Awalnya, ia merasa kecewa karena tidak berhasil menjadi juara satu di Tokyo International High School. Ia merasa jatuh dan penasaran dengan orang yang telah berhasil mengalahkan dirinya di ujian masuk. Pasalnya, ini kali keduanya ia merasa dikalahkan. Selama ini ia selalu menjadi nomor satu dalam bidang apapun ketika gadis kecil pintar-nya menghilang tanpa pamit. Hal yang membuatnya merasa kosong dan tidak memiliki sense dalam berkompetisi.

"Hajimemashite, Watashi wa Sakura Haruno desu. Semoga kita bisa mengukir kenangan indah kita di SMA ini dan mampu mengukir prestasi demi masa depan yang lebih baik. Dan yang terpenting–"

Onyx itu terpaku. Portur tubuh dan suara yang khas itu terus menguasai pendengaran seolah menghipnotisnya. Tanpa terasa jantungnya jadi berdetak tak karuan dan terjulur oleh perasaan rindu tak berujung. Otak dan benaknya benar-benar tidak memercayai pemandangan yang berada di depan matanya saat ini. Ia merasa bahagia dan terkejut dalam satu waktu, pun perasaan kecewa yang menjuluri lorong lain hatinya.

"–mari kita semua membuat pertemanan yang indah."

Gadis berambut merah muda sepunggung itu menunjukkan senyum terbaiknya. Mata emerald-nya seolah bersahaja dan menghipnotis seluruh ruangan. Rambutnya sangat halus bagai sutra dengan kulit putih nan mulus. Sebagai gadis remaja, ia sempurna.

Sakura Haruno telah kembali di depan matanya. Dan ia tetap sama, dengan senyuman ramah dan tetap menjadi nomor satu dalam pelajaran bahkan di ujian masuk mengalahkan dirinya –Uchiha Sasuke.

Haruno Sakura yang telah ia nobatkan sebagai pencuri hati-nya telah kembali mengisi kehidupannya.

.

Naruto © Masashi Kishimoto-sama

.

SMILE © Kiyuchire

.

Mohon maaf atas kekurangan yang mungkin akan berada dalam fic ini

.

WARNING! SASUSAKU ALERT!

Untuk anak di bawah umur harap menjauh bila tidak merasa cukup umur untuk menerima segala konten dewasa yang mungkin akan muncul

Rated M untuk content dewasa. Tidak akan ada lemon hot di dalam cerita ini

Saya menerima segala bentuk concrit yang paling mencela sekalipun selama itu bukan untuk menjatuhkanku dan untuk meningkatkan kualitasku

Saya tidak menerima flame alay penjatuh. Saat saya menerimanya, saya akan langsung menghapusnya

.

Chapter one

.

.

ITADAKIMASU!

.

.

.

Sasuke mulai mengenang masa lalu –tepatnya kejadian 8 tahun yang lalu. Kejadian yang membuat hatinya rindu sekaligus menyesal. Dulu, ia selalu merasa bangga akan dirinya dan merasa tak ada yang pantas bersanding dengan kesempurnaannya. Tapi itu tidak sampai gadis kecil itu datang mengalahkan prestasi gemilangnya. Gadis kecil dari seorang PSK yang membuatnya penasaran sekaligus mengambil hatinya diam-diam tanpa ia sendiri ketahui. Gadis kecil yang selalu tersenyum dan kemudian menghilang ke Tokyo secara tiba-tiba. Ya, Tokyo. Itu sebabnya ia sekarang memutuskan untuk mencoba pendidikan di Tokyo. Siapa tahu ia bisa bertemu dengan gadis kecil itu? Tapi ia tak menyangka bahwa dewa telah mempertemukan mereka secara tiba-tiba. Di sini, di Tokyo International High School selaku sekolah terbaik di Jepang.

X-A

Sakura Haruno

Sasuke Uchiha

Ia benar-benar bersyukur dengan sistem kelas sesuai peringkat yang ada di sekolah ini –ah lebih tepatnya bersyukur karena ia menempati peringkat 2.

