Find The True Love
Disclaimer: Masashi Kishimoto dan semua chara-chara dalam anime Naruto
Pairing: [Sasuke x Sakura] [Naruto x Hinata]
Rate: M
Warning: OOC, typo, cerita gaje, alur kecepatan, lime dll.
Summary: 'Cinta sejati merupakan cinta abadi, yang keberadaannya hanya akan terpisahkan oleh sebuah kematian. Namun, meskipun demikian, cinta sejati tak akan pernah terhapus dari hati orang-orang yang telah mendapatkan dan merasakan betapa dahsyatnya cinta sejati itu.'/The Last Chapter/Warning : Lime Inside.
Author by: Hikaru Sora 14
Don't Like Don't Read
Please Enjoy Reading
The Last Chapter
ooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooo
Lantunan nada piano yang mengalun dengan begitu lembut dan indah, mengiringi setiap langkah-langkah kecil dari sepasang suami istri yang kini tengah berdansa dengan begitu romantis pada salah satu ruangan di Mansion Uchiha, yang merupakan tempat berlangsungnya pesta peringatan ulang tahun sang wanita Uchiha.
Kedua pasangan Uchiha tersebut begitu terlarut dalam kegiatan dansa mereka. Tatapan sang suami yang begitu lembut itu tak sekalipun terlepas dari kedua iris indah milik istrinya yang tampak selalu mempesona baginya.
Perasaan bahagia tampak begitu penuh meliputi kedua pasangan yang terlihat begitu serasi dan juga sempurna itu. Keduanya saling melemparkan sebuah senyuman tipis penuh arti yang terlihat begitu menawan pada wajah rupawan mereka.
Kontak kedua onyx menawan itu seketika terlepas tatkala sang wanita Uchiha memutuskan untuk menyandarkan kepalanya pada dada bidang sang suami yang terasa begitu hangat dan nyaman. Sementara kedua tangan mungilnya mendekap sayang tubuh kekar sang kepala keluarga Uchiha tersebut.
Sang suami hanya mampu tersenyum simpul sambil mengecup pucuk kepala wanitanya. Mengeratkan pelukan kedua tangan kekarnya pada pinggang ramping sang istri, seolah dirinya tak ingin kehilangan sosok berharga dalam hidupnya selama ini.
Para tamu undangan yang hadir di sana pun turut serta menemani keromantisan pasangan Uchiha tersebut untuk berdansa dengan pasangannya masing-masing. Termasuk salah satu diantaranya adalah pasangan suami istri, Namikaze Minato dan Namikaze Kushina, yang kini juga tampak begitu menikmati kegiatan dansa mereka.
"Wahhh~... Mikoto Kaa-san dan Fugaku Tou-san benar-benar terlihat begitu romantis sekali berdansa seperti itu," ucap sang wanita Uchiha lainnya dengan nada bicara yang mengandung kekaguman didalamnya. Seulas senyuman manis turut tersungging pada bibir ranumnya.
Kedua netra hijau indahnya begitu berbinar-binar bahagia menatap ke arah sang ayah dan ibu mertuanya tersebut. Bulatan kecil indah miliknya itu seakan ikut menari, mengikuti setiap gerakan dansa yang dilakukan dengan begitu piawai oleh pasangan Uchiha Fugaku dan Uchiha Mikoto tersebut.
Sementara itu, wajah cantik putihnya ia sanggakan pada kedua tangannya yang bertumpu di atas meja. Memperhatikan dengan begitu antusias kegiatan dansa yang dilakukan oleh kedua mertuanya tersebut, seolah hal yang tengah terjadi dihadapannya adalah suatu hal yang benar-benar menarik dan terlalu sayang untuk dilewatkan begitu saja.
"Kenapa kita tidak ikut bergabung saja dengan mereka, Hime?" Tanya sang suami yang sedari tadi hanya tersenyum simpul memperhatikan sikap sang istri yang tampak begitu sangat tertarik dengan kegiatan yang dilakukan oleh kedua orang tuanya.
"Eh?!" Pekik sang menantu keluarga Uchiha tersebut, merasa terkejut dengan ucapan suaminya. Kedua emerald-nya kini mulai teralih ke arah onyx sang bungsu Uchiha, yang duduk tepat pada kursi di sebelahnya.
"Kau bercanda Sasuke-kun? Mana mungkin aku bisa berdansa dengan keadaan seperti ini? Kau mau mempermalukan aku, Huh!" Ucap Sakura lagi melanjutkan perkataannya sambil mengerucutkan bibir merahnya dan memasang wajah cemberut kepada Sasuke.
Kini Sakura telah menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi yang tengah ia duduki. Sementara itu, kedua tangannya kini terlipat dengan begitu anggun di depan dadanya.
Sasuke sungguh merasa gemas dengan sikap kesal yang ditunjukkan oleh istri tercintanya tersebut. Dibelainya dengan begitu lembut surai panjang merah muda milik Sakura dengan menggunakan tangan kirinya, sementara tangan kanannya kini mulai ia letakkan di atas perut bulat sang wanita yang tampak begitu besar.
Perlahan, tangan besar nan hangat milik Sasuke itu kini mulai mengelus dengan begitu hati-hati permukaan perut milik sang istri yang kini memang tengah mengandung para calon buah hati mereka dengan usia kandungan Sakura yang menginjak bulan ke delapan.
Sang pria Uchiha tersebut tersenyum penuh arti ke arah perut milik wanitanya, dimana di dalam sana kini tengah tumbuh ketiga calon penerus keluarga besar Uchiha.
"Kenapa kau berpikir aku akan mempermalukanmu, Hn?!" Tanya Sasuke sambil terkekeh kecil kepada Sakura. Kini kedua onyx hitamnya menatap dengan penuh kelembutan kedua iris milik wanitanya, yang tentu saja sukses mengubah wajah cemberut sang istri menjadi wajah bersemu merah dengan ekspresi yang salah tingkah.
"Te-Tentu saja aku ma-..."
"Kau cantik. Berdansa dalam keadaan hamil besar seperti ini tentu saja tidak akan mengurangi kecantikanmu, Hime. Justru kau terlihat jauh lebih seksi saat hamil seperti ini," ucap Sasuke menyeringai menggoda sambil memberikan sebuah kecupan singkat pada bibir Sakura.
"Sa-Sasuke-kun! Jangan merayuku! Lagipula jika aku berdansa pun pasti akan terlihat kaku sekali!" Ucap Sakura gugup sambil mendorong agak kuat dada bidang sang bungsu Uchiha agar menjauh dari dirinya.
Sasuke menahan kedua tangan mungil Sakura pada dadanya. Sebuah kekehan kecil keluar dari bibir tegasnya tatkala melihat usaha Sakura yang begitu keras untuk memperlebar jarak diantara mereka.
"A-Akh~..." Sakura meringis kesakitan tatkala dirinya merasakan sebuah tendangan yang cukup kuat pada dinding rahimnya. Spontan saja tangannya yang semula bertengger pada dada atletis sang suami, kini mulai teralih pada perut buncitnya yang terasa sakit.
"Ada apa denganmu, Hime?" Tanya Sasuke penuh kekhawatiran terhadap keadaan Sakura saat ini. Sang Uchiha bungsu tersebut turut meletakkan tangannya pada perut buncit istrinya-ah, atau lebih tepatnya di atas tangan Sakura yang kini tengah mengelus perut besarnya.
"Me-mereka sepertinya baru saja menendangku, Sasuke-kun," ucap Sakura sambil tetap merintih kesakitan. Meskipun sang calon ibu tersebut merasakan sakit pada perutnya, tapi masih terselip gurat kebahagiaan yang terpatri pada wajah cantiknya saat ini.
Kekhawatiran yang meliputi wajah tampan Sasuke pun kini sirna seketika, tergantikan oleh sebuah ekspresi kelegaan. Kembali sebuah kekehan kecil berhasil lolos dari bibir tegasnya, yang tentu saja membuat sang wanita musim semi itu mengangkat salah satu alisnya karena merasa heran dengan sikap suaminya tersebut.
"Apa ada yang lucu, Sasuke-kun?" Tanya Sakura dengan suara lembutnya yang terdengar lemah.
"Kau tahu kenapa mereka melakukannya, Hime?" Tanya Sasuke sambil tersenyum simpul kepada Sakura. Perlahan Sasuke menundukkan kepalanya ke bawah untuk menjangkau permukaan perut buncit Sakura dan mencium dengan cukup lama para calon buah hatinya.
Sakura tersenyum manis melihat sikap Sasuke yang begitu lembut terhadap calon buah hati mereka. Tangan mungilnya kini mulai mengelus secara perlahan helaian raven milik sang suaminya tersebut.
"Um, kurasa karena mereka hanya ingin melakukannya saja, Sasuke-kun," ucap Sakura secara sederhana menjawab pertanyaan Sasuke.
Disela-sela kecupannya terhadap para malaikat kecilnya, Sasuke kembali terkekeh kecil mendengar jawaban yang diberikan oleh wanita musim seminya itu. Kini Sasuke mulai melepaskan kecupannya terhadap perut bulat Sakura dan menggantikan peran bibirnya dengan hidung mancungnya untuk menggelitik perut besar istrinya tersebut.
"Kau salah, Hime," ucap Sasuke menyanggah jawaban yang sebelumnya diberikan oleh Sakura. Sakura sendiri kini kembali mengerutkan dahi lebarnya karena merasa bingung dengan ucapan suami tercintanya.
Namun, meskipun begitu Sakura tak berniat untuk bertanya alasannya kepada Sasuke, karena Sakura tahu setelah ini sang bungsu Uchiha itu akan menjelaskan alasannya.
"Mereka melakukan itu karena mereka tidak menyukai sikapmu yang mendorongku tadi, Hime. Mereka tidak menyukai jika harus berada jauh-jauh dari Tou-san mereka. Benarkan, malaikat-malaikat kecil Tou-san?" Tanya Sasuke kepada para calon buah hatinya, yang tentu saja Sasuke tahu bahwa dirinya tidak akan mendapatkan jawaban dari para calon buah hatinya itu.
Hidung mancungnya masih senantiasa Sasuke gerakan dengan begitu lembut di atas permukaan perut besar Sakura, seolah ingin memanjakan ketiga calon buah hatinya saat ini.
"Hahaha ..." Sakura tertawa lemah seolah mengejek perkataan yang baru saja diucapkan oleh Sasuke. "Kau terlalu percaya diri untuk mengasumsikannya seper- ... A-Akh~..." Kembali Sakura meringis kesakitan karena tendangan yang dilakukan oleh ketiga malaikat kecilnya, yang juga dirasakan oleh Sasuke yang masih menempelkan ujung hidung mancungnya pada perut besar sang wanita musim semi. Ah, sepertinya mereka menjawab pertanyaan sang calon ayah mereka, eh?
Sasuke tersenyum penuh kemenangan karena asumsi yang dikemukakannya kepada Sakura tampaknya benar, meskipun pada awalnya ia sendiri pun merasa tidak yakin akan apa yang telah ia katakan.
"Kau lihat, Hime? Mereka menyetujui apa yang aku ucapkan," ucap Sasuke yang kini sudah mengangkat kembali wajah tampannya dan menatap wajah cantik Sakura.
"Aku rasa itu hanya kebetulan saja Sasuke-kun," sangkal Sakura, masih tidak mempercayai perkataan suaminya tersebut.
"Kau mau coba untuk membuktikannya, Hime?" Tantang Sasuke sambil menyeringai penuh percaya diri kepada Sakura.
Sakura sendiri merasa gemas dengan tantangan yang diberikan oleh Sasuke. Sakura terkekeh kecil sambil menjawil hidung mancung milik sang bungsu Uchiha tersebut.
"Coba saja, suamiku sayang~..." Ucap Sakura dengan nada bicara yang terdengar menggoda pada pendengaran sang Uchiha bungsu tersebut.
"Ahh~... Apa kau sengaja membangkitkan gairahku saat ini, eh? Jika aku benar, maka aku akan memberikan hukuman padamu malam ini, Hime," ucap Sasuke sambil mengerling menggoda ke arah Sakura dan tentu saja tak lupa sebuah seringaian yang tampak mempesona tersungging pada bibir tegasnya.
Sakura sedikit bergidik ngeri dengan kata 'hukuman' yang baru saja diucapkan oleh suaminya tersebut. Ia tahu, sangat teramat tahu hukuman apa yang akan diberikan oleh Sasuke terhadapnya.
Sepertinya jika memang ia kalah dari Sasuke, maka ia harus mulai mempersiapkan kembali dirinya malam ini untuk memenuhi kebutuhan hormon sang suami yang cukup tinggi itu. Namun, tentu saja Sasuke akan bermain dengan lembut terhadapnya karena pastinya sang calon ayah tampan tersebut tak ingin menyakiti para buah hati mereka, benar bukan?
"Aku tidak akan mundur, sayang," ucap Sakura penuh keyakinan, berusaha menutupi kegugupannya. Sasuke semakin menyeringai penuh kemenangan kepada sang wanita musim semi tersebut.
"Kuharap kau tidak menyesal, Hime. Kau tahu, aku sudah sangat lapar untuk kembali menikmatimu malam ini. Bersiap-siaplah untuk memberikan pelayanan terbaikmu kepadaku nanti, Sakura Hime," tantang Sasuke lagi sambil mencuri sebuah ciuman kecil dari bibir ranum Sakura. Senyuman kepuasan tampak menghiasi wajah tampannya saat ini.
Sakura sendiri hanya mampu mendengus geli dengan kata-kata Sasuke yang lagi-lagi penuh dengan kepercayaan diri tersebut. Kini Sasuke mulai memperlebar jarak antara dirinya dengan Sakura, tentu saja tanpa melepaskan sedikitpun senyuman yang tersungging di bibirnya.
'Satu,' ucap Sasuke di dalam hatinya, mulai menghitung waktu dimana para calon buah hatinya akan memberikan respon terhadap kepergiannya dari tubuh Sakura.
'Dua,' kini Sasuke mulai beranjak berdiri dari kursi yang sedari tadi ia duduki sambil mengerling nakal kepada Sakura.
'Tiga,' Sasuke membalikkan tubuhnya, sehingga kini ia berada dalam posisi membelakangi sang istri tercintanya. Menjentikkan kedua jarinya ke atas, seolah memberikan kode kepada para calon buah hatinya untuk segera beraksi.
Tidak ada reaksi apapun dari para calon buah hatinya yang dirasakan oleh Sakura. Sakura tersenyum menyeringai penuh kemenangan sambil menatap punggung tegap sang bungsu Uchiha tersebut.
"Sepertinya aku yang me- ... Akh~..." Sakura kembali meringis kesakitan karena apa yang diucapkan oleh suaminya tadi benar adanya. Saat ini ketiga malaikat kecilnya kembali menendang dengan begitu kuat dinding rahimnya. Lebih kuat dari yang ia rasakan saat pertama kali mereka menendang dinding rahimnya.
Tentu saja hal ini membuat sang Uchiha bungsu semakin berbangga diri karena ternyata ketiga calon penerusnya itu berada di pihaknya saat ini. Sasuke pun perlahan membalikkan tubuhnya untuk menghadap ke arah Sakura sambil menyedekapkan kedua tangannya di depan dadanya.
