Saya masih newbie disini, setelah sekian lama menjadi silent reader akhirnya saya mencoba untuk membuat sebuah fanfic.

Ini fanfic pertama saya, ceritanya agak pasaran juga ^_^, dan maaf kalau ada kesalahan penulisan dan lain-lain.

Semoga kalian suka...

Disclaimer : Masashi Kishimoto dengan semua chara-chara dalam anime Naruto

WARNING : OOC, typo, cerita gaje, alur kecepatan, Lemon dll.

Summary: 'Sasuke sedang cemburu Kaa-san. Kalian sama sekali tidak menyadari jika pusat pembicaraan Sakura sedari tadi adalah pemuda Sabaku itu?/Kenapa kau tidak mengatakan kepadaku sebelumnya jika pemuda panda itu adalah mantan kekasihmu, Hn?/Apa ... yang harus aku lakukan untuk menebus semua kesalahanku ini, Hinata?/Warning: Lemon Inside.'

Author by : Hikaru Sora 14

Sebelumnya saya ucapkan terima kasih kepada kalian semua yang telah membaca serta me-review, mem-follow dan mem-fav kan fic ini ^_^ Tanpa kalian fic ini tidak akan berarti apa-apa

Please Enjoy Reading

Don't Like Don't Read


Suasana di kediaman Uchiha pada malam hari ini tampak begitu membahagiakan. Suara tawa canda yang bergema di setiap sudut ruang keluarga kediaman Uchiha itu seolah menegaskan bahwa kini para penghuni kediaman Uchiha tersebut tengah terhanyut dalam sebuah perasaan suka cita yang teramat luar biasa.

Terlebih lagi kini sang Uchiha bungsu pun telah berhasil mendapatkan kembali kepercayaan dan hati sang gadis-ah, atau mungkin lebih tepatnya wanita-musim semi yang dicintainya. Bahagia? Tentu saja Sasuke merasa sangat bahagia dengan keberadaan Sakura yang kini akan senantiasa mendampingi dirinya setiap hari di kediaman Uchiha.

Kenapa setiap hari? Karena keegoisan sang Uchiha bungsu yang telah memutuskan secara sepihak bahwa Sakura akan tinggal selamanya di kediaman Uchiha terhitung mulai hari ini.

Awalnya Sakura merasa keberatan dengan keputusan Sasuke tersebut karena dirinya merasa tidak enak terhadap keluarga Yamanaka yang selama ini telah berbaik hati untuk membiarkannya menetap bersama putri bungsu mereka, Ino Yamanaka.

Namun, setelah Sasuke memberikan pengertian kepada Sakura bahwa dirinya telah memberikan penjelasan dan meminta izin kepada Ino, akhirnya wanita cantik itu menyetujui untuk tinggal menetap di kediaman Uchiha. Kemungkinan esok hari, Sakura akan kembali ke kediaman Yamanaka untuk mengambil barang-barang miliknya yang masih berada di sana.

Mengingat hal itu tentu saja membuat hati dan perasaan sang Uchiha bungsu tersebut semakin melambung tinggi.

Bagaimana tidak jika setiap harinya nanti, sang pemuda raven tersebut akan mempunyai lebih banyak waktu untuk kembali bermesraan dengan wanita yang dicintainya itu. Sepertinya sang Uchiha bungsu ini memang pandai sekali untuk memanfaatkan setiap kesempatan yang ada, eh?

Bahkan saat ini pun terlintas dalam pikiran sang pemuda raven tersebut untuk segera meresmikan hubungan tali kasih di antara dirinya dan juga Sakura dalam sebuah ikatan suci pernikahan. Mungkin secepatnya Sasuke harus segera mempersiapkan sebuah kejutan terindah dan teristimewa bagi wanita yang teramat sangat berharga di dalam hidupnya itu.

Rasanya waktu satu bulan ke depan cukup baginya untuk mempersiapkan segalanya. Lagipula Sasuke memang berencana untuk terlebih dahulu mempublikasikan hubungan kasihnya dengan Sakura kepada mass media. Hal itu ingin dilakukannya agar para penggemarnya senantiasa merestui hubungan dirinya dengan model cantik tersebut.

Sungguh Sasuke tidak dapat membayangkan bagaimana reaksi yang akan diberikan oleh para fans-nya yang berjumlah ribuan lebih itu, tatkala mereka mengetahui jika aktor yang selama ini mereka idolakan tengah memiliki sebuah hubungan spesial dengan seorang model berbakat, Cherry.

"Sudah, sudah Itachi-nii! Jangan membuat aku tertawa terus dengan ceritamu itu!" Pinta Sakura secara halus kepada Itachi yang sedari tadi menceritakan tentang kejadian saat Sasuke terjatuh dari ranjangnya.

Sakura benar-benar dibuat tertawa tiada henti oleh cerita Itachi mengenai kekonyolan yang dilakukan oleh sang Uchiha bungsu saat dirinya terjatuh secara tidak sengaja dari atas ranjang miliknya. Sungguh Sakura tidak menyangka jika seorang Uchiha Sasuke yang selalu bersikap perfectionist dapat mengalami hal konyol nan memalukan seperti itu.

"Masih belum, Cherry! Aku masih mempunyai bukti yang akan semakin membuatmu tertawa tak henti-hentinya." Ucap Itachi sambil menyerahkan smartphone miliknya kepada Sakura untuk menunjukkan foto Sasuke yang telah diambilnya saat Sasuke terjatuh dari ranjangnya.

Benar saja, Sakura semakin tertawa lepas dengan sebutir air mata tercipta pada kedua sudut mata indahnya tatkala dirinya melihat dengan seksama foto konyol Uchiha Sasuke yang jatuh dengan gaya yang tidak elit itu. Bahkan kini semua anggota keluarga Uchiha pun turut serta tertawa untuk mengejek sang Uchiha bungsu tersebut, sekalipun mereka tak ikut melihat foto Sasuke.

Diperlakukan seperti itu oleh seluruh anggota keluarganya, Sasuke hanya dapat mendecih kesal sambil memutar kedua bola matanya bosan. Di lemparnya dengan agak kuat bantal sofa yang sedari tadi dipegangnya ke arah wajah tampan Itachi dan sukses membungkam tawa ejekan yang menguar dari bibir sang putra sulung Uchiha tersebut.

"Apa yang kau lakukan, Sasuke bodoh?!" Geram Itachi merasa tidak terima dengan perlakuan Sasuke terhadapnya.

"Kau yang bodoh, Aniki! Jangan selalu mencari-cari masalah denganku! Cherry, cepat kembalikan handphone-nya. Jangan tanggapi semua perkataan yang telah diucapkan oleh Itachi-nii." Ucap Sasuke tegas kepada Sakura. Mendengar perintah Sasuke, segera saja Sakura mengembalikan smartphone milik Itachi kepada pemiliknya sambil mengerling jenaka kepada Itachi dengan sebuah senyuman manis terpatri pada wajah cantiknya.

"Konan-nee, bagaimana bisa kau tahan dengan semua sifat buruk Itachi-nii selama ini?" Tanya Sasuke ringan tanpa mempedulikan tatapan membunuh yang dilayangkan oleh Itachi kepadanya saat ini. Konan sendiri hanya bisa terkikik geli dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh Sasuke, yang menurutnya tak perlu dijawab sama sekali.

Tentu saja karena Itachi memiliki pesona tersendiri yang mampu mengikat hati Konan sampai saat ini. Layaknya Sakura yang mau menerima semua sikap buruk Sasuke, begitu pun dengan Konan yang selalu menerima setiap kekurangan maupun kelebihan dari pemuda yang dicintainya itu.

"Brengsek kau!" Itachi balas melemparkan bantal sofa ke arah wajah Sasuke dan dengan sukses mendarat sempurna pada wajah rupawan sang Uchiha bungsu tersebut. "Skor satu sama, baka Otouto!" Itachi menyeringai sinis ke arah Sasuke, sementara Sasuke kembali mendecih merasa tak suka dengan sikap Itachi yang seolah-olah menang darinya.

"Itachi, Sasuke, hentikan pertengkaran kalian yang tak penting ini!" Ucap sang kepala keluarga Uchiha tegas, berusaha untuk menengahi perdebatan yang terjadi di antara dua bersaudara tersebut. Mendengar teguran dari Uchiha Fugaku tentu saja membuat Itachi dan juga Sasuke tak berkutik dibuatnya.

"Maaf Tou-san, kami hanya bercanda." Ucap Itachi dan juga Sasuke secara bersamaan, penuh dengan rasa penyesalan. Sejak kecil mereka berdua memang selalu mengucapkan ungkapan maaf secara bersamaan kepada Fugaku tatkala mereka berdua melakukan suatu kesalahan kepada ayah mereka.

Entah karena apa mereka bisa bersikap kompak seperti itu? Ah, apa mungkin karena ikatan batin antara kakak dan adik yang terjalin begitu kuat di antara mereka?

"Hahaha ... Kalian ini memang tidak pernah berubah! Selalu saja bersikap kekanak-kanakan seperti itu, memalukan!" Ucap Fugaku sambil tertawa lepas, berusaha menetralisir aura kecanggungan yang sempat terjadi di antara mereka.

Melihat sang kepala keluarga yang tertawa lepas seperti itu, juga turut mengundang tawa kelegaan dari setiap anggota keluarga Uchiha yang lainnya.

Ah, sungguh Sakura merasa sangat bahagia dengan keberadaannya di tengah-tengah keluarga Uchiha yang terasa begitu hangat ini. Sepertinya ini adalah saat yang tepat baginya untuk memberitahukan kepada mereka semua mengenai identitas dirinya yang sebenarnya.

"Ano ... Sebenarnya ada sesuatu hal yang ingin aku beritahukan kepada kalian semua mengenai identitasku yang sebenarnya." Ucap Sakura menatap penuh keseriusan kepada seluruh anggota keluarga Uchiha yang kini tengah berkumpul bersama di ruang keluarga kediaman Uchiha.

Tawa canda yang semula meliputi setiap sudut ruang keluarga kediaman Uchiha ini seketika memudar tergantikan oleh raut keheranan dari setiap anggota keluarga Uchiha, tentu saja tidak termasuk Uchiha Itachi dan juga Uchiha Sasuke yang memang telah mengetahui ke arah mana pembicaraan yang akan dilakukan oleh Sakura.

"Apa yang ingin kau beritahukan kepada kami mengenai identitasmu, sayang?" Tanya Mikoto lembut sambil menyunggingkan sebuah senyuman kasih khas seorang ibu kepada Sakura yang kini tengah duduk berdampingan dengan Sasuke pada sofa di hadapannya.

"Sebenarnya namaku yang sebenarnya bukanlah Cherry, Kaa-san. Namaku yang sebenarnya adalah Haruno Sakura." Ungkap Sakura mengenai nama aslinya kepada setiap anggota keluarga Uchiha.

Alih-alih mendapati reaksi keterkejutan dari Mikoto dan anggota keluarga Uchiha yang lain, Sakura malah mendapati reaksi keantusiasan dari ibu cantik tersebut serta sebuah senyuman hangat dari setiap anggota keluarga Uchiha.

