Saya masih newbie disini, setelah sekian lama menjadi silent reader akhirnya saya mencoba untuk membuat sebuah fanfic.

Ini fanfic pertama saya, ceritanya agak pasaran juga ^_^, dan maaf kalau ada kesalahan penulisan dan lain-lain.

Semoga kalian suka...

Disclaimer : Masashi Kishimoto dengan semua chara-chara dalam anime Naruto

WARNING : OOC, typo, cerita gaje, alur kecepatan, Lemon dll.

Summary: 'Na-Naruto-kun?! Ka-kau ke-kembali?!/ Kebetulan sekali buket bunga ini jatuh ke tanganku. Aku ... memang akan menikah dua minggu lagi, Hinata-chan./ Bisakah ... bisakah kau mengenakan gaun pengantin ini dan menemaniku untuk berlatih mengucapkan ikrar suci di altar pernikahan saat ini, Hinata-chan?!/ Warning: Lemon Inside.

Author by : Hikaru Sora 14

Sebelumnya saya ucapkan terima kasih kepada kalian semua yang telah membaca serta me-review, mem-follow dan mem-fav kan fic ini ^_^ Tanpa kalian fic ini tidak akan berarti apa-apa

Please Enjoy Reading

Don't Like Don't Read


"Sepertinya mereka tampak begitu bahagia ya, Hinata-chan?" Tanya sebuah suara baritone yang tiba-tiba saja berdengung lembut di telinga Hinata. Entah mengapa tubuh sang gadis indigo tersebut tak bergeming sama sekali atas perkataan yang telah diucapkan oleh pemuda yang kemungkinan kini tengah berdiri di sampingnya.

Hinata yang sedari tadi bertepuk tangan bahagia menyambut kedua sejoli yang kini telah berikrar suci di hadapan Kami-sama untuk mengukuhkan kesetiaan cinta mereka, seketika saja menurunkan kedua tangannya kembali pada masing-masing sisi tubuhnya.

'Suara ini?! Mungkinkah 'dia' telah kembali?!' Batin Hinata sedikit tak percaya dengan apa yang saat ini tengah ia perkirakan tentang seorang pemuda yang berbicara kepadanya tadi. Segera saja Hinata mengalihkan pandangannya ke samping kiri guna memastikan jika perkiraannya adalah benar.

Matanya terbelalak tak percaya jika ternyata pemuda yang selama ini menghilang dari kehidupannya selama sebulan ke belakang, kini tengah berdiri gagah dengan sebuah senyuman tipis nan menawan yang terpatri pada wajah tampannya. Kemeja putih yang dibalut oleh sebuah jas hitam kini melekat dengan begitu elegan pada tubuh kekarnya.

"Na-Naruto-kun?! Ka-kau ke-kembali?!" Ucap Hinata tergagap dengan suara yang terdengar bergetar kepada Naruto. Entah mengapa saat ini hati Hinata terasa begitu mencelos melihat keberadaan pemuda yang dicintainya itu kini tengah berdiri tepat di sampingnya.

'Kami-sama, apakah saat ini aku tengah bermimpi?' Tanya Hinata di dalam hati, masih merasa tak percaya dengan kenyataan yang saat ini tengah menghampirinya.

"Ya, lama kita tidak berjumpa, Hinata-chan." Ucap Naruto lembut kepada Hinata. Seketika saja air mata itu mengalir dari kedua sudut mata indah Hinata. Tubuh mungil gadis itu spontan saja bergerak untuk merengkuh dengan penuh kerinduan sang pemuda blonde tersebut.

Hiks hiks hiks

"Kau kembali, kau telah kembali Naruto-kun! Kau benar-benar telah kembali!" Racau Hinata sambil terisak haru kepada Naruto. Pelukannya semakin bertambah erat saja kepada tubuh kekar Naruto.

Naruto yang mendengar perkataan Hinata tersebut hanya mampu tersenyum tipis dan balas memeluk dengan lembut sang gadis Hyuuga tersebut. Dielusnya dengan lembut punggung mungil Hinata yang kini terasa bergetar.

"Jangan menangis, Hinata-chan. Kau tidak mau kan merusak acara perikahan Sasuke dan Sakura-chan saat ini." Ucap Naruto sambil melepaskan pelukan Hinata terhadapnya. Sapphire-nya menatap lembut ke dalam amethyst Hinata yang saat ini tampak begitu sendu.

Hinata menggelengkan kecil kepalanya seolah dirinya memberikan jawaban bahwa ia tak mau merusak acara pernikahan Sasuke dan Sakura saat ini. Tangan kekar Naruto menangkup kedua sisi wajah cantik Hinata.

"Apa kau begitu merindukan sahabatmu ini sampai-sampai kau menangis seperti ini, Hm?" Ucap Naruto terkekeh pelan sambil menghapus sisa-sisa air mata yang masih berada di kedua pelupuk mata indah Hinata.

Kedua mata indah yang semula terlihat lemah kini justru tampak begitu menegang. "Sa-sahabat?!" Ucap Hinata ragu sambil mengernyitkan dahinya dalam. Hatinya benar-benar terasa mencelos saat Naruto hanya menganggap dirinya sebagai seorang sahabat saat ini. Rupanya sang pemuda Namikaze tersebut benar-benar serius terhadap ucapannya dulu.

"Ya, aku sahabatmu bukan, Hinata-chan? Jangan-jangan kau tidak mau lagi bersahabat denganku karena aku pergi selama sebulan ke Amerika, Huh!" Ucap Naruto ringan tanpa sedikit pun mengetahui bagaimana perasaan Hinata yang begitu terpukul saat ini. Kini kedua tangannya sudah tak lagi menangkup kedua sisi wajah Hinata.

"A-aku bukan be-...Ekh?!" Ucapan Hinata terpotong karena ia melihat Naruto yang mendapat lemparan sebuket bunga dari sang pengantin wanita. Hinata sama sekali tidak menyadari jika prosesi pernikahan Sasuke dan Sakura sudah mencapai tahap akhir.

Entah mengapa buket bunga itu tiba-tiba saja sudah melayang ke arah kepala Naruto, mau tidak mau sang pemuda blonde tersebut harus menangkap buket bunga yang dilemparkan oleh sang wanita musim semi yang kini telah resmi menjadi nyonya Uchiha itu.

Alih-alih merasa heran karena dirinya mendapati sebuket bunga dari Sakura, Naruto malah menyunggingkan sebuah senyuman penuh arti entah kepada siapa.

"Kebetulan sekali, eh?" Ucap Naruto pelan namun masih dapat terdengar dengan begitu jelas oleh pendengaran Hinata. Kata-kata Naruto tersebut membuat sang putri sulung Hyuuga menjadi bertanya-tanya di dalam hati. 'Kebetulan apa?' Batinnya penasaran.

"Wah~... Sepertinya Namikaze-san akan segera menyusulku dan Sasuke-kun ke pelaminan, eh?" Teriak Sakura ceria sambil tersenyum penuh arti kepada Naruto. Naruto hanya mengerling jenaka ke arah pasangan pengantin baru tersebut seolah menyetujui ucapan Sakura kepadanya.

Hinata yang melihat isyarat yang diberikan oleh Naruto kepada Sasuke dan Sakura, entah mengapa tiba-tiba saja merasakan sebuah firasat buruk yang akan terjadi kepadanya. 'Mungkinkah, Naruto-kun akan ... ?!' Ucap Hinata lirih di dalam hatinya.

.

.

.


Kini pasangan Sasuke dan Sakura sudah pergi meninggalkan taman bunga hotel berbintang lima itu untuk berbulan madu ke Paris. Pernikahan yang tak terduga-duga ini memberikan kejutan tersendiri bagi sang wanita musim semi.

Ia tidak pernah menyangka jika Sasuke akan meminangnya dengan cara seperti ini. Padahal sebelumnya mereka tidak pernah sekalipun membicarakan tentang masalah pernikahan. Ah, Sasuke memang orang yang penuh dengan kejutan, eh?

Tinggalah dua orang berbeda gender yang dulu sempat merajut tali kasih di taman tersebut. Para tamu undangan yang lain pun kini sudah pulang ke rumahnya masing-masing setelah pasangan pengantin baru Sasuke dan Sakura pergi untuk berbulan madu.

Selama beberapa menit keheningan sempat meliputi kedua muda mudi ini, sampai akhirnya sang gadis membuka percakapan kembali di antara mereka.

"Na-Naruto-kun, boleh aku bertanya sesuatu?" Tanya Hinata sedikit agak ragu kepada Naruto. Namun, meskipun begitu Hinata tetap memberanikan diri untuk menanyakan sesuatu hal yang terasa begitu mengganjal di hatinya saat ini, atas kata-kata yang telah diucapkan oleh Naruto sebelumnya.

"Boleh." Jawab Naruto singkat sambil memberikan sebuah senyuman tipis kepada Hinata.

"Apa ... maksud dari kata kebetulan yang kau ucapkan tadi, Naruto-kun?" Tanya Hinata lagi penuh rasa penasaran kepada Naruto yang kini tengah duduk sambil merebahkan punggung tegapnya pada sandaran kursi yang berada tepat di sebelahnya.

Naruto sempat terdiam sejenak sampai akhirnya suara kekehan kecil keluar dari mulut tegasnya. "Ah, itu ya." Naruto menatap dengan penuh arti sebuket bunga yang kini tengah dipegangnya.

"Kebetulan sekali buket bunga ini jatuh ke tanganku. Aku ... memang akan menikah dua minggu lagi, Hinata-chan." Ucap Naruto sambil memejamkan kedua matanya guna menghirup wangi bunga yang terasa begitu memanjakan indera penciumannya saat ini. Seulas senyuman tipis namun sarat akan kebahagiaan itu tercipta begitu saja pada bibir tegas sang pemuda Namikaze.

Entah mengapa perkataan Naruto tersebut seketika saja menghancurkan dunia serta impian Hinata. Rasanya seperti tersambar oleh percikan halilintar dari langit, hati sang gadis Hyuuga tersebut seketika hancur berkeping-keping.

Tubuhnya terasa begitu lemah, jantungnya entah mengapa seperti berhenti berdetak. 'Kami-sama, apa yang Kau maksud dengan semua ini?' Batinnya bertanya lirih kepada sang pencipta.

Pelupuk matanya kini sudah dipenuhi oleh butir-butir air mata yang kapan saja siap untuk berlomba-lomba keluar dan membasahi kedua pipi putihnya. Tidak hanya itu, kini pikirannya pun seolah benar-benar tak bisa mencerna dengan baik kata-kata yang baru saja diucapkan oleh sang pemuda Namikaze tersebut.

"Hinata-chan, apa kau baik-baik saja?" Tanya Naruto khawatir kepada Hinata yang sedari tadi diam tak menanggapi ucapannya.

"A-ah, maaf aku baik-baik saja Naruto-kun." Ucap Hinata gugup sambil menyeka genangan air mata di kedua pelupuk matanya.

"Kau ... menangis?" Tanya Naruto lagi sambil mengernyitkan dahinya bingung. Lagi-lagi sapphire-nya menatap penuh rasa khawatir kepada sang putri sulung Hyuuga tersebut. Tentu saja hal itu semakin membuat hati Hinata semakin terasa sesak saja.

Hinata tak menampik jika dirinya saat ini memang tengah menangis karena percuma saja ia mengelak jika pada kenyataannya Naruto jelas-jelas melihat dirinya menangis. Namun, tentu saja alasan yang ia katakan kepada Naruto sungguh sangat jauh berbeda dengan apa yang tengah dirasakannya saat ini.

Hinata pun menganggukkan kepalanya singkat seolah membenarkan ucapan Naruto yang baru saja dilontarkan kepadanya. Seulas senyum tipis namun sarat akan kepedihan itu terpatri pada wajah cantik sang putri sulung Hyuuga.

"Ya, aku menangis karena merasa bahagia. Akhirnya kau menemukan seseorang yang tepat untuk mendampingimu, Naruto-kun." Ucap Hinata berbohong sambil tersenyum manis kepada Naruto, berusaha untuk menguatkan hatinya yang terasa rapuh saat ini.

Naruto sendiri saat ini hanya bisa menghela napas lega untuk menanggapi ucapan Hinata tersebut, sebuah senyuman tipis pun tercipta di kedua sudut bibir tegasnya.

"Ya, terima kasih Hinata-chan." Ucap Naruto ringan tanpa beban kepada Hinata. Entah kenapa sosok Naruto yang sekarang sungguh terlihat tidak peka sama sekali terhadap perasaan Hinata. Tak tahukah Naruto, jika Hinata saat ini benar-benar merasa tersakiti hatinya karena sikapnya tersebut?

"Lalu, siapa gadis yang beruntung itu, Naruto-kun?" Ucap Hinata sedikit enggan untuk bertanya mengenai hal itu kepada Naruto.

Meskipun sebenarnya Hinata tak ingin mengetahui siapa gadis yang nanti akan dinikahi oleh Naruto, tapi bagaimana pun juga Hinata tetap merasa penasaran akan siapa gadis yang telah berhasil merebut hati sang pemuda Namikaze tersebut dalam waktu yang dapat dikatakan terbilang singkat ini.

Naruto mengelus lembut surai dark blue Hinata sambil terkekeh pelan. "Kau tidak perlu mengetahuinya sekarang, Hinata-chan. Aku janji bahwa aku akan memberitahukannya kepadamu saat hari pernikahan kami tiba nanti." Ucap Naruto lagi dengan nada yang terdengar begitu tenang di telinga Hinata, namun terasa begitu menusuk ke dalam relung hati sang gadis indigo tersebut.

