LABIL – Chapter 3


Main Cast :

-Cho Kyuhyun

-Lee Sungmin

Dll

Genre : Romance, Drama, School Life, Genderswitch

Rated : T

Summary : "Aku menyukaimu. Tapi aku tak nyaman dengan hubungan ini. Apa yang harus kulakukan?"-Lee Sungmin / "Aku tak tau apa yang terjadi meninggalkan aku begitu saja. Membuatku harus diam dalam kebingungan"-Cho Kyuhyun/"Aku hanya sahabatnya. Tak ada yang bisa kulakukan selain membantunya. Tapi kenapa dia mencoba lari dari kenyataan yang ada?"-Kim Ryeowook/

SUMMARY NYA KEMAREN ADA YANG SALAH. ITU DIBAGIAN DONGHAE. ITU SUMMARY YANG SEKARANG UDAH BENER. MAAF UNTUK TYPONYA YA CHINGU *BOW

Disclaimer : FIC INI ASLI DARI OTAK SAYA. BILA ADA KESAMAAN SAYA MINTA MAAF DAN SAYA PERTEGAS, TIDAK ADA KESENGAJAAN UNTUK HAL ITU. SAYA HANYA PINJAM NAMA MEREKA. MEREKA MILIK TUHAN DAN ORANG TUA MEREKA. SAYA HANYA INGIN MENUANGKAN APA YANG INGIN SAYA SAMPAIKAN DAN BAGIKAN KEPADA READERS SEMUA. GOMAWO #BOW

NO COPAST, NO PLAGIAT!

Don't Like? Don't Read!

Warning! GS here! Typos everywhere! OOC! NEWBIE NEWBIE NEWBIE!

Buat yang waktu itu nanya di pm *_*

Q : kok gak pake POV sih?

A : Sebenernya emang niatan buat pake POV dari sisi yang lain belum ada sih ya, keseluruhan cerita saat ini adalah POV dari sungmin. mungkin ada saatnya aku bakal ngasih POV dari sisi lain. Mungkin loh ya. Gak janji /plakk/ Makasih untuk pertanyaannya ^^


21 OKTOBER 2014

"Aaa.. wookie aku harus bagaimana?"

"Apanya yang bagaimana? Ya kau jalani saja bodoh"

"Kau benar-benar tidak bisa membantu" Dia tertawa. Sialan.

Kim Ryeowook memang seperti itu. Tidak ada saran yang berguna yang akan keluar dari mulutnya. Hanya omong kosong yang tak jelas asal usulnya. Aku bingung kenapa 'Si Kepala Besar' itu menyukai makhluk astral yang membingungkan ini.

"Kau menyebalkan"Kesalku sembari menatapnya sengit

"Memang" Ucapnya santai

"Sebenarnya aku juga bingung, kenapa kau menyukai Cho Kyuhyun yang lebih cocok dipanggil emm… banci? Masih banyak lelaki lain yang lebih baik darinya, dan kau malah menyukai lelaki macam Kyuhyun? Tak masuk akal" Lanjutnya kemudian menatapku dengan pandangan geli.

Aku mendesah frustasi mendengar argumen konyol yang keluar dari bibir mungil bocah setan itu. Bukankah dia sendiri yang membuat semuanya seperti ini? Dia yang dengan seenak jidat mengambil kesimpulan jika aku menyukai Kyuhyun.

"Kau yang membuat semuanya seperti ini wookie" kukeluarkan seluruh isi pikiran yang sedari tadi berputar di otakku dan membuat segala hal yang mudah terasa rumit.

"Aku?"beonya menatapku tak percaya.

"Apa? Memang salahmu-kan?"

"Tapi yang menyebarkannya-kan Henry. Kenapa kau menyalahkanku?" Wookie mengerucutkan bibirnya kesal. Cih, aku lebih imut darimu bocah setan.

"Seandainya saja kau tak memberitahunya hal bodoh seperti itu, maka semuanya tak akan seperti ini wookie-ya. Kau kan tahu aku masih mencintai Jungmo." Ucapku kesal

"Arra. Maafkan aku Sungmin-ah" Ujarnya dengan wajah menyesal yang ugh! Aku jadi tak tega.

Bagaimanapun dia adalah sahabat terbaikku. Tapi bagaimana jika kalian yang ada diposisiku? Apa yang akan kalian lakukan? Membunuhnya? Oh seandainya membunuh itu bukan dosa, maka aku sudah membunuhnya sedari dulu. Dan lagi, aku masih ingat Tuhan tahu.

"Sekarang beritahu aku, apa yang harus aku lakukan? Ah tidak! apa yang harus kukatakan pada Kyuhyun?"

Aku memang sudah menceritakan semua pada wookie. Dan seperti yang kalian lihat, dia tak bisa memberiku saran apapun.

"Terima saja. Mungkin kau bisa melupakan Jungmo-mu itu? Ya kan?"

"Tapi aku tidak menyukainya wookie. Jungmo, aku masih sangat mencintainya. Dan aku yakin kau tahu itu." Ucapku tegas. Aku merasa cintaku pada Jungmo seperti diremehkan. Dan aku tidak menyukai hal itu.

"Apa kau lupa dengan yang sudah Jungmo lakukan padamu? Dia mengkhianatimu. Lagipula mana ada kapten basket yang setia seperti yang ada pada khayalan anehmu itu. Bullshit!" Ujarnya kemudian mengumpat.

Ya. Wookie benar. Mana ada kapten basket sekolah jaman sekarang yang setia. Jungmo salah satunya. Dia yang hanya memanfaatkan kecerdasanku untuk mengerjakan PR miliknya. Dan membiarkanku luntang lantung karena melihatnya menduakanku. Oh, sungguh aku tidak mau mengingat masa-masa kelam itu lagi.

"Tapi aku mencintainya" Ucapku lirih

"Lupakan dia, cobalah menjalin hubungan dengan Kyuhyun. Aku tidak bermaksud ingin menjadi seseorang yang labil dengan membuatmu bingung akan sikapku, tapi aku hanya ingin membuatmu membuka mata dan hati. Bukankah Kyuhyun sudah mengatakan jika dia menyukaimu? Lalu tunggu apa lagi?" Wookie menatapku lembut kemudian tersenyum manis seakan ia melihat permen kapas kesukaannya.

"Tumben kau bijak" Ledekku sembari tersenyum remeh

"YA!"

Biar kuceritakan sedikit kisahku pada kalian semua yang ingin mendengarnya.
Aku Lee Sungmin. Setahun yang lalu, aku memiliki kekasih yang bernama Kim Jungmo. Seorang lelaki yang berkharisma. Seorang lelaki dengan beribu keahliannya. Seorang lelaki dengan sejuta pesonanya.
Ya. Dia pernah menjadi kekasihku. Pernah. Entah kenapa satu kata itu terasa menyakitkan. Sungguh aku mulai takut untuk menguak masa laluku.

Sungmin yang dulu adalah seseorang yang.. entahlah. Biasa saja mungkin? Aku tidak mau tahu gambaran diriku dimata orang lain. Tidak penting dan aku tidak mau terlalu peduli. Maaf-maaf saja. Aku bukan orang yang menjaga image karena pada dasarnya aku bukan siswi populer. Sekali lagi. Hanya murid biasa. Ya. Hanya murid biasa yang akhirnya menjadi populer karena pernah berpacaran dengan seorang kapten basket. Semacam.. terkena imbas mungkin?

Sebuah keberuntungan bagiku bisa mendapat cinta Jungmo dulu. Tapi.. apa yang dia lakukan bisa disebut cinta? Tidak. Aku tahu itu. Kenapa aku menyebutnya sebagai keberuntungan? Simple. Karena sejak awal melihatnya aku sudah mencintainya. Klise memang. Tapi sekali lagi, aku tidak mempedulikannya.

Semua terasa semakin menyakitkan ketika aku mengetahui aku hanya alat untuk mengerjakan pekerjaan rumah miliknya sedangkan ia bersenang-senang dengan banyak wanita diluar sana.

Awal-awalnya aku mencoba memberi toleransi padanya. Tapi rasanya toleransi itu sirna ketika aku melihat ia dengan tanpa dosanya kembali menduakanku.
Saat itu aku terdiam. Apa yang kurang dariku? Kuakui aku memang tidak sepopuler Jaejoong atau Donghae atau siapapun itu. Tapi untuk cinta, apa hal semacam itu diperlukan?
Aku tidak menangis. Tidak. Aku tidak secengeng itu. Lagipula apa yang perlu kutangisi? Jungmo tidak mencintaiku maka dari itu, hanya dengan berbekal secuil keberanian aku menelponnya.
Mengatakan jika aku mencintainya hingga tak sanggup untuk kehilangan dirinya. Mengatakan jika aku baik-baik saja.

Dia tahu. Sangat tahu malah. Namun dia acuh. Masa bodoh atau apapun sejenisnya.
Sakit. Sangat sakit. Tapi sekali lagi. Aku hanya siswi biasa. Aku hanya diam ketika dia dengan teganya memutuskan hubungan yang sudah terjalin 5 bulan lamanya.