"Wah~... Namamu benar-benar cantik sekali, Sakura-chan!" Ucap Mikoto ceria dengan onyx-nya yang berbinar-binar bahagia, sambil beranjak berdiri dari sofa untuk menghampiri Sakura dan memeluk sang wanita musim semi itu dengan lembut.

Tentu saja hal ini menciptakan sebuah senyuman manis pada wajah cantik Sakura. Sasuke pun turut menampilkan sebuah senyuman kebahagiaan melihat interaksi hangat yang dilakukan oleh ibunya dan juga Sakura.

"A-apa Kaa-san tidak marah karena Sakura tidak memberitahukan hal ini kepada kalian sejak pertama kali kita bertemu?" Tanya Sakura agak sedikit ragu kepada Mikoto.

Mikoto mengelus lembut surai panjang merah muda milik Sakura, seulas senyum tipis terpatri pada wajah cantik ibu dua anak tersebut.

"Marah?! Untuk apa Kaa-san marah hanya karena hal ini, Sakura-chan. Lagipula kau pasti mempunyai alasan khusus untuk melakukan hal ini bukan?" Ucap Mikoto setelah sebelumnya ia melepaskan pelukannya terhadap Sakura.

"Um, syukurlah jika Kaa-san bisa mengerti Sakura." Sakura tersenyum lega mendengar penuturan Mikoto yang terkesan tak mempermasalahkan mengenai ketidakjujuran yang dilakukannya selama ini.

Sakura pun mulai menjelaskan alasan mengapa selama ini dirinya menggunakan nama 'Cherry' kepada setiap anggota keluarga Uchiha. Alasan yang menurutnya saat ini terdengar begitu konyol hanya karena Sakura tak ingin identitasnya dikenali oleh mantan kekasihnya saat dirinya tengah berprofesi sebagai seorang model.

Sakura menjelaskan secara terperinci mengenai hubungan kasihnya bersama Gaara yang berakhir dengan tidak baik. Sakura juga menceritakan awal pertemuan dirinya dengan sang putri bungsu Yamanaka sampai dirinya diajak untuk bekerja sebagai seorang model di perusahaan Yamanaka Entertainment.

Tampak raut wajah tak suka yang ditampilkan oleh Sasuke tatkala Sakura mengatakan bahwa Sabaku no Gaara adalah mantan kekasihnya. Sasuke tak menyangka jika pemuda yang menjadi pasangan Matsuri dalam pemotretan di Hokkaido itu pernah mempunyai hubungan spesial dengan wanita yang dicintainya. Sepertinya kau cemburu eh, Sasuke?

Mikoto, Fugaku dan juga Konan tampak serius mendengarkan setiap penjelasan yang diberikan oleh Sakura. Sementara Itachi hanya menyunggingkan sebuah senyuman tipis tatkala melihat ekspresi ketidaksukaan Sasuke saat Sakura menceritakan tentang kisah kasih dirinya bersama Gaara di masa lalu.

Padahal jika didengarkan dengan lebih seksama lagi, Sakura saat ini tengah menceritakan hubungan yang tidak harmonis diantara dirinya dan juga Gaara. Namun, entah mengapa pendengaran Sasuke hanya peka terhadap nama seorang pemuda yang terhitung mulai saat ini termasuk ke dalam daftar pria yang harus ia jauhkan dari Sakura, setelah Neji tentunya.

Rasanya hanya dengan mendengar nama Gaara keluar dari mulut mungil Sakura membuat Sasuke menjadi merasa tidak senang. Meskipun pemuda Sabaku itu sudah memiliki kekasih, tapi bersikap waspada tidak ada salahnya kan?

Merasa bosan dengan penjelasan Sakura mengenai Gaara, akhirnya pemuda raven itu pun beranjak berdiri dari sofa dan perlahan melangkahkan kakinya ke arah halaman belakang kediaman Uchiha tanpa mengucapkan sepatah kata pun kepada anggota keluarga Uchiha lainnya yang saat ini tengah menatapnya penuh keheranan.

"Itachi, ada apa dengan Sasuke? Kenapa Sasuke tiba-tiba saja pergi meninggalkan kita?" Tanya Mikoto penasaran sambil menaikkan sebelah alisnya ke atas. Memang setiap anggota keluarga Uchiha sudah memaklumi bagaimana sifat buruk Sasuke yang selalu pergi tanpa pamit di tengah-tengah pembicaraan keluarga.

Namun, kali ini tentu saja berbeda karena keberadaan Sakura yang notabene adalah kekasihnya sendiri. Seharusnya Sasuke dapat lebih menghargai Sakura dengan tidak meninggalkannya kan? Apa yang salah pada Uchiha bungsu tersebut?

Itachi tersenyum tipis kepada Mikoto. "Sasuke sedang cemburu Kaa-san. Kalian sama sekali tidak menyadari jika pusat pembicaraan Sakura sedari tadi adalah pemuda Sabaku itu?" Ungkap Itachi menjelaskan alasan kepergian Sasuke.

Mikoto sendiri hanya tersenyum simpul mendengar penuturan Itachi, rupanya putra bungsunya itu kini mulai bisa bersikap merajuk terhadap wanita lain selain dirinya.

"Ekh?! Sa-Sasuke-kun cemburu?" Pekik Sakura merasa terkejut dengan kata-kata yang diucapkan oleh Itachi. Sakura benar-benar tidak menyadari jika Sasuke sedari tadi merasa tidak suka dengan cerita mengenai hubungannya dengan Gaara.

Itachi menganggukkan kecil kepalanya seolah kembali menegaskan pernyataan yang sebelumnya telah ia ucapkan kepada Mikoto dan Sakura.

"Tapi tenang saja Sakura, kau tidak perlu mengkhawatirkan si bodoh itu." Ucap Itachi tenang sambil tersenyum lembut kepada Sakura. Kini sang Uchiha sulung tersebut telah beranjak dari sofa untuk mencari keberadaan Sasuke di halaman belakang kediaman Uchiha.

"Kalau begitu lebih baik kalian lanjutkan kembali pembicaraan kalian. Aku akan menyusul si bodoh itu. Ada sesuatu yang harus aku bicarakan dengannya." Itachi pun pergi meninggalkan ruang keluarga dan melangkahkan kakinya ke arah yang sama dengan arah yang dituju oleh sang Uchiha bungsu tadi.

Tak ingin ambil pusing, Mikoto, Fugaku, Sakura dan Konan pun kembali terlibat dalam pembicaraan ringan yang tampak begitu menyenangkan.

.

.

.


"Sebenarnya si bodoh itu pergi kemana, Aniki?" Tanya Sasuke lirih kepada Itachi yang kini tengah duduk di sampingnya sambil merebahkan punggung tegapnya pada sandaran kursi kayu yang terdapat di halaman belakang kediaman Uchiha.

Sementara Sasuke sendiri kini tengah menengadahkan wajah tampannya ke atas untuk menatap hampa hamparan langit malam yang tampak redup karena tak ada satu pun bintang yang bersinar terang di atas sana.

"Amerika. Naruto mengatakan jika dirinya akan berada di sana selama sebulan untuk mengontrol keadaan cabang Namikaze Corp. Hal ini tentu saja dilakukannya untuk menghindari Hinata saat ini. Naruto mengatakan bahwa dirinya membutuhkan waktu untuk menenangkan dan menata kembali hati dan perasaannya terhadap Hinata. Ia juga merasa tidak sanggup jika harus terus menerus bertemu dengan Hinata setiap hari di Namikaze Entertainment. " Ucap Itachi menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Sasuke.

"Tch, kenapa si bodoh itu cepat sekali menyerah seperti ini?! Apa dia tak pernah memikirkan bagaimana perasaan Hinata jika dia meninggalkannya secara tiba-tiba seperti ini?!" Sasuke mendecih kesal entah pada siapa.

"Bodoh! Semua ini juga adalah salahku yang tidak memperhatikan perkembangan hubungan mereka dengan baik karena aku terlalu fokus untuk mendapatkan kembali hati dan kepercayaan Sakura kemarin. Sebenarnya sahabat macam apa aku ini?! Kenapa aku tidak mempedulikan keadaan mereka berdua?!" Sasuke mendengus sinis seolah mengejek terhadap kebodohan yang telah dilakukan oleh dirinya sendiri.

"Jangan menyalahkan dirimu sendiri seperti itu, Sasuke!" Ucap Itachi menepuk pelan pundak sang Uchiha bungsu itu. Pandangan sang Uchiha bungsu itu pun beralih untuk menatap serius onyx kembarannya.

"Memang pada awalnya kau yang memegang andil dalam semua sandiwara yang telah kau perbuat terhadap mereka. Tapi bukankah keputusan apakah mereka akan kembali bersama lagi atau tidak itu tergantung dari keinginan mereka masing-masing? Jadi kau sama sekali tidak berhak untuk kembali mencampuri urusan mereka lagi." Ucap Itachi bijak kepada Sasuke.

"Ya, aku mengerti akan hal itu. Tapi, bagaimana pun juga aku yang telah melibatkan mereka berdua dalam permainanku dulu. Aku tidak bisa begitu saja melepaskan tanggung jawab atas semua kesalahan yang telah aku perbuat, Aniki. Bagaimana pun caranya aku akan kembali mempersatukan mereka berdua!" Ucap Sasuke penuh dengan keyakinan kepada Itachi. Itachi hanya tersenyum tipis sebagai tanggapan atas pernyataan Sasuke tersebut.

Itachi tak menyangka jika adik kesayangannya itu kini sudah mulai bisa bersikap peduli terhadap orang lain. Padahal dulu, Sasuke hanya bisa memikirkan mengenai kepentingan pribadinya saja dan tak pernah mau peduli akan urusan orang lain.

Sepertinya kehadiran Sakura dalam kehidupan Sasuke sangat berpengaruh besar terhadap perubahan sifat sang Uchiha bungsu tersebut, eh?

"Kalau begitu mungkin saat ini yang bisa kau lakukan untuk membantu mereka adalah dengan menghibur Hinata. Kau pasti mengerti jika perasaan Hinata pun saat ini tengah hancur karena kepergian Naruto, bukan? Kau dan juga Sakura bisa menemani Hinata selama sebulan ini. Setidaknya perasaannya akan sedikit lebih baik dengan kehadiran kalian di sisinya." Ucap Itachi memberikan nasehat kepada Sasuke.

"Ya, sepertinya hanya hal itu yang saat ini dapat aku lakukan untuk menebus semua kesalahanku kepada Hinata." Ucap Sasuke sambil menghela napas pasrah. Kembali dirinya menatap sendu langit malam yang tampak sedikit tak bersahabat saat ini.

.

.

.


Wanita cantik bersurai merah muda itu kini tengah merebahkan tubuh mungilnya di atas ranjang king size milik sang Uchiha bungsu. Kedua mata indahnya pun kini tengah terpejam guna meresapi setiap alunan melodi yang bergaung dengan indah pada kedua telinganya yang tertutupi oleh sebuah headset.

Salah satu tangannya digunakan untuk menyangga belakang kepalanya, sementara tangannya yang lain memegang smartphone miliknya yang kini tengah bertengger di atas perut ratanya.

Terlalu terhanyut dengan lagu milik Boa yang berjudul 'Between Heaven and Hell', Sakura sama sekali tidak menyadari akan kehadiran sang pemuda raven yang kini sudah masuk ke dalam kamar dan tengah beranjak naik ke atas ranjang miliknya.