Sakura kini tengah memegang kedua sisi perut besarnya yang tampak menegang dengan tonjolan-tonjolan kecil yang muncul pada permukaan perutnya. Kedua calon putra dan calon putrinya ini sepertinya belum mau berhenti untuk menyakiti sang ibu muda yang saat ini semakin meringis kesakitan.
"Apa kau butuh bantuanku, Hime?" Tanya Sasuke mencoba menawarkan bantuan kepada Sakura. Tentu saja tidak lupa sebuah senyuman penuh arti Sasuke layangkan kepada wanita cantik dihadapannya itu.
Sakura menggigit kecil bibir bawahnya. "Cepatlah kemari, Sasuke-kun!" Pinta Sakura dengan suara yang lemah.
"Dengan senang hati, Hime," ucap Sasuke sambil kembali menghampiri Sakura dan dengan segera meletakkan kedua tangan besar nan hangatnya ke atas permukaan perut besar milik Sakura.
Mengelus dengan penuh kasih sayang dan penuh kelembutan, akhirnya Sasuke pun berhasil untuk menenangkan ketiga calon buah hatinya. Sasuke sendiri sedikit tidak mempercayai apa yang baru saja dilakukannya.
Padahal ia sama sekali tidak mengetahui apa yang sebenarnya diinginkan oleh ketiga malaikat kecilnya itu. Tapi sepertinya inilah yang dinamakan ikatan batin antara seorang ayah dengan anak-anaknya, benar bukan?
Sakura sendiri menghela napas lega karena tidak lagi merasakan tendangan kuat yang dilakukan oleh ketiga jabang bayi dalam perutnya.
"Kalian memang malaikat-malaikat Tou-san yang sangat pintar," puji Sasuke kepada kedua calon putra dan calon putri Uchiha-nya. Sang calon ayah itu kembali mendaratkan sebuah kecupan lembut untuk ketiga calon buah hatinya.
"Bagaimana jika kalian ikut Tou-san untuk berdansa bersama nenek dan kakek kalian?" Tawar Sasuke berbisik pelan kepada ketiga calon buah hatinya itu sambil tersenyum tipis, yang tentu saja masih dapat terdengar dengan jelas pada indera pendengaran sang wanita musim semi, Uchiha Sakura.
"Rupanya kau tidak mau menyerah juga untuk mengajakku berdansa, eh Sasuke-kun?" Timpal Sakura terkekeh kecil sambil memukul pelan punggung tegap sang suami.
Sasuke mengangkat wajahnya untuk bertatapan dengan kedua emerald indah milik Sakura. Sebelah alisnya terangkat ke atas dan wajah tampannya menunjukkan ekspresi yang terkesan serius.
"Maaf, tapi sepertinya tadi aku baru saja mengajak anak-anakku untuk berdansa dan bukannya Anda, Nyonya Uchiha," ucap Sasuke sambil menyeringai saat mengatakan panggilan 'Nyonya Uchiha' terhadap Sakura.
"Kau ... Mereka 'kan ada di dalam rahim-... Arrgghh sudahlah! Kau benar-benar menyebalkan Sasuke-kun!" Kesal Sakura sambil memukul kuat dada bidang Sasuke yang sama sekali tidak terasa sakit pada tubuh Sasuke. Namun, meskipun demikian Sasuke terlihat berpura-pura merasakan sakit pada tubuhnya sambil terkekeh pelan.
"Keberatan jika kami ikut bergabung bersama kalian, Sasuke?" Tanya sebuah suara bariton yang berasal dari arah samping Sasuke dan juga Sakura.
Kedua suami istri Uchiha itu pun spontan menghentikan aktivitas pertengkaran lelucon mereka dan mengalihkan pandangan mereka ke arah datangnya suara bariton yang sudah sangat mereka kenali.
Seorang pria yang memiliki surai blonde tengah menggandeng mesra tangan mungil sang wanita cantik berketurunan Hyuuga-ah, atau mungkin lebih tepatnya saat ini kita sebut wanita anggun itu sebagai Nyonya Namikaze.
"Naruto-kun, Hinata-chan!" Seru Sakura antusias dengan kedatangan kedua sahabat suami tercintanya, sekaligus merupakan sahabat barunya juga.
Semenjak Hinata dan Naruto menikah, Sakura memang semakin dekat dengan keduanya. Bahkan kini panggilan formal yang biasa Sakura tujukan kepada Naruto dan Hinata sudah tidak lagi ia gunakan.
Sakura pun perlahan beranjak berdiri dengan sebelah tangannya yang memegang perut besarnya dan tangan lainnya menggenggam tangan besar Sasuke yang membantunya untuk berdiri. Memang kehamilan kembar tiga ini membuat Sakura agak sedikit kesulitan saat harus berdiri.
Hinata yang sudah berdiri di hadapan Sakura pun langsung memeluk hangat sang wanita musim semi dengan sangat hati-hati karena tidak ingin menyakiti para makhluk mungil yang kini tengah bersemayam dan berkembang dalam tubuh , Nyonya Namikaze itu pun kini tengah mengandung calon buah hatinya dengan Naruto.
Usia kandungan Hinata sendiri saat ini sudah menginjak bulan ke enam, berbeda dua bulan dengan kandungan Sakura. Hinata pun kini tengah mengandung calon penerus Namikaze kembar dua di dalam rahimnya.
Sepertinya baik serangan Sasuke terhadap Sakura maupun serangan Naruto terhadap Hinata pada saat malam pertama mereka cukup ganas dan menggairahkan, eh? Sampai-sampai pada kehamilan pertama pun Sakura dan juga Hinata mengandung anak kembar.
Tak jauh berbeda dengan apa yang dilakukan oleh Hinata terhadap Sakura, Naruto pun merangkul hangat pundak sang sahabat terbaiknya, Uchiha Sasuke.
"Maaf, kami datang terlambat ke sini, Sasuke. Tadi ada beberapa urusan yang harus aku selesaikan di kantor. Sebenarnya Hinata-chan juga sudah aku minta untuk pergi bersama Kaa-san dan Tou-san terlebih dahulu, tapi Hinata-chan bersikeras untuk menungguku dan pergi bersamaku," ucap Naruto memberikan penjelasan akan kedatangan dirinya dan Hinata yang terlambat malam ini.
"Bahkan tadi Hinata-chan hampir menangis karena aku tak mau mengikuti keinginannya dan mengancam tidak akan makan untuk beberapa hari ke depan," ucap Naruto melanjutkan perkataannya sambil terkekeh pelan.
"Hn. Tak masalah. Kushina Baa-san dan Minato Jii-san sudah memberitahuku tadi," tanggap Sasuke sambil tersenyum tipis kepada Naruto.
Mendengar perkataan Naruto, Hinata justru memukul pelan punggung tegap suaminya tersebut dengan ekspresi wajah cantiknya yang terlihat memberenggut kesal sekaligus malu saat ini. Kenapa juga suami pirangnya itu harus menceritakan hal memalukan seperti itu di hadapan Sasuke dan juga Sakura.
"Bukankah sudah kukatakan jika ini bukan keinginanku, Naruto-kun!" Ucap Hinata dengan nada bicara yang terdengar sedikit kesal pada indera pendengaran Naruto.
Naruto terkekeh geli dengan tindakan yang dilakukan oleh istri indigo-nya tersebut. Segera saja Naruto menarik Hinata ke dalam pelukan hangatnya dan merengkuh dengan begitu lembut tubuh istrinya yang jauh lebih berisi daripada sebelumnya.
Hinata pun tidak menolak untuk menerima pelukan romantis dari suaminya tersebut. Dengan nyaman ia sandarkan kepalanya pada dada bidang sang pria Namikaze tersebut sambil tersenyum kecil.
"Ya, aku mengerti Hime. Ini keinginan mereka yang ingin selalu berada dekat dengan Tou-san mereka, bukan?" Ucap Naruto lembut kepada Hinata. Hinata tersenyum kecil sambil mengganggukkan pelan kepalanya, seolah membenarkan pernyataan yang diucapkan oleh suami blonde-nya tersebut.
"Tapi ... kau juga tidak bisa menjadikan alasan keinginan mereka itu untuk menutupi rasa rindumu yang juga begitu besar padaku setiap hari, Hime," goda Naruto kepada Hinata sambil terkekeh pelan.
Blush ...
Kedua pipi putih Nyonya Namikaze itu seketika menghangat menimbulkan rona-rona kemerahan yang tampak begitu manis pada wajahnya. Ah, rupanya selama ini suaminya itu dapat membaca sikapnya yang selalu merindukannya setiap saat.
Memang semenjak Hinata mengandung para buah hatinya, Naruto sama sekali tidak mengijinkan Hinata untuk kembali bekerja di perusahaan Namikaze Entertainment sebagai designer pakaian bagi para artisnya.
Naruto begitu mengkhawatirkan keadaan Hinata yang mungkin saja akan merasakan kelelahan jika harus bekerja dalam keadaan hamil. Padahal Hinata sendiri sebenarnya tidak merasa keberatan untuk tetap bekerja meski dirinya tengah mengandung. Namun, karena tidak ingin melihat suaminya kecewa, Hinata pun menuruti semua perkataan Naruto.
"Kau ini!" Hinata mendorong tubuh Naruto untuk menjauh darinya. Sikapnya kembali salah tingkah di hadapan Naruto, Sasuke dan juga Sakura.
Naruto kembali terkekeh pelan dan kembali menarik Hinata ke dalam pelukannya. Diucapkannya kata maaf terhadap istrinya tersebut berulang kali agar setidaknya istrinya tersebut berhenti untuk memberenggut kesal kepadanya.
Hinata yang lemah lembut tentu saja luluh dengan begitu mudah terhadap sikap hangat suaminya tersebut. Kini wanita cantik bersurai indigo tersebut hanya mampu menganggukkan pelan kepalanya kembali sambil tersenyum tipis sebagai tanggapan atas permintaan maaf Naruto.
Sementara Sasuke dan juga Sakura hanya menampilkan sebuah senyuman simpul melihat interaksi yang penuh kasih di antara Naruto dan juga Hinata.
Di dalam hati, baik Sakura maupun Sasuke, dengan begitu tulus mengucapkan rasa syukur mereka kepada Kami-sama atas setiap cinta, ujian, cobaan, kebahagiaan serta kedamaiaan yang telah Dia berikan di dalam hubungan mereka berempat selama ini.
"Bukankah sikap mereka terlihat begitu manis, Sasuke-kun?" Tanya Sakura kepada Sasuke sambil menggenggam lembut tangan besar nan hangat suami Uchiha-nya tersebut.
"Hn. Sikap mereka memang terlihat manis," Sasuke tersenyum simpul kepada Sakura sambil mendekatkan wajahnya ke arah sisi wajah Sakura. "Tapi kurasa sikap kita jauh lebih manis daripada mereka, Hime," bisik Sasuke dengan suara yang menggoda di telinga Sakura.
Sekilas pria Uchiha itu mengulum dan menggigit kecil daun telinga sang wanita musim semi tersebut, membuat Sakura secara tanpa sadar sedikit mengeluarkan desahan kecil dari bibir ranumnya, yang tentu saja hanya dapat dinikmati oleh sang bungsu Uchiha seorang.
Sang calon ayah tersebut hanya menyeringai tipis mendengar desahan kecil istrinya yang mengalun dengan begitu indah dan merdu bergema pada indera pendengarannya.
Sasuke pun menjauhkan wajahnya dari wajah Sakura yang saat ini terlihat bersemu merah karena Sakura baru menyadari apa yang baru saja ia lakukan atas tindakan Sasuke. Beruntung Naruto dan Hinata sama sekali tidak melihat hal memalukan yang baru saja dilakukannya.
Sakura hendak mengeluarkan kekesalannya kepada sang suami saat ini, jika saja tidak ada pertanyaan yang terlontar dari mulut mungil sang Nyonya Namikaze, Hinata.
"Lalu, dimana Mikoto Baa-san dan juga Fugaku Jii-san sekarang, Sasuke-kun?" Tanya Hinata kepada Sasuke. Tentu saja sang wanita indigo itu ingin bertemu dengan kedua orang tua Sasuke untuk memberikan ucapan selamat ulang tahun kepada Mikoto, sang nyonya Uchiha.
"Mereka sedang berdansa di sana," Sasuke tersenyum tipis sambil mengendikan kecil kepalanya ke arah kedua orang tuanya.
Hinata dan Naruto pun spontan mengalihkan pandangan mereka ke arah yang baru saja Sasuke tunjuk. Keduanya mengembangkan sebuah senyuman kebahagiaan tatkala melihat keromantisan yang diumbar oleh pasangan Uchiha Fugaku dan Uchiha Mikoto saat ini.
"Meski sudah tidak muda lagi, tapi entah mengapa keserasian yang ditampilkan oleh Mikoto Baa-san dan juga Fugaku Jii-san sepertinya tidak pernah hilang, eh?" Ucap Naruto sambil terkekeh pelan kepada Sasuke.
"Hn. Sama seperti Kushina Baa-san dan juga Minato Jii-san, bukan?" Tunjuk Sasuke ke arah yang berlawanan dengan posisi kedua orang tuanya berada, sambil tersenyum tipis kepada Naruto dan Hinata.
Kedua sejoli itu pun menolehkan kepalanya ke arah lain, dimana di sana terdapat Minato dan Kushina yang juga tengah berdansa mesra.
Naruto kembali terkekeh pelan mendapati adegan romantis dari kedua orang tuanya. "Seharusnya kita juga tak boleh kalah romatisnya dari kedua orang tua kita. Bukan begitu, Sasuke?" Ucap Naruto sambil menepuk pelan pundak sahabat raven-nya tersebut dan tersenyum tipis kepada Sasuke.
"Ya, seharusnya memang begitu Naruto. Tapi sepertinya ada seseorang yang sedikit keberatan untuk melakukannya," ucap Sasuke menyeringai tipis sambil melirik ke arah Sakura yang berdiri di sampingnya.
Mendengar ucapan Sasuke serta menyadari lirikan onyx indah milik suaminya itu, membuat Sakura mendelik tajam ke arah sang bungsu Uchiha tersebut.
Sementara Naruto mengulum senyuman pertanda bahwa ia mengerti maksud dari kata-kata Sasuke tersebut. "Hei, Nyonya Uchiha!" Seru Naruto kepada Sakura sambil menampilkan sebuah ekspresi bujukan pada wajah tampannya yang seolah-olah mengajak Sakura untuk ikut acara pesta dansa saat ini.
Sakura terdiam sejenak menatap wajah Naruto dengan penuh pertimbangan, sebelum akhirnya ia menghela napas panjang dan beralih menatap sang pria Uchiha yang kini tengah menyeringai penuh arti kepadanya. "Hah~ ... Baiklah kalau begitu," ucap Sakura sambil menjulurkan tangan kanannya ke arah Sasuke.
Tentu saja sang Uchiha bungsu itu menyambut dengan hangat tangan halus sang wanita musim semi tersebut.
"Bagus! Ayo Hime, kita ikuti Tou-san dan Kaa-san berdansa di sana!" Naruto pun menggandeng tangan Hinata dan menuntun langkah wanitanya dengan sangat hati-hati ke arah kedua orang tuanya.
Begitu pun dengan pasangan Sasuke dan Sakura segera menyusul pasangan Naruto dan Hinata yang kini sudah memulai kegiatan dansa mereka. Namun, tentu saja mereka tidak melakukan dansa seperti yang dilakukan oleh para orang tua mereka.