Laki-laki berambut emo itu mengukir senyum yang amat tipis. Terlihat jelas kepuasan yang menguasai dirinya. Satu sekolah dan sekarang satu kelas. Apa yang lebih sempurna daripada ini?

"Uchiha... Sasuke?"

Laki-laki bertubuh tinggi atletis itu langsung menoleh ketika mendengar suara yang sangat khas. Suara yang amat dikenalinya –atau lebih tepatnya baru saja ia hapalkan ketika berada dalam aula.

Dan ia mendapati seorang gadis dengan wajah oriental itu menatap papan pengumuman penuh rasa tak percaya. Ah, sepertinya gadis kecil itu merasa mengenali nama tersebut. Atau lebih tepatnya merasa takut akan pemilik nama tersebut?

Sakura –nama gadis yang sedang ditatap Sasuke dari jauh itu menoleh seolah menyadari ada orang yang memperhatikannya. Dan pada saat itu, onyx dan emerald bertemu. Hanya beberapa detik sebelum sang emerald memalingkan wajahnya dengan wajah pucat pasi. Wah, sepertinya kejadian masa lalu telah membuatnya menjadi kurang ramah dengan Uchiha Sasuke. Tapi Sasuke justru tersenyum. Ia merasa Sakura masih mengenalinya walau 8 tahun sudah berlalu. Hal yang cukup membuatnya merasa bahagia tak terkira.

Sasuke terus memerhatikan gadis itu dari jauh. Bahkan ia memerhatikan saat ada seorang laki-laki yang mengobrol dengan Sakura dan mulai membawanya menjauh dari tempat itu.

"Cih."

Tanpa Sasuke atau siapapun sadari, Sasuke mulai mengeraskan kepalan tangannya.

.

Suasana kelas termasuk dalam kategori sunyi layaknya kelas baru yang terisi oleh anak-anak yang belum saling mengenal. Kebanyakan dari mereka adalah seseorang yang memiliki otak jenius dan cemerlang –termasuk Uchiha Sasuke dan Haruno Sakura. Beberapa dari mereka mengobrol dengan teman sebangkunya dan mengucapkan kata-kata ramah sebagai dalih membuat pertemanan baru. Walau hanya kecil dan sekilas, Sasuke menyadari bahwa kini Haruno Sakura menjadi pusat perhatian seluruh kelas. Bagaimana tidak? Tidak hanya memiliki paras cantik bak bidadari, ia memiliki otak jenius pun senyum yang amat ramah. Dan, hanya dalam sekejab kini meja Sakura yang berada di barisan depan kini sudah ramai oleh murid-murid di kelas A.

Sasuke hanya terdiam memandanginya dari kejauhan. Bila sakura memilih meja paling depan kolom kedua –tempat yang dekat dengan meja guru, Maka Sasuke sengaja memilih meja baris ketiga di baris yang sama agar ia bisa melihat gadis itu dengan lebih leluasa. Entah sejak kapan gadis itu kembali menyita perhatian dan dunianya. Senyum yang ia arahkan terhadap teman-teman barunya terlihat sangat indah, namun, Sasuke mengetahui dengan pasti bahwa itu adalah senyum yang dibuat-buat. Entah mengapa, ia merasa sebal melihat senyum ramah palsunya itu. Membuat dirinya semakin terhempas dalam jurang penasaran. Tapi bagaimanapun juga, senyumnya bagaikan bidadari yang lepas dari khayangan. Mungkin bagi mereka itu amat berlebihan, tapi inilah kenyataannya. Nee, Sasuke, Apa kau benar-benar sangat menyukai gadis itu hingga tidak bisa melepas pandangan tersebut?

"Hei, Kamu yang berada di peringkat kedua, 'kan?"