Tampak raut kekecewaan terpatri pada wajah cantik Hinata saat ini, namun tentu saja sebisa mungkin Hinata berusaha untuk menyembunyikan hal tersebut dari pemuda yang sampai saat ini masih begitu sangat dicintainya.

"Tidak masalah, Naruto-kun." Ucap Hinata maklum sambil menampilkan sebuah senyuman canggung kepada Naruto. Sekali lagi, Naruto sama sekali tak menyadari sikap Hinata yang tampak sungkan terhadapnya saat ini.

'Apakah secepat ini kau melupakan perasaanmu terhadapku, Naruto-kun?!' Tanya Hinata lirih di dalam hatinya.

"Oh iya, lagi-lagi kebetulan yang tak terduga. Sebenarnya setelah dari pernikahan Sasuke dan Sakura ini, aku memang bermaksud untuk menemuimu. Aku ingin meminta bantuan darimu, Hinata-chan." Ucap Naruto bersemangat dengan kedua sapphire-nya yang menatap penuh harap kepada sang gadis Hyuuga tersebut.

"Apa ... yang bisa aku lakukan untuk membantumu, Naruto-kun?" Tanya Hinata ragu-ragu kepada Naruto. Entah mengapa lagi-lagi hatinya merasa tidak tenang untuk mendengar jawaban Naruto atas pertanyaan yang baru saja ia lontarkan.

"Jika kau tidak merasa keberatan, bisakah kau merancang busana pernikahan untukku nanti, Hinata-chan?" Tanya Naruto lagi to the point kepada sang gadis indigo. Hinata sendiri dibuat tercengang mendengar permintaan Naruto yang benar-benar di luar dugaannya tersebut, bagaimana bisa Naruto meminta bantuan semacam ini kepadanya?!

Hinata sudah cukup syok dengan kabar pernikahan yang baru saja Naruto beritahukan kepadanya. Sekarang sang direktur muda itu dengan mudahnya mengatakan jika ia ingin Hinata merancangkan busana untuk pernikahannya nanti. Apa tidak cukup bagi Naruto untuk terus selalu menyakiti dan memberi luka pada hatinya, eh?

"Ta-tapi Naruto-kun, kenapa harus aku yang merancang busana pernikahanmu? Lagipula apakah masih sempat untuk mengerjakannya jika pernikahanmu tinggal dua minggu lagi?" Ucap Hinata berkilah seolah dirinya menolak secara implisit permintaan Naruto kepadanya.

Naruto terdiam sejenak sebelum akhirnya ia mengeluarkan suaranya kepada Hinata. "Kau ... sama sekali tidak mau membantu sahabatmu ini eh, Hinata-chan?" Ucap Naruto sendu sambil menampilkan wajah yang dipenuhi oleh raut penuh kekecewaan di sana yang terlihat begitu kentara sekali.

"Aku pikir busana rancanganmulah yang terbaik, makanya aku meminta bantuanmu untuk mengerjakannya. Tapi kalau kau tak mau juga ta-..." Ucapan Naruto terlebih dahulu terpotong oleh perkataan Hinata.

"Baiklah, Naruto-kun! Aku akan membantumu, aku akan membuatkan rancangan busana pernikahanmu dan aku akan mengusahakannya agar selesai sebelum hari pernikahanmu tiba, Naruto-kun." Entah apa yang saat ini tengah merasuki Hinata, sampai-sampai dirinya dengan begitu lantang menyetujui permintaan Naruto tersebut.

Sungguh benar-benar terasa berlawanan dengan apa yang saat ini tengah dikatakan oleh hati kecilnya. 'Bodoh! Ada apa denganku saat ini?! Kami-sama, kenapa aku dengan begitu mudah menyetujui permintaan Naruto-kun begitu saja?!' Ucap Hinata lagi di dalam hatinya penuh rasa penyesalan atas keputusan yang telah diambilnya tersebut.

Kini sang gadis Hyuuga tersebut hanya mampu menggigit kuat bibir bawahnya untuk menyalurkan sedikit emosi yang menyelimuti hatinya saat ini. Kali ini ia tidak boleh kembali menangis di hadapan Naruto, ia harus membuktikan kepada Naruto bahwa dirinya adalah gadis yang kuat dan tegar meski tanpa adanya Naruto disisinya di masa depan.

Naruto pun dengan sigap langsung menarik Hinata ke dalam pelukan dada bidangnya yang terasa begitu hangat. Sebuah senyuman penuh rasa syukur kini terpatri pada wajah tampannya.

"Terima kasih, Hinata-chan. Kau memang benar-benar merupakan sahabat terbaikku yang selalu dapat aku andalkan kapanpun aku membutuhkanmu." Ucap Naruto antusias kepada Hinata yang kini tengah menenggelamkan wajah cantiknya dengan nyaman pada dekapan dada bidang sang pemuda Namikaze.

Kini sang gadis Hyuuga tersebut hanya mampu terisak pilu dalam dekapan hangat Naruto. Namun, sepertinya isakan pilu yang keluar dari bibir mungil Hinata tersebut hanya akan terdengar sebagai isakan tangis kebahagiaan di telinga sang pemuda blonde.

Ah, mungkin ini merupakan pelukan terakhir yang akan diberikan Naruto kepada Hinata saat ini. Oleh karena itu, Hinata semakin merengkuh penuh rasa rindu tubuh atletis sang direktur muda tersebut, seolah tak ingin menyia-nyiakan kesempatan terakhir yang dimilikinya saat ini.

.

.

.

.

.


Sesekali hembusan napas lelah keluar dari mulut mungil sang putri sulung Hyuuga, yang kini tengah melangkahkan kaki jenjangnya ke arah salah satu kamar yang terdapat di hotel berbintang lima ini. Rasanya langkahnya benar-benar terasa berat untuk segera bertemu dengan pemuda yang dicintainya sekaligus pemuda yang saat ini telah memporakporandakan hatinya.

Dua minggu telah berlalu semenjak Naruto meminta dirinya untuk merancang sebuah busana pernikahan untuknya. Beruntunglah Naruto karena Hinata dapat menyelesaikan busana pernikahannya dalam waktu yang terbilang cepat seperti ini.

Sebenarnya saat itu, ingin sekali rasanya Hinata menolak untuk merancang busana pernikahan untuk Naruto. Namun, entah mengapa lidahnya terasa begitu kelu hanya untuk sekedar mengeluarkan kata-kata penolakan tersebut kepada Naruto.

Sungguh rasanya Hinata tak mempercayai jika perasaan Naruto begitu cepat berpaling kepada gadis lain. Apakah semua ucapan Naruto kepadanya dulu itu hanyalah sebuah bualan semata? Jika benar, rasanya Hinata benar-benar menjadi gadis yang sangat bodoh karena dengan begitu mudahnya mempercayai ucapan manis sang pemuda Namikaze tersebut.

Tapi, bagaimana pun juga Hinata masih sangat mencintai Naruto sampai detik ini. Tak mengerti sebesar apapun rasa benci dan sakit hati yang telah ia rasakan karena pemuda blonde tersebut. Tetap saja Hinata tak pernah bisa mengikis perasaan cintanya kepada Naruto.

Hinata tidak rela, sangat tidak rela jika harus memupus harapannya untuk dapat bersanding dengan Naruto di pelaminan. Apakah benar-benar tidak ada jalan keluar lain untuk menghentikan pernikahan Naruto yang akan diselenggarakan esok hari?

Apakah benar-benar tak ada kesempatan lagi bagi Hinata untuk merasakan kembali manisnya hubungan kasih yang pernah terjalin di antara dirinya maupun Naruto? Entahlah, semuanya saat ini terasa begitu membingungkan bagi Hinata. Sekuat apapun serta sekeras apapun Hinata untuk mencari jawabannya, namun tak pernah ada satu pun titik terang atas semua pertanyaannya tersebut.

Tak terasa kini Hinata pun telah tiba di depan kamar hotel Naruto. Perasaan ragu sempat menyelimuti hatinya tatkala dirinya hendak menekan bel kamar hotel tersebut. Namun, setelah Hinata kembali menguatkan hati dan juga mengumpulkan keberanian, Hinata pun menekan bel kamar hotel tersebut dengan penuh percaya diri.

Ting tong

"Hm, sepertinya semuanya harus segera bersiap-siap. Kemungkinan sekitar dua puluh atau tiga puluh menit lagi aku akan segera ke sana." Ucap Naruto kepada seseorang yang berada di sebrang sana, sambil beranjak dari sofa yang saat ini tengah didudukinya.

Kini Naruto mulai melangkahkan kakinya ke arah pintu kamar hotelnya untuk menyambut kedatangan seseorang yang tadi menekan bel kamar hotelnya. Tangannya meraih kenop pintu dan diputarnya perlahan sampai pintu itu terbuka dan menampilkan sesosok gadis cantik bersurai panjang indigo, sang putri sulung Hyuuga.

Naruto tersenyum tipis kepada Hinata dan mempersilahkan Hinata untuk masuk ke dalam kamar hotelnya dengan memberikan sebuah anggukan kecil dari kepalanya. Hinata pun balas tersenyum canggung kepada Naruto. Entah mengapa Hinata benar-benar tidak sanggup untuk bertemu dengan Naruto saat ini.

Hatinya masih belum bisa merelakan dan melepaskan Naruto seutuhnya untuk bersanding dengan wanita lain selain dirinya di altar pernikahan esok hari. Sebisa mungkin saat ini Hinata tengah menahan mati-matian air matanya agar tidak keluar dari kedua mata indahnya. Sesak kini mulai merambati hatinya lagi saat dirinya harus menerima kenyataan bahwa Naruto tidak akan pernah menjadi miliknya lagi sampai kapan pun juga.

Hinata pun mengikuti Naruto untuk masuk ke dalam kamar hotel yang memang sengaja di sewa oleh Naruto untuk persiapan dirinya menjelang pernikahannya besok, karena memang acara pernikahannya sendiri akan dilaksanakan di ballroom hotel ini yang memang telah di tata dan di hias oleh pihak wedding organizer sejak kemarin, sehingga kini ballroom tersebut tampak lebih indah dan mewah dari biasanya.

Mereka berdua kini mulai menduduki sofa yang terdapat di dalam kamar hotel Naruto. Hinata duduk dengan begitu canggung sambil menundukkan kepalanya ke bawah. Kedua tangan mungilnya menggenggam dengan erat tali tas kertas yang dibawanya sedari tadi. Sementara Naruto kini masih terlibat percakapan dengan seseorang di telepon.

"Hm, baiklah kalau begitu. Aku mohon bantuan kalian semua. Terima kasih." Ucap Naruto mengakhiri sambungan teleponnya. Naruto pun meletakkan smartphone-nya di atas meja kecil yang terdapat di depan sofa.

Sapphire-nya kini mulai fokus kepada gadis indigo yang tengah duduk pada sofa di hadapannya yang tengah menekuk wajahnya ke bawah. Naruto pun berdeham seolah memberi tanda bahwa dirinya ingin memulai pembicaraan dengan Hinata. Hinata pun mengalihkan pandangan matanya ke arah Naruto.

"Ah, maaf membuatmu lama menunggu, Hinata-chan." Ucap Naruto tersenyum polos sambil menggaruk tengkuk kepalanya yang tidak gatal.

"Tidak apa-apa Naruto-kun. Kau pasti sangat sibuk untuk mempersiapkan acara pernikahanmu besok, kan?" Ucap Hinata sedikit berjengit saat mengucapkan kata 'pernikahanmu' kepada Naruto.

Maklum saja kata-kata itulah yang merupakan sumber utama rasa sakit pada hatinya saat ini. Sebuah senyuman keterpaksaan terpatri di wajah cantiknya yang tampak sedikit sendu saat ini.

"Hahaha ... Ya, begitulah Hinata-chan. Aku benar-benar sibuk mempersiapkan semuanya, oleh karena itu selama seminggu ini aku mengambil cuti dari kantor. Maaf merepotkanmu, sampai-sampai kau harus mengantar sendiri gaun dan juga jas pengantinku ke sini." Ucap Naruto penuh rasa penyesalan kepada Hinata.

"Ti- tidak masalah Naruto-kun." Tanggap Hinata sedikit kaku terhadap perkataan Naruto yang baru saja dilontarkan kepadanya. Kembali sebuah senyum tipis yang tampak sekali dipaksakan terpatri di kedua sudut bibir mungilnya.

"Boleh kulihat sekarang gaun dan juga jas pengantinnya, Hinata-chan?" Pinta Naruto halus kepada Hinata. Sang direktur muda itu pun mengulurkan tangan kanannya seolah meminta Hinata untuk segera menyerahkan busana pernikahannya.

Hinata hanya menganggukkan kepalanya canggung sambil menyerahkan tas kertas yang memang berisi gaun dan juga jas pengantin milik Naruto. Naruto pun mengeluarkan gaun dan jas pengantinnya dari dalam tas kertas tersebut.

Sebuah senyuman penuh arti kini tercipta pada wajah tampan Naruto tatkala dirinya mendapati gaun pengantin yang tampak begitu cantik dan indah, serta jas pengantinnya yang begitu elegan. Memang pilihannya tak pernah salah jika saat itu dirinya meminta sang designer muda ini untuk merancang busana pernikahannya. Sungguh hasil yang benar-benar terasa begitu memuaskan bagi sang pemuda blonde tersebut.

"Kau tahu Hinata-chan, busana pengantin rancanganmu ini benar-benar terlihat luar biasa! Aku yakin sekali jika calon pengantin wanitaku akan sangat terlihat cantik sekali mengenakan gaun pengantin rancanganmu ini, Hinata-chan." Ucap Naruto dengan kedua sapphire-nya yang menatap penuh kekaguman ke dalam amethyst Hinata.

