh Itachi hari ini yang sungguh merepotkan baginya. Tidak tahukah Itachi jika dirinya tengah mengalami hari-hari sulit saat ini!

Tak juga mendapat sahutan dari sang pemuda raven, segera Itachi alihkan pandangannya untuk melihat adik bungsunya itu. "Heh, baka otou-..." Ucapan Itachi terpotong tatkala ia mendapati Sasuke yang kini kembali berbaring di atas ranjangnya dengan seluruh tubuhnya yang terbungkus oleh selimut.

Itachi mendesah lelah menghadapi sikap Sasuke yang seperti itu, perlahan ia berjalan menghampiri ranjang Sasuke. "Hei, tidak bisakah kau menghormati kakakmu yang sedang berbicara ini, Sasuke?!" Ucap Itachi sambil menarik paksa selimut Sasuke, dan berhasil membuat sang Uchiha bungsu itu kembali bangun.

Aaarrgghh

"Aniki! Apa kau tidak memiliki pekerjaan lain selain menggangguku pagi ini, hah?!" Geram Sasuke merasa kesal dengan perlakuan Itachi. Rasanya kesabarannya sudah mulai habis dengan sikap autis Itachi yang selalu mengganggunya pagi ini.

"Huh, ya sudah! Ku pikir selama tiga hari ini, kau sama sekali tidak berhasil untuk kembali meyakinkan perasaanmu kepada Cherry. Tadinya aku bermaksud untuk membantumu, tapi melihat sikapmu yang begitu menyebalkan saat ini, sepertinya aku tidak jadi membantumu untuk mendapatkan kembali hati Cherry!" Ucap Itachi mengalah terhadap Sasuke.

Perlahan Itachi membalikkan tubuhnya dan melangkahkan kakinya untuk keluar dari kamar Sasuke. Sasuke sendiri hanya bersikap acuh terhadap perkataan Itachi, menurutnya Itachi hanya menggertak dirinya saja tanpa ada realisasi nyatanya akan ucapannya tersebut. Namun, sebelum benar-benar keluar dari kamar Sasuke, Itachi kembali menggerutu pelan yang tentu saja masih dapat terdengar dengan jelas oleh Sasuke.

"Hah~...Padahal aku sudah mempunyai ide untuk membuatmu kembali dekat dengan Cherry." Sasuke yang mendengar gerutuan Itachi, langsung tergesa-gesa meloncat dari atas ranjangnya untuk menyusul Itachi.

Namun sayang, kaki Sasuke tersangkut oleh selimut tebalnya dan menyebabkan sang Uchiha bungsu tersebut kehilangan keseimbangan hingga jatuh terjerembab mencium lantai kamarnya dengan gaya yang sungguh tidak elit.

Brruugghhh

Itachi yang kini sudah berada di ambang pintu kamar Sasuke, kembali menengokkan kepalanya ke arah belakang setelah mendengar bunyi sesuatu yang terjatuh.

Onyxnya terbelalak lebar saat mendapati Sasuke yang kini sudah tersungkur tak berdaya di atas lantai kamarnya. Bukannya merasa prihatin dengan kondisi adiknya, Itachi malah mengeluarkan handphonenya dari saku celananya dan sesegera mungkin mengambil kesempatan untuk memfoto Sasuke.

Itachi yang melihat hasil jepretannya langsung memberikan sebuah tawa ejekan yang terdengar begitu menggema di dalam kamar pribadi Sasuke itu.

"Haha...Hahaha...Hahaha..." Itachi tertawa terpingkal-pingkal melihat kondisi Sasuke yang begitu menggelikan. Ia sama sekali tak bisa menahan keinginannya untuk menertawakan kondisi adik bungsunya itu. Sampai-sampai sang Uchiha sulung itu sedikit menitikkan air mata karena merasa puas melihat Sasuke yang tampak menderita.

Sasuke yang mendengar tawa ejekan dari sang kakak, hanya bisa mendengus kesal sambil mengelus lengannya yang terasa linu karena berbenturan dengan lantai kamarnya, setelah sebelumnya Sasuke beranjak dari lantai dan mendudukkan dirinya di sana.

"Apa yang kau lakukan di bawah situ, Sasuke?! Apa ranjangmu itu sudah tidak bisa lagi memberikan kenyamanan untukmu, sampai-sampai kau memilih untuk berbaring di atas lantai?! Astaga, bahkan kau dengan tanpa rasa malu mencium lantai kamarmu sendiri! Apa kau benar-benar merasa frustasi karena kehilangan Cherry, sampai-sampai kau menjadikan lantai kamarmu itu sebagai pelampiasan, eh?!" Ucap Itachi sambil menampilkan sebuah seringaian ejekan yang ditujukan olehnya kepada Sasuke. Rasanya hari ini Itachi merasa begitu terhibur dengan peristiwa langka yang terjadi pada adiknya itu.

