Saya masih newbie disini, setelah sekian lama menjadi silent reader akhirnya saya mencoba untuk membuat sebuah fanfic.
Ini fanfic pertama saya, ceritanya agak pasaran juga ^_^, dan maaf kalau ada kesalahan penulisan dan lain-lain.
Semoga kalian suka...
Disclaimer : Masashi Kishimoto dengan semua chara-chara dalam anime Naruto
WARNING : OOC, typo, cerita gaje, alur kecepatan dll.
Summary: 'Sasuke, katamu?! Kenapa aku harus dipasangkan dengan pria menyebalkan sepertinya, Ino?!/Dia pikir melakukan persiapan itu semudah yang dibayangkannya apa?!/Anggap saja ciuman tadi sebagai ganti rugi darimu untuk membayar waktu kerja yang aku korbankan untuk ikut denganmu besok ke Hokkaido./Kejutan katamu? Tapi sepertinya kejutanmu ini sama sekali tidak membuat aku merasa senang eh, Naruto-kun?'
Author by : Hikaru Sora 14
Sebelumnya saya ucapkan terima kasih kepada kalian semua yang telah membaca serta me-review, mem-follow dan mem-fav kan fic ini ^_^ Tanpa kalian fic ini tidak akan berarti apa-apa
Please Enjoy Reading
Don't Like Don't Read
"Barusan kau bilang apa, Ino?!" Tanya Sakura dengan nada yang sedikit tinggi sambil beranjak dari sofa. Wajah cantiknya kini menampilkan raut keheranan, kekhawatiran dan kemarahan yang bercampur aduk menjadi satu. Penjelasan yang baru saja diucapkan oleh putri bungsu Yamanaka itu berhasil membuat sang gadis musim semi ini kalut dibuatnya.
"Sasuke, katamu?! Kenapa aku harus dipasangkan dengan pria menyebalkan sepertinya, Ino?! Kau sendiri tahu kan aku sedang bermasalah dengannya! Memangnya tidak ada model pria lain apa, selain Sasuke?!" Ucap Sakura geram sambil mengepalkan kedua tangan mungilnya kuat.
"Sakura, Sakura tenanglah dulu!" Ucap Ino sambil menggenggam tangan mungil Sakura yang kini tengah terkepal. Iris birunya menatap lembut ke dalam iris emerald milik Sakura. Ino menganggukkan kepalanya pelan seolah meminta Sakura untuk kembali duduk dan bersikap tenang. Sakura menghela napasnya pasrah berusaha mengalah dan menuruti perkataan Ino.
"Apa kau tidak bisa menolak permintaan Deidara-sama, Ino?!" Ucap Sakura lemah saat dirinya sudah kembali duduk di sofa, mata indahnya menatap sayu kepada Ino yang kini juga sama tampak khawatirnya dengan Sakura.
Sebenarnya Sakura memang sangat antusias dengan work tour ini jika saja Ino sebelumnya tidak memberitahu tentang siapa pria yang akan menjadi pasangannya nanti dalam pemotretan di Hokkaido.
Minatnya seketika langsung menghilang tatkala nama Uchiha Sasuke keluar dari mulut sang putri bungsu Yamanaka. Mimik wajah yang pada awalnya penuh keceriaan kini tergantikan dengan aura suram yang tidak menyenangkan.
"Maafkan aku, Sakura. Tadi siang, aku sudah berusaha untuk menolak permintaan Dei-nii, tapi aku benar-benar tidak berkutik terhadap perkataannya. Aku tidak bisa mengatakan alasan mengapa aku sangat menolak Sasuke dipasangkan denganmu dalam pemotretan di Hokkaido nanti. Lagipula Dei-nii kan tidak mengetahui sama sekali hubungan di antara dirimu dan Sasuke selama ini. Jadi aku tak bisa membantah permintaannya itu, Sakura." Ucap Ino mencoba memberi pengertian kepada Sakura.
Memang tadi siang Deidara meminta Ino untuk datang ke ruangannya, tujuannya adalah untuk membicarakan tentang rencana work tour ke Hokkaido yang sebelumnya telah Deidara bicarakan bersama Itachi.
Deidara meminta Ino untuk menginformasikan rencana ini secepatnya kepada model-model lainnya yang telah Deidara tunjuk untuk mengikuti work tour ini. Tentu saja Matsuri sebagai pengecualian karena Deidara akan menghubungi secara langsung Matsuri dan memintanya bergabung dalam kegiatan work tour ini.
Ino memang sempat berdebat dengan Deidara saat mengetahui Sakura akan dipasangkan dengan Sasuke. Namun, tentu saja Ino kalah dalam beradu argumen bersama kakak tersayangnya itu.
"Kalau begitu aku akan menolak untuk ikut dalam kegiatan work tour ini, Ino! Tidak masalah bukan jika aku tidak mengikuti kegiatan ini?! Lagipula aku dengar dari ceritamu tadi, sepertinya kegiatan ini diikuti oleh model-model yang memang sudah memiliki pasangan kekasih, bukan?! Seharusnya aku memang tidak termasuk dalam kegiatan pemotretan nanti karena aku tidak memiliki kekasih saat ini!" Ucap Sakura tegas, tetap tak ingin menyerah untuk menolak permintaan Deidara.
Dibandingkan harus bersanding dengan Sasuke dalam pemotretan nanti, sepertinya kali ini Sakura harus merelakan kesempatannya untuk melakukan pemotretan sekaligus liburan di Hokkaido.
Jika seandainya saja pria yang akan mendampinginya dalam pemotretan nanti adalah Yahiko, Sakura pasti tidak akan mempermasalahkan tentang hal ini. Sakura tidak akan peduli jika Yahiko bukanlah kekasihnya, yang terpenting adalah melakukan pekerjaannya sebagai seorang model dengan profesional dan sebaik mungkin.
Tapi sayangnya, Yahiko adalah seorang model pria yang memiliki jadwal pekerjaan yang begitu padat. Tidak bisa semudah itu untuk meminta Yahiko melakukan kegiatan pemotretan bersama secara mendadak seperti ini. Hm, sepertinya kenyataan memang tidak selalu sama dengan apa yang kau harapkan bukan, Sakura?
"Percuma saja, Sakura! Aku juga sudah mengajukan dirimu untuk tidak ikut dalam kegiatan work tour ini dengan mengatakan alasan yang sama seperti yang kau katakan barusan, tapi tetap Dei-nii tidak mengindahkan perkataanku. Dei -nii bilang, kau adalah pengecualian." Ucap Ino sambil menyedekapkan kedua tangannya di depan dada.
"Pengecualian katamu?! Bagaimana bisa seperti itu, Ino?" Tanya Sakura lagi menuntut penjelasan lebih kepada Ino.
"Menurut Dei-nii, kau adalah model yang potensial, Sakura. Sungguh sangat disayangkan jika dirimu tidak ikut dilibatkan dalam kegiatan pemotretan kali ini. Jadi, Dei-nii ingin kau juga ikut berpartisipasi dalam kegiatan ini dengan berpasangan bersama Sasuke. Menurutnya, chemistry yang terjalin di antara dirimu dan Sasuke di mv Nakama's Band dulu itu sangat bagus." Terang Ino lagi menjelaskan. Sementara Sakura kini tampak tengah merenungi perkataan Ino sambil menyanggakan wajah cantiknya dengan menggunakan sebelah tangannya. Kali ini Sakura sama sekali tak bisa memberikan bantahan apapun terhadap perkataan Ino.
"Hah~...Sebenarnya ada apa ini, Ino? Aku merasakan firasat yang tidak menyenangkan berkaitan dengan hal ini." Ucap Sakura lirih, setelah mendengarkan penjelasan Ino.
Sakura tahu pasti ada sesuatu hal yang tengah direncanakan oleh Deidara saat ini karena menurutnya semua hal ini terkesan begitu dipaksakan sekali. Lagipula dari cerita Ino, tampaknya Deidara bersikeras sekali untuk mengikutsertakan dirinya dalam kegiatan pemotretan di Hokkaido nanti.
Mengadakan work tour dari tiga perusahaan besar seperti ini, tidak mungkin jika tidak ada maksud lain selain kegiatan pemotretan, pembuatan mv dan liburan saja. Pasti ada sesuatu hal yang tengah disembunyikan dari dirinya.
Bukankah suatu kebetulan jika secara tiba-tiba ketiga perusahaan ini melakukan kerja sama pada saat hubungan di antara dirinya dan Sasuke tengah mengalami masalah. Apalagi kegiatan ini juga melibatkan perusahaan Namikaze Entertainment.
Sakura memang tidak mengetahui bagaimana kelanjutan hubungan Naruto dan Hinata, setelah dirinya meminta Naruto untuk memutuskan Hinata pada hari Senin yang lalu. Tapi, bolehkah jika Sakura menyimpulkan bahwa kegiatan ini memang sedikit banyak berkaitan dengan hubungannya dengan Sasuke serta Naruto dan Hinata?!
'Tapi, Deidara-sama kan memang tidak mengetahui tentang hubunganku dan Sasuke. Jadi tidak mungkin jika ia memang tengah merencanakan sesuatu dengan mengadakan kegiatan work tour gabungan ini. Tapi, apa mungkin Sasuke-kun yang merencanakan semuanya dan meminta Deidara-sama untuk mengadakan kegiatan work tour gabungan ke Hokkaido ini?!' Pikiran Sakura terus saja berkutat memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang bisa saja merupakan alasan diselenggarakannya kegiatan work tour ini.
Namun, sekeras apapun Sakura memikirkan tentang kemungkinan-kemungkinan itu tetap saja dirinya tak bisa menemukan titik terang yang merupakan sumber permasalahannya.
"Sudahlah Sakura, lebih baik kita ikuti saja permintaan Dei-nii saat ini, oke?! Kau hanya perlu menghiraukan keberadaan Sasuke saja, Sakura. Bersikap dingin seperti biasanya saja, tidak masalah bukan?!" Ucap Ino sambil mengusap pelan punggung mungil Sakura, berusaha untuk menenangkan gadis musim semi itu.
Sakura mendelik tajam ke arah Ino, membuat sang gadis Yamanaka sedikit tersenyum kikuk. "Tanpa kau beritahu pun, aku pasti akan tetap bersikap dingin kepadanya, Ino!" Ucap Sakura sedikit ketus.
"Jangan menatapku seperti itu, Sakura!" Ucap Ino sambil menepuk agak keras punggung Sakura.
"Aish, sakit Ino!" Sakura mengaduh kesakitan sambil mengusap-ngusap punggungnya yang terasa sedikit berdenyut nyeri. Sementara Ino hanya terkikik geli melihat ekspresi yang ditampilkan oleh Sakura.
"Maaf, maaf Sakura. Aku memang sengaja melakukannya." Ucap Ino sambil mengerling jahil kepada Sakura, yang tentu saja membuat sang gadis musim semi sedikit mendengus kecil.
"Oh, iya Sakura! Bagaimana dengan kehadiran Gaara nanti? Apa kau tidak keberatan jika harus bertemu kembali dengannya?" Tanya Ino penasaran sambil menaikkan sebelah alisnya. Ino merasa sedikit khawatir jika kehadiran Gaara nanti, justru akan membuat Sakura bereaksi seperti dulu.
Meskipun Ino tahu bahwa pemuda yang saat ini dicintai oleh Sakura adalah Sasuke, tapi bagaimana pun juga Gaara adalah pemuda yang pernah singgah di hati sang gadis musim semi itu. Bisa saja kan perasaan sakit itu kembali muncul saat bertemu kembali meskipun Sakura sudah melupakannya.
Sakura terhenti dari aktivitasnya mengusap-ngusap punggung mungilnya. Emerald-nya menatap lurus ke arah aquamarine di hadapannya. Sedikit senyum tipis terpatri di wajah putih cantiknya.
"Untuk apa aku merasa keberatan, Ino. Aku sudah melupakan semua hal yang berkaitan dengan Gaara-kun. Lagipula, saat ini aku sudah tak begitu mempedulikannya lagi dan perasaanku pun sudah berubah terhadapnya." Ucap Sakura tenang sambil menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa.
"Jika seandainya kami bertemu kembali pun dan Gaara-kun menyadari bahwa Cherry adalah Sakura, maka ku harap hubungan kami setidaknya bisa kembali menjadi lebih baik meskipun hanya sebatas hubungan sebagai seorang teman." Ucap Sakura lagi melanjutkan perkataannya sambil tersenyum tulus.
Ino menampilkan sebuah senyuman bangga yang ditujukannya kepada Sakura. Sungguh Ino tak menyangka jika gadis yang dulu terlihat begitu rapuh dan polos itu, kini sudah bermetamorfosis menjadi sosok gadis yang begitu dewasa dan tegar hanya dalam waktu yang terbilang singkat tentunya.
Memang benar adanya bahwa penderitaan dan rasa sakit yang dirasakan oleh seseorang, akan menjadikan seseorang tampak menjadi lebih dewasa dalam menghadapi segala permasalahan yang menimpanya. Sepertinya hal inilah yang juga berlaku pada Haruno Sakura, sang gadis musim semi.
"Hum, kalau begitu satu pesanku kepadamu, Sakura. Jangan sampai kau kepincut lagi ya, dengan pemuda panda itu!" Ucap Ino beranjak dari sofa dan tersenyum jahil, sambil melemparkan bantal sofa ke arah tubuh Sakura dan bersiap untuk melarikan diri menjauh dari Sakura, menghindari kemungkinan amukan sang gadis musim semi tersebut.
"Huh, kau menyebalkan Ino!" Ucap Sakura memberenggut kesal sambil kembali membalas perbuatan Ino dengan melemparkan bantal sofa ke arah Ino yang kini sudah agak menjauh dari Sakura.
Namun, tentu saja bantal sofa itu tidak mengenai tubuh indah Ino. Ino dengan gesit segera melangkahkan kaki jenjangnya menaikki undakan tangga rumahnya untuk menuju ke kamar pribadinya di lantai dua.
"Hei, Sakura! Jangan lupa untuk mempersiapkan semua keperluanmu di Hokkaido nanti ya! Selamat malam." Teriak Ino sambil tersenyum lebar kepada Sakura, sebelum Ino benar-benar pergi meninggalkan Sakura sendirian di ruang keluarga.
"Ya, selamat malam Ino." Gumam Sakura pelan sambil tersenyum geli karena sikap Ino yang sangat cerewet kepadanya. Kembali Sakura merenung dalam kesendiriannya, memikirkan kejanggalan-kejanggalan mengenai kegiatan work tour di Hokkaido nanti, yang sedari tadi terus berkutat di dalam otaknya.
.
.
.
"Ada keperluan apa kau menungguku di sana, Naruto-kun?!" Tegur Hinata kepada Naruto yang saat ini tengah menengadahkan wajahnya ke atas sambil menyandarkan punggungnya pada dinding di belakangnya, dekat dengan pintu ruangan kerja Hinata.
"Kau sudah datang, Hinata-chan." Ucap Naruto mengalihkan pandangannya ke arah Hinata dan tersenyum lembut.
"..." Hinata hanya diam tanpa mengubah sedikit pun mimik wajahnya yang terlihat datar saat ini.
Naruto hanya bisa menghela napasnya lelah, karena sampai saat ini Hinata tak juga berubah sikap kepadanya. Mengajak berbicara secara halus, Hinata malah mengacuhkan dirinya. Tapi, jika Naruto sedikit bersikap memaksa, Hinata pasti akan bersikap emosi kepadanya. Entah Naruto harus bersikap seperti apa lagi kepada Hinata saat ini. Rasanya apa yang kau lakukan serba salah eh, Naruto?
Perlahan Naruto melangkahkan kakinya untuk menghampiri Hinata, sambil memasukkan sebelah tangannya ke dalam saku celananya. Sebisa mungkin, Naruto tetap mempertahankan senyumannya kepada Hinata.
"Aku hanya ingin memberitahukan kepadamu jika besok kita akan berangkat ke Hokkaido. Kita akan melakukan syuting mv untuk single lagu terbaru Yukie Fujikaze*, sekalian saja kita akan mengadakan liburan di sana selama empat hari tiga malam. Semua kru sudah aku beri informasi mengenai hal ini. Aku harap kau segera mempersiapkan diri untuk keberangkatan besok." Ucap Naruto menerangkan tujuannya menemui Hinata.
Naruto memang sengaja tidak memberitahukan kepada Hinata bahwa keberangkatan mereka ke Hokkaido itu merupakan salah satu kegiatan work tour gabungan dari perusahaan Uchiha Entertainment, Yamanaka Entertainment dan Namikaze Entertainment. Biar hal itu menjadi kejutan tersendiri bagi Hinata nantinya.
Hinata sendiri hanya menaikkan sebelah alisnya merasa heran dengan perkataan Naruto.
Pasalnya, Naruto selalu memberitahu dirinya, seminggu sebelumnya jika memang akan dilakukan syuting sebuah mv. Hal ini dilakukan agar Hinata dapat lebih leluasa untuk menentukan kostum hasil rancangannya yang akan dipakai oleh para artis yang akan melakukan syuting.
Namun, jika Naruto memberitahunya secara tiba-tiba seperti ini, tentu saja membuat Hinata menjadi sedikit khawatir. Ia takut tak akan sempat untuk mempersiapkan semuanya hanya dalam waktu satu hari.
"Kenapa mendadak seperti ini, Naruto-kun?!" Ucap Hinata pada akhirnya menanggapi perkataan Naruto. Amethyst-nya menatap tajam ke dalam sapphire milik Naruto, namun sepertinya Naruto sendiri hanya bersikap santai dan tak terpengaruh oleh tatapan yang dilayangkan gadis indigo tersebut.
"Begitukah?! Aku rasa tidak terlalu mendadak, Hinata-chan." Ucap Naruto sambil tetap menampilkan senyuman manisnya kepada Hinata yang saat ini tampak sedikit gusar.
"Tenang saja! Kau bisa mempersiapkan semua keperluanmu mulai pagi ini, Hinata-chan. Aku rasa waktu seharian ini cukup bagimu untuk membuat semua persiapannya." Ucap Naruto lagi seolah mengerti kebingungan Hinata terhadap perkataannya.
Naruto menepuk pelan pucuk kepala Hinata yang kini tengah berdiri di hadapannya. Namun melihat gelagat Hinata yang hendak menepis tangannya, segera saja Naruto menyingkirkan tangannya dari atas kepala Hinata.
"Besok kita akan berkumpul jam delapan pagi di lobi kantor. Ku harap kau tidak terlambat datang, Hinata-chan." Ucap Naruto sambil tersenyum tipis, sebelum benar-benar pergi meninggalkan Hinata sendirian.
Hinata sendiri hanya mendengus pelan. "Dia pikir melakukan persiapan itu semudah yang dibayangkannya apa?! Seenaknya saja membuat jadwal syuting mendesak seperti ini!" Gerutu Hinata pelan sambil melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam ruang kerjanya.
Hinata sama sekali tidak mencurigai terhadap kegiatan syuting yang terkesan mendadak ini. Pikirannya terlalu fokus untuk segera mempersiapkan semua kostum hasil rancangannya yang nanti akan dipakai oleh para artis yang akan melakukan syuting mv. Meskipun sedikit merasa kesal, tapi Hinata tetap melakukan pekerjaannya dengan baik dan gesit.
.
.
.
"Bagaimana Gaara-kun?! Apa direktur perusahaanmu mengizinkanmu untuk mengambil cuti kerja?!" Tanya Matsuri kepada Gaara yang baru saja selesai menghubungi direktur perusahaannya untuk meminta cuti kerja. Ekspresi wajah yang ditampilkan oleh pemuda Sabaku itu tampaknya tak begitu baik, membuat Matsuri merasa sedikit cemas dengan perkataan yang akan dilontarkan oleh kekasihnya itu.
Sedari tadi Matsuri memang begitu setia duduk di atas ranjang king size milik Gaara, untuk menunggu Gaara yang tengah menghubungi direktur perusahaannya. Matsuri tidak bisa mendengar dengan jelas pembicaraan yang tengah dilakukan oleh Gaara, karena Gaara menelepon direkturnya dari balkon kamar apartemennya.
Matsuri merasa sedikit khawatir jika seandainya Gaara tidak memperoleh izin untuk cuti dari perusahaannya. Matsuri sungguh merasa sangat berharap bisa ikut berpartisipasi dalam kegiatan work tour yang ditawarkan oleh Deidara kemarin malam melalui sambungan telepon.
Selain merupakan langkah awal untuk kembali bergabung dengan perusahaan besar Yamanaka Entertainment, Matsuri juga bisa menikmati kebersamaan lebih lama dengan sang kekasih hati yang biasanya selalu sibuk dengan pekerjaannya.
Memang selama ini, intensitas pertemuan mereka bisa dikatakan jarang sekali. Bertemu pun, jika Gaara sedang memiliki waktu luang atau terkadang saat akhir pekan menjelang hari libur, mereka akan menghabiskan waktu bersama di apartemen milik Gaara, seperti yang mereka lakukan saat ini.
"Maafkan aku, Matsuri-chan." Ucap Gaara singkat namun penuh dengan penyesalan tatkala ia sudah mendudukkan dirinya di atas ranjang, tepat di samping Matsuri.
Matsuri yang mendengar perkataan Gaara, hanya bisa menghela napasnya pasrah. Ia mengerti apa arti dari perkataan maaf kekasihnya itu. Sepertinya mau tidak mau, kesempatan bagus kali ini harus benar-benar dilepasnya.
"Ya sudah, tidak apa-apa Gaara-kun." Ucap Matsuri sambil memaksakan sebuah senyuman seolah tak merasa keberatan jika Gaara memang tidak bisa ikut dalam kegiatan work tour besok.
"Kau yakin?!" Tanya Gaara sedikit mengerutkan keningnya melihat ekspresi kekecewaan yang sedikit tersirat di wajah cantik kekasihnya.
"Iya, aku tidak apa-apa, Gaara-kun! Mungkin sekarang aku harus memberitahukan Deidara-sama terlebih dahulu, bahwa aku tidak bisa ikut berpartisipasi dalam kegiatan work tour besok." Ucap Matsuri berusaha setenang mungkin, agar Gaara tidak mencurigai dirinya yang saat ini sebenarnya tengah merasakan kekecewaan.
Matsuri hendak beranjak dari ranjang milik Gaara, untuk mengambil ponselnya yang berada di dalam tas kecil miliknya yang kini tergeletak di atas meja kecil di samping ranjang. Namun, tidak jadi karena Gaara telah terlebih dahulu menarik lengan Matsuri dan membaringkan Matsuri pada ranjang miliknya.
Kini posisi Gaara adalah berada di atas Matsuri yang saat ini tampak terlihat terkejut dengan tindakan yang dilakukan oleh Gaara.
"Kenapa terburu-buru sekali, Matsuri-chan?!" Ucap Gaara tersenyum tipis, sambil membelai lembut wajah mungil Matsuri yang tentu saja membuat gadis itu merona hebat dengan perlakuan Gaara.
Apalagi dengan posisi dan jarak yang begitu dekat seperti ini, membuat jantung Matsuri berdetak lebih cepat dari biasanya.
Matsuri memberenggutkan wajahnya kesal, berusaha untuk menutupi kegugupannya. "Lepaskan, Gaara-kun! Aku harus secepatnya menghubungi Deidara-sama, un-... hmmmpphh..." Ucapan Matsuri langsung tersapu oleh ciuman lembut dari bibir tegas pemuda Sabaku tersebut. Ciuman lembut yang begitu disukai oleh Matsuri, yang kini rupanya telah berubah menjadi sebuah lumatan-lumatan kecil yang dilakukan oleh Gaara pada bibir mungilnya. Menghantarkan suatu perasaan menggelitik namun manis di saat yang bersamaan.
"Gaara-...hmmmpphh..." Belum sempat Matsuri mengucapkan perkataannya, Gaara sudah memanfaatkan kesempatan itu untuk melesakkan lidahnya ke dalam mulut mungil nan hangat milik Matsuri.
Matsuri yang sedari tadi mencoba mendorong dada bidang kekasihnya, akhirnya menyerah untuk menerima cumbuan sang pemuda Sabaku tersebut. Gaara sendiri sedikit tersenyum di sela-sela cumbuannya, tentu saja ia tak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini untuk semakin mendominasi dan memperdalam pagutan bibir mereka.
Tanpa melepaskan pagutannya, Gaara meraih tangan mungil Matsuri dan menuntun Matsuri untuk mengalungkan kedua tangannya pada leher tegas miliknya.
Matsuri sendiri sepertinya sudah sepenuhnya terbius dengan lumatan yang diberikan bibir Gaara kepada bibirnya. Tangan mungilnya kini mulai beralih ke arah kepala kekasihnya tersebut dan mengelus lembut surai merah pendek yang terlihat unik itu. Membuat Gaara semakin bersemangat untuk menikmati kelembutan dan rasa manis yang disajikan dari bibir tipis kekasihnya itu.
Sesekali Matsuri melepaskan pagutan bibirnya dari bibir Gaara, untuk sekedar mengambil oksigen yang hilang saat mereka melakukan ciuman yang sedikit panas. Dikecupinya pipi kanan dan pipi kiri Gaara, sebelum Gaara kembali mendaratkan bibirnya di atas bibir merah Matsuri dan mulai melahap dengan ganas bibir mungil kekasihnya itu.
Sepertinya Gaara terlihat lapar saat ini, eh? Berhati-hatilah Matsuri jika kau tak ingin dimakan habis oleh pemuda Sabaku itu!
"Hah...hah...Gaara-kun, kenapa kau malah menciumku?!" Ucap Matsuri sedikit terengah-engah setelah Gaara melepaskan pagutan bibir mereka. Sementara Gaara sendiri kini tengah menyembunyikan wajah tampannya pada leher Matsuri dan sesekali mengecupnya lembut, membuat Matsuri sedikit menggeliatkan tubuhnya karena merasa geli dengan tindakan Gaara.
"Karena aku merasa lapar, Matsuri-chan!" Ucap Gaara sambil menyeringai tipis, namun tentu saja Matsuri tidak dapat melihatnya. "Anggap saja ciuman tadi sebagai ganti rugi darimu untuk membayar waktu kerja yang aku korbankan untuk ikut denganmu besok ke Hokkaido." Ucap Gaara lagi melanjutkan perkataannya.
"Ekh?! Ja-...Jadi kau memperoleh izin cuti dari direkturmu? Tapi tadi kau bila-..."
"Aku kan hanya bilang maaf saja, Matsuri-chan. Memangnya kau tahu apa arti kata maaf yang aku ucapkan itu?!" Ucap Gaara yang kini sudah mengangkat wajahnya untuk menatap langsung mata indah kekasihnya itu.
"Kupikir kau tidak bisa ikut denganku, Gaara-kun." Ucap Matsuri lirih, matanya kini terlihat sedikit berkaca-kaca karena lapisan air mata yang menutupi iris indahnya. Gaara yang melihat ekspresi Matsuri menjadi gemas sendiri, tanpa ragu Gaara mengacak surai coklat panjang kekasihnya itu dan menampilkan senyum menawannya.
"Aku sengaja mengerjaimu tadi, sebenarnya aku ingin meminta maaf padamu karena justru direkturku memberiku cuti kerja selama seminggu. Jadi, kita bisa menghabiskan lebih banyak waktu untuk berdua minggu ini." Terang Gaara menjelaskan perkataannya sebelumnya.
"Benarkah?! Wahh~...itu benar-benar luar biasa Gaara-kun!" Ucap Matsuri penuh keceriaan, sambil kembali memeluk sayang kepala kekasihnya itu.
"Kau senang?!" Tanya Gaara berbisik pelan di telinga Matsuri.
"Ya, hari ini aku senang sekali, Gaara-kun! Terima kasih." Ucap Matsuri menganggukkan kepalanya pelan dan tersenyum lembut sambil menatap ke arah langit-langit kamar apartemen Gaara.
"Kalau begitu cepatlah bersiap-siaplah, Gaara-kun! Jangan sampai besok kita datang terlambat ke perusahaan Yamanaka Entertainment!" Matsuri menepuk pelan punggung lebar Gaara seolah meminta Gaara untuk beranjak dari atas tubuhnya dan berkemas untuk mempersiapkan keperluan Gaara di Hokkaido selama empat hari ke depan.
"..." Tidak ada jawaban yang keluar dari mulut pemuda Sabaku itu. Merasa penasaran karena Gaara tak juga beranjak dari atas tubuhnya, Matsuri melirik sedikit ke arah wajah tampan kekasihnya tersebut. Ah, rupanya kekasihnya itu kini sudah terlelap dalam mimpinya.
Matsuri hanya bisa tersenyum lembut ke arah Gaara. Wajah kekasihnya itu terlihat begitu tampan saat sedang terlelap seperti itu. Sungguh Matsuri merasa sangat beruntung karena dirinya bisa kembali memiliki pemuda Sabaku tersebut di sisinya saat ini.
Sedikit merasa sesak karena Gaara yang menindih tubuhnya, Matsuri berusaha memiringkan posisi tubuhnya agar tubuh Gaara jatuh ke atas ranjang.
"Diamlah, Matsuri-chan! Jangan bergerak-gerak seperti itu terus! Aku jadi tidak bisa tidur dengan nyenyak." Ucap Gaara tiba-tiba masih sambil menutup kedua matanya, yang menyebabkan Matsuri sedikit merasa terkejut.
"Ekh! Kupikir kau sudah tidur Gaara-kun." Pekik Matsuri pelan.
"Hn." Gumam Gaara tak jelas.
"Gaara-kun, aku merasa sesak. Bisakah kau tidak menindih tubuhku seperti ini terus?!" Tanya dan pinta Matsuri kepada Gaara secara halus.
Tanpa banyak bicara, Gaara langsung membalikkan posisi mereka dengan begitu cepat. Sehingga dalam hitungan detik saja kini Matsuri sudah berada di atas tubuh Gaara dengan kedua tangan Gaara yang memeluk protektif pinggang mungil gadisnya.
"Tidurlah!" Ucap Gaara tegas.
"Bagaimana dengan persiapannya, Gaara-kun?" Ucap Matsuri sambil menatap ke arah Gaara yang masih saja menutup kedua matanya.
"Besok saja, Matsuri-chan. Cepat tidur, aku sudah mengantuk!" Perintah Gaara lagi tegas.
Matsuri sendiri hanya bisa menuruti perkataan Gaara, tanpa ada niatan untuk kembali bertanya kepada Gaara. Ia posisikan senyaman mungkin kepalanya pada dada bidang milik Gaara yang terasa begitu hangat. Pada akhirnya, Matsuri pun turut mengikuti Gaara untuk masuk ke alam mimpi.
Berhubung kedua orang tua Matsuri masih berada di Amerika, jadi Matsuri tidak perlu meminta izin terlebih dahulu untuk menginap di apartemen Gaara.