Alih-alih merasakan perasaan bangga karena Naruto baru saja memuji busana pernikahan hasil rancangannya, Hinata kini hanya mampu terdiam sambil mengepalkan kedua tangannya erat di atas pahanya.

Sesak dan semakin sesak saja rasanya hati sang gadis Hyuuga tersebut mendengar penuturan sang pemuda Namikaze mengenai calon pengantin wanitanya. Lagi-lagi air mata itu berhasil lolos dari kedua mata indahnya, meskipun sedari tadi Hinata sudah berusaha sekuat tenaga untuk menahan cucuran air mata tersebut.

"Hm, Hinata-chan kenapa kau menangis lagi?" Tanya Naruto polos sambil menaikkan sebelah alisnya merasa heran dengan sikap Hinata yang tampak begitu aneh saat ini.

"Tidak, aku hanya merasa terlalu bahagia saja, Naruto-kun." Ucap Hinata lirih sambil berusaha menghapus aliran air mata di kedua pipi gembulnya.

"Aku sependapat denganmu, Naruto-kun. Pasti calon pengantin wanitamu itu akan terlihat sangat mempesona sekali jika ia mengenakan gaun pengantin rancanganku ini esok hari." Ucap Hinata lagi sambil tersenyum manis yang sarat akan perasaan pedih kepada Naruto.

Naruto hanya menganggukkan kepalanya singkat seolah kembali menegaskan perkataan yang baru saja diucapkan oleh sang putri sulung Hyuuga tersebut.

"Ano, Hinata-chan. Sebenarnya aku ingin meminta bantuanmu sekali lagi, apa kau tidak keberatan jika aku kembali merepotkanmu saat ini, Hinata-chan?!" Tanya Naruto berucap ragu-ragu kepada Hinata, takut jika sang putri sulung Hyuuga tersebut tidak dapat mengabulkan permintaannya kali ini.

"Apa yang bisa aku lakukan lagi untuk membantumu saat ini, Naruto-kun?" Tanya Hinata to the point kepada Naruto. Meskipun berat untuk menyetujui kembali permintaan yang akan diajukan oleh Naruto, namun kali ini Hinata ikhlas untuk melakukannya sebagai permintaan terakhir Naruto kepadanya.

"Bisakah ... bisakah kau mengenakan gaun pengantin ini dan menemaniku untuk berlatih mengucapkan ikrar suci di altar pernikahan saat ini, Hinata-chan?!" Kembali sang direktur Namikaze itu berucap ragu kepada sang gadis indigo tersebut.

Hinata kini hanya bisa tercengang dengan permintaan Naruto yang lagi-lagi di luar dugaannya. Hei, kenapa permintaan Naruto ini harus selalu disangkutpautkan dengan pernikahan pemuda blonde tersebut?

Hinata sudah cukup menderita hanya untuk merancang busana pernikahan Naruto, kini Naruto tiba-tiba saja memintanya untuk menemaninya berlatih mengucapkan ikrar suci di altar pernikahan, apakah saat ini sang direktur muda itu tengah bercanda kepadanya, eh?

"Na-Naruto-kun, kenapa tiba-tiba memintaku un-..." Ucapan Hinata terlebih dahulu terpotong oleh perkataan Naruto.

"Aku ... jujur saja aku benar-benar merasa gugup menghadapi pernikahanku esok hari. Meskipun seperti yang kau lihat saat ini keadaanku baik-baik saja, tetapi tidak untuk di dalam sini." Ucap Naruto sambil menunjuk dadanya dengan menggunakan jari telunjuknya, seolah mengisyaratkan bahwa jantungnya kini tengah berdegup kencang.

Ekspresi wajah tampan Naruto yang saat ini tengah diliputi raut kekhawatiran, seketika saja berhasil meluluhkan hati sang putri sulung Hyuuga tersebut. Lemah, entah mengapa dirinya merasa begitu lemah hanya untuk sekedar menolak permintaan Naruto kali ini.

Akhirnya meskipun terasa begitu enggan untuk melakukannya, Hinata pun menyetujui permintaan Naruto tersebut. Sebuah senyuman penuh arti pun tersungging pada kedua sudut bibir tegas Naruto.

Naruto pun menyerahkan gaun pernikahan calon pengantin wanitanya kepada Hinata, seolah meminta Hinata untuk segera mengganti pakaiannya. Sementara dirinya juga akan mengenakan jas pengantin miliknya sendiri.

.

.

.


"Kau tampak begitu cantik, Hinata-chan." Puji Naruto tersenyum tipis sambil menatap penuh kekaguman ke arah bayangan Hinata yang terpantul pada cermin di hadapan mereka.

Hinata yang mengenakan gaun pengantin rancangannya sendiri memang tampak begitu anggun dan mempesona saat ini. Gaun pengantin berwarna putih tanpa lengan dengan seutas tali yang melingkar di kedua lengan atasnya, serta bagian bawah gaun yang mengembang dan bergelombang memberikan kesan elegan kepada sang putri sulung Hyuuga tersebut.

Namun, sepertinya keeleganan yang terpancar dari gadis indigo itu tampak tak sempurna tanpa adanya sebuah senyuman yang terpatri di wajah cantiknya. Pandangan amethyst-nya menatap datar ke arah bayangan dirinya dan juga Naruto yang tercetak dengan persis di dalam cermin.

Meskipun saat ini gadis tersebut menampilkan ekspresi datar dan tenang, namun tentu saja berbanding terbalik dengan hatinya yang terasa begitu berkecamuk dengan berbagai emosi di dalamnya.

Sebisa mungkin ia tahan rasa sakit yang kini tengah menjalari hatinya itu dengan kembali menggigit kecil bibir bawahnya sampai sedikit mengeluarkan cairan kental berwarna merah, sementara kedua tangannya terkepal kuat di kedua sisi tubuh idealnya itu.

"Seandainya saja bayangan yang terdapat pada cermin tersebut menjadi kenyataan saat ini. Sepertinya aku akan menjadi pria paling bahagia di dunia ini karena bisa bersanding dengan gadis secantik dirimu, Hinata-chan." Ucap Naruto lagi berandai-andai kepada Hinata, mengungkapkan impiannya dulu untuk dapat bersanding dengan sang putri sulung Hyuuga.

Sontak saja perkataan Naruto tersebut sukses membuyarkan segala usaha Hinata untuk menahan air matanya agar tak mengalir keluar. Ucapan Naruto itu seakan mengingatkan Hinata kembali terhadap kesalahan terbodohnya yang begitu egois membiarkan begitu saja pemuda yang dicintainya itu pergi meninggalkannya.

Entah apa yang tengah merasuki Naruto saat ini, sampai-sampai sang direktur muda itu kembali mengungkit-ngungkit impian masa lalunya yang semakin mengiris pedih hati Hinata yang rapuh.

"Tapi, seperti yang kau tahu semuanya sudah terlambat kan, Hinata-chan? Bayangan ini hanya akan menjadi masa lalu saja bagi kita berdua. Mulai saat ini, kita akan meraih kebahagiaan kita masing-masing dengan pasangan kita yang sekarang. Benar kan, Hinata-chan?" Ucap Naruto lirih sambil menyunggingkan sebuah senyuman manis yang sarat akan kepedihan kepada Hinata.

Kini tembok pertahanan sang gadis Hyuuga pun seketika runtuh dan hancur berkeping-keping. Dengan cepat ia membalikkan tubuhnya dan menghamburkan dirinya untuk memeluk erat tubuh sang pemuda blonde tersebut.

Hiks hiks hiks

"Tidak! Tidak! Semuanya belum terlambat, Naruto-kun! Kita masih mempunyai kesempatan untuk bisa kembali bersama-sama lagi seperti dulu! Aku akan membawamu pergi dari sini, Naruto-kun! Aku akan membawamu melarikan diri dari pernikahanmu ini! Aku benar-benar tidak ingin kehilanganmu seperti ini, Naruto-kun! Tolong jangan tinggalkan aku seperti ini! Tolonglah, aku mohon kita pergi saja dari sini secepatnya, Naruto-kun!" Racau Hinata sambil terisak keras meluapkan segala isi hatinya yang saat ini tengah dirasakannya kepada Naruto.

Akhirnya, setelah sekian lama terkurung dalam sifat keegoisannya, kali ini sang gadis cantik itu mau untuk mengungkapkan perasaannya yang sebenarnya kepada Naruto.

Perlahan Naruto membalas pelukan Hinata tersebut dan merengkuh dalam-dalam tubuh lemah yang begitu dirindukannya itu. Diusapnya penuh kelembutan surai panjang berwarna dark blue tersebut, mencoba memberikan suatu ketenangan pada hati Hinata yang saat ini tampak tidak stabil.

"Maafkan aku, Hinata-chan. Meskipun aku ingin untuk melarikan diri dari pernikahan ini dan pergi bersamamu, tapi aku tidak mau kembali melukai hati dan perasaan seorang perempuan lagi. Kau pasti lebih tahu bagaimana perasaan sakit yang timbul saat aku mengkhianatimu dulu, bukan?" Ucap Naruto berbisik pelan di telinga Hinata, mengungkapkan penyesalannya karena tak bisa mengikuti keinginan Hinata yang mengajaknya pergi untuk meninggalkan pernikahannya esok hari.

Hiks hiks hiks

"Tapi, kau sama sekali tidak mencintai gadis itu, bukan? Meskipun aku belum mengetahui siapa gadis yang akan kau nikahi besok, tapi aku yakin kau tidak mencintainya! Katakan jika kau tidak mencintai gadis itu, Naruto-kun! Aku tahu, kau masih mencintaiku. Aku tahu itu dengan sangat jelas! Kau tidak bisa membohongi perasaanmu seperti ini, Naruto-kun!" Teriak Hinata keras disertai isak tangis yang terdengar semakin pilu di telinga Naruto.

Entah mengapa tubuh Hinata terasa begitu lemah saat ini, perlahan tubuh gadis itu merosot turun ke bawah. Namun, sebelum tubuh gadis itu benar-benar jatuh ke bawah, dengan sigap Naruto segera mempererat pelukannya terhadap tubuh Hinata.

"Kau tidak boleh seperti ini, Hinata-chan! Kau tidak boleh menjadi lemah hanya karena mengharapkanku kembali! Aku yakin suatu hari nanti kau bisa memperoleh seorang pemuda yang kau cintai melebihi perasaan cintamu kepadaku saat ini." Lagi, Naruto tak mau mengalah untuk melepaskan pernikahannya demi Hinata.

Hiks hiks hiks

"Kenapa kau begitu mempertahankan pernikahanmu ini, Naruto-kun? Katakan padaku kenapa kau tak mau melepas pernikahanmu ini?! Apakah kau tak merasa kasihan melihatku menderita seperti ini, Naruto-kun?" Ucap Hinata lagi meminta penjelasan tentang keputusan Naruto yang tak juga mengalah kepadanya.

"Sudah! Aku mohon jangan membahas tentang hal itu lagi, Hinata-chan." Pinta Naruto mengakhiri pembicaraan seputar pernikahannya tersebut. Hinata semakin terisak pilu mendengar kata-kata Naruto yang terkesan tidak peduli dengan perasaannya yang terasa hancur lebur saat ini.

Ternyata semuanya memang sudah terlambat bagi Hinata untuk kembali kepada pemuda yang dicintainya itu. Rasa egois itu ternyata memang bisa menghancurkan semua impian dan harapan yang dimiliki oleh gadis indigo tersebut.

Pada akhirnya ia harus menelan bulat-bulat semua konsekuensi yang dihasilkan dari sifat keegoisannya itu. Sepertinya ini merupakan pengalaman hidup terberat yang pernah dialami Hinata, selain menghadapi kematian ibunya saat dirinya masih kecil.

Hiks hiks hiks

"Ku mohon jangan menangis seperti ini, Hinata-chan!" Ucap Naruto berbisik lirih di telinga Hinata sambil mengeratkan pelukannya terhadap Hinata. Kini Hinata pun menangis sejadi-jadinya di dalam pelukan hangat sang pemuda Namikaze. Biarlah untuk terakhir kalinya Hinata merasakan dekapan lembut Naruto saat ini.

Hinata merasa lelah untuk terus meminta penjelasan kepada Naruto. Hinata sungguh merasa sesak karena pemuda blonde tersebut tak juga memberikan alasan yang jelas atas pertanyaan-pertanyaan yang telah ia lontarkan kepada pemuda Namikaze tersebut. Pada akhirnya Hinata memang harus mengalah untuk melepaskan Naruto selamanya ke dalam pelukan perempuan lain.

"Aku ... tidak akan lagi menghalangimu untuk melanjutkan pernikahanmu esok hari, Naruto-kun." Ucap Hinata mengatakan keputusannya dengan berat hati kepada Naruto. Sungguh ia tak bisa lagi membujuk Naruto untuk membatalkan pernikahannya esok hari.

"Terima kasih, Hinata-chan." Ucap Naruto pelan sambil menampilkan senyuman tipisnya, seolah merasa tenang karena Hinata tak lagi bersikap labil seperti tadi.

Kini Naruto mengangkat tubuh Hinata ala bridal style untuk membawanya ke ballroom hotel, tempat Naruto akan menyelenggarakan pernikahannya esok hari.

Hinata mengalungkan lemah kedua tangan mungilnya ke leher tegas Naruto. Menatap dengan intens setiap inchi wajah tampan sang pemuda blonde tersebut, seakan dirinya tak bisa lagi melihat kembali keindahan yang terpatri di wajah tampan Naruto. Kini mereka tengah menuruni anak-anak tangga untuk menuju ke ballroom hotel.