Merasakan adanya sedikit guncangan pada ranjang milik Sasuke, segera saja Sakura membuka kedua emerald indahnya dan mendapati sang Uchiha bungsu yang kini mulai mendekat ke arah dirinya. Seulas senyum manis terpatri pada wajah cantik Sakura guna menyambut kedatangan sang pujaan hatinya saat ini.

Alih-alih membalas senyuman Sakura, sang pemuda raven itu justru malah memeluk dengan begitu erat tubuh mungil sang wanita musim semi itu dengan menggunakan kedua tangan kekarnya.

Kepalanya pun tanpa ragu ia letakkan dengan intim di samping salah satu buah dada Sakura. Kedua onyx-nya perlahan mulai terpejam seolah merasakan kelelahan yang begitu luar biasa hari ini.

Menangkap raut keputusasaan dari wajah tampan kekasihnya itu, Sakura pun memberanikan diri untuk bertanya mengenai masalah apa yang kini tengah dialami oleh sang Uchiha bungsu tersebut. Tangan mungilnya kini mulai melepaskan headset yang sedari tadi menempel pada kedua telinganya.

Perlahan Sakura membelai dengan penuh kelembutan surai dark blue milik kekasihnya tersebut. "Ada apa?" Tanya Sakura singkat namun sarat akan perhatian terhadap Sasuke.

Selang beberapa detik, Sasuke tak juga memberikan jawaban terhadap pertanyaan yang dilontarkan oleh Sakura. Hal tersebut tentu saja membuat Sakura menjadi merasa khawatir terhadap sikap diam yang tampak berbeda dari sang Uchiha bungsu tersebut.

"Kau tidak mau menceritakannya padaku, Sasuke-kun?" Sakura hendak mengangkat tubuhnya agar Sasuke terbangun, namun tidak sempat Sakura lakukan karena sebuah tangan kekar telah terlebih dahulu menahan tubuh mungil itu untuk tetap berbaring di atas ranjang.

Sakura pun mengerti dengan keinginan Sasuke tersebut dan memberikan kesempatan kepada Sasuke untuk mulai memberikan penjelasan kepada Sakura.

"Aku ... sedang memikirkan masalah yang kini tengah terjadi di dalam hubungan Naruto dan juga Hinata." Ungkap Sasuke lirih pada akhirnya mengutarakan beban hati yang sedari tadi dipikirkannya kepada Sakura.

Tanpa banyak berpikir maupun bertanya, Sakura pun langsung mengerti apa yang saat ini tengah dirasakan oleh pemuda raven yang dicintainya tersebut. Memang saat pulang dari Hokkaido tadi siang, Sakura tidak mendapati keberadaan Naruto bersama mereka. Sakura yakin bahwa telah terjadi sesuatu di antara Naruto dan juga Hinata.

Sakura pikir hubungan kedua sejoli berkepribadian kontras tersebut masih berjalan baik-baik saja meskipun dirinya telah meminta Naruto untuk segera mengakhiri sandiwara yang dilakukannya terhadap Hinata seminggu yang lalu.

Lagipula dilihat dari interaksi Naruto dan Hinata saat mereka melakukan pemotretan di kota Biei kemarin, menunjukkan jika hubungan keduanya memang terlihat tidak mengalami suatu masalah.

Kini Sakura mulai menyadari jika kegiatan work tour yang diselenggarakan oleh ketiga perusahaan besar tersebut memang bertujuan untuk kembali mendekatkan hubungan di antara dirinya dan Sasuke serta hubungan Naruto dan juga Hinata.

"Sebenarnya apa yang tengah terjadi di antara mereka, Sasuke-kun?" Tanya Sakura penasaran meminta penjelasan lebih lanjut mengenai masalah yang tengah terjadi di antara Naruto dan juga Hinata.

Perlahan Sasuke menampakkan kedua onyx-nya yang sedari tadi bersembunyi di balik kedua kelopak napasnya sejenak berusaha untuk menetralisir perasaan tak enak yang saat ini tengah menyelimuti hatinya, Sasuke pun akhirnya menjelaskan secara terperinci mengenai semua masalah yang tengah terjadi di antara Naruto dan juga Hinata.

Tentu saja Sasuke menceritakan semua hal yang telah ia ketahui dari Itachi saat dirinya dan Itachi terlibat dalam pembicaraan empat mata di halaman belakang kediaman Uchiha tadi.

Mendengar penjelasan yang diucapkan oleh Sasuke tersebut, tentu saja membuat sang wanita musim semi itu terkejut sekaligus merasa miris dengan keadaan yang saat ini tengah terjadi pada pasangan Naruto dan juga Hinata.

"Kenapa Namikaze-san harus pergi jauh ke Amerika hanya untuk menghindari Hyuuga-san? Jika menilik dari ceritamu tadi, bukankah mereka berdua masih sangat saling mencintai satu sama lain, Sasuke-kun?" Tanya Sakura penasaran kepada Sasuke.

"Jujur saja aku pun tidak mengerti akan jalan pikiran si bodoh itu! Padahal jika Naruto mau lebih bersabar sedikit lagi, mungkin hubungan mereka pun akan cepat membaik seperti yang terjadi pada kita. Benar kan, Hime?" Ucap Sasuke lirih kepada Sakura sambil mengulas sebuah senyuman kepedihan. Tatapan onyx yang biasanya tajam itu kini tampak begitu lemah tak berdaya.

"Ya, Sasuke-kun. Seandainya saja Hyuuga-san juga mau mengalah terhadap sikap egois yang dimilikinya, maka aku sangat yakin jika mereka dapat bersatu kembali saat ini." Ucap Sakura menyetujui pernyataan yang diucapkan oleh Sasuke. Kembali tangan mungil itu mengusap dengan lembut surai pendek milik sang kekasih, Uchiha Sasuke.

Sementara tangan kanan Sasuke kini sudah bertengger dengan nyaman di atas kancing-kancing piyama Sakura yang tepat berada pada belahan buah dada Sakura.

"Semua ini adalah salahku, Hime. Seandainya saja aku tidak pernah melibatkan kalian semua dalam permainan konyol yang telah aku lakukan dulu, maka saat ini pun tidak akan pernah ada air mata yang tercipta di antara kita semua. Aku ... sungguh benar-benar menyesal telah melakukan semua sandiwara ini terhadap kalian." Ucap Sasuke lirih penuh dengan nada penyesalan.

"Jangan hanya menyalahkan dirimu saja, Sasuke-kun. Lagipula sandiwara yang kau lakukan dulu bukankah mempunyai sisi positifnya juga? Meskipun memang aku sendiri pada awalnya sangat membencimu karena kau membohongiku, tetapi melihat keseriusan yang telah kau tunjukkan kepadaku selama seminggu ini. Akhirnya hatiku pun luluh dan bersedia untuk kembali menerimamu di sisiku." Ucap Sakura lagi berusaha bijak kepada Sasuke. Emerald-nya menatap penuh rasa sayang ke arah surai raven sang Uchiha bungsu.

"Ya, aku tahu itu, Hime. Terima kasih karena kau sudah mau memaafkan dan menerimaku kembali di sisimu. Sungguh jika seandainya kau bersikap sama seperti yang dilakukan oleh Hinata, kemungkinan aku pun akan pergi jauh seperti yang dilakukan oleh Naruto." Ucap Sasuke menanggapi pernyataan Sakura kepadanya. Mendengar ucapan Sasuke yang terbilang penuh dengan keputusasaan ini, menciptakan sebuah senyuman simpul pada paras cantik Sakura.

"Ah, rupanya seperti itu!" Ucap Sasuke tiba-tiba dengan suara yang cukup keras tatkala dirinya menyadari alasan mengapa sang pemuda Namikaze tersebut pergi jauh saat ini. Tentu saja karena Naruto merasa bahwa dirinya sudah tak memiliki harapan lagi untuk kembali mendapatkan hati gadis yang dicintainya.

"Ada apa, Sasuke-kun?" Tanya Sakura lagi penuh dengan rasa penasaran kepada Sasuke.

"Tidak. Aku hanya baru menyadari jika aku dan si bodoh Naruto itu mempunyai pemikiran yang sama jika kami benar-benar tidak bisa kembali mendapatkan hati gadis yang kami cintai." Ungkap Sasuke mengutarakan isi pikirannya saat ini, sambil mendengus geli dengan pemikirannya yang terbilang dangkal tersebut.

Ah, rasanya seperti seorang pengecut jika memang dirinya melakukan hal seperti yang dilakukan oleh Naruto saat ini.

"Kau ini!" Sakura mengacak-ngacak dengan gemas surai dark blue kekasih Uchiha-nya tersebut. "Sudah jangan bahas hal ini lagi, Sasuke-kun! Lebih baik hari Sabtu besok kita pergi untuk menemui Hyuuga-san. Kita harus meminta maaf kepada Hyuuga-san atas semua kekacauan yang terjadi saat ini. Bagaimana pun juga kita harus bertanggung jawab atas semua kesedihan yang tengah dirasakan oleh Hyuuga-san saat ini!" Ucap Sakura panjang lebar kepada Sasuke.

"Bukan kita, Sakura! Tapi aku, hanya aku! Aku yang harus bertanggung jawab atas semua penderitaan yang saat ini tengah dialami oleh Hinata. Kau tidak mempunyai kesalahan apapun terhadap Hinata jadi kau tidak mempunyai tanggung jawab sekecil apapun terhadap Hinata." Ucap Sasuke mengoreksi perkataan Sakura sebelumnya.

Sasuke tidak ingin membuat wanita yang dicintainya ini juga ikut terlibat untuk membantu dirinya bertanggung jawab atas semua kesalahan bodoh yang telah dilakukannya dulu.

"Kau salah Sasuke-kun! Aku pun mempunyai kesalahan terhadap mereka. Jika seandainya saja saat itu aku tidak meminta Namikaze-san untuk segera memutuskan hubungannya dengan Hyuuga-san, pasti hubungan mereka akan baik-baik saja saat ini." Sakura pun berucap dengan penuh nada penyesalan di dalamnya. Kedua mata indahnya kini tengah menatap sendu langit-langit kamar Sasuke yang berwarna dark blue tersebut.

Sasuke hanya kembali terdiam tanpa sedikit pun berniat untuk menyanggah atau pun membantah perkataan yang diucapkan oleh Sakura. Mungkin memang sebaiknya jika mereka berdua bersama-sama untuk membantu memperbaiki hubungan di antara Naruto dan juga Hinata.

"Baiklah jika itu yang kau inginkan, Hime." Ucap Sasuke akhirnya menanggapi perkataan Sakura. Sakura tersenyum manis mendengar persetujuan dari sang Uchiha bungsu tersebut.

"Sudah malam. Ayo, kita istirahat Sasuke-kun." Ucap Sakura sambil menepuk pelan pucuk kepala Sasuke.

"Tidak mau! Masih ada satu hal yang ingin aku tanyakan kepadamu, Hime." Sasuke mendongakkan sedikit ke atas wajah tampannya untuk menatap wajah cantik Sakura.

Tangannya yang sedari tadi bertengger dengan manis di antara belahan buah dada Sakura, kini perlahan mulai membuka satu persatu kancing-kancing piyama Sakura dengan begitu lincah.