Baik Sasuke maupun Naruto, saat ini tengah memeluk masing-masing istri mereka dari belakang dan melingkarkan dengan begitu lembut kedua tangan kekar mereka pada perut besar istri mereka. Spontan Sakura dan juga Hinata meletakkan kedua tangan mungil mereka di atas tangan kekar sang suami.
Wajah tampan Sasuke dan juga Naruto, dengan nyaman mencari kehangatan pada perpotongan leher jenjang istri mereka yang menguarkan aroma tubuh yang begitu wangi, khas istri mereka yang selama ini selalu memanjakan indera penciuman mereka.
Mereka pun bergerak ke kanan dan ke kiri, mengikuti alunan musik piano yang mengalun dengan begitu merdunya memenuhi setiap sudut ruangan pesta malam ini.
"Tidak begitu buruk bukan, Hime?" Ucap Sasuke berbisik lembut di telinga Sakura. Sakura pun tersenyum kecil dan menganggukkan pelan kepalanya seolah menyetujui ucapan suaminya tersebut.
Sasuke semakin merengkuh penuh kasih sayang istri merah muda yang begitu dicintainya itu. Berkali-kali dikecupnya dengan begitu lembut leher jenjang sang istri yang sedari dulu selalu berhasil menggoda pandangan kedua onyx-nya untuk menikmati keindahannya.
Tentu saja perlakuan suaminya itu selalu berhasil memberikan getaran-getaran aneh pada tubuh Sakura. Setiap sentuhan yang dilakukan oleh Sasuke, memberikan candu tersendiri bagi sang wanita musim semi tersebut.
Terlebih lagi kondisi Sakura yang tengah mengandung, memang semakin menambah tingkat kegairahan yang dimilikinya untuk melakukan hubungan intim dengan suami tercintanya tersebut.
.
.
.
.
.
Hoek hoek hoek ...
Tangan kekar milik pemuda Uchiha itu mengelus dengan begitu lembut punggung rapuh milik wanitanya yang saat ini tengah muntah di dalam kamar mandi pribadinya. Wajah tampan sang sulung Uchiha itu tampak begitu khawatir melihat keadaan wanita yang begitu berharga dalam hidupnya selama ini.
"Apa sebaiknya kita pergi ke rumah sakit, Hime? Kondisimu sepertinya tidak juga membaik," ucap Itachi khawatir kepada Konan.
"Tidak perlu Itachi-kun! Aku baik-baik sa-... Hoek ..." Belum sempat Konan menyelesaikan perkataannya kepada Itachi, kembali rasa mual menyerang perutnya.
"Kau tidak baik-baik saja Hime! Kalau begitu aku akan panggilkan Kabuto untuk memeriksamu sekarang," Itachi hendak berbalik untuk keluar dari kamar mandi dan menghubungi Kabuto, sebelum akhirnya ia memutuskan untuk tetap tinggal tatkala wanitanya itu menahan tubuhnya dengan sebelah tangan mungilnya.
"Percayalah, aku baik-baik saja, Itachi-kun," ucap Konan penuh keyakinan sambil tersenyum manis kepada Itachi. Itachi hanya mampu menghela napas pasrah dengan sikap keras kepala yang dimiliki istrinya tersebut.
Ya, Itachi dan Konan telah resmi menjadi sepasang suami istri sejak dua bulan yang lalu. Sebenarnya Itachi dan Konan memang telah merecanakan pernikahan mereka pada tahun ini, jauh-jauh hari sebelum Sasuke bertemu dengan Sakura.
Namun, sepertinya Kami-sama lebih mempercayai Sasuke untuk terlebih dahulu mengikat janji sucinya bersama Sakura. Itachi sama sekali tidak merasakan kekecewaan karena didahului oleh adik kesayangannya. Justru Itachi sangat teramat bahagia akan semua karunia luar biasa yang telah diberikan oleh Kami-sama terhadap keluarganya saat ini.
"Itachi-kun, apa kau tidak menyadari sedikit pun keadaanku saat ini, eh?" Tanya Konan sambil menaikkan sebelah alisnya ke atas, merasa heran dengan ketidakpekaan suami berwibawanya tersebut.
Itachi memang seorang pria yang pintar dan juga jenius. Tapi sepertinya saat ini kejeniusan yang dimilikinya tidak dapat diandalkan sama sekali, eh?
"Tentu saja aku tahu. Kau sedang sakit, Hime. Kau merasa mual dan muntah beberapa hari ini. Kalau bukan sakit apala- ... Oh, astaga Kami-sama! Bagaimana mungkin aku tidak menyadarinya?!" Kedua onyx hitam milik Itachi seketika membulat tatkala menyadari sesuatu yang begitu penting baginya dan tentu saja bagi wanitanya juga.
"Hah~ ... Lama sekali kau menyadarinya, sayang," ucap Konan sambil menghela napas kecil, kemudian terkekeh pelan kepada Itachi.
Itachi langsung menghamburkan tubuh kekarnya untuk memeluk istri tercintanya. Wajah rupawannya memancarkan aura kebahagiaan yang tiada terkira. Senyuman penuh rasa syukur pun tercipta pada kedua sudut bibir tegasnya.
"Kenapa kau tidak memberitahuku bahwa kau tengah mengandung, Hime?" Tanya Itachi dengan nada suara yang terdengar sedikit bergetar. Tentu saja karena Itachi begitu merasa bahagia dengan berita kehamilan istrinya tersebut.
"Aku hanya ingin kau yang menyadarinya sendiri, Itachi-kun," ucap Konan tenang sambil mengelus punggung tegap sang sulung Uchiha.
"Kau ini! Hal sepenting ini mengapa harus kau sembunyikan?! Bagaimana kalau aku tidak menyadarinya sampai nanti?" Itachi melepaskan pelukannya terhadap Konan dan memfokuskan pandangan matanya ke arah manik indah milik Konan.
"Itu berarti predikat suamiku sebagai seorang direktur pintar dan juga jenius sudah tidak berlaku lagi," ejek Konan sambil tersenyum jahil kepada Itachi.
Itachi menjawil dengan gemas hidung mancung istrinya tersebut. Sang istri hanya pasrah saja mendapatkan perlakuan seperti itu dari sang suami.
"Ayo, lebih baik sekarang kau beristirahat saja, Hime!" Itachi pun membawa tubuh istrinya keluar dari kamar mandi. Konan pun segera membaringkan tubuhnya yang cukup terasa lemas di atas tempat tidur miliknya dan juga Itachi.
Itachi pun membaringkan tubuhnya di samping istrinya dan mengecup pelan kening istrinya tersebut. "Tidurlah!" Ucap Itachi lembut kepada Konan.
"Tapi ... Bagaimana dengan pesta ulang tahun Kaa-san?" Tanya Konan khawatir, merasa tidak enak terhadap mertuanya jika ia dan Itachi meninggalkan pesta begitu saja.
"Tidak apa-apa. Kaa-san pasti mengerti jika nanti kita mengatakan alasannya. Lagipula masih ada Sasuke dan juga Sakura di sana. Kau tidak perlu khawatir, Hime," ucap Itachi sambil mengelus lembut pipi kiri Konan dengan menggunakan punggung tangannya.
Konan pun menganggukkan pelan kepalanya kepada Itachi. Wanita cantik itu pun menarik tubuh Itachi untuk merengkuhnya dan tertidur dengan nyaman dalam kehangatan tubuh suaminya.
.
.
.
.
.
Pesta ulang tahun Mikoto Uchiha malam ini sungguh terasa begitu meriah dan elegan. Dihadiri oleh para kolega bisnis perusahaan Uchiha yang terkenal, ditambah dengan sahabat-sahabat Sasuke dan juga Sakura yang notabene berasal dari kalangan artis dan model, semakin menunjukkan bahwa pesta ulang tahun malam ini sungguh terlihat istimewa.
Selesai berkutat dengan kegiatan dansa mereka, baik kedua pasangan Uchiha maupun kedua pasangan Namikaze kini mulai memanjakan perut mereka dengan hidangan pesta yang memang telah tersedia di beberapa sudut ruangan pesta tersebut.
Tentu saja selama mereka menikmati hidangan makan malam tersebut, tidak ada satupun dari mereka yang berniat untuk membuka pembicaraan satu sama lain. Itulah tata krama yang sedari dulu memang tertanam pada kedua keluarga tersebut.
"Apa kau tidak melihat keberadaan Itachi dan juga Konan, Sasuke?" Tanya Fugaku yang baru menyadari keabsenan putra sulungnya beserta menantunya, setelah mereka semua menyelesaikan acara makan malam mereka.
Pertanyaan sang kepala keluarga Uchiha tersebut sontak saja membuat semua orang menyadari ketidakberadaan Itachi dan juga Konan saat ini-ah, atau mungkin sedari tadi.
"Bukankah sebelum kita berdansa tadi, Itachi-kun dan juga Konan-chan masih berada di pesta ini, Fugaku-kun?! Bagaimana mungkin mereka pergi begitu saja tanpa pamit terlebih dahulu kepada kita semua?" Ucap Mikoto sedikit merasa kecewa karena putra sulung dan menantu tersayangnya pergi meninggalkan pesta ulang tahunnya tanpa memberitahu dirinya terlebih dahulu.
Memang setelah menikah, baik Sasuke maupun Itachi, tidak lagi tinggal dengan kedua orang tua mereka di Mansion Uchiha. Mereka lebih memilih membeli sebuah rumah pribadi, untuk mereka tempati bersama istri mereka masing-masing. Setidaknya mereka ingin belajar untuk membina keluarga secara mandiri, tanpa bantuan kedua orang tua mereka.
"Hn. Itachi-nii dan Konan-nee tidak seperti itu, Kaa-san," ucap Sasuke sopan menyanggah perkataan ibunya. Mikoto pun mengalihkan pandangannya ke arah putra bungsunya.
"Kau tahu kemana mereka pergi, Sasuke-kun?" Tanya Mikoto penasaran sambil mengerutkan keningnya dalam.
"Hn. Tidak, aku tidak tahu, Kaa-san," ucap Sasuke datar, membuat sang Nyonya Uchiha tersebut menghela napas kecewa karenanya. "Tapi ... sepertinya mereka ada di kamar Itachi-nii saat ini," ucap Sasuke melanjutkan perkataannya dengan sebuah kemungkinan yang tengah dipikirkannya saat ini.
Entahlah apakah itu benar atau tidak pada kenyataannya. Tapi yang pasti feeling seorang adik yang dirasakannya memang mengatakan seperti itu. Sepertinya malam ini Sasuke memang senang sekali bertaruh dengan feeling yang dimilikinya, eh?
"Hn. Kalau begitu setelah pesta ini selesai, lebih baik kita memastikannya sendiri ke kamar Itachi," ucap Fugaku tenang sambil menyesap teh hijau hangatnya.
Semua menganggukkan kepalanya pelan, seolah menyetujui keputusan yang diucapkan oleh kepala keluarga Uchiha tersebut. Tentu saja tidak termasuk keluarga Namikaze yang memang tidak ada kaitannya dengan ketidakberadaan Itachi dan Konan saat ini.
.
.
.
.
.
Naruto dan Hinata pun tiba di kediaman mereka, setelah sebelumnya mereka meminta diri kepada keluarga Uchiha untuk pulang lebih awal dari acara pesta ulang tahun Uchiha Mikoto.
Sebuah mansion tingkat dua yang dapat dikatakan cukup mewah itu, telah dibeli oleh Naruto saat dirinya tengah merencanakan kejutan pernikahan bagi Hinata, tujuh bulan yang lalu.
Sesekali Hanabi pun mengunjungi kediaman mereka dengan begitu antusias. Tentu saja hal ini disebabkan karena gadis remaja itu ingin sekali bertemu dengan kakak ipar kesayangannya yang selalu memanjakannya.
Hinata terkadang dibuat cemburu karena sikap Naruto yang begitu perhatian terhadap Hanabi atau sebaliknya sikap Hanabi yang lebih memperhatikan Naruto daripada dirinya yang notabene adalah kakak kandungnya sendiri.
Tapi Hinata pun memaklumi keakraban suami tercintanya dan juga adiknya tersebut yang sudah terjalin sejak lama. Keintiman yang terjalin diantara Naruto dan juga Hanabi, tak lebih dari sekedar hubungan kakak beradik. Tentu saja.
Ekspresi kelelahan tampak begitu mendominasi kedua wajah rupawan tersebut saat ini. Namun, meskipun begitu kedua sejoli itu sangat menikmati pesta ulang tahun Uchiha Mikoto malam ini.
Hinata yang tengah mengandung, memang cepat sekali merasakan kelelahan pada tubuhnya. Sementara Naruto sendiri, hari ini tidak mendapatkan waktu istirahat yang cukup karena kesibukan pekerjaannya di kantor. Sehingga tubuh kekarnya juga terasa begitu lelah dan ingin segera berbaring dengan nyaman di atas ranjangnya.
Hinata segera saja membersihkan tubuhnya dan mengganti gaun pesta yang sedari tadi digunakannya dengan sebuah lingeri hitam transparan, yang tentu saja memperlihatkan sedikit kulit mulusnya yang tampak begitu indah. Terutama bagian perut besarnya yang tampak lebih seksi dengan tampilannya malam ini.
"Kau tidurlah terlebih dahulu, Hime!" Ucap Naruto lembut kepada Hinata yang saat ini tengah duduk di pinggir ranjang mereka sambil mengecup pucuk kepala istrinya tersebut.
"Kau harus mendapatkan istirahat yang cukup agar calon putra dan putri kita sehat nantinya," pria Namikaze itu tersenyum tipis ke arah Hinata sambil mengelus perut besar Hinata. Hinata hanya diam saja tak menunjukkan sikap menyetujui ucapan suaminya tersebut.
Naruto pun meninggalkan Hinata dan melangkahkan kakinya ke arah kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Sang wanita Namikaze tersebut tak lantas mengikuti apa yang telah dikatakan oleh suaminya tadi. Rasanya ia tidak bisa tidur sebelum mendapatkan pelukan hangat dari Naruto untuk mengiringinya memasuki alam mimpi.
Entah mengapa tadi ia tidak jujur mengatakan kepada Naruto bahwa dirinya ingin menunggu suaminya tersebut dan tidur bersama-sama. Saat ini Hinata benar-benar ingin sekali Naruto untuk memanjakannya.
Ia rindu, sangat teramat rindu dengan kehangatan suaminya. Meski setiap hari merasakannya tapi rasanya Hinata tak pernah puas untuk menikmati kasih sayang yang berlimpah dari sang pria Namikaze tersebut.
Hinata mengayun-ayunkan pelan kaki mungilnya yang bebas sambil mengelus intens perut besarnya, hanya untuk sekedar mengusir rasa bosan dan juga kesepian saat Naruto masih berkutat membersihkan diri di kamar mandi.
Lima belas menit telah berlalu semenjak Naruto pergi untuk membersihkan tubuhnya. Kini direktur muda itu sudah keluar dari kamar mandi dengan menggunakan sebuah celana pendek hitam dan juga kaos putih tanpa lengan, yang melekat pada tubuh atletisnya.
Kedua tangannya sibuk mengeringkan surai blonde-nya dengan sebuah handuk kecil. Kedua pipi Hinata menghangat takala melihat suaminya yang tampak begitu keren saat ini. Ya, wanita indigo itu begitu sangat menyukai-ah, atau lebih tepatnya begitu mengagumi penampilan Naruto yang baru saja selesai mandi.