"Untuk yang terakhir kalinya, aku ingin mengatakan kepadamu jika sampai saat ini aku ... masih sangat mencintaimu, Naruto-kun." Ucap Hinata lirih kepada Naruto. Naruto hanya terdiam tak menanggapi perkataan sang gadis Hyuuga tersebut.

"Kumohon Hinata-chan, jangan mengatakan hal itu lagi! Tolong jangan membuat aku semakin merasa bersalah karena telah meninggalkanmu dulu." Ucap Naruto tegas pada akhirnya kepada Hinata. Pandangan kedua sapphire-nya kini mulai terfokus ke arah pintu ballroom hotel yang berjarak semakin dekat dengan posisi dirinya dan Hinata.

Hinata pun tak ingin berdebat lebih banyak lagi dengan Naruto saat ini. Gadis cantik itu lebih memilih untuk menutup mulutnya rapat-rapat tanpa berkomentar apapun terhadap pernyataan yang diucapkan oleh Naruto. Lelah, ia sudah terlalu lelah untuk kembali memohon kepada Naruto.

.

.

.


Akhirnya, mereka pun tiba di pintu ballroom hotel yang masih tertutup itu. Naruto pun menurunkan dengan perlahan tubuh mungil Hinata dan membantunya agar dapat berdiri stabil dengan menggenggam salah satu tangannya. Hinata sendiri hanya menundukkan lemah wajah cantiknya menatap pantulan dirinya pada lantai marmer di bawahnya.

Didorongnya pintu ballroom hotel yang tampak begitu mewah dan besar itu dengan sebelah tangan kekar milik Naruto. Seulas senyuman penuh arti kini kembali tercipta di kedua sudut bibir tegas Naruto tatkala pintu ballroom hotel tersebut telah terbuka sepenuhnya.

Sang pemuda blonde tersebut meletakkan jari telunjuknya di depan bibir tegasnya seolah memberikan isyarat untuk diam entah kepada siapa.

"Mau sampai kapan kau menundukkan wajahmu seperti itu, Hinata-chan?" Ucap Naruto lembut kepada Hinata, berusaha untuk mengalihkan perhatian Hinata agar terfokus kepadanya.

Hinata pun dengan enggan mengangkat kepalanya perlahan-lahan ke atas untuk menatap sang pemuda blonde tersebut. Amethyst itu menatap dengan begitu sendu ke dalam sapphire milik Naruto.

"Kenapa kau tidak mengatakan apapun, Hinata-chan?! Kau ... tidak mau mengucapkan sesuatu kepada para tamu undangan yang sudah hadir di sini eh, Hinata-chan?!" Tanya Naruto sambil terkekeh pelan kepada Hinata yang saat ini tampak kebingungan dengan ucapan Naruto. Segera saja Hinata mengalihkan pandangan matanya ke arah dalam ballroom hotel berbintang lima tersebut.

Raut wajah kesedihan yang sedari tadi meliputi wajah rupawan gadis tersebut seketika saja tergantikan oleh raut wajah ketidakpercayaan dengan apa yang saat ini tengah ia lihat di dalam ballroom hotel berbintang lima tersebut.

Keluarganya, kedua orang tua Naruto, Sasuke dan Sakura, sahabat-sahabatnya, rekan-rekan kerjanya serta rekan-rekan bisnis Namikaze Corp dan juga Hyuuga Corp, kini tengah berkumpul bersama di dalam ballroom hotel sambil melemparkan sebuah senyuman penuh kebahagiaan ke arah dirinya dan juga Naruto.

Dilihatnya kini altar pernikahan yang tampak begitu cantik dan indah dengan hiasan bunga-bunga kecil berwarna putih. Sang pendeta pun kini dengan setia menunggu mereka di depan altar pernikahan. Seketika saja tubuh sang gadis Hyuuga tersebur bergetar hebat tampak tak mempercayai dengan semua kenyataan yang saat ini tengah dihadapinya.

Kembali tubuh Hinata hampir terjatuh ke bawah jika saja Naruto tidak dengan sigap merengkuh tubuh mungil itu ke dalam pelukannya.

Hiks hiks hiks

"Sebenarnya ... apa yang tengah kau rencanakan saat ini Naruto-kun?! Kenapa kau begitu tega membohongiku sampai sejauh ini?" Tanya Hinata sambil terisak pilu sekaligus penuh kelegaan kepada Naruto.

Tatapan sapphire itu melembut seketika tatkala mendengar isakan Hinata yang terdengar begitu memilukan. Sebenarnya sejak awal kepulangan Naruto ke Jepang, Naruto benar-benar tidak kuasa untuk selalu terus menerus mendengar isakan tangis yang keluar dari mulut mungil gadis yang dicintainya itu.

Tapi sebisa mungkin Naruto bersikap tidak terjadi apa-apa demi berjalannya rencana kejutan yang telah ia persiapkan bagi sang gadis Hyuuga saat ini. Meskipun harus dilalui dengan banyaknya air mata yang mengalir jatuh dari kedua mata indah Hinata, tapi Naruto sungguh-sungguh ingin memberikan suatu kesan yang berarti bagi kesetiaan cinta mereka berdua.

Pada awalnya Naruto memang berpikir untuk menyerah saja terhadap perasaannya terhadap Hinata. Namun, suatu waktu Sasuke datang menemuinya ke Amerika dan mengatakan kepadanya bahwa Hinata masih sangat mencintai dirinya sampai saat ini.

Hati sang pemuda blonde pun akhirnya luluh untuk kembali mendapatkan hati gadis yang dicintainya. Kali ini tidak hanya sekedar mengejar cinta sebagai pasangan kekasih saja, namun Naruto ingin mengejar cinta sebagai pasangan abadi sehidup semati bersama Hinata.

Oleh karena itu, Naruto pun sengaja membuat skenario ini untuk memberikan kejutan terhadap sang gadis Hyuuga tersebut. Sebelumnya Naruto juga sudah menemui sang kepala keluarga Hyuuga Hiashi untuk meminta restu mempersunting gadis yang dicintainya tersebut.

Tentu saja Hiashi dengan tangan terbuka lebar menyambut dan menerima dengan begitu antusias dan bahagia lamaran sang direktur muda tersebut terhadap putri sulungnya.

Diusapnya dengan penuh kelembutan surai panjang berwarna dark blue tersebut. "Maafkan aku, Hime. Aku hanya ingin memberikan kejutan pernikahan kepadamu saja. Maaf jika aku lancang seperti ini, tapi aku benar-benar tak mau kehilangan dirimu lagi. Aku ingin segera meresmikan hubungan kita ke jenjang hubungan yang lebih serius lagi." Ucap Naruto lirih kepada Hinata.

Sungguh Naruto begitu takut jika Hinata justru malah akan menolak kejutan yang ia berikan saat ini kepadanya. Pikiran dan perasaannya saat ini benar-benar cemas dengan sikap Hinata yang hanya terdiam tanpa memberikan tanggapan terhadap perkataannya tersebut.

"Apa kau membenciku, Hime? Apa kau marah dengan semua ini, Hime?" Tanya Naruto lagi berbisik lemah di telinga Hinata.

Alih-alih mendapatkan jawaban dari mulut mungil sang gadis Hyuuga, Naruto justru mendapati Hinata yang memeluk tubuh atletisnya dengan begitu erat.

"Naruto-kun bodoh! Kau benar-benar bodoh! Bagaimana mungkin aku bisa marah jika kau memberiku kejutan pernikahan yang begitu mewah seperti ini, hah!" Ucap Hinata sambil terisak haru dalam bidangnya dada sang pemuda Namikaze.

Naruto terkekeh pelan karena telah menduga bahwa Hinata akan marah karena skenario yang dibuatnya. Ya, Hinata memang berbeda dari gadis kebanyakan lainnya. Hatinya benar-benar tulus dan juga murni. Sungguh Naruto merasa bahagia karena mendapatkan Hinata sebagai pujaan hatinya.

Kini Naruto pun melepaskan pelukannya terhadap Hinata. Tangannya meraih wajah rupawan sang gadis Hyuuga untuk sekedar menghapus aliran air mata yang masih keluar dari kedua mata indahnya.

"Bisakah kita mulai pengucapan ikrar suci kita saat ini, Hinata-chan?" Tanya Naruto sambil tersenyum tipis ke arah Hinata. Hinata hanya menganggukkan pelan kepalanya seolah menyetujui ucapan Naruto.

Hyuuga Hiashi pun kini sudah berdiri dengan gagah di hadapan Hinata dengan membawa sebuket bunga pernikahan. Naruto segera pamit diri untuk melangkahkan kaki kekarnya ke arah altar pernikahan dan menunggu sang calon pengantin wanitanya.

Hinata dengan refleks mengalungkan lengannya pada lengan ayahnya yang begitu sangat dicintainya, sementara tangannya yang lain kini dengan anggun menggenggam buket bunga yang tadi diberikan oleh Hiashi. Kini perlahan mereka pun berjalan dengan penuh rasa suka cita ke altar pernikahan yang tampak begitu mewah itu.

Senyuman kebahagiaan tak henti-hentinya terputus di wajah ayu Hinata. Hatinya benar-benar terasa begitu berbunga-bunga saat ini. Jantungnya berdebar semakin tak karuan karena sebentar lagi ia akan segera mengukuhkan cintanya bersama Naruto dalam sebuah ikatan suci pernikahan.

Tak terasa jarak di antara mereka pun kini telah tereliminasi dengan begitu cepatnya. Hiashi dengan penuh kepercayaan melepaskan putri kesayangannya kepada sang pemuda Namikaze tersebut.

Keduanya saling meraih tangan pasangannya masing-masing untuk saling menggenggam dan memberikan kekuatan jika mereka yakin untuk meneguhkan cinta mereka dalam bahtera rumah tangga. Kini sang pendeta pun sudah siap untuk memberkati pernikahan Naruto dan juga Hinata.

"Namikaze Naruto, bersediakah Saudara menikah dengan Hyuuga Hinata yang hadir di sini dan mencintainya dengan setia seumur hidup baik dalam suka maupun dalam duka?" Tanya sang pendeta kepada Naruto dengan penuh khidmat.

Naruto menampilkan sebuah senyuman tipis yang sarat akan kebahagiaan. "Ya, saya bersedia." Jawab Naruto tegas penuh keyakinan kepada sang pendeta.

Sama halnya seperti Sakura, Hinata pun benar-benar merasa terharu atas jawaban yang diberikan oleh sang pemuda Namikaze tersebut. Air mata kebahagiaan pun tak kuasa ia bendung dari kedua pelupuk matanya.

Para tamu undangan yang hadir di sana juga tampak menitikkan air mata suka cita atas jawaban sang direktur muda tersebut. Kini tampak sang pendeta mulai beralih untuk bertanya kepada Hinata.

"Hyuuga Hinata, bersediakah Saudara menikah dengan Namikaze Naruto yang hadir di sini dan mencintainya dengan setia seumur hidup baik dalam suka maupun dalam duka?" Tanya sang pendeta lagi penuh khidmat kepada Hinata.

"Ya, saya bersedia." Ucap Hinata tanpa ragu kepada sang pendeta. Amethyst-nya saat ini benar-benar terlihat memancarkan sinar keyakinan yang terasa begitu kentara sekali.

"Atas nama Allah dan di hadapan para hadirin sekalian, saya menegaskan bahwa pernikahan yang telah diresmikan ini adalah pernikahan yang sah. Semoga upacara kudus ini menjadi sumber kekuatan dan kebahagiaan bagi Saudara berdua. Yang dipersatukan Allah, janganlah diceraikan manusia." Ucap pendeta tersebut memberkati pernikahan Naruto dan Hinata.

Dengan begitu terikatlah sudah kedua insan ini dalam sebuah takdir pernikahan yang suci dan abadi.

"Silahkan masing-masing dari kalian menyematkan cincin pernikahan pada jari manis pasangannya." Ucap pendeta itu lagi.

Hanabi maju ke altar pernikahan sambil membawa dua cincin pernikahan yang akan menjadi simbol ikatan suci mereka saat ini. Wajah cantik sang putri bungsu Hyuuga tersebut tak henti-hentinya mengulas sebuah senyum kebahagiaan tatkala mimpinya sedari dulu akhirnya terwujud hari ini. Sungguh ia merasa begitu senang karena Naruto telah resmi menjadi kakak iparnya saat ini.

Tanpa ragu, Naruto pun langsung meraih cincin bermahkotakan purple diamond yang tampak begitu mewah dan indah. Disematkannya cincin tersebut pada jari manis Hinata yang masih terbalut oleh sarung tangan tipis itu.

Sebuah senyuman manis terpatri pada wajah putih sang gadis Hyuuga tatkala Naruto dengan sukses menyematkan cincin tersebut pada jari manisnya.

Kini giliran Hinata yang menyematkan cincin pernikahan Naruto pada jari manis sang putra tunggal Namikaze tersebut. Tak butuh waktu lama sampai cincin itu terpasang pada jari manis Naruto. Para tamu undangan pun bertepuk tangan dengan begitu meriah menyambut pernikahan kedua sejoli tersebut.

"Silahkan pengantin pria untuk mencium pasangannya." Ucap pendeta itu lagi dengan sopan kepada Naruto.

Tanpa banyak bicara lagi, Naruto segera saja mengeliminasi jarak yang tercipta di antara dirinya dan juga Hinata. Ia sudah terlalu rindu untuk kembali mengecap rasa manis yang selalu diberikan oleh bibir ranum Hinata tersebut.

Naruto perlahan meraih tengkuk belakang Hinata untuk semakin mendekatkan wajah mereka, dikecupnya dengan penuh kelembutan bibir mungil sang gadis Hyuuga tersebut yang terasa begitu basah itu.