Akhirnya sebuah suara memecahkan dunianya. Sasuke melirik sedikit ke arah asal suara dan kini tertampi sesosok gadis dengan surai merah sepunggung. Rambutnya dan parasnya mungkin memang terlihat amat indah, lekukan tubuhnya terbentuk dengan amat sempurna. Namun entah mengapa keindahan itu tidak mengundah mata Sasuke sama sekali. Baginya, satu-satunya gadis paling indah yang pernah tercipta dan terlahir hanyalah Haruno Sakura. Sasukepun kembali memutar matanya memandang Sakura kembali.

"Oh, dari tatapanmu itu. Kamu tidak suka dengan orang yang kini merebut tahta-mu, Ya?"

Sasuke pun langsung menoleh tak suka menatap gadis berkacamata itu. Entah mendapat keberanian dari mana hingga gadis itu mencolek dagu Sasuke dengan genit. Dan di sini Sasuke menyadari dari pakaian gadis itu yang amat kecil hingga menampilkan lekukannya dengan sangat, gadis yang mungkin sudah menjadi wanita itu benar-benar murahan. Dan, apa gadis itu tidak bisa membedakan arti setiap tatapan? Atau memang tatapan Sasuke yang sinis? Entahlah.

"Maksudku –apa yang bagus dari gadis itu? Ia tidak terlihat pintar. Kalau menurutku, senyumnya sangat memuakkan. Aku yakin kamu pasti selalu berada di peringkat teratas, 'kan? Apa kau tidak kesal dengan gadis itu, Sasuke? Maksudku–"

BRAKK!

Sasuke pun langsung berdiri dari tempat duduknya seraya menggebrak meja. Beberapa mata kini sudah menuju ke arahnnya. Lalu dengan cepat Uchiha Sasuke menarik pergelangan tangan wanita berkacamata itu dan berjalan menuju meja Sakura dengan tangan kanannya.

Saat itu, Sakura hanya menatap heran ke arah Sasuke yang kini menatapnya dengan tatapan aneh yang sulit terdefinisikan. Tapi itu hanya sejenak hingga akhirnya tangan kiri Sasuke bergerak menarik tangan kanan Sakura dengan kasar menuju ke depan kelas.

Suasana kelas dalam seketika pun jadi menegang.

"Semuanya dengar," bibir Sasuke bergerak dengan kasar. Entah apa yang ia pikirkan hingga berani melakukan hal seperti ini di depan kelas.

Semua matapun memandang ke arah Sasuke. Gadis berambut merah dan Sakura hanya memasang wajah bingung.

"Ada seorang gadis yang meragukan kepintaran Sakura Haruno. Bagaimana kalau kita mengetes Sakura dan gadis dari antah berantah ini?" lanjut Sasuke dengan suara lantang.

Beberapa dari mereka langsung menatap ke depan dengan tatapan penasaran. Pasalnya, beberapa dari mereka memang merasa penasaran dengan kepintaran Sakura selaku peraih nilai sempurna di ujian masuk kemarin. Bahkan seorang laki-laki yang sedari tadi tertidur pun langsung bangun dan ikut menyaksikan kelanjutannya.

"Ini soal tentang trigonometri. Kalian tinggal menjawab pertanyaan ini, lalu kalau benar kalian bisa menjelaskannya," ucap Sasuke –lagi sebelum akhirnya melepas genggaman tangannya di pergelangan tangan Sakura dan gadis merah itu. Bedanya, ia melepas tangan gadis merah dengan kasar, namun lembut terhadap Sakura.

Beberapa di antara mereka mulai berbisik. Mereka mulai merasa bingung. Pasalnya, mereka belum pernah mempelajari trigonometri yang dipelajari di SMA nanti dan mereka bertanya-tanya, apakah Sakura maupun gadis itu bisa menjawabnya. Atau yang lebih parahnya, apakah Sasuke mengetahui apa yang akan dia tanyakan?

"Berapa hasil dari Sin 81 + Sin 21 di bagi cos 99 – cos 201? Ada 5 opsi. 3, B.1, akar tiga, D.0, atau E.2? Waktu menjawab 60 detik," ucap Sasuke seraya menulis soal beserta opsi tersebut di papan tulis menggunakan spidol yang berada di atas meja guru.

