Itik Buruk Rupa
Chap 3
Disc: Masashi yang punya chara.
Tapi ide murni dari otak Kuu ini kok.
Pair: main pairnya masih bingung… slight MenmaxfemNaru, NagaxfemNaru
Rate T
Awas! Disini aku buat Naruto-ku (digampar Sasuke) jadi female, buat yang nggak suka, maaf ya. Bukan Naruko, tapi Naruto versi cewek. Bahasa bebas. Banyak typo dan kawan-kawannya. Kritik dan saran selalu dinanti. Euhmmm… buat yang minta update kilat, hehehe… liat jaringan internet juga ya. Aku bisa on Cuma seni-rabu. Jadi ya InsyaAllah seminggu sekali update (kalo nggak pas males/nggak ad aide, dan…. Jaringan internetnya nggak eror). And last…. Happy reading minna… ^^/
Enjoy this
Last chapter
'kau aja yang nggak tau betapa manis dan cantiknya Naruto di balik kacamata tebalnya' batin keduannya. Nggak lama Naruto udah kembali bersama kedua temannya.
"se-selamat sore senior…" sapa Tenten dan Hinata bersamaan, mereka merasa gugup karena harus berbaur dengan senior-senior mereka yang terlihat dingin ini.
"hn" jawab ketujuhnya serempak dan meminjam trademark Sasuke. Merekapun mulai memakan ikannya begitu ikan tersebut matang, yang rasanya luar biasa enak.
.
.
.
"ternyata masakanmu enak ya, lain kali buat lagi dong." Usul Nagato, mereka semua telah selesai memakan ikan yang tadi dibakar bersama. Sesederhana apapun makanan itu kalo dimakan bersama teman dalam hati yang riang, pasti terasa sekali lezatnya. Bener nggak sih?
"baiklah…" jawab Naruto singkat, ia segera membereskan kekacauan karena masak-memasak tadi tanpa menunggu bantuan dari yang lainnya. Kyuubi yang melihat itu segera membantunya.
"kenapa selalu mengerjakannya sendiri?"
"nggak pa-pa, udah biasa kok."
"seenggaknya kau bisa meminta bantuanku kan?" jelas Kyuubi ketus, pertanda dia nggak suka dibantah.
"makasih senior Kyuubi." Ucap Naruto, mereka selesai membereskan sisa masak-masak tadi. Kyuubi mengajak Naruto, Tenten dan Hinata untuk mandi bersama di sungai. Lagi-lagi itu hal baru yang sangat jarang Kyuubi perlihatkan di depan seua temannya.
Mungkin karena Kyuubi terbiasa bergaul dengan para laki-laki, secara di rumah dia kan cewek sendiri. Hanya ada ayah dan kedua sepupunya itu. Jadi saat mandi bersama seperti ini, Kyuubi agak kikuk. Bisa dibilang dia bingung dan malu untuk telanjang di depan anak-anak gadis didepannya.
"senior kenapa?" Tanya Naruto yang melihat Kyuubi masih setia dengan baju kotor yang masih melekat di tubuhnya.
"ah? Nggak kok. Hehehe…"
"kalo senior malu, aku nggak akan ngeliat ke senior. Biar kami mandi duluan aja." Kata Naruto, yang membuat Kyuubi merasa…. Apa ya, pokoknya dia tuh nggak mau terlihat aneh, jauh, cuek dan hal negative lainnya di depan Naruto.
"aku nggak malu kok. Cuman nggak biasa aja. Euhmm…. Naru, kau mau menggosokkan punggungku nggak nanti?" Tanya Kyuubi, ia mulai melepaskan semua pakaiannya dan masuk ke dalam sungai yang nggak terlalu dalam.
"baiklah."
"tentu aja nanti kita gentian. Nggak apa kan aku menggosokkan punggungmu?" Tanya Kyuubi, Naruto yang duduk disampingnya hanya mengangguk. Dia juga sama seperti Kyuubi, nggak pernah mandi bareng sama sesame cewek. Karena dari dulu Naruto nggak pernah punya teman. Dan lagi, nggak mungkin kan Naruto minta ke Iruka buat mandi bareng.
Mereka berdua sama-sama diam, kalo Naruto diam karena kurang suka ngobrol, tapi kalo Kyuubi beda lagi. Sebenarnya dia pengen banget ngobrol akrab sama Naruto, tapi dianya bingung mau mulai dari mana. Kyuubi sangat ingin dekat dengan gadis yang ada disampingnya. Ada hal yang mengganjal. Jika dilihat saat Naruto nggak pake kacamata kayak sekarang ini, entah kenapa wajahnya mirip sang ibunda tercinta.
"hey Naru… siapa nama ibumu?" Tanya Kytuubi tiba-tiba.
"ibu ya…. Aku nggak punya ibu. Aku hanya punya ayah. Nama ayahku Umino Iruka. Kenapa senior?" Tanya Naruto. Nggak biasanya orang yang pernah ia kenal akan tertarik dengan kehidupan pribadinya, apalagi tentang keluarganya.
"Ah nggak kok. Cuman penasaran aja. Kamu kan cantik dan manis, apa itu turunan dari ibumu?" jawab Kyuubi yang diakhiri dengan pertanyaan. Naruto tersenyum mendengar pujian Kyuubi yang tulus.
"makasih senior. Baru senior yang bilang aku cantik dan manis. Selain ayah tentu aja." Kyuubi yang mendengar itu serasa terbang ke awan. Ternyata dirinya yang pertama. –ini bukan incest loh ya, apalagi yuri. Ini straight kok- Naruto mulai menggosok punggung Kyuubi pelan.
"hmm…. Menurutku sih, kau manis dan cantik. Cuman tertutup sama penampilan dan kacamata tebalmu itu. Emangnya kamu minus berapa sih?" Tanya Kyuubi. Dia penasaran juga, kenapa gadis semanis Naruto selalu make kacamata tebel.
"itu normal kok. Cuman aku suka aja pake kacamata itu. Biar nggak iritasi kena debu." Jawab Naruto, Kyuubi mengernyit heran dengan jawaban yang Naruto berikan. Kini giliran Kyuubi yang menggosok punggung Naruto.
"sayang banget, padahal kalo kamu lepas, aku yakin, semua mahasiswa di UK –Universitas Konoha-pada tergila-gila padamu loh." Seru Kyuubi, entah karena apa kok dia bisa semangat gitu. Padahal kan reputasinya bisa di geser ama si bloonde ini. Naruto hanya tersenyum menanggapi omongan Kyuubi, bukannya dia nggak menghargai saran seniornya itu, tapi Naruto nggak mau membuat masalah. Dia merasa nyaman dengan penampilannya yang seperti itu.
Kyuubi memperhatikan Naruto lebih teliti lagi. Dia semakin merasa familiar dengan wajah Naruto –setahu Kuu, facenya Naruto itu mirip ama Kushina, cuman model ama warna rambutnya doing yang mirip Minato. Tapi disini Kuu buat rambut Naruto kan panjang, jadi nggak begitu keliatan mirip Minatonya. Hehehe- 'aku harus menyelidiki ini semua, mungkinkah Naruto itu adikku? Wajahnya mirip sekali dengan mama." Batin Kyuubi, galau ceritanya.
"Naru-chan, boleh aku main ke rumahmu?" usul Kyuubi tiba-tiba. Naruto mengernyit sebentar lalu menganggukkan kepalanya tanda setuju.
"ayo kita kembali, jangan lama-lama berendamnya, ntar bisa sakit." Ajak Kyuubi, dia segera ketepi dan memakai bajunya, begitu juga dengan Naruto. Mereka kembali ke perkemahan, di depan tenda yang ditempati Kyuubi dan Naruto, sudah berdiri Nagato dan Menma.
"kalian lama sekali mandinya. Capek tau nunggunya." Gerutu Nagato, Menma hanya menghela napas lelah.
"siapa suruh nunggu. Emang ada apa sih?" Tanya Kyuubi, penasaran. Nggak jauh beda sama Naruto.
"acara inti mau dimulai tau. Kau kan ketuannya, jadi kami harus menjemputmu. Lagipula Naru-chan kan peserta, kalo sampe dia telat kau kan harus kasih hukuman ke dia, Kyuu." Jelas Nagato. Kyuubi hanya mangut-mangut dan mendorong Menma serta Nagato menjauh dari tendannya.
"ehh?! kok diusir sih?" protes Menma. Nagato juga cemberut.
"kami mau ganti baju. Pergi sana! Ayo Naru." Kyuubi menarik lengan Naruto masuk ke tenda dan segera menutup tendanya. Sedangkan Menma dan Nagato cengok di luar tenda. Meskipun mereka udah di usir, tapi duo Uzumaki itu tetap berada di tempatnya. Lebih tepatnya menjaga tenda Biru tua itu supaya nggak ada yang mendekat dan mengintip pujaan hati mereka –Naruto tentu saja-.
.
.
.
"ayah, aku berangkat dulu… ittekimasu." Teriak Naruto dari depan pintu rumahnya, dia berteriak karena Iruka ada di dapur.