"Cih, puas kau mentertawakan dan mengejekku hari ini, baka aniki!" Ucap Sasuke mendecih kesal sambil berdiri untuk beralih duduk ke atas ranjangnya.

"Sangat puas, Sasuke! Terima kasih untuk pertunjukkan gratismu hari ini. Lain kali perlihatkanlah pertunjukkan lainnya darimu yang lebih menarik dari ini kepadaku, ya? Hahaha..." Ucap Itachi kembali mengejek Sasuke. Ia sama sekali tak mempermasalahkan emosi Sasuke yang terlihat semakin meluap-luap itu.

"Hn. Terserah! Aku tak peduli! Cepat katakan saja! Ide apa yang kau miliki, agar aku bisa kembali dekat dengan Cherry?!" Ucap Sasuke menuntut penjelasan kepada sang sulung Uchiha.

"Oh, aku pikir kau tidak tertarik dengan hal itu." Ucap Itachi sambil mengendikkan bahunya acuh. Kini Itachi sudah bisa mengontrol dirinya untuk tidak kembali tertawa terbahak-bahak. Ah, sepertinya image Uchiha mu itu sudah tak bisa kau pertahankan dengan baik lagi, eh Itachi?!

"Hn. Cepat katakan!" Ucap Sasuke menuntut Itachi untuk segera memberitahunya tentang ide yang dimilikinya.

Itachi pun menjelaskan secara terperinci mengenai ide yang dimilikinya kepada Sasuke. Sasuke menyimak dengan seksama semua perkataan Itachi, tanpa ingin melewatkan satu pun kata yang dilontarkan oleh Itachi kepadanya.

"Bagaimana menurutmu, Sasuke?!" Tanya Itachi meminta pendapat Sasuke atas ide yang dimilikinya.

"Menarik Aniki. Sepertinya pilihanmu tentang kota itu sangatlah tepat. Selain bekerja, kita juga bisa sedikit menghilangkan pikiran yang terasa begitu rumit saat ini, disana." Tanggap Sasuke terhadap pertanyaan Itachi.

"Hn, aku tidak mungkin salah memilih tempat, Sasuke!" Ucap Itachi tersenyum bangga pada dirinya sendiri.

"Hn, kalau begitu libatkan Naruto dan Hinata juga. Kemarin Naruto dan aku bertemu, ia mengatakan jika hubungannya dengan Hinata sama buruknya dengan hubunganku dan Cherry." Ucap Sasuke menyarankan keterlibatan Naruto dan Hinata dalam rencana Itachi.

"Baiklah, kau tenang saja, Sasuke! Biar aku yang akan mengatur semuanya." Itachi menepuk-nepuk pelan pundak Sasuke sambil tersenyum lembut, berusaha untuk membuat Sasuke agar tidak terlalu merasa khawatir.

"Hn. Terima kasih Aniki. Aku berhutang jasa padamu kali ini."Ucap Sasuke tersenyum tulus kepada Itachi.

.

.

.


"Wah, ada angin apa hari ini?! Sampai-sampai sang direktur Uchiha ini datang kemari. Tidak biasanya, eh?!" Ucap Deidara dari balik kursi kebesarannya, ia menaikkan sebelah alisnya merasa heran dengan kedatangan sang Uchiha sulung yang terkesan tiba-tiba itu ke ruangan kerjanya.

Deidara dan Itachi memang merupakan sahabat karib saat dulu mereka berkuliah di Inggris, namun semenjak lulus dan menjabat sebagai direktur perusahaan, intensitas pertemuan mereka menjadi berkurang karena kesibukan pekerjaan masing-masing yang begitu padat. Sekalipun mereka bertemu, itu juga hanya pada event-event yang diadakan oleh pemerintah untuk pertemuan perusahaan-perusahaan besar di Jepang. Jadi, Itachi memang tidak pernah menemui Deidara secara langsung ke perusahaan Yamanaka Entertainment seperti saat ini.

"Hn. Lama tak berjumpa Dei." Ucap Itachi tersenyum tipis sambil merangkul pundak Deidara dan menepuk pelan punggung lebar Deidara dengan tangan kekarnya, saat Deidara sudah berjalan menghampirinya dan berdiri di hadapannya.