"Hm, kenapa kau belum tidur, Hime?" Tanya Naruto sambil menaikkan sebelah alisnya ke atas tatkala dirinya mendapati sang istri yang saat ini tengah menatap penuh arti ke arah dirinya. Perlahan Naruto pun berjalan menghampiri Hinata sambil tetap mengeringkan rambutnya yang masih basah.
"Aku tidak bisa tidur, Naruto-kun," ucap Hinata menjawab pertanyaan Naruto, yang kini telah duduk di samping dirinya. Wanita cantik itu tersenyum tipis kepada suaminya, yang juga dibalas sebuah senyuman hangat oleh Naruto.
Hinata pun tanpa ragu menggandeng lengan atas Naruto dan meletakkan kepalanya pada bahu kanan direktur muda tersebut, membuat Naruto menghentikan gerakan tangannya yang tengah mengeringkan rambutnya.
Sekejap, wanita cantik itu pun memejamkan kedua matanya yang terasa begitu lelah. Aroma citrus yang menguar dari tubuh Naruto, memang selalu dapat menenangkan hati, pikiran serta perasaan Hinata.
Naruto terkekeh pelan melihat sikap belahan hatinya tersebut. "Jika kau tidur seperti ini, aku yakin jika esok hari tubuhmu akan merasakan sakit, Hime," ucap Naruto sambil melepaskan gandengan tangan Hinata terhadapnya.
Mau tak mau Hinata pun akhirnya membuka kembali kedua iris amethyst-nya sambil menegakkan kembali kepalanya menghadap Naruto. Bibir ranumnya tampak mengerucut kecil, menandakan bahwa dirinya tidak menyukai akan sikap yang dilakukan oleh Naruto terhadapnya.
Naruto mengusap pelan surai indigo milik istrinya sambil menyunggingkan sebuah senyuman simpul.
"Jangan marah. Aku melakukannya karena aku peduli padamu dan juga pada calon anak-anak kita, Hime," ucap Naruto memberikan pengertian kepada Hinata.
Tentu saja Hinata tahu dan sangat mengerti perkataan Naruto tersebut. Hinata terkekeh kecil sambil membingkai wajah tampan Naruto dengan kedua tangan mungilnya. "Aku tahu," ucap Hinata sambil mencium lembut bibir tegas dihadapannya.
Naruto memang merasakan kelelahan yang luar biasa pada tubuhnya saat ini. Namun, sepertinya rasa lelah itu seketika saja menguap tatkala bibir ranum istrinya itu berhasil membuat energinya terkumpul kembali-ah, atau mungkin lebih tepatnya Hinata secara tidak sadar telah berhasil membangkitkan gairah Naruto saat ini.
"Kau benar-benar licik, Hime! Aku sangat lelah saat ini, tapi kau dengan begitu mudahnya menggodaku dan membuat rasa lelahku hilang. Kau harus bertanggung jawab untuk mengganti jam tidurku malam ini, sayang," ucap Naruto menuntut sambil menyeringai tipis tatkala pagutan bibirnya dengan Hinata terlepas.
"Eh, A-Aku tidak bermaksud untuk menggo- ..." Ucapan Hinata tenggelam seiring dengan masuknya lidah hangat Naruto ke dalam mulut mungilnya. Tak berniat menolak cumbuan mesra yang diberikan oleh suaminya tersebut, Hinata pun terhanyut dalam permainan lidah yang dilakukan oleh Naruto.
Tak pelak, desahan kecil dengan melodi merdunya keluar dari bibir mungil Hinata tatkala Naruto meremas dengan begitu lembut kedua buah dada besar milik Hinata, yang memang saat ini hanya tertutupi oleh lingeri hitam yang tengah dikenakan oleh gadis cantik itu.
Merasa tak nyaman dengan posisi mereka saat ini, Naruto pun melepaskan cumbuannya terhadap Hinata. "Berbaringlah, Hime," bisik Naruto sensual di telinga kanan Hinata.
Seolah terbius dengan kata-kata suaminya, Hinata pun beranjak naik ke atas ranjang dan dengan hati-hati membaringkan tubuhnya secara terlentang sambil mengelus-elus perutnya yang besar.
Naruto pun turut membaringkan tubuhnya menyamping ke arah Hinata, dengan menyanggakan kepalanya pada tangan kirinya. Sementara tangan kanan Naruto, ia gunakan untuk melakukan hal yang sama dengan apa yang tengah dilakukan oleh Hinata.
Kedua sapphire itu seketika memerangkap kedua amethyst milik Hinata dalam pesona keindahan yang tak berujung, seolah benar-benar menenggelamkannya dalam lautan kristal biru miliknya.
Tangan Hinata pun terulur ke arah wajah tampan Naruto, dan tanpa ragu menarik dagu lancip sang direktur Namikaze tersebut. Kembali, bibir mereka berpagutan mesra untuk yang kedua kalinya malam ini.
Kali ini giliran Hinata yang memimpin dalam ciuman mesra mereka, sementara Naruto mengalah untuk mengikuti permainan istrinya tersebut.
-Start of Lime-
Tangan Naruto yang sedari tadi mengelus perut bulat Hinata, kini mulai menyingkap ke atas secara perlahan lingeri hitam milik Hinata, sehingga menampilkan dengan begitu jelas perut besar Hinata, yang terasa begitu lembut pada telapak tangannya.
Jajahan Naruto pun tidak berhenti sampai disana saja, kini tangannya mulai merangkak naik ke arah buah dada besar milik Hinata dan memulai aksinya untuk memanjakan kedua bukit kembar kenyal itu.
Jari-jari tegas itu begitu lihai memberikan rangsangan pada kedua puncak buah dada Hinata. Gairah wanita indigo itu semakin terangsang dengan tindakan yang dilakukan oleh Naruto tersebut. Hinata semakin menarik tengkuk Naruto untuk memperdalam ciuman mereka, menyalurkan hasrat cinta yang semakin terasa meluap di dadanya saat ini.
Secara sepihak, Naruto mengakhiri ciuman panas mereka, yang membuat Hinata tampak sedikit kecewa. Namun, kekecewaan itu tak bertahan lama karena ternyata Naruto tengah meraup dengan ganas kedua puncak buah dadanya secara bergantian.
Tampaknya, Naruto sudah tidak sabar untuk menyantap kedua puncak payudara Hinata yang sudah mengeras karena ulah kedua tangannya.
Hinata menggeliatkan tubuhnya disertai desahan-desahan kecil yang keluar dari bibir mungilnya, tatkala Naruto menghisap dengan begitu kuat salah satu puncak payudaranya, dan permainan panas mereka pun terjadi begitu saja menghempaskan keheningan yang meliputi malam hari ini.
-End of Lime-
.
.
.
.
.
Gerakan kecil yang dibuat istrinya yang tengah tertidur lelap saat ini, ternyata berhasil mengusik sang putra sulung Uchiha untuk segera terbangun dari tidur singkatnya malam ini.
Mengerjapkan matanya beberapa kali guna menyesuaikan cahaya lampu yang masuk ke dalam kedua netranya saat ini, Itachi kemudian menarik tubuhnya untuk segera beranjak dari ranjang pribadinya.
Sebuah kuapan kecil sempat tercipta pada bibir tegasnya, seolah mengisyaratkan jika pria tampan itu masih membutuhkan waktu istirahat yang lebih banyak malam ini.
Namun, mengingat jika malam ini merupakan malam spesial sang ibu tercintanya, mau tidak mau Itachi harus memaksakan diri untuk menemui keluarganya saat ini, guna memberikan penjelasan mengenai keabsenan dirinya dan juga Konan pada acara penting malam ini.
Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, itu berarti pesta telah mencapai puncak acaranya. Sekilas Itachi melirik ke arah Konan yang masih terlelap dengan nyaman di atas ranjang pribadi mereka. Sebuah senyuman tipis terpatri pada wajah tampannya tatkala mengingat moment yang beberapa waktu lalu terjadi diantara dirinya dan juga Konan.
Itachi pun melangkahkan kakinya ke arah pintu kamar miliknya dan berniat untuk membukanya, jika saja tidak ada seseorang yang telah terlebih dahulu membukanya dari arah luar.
Itachi tersenyum simpul tatkala mendapati bahwa yang membuka pintu kamarnya adalah ibunya sendiri, Uchiha Mikoto. Begitu pun dengan Mikoto yang juga mengembangkan sebuah senyuman kelegaan saat melihat keberadaan Itachi di kamar pribadinya.
"Kaa-san pikir, kau dan juga Konan sudah pulang tanpa pamit terlebih dahulu kepada kami," ungkap Mikoto mengutarakan kekhawatiran yang sempat melanda perasaannya beberapa waktu yang lalu.
Fugaku, Sasuke dan juga Sakura, yang saat ini tengah berdiri di belakang Mikoto, hanya bisa ikut tersenyum simpul mendengar penuturan sang Nyonya Uchiha tersebut.
Itachi terkekeh pelan, sebelum akhirnya ia menyatakan permintaan maaf-nya kepada Mikoto dan menjelaskan alasan mengenai keabsenan dirinya dan juga Konan pada pesta ulang tahun Mikoto tadi.
Binar-binar kebahagiaan dan rasa syukur itu terpancar dengan begitu melimpah dari keempat pasang mata yang hadir disana, tatkala mendengar bahwa akan hadir calon anggota Uchiha baru, buah hati Itachi dan juga Konan, yang akan semakin menambah keceriaan dalam salah satu keluarga terpandang di Konoha tersebut.
.
.
.
.
.
Sasuke dan Sakura pun mulai menuju kamar pribadi mereka untuk beristirahat, setelah sebelumnya berpamitan kepada Fugaku, Mikoto dan juga Itachi.
Membuka pintu kamarnya, Sasuke segera menarik perlahan tangan mungil Sakura untuk segera masuk ke dalam kamar, sambil menyeringai penuh arti. Tentu saja ini adalah saatnya untuk menghukum wanita cantiknya itu.
Sasuke tidak serta merta membawa Sakura langsung ke atas ranjang untuk bercinta. Sasuke justru malah menyudutkan tubuh Sakura bersandar pada pintu kamar pribadi mereka, yang telah Sasuke tutup sebelumnya, dan memerangkap Sakura dalam kungkungan kedua tangan kekarnya.
Sang onyx menatap dengan begitu intens ke dalam sang emerald, mencoba mencari cahaya menyejukkan yang selalu berhasil membawanya terhanyut dalam perasaan damai selama ini.
Tangan mungil wanita itu pun meraih wajah tampan di hadapannya, sambil menampilkan lengkungan tipis menawan pada bibir ranumnya.
"Kau ini tidak sabaran sekali sih, Sasuke-kun!" Ucap Sakura gemas seraya menarik kecil pipi tegas suami tercintanya.
Sasuke kembali menyeringai sambil menarik kedua tangan Sakura dari wajahnya dan menahannya tepat di atas kepala Sakura, menggunakan tangan kanannya. Sementara tangan kirinya yang bebas kini mulai bergerak nakal ke arah buah dada besar Sakura yang masih tertutupi oleh gaun pesta milik wanita itu.
Meremasnya secara perlahan dan lembut, Sasuke berhasil membuat wanitanya mengeluarkan desahan indah yang begitu memanjakan indera pendengarannya saat ini.
"Untuk urusan yang lain aku memang masih bisa menunggu dan bersabar, sayang. Tapi, maafkan aku karena aku tidak bisa belajar bersabar untuk urusan semacam ini," ucap Sasuke berbisik sensual di telinga Sakura.
Tanpa berniat sedikit pun untuk menanggapi ucapan suaminya, Sakura memalingkan wajahnya ke samping-tepatnya ke arah wajah Sasuke-dan tanpa ragu menyambar singkat bibir tegas sang bungsu Uchiha tersebut.
"Kalau begitu, bisa kita memulainya sekarang sebelum rasa lelahku semakin bertambah, Sasuke-kun?" Ucap Sakura sambil menyeringai tipis, seolah menantang sang pria Uchiha tersebut.
Sasuke terkekeh pelan mendengar kata-kata istrinya tersebut. Sasuke tahu jika saat ini justru hasrat Sakura-lah yang jauh lebih tinggi untuk bercinta dibandingkan dirinya.
"Kau sangat pintar membuat alasan, sayang. Kupastikan rasa lelahmu justru akan hilang setelah kita bercinta malam ini, Hime," ucap Sasuke penuh rasa percaya diri.
"Kalau begitu jangan menyia-nyiakan waktumu, sayang," Sakura kembali meraih bibir Sasuke dan memberikan sebuah lumatan yang cukup menuntut disana.
Sasuke pun membalas setiap lumatan yang dilakukan oleh Sakura dengan begitu agresif. Pergulatan panas yang dilakukan lidah mereka pun tak terelakan lagi, menciptakan aliran kecil saliva dari celah yang tercipta pada perpagutan bibir mereka.
-Start of Lime-
Tangan yang sedari tadi digunakan Sasuke untuk menahan kedua tangan Sakura, kini mulai terlepas dan secara perlahan bergerak turun membelai lembut rambut merah mudanya, wajah cantiknya, leher jenjangnya, serta yang terakhir adalah buah dada besar milik sang wanita musim semi.
Desahan demi desahan mengalun dengan begitu indah dari bibir mungil Sakura, tatkala Sasuke semakin mempercepat permainan jari-jarinya untuk meremas buah dada Sakura dan memelintir puting kemerahan yang semakin terasa mengeras saat ini.
Puas memanjakan kedua bukit kembar indah itu, salah satu tangan Sasuke beralih ke arah punggung Sakura guna menurunkan resleting gaun pesta Sakura. Sementara tangannya yang lain, kini perlahan bergerak turun ke arah bagian bawah tubuh Sakura guna menyingkap ke atas gaun yang dikenakan oleh Sakura.
Melepaskan ciuman mereka sesaat tatkala Sasuke berusaha untuk melepaskan secara keseluruhan gaun milik Sakura dari tubuh wanita musim semi itu, sebelum akhirnya mereka kembali memagutkan mesra bibir mereka.
Secara perlahan Sasuke memutar tubuh polos Sakura. Tanpa melepaskan sedikit pun ciuman mereka, Sasuke menuntun wanita cantik itu untuk melangkah ke arah ranjang pribadi mereka, dan secara hati-hati Sasuke membaringkan tubuh Sakura disana.
Sasuke pun mulai melepaskan semua pakaian yang tengah dikenakannya saat ini, dan melemparnya secara asal ke sembarang tempat. Sakura hanya mampu tersenyum geli melihat suaminya yang terkesan terburu-buru saat melepaskan semua pakaiannya itu.
Sasuke pun mengambil posisi di atas tubuh Sakura dengan menyanggakan kedua tangannya di kedua sisi tubuh Sakura guna menahan tubuhnya agar tidak menekan perut besar istri tercintanya itu.
Sakura mengalungkan dengan nyaman kedua tangannya pada leher tegas sang bungsu Uchiha, dan menariknya secara perlahan guna meraup kembali bibir menggoda milik suaminya tersebut. Pergumulan panas mereka pun berjalan dengan begitu bergairah dan agresif, melenyapkan segala rasa lelah yang sempat mendera tubuh mereka berdua sebelumnya.
-End of Lime-
.
.
.
.
.
.
Ten Years Later ...
Suara langkah kaki-kaki mungil yang berlari-lari kecil tampak terdengar memenuhi indera pendengaran sang Tuan Uchiha dan juga sang Nyonya Uchiha, yang saat ini tengah bersantai di ruang tamu kediaman Uchiha.
Sang Tuan yang bernama lengkap Uchiha Sasuke itu, kini tengah memfokuskan kedua manik hitamnya ke arah deretan kalimat yang tertera pada majalah bisnis mingguan Konoha.
Sementara sang Nyonya yang bernama lengkap Uchiha Sakura itu, tampak duduk manis di samping suaminya, sambil sesekali menyeruput ocha hangat dari cangkir miliknya.
"Tadaimaaaa~... Papaaa~... Mamaaa~..." Seruan yang terdengar begitu riang dan bersemangat dilontarkan oleh kedua sosok mungil berbeda gender kepada Sasuke dan juga Sakura.
Kedua sosok dewasa itu pun seketika menyunggingkan sebuah senyuman simpul tatkala ketiga sosok malaikat mungil berharga mereka kini telah berada tepat di hadapan mereka.
"Okaerinasai, Sarada-chan, Sakazuki-kun, Sakazuke-kun," ucap sang wanita musim semi tersebut, menyambut ketiga buah hati kesayangannya sambil tersenyum lembut ke arah mereka.
"Mamaaa~..." Seru Sakazuke, sang bungsu kembar Uchiha, dengan begitu antusias berlari penuh semangat ke arah Sakura dan menghamburkan tubuh mungilnya ke dalam pelukan hangat sang ibu cantik tersebut.
"Papaaa~..." Kali ini giliran Sarada, sang putri sulung kembar Uchiha, yang begitu bersemangat untuk menenggelamkan tubuh mungilnya ke dalam dekapan dada bidang sang ayah, Uchiha Sasuke.
Selama seminggu penuh tidak bertemu, tentu saja membuat para malaikat kecil itu merasakan kerinduan yang mendalam terhadap kedua orang tua mereka.
Urusan bisnis perusahaan Uchiha di luar negeri, mau tidak mau memaksa Sasuke dan juga Sakura untuk pergi dan meninggalkan ketiga buah hati mereka untuk sementara waktu bersama dengan kakek dan nenek mereka.
Mengingat jika ketiga anaknya tersebut tengah menghadapi minggu ujian akhir kenaikan kelas ke tingkat lima sekolah dasar, sehingga Sasuke dan Sakura tidak bisa mengikutsertakan ketiga buah hati mereka dalam perjalanan bisnis tersebut.
"Papa, Sarada sangat merindukan Papa," gumam Sarada mengungkapkan kerinduannya terhadap Sasuke. Pria yang dulunya berprofesi sebagai aktor itu, mengelus lembut pucuk kepala gadis kecilnya sambil terkekeh pelan.
"Papa juga merindukanmu sayang," ucap Sasuke tulus dan penuh kasih kepada Sarada, yang tentu saja membuat sang sulung Uchiha itu tersenyum bahagia atas perkataan Sasuke tersebut.
"Sakazuke-kun tidak nakal 'kan selama Papa dan Mama pergi? Kau tidak merepotkan Nee-chan dan Nii-chan-mu 'kan, sayang?" Tanya Sakura lembut kepada Sakazuke sambil mengacak-ngacak pelan rambut emo Sakazuke, yang tampak begitu mirip dengan milik Sasuke.
"Tentu saja tidak, Mama!" Tegas Sakazuke kepada Sakura. "Sakazuke 'kan sudah besar dan sudah bisa menjaga diri sendiri sekarang! Bahkan sekarang giliran Sakazuke yang melindungi Sarada Nee-chan dari kejahilan Bolt!" Ucap Sakazuke penuh kebanggaan kepada Sakura, sambil memasang ekspresi angkuh yang tampak begitu lucu pada wajah tampannya.
Sakura terkekeh geli melihat ekspresi putra bungsunya tersebut. "Yokattane, Sakazuke-kun. Ini baru putra kebanggaan Papa dan Mama!" Ucap Sakura sambil mencium singkat kening Sakazuke.
"Hei, ini tidak adil bukan?!" Gerutu seseorang yang sedari tadi hanya diam memperhatikan kebahagiaan empat orang Uchiha di hadapannya.
Baik Sasuke, Sakura, Sarada maupun Sakazuke, tampak tak mengerti dengan ucapan putra kedua kembar Uchiha tersebut. Semuanya tampak memancarkan raut wajah penasaran akan perkataan Sakazuki.
"Sarada Nee-chan memeluk Papa," ucap Sakazuki sambil menunjuk ke arah Sasuke dan Sarada. "Sementara Sakazuke memeluk Mama," kali ini telunjuknya mengarah ke arah Sakura dan Sakazuke. "Kalau begitu ak-..." Ucapan Sakazuki terinterupsi oleh sang kepala keluarga Uchiha, yang sepertinya mulai mengerti ke arah mana pembicaraan putranya tersebut.
"Hei, jagoan! Papa rasa tangan Papa cukup lebar untuk memeluk satu lagi malaikat tampan kesayangan Papa," ucap Sasuke tersenyum tipis sambil merentangkan sebelah tangannya yang bebas, seolah memberi isyarat kepada Sakazuki untuk masuk ke dalam rengkuhan tangannya.
Bocah tampan yang memang merupakan copy-an Sasuke itu, langsung saja berlari ke arah Sasuke sambil tersenyum ceria dan tanpa ragu menubrukan tubuh mungilnya pada tubuh Sasuke.
Melihat hal tersebut, seketika saja menciptakan sebuah lengkungan tipis pada masing-masing wajah Sakura, Sarada dan juga Sakazuke.
Sakura mengelus lembut surai raven Sakazuki. "Lain kali, kau bisa bebas memilih untuk memeluk Papa atau Mama, Sakazuki-kun, karena Mama dan Papa tidak pernah sekalipun membeda-bedakan kasih sayang yang kami berikan kepada kalian," terang Sakura kepada putra keduanya tersebut, dan tentu saja ditujukan juga kepada Sarada dan Sakazuke.
"Ne, Mama. Sakazuki mengerti," ucap Sakazuki sambil menganggukkan pelan kepalanya, yang saat ini tengah bersandar pada dada bidang Sasuke.
"Kau memang anak yang pintar, sayang," puji Sakura kepada Sakazuki.
"Kalau begitu, Sakazuke juga mau dipeluk oleh Papa," putra bungsu Uchiha itu langsung melepaskan tubuhnya dari pelukan Sakura dan melesat dengan begitu cepat ke dalam pelukan Sasuke, dengan posisinya yang berada ditengah terhimpit oleh tubuh Sarada dan juga tubuh Sakazuki.
Sasuke terkekeh kecil melihat sikap ketiga buah hatinya yang begitu manja kepadanya. Rupanya tidak hanya saat berada dalam kandungan saja ketiga buah hatinya berpihak kepada Sasuke, eh?
Hati Sasuke terasa begitu hangat. Perasaan sebagai seorang ayah yang selama sepuluh tahun ini ia rasakan, terasa begitu luar biasa dan tak dapat ia ungkapkan dengan untaian kata-kata.
Sasuke bahagia. Ya, ia merasa begitu sempurna dengan kehidupannya bersama Sakura dan juga ketiga buah hatinya saat ini. Ia sungguh berharap jika kebahagiaan ini tidak akan pernah pudar sampai kapan pun juga.
"Ah~... Jadi kalian bertiga lebih memilih Papa daripada Mama, eh?" Sang Nyonya Uchiha tersebut tampak mengerucutkan bibirnya cemberut, sambil menampilkan ekspresi kesedihan pada wajah cantiknya.
Sasuke hanya menyeringai tipis mendengar perkataan istrinya tersebut. Diraihnya punggung mungil Sakura dengan sebelah tangannya dan turut merengkuh wanita musim semi-nya itu ke dalam pelukan hangatnya bersama ketiga buah hati mereka.
Sakura tersenyum simpul mendapat perlakuan seperti itu dari suami tercintanya. Diulurkannya tangan kiri miliknya untuk memeluk punggung ketiga buah hatinya, yang masih setia memeluk Sasuke.
"Kalian adalah harta yang paling berharga dalam hidup Papa," ucap Sasuke tulus sambil mengecup singkat pucuk kepala merah muda Sakura. Perkataan Sasuke sukses membuat Sarada, Sakazuki maupun Sakazuke tersenyum bahagia.
"Papa dan Mama juga sangat berharga bagi kami," ucap Sarada tersenyum tipis menanggapi perkataan Sasuke.
"Kami sangat menyayangi Papa dan Mama," kali ini Sakazuke yang mengungkapkan perasaan sayangnya kepada Sasuke dan Sakura.
"Kami tidak ingin kehilangan Papa dan Mama lagi. Berpisah selama seminggu saja rasanya seperti berpisah dalam waktu yang lama sekali," Sakazuki juga tak ingin kalah dengan kedua saudara kembarnya, untuk mengungkapkan perasaan sayangnya kepada Sasuke dan Sakura.
Perkataan yang terlontar dari ketiga buah hatinya memang terdengar sederhana, namun mengandung makna yang begitu dalam bagi Sasuke dan juga Sakura.
"Terima kasih," ucap Sasuke sambil tersenyum penuh rasa syukur.
"Oh iya, Mama baru ingat. Sebagai permintaan maaf karena tidak mengajak kalian ke luar negeri kemarin, bagaimana kalau besok kita pergi berlibur ke Hokkaido?" Ajak Sakura kepada ketiga buah hatinya, yang saat ini tampak begitu tertarik dengan ajakan sang ibu tercinta mereka.
"Tentu saja kami mau, Mama!" Ucap ketiga bocah Uchiha itu mengangguk antusias. Ketiga pasang onyx milik mereka tampak berbinar-binar bahagia.
"Hn. Paman Naruto dan Bibi Hinata juga akan ikut berlibur bersama kita besok," ucap Sasuke sedikit menambahkan perkataan Sakura kepada ketiga buah hatinya.
"Eh?! Apa itu artinya kami akan berlibur bersama Bolt dan juga Himawari-chan, Papa?" Tanya Sarada meminta penjelasan kepada Sasuke, yang sebenarnya tidak perlu dikonfirmasi lagi, karena kebenarannya telah diyakini oleh Sarada sendiri.
"Tentu saja, sayang. Bagaimana mungkin Paman Naruto dan Bibi Hinata tega meninggalkan Bolt-kun dan juga Himawari-chan untuk pergi berlibur bersama kita, eh?" Ucap Sakura menanggapi pertanyaan putri sulungnya, yang tentu saja sukses mengukir ekspresi kekecewaan pada wajah cantik Sarada.
Berita buruk. Sarada benar-benar tidak ingin bertemu dengan bocah pirang yang selalu menganggunya selama ini di sekolah.
Tidakkah cukup pertemuan mereka di sekolah saja? Kenapa liburan sekolah pun harus dilakukan bersama-sama dengan bocah Namikaze itu?
Salahkan kedua orang tuanya yang bersahabat begitu erat dengan kedua orang tua Bolt, membuat dirinya mau tidak mau harus menerima kehadiran bocah berisik yang selalu mengganggu ketenangannya selama ini.
"Hn, ada apa? Kau tampak keberatan dengan hal itu, sayang?" Tanya Sasuke yang menyadari perubahan pada raut wajah putri sulungnya.
"Papa pasti mengerti apa yang Sarada rasakan!" Gerutu Sarada sambil cemberut kepada Sasuke, membuat ayah tampan itu terkekeh geli karenanya. Di elusnya dengan begitu lembut surai hitam pendek milik Sarada.
"Bolt-kun itu sebenarnya anak yang baik, sayang. Paman Naruto selalu bercerita kalau sikap Bolt-kun seperti itu kepadamu karena Bolt-kun benar-benar menyukaimu. Anak itu ingin mendapat perhatian lebih darimu, sayang," terang Sasuke tersenyum tipis, mencoba memberi penjelasan kepada Sarada.
"Hm, Bibi Hinata juga bilang kalau Bolt-kun selalu membicarakanmu setiap hari dengan penuh semangat lho, Sarada-chan," ucap Sakura menyambung penjelasan Sasuke sebelumnya.
"Pa-Papa, Mama! Kenapa sekarang malah menggoda Sarada, sih?! Jelas-jelas Bolt selalu mengganggu Sarada. Bukankah kalau menyukai itu seharusnya bisa bersikap baik kepada orang yang disukainya, eh?" Sarada beranjak dari pangkuan Sasuke dan memasang tampang sebal kepada kedua orang tuanya.
"Setiap orang mempunyai cara yang berbeda-beda dalam mengungkapkan perasaan sayangnya, Sarada-chan," ucap Sakura sambil mengerlingkan sebelah matanya ke arah Sarada, berniat untuk menggoda putri sulungnya.
"Mamaa! Sudah, sudah, Sarada tidak mau mendengar apapun lagi tentang Bolt!" Ucap Sarada sedikit berteriak kesal sambil menutup kedua telinganya.
Baik Sasuke maupun Sakura hanya mampu terkekeh pelan melihat reaksi berlebihan yang ditunjukkan oleh putri kesayangan mereka.
"Baiklah sayang, Mama tidak akan membicarakan tentang Bolt-kun lagi, Ne? Tapi ... bagaimana dengan acara liburan besok jadinya, Sarada-chan? Jika kau memang tidak ingin bertemu dengan Bolt-kun, kita mungkin bisa membatalkan acara liburannya dari sekarang. Bukan begitu, Sasuke-kun?" Sakura mengerling jahil kepada suaminya, seolah-olah meminta Sasuke untuk mempengaruhi Sarada agar gadis cilik itu berkenan untuk ikut dalam acara liburan bersama keluarga Namikaze.
"Hn, Tidak masalah. Paman Naruto dan Bibi Hinata mungkin bisa memakluminya, meskipun mereka pasti akan sedikit merasa kecewa karena acara liburan bersama ini dibatalkan," ucap Sasuke tenang, namun terasa begitu menusuk ke dalam relung hati sang putri sulung kembar Uchiha tersebut.
Rasanya begitu egois jika acara liburan bersama ini dibatalkan hanya karena Sarada yang membenci keberadaan Bolt nantinya.
'Hah~... Bolt memang menyebalkan! Tapi setidaknya Paman Naruto, Bibi Hinata dan Himawari-chan tidak memiliki kesalahan apapun terhadapku. Aku tidak mau jika mereka merasa kecewa karena acara liburan bersama ini dibatalkan,' pikir Sarada termenung.
"Bagaimana, sayang?" Tanya Sakura meminta jawaban kepastian dari putri cantiknya tersebut, walaupun sebenarnya Sakura sudah bisa menebak jika Sarada tidak akan tega untuk membuat kecewa Naruto dan Hinata, yang juga begitu menyayangi dirinya.
"Hn, Baiklah Mama, Papa. Sarada tidak keberatan dengan acara liburan bersama itu," ucap Sarada pasrah dengan keputusan yang telah ia buat. Senyum kemenangan terpatri pada wajah Sasuke dan Sakura.
"Anak pintar," puji Sasuke sambil mengusap lembut helaian rambut Sarada.