Jungmo-ah, dengarlah aku. Sekali saja.
Aku mencintaimu. Aku tak sanggup untuk membencimu. Tidak! Aku tidak akan pernah sanggup.
Aku mencintaimu hingga rasanya aku ingin mati merindukanmu.
Hingga rasanya aku ingin berlari menuju dirimu lalu memelukmu seerat yang kubisa.
Hingga rasanya aku tetap ingin menjaga rasa ini hanya untukmu seorang.

"Jungmo-ah.. Seandainya kau memintaku kembali, aku pasti akan kembali. Untukmu. Untuk terus mencintaimu. Jungmo-ah.. bawa aku kembali. Kumohon.."


Dengan langkah perlahan aku menyusuri lorong kelas. Kemana Ryeowook? Ah apa aku lupa? Ryeowook sudah pacaran 2 hari yang lalu dengan si kepala besar itu. Mereka pulang bersama dan tinggal aku sendiri. Menyedihkan. Yeah I know..

"Sungmin-ah!"

DEG

Oh tidak.
Kumohon.
Jangan lagi.

Kupercepat langkah kakiku karena suara yang tidak ingin kudengar itu semakin dekat.

"Eh? Sungmin-ah berhenti!"

PLUK!

"Hey Sungmin!"

Ya Tuhan. Sekali saja kumohon.
Sekali saja.

Dengan ragu, aku memutar balik tubuh ini. Entah kenapa aku merasa ini seperti Dé javu.
Aigoo. Aku benar-benar tegang.

"Hey!"

Kubuka mataku perlahan yang tanpa sadar jika sedari tadi menutup saking tegangnya.

"A-ah ya" Jawabku gugup.

Oh shit! Apa Tuhan sedang menghukumku?

"Bagaimana dengan pelajarannya tadi?" Tanyanya mencoba basa basi.

"Ehem. Semua terasa mudah Kyu-ah" Jawabku dengan sedikit berdehem.

Sayangnya kau semakin merusak moodku yang sedari tadi sudah rusak akut karena memikirkan Jungmo. Oh! Sepertinya dewi fortuna sedang tidak berada dipihakku. Malangnya..

"Ah benarkah? Kau memang gadis yang pintar. Aku merasa semakin cocok denganmu"

Oh matilah aku! Kenapa semuanya jadi seperti ini?
Senyum kikuk terbentuk dibibir tipisku. Hey! Bagaimana tidak? Lelaki didepanku telah berburuk sangka dengan semua yang terjadi. Ini kesalahpahaman yang cukup rumit dan aku sangat bingung bagaimana cara menjelaskannya.

"Ehm.. Soal ucapanku itu, bagaimana? Apa kau mau jadi kekasihku?"

Jangan. Jangan tatapan itu. Aku bisa gila melihatnya Kyuhyun-ah. Kumohon hentikan. Jangan keluarkan tatapan penuh harapan seperti itu. Jangan keluarkan tatapan layaknya bocah polos Kyuhyun-ah. Kumohon..

Sejenak kami terdiam. Ini terlalu cepat. Bahkan kami tidak melakukan pendekatan dan dengan lugunya lelaki pemalu ini memintaku menjadi kekasihnya. Bukan. Bukan karena dia mempunyai sikap yang memang lebih cocok dimiliki seorang perempuan. Tapi semua lebih condong pada perasaanku.

Hati ini..

Masih milik Kim Jungmo seorang.

Dan Kyuhyun…..

….. terlalu cepat mengambil keputusan.

"Lupakan dia, cobalah menjalin hubungan dengan Kyuhyun. Aku tidak bermaksud ingin menjadi seseorang yang labil dengan membuatmu bingung akan sikapku, tapi aku hanya ingin membuatmu membuka mata dan hati. Bukankah Kyuhyun sudah mengatakan jika dia menyukaimu? Lalu tunggu apa lagi?"

Secara tiba-tiba aku teringat dengan ucapan wookie. Apa memang harus begini? Apa aku harus menerimanya?


06 DESEMBER 2014

Semakin mendekati natal. Negara seperti Korea Selatan sudah memasuki musim salju. Musim yang sangat kusukai. Dimana kita bisa merasakan sebuah keajaiban yang jatuh dari langit. Ya. Menurutku itu keajaiban. Kita tidak bisa merasakan butiran es berwarna putih itu setiap waktu. Tidak setiap waktu pula kita bisa melihat hamparan putih yang menenangkan itu. Lebihnya lagi, kita tidak bisa setiap waktu memperhatikan salju itu mencair padahal jika kita mau membuka mata sedikit, hal sekecil itu pun bisa menenangkan hati kita. Ya. Terasa menenangkan dan juga menghibur di waktu yang bersamaan.