"Bagaimana kabarmu, Itachi?" Tanya Deidara setelah Itachi melepaskan rangkulannya.

"Hn. Sepertinya baik. Kau sendiri, Dei?" Tanya Itachi balik menanyakan kabar Deidara.

"Tidak terlalu buruk." Ucap Deidara tersenyum sambil mengendikkan bahunya pelan. "Ayo, duduklah! Sepertinya kau memiliki suatu keperluan penting denganku." Ucap Deidara lagi melanjutkan perkataannya.

"Hn. Terima kasih, Dei." Itachi melangkahkan kakinya menuju ke arah sofa yang terdapat di depan meja direktur dan segera mendudukkan dirinya di sofa, mengikuti Deidara yang sudah terlebih dahulu duduk pada sofa di hadapannya.

"Kau mau minum apa, Itachi?" Tawar Deidara kepada Itachi.

"Hn. Tidak perlu Dei. Aku tidak akan berlama-lama di sini." Ucap Itachi menolak secara halus tawaran Deidara.

"Hm, baiklah kalau begitu. Jadi ada keperluan apa, kau tiba-tiba datang menemuiku ke sini, Itachi?!" Tanya Deidara to the point, wajahnya kini sudah mulai menampakkan ekspresi keseriusan.

"Hn. Aku ingin meminta bantuan darimu, Dei." Ucap Itachi menjawab pertanyaan Deidara.

"Memang ada masalah apa, Itachi?! Sampai-sampai kau ingin meminta bantuanku." Tanya Deidara lagi penasaran.

"Hn. Aku hanya akan menjelaskan secara garis besarnya saja, Dei. Kau pasti tidak mengetahuinya kan? Jika selama ini Cherry memiliki hubungan khusus dengan adikku, Sasuke." Ucap Itachi mengawali penjelasannya. Deidara yang mendengar perkataan Itachi hanya bisa membelalakan matanya terkejut, sedikit tak mempercayai ucapan Itachi.

"Kau yakin, Itachi?! Selama ini Sakura-ah maaf, maksudku Cherry dan juga Ino tidak pernah menceritakan apapun kepadaku mengenai hal ini." Ucap Deidara canggung, saat ia menyadari jika ia sudah menyebutkan nama asli dari Cherry kepada Itachi. Deidara terlalu merasa terkejut dengan ucapan Itachi, sehingga ia kelepasan dengan menyebutkan nama asli dari Cherry.

"Hn. Sakura? Jadi nama asli Cherry itu adalah Sakura, Dei?!" Tanya Itachi penasaran sambil menaikkan sebelah alisnya, onyxnya menatap tajam ke arah Deidara seolah meminta Deidara untuk mengatakan hal yang sebenarnya.

Menghela napasnya pelan, Deidara mau tidak mau harus tetap memberitahukan Itachi mengenai Sakura. Ia sungguh hapal tabiat sang Uchiha sulung ini, jika ia tidak menjawab pertanyaan Itachi, maka Itachi akan terus menerus mencercanya dengan pertanyaan yang sama.

Akhirnya Deidara menceritakan secara detail tentang semua hal yang ia ketahui tentang Sakura kepada Itachi. Tentang nama lengkap Sakura, awal mula Ino bertemu dengan Sakura, alasan Sakura memakai nama Cherry sebagai nama tenarnya, sedikit kisah hidup Sakura yang Deidara ketahui dari cerita Ino, semuanya ia bongkar kepada Itachi.

Itachi sendiri tampaknya benar-benar terlihat sangat tertarik dengan cerita Deidara kali ini, hal ini tentu saja terlihat dari sikap Itachi yang mendengarkan dengan seksama ucapan Deidara mengenai Sakura.

"Jadi Sakura menggunakan nama Cherry, agar identitasnya tidak di kenali oleh mantan kekasihnya yang telah menyakitinya, begitu?!" Tanya Itachi mencoba memastikan kembali ucapan Deidara sebelumnya.

"Ya, kurang lebih seperti itulah. Sakura yang meminta sendiri kepada Ino sebelumnya, untuk tidak membuka identitas aslinya saat menjadi seorang model. Sementara yang mengusulkan nama Cherry pada Sakura adalah Ino." Terang Deidara lagi menjelaskan secara singkat, tentu saja Deidara tahu semua hal tentang Sakura dari cerita Ino.

"Jadi begitu rupanya. Miris sekali rasanya mendengar semua cerita tentang Sakura, Dei." Ucap Itachi sendu, seolah Itachi dapat merasakan rasa sakit yang telah di alami oleh Sakura. Terlebih lagi saat ini, ketika Sakura kembali di sakiti oleh adiknya sendiri, tentu saja memang tidak akan mudah untuk kembali menyakinkan perasaan sang gadis musim semi itu.

Tapi, walaupun begitu Itachi tak boleh berputus asa, ia harus tetap optimis untuk menjalankan rencananya. Sekecil apapun persentase keberhasilan rencananya, jika tidak di coba terlebih dahulu, maka ia tidak akan pernah tahu hasil yang sesungguhnya, yang justru mungkin saja dapat memberikan hasil yang cukup baik atau bahkan memuaskan.

Namun, meskipun seandainya rencananya gagal, Itachi bisa mengatur kembali rencana lainnya yang mungkin lebih baik dari rencana yang pertama.

"Ya, begitulah." Ucap Deidara menyetujui ucapan Itachi. "Lalu, apa yang ingin kau katakan kepadaku, Itachi? Mengenai hubungan Sakura dan juga Sasuke apa itu sungguh-sungguh terjadi?!" Tanya Deidara meminta penjelasan kepada Itachi.

"Hn. Itu benar, Dei. Sepertinya Sasuke memang sengaja tidak mempublikasikan hubungannya dengan Sakura kepada publik. Mungkin hanya keluarga kami, Ino dan Sai saja yang mengetahui tentang hubungan mereka." Ucap Itachi menjawab pertanyaan Deidara.

"Hm. Aku bisa mengerti tentang hal itu, Itachi. Mereka itu kan seorang public figure, mungkin saja Sasuke dan Sakura memang tidak ingin hubungan mereka diketahui oleh mass media. Kau tahu sendiri bukan, jika orang-orang dari mass media itu selalu berlomba-lomba untuk mendapatkan berita yang bagus. Apalagi ini berkaitan dengan seorang Uchiha Sasuke, aktor yang sangat berbakat dan terkenal saat ini." Ucap Deidara memaklumi tindakan Sasuke.

"Jika mereka mengetahui tentang hubungan Sakura dan juga Sasuke, bisa-bisa Sakura dan juga Sasuke tidak akan merasa bebas untuk menjalani hubungan mereka sebagai sepasang kekasih, bukan?!" Ucap Deidara melanjutkan perkataannya.

"Hn. Mungkin sebagian dari pendapatmu itu ada benarnya juga, Dei. Tapi ada satu hal yang tak kau ketahui secara pasti tentang hubungan mereka berdua. Sejak awal Sasuke tidak pernah memiliki perasaan apapun terhadap Sakura, ia hanya berpura-pura saja untuk mencintai Sakura." Ungkap Itachi tentang kenyataan yang sebenarnya.

"Apa maksudmu, eh Itachi?!" Tanya Deidara yang merasa semakin aneh dengan cerita Itachi.

Itachi pun akhirnya menjelaskan semua kronologi kejadian sebenarnya yang sudah terjadi di antara Sakura dan juga Sasuke selama ini.

Mulai dari kebohongan Sasuke terhadap Sakura, terbongkarnya semua sandiwara Sasuke yang menyebabkan Sakura sangat membenci Sasuke, hingga akhirnya Sasuke yang benar-benar telah jatuh cinta kepada Sakura, semua Itachi ceritakan tanpa sedikit pun yang terlewatkan.

Wajah Deidara tampak begitu menegang setelah mendengar penjelasan Itachi.

"Kau terkejut, Dei?!" Tanya Itachi saat melihat ekspresi wajah terkejut yang ditampilkan oleh sahabatnya itu.

"Hm, sepertinya tindakan adikmu itu memang sudah benar-benar keterlaluan, Itachi! Lalu, bantuan seperti apa yang kau harapkan dariku, Ne Itachi?!" Tanya Deidara langsung masuk ke dalam pokok permasalahan.

"Hn. Aku ingin mengadakan sebuah work tour gabungan dari perusahaan Uchiha Entertainment, Yamanaka Entertainment dan juga perusahaan Namikaze Entertainment." Terang Itachi mengawali penjelasannya.

"Hm, lalu?" Tanya Deidara meminta penjelasan lebih lanjut kepada Itachi.

"Kita akan pergi ke Hokkaido, atau lebih tepatnya kita akan pergi ke Biei selama kurang lebih empat hari tiga malam. Kita akan menginap di villa milik keluargaku yang berada di sana." Ucap Itachi melanjutkan perkataannya. Deidara hanya terdiam, menunggu Itachi untuk meneruskan penjelasannya.

