Reproduk Murni

By: FloZhaKi

(Collaboration of Floral White, zhaErza and Kiyuchire)

Sebelumnya mohon maaf atas keterlambatan yang amat sangat. Sebetulnya dokumen sudah jadi dari lama. Namun, karena saya (Kiyuchire) tidak dapat mengakses ffn lewat laptop saya, tragedi menyedihkan ini terjadi.

Selamat menikmati!

Naruto belong Kishimoto Masashi

Sasuke Uchiha & Haruno Sakura

Chapter 5

.

.

.

Selamat membaca ^.^

Don't Like Don't Read


Seorang pemuda terlihat tengah membaca sebuah buku dengan serius. Iris jade-nya nampak sangat teliti memperhatikan setiap huruf yang tertulis di sana. Angin malam yang menyapa kulitnya ia abaikan, meski membuatnya sedikit berjengit karena kedinginan. Bulan nampak bersinar penuh, membuat rambut merah pemuda itu berkilauan.

Menutup bukunya, ia mengambil napas dan menatap ke arah langit malam. "Sangat menarik," gumamnya dengan seringai. Tangan kirinya menggenggam erat buku yang warna sampulnya sudah memudar tersebut. Merasa tubuhnya menggigil, ia kemudian memutuskan untuk meninggalkan balkon kamarnya.

Menghempaskan tubuhnya di atas kasur empuk, pemuda yang memiliki lingkaran hitam di sekitar matanya itu memejamkan mata. Sebelah tangannya ia selipkan di atas kepala sebagai bantal, dan tangan kirinya berada di atas dadanya dengan buku pada genggamannya.

Beberapa saat kemudian, jade-nya kembali terlihat. Masih tidak merubah posisinya, ia menetapkan pandangannya pada langit-langit kamarnya. Meski terlihat kosong, namun tatapan itu menyembunyikan begitu banyak misteri. Sejenak, terlihat genggaman tangannya di buku yang berada di atas dadanya mengeras, namun beberapa detik kemudian kembali santai. Begitu juga dengan ekspresinya, sorot matanya terlihat dingin namun sedetik kemudian kembali seperti sedia kala. Tanpa emosi di dalamnya. Entah apa yang tengah dipikirkan oleh pemuda itu.

Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam lebih. Namun sepertinya, pemuda itu masih belum menunjukkan tanda-tanda mengantuk. Matanya masih terlihat segar, meski tiga malam sebelumnya ia hampir sama sekali tidak tidur.

Mendesah berat, ia lalu bangun dan duduk sebentar di atas kasur. Kemudian, ia menggerakkan tubuhnya dan turun dari tempat tidur untuk menaruh buku penting itu ke dalam laci yang memiliki kombinasi nomor untuk membukanya. Merenggangkan ototnya yang terasa lelah, pemuda berambut merah melakukan sedikit gerakan-gerakan untuk membuat tubuhnya terasa lebih baik.

Melirik jam digital di atas nakas, pemuda itu memilih keluar untuk menenangkan pikirannya. Setidaknya ia berharap untuk membuat tubuhnya lebih rileks dengan sedikit berjalan-jalan, dan ia bisa tidur nyenyak malam ini.

Memang, setelah melakukan sebuah pertemuan rahasia dengan seseorang, beberapa malam belakangan ini ia mengalami kesulitan tidur. Ditambah dengan "hal-hal baru" yang diketahuinya, semakin membuatnya penasaran sehingga melupakan jikalau tubuhnya membutuhkan istirahat. Namun pemuda itu sudah sangat terbiasa dengan insomnianya.

.

.

.

.

.

"Mau ke mana, kau?"

Sebuah suara yang terkesan dingin membuat Sakura menghentikan langkahnya. Ia menoleh ke belakang, mendapati Uchiha Sasuke yang tengah bersandar di depan pintu kamarnya dengan kedua lengan disilangkan di dadanya.

"Bukan urusanmu!" sinisnya. Ia lalu kembali melangkah, mengabaikan silau tajam Sasuke yang dikirim untuknya.

Sasuke menatap datar Sakura yang menghilang ke dalam dapur, kemudian seringai muncul di bibirnya ketika mendengar suara-suara dari sana.

Ternyata, Sakura tengah kelaparan.

.

Gadis merah jambu itu menggerutu tidak jelas, mengomeli perutnya yang tidak berhenti berbunyi dari sejam yang lalu. Salahnya juga, ia terlalu gengsi untuk menerima tawaran makan malam dari Sasuke. Dan sekarang, di sinilah ia membuat makanan sendiri. Dan untung saja, ketika Sasuke memasak, ia sempat mencuri-curi pandang bagaimana mengoperasikan benda yang akan menentukan nasib perutnya malam ini.

Tidak butuh waktu lama, hidangan yang diinginkannya sudah tersedia di atas meja. Sakura langsung duduk manis dan bersiap menayantap makan malam dini harinya.

"Itadakimasu," gumamnya sebelum mulai melahap hidangan di depannya.

Di balik sekat pembatas dapur, Sasuke berdiri dengan tangan menyilang memperhatikan Sakura yang tengah makan dengan rakusnya. Kening Sasuke mengernyit melihat cara gadis itu makan, benar-benar tidak menunjukkan sisi feminimnya.

"Ck, dasar keras kepala," gumamnya lalu berbalik kembali ke dalam kamarnya.

Entah disadari atau tidak. Semenjak kedatangan Sakura, Sasuke tanpa sadar lebih sering menunjukkan emosinya. Entah itu marah, kesal, jengkel, dan bahkan seringai puas ketika ia berhasil membuat Sakura tunduk padanya. Bahkan, seorang Uchiha Sasuke yang terkenal malas bersuara, terkadang menjadi sangat cerewet di depan Sakura dan…

…tersenyum, meski sangat tipis.

.

.

.

"Jadi, wanita memilik hormon Estrogen, Progesteron, Gonadotropin Releasing Hormone, FSH (folikel stimulating hormone) dan LH (luteinizing Hormone)," gumam Sakura mengetuk-ngetuk dagunya. Ia mengangguk paham, lalu membalik buku hijau yang dipegangnya.

Keningnya mengernyit ketika matanya kembali menelusuri teks yang ada di buku tersebut, kembali ia menemukan istilah-istilah baru yang sama sekali belum pernah ia dengar atau baca sebelumnya. Ia kemudian melirik pada Sasuke yang tengah duduk tenang dengan pandangan keluar jendela mobil yang tengah mereka naiki.

Merasakan tatapan Sakura pada dirinya, Sasuke tiba-tiba berbalik. "Apa?" tanyanya seraya menatap Sakura dengan alis terangkat.

"Eh," ia tidak menyangka Sasuke menyadari dirinya tengah diperhatikan. Ia kemudian tersenyum lebar. Melirik sekilas buku yang terbuka di tangannya, lalu kembali melihat Sasuke. "Bagaimana bentuk testis itu, Sasuke?" tanyanya penasaran.

Kedua alis Sasuke mengejang. Bisa-bisanya gadis menyebalkan ini menanyakan hal bodoh seperti itu. "Mana aku tahu," dengusnya sembari menyilangkan kedua lengannya.

Kedua alis Sakura terangkat. "Benarkah?" selidiknya, "tapi dibuku ini, testis itu ada pada laki-laki," terang Sakura menunjukkan paragraf yang berisi tentang penjelasan tersebut.

Sasuke mengerutkan kening, lalu mendorong buku tersebut menjauh dari depan wajahnya. "Kenapa tidak tanyakan pada sensei saja nanti," ujarnya.

Sakura mendesah, ia akan mati penasaran jika menunggu nanti. Padahal, disampingnya ada orang yang memiliki benda tersebut. Kemudian ia tersentak, apa jangan-jangan Sasuke tidak memilikinya.

"Apalagi?" gerutu Sasuke melihat Sakura yang tengah menatapnya dengan mata hijau bulatnya.

Sakura mendesah, "Jangan bilang kau tidak memiliki itu, Sasuke. Kau juga belum pernah—"

"Aku juga punya, bodoh!" potong Sasuke geram. "Dan sekarang tutup mulutmu, jangan menggangguku," silaunya tajam.

Namun sayang, Sakura tidak terpengaruh. Gadis itu malah tersenyum lebar, dan terlihat bersemangat. "Benarkah? Boleh aku melihatnya sedikit saja," pintanya polos dengan senyum mengembang di wajahnya.

Sasuke langsung menyentil jidat Sakura, "Baka!" desisnya.

"Apa-apaan kau!" seru Sakura, mengusap dahinya yang terasa nyeri. Ia bisa memastika dahi cantiknya pasti memerah.

Sasuke menyeringai, mengabaikan omelan Sakura yang membuat telinganya panas. Tapi setidaknya, Sakura tidak menuntut jawaban dari pertanyaan bodoh yang di lontarkan gadis itu sebelumnya.

.

.

.

Sakura mendesah, menatap bosan layar yang menampilkan seorang kakek tua yang tengah mengoceh di sana. Karena tertidur larut tadi malam, pagi ini ia sudah menguap beberapa kali. Bahkan, sudut matanya sedikit mengeluarkan cairan bening karena rasa kantuknya.

Gadis itu benar-benar mengabaikan pria berambut putih tersebut, meskipun itu adalah sensei-nya. Sakura sedang tidak mood untuk belajar. Namun beda ceritanya jika sudah mempelajari biologi. Karena itu adalah hal baru baginya, makanya ia sangat antusias mempelajarinya. Namun, hampir semua istilah di dalam buku tersebut baru ia baca. Apalagi mengenai reproduksi manusia. Meski ia belum mengerti sama sekali, materinya hampir ia kuasai. Tetapi tetap saja, menghapal materi tanpa memahami maksudnya tidak ada artinya.

Akhirnya, jam istirahat menyelamatkan gadis itu dari mati kebosanan. Para siswa khusus langsung menyerbu ke luar kelas. Sakura mengamati satu persatu teman sekelasnya—sebut saja begitu, meski mereka tidak mengakui Sakura.

Kemudian, suara cempreng nan ngebas yang hampir merusak gendang telinga memebuat perhatian Sakura tertuju pada sumber suara.

"Hinata-chan! Ayo cepat, aku sudah sangat lapar."

Sakura memperhatikan seorang pemuda berambut kuning di depan pintu kelasnya. Keningnya mengerut saat seorang gadis berambut panjang datang menghampiri pemuda itu dengan wajah memerah.

"Ayo, Naruto-kun."

Sakura bisa mendengar gadis itu bergumam, karena jarak tempat duduknya dengan pintu tidak terlalu jauh. "Mereka pasti pasangan," batinnya.

Menelungkupkan kepalanya di atas meja, dan menjadikan lengannya sebagai bantal. Sakura kembali menguap, ia berencana untuk menggunakan waktu istirahatnya untuk tidur.

Sakura mendesah dalam hati, bahkan sudah lebih dari seminggu ia sekolah di sini. Ia masih belum menemukan teman. Gadis itu juga sadar, semua penghuni di kelasnya menatap rendah padanya. Tapi apa yang bisa dilakukannya? Ia memang dari kalangan kloning yang tidak bisa berbuat apa-apa jika sudah dihadapkan dengan manusia-manusia RM.

Cih, benar-benar tidak adil!

Dari pada memikirkannya, Sakura memilih untuk mengabaikannya dan memilih tidur.

"Jadi, kau gadis kloningan itu."

Pernyataan seseorang di belakangnya membuat Sakura langsung mengurungkan niatnya untuk tidur. ia langsung menoleh, melihat seorang pemuda berambut merah yang menatapnya jijik. Wajah Sakura langsung memerah marah, namun ia menahan dirinya untuk tidak menghadiahkan tinju mautnya di depan wajah orang itu.

"Memangnya kenapa?" sengit Sakura.

Pemuda itu mengangkat bahu, lalu menyilangkan lengannya. "Kenapa kalangan rendahan sepertimu bisa berada di sini," sinisnya. Iris jade-nya meneliti Sakura yang tengah melotot ke arahnya.

Sakura menggeram, tangannya mengepal erat. "Aku juga tidak sudi berada di tempat orang-orang brengsek seperti kalian." Sakura mencoba mengatur napasnya, menenangkan emosinya agar ia tidak melakukan sesuatu yang berakibat fatal untuknya. Gadis itu benar-benar tidak ingin membuat masalah di sini. Dan ia yakin, tidak akan ada orang yang membela dirinya nantinya.

Pemuda yang memiliki lingkaran hitam di matanya terkekeh, tidak menyangka gadis rendahan itu bisa sefrontal itu. "Dasar rendahan," dengusnya. Ia kemudian beranjak dari kursinya, lalu keluar kelas meninggalkan Sakura yang tengah melotot tajam ke arahnya.

"Dasar bajingan!"

Di luar, pemuda merah itu hanya terkekeh mendengar umpatan yang ditujukan padanya.

.

.

.

"Ugh, sial!"

Sakura menggeram ketika mendengar perutnya kembali berbunyi. Tangan kanannya mengelus-elus perut datarnya, berharap perutnya bisa mengerti dirinya. Meski tengah kelaparan, namun Sakura sangat enggan untuk pergi makan siang di kafetaria. Meski di sana semuanya gratis, namun ia terlalu malas untuk ke sana. Pastinya, tepat itu dipenuhi oleh manusia-manusia sombong yang selalu memandang rendah orang sepertinya. Dan Sakura sekarang tengah dalam suasana hati yang kurang baik untuk menerima cemoohan dari mereka.

Pluk!

Sesuatu mendarat di kepala Sakura. Gadis itu langsung mengangkat kepalanya yang tersembunyi di lengannya. Matanya langsung menyipit melihat sekelompok gadis di kelasnya yang tengah cekikikan.

"Apa masalah kalian!" desis Sakura dengan mata marah.

"Tidak ada," jawab seorang gadis berambut coklat sebahu, "hanya saja—"

"Keberadaanmu di sinilah yang menjadi masalahnya," timpal temannya yang berkuncir.

Mereka bertiga kemudian tertawa mengejek, membuat Sakura naik darah.

"Kalangan rendahan seperti dia, tidak pantas berada di sini. Benar 'kan Yuki?" Si gadis berkuncir meminta pendapat temannya.

"Dia hidup saja sudah menjadi suatu kesalahan," timpal gadis yang bernama Yuki.

Kembali, mereka bertiga cekikikan, memberikan tatapan merendahkan pada Sakura.

Sakura tidak tahan, ia langsung bangkit dan keluar kelas dengan langkah lebar. Ia tidak tahu kakinya membawanya ke mana, ia tidak peduli. Sakura hanya ingin menghindari manusia-manusia menyedihkan seperti mereka.

Dan sekarang, ia tersesat.

Sakura yang sibuk mengomel benar-benar tidak memperhatikan ke mana dirinya. Kini, ia tengah berada di sebuah lorong dengan tiang-tiang besar yang menyangga langit-langit. Di tembok tersebut, dihiasi ukiran-ukiran yang Sakura sama sekali tidak tahu bentuknya. Di ujung lorong, ia melihat bayangan seseorang. Sakura menyipitkan matanya, ia merasa sangat familiar dengan orang itu.

"Bajingan itu." Sakura kemudian menyeringai, ia lalu mengikuti pemuda yang telah membuat harinya buruk. Pemuda berambut merah yang telah melecehkan siapa dirinya.

.

.

.

"Lama sekali, Gaara." Seorang pria menatap kedatangan pemuda merah itu dengan mata tajam.

Pemuda yang ditatap intens seperti itu hanya menyilangkan lengannya. "Sepertinya ada sesuatu yang mendesak, mengingat kau sampai repot-repot menyusup seperti ini," tebaknya.

Pria itu terkekeh, ia kemudian menyuruh Gaara untuk duduk di kursi di depannya.

"Ada apa?" tanya Gaara setelah duduk.

"Tentang misimu kali ini," terang pria itu.

Gaara mengangkat alisnya. " Misi apa?"

Pria itu menyeringai, ia lalu menyodorkan secarik kertas. "Awasi Uchiha dan gadis itu, mudah 'kan," sisnisnya. Dari dulu, pria ini memang kurang menyukai pemuda berambut merah, meskipun mereka bekerja untuk orang yang sama.

Gaara pun demikian, ia mengambil kertas tersebut dan memasukkannya ke dalam saku jas sekolahnya. Ia kemudian beranjak meninggalkan pria berjas merah itu, tanpa mengucapkan sepatah katapun.

"Cih," pria itu menedecih, melihat tidak ada sama sekali rasa hormat dari Gaara.

.

.

"Hhh…sia-sia," desah Sakura. niat awalnya ingin mengikuti pemuda merah yang telah menghinanya, ia malah bingung sendiri bagaimana cara untuk ke kelasnya.

Mengacak-acak rambut merah jambunya, Sakura kembali berjalan. Bangunan ini terlihat sama, karena itu ia selalu kembali ke tempat semula untuk yang keempat kalinya.

"Ah, perutku," gerutunya tatkala merasakan gejolak di perutnya karena meminta diisi. Dan untuk pertama kalinya, Sakura berharap bertemu Sasuke, meski sangat tidak mungkin.

"Apa yang kau lakukan di sini?"

Sakura langsung tersentak, mendengar suara berat dengan racun menetes di setiap kata-katanya. Tanpa perlu melihat, ia sudah tahu siapa pemilik suara. "Bukan urusanmu, bajingan!" desis Sakura. ia kembali melanjutkan langkahnya, sama sekali tidak menengok ke belakang di mana pemuda berambut merah itu berdiri.

Alis Gaara mengejang, beraninya gadis dari kalangan rendahan itu berkata kasar padanya. dengan langkah lebar, Gaara mengikuti Sakura dan langsung meraih lengannya ketika sudah dalam jangkuannya.

Sakura meringis tatkala merasakan punggungnya menabrak tembok, lengannya terasa ngilu karena dicengkram ketat. "Apa-apaan kau!" desisnya. Sakura memberikan tatapan membunuh pada si pelaku. "Lepaskan, bajingan!" rontanya mencoba melepaskan diri. Namun, tenaganya tidak cukup kuat.

"Jaga bicaramu, orang dari kalangan rendahan sepertimu tidak pantas berbicara seperti itu padaku." Gaara semakin mencengkram lengan Sakura, mengungkungnya antara tembok dan dirinya.

Sakura tidak gentar, gadis itu semakin membalas tatapan tajam. "Aku tidak peduli, bajingan. Dan sekarang lepaskan cengkramanmu, baka!" teriak Sakura tepat di depan wajah Gaara. wajahnya sudah memerah karena marah dan sakit di kedua tangannya.

Gaara menyeringai, untuk pertama kalinya seorang gadis berani berbicara seperti itu padanya. apalagi dia dari golongan kloning. Betapa menjijikkan. "Dasar menjijikkan," desisnya.

Sakura sudah tidak tahan, ia mencoba mengumpulkan tenaganya untuk keluar dari cengkraman ketat pemuda brengsek di depannya. Mendengus, gadis itu mulai berontak sembari mengucapkan sumpah serapah yang ditujukan pada pemuda merah itu.

"Lepaskan aku bodoh! Dasar brengsek, bajingan!" geramnya.

Namun semuanya sia-sia. Sakura kini terengah-engah, bahkan pemuda di depannya tidak berpindah seincipun.

"Lemah!" ejek Gaara. Ia benar-benar menikmati raut frustasi, kemarahan, kejengkelan dan rasa putus asa gadis rendahan di depannya.

Kemudian, kehadiran seseorang merusak kesenangan pemuda itu.

"Lepaskan dia!"

Sakura seolah melihat seorang pahlawan berbaju zirah yang datang menolongnya. Untuk pertama kalinya, ia sangat merasa senang melihat kehadiran Sasuke.

Tanpa melepaskan cengkramannya, Gaara menoleh pada Sasuke yang menatapnya santai. "Uchiha," sinisnya.

Tidak menanggapi tatapan sinis Gaara, Sasuke langsung menghampiri keduanya dan membongkar tangan Gaara dari Sakura.

"Terima kasih," gumam Sakura. ia sedikit meringis saat lengannya kembali dicengkram oleh Sasuke. "Sakit bodoh!" kesal Sakura melotot.

Sasuke hanya mendengus, lalu memindahkan tangannya ke pergelangan tangan pasangan reproduknya. "Apa yang kau lakukan di sini?" interogasinya pada Sakura.

"Aku hanya tersesat," gerutu Sakura.

"Dasar bodoh!"

"Aku tidak bodoh!" tukas Sakura. Salahkan bentuk bangunannya yang terlihat sama, sehingga membuatnya tersesat.

Sasuke kesal, gadis menyebalkan ini memang selalu dalam penyangkalan. Apa susahnya mengakui kalau dia memang bodoh, pikirnya.

"Jadi, kalangan rendahan ini pasangan reprodukmu, Uchiha. "

Sasuke langsung mendelik, "Bukan urusanmu!" desisnya. Pemuda itu lalu menyeret Sakura, mengabaiakn protes dari gadis itu.

Sedangkan Gaara, pemuda itu hanya menatap kepergian Sakura dan Sasuke dengan seringai misterius di wajahnya. "Tentu saja, hal itu menjadi urusanku, Uchiha," kekehnya.

.

.

.

.

.

"Apa sih yang kau lakukan di sana?" omel Sasuke sambil menyeret Sakura. pemuda itu benar-benar mengabaikan erangan kesakitan yang keluar dari mulut gadis itu.

"Sudah kubilang, aku tersesat, baka!" dengus Sakura kesal. "Dan bisa kaulepaskan aku, aku bukan karung kentang," desisnya.