Kecupan itu perlahan berubah menjadi sebuah lumatan-lumatan kecil yang disertai riuh tepuk tangan dari para tamu undangan yang ikut merasakan kebahagiaan yang kini tengah dirasakan oleh pasangan Naruto dan Hinata,

.

.

.

.

.


Pasangan pengantin baru ini kini baru saja memasuki kamar hotel mereka. Sang pengantin pria membawa tubuh pengantin wanitanya dengan begitu romantis dalam pangkuan bridal style-nya. Diletakkannya dengan begitu hati-hati tubuh mungil sang gadis Hyuuga di atas ranjang king size hotel berbintang lima tersebut.

Alih-alih mengganti pakaiannya, Naruto langsung saja menyambar bibir mungil sang nyonya Namikaze baru tersebut. Diciumnya dengan penuh kerinduan bibir ranum Hinata yang lembut itu. Selang beberapa menit berciuman mesra, kedua sejoli ini pun melepaskan pagutan mereka tatkala pasokan oksigen telah menipis di dalam paru-paru mereka.

Naruto menempelkan intim dahinya pada dahi Hinata, sapphire-nya menatap penuh damba kepada gadis yang dicintainya tersebut.

"Aku mencintaimu, Hime." Ucap Naruto lembut sambil mengulas sebuah senyuman kebahagiaan kepada Hinata.

"Aku juga mencintaimu, Naruto-kun." Ucap Hinata balas mengungkapkan perasaannya kepada Naruto dengan sebuah senyuman manis terukir di wajah cantiknya.

Naruto pun mulai kembali mengeliminasi jarak di antara mereka, namun dengan cepat Hinata mendorong pelan tubuh Naruto untuk kembali menjauh darinya.

Semburat merah tipis kini tampak menghiasi wajah putih Hinata. Hinata sungguh tahu dan mengerti apa yang akan dilakukan oleh Naruto selanjutnya terhadapnya saat ini, oleh karena itu Hinata memang sengaja untuk menghentikan tindakan Naruto tersebut.

"Na-Naruto-kun, bisakah kita melakukannya setelah kita membersihkan terlebih dahulu tubuh kita?" Tanya Hinata sedikit ragu kepada Naruto yang saat ini tengah menatap penuh keheranan kepada Hinata.

"Kau ... ingin kita mandi terlebih dahulu, Hime?" Tanya Naruto menegaskan perkataan Hinata sebelumnya. Hinata hanya menganggukkan kepalanya canggung, sementara wajahnya semakin memerah tak karuan.

"Ano, maksudnya aku dan kau masing-masing membersihkan diri sendiri. Maaf aku harus mempersiapkan diri terlebih dahulu sebelum melakukannya, Naruto-kun." Ucap Hinata sedikit merasa menyesal kepada Naruto.

Tampak raut kekecewaan pada wajah tampan Naruto saat ini, namun sebisa mungkin Naruto berusaha untuk segera menetralisir kekecewaan itu dengan menampilkan sebuah senyuman tipis kepada Hinata. Dibelainya dengan lembut pipi gembul sang gadis indigo tersebut.

"Kau boleh mandi terlebih dahulu, nanti aku akan mandi setelah kau selesai, bagaimana?" Tanya Naruto lembut kepada Hinata.

"Ya, baiklah Naruto-kun." Ucap Hinata tersenyum manis kepada suaminya tersebut. Sungguh Hinata merasa sangat senang karena Naruto begitu bersikap lembut kepadanya saat ini. Segera saja Hinata beranjak menuju ke kamar mandi setelah sebelumnya Naruto melepaskan tindihannya terhadap tubuh mungil istrinya tersebut.

.

.

.


Semilir angin malam kini membelai dengan begitu lembut wajah cantik sang gadis indigo yang saat ini tengah berdiri menatap hamparan bintang-bintang kecil di atas langit dari balkon kamar hotelnya. Seulas senyuman tipis terpatri pada wajah cantiknya tatkala menikmati keindahan sinar yang dipancarkan oleh bintang-bintang tersebut.

Pikirannya kembali melayang pada kejadian yang terjadi beberapa jam yang lalu, saat dirinya dan Naruto mengucapkan ikrar janji suci pernikahan di hadapan Kami-sama untuk selalu mencintai, menyayangi dan menjaga satu sama lain sampai maut memisahkan mereka.

Sungguh Hinata tak mempercayai bahwa ternyata dirinya-lah yang merupakan calon pengantin wanita dari sang putra tunggal Namikaze tersebut. Padahal selama dua minggu ini, Hinata selalu merasa tertekan saat tahu bahwa Naruto sudah memiliki gadis lain yang dicintainya.

Terlebih lagi saat Naruto mengatakan bahwa dirinya akan segera menikah, semakin membuat hancur hati dan perasaan sang gadis indigo tersebut. Hinata benar-benar tak tahu apa maksud dari semua skenario yang dibuat oleh Naruto selama ini. Tak tahukah Naruto, bahwa Hinata selama ini menderita karena skenario yang dibuatnya?

Pertama, saat mereka tengah melakukan pemotretan di kota Biei, Naruto tiba-tiba saja mengatakan bahwa dirinya akan menyerah terhadap perasaannya kepada Hinata dan memilih untuk kembali menjalin ikatan persahabatan seperti sedia kala.

Kedua, Naruto tiba-tiba saja meninggalkan dirinya ke Amerika selama sebulan tanpa memberikan kabar sedikit pun kepadanya. Terlebih lagi, pada awalnya Itachi berbohong dengan mengatakan bahwa Naruto pergi ke Tokyo karena ada urusan mendadak di sana.

Ketiga, saat Naruto pulang dari Amerika dua minggu lalu dengan membawa sebuah kabar gembira yang tentu saja terdengar sebagai kabar buruk bagi Hinata. Kabar rencana pernikahan sang pemuda Namikaze yang terkesan tiba-tiba itu seketika saja membuat hancur dunia dan harapan Hinata terhadap pemuda yang dicintainya itu.

Tapi anehnya, kini semua perasaan sakit itu menguap begitu saja tatkala Naruto memberikan sebuah kejutan yang tak ternilai harganya tadi siang. Sebuah kejutan yang benar-benar membuat hidup Hinata semakin terasa sempurna saja dengan keberadaan Naruto sebagai pendamping hidupnya. Sungguh Hinata tak bisa menahan air mata kebahagiaannya untuk keluar dari kedua mata indahnya tadi siang.

"Kenapa kau tidak menungguku di dalam, Hime?" Tanya Naruto yang tiba-tiba saja datang dari arah dalam sambil mengeringkan surai blonde-nya yang basah dengan menggunakan sebuah handuk kecil berwarna putih. Sementara tubuhnya kini tengah terbalut oleh sebuah jubah mandi berwarna biru langit senada dengan warna kedua iris sapphire-nya.

Pertanyaan Naruto sukses membuyarkan lamunan sang gadis Hyuuga tersebut. Perlahan Hinata membalikkan tubuhnya untuk menghadap ke arah Naruto yang kini semakin dekat berjalan ke arahnya. Gadis cantik itu menyunggingkan sebuah senyuman tipis yang ditujukannya kepada Naruto.

"Aku hanya ingin mencari angin segar saja sebentar di sini, Naruto-kun." Ucap Hinata sambil meraih handuk kecil dari tangan Naruto dan mengambil alih untuk mengeringkan rambut basah Naruto, tatkala sang suaminya itu kini sudah berdiri tepat di hadapannya.

Naruto pun sedikit merendahkan tubuhnya agar mempermudah Hinata untuk membantu mengeringkan rambutnya. Pemuda Namikaze itu menampilkan sebuah senyuman manis yang terlihat begitu menawan pada wajah tampannya.

"Terima kasih, Hime." Ucap Naruto lembut sambil menarik pinggang ramping Hinata dengan menggunakan kedua tangan kekarnya untuk mengeliminasi sedikit jarak yang tersisa di antara dirinya dan istrinya tersebut.

Hinata sendiri tidak mempermasalahkan tindakan Naruto kepadanya saat ini. Justru Hinata merasa sangat bahagia karena kini mereka berdua bisa kembali berhubungan mesra seperti sedia kala.

Hinata mengeringkan terlebih dahulu rambut bagian depan sang pemuda Namikaze tersebut. Di acak-acaknya dengan gemas rambut blonde suaminya itu dengan menggunakan handuk kecil yang sebelumnya telah ia ambil dari Naruto. Naruto sendiri hanya tersenyum kecil melihat istrinya yang bertindak demikian kepadanya.

Setelah dirasa cukup kering, kini Hinata beralih untuk mengeringkan rambut Naruto bagian belakang. Naruto sendiri kini tengah menyanggakan keningnya dengan nyaman pada bahu mungil Hinata tanpa melepaskan pelukannya terhadap tubuh mungil Hinata. Kedua sapphire-nya terpejam sesaat guna memanjakan indera penciumannya dengan menghirup aroma lavender yang menguar dari tubuh istrinya.

Naruto begitu merindukan aroma tubuh Hinata ini karena baginya aroma tubuh Hinata itu seperti obat sedatif yang dapat memberi perasaan tenang pada hati dan juga pikirannya. Sungguh Naruto benar-benar merasa menyesal telah meninggalkan gadisnya itu selama sebulan pergi ke Amerika tanpa memberi sedikit pun kabar mengenai keadaannya di sana.

Naruto tahu bahwa sikapnya dulu adalah sikap seorang pengecut yang hanya bisa melarikan diri dari masalah yang tengah dihadapinya. Memang sebuah omong kosong jika Naruto ingin melepaskan perasaannya terhadap Hinata hanya karena ia tak ingin melihat Hinata selalu menderita karenanya.

Egois, entah mengapa dirinya saat itu begitu egois untuk meninggalkan gadis yang dicintainya itu dalam sebuah luka hati yang begitu dalam. Kenapa ia tidak bisa berjuang lagi saat itu untuk meraih hati Hinata? Kenapa ia malah menghindari dan menjauhi gadis itu, tanpa tahu bahwa gadis itu semakin menderita karena sikapnya tersebut?

Jika saja saat itu Naruto bisa sedikit lebih bersabar, maka ia tak perlu repot-repot menunggu lama seperti ini untuk mempersunting Hinata menjadi istrinya. Ah, ia jadi ingat bahwa dirinya sama sekali belum mengucapkan kata maaf kepada Hinata karena telah membuatnya menderita sampai sejauh ini.

"Selesai, Naruto-kun." Ucap Hinata tersenyum senang saat dirinya sudah selesai mengeringkan semua bagian surai blonde Naruto. Kini Hinata mengalungkan handuk kecil yang telah dipakainya pada leher tegas Naruto.

"Ayo, kita ma-... Ekh?!" Hinata tidak melanjutkan perkataannya karena merasakan ada setetes air yang jatuh membasahi tangannya.

'Apakah Naruto-kun tengah menangis saat ini?' Tanya Hinata merasa penasaran di dalam hatinya.

"Maaf. Tolong maafkan semua kesalahan yang telah kulakukan kepadamu selama ini, Hime." Ucap Naruto lirih kepada Hinata, sambil mengeratkan pelukan tangannya terhadap tubuh mungil Hinata. Wajah tampannya kini ia sembunyikan dengan nyaman pada perpotongan leher jenjang istrinya tersebut.

"Na-Naruto-kun ... Sebenarnya ada apa? Kenapa kau tiba-tiba saja meminta maaf kepadaku?" Tanya Hinata penasaran sambil balas memeluk tubuh kekar Naruto dan mengelus dengan penuh kelembutan punggung tegap suami blonde-nya itu.

Sedikit perasaan khawatir kini mulai merambati hati sang gadis indigo tersebut tatkala Naruto hanya bersikap diam dan tidak menjawab pertanyaannya. Perlahan Hinata mengalihkan tangannya untuk mencengkram kedua bahu kekar Naruto dan membawa tubuh pemuda itu untuk melepaskan pelukannya terhadap dirinya.

Ditatapnya dengan penuh rasa kasih sayang wajah tampan di hadapannya yang kini terlihat begitu rapuh. Kedua tangan mungil Hinata menangkup kedua sisi wajah Naruto dan perlahan Hinata mendekatkan wajahnya dengan wajah Naruto.

Dikecupnya lembut bibir tegas sang pemuda yang telah resmi menjadi suaminya itu. Seulas senyum hangat mengembang di wajah cantik Hinata yang tentu saja berhasil membuat Naruto membuka mulutnya untuk berbicara kepada istri tercintanya itu.

"Apakah kau tak ingin meminta penjelasan terhadap semua sikapku kepadamu selama ini, Hime?" Tanya Naruto pelan sambil menaikkan sebelah alisnya ke atas, merasa heran karena Hinata tak juga mengungkit-ngungkit mengenai hal ini kepadanya.

Mendengar pertanyaan Naruto, menciptakan sebuah senyuman simpul pada paras cantik Hinata. Hinata kemudian menggelengkan pelan kepalanya seolah memberikan tanda bahwa tidak ada yang ingin ia tanyakan kepada Naruto.

"Pada awalnya memang aku merasa penasaran dengan semua sikapmu selama ini kepadaku. Terlalu banyak pertanyaan kenapa, kenapa, kenapa dan kenapa Naruto-kun melakukan semua hal menyakitkan seperti itu terhadapku? Namun, semua itu terjawab sudah saat tadi siang kau memberikanku sebuah kejutan pernikahan yang terasa begitu membahagiakan bagiku." Terang Hinata menjelaskan alasan mengapa dirinya tak mempunyai pertanyaan akan sikap buruk Naruto selama ini kepadanya.