Sakura hanya mengernyitkan dahinya tak mengerti akan perkataan yang baru saja diucapkan oleh Sasuke. "Um, memangnya hal apa yang ingin kau tanyakan kepadaku, Sasuke-kun?" Tanya Sakura to the point kepada Sasuke. Sakura sama sekali tidak menyadari jika kini setengah dari kancing piyama yang tengah dikenakannya telah berhasil dilepas oleh Sasuke.

Sakura kini hanya terfokus pada wajah tampan Sasuke yang tengah menampilkan sebuah ekspresi merajuk yang terlihat begitu menggemaskan di mata Sakura. Sepertinya ketampanan sang Uchiha bungsu ini benar-benar begitu memerangkap dan menjerat perhatian sang wanita musim semi tersebut untuk terfokus ke arahnya.

"Kenapa kau tidak mengatakan kepadaku sebelumnya jika pemuda panda itu adalah mantan kekasihmu, Hn?" Tanya Sasuke penuh keseriusan kepada Sakura. Onyx-nya menatap intens ke dalam bola mata emerald indah milik wanita yang dicintainya itu.

Kini Sasuke pun sudah berhasil membuka semua kancing piyama milik Sakura. Disingkapnya dengan perlahan sebelah piyama Sakura ke arahnya. Tereksposlah sudah kini sebagian tubuh indah Sakura yang begitu membuatnya ketagihan untuk kembali menikmati santapan yang terlihat luar biasa itu.

Sepertinya permainan mereka semalam belum dirasakan puas oleh sang Uchiha bungsu tersebut. Terlebih lagi saat ini suasana hati Sasuke dapat dikatakan tidak cukup baik karena terbebani dengan masalah Naruto dan Hinata, serta perasaan cemburunya terhadap Gaara, mantan kekasih Sakura.

"Bukannya aku tak mau memberitahumu, Sasuke-kun! Tapi, aku memang belum mempunyai waktu yang tepat un-..." Ucapan Sakura terlebih dahulu terpotong oleh perkataan Sasuke.

"Apa kalian pernah berciuman, Hn?" Onyx-nya menatap tajam ke arah emerald milik kentara sekali jika Sasuke memang tidak suka dengan kebersamaan yang pernah terjalin di antara Sakura dan juga Gaara. Hei, kau tak sadar jika dulu kau juga sempat bersikap romantis terhadap Hinata, eh?

Kini tangannya mulai melepaskan kaitan bra yang berada tepat pada belahan buah dada Sakura. Terpampanglah kedua bukit kembar Sakura yang tampak begitu mempesona sang Uchiha bungsu tersebut.

"Ke-kenapa kau bertanya hal seperti itu?" Tanya Sakura sedikit tergagap dengan pertanyaan Sasuke yang terdengar tidak biasa itu.

"Jawab saja, Hime!" Ucap Sasuke tegas.

Sakura memalingkan wajahnya yang sedikit agak memerah ke arah yang berlainan dengan wajah Sasuke. Sementara Sasuke sendiri hanya menaikkan sebelah alisnya tidak mengerti dengan sikap Sakura tersebut.

'Wajahnya memerah, apa mungkin mereka sering melakukannya? Brengsek! Kenapa aku begitu tidak menyukai jika mereka pernah berciuman?!' Geram Sasuke merasa kesal di dalam hatinya.

"Kau tak mau menjawabnya, Hime? Ah, mungkin kalian pasti sangat se-..."

"Tidak pernah!" Interupsi Sakura memotong ucapan Sasuke.

"Hn?! Apa maksudmu dengan tidak pernah?" Tanya Sasuke penasaran kepada Sakura. Lagipula meskipun Sasuke membenci jika kenyataannya mereka pernah berciuman, namun terasa janggal juga jika sepasang kekasih tidak pernah melakukan sebuah ciuman.

"Kau mengerti maksudku, Sasuke-kun!" Tegas Sakura kepada Sasuke. Wajah cantik itu tampak sedikit malu dengan pernyataan yang baru saja diungkapkannya kepada Sasuke.

Ya, memang selama enam bulan menjalin kasih dengan Gaara, mereka belum pernah sekalipun berciuman seperti pasangan kekasih lainnya. Gaara sendiri tidak pernah berinisiatif untuk memulai mencium Sakura, tidak mungkin kan jika Sakura yang notabene dulu adalah seorang gadis yang cukup pemalu memulainya duluan. Pasti akan sangat terlihat memalukan jika Sakura nekat untuk melakukan hal tersebut. Entah karena apa dulu Sakura bisa jatuh cinta pada pemuda Sabaku tersebut, yang jelas saat ini Sakura tak ingin mengingat-ngingat kembali kebodohannya di masa lalu.

Sasuke mengerti apa maksud dari perkataan yang diucapkan oleh Sakura tersebut. Rupanya bukan hanya miliknya saja yang masih suci, tetapi bibir ranum sang wanita musim semi itu pun masih suci dari sentuhan bibir-bibir tegas pemuda lain.

Rasanya Sasuke sungguh merasa begitu beruntung dan bahagia mendapatkan cinta Sakura, baik saat ini maupun nanti di masa depan. Sasuke berjanji akan selalu menjaga kesucian cinta mereka sampai maut memutuskan benang merah yang menghubungkan hati mereka satu sama lain.

.

.

.


.

.

.

-Start for Lemon-

.

.

.

Wanita musim semi itu masih saja memalingkan wajah cantiknya dari Sasuke. Pemuda raven itu menyeringai penuh arti ke arah tubuh indah bagian atas milik Sakura. Tanpa aba-aba Sasuke langsung saja menyambar dengan ganas puncak kemerahan yang merupakan bagian tersensitif dari buah dada Sakura tersebut.

Sementara tangannya yang sedari tadi berperan untuk membuka kancing-kancing piyama Sakura kini terlihat aktif dalam memanjakan puncak kemerahan buah dada Sakura yang lainnya.

"Aahhh~... Se-sejakh kapanh Ngghh~... Kauh membukah piyamakuh, Sasukehh~... –kun...?!" Desah Sakura tatkala Sasuke semakin memperdalam lumatannya terhadap puncak buah dada Sakura. Kini pemuda raven itu sedikit menggeser tubuh atletisnya agar naik ke atas tubuh mungil Sakura.

Menyamankan posisi tubuhnya di atas tubuh mungil Sakura, kini Sasuke lebih leluasa untuk memonopoli kedua buah dada Sakura yang berukuran cukup besar itu. Dihisapnya dengan begitu kuat puncak buah dada kiri Sakura sehingga menyebabkan sang wanita musim semi tersebut mengerang penuh kenikmatan. Sementara puncak buah dada kanan Sakura pun tak henti-hentinya dipelintir oleh tangan sang Uchiha bungsu sehingga saat ini terasa begitu mengeras.

Sasuke pun beralih untuk melumat puncak buah dada Sakura yang lain. Sasuke dengan lihai memainkan lidahnya berdansa di atas puncak kemerahan tersebut. Tentu saja hal tersebut memberikan rangsangan yang membangkitkan gairah sang wanita bubble gum.

Sakura semakin mendesah tak karuan tatkala Sasuke menggigit dengan gemas puncak buah dada Sakura. Gerakan tangan Sasuke yang meremas-remas buah dada Sakura pun semakin bertambah liar saja. Sakura pun mengalami orgasme-nya yang pertama untuk malam ini disertai dengan desah kenikmatan yang terdengar begitu merdu di telinga Sasuke.

Tak ingin lama-lama untuk bermain, Sasuke pun segera saja membuka celana panjangnya untuk mengeluarkan sang adik kecil miliknya yang sudah terasa berdiri tegang dan membesar.

Sasuke pun melepaskan semua pakaian Sakura yang masih melekat pada tubuh sang wanita musim semi tersebut. Tanpa ragu Sasuke pun segera saja melesakkan adik kecilnya ke dalam milk Sakura tatkala dirinya melihat lubang kewanitaan Sakura yang berkedut-kedut kemerahan menggoda penglihatannya.

Sakura pun berteriak dengan begitu kencang karena Sasuke tampaknya begitu terburu-buru saat memasukkan kejantanannya ke dalam lubang kewanitaannya. Namun, teriakan itu segera tergantikan oleh desahan-desahan yang mengalun lembut tatkala Sasuke sudah bergerak teratur di dalam sana.

Setiap gerakan yang dilakukan oleh kenjantanan Sasuke terasa begitu luar biasa bagi Sakura. Meskipun semalaman mereka sudah melakukan hal seperti ini, namun sepertinya kenikmatannya pun tak pernah habis untuk ia rasakan.

Sasuke pun semakin menambah tempo gerakan kejantanannya tatkala dirinya sudah merasakan bahwa dirinya akan segera mencapai klimaks. Peluh keringat pun membahasi tubuh keduanya karena masing-masing dari mereka pun benar-benar tampak bergerak liar mengimbangi gerakan pasangannya.

Akhirnya Sasuke dan Sakura pun klimaks secara bersamaan sambil mendesahkan nama masing-masing pasangannya dengan alunan suara yang terdengar begitu menggoda. Sasuke pun ambruk di atas tubuh mungil Sakura yang tampak kelelahan. Tanpa berniat mencabut terlebih dahulu kejantanannya dari lubang kewanitaan Sakura, Sasuke pun dengan cepat terlelap masuk ke dalam alam mimpi. Seulas senyum tipis pun terpatri di wajah tampannya tanpa ia sadari.

.

.

.

-End of Lemon-

.

.

.

.

.

.


"Maafkan aku, Hinata. Aku tidak pernah menyangka jika si bodoh itu akan pergi meninggalkanmu begitu saja seperti ini." Ucap Sasuke menatap sendu amethyst yang kini tampak begitu kontras dengan onyx miliknya. Memang amethyst itu terlihat bersinar namun tak menampik adanya kehampaan di dalam sana.

Saat ini Sasuke dan Sakura tengah bertemu dengan Hinata di sebuah kafe yang tidak jauh dari perusahaan Namikaze Entertainment. Saat pertama kali Sasuke dan Hinata bertemu di kafe ini, terasa sekali aura kecanggungan yang menguar di antara mereka. Sejak kejadian Hinata yang menampar Sasuke, tidak pernah sekalipun mereka bertemu bahkan berinteraksi secara empat mata seperti yang biasa mereka lakukan dulu.

Sebenarnya Sasuke merasa sedikit ragu untuk bertemu dengan Hinata, karena setahunya Hinata masih membencinya karena sandiwara yang dilakukannya. Namun, beruntunglah Sasuke karena Hinata saat ini tampak tak terlalu mempermasalahkan kesalahan Sasuke. Justru Hinata lebih dominan memiliki perasaan benci terhadap Naruto. Tentu saja tidak untuk saat ini setelah Hinata berpikir kembali untuk memaafkan putra tunggal Namikaze tersebut.

"A-Apa yang kau katakan, Sasuke-kun? Kenapa kau harus meminta maaf kepadaku? Lagipula Naruto pergi karena keinginannya sendiri dan bukan merupakan perintah dari orang lain, kan? Jadi, kau tidak perlu meminta maaf kepadaku seperti ini." Ucap Hinata salah tingkah sambil menyunggingkan sebuah senyuman manis yang terlihat sekali dipaksakan.

