Itik Buruk Rupa

Chap 4

Disc: Masashi yang punya chara.

Tapi ide murni dari otak Kuu ini kok.

Pair: main pairnya masih bingung… mungkin SasuxFemNAru, atau mungkin SasoxFemNaru? slight MenmaxfemNaru, NagaxfemNaru

Rate T

Awas! Disini aku buat Naruto-ku (digampar Sasuke) jadi female, buat yang nggak suka, maaf ya. Bukan Naruko, tapi Naruto versi cewek. Bahasa bebas. Banyak typo dan kawan-kawannya. Kritik dan saran selalu dinanti. Euhmmm… buat yang minta update kilat, hehehe… liat jaringan internet juga ya. Aku bisa on Cuma seni-rabu. Jadi ya InsyaAllah seminggu sekali update (kalo nggak pas males/nggak ad aide, dan…. Jaringan internetnya nggak eror). And last…. Happy reading minna… ^^/

Enjoy this

A/N: sebelumnya Kuu minta maaf ya, karena chap ini dikit. Gommen ne…

Last chapter

"ini udah selesai kubaca kok. Nanti mau aku balikin." Dan jawaban Naruto sukses membuat Tenten terkejut lagi. Bagaimana nggak, paket Kimia yang tebal dan ada tiga buah itu udah di baca Naruto sampe selesai dalam semalam? Yang bener aja.

"kenapa? Aku hanya baca bab yang akan dipelajari aja. Nggak mungkin aku baca semuannya kan." Jelas Naruto, seolah mengerti apa yang dipikirkan temannya yang bercepol dua ini.

"hehehe… kupikir kamu baca semuanya." Sahut Tenten nyengir kuda. Mereka berdua berjalan kekelas, tanpa tau kalo sedari tadi mereka diperhatikan.

"wah wah… ternyata satu kampus. I'm lucky." Gumam sosok misterius yang tadi memperhatikan Naruto, senang.

Chap 4

Ada jeda 3 jam di kelas Naruto, sebelum ia melanjutkan ke mata kuliah berikutnya. Dan itu ia gunakan untuk mendatangi perpustakaan kampus. Naruto ke perpustakaan hanya sendiri, karena tadi ia mengajak Tenten dan Hinata, tapi mereka berdua hendak pulanh, ada urusan yang harus dikerjakan katanya, jadilah sekarang ini Naruto hanya berjalan sendirian menuju ke perpustakaan.

Memasuki ruang perpustakaan yang selalu membuatnya berdecak kagum atas desain dan kelengkapan koleksi buku yang ada di dalamnya. Tempat yang sangat cocok untuk gadis seperti Naruto. Setelah mengembalikan buku yang ia pinjam, Naruto segera mencari buku yang lain di rak khusus jurusan Geologi. Kondisi perpustakaan cukup sepi, karena sebagian besar para mahasiswa yang ada di Universitas Konoha ini nggak begitu suka membaca.

"gh.. uhh.." Naruto geram, karena buku yang ia mau tak sanggup ia capai, karena letaknya yang terlalu tinggi, sampai ia harus berjinjit. Tapi tetap saja ia tidak bisa menggapai buku tersebut, sampai ada sebuah tangan yang mengambil buku tersebut.

"yang ini?" Tanya sosok pemilik tangan tersebut, Naruto mengangguk pelan, dan membalikkan badannya. Sekarang di depannya berdirilah seorang mahasiswa yang. . . . . . imut? Tapi itu nggak menutupi ketampanannya, sebut saja mahasiswa tersebut baby face –ini atas permintaan para pembaca sekalian, jadi bisa kalian tebak kan, siapa cowok misterius itu-.

"terima kasih." Ucap Naruto, saat sosok itu memberikan buku yang ia butuhkan. Mahasiswa dengan surai merah darah itu tersenyum sebagai balasannya. Ia juga mengambil buku yang menurutnya menarik.

"mau membaca bersama?" tawar si baby face, Naruto menanggapi itu dengan biasa, tapi bukan berarti dia menolak tawaran si baby face. Mereka duduk di dekat rak yang tadi mereka jejaki.