"Aku ingin kau menjadwalkan sebuah pemotretan di sana, Dei! Temanya adalah tentang romantic couple, dari perusahaanmu kau bisa merekomendasikan model-modelmu yang sudah mempunyai pasangannya masing-masing, bisa juga kau merekomendasikan seorang model dari luar juga tak masalah, asalkan model tersebut sudah memiliki kekasih. Terkecuali untuk Sakura, aku minta dia dipasangkan dengan Sasuke selama pemotretan di sana." Pinta Itachi kepada Deidara. Deidara hanya menganggukkan kepalanya mengerti.

"Sementara dari pihak Namikaze Entertainment, mereka akan membuat sebuah mv di sana, tapi aku sarankan juga kepadamu untuk melibatkan pasangan Naruto dan Hinata dalam pemotretan nanti." Sebelumnya Itachi memang sudah menelepon Naruto tentang rencananya ini, dan Naruto sudah menyetujuinya. Katanya sekalian saja ia membuat sebuah mv untuk penyanyinya di sana.

"Jadi pemotretan kali ini, tidak di sangkut pautkan dengan kenyataan apakah dia seorang model atau bukan, yang terpenting adalah mereka bisa memberikan suatu kesan hubungan yang romantis pada anak muda zaman sekarang. Apa kau mengerti maksud dari penjelasanku, Dei?!" Terang Itachi panjang lebar mengenai rencananya, berharap sang Direktur Yamanaka Entertainment itu mengerti dengan penjelasannya.

"Hm, aku mengerti. Selain Sakura dan juga Hyuuga-san, mungkin aku akan merekomendasikan Ino, Shion dan juga Matsuri untuk ikut serta dalam work tour gabungan ini. Bagaimana, kau tidak keberatan kan, Itachi?!" Usul Deidara meminta persetujuan Itachi. Sebenarnya Matsuri memang sudah tidak bekerja lagi di Yamanaka Entertainment semenjak kepindahannya ke Amerika, tapi Deidara ingin kembali merekrut Matsuri sebagai model di perusahaan Yamanaka Entertainment, setelah sebelumnya Deidara mengetahui bahwa Matsuri sudah kembali ke Jepang dari cerita adiknya. Menurutnya ini adalah saat yang tepat untuk mengajak Matsuri kembali bergabung dengan perusahaannya.

"Hn. Tidak, tentu saja aku tidak keberatan, Dei. Lagipula mereka itu kan model-model yang memang sudah memiliki jam terbang yang tinggi. Bukankah, semua ini akan semakin terlihat menarik, Dei?" Ucap Itachi menyetujui usulan Deidara, sambil menunjukkan sebuah senyuman tipisnya yang begitu menawan.

"Hm, kau benar Itachi. Lalu kapan work tour ini akan dilaksanakan?! Kalau bisa jangan terlalu mendadak, agar aku dapat menghubungi mereka terlebih dahulu untuk segera melakukan persiapan." Pinta Deidara kepada Itachi.

"Hn. Tentu saja tidak, Dei. Kita akan berangkat pada hari Minggu nanti, lagipula masih ada waktu satu hari lagi untuk memulai persiapannya, kan?" Ucap Itachi sambil melipat kedua tangannya di depan dada, dan menyandarkan punggung tegapnya pada sandaran sofa. Sepertinya bercerita panjang lebar seperti tadi, membuat sang Uchiha sulung ini menjadi sedikit kelelahan, eh?

"Ya, waktu satu hari itu sudah lebih dari cukup untuk melakukan persiapan. Baiklah, secepatnya aku akan memberitahukan hal ini kepada mereka." Deidara menyatakan kesanggupannya kepada Itachi.

"Hn. Arigatou, Dei." Ucap Itachi sambil tersenyum tulus.

"Tidak masalah, Itachi. Aku senang bisa membantumu untuk melakukan semua rencanamu ini." Deidara balas tersenyum ke arah Itachi.

"Baiklah kalau begitu, mungkin itu saja yang ingin aku bicarakan kepadamu, Dei. Aku akan menunggu kabar darimu mengenai kepastiannya, oke!" Ucap Itachi beranjak dari sofa, dan berjalan perlahan ke arah Deidara.

"Ya, akan ku usahakan untuk memberimu kabar secepatnya, Itachi." Ucap Deidara tersenyum sambil menjabat tangan Itachi yang telah terlebih dahulu terulur kepadanya. Itachi pun pamit diri untuk meninggalkan ruangan Deidara.

