Detak jantungnya berdegup sangat cepat. Entah mengapa dadanya terasa begitu perih melihat tangisan gadis yang sempat menarik perhatiannya selama ini. Gadis itu terus menangis bagai orang kesetanan yang merasa amat ketakutan. Gadis dengan senyum itu kini telah menanggalkan topengnya. Entah bagaimana, teriakan gadis itu menjadi belati tajam bagi hatinya.

Uchiha Sasuke menggerakan jari-jarinya. Walau bibirnya terasa keluh dan tubuhnya bagai melumpuh, ia tetap berusaha untuk tetap bergerak. Berharap dapat menyalurkan kekuatan yang lebih untuk gadis favourite-nya itu. Bibirnya tak dapat berkata apapun walau hanya untuk berucap kalimat sangkalan. Ia merasa pasti gadis ini tidak akan mendengarkannya karena telah telanjur menganggap Sasuke telah membencinya.

Ia mulai merengkuh gadis itu dengan sangat lembut.

Sakura hanya menarik nafas penuh kejut. Ia menatap ke atas dan mendapati Uchiha Sasuke yang kini telah menatapnya dengan tatapan yang sangat lembut. Ini telah menjadi kali keduanya laki-laki itu melihat kelemahannya –air matanya. Meski ia tidak membenci lelaki itu, namun ia merasa tidak nyaman karena laki-laki itu selalu bertingkah seolah membencinya di masa lalu –lalu ia kembali menjadi sosok yang sangat lembut dan sulit untuk dikenali karena semakin pendiam.

Sasuke menghapus jejak air mata Sakura yang masih terpatri meninggalkan jejak di pipi Sakura. Sakura terkejut. Ia bukannya tidak menyukai perlakuan Sasuke. Namun ada bagian dalam dirinya yang merasa ketakutan –entah ketakutan apa. Awalnya Sakura memang memejamkan matanya –menikmati segala rasa nyaman yang disalurkan oleh rengkuhan Uchiha Sasuke. Namun saat ia sedetik kemudian, ia langsung mendorong Uchiha Sasuke dan berlari meninggalkan tempat itu seraya menyangkal segala perasaan yang sempat ia rasakan sedetik lalu.

Sasuke hanya terdiam mematung menyaksikan punggung Sakura yang kian mengecil. Entah bagaimana ia merasa sedih saat melihat punggung itu kian mengecil –mengingatkannya pada kejadian malam hari 8 tahun yang lalu. Tapi, itu hanya sejenak. Ia akhirnya menghela nafas dan memandang ke arah langit seraya memasukan tangannya ke saku celana.

Beberapa saat kemudian ia seolah tenggelam dalam pikirannya yang terdalam. Entah bagaimana gadis berambut merah muda itu benar-benar membuatnya merasa seperti orang gila.

"Aku akan mencari tahu siapa pelakunya."

Hanya kata-kata itulah yang keluar dari bibirnya sebelum akhirnya ia memutuskan untuk pergi meninggalkan tempat itu dan memilih untuk kembali ke kelas menghapus tulisan-tulisan yang membuat gadis-nya sesedih tadi.

.

Naruto © Masashi Kishimoto-sama

.

SMILE © Kiyuchire

.

Mohon maaf atas kekurangan yang mungkin akan berada dalam fic ini

.

WARNING! SASUSAKU ALERT!

Untuk anak di bawah umur harap menjauh bila tidak merasa cukup umur untuk menerima segala konten dewasa yang mungkin akan muncul

Rated M untuk content dewasa. Tidak akan ada lemon hot di dalam cerita ini

Saya menerima segala bentuk concrit yang paling mencela sekalipun selama itu bukan untuk menjatuhkanku dan untuk meningkatkan kualitasku

Saya tidak menerima flame alay penjatuh. Saat saya menerimanya, saya akan langsung menghapusnya

.

Chapter two

.

.

ITADAKIMASU!

.

.

.

"Ada apa? Kenapa tiba-tiba seorang Uchiha Sasuke memanggilku ke atap sepulang sekolah seperti ini?"