"Apa kau bersungguh-sungguh, Hime?" Tanya Naruto lagi agak sedikit ragu dengan pernyataan yang diucapkan oleh istrinya tersebut. Sapphire-nya kini menatap dengan begitu intens ke dalam amethyst indah milik Hinata.

Sebuah senyum ketulusan kini terpatri pada wajah tampannya tatkala dirinya menemukan sorot keyakinan yang dipancarkan oleh kedua mata indah Hinata.

"Aku selalu bersungguh-sungguh terhadap perasaan cintaku terhadapmu, Naruto-kun." Ucap Hinata penuh ketulusan kepada Naruto.

"Tapi ... entah mengapa aku ingin sekali memberikanmu hukuman atas semua sikap burukmu kepadaku selama ini!" Ucap Hinata mengerling jahil sambil terkekeh pelan kepada suaminya tersebut.

"Kau pantas melakukannya, Hime. Kau ingin menghukumku seperti apa? Apa kau ingin menamparku atau ka-..." Ucapan Naruto terinterupsi oleh tindakan Hinata yang tiba-tiba saja menangkup wajah tampannya dan tanpa ragu mendaratkan sebuah kecupan lembut pada dahinya. Sontak saja sang pemuda Namikaze tersebut tak berkutik dibuatnya.

Bagaimana mungkin hukuman yang diberikan Hinata adalah sebuah ciuman yang justru dapat dikatakan merupakan sebuah hadiah terindah baginya. Rasanya tidak sebanding dengan penderitaan yang telah ia berikan kepada Hinata selama ini. Ah, rupanya gadisnya ini memang penuh dengan kejutan, eh?

"Ini hukuman pertamamu karena dulu kau telah mengikuti sandiwara bodoh yang dibuat oleh Sasuke-kun!" Ucap Hinata tegas kepada Naruto namun masih terdengar nada candaan di dalam sana.

Kini Hinata beralih mencium dengan lembut pipi kanan sang pemuda blonde. "Ini hukuman keduamu karena kau dengan seenaknya memutuskan untuk menyerah dalam mendapatkan hatiku kembali saat di kota Biei." Amethyst-nya menatap penuh rasa sayang ke dalam sapphire Naruto yang tampak bersinar cerah.

Ciuman lembutnya kini beralih pada pipi kiri sang direktur muda tersebut. "Ini hukuman ketigamu karena kau pergi meninggalkanku secara tiba-tiba ke Amerika selama sebulan tanpa memberikan sedikit pun kabar terhadapku."

"Hukuman terakhir, ini merupakan hal yang benar-benar menghancurkan semua impianku karena kau mengatakan bahwa kau akan menikahi seorang gadis yang sama sekali tidak aku ketahui keberadaannya." Ucap Hinata lirih sambil menarik perlahan tengkuk belakang Naruto dan menyatukan kedua bibir mereka intim.

Dikecupnya perlahan bibir tegas sang pemuda Namikaze tersebut, perlahan ia buka mulutnya untuk melumat lembut bibir bawah Naruto dengan begitu intens. Segera saja sang pemuda Namikaze itu mengambil alih untuk memimpin ciuman mesra mereka saat ini.

Dilumatnya lembut bibir ranum Hinata yang terasa begitu memabukkannya tersebut. Setiap inci permukaan bibir tipis milik istrinya itu dilumatnya dengan penuh perasaan tulus yang mengalir begitu saja dari hati kecilnya.

Kedua tangan Naruto pun kini sudah kembali memeluk posesif tubuh mungil istrinya tersebut. Sementara Hinata sendiri kini tengah mengalungkan dengan nyaman kedua tangannya pada leher tegas Naruto.

Lumatan lembut yang diberikan bibir tegasnya pada bibir bawah Hinata kini mulai berubah menjadi sebuah lumatan yang cukup panas dan intens. Naruto pun tanpa ragu melesakkan lidahnya ke dalam mulut hangat sang istri guna mencari kesenangan lain dalam kegiatan ciuman mesra mereka saat ini.

Diajaknya berdansa dengan begitu lihai lidah sang gadis indigo tersebut. Saling bertautan dan saling mendorong satu sama lain dengan begitu bersemangat seolah hal tersebut benar-benar hal yang terasa menyenangkan. Kepala mereka pun bergerak tak menentu mengikuti setiap gerakan yang dilakukan oleh pasangan masing-masing.

Suara kecupan demi kecupan tercipta di sela-sela pagutan panas bibir mereka. Bahkan kini entah sudah berapa banyak saliva yang mengalir dari mulut keduanya sejak pertama kali mereka berciuman mesra. Namun, mereka sama sekali tak berniat untuk segera mengakhiri kegiatan mereka yang sedikit panas ini.

Kini bibir tegas Naruto mulai beralih untuk mengecupi setiap inci wajah cantik istri yang dicintainya itu. Dari mulai dahi Hinata, kedua kelopak mata Hinata, hidung mancung Hinata, kedua pipi gembul Hinata, dagu Hinata sampai terakhir kecupan itu kembali lagi pada bibir merah Hinata yang semakin menggoda penglihatan sang pemuda Namikaze tersebut.

Kembali ia lumat dengan penuh kelembutan bibir bawah Hinata yang tidak pernah bosan untuk Naruto rasakan setiap sensasi sentuhannya yang begitu menggugah nafsu terpendam di dalam dirinya.

Hinata pun tidak hanya tinggal diam, kini ia pun balas melumat bibir atas suaminya dengan begitu bergairah, merasa tak ingin kalah dengan perlakuan Naruto yang memanjakannya dengan begitu lembut. Naruto pun menyeringai tipis di sela-sela pagutan mesra di antara dirinya dan Hinata.

Istrinya ini memang cukup pandai untuk membuat hatinya menjadi senang dan bahagia saat ini. Di saat-saat tertentu ternyata sifat pendiam istrinya ini memang bisa berubah menjadi lebih agresif daripada dirinya. Namun, tentu saja Naruto tidak mempermasalahkan hal tersebut karena sikap agresif Hinata lebih menyenangkan dan lebih terlihat manis di kedua matanya saat ini.

.

.

.


-Start for Lemon-

.

.

.

.

.

Naruto semakin merengkuh dalam tubuh indah Hinata tersebut ke dalam pelukannya, yang saat ini ia yakini hanya terbalut oleh selapis jubah mandi berwarna senada dengan jubah mandi miliknya.

Naruto tahu jika Hinata juga memang menginginkan dirinya seutuhnya saat ini, menginginkan penyatuan cinta mereka yang benar-benar real pada malam ini dengan penuh nuansa keromantisan.

Ciuman mereka semakin dalam saja tatkala Hinata semakin menarik tengkuk belakang Naruto dan menekannya dengan cukup kuat agar pagutan bibir mereka tidak terlepas begitu saja. Kini Naruto pun tidak tinggal diam, kedua tangannya dengan lihai menangkup kedua buah dada Hinata yang berukuran besar tersebut, yang tentu saja membuat Hinata mendesah pelan di sela-sela ciuman panas mereka.

Meskipun masih terbalut oleh jubah mandi tapi masih terasa begitu kenyal pada genggaman tangan Naruto. Naruto perlahan mengelus dengan lembut kedua gumpalan daging kenyal milik Hinata tersebut. Tubuh gadis itu serasa menegang dengan sentuhan lembut tangan Naruto pada bagian tubuhnya yang paling sensitif tersebut.

Tubuhnya semakin bergerak tak karuan tatkala Naruto mulai menekan-nekan pelan kedua puncak kemerahan buah dada milik Hinata tersebut. Meskipun tekanan yang diberikan itu pelan, namun tetap saja memberikan rangsangan yang begitu hebat pada tubuhnya saat ini.

"Nghh~... Nghh~..." Desah Hinata lagi masih di sela-sela ciumannya bersama dengan Naruto. Kedua tangan kekar Naruto kini semakin bergerak lincah untuk memanjakan kedua buah dada Hinata yang masih terbungkus jubah mandi tersebut.

Seketika saja tubuh Hinata menegang dan pada akhirnya Hinata mengeluarkan cairan orgasme-nya yang pertama dalam permainan malam pertama di antara dirinya dan juga Naruto. Desahan merdu mendengung dengan begitu lembut ke dalam pendengaran sang pemuda Namikaze.

Ah, desahan Hinata itu semakin membangkitkan gairah tersembunyi di dalam tubuh Naruto selama ini. Tapi, bagaimana pun juga Naruto harus bisa bertahan untuk tidak melakukan penyatuan dirinya dengan Hinata saat ini.

Biarlah ia sedikit memanjakan dirinya lebih banyak lagi dengan menikmati kemesraannya dalam mencumbu setiap inci keindahan tubuh Hinata yang masih tersembunyi di balik jubah mandi tersebut.

Secara sepihak Naruto pun melepaskan pagutan mesra bibirnya dari bibir Hinata yang tentu saja menciptakan sebuah benang saliva tipis yang terhubung dari mulut Naruto ke mulut Hinata.

Tak butuh waktu lama agar benang saliva tersebut terputus tatkala Naruto mulai mengalihkan bibir tegasnya untuk menjilat dan mengulum daun telinga Hinata dengan begitu lembut namun tentu saja memberikan rangasangan yang luar biasa pada tubuh sang gadis indigo tersebut.

Kini jajahan cumbuan Naruto adalah leher jenjang Hinata yang tampak begitu putih mulus. Seringai tipis terpatri pada wajah tampannya tatkala dirinya telah merencanakan bahwa Naruto akan membuat sebanyak-banyaknya tanda kepemilikan Hinata di sana.

Tanpa sedikit pun memindahkan tangannya yang sedari tadi bertengger dengan begitu nyaman menangkup dan memanjakan kedua buah dada Hinata, Naruto pun mendaratkan sebuah kecupan ringan terlebih dahulu pada leher indah Hinata tersebut.

Kemudian kecupan itu berubah menjadi sebuah lumatan-lumatan kecil dan berakhir dengan sebuah lumatan yang cukup agresif dan intens. Seluruh permukaan leher jenjang Hinata kini sudah terbasahi oleh saliva sang pemuda Namikaze.

Tanpa ragu Naruto pun langsung menggigit dengan begitu kuat kulit putih mulus leher Hinata tersebut. Hinata sempat berteriak keras namun tak berapa lama teriakan itu berubah menjadi alunan suara desahan penuh kenikmatan tatkala Naruto menjilat dengan begitu lembut bekas gigitannya tersebut.

Tak hanya satu kali Naruto memberikan kissmark pada leher Hinata, tapi Naruto melakukannya sampai berulang kali tanpa sedikit pun merasa bosan melakukan hal tersebut. Sampai-sampai kini leher putih itu dipenuhi oleh bercak-bercak kemerahan bukti tanda cinta sang pemuda Namikaze terhadapnya.

"Ngghh~... Ahh~... Hahh~..." Hinata terus menerus mengeluarkan suara desahan yang semakin terdengar sensual di telinga Naruto, tatkala sang direktur muda tersebut menyelinapkan kedua tangannya ke dalam jubah mandi yang tengah dikenakannnya dan meremas dengan lembut kedua buah dada miliknya yang benar-benar polos tanpa terhalangi oleh sehelai kain pun yang menutupinya.

Naruto kembali membungkam bibir Hinata dengan bibir tegasnya. Dilumatnya dengan cukup agresif namun tak meninggalkan kesan kelembutan di dalam sana. Kedua tangannya mulai bergerak lincah pada kedua bukit kembar Hinata. Kedua ibu jarinya pun dengan lihai berputar-putar di atas puncak kemerahan buah dada Hinata.

Hinata semakin membusungkan dadanya ke depan karena tekanan tubuhnya yang terasa mengegang seketika tatkala Naruto menyentuh titik tersensitif dari tubuhnya tersebut. Kembali gadis itu mengalami orgasme-nya yang kedua pada malam ini.

Kedua kakinya benar-benar terasa begitu basah dan lengket karena cairan cinta yang keluar dari tubuhnya. Ini tidak adil, bahkan suaminya sendiri sama sekali tidak terlihat sudah mengalami orgasme dalam permainan ini.

Namun, apa daya Hinata benar-benar dibuat terbuai dengan setiap sentuhan lembut yang diberikan oleh Naruto kepadanya. Rasanya setiap sentuhan tangan Naruto pada kedua buah dadanya saat ini ingin sekali tergantikan oleh kecupan hangat dari bibir sang pemuda Namikaze tersebut.

Hinata pun menjambak dengan cukup kuat surai blonde pemuda Namikaze tersebut untuk melepaskan pagutan bibirnya terhadap bibir Hinata. Dibawanya perlahan kepala suaminya itu ke arah belahan buah dadanya dan didekapnya dengan begitu lembut kepala sang direktur muda tersebut.

Tanpa banyak bicara, Naruto sungguh sangat mengerti apa keinginan istrinya saat ini. Seringaian tipis nan menggoda pun kembali tersungging di kedua sudut bibirnya. Tanpa melepaskan jubah mandi yang dikenakan oleh Hinata, Naruto menyusupkan kepalanya ke dalam jubah mandi Hinata dan segera mencari keberadaan puncak kemerahan buah dada sebelah kanan Hinata.

Segera saja Naruto langsung menyambar dengan antusias puncak kemerahan buah dada Hinata tersebut. Dikecup, dijilat, dikulum serta digigitnya bulatan kecil buah dada Hinata tersebut dengan bergairah. Tentu saja Hinata semakin mendesah kenikmatan karena perlakuan Naruto terhadap buah dada kanannya.

Tubuhnya semakin membusung ke depan guna memberikan Naruto keleluasaan untuk lebih memanjakan buah dadanya. Tangan mungilnya semakin menekan kepala Naruto untuk tetap setia mencumbu buah dada kanannya.

Desahan demi desahan Hinata yang mempesona semakin terdengar menggema pada balkon kamar hotel mereka. Setelah merasa puas dengan puncak buah dada Hinata yang sebelah kanan, kini Naruto pun beralih menyusupkan kepalanya ke arah buah dada Hinata yang sebelah kiri.

Sama seperti sebelumnya, Naruto langsung saja melumat dengan penuh rasa gairah bulatan kecil kemerahan yang tampak menggoda penglihatannya itu. Di sana Naruto kembali memainkan lidahnya untuk menggoyang-goyangkan puncak kemerahan milik Hinata dengan cukup liar.

"Hah~... Ahh~... Ngghh~..." Desah Hinata lagi lembut secara berulang kali, tak terasa kini tubuhnya kembali mengeluarkan cairan orgasme-nya yang ketiga. Tentu saja hal itu membuat tubuh sang istri Namikaze tersebut cukup kelelahan. Padahal inti dari permainan di malam pertama mereka pun belum dimulai sama sekali.

"Narutoh~... –kunh ... Bisakah kitah melakukannyah~... di dalam sajah Nghh~..." Pinta Hinata tersengal-sengal dengan suara yang mendesah berat namun tetap terdengar begitu sexy di telinga Naruto.

Naruto pun melepaskan pagutannya terhadap puncak kemerahan buah dada Hinata. Sebuah senyuman tipis tercipta di kedua sudut bibir tegasnya. "As you wish, Hime." Ucap Naruto lembut sambil mengecup sekilas bibir Hinata yang terlihat cukup bengkak karena hasil cumbuannya yang cukup agresif tadi.

Naruto merapatkan jubah mandi Hinata yang sedikit terbuka sebelum akhirnya pemuda Namikaze tersebut dengan segera mengangkat tubuh Hinata secara bridal style dan membawanya ke dalam kamar hotel mereka.

Naruto pun kembali membaringkan tubuh Hinata dengan begitu hati-hati ke atas ranjang berukuran king size tersebut. Segera saja Naruto menyamankan posisi tubuhnya di atas tubuh mungil Hinata. Dibingkainya wajah cantik sang gadis indigo tersebut dengan menggunakan kedua tangan kekarnya.

Ditatapnya dengan penuh rasa kasih kedua bola mata amethyst yang kini tampak begitu bersinar penuh kebahagiaan. Seulas senyuman tipis Naruto berikan kepada satu-satunya wanita yang saat ini menempati relung hatinya yang terdalam.

"Terima kasih, Hime. Aku benar-benar merasa bahagia dengan keberadaanmu saat ini di sisiku. Terima kasih atas semua ketegaran hatimu yang selalu setia menunggu kepulanganku. Meskipun sudah terlalu banyak luka yang aku torehkan di hatimu, tapi kau tak pernah sekalipun benar-benar untuk membenci atau bahkan membalas semua sikap burukku itu." Ucap Naruto lirih kepada Hinata, tatapan kedua sapphire-nya pun tampak meredup namun bukan dalam artian merasa sedih tapi lebih kepada rasa syukur karena dirinya merasa begitu sangat beruntung menjadikan Hinata sebagai pendamping hidupnya saat ini dan selamanya.

Naruto mengecup cukup lama kening sang gadis indigo tersebut dengan begitu lembut, menciptakan sebuah senyuman manis di kedua sudut bibir ranum Hinata.

"Aku benar-benar sangat mencintaimu, Hime." Ucap Naruto penuh arti kepada Hinata dan dibalas dengan tarikan tangan mungil Hinata terhadap tubuh kekarnya. Didekapnya dengan penuh rasa sayang tubuh suami tercintanya tersebut.

Dihirupnya aroma maskulin yang menguar dari tubuh atletis Naruto yang tampak begitu membius indera penciumannya. Membawa sang gadis indigo tersebut terhanyut dalam buaian pesona tiada tara sang pemuda Namikaze.

"Aku juga sangat, sangat, sangat, sangat mencintaimu, Naruto-kun." Ucap Hinata tersenyum manis dengan kedua matanya yang berbinar-binar bahagia sambil mengeratkan rengkuhan kedua tangannya terhadap tubuh kekar Naruto.

Dikecupnya dengan begitu intens pipi sebelah kiri Naruto yang memang sedari tadi menempel dengan begitu intim dengan pipi kirinya. Naruto hanya kembali tersenyum geli dengan sikap Hinata yang tampak begitu agresif malam hari ini.

Segera saja Naruto mengalihkan wajahnya untuk berhadapan dengan wajah cantik Hinata, sehingga kecupan bibir Hinata yang tadinya hanya berpusat pada pipi kiri Naruto kini sudah mendarat dengan sempurna pada permukaan bibir tegas Naruto.

Pemuda Namikaze itu langsung saja melumat dengan cukup ganas bibir ranum Hinata. Kali ini saatnya permainan malam pertama mereka yang sesungguhnya, Naruto pun tidak akan segan-segan untuk bermain lebih agresif lagi dari kemesraan mereka saat pemanasan tadi.

Tubuh Naruto bergerak dengan begitu liar di atas tubuh mungil Hinata, entah mengapa tubuhnya terasa bergejolak hebat saat ini. Bibirnya masih saja sibuk berkutat mencumbu mesra bibir menggoda sang gadis indigo tersebut. Lidahnya pun mulai mengajak lidah pasangannya untuk saling bersentuhan intim dan berdansa liar di dalam mulut hangat keduanya yang saling berpagutan.

Kini tangannya mulai bergerak lincah untuk membuka simpul ikatan jubah mandi Hinata. Perlahan Naruto menyudahi lumatan panasnya terhadap bibir Hinata, benang saliva tipis pun tercipta di antara bibir mereka berdua dan seketika saja terputus begitu saja jatuh membasahi wajah Hinata.

Dengan napas keduanya yang terengah-engah mendesah berat dan peluh keringat yang membanjiri tubuh mereka, keduanya pun kembali saling bertatapan penuh arti ke dalam masing-masing iris indah pasangannya sambil melemparkan sebuah senyuman yang sarat akan makna kebahagiaan.

"Aku ingin memilikimu seutuhnya saat ini, Hime." Ucap Naruto lembut sambil beranjak dari tubuh Hinata dan perlahan menyingkap jubah mandi Hinata yang sudah terlebih dahulu ia lepas simpul ikatannya. Pandangan kedua mata Naruto berbinar penuh kekaguman ke arah tubuh indah Hinata yang saat ini terpampang dengan begitu jelas di hadapannya.

Wajah putih cantik itu seketika saja merona hebat karena Naruto tak henti-hentinya menatap intens ke arah tubuh mulusnya. Namun, kali ini Hinata sama sekali tak mempunyai hak untuk melarang suaminya tersebut untuk tidak melihat tubuhnya dengan tatapan yang terlihat begitu lapar.

Justru kali ini Hinata harus bisa memberikan pelayanan terbaik bagi suami tercintanya pada malam pertama pernikahan mereka saat ini. Memberanikan dirinya, sang gadis indigo tersebut kini mulai beranjak untuk duduk di atas ranjang, tepat di hadapan sang direktur muda Namikaze tersebut.

Tanpa ragu, Hinata pun mulai membuka simpul ikatan jubah mandi milik Naruto. Naruto sendiri hanya diam sambil tersenyum tipis memperhatikan sikap istrinya yang terbilang cukup berani ini.

Tak butuh waktu lama sampai sampul ikatan jubah mandi itu terlepas, dengan debaran jantung yang berdetak tak karuan Hinata perlahan menyingkap jubah mandi Naruto. Semburat merah tipis langsung menghiasi seluruh wajah cantiknya tatkala melihat tubuh Naruto yang tampak begitu berotot dan gagah.

Selain itu, Hinata juga semakin salah tingkah dengan keberadaan adik Naruto yang saat ini tampak berdiri tegang dan juga membesar. Naruto hanya terkekeh geli melihat ekspresi Hinata yang tampak begitu canggung tersebut.

Ditepuknya pelan pucuk kepala Hinata oleh Naruto, berusaha untuk sedikit menetralisir perasaan canggung Hinata saat ini.

"Sepertinya adikku ini sudah tidak bisa menunggu lebih lama lagi eh, Hime?" Ucap Naruto menyeringai menggoda kepada Hinata, tentu saja Hinata semakin dibuat merona merah karena perkataan Naruto tersebut.

Hinata dengan sengaja memukul-mukul pelan dada bidang Naruto seolah dirinya merasa kesal dengan ucapan dan sikap Naruto tersebut. Sementara sang pemuda Namikaze sendiri hanya kembali terkekeh pelan atas sikap Hinata yang tampak begitu manis tersebut.

Diraihnya kedua tangan mungil Hinata itu untuk menghentikan aksi Hinata yang masih senantiasa memukul-mukul dada bidangnya. Naruto melepaskan perlahan jubah mandi yang masih melekat pada tubuh indah Hinata.

Dalam waktu yang terbilang singkat, kini tubuh Hinata telah benar-benar polos tanpa sehelai benang pun melekat di sana. Naruto pun mulai melepaskan jubah mandinya sendiri, tak ingin ada sesuatu penghalang pun di antara dirinya dan juga Hinata saat mereka tengah melakukan penyatuan diri nanti.

Keduanya masih dalam posisi duduk di atas ranjang. Naruto kini membawa tubuh Hinata untuk duduk berhadapan di atas pangkuannya. Sehingga kini posisi kepala Hinata jauh lebih tinggi dari posisi kepala Naruto yang saat ini tengah sejajar dengan kedua bukit kembarnya.

Hinata tahu jika Naruto ingin bermanja-manja terlebih dahulu dengan kedua bukit kembarnya yang terbilang cukup besar ini. Hinata pun mengalungkan dengan nyaman kedua tangannya pada leher tegas sang pemuda Namikaze.

Naruto pun dengan senang hati menyambut kedua puncak kemerahan buah dada Hinata yang tampak begitu menantang dirinya saat ini. Kedua tangan kekar itu meremas dengan gemas kedua bukit kembar milik Hinata, menyebabkan suara desahan nan menggoda itu keluar dari mulut mungil Hinata.

"Ahh~... Nghh~... Ahh~..." Desahan Hinata semakin bergema dengan begitu merdu di seluruh penjuru kamar hotel mereka.

Naruto semakin menambah gerakan tangannya untuk meremas dan memelintir kedua puncak kemerahan bukit kembar Hinata. Dihisapnya dengan begitu kuat puncak kemerahan buah dada Hinata yang sebelah kanan, menyebabkan Hinata semakin mendesah tak karuan.

Tubuh gadis itu semakin membusung ke depan, tangan mungilnya kini menekan kepala Naruto untuk semakin melumat dengan agresif puncak kemerahan buah dadanya. Dikulum, dihisap, dijilat, digigit, terus saja berulang sampai keadaan puncak kemerahan buah dada Hinata itu pun mengeras.

Naruto pun beralih untuk mencumbu puncak kemerahan bukit kembar sebelah kiri Hinata dan melakukan hal yang sama seperti yang ia lakukan terhadap buah dada Hinata sebelah kanan. Kini tangan Naruto yang lain mulai bergerak ke arah lubang kewanitaan Hinata yang sedari tadi menggesek dengan begitu intim kejantanannya.

Satu jarinya Naruto masukkan ke dalam lubang kewanitaan Hinata dan mengocoknya perlahan tanpa melepaskan sedikit pun cumbuannya terhadap buah dada Hinata.

"Nghh~... Narutoh~... –kunh... Ahh~..." Kembali putri sulung Hyuuga itu mendesah kenikmatan tatkala Naruto mengocok lubang kewanitaannya dengan cukup cepat di bawah sana.

Naruto semakin bersemangat untuk memanjakan lubang kewanitaan Hinata dengan memasukkan dua jarinya sekaligus ke dalam sana dan memberikan gerakan in-out yang cukup teratur di bawah sana. Sontak saja Hinata terpekik kaget karena sedikit merasakan perih pada lubang kewanitaannya.

Namun, rasa perih itu seketika hilang tergantikan oleh sebuah perasaan yang begitu nikmat dan tak dapat diungkapkan oleh kata-kata. Hinata benar-benar menikmati permainan jari Naruto di dalam lubang hangat sempit miliknya. Tubuhnya pun kembali menegang sambil mengeluarkan sebuah cairan orgasme yang keempat baginya, tepat membasahi tangan sang pemuda Namikaze.

Hinata hanya mampu mendesah lega dengan peluh keringat yang membasahi setiap inci tubuh indahnya saat ini. Sementara Naruto kini tengah menelan habis cairan orgasme Hinata yang terasa begitu manis di lidahnya.

"Sepertinya sudah cukup bagi adikku untuk memasuki milikmu eh, Hime?" Ucap Naruto sambil tersenyum penuh arti kepada Hinata.

Lagi-lagi Hinata merona merah dengan ucapan Naruto yang dilontarkan kepadanya. "La-lakukanlah Naruto-kun." Ucap Hinata tersipu malu.

Tanpa banyak bicara lagi, Naruto langsung memegang kejantanannya dan mengarahkannya di depan bibir lubang kewanitaan Hinata. "Tahan sebentar, Hime. Aku janji akan melakukannya secara perlahan-lahan." Ucap Naruto lembut mencoba bersikap tenang sebelum dirinya melakukan penyatuan dengan Hinata.

"Um, aku percaya padamu, Naruto-kun." Ucap Hinata tersenyum lembut ke arah Naruto. Seolah mendapatkan keyakinan dari Hinata, Naruto pun mulai memasukkan kejantanannya ke dalam lubang kewanitaan Hinata secara perlahan-lahan.

Meskipun Hinata merasakan sedikit perih, namun sebisa mungkin Hinata berusaha untuk menahan rasa sakit itu dengan mencengkram kuat bahu tegap Naruto. Rasanya kejantanan Naruto terlalu besar untuk dapat masuk ke dalam lubang sempit miliknya saat ini.

Kini setengah dari kejantanan Naruto sudah tertanam di dalam lubang kewanitaan Hinata yang terasa begitu basah dan hangat itu. Naruto mendesah setengah nikmat tatkala kejantanannya serasa diremas-remas oleh otot-otot dinding kewanitaan Hinata.

Naruto terdiam sejenak untuk menyesuaikan kejantanannya di dalam milik Hinata. Begitu pun dengan Hinata yang kini tengah menggerakkan pinggulnya perlahan-lahan guna menyesuaikan miliknya dengan keberadaan kejantanan Naruto di dalamnya.

Entah mengapa kini rasa sakit yang dirasakan oleh Hinata seketika hilang begitu saja. Justru Hinata menginginkan pergerakan lebih dari kejantanan Naruto di dalam miliknya saat ini. Entah mengapa Hinata benar-benar merasa bahwa dirinya saat ini bersikap begitu agresif terhadap Naruto.

Entah mendapat keberanian darimana Hinata langsung saja menyambar bibir tegas suaminya itu. Dilumatnya dengan penuh kegairahan bibir tegas sang direktur muda Namikaze tersebut. Kedua tangan mungilnya kini meraih tubuh Naruto untuk dibawanya kembali berbaring di atas ranjang, tepatnya berbaring di atas tubuh indah miliknya tanpa sedikit pun melepaskan pagutannya terhadap Naruto.

Tentu saja posisi seperti ini lebih membuat leluasa sang pemuda Namikaze untuk menggerakkan kejantanannya di dalam lubang kewanitaan Hinata. Hei, sepertinya Hinata benar-benar bersemangat untuk melakukan malam pertamanya saat ini bersama dengan Naruto, eh?

Tak ingin merasa kalah dengan permainan istrinya, kini Naruto pun mulai mendominasi ciuman panas mereka. Kedua tangannya kembali meremas-remas dengan kuat kedua buah dada Hinata. Kejantanannya mulai ia gerakan dengan tempo yang teratur di dalam sana.

Kejantanan Naruto kini mulai masuk lebih ke dalam lagi, berusaha mencari keberadaan sang selaput dara yang merupakan tanda keperawanan Hinata. Setelah beberapa menit menggenjot lubang kewanitaan Hinata, akhirnya ujung kejantanan Naruto pun menemukan selaput tipis tersebut.

Hinata sendiri hanya bisa mendesah penuh kenikmatan di sela-sela cumbuannya dengan Naruto, atas gerakan in-out yang dilakukan oleh kejantanan Naruto di dalam miliknya dan juga sekaligus orgasme-nya yang kelima pada malam ini.

"Hime, aku harap kau bisa menahan rasa sakitnya saat milikku benar-benar sepenuhnya masuk ke dalam milikmu." Ucap Naruto lembut kepada Hinata.

Hinata hanya mampu mengangguk lemah karena tubuhnya saat ini terasa begitu tak berdaya lagi. Naruto pun akhirnya dengan penuh keyakinan mendorong kuat kejantanannya semakin ke dalam lubang kewanitaan Hinata dan berhasil merobek selaput dara Hinata sampai mengeluarkan darah pada selangkangannya.

Sang gadis yang sebentar lagi akan jadi wanita ini, berteriak dengan begitu kencang dan dahsyat tatkala keperawanannya telah disobek oleh kejantanan Naruto. Air matanya pun kini mengalir dari kedua pelupuk matanya.

Namun, meskipun itu merupakan air mata akibat rasa sakit yang dirasakannya, Hinata tak menampik jika dirinya juga merasa bahagia karena pada akhirnya dirinya bisa menjadi milik Naruto seutuhnya saat ini.

Naruto menatap penuh kekhawatiran kepada Hinata, namun sebuah senyuman manis istrinya dari istrinya itu mulai membuyarkan segala kekhawatiran itu.

Kini baik Hinata maupun Naruto sudah bisa kembali menyesuaikan miliknya dengan keberadaan milik pasangannya.

Naruto pun tanpa ragu mulai menggerakkan pinggulnya dan kejantanannya untuk memanjakan lubang kewanitaan Hinata dengan kenikmatan yang melebihi kenikmatan yang sempat dirasakan oleh Hinata sebelumnya.

Keduanya semakin mendesah berat dan peluh keringat pun semakin membanjiri tubuh keduanya. Naruto terus menerus menggenjot dengan penuh gairah lubang kewanitaan Hinata, sampai pada akhirnya ia merasakan bahwa kejantanannya ingin mengeluarkan sesuatu ke dalam rahim Hinata.

Naruto dan Hinata pun klimaks secara bersamaan dengan diiringi suara desahan yang mengalun lembut dari kedua sejoli ini. Hinata merasakan sesuatu hal yang terasa begitu hangat mengisi rahimnya, tentu saja itu merupakan benih cinta Naruto yang nantinya akan tertanam di dalam rahim Hinata.

Hinata benar-benar dibuat kelelahan dengan permainan panas yang dilakukan oleh Naruto terhadapnya. Naruto sendiri pun kini tampak ambruk di atas tubuh mungil Hinata dengan napasnya yang tersengal-sengal.

Sebuah senyuman tipis tercipta pada masing-masing wajah rupawan pasangan suami istri baru tersebut. Sungguh mereka saat ini benar-benar merasakan kebahagiaan yang tak pernah terduga sebelumnya.

Sepertinya kelelahan yang mendera tubuh Naruto tidak bertahan lama. Buktinya kini sang pemuda Namikaze itu pun kembali bangkit untuk mulai ronde kedua permainan panas mereka. Meski masih merasa lelah, tapi Hinata pun dengan senang hati melayani setiap keinginan sang putra tunggal Namikaze tersebut.

Tentu saja kegiatan panas ini terus berlanjut sampai dini hari, seolah mereka tak pernah lelah untuk terus menerus melakukan adegan panas tersebut. Hingga akhirnya mereka berdua pun benar-benar tumbang dan terlelap dalam mimpi indah mereka dengan posisi saling berpelukan intim.

.

.

.

-End of Lemon-

.

.

.

.

.


Pada akhirnya kini kisah cinta yang terjadi di antara pasangan Sasuke-Sakura dan pasangan Naruto-Hinata yang hanya berawal dari sebuah sandiwara bodoh yang diciptakan oleh Uchiha Sasuke, memberikan suatu kebahagiaan abadi yang tak ternilai harganya bagi pribadi mereka masing-masing.

Setiap dusta, luka, air mata, kebencian, pengorbanan, perjuangan serta penantian yang telah mereka lalui selama ini, hanya akan menjadi sebuah kenangan indah tersendiri bagi mereka di masa depan.

Pernikahan yang mereka jalani bukanlah sebuah akhir dari kisah cinta mereka saat ini. Namun pernikahan yang mereka jalani adalah sebuah awal bagi mereka untuk menjalin kasih sayang dan mempertahankan cinta mereka dari kemungkinan berbagai terpaan badai rumah tangga yang sewaktu-waktu dapat menggoyahkan hati dan perasaan mereka.

Kini hanya akan ada kebahagiaan saja yang akan mengukir perjalanan cinta pasangan Sasuke-Sakura dan pasangan Naruto-Hinata. Lembar kehidupan baru itu kini hanya akan terisi oleh hal-hal yang diliputi oleh suka cita saja di antara mereka.

Ya, mereka yakin jika mereka akan menghapuskan kesedihan pada hati mereka masing-masing. Bersama dengan belahan jiwanya masing-masing, mereka akan belajar untuk lebih memaknai hidup dan belajar untuk menghargai setiap kehidupan dan takdir yang telah ditentukan oleh Kami-sama di masa depan.

-TBC-


A/N: Saya hanya bisa mengatakan maaf yang sebesar-besarnya kepada kalian semua atas keterlambatan update chapter ini Padahal janjinya publish tengah malam #tersenyum kikuk sambil garuk-garuk kepala# Maaf, klo mengecewakan tapi saya sudah berusaha untuk mengebut tapi hasilnya tetap aja gak keburu hehe...

Chapter depan adalah chapter terakhir, semoga kalian masih berkenan untuk mengikuti fic ini ^_^

Untuk bulan madu SasuSaku dan NaruHina sendiri akan ada di fic terpisah dari FTTL ini... tapi sepertinya setelah lebaran nanti baru publish-nya...

Terima kasih kepada para readers, reviewers, followers, favoriters, dan silent readers yang sudah berkenan untuk membaca fic ini dari chapter awal sampai saat ini. Terima kasih atas semua dukungan dan semangat yang telah kalian berikan kepada saya...^_^

Salam Hangat,

Hikaru Sora 14.


Balasan Review

Hahah: Huwaaa Hahah-san maafff baru bisa update siang ini #gak bisa nepatin janji-plakk# Tapi semoga Hahah-san masih mau setia untuk menunggu scene NaruHina-nya #peluk-peluk# jangan marah yahhh Makasihhh banyakk #muach#

azriel: #peluk-peluk# iyaa happy ending kok azriel-san Untuk NaruHina-nya maafff telat update Tapi semoga suka ya... Arigatou udha R&R #muach#

Eagle onyx: Hehehe... yuuppzz betul betul Senpai Iya seperti itulah hehe... Makasih banyak ya Senpai #muach#

maharanihime: Maaff baru bisa lanjut #ngaret-plakk# Tapi ini udha lanjut kok, semoga suka ya... Makasih banyakkkk #peluk-peluk#

joharifalls: Maaf gak bisa nepatin janji buat update tadi malam Um, di chapter ini akan terjawab kok Makasihhh banyakkk yahh udha R&R #muach#

Guest: Siappp Guest-san Maaff ngaret hehehe... semoga suka dengan chapter ini... Makasih banyakkk #muach#

chiha: #peluk-cium# iyaaa siappp di chapter ini saya akan mengakhiri penderitaan NaruHina hehe... Maafff chiha-san baru bisa update #tersenyum kikuk# Makasihhh banyak udha R&R yahhh #muach#

ntika blossom: Iya tumben Sasuke bisa romantis kayak githu ya Senpai hehehe... Um, tapi demi Sakura apa sih yang gak bisa dilakukan oleh Sasuke hehe... manis banget kan klo lagi cemburunya Sasuke hehe... Makasihh banyakk ya Senpai udha R&R #peluk-cium#

Anka-Chan: Wahh~... ide bagus Anka-Chan #peluk-peluk# Oke, nanti ada kok hehe... Iyaa di chapter ini mereka sudah menyusul kok Maaf update lama Anka-Chan Tapi semoga masih berkenan untuk membacanya yahh... Makasihhh banyakkk Anka-Chan #muach#

marukocan: #peluk-cium# marukocan Iyaa chapter ini juga panjang tapi gak tahu menarik atau gak Tapi semoga suka ya marukocan... Lemon NaruHina ada di chapter ini kok Makasih banyakkk sebelumnyaaa #muach#

whoiam: Makasihhh banyakkk buat semangatnya #peluk-peluk# whoiam-san... maaf gak bisa nepatin janji update tengah malam... tapi semoga masih setia menunggu yahh hehehe #ngarep# Pokoknya makasih banyakkkk #muach#

dylanNHL: Hehe... Maafffff Aslinya udha ngebut tapi tetap aja gak kekejar dylan-san. Maaf karena baru bisa update sekarang #bungkuk-bungkuk badan# Semoga gak mengecewakan yah... Makasihhh banyakkk #peluk-cium#

Bunshin Anugrah ET: Iyaa Sakura tinggal di kediaman Uchiha atas keegoisan Sasuke hehe.. Pastinya Sasuke yang minta buat tidur sekamar sama Sakura Apapun kemauan sang Uchiha bungsu memang gak ada yang bisa membantah, eh? Tentu, Sasuke kan memang pandai banget memanfaatkan situasi hehehe... #di hajar Sasuke-kun-plakkk# Maaffff baru update pagi ini... padahal janjinya tadi malam Tapi semoga masih suka ya Senpai Makasihhh banyakkk #peluk-cium# muach

Syanata-Hime: Iyaaa malahan siang ini sepertinya hehe... Janjinya padahal tadi malam mau publish tapi apa daya tangan tak sampai hehe... Jadilah baru bisa update sekarang, maaf ya Syanata-san... Makasihh banyakkk ya buat semangatnya #peluk-peluk# muach

Junior: Konan ada kok... dia kan calon kakak iparnya Sasuke Klo Karin kan pasangannya Suigetsu... mereka pasangan model Um, makasih banyakk yahh udha R&R #muach#

imahkakoeni: Iyaaa makasih banyak Imah-chan #peluk-cium# Um, mereka happy ending kok... maaf baru bisa update siang ini Tapi semoga masih berkenan untuk membaca fic ini ya #muach#

sutra fossil: Wah serius Senpai #jingkrak-jingkrak kegirangan sekaligus menangis terharu# #peluk-cium# Senpai muach muach muach Hehe... maaf saya jadi autis seperti ini... Iya maaf baru siang ini update cerita NaruHina-nya... Tapi semoga Senpai suka ya muach lagi ah hehe...

ips hadir: Iyaaaa maaff ini baru update scene NaruHina-nya gomen gomen... tapi semoga suka yah dengan chapter ini... Makasih banyakkk #muach# :)