"Kalau begitu mulailah mengemasi pakaianmu, setelah itu beristirahatlah karena besok kita akan pergi pagi-pagi sekali," pinta Sakura lembut kepada Sarada.
"Baiklah Mama," Sarada pun menuruti perkataan Sakura dengan berat hati. Melangkahkan kaki mungilnya menuju kamar pribadinya yang berada di lantai dua kediaman Uchiha.
"Kenapa Mama dan Papa malah membela Bolt?!" Tanya Sakazuki penasaran terhadap tindakan kedua orang tuanya kepada kakak kembarnya tadi.
Sakura menjawil gemas hidung mancung milik Sakazuki. "Hei, bagaimana dengan putri Paman Gaara, Reiko-chan?" Goda Sakura mencoba mengalihkan pertanyaan Sakazuki, yang sukses membuat putra keduanya itu bersikap salah tingkah.
"Ke-kenapa Mama malah membicarakan hal lain?" Tanya Sakazuki gugup sekaligus merasa sebal dengan pertanyaan Sakura, yang mengungkit-ngungkit nama gadis cilik yang disukai oleh putra tengah Uchiha tersebut.
"Hn, pertanyaan yang Mama berikan itu berkaitan dengan pertanyaanmu, Sakazuki-kun," ucap Sasuke membela istri tercintanya.
Sakazuki hanya mengerutkan keningnya dalam, sangat tidak mengerti dengan perkataan yang diucapkan oleh ayahnya.
Sakura terkekeh geli melihat ekspresi Sakazuki yang juga tidak menangkap arti dari pertanyaannya.
"Sayang, coba pikirkan jika kau berada di posisi Bolt-kun, sementara kakakmu berada di posisi Reiko-chan. Lalu, pikirkan juga jika Paman Gaara, Bibi Matsuri dan Reiko-chan tengah membicarakanmu seperti apa yang kami dan kakakmu bicarakan tadi mengenai Bolt-kun," ucap Sakura secara perlahan-lahan memberikan pengertian kepada Sakazuki.
"Hn, lalu dimana letak masalahnya, Mama?!" Tanya Sakazuki tetap tidak mengerti.
"Masalahnya adalah bagaimana perasaanmu jika Paman Gaara dan Bibi Matsuri melarangmu untuk tidak mendekati Reiko-chan lagi, karena putri mereka merasa terganggu dengan keberadaanmu, sayang," kini giliran Sasuke yang memberikan penjelasan.
Kedua onyx mungil itu membulat seketika, merasa terkejut dengan ucapan ayahnya. Buruk. Benar-benar buruk jika seandainya ia harus mengalami hal seperti itu, dan tentu saja kini Uchiha cilik itu mulai mengerti maksud kedua orang tuanya yang membela Bolt tadi.
"Aku mengerti Mama, Papa," ucap Sakazuki lirih.
"Kalau begitu jangan buang-buang waktu lagi sayang, cepatlah menyusul kakakmu untuk berkemas!" Saran Sakura sambil tersenyum lembut kepada Sakazuki.
Sakazuki pun menganggukkan kepalanya antusias, kemudian segera pergi meninggalkan kedua orang tuanya bersama adik bungsunya di ruang keluarga. Namun, sebelum Sakazuki benar-benar menghilang dari pandangan kedua orang tuanya, Sasuke menyampaikan sebuah pesan kepadanya.
"Sakazuki-kun, tolong kemasi pakaian adikmu sekalian. Sepertinya adikmu sudah tertidur karena kelelahan," pinta Sasuke halus sambil mengalihkan pandangannya ke arah Sakazuke, yang kini sudah terlelap begitu damai dalam rengkuhan kedua tangan Sasuke.
"Hn, Baiklah Papa," ucap Sakazuki mengerti, kemudian berlalu menuju kamarnya yang berada di lantai dua.
"Terima kasih, Sasuke-kun," ucap Sakura menatap sepasang onyx milik suaminya.
"Hn, untuk apa?" Tanya Sasuke sambil mengernyitkan dahinya dalam.
"Terima kasih karena telah memberikanku kehidupan baru yang begitu penuh dengan kebahagiaan, Sasuke-kun. Kehadiranmu, Sarada-chan, Sakazuki-kun dan Sakazuke-kun, benar-benar terasa seperti mimpi memiliki kalian semua dalam hidupku saat ini," ucap Sakura sambil menangkup sebagian wajah rupawan Sasuke dan menyentuhkan ujung hidung mancungnya pada ujung hidung mancung Sasuke.
"Seharusnya aku yang berterima kasih, Hime. Menemukanmu dalam kehidupanku adalah sebuah keajaiban yang Kami-sama berikan kepadaku. Kehadiranmu mengubah semua dunia yang kumiliki saat ini, Hime," ucap Sasuke tersenyum penuh kelembutan sambil perlahan-lahan mengeliminasi sedikit jarak yang masih tersisa diantara dirinya dan Sakura.
Sakura pun turut tersenyum mendengar ucapan sang kekasih abadinya, sebelum akhirnya senyuman itu memudar, tenggelam dalam lumatan bibir tegas sang pria Uchiha di hadapannya.
oOo
Huacchhiimm ... Huacchhiimm ...
"Apa kau sakit, sayang?" Tanya Hinata khawatir terhadap putra sulungnya, yang sedari tadi tidak berhenti mengeluarkan suara bersin yang cukup keras.
"Entahlah Bu, aku tidak yakin jika aku se- Huacchhiimm!" Kembali suara bersin itu menguar dari mulut mungil milik Bolt Namikaze.
"Ibu rasa kau memang sedang tidak baik-baik saja, Bolt-kun," ucap Hinata penuh keyakinan terhadap Bolt.
"Tapi tubuhku terasa baik-baik saja Bu, sungguh," tegas Bolt, menyanggah ucapan ibunya secara halus.
"Hm, kalau kau tidak sakit, berarti ada seseorang yang tengah membicarakanmu, Bolt-kun," ucap Naruto terkekeh pelan sambil menepuk pelan surai blonde putranya.
"Benarkah Yah? Tapi ... siapa yang tengah membicarakanku, eh?" Bolt mengetuk-ngetukkan telunjuk kanannya pada dagu mungil miliknya, seolah tengah berpikir keras untuk menemukan jawaban atas pertanyaan yang ia lontarkan sendiri.
"Mungkin saja Sarada-chan yang tengah membicarakanmu, Nii-chan!" Ucap Himawari asal tebak, namun berhasil membuat sang Namikaze cilik yang merupakan kakak kembarnya itu bersorak kegirangan.
"Yeahh, tentu saja Hima-chan! Pasti Sarada-chan yang tengah membicarakanku sedari tadi! Wahh~... Senangnya. Akhirnya gadis dingin itu memikirkanku juga," ucap Bolt sambil menunjukkan cengiran rubahnya yang tampak begitu menggemaskan.
Naruto, Hinata dan juga Himawari hanya bisa sweatdrop menatap ke arah Bolt yang tampak begitu bersemangat jika sudah membicarakan hal yang berkaitan dengan Sarada, putri sulung dari pasangan Uchiha Sasuke dan Uchiha Sakura.
Namun, kebahagiaan Bolt sepertinya harus pupus begitu saja, tatkala Himawari mengucapkan hal yang terdengar begitu menyebalkan sekaligus menyakitkan bagi Bolt.
"Jangan senang dulu, Bolt-Nii! Aku yakin jika Sarada-chan tengah membicarakan keburukanmu, mengingat jika Sarada-chan tampak tidak suka saat kau terus-terusan mengganggunya di sekolah," ucap Himawari sambil tertawa mengejek kepada kakak kesayangannya.
Meski terkadang bersikap berisik dan menyebalkan, tapi Himawari begitu sangat menyayangi dan mencintai kakaknya tersebut.
"Hima-chan~... Kata-katamu sungguh buruk sekali~..." Ucap Bolt putus asa sambil menenggelamkan wajah tampannya pada lipatan kedua tangannya yang tersangga di atas meja makan.
Hinata terkekeh geli melihat kejahilan putri bungsunya terhadap putra sulungnya. Namun, meskipun begitu di dalam hati Hinata pun turut menyetujui ucapan yang dilontarkan oleh Himawari.
"Sudah, sudah Bolt-kun! Jangan terlalu dipikirkan! Lagipula bukankah kau sudah sering mendengar kata-kata yang lebih menyakitkan dari Sarada-chan, eh? Ibu rasa, ucapan adikmu tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan ucapan Sarada-chan," ucap Hinata berusaha untuk menghibur putra blonde-nya tersebut.
"Ugh~... Bukan itu masalahnya Bu," gerutu Bolt pelan.
"Hm, masalahnya adalah Hima-chan itu adalah adikmu. Adik yang seharusnya senantiasa berada di pihakmu dan selalu mendukungmu apapun yang terjadi. Bukan begitu, Bolt-kun?" Ucap Naruto menjelaskan apa yang tengah dirasakan oleh putra kesayangannya. Bagaimana pun Naruto cukup mengerti apa yang tengah dirasakan oleh putra dan putrinya.
Cengiran lebar diperlihatkan oleh Bolt tatkala mendengar ucapan sang kepala keluarga, yang begitu tepat sasaran. 'Jangan-jangan Ayah itu seorang cenayang?!' pikir Bolt dengan konyolnya.
Bolt menggelengkan kepalanya, berusaha mengenyahkan pikiran-pikiran aneh dalam otaknya. Segera saja ia mendekati adiknya dan tanpa ragu mencubit kedua pipi tembem Himawari.
"Apa yang dikatakan Ayah memang benar! Seharusnya kau membelaku, Hima-chan! Bersikap baiklah kepada kakakmu ini, adikku yang manis!" Ucap Bolt memberikan sedikit nasehat kepada adik kembarannya tersebut.
"Hewashan Hii-han! (Lepaskan Nii-chan!)" Gerutu Himawari tidak jelas karena kedua pipinya masih ditarik oleh Bolt.
"Bolt-kun, jangan bercanda terus! Ayo, lepaskan pipi Hima-chan dan cepat habiskan makan malam kalian!" Perintah Naruto tegas kepada kedua buah hatinya.
"Baiklah Ayah," ucap Bolt menurut kepada perintah Naruto.
Bolt pun melepaskan cubitan tangannya pada kedua pipi Himawari dan memberi kecupan singkat di kedua pipi Himawari yang tampak sedikit memerah karena ulahnya.
"Maafkan aku yah, Hima-chan," ucap Bolt sambil menampilkan cengiran lebarnya yang menunjukkan deretan rapi gigi-gigi putih miliknya.
Sepertinya Himawari juga tak mau kalah untuk membalas perbuatan kakaknya. Ditariknya kedua pipi Bolt dengan begitu keras, sehingga menyebabkan lengkingan tinggi menguar dari mulut mungil Bolt.
"Huwaaa ... Hehapa hau hehalashu, Hiha-han?! (Kenapa kau membalasku, Hima-chan?!)" Tanya Bolt tak jelas sambil meringis kesakitan.
"Ayah, tak apa-apa 'kan jika aku membalas perbuatan kakak?" Ucap Himawari meminta izin kepadanya Ayahnya sambil menampilkan senyum polosnya.
"Hah~... Baiklah kalau begitu sayang. Tapi setelah ini kalian harus benar-benar menghabiskan makanan kalian dan bergegas untuk tidur, Hm?" ucap Naruto mengijinkan perbuatan putrinya terhadap Bolt, sambil tersenyum hangat kepada putri kecil cantiknya tersebut.
"Iya Ayah, tentu saja," ucap Himawari menganggukkan pelan kepalanya.
Beberapa saat kemudian, Himawari pun melepaskan kedua pipi Bolt dan melakukan persis dengan apa yang dilakukan oleh kakaknya sebelumnya, memberikan kecupan ringan di kedua pipi bocah lelaki Namikaze itu.
"Maaf ya Bolt-Nii," ucap Himawari tersenyum lebar sambil membentuk tanda peace dengan kedua jari kanannya. "Dengan begini rasanya lebih adil bukan, Nii-chan?"
"Huh, kau memang selalu tidak mau kalah, Hima-chan!" Gerutu Bolt sambil kembali melanjutkan makan malamnya yang sempat tertunda.
"Hahaha ... jangan marah, Nii-chan," Himawari melingkarkan tangan mungilnya pada tangan Bolt dan menyandarkan kepalanya pada bahu sang kakak, berusaha untuk membujuk Bolt agar tidak marah kepadanya.
"Huh, iya, iya Nii-chan sama sekali tidak marah kepadamu kok, Hima-chan," Bolt mengusap sayang surai dark blue adiknya tersebut. "Ayo, cepat habiskan makananmu, Hima-chan!"
"Ne, arigatou Nii-chan," ucap Himawari tersenyum penuh kelegaan.
oOo
"Ibu, apa besok Sarada-chan akan benci jika melihatku ikut berlibur bersama keluarga Uchiha?" Tanya Bolt lirih, memandang kedua amethyst ibunya dengan tatapan mata yang tampak sayu. Keduanya kini tengah duduk saling berhadapan di atas ranjang milik Bolt.
"Kenapa kau berkata seperti itu, sayang? Tidak seperti biasanya kau merasa pesimis seperti ini, Hm?" Tanya Hinata merasa penasaran dengan sikap Bolt yang tidak semangat seperti biasanya.
"Itu karena ... aku baru menyadari-ah, tidak! Lebih tepatnya aku sudah lama menyadarinya kalau Sarada-chan sama sekali tidak akan melihat ke arahku, Bu. Kejahilan yang aku buat terhadapnya justru malah membuatnya semakin membenciku," ucap Bolt menjelaskan alasannya kepada Hinata.
Hinata membelai sayang surai blonde milik putranya tersebut sambil tersenyum hangat ke arah Bolt.
"Kalau kau berpikir seperti itu, bagaimana jika mulai besok kau bersikap lebih manis terhadap Sarada-chan, Bolt-kun?" Saran Hinata kepada Bolt.
"Bersikap lebih manis," gumam Bolt mengulang perkataan Hinata sebelumnya, yang dibalas sebuah anggukan kecil dari sang wanita indigo tersebut.
"Bagaimana?" Tanya Hinata meminta ketegasan jawaban dari putranya.
"Aku tak yakin bisa melakukannya, Bu. Tapi baiklah, besok aku akan mencoba untuk bersikap manis terhadap Sarada-chan," Bolt beranjak berdiri dengan penuh semangat sambil menunjukkan cengiran lebar khas miliknya.
"Semangat, Bolt-kun!" Ucap Hinata tersenyum simpul, menyemangati putranya.
Cklek
"Rupanya kau masih disini, Hime," ucap Naruto saat mendapati istrinya masih berada di kamar putra mereka. Perlahan Naruto melangkahkan kakinya ke arah Hinata dan juga Bolt, yang kini sudah kembali duduk di atas ranjangnya.
"Ah, Naruto-kun. Hima-chan sudah tertidur 'kah?" Tanya Hinata sambil merangkul pinggang sang suami, yang kini sudah berdiri tepat disampingnya.
"Ya, Hima-chan sudah tertidur pulas sejak tadi," jawab Naruto tersenyum tipis sambil merapikan poni sang istri yang terlihat sedikit berantakan. "Bagaimana denganmu, Hime? Kau sendiri belum mengantuk, sayang?" Kali ini Naruto mengecup singkat dahi sang istri yang tertutupi poni itu.
Hinata hanya menganggukkan pelan kepalanya sebagai jawaban atas pertanyaan suaminya.
"Kalau begitu tidurlah duluan, biar aku yang menemani Bolt di sini, Hm?" Saran Naruto kepada Hinata.
"Bolt-kun jangan tidur terlalu malam, Ne?" Hinata mengecup singkat puncak kepala Bolt, sebelum dirinya kembali ke kamar pribadi miliknya dan Naruto.
"Baiklah Ibu," ucap Bolt patuh.
"Naruto-kun juga, segeralah kembali ke kamar setelah menemani Bolt-kun, Ne?" Gumam Hinata pelan kepada Naruto setelah sebelumnya Hinata mengecup singkat bibir tegas sang suami.
Naruto hanya menyeringai tipis mendengar ucapan istrinya tersebut. Ya, Naruto teramat sangat mengerti apa yang diinginkan oleh istrinya malam ini. "Ya," jawab Naruto singkat.
Hinata pun berlalu dari kamar putranya, diiringi oleh pandangan lembut dari kedua pasang sapphire yang menatap lembut ke arah punggung rapuh sang wanita indigo.
Naruto pun kini mulai mendudukkan dirinya di atas ranjang Bolt. Ditatapnya dengan penuh kasih sayang putra sulungnya tersebut.
"Kau tahu Bolt, dulu Ayah pernah melakukan sebuah kesalahan fatal terhadap Ibumu, sampai-sampai membuat Ibumu sangat membenci Ayah," ucap Naruto memulai cerita masa lalunya kepada Bolt.
"Ibu ... membenci Ayah?! Bagaimana mungkin bisa terjadi seperti itu, Yah?" Tanya Bolt ragu akan pernyataan Naruto sebelumnya, karena setahu Bolt selama ini Ibunya itu begitu mencintai dan menyayangi Ayahnya, Naruto.
Sebuah senyuman tipis dari pria Namikaze itu pun mengawali semua cerita tentang masa lalu yang pernah dialaminya bersama Hinata. Bolt pun sepertinya tampak menikmati cerita yang diucapkan oleh Ayahnya tersebut.
"Jadi ... dulu Ayah sama sekali tidak mencintai Ibu, dan berpura-pura mencintainya, eh?" Tanya Bolt, setelah Naruto menyelesaikan cerita masa lalunya. Sebuah anggukan kepala, Naruto berikan kepada Bolt sebagai jawaban.
"Kita tidak pernah tahu, kapan sebuah perasaan biasa dan perasaan benci itu berubah menjadi perasaan cinta, Bolt-kun. Begitupun sebaliknya, perasaan cinta yang bisa berubah menjadi perasaan benci. Oleh karena itu, kau tidak boleh menyerah tentang perasaanmu terhadap Sarada-chan, Bolt -kun," ucap Naruto memberikan motivasi kepada putra sulungnya.
"Hm, tentu saja Ayah. Aku tidak akan menyerah! Tapi ... jika kali ini Sarada-chan benar-benar membenciku, maka tidak ada pilihan lain selain menjauhinya. Mungkin itu akan jauh lebih baik," cengiran lebar itu kembali terukir di wajah rupawan Bolt, seolah bocah laki-laki itu sudah bisa merelakan semua hal yang akan terjadi kepadanya nanti.
"Ya, berusahalah terlebih dahulu, Bolt-kun! Ayah percaya padamu! Lagipula untuk menemukan dan memperoleh cinta sejati itu tidaklah mudah. Dibutuhkan perjuangan yang tidak main-main untuk meraihnya," ucap Naruto sambil menepuk pelan bahu kecil Bolt.
Bolt tersenyum simpul menanggapi perkataan Naruto. Ya, Bolt kini mengerti bahwa perjalanannya masih panjang untuk menemukan cinta sejatinya. Bisa saja kini ia menyukai Sarada, namun ia tak pernah tahu apa yang akan terjadi sepuluh tahun ke depan.
Bisa saja ia benar-benar semakin mencintai gadis cantik itu, atau mungkin perasaannya perlahan-lahan memudar dan hatinya beralih karena keberadaan seseorang yang tak terduga.
Entahlah, tidak pernah ada yang tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Semua kehidupan di dunia ini selalu dipenuhi misteri dan juga kejutan yang tak pernah kita duga sebelumnya.
Namun, yang terpenting dari semua itu adalah bagaimana kita tetap berusaha untuk berjalan menapaki alur kehidupan yang telah Kami-sama rancang sedemikian rupa ini.
"Baiklah Bolt-kun, Ayah harus cepat-cepat kembali ke kamar. Jika tidak, Ibumu bisa-bisa kelaparan karena lama menunggu Ayah," ucap Naruto sambil menyeringai tipis, sementara Bolt tampak tak mengerti dengan ucapan yang dilontarkan oleh Ayahnya.
"Hah, kelaparan?! Bukankah tadi ibu sudah makan bersama kita, Yah?" Tanya Bolt dengan begitu polosnya.
"Hahaha ... Sudah, jangan terlalu dipikirkan Bolt-kun! Tidurlah, besok kita akan berangkat pagi-pagi sekali," Naruto mengecup sekilas pucuk kepala Bolt.
"Iya, Ayah," Bolt pun membaringkan tubuhnya dan membalut tubuh mungilnya dengan selimut tebal miliknya.
"Oyasumi Tou-chan," Bolt memejamkan kedua iris safir-nya dan mulai menuju ke alam mimpinya.
"Oyasumi Bolt-kun," ucap Naruto membalas salam Bolt.
oOo
Naruto perlahan membuka kenop pintu kamarnya, kakinya melangkah dengan hati-hati saat melangkah ke dalam kamar yang mengeluarkan aura yang cukup suram.
Naruto tersenyum canggung saat menyadari jika aura yang tak nyaman itu berasal dari istrinya sendiri, Hinata, yang saat ini tengah duduk di pinggiran ranjang miliknya.
"Kenapa lama sekali, Naruto-kun?" tanya Hinata merajuk, kemudian menyandarkan kepalanya pada perut Naruto, yang saat ini sudah berdiri tepat di hadapannya.
Kekehan pelan menguar dari bibir tegas pria Namikaze tersebut. "Kau ini, kenapa selalu memaksakan diri, Hime? Apa kau tidak lelah harus selalu menungguku, Hm?" Tanya Naruto sambil membingkai wajah cantik Hinata.
"Tidak, tentu saja tidak, Naruto-kun. Aku tidak akan pernah lelah untuk menunggumu. Menunggumu dalam posisiku sebagai milikmu sepenuhnya, jauh lebih menyenangkan jika dibandingkan dulu saat menunggumu dalam posisiku yang tidak mempunyai kepastian akan perasaanmu yang sebenarnya," terang Hinata menjelaskan kepada suaminya.
"Ah, kurasa mengungkit masa lalu yang buruk tidaklah baik, Hime," ucap Naruto mengingatkan Hinata. Dikecupnya dengan begitu lembut bibir ranum sang istri.
"Ya, aku tahu itu, Naruto-kun," ucap Hinata sesaat setelah kecupan Naruto terlepas, namun dengan gesit Hinata menarik tengkuk Naruto dan kembali menempelkan kedua bibir mereka.
Ciuman panjang pun terjalin diantara Naruto dan Hinata, menciptakan kehangatan yang terasa begitu istimewa bagi mereka berdua.
oOo
Hari ini merupakan liburan hari kedua yang dilalui oleh keluarga Uchiha dan Namikaze. Pagi ini, Sarada memutuskan untuk bersepeda mengelilingi kota Biei, untuk menikmati keindahan alamnya yang menakjubkan.
Awalnya Sarada mengajak Sakazuki dan Sakazuke untuk menemaninya bersepeda, namun kedua adik kembarnya itu menolak untuk ikut dengannya, dan memilih untuk bermain di sekitar villa keluarga Uchiha, bersama dengan Himawari.
Akhirnya, dengan berat hati Sarada pun memutuskan untuk pergi sendiri. Namun, sesaat setelah dirinya mencapai jalan setapak menuju ke bukit bunga, terdengar suara deritan pedal sepeda yang berasal dari arah belakangnya.
Sarada sedikit menolehkan kepalanya ke arah belakang, onyx-nya memutar malas saat mendapati bocah rubah yang tengah mengikutinya saat ini.
"Kenapa kau mengikutiku, bodoh?!" Ucap Sarada sinis kepada Bolt.
"Hm?! Aku sama sekali tidak mengikutimu, Sarada-chan. Lagipula jalan ini 'kan merupakan satu-satunya akses untuk menuju bukit bunga," ucap Bolt tenang sambil tetap mengayuh sepedanya perlahan-lahan.
Lagi, Sarada memutar kedua bola matanya bosan. 'Alasan yang menyebalkan!' batin Sarada kesal.
"Huh! Kenapa kau tidak putar balik saja, Bolt?!" Lagi, Sarada berusaha untuk membuat Bolt menyingkir darinya.
"Tidak mau! Kalau kau mau, kau saja yang putar balik, Sarada-chan," tolak Bolt secara halus sambil menyeringai tipis kepada Sarada.
Sarada pun menghentikan sepedanya setelah mendengar ucapan Bolt. Dibalikkannya sepeda miliknya ke arah yang berlawanan dengan Bolt. "Baiklah, dengan sangat senang hati aku akan melakukannya, Bolt!" Ucap Sarada penuh penekanan di setiap katanya.
Bolt hanya mengendikkan bahunya, sambil berlalu dari hadapan Sarada yang kini juga mulai mengayuh sepedanya kembali ke arah villa milik keluarganya.
'Bocah rubah menyebalkan!' Gerutu Sarada di dalam hatinya.
Brughhhh
Suara benda terjatuh yang terdengar cukup keras berhasil mengusik perhatian sang bocah Namikaze. Kedua manik sebiru langit miliknya itu membulat seketika, tatkala melihat Sarada yang tengah meringis kesakitan karena terjatuh dari sepeda miliknya.
Segera saja Bolt memutar sepedanya dan memacunya dengan begitu cepat dan tergesa-gesa menghampiri sang putri sulung Uchiha tersebut.
"Aishh ... Batu menyebalkan!" Kesal Sarada menatap sinis sebuah batu besar yang menyebabkannya terjatuh dari sepeda miliknya.
"Sarada-chan, kau tidak apa-apa?" Tanya Bolt khawatir, sambil menghempaskan begitu saja sepeda miliknya ke tanah dan membantu Sarada untuk berdiri.
"Bodoh! Kau tidak lihat kalau lututku berdarah, eh?!" Ucap Sarada sambil mendengus sinis kepada Bolt. Bolt hanya menghela napas pasrah, menanggapi perkataan dan sikap Sarada kepadanya. Biarkanlah kali ini Bolt berusaha untuk mengalah kepada gadis cilik Uchiha tersebut.
Dituntunnya tubuh mungil gadis cilik itu untuk menepi di pinggiran jalan. Bolt mendudukkan Sarada dengan begitu hati-hati di atas tanah. Dibukanya tas pinggang kecil miliknya, untuk mengambil sapu tangan, obat luka dan plester untuk menutupi luka Sarada.
"Kau ... biasa membawa semua barang ini, Bolt?" Tanya Sarada mengernyitkan dahinya heran dengan apa yang tengah dilakukan oleh putra sulung Namikaze tersebut.
"Hm, Ibu yang menyuruhku," ucap Bolt singkat, tanpa berniat memberikan penjelasan lebih lanjut kepada Sarada, yang masih merasa penasaran dengan alasan Bolt-yang notabene seorang anak laki-laki-membawa perlengkapan seperti itu.
'Aneh sekali,' batin Sarada di dalam hati.
"Kau bawa air minum 'kan, Sarada-chan?" Tanya Bolt kepada Sarada, saat menyadari bahwa dirinya tidak membawa air minum.
"Hn, kau bisa mengambilnya di dalam tasku, Bolt," Sarada mengendikkan dagunya ke arah belakang, dimana tasnya masih setia bergantung pada punggung mungilnya.
Bolt pun mengambil botol air minum dari dalam tas Sarada. Dengan cekatan, Bolt mulai membersihkan luka pada lutut Sarada. Diteteskannya obat luka sedikit demi sedikit, yang berhasil membuat Sarada meringis kecil menahan rasa perih.
Bolt yang melihat ekspresi wajah Sarada yang tampak kesakitan, hanya mampu mengulum senyum kecil di wajah tampannya. Ini adalah pertama kalinya Bolt melihat wajah dingin gadis kecil itu, tampak berbeda dari biasanya. Terakhir, Bolt perlahan-lahan menempelkan plester pada luka Sarada, yang telah diobati.
"Terima kasih, Bolt," gumam Sarada pelan, namun masih dapat terdengar oleh bocah Namikaze tersebut, yang saat ini tengah membereskan kembali perlengkapannya ke dalam tas pinggang miliknya.
"Apa kau mengatakan sesuatu, Sarada-chan?" Tanya Bolt, berpura-pura tidak mendengar perkataan Sarada sebelumnya.
"Ugh~... Tidak ada!" Ucap Sarada merasa kesal, sambil memalingkan wajahnya ke samping.
Bolt terkekeh pelan sambil beranjak berdiri, menghampiri sepedanya dan sepeda milik Sarada, yang tergeletak di atas tanah. Dituntunnya kedua sepeda itu ke tempat Sarada berada.
"Kau mau tetap disini atau ikut bersamaku ke bukit bunga, Sarada-chan?" Tanya Bolt memberikan pilihan kepada Sarada.
"Aku ingin pulang, Bolt," jawab Sarada singkat.
"Baiklah, kalau begitu berhati-hatilah saat kau pulang, Sarada-chan," pesan Bolt kepada Sarada, seraya menaiki sepedanya dan mulai mengayuh kembali sepedanya ke arah bukit bunga, yang menjadi destinasi utamanya saat ini.
Sarada benar-benar merasa geram dengan sikap Bolt yang mengacuhkannya saat ini. Bagaimana bisa ia pulang dengan keadaan terluka seperti ini? Berdiri saja, ia sudah merasa kewalahan. Apalagi harus mengayuh sepedanya untuk pulang. Rasanya itu lebih tidak menyenangkan lagi.
"Hei! Kau tidak berniat untuk mengantarkanku pulang, Bolt?!" Teriak Sarada kesal kepada Bolt. Seringaian tipis tercipta di wajah Bolt, tatkala mendengar teriakan Sarada.
"Bukankah tadi kau sendiri yang mengatakan ingin pulang, Sarada-chan? Lagipula sejak awal tujuanku ke sini adalah untuk melihat bukit bunga. Sayang sekali, jika aku harus pulang sebelum aku sempat untuk melihat pemandangan indah di sana, bukan?" Ucap Bolt menjelaskan alasannya kepada Sarada.
"Ugh~... Kau benar-benar menyebalkan Bolt!" Gerutu Sarada menatap tajam bocah blonde yang sedang tersenyum penuh arti saat ini.
"Kalau kau mau aku antar pulang, kau bisa ikut denganku terlebih dahulu ke bukit bunga, Sarada-chan," ucap Bolt menawarkan. "Atau kau bisa me-..."
"Baiklah, aku ikut denganmu, Bolt," ucap Sarada dengan penuh keterpaksaan.
"Keputusan yang bijak, Sarada-chan," puji Bolt kepada Sarada, yang dihadiahi sebuah delikan tajam dari kedua onyx milik Sarada.
Entah mengapa waktu yang mereka tempuh untuk mencapai bukit bunga, terasa begitu lama. Sarada benar-benar merasa tidak nyaman dengan posisinya saat ini.
Jika saja sepeda milik Bolt ini memiliki boncengan di belakang, maka Sarada tidak perlu repot-repot untuk duduk di depan dan berdekatan dengan bocah rubah menyebalkan tersebut.
Hening menjadi latar perjalanan mereka menuju ke bukit bunga, sebelum akhirnya Bolt memecah keheningan yang tercipta di antara dirinya dan Sarada.
"Hei, Sarada-chan," seru Bolt memanggil nama Sarada.
"Hn, Apa?" tanggap Sarada malas.
"Aku minta maaf," gumam Bolt lirih penuh penyesalan.
"..." Sarada tak bergeming saat ucapan maaf itu meluncur dari mulut Bolt, yang biasanya melontarkan kata-kata menyebalkan kepadanya.
"Selama ini aku selalu bersikap buruk terhadapmu. Sebenarnya, aku sengaja melakukan semua itu untuk menarik perhatianmu," ucap Bolt sambil terkekeh pelan.
"Huh, sengaja katamu?! Itu sama sekali tidak lucu, Bolt!" Ucap Sarada sinis.
"Hm, aku tahu. Oleh karena itu, aku meminta maaf padamu, Sarada-chan," ucap Bolt sambil mengusap lembut pucuk kepala Sarada dengan tangan kirinya. Perlakuan Bolt tersebut, entah mengapa membuat sang putri sulung Uchiha itu menjadi salah tingkah.
"Hei, hentikan bodoh! Kau bisa membuat kita terjatuh dari sepeda ini," tegas Sarada memperingatkan Bolt, berusaha untuk menutupi rasa gugup yang tiba-tiba melanda tubuhnya. Bolt hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan Sarada.
Bolt menghentikan sepeda miliknya, tatkala mereka sudah tiba di bukit bunga. Pemandangan alam hamparan padang bunga yang tampak begitu luar biasa indahnya, tersaji dengan begitu luas di hadapan mereka berdua.
Mereka berdua pun duduk bersebelahan beralaskan rerumputan dibawahnya. Menikmati semilir angin yang membawa serta keharuman bunga-bunga, yang begitu memanjakan indera penciuman mereka. Lagi, keheningan mendominasi diantara keduanya.
"Hei, Sarada-chan. Apa kau tidak ingin bertanya, mengapa aku berusaha untuk menarik perhatianmu, eh?" Tanya Bolt membuka topik pembicaraan.
Sarada menaikkan sebelah alisnya, "Mama dan Papa mengatakan kalau kau menyukaiku, Bolt. Oleh karena itu, kau selalu menggangguku."
"Ah~... Rupanya Ayah dan Ibuku, sudah memberitahu kedua orang tuamu yah, Sarada-chan," ucap Bolt tersenyum canggung sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.
"Hn. Orang tuamu dan orang tuaku 'kan bersahabat, Bolt. Jadi, tidak ada yang mereka sembunyikan satu sama lain," terang Sarada menjelaskan.
Bolt menganggukkan kepalanya mengerti, "Lalu ... Apa jawabanmu, Sarada-chan?"
"Huh, Jawaban?! Jawaban apa?" Tanya Sarada dengan polosnya.
"Aku menyukaimu, Sarada-chan! Sangat menyukaimu! Jadi, apa kau menyukaiku juga, Sarada-chan?" Tanya Bolt sambil menggenggam tangan mungil Sarada, yang sukses membuat sang putri sulung Uchiha itu kembali salah tingkah.
"A-Apa yang kau katakan, Bolt?! Jangan berkata yang aneh-aneh! Lagipula kita ini 'kan masih kecil. Hal-hal seper-..." Kecupan singkat yang dilakukan oleh Bolt di pipi kanan Sarada, sukses membungkam ucapan Sarada.
"Kalau begitu, tunggulah aku saat besar nanti, Sarada-chan," ucap Bolt sambil menunjukkan cengiran lebarnya, yang terlihat begitu ceria. "Aku akan tumbuh menjadi seorang pria yang keren, dan aku akan membuatmu menyukaiku, sama besarnya seperti aku menyukaimu saat ini," Bolt melanjutkan perkataannya dengan penuh percaya diri.
Sarada tertegun dengan semua ucapan dan perbuatan Bolt kepadanya saat ini. Perasaan asing secara perlahan-lahan menyusup ke dalam hatinya, entah apa itu tepatnya. Namun, rasanya begitu menggelitik sekaligus menyenangkan baginya.
Sekilas, putri sulung Uchiha tersebut menampilkan sebuah lengkungan tipis yang tampak mempesona pada wajah mungilnya. Sepertinya benih-benih cinta itu, sedikit demi sedikit mulai tumbuh dalam hatinya, tanpa ia sadari.
Ya, biarkanlah waktu yang akan memupuk dan menumbuhkan perasaan cinta itu secara perlahan-lahan, karena bagaimana pun juga perasaan cinta tidak bisa dipaksakan keberadaannya begitu saja oleh siapa pun.
Menemukan cinta sejati, tentu bukanlah hal yang dapat dikatakan mudah. Pasti akan selalu ada hati yang tersakiti untuk menemukan sebuah cinta sejati, karena untuk memperoleh cinta sejati diperlukan sebuah perjuangan dan juga pengorbanan yang cukup besar.
Cinta sejati merupakan cinta abadi, yang keberadaannya hanya akan terpisahkan oleh sebuah kematian. Namun, meskipun demikian, cinta sejati tak akan pernah terhapus dari hati orang-orang yang telah mendapatkan dan merasakan betapa dahsyatnya cinta sejati itu.
oOo
Sementara itu di villa milik keluarga Uchiha ...
"Papa, Mama, sepertinya Sarada Nee-chan dan Bolt sudah mulai akur,eh?" Sakazuki menghubungi kedua orang tuanya untuk memberikan laporan hasil pengintaiannya terhadap Sarada dan Bolt.
"Ah, benarkah itu, Sakazuki-kun?" Tanya Sakura antusias sambil menepukkan kedua tangannya di depan dadanya. Saat ini, Sakura, Sasuke, Naruto dan Hinata tengah berkumpul di ruang tamu, mendengarkan dengan begitu seksama hasil laporan Sakazuki terhadap putra dan putri sulung mereka.
"Hn. Mereka tampak bersenang-senang disini, Ma," jawab Sakazuki terkekeh pelan tatkala melihat keakraban Bolt dan juga Sarada yang mulai terjalin, dari kejauhan.
"Hah~... Syukurlah kalau begitu! Hinata-chan, kau dengar itu? Bolt-kun berhasil mendekati Sarada-chan," seru Sakura riang sambil memeluk Hinata yang duduk tepat disebelahnya.
"Ah, iya Sakura-chan. Akhirnya kita bisa menjadi satu keluarga, Ne?" Hinata balas memeluk Sakura dan tersenyum simpul penuh kebahagiaan.
"Hm, tentu saja, Hinata-chan," ucap Sakura menyetujui.
"Hei, hei, apa yang kalian bicarakan?! Mereka berdua masih sangat muda! Bolt-kun harus menunggu sepuluh tahun lagi untuk merebut Sarada-chan dari sisi Papanya," ucap Sasuke ketus, tidak menyetujui apa yang diucapkan oleh istri dan sahabatnya itu.
"Hah~... Seperti kau tidak pernah mengalami cinta masa kecil saja eh, Sasuke?" Ucap Naruto berusaha menggoda pria Uchiha tersebut, sambil merangkul pundak tegap Sasuke.
"Berisik, Naruto!" Kesal Sasuke sambil menyingkirkan tangan Naruto dari pundaknya. Naruto, Hinata dan Sakura hanya mampu tertawa kecil melihat sikap over protektif yang ditunjukkan oleh Sasuke saat ini.
"Hah~... kenapa mereka malah asyik sendiri, eh?" gerutu Sakazuki yang merasa terabaikan oleh kedua orang tuanya di seberang sana.
-FIN-
Wahhh~... sudah sembilan bulan saya menelantarkan fic ini Gomenasai Minna-san karena mengecewakan kalian semua dan membuat kalian menunggu lama. Ide untuk melanjutkan last chapter fic ini benar-benar tenggelam seiring berjalannya waktu Hehe ... Akhirnya hanya ini yang bisa saya berikan untuk kalian semua ... Maaf jika akhirnya tidak begitu bagus
Tapi saya berharap semoga kalian semua masih berkenan untuk membaca kelanjutan fic ini
Maaf saya tidak sempat untuk membalas review-review kalian semua di chapter sebelumnya. Tapi saya sudah membaca semua review kalian yang selalu membuat saya bersemangat untuk membuat fic ini
Terima kasih atas semua dukungan dan perhatian dari kalian semua sejak awal saya berkarya sampai saat ini Saya benar-benar merasa senang karena keberadaan kalian semua disini.
Selain itu, terima kasih juga untuk para flamers yang telah memberikan kritikan kepada saya, sehingga saya termotivasi untuk membuat fic ini menjadi lebih baik lagi
DAISUKI MINNA-SAN ...
Salam Hangat,
Hikaru Sora 14
Thanks to Reviewers:
Reika Ishida, Eysha CherryBlossom, Asterella Roxanne, Hanna Hoshiko, Febri Feven, Kumada Chiyu, Sasa, ongkitang, De Chan, SasuSaku, sukasns, yu, firha, Mira Carnahan, engel beitrage, uchiharuka, Gilang363, yumiyuuki, Anisha Ryuzaki, piscesaurus, hanazono yuri, Parinza ananda, Lady Bloodie, Lucy Hinata, Zuka, no name, Natsu, Scarlet Tsubaki, ichihara saara, Mulberry Redblack, Chi-chan Uchiharuno, Guest, ami, mantika mochi, Ayumu Nakashima, Rifdi Hayyisa, estusetyo paweling, Rachel-Chan Uchiharuno Hime, marukocan, haruchan, Guest, CherrySand1, DefenderAXE, dylanNHL, Arisa Sakakibara, Anka-Chan, BerryPolkan, Luca Marvell, wedusgembel41, Rfauryn, Eagle Onyx 'Ele, Dark naruto, haroro, Nfilestari, vaninewarie, imahkakoeni, komang kondom, Cherryma, sakakibaraarisa, SaGaaRi Uchiha, shintaiffah, dewi sasusaku, Kyouka Hime, Guest, Animea-Khunee-Chan, ayudiadinda dewi, miura haruma, Sasra Uchiha, Natsuki Shido, ShinRanXNaruHinaXIchiHime, ica, cherry, Yaminaruto, Moe, chiha, irawan fajar, damn, Kamen Reader Anugrah, yuan, Akemi Yoshi, Shiika Richiki, fidas, Guest, Oh Haneul, Zaoldyeck13, love sasusku, bella-chan, qiu, Dita Love SasuSaku, rambu no baka, MAGENZ, Niizuma Eiji, azriel, furiikuhime, SANG GAGAK HITAM, hahah, wahyu agung, Aiko Asari, pamungkas indra, Kanade, Ferry Luciver, maharanihime, joharifalls, Guest, whoiam, Syanata-Hime, ips hadir, utsukushi hana-chan, kyouka hm, Miu-Miu, hinata hiyuga34, gilang ramadhan 129357, prasetyo pratama, onci figo, bung herry, rangga agustian, Juni, Dragon Hiperaktif, kazuran, Uchiha Nura, namikaze hyuuga, blackschool, Ichigo Naruse, iea, uchiha yatori19.
Thanks to Story Followers:
Aiko Asari, Alue-kun, Azetha Mei, BerryPolkan, BlackLavender RB26DET, Blueberry kitty,Calestia, CherrySand1, Cherryma, Chi-chan Uchiharuno, DefenderAXE, Dragon Hiperaktif, EL Pride, Eagle Onyx 'Ele, Eysha CherryBlossom, Febri Feven, Ferry Luciver, Gilang363, Hatake No Mirru, Heeimadictator, IisVadelova, Jeon Ah Jung, Kamen Reader Anugrah, Kao Mitsu, Kazehana Koyuki, Kim Yui Rie, Kumada Chiyu, Lady Bloodie, Lucy Hinata, Lukyta-Chan, MinA-chan 773, Mira Carnahan, Mulberry Redblack, Nana Miyumi, ParkHyunHa, Rin NaruHina, SANG GAGAK HITAM, SASUrasakuKE, Sarah Hyuzumaki, Syanata Hime, Uchiha Nura, Uchiha Riri, Uzumaki Shizuka, Virya Ryuzuki, Yuuna Emiko. ananda inayati, azizaanr, bimo tendou, blue namikaze enwhistle, chiechie elfsuperjuniorcliquersejhatie, chy-nyan, devanichi, dherisha Uchiha, gilang ramadhan 129357, hana khoirunnisa 33, hanazono yuri, hime namikaze, hitomi namikaze, joharifalls, julietcastle, kirigayaHY, komang kondom, mantika mochi, maya clark 3914, mei tomatcherry23, michigoo776, mikahiro-shinra, miskiyatuleviana, neng avie chan, ore no yume, quinsha intania, ririn rahmani, shintaiffah, sudoer arekndapblekputrakeramat, tataruka, tonyfa77, yaahaa, yollapebriana, yunisuryani.
Thanks to Story Favoriters:
Aiko Asari, Anisha Ryuzaki, Anka-Chan, Arisa Sakakibara, Atsuma Hibiki, BlackLavender RB26DET, Calestia, CherryPhia, CherrySand1, Cherryma, Chi-chan Uchiharuno, DefenderAXE, EL Pride, Febri Feven, Fitri-Chan, Gilang363, Hotaru Keikoku, IisVadelova, Jeon Ah Jung, Jeremy Liaz Toner, Kamen Reader Anugrah, Kao Mitsu, Kazehana Koyuki, Kyouka Hime, Lady Bloodie, Merrya Narcissa Bellatrix, MinA-chan 773, Miyuyuchan, Mulberry Redblack, ParkHyunHa, Purple and Blue, Rachel-Chan Uchiharuno Hime, Ryouta Shiroi, SANG GAGAK HITAM, Sarah Hyuzumaki, Sindi 'Kucing Pink, Syanata-Hime, TheRedsLFC, Triie cue, UMEE-chan29, Uchiharuno Misaki, Uchiha Nura, VeeQueenAir, Yuuna Emiko, Zoetrope 20, ananda inayati, arisha matsushina, azizaanr, bimo tendou, chy-nyan, devanichi, dherisha Uchiha, dylanNHL, estusetyo paweling, genie luciana, gilang ramadhan 129357, hana khoirunnisa 33, hanazono yuri, hime namikaze, hinata hiyuga34, hitomi namikaze, imahkakoeni, joharifalls, julietcastle, maya clark 3914, mei tomatcherry23, michigoo776, mikahiro shinra, neng avie chan, ore no yume, piscesaurus, quinsha intania, ricardo lana 1, ricardo u kaka, ririn rahmani, sudoer arekndapblekputrakeramat, tataruka, uchiha nifya, wedusgembel41, yollapebriana.
Terima kasih kepada Silent Readers, Flamers, Followers and Favoriters secara keseluruhan ...
I LOVE YOU ALL ^^ ...