-TBC-


Balasan Review

Luca Marvell: Hehe, gak kok masih belum mau tamat ^_^ Iya betul sekali. Makasih udha R&R ya ^_^

Gilang363: Um, gak tahu Senpai hehe...saya belum memperkirakannya. Makasih buat semangatnya ^_^

Eagle onyx: Oke siap, ini udha lanjut. Makasih udha R&R ya...^_^

Anisha Ryuzaki: Semoga masih semangat juga untuk membaca chapter ini...^_^ Makasih udha R&R...^_^

Sasa: Oh iya, sayang Sasa-chan gak log in, saya jadi gak bisa kirim pm hehe...^_^ Iya, gak apa-apa kalau Sasa-chan mau pakai kata-katanya #ngomong-ngomong kata-kata yang mana yah, perasaan gak ada kata-kata yang bagus di fic ini# ^_^ Hihi...ini udha kok...Makasih yah udha R&R...#peluk Sasa-chan lagi# hehe...

Orang: Um, iya memang ceritanya monoton, maaf ya ^_^ Iya saya memang membuat cerita ini dari sudut pandang saya saja...maaf jika Anda tidak suka (chapter 1).

Hehe...saya pikir nama asing juga harus di Italic...maaf juga untuk hal itu. Ada kok, Sakura cerita ke Ino, tapi memang saya tidak mendeskripsikan adegan itu. Um, intinya saya benar-benar minta maaf jika Sakura terlihat murahan sekali di sini kesannya. Fic ini juga jauh dari kata logis ya...maaf (chapter 2).

Hehe...saya yang amatir kok buat ceritanya, maklum saya masih belajar...sekali lagi maaf ya...sebaiknya jangan dilanjutkan untuk membaca fic ini...Terima kasih (chapter 3).

marukocan: Hehe...makasih ya udha R&R...^_^ Syukurlah jika chapter kemarin tidak mengecewakan.

dylanNHL: Oke, ini udha lanjut. Makasih udha R&R...^_^

wedusgembel41: Siap, ini udha lanjut. Makasih udha R&R...^_^

Febri Feven: Makasih udha R&R, semoga suka dengan chapter ini...^_^

DefenderNHL: Maaf gak bisa updatekilat...tapi ini udha lanjut kok...hehe...Makasih udha R&R...^_^

Dark naruto: Ehem, siap Senpai...hehe...Makasih udha R&R...^_^

haroro: Um, bisa gak ya...hehe lihat nanti ya...^_^ Makasih udha R&R.

Nfilestari: Um, maaf gak bisa updatekilat. Semoga suka dengan chapter ini ^_^ Makasih udha R&R.

vaninewarie: Um Ano, saya gak tega buat lebih mereka menderita lebih dari ini...hehe...Makasih udha R&R ya...^_^

hanazono yuri: Aa maaf Senpai, gak bisa update cepat. Tapi semoga chapter ini suka...hehe Makasih udha R&R...^_^

Eysha CherryBlossom: Hehe...iya gomen Senpai. Sebisa mungkin saya kurangi penggunaan kata-kata itu...^_^ Makasih udha R&R.

imahkakoeni: Maaf maaf gak bisa cepat update...semoga suka dengan chapter ini ^_^ Makasih udha R&R.

sutra fossil: Um Ano Senpai, kalau saya masih nulis balasan reviewdi chapter gak apa-apa kan?! Soalnya saya suka menulis balasan ini...hehe...tapi saya coba usahakan ^_^ Iya maaf, ada kesalahan penulisan nama...hehe...Makasih udha R&R.

Cherryma: Makasih banyak...^_^ semoga suka dengan chapter ini ya...^_^

sakakibaraarisa: Syukurlah masih suka dengan ceritanya...Makasih udha R&R ya...^_^

SaGaaRi Uchiha: Aa makasih Senpai buat masukannya...oke nanti lebih di atur-atur lagi cara penulisannya...Makasih udha R&R dan semangatnya ya...^_^


Maaf, maaf saya minta maaf karena telat banget buat update...karena satu dan lain hal saya jadi sedikit terbengkalai mengerjakan fic ini...hehe...

Terima kasih kepada para readers, reviewers, followers, favoriters, dan silent readers yang sudah berkenan untuk membaca fic ini.

Salam hangat untuk kalian semua...^_^ Semoga kalian suka dengan chapter ini ya...^_^...Maaf kalau jelek...