Saya masih newbie disini, setelah sekian lama menjadi silent reader akhirnya saya mencoba untuk membuat sebuah fanfic.
Ini fanfic pertama saya, ceritanya agak pasaran juga ^_^, dan maaf kalau ada kesalahan penulisan dan lain-lain.
Semoga kalian suka...
Disclaimer : Masashi Kishimoto dengan semua chara-chara dalam anime Naruto
WARNING : OOC, typo, cerita gaje, alur kecepatan dll.
Summary: 'Cherry, bisakah selama dua hari kegiatan pemotretan ini kita berdamai saja dan melupakan sejenak permasalahan yang terjadi di antara kita?/Maaf Cherry, tapi sayang sekali jika pose kalian yang satu ini tidak ikut untuk diabadikan./Aku...sudah memutuskan untuk melepaskan saja perasaanku ini terhadapmu, Hinata-chan.'
Author by : Hikaru Sora 14
Sebelumnya saya ucapkan terima kasih kepada kalian semua yang telah membaca serta me-review, mem-follow dan mem-fav kan fic ini ^_^ Tanpa kalian fic ini tidak akan berarti apa-apa
Please Enjoy Reading
Don't Like Don't Read
Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih satu jam dengan menggunakan pesawat terbang dari Tokyo, akhirnya rombongan work tour gabungan itu telah tiba di Asahikawa Airport, Hokkaido. Untuk menuju ke kota Biei mereka masih membutuhkan waktu selama satu jam lagi dengan menggunakan bus dari bandara.
Selama perjalanan menuju ke villa milik keluarga Uchiha, para rombongan work tour benar-benar dimanjakan oleh pemandangan asri nan indah yang tersaji di sepanjang perjalanan menuju ke kota Biei. Bukit-bukit kecil berjajar rapi yang ditumbuhi oleh banyak bunga dengan berbagai macam jenis dan warna, memberikan sentuhan keindahan tersendiri bagi siapa saja yang melihatnya.
Semerbak harum bunga-bunga di sepanjang jalan yang terbawa oleh hembusan angin pun turut memberikan relaksasi dan perasaan nyaman bagi setiap peserta rombongan work tour gabungan ini. Rasanya mereka sudah tidak sabar menanti hari esok untuk segera melakukan kegiatan pemotretan di sepanjang Panorama Road ini dan menikmati liburan di kota Biei dengan bebas.
Tak terasa kini mereka pun telah tiba di villa milik keluarga Uchiha. Villa bertingkat tiga yang begitu megah dan mewah ini terlihat sangat menakjubkan karena dikelilingi oleh panorama alam yang begitu indah. Segera saja para rombongan work tour ini turun dari bus dan bergegas masuk ke dalam villa dengan membawa barang-barang bawaan mereka masing-masing.
Sebelumnya Itachi memang telah memberitahukan mengenai masalah pembagian kamar kepada para rombongan work tour sewaktu di dalam bus, sehingga tanpa perlu banyak bertanya lagi para peserta work tour langsung memasuki kamar-kamar yang memang telah disediakan di sana untuk sekedar mengistirahatkan tubuh mereka yang sedikit merasa kelelahan.
Tidak banyak yang mereka lakukan pada hari pertama work tour di kota Biei ini. Hari pertama liburan ini lebih didominasi oleh acara kebersamaan di antara para kru dan juga para artis dari ketiga perusahaan yang tentu saja bertujuan untuk lebih mengakrabkan dan mempererat tali silaturahmi dan kekeluargaan di antara mereka.
.
.
.
Suasana pagi hari di kota Biei ini tampak begitu terasa sunyi, tentram dan damai, sungguh berbanding terbalik dengan suasana pagi hari di kota Tokyo yang tampak begitu ramai. Suara kicauan burung-burung kecil yang bernyanyi merdu seolah menggantikan suara bising yang biasanya dihasilkan oleh kendaraan bermotor yang berlalu lalang di sepanjang jalan kota Tokyo. Udara sejuk yang begitu bersih pun seolah menggantikan udara kotor yang biasanya tercipta dari asap kendaraan bermotor.
Ada sebuah pepatah mengatakan bahwa pagi hari bukanlah saatnya bagi seseorang untuk bersikap bermalas-malasan, namun pagi hari adalah saatnya bagi seseorang untuk bersemangat menjalankan aktivitasnya untuk mencari nafkah bagi kehidupannya. Tampaknya pepatah tersebut benar-benar berlaku terhadap para rombongan work tour ini.
Tanpa mengenal rasa lelah, para kru kini tengah bersemangat dalam mempersiapkan semua peralatan dan perlengkapan yang mereka perlukan untuk kegiatan pemotretan nanti. Begitu pun dengan para model yang saat ini tengah di make over oleh para penata rias profesional.
Deidara, sang direktur perusahaan Yamanaka Entertainment kini tengah melangkahkan kakinya ke arah salah satu kamar di lantai satu, dimana para model wanita kini tengah dirias. Deidara bermaksud untuk menemui Ino dan melancarkan rencana yang telah dipersiapkan sebelumnya oleh Itachi.
Tanpa permisi, Deidara langsung masuk ke dalam kamar tersebut dan bergegas menghampiri Ino yang kini tengah duduk di sofa menunggu gilirannya untuk dirias sambil membaca sebuah majalah fashion.
Deidara menepuk pelan pundak sang gadis blonde untuk mengalihkan perhatian Ino dari majalah yang kini tengah dibacanya untuk terfokus ke arahnya. Ino pun mendongakkan kepalanya ke atas untuk menatap sang pelaku yang sedikit mengganggu aktivitas membacanya. Mengetahui bahwa sang kakak lah yang telah menganggu kesenangannya pagi ini membuat Ino bertanya-tanya dalam hati tentang keperluan apa yang diinginkan kakaknya tersebut.
"Ada keperluan apa Dei-nii datang ke sini? Tidak biasanya Dei-nii melakukan pengontrolan seperti ini terhadap model-model yang sedang dirias, eh?" Tanya Ino penuh dengan rasa penasaran terhadap kakaknya tersebut.
Deidara hanya tersenyum simpul menanggapi ucapan Ino. "Ada sedikit urusan yang harus aku katakan kepadamu, Ino. Ini masalah Karin dan Suigetsu." Ucap Deidara akhirnya mengutarakan maksud kedatangannya menemui Ino.
Ino yang mendengar perkataan Deidara semakin mengerutkan keningnya dalam. "Masalah apa Dei-nii? Ada masalah apa dengan Karin dan Suigetsu?" Tanya Ino meminta penjelasan lebih dalam kepada Deidara.
Tanpa banyak basa-basi Deidara langsung memberikan penjelasan mengenai Karin dan Suigetsu yang batal mengikuti kegiatan pemotretan ini. Deidara mengungkapkan dengan detail alasan mengapa Karin dan Suigetsu tidak bisa bergabung dalam kegiatan pemotretan ini serta kekhawatiran Deidara terhadap ketidakhadiran mereka berdua yang tentu saja akan berpengaruh negatif terhadap kegiatan pemotretan ini karena Deidara sudah menandatangani kontrak dengan para sponsor yang mendukung kegiatan pemotretan di Hokkaido ini, bahwa pasangan kekasih yang akan menjadi model dalam pemotretan kali ini berjumlah lima pasang.
Tentu saja semua itu hanyalah akal-akalan yang dibuat Itachi saja, agar pasangan Naruto dan Hinata bisa ikut berpartisipasi dalam kegiatan pemotretan tersebut.
"Kenapa bisa menjadi seperti ini sih, Dei-nii? Seharusnya mereka tidak berjanji untuk menyusul kita ke sini, jadi kan kita bisa mencari model yang lain untuk ikut berpartisipasi dalam pemotretan ini! Lalu sekarang apa yang akan kau lakukan, Dei-nii? Kita harus secepatnya mencari pasangan pengganti Karin dan Suigetsu." Ino beranjak dari sofa dan berucap khawatir kepada Deidara.
Deidara tersenyum penuh arti kepada Ino, pancingannya sepertinya berhasil mengenai adiknya tersebut.
"Ya, kita memang harus segera mencari pengganti Karin dan Suigetsu. Sedari tadi aku sudah memikirkan siapa pasangan yang tepat untuk menggantikan mereka berdua dan sekarang aku sudah menemukannya." Ucap Deidara menanggapi petanyaan Ino.
"Kau sudah menemukannya, Dei-nii?! Siapa mereka?!" Tanya Ino lagi penasaran.
"Mereka adalah Namikaze-san dan Hyuuga-san." Ungkap Deidara kepada Ino secara to the point.
"Ah, sepertinya ide yang bagus. Aku rasa mereka pilihan yang tepat, Dei-nii. Meskipun mereka bukan merupakan pasangan kekasih tapi aku merasakan adanya keserasian di antara mereka." Ucap Ino sedikit antusias dengan usulan kakaknya.
Ino memang tidak mengetahui masalah yang tengah terjadi di antara Naruto dan Hinata. Ia hanya mengetahui masalah yang tengah membelit Sakura dan Sasuke saja. Lagipula Sakura tidak bercerita kepadanya mengenai sandiwara yang dilakukan Sasuke itu berhubungan dengan Naruto dan Hinata juga.
Sakura hanya mengatakan kepada Ino bahwa Sasuke hanya bersandiwara dan berpura-pura saja mencintai dirinya hanya untuk membuat gadis yang dicintainya bahagia dan tentu saja Ino tidak mengetahui jika gadis yang menjadi sumber terciptanya sandiwara Sasuke ini adalah Hinata.
"Ya, sepertinya kau mempunyai pandangan yang sama denganku, Ino. Baiklah kalau begitu, aku harus secepatnya menemui Hyuuga-san dan berusaha membujuknya untuk ikut serta dalam pemotretan nanti." Ucap Deidara mengakhiri kepentingannya kepada Ino. Ino hanya menganggukkan kepalanya pelan menyetujui ucapan kakaknya tersebut.
.
.
.
"Ma-maaf Deidara-sama. Tapi kenapa tiba-tiba saja Anda meminta saya dan Naruto-kun untuk menggantikan pasangan Karin dan Suigetsu pada kegiatan pemotretan hari ini? Aku rasa Anda telah memilih orang yang salah. Kami bukanlah sepasang kekasih, bahkan lebih buruknya lagi kami bukanlah seorang model. Anda pasti tahu mengenai hal ini bukan, Deidara-sama?" Ucap Hinata mengatakan keberatannya atas permintaan Deidara.
"Ya Hyuuga-san, saya dapat mengerti akan hal tersebut. Tapi, saya benar-benar membutuhkan bantuan Anda dan juga Namikaze-san saat ini. Tema pemotretan kali ini adalah romantic couple yang difokuskan terhadap pasangan kekasih yang terbilang berusia muda, selain kalian tidak ada lagi orang lain yang bisa menggantikan Karin dan Suigetsu. Rata-rata para kru di sini sudah berusia hampir mencapai kepala tiga." Terang Deidara menjelaskan alasannya memilih Hinata dan Naruto untuk menggantikan Karin dan Suigetsu.
"Ta-..."
"Jika tidak, maka pihak kami akan mengalami kerugian yang sangat besar karena pihak sponsor kemungkinan akan menghentikan sumbangan dana untuk penyelenggaraan kegiatan work tour ini." Ucap Deidara berbohong dengan nada yang sedikit lirih, memotong usaha Hinata yang akan kembali melakukan perdebatan dan penolakan terhadap permintaannya.
Mendengar kata-kata terakhir yang dilontarkan oleh pemimpin tertinggi Yamanaka Entertainment tersebut, sedikit menggugah hati kecil Hinata. Mana mungkin Hinata tega untuk membiarkan orang lain mengalami kesusahan seperti ini. Jika Hinata saat ini berada di posisi Deidara, pasti ia juga akan berbuat hal yang sama dengan hal yang dilakukan oleh Deidara.
Mungkin sekali ini saja Hinata harus berbaik hati untuk menerima permintaan Deidara tersebut meskipun ia harus melakukannya dengan hati yang terasa berat karena harus bersanding dengan Naruto, mantan kekasihnya.
"Baiklah kalau begitu, saya menerima permintaan Anda Deidara-sama." Ucap Hinata mengalah pada akhirnya. Sebuah senyuman kemenangan kini terpatri pada wajah tampan Deidara.
.
.
.
"Hei, Cherry! Apa maksud dari pose yang kau lakukan itu? Bukankah aku sudah mengatakan jika kalian harus menampilkan pose-pose berpelukan dengan semesra mungkin! Tapi kau malah terlihat tidak bersungguh-sungguh dalam melakukannya! Apa kau pikir pemotretan ini adalah main-main, Hah?! Memalukan sekali kau ini, Cherry! Mana ada orang yang berpelukan tapi dengan menyisakan jarak seperti itu!" Ucap Nagato, sang fotografer pengganti Sasori, merasa kesal kepada Sakura yang terlihat enggan melakukan pose berpelukan dengan Sasuke.
Nagato baru saja selesai melakukan take foto dari pasangan Ino-Sai, Matsuri-Gaara dan Shion-Sasori. Sedari tadi pengambilan foto berjalan dengan begitu mulus dan lancar sampai akhirnya pasangan Sakura dan Sasuke ini menghancurkan semuanya dengan menghambat jalannya pemotretan.
Meskipun dapat dikatakan jika Sakura adalah seorang model yang profesional, namun tetap saja ia tidak bisa melakukan pekerjaannya dengan baik jika orang yang dibencinya saat ini tengah menjadi pasangannya dalam pemotretan.
Sakura tak bisa mengeluarkan kemampuannya secara totalitas seperti yang biasa dilakukannya saat melakukan pemotretan di kantor Yamanaka Entertainment. Perasaan enggan lebih mendominasi hatinya kini, sehingga berpengaruh terhadap kualitas kerja yang dilakukannya.
Sakura yang mendengar perkataan Nagato yang tersirat suatu kemarahan di sana, segera membungkukkan badannya untuk meminta maaf kepada Nagato.
"Ah, maafkan saya Nagato-san. Saya hanya belum bisa mempersiapkan diri saya dengan baik. Saya harap Anda dapat memakluminya dan memberikan satu kesempatan lagi kepada kami untuk melakukannya." Ucap Sakura penuh penyesalan kepada Nagato.
"Sudahlah Cherry, kau tidak perlu meminta maaf kepadaku! Saat ini aku tidak membutuhkan perkataan maaf darimu itu, yang aku butuhkan adalah kau dan Sasuke bisa melakukan pose ini dengan sempurna! Ini baru permulaan Cherry! Tapi sepertinya kalian tidak bisa bekerja sama dengan baik,eh? Bagaimana dengan hasil akhirnya nanti jika kalian terus menerus bersikap kaku seperti itu, hah!" Ucap Nagato angkuh meluapkan kekesalannya kepada Sakura dengan nada yang tinggi.
Sakura membelalakan matanya terkejut karena mendapatkan kata-kata makian yang terdengar cukup pedas dari Nagato. Hatinya mencelos merasakan sakit akan komentar yang tak mengenakan tersebut. Sakura tak menyangka jika Nagato akan bersikap begitu tegas seperti ini kepadanya. Selama ini Sakura melakukan pemotretan, tidak pernah sekalipun ada seorang fotografer yang berani untuk memakinya seperti itu. Tapi memang pada dasarnya sumber kemarahan Nagato saat ini adalah berasal dari kesalahan dirinya sendiri yang tak bisa bekerja dengan baik.
Sementara Sasuke sendiri hanya bisa menampilkan sebuah senyuman tipis nan menawan pada bibir tegasnya, menikmati alur permainan yang diciptakan oleh Uchiha Itachi tersebut.
"Aku mohon, berikan saya satu kesempatan lagi untuk melakukannya. Saya berjanji akan melakukan pose-pose tersebut dengan senatural mungkin, Nagato-san." Ucap Sakura berusaha memberikan keyakinan kepada Nagato bahwa dirinya bisa memperbaiki kesalahannya tadi.
Nagato tampak terdiam sejenak untuk memikirkan dan mempertimbangkan perkataan sang gadis musim semi. Tentu saja ini merupakan akting yang dilakukan oleh Nagato atas instruksi dari Deidara.
"Baiklah, Cherry. Aku akan memberikanmu satu kesempatan lagi. Tapi jika kau tetap tidak bisa berpose dengan bagus, maka aku tidak akan melanjutkan sesi pemotretan ini. Aku tidak akan mempedulikan jika nantinya Deidara-sama akan mendapatkan kerugian besar karena kegiatan pemotretan ini dibatalkan." Ancam Nagato berusaha menggertak sang gadis musim semi tersebut.
"Ah, tidak-tidak Nagato-san! Jangan sampai hal itu terjadi! Kami berjanji, kami akan bersungguh-sungguh untuk melakukan kegiatan pemotretan ini. Jadi, kumohon Anda jangan menghentikan sesi pemotretan ini, Nagato-san." Ucap Sakura merasa takut dan khawatir jika rekan-rekannya juga akan terkena imbasnya karena ia tak bisa bekerja dengan profesional.
"Sudahlah jangan banyak bicara lagi, Cherry! Lebih baik segera tunjukkan keahlianmu yang sesungguhnya itu!" Ucap Nagato tegas kepada Sakura sekaligus mengakhiri perdebatannya dengan Sakura.
Lagi, Sakura merasakan sesak pada dadanya setelah mendengar kata-kata yang dilontarkan oleh Nagato tersebut. Anak-anak air mata kini tampak berjajar rapi di pelupuk mata indah sang gadis musim semi itu, seolah bersiap untuk menghambur keluar membahasi pipi putih milik Sakura. Namun, sebisa mungkin Sakura tetap menahan diri dan mengontrol emosinya agar tidak menangis saat ini.
"Oke, semuanya tolong kembali bersiap-siap!" Teriak Nagato kepada semua kru yang sedari tadi hanya terdiam karena ikut terlarut dalam suasana ketegangan yang tercipta di antara Nagato dan juga Sakura.
Sasuke yang melihat ekspresi sendu yang ditampilkan oleh Sakura, perlahan mengulurkan kedua tangannya untuk meraih dan membawa tubuh mungil Sakura ke dalam pelukan dada bidangnya.
Meskipun sebenarnya Sasuke merasa senang karena Sakura pada akhirnya mau mengikuti permintaan Nagato, tapi tetap saja Sasuke merasa sedih melihat gadisnya terluka seperti itu karena perkataan Nagato yang terdengar menyakitkan. Tapi bagaimana pun juga, semua ini mau tidak mau memang harus dilakukan agar bisa mendekatkan kembali dirinya dengan Sakura.
Sakura sendiri tampaknya tidak berniat untuk melakukan pemberontakkan terhadap tindakan yang dilakukan oleh Sasuke. Kali ini Sakura sepertinya bisa dengan leluasa untuk mengeluarkan air mata yang sedari tadi ditahannya. Bahu mungil gadis itu kini terlihat bergetar yang menandakan bahwa sang gadis musim semi itu kini tengah menangis.
Ah, sepertinya Sakura memang tengah membutuhkan seseorang untuk menjadi sandarannya saat ini, benarkan?
Sasuke yang merasakan getaran yang berasal dari tubuh gadisnya semakin merengkuh lembut Sakura ke dalam pelukannya. Diusapnya penuh perasaan surai panjang sewarna bunga sakura tersebut seolah menyalurkan suatu ketenangan kepada gadis yang dicintainya itu.
"Jangan menangis lagi, Cherry! Riasan wajahmu bisa luntur jika kau terus menerus menangis seperti ini." Ucap Sasuke berbisik lembut di telinga Sakura, berusaha untuk menghibur sang gadis bubble gum tersebut sekaligus memanfaatkan kesempatan untuk mengambil kembali hati Sakura yang saat ini tampak begitu lemah.
Sakura yang mendengar perkataan Sasuke hanya bisa terdiam tak menanggapi ucapan sang pemuda raven. Sakura mengerti jika dirinya bisa merusak penampilannya saat ini jika ia terus menerus menangis seperti ini, maka dengan mengumpulkan kekuatannya Sakura bertekad untuk menghentikan tangisannya dan mengikuti saran Sasuke.
Sasuke yang merasakan getaran yang berasal dari tubuh Sakura telah berhenti, sedikit menampilkan senyuman tipisnya yang tampak mempesona itu.
Sungguh Sasuke benar-benar merindukan kehadiran sosok gadis musim semi ini untuk selalu berada di sisinya. Aroma cherry yang menguar dari tubuh Sakura begitu membuat Sasuke terhipnotis seketika, membuat dirinya semakin mengeratkan pelukannya terhadap Sakura dan tak pernah ingin melepasnya lagi.
"Cherry, bisakah selama dua hari kegiatan pemotretan ini kita berdamai saja dan melupakan sejenak permasalahan yang terjadi di antara kita?" Tanya Sasuke berbisik lirih kepada Sakura, berharap Sakura mau menerima tawarannya untuk berbaikan meskipun hanya dalam waktu yang terbilang singkat.
Sakura sedikit merasa terkejut mendengar kata-kata yang terlontar dari bibir tegas Sasuke. Bagaimana bisa Sasuke memikirkan hal seperti itu? Berdamai hanya untuk waktu dua hari saja dengannya, apa dia tidak salah mengatakan hal yang seperti itu? Kenapa Sasuke hanya meminta berdamai selama dua hari saja dengannya? Kenapa Sasuke tidak sekalian saja meminta berdamai untuk selamanya dengannya? Apa yang sebenarnya tengah dipikirkan oleh pemuda raven tersebut?
Pikiran-pikiran tersebut terus berseliweran di dalam otak sang gadis musim semi itu, mencoba menduga-duga alasan mengapa Sasuke mengatakan kata-kata seperti itu. Akhirnya Sakura memberanikan diri untuk bertanya kepada Sasuke mengenai alasan yang dikatakannya tadi.
"Bisakah kau mengatakan alasan kenapa aku harus berdamai denganmu, Sasuke?" Tanya Sakura pelan tak ingin seorang pun mengetahui bahwa dirinya tengah terlibat percakapan dengan sang Uchiha bungsu. Sebenarnya tidak masalah jika orang lain melihatnya tengah berpelukan dengan Sasuke seperti ini, toh mereka memang sedang melakukan pemotretan dengan pose tersebut meskipun saat ini para kru masih sibuk mempersiapkan kembali keperluan pemotretan dari awal.
"Karena aku rasa jika kita berdamai kau bisa melupakan sejenak kebencianmu kepadaku dan dapat melakukan kegiatan pemotretan ini dengan lebih leluasa. Bukankah sedari tadi kau enggan melakukan pemotretan ini hanya karena perasaan bencimu kepadaku, benarkan Cherry?" Ungkap Sasuke mengutarakan maksud dari perkataannya.
Sebenarnya Sasuke ingin mengatakan jika dirinya ingin berdamai untuk selamanya kepada Sakura. Tapi Sasuke sendiri sudah bisa memperkirakan jika Sakura pasti justru akan menolak mentah-mentah permintaannya itu. Jadi Sasuke memutuskan untuk meminta berdamai dengan Sakura selama dua hari saja.
Jika memang Kami-sama mauberbaik hati kepadanya, mungkin saja hubungan dirinya dan Sakura akan semakin menjadi lebih baik lagi ke depannya. Bisa saja kan, perdamaian selama dua hari ini justru akan membawa mereka ke dalam perdamaian yang abadi untuk selamanya? Kita berharap saja semoga hal itulah yang akan terjadi nanti, Ne?
Sakura kini kembali terdiam untuk merenungkan perkataan yang diucapkan oleh Sasuke. Sasuke memang benar, dirinya tidak bisa berkonsentrasi dengan baik karena perasaan benci di hatinya yang menghambat dirinya untuk melakukan pose-pose mesra bersama Sasuke.
Tapi apakah dengan melepaskan perasaan benci di hatinya itu akan bisa melepaskan sedikit demi sedikit beban yang tengah dirasakannya saat ini? Hm, sepertinya hal tersebut memang patut untuk di coba, lebih baik Sakura menikmati saja kegiatan pemotretan ini dengan perasaan yang tulus dan bahagia, serta menerima dengan ikhlas Sasuke sebagai pasangannya itu.
Bukankah keputusan ini juga baik untuk kepentingan bersama karena pasti semua pekerjaannya akan berjalan dengan lancar dan tidak akan menyusahkan orang lain lagi seperti tadi, benarkan?
Ya, Sakura akhirnya memutuskan untuk menerima tawaran Sasuke tersebut. Tentu saja berdamai selama dua hari ini bukanlah suatu masalah bagi Sakura. Lagipula Sakura memang sudah merasa lelah karena terus menerus menaruh perasaan benci terhadap pemuda yang sebenarnya masih sangat ia cintai itu.
Mengingat perjuangan Sasuke yang tak pernah henti untuk mengejarnya selama seminggu ini, rasanya sedikit memberikan keyakinan kepada hati Sakura bahwa Sasuke memang benar-benar serius ingin kembali menjalin hubungan kasih dengannya.
Sakura perlahan membawa kedua tangan mungilnya untuk membalas pelukan Sasuke, membuat sang pemuda Uchiha itu sedikit tersentak kaget.
"Apa ini artinya kau menerima tawaranku, Cherry?" Tanya Sasuke mencoba mengartikan isyarat tubuh yang dilakukan oleh Sakura tersebut.
"Rasanya aku lelah, Sasuke-kun. Sepertinya kau memang benar, sebaiknya selama dua hari ini kita berdamai saja. Aku tak ingin merasakan beban saat harus melakukan sesi pemotretan ini denganmu. Aku juga tak mau mengecewakan teman-temanku yang lain karena aku tak bisa bekerja secara profesional." Ucap Sakura lirih kepada Sasuke. Sasuke yang mendengar jawaban dari Sakura langsung menampilkan sebuah senyuman penuh artinya.
"Ya, Hime." Ucap Sasuke lembut memberanikan diri memanggil Sakura dengan panggilan sayang seperti itu dan tentu saja itu merupakan pertama kalinya bagi Sasuke memanggil Sakura dengan sebutan kasih yang begitu lembut. Sakura sendiri sedikit merasakan sebuah perasaan hangat yang menjalari hatinya tatkala Sasuke menyebut dirinya dengan sebutan seperti itu.
"Kau tahu, Hime. Aku akan mempergunakan waktu selama dua hari ini untuk membalas semua sikap burukku di masa lalu. Aku akan berusaha untuk membuatmu bahagia selama dua hari ini dan aku berjanji tidak akan membuatmu merasa kecewa lagi terhadapku." Ucap Sasuke lagi melanjutkan perkataannya dengan lembut. Sakura sedikit tersenyum kecil mendengar ucapan Sasuke yang terbilang cukup manis tersebut.
"Lakukanlah Sasuke-kun! Lakukanlah hal terbaik yang dapat kau perbuat kepadaku selama dua hari ini." Ucap Sakura tegas seolah meminta Sasuke benar-benar melaksanakan perkataannya.
"Dengan senang hati, Hime." Ucap Sasuke tersenyum penuh arti menanggapi perkataan Sakura.
Sasuke melepaskan pelukannya terhadap Sakura, onyx-nya menatap lembut ke dalam iris hijau bening milik Sakura yang terasa begitu meneduhkan hatinya. Sasuke tersenyum lembut kepada Sakura, begitupun Sakura yang membalas senyuman Sasuke dengan sebuah senyuman manis untuk pertama kalinya setelah mereka berdamai.
"Ada satu hal lagi yang ingin aku tawarkan kepadamu, Hime." Ucap Sasuke lagi sambil membelai lembut wajah cantik Sakura dan menghapus jejak-jejak air mata yang masih membekas di pipi putih sang gadis musim semi.
Sakura hanya menganggukkan kepalanya pelan seolah meminta Sasuke untuk melanjutkan perkataannya.
"Seandainya jika dalam waktu dua hari ini aku berhasil membuat dirimu kembali jatuh cinta kepadaku, bisakah kita berdamai untuk selamanya saja, Cherry?" Ucap Sasuke mengutarakan keinginannya kepada Sakura.
"Ak-..." Ucapan Sakura terlebih dahulu terpotong oleh seruan Nagato.
"Apa kalian sudah siap, Cherry, Sasuke?!" Tanya Nagato kemudian setelah semua kru kembali siap dengan posisi mereka masing-masing.
Sasuke dan Sakura secara bersamaan menoleh kepada seruan Nagato dan menganggukkan kepalanya dengan penuh keyakinan kepada Nagato, yang tentu saja membuat sang fotografer penggantitersebut tersenyum tipis penuh kemenangan. Misinya kali ini telah berhasil dilakukan dengan baik tentunya.
"Kita lanjutkan pembicaraan kita nanti malam ya, Cherry." Bisik Sasuke pelan di telinga Sakura.
"Hm." Gumam Sakura menyetujui sambil menampilkan senyuman manisnya kepada Sasuke. Ternyata melepaskan suatu rasa kebencian yang kita rasakan terhadap orang lain, benar-benar membuat perasaan kita menjadi terasa lebih tenang bukan, Sakura?
"Baiklah kalau begitu pemotretan akan kita mulai kembali. Bagi Namikaze-san dan Hyuuga-san, aku harap kalian juga bisa segera mempersiapkan diri kalian sebaik mungkin agar kesalahan seperti tadi tidak terulang lagi. Setelah take foto Sasuke dan juga Cherry, aku akan segera mengambil foto kalian. Mengerti!" Ucap Nagato tegas kepada Naruto dan Hinata.
"Kami mengerti, Nagato-san!" Ucap Naruto dan Hinata secara bersamaan. Hinata sedikit melirik ke arah Naruto yang kini tengah berdiri di sampingnya. Naruto yang menyadari lirikan Hinata, dengan sengaja menengokkan kepalanya ke arah Hinata dan memberikan sebuah senyuman penuh arti kepada Hinata, yang seolah mengatakan, 'Mohon kerja samanya dalam pemotretan hari ini, Hinata-chan.'.
Hinata yang melihat ekspresi kesenangan yang ditunjukkan oleh Naruto, hanya bisa mendecih di dalam hatinya. Rupanya kejutan seperti inilah yang telah dipersiapkan oleh pemuda blonde tersebut kepadanya.
Berbeda dengan pasangan Sasuke dan Sakura. Naruto dan Hinata-ah atau lebih tepatnya hanya Hinata saja-tampaknya tak berniat untuk melakukan perdamaian. Hinata lebih memilih untuk menganggap pemotretan ini hanya sebagai tuntutan pekerjaan saja yang harus dikerjakan dengan penuh keseriusan, tanpa harus melibatkan perasaan hati di dalamnya.
.
.
.
Kini Sasuke tengah memeluk Sakura dari belakang, kedua tangan kekarnya membelai lembut kulit putih nan mulus perut sang gadis musim semi karena memang Sakura saat ini tengah mengenakan atasan ketat berkerah tanpa lengan berwarna hitam yang memperlihatkan belly button-nya yang tentu saja membuat sang gadis cantik itu tampak begitu seksi dan mempesona di mata siapa saja yang melihatnya.
Sasuke menyusupkan wajah tampannya di sela-sela perpotongan leher jenjang dan bahu mungil sang gadis musim semi tersebut dan sesekali mengecupnya lembut. Sebuah senyuman tipis kini terpatri di wajah tampannya yang biasanya datar. Sungguh Sasuke merasa begitu sangat merindukan kehangatan yang tercipta tatkala dirinya dan Sakura berpelukan seperti ini.
Sementara Sakura sendiri kini tengah menampilkan sebuah seringaian angkuh pada wajah putih cantiknya. Tangan mungilnya bertengger dengan cantik di atas kepala raven sang pemuda Uchiha, dengan sedikit menjambak pelan surai dark blue tersebut. Sungguh pose yang terlihat begitu sensual bagi siapa saja yang melihatnya, bahkan para kru yang melihat perubahan yang begitu drastis dari pasangan Sakura dan Sasuke ini, dibuat terkagum-kagum oleh aksi mereka berdua.
Tanpa menunggu lebih lama lagi, segera saja Nagato mengarahkan bidikan kameranya ke arah pasangan Sasuke dan Sakura tersebut.
Klik!
Sebuah senyum kebanggaan kini terpancar dari wajah sang fotografer pengganti tersebut, tatkala dirinya mengamati kembali hasil bidikannya yang terlihat begitu sempurna pada display kamera miliknya.
Ya, pose pertama mereka disambut dengan tepuk tangan meriah dari para kru dan juga para model yang terlibat di dalamnya.
.
.
.
Beralih ke pose kedua, kini Sasuke mengangkat tubuh Sakura ke atas dengan melingkarkan sempurna kedua tangannya pada pinggang ramping milik Sakura. Sementara Sakura sendiri kini menahan tubuhnya agar tidak terjatuh ke bawah dengan menyanggakan kedua lengan atasnya di atas bahu tegap milik Sasuke, sementara tangan mungilnya menangkup lembut wajah tampan Sasuke.
Secara refleks mereka berdua mendekatkan wajah mereka dan menempelkan kening mereka hingga hidung mereka pun ikut bersentuhan, masing-masing dari mereka pun melemparkan sebuah senyuman kebahagiaan yang terlihat begitu tulus.
Klik!
.
.
.
Pose ketiga, tak banyak perubahan yang dilakukan oleh Sasuke dan Sakura pada pose ketiga ini. Masih dengan posisi mengangkat tubuh mungil Sakura tapi dengan ala bridal style. Kedua tangan Sakura kini beralih untuk memeluk mesra leher tegas sang pemuda Uchiha. Sementara kening dan hidung mereka masih tetap setia menempel dan tak lupa sebuah senyuman yang menjadi prioritas utama untuk menampilkan suatu kesan keromantisan dan kebahagiaan bagi hubungan sepasang kekasih.
Klik!
.
.
.
Pose keempat, Sasuke kini meletakkan kedua tangannya di kedua sisi tubuh Sakura. Sementara Sakura mengalungkan kembali kedua tangannya pada leher kekar Sasuke. Kini Sakura menampilkan sebuah ekspresi malu-malu dengan semburat merah di kedua pipinya sedangkan Sasuke sendiri menampilkan sebuah senyuman menggoda kepada Sakura. Membuat mereka tampak begitu manis dan menggemaskan dengan melakukan pose tersebut.
Klik!
.
.
.
Pose kelima sebagai pose berpelukan terakhir, kini Sakura beralih ke arah belakang Sasuke. Tanpa ragu, sang gadis musim semi itu langsung memeluk Sasuke dari belakang dan tangan mungilnya mulai meraba-raba dengan penuh kelembutan dada bidang milik Sasuke yang tertutupi oleh sebuah kaos berwarna hitam senada dengan atasan yang dikenakan oleh Sakura.
Sakura memejamkan kedua matanya mencoba untuk meresapi setiap sentuhan yang ia lakukan terhadap Sasuke. Sementara Sasuke sendiri kini tengah menengadahkan wajah tampannya ke arah langit dengan sebuah senyuman kepuasan terpatri pada bibir tegasnya, seolah turut menikmati setiap sentuhan yang diberikan oleh sang gadis musim semi itu terhadapnya.
Klik!
"Sempurna!" Satu kata kekaguman terlontar dari mulut tegas sang fotografer tatkala dirinya melihat hasil akhir dari sesi pemotretan pertama ini. Tentu saja kata-kata tersebut membuat sang gadis musim semi tersenyum bahagia dan secara spontan meloncat ke arah Sasuke untuk memeluk sang pemuda Uchiha tersebut.
Sakura tidak menyadari jika kini kaki mungilnya tengah melingkar dengan nyaman pada pinggang kokoh milik Sasuke, membuat sang Uchiha bungsu ini tersenyum geli dengan ekspresi yang diperlihatkan oleh Sakura. Tak ingin gadis yang dicintainya jatuh, Sasuke balas memeluk punggung mungil Sakura.
Ah, gadis musim seminya kini telah benar-benar kembali kepadanya. Gadis yang selalu bersikap ceria dan kekanak-kanakan itu kini telah kembali dalam kehidupannya lagi. Gadis yang terkadang selalu bersikap menyebalkan karena tingkah manjanya itu, benar-benar sangat membuat perasaan rindu Sasuke semakin bertambah dalam untuk segera memiliki sang gadis musim semi itu secara utuh hanya untuk dirinya seorang.
Ya, akan Sasuke pastikan jika perdamaian mereka tidak hanya akan terjadi dalam waktu dua hari ini saja, tetapi perdamaian mereka akan berakhir sampai maut memisahkan mereka kelak.
"Kita berhasil Sasuke-kun! Aku benar-benar bisa melakukannya! Akhirnya kita berdua berhasil melakukan sesi pemotretan pertama ini dengan hasil yang memuaskan!" Ucap Sakura antusias mengeluarkan rasa kegembiraannya yang membuncah, sampai-sampai gadis musim semi itu mengeluarkan tangisan harunya di pelukan Sasuke.
Sasuke terkekeh geli dibuatnya. "Ya, kita berhasil Hime." Ucap Sasuke lembut menanggapi perkataan Sakura.
Klik!
"Ekh?!" Sakura terlonjak kaget karena mendengar suara bidikan lagi yang berasal dari kamera Nagato. Dengan cepat Sakura menolehkan kepalanya ke arah Nagato yang saat ini tengah menampilkan sebuah senyuman manis penuh arti kepada Sakura.
"Maaf Cherry, tapi sayang sekali jika pose kalian yang satu ini tidak ikut untuk diabadikan." Ucap Nagato ringan tanpa beban. Sakura sendiri hanya terdiam untuk memikirkan ucapan Nagato tersebut. Dialihkannya lagi pandangannya kepada Sasuke yang kini tengah tersenyum jahil kepadanya. 'Sebenarnya ada apa dengan mereka berdua? Sikap mereka tampak begitu aneh?!' Tanya Sakura di dalam hatinya.
"Mau sampai kapan kau akan terus bertengger pada tubuhku ini, Hime?" Ucap Sasuke berbisik menggoda kepada Sakura yang sampai saat ini belum juga menyadari keintiman posisi mereka.
Mendengar ucapan Sasuke, segera saja Sakura menyadari bahwa dirinya kini tengah memeluk intim sang pemuda Uchiha. Tanpa berpikir panjang, Sakura segera melepaskan pelukannya terhadap Sasuke dan kembali meloncat ke bawah dengan tergesa-gesa karena merasa canggung dengan sikapnya barusan. Tak ingin berkomentar banyak kepada Sasuke, kini Sakura meninggalkan Sasuke sendirian di sana yang saat ini tengah menampilkan sebuah seringaian seksi yang tentu saja dapat membius para kaum hawa dalam sebuah khayalan indah tak berujung.
.
.
.
Pasangan Naruto dan Hinata pun tidak kalah bagusnya dalam menampilkan pose-pose berpelukan mesra yang biasanya dilakukan oleh pasangan kekasih. Meskipun bukan keahlian mereka untuk bergaya di depan kamera seperti model-model lainnya, namun dengan mengikuti naluri kekasih yang sempat mereka rasakan dulu tentunya tidak akan membuat mereka kesulitan untuk beradegan mesra seperti itu.
Pose pertama, Naruto kini merangkul mesra pundak mungil Hinata, sementara Hinata sendiri kini melingkarkan sempurna kedua tangannya pada tubuh Naruto. Perlahan Naruto mengangkat dagu lancip Hinata dengan jari telunjuknya sambil menunjukkan senyuman menawannya kepada Hinata. Sapphire-nya menatap lembut ke dalam amethyst Hinata yang kini tengah menampilkan ekspresi malu-malunya.
Klik!
.
.
.
Beralih pada pose kedua, Naruto kini memeluk protektif pinggang Hinata dengan sedikit mencondongkan tubuhnya ke arah depan. Sementara Hinata mengalungkan kedua tangannya pada leher tegas Naruto dan mencondongkan tubuhnya ke arah belakang. Naruto menampilkan sebuah senyuman menggoda sedangkan Hinata menampilkan sebuah senyuman canggung, seolah pose ini mengartikan Naruto yang hendak mencium bibir Hinata.
Klik!
.
.
.
Pose ketiga, Hinata kini menyusupkan wajah mungilnya pada leher Naruto yang saat ini tengah merendahkan sedikit tubuhnya agar Hinata tak merasa kesulitan saat harus mencapai lehernya. Sebelah tangannya ia letakkan pada dada bidang sang pemuda yang sempat mengisi relung hatinya. Sementara Naruto kini tengah merengkuh Hinata dalam pelukan mesranya yang terasa begitu hangat.
Klik!
.
.
.
Pose keempat, Naruto dan Hinata kini duduk di atas rerumputan. Posisinya adalah Naruto duduk di belakang sang gadis Hyuuga yang kini tengah menyelonjorkan kakinya ke depan. Kedua tangan kekarnya melingkar erat di atas perut rata Hinata yang terasa hangat. Hinata pun meletakkan kedua tangannya di atas tangan Naruto dan menggenggamnya lembut. Naruto menidurkan kepalanya di atas bahu mungil sang gadis indigo dan dengan refleks menutup kedua mata birunya seolah dirinya tengah merasakan kelelahan. Hinata sendiri mengarahkan wajahnya ke arah wajah Naruto sambil tersenyum geli dengan kedua matanya yang terlihat menyipit.
Klik!
.
.
.
Pose kelima, masih dengan posisi duduk beralaskan rerumputan hijau. Kini Naruto memeluk lembut leher jenjang milik Hinata dengan menyanggakan kepalanya di atas pucuk kepala sang gadis indigo. Hinata sendiri meletakkan sebelah tangannya di atas lipatan tangan Naruto yang memeluk lehernya, sementara tangannya yang lain ia angkat ke atas untuk menggapai pipi sang pemuda dan bertengger dengan anggun di sana. Tak lupa sebuah senyuman kebahagiaan terpatri dengan indah di wajah sempurna mereka.
Klik!
"Wah, tak kusangka jika kalian bisa melakukan sesi pemotretan ini dengan begitu baik. Kalian sungguh terlihat serasi sekali Namikaze-san, Hyuuga-san!" Puji Nagato kepada Naruto dan Hinata.
Naruto hanya tersenyum tipis menanggapi pujian yang diucapkan oleh Nagato. Ia tidak terlalu peduli dengan hasil bidikan yang diperoleh oleh kamera Nagato tersebut. Naruto lebih fokus terhadap perasaannya yang saat ini terasa begitu bahagia karena pada akhirnya ia bisa kembali berdekat-dekatan dengan gadis yang dicintainya tersebut.
Meskipun Naruto tahu bahwa Hinata melakukannya dengan perasaan yang terpaksa, tapi sepertinya Hinata bisa bekerja dengan baik tanpa mempedulikan perasaan benci yang dirasakannya terhadap Naruto.