"He-hei tunggu! Setidaknya biarkan aku mengambil kertas coretan–"

"59–"

Gadis berambut merah itu langsung panik. Dengan asal-asalan ia mengambil spidol papan tulis di depan matanya dan mulai menjadikan papan tulis sebagai papan coret-coretannya.

Terlihat, beberapa di antara murid-murid di kelas itu pun ikut menghitung soal yang diberikan oleh Sasuke. Sementara Sakura hanya terdiam menunduk.

"Tunggu sebentar, memang kita memelajari ini di SMP?"

"–25"

"ARGHH!"

Gadis berambut merah itu langsung berteriak frustasi. Ia mencoret-coret asal papan tulis tanpa mengerti apa yang baru saja ia coret. Suasana kelas pun menjadi hening karena kebanyakan dari mereka ikut mencari jawaban dari soal tersebut. Beberapa di antara mereka juga bertingkah tidak peduli karena merasa hasilnya akan nihil kalau mengerjakan soal yang bahkan belum pernah dipelajari sebelumnya.

"Lima, Empat, Tiga,"

"D! Aku pilih D! NOL!" Ucap gadis berambut merah itu dengan lantang. Ia kini hanya bisa berharap tebakannya jitu.

Sasuke pun tersenyum sarkastik.

"Bagaimana jawabanmu, Haruno Sakura?"

Sakura hanya terdiam sejenak. Ia langsung mengangkat jari telunjuknya dan menulis di udara menggunakan jarinya.

" tiga," jawab Sakura penuh percaya diri dan dengan wajah serius.

"Jawabanmu benar."

Sasuke semakin mengembangkan senyumnya seraya memberikan spidol di tangannya kepada Sakura untuk menuliskan penyelesaiannya. Suasana kelas semakin menyepi karena kebanyakan dari mereka menunggu penjelasan dari Haruno Sakura. Beberapa di antara mereka pun berdecak kagum pada Sasuke yang mampu memberikan persoalan tersebut, dan Sakura yang mampu menjawab pertanyaan tersebut tanpa memerlukan media coret-coretan. Beberapa pula berpikir bahwa mungkin Sakura hanya beruntung karena menjawab dengan benar dan menanti kebenaran apakah itu hanya keberuntungan atau murni kepintarannya?

"Begini. Nanti kita akan memelajari hal ini di bab trigonometri yang akan ada di kelas 11 semester 2. Jadi, ada persamaan seperti ini dalam trigonometri," Sakura memberi jeda sejenak menuliskan beberapa persamaan matematika, "dan ini."

Murid-murid yang berada di kelas itu pun tercengang melihat penjelasan Sakura.

"Nah, aku memasukan soal ini," Sakura melingkari soal yang baru saja diberikan oleh Sasuke, "ke dalam persamaan ini," lanjutnya lagi seraya melingkari persamaan yang baru saja ia tuliskan.

"Jadi, alfa adalah ini, dan beta adalah ini. Lalu kita buat menjadi bentuk seperti ini dan coret ini dengan ini karena menghasilkan angka 1. Maka yang tersisa adalah Cos 30 dibagi Sin 120. Nanti kita akan mempelajari persamaan seperti ini–" Sakura mulai mencorat-coret papan tulis dengan persamaan lain, "–di pelajaran Fisika kelas X semester satu bab vektor. Jadi Cos 30 kita ketahui sebagai setengah akar 3 dan sin 150 sama saja dengan sin 30 maka hasilnya setengah. Karena ia berada di kuadran 2, maka nilai sin tetaplah positif. Jadi, setengah akar tiga dibagi setengah hasilnya akar tiga."

Suasana semakin mensunyi. Beberapa dari mereka tercengang karena Sakura dapat menjelaskan detail pelajaran tersebut sepaket dengan kapan mereka akan mempelajarinya. Mereka pun bertanya-tanya, apakah Sakura mempelajari ini semua saat liburan? Dan, apakah Sasuke juga mempelajari soal seperti ini?