Segera saja Hinata menyambar gelas miliknya yang berisi jus anggur pesanannya. Diminumnya dengan terburu-buru jus anggur miliknya tersebut hingga menyebabkan Hinata tersedak dan terbatuk-batuk kecil. Tak pelak hal tersebut menyebabkan keluarnya sedikit air mata pada kedua sudut matanya.

Diusapnya pelan air mata yang keluar itu dengan kedua tangan mungilnya sampai tak berbekas. "Ah, maaf aku benar-benar merasa haus sampai-sampai aku minum terburu-buru seperti ini." Ucap Hinata dengan sebuah senyuman canggung yang ditujukkannya kepada Sasuke dan juga Sakura. Sungguh terlihat sekali jika sang gadis indigo tersebut saat ini tengah menutupi kesedihannya.

Sang onyx dan sang emerald itu hanya bisa menatap sendu penuh dengan rasa bersalah kepada Hinata. 'Kami-sama, sebenarnya apa yang telah aku lakukan terhadap Hinata sampai membuatnya menderita seperti ini?!' Ucap Sasuke lirih di dalam hatinya sambil menundukkan kepala raven-nya ke bawah. Kedua tangannya mengepal kuat seolah menyalurkan emosinya yang tertahan di sana.

"Ah, tidak apa-apa Hyuuga-san." Ucap Sakura maklum sambil berusaha untuk menampilkan sebuah senyuman manis kepada Hinata, meskipun saat ini hati Sakura pun ikut teriris pedih dengan sikap Hinata yang terlihat berpura-pura untuk tegar di hadapan dirinya dan juga Sasuke.

"Apa ... yang harus aku lakukan untuk menebus semua kesalahanku ini, Hinata?" Tanya Sasuke lirih kepada Hinata. Hinata pun kini mulai memfokuskan arah pandangannya terhadap sang pemuda Uchiha bungsu tersebut.

Hinata cukup terpaku mendengar ucapan Sasuke yang diluar dugaan itu. Selama Hinata bersahabat dengan Sasuke, tidak pernah sekalipun Sasuke mengatakan hal seperti itu jika dirinya melakukan kesalahan kepadanya. Namun, meskipun demikian Hinata tidak pernah mempermasalahkan sikap Sasuke yang sedikit tinggi tersebut.

Perlahan Hinata mengalihkan kembali pandangan matanya ke arah Sakura. Gadis indigo tersebut mengulas sebuah senyuman manis yang ditujukkannya kepada Sakura.

"Terima kasih Cherry karena kau telah berhasil mengubah sifat keras kepala Sasuke-kun. Rasanya memang sedikit aneh karena tiba-tiba Sasuke-kun bersikap seperti ini, tapi aku merasa bersyukur karena Sasuke-kun dapat berubah menjadi seseorang yang jauh lebih baik lagi seperti sekarang ini." Ucap Hinata penuh rasa kagum kepada sosok Sakura yang duduk pada kursi di hadapannya. Sakura sendiri hanya mampu mengulas senyum tipis kepada Hinata.

Hinata sama sekali tak menghiraukan pertanyaan yang telah dilontarkan oleh sang Uchiha bungsu sebelumnya. Sungguh Hinata tak ingin membahas lebih jauh mengenai masalah yang tengah terjadi di antara dirinya dan juga Naruto kepada Sasuke maupun Sakura. Namun, bukan Sasuke namanya jika ia tidak mengetahui bahwa Hinata tengah menghindari topik masalah pribadinya saat ini.

"Jangan mengalihkan pembicaraan, Hinata!" Ucap Sasuke tegas kepada Hinata. Kini wajah tampannya sudah menatap lurus ke arah wajah cantik Hinata.

"Sudahlah, Sasuke-kun! Aku rasa kalian saat ini tak berhak untuk ikut campur dalam masalahku. Aku bisa dan aku kuat untuk menghadapi semua ini sendirian. Jadi aku mohon kepada kalian agar jangan terlalu mengkhawatirkan keadaanku saat ini." Pinta Hinata secara halus kepada Sasuke.

"Tapi a-..."

"Cukup! Cukup, Sasuke-kun! Aku tak mau membahasnya lagi! Tolong mengertilah!" Ucap Hinata lirih sambil menundukkan lemah kepalanya ke arah bawah. Perasaan Sasuke dan Sakura seketika mencelos ketika mendengar isakan kecil yang keluar dari mulut mungil sang gadis Hyuuga tersebut.

Kini kedua sejoli tersebut saling menautkan kedua tangan mereka dengan begitu erat, seolah saling memberikan kekuatan satu sama lain agar mereka juga tak ikut-ikutan menangis seperti yang tengah dilakukan oleh gadis cantik di hadapan mereka.

"Maaf." Sesal Sasuke lagi kepada Hinata. Sasuke sama sekali tak mengerti jika satu kata maaf yang terucap dari mulutnya itu, semakin membuat sakit perasaan sang gadis Hyuuga tersebut.

.

.

.


Sepertinya langit malam kota Tokyo pada hari ini tampak begitu tak bersahabat. Angin malam pun berhembus sedang menghantarkan udara dingin ke seluruh sudut kota Tokyo. Namun, tampaknya hal tersebut tak berpengaruh kepada sang gadis indigo yang kini tengah duduk bersandar pada pagar pembatas balkon kamarnya.

Kedua tangan mungilnya memeluk dengan begitu erat kedua kaki jenjang miliknya yang ditekuk, seolah menetralisir udara dingin yang menyelimuti tubuhnya saat ini. Sebuah sinar redup berwarna merah kejingga-jinggaan yang berasal dari lilin yang terdapat di atas sebuah kue tart kecil itu tampak memancar menyinari wajah rupawan sang gadis indigo tersebut.

"Otanjoubi omedetou, Naruto-kun." Ucap Hinata lirih sambil menampilkan sebuah senyuman kebahagiaan yang sarat akan kerinduan kepada pemuda yang dicintainya, Namikaze Naruto.

Ya, tepat pada hari ini sang direktur muda Namikaze itu menginjak usianya yang ke-23 tahun dan secara sederhana sang gadis Hyuuga itu membuat sebuah perayaan untuk menyambut pertambahan usia sang pemuda Namikaze.

Kedua mata amethyst indah itu perlahan terpejam guna mengucapkan sebaris, dua baris permohonan kepada sang Kami-sama, yang khusus Hinata tujukan kepada Naruto yang kini entah bagaimana keadaannya.

'Kami-sama, aku hanya memohon kepada-Mu agar Kau senantiasa memberkati dan melindungi Naruto-kun dimana pun ia berada saat ini. Aku berharap jika seandainya nanti kami diberi kesempatan untuk bertemu kembali, kami bisa memperbaiki hubungan kami yang saat ini retak. Saat ini aku hanya bisa berserah diri dalam tangan kuasamu saja, ya Kami-sama.' Ucap Hinata lirih penuh dengan harapan di dalam hatinya.

Tes tes tes

Air mata yang mengalir dari kedua sudut mata indah sang gadis indigo tersebut tersembunyi di balik air langit yang tiba-tiba saja turun dengan derasnya membasahi bumi. Api lilin yang sedari tadi bertengger di atas kue tart itu pun seketika padam oleh angin malam yang berhembus semakin kencang.

Kue tart kecil yang tampak cantik itu pun kini tampak tak berbentuk lagi karena hantaman bertubi-tubi dari derasnya guyuran air hujan saat ini. Namun, meskipun demikian sang gadis indigo tersebut sama sekali tak berniat untuk beranjak dari tempatnya duduk saat ini.

Hinata tak mempedulikan jika saat ini seluruh pakaian yang tengah dikenakannya basah kuyup karena air hujan. Rasanya begitu menenangkan saat dirinya menangis di bawah guyuran air hujan seperti ini. Biarlah saat ini dirinya bernaung sementara waktu untuk meredam kesedihannya di antara sekumpulan tetesan-tetesan air hujan yang berlomba-lomba untuk menapaki bumi.

.

.

.

.

.


Seminggu telah berlalu semenjak pertemuan Sakura dengan sang putri sulung Hyuuga. Meskipun pertemuan itu berakhir tidak seperti yang diinginkan, namun Sakura merasa bersyukur karena hubungan di antara Sasuke dan juga Hinata dapat kembali baik seperti dulu saat mereka masih bersahabat.

Siang ini Sakura tengah berada di sebuah restoran yang letaknya tak jauh dari Yamanaka Entertainment. Neji memang sengaja menghubunginya karena Neji ingin memperkenalkan seseorang yang pernah ia janjikan untuk ia pertemukan dengan Sakura.

"Wah~... Apa benar kau adalah kekasih dari Neji Senpai, Tenten-san?! Aku rasa kau adalah gadis yang terlalu sempurna untuk pemuda seperti Neji Senpai." Ejek Sakura menyeringai tipis sambil mengerling jahil ke arah Neji yang duduk pada kursi di hadapannya.

Tenten yang mendengar ucapan sang wanita musim semi itu hanya mampu tersenyum simpul menanggapi ketidakpercayaan Sakura akan hubungan kasih yang terjadi di antara dirinya dan Neji.

"Apa maksudmu, Sakura?!" Tanya Neji datar namun tegas sambil mendelikkan tajam kedua amethyst-nya ke arah sang putri tunggal Haruno tersebut. Alih-alih merasa takut karena deathglare yang diberikan oleh Neji kepadanya, Sakura justru malah bersikap acuh sambil mengendikkan kecil bahu mungilnya kepada sang pemuda Hyuuga tersebut.

Neji mendengus geli menanggapi sikap Sakura yang tampaknya tak peduli akan pertanyaan yang baru saja dilontarkannya. Sebenarnya Neji bukannya tak tahu jika saat ini Sakura tengah bercanda kepadanya, namun tetap saja kejahilan Sakura harus tetap ia balas bagaimana pun juga.

"Apa kau tidak pernah berpikir jika Uchiha Sasuke juga terlalu sempurna untuk gadis bodoh sepertimu eh, Sakura?" Ucap Neji balas mengejek Sakura sambil menyeringai penuh arti tatkala dirinya mendapati sosok pemuda bersurai raven yang kini tengah menghampiri ke arah meja mereka.

Ah, rupanya alasan mengapa Hinata bertanya mengenai keberadaan dirinya melalui sms tadi adalah untuk memberitahukan kepada Sasuke bahwa Sakura tengah bersama dengan dirinya di restoran ini.

Memang sebelumnya Sakura telah memberitahu Sasuke bahwa dirinya akan bertemu dengan Neji, namun Sakura tidak memberitahu Sasuke mengenai tempat pertemuan mereka. Sasuke mengirim sms pun, Sakura sama sekali tidak memberikan balasan.

"Aku tidak bodoh, Senpai!" Sanggah Sakura tegas seolah merasa tidak terima dengan ejekan sang pemuda Hyuuga tersebut. "Lagipula, kenapa Senpai tiba-tiba saja membawa bawa nama Uchiha Sasuke dan menyangkutpautkannya denganku?!" Tanya Sakura canggung sambil mengerucutkan bibirnya. Tampak rona-rona kemerahan tipis kini mulai menghiasi wajah cantiknya.

