Itik Buruk Rupa
Chap 2
Disc: Kishimoto punya
Cerita asli dari otak author kok, Cuma ya rada pasaran.
Pair: …xfemnaru slight menmaxfemnaru (ada saran buat mainpair-nya?)
Rate T
Awas! Disini aku buat Naruto-ku (digampar Sasuke) jadi female, buat yang nggak suka, maaf ya. Bukan Naruko, tapi Naruto versi cewek. Bahasa bebas. Banyak typo dan kawan-kawannya. Kritik dan saran selalu dinanti. Euhmmm… buat yang minta update kilat, hehehe… liat jaringan internet juga ya. Aku bisa on Cuma seni-rabu. Jadi ya InsyaAllah seminggu sekali update (kalo nggak pas males/nggak ad aide, dan…. Jaringan internetnya nggak eror). And last…. Happy reading minna… ^^/
Enjoy this
Last chap
"hn." Sasuke menarik tas Naruto dan menggeledahnya, masih nggak percaya dengan apa yang dikatakan Naruto.
"eh? Hey…! Jangan asal gledah dong senior Sasuke! Kembalikan!" Naruto berusaha merebut kembali tasnya, tapi apa mau dikata, tubuhnya kan ehempendekehem. Berbeda jauh dengan Sasuke yang tingginya mencapai 187 cm, sedangka ia hanya 157 cm. *poor you Naruto*
"geez… senior yang menyebalkan…! Huft!" gerutu Naruto disepanjang perjalanan pulang. Dia merasa kesal atas kelancangan Sasuke. Dan tanpa terasanya Naruto udah menginjakkan kakinya di depan rumah.
"tadaima…." Rumah sepi, jelas. Iruka kan ada acara sampai sore.
"hahh… dirumah sendirian deh. Enakknya ngapain ya… mmm…. Buat ramen ah." Setelah ganti baju dan cuci tangan, Naruto segera berlari ke dapur untuk mencari persediaan ramen cupnya.
Kring… kring…
Belum juga Naruto menemukan ramennya, dering telpon rumah mengalihkan perhatiannya.
"hallo? Kediaman Umino disini, dengan siapa ya?" Tanya Naruto sopan. Suara khas Naruto terdengar nyaring.
/Naruto, ini ayah. Maaf ayah belum pulang, mungkin nanti ayah pulangnya agak malam. Jadi kamu makan malam duluan aja. Jangan lupa bersihkan sisa cup ramen yang kau makan sayang/ kata Iruka di sebrang sana.
"eh? Apa pekerjaan ayah sebanyak itu? Lalu ayah gimana makan malamnya?" wah, ini pertama kalinya Naruto tinggal sendirian di rumah sampe malem. Padahal dia kan paling takut sama yang namanya tempat gelap, hantu, dan kawan-kawannya.
/tenang aja. Ayah diberikan jatah makan malam kok. Kamu nggak pa-pa kan ayah tinggal sampe malam?/ Tanya Iruka cemas. Tentu aja dia tau apa yang Naruto takutkan jika tak ada dirinya. Ckckck…
"ummm…. Tenang ayah, aku bukan anak kecil lagi. Oke deh, ayah hati-hati ya."
/iya sayang, kamu juga. Sampe ketemu nanti/ telponpun dimatikan.
"hahh…. Sendirian. Ah iya, ramenku" setelah sadar, Naruto balik lagi ke dapur untuk membuat dua cup ramen. Namanya juga masih 14 tahun, jadi ya Naruto habiskan malam sambil menunggu Iruka dengan nonton tv. Lagipula besok dia masih ada ospek.
.
"tadaima.." Iruka baru pulang jam 10 malam, dan Naruto masih terjaga untuk menunggu sang ayah tercinta.
"okaeri ayah.." sahut Naruto membukakan pintu, dia terlihat mengantuk.
"kok belum tidur? Ini kan udah malam. Besok kamu masuk pagi kan?" Tanya Iruka, ia memasuki kamar dengan Naruto yang mengamit lengannya, mencari sandaran untuk kepalanya yang terasa berat.
"mmmh…. Aku kan nungguin ayah pulang. Huahhmm…" kata Naruto di sela kuapan-?-nya. Iruka mengacak rambut pirang Naruto pelan.
"dasar…. Ya udah sana tidur. Ayah nggak mau dengar besok kamu merengek karena kesiangan." Ujar Iruka, Naruto mengangguk dan segera menuju ke kamarnya, sbelum masuk kamar, Iruka masih melihatnya menguap lagi.
"anak itu…. Hahh… dasar anak itu, udah di bilangin kalo habis makan ramen tuh bungkusnya di beresin. Masih aja bandel." Gerutu Iruka yang melihat ruang tengah di rumah itu berantakan karena dua cup ramen yang berserakan, serta tv yang masih menyala. Iruka segera membersihkannya dan pergi tidur.
Pagi harinya, Naruto bangun sedikit siang. Efek karena semalam dai tidur larut dan juga karena dia kelelahan habis kegiatan ospek yang menurutnya menyebalkan itu.
"huahmm… pagi ayah…." Sapa Naruto, dia bahkan masih belum mandi dan masih memakai piyama tidurnya.
"pagi sayang. Kenapa belum mandi? Sana buruan mandi, nanti kamu telat ospeknya loh." Naruto mengangguk dengan mata yang sayu, tanda dia masih mengantuk, Iruka yang melihat itu hanya geleng-geleng kepala. Dia siapkan sarapan juga bekal untuk Naruto. Sepertinya masa ospek yang di jalani putri satu-satunya itu berat.
"besok akan kuajak dia ke kedai ichiraku." Gumamnya pelan.
.
.
.
Masa ospek para camaba tinggal 2 hari terakhir. Dan hari sabtu ini, camaba jurusan Geologi akan mengikuti kemah bersama di sekitar kampus. Kenapa nggak di hutan atau di bumi perkemahan aja? Karena Universitas Konoha memiliki kawasan hutan lindung yang di kelola pihak kampus. Tujuannya agar dapat menjamin keselamatan para siswa.
"aku benci kemah. Pasti akan banya serangga deh. Ihh…" gerutu gadis bersurai pirang pucat yang menjadi teman satu jurusan Naruto. Ia bernama Yamanaka Ino, dari keluarga Yamanaka. Keluarga yang mengelola agency entertain yang menghasilkan para actor dan aktris terkenal. Pantas aja kalo dia menjadi nona muda yang manja.
"dasar nona muda." Cemooh Tenten lirih. Hinata mengangguk setuju.
"kalian ini. Jangan membicarakan kejelekkan orang." Tegur Naruto. Dia sendiri sebenarnya kurang suka berkemah. Karena pasti gelap dan aka nada saatnya untuk jaga malam, kalian tau sendiri kan kalo Naruto itu ehempenakutehem. Dia juga takut tempat gelap, ingat?
"iya iya, oh iya. Naru-chan suka kemah kan?" Tanya Tenten, sepertinya dia suka dengan acara berkemah.
"nggak juga" jawabnya singkat, dia nggakmau membahas kelemahannya itu.
"wah? Kenapa? Apa Naru juga takut serangga?" timpal Hinata, ikut pembicaraan.
"aku bilang kan nggak juga, mending kemah, daripada ending dari ospek ini malam pesta dansa? Aku sih pilih kemah." Jawabnya, mencoba mengalihkan topic pembicaraan.
"benar juga, aku juga lebih suka berkemah. Pesta itu ribet. Kita harus ginilah, harus pake itulah. Merepotkan" gerutu Tenten, nggak lupa dia memakai kata-kata yang menjadi trademark-nya Shikamaru. Naruto tersenyum menanggapi perkataan Tenten. Mereka kini tengah mendirikan tenda untuk bertiga. Sebenarnya satu tenda hanya untuk dua orang, tapi karena Naruto nggak mendapatkan pasangan, jadilah dia satu tenda dengan Tenten dan Hinata.
"hei pirang, kemari kamu." Perintah Kyuubi, dia ada di depan tenda yang sedang di dirikan Naruto, Tenten, Hinata.
