Itik Buruk Rupa
Chap 4
Disc: Masashi yang punya chara.
Tapi ide murni dari otak Kuu ini kok.
Pair: main pairnya masih bingung… mungkin SasuxFemNAru, atau mungkin SasoxFemNaru? slight MenmaxfemNaru, NagaxfemNaru
Rate T
Awas! Disini aku buat Naruto-ku (digampar Sasuke) jadi female, buat yang nggak suka, maaf ya. Bukan Naruko, tapi Naruto versi cewek. Bahasa bebas. Banyak typo dan kawan-kawannya. Kritik dan saran selalu dinanti. Euhmmm… buat yang minta update kilat, hehehe… liat jaringan internet juga ya. Aku bisa on Cuma seni-rabu. Jadi ya InsyaAllah seminggu sekali update (kalo nggak pas males/nggak ad aide, dan…. Jaringan internetnya nggak eror). And last…. Happy reading minna… ^^/
Enjoy this
A/N: yohooo…. Kuu balik nih, dan di chap ini udah Kuu usahain buat lebih panjang lagi. Oh iya, ada salah satu reader yang memberiku –menurutku sih itu kritik ya- sesuatu untuk menambahkan feel family-nya, dan ini dah Kuu usahain. Moga kalian suka ya? Yak, bisa update juga setelah dua minggu ngilang. Hohoho… cukup sekian dari Kuu, silahkan baca chap 5 ini…
Last chap…
"hmm, berjuanglah. Nah, aku balik dulu. Sebentar lagi ada praktek." Pamit Sasori, setelah mendapat anggukan dari Naruto, Sasori pergi begitu aja. Meninggalkan Kyuubi dan Naruto di depan hasil karyanya.
"ne, Naruto. Kamu mau main ke rumahku nggak?" ajak Kyuubi,
"eh? Kerumah senior Kyuubi?"
"iya, mau kan?"
"um, baiklah."
"nanti pulangnya ya? Aku tunggu di mobil warna dark orange."
"iya, senior."
"ah, panggil aja aku kak Kyuu. Oke?"
"baiklah. Kak Kyuu." Kyuubi tersenyum mendengar itu, mereka berdua meninggalkan gedung galeri dan segera menuju ke kelas masing-masing. Menantikan pulang sekola bagi Kyuubi yang terasa lama, karena ia ingin segera mengajak Naruto kerumahnya.
Itik Buruk Rupa
Chap 5
Sesuai rencana yang dibuat Kyuubi, sore ini ia menunggu Naruto di depan mobilnya. Kyuubi sebenarnya bukanlah orang yang suka menunggu, tapi entah kenapa dia bertoleransi atas keterlambatan Naruto. Dia bahkan sudah menunggu di depan mobil selama satu jam penuh. Untuk menghilangkan rasa bosannya, Kyuubi memilih untuk mendengarkan music.
"anoo… maaf kak Kyuu, aku telat. Tadi dipanggil Tsunade sensei." Kata Naruto yang berdiri di samping Kyuubi, nafasnya memburu, tanda bahwa ia habis berlari.
"nggak masalah kok. Aku juga baru dateng lima menit lalu. Yuk masuk." Ajaknya, berbohong masalah waktu yang ia habiskan untuk menunggu Naruto.
"iya." Setelah masuk mobil dan memasang safety belt, Kyuubi melajukan mobil jaguar hitamnya menuju ke manor Namikaze. Selama perjalanan, mereka berdua hanya diam, ditemani music yang mengalun merdu di dalam mobil Kyuubi.
Banyak hal yang ada di benak Naruto, tapi satu yang ia pilih setelah ia melihat rumah yang dimaksud Kyuubi, amazing! Menurutnya rumah Kyuubi nggak pantas disebut rumah, tapi lebih cocok disebut kastil eropa kuno yang sangat indah dan megah, arsitektur dan seni yang mengagumkan. Bahkan Naruto sampai dibuat tercengang melihat halamannya saja.
"sugoi…" gumamnya tanpa sadar, Kyuubi yang mendengar gumaman Naruto tersenyum manis.
"ayo masuk, kukenalkan ke papa." Kyuubi menarik lengan Naruto, berjalan masuk melewati para maid yang berjejer menantikan kedatangan Kyuubi.
"Kyuubi-sama, Minato-sama sudah menanti anda di ruang kerja beliau. Harap segera menuju ke tempat beliau berada." Kyuubi dihadang seorang, sebut saja orang kepercayaan papanya, namanya adalah Hatake Kakashi. Pria bermasker dengan rambut perak gaya spike inilah yang dulu membuang Naruto.
"ya, nanti." Jawab Kyuubi cuek, ia segera menarik Naruto menuju ke kamarnya, saat Naruto melewati Kakashi, entah kenapa Kakashi merasa familiar dengan blue sapphire milik Naruto.
.
"kenapa kak Kyuu nggak nemuin ayah kakak dulu?" Tanya Naruto, ia duduk di sofa yang disediakan di dalam kamar Kyuubi. Sedangkan Kyuubi duduk di kursi meja belajarnya.
"males."
"eh?"
"orang tua itu yang membuat adikku pergi." Tersirat nada sedih dan benci dari nada suara yang Kyuubi gunakan, membuat Naruto nggak enak hati.
"pergi kemana?"