Sebenarnya Gaara tidak benar-benar terlelap dalam tidurnya. Meskipun matanya kini sudah mulai mengistirahatkan diri, namun berbeda dengan otaknya yang masih terus saja berpikir. Kegiatan work tour ke Hokkaido besok begitu menarik perhatiannya.
Hal ini dikarenakan keterlibatan perusahaan Yamanaka Entertainment di dalamnya, dimana Cherry bekerja sebagai model di sana. Sejak sebulan yang lalu saat Gaara bertemu dengan Cherry, Gaara masih menyimpan rasa penasaran terhadap Cherry yang terlihat begitu mirip dengan Sakura. Ah, bahkan Gaara sudah menyimpulkan bahwa Cherry dan Sakura adalah sosok orang yang sama.
Gaara memikirkan Sakura, bukan karena ia masih memiliki perasaan terhadap Sakura. Hanya saja Gaara menyadari jika sikapnya terhadap Sakura dulu begitu keterlaluan. Gaara sungguh merasa menyesal telah menyakiti hati sang gadis musim semi itu dulu.
Memang Gaara menjadikan Sakura sebagai kekasihnya hanya sebagai pelampiasan karena Matsuri meninggalkannya secara tiba-tiba. Hatinya yang sempat merasakan kekosongan sedikit terisi oleh kehadiran Sakura. Namun, bayang-bayang Matsuri tak pernah bisa lepas dari pikirannya.
Tapi, kini Gaara menyadari jika sikapnya itu benar-benar tampak tidak berperasaan. Oleh karena itu, jika memang kecurigaannya terhadap Cherry itu adalah benar Sakura. Maka, Gaara tidak akan segan-segan untuk meminta maaf pada Sakura.
Ya, setidaknya jika dulu Gaara sama sekali tidak meminta maaf pada Sakura karena meninggalkannya, maka kali ini ia masih mempunyai kesempatan untuk melakukannya. Bukankah tidak pernah ada kata terlambat untuk meminta maaf, eh?
.
.
.
Sebuah mobil mewah berwarna hitam kini tampak memasuki halaman depan perusahaan Yamanaka Entertainment dan berhenti tepat di belakang sebuah bus yang kini tengah setia terparkir di depan lobi kantor yang memang sengaja di sewa oleh Itachi, untuk mengantar kepergian mereka ke Narita Airport.
Tampak seorang pemuda berambut raven keluar dari mobil mewah tersebut, diikuti oleh sepasang kekasih yang tampak begitu serasi dan juga seorang pemuda berambut perak, berjalan di belakangnya. Perlahan mereka melangkahkan kakinya ke arah bus, sementara barang-barang bawaan mereka akan disimpan di bagasi bus oleh supir pribadi keluarga Uchiha, yang tadi mengantar mereka.
Sasuke kini sudah mulai menaikki tangga bus, dilihatnya Sakura yang kini tengah duduk pada kursi depan dekat dengan pintu bus. Sasuke sedikit tersenyum tipis tatkala mendapati sang gadis musim semi itu kini tengah terpejam dengan sebuah headset terpasang di kedua telinganya. Padahal perjalanan belum saja di mulai, tapi gadis bubble gum itu sudah terlelap dengan nyenyaknya seperti itu.
Kebetulan sekali kursi di samping gadis itu memang belum ada yang menempati seolah kursi itu memang sengaja disediakan untuk Sasuke agar duduk berdampingan dengan Sakura.
"Kenapa kau diam saja, Sasuke?" Ucap Itachi sambil menepuk pelan pundak Sasuke dari belakang, membuat sang Uchiha bungsu tersentak dari lamunannya.
"Hn." Gumam Sasuke tak jelas. Segera saja Sasuke melangkahkan kakinya masuk ke dalam bus dan mendudukkan dirinya pada kursi di samping Sakura.
Itachi hanya mendengus geli dengan sikap Sasuke. Itachi tahu jika sedari tadi adiknya itu sedang asyik memandang wajah cantik calon adik iparnya yang kini tengah terlelap.
Karena tak ingin membuang waktu lebih lama lagi, Itachi pun masuk ke dalam bus diikuti oleh Konan di belakangnya. Sebelum duduk di kursi, Itachi dan Konan terlebih dahulu menghampiri Deidara untuk menanyakan kesiapan yang telah dilakukan oleh pihak Yamanaka Entertainment.
"Dei, apa semua sudah siap?" Tanya Itachi kepada Deidara yang kini tengah duduk pada kursi di belakang kursi supir bus.
"Tentu Itachi, semuanya sudah siap. Sepertinya kita hanya tinggal menunggu Matsuri dan pasangannya saja saat ini." Ucap Deidara menjawab pertanyaan Itachi.
"Hn. Tidak apa-apa, lagipula masih ada waktu lima belas menit lagi untuk menunggu." Ucap Itachi lagi sambil melihat jam tangan gold-nya yang kini menunjukkan pukul tujuh kurang lima belas menit. Deidara pun menganggukkan kepalanya pelan seolah menyetujui perkataan Itachi.
"Lama tidak berjumpa, Konan." Sapa Deidara sambil tersenyum kepada Konan yang saat ini berdiri di belakang Itachi.
"Senang bertemu kembali denganmu, Dei." Konan tersenyum tipis ke arah Deidara, sebagai balasan atas sapaan yang diberikan oleh Deidara.
"Ya, aku juga senang bisa bertemu kembali denganmu, Konan. Kau semakin bertambah cantik saja dari waktu terakhir kali kita bertemu. Jika tahu begitu, dulu aku tidak akan mengalah dari Itachi untuk mendapatkan hatimu." Ucap Deidara memuji kekasih Uchiha Itachi tersebut sambil menampilkan senyumnya yang menawan.
Itachi mendelikkan onyx-nya tajam ke arah Deidara. "Hn. Tanpa kau mengalah pun, Konan pada akhirnya akan tetap memilihku, Dei!" Ucap Itachi sedikit sinis, merasa tak suka jika Deidara sudah mengungkit-ngungkit kejadian di masa lalu. Deidara yang melihat ekspresi Itachi, menjadi sweatdrop dibuatnya.
Padahal niatnya Deidara hanya ingin bercanda saja kepada Konan. Tapi, sepertinya tanggapan Itachi terhadap perkataannya benar-benar dianggap serius oleh Uchiha sulung tersebut.
"Sudah, sudah Itachi-kun! Lebih baik kita duduk saja. Deidara kan hanya bercanda, kenapa kau malah menganggapnya serius, Itachi-kun!" Ucap Konan berusaha menetralisir aura tak mengenakan yang menguar dari tubuh kekasihnya.
"Ya, lebih baik kau segera membawa kekasihmu itu, Konan! Sepertinya penyakit girlfriend complex-nya mulai kambuh." Ucap Deidara sedikit mengejek Itachi sambil terkekeh geli.
Itachi kembali melayangkan tatapan tajamnya ke arah Deidara yang tampak bersikap biasa-biasa saja saat ini. Sepertinya Itachi sama sekali tidak dalam mood untuk bercanda dengan sang putra sulung Yamanaka itu.
Karena tak ingin memperpanjang perdebatan, segera saja Konan menarik lengan Itachi untuk duduk pada kursi di belakang kursi Deidara.
Itachi sedikit menggerutu kesal kepada Konan sambil memalingkan wajahnya ke arah luar melalui kaca jendela bus. Konan hanya menghela napas pelan melihat sikap Itachi yang menjadi kekanak-kanakkan jika sudah cemburu itu.
Pada akhirnya, Konan terpaksa membalikkan tubuh Itachi untuk menghadap ke arahnya dan dengan cepat mendaratkan bibir tipisnya di atas bibir tegas sang pemuda Uchiha, yang tentu saja membuat Itachi sedikit tersenyum tipis.
"Jangan cemburuan seperti itu, Itachi-kun." Pinta Konan lembut sambil membelai wajah tampan Itachi, sementara Itachi sendiri melingkarkan kedua tangannya pada pinggang Konan dan memeluknya dengan erat.
"Aku tidak cemburu, Hime. Aku hanya tidak suka jika Dei berkata seperti tadi kepadamu." Bisik Itachi pelan di telinga Konan.
'Huh, dasar Uchiha! Selalu saja tidak mau mengakui jika dirinya tengah cemburu!' Gerutu Konan di dalam hati. Namun, meskipun begitu Konan tidak bisa membantah ucapan kekasih yang begitu dicintainya itu.
.
.
.
Sementara Kakashi saat ini masih setia berdiri di luar untuk menghubungi kekasihnya, Yukie Fujikaze, dan menanyakan kesiapan yang telah dilakukan oleh pihak Namikaze Entertainment saat ini.
Ya, penyanyi cantik yang bekerja di perusahaan Namikaze Entertainment itu merupakan kekasih dari Hatake Kakashi, sang manager Uchiha bungsu. Sudah sekitar satu tahun mereka menjalani hubungan yang terbilang spesial ini.
"Hm, sepertinya sebentar lagi kami akan segera menjemput kalian di sana, Hime." Ucap Kakashi sedikit memperkirakan keberangkatan mereka ke perusahaan Namikaze Entertainment.
"Ya, Kakashi-kun. Lagipula belum semua kru berkumpul di sini jadi kalian tenang saja." Ucap Yukie tenang dan lembut kepada Kakashi.
"Baiklah kalau begitu, aku masuk dulu ke dalam bus. Sampai berjumpa nanti, Hime. Aku merindukanmu." Ucap Kakashi mengakhiri sambungan teleponnya kepada kekasihnya.
"Ya, aku juga merindukanmu, Kakashi-kun." Balas Yukie sambil terkekeh kecil, sebelum Kakashi benar-benar memutuskan sambungan teleponnya.
Segera saja Kakashi masuk ke dalam bus dan duduk pada kursi yang masih kosong di sana, menyisakan tempat di sebelahnya untuk kekasihnya nanti.
.
.
.
Merasakan adanya hawa keberadaan seseorang di sebelahnya, Sakura terbangun dari tidurnya dan sedikit mengintip dari ujung sudut matanya untuk melihat siapa orang yang dengan seenaknya tanpa permisi duduk di sampingnya. Sakura mendengus di dalam hati tatkala dirinya mendapati Sasuke yang duduk pada kursi di sebelahnya.
"Apakah aku mengijinkanmu untuk duduk di sini, Sasuke?!" Tanya Sakura sarkastik kepada Sasuke. Kini Sakura sudah membuka sempurna kedua mata indahnya ke arah Sasuke dan melepaskan headset yang sedari tadi menempel di telinganya.
"Hn. Memangnya kenapa aku harus meminta izin darimu terlebih dahulu, Cherry?! Lagipula tadi kursi ini kosong dan aku yakin tak akan ada orang lain yang mau duduk di sebelahmu. Jadi, aku berinisiatif untuk duduk di sini dan menemanimu agar kau tidak merasa kesepian." Ucap Sasuke santai sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Sebuah seringaian manis terpatri di wajah tampannya yang justru malah terlihat memuakkan di mata Sakura.
Itachi memang belum memberitahukan perihal nama asli Cherry kepada Sasuke. Menurut Itachi, lebih baik keadaannya dibiarkan seperti ini dulu saja. Suatu hari nanti, Sasuke pun pasti akan mengetahui nama asli Cherry dengan sendirinya.
"Kau bercanda! Percaya dirimu memang tinggi sekali ya, Sasuke." Ucap Sakura sambil mendengus sinis. "Lebih baik aku duduk sendirian daripada harus ditemani oleh pemuda sepertimu, Sasuke!" Ucap Sakura lagi melanjutkan perkataannya.
"Percaya diri itu tidak ada salahnya, Cherry. Lagipula, aku sudah nyaman untuk duduk di sini. Aku malas untuk pindah ke kursi lain karena tidak ada seorang pun yang aku kenal di sini selain dirimu tentunya." Ucap Sasuke sambil mengendikkan bahunya pelan.
"Omong kosong! Kalau begitu aku saja yang akan pindah ke kursi lain." Sakura hendak beranjak dari kursinya, namun Sasuke dengan gesit menarik lengan Sakura dan membuat sang gadis musim semi itu kembali duduk pada kursinya.
"Tak bisakah kau tetap duduk manis di sini saja, Cherry." Ucap Sasuke lirih, onyx-nya menatap sendu ke arah Sakura yang kini tampak tengah menahan emosinya kepada Sasuke.
Melihat tatapan lemah yang ditampilkan oleh Sasuke, sedikit menggugah hati kecil milik Sakura. Sakura sedikit menghela napasnya pelan, sebelum akhirnya Sakura menghempaskan dengan agak kuat tangan Sasuke yang masih memegang lengannya agar terlepas dari dirinya.
Sasuke yang mendapat perlakuan seperti itu dari Sakura, merasakan sesak yang terasa begitu sakit pada hatinya. Namun, sebisa mungkin Sasuke menampilkan sebuah senyuman untuk menghargai Sakura yang masih bersedia untuk duduk pada kursi di sebelahnya.
"Terima kasih, Cherry." Ucap Sasuke pelan kepada Sakura, namun tetap masih dapat terdengar oleh sang gadis musim semi itu. Meskipun begitu, Sakura sepertinya tidak mempedulikan ucapan terima kasih yang dilontarkan oleh sang pemuda Uchiha.
Sakura mengalihkan pandangannya ke arah luar, ia tak ingin berlama-lama menatap onyx pemuda Uchiha itu yang kini terlihat redup. Sakura takut jika dirinya akan merasa lemah dan hatinya menjadi goyah jika melihat tatapan sang mantan kekasihnya itu, yang memang sampai saat ini masih mendominasi seluruh hati dan pikirannya.
Meski Sakura selalu terlihat bersikap acuh dan terkesan benci kepada Sasuke, tapi jauh di lubuk hatinya Sakura masih menyimpan perasaannya kepada Sasuke. Sebenarnya, Sakura sudah bisa menyimpulkan jika Sasuke memang sudah benar-benar berubah dan serius ingin kembali menjalin hubungan dengan dirinya.
Hal ini terlihat dari sikap Sasuke yang begitu egois dan selalu memaksakan kehendaknya terhadap Sakura. Meskipun Sakura sudah menolak kehadiran Sasuke secara mentah-mentah, tapi sepertinya Sasuke memang tak gentar untuk mendapatkan kembali hatinya. Namun, Sakura masih ingin menguji kesabaran Sasuke lebih lama lagi. Sampai sejauh mana perasaan dan perjuangan yang akan dilakukan oleh Sasuke untuk meluluhkan hatinya nanti.
Jika memang waktunya sudah tiba, maka Sakura pun akan kembali membuka lebar kedua tangannya untuk menyambut cinta sang Uchiha bungsu tersebut. Asalkan Sasuke bisa bersabar sedikit lebih banyak lagi untuk menunggunya, Sakura tidak akan ragu untuk menerimanya kembali.
.
.
.
Kini perhatian Sakura terfokus pada sepasang kekasih yang tengah berjalan ke arah bus. Sakura sangat mengenal dengan jelas siapa kedua orang berbeda gender tersebut. Ya, mereka adalah mantan kekasihnya Gaara dan juga mantan rival-nya Matsuri.
"Selamat pagi Deidara-sama." Ucap Matsuri memberi salam kepada Deidara, saat dirinya baru saja tiba dan masuk ke dalam bus diikuti dengan Gaara di belakangnya. Tentu saja Gaara sedikit melirik ke arah Sakura yang duduk di kursi depan.
Sakura sendiri merasakan bahwa Gaara tengah melihat ke arahnya. Dengan refleks Sakura mengalihkan pandangannya ke arah Gaara dan memberikan sebuah senyuman manis kepada pemuda Sabaku tersebut. Membuat Gaara sedikit terkejut dengan reaksi Sakura terhadap kedatangannya. Namun, Gaara tetap membalas senyuman sang gadis musim semi itu.