"Ah, kami tidak sebagus pasangan model yang lainnya, Nagato-san." Ucap Hinata merendah sambil tersenyum simpul, seolah tak ingin merasa berbangga diri atas hasil kerja yang telah dilakukannya.
"Sungguh Hyuuga-san, aku serius mengatakannya! Sepertinya kalian harus bersiap-siap untuk beralih profesi dalam waktu dekat ini." Ucap Nagato sambil terkekeh kecil kepada Hinata dan Naruto.
"Hm, akan kami pertimbangkan dulu atas saran yang Anda berikan itu, Nagato-san." Kini Naruto yang membalas ucapan Nagato, membuat sang putri sulung Hyuuga itu mendelik tajam ke arah Naruto yang saat ini tengah menampilkan sebuah senyuman penuh arti.
"Huh, jangan harap aku mau bersanding kembali denganmu, Naruto-kun! Tidak dan tidak akan pernah lagi terjadi hal seperti ini di kemudian hari!" Ucap Hinata tegas menyanggah perkataan Naruto.
"Tidak masalah, Hinata-chan." Ucap Naruto tanpa beban yang tentu saja membuat Hinata semakin menggeram kesal kepada Naruto.
.
.
.
Sesi pemotretan kedua, kini para model dituntut untuk melakukan pose bermesraan dalam keadaan berbaring di sekitaran padang bunga lavender yang tampak begitu indah. Kali ini para model dituntut untuk melakukan pose berciuman dengan sang kekasih hatinya. Tentu saja ini merupakan hal yang lumrah terjadi pada pasangan kekasih di belahan dunia mana pun juga, bukan?
Kali ini take foto hanya dilakukan sebanyak dua kali untuk masing-masing pasangan model. Seperti sebelumnya pengambilan foto untuk pasangan Ino-Sai, Matsuri-Gaara dan Shion-Sasori berjalan dengan mulus dan lancar tanpa hambatan. Sepertinya mereka benar-benar tidak merasa canggung saat harus berciuman mesra di hadapan banyak kru seperti ini.
Tentu saja hal ini bukanlah suatu masalah bagi mereka karena mereka adalah model-model yang sudah memiliki jam terbang yang tinggi dan juga sudah terbukti keprofesionalannya dalam melakukan sebuah tuntutan pekerjaan.
Sementara Sakura kini tengah merasakan kegugupan yang luar biasa, sedari tadi dirinya tak henti-hentinya meneguk saliva-nya yang terasa begitu banyak membanjiri mulut kecilnya. Pasalnya, ini adalah pertama kalinya Sakura harus menampilkan pose berciuman mesra dengan seorang pemuda di depan kamera. Meskipun memang sudah sering merasakan rasanya berciuman, namun tetap saja akan timbul rasa malu saat harus mempertunjukkannya di depan banyak orang seperti ini.
Sasuke yang menyadari kegugupan yang tengah dirasakan oleh Sakura, perlahan mengulurkan tangannya untuk menggenggam lembut tangan halus itu. Sakura sontak saja mengalihkan pandangannya ke arah Sasuke yang kini tengah tersenyum tipis kepadanya.
"Tenanglah Hime! Anggap saja tidak ada orang lain yang melihat kita di sini pada saat kita melakukan pose berciuman nanti." Ucap Sasuke berusaha menenangkan keresahan yang tengah dirasakan oleh Sakura.
Sakura terdiam sejenak sebelum akhirnya ia mengganggukkan pelan kepalanya menyetujui ucapan Sasuke. "Ya, Sasuke-kun." Tanggap Sakura singkat sambil menampilkan sebuah senyuman manis kepada Sasuke.
.
.
.
Kini Sakura tengah berbaring terlentang di atas rerumputan di sekitar padang lavender, sementara Sasuke kini tengah berbaring tengkurap dengan posisi wajahnya yang berada dekat di atas wajah Sakura. Salah satu tangannya menggenggam dengan penuh kelembutan tangan mungil Sakura yang kini bertengger dengan anggun pada salah satu pipinya.
Detak jantung Sakura rasanya kini semakin berpacu dengan begitu cepat tatkala Sasuke mulai mengeliminasi jarak di antara mereka berdua. Rasanya sudah hampir dua minggu ini, Sakura tidak pernah lagi merasakan kecupan lembut yang berasal dari bibir tegas sang pemuda raven tersebut, bahkan membayangkannya saja pun sama sekali tidak pernah Sakura lakukan karena perasaan benci yang meliputi hati dan pikirannya.
Perlahan Sasuke mulai mendaratkan bibirnya pada bibir tipis milik Sakura yang terasa begitu manis itu. Sedikit membuka mulutnya, Sasuke dengan segera melumat dan menghisap dengan lembut bibir bawah milik Sakura yang terlihat begitu menggoda dirinya sedari tadi. Sakura pun turut membalas ciuman mesra sang pemuda raven tersebut sambil mengalihkan tangannya ke atas kepala Sasuke dan menekan penuh kelembutan agar ciuman mereka semakin bertambah dalam.
Akhirnya setelah penantian yang terasa begitu panjang bagi Sasuke, kini ia bisa merasakan kembali kelembutan, kehangatan dan kenikmatan yang tercipta dari setiap sentuhan bibir tegasnya dengan bibir lembut Sakura. Sepertinya Sasuke akan mencari kesempatan lain agar dapat mencicipi kembali kenikmatan bibir mungil Sakura yang melebihi nikmatnya makanan termahal di dunia ini sekalipun.
Klik!
.
.
.
Beralih ke pose berciuman kedua, masih dengan posisi yang sama dengan pose yang pertama. Hanya saja kali ini Sasuke ikut merebahkan tubuhnya di atas rerumputan. Sakura kini berbaring dengan menghadap ke arah kanan, sementara Sasuke berbaring dengan menghadap ke arah kiri.
Sang onyx kini menatap penuh kelembutan ke dalam emerald indah Sakura yang kini tengah menampilkan bayangan dirinya yang terpantul pada lensa mata sang gadis pujaan hatinya. Senyuman tipis kini menghiasi wajah tampan Sasuke seolah merasakan kebahagiaan tatkala dirinya mengasumsikan bahwa hanya ada keberadaan dirinya saja yang terdapat dalam penglihatan sang gadis musim semi itu.
Kini giliran Sakura yang mengambil alih untuk memulai aksinya mencium Sasuke. Dibelainya lembut pipi tirus milik Sasuke dengan tangan mungilnya, beralih ke rahang tegas Sasuke dan berakhir pada dagu lancip milik Sasuke. Dibawanya perlahan wajah pemuda tampan tersebut untuk mendekat ke arah wajah cantiknya yang saat ini tengah tersenyum manis.
Dengan penuh keberanian akhirnya Sakura mengecup dengan penuh kelembutan bibir atas milik Sasuke. Sasuke sendiri tak hanya ingin dimanjakan oleh sentuhan lembut bibir Sakura saja, kini Sasuke mulai membalas ciuman Sakura untuk mulai memanjakan gadisnya itu dalam suatu ciuman panas yang cukup lama.
Klik!
Lagi-lagi Nagato dan para kru dibuat terkesima oleh aksi yang dibuat oleh kedua pasangan aktor dan model ini.
.
.
.
Kini giliran pasangan Naruto dan Hinata yang akan melakukan pose berciuman mesra seperti yang telah dilakukan oleh para pasangan model yang lainnya. Hinata tampaknya bersikap biasa-biasa saja dalam menghadapi sesi pemotretan kedua ini. Sepertinya Hinata sama sekali tidak merasa gugup untuk berciuman mesra dengan Naruto di depan kamera. Justru Hinata ingin secepatnya mengakhiri kegiatan pemotretan hari ini agar dirinya tidak lagi banyak melakukan kontak fisik bersama putra tunggal Namikaze tersebut.
Naruto kini sudah merebahkan tubuhnya dengan beralaskan rerumputan hijau di bawahnya. Sementara Hinata kini tengah berbaring miring dengan meletakkan kepalanya pada dada bidang milik Naruto. Wajah cantiknya ia hadapkan ke arah wajah tampan pemuda blonde tersebut yang saat ini tengah tersenyum tipis.
"Puas menikmati permainanmu eh, Naruto-kun?" Hinata berucap sinis kepada Naruto yang tampaknya sangat senang karena mereka akan beradegan mesra sebentar lagi.
Naruto hanya terkekeh kecil menanggapi ucapan Hinata. Disingkirkannya lembut poni rambut gadis indigo tersebut yang menutupi wajah putihnya lalu beralih membelai pipi gembil Hinata yang terasa begitu empuk itu. Perlahan tangan Naruto beralih ke bawah menuju pinggang ramping Hinata, yang tentu saja membuat Hinata merasa sedikit risih dengan perlakuan Naruto tersebut.
"Apa kalian sudah bisa memulainya?" Tanya Nagato kepada Naruto dan Hinata, mengenai persiapan mereka.
"Ya, Nagato-san." Jawab Naruto singkat dan dengan segera mempersiapkan dirinya untuk melakukan pose berciuman dengan Hinata.
Kini Naruto mulai meraih kepala sang gadis indigo dan menuntunnya perlahan untuk lebih mendekat ke arah wajah tampan miliknya. Dipejamkannya mata beriris sapphire itu tatkala bibir merah sang gadis pujaan hati telah mendarat sempurna di atas permukaan bibir tegasnya.
Hinata pun turut menutup kedua matanya karena tak ingin melihat wajah Naruto yang tengah mencium mesra dirinya. Sebelah tangannya secara tak sadar kini telah bertengger di pipi tegas sang pemuda.
Selang beberapa detik, Naruto mulai beraksi untuk mulai melumat lembut bibir bawah Hinata yang terasa begitu basah itu. Naruto semakin menekan kepala Hinata untuk lebih memperdalam ciuman mereka, mengecap segala rasa manis yang terdapat pada bibir indah gadisnya itu.
Klik!
.
.
.
Pose kedua, kini mereka berbaring saling berhadap-hadapan dengan kepala Hinata yang tersangga di atas lengan Naruto. Kedua kening mereka saling bersentuhan, begitu pun dengan kedua ujung hidung mancung mereka yang saling bersinggungan. Keduanya saling melemparkan senyuman yang tentu saja salah satunya hanyalah sebuah senyum kepalsuan yang ditampilkan oleh Hinata.
Perlahan kini Hinata mulai mengeliminasi jarak yang tercipta di antara dirinya dan juga Naruto. Bibirnya dengan mulus mendarat di atas permukaan bibir sang pemuda Namikaze. Dilumatnya dengan sedikit enggan bibir bawah Naruto, namun dengan segera Naruto mengambil alih untuk memimpin ciuman tersebut dan melumat dengan panas bibir sang gadis Hyuuga yang begitu dirindukannya itu. Naruto sama sekali tak ingin menyia-nyiakan kesempatan untuk bisa berdekat-dekatan dengan gadis yang dicintainya ini.