"ada apa senior Kyuubi?" Tanya Naruto, dia merasa heran juga kenapa seniornya ini memanggilnya.
"bantu aku mendirikan tenda. Kamu setenda denganku." Perintah Kyuubi seenaknya sendiri. Tapi gimanapun juga, dia ini adalah senior cewek sendiri. Jadi pantas aja kalo dia nggak dapat teman satu tenda.
"tapi senior… aku udah satu tenda sama Tenten Hinata." Jawab Naruto.
"satu tenda diisi dua orang, apa kau nggak paham arti aturan itu? Sedangkan aku hanya sendiri. Kau malah bertiga?" Naruto hanya menghela napas, lalu dia mengambil tas dan berpamitan ke Tenten dan Hinata. Melihat Naruto menuruti kemauannya, Kyuubipun segera kembali ke tempat tendanya berada. Ternyata tenda yang akan mereka pakai udah berdiri kokoh.
"senior, kenapa tendanya udah didirika? Tadi senior bilang belum?" Tanya Naruto, Kyuubi hanya mengendikan bahu, tanda bahwa dia nggak paham. Ternyata eh ternyata, dengan baik hati Menma dan Shikamaru membantu Kyuubi medirikan tendanya.
"oh, Kyuu… gimana? Kamu nggak perlu repot kan? Mana makasihnya buat sepupumu yang tampan ini?" oceh Menma, dengan narsisnya dia bilang kalo dirinya ganteng? Tampan? Padahal aslinya sih beuh… jauh…. Juah lebih ganteng dan tampan. Hehehe, Kyuubi yang melihat betapa narsis dan PD nya sepupunya itu hanya memutar bola matanya bosan.
"ch.. merepotkan saja." Gumam si rambut nanas sambil menguap. Naruto yang melihat tingkah para seniornya itu hanya diam saja, masih setia menenteng tasnya.
"jadi dia teman setendamu, Kyuu?" Tanya Sasuke yang tiba-tiba berdiri di belakang Naruto. Dah anehnya, Naruto nggak kaget sama sekali.
"ya. Daripada aku tidur sendirian." Jawabnya singkat.
"bilang aja kau takut ada hantu Kyuu." Sahut Nagato yang menyeringai jahil di belakang Sasuke, membuat ketiga temannya –Menma, Shikamaru, Sasuke- ikut menyeringai. Mereka memang paling suka mengerjai Kyuubi. Terutama dengan sifatnya yang sangat takut dengan yang namanya hantu.
"cerewet! Sana kembali ke tenda kalian, dank au pirang! Cepat masukan tasmu. Lalu ikut aku." Perintahnya, mengalihkan perhatian teman-temannya –minus Naruto-. Naruto nurut dan segera memasukkan tasnya. Lalu mengikuti Kyuubi kea rah sungai.
"kita mau ngapain senior Kyuubi?" Tanya Naruto.
"cuci muka dan ambil air." Jawabnya singkat.
"tapi aku nggak bawa ember."
"Menma dan Nagato bawa tuh." Tunjuknya ke dua bersaudara yang dari tadi mengikuti mereka berdua. Naruto menoleh kea rah belakang, disana udah ada Menma dan Nagato yang tengah membawa dua ember untuk masing-masing anak.
"kau nggak mau cuci muka, pirang?" Tanya Kyuubi saat dirinya udah selesai membersihkan wajahnya.
"maaf senor, bisakah kau memanggil namaku? Namaku Naruto. Dan nggak, makasih. Nanti aja sekalian mandi" jawabnya. Sedangkan Kyuubi mendengus mendengar jawaban Naruto.
"cepat cuci mukamu, cemong gitu." Perintahnya, mendengar kata cemong, Naruto langsung melihat bayangan dirinya di sungai. Dan benar saja, wajahnya kotor terkena debu dan tanah yang sudah kering. Ia segera melepas kacamatanya dan membasuh mukanya. Memperihatkan sosoknya yang ayu. Wajah yang cantik alami andai saja nggak di bingkai sebuah kacamata besar.