Sasuke yang melihat sikap Sakura terhadap Gaara, hanya bisa mengerutkan keningnya heran. 'Ich,siapa pemuda merah ini? Kenapa tiba-tiba Cherry tersenyum padanya?!" Ucap Sasuke dalam hatinya penasaran. Namun, tentu saja Sasuke tidak mau repot-repot untuk bertanya kepada Sakura. Lebih baik nanti saja, ia mencari tahu sendiri mengenai sosok pemuda bertato 'Ai' tersebut.
"Ah, selamat pagi Matsuri." Ucap Deidara membalas sapaan Matsuri.
"Maafkan kami karena datang agak terlambat, Deidara-sama." Ucap Matsuri sedikit menyesal kepada Deidara.
"Tidak apa-apa Matsuri, kalian datang tepat pada waktunya, tenang saja. Kalau begitu duduklah!" Pinta Deidara secara halus kepada Matsuri.
"Ha'i, terima kasih Deidara-sama." Matsuri ber-ojigi singkat kepada Deidara dan beranjak menuju kursi kosong di belakang Sai dan Ino, yang berjarak tiga kursi dari kursi Sakura dan Sasuke. Oleh karena itu, Ino sama sekali tidak mengetahui percakapan yang terjadi di antara Sasuke dan Sakura tadi.
Ino memang tidak suka duduk di depan jika naik bus, ia lebih memilih duduk ditengah-tengah karena menurutnya di sana lebih nyaman. Sai hanya bisa menuruti kemauan kekasihnya saja, asalkan Ino merasa senang maka Sai akan melakukan apapun untuk kekasih tercintanya itu.
Ino yang melihat kedatangan Matsuri langsung menyambut antusias sahabatnya itu dan memeluknya singkat. Sementara Matsuri hanya tersenyum geli dengan sikap Ino tersebut.
"Nanti kita bicara lagi ya, Ino. Aku mau duduk dulu." Ucap Matsuri sambil tersenyum simpul.
"Oke, tidak masalah Matsuri." Ucap Ino sambil balas tersenyum kepada Matsuri.
Matsuri melangkahkan kakinya untuk menuju ke kursi di belakang Ino, menyusul Gaara yang sudah terlebih dahulu duduk di sana saat Ino menyambut kedatangan Matsuri.
.
.
.
"Sepertinya semua sudah lengkap, mungkin sekarang kita akan segera menjemput rombongan dari perusahan Namikaze Entertainment. Setelah itu, baru kita akan pergi ke bandara. Barang-barang kalian sudah tidak ada yang tertinggal kan?" Ucap Deidara mengingatkan. Semuanya menggelengkan kepalanya, seolah mengatakan bahwa tidak ada barang-barang mereka yang tertinggal.
"Tunggu Dei-nii!" Ucap Ino sambil mengangkat tangan kanannya ke atas, pertanda bahwa ia ingin bertanya sesuatu kepada Deidara.
"Ada yang ingin kau tanyakan, Ino?" Tanya Deidara singkat.
"Bagaimana dengan Karin dan Suigetsu, Dei-nii? Mereka kan belum datang, apa akan kita tinggal saja?" Tanya Ino to the point kepada Deidara. Memang sebelumnya Deidara mengatakan jika Karin dan Suigetsu juga akan turut serta dalam kegiatan work tour ini. Jadi Ino merasa heran, kenapa kakaknya tidak mengungkit-ngungkit kedatangan Karin dan Suigetsu saat ini.
"Tenang saja, mereka berdua akan menyusul besok pada saat pemotretan akan di mulai. Hari ini mereka masih ada jadwal pemotretan di Kyoto." Ucap Deidara berbohong sambil tersenyum tipis menanggapi pertanyaan adik kesayangannya itu. Ino sendiri hanya menganggukkan kepalanya mengerti akan perkataan Deidara tersebut.
Ya, Deidara memang berbohong kepada Ino mengenai keterlibatan Karin dan Suigetsu dalam kegiatan work tour ini. Hal ini merupakan salah satu rencana Itachi juga sebenarnya, karena tidak mungkin Deidara bisa meminta secara sengaja kepada Hinata untuk menjadi model dalam pemotretan di Hokkaido nanti.
Jadi rencananya adalah Hinata dan Naruto akan di minta untuk menggantikan ketidakhadiran Karin dan Suigetsu dalam kegiatan pemotretan di Biei nanti. Sehingga tidak akan menimbulkan kecurigaan kepada putri sulung Hyuuga tersebut. Ah, rupanya Itachi memang telah mempersiapkan semua rencananya dengan matang, eh?
.
.
.
Saat ini rombongan dari perusahaan Namikaze Entertainment sudah masuk ke dalam bus dan duduk manis pada kursinya masing-masing. Kini bus sudah melaju ke arah Narita airport dan kemungkinan sekitar setengah jam lagi mereka semua akan tiba di sana.
"Apa maksud dari semua ini, Naruto-kun?!" Tanya Hinata sedikit ketus kepada Naruto yang kini tengah duduk di sampingnya. Hinata ingin meminta penjelasan kepada Naruto mengenai kerterlibatan perusahaan Uchiha Entertainment dan juga Yamanaka Entertainment di sini.
Pasalnya, kemarin Naruto sama sekali tidak memberitahukan dirinya jika mereka akan melakukan perjalanan ke Hokkaido bersama dengan perusahaan Uchiha Entertainment dan juga Yamanaka Entertainment. Tentu saja hal ini membuat sang putri sulung Hyuuga tersebut merasa marah sekaligus kesal kepada Naruto.
"Ya, seperti yang kau lihat Hinata-chan." Ucap Naruto apa adanya sambil mengendikkan bahunya acuh tak menghiraukan Hinata yang menatap tajam ke arahnya.
"Kau tidak menjawab pertanyaanku sama sekali, Naruto-kun!" Ucap Hinata sedikit geram kepada pemuda Namikaze tersebut. Sungguh Hinata merasa jengah dengan sikap Naruto yang terkesan santai itu.
"Baiklah aku akan menjelaskannya, Hinata-chan. Jadi secara kebetulan, Yamanaka Entertainment dan Uchiha Entertainment memang akan mengadakan pemotretan di kota Biei. Aku pun memang mempunyai rencana untuk melakukan syuting mv single terbaru Yukie Fujikaze di sana. Kau tahu sendiri kan, panorama di sana itu sangatlah indah. Jadi, sekalian saja kami bergabung untuk pergi bersama-sama ke sana dan mengadakan kegiatan work tour gabungan ini." Ucap Naruto sedikit berbohong menjelaskan alasannya kepada Hinata.
"Kenapa kau tak memberitahuku sejak awal, Naruto-kun?! Apa kau memang sengaja menyembunyikan semua ini dariku?" Tanya Hinata sambil memicingkan matanya menatap curiga ke arah Naruto.
"Kejutan Hinata-chan. Aku hanya ingin memberikanmu kejutan saja. Aku sama sekali tak ada maksud untuk menyembunyikan apapun darimu." Ucap Naruto sambil tersenyum lembut kepada Hinata. Hinata merasa tak yakin dengan perkataan yang diucapkan oleh Naruto tersebut.
"Kejutan katamu? Tapi sepertinya kejutanmu ini sama sekali tidak membuat aku merasa senang eh, Naruto-kun?" Ucap Hinata sedikit mengejek pemuda blonde tersebut.
"Hm, tidak masalah. Lagipula masih ada kejutan-kejutan lainnya yang sudah aku persiapkan untukmu nanti di Hokkaido, tunggu dan bersabar saja Hinata-chan." Ucap Naruto tenang menanggapi ejekan Hinata. Kini Naruto mengalihkan pandangannya dari Hinata ke arah depan.
"Maaf saja, tapi aku sama sekali tidak tertarik dengan kejutanmu itu, Naruto-kun!" Ucap Hinata sambil menyeringai sinis. Sementara Naruto kini sudah mulai menutup kedua matanya tanpa menghiraukan perkataan Hinata kepadanya. Namun, sebuah seringaian tipis kini tercipta di ujung sudut bibir tegasnya.
'Hm, kita lihat saja nanti, Hinata-chan! Apakah kau bisa menolak kejutan lainnya di Hokkaido nanti?' Tantang Naruto dalam hatinya kepada Hinata.
Naruto sama sekali tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi gadis indigo tersebut, saat Deidara nanti memintanya untuk berpartisipasi dalam kegiatan pemotretan dengan tema romantic couple.
Terlebih lagi Hinata harus dipasangkan dengan dirinya, yang pasti akan ditolak habis-habisan oleh Hinata. Tapi, Naruto tahu jika Hinata begitu lemah terhadap permintaan orang lain yang meminta tolong kepadanya. Jadi, kemungkinan besar Hinata tetap akan membantu Deidara untuk ikut serta dalam kegiatan pemotretan ini meskipun ia melakukannya dengan berat hati.
-TBC-
*Yukie Fujikaze: chara yang menjadi artis di anime Naruto the Movie satu.
Maafkan saya karena akhir-akhir ini saya lama sekali untuk update. Saya sedang sibuk untuk mengurusi persiapan sidang UP, jadi saya sedikit menelantarkan fic ini...Gomen Minna...
Kemungkinan chapter depan juga akan sedikit lama untuk update-nya...hehe...Maaf untuk liburannya akan di mulai di chapter depan yah...^_^
Maaf juga kalau ceritanya semakin abal dan alurnya semakin berantakan...^_^
Terima kasih kepada para readers, reviewers, followers, favoriters, dan silent readers yang sudah berkenan untuk membaca fic ini. Terima kasih atas semua dukungan dan semangat yang telah kalian berikan kepada saya. Saya sangat sayang kalian semua...^_^
Salam hangat untuk kalian semua...^_^ Semoga kalian suka dengan chapter ini ya...^_^
Oh iya, lupa bilang...jangan panggil saya Senpai ya...saya kan masih author baru di FFN ini...jadi panggil Hikaru saja ya...^_^ Arigatou...
Balasan Review
shintaiffah: Aa maaf gak bisa update kilat...tapi semoga suka ya dengan chapter ini ^_^ Makasih udha R&R.
hanazono yuri: Maaf Senpai gak bisa update kilat...tapi semoga suka dengan chapter ini ya ^_^ Makasih banyak...jangan bosan-bosan ya Senpai.
dylanNHL: Um, agak susah untuk Hinata buat maafin Naruto. Tapi akan ada kejutan di akhir nanti...tunggu ya...hehe...^_^ big surprise of course...Makasih yah udha R&R.
estusetyo paweling: Hihi...boleh boleh...^_^ maaf ya gak bisa update kilat...Makasih udha R&R...^_^
marukocan: Um, sepertinya di chapter ini sedikit ya interaksi SasuSaku dan NaruHina-nya? Saya usahakan yah di chapter depan lebih banyak interaksi mereka...hehe...makasih udha R&R...^_^
dewi sasusaku: udha lanjut...tapi kayaknya chapter kedua kurang menarik ya...hehe...makasih ya udha R&R...^_^
Febri Feven: Makasih banyak Senpai...semoga suka dengan chapter ini yah...^_^
ntika blossom: Hehe...sepertinya hanya berhasil pada salah satu pasangan saja...^_^ ditunggu ya...makasih udha R&R.
Eagle onyx: Hihi...Senpai lucu...^_^ jangan tinggi-tinggi loncatnya, nanti jatuh kayak Sasuke...hehe...oke ini udha lanjut...Makasih banyak ya.
Kyouka Hime: Maaf ya update lama, semoga suka dengan chapter ini...Makasih udha R&R ^_^
Guest: Oke ini udha lanjut...makasih udha R&R ya...^_^
EmeraldAI: Hehe...maaf ya Senpai ^_^ soalnya bingung mau pakai alur apa...jadi agak dipaksakan seperti itu. Oke, penggunaan trademark itu akan saya kurangi di chapter-chapter mendatang...Makasih untuk koreksinya ya Senpai...semoga chapter ini tidak mengecewakan.
Cherry Sakura Heartfilia: Ha'i Arigatou Senpai...^_^ kemungkinan dari liburan kali ini ada salah satu pasangan yang akan kembali akur...hehe...makasih banyak ya Senpai.
Sasa Cherry: Iya Sasa-chan, karena kata-kata Sasa-chan yang selalu menyemangati saya dari chapter-chapter awal sampai sekarang...saya jadi semakin bersemangat melanjutkan fic ini. Tadinya memang sempat merasa putus asa, tapi saya bangkit lagi karena merasa ada seseorang yang menyokong saya dari belakang...hehe...Masalah lemon, saya gak tahu apakah saya bisa atau tidak membuatnya...takutnya malah aneh...hehe...tapi diusahakan deh buat adegan lemonnya...hihi...jadi malu saya...Oke, kemungkinan adegan itu setelah hubungan mereka resmi pastinya...^_^...Jadi tunggu ya Sasa-chan...Makasih banyak...muach...^_^
Animea-Khunee-Chan: Maaf gak bisa update kilat...liburannya sepertinya mulai di chapter depan deh...hehe...^_^ Tapi saya usahakan update cepat ya...Makasih udha R&R.
ayudiadinda dewi: Makasih ya udha suka dengan cerita ini...semoga chapter ini tidak mengecewakan...^_^
Anka-Chan: Hehe...mudah-mudahan gak mengecewakan ya idenya...^_^ Oke, ini udha update kok...Makasih banyak ya.
Gilang363: Hm...saya panggil paman Gilang aja ya biar lebih akrab...hehe...^_^ Gak kompleks kok paman, karena saya gak pandai buat masalah yang kompleks...hehe...Makasih udha R&R.
Eysha CherryBlossom: Semoga senang juga baca chapter ini ya Senpai...hehe...Makasih udha R&R...^_^
miura haruma: Um, sebisa mungkin saya usahakan ya adegan NaruHina-nya...nanti di chapter-chapter akhir sepertinya ada banyak adegan NaruHina-nya...hehe...Tapi SasuSaku juga banyak kok...^_^
sutra fossil: Hehe...iya saya Senpai...makasih ya buat sarannya...^_^ Semoga suka dengan chapter ini.
Sasra Uchiha: Wahh...senangnya Sasra-chan sangat suka dengan fic gaje saya...makasih banyak...^_^ Semoga chapter ini juga tidak mengecewakan ya...
imahkakoeni: Makasih ya masih setia menunggu fic ini...hehe...jadi senang...^_^ Um, Matsuri ya...gak ada apa-apa kok sama Matsuri, tenang aja...oke...^_^
Tatsumi Heita: Hehe...iya saya author amatir sih...benar-benar gak pandai buat menulis fic...^_^ ini juga nekat buat publish fic...niatnya ingin mencari pengalaman baru...hehe...Tatsumi-chan juga semangat ya buat fic-fic lainnya.
ShinRanXNaruHinaXIchiHime: Um iya Senpai, saya soalnya suka Hanabi yang bersikap manja sama Naruto...hehe...Orang ketiga ya? Tunggu di chapter-chapter akhir ya Senpai ^_^ akan terjawab nanti di sana. Makasih udha R&R.
haruchan: Hehe...gak apa-apa kok...um maaf karena Sakuranya kebanyakan bilang kasar...saya keasyikan membuat Sakura berkata-kata seperti itu...ikut terbawa emosi juga soalnya...^_^ Makasih udha R&R.
ica: Iya ini udha lanjut kok...hehe...makasih udha R&R ya...^_^ Semoga suka dengan chapter ini.