Klik!
"Hm, kerja sama yang bagus Namikaze-san, Hyuuga-san! Meskipun kalian bukanlah seorang model. Tapi kalian tetap bisa melakukan pose-pose ini dengan begitu sempurna dan tak kalah hebatnya dengan para pasangan model lainnya." Ucap Nagato kembali memuji kepiawaian Naruto dan Hinata dalam melakukan pose berciuman tersebut.
Naruto dan Hinata yang mendengar pujian yang dilayangkan oleh Nagato hanya bisa menampilkan sebuah senyuman simpul untuk menanggapi ucapan sang fotografer.
.
.
.
Sesi pemotretan ketiga ini dilakukan untuk mengambil take foto semua pasangan secara bersamaan. Semua pasangan diberikan sebuah syal panjang dengan warna yang berbeda-beda. Ada warna kuning, merah, putih, ungu dan biru. Pasangan Ino-Sai mengambil syal berwarna kuning, pasangan Matsuri-Gaara mengambil syal berwarna merah, pasangan Shion-Sasori mengambil syal berwarna putih, pasangan Sakura-Sasuke mengambil syal berwarna biru dan pasangan Hinata-Naruto mengambil syal berwarna ungu.
Kini mereka berdiri berjajar secara horizontal dari samping kiri ke samping kanan secara berurutan mulai dari pasangan Ino-Sai, Matsuri-Gaara, Shion-Sasori, Sakura-Sasuke dan terakhir pasangan Hinata-Naruto.
Ino dan Sai berpose dengan saling menarik ujung syal mereka, di mana posisi Ino kini membelakangi Sai. Sai menampilkan sebuah seringaian menggoda kepada Ino, sementara Ino kini menolehkan wajahnya sedikit ke arah belakang dan tersenyum ceria kepada Sai.
.
.
Gaara menggunakan syal miliknya untuk menyangga tubuh Matsuri yang kini posisinya lebih condong ke belakang menjauhi tubuh Gaara. Namun kedua tangan Matsuri masih bisa meraih leher tegas sang pemuda Sabaku. Matsuri kini memejamkan matanya dan menengadahkan wajahnya ke atas sambil tersenyum senang sementara Gaara hanya menampilkan sebuah senyuman tipis yang tampak begitu menawan.
.
.
Shion kini tengah berdiri menghadap ke arah Sasori sambil menampilkan senyuman cantiknya dengan memegang salah satu ujung syal miliknya. Sementara Sasori kini tengah berjongkok dengan menggunakan sebelah kakinya, sambil memegang ujung lain dari syal yang dipegang oleh Shion. Senyuman tipis nan menawan kini terpatri pada baby face-nya yang tampak begitu imut tersebut.
.
.
Sakura melingkarkan syal tersebut pada lehernya dan juga leher Sasuke. Mereka menempelkan kedua kening mereka seintim mungkin dengan pandangan mata yang saling menatap penuh kebahagiaan. Keduanya melemparkan sebuah senyuman polos yang terlihat begitu manis. Jari-jari mereka pun saling bertautan erat untuk memberikan kehangatan pada masing-masing pasangannya tersebut.
.
.
Naruto berpose dengan memasukkan sebelah tangannya ke dalam saku celananya sementara tangannya yang lain memegang ujung syal miliknya. Hinata sendiri memegang ujung lain dari syal yang tengah dipegang oleh Naruto. Kini Naruto menampilkan sebuah seringaian tipis ke arah Hinata, sementara Hinata sendiri membalas seringaian Naruto dengan wajah angkuh yang tampak begitu mempesona, sebelah tangannya kini bersangga pada pinggang ramping miliknya.
Klik! Klik!
Dengan demikian berakhirlah kegiatan pemotretan hari pertama di Hokkaido ini. Semua kru dan juga para model saling bertepuk tangan meriah dengan menampilkan sebuah senyuman kebahagiaan karena pemotretan hari ini cukup berjalan dengan lancar.
.
.
.
Kini sang raja malam telah kembali menguasai langit yang sedari tampak begitu terang karena sinar yang terpancar oleh sang raja siang. Meskipun tak sekuat sinar yang terpancar dari sang matahari, namun sinar redup yang diberikan oleh sang rembulan saat ini menambah suasana keindahan dan keromantisan tersendiri bagi kedua pasangan yang baru saja berdamai ini.
Sasuke dan Sakura kini tengah menikmati makan malam romantis pada salah satu kafe di Biei Street yang tampak begitu menawan dan elegan, merupakan pilihan tempat yang tepat bagi mereka untuk merasakan suasana keindahan sejati kota Biei yang tak pernah ada habisnya itu. Letak kafe ini tidak terlalu jauh dengan villa milik keluarga Uchiha, sehingga Sasuke dan Sakura datang ke sini dengan berjalan kaki tentunya.
Sasuke memang sengaja mengajak Sakura untuk berjalan-jalan menikmati keindahan malam kota Biei yang tampak begitu menakjubkan itu, setelah seharian ini mereka merasakan kelelahan karena kegiatan pemotretan yang cukup menguras tenaga mereka.
Lagipula ini merupakan moment yang sangat tepat untuk merekatkan kembali hubungan mereka yang sebelumnya retak. Tentu saja kesempatan bagus ini tidak boleh di sia-sia kan dengan begitu saja, bukan?
"Malam ini kau sungguh terlihat sangat cantik, Hime." Ucap Sasuke memuji penampilan Sakura yang saat ini tengah mengenakan sebuah gaun putih selutut tanpa bahu dengan aksen bunga-bunga kecil menghiasi bagian dadanya.
Wajahnya dipoles tipis dengan menggunakan warna-warna yang terkesan natural serasi dengan wajah cantiknya, sementara surai merah mudanya kini dikepang ala side swept braids yang dengan begitu jelas memperlihatkan leher putih mulus milik Sakura yang tampak menggoda penglihatan sang Uchiha bungsu tersebut.
Rasanya jika Sasuke disuruh untuk memilih di antara menikmati steak yang menjadi menu makan malamnya hari ini atau menikmati kemulusan leher putih sang gadis musim semi itu, sepertinya Sasuke lebih memilih pilihan kedua sebagai jawabannya.
Ah, sepertinya malam ini Sasuke akan memaksa gadisnya itu untuk bermalam di kamarnya saja, agar dirinya bisa lebih leluasa untuk menikmati kebersamaan yang terbilang singkat ini. Tentu saja esok adalah hari terakhir bagi mereka untuk berdamai, sesuai dengan kesepakatan yang telah mereka lakukan tadi pagi.
"Kau sedang berusaha untuk menggodaku eh, Sasuke-kun?" Tanya Sakura menanggapi perkataan Sasuke sambil menyeringai jahil namun justru terlihat seksi itu.
"Cherry, kau belum menjawab pertanyaanku tadi pagi!" Ucap Sasuke tak menghiraukan pertanyaan Sakura sebelumnya, saat dirinya mengingat bahwa Sakura memang belum memberi keputusan terhadap penawarannya tadi pagi. Kali ini Sasuke menampilkan sebuah ekspresi keseriusan kepada Sakura.
Sakura mengerti jika Sasuke saat ini ingin berbicara serius kepadanya. Diletakkannya garpu dan juga pisau yang sedari tadi dipegangnya ke atas meja. Emerald-nya menatap lurus penuh keseriusan ke dalam onyx milik Sasuke.
"Maaf, tapi aku tak bisa menjanjikan mengenai hal tersebut saat ini, Sasuke-kun. Butuh beberapa waktu lagi bagiku untuk bisa menerimamu kembali dalam kehidupanku. Ak-..." Ucapan Sakura terpotong oleh perkataan Sasuke.
"Apa kau tidak mencintaiku lagi, Cherry?" Tanya Sasuke sendu sekaligus merasa khawatir jika gadisnya itu tidak lagi mempunyai perasaan kepadanya.
Sakura hanya terdiam tanpa menjawab pertanyaan Sasuke. Pandangannya ia alihkan ke arah luar melalui kaca jendela yang berada di sampingnya. Iris hijau beningnya menatap ke arah lampu-lampu jalanan yang berpendar dengan begitu indah menerangi jalanan utama kota Biei yang tampak gelap saat ini.
'Kau salah Sasuke-kun! Sampai saat ini pun aku masih sangat mencintaimu. Hanya saja aku tidak ingin bertindak gegabah untuk mengambil keputusan dengan terburu-buru menjalin hubungan kembali denganmu, karena aku masih memiliki sedikit keraguan terhadap perasaanmu itu meskipun sepertinya sikapmu memang telah banyak berubah.' Batin Sakura menjawab pertanyaan Sasuke.
"Biarkan seperti ini dulu saja, Sasuke-kun! Aku harap kau tidak terlalu berharap banyak kepadaku, kita nikmati saja waktu dua hari ini dengan perasaan bebas dan tanpa beban. Aku harap kau bisa mengerti tentang hal ini, Sasuke-kun." Ucap Sakura pelan namun masih bisa terdengar jelas oleh telinga Sasuke.
Perlahan Sakura kembali mengarahkan wajahnya kepada Sasuke, sebuah senyuman manis dilayangkan Sakura kepada Sasuke seolah ingin mengganti perasaan kecewa Sasuke yang saat ini pasti tengah menyelimuti hati sang Uchiha bungsu tersebut.
"Ya, aku mengerti Cherry. Kalau begitu ijinkan aku untuk terus berada di sisimu selama dua hari ini." Pinta Sasuke lembut kepada Sakura. Sakura sendiri hanya menganggukkan kepalanya pelan sebagai jawaban atas pertanyaan Sasuke.
Kini mereka kembali melakukan aktivitas makan malam mereka yang sedikit tertunda oleh percakapan singkat mereka barusan. Saat ini mereka saling bercengkrama dan berkomunikasi tanpa adanya rasa amarah di dalamnya. Sungguh benar-benar berbeda dari suasana keruh yang terjadi selama seminggu belakangan ini.
.
.
.
Hembusan angin malam kini terasa begitu hangat membelai lembut permukaan kulit sang pemuda Namikaze yang saat ini tengah duduk berselonjor pada lantai balkon kamarnya. Bukannya tidak ada kursi yang bisa ia duduki di sana, hanya saja Naruto merasa lebih nyaman untuk duduk di lantai seperti saat ini. Lagipula melihat langit malam dengan posisi seperti ini lebih memberikan ketenangan tersendiri bagi sang pemuda blonde tersebut.
Kini pikirannya kembali kepada moment-moment kebersamaan yang terjadi di antara dirinya dengan Hinata seharian ini. Rasanya sangat menyenangkan tatkala dirinya bisa merasakan kembali sentuhan tubuh dan juga bibir manis sang gadis Hyuuga yang terasa begitu candu baginya.