"ah segarnya…" sikap kekanakkannya keluar. Ia mulai membasuh mukanya berkali-kali. Membuat Kyuubi menggeleng dan tersenyum simpul.
"dasar childish." Gumamnya lirih, sedangkan Menma dan Nagato diam mematung, seakan terpesona akan kecantikan yang terpancar dari wajah manis junior mereka.
"hoi kalian, cepat ambil airnya!" perintahnya, membuat lamunan keduannya buyar. Kyuubi yang menyadari itu menyeringai.
"kalian ini ya…. Awas aku aduin ke si pirang loh." Bisiknya, sukses membuat keduannya merinding. Dan dengan segera mereka ambil air dan membawanya ke tenda. Naruto yang udah selesai dan memakai kacamatanya lagi melihat bingung kea rah kedua seniornya yang terburu-buru.
"kenapa mereka?"
"ntahlah. Ayo kembali, Naruto." Ajaknya, Kyuubi sendiri merasa bingung, kenapa dia bisa sedekat ini dengan junior pirangnya ini. Padahal dia dikenal orang yang ditakuti di kalangan junior dan teman seangkatannya. Tapi entah apa yang terjadi dengan dirinya, dia seolah ingin dekat dan melindungi Naruto.
"…bi senior Kyuubi? Senior kenapa? Melamun?" Tanya Naruto.
"ah, nggak. Ayo cepeta." Jawabnya, malu ketahuan melamu, Kyuubipun segera jalan mendahului Naruto. Dibelakang Naruto mengernyit heran, karena nggak mau ambil pusing, jadi ia pun mengendikan bahu dan segera menyusul Kyuubi.
.
"kau lagi apa?" Tanya Kyuubi, saat ini ia tengah mendapati Naruto yang mengerjakan sesuatu.
"buat bumbu, tadi senior Menma dan senior Nagato pergi memancing dan memintaku membuat bumbu untuk ikan tangkapan mereka." Jawab Naruto, melanjutkan pekerjaannya. Kyuubi duduk di sebelah Naruto.
"Apa yang harus aku lakukan?" tanyanya.
"ng? udah selesai kok."
"lagipula belum tentu dua saudara bodoh itu mendapatkan ikan." Gerutunya.
"Siapa yang kau bilang 'dua saudara bodoh' huh?" sela Menma
"dan kami mendapat banyak ikan tau!" protes Nagato yang membawa ikan dengan ukuran cukup besar dan cukup banyak.
"cih.."
"wah, senior Menma dan senior Nagato pandai memancing ya. Baiklah akan kutambah bumbunya." Kata Naruto, dia memperkirakan bahwa bumbu yang ia buat nggak akan cukup.
"hehehe, lalu apa yang harus kami lakukan dengan ikan-ikan ini, Naru-chan?" Tanya Nagato. Dia senang juga dipuji oleh gadis pujaannya –sejak kejadian di sungai tadi-
"ch, tentu aja harus kita bersihkan. Iya kan Naru-chan?" Tanya Menma, terlihat ia nggak mau kalah, Kyuubi yang melihat ke-OOC-an kedua sepupunya itu cengok.
"iya. Tolong ya senior." Jawab Naruto, dia mulai mengupas bawang merah-putih-bombay. Sedangkan Kyuubi bengong.
"aku harus apa?" Tanya Kyuubi akhirnya. Nggak enak juga kalo cuman dia yang nggak kerja.
"senior Kyuubi bisa buat api unggun?" Kyuubi mengangguk dan segera melaksanakan tugasnya. Dia merasa senang bisa membantu Naruto.
Api udah jadi, bumbu siap, ikan udah di bersihkan, sekarang mereka tengah menusuk ikan-ikan tersebut. Kegiatan mereka berempat menarik perhatian teman-teman Kyuubi dan Naruto. Sasuke, Neji, Gaara dan Shikamaru mendekat ke mereka, sedangkan Tenten dan Hinata diam dan melihat dari jauh. Takut mau mendekat.
"sedang apa kalian?" Tanya Neji. Sedangkan Shikamaru dan Gaara ikut membantu Menma dan Nagato.