"Kyuhyun-ah! Berhentilah memotret pemandangan disini dan temani aku duduk disini" Ujarku pada lelaki yang kini merangkap sebagai kekasihku.

Ya kekasihku. Sudah lebih dari sebulan kami berhubungan. Dengan syarat hanya teman terdekat kami yang tahu. Karena dengan begitu, aku bisa menyumpal mulut-mulut penggosip yang tidak tahu tempat.

Kulirik Kyuhyun yang kini mendudukkan dirinya disampingku. Dengan rambut ikalnya yang berantakan juga jaketnya yang berwarna coklat gelap semakin menambah pesonanya. Dia memang tampan. Hanya sifat pemalunya-lah yang menjadi kekurangan lelaki kelahiran februari ini. Dan sayangnya, hanya orang-orang terdekatnya seperti aku yang bisa melihat ketampanan Kyuhyun secara khusus karena pada dasarnya, Kyuhyun tetap lelaki biasa yang berpakaian ala kadarnya murid sekolah di lingkup masyarakat.

Dan untuk hal ini, entah kenapa dadaku berdesir. Rasanya aneh ketika kekasihmu menunjukkan jati dirinya yang sesungguhnya hanya pada orang terdekat termasuk dirimu sendiri.

Terasa menyenangkan sekaligus… melegakan.

Dengan perlahan aku menempelkan Caffe Latte kepipinya. Aku ingin membuatnya hangat karena dia tidak menggunakan syal.

Kyuhyun mengambil Caffe Latte tersebut dan menyesapnya sedikit.

"Selera kita sama. Aku juga menyukai Caffe Latte" Ucapnya dengan tatapan lurus menerawang

"Yah.. Sangat cocok untuk cuaca dingin apalagi kita sedang diluar. Emm mungkin lebih tepatnya di taman. Hehe" Sahutku sembari terkekeh kecil. Sejujurnya aku tidak tahu dimana letak humornya. Hanya ingin membuat suasana yang hangat antara aku dengan Kyuhyun. Itu saja.

Kyuhyun mengalihkan wajahnya menjadi menatapku. Tatapannya lembut sekali. Senyum manis-pun tidak lepas dari wajahnya. Aku tahu. Dia begitu mencintaiku.

Tapi maaf Kyuhyun-ah, aku tidak.

Atau belum..

Dengan gemas Kyuhyum mengacak rambutku kemudian membawa tubuhku dalam dekapan hangatnya.

Nyaman.

Tapi tidak senyaman pelukan Jungmo.

Maaf Kyuhyun-ah. Aku sama sekali tidak bermaksud menjadikanmu pelarian. Maaf. Kumohon maafkan aku.

"Aku sangat mencintaimu"

Aku terdiam.

Selama kami menjalin hubungan, hanya Kyuhyun yang selalu mengucap kalimat indah itu. Sedangkan aku? Aku hanya diam karena lidahku terasa kelu dan tenggorokanku tercekat.

Dengan ragu aku melepas pelukannya. Entah kenapa, setiap dia mengucap kalimat itu suasananya menjadi canggung dan aku tidak suka itu.

Kyuhyun terkekeh kecil melihat wajahku yang kikuk.

"Aku tahu. Kau pasti malu untuk menjawabku-kan? Aku mengerti. Aku tahu kau juga pasti mencintaiku"

Bukan Kyuhyun-ah.

Aku hanya tidak tahu..

Bagaimana caranya mencintai lelaki selain dia dan sayangnya 'dia' yang kumaksud bukan dirimu..


08 DESEMBER 2014

Suasana ramai dari ujung ke ujung terdengar. Inilah sekolah yang sebenarnya. Penuh dengan keramaian dan aku tidak terlalu menyukainya.

"Waw! Aku tidak menyangka. Mantan kekasihku kini sudah ada yang punya. Menakjubkan! Kukira kau tidak bisa melupakanku Lee Sungmin"

DEG

Aku terpaku. Suara ini..

"Jungmo-ah.."

Dengan sigap aku membalikkan badan dan semakin terpaku melihat wajah rupawannya.

Dia tidak berubah.

Masih tampan dan.. berkharisma.

Dan aku menyukai lelaki berkharisma.

"Hai Lee Sungmin!" Sapanya dengan seringai tajam yang menambah nilai plus untuk sosok tampan sepertinya.

"Berhenti memandangiku seperti itu. Jika kekasihmu tahu, mungkin dia akan menangis saat ini juga. Haha"

A-apa maksudnya? Apa dia tahu jika aku dan Kyuhyun mempunyai hubungan khusus?