Memang sedari tadi Naruto tampak menikmati permainan yang dibuat oleh Itachi ini. Meskipun Naruto selalu menampilkan sebuah senyuman saat menghadapi Hinata seharian ini tapi tidak dengan hatinya yang selalu merasa sakit saat Hinata terkesan bersikap menolak dirinya. Senyuman memang selalu bisa menutupi perasaan yang sebenarnya dari seseorang, bukan?
Rasanya miris sekali karena dirinya tak bisa kembali mendapatkan hati sang gadis indigo tersebut. Memberikan penjelasan seperti apapun sepertinya Hinata tak akan pernah lagi mau untuk mendengarnya. Apa ini artinya Naruto memang harus benar-benar melupakan perasaan cintanya terhadap Hinata? Apakah saat ini Naruto harus menyerah untuk berusaha mengalihkan kembali perhatian Hinata kepadanya?
Ya, mungkin memang sejak awal seharusnya Naruto menyerah saja untuk mendapatkan kembali hati Hinata. Sungguh Naruto merasa tidak tega jika harus terus menerus menganggu kehidupan Hinata dan memaksakan perasaannya kembali terhadapnya.
Jika memang hal ini bisa membuat Hinata kembali bersikap seperti dulu kepadanya saat mereka masih bersahabat, maka Naruto akan dengan senang hati untuk melepaskan perasaannya terhadap Hinata meskipun sebenarnya terasa begitu berat bagi Naruto untuk melakukannya.
Srrreekkk
Naruto mengalihkan pandangannya ke arah balkon sebrang yang merupakan balkon kamar Hinata tatkala dirinya mendengar suara pintu yang digeser. Dilihatnya kini Hinata tengah berjalan ke arah ujung balkon dan pandangan matanya menatap lurus ke arah deretan gunung yang tampak begitu gelap pada malam hari ini. Hinata sama sekali tidak menyadari keberadaan Naruto yang kini tengah menatap lemah punggung mungilnya di balkon sebrangnya itu.
Hinata memejamkan kedua matanya dan menengadahkan wajahnya ke atas. Perlahan Hinata menghela napasnya dalam sebelum akhirnya ia hembuskan lagi keluar seolah gadis Hyuuga itu tengah melepaskan suatu beban berat yang kini tengah dirasakannya.
"Sudah kuputuskan, Hinata-chan!" Ucap Naruto tiba-tiba dengan nada yang lirih kepada Hinata, yang tentu saja membuat Hinata terlonjak kaget karena perkataan Naruto tersebut. 'Sejak kapan Naruto-kun ada di sana?' Batin Hinata bertanya penasaran.
Namun sebisa mungkin Hinata berusaha untuk menyembunyikan ekspresi keterkejutannya itu. Kini Hinata hanya diam tak menanggapi perkataan Naruto. Ia lebih memilih untuk mendengarkan saja kata-kata yang akan dilontarkan oleh pemuda blonde tersebut kepadanya.
"Aku...sudah memutuskan untuk melepaskan saja perasaanku ini terhadapmu, Hinata-chan." Ucap Naruto mengungkapkan keputusannya untuk menyerah mendapatkan hati Hinata kembali.
Deg
Suatu perasaan sesak kini tiba-tiba saja merambati hati sang gadis Hyuuga tersebut. Tubuh Hinata pun kini tampak tak bergeming dari tempatnya tatkala kata-kata yang terdengar menyakitkan itu keluar dari mulut Naruto.
"Rasanya aku sudah lelah untuk selalu bermusuhan seperti ini terus denganmu, Hinata-chan. Aku tak ingin lagi memaksakan perasaanku terhadapmu seperti ini. Jika memang kita tak bisa bersatu lagi sebagai sepasang kekasih, tak bisakah kita kembali bersahabat seperti dulu lagi saja, Hinata-chan? Setidaknya aku rasa, kau tidak akan lagi menatap penuh kebencian terhadapku." Tanya Naruto sedikit ragu bahwa dirinya akan berani untuk mengambil keputusan seperti ini.
Tes tes tes
Cairan bening itu tak terasa kini sudah membanjiri kedua pipi sang gadis indigo tersebut.
'Kenapa aku menangis? Seharusnya aku merasa senang karena Naruto-kun tidak akan lagi menganggu kehidupanku? Tapi, kenapa saat ini rasanya aku tak rela jika Naruto-kun melepas begitu saja perasaannya terhadapku? Bukankah aku membencinya karena ia telah membohongi perasaanku selama ini? Tapi, kenapa perasaan sesak ini tiba-tiba saja muncul di dalam dadaku?' Ucap Hinata bertanya-tanya di dalam hatinya.
"Bukankah hal ini yang memang kau inginkan saat ini, Hinata-chan?" Tanya Naruto lagi kepada Hinata yang sedari tadi hanya diam tak menjawab pertanyaannya. Tapi meskipun begitu, Naruto tetap melanjutkan ucapannya.
"Aku berjanji setelah pulang dari Hokkaido ini, aku tak akan pernah mengusik kehidupanmu lagi. Aku akan benar-benar membuang semua perasaan cinta yang aku miliki saat ini kepadamu, Hinata-chan. Jadi, aku harap kita bisa kembali bersahabat seperti dulu lagi." Naruto kini mulai beranjak berdiri untuk pergi meninggalkan Hinata sendirian, tanpa ingin mengetahui bagaimana jawaban sang putri Hyuuga tersebut terhadap perkataannya.
"Selamat malam, Hinata-chan." Ucap Naruto pelan sebelum benar-benar pergi meninggalkan Hinata. Setetes air mata kini menyelinap keluar dari iris biru Naruto seolah melepaskan rasa sakit yang sedari tadi dirasakannya.
Sementara di sisi lain tubuh Hinata tampak bergetar untuk menahan agar isakan tangisnya tidak keluar. Kedua tangan mungilnya menggenggam erat pagar pembatas balkon kamarnya berusaha untuk menyalurkan rasa sakit hatinya di sana.
Hiks hiks hiks
"Aku pasti bisa tanpanya! Ya, aku pasti bisa tanpa ada Naruto-kun disisiku lagi! Kau kuat Hinata, kau adalah gadis yang kuat! Kau tidak boleh menangis seperti ini! Tidak, tidak boleh!" Ucap Hinata lemah sambil tersedu-sedu, kini tubuhnya mulai merosot ke bawah melepaskan genggaman tangannya pada pagar pembatas balkon.
Hiks hiks hiks
"Kenapa, kenapa aku tak bisa melepaskan perasaan benciku ini kepada Naruto-kun? Kenapa aku malah membiarkannya pergi begitu saja seperti ini? Kenapa aku tak bisa mencegahnya untuk pergi meninggalkanku? Aku masih membutuhkannya di sini! Aku benar-benar membutuhkannya di sisiku." Ucap Hinata mengeluarkan segala perasaan bimbangnya yang saat ini tengah dirasakannya. Tak henti-hentinya Hinata mengeluarkan isakan tangis kesakitannya.
.
.
.
"Sepertinya semua orang sudah tertidur, Sasuke-kun. Rasanya kita pulang terlalu larut malam ini." Ucap Sakura saat tiba di villa dan mendapati tidak ada seorang pun yang masih membuka matanya di sana. Sepertinya semua orang tengah merasakan kelelahan setelah seharian ini bekerja dengan keras.
"Hn." Gumam Sasuke singkat menanggapi ucapan Sakura, kini Sasuke lebih fokus untuk segera tiba di kamarnya dan mengistirahatkan dirinya bersama dengan sang gadis bubble gum tersebut.
Tangan kekarnya menggenggam erat tangan mungil Sakura dan menuntun langkah kaki sang gadis untuk mengikuti dirinya menuju ke kamar mereka yang terletak di lantai tiga, tentu saja kamar mereka terpisah atau lebih tepatnya bersebrangan satu sama lain. Dalam waktu beberapa menit, akhirnya mereka pun sampai di depan pintu kamar mereka masing-masing.
"Kalau begitu sampai bertemu lagi besok, Sasuke-kun." Ucap Sakura mengucapkan salam perpisahan kepada Sasuke. Sebelah tangannya berusaha untuk melepaskan genggaman tangan Sasuke pada tangannya yang lain.
Tapi bukannya membiarkan Sakura pergi, Sasuke malah semakin menguatkan genggaman tangannya kepada Sakura yang tentu saja membuat Sakura merasa heran dengan sikap Sasuke tersebut.
"Bukankah tadi aku sudah meminta ijin kepadamu untuk selalu berada di sisimu selama dua hari ini? Apa kau sudah lupa, Hime?" Tanya Sasuke sambil tersenyum tipis, menjawab rasa penasaran Sakura.
"Ekh?! Ta-Tapi jika harus bermalam berdua denganmu seperti ini tentu saja aku ti-..."
Tak ingin mendengar lebih banyak penjelasan dari mulut gadisnya itu, Sasuke segera menarik tangan Sakura untuk masuk ke dalam kamarnya yang sebelumnya telah dibuka pintunya oleh Sasuke. Sakura berusaha meronta kepada Sasuke, namun sepertinya Sasuke tak berniat untuk melepaskan dirinya begitu saja.
"Sasuke-kun, lepaskan!" Pinta Sakura secara halus kepada Sasuke.
"Tidak, Cherry! Lagipula kau sendiri yang sudah mengijinkanku untuk selalu berada di dekatmu selama dua hari ini. Tenang saja, aku tidak akan berbuat hal yang macam-macam terhadapmu malam ini. Aku hanya ingin bisa tidur di sampingmu saja saat ini. Ku mohon kau tidak menolaknya, Cherry." Terang Sasuke menjelaskan maksud dari tindakannya tersebut.
Mendengar permohonan Sasuke yang terdengar sedikit egois itu, mau tak mau membuat sang gadis musim semi itu mengalah. Biarlah waktu selama dua hari ini mereka manfaatkan untuk mengukir kenangan indah bersama-sama. Keputusan apakah Sakura akan menerima kembali Sasuke atau tidak akan ia lakukan pada esok hari jika dirinya sudah benar-benar merasa yakin dengan perasaan Sasuke yang sebenarnya kepadanya.
Kini mereka telah tiba di samping ranjang king size milik Sasuke. Tanpa banyak bicara Sasuke mendudukkan perlahan sang gadis musim semi itu pada ranjang empuknya. Sasuke pun berjongkok untuk melepaskan sepatu high heels yang kini tengah melekat di kaki indah Sakura. Tak lupa Sasuke juga turut melepaskan sepatu yang saat ini tengah dikenakannya.
Sakura sendiri menatap penuh kegelian terhadap sikap romantis yang dilakukan oleh Sasuke saat ini. Hei, selama mereka menjalin hubungan kekasih dulu, Sasuke sama sekali tidak pernah bisa bersikap seromantis ini kepadanya, bukan?
Perlahan Sasuke beranjak berdiri untuk melepaskan jas hitam yang masih melekat di tubuh atletisnya dan meletakkannya pada meja kecil yang terletak di samping ranjang. Sasuke membuka kedua kancing teratas kemejanya berusaha untuk melepaskan rasa gerah yang dirasakannya saat ini.
Alih-alih mengganti pakaian dan membersihkan tubuh mereka sebelum tidur, Sasuke malah langsung menarik tubuh Sakura untuk berbaring di atas ranjang miliknya. Sakura sendiri sedikit merasa terkejut dengan tindakan Sasuke ini.
Namun, sebelum Sakura sempat melontarkan sebuah pertanyaan kepada Sasuke, sang Uchiha bungsu itu telah terlebih dahulu membungkam mulut mungil sang gadis musim semi dengan mulutnya dan memeluk erat tubuh Sakura agar gadis itu tak memberikan perlawanan terhadap aksinya ini.
Dikecupnya penuh kelembutan bibir yang menjadi candu baginya itu, perlahan ia lumat bibir bawah Sakura dan sedikit menghisapnya kuat. Membuat Sakura sedikit berjengit dengan serangan Sasuke tersebut. Kesempatan ini tak disia-siakan oleh Sasuke untuk segera melesakkan lidahnya ke dalam mulut hangat sang gadis bubble gum.
Lidahnya bergerak liar di dalam rongga mulut Sakura berusaha mencari keberadaan lidah pasangannya untuk ikut bermain bersama dalam permainan mereka yang sedikit terasa panas ini. Memejamkan kedua mata hitamnya, kini Sasuke lebih mempercayakan indera pengecapnya saja yang bekerja untuk menikmati setiap sentuhan yang tercipta di antara lidahnya dengan lidah sang gadis musim semi.
Sakura benar-benar tak diberi kesempatan oleh Sasuke untuk melakukan perlawanan ataupun menolak perlakuan Sasuke kepadanya ini karena Sasuke benar-benat mengekang tubuhnya dalam kungkungan kedua tangan kekarnya yang begitu erat. Akhirnya mau tak mau Sakura pun mengalah untuk mengikuti permainan Sasuke yang mencumbunya, membiarkan sang pemuda raven itu untuk menguasai dengan penuh kelembutan bibir manisnya. Ia pun turut memejamkan kedua emerald indahnya untuk lebih merasakan setiap sensasi rasa hangat yang diberikan oleh bibir tegas Sasuke.
Lumatan demi lumatan diberikan oleh bibir Sasuke untuk menikmati setiap inci rasa manis yang tercipta dari bibir Sakura. Menghisapnya dengan penuh perasaan dan kelembutan, seolah rasa bibir itu tak pernah ada habisnya untuk ia cicipi saat ini.
Sasuke semakin memperdalam pagutan bibirnya kepada Sakura, ia begitu menikmati rasa asin yang tercipta dari pencampuran antara saliva dirinya dan juga saliva sang gadis musim semi tersebut.
Beberapa menit berlalu dalam suasana yang terasa cukup panas tersebut, kini Sakura tak lagi merasakan pergerakan lembut dari bibir sang Uchiha bungsu. Dibukanya perlahan kedua mata indahnya untuk sekedar memastikan keadaan sang pemuda Uchiha saat ini.
Sebuah senyum tipis kini menghiasi wajah cantik yang tampak sedikit berkeringat itu tatkala dirinya mendapati Sasuke sudah terlelap dalam tidurnya. Tak ingin terus menerus berada pada posisi bibir mereka yang masih saling berpagutan, Sakura kini perlahan menjauhkan wajahnya untuk melepas sentuhan bibirnya dari bibir Sasuke, tapi hal itu tentu saja tidak terjadi tatkala ada sebuah tangan kekar yang menekan kembali kepala merah muda milik Sakura dari belakang agar bibirnya tetap menempel pada bibir sang pemuda.
"Tolong biarkan seperti ini saja, Cherry." Ucap Sasuke pelan di atas bibir Sakura yang tentu saja memberikan suatu rasa geli tersendiri bagi Sakura.
Tak ingin banyak berkomentar, Sakura pun membiarkan saja posisi mereka yang seperti ini untuk malam ini. Rasanya tubuhnya terasa begitu lelah dan matanya pun terasa begitu berat. Segera saja Sakura menutup kedua matanya untuk melanjutkan aktivitasnya hari ini di dalam dunia mimpi.
Sepertinya kini Sakura sudah merasa yakin untuk menerima kembali Sasuke di sisinya. Ya, Sakura sudah terlalu lelah untuk terus menerus membohongi hati dan pikirannya yang sampai saat ini masih terpusat pada Sasuke. Lagipula ia juga tak ingin terus menerus menaruh perasaan benci terhadap sang pemuda Uchiha tersebut. Kali ini, biarlah mereka memulai kembali segalanya dari awal dengan sebuah kejujuran dan keterbukaan terhadap perasaan mereka masing-masing.
-TBC-
Balasan Review
awas flamer: Maaf sebelumnya jika review Anda saya hapus. Tapi, saya benar-benar tidak suka dengan kata-kata yang Anda tuliskan. Anda boleh saja mengatakan fic saya ini sampah, tapi saya minta dengan sangat kepada Anda agar Anda jangan menghina kembali chara favorite saya dengan kata-kata sampah seperti itu. Jika memang Anda benci, tolong cukup diam saja dan jangan melakukan atau berkata kasar seperti itu! Tolong sekali lagi, jagalah ucapan yang keluar dari mulut Anda tersebut! Terima kasih dan sekian.
Gilang363: Um, ano paman...saya agak plin-plan nih... saya kurang tahu sampai chapter berapa fic ini, tapi endingnya sudah ada dipikiran saya kok. Cerita ini memang sudah akan menuju ke part akhir. Semoga paman Gilang gak bosan untuk menunggu dan membaca fic saya ini ya...Arigatou sebelumnya...^_^
Anka-chan: Gaara memang penasaran banget sama Cherry...hehehe...Action Sasuke? Um, kira-kira di chapter ini udha berhasil belum Senpai Action Sasuke-nya? ^_^ Makasih udha R&R ya...
cherry: Aa...Senpai gak perlu minta maaf kok, malahan saya yang buat chapter kemarin aja memang gak bersemangat dan memang kurang sreg dengan alurnya. Ya, semoga Senpai suka dengan chapter ini...Makasih udha R&R...^_^
Sasa Cherry: Um, meskipun saya baru mengenal Sasa-chan dan belum pernah bertemu secara langsung, tapi Sasa-chan benar-benar teman yang sangat baik bagi saya #big hug#...Sasa-chan benar-benar orang yang semangat dan menarik, saya suka dengan kepribadian Sasa-chan yang seperti itu...^_^...Terima kasih karena Sasa-chan selama ini mau menerima segala kekurangan saya dalam membuat fic ini. Jujur saja, saya ini merupakan sosok orang yang begitu pemalu, pendiam dan penyendiri. Saya benar-benar iri dengan kepribadian Sasa-chan yang begitu welcome dan hangat seperti itu. Ah, maaf saya malah jadi curhat...hehehe...oke masalah lemon nanti akan saya buatkan...hihi...Makasih banyak Sasa-chan atas dukungan moralnya selama ini...#muach#...
Sasra Uchiha: Sepertinya ide yang bagus...hehehe...Akan saya usahakan...^_^ Arigatou.
marukocan: Hehe...saya sudah memutuskan untuk membuat lemon, tapi entah di chapter berapa...^_^ Tapi, kalau jelek jangan diketawain yah...Makasih udha R&R.
Eysha CherryBlossom: Hehehe...bukan bahasa asing Senpai. Saya kira ekspresi mendecih menggunakan kata 'ich' itu...#garuk-garuk kepala#...um, mulai nanti saya akan menggunakan kata 'tch' itu untuk mengekspresikan seorang chara berdecih...Arigatou atas koreksinya Senpai...^_^
Yaminaruto: Yuuppzz ini udha lanjut Senpai, Arigatou...^_^
Moe: Um, maaf ya karena malah membuat Moe-san lelah membaca fic ini...^_^ Itu hanya sebuah selingan kok, chapter ini SasuSaku dan NaruHina-nya udha mulai mendominasi lagi. Makasih udha R&R...
wedusgembel41: Oke, oke, oke, oke, oke, oke...ini udha lanjut Senpai...hehehe...Makasih banyak ya...^_^
chicha: Hehehe...gomen karena chapter kemarin SasuSaku sama NaruHina-nya sedikit. Adegan GaaMatsu itu karena hutang saya kepada salah satu reviewer yang dulu mengatakan kalau GaaMatsu-nya kurang romantis, jadi saya buat di chapter kemarin...hehehe...Tapi, udha kok cuma segitu aja...selebihnya tetap fokus ke SasuSaku sama NaruHina...Makasih banyak ya ^_^
irawan fajar: Panggil saya Hikaru saja ya...^_^ Iya makasih udha R&R...semoga chapter ini suka.
hanazono yuri: Ini udha lanjut kok Senpai...makasih udha R&R ya ^_^
Eagle onyx: Hihi...Ah, iya gomen Senpai. Chapter ini SasuSaku-nya banyak kok...semoga suka ya...^_^ Arigatou.
Damn: Um...Gomen, ini fic SasuSaku dan NaruHina kok...Jadi kedua-duanya dominan dalam cerita fic ini...tapi sepertinya chapter kemarin porsi SasuSaku-nya memang kurang ya...maaf ya, tapi di chapter ini udha banyak kok SasuSaku-nya...^_^
Bunshin Anugrah ET: Makasih ya udha berkenan membaca fic ini...^_^ Ini udha lanjut kok, semoga tidak mengecewakan ya...
CherrySand1: Aa maaf lama update Senpai...hehe...di chapter ini mereka banyak beradegan romantis lho...^_^ semoga suka...Arigatou.
Kyouka Hime: Ini udha lanjut kok Senpai...makasih yah udha R&R...Semoga suka dengan chapter ini...^_^
Maaf jika chapter kali ini mengecewakan, saya benar-benar bingung untuk menentukan alur chapter ini...^_^ Pasti alurnya benar-benar berantakan sekali dan ceritanya makin gak jelas...
Sepertinya fic ini dalam 3 sampai 4 chapter ke depan akan segera berakhir...dan untuk lemon akan saya buat di chapter depan...^_^
Terima kasih kepada para readers, reviewers, followers, favoriters, dan silent readers yang sudah berkenan untuk membaca fic ini. Terima kasih atas semua dukungan dan semangat yang telah kalian berikan kepada saya...^_^
Salam hangat untuk kalian semua...^_^ Semoga kalian suka dengan chapter ini ya...^_^