"Akasuna Sasori, siapa namamu?" Tanya mahasiswa yang ternyata bernama Sasori tersebut, setelah Naruto duduk di tempatnya.

"Umino Naruto." Jawab Naruto seadanya, Sasori tersenyum lagi. Mereka mulai larut dalam bacaan, ah atau lebih tepat di bilang hanya Naruto saja yang larut dalam bacaannya, karena pada kenyataannya, Sasori hanya memperhatikan Naruto di sela kegiatannya yang membuka-buka halaman buku yang ia bawa tadi.

"kamu anak semester satu ya?" Tanya Sasori, memecah keheningan yang terjadi diantara mereka. Naruto yang tengah berkonsentrasi akhirnya terusik juga dengan pertanyaan yang di lontarkan Sasori, ia hanya mengangguk sekilas dan larut lagi dalam bacaannya. Sebenarnya ia juga menyali materi yang menurutnya penting.

Sasori memilih diam dan memperhatikan Naruto, ia sungguh tertarik akan pesona yang dipancarkan si blonde. Mungkin orang-orang menyebutnya 'love at first sight' eh? Who knows, hanya Sasori dan Tuhan yang tau. Yang ia rasakan saat ini adalah, ia ingin bersama Naruto, menyentuhnya, memeluknya, membuatnya nyaman dan selalu berada di dekatnya, melihat senyumnya yang jarang terlihat juga wajahnya saat tanpa kaca mata.

"hey Naru, kamu minus berapa?" penasaran juga dengan kaca mata tebal yang selalu digunakan gadis pirang didepannya.

"ini normal kok. Hanya saja, mataku mudah iritasi, jadi aku pake kacamata. Um, Sasori itu seniorku ya?" Naruto balas bertanya,

"yups! Aku semester 5, jurusan robotika –nggak tau lagi deh, ada apa nggak tuh jurusan-." Naruto mengangguk paham, ia kagum juga dengan senior yang ada di depannya ini.

"apa senior sudah buat robot humanoid?" Tanya Naruto lagi, ia menutup bukunya. Merasa tertarik dengan apa yang saat ini mereka bicarakan.

"yah, itu spesialisku. Aku paling bisa kalau buat yang humanoid. Mau lihat koleksi robotku?" tawar Sasori.

"eh? Bolehkah? Apa ada di galeri kampus?" Sasori senang akan ke-interesting-an Naruto pada keahliannya, ini termasuk poin plus untuknya.

"ada beberapa. Mau lihat sekarang?"

"iya! Wah pasti sangat mengasikkan bisa membuat robot sendiri."

"apa kamu mau kuajari merakitnya?" Naruto mengangguk semangat, mereka berdua berjalan kea rah gedung galeri yang tidak begitu jauh lokasinya dari perpustakaan, dan disepanjang perjalan banyak yang membisikan sesuatu. Namun hal itu tak disadari Naruto. Yang nggak Naruto tau adalah, bahwa Akasuna Sasori itu seorang jenius yang sangat digilai di kalangan mahasiswi, selain karena kecerdasaan otaknya, ia juga dianugrahi wajah yang tampan dan berasal dari keluarga yang mengelola perusahaan tercanggih yang ada di Jepang –maaf, KUu ngasal banget soal ini-.

Katakan saja kalau Sasori itu adalah pangeran dari jurusan robotika. Dia ramah, tapi nggak oernah sekalipun terlihat dekat dengan seorang mahasiswi yang ada di Universitas Konoha, kecuali Naruto yang saat ini sedang berjalan berdua bersama Sasori. Dan itu sukses membuat tatapan iri dan kesal dari beberapa mahasiswi. Yah, mungkin mereka nggak terima, pangeran mereka berjalan bersama dengan itik buruk rupa seperti Naruto saat ini. Tapi hal itu tak begitu digubris Sasori.

"Naru? Mau kemana?" sapa Kyuubi, dia yang berjalan dari arah berlawanan berhenti tepat beberapa langkah di depan Naruto dan Sasori.

"mau ke gedung galeri. Kenapa senior?"

"boleh aku ikut?" tanyanya, Kyuubi nggak rela kalo Naruto hanya berduaan saja dengan Sasori, seniornya itu. Meskipun beda jurusan, tapi tetap aja seniornya kan?

"tentu." Sasori menghela napas sejenak, merasa kurang senang karena waktunya yang bersama Naruto di ganggu oleh Kyuubi. Mereka bertigapun akhirnya berjalan beriringan, dengan Kyuubi yang ada di antara Naruto dan Sasori, menuju ke gedung galeri.

Gedung galeri yang ada di Universitas Konoha tak kalah besar dengan gedung galeri yang ada di kota tersebut. Disana terdapat banyak sekali hasil karya para mahasiswa berprestasi yang di pajang. Biasanya pihak kampus akan mengadakan pameran setiap musim gugur dan musim panas. Naruto yang melihat kembali gedung galeri itu tak bisa menghilangkan rasa kagumnya. Benar-benar Universitas number one.

"mana humanoid rakitan senior?" karena Naruto menyebut senior, Kyuubi dan Sasori menoleh bersamaan.

"maksudmu, Naru?"

"ah, maaf. Maksudku senior Sasori." Ralat Naruto, Kyuubi mendengus. Sedangkan Sasori tersenyum.

"ayo ikut aku." Ajaknya, Naruto mengikuti Sasori dengan Kyuubi yang ada di sampingnya. Wah, Kyuubi benar-benar seperti seorang kakak yang protektif sekali terhadap adiknya. Sasori mengajak mereka menuju ke bagian tecno. Disana terdapat bebagai macam rakitan robot karya mahasiswa Universitas Konoha, dan itu semua membuat Naruto berdecak kagum.

"keren…."

"yups. Dan itu karyaku." Lanjut Sasori, menunjuk ke salah satu robot humanoid yang indah (?) yang terpajang dengan rapi di sebuah panggung kecil.

"wah, Sasori hebat ne. jadi iri deh." Gumam Naruto. Sasori yang mendengar itu tersenyum, sedangkan Kyuubi? Dari tadi dia mendengus tak suka mendengar pujian Naruto untuk Sasori –wah wah, belum tau kalo Naruto itu adiknya aja udah begini, gimana kalo udah terbukti ya? Jadi posesif mungkin.-

"kenapa harus iri? Semua orang itu kan punya keahlian di bidang masing-masing. Oh ya Naru, kalau kamu mau, aku bisa kok mengajarimu merakit model robot yang sederhana." Tawar Sasori, wah ketauan banget kalau dia cari kesempatan, batin Kyuubi.

"benarkah?"

"yup!"

"baiklah, aku akan belajar dengan keras." Serunya senang. Kapan lagi dia bisa di ajari merakit robot dengan gratis, sama senior yang ganteng pula.

"hmm, berjuanglah. Nah, aku balik dulu. Sebentar lagi ada praktek." Pamit Sasori, setelah mendapat anggukan dari Naruto, Sasori pergi begitu aja. Meninggalkan Kyuubi dan Naruto di depan hasil karyanya.

"ne, Naruto. Kamu mau main ke rumahku nggak?" ajak Kyuubi,

"eh? Kerumah senior Kyuubi?"

"iya, mau kan?"

"um, baiklah."

"nanti pulangnya ya? Aku tunggu di mobil warna dark orange."

"iya, senior."

"ah, panggil aja aku kak Kyuu. Oke?"

"baiklah. Kak Kyuu." Kyuubi tersenyum mendengar itu, mereka berdua meninggalkan gedung galeri dan segera menuju ke kelas masing-masing. Menantikan pulang sekola bagi Kyuubi yang terasa lama, karena ia ingin segera mengajak Naruto kerumahnya.

.

.

.

.

.

To be continued…

Apakah yang akan terjadi selanjutnya?

Ne, maaf ya minna, buant minggu depan aku nggak bisa update, hehehe.

Makanya minggu ini aku update dua. So, mind to review?