"Cho Kyuhyun. Lelaki macam apa yang kau jadikan kekasihmu Lee Sungmin? Menggelikan"

Diam. Aku tetap diam. Karena sedari awal aku mengenalnya, aku tidak pernah berani membantahnya.

"Apa kau tak laku lagi hingga lelaki banci sepertinya yang kau pilih?"

Aku tetap diam. Aku hanya ingin menahan emosi saat ini.

"Lelaki menjijikkan seperti dia, apa pantas menjadi pendampingmu? Dia hanya lelaki tidak berguna yang menjadi benalu dalam hidupmu!"

PLAK!

"Tutup mulutmu bajingan! Kau bahkan lebih menjijikkan dari Kyuhyun. Bahkan kau yang lebih cocok dipanggil banci dibanding Kyuhyun. Camkan itu!"

Menamparnya kemudian melepaskan emosi padanya. Aku tidak tahu darimana datangnya keberanian itu. Aku benar-benar tidak tahan dengannya yang menghina Kyuhyun terus menerus. Aku benci.

"BAHKAN UNTUK MELINDUNGIMU SAJA, AKU YAKIN BANCI ITU TIDAK MAMPU SUNGMIN-AH!" Teriaknya kencang hingga aku yakin banyak murid yang mendengarnya.

Kututup telingaku. Cukup! Hanya mendengar suaranya saja membuat sakit ini terasa lebih parah dan aku cukup tahu diri untuk tidak tetap mendengar lelaki brengsek itu bicara. Tidak. Aku tidak mau.

TES

Setitik air mata jatuh karena tak mampu kutahan. Sakit ini… Kenapa datang lagi?

Jungmo menatap kepergian Sungmin dengan tatapan sendu. Dia baru menyadarinya. Hanya Sungmin yang setia dan menerima dirinya apa adanya. Hanya Sungmin yang selalu ada disisinya. Dan sangat menyakitkan saat harus mengetahui perasaan ini disaat mereka sudah tidak memiliki status apapun. Bahkan hanya untuk menjadi teman. Sungmin sudah terlanjur membencinya. Dan ia cukup tahu diri mengingat Sungmin telah dimiliki orang lain. Dari siapa ia tahu hal ini bukanlah sesuatu yang penting. Lelaki bertubuh gagah ini hanya ingin Sungmin kembali ke sisinya. Kepelukannya. Menjadi pendampingnya. Amat sangat menginginkannya.

"Aku bersumpah Lee Sungmin. Aku akan membawamu kembali kepelukanku. Kau hanya milikku"

Yang tanpa mereka semua ketahui, dibelakang tembok itu, seorang lelaki berambut ikal dengan kulit putih pucatnya sedang menyenderkan kepalanya. Merelakskan sejenak pikirannya yang serasa ingin keluar ketika mendengar semua yang terjadi. Dari awal hingga gumaman yang berisi sumpah dari lelaki yang dulunya adalah bagian dari hidup kekasihnya.

"Apa mungkin…"

.

.

.

.

.

.

.

"…kau masih mencintainya Sungmin-ah?"

-TeBeCe-

Yap! jeje kembali ;:) apdet kilat kan? oh iya jeje mau minta doanya ya kawan. lusa pengambilan raport. doain jeje ya supaya masuk 5 besar again :) emm mau tahu satu secret gak? Sebenernya cerita ini awalnya kisah nyata dari kehidupan asmara jeje sendiri. Tapi makin kesini, makin lari dari kisah realnya. jeje cukup tahu kalau cerita ini semakin norak, kecepetan, gak dapet feel, atau apapun itu.

Dan karena hal itu, jeje ngerasa perlu untuk ngubah sedikit alur dan manjangin cerita ini sedikit demi sedikit tanpa mengubah inti dari cerita ini sendiri.

Tapi.. ada tapinya ya :D jeje juga butuh bantuan chingu-chingu semua. Susah lho bikin ff dari kisah sendiri. Udah bikin flashback sama si 'dia' terus harus siap mata jadi bengkak :3 sungguh! jeje nggak boong. Dengan semua cinta yang jeje punya, bolehkan jeje minta sedikittttttttttttttttttttttttttt aja krisar dari chingu semua :) sebagai bentuk penghargaan untuk jeje yang udah susah payah ngubek-ngubek masa lalu. Meskipun gak ada yang nyuruh buat nulis cerita ini /plakk/ okelah segitu aja cuap-cuapnya. Dikit kan cuap-cuapnya? *kedipinmata /plakk/

And last but not least..

Siyu \(^O^)/

-Jeje1003-

Mind to Review?