'Bagaimana mungkin Neji Senpai tahu mengenai hubunganku dan Sasuke-kun? Setahuku, aku tak pernah menceritakan apapun mengenai hubunganku dengan Sasuke-kun kepadanya.' Ucap Sakura di dalam hatinya.

Neji kembali mendengus geli mendengar pertanyaan Sakura. Jelas-jelas saat ini pemuda yang tengah mereka bicarakan tengah berdiri manis di belakang kursi Sakura. Meskipun Sakura tak pernah menceritakan mengenai hubungannya dengan Sasuke, tapi kehadiran Sasuke sendiri ke restoran ini sudah cukup membuktikan jika Sakura dan Sasuke tengah memiliki sebuah hubungan khusus.

"Kalau memang Uchiha Sasuke tidak ada sangkut pautnya denganmu, lalu apa yang tengah dilakukan olehnya saat ini di belakangmu?" Ucap Neji sambil mengarahkan jari telunjuknya tepat ke arah Uchiha Sasuke.

Perlahan Sakura pun mengikuti kemana arah jari telunjuk Neji tertuju. Emerald-nya membulat sempurna tatkala mendapati sang kekasih hati yang kini tengah berdiri di belakangnya.

"Sa-Sasuke-kun, apa yang sedang kau lakukan di sini?" Ucap Sakura salah tingkah sambil beranjak dari kursi yang sedari tadi didudukinya.

Alih-alih menjawab pertanyaan sang wanita musim semi itu, Sasuke justru langsung menyentil dengan agak keras dahi lebar Sakura. Sakura hanya bisa meringis menahan rasa sakit pada dahinya tersebut.

"Bukankah sudah kukatakan untuk menungguku di kantor! Kenapa kau malah pergi tanpa izin dariku, Hime? Kenapa juga kau tidak memberitahuku mengenai keberadaanmu di sini, Hn?" Ucap Sasuke kesal kepada Sakura yang saat ini tengah mengelus-ngelus dahinya yang masih terasa berdenyut nyeri.

Sakura pun hanya menampilkan sebuah senyum kikuk kepada Sasuke. Rasanya saat ini Sasuke benar-benar terdengar cerewet sekali, sangat jauh dari kepribadian dingin yang dimilikinya dulu. Namun, meskipun demikian Sakura tetap menyukai dan mencintai bagaimanapun sifat sang Uchiha bungsu tersebut.

"Ah, maaf Sasuke-kun. Aku hanya tidak ingin merepotkanmu saja. Lagipula aku tidak akan lama kok bertemu dengan Neji Senpai." Terang Sakura memberikan penjelasan kepada Sasuke. Alih-alih menanggapi ucapan Sakura, kini Sasuke justru memfokuskan pandangannya ke arah Neji yang tengah tersenyum tipis kepadanya.

"Lama tidak berjumpa, Uchiha Sasuke." Ucap Neji menyapa sang Uchiha bungsu tersebut.

"Hn. Bagaimana kabarmu, Neji?" Tanya Sasuke menyunggingkan sebuah senyuman tipis kepada Neji. Sasuke mengamit tangan mungil Sakura dan membawa putri tunggal Haruno itu untuk kembali duduk pada kursinya.

"Seperti yang kau lihat. Aku baik-baik saja, Sasuke." Ucap Neji menjawab pertanyaan Sasuke.

Akhirnya mereka pun terlarut dalam pembicaraan hangat yang terasa begitu menyenangkan. Sakura merasa bahagia karena dirinya dan juga Neji, kini sudah mulai menemukan tambatan hati mereka masing-masing.

Padahal dulu saat mereka masih SMA, mereka selalu bersama-sama untuk mengisi setiap kekosongan hati yang mereka alami. Saling membagi kisah baik suka maupun duka, saling mendukung, saling melindungi dan saling menopang satu sama lain pada masa-masa tersulit sekali pun.

Meskipun merasa sedikit sedih karena tidak dapat bersama-sama lagi seperti dulu, namun kehadiran Sasuke disisinya kini sudah cukup untuk menyempurnakan kebahagiaannya.

.

.

.

.

.


Tiga minggu kemudian ...

"Kenapa kekasihku ini terlihat begitu sangat cantik sekali hari ini, Hn?" Tanya Sasuke sambil menyambut tangan Sakura yang terbalut oleh sarung tangan panjang berwarna merah muda. Sakura baru saja keluar dari ruang make up dan kini mereka berdua tengah berada di sebuah ruang tunggu perusahaan Yamanaka Entertainment untuk melakukan kegiatan pemotretan dengan konsep pra-wedding.

Entah mengapa tiba-tiba saja Deidara meminta Sakura dan Sasuke untuk melakukan pemotretan dengan konsep tersebut. Padahal sebelumnya Sakura sudah pernah melakukan pemotretan dengan konsep tersebut bersama dengan Yahiko Pain.

Namun, meskipun demikian Sakura tetap dengan senang hati untuk melakukan kegiatan pemotretan ini. Terlebih lagi saat ini dirinya disandingkan kembali dengan kekasih hatinya, Uchiha Sasuke.

Saat ini Sakura memang terlihat sangat cantik dan menawan dengan balutan pink long dress tanpa lengan. Bagian dadanya dipenuhi dengan hiasan bunga-bunga yang dilengkapi dengan manik-manik perak.

Bagian perutnya tampak transparan, sedikit memperlihatkan perut mulus nan putih miliknya. Di bagian pinggangnya terdapat pita dengan motif polkadot yang memberi kesan lucu pada dress itu namun tak menghilangkan keeleganan dari dress tersebut.

Terakhir bagian roknya, mengembang ke bawah menutupi kaki jenjangnya yang indah, dilengkapi dengan renda-renda yang saling bertumpukkan satu sama lain, tampak begitu indah dengan kilau-kilau yang dihasilkan oleh manik-manik pada renda tersebut.

Rambut merah muda miliknya kini tersanggul tinggi sehingga memperlihatkan leher jenjangnya yang tampak begitu indah. Sebuah tudung kepala berwarna senada dengan gaun miliknya kini tersemat di atas kepalanya.

Hanya satu kata yang dapat menggambarkan keseluruhan penampilan Sakura saat ini. Sempurna!

"Sepertinya Uchiha Sasuke yang sekarang pintar sekali memberikan sebuah rayuan kepada seorang wanita, eh?" Sindir Sakura kepada Sasuke, sambil menampilkan sebuah senyuman manis kepada sang Uchiha bungsu tersebut.

"Tidak semua wanita, nyonya Uchiha! Aku hanya merayu pada wanitaku saja." Ucap Sasuke tersenyum menyeringai sambil mengecup lembut punggung tangan kanan Sakura. Mendapat perlakuan yang terkesan romantis dari Sasuke ini, tentu saja membuat sang wanita musim semi ini sedikit tersipu malu.

Sasuke pun menarik tangan Sakura dan memeluk tubuh wanitanya itu dengan begitu protektif. Dikecupinya dengan intens leher jenjang serta bahu mungil sang wanita musim semi yang begitu harum itu. Seulas senyuman penuh arti kini terpatri pada wajah tampan Sasuke.

Sakura pun memeluk penuh rasa sayang kepala raven sang bungsu Uchiha. Sebuah senyuman manis pun kini tercipta dari bibir mungilnya. Beberapa menit berlalu, namun sepertinya sang pemuda Uchiha itu enggan untuk melepaskan pelukannya terhadap Sakura.

Sampai akhirnya datang seseorang yang masuk ke dalam ruangan itu untuk memberitahukan mereka jika persiapan pemotretan sudah siap. Alih-alih merasa kesal karena moment keromantisannya terganggu, Sasuke justru kembali menampilkan sebuah senyuman penuh arti kepada Sakura.

.

.

.


Kegiatan pemotretan sesi pertama dilakukan di halaman belakang perusahaan Yamanaka Entertainment. Sasuke dan Sakura benar-benar menunjukkan totalitas mereka dalam melakukan kegiatan pemotretan ini. Pose-pose romantis yang mereka lakukan benar-benar tampak begitu alami dan mengalir begitu saja.

Hubungan mereka pun telah Sasuke publikasikan kepada mass media seminggu yang lalu dan tanggapan yang diberikan oleh para fans-nya pun cukup diluar dugaan karena mereka mendukung hubungan yang terjalin di antara Sasuke dan Sakura. Sungguh hal ini merupakan suatu kebahagiaan yang tak terbayangkan sebelumnya oleh Sasuke.

Tidak hanya itu, Sakura pun memberitahukan mengenai identitas dirinya yang sebenarnya kepada mass media. Sehingga mulai saat ini, nama Cherry di dunia permodelan tergantikan oleh nama Haruno Sakura, sang wanita musim semi.

"Bagus! Sesi pemotretan pertama ini berjalan dengan sempurna." Puji Sasori sambil tersenyum bangga kepada Sasuke dan Sakura. "Kalau begitu bisa kita pindah lokasi ke tempat pemotretan berikutnya." Ucap Sasori sambil menatap penuh arti ke arah sang Uchiha bungsu. Hei, sepertinya ada sesuatu yang tengah mereka rencanakan, eh?

"Hn." Gumam Sasuke singkat sambil balas tersenyum kepada Sasori.

Mereka pun pindah lokasi pemotretan di sebuah taman bunga yang merupakan bagian dari hotel berbintang lima, yang letaknya tak jauh dari perusahaan Yamanaka Entertainment. Mungkin hanya membutuhkan waktu sepuluh menit untuk mencapai hotel tersebut dengan menggunakan mobil pribadi.

Sakura cukup tercengang ketika melihat kemewahan hotel berbintang lima tersebut. Kedua matanya tampak berbinar-binar kagum menatap setiap keeleganan yang dimiliki oleh hotel tersebut. Terlalu hanyut dalam kekagumannya, Sakura tidak menyadari sama sekali jika Sasuke kini sudah tak berada di sampingnya lagi.

"Sasuke-kun, apa kita benar-benar a-... Ekh?!" Sakura tak melanjutkan perkataannya karena mendapati Sasuke yang sudah menghilang dari sisinya. 'Kemana perginya Sasuke-kun?' Tanya Sakura di dalam hatinya sambil mengernyitkan dahinya dalam.

"Sasuke-kun, kau dimana?" Teriak Sakura keras sambil mengedarkan pandangan matanya ke seluruh penjuru lantai satu hotel berbintang lima ini. 'Sepi.' Batin Sakura lagi tatkala dirinya tak mendapati seorang pun di sana.

Sakura benar-benar tidak mengetahui di mana letak taman bunga hotel berbintang lima ini. "Bagaimana ini? Sebenarnya pergi kemana semua orang saat ini? Bahkan meja resepsionis pun tidak ada seorang pun yang menjaga, Huh! Sasuke-kun bodoh! Kenapa dia meninggalkanku sendirian di sini sih?!" Gerutu Sakura kesal entah kepada siapa.

"SASUKE-KUN BODOH! KAU DI MANA?!" Teriak Sakura lagi dengan suara yang tak tanggung-tanggung kerasnya.

"Berisik bodoh!" Ucap Neji yang tiba-tiba saja datang dari arah belakang Sakura. Sontak saja Sakura terkejut dan hampir kehilangan keseimbangan jika saja Neji tidak sigap menarik tubuh Sakura ke dalam pelukannya.