Sasuke Uchiha hanya menoleh bosan. Sudah cukup lama ia menunggu di tempat ini di saat sebelumnya ia menitipkan pesan pada teman Karin agar Karin datang ke atap sekolah sepulang sekolah.

"Ah, apa tiba-tiba kau ingin menyatakan cinta? Padahal baru kemarin kau bersikap seperti menolakku. Apa kau seorang tsundere?" Ucapnya seraya berjalan mendekati Sasuke dan menyentuh dagu Sasuke dengan jari telunjuknya. Sasuke langsung menunjukan tatapan tak suka dan menepis sentuhan tersebut.

Karin terkejut saat menerima perlakuan itu. Namun, ia lebih memilih untuk menutupi rasa kecewanya dengan senyumannya.

"Apa kau pelakunya?"

Suasana yang sepi itu kini serasa menegangkan untuk Karin. Saat itu ia hanya menunjukan bulatan matanya sebagai ujukan rasa kejut. Namun, ia tetap berusaha mempertahankan senyumnya.

"Waw. Cepat sekali ketawannya?" jawabnya yang membuat Sasuke mengepalkan tangannya.

"Sebuah tulisan itu membuat Sakura tidak masuk sekolah, Ya hari ini? Aku tidak melihatnya seharian?"

Sasuke makin mengepalkan tangannya dan menggertakan gigi penuh rasa tak suka.

"Hebat bukan? Dengan caraku, aku bisa membuat siapapun menjadi menderita. Dengan caraku, aku sanggup membuat sebuah cerita mengejutkan. Ah, apa kau percaya dengan tulisan kasarku itu?"

Sasuke langsung merenggangkan kepalan tangannya saat mendengar kata-kata Karin. Ia lalu menatap Karin yang kini mulai memancarkan kilatan mata keirian hati yang mendalam. Namun, saat itu ia bisa bernafas lega.

Ia mulai mencerna beberapa kalimat Karin yang cukup janggal dan mulai memikirkan banyak hal. Karin tidak mungkin mendapatkan informasi secepat itu. Sebuah kesimpulan bisa ditarik atas ucapan-ucapan Karin: Rupanya, ia hanya asal menulis dan kebetulan tulisannya adalah kenyataan. Faktanya, ia tidak mengetahui kebenarannya.

"Ya, gadis dengan beasiswa itu tidak pernah menyantumkan nama orangtua maupun walinya. Dan orang-orang di sekitar pasti akan membuat gossip yang lebih menghebohkan setelah melihat tulisan tersebut. Hey, bukankah sebuah kabar burung itu memiliki efektivitas yang amat luar biasa?"

"Oke. Kau boleh pergi sekarang,"

Sasuke hanya menatap Karin sekilas. Ia lalu memalingkan wajahnya ke arah langit-langit dan memejamkan matanya menikmati hembusan angin yang terasa begitu nyaman untuknya saat itu. Ia merasa lega.

"A-APAAN? Harusnya kamu marah dan memintaku untuk menarik gossip itu–"

SRETT!

Tak memedulikan Karin, Sasuke langsung meninggalkan tempat tersebut sebelum Karin menyelesaikan itu, entah bagaimana kaki Karin melemas.

Karin langsung menundukan kepalanya dan memeluk erat tubuhnya. Dalam beberapa detik, aura kekecewaan mulai menguar mengelilingi aura tubuhnya.

"Ah, aku sangat ceroboh. Seharusnya aku tidak langsung berkata jujur seperti tadi," ucap gadis itu mengeratkan pelukan ditubuhnya.

"Heh. Hahaha, Tenang saja. Ini hanya kecerobohan kecil. Dan otak ini sanggup menjadi lebih licik dan jahat,"

Dan, saat itu hanya terdengar suara tawa gila gadis berambut merah yang nampak sangat kacau tersebut.

.

Mendapatkan labelling sebagai tokoh antagonis membuat beberapa manusia menjadi memilih untuk mematikan sisi baiknya karena telah lelah menjelaskan bahwa labelling tersebut adalah salah. Karena pada saat korban labelling tersebut melakukan hal baik, hanya akan ada celaan yang didapatkannya. Membuat sosok tersebut lebih memilih untuk menjadi tokoh antagonis murni.

Sasuke bukannya tidak menyadari hal tersebut. Sasuke dapat melihat pandangan sedih dan kesepian yang tersorot dari kilat mata gadis bernama Karin tersebut. Dan bagaimana dengan polosnya gadis itu menjawab dengan jujur tanpa menyangkal kesalahannya sedikitpun –dan ia mengucapkan tanpa gentar. Namun, Sasuke tidak memedulikan hal tersebut. Ada hal lebih penting yang harus ia kerjakan.

–Di sisi lain ia hanya memedulikan sosok Sakura untuk saat ini.

.

Gadis berambut merah muda itu memeluk tubuhnya dengan erat. Berusaha mengusir rasa kekecewaan dan kesedihan yang kini mulai menguasai perasaannya. Ia terus meneteskan air matanya dan mengutuk takdir. Bukan dirinya yang meminta untuk menjadi seorang anak dari pelacur. Bukan dirinya yang meminta untuk terlahir di dunia ini. Demi memperbaiki takdir, ia terus berusaha selama bertahun-tahun untuk menjadi yang terbaik. Ia berusaha untuk menjadi lebih dan lebih baik dari ibunya.

Tidak, bukan berarti ia membenci sosok ibunya. Ia mengetahui dengan jelas bagaimana lembut dan suci hati ibunya. Hanya takdir dan masa lalu yang tidak adil dan seolah berusaha untuk mempermainkan mereka.

"Aku sudah melakukan yang terbaik. Tenang, Sakura, kau kuat dan pasti bisa melalui ini semua," ia berusaha untuk menghipnotis dirinya. Berusaha untuk menghibur diri dalam kegelapan ruangan dan kehangatan tubuhnya sendiri –seperti sejak dulu.

Tapi percuma, tubuhnya tetap bergetar tak karuan. Rasa takut dan malu menguar kuat dalam tubuhnya meski ia tahu tak harusnya ia seperti itu.

Akhirnya ia meraih ponselnya dan mengetik beberapa tombol di sana.

"Okaa-chan, ini aku Sakura,"

.

Sasuke hanya memangku wajahnya bosan. Ia hanya menatap ke arah pintu kelas dari bangku duduknya. Beberapa saat ia melirik jam tangannya untuk memastikan jam kelas yang akan dimulai. 5 menit lagi kelas jam pertama akan dimulai dan Sakura belum masuk sekolah –tepatnya ia sudah tidak masuk selama 2 hari.

Ia sangat ingin menjenguk dan mengetahui keadaan Sakura saat mengetahui kenyataan dari Karin. Namun, takdir berkata lain karena dirinya sama sekali tidak mengetahui lokasi Sakura maupun cara menghubungi Sakura. Bertanya ke teman-teman sekelaspun percuma karena tidak ada yang mengetahuinya atau memandang aneh ke arah Sasuke. Tiba-tiba pikiran liarnya mulai bermain. Memori-memori 8 tahun yang lalu berputar ke saat di mana Sakura yang tiba-tiba pindah sekolah setelah Sasuke mengetahui rahasia terbesar Sakura.

Lalu, ia pun langsung bangkit dari tempat duduknya. Masih ada satu cara untuk mengetahui keadaan Sakura: pergi ke ruang guru dan menanyakan alamat tinggal Sakura. Dan iapun merutuki kenapa ia baru bisa menyadari hal tersebut sekarang –bukan kemarin-kemarin?

Namun, saat ia membuka pintu seret tersebut–

SRETTT

–sosok Sakura justru muncul di depan matanya dengan posisi tangan menyeret pintu tersebut dari sisi lainnya.

Tubuh Sasuke hanya membatu saat Sakura hanya tersenyum sinis ke arahnya –senyuman yang entah mengapa terlihat begitu mengerikan di matanya. Senyum sarkastik.

"Kalau kau ingin berperang denganku. Kali ini aku akan berperang melawanmu. Tenanglah, aku tidak akan kabur kali ini. Kali ini aku lebih kuat dan lebih memiliki persenjataan lengkap. Dan lihatlah kekuatanku yang sesungguhnya. Akupun bisa membalas membencimu,"

Dan, Sakura pun berjalan masuk meninggalkan Sasuke yang kini mematung di depan pintu tersebut.

"Ah, Haruno-san? Daijoubu?"

Sasuke langsung menolehkan wajahnya cepat saat suara lain masuk ke indera pendengarannya. Dan saat ini, ia dapat melihat Sakura yang tersenyum itu kembali di kelilingi oleh teman-teman sekelasnya.

"Aku tak menyangka tulisan-tulisan kejam itu bisa tertulis di depan kelas kita."

Sakura hanya tersenyum kaku. Ia berusaha untuk tetap tersenyum dan terlihat tegar.

Sasuke hanya dapat menyaksikan kejadian tersebut. Meski kejadian tersebut berapa di dekatnya, entah bagaimana ia merasa amat jauh dari tempat gadis tersebut berpijak kini. Ia hanya mampu mendengar suara-suara dukungan untuk Sakura yang mencekal tudingan tentang coretan tersebut dan tidak memercayai hal tersebut. Entah bagaimana, senyuman dan ucapan tenang gadis itu sanggup menutupi segalanya dengan baik, mampu mengganti gossip tersebut menjadi suatu kejadian kejam yang menimpa dirinya yang tidak mengetahui apapun.

"Aku juga tak mengerti. Saat itu aku sedang memiliki masalah dengan keluargaku. Kalian tahu? Ada yang iri karena ibuku dikejar-kejar oleh sosok laki-laki kaya. Sepertinya orang yang patah hati mengetahui hal tersebut mengirimi pesan gelap kepada ibuku dan mengatai ibuku sebagai pelacur. Saat itu aku jadi kesal dan tak mampu mengontrol emosi. Dan saat aku sedang ke sekolah, aku melihat tulisan semacam itu. Aku jadi sedih dan berpikir orang tersebut telah melakukan hal yang terlalu jauh hingga mengetahui tempatku bersekolah. Aku bahkan menerka hal yang tidak-tidak. Ya, kalian pasti akan kacau kalah menjadi aku, 'kan? Akhirnya aku memilih untuk tidak ke sekolah dulu untuk menjaga keadaan ibu di luar Tokyo. Karena suatu alasan keluarga aku tidak bisa menuliskan nama orangtuaku. Aku sebetulnya tidak ingin memberitahu ini. Tapi sepertinya aku sendiri pasti tidak akan kuat kalau di gosipkan yang tidak-tidak hehehe," ucap gadis itu dengan suara nada yang amat meyakinkan. Sasuke hanya dapat tercengang mendengar semua alasan logis tersebut. Tapi, ia sangat tahu bahwa itu semua adalah kebohongan belaka.

"Maaf ya membuat kalian semua jadi heboh begitu tanpa menjelaskan yang sesungguhnya," gadis itu tetap mempertahankan senyumnya. Gadis itu sangat luar biasa. Ada beberapa perasaan kecewa yang mulai menyuluti hati Sasuke saat itu. Sasuke merasa amat sedih mengetahui gadis itu sampai berbohong demi menutupi aibnya dan ketenangannya dengan alasan yang ia sendiri tidak ketahui. Hingga detik ini, Sasuke benar-benar tak mengetahui apapun tentang gadis luar biasa itu. Gadis itu memang gadis yang amat cerdas.

Tiba-tiba mata emerald Sakura berputar ke arah Sasuke. Onyx dan emerald itu bertatap sapa. Dan Sasuke merasa tatapan Sakura seolah berkata 'rasakan itu. Aku bisa membuat usahamu gagal.'

.

Sasuke berulang kali menghela nafas panjang. Beberapa kali pula matanya melirik ke depan –tempat Sakura Haruno kini duduk manis dengan rambut terurai rapi. Rambut Sakura terlihat sangat indah di mata Sasuke.

Kejadian tadi pagi cukup mengejutkan Sasuke. Namun, ia tetap berusaha tenang. Entah bagaimana, rasa penasarannya kini semakin menguar kuat. Gadis itu kini semakin terjerumus dalam kebohongan yang diciptakannya sendiri. Apakah menjadi anak seorang pelacur benar-benar sangat mengganggunya? Apa alasan ia menutupi itu semua hanya karena rasa malu? Dan apakah alasan kepindahan Sakura 8 tahun yang lalu adalah karena rahasianya yang terbongkar oleh Sasuke?

Gadis itu terlalu memiliki banyak tanda tanya. Gadis itu sangat cerdas dan misterius. Dan ia cantik.

"Nah, sekarang kita akan membagi kelompok untuk tugas biologi kali ini,"

Sasuke langsung menatap ke arah guru biologi yang kini sudah membuat sebuah kertas kecil di meja. Beberapa murid kini ia lihat mulai mengantri di depan untuk mengambil kertas-kertas yang telah ia letakan. Sasuke langsung berdiri dari tempatnya dan mengambil kertas tersebut.

"Nah, untuk kelompok 1; berkumpul di sudut sana, kelompok 2 ; di sebelahnya, 3 di belakang sudut lainnya, 4, 5 dan 6 di depannya lagi dan 7, 8, 9 di depannya lagi. Satu kelompok ada 3 orang. Bapak harap dengan cara ini kalian bisa akrab dengan teman-teman sekelompokmu. Untuk mempermudah. Kelompok ini adalah kelompok kalian selama satu tahun. Tugas dikumpulkan minggu depan, Ya."

Sasuke pun langsung menuju lokasi untuk kelompok 8 –lokasi yang sebelumnya ditunjukan oleh guru biologinya. Di sana, ia sudah melihat sosok seorang gadis dengan rambut indigo duduk manis di tempat tersebut. Ia hanya menghela nafas seraya duduk di sebelah gadis yang terlihat nampak terkejut itu. Sasuke tidak memedulikan gadis tersebut. Ia hanya melihat ke arah lain mencari sosok gadis berambut merah muda. Ia ingin tahu di kelompok mana gadis tersebut berada. Tiba-tiba mata onyx-nya menangkap emerald tersebut. Emerald itu langsung menatap penuh tak suka seraya berjalan mendekat. Dan dari tatapan itu, Sasuke sangat yakin bahwa Sakura seolah berkata 'apa yang kau lakukan di sana?' dan otak Sasuke cukup jenius untuk menyadari bahwa mereka akan sekelompok biologi untuk satu tahun ke depan.

Dan pada saat itu tanpa mereka berdua sadari, benang merah yang menghubungkan mereka mulai memendekan ukurannya.

.

Sama halnya dengan berkumpul tugas kelompok lainnya. Akan ada pihak yang harus rela rumahnya menjadi tempat penampungan. Dan telah diputuskan bahwa mereka akan berkumpul di apartemen Haruno Sakura. Apa kalian melihat raut wajah senang Sasuke Uchiha dan raut wajah ingin menolak namun tak bisa milik Sakura?

Dan, kisah cinta ini akan tetap berlanjut.

.

.

.

To Be continue

.

.

.

A/N: Akhirnya sempet juga untuk mengetik chapter dua-nya. Asli sibuk banget. Lagi pecan ujian nih. Capek, bawaannya males makan juga. Ada yang tahu tidak sebabnya apa? Habis ternyata teman-teman aku juga jadi males makan katanya hehehe.

Yah. Terimakasih kepada seluruh pihak yang sudah mau bersabar menunggu fiksi ini dilanjutkan. Untuk LIT, SaF, UL sabar ya. Lagi diketik dengan cicilan. Lagi sibuk bangeeettt. Jangan pada marah ama aku dong. Maafin karena tidak sempat mengetik T-T Maaf jadinya cuma bisa dibuat segini dan bahasanya kurang memuaskan.

Terimakasih juga untuk para reviewer, reader, maupun silent reader yang sudah bersedia membaca hingga titik ini. Maaf belum bisa balas satu persatu.

Akhir kata, review?

Jakarta, 13 Maret 2015 20:30 Oleh author yang sedang kelabakan belajar Kimia untuk persiapan UN.