Mendengus, Sasuke langsung melepaskan genggamannya. "Merepotkan!"

Sakura memutar matanya, "Aku tidak pernah merasa merepotkanmu," gumam Sakura mengelus lengannya. Bisa-bisanya, tadi ia merasa senang atas kedatangan Sasuke. Dan sekarang malah diomeli seperti ini. Ibu dan ayahnya saja tidak pernah mengomelinya.

Dan kembali, Sakura merasakan perutnya bergejolak.

Sial!

"Perut jelekmu bunyi, tuh,"

Sakura langsung memelototi punggung Sasuke, wajahnya memerah antara kesal dan malu. "Tutup mulut, Uchiha!"

Sasuke terkekeh, ia kembali menggamit lengan Sakura dan menyeretnya lebih cepat.

"Sasuke-baka!" protes Sakura.

Namun Sasuke sama sekali tidak memedulikannya.

.

Dan di sinilah, mereka. Di kafetaria yang sudah sepi karena para siswa tengah kembali ke kelas masing-masing, karena jam pelajaran telah dimulai.

Sakura menatap berbagai jenis makanan dengan air liur yang hampir menetes. Karena bingung memilih, akhirnya ia memutuskan hampir semua jenis makanan yang tersedia dan membawanya ke meja pojok ruangan.

Di belakangnya, Sasuke hanya melihat horror dengan selera makan super gadis pink itu. "Dasar rakus."

"Aku dengar," kata Sakura cemberut. Namun ia terlalu lapar untuk menanggapi ucapan Sasuke lebih lanjut. Lagipula, kalau dilihat dari porsi makannya kali ini, rasanya cukup sangat wajar Sasuke berkata demikian.

Sasuke menyeringai, entah kenapa ada rasa puas ketika dirinya berhasil membuat Sakura marah.

Setelah duduk, Sakura langsung menempatkan nampannya yang penuh dengan berbagai jenis hidangan. Ia menarik kursi dan duduk nyaman.

"Itadakimasu!" serunya semangat. Sakura langsung tancap gas menyantap makan siangnya.

'Benar-benar.' batin Sasuke.

Dan tanpa mereka berdua sadari, seorang pria dengan jas hitamnya telah mengawasi mereka semenjak berpisah dengan Gaara.

"Tuan pasti senang dengan berita ini." Setelahnya, pria itu memutar tumitnya. Melangkah pelan dengan seringai misterius di wajahnya.

.

.

.

TBC

.

.

.


A/N:

Floral White: Alhamdulillah, chap ini selesai juga #lapkeringat

Gomen lama ya, ternyata RL tengah membutuhkan perhatian lebih, nih xD. Sekali lagi maaf…

zhaErza: Huaaaa... gomen, aku juga lama betanya karena juga lagi sibuk kuliah ni... Tapi syukurlah sudah selesai untuk chap ini dan semoga saja para readers puas dengan cerita di chap kami ini. Untunglah akhirnya sudah update. Mohon maaf juga atas keterlambatannya... XD

Ok, selamat membaca yaaaa... :)

Kiyuchire: Ga bisa ngomong apa-apa lagi. Makasih udah baca sampai titik ini :D

Special thanks for: piscesaurus, .520, NoFace, Usui shinra, guest, Laiila H, kazuran, harulisnachan, Aihara Kotoko, Ghina chan, The Deathstalker, kira, prince ice cheery, Sweet and Devil, HimejessieJung, Lala, vanillarosette, Little Bee Arikuuruki, hiruzuka saki, jideragon21, Dhezthy UchihAruno, vchierry, vanny-chan, Park Nana, yu, dwiiee21, Guest, Hotaru Keiko, Edelwish, zhyagaem06, haruchan, Erika Liana, FuuYa31, Erika Liana19, Lhylia Kiryu, Hanna Hoshiko, AoStraw, , dewi safitri, Amu B, Kikyu RKY, cherryma, yura anastasya, Allysum fumiko, Luca Marvell, p.w sasuke, Yoshikuni Ayumu, Yuuki Igarashi, senayuki-chan, hanazono yuri, SASUrasakuKE, khoirunnisa740, Reako Mizuumi, Eysha CherryBlossom,Hikari Ciel, Natsumo Kagerou, Arufi, nasyachoco, sofia chamrina, Kiyouko Akane, sami haruchi 2, Uchiha Ratih

dan kepada silent reader yang sudah mendukung perkembangan fic ini. Untuk yang log in, bisa cek PM.

ARIGATOU!