PLOK! PLOK!

Sasuke pun memberikan tepuk tangan yang kemudian diikuti oleh beberapa anak yang merasa kagum. Sasuke bahkan menunjukan senyuman dengan tatapan lembut ke arah Sakura.

"Nah, asal kalian tahu, soal ini merupakan salah satu dari soal olimpiade Matematika. Kurasa sekarang kalian pasti tidak perlu meragukan gadis ini lagi, 'kan?" ucap Sasuke seraya menatap sinis gadis berambut merah yang kini berusaha mengigit bibirnya. Ia tentu merasa sangat dipermalukan. Sakura yang menyadari hal tersebut langsung menghampiri gadis berambut merah tersebut dan tersenyum.

"Anoo, itu juga aku hanya beruntung. Maksudku, aku hanya menebaknya di awal dan baru mengingat persamaan itu saat menerangkan di depan kelas. Di sisi lain ini karena aku belajar selama liburan, kalau aku tidak belajar pasti aku tidak bisa menyelesaikan soal ini. Sejujurnya ini soal yang sulit kok. Tak perlu kece–"

"SOMBONG! BERISIK! Orang-orang pintar seperti kalian pasti hanya menganggap remeh kami, 'kan?! Kalian hanya hebat karena kalian pintar!" bentak gadis itu sebelum akhirnya berlari keluar kelas. Di saat yang hampir bersamaan, seorang pria bermasker dengan pakaian rapi masuk hingga bertabrakan dengan gadis berambut merah itu sebelum akhirnya gadis itu kembali berlari meninggalkan ruangan tersebut. Sakura dengan gesit langsung meraih penghapus dan menghapus coret-coretan di papan tulis it. Sasuke yang melihat hal tersebut tak tinggal diam dan mulai membantu Sakura menghapus papan tulis.

Tetapi bohong kalau laki-laki bermasker itu tidak melihat coret-coretan itu dan merasa horror dengan kelas terpintar di angkatan tersebut. Maksudnya, sambil menunggu guru mereka belajar, 'kah?

Setelah selesai, Sakura langsung berlari menuju mejanya –atau mungkin lebih tepatnya berusaha tidak berdekatan dengan Uchiha Sasuke. Sasuke yang menyadari hal tersebut hanya tersenyum sarkastik. Sepertinya gadis masa kecilnya itu masih membenci dirinya, terlihat dari tatapan tak suka yang ia tak sengaja ia lontarkan kepada Uchiha Sasuke.

"Baiklah. Kita sekarang akan memulai Homeroom class untuk lebih mengenal lebih tentang sekolah ini. Seperti yang kalian tahu, sekolah kita menempati peringkat pertama se-Jepang. Pertama, saya ucapkan selamat. Kedua, saya harap kalian dapat menjaga nama baik sekolah ini, apalagi kalian adalah anak-anak pilihan dari peringkat 1-30. Perkenalkan, nama saya Hatake Kakashi. Sebelum saya melanjutkan perkenalan kita. Saya akan mengabsen terlebih dahulu."

Dan saat proses absen berlangsung, Sasuke baru menyadari bahwa murid dalam kelas tersebut semuanya hadir. Itu berarti, gadis tadi bukanlah berasa dari kelas ini. Tapi ia tak peduli, selama ia berada di dekat Sakura dan bisa selalu melihatnya, ia tak akan memedulikan hal-hal lain.

.

Malam itu, Sasuke tidak bisa berkonsentrasi dalam belajar. Entah mengapa, hari ini Sasuke merasa amat senang di hari pertamanya masuk sekolah. Dan sumber kebahagiaannya adalah Sakura. Pikirannya penuh dengan Sakura dan Sakura. Ia dapat melihat gadis kecil-nya kembali dan Sakura tetap tak berubah. Tetap menjadi sosok yang selalu membuatnya penasaran dan tertantang untuk lebih meningkatkan belajarnya. Padahal, awalnya gadis itu menunjukan raut pucat saat menatapnya. Namun hanya dalam sedetik saja Sasuke merasa gadis itu seolah sudah melupakan kejadian-kejadian di masa lalu. Di detik berikutnya, ia menunjukan tatapan aneh. Gadis itu begitu sulit untuk ditebak. Entah bagaimana, Sasuke merasa gadis itu bagaikan pemeran akting yang amat sempurna –walaupun ia sangat yakin Sakura menyadari dirinya selalu ditatap Sasuke, ia tetap bertingkah biasa dan tersenyum dengan biasa kepada orang-orang yang mengajaknya berbicara. Ia mulai berpikir, apakah Sakura masih perawan?

.

Sasuke tidak percaya dengan ini semua.

"UCHIHA SASUKE! APALAGI MAUMU?!"

Saat Sakura berlari menuju loteng dan menangis dengan keras.

Awalnya Sasuke hanya melihat Sakura berlari dengan sangat cepat saat baru sampai di kelasnya. Membuat dirinya merasa penasaran karena ia sangat yakin melihat wajah Sakura memerah seolah menahan tangisnya. Dan benar saja, saat Sasuke mengejarnya hingga berada di loteng saat ini, Sakura langsung menangis tak karuan.

"Kenapa kamu berada di Tokyo?! Ingin menindasku? Apa salahku hingga kamu tetap membenciku?! Apa dosaku hingga kita harus bertemu di sekolah ini dan kamu berbuat sekejam ini? APA YANG SALAH KALAU AKU ADALAH ANAK DARI PELACUR?! PELACUR PUN JUGA MANUSIA DAN KALIAN TAK MENGERTI APA KESULITAN MEREKA DAN ANAK MEREKA YANG INGIN HIDUP NORMAL!"

Sasuke hanya terdiam sejenak. Entah mengapa tubuhnya seolah kaku mendengar kata-kata Sakura yang begitu menusuk hatinya. Hatinya bagai teriris. Rasanya, rasa sakit yang kali ini ia rasakan lebih besar daripada rasa sakit yang ia rasakan 8 tahun yang lalu. Dan lagi, ia bahkan tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi.

.

Papan tulis itu kini di kelilingi oleh beberapa orang yang memandangnya penuh rasa tak percaya. Mereka berusaha menyangkal namun saat melihat Sakura langsung berlari tanpa meletakkan tas membuat mereka semua menjadi ragu.

Haruno Sakura adalah seorang anak pelacur!

Haruno Sakura menggunakan tubuh ibunya untuk mendapatkan bocoran soal-soal selama ini!

Ia adalah gadis bodoh yang menyamar sebagai gadis pintar!

To be Continue

.

.

.

A/N: Fiuhh... akhirnya selesai juga chapter one-nya. Ga banyak ngomong deh. Aku sendiri gatau harus berkata apa selain: Kayaknya Try Out Matematikaku ancur =') Soal yang di atas adalah salah satu soal Try Out-ku. Aku dapet paket B, dan sumpah soal paket B beda banget ama paket A. Di susahin banget ama gurunya. Kayaknya beliau sengaja karena (kebetulan) anak-anak yang paling pinter Matematika SEMUANYA benar-benar berada di tempat paket B =') Kasihan rakyat jelata kayak aku ya. Kurang beruntung. Wkwkwk

Ngomong-ngomong, terimakasih pada seluruh pihak yang sudah mereview, me-fave dan me-follow maupun para silent reader fic-ku ini. Maaf belum bisa bales review dulu. Udah malam, ikan harus bobo soalnya (Abaikan. Harap maklum author lagi rada-rada error)

Laptopku ga bisa login FFN nih gak tahu kenapa T-T Bisa baca-baca tapi ga bisa login. Jadinya aku upload dan publish lewat ponsel –lagi. Ada yang tahu sebabnya?

Jakarta, 15 Januari 2015 23:05 oleh author yang lagi sedih ama nilai-nilainya tapi tetap aja males belajar.