"eh? Bentonya?" buru-buru Iruka membawakan bento yang udah ia siapkan untuk sang putrii tercinta, sebelum terlambat. Naruto yang mendengar ucapan Iruka, dengan sabar menunggu di depan pintu.
"makasih ayah. Ittekimasu." Pamit Naruto.
"itterasai…" balas Iruka, ia melambaikan tangannya ke Naruto yang juga sedang melambaikan tangan. Bagaimanapun Naruto itu masih anak-anak kan? Sejak tiga hari lalu dia udah masuk kuliah seperti biasanya. Hari ini dia aa mata kuliah pagi, maka dari itu ia nggak sarapan bareng sama Iruka seperti biasa. Selama perjalanan menuju ke UK, Naruto membaca buku yang kemarin ia pinjam di perpustakaan. Mempelajari materi yang akan ia hadapi nantinya.
Brukh…
Saking seriusnya baca, sampe nggak lihat kalo didepannya ada seorang cowok yang tengah berdiri. Akhirnya Naruto menubruknya dan membuat buku bawaannya berserakan di jalan.
"maaf… aku nggak sengaja." Kata Naruto meminta maaf, dia juga membenarkan letak kacamatanya lalu membereskan bukunya yang berserakan.
"hm." Kata cowok itu, langsung pergi. Tidak ada niat untuk membantu Naruto membereskan bukunya. Yah bukan berarti Naruto berharap di bantu sih, karena kan emang dia yang salah. Menurutnya wajar kalo cowok yang ditabraknya tadi kesal. Setelah beres, Naruto segera masuk ke bus yang ternyata udah datang, ia duduk di dekat jendela dan melanjutkan acara membacanya. Nggak memperhatikan sekitarnya juga sepasa mata yang mengawasi gerak-geriknya.
"menarik." Gumam sosok misterius itu, seringaian senang tepampang tipis di bibirnya. Sepasang mata itupun masih setia mengawasi setiap gerakan yang di timbulkan sang gadis aka Naruto.
.
"pagi Naruto!"sapa Tenten, mereka bertemu di gerbang depan, saat Tenten turun dari mobil yang ia kendarai.
"pagi juga." Sahut Naruto, berhenti sejenak dari acara baca bukunya, mendongak ke Tenten dan melanjutkan lagi acaranya.
"kamu baca apa sih Naruto? Serius banget." Tanpa menjawab, Naruto menunjukkan cover uku yang tengah ia baca. Membuat Tenten bergidik ngeri dengan bacaan Naruto di pagi hari. Apalagi kalo bukan buku yang membahas tentang zat-zat yang diperlukan dalam pendamping jurusan mereka. Kimia.
"aduh Naruto, kamu nggak pusing apa? Pagi-pagi udah baca Kimia setebel itu. Lagian percuma kalo nggak praktek kan?" cetuk Tenten. Naruto hanya mengangguk dan menjawab,
"nantikan kita praktek. Makanya aku baca dulu." Yang membuat tenten bergidik ngeri -lagi-.
"kamu serius Naruto? Oh My God! Kenapa harus ada Kimia sih di dunia ini." Katanya miris,
"lebih baik kamu belajar juga Tenten. Daripada nanti bingung. Nih aku ada bukunya." Tawar Naruto sambil menyodorkan buku yang ia pinjam kemarin.
"ha? Nggak deh. Kamu dulu aja." Tolak Tenten halus.
"ini udah selesai kubaca kok. Nanti mau aku balikin." Dan jawaban Naruto sukses membuat Tenten terkejut lagi. Bagaimana nggak, paket Kimia yang tebal dan ada tiga buah itu udah di baca Naruto sampe selesai dalam semalam? Yang bener aja.
"kenapa? Aku hanya baca bab yang akan dipelajari aja. Nggak mungkin aku baca semuannya kan." Jelas Naruto, seolah mengerti apa yang dipikirkan temannya yang bercepol dua ini.
"hehehe… kupikir kamu baca semuanya." Sahut Tenten nyengir kuda. Mereka berdua berjalan kekelas, tanpa tau kalo sedari tadi mereka diperhatikan.
"wah wah… ternyata satu kampus. I'm lucky." Gumam sosok misterius yang tadi memperhatikan Naruto, senang.
.
.
.
To be continued…
Siapa cowok yang ditabrak Naruto tadi ya?
Kira-kira siapakah itu?
Apa yang cowok misterius itu inginkan dari Naruto?
Thaks buat yang udah review. Kalo buat di panjangin wordnya… aku nggak yakin sanggup. Hehehe. Maaf, aku bisa setting buat ni cerita cuman 1k+ doang.
Review please?
Sekali lagi maaf buat yang minta dipanjangin. Chap depan deh Kuu usahain ya.
See ya.