"apa kau nggak lihat huh?" jawab Kyuubi dengan pertanyaan yang terdengar ketus.
"kami mau membakar ikan, senior Neji." Jawab Naruto, dia tengah melumuri ikan-ikan tersebut dengan bumbu. Sasuke dan Neji yang melihat itu hanya mengangguk.
"jangan harap kalian akan mendapat jatah ya!" seru Nagato.
"yup. Ini hanya buat kami berempat." Sahut menma, dia membantu Naruto membakar ikan-ikan itu. Sebenrnya nggak mungkin juga ikan sebanyak ini –ada sekitar 12 ikan- dimakan oleh mereka sendiri.
"huh? Junior kau kasih tapi teman seangkatanmu nggak? Dasar kalian ini" gerutu Shikamaru.
"hey… karena kami nyari ini buat Naru-chan tau. Lagipula dia yang membuat bumbu, kau lihat sendiri kan dia yang menghandle semuannya." Seru Menma, nggak mau berbagi dengan kawan-kawannya.
"senior Menma, bukankah mereka teman senior? Lagipula ikan ini terlalu banyak kalo di santap berempat." Jawab Naruto, kini wajahnya cemong terkena arang. Membuat mereka semua –kecuali Sasuke- tertawa geli.
"ung?" Kyuubi segera mengelap coretan arang di pipi Naruto dengan saputangannya.
"wajahmu cemong tuh."
"makasih senior Kyuubi." Jawab Naruto.
"hahh… ya udah, kalian boleh ikut makan. Oh ya Naru-chan, ajak juga kedua temanmu itu. Sepertinya mereka dari tadi memperhatikanmu." Kata Nagato, ia menunjuk kea rah Tenten dan Hinata. Memang mereka memperhatikan Naruto, tapi dengan tatapan cemas.
"eh? Bolehkah?"
"tentu aja. Ajak mereka gih." Suruh Kyuubi, sikap Kyuubi yang baru ini membuat teman-temannya –minus Menma dan Nagato- kaget, sejak kapan Kyuubi bersikap manis ke juniornya?
"terimakasih senior." Naruto beranjak dan segera menghampiri kedua temannya. Setelah Naruto pergi, Shikamaru mulai bertanya.
"kau kenapa Kyuu? Sikapmu aneh tau."
"iya, nggak biasanya kau selembut ini ke orang lain" sahut Neji, sedangkan yang ditanya mengendikkan bahu.
"entahlah, tapi aku cuman mau berguna dan melindunginya tiap ada di dekat anak itu." Jawab Kyuubi santai.
"kalian berdua juga, tumben banget baik sama cewek yang nggak cantik begitu." Komentar Neji, Menma dan Nagato hanya tersenyum.
'kau aja yang nggak tau betapa manis dan cantiknya Naruto di balik kacamata tebalnya' batin keduannya. Nggak lama Naruto udah kembali bersama kedua temannya.
"se-selamat sore senior…" sapa Tenten dan Hinata bersamaan, mereka merasa gugup karena harus berbaur dengan senior-senior mereka yang terlihat dingin ini.
"hn" jawab ketujuhnya serempak dan meminjam trademark Sasuke. Merekapun mulai memakan ikannya begitu ikan tersebut matang, yang rasanya luar biasa enak.
Tbc….
Apakah yang akan terjadi selanjutnya?
Apakah yang dirasakan Kyuubi itu? Cintahkah? Atau perasaan sayang sebagai seorang kakak? –oi ini kan bukan yuri, Kuu no baka!-
Bagaimanakah selanjutnya? Penasaran? Nggak?
Thanks to:
Estrella Namikaze
Trisna
Namikaze-hoshi
Elfarizy
Luca Marvell
Akira no Shikigawa
Moku-Chan
Munawirucyiha
Naisyachoco
Shinju-jo
3 hyull
yamashita Runa
o7o6 dan 2 reviewer yg nggak pake nama
Makasih ya kalian dan mau me-review fanficku. Nehehe…
Yaudah, kutunggu review kalian minna… kalo kalian minta lanju, bakal Kuu lanjutin kok. Hehehe…
So, dewa mata…