"Ne-Neji Senpai! Kau benar-benar membuatku terkejut!" Maki Sakura kesal kepada Neji sambil berusaha melepaskan dirinya dari pelukan Neji.

"Lagipula, kenapa kau bisa berada di-... Ekh?! Ke-kenapa kau berpenampilan rapi seperti ini, Senpai?!" Tanya Sakura sambil menaikkan sebelah alisnya merasa heran dengan penampilan Neji yang saat ini tengah mengenakan sebuah kemeja putih yang dibalut oleh sebuah jas hitam, dimana terdapat sebuah bunga berwarna putih tersemat pada saku atas jas tersebut.

Neji hanya memberikan sebuah senyuman penuh arti kepada Sakura. Perlahan Neji meraih tangan mungil Sakura dan digenggamnya dengan begitu lembut.

"Semuanya tidak akan menjadi kejutan jika aku mengatakannya saat ini kepadamu, Sakura." Ucap Neji sambil menarik tubuh Sakura untuk berjalan ke arah taman bunga hotel berbintang lima ini. Sakura benar-benar tidak mengerti apa yang tengah direncanakan oleh Neji saat ini. Ia hanya bisa mengikuti kemana sang pemuda Hyuuga ini akan membawanya.

.

.

.


Wajah gadis cantik itu tampak tak mempercayai dengan apa yang saat ini tengah dilihatnya. Emerald-nya beralih pada pemuda Hyuuga yang kini tengah tersenyum tipis ke arahnya.

"Neji Senpai. A-Apakah semua ini adalah kenyataan?" Tanya Sakura dengan suara yang sedikit bergetar kepada Neji. Kini pelupuk matanya sudah tergenangi oleh butiran-butiran air mata.

Sakura benar-benar dibuat tercengang oleh kehadiran banyak orang di taman bunga hotel berbintang lima ini. Terlebih lagi kini terdapat sebuah altar pernikahan yang tertata dengan begitu cantik di depan sana. Semua orang yang hadir di sana menatap dengan penuh kebahagiaan kepada Sakura.

Memang sebelumnya Sasuke secara diam-diam telah memberitahukan kepada keluarganya maupun sahabat-sahabatnya, termasuk Naruto bahwa dirinya akan menikah dengan Sakura akhir bulan ini. Tentu saja Sasuke ingin memberikan kejutan terindah bagi wanita yang dicintainya tersebut.

"Hn. Ini kenyataan, Sakura. Hari ini aku berperan sebagai wali dalam pernikahanmu." Ucap Neji tenang menjawab pertanyaan Sakura. Air mata itu mengalir begitu saja membahasi pipi putih sang wanita musim semi. Tubuhnya spontan saja menghambur ke dalam pelukan hangat sang pemuda Hyuuga.

Hiks hiks hiks

"A-Aku tidak menyangka jika Sasuke-kun akan menyiapkan kejutan pernikahan seperti ini kepadaku, Neji Senpai." Ucap Sakura sambil terisak bahagia kepada Neji.

"Sudah, sudah, jangan menangis! Kau tidak lihat jika Sasuke sedari tadi menunggumu di sana." Ucap Neji berusaha menenangkan Sakura. Sakura pun menghentikan tangisannya untuk melihat sang kekasih hati yang kini tengah berdiri dengan gagah di altar pernikahan mereka.

Emerald dan onyx saling bertatapan dengan penuh arti. Sasuke menyunggingkan sebuah senyuman kebahagiaan kepada Sakura, begitupun Sakura yang mengulas sebuah senyum manis kepada Sasuke.

"Sakura-chan, ini ambilah." Ucap Hinata lembut yang tiba-tiba saja datang dengan membawa sebuket bunga pernikahan yang tampak begitu indah. Perhatian Sakura pun teralih ke arah sang gadis Hyuuga tersebut.

Hinata menyerahkan buket bunga itu kepada Sakura dengan perasaan yang penuh suka cita. Senyuman manis tercipta pada paras cantiknya tatkala Sakura meraih buket bunga tersebut dari tangannya.

"Terima kasih, Hyuuga-san." Ucap Sakura lembut sambil mengulas sebuah senyum tipis kepada sang gadis indigo tersebut. Kini Hinata meraih tudung kepala Sakura dan mulai menutup wajah cantik sang wanita musim semi tersebut.

"Selamat atas pernikahanmu, Sakura-chan." Ucap Hinata lagi sebelum dirinya pamit diri untuk kembali ke kursi para tamu undangan. Sakura sendiri hanya balas tersenyum tipis sebagai tanggapan atas pernyataan selamat dari Hinata.

"Ayo." Ucap Neji sambil mengamit lengan Sakura dan perlahan membawa Sakura untuk berjalan menuju altar pernikahannya. Dilihatnya Mikoto, Fugaku, Itachi dan juga Konan yang saat ini tengah tersenyum tulus ke arahnya. Air mata kebahagiaan itu semakin deras saja mengalir dari kedua mata indahnya.

Akhirnya Neji dan Sakura pun kini tiba di depan altar. "Mulai saat ini kupercayakan Sakura kepadamu, Sasuke." Ucap Neji sebelum benar-benar melepaskan Sakura kepada sang Uchiha bungsu.

"Hn. Baiklah ayah angkat." Ucap Sasuke sambil menyeringai tipis ke arah Neji, namun tentu saja Neji mengetahui jika itu hanyalah sebuah candaan Sasuke yang dilayangkan kepadanya. Oleh karena itu, Neji pun tidak terlalu mempermasalahkan perkataan sang Uchiha bungsu tersebut.

Perlahan Neji melepaskan tangan Sakura, dibawanya tangan mungil itu untuk menggenggam tangan kekar sang Uchiha bungsu yang terasa begitu hangat. Seulas senyum kebahagiaan terpatri pada wajah tampan Hyuuga Neji.

"Berbahagialah Sakura." Ucap Neji lembut sebelum dirinya benar-benar pergi meninggalkan Sakura dan Sasuke. Sakura menyunggingkan sebuah senyuman tipis namun sarat akan kebahagiaan sambil menganggukkan singkat kepalanya seolah memberikan jawaban kepada Neji bahwa dirinya pasti akan selalu berbahagia bersama Sasuke.

Perlahan sang pemuda Hyuuga itu melangkahkan kakinya ke arah kursi yang memang telah disediakan bagi para tamu undangan, tepat di samping kursi kekasihnya, Tenten.

Kini Sasuke dan Sakura tengah berdiri di hadapan pendeta yang akan memberkati pernikahan mereka. Keduanya tampak begitu diliputi oleh perasaan suka cita yang tampak begitu dalam. Wajah rupawan mereka pun tak henti-hentinya menyunggingkan sebuah senyuman tulus dan penuh rasa syukur kepada sang Kami-sama.

Tibalah waktu mereka untuk mengucapkan janji suci sehidup semati yang akan mengikat cinta mereka menjadi satu dan meneguhkan kesetiaan cinta mereka selama ini.

"Uchiha Sasuke, bersediakah Saudara menikah dengan Haruno Sakura yang hadir di sini dan mencintainya dengan setia seumur hidup baik dalam suka maupun dalam duka?" Tanya sang pendeta kepada Sasuke dengan penuh khidmat.

Sasuke terdiam sejenak untuk melirik sekilas Sakura yang berdiri di sampingnya, sebelum akhirnya sang Uchiha bungsu itu mengucapkan kesediaannya untuk menikahi sang wanita musim semi. "Ya, saya bersedia." Jawab Sasuke tegas penuh keyakinan kepada sang pendeta.

Sakura benar-benar merasa terharu atas jawaban yang diberikan oleh sang Uchiha bungsu tersebut. Air mata kebahagiaan pun kini sedikit mengalir dari kedua sudut mata indahnya. Para tamu undangan yang hadir di sana juga tampak menitikkan air mata haru atas jawaban sang Uchiha bungsu tersebut. Kini tampak sang pendeta mulai beralih untuk bertanya kepada Sakura.

"Haruno Sakura, bersediakah Saudara menikah dengan Uchiha Sasuke yang hadir di sini dan mencintainya dengan setia seumur hidup baik dalam suka maupun dalam duka?" Tanya sang pendeta lagi penuh khidmat kepada Sakura.

"Ya, saya bersedia." Ucap Sakura tanpa ragu kepada sang pendeta. Tangan mungilnya kini semakin menggenggam erat tangan sang pemuda Uchiha. Sementara tangannya yang lain masih setia menggenggam sebuket bunga yang tadi diberikan oleh Hinata.

"Atas nama Allah dan di hadapan para hadirin sekalian, saya menegaskan bahwa pernikahan yang telah diresmikan ini adalah pernikahan yang sah. Semoga upacara kudus ini menjadi sumber kekuatan dan kebahagiaan bagi Saudara berdua. Yang dipersatukan Allah, janganlah diceraikan manusia." Ucap pendeta tersebut memberkati pernikahan Sasuke dan Sakura.

Dengan begitu terikatlah sudah kedua insan ini dalam sebuah takdir pernikahan yang suci dan abadi.

"Silahkan masing-masing dari kalian menyematkan cincin pernikahan pada jari manis pasangannya." Ucap pendeta itu lagi.

Ino maju ke altar pernikahan sambil membawa dua cincin pernikahan yang akan menjadi simbol ikatan suci mereka saat ini. Wajah cantik Ino pun tak henti-hentinya mengembangkan senyuman kebahagiaan bagi sahabatnya tersebut.

Tanpa ragu, Sasuke pun langsung meraih cincin bermahkotakan pink diamond yang tampak begitu mewah dan indah. Disematkannya cincin tersebut pada jari manis Sakura yang masih terbalut oleh sarung tangan tipis itu.

Kembali, sang wanita musim semi itu tersenyum penuh kebahagiaan kepada Sasuke. Kedua pelupuk matanya pun kini tengah digenangi oleh air mata yang siap kapan saja untuk mengalir.

Kini giliran Sakura yang menyematkan cincin pernikahan Sasuke pada jari manis sang Uchiha bungsu tersebut. Tak butuh waktu lama sampai cincin itu terpasang pada jari manis Sasuke. Para tamu undangan pun bertepuk tangan dengan begitu meriah menyambut pernikahan kedua sejoli tersebut.

"Silahkan pengantin pria untuk mencium pasangannya." Ucap pendeta itu lagi dengan sopan kepada Sasuke.

Tentu saja dengan senang hati sang Uchiha bungsu tersebut akan melakukannya. Dibukanya tudung kepala yang menutupi wajah cantik wanitanya tersebut yang kini tengah menampilkan sebuah senyuman manis kepadanya. Perlahan Sasuke mengeliminasi jarak di antara dirinya dan juga Sakura.

Riuh tepuk tangan para tamu undangan pun menyambut dengan begitu bahagia tatkala bibir sang pemuda Uchiha tersebut telah sukses menempel pada permukaan bibir ranum Sakura. Dikecupnya dengan penuh kelembutan dan intens bibir yang menjadi candu bagi Sasuke itu.

"Sepertinya mereka tampak begitu bahagia ya, Hinata-chan?" Tanya sebuah suara baritone yang tiba-tiba saja berdengung lembut di telinga Hinata. Entah mengapa tubuh sang gadis indigo tersebut tak bergeming sama sekali atas perkataan yang telah diucapkan oleh pemuda yang kemungkinan kini tengah berdiri di sampingnya.

-TBC-


A/N: Maaf karena keterlambatan update fic ini Untuk chapter ini saya bagi menjadi dua part... untuk sekarang part SasuSaku dulu, nanti tengah malam saya usahakan update part NaruHina-nya ya... jadi untuk NHL semoga masih mau menunggu NaruHina-nya ya... Janji saya akan kebut sekarang buat lanjut scene NaruHina-nya... Sepertinya ini saja dulu ya...

Terima kasih kepada para readers, reviewers, followers, favoriters, dan silent readers yang sudah berkenan untuk membaca fic ini dari chapter awal sampai saat ini. Buat yang nge-pm juga makasih banyak buat dukungan kalian #muach#

Terima kasih atas semua dukungan dan semangat yang telah kalian berikan kepada saya...^_^


Balasan Review

Anka-Chan: Udha Senpai Di chapter ini mereka udha saling memaafkan kok... tinggal menyelesaikan masalah NaruHina aja, SasuSaku gak akan diperumit lagi kok hehe... Ya Senpai betul banget, nanti ada kejutan buat Hinata-nya hehe Makasih banyak ya Senpai udha R&R... maaf malah gak bisa update kilat Tapi semoga gak mengecewakan ya chapter ini #muach#

o.O rambu no baka: Kagum?! #maluuuu# padahal gak bagus ini mah gaya bahasa-nya juga Cerita rambu-san malah lebih bagus daripada fic saya Maaf gak bisa update kilat... tapi semoga suka dengan chapter ini yah... Arigatou

yuan: Hehe... makasih banyak yahh karena bacanya gak nunggu sampai ending... NaruHina-nya nanti tengah malam yahhh... belum beres soalnya ceritanya... sekarang saya mau ngebut dulu buat bikin scene NaruHina-nya yahh... Makasih banyak sekali lagi

hanazono yuri: Iyaaa Senpai ini udha lanjut... maaf ya lama update-nya Semoga masih berkenan untuk lanjut membaca fic ini ya... makasih banyakkk #muach#

dylanNHL: Gomen dylan-chan untuk NaruHina-nya baru bisa publish nanti tengah malam gak apa-apa kan? Lemonnya juga ada kok nanti... ya ya ya... jangan marah ya dylan-chan Semoga dylan-chan masih mau menunggu... dan seperti keinginan dylan-chan sebelumnya yang adegan di balkon itu... nanti ada kok hehe Ditunggu yaaaa #muach#

MAGENZ: Maaf lama update-nya... tapi semoga Magenz-san masih mau menunggu dan membaca fic ini hehe... Makasih banyakkk

CherrySand1: Iyaaa makasih banyak Senpai #peluk-cium# Maaf update-nya lama... hari ini mau sekaligus update dua chapter... chapter ini SasuSaku dan nanti malamnya lagi chapter NaruHina... Sekali lagi makasih ya Senpai udha R&R #muach#

Niizuma Eiji: Konfliknya nanti di chapter full NaruHina akan terjawab Senpai hehe Tunggu ya nanti tengah malam... masih belum beres soalnya scene full NaruHina-nya... Sebelumnya makasih ya udha R&R

ntika blossom: Waduh mau dikipasin gak Senpai?! Hehe... Saya juga sampai keluar keringat dingin buatnya hehe... buatnya sampai berhari-hari karena gak sanggup buat menyelesaikannya Tapi, akhirnya dengan perjuangan penuh bisa terselesaikan juga #lebay mode on# hehe... Makasih banyak Senpai udha R&R.

Sasa Cherry: Semua berkat dukungan Sasa-chan dan teman-teman yang lainnya, saya banyak belajar dan semangat untuk membuat fic ini menjadi lebih baik hehe Waduhh ini termasuk hard lemon, eh? Saya gak tahu haduhhh #tutup mata-malu#

NaruHina-nya baru baikkan nanti di chapter selanjutnya tapi itu termasuk chapter ini juga Sasa-chan, karena terlalu panjang akhirnya saya bagi menjadi dua part... nanti tengah malam baru saya publish yang NaruHina-nya ya...

Iyaaa benar kata Sasa-chan... harusnya saya bersyukur karena fic ini masih bisa lanjut sampai saat ini Makasihhh banyakkk buat semangatnya yahhhh #peluk cium# Sasa-chan #muach#

Shiika Richiki: Iya Shiika-chan ini fic abal pertama saya hehe... Shiika-chan juga harus semangatttt... gak apa-apa kok lama update juga yang penting harus dilanjutin fic-nya ya hehe Makasih banyak yahh udha R&R... Semangat buat latihan narinya #muach#

azriel: Iyaaaa... gak apa-apa kok... maksa banget soalnya saya buat adegan Sasu-nya kena vertigo dan melakukan lemon sampai lima ronde seperti itu hehehe... Habisnya udha kehabisan ide maaf ya... Makasih banyakkkk buat masukannya ya azriel-san #muach#

furiikuhime: Salam kenal juga furii-san Makasih ya udha berkenan untuk R&R fic ini... Um, hehe masalah itu ya... #blushh# waduhh setahu saya sih masih bisa melakukan itu tanpa merobek selaput dara-nya... hehe tapi gak tahu juga gimana urutannya #garuk-garuk kepala# Um, tapi makasih ya buat masukannya

Gilang363: Wahhh Setuju Paman Gilang Iyaaa... justru karena cobaan cinta mereka yang rumit itulah yang akan semakin menguatkan cinta mereka... hehehe... manis banget kan NaruHina itu hehe Siipp full NaruHina-nya nanti tengah malam ya Paman hehe... Makasih udha R&R

Eagle onyx: NaruHina-nya di chapter nanti malam Senpai hehe... soalnya kepanjangan klo disatuin sama chapter ini... ditunggu ya Senpai... full NaruHina kok... Makasih banyak ya udha R&R

imahkakoeni: Iya imah-chan udha mau tamat... chapter ini di bagi dua part... ini baru part satu SasuSaku, nanti tengah malam baru part dua NaruHina... jangan sedih yah Saya senang bisa berkenalan sama imah-chan Makasih banyak ya buat dukungannya selama ini #peluk-cium#

marukocan: Iya, maksa banget ya pas lagi vertigo malah ngelakuin hal itu hehe... Um, ujung-ujungnya Hinata lagi deh yang berjuang untuk mendapatkan Naruto. Tapi chapter depan mereka udha baikkan kok... Makasih yah udha R&R Senpai

wedusgembel41: Maafffff chapter full NaruHina-nya baru bisa publish nanti tengah malam gak apa-apa kan?! Janji kok pasti nanti malam update ya ya ya... jangan marah yah? Hehe Makasih banyak udha R&R.

SANG GAGAK HITAM: Salam kenal juga Senpai Iya ini fic pertama Senpai hehe... Bagus Senpai?! Wah, makasih banyak Senpai #peluk-peluk# konflik NaruHina-nya nyesek tapi entah kenapa saya malah suka hehe... Um, memang saya kurang ngerti tentang lemon romance Senpai Jadilah akhirnya seperti itu hehe... Untuk lemon NaruHina nanti tengah malam ya Senpai... semoga dapat feel romance-nya ya hehe... Sekali lagi terima kasih banyak

Zaoldyeck13: Makasih banyak ya #peluk-peluk# udha mau setia menunggu... Um, di chapter ini NaruHina-nya belum ada... nanti tengah malam baru saya update yang chapter full NaruHina-nya yah... Sekali lagi terima kasih banyak

chiha: Makasih banyak chiha-san #peluk-peluk# Maaf klo di chapter ini juga Hinata-nya masih menderita... tapi nanti ada scene NaruHina di chapter selanjutnya... saya publish tengah malam Sekali lagi makasih banyak ya.

Bunshin Anugrah ET: Iya jitak aja tuh Naruto-nya, kasian kan Hinata jadi sedih #padahal saya sendiri yang buat alurnya ya hehehe...# Maaf maaf... nanti saya ganti dengan kebahagiaan yang melimpah buat NaruHina yah... tapi scene NaruHina-nya saya publish nanti tengah malam hehehe... ditunggu ya... Arigatou

sutra fossil: Makasih banyak Senpai Iya maaf lama update-nya... banyak urusan di dunia nyata hehe... tapi ini udha lanjut kok... untuk scene NaruHina-nya nanti saya akan publish tengah malam ya... soalnya belum beres Makasih ya udha R&R Senpai #muach#

Zaoldyeck13: Hehehe... Iyaaa Sasuke-nya terlalu fokus sama Sakura. Wah, beruntung sekali Zaoldyeck13 me-review seperti ini, saya jadi kepikiran buat scene Sasuke peduli sama Hinata di chapter ini... Makasih yah buat masukannya

sakakibaraarisa: Wahh Makasih banyak yah masih mau menunggu fic ini meskipun lama update-nya... #menangis terharu# Hehehe maksa banget yah itu sampai lima ronde permainannya Siipp ini udha lanjut, semoga gak mengecewakan saka-san... Arigatou.

irawan fajar: Maaf maaf maaf gak bisa update cepat #bungkuk-bungkuk badan# Tapi semoga suka dengan chapter ini ya... Makasih udha R&R

hahah: Hehe... maaf ya buat hahah-san jadi nyesek... tapi di chapter depan pasti gak akan nyesek lagi deh... janji Makasih yah udha R&R.

Natsuki Shido: Hehehe... Padahal gak pede buat adegan lemon itu Iya makasih banyak Tatsumi-chan buat semangatnya #muach# Maaf ya lama update-nya.

wahyu agung: Maaf baru bisa update, banyak ini itu yang harus dikerjakan hehe... siap ini udha lanjut... Makasih banyak yah

Aiko Asari: Hehe... saya sendiri malu buat baca lagi scene itu, soalnya baru pertama kali buat takut feel-nya gak dapat Iya mereka berdamai di chapter ini, konfliknya gak serumit yang dibayangkan kok hehe... Makasih yah udha R&R.

pamungkas indra: Hehe... Indra-san panggil saya Hikaru saja ya... kesannya gak nyaman klo dipanggil author-sama Makasih ya udha R&R.

Kanade: Iya Senpai... gak akan di discontinue-in kok... Cuma agak terlambat dan tersendat-sendat aja buat publish chapter terbaru Makasih yah udha berkenan untuk R&R.

ShinRanXNaruHinaXIchiHime: Hehehe #garuk-garuk kepala# :D Maaf ya NaruHina-nya malah jadi seperti itu... Wah adegan lemonnya harus tiga chapter? Mungkin di chapter nanti malam ada lemon NaruHina... sama satu lagi chapter khusus di luar FTTL Tapi kemungkinan agak lama maaf yah... karena kan udha mau puasa hehe... Makasih ya udha R&R.

haruchan: Hehehe iya Naruto pergi ... mau menenangkan hatinya Di chapter ini Naruto udha kembali kok. Makasih yah udha R&R haruchan

Rias Hime: Maaf baru bisa hari ini update-nya #bungkuk-bungkuk badan# Chapter ini pun dibagi menjadi dua part karena terlalu panjang :D Khusus chapter ini difokuskan ke SasuSaku, kemungkinan nanti tengah malam baru saya publish scene NaruHina-nya Makasih ya sebelumnya udha R&R.