"mungkin ke surge bersama mama. Dulu, mama melahirkan adikku dengan taruhan nyawanya sendiri, tapi papa malah menyalahkan adikku. Katanya, gara-gara adikku lahir, nyawa mama nggak tertolong. Jadi, papa membuang adik yang masih bayi." Tanpa sadar Kyuubi menitikkan air mata.
Naruto yang melihat itu, mendekat kea rah Kyuubi dan menghapuskan air matanya. Memberikan seyuman tulus yang ia punya, mencoba menenangkan emosi Kyuubi.
"kak Kyuu, seharusnya kakak berdoa untuk adik dan mama kakak, supaya mereka tenang di surge. Aku yakin, pasti mereka nggak mau melihat kakak bersedih." Bujuk Naruto.
"lagipula, kan belum tentu adik kakak udah meninggal, ya kan?" lanjut Naruto, Kyuubi mengangguk dan memeluk Naruto.
"ahh, Naru emang anak yang baik ya. Makasih Naru, aku udah lebih baik sekarang. Nah, aku ke tempat papa dulu. Kamu tunggu disini ya." Kyuubi beranjak dari duduknya dan berjalan menuju pintu setelah mendapat anggukan dari Naruto.
.
"kenapa kau membuat papa menunggu, Kyuu?" Tanya Minato, nada suaranya rendah. Sejak kematian sang istri, peringai Minato berubah. Ia yang dulunya murah senyum, ramah dan baik sekarang berubah menjadi manusia tangan besi dan dingin. Seolah kehilangan cahaya hidupnya.
"ada apa? Langsung aja." Kyuubi pun nggak kalah dinginnya, dia masih menyimpan rasa benci untuk sang ayah karena perbuatan ayahnya. Meskipun dulu dia masih berusia 5 tahun, tapi Kyuubi masih mengingat pesan terakhir sang ibunda.
'tolong jaga adikmu baik-baik Kyuu, sayangi dia meskipun mama nggak ada bersama dengan kalian. Mama yakin kamu akan menjadi kakak yang baik untuk adikmu'
'cih! Aku benar-benar muak dengan pak tua ini, kenapa dia nggak percaya dengan omonganku sih. Padahal mama udah berjuang keras untuk melahirkan adik, dan berharap adik mendapatkan kasih sayang lebih dari papa, tapi apa? Dia malah membuang adik!' batin Kyuubi geram. Dia melamun sampai nggak sadar Minato berbicara apa.
"jadi, kau akan bertunangan dengan Uchiha Itachi." Simpul Minato, merasa bahwa sang anak dari tadi memperhatikannya.
"APA?!" bentak Kyuubi, nggak percaya dengan pendengarannya.
"kenapa? Bukankah papa udah jelaskan dari tadi? Dan pertunanganmu akan diadakan minggu depan. Jadi bersiaplah." Kyuubi tau, kalau sang ayah sudah membuat keputusan, maka akan sangat percuma membantahnya, seperti empat belas tahun lalu.
"ini hidupku. Jangan sekali-kali kau atur hidupku!" geram Kyuubi.
"kau mau membantah papa?"
"cukup sudah aku selalu menurutimu. Gara-gara sifatku yang selalu menurutimu, aku bahkan kehilangan adikku yang mama titipkan padaku. Kau…. Kau bukan ayah yang baik!" Kyuubi pergi dari ruangan Minato, nggak lupa membanting pintu ruang kerja itu dengan keras. Saat ini emosinya benar-benar meledak.
Bayangkan saja, jika keputusan seperti pertunangan dan jodohmu di atur oleh orang lain. Yang bahkan orang itu nggak tau, betapa buruknya orang yang telah ia pilih. Bukan berarti Uchiha Itachi itu jelek, tapi ia dan Itachi udah lama sekali berseteru. Kyuubi sangat membenci Itachi, karena selain brengsek, ia juga playboy. Suka sekali menyakiti hati wanita dan gonta ganti pacar.
Kyuubi berjalan ke kamarnya dengan perasaan campur aduk, antara marah dan benci yang berkecamuk di otaknya, sampai membuka pintu kamar dengan keras dan membuat Naruto terperanjat kaget.
" apa kak Kyuu?" cicit Naruto, dia sedikit ngeri melihat aura Kyuubi yang menakutkan, penuh emosi negative.
"ah? Maaf Naru, kamu takut padaku ya?" Tanya Kyuubi setelah melihat Naruto sedikit bergetar,
"nggak sih, cuman kaget aja. Emangnya apa yang terjadi kak?" Kyuubi berjalan ke arah Naruto, lalu memeluknya dengan tiba-tiba.
"apa yang harus kulakukan…" lirih Kyuubi, sumpah Naruto belum pernah melihat Kyuubi selemah ini sebelumnya. Menurutnya, selama ia kenal Kyuubi, Kyuubi itu cewek keras dan teguh.
"memangnya ada apa kak? Mau cerita?" Naruto membalas pelukkan Kyuubi, bertanya dengan nada lembut.
"papa menjodohkanku dengan cowok yang aku benci." Naruto terdiam, pasalnya ia kan nggak pernah mendapatkan masalah yang sekompleks ini. Jangankan masalah begini, masalah cinta aja dia nggak pernah dapet.
"umm… sebaiknya kakak terima aja. Aku yakin, bagaimana pun, papanya kakak pasti mau yang terbaik untuk kakak."
"nggak. Dia orang tua yang buruk. Bahkan … kamu tau sendiri kan? Dia tega membuang putri kandungnya hanya karena alasan konyol. Aku yakin, mama pasti akan marah besar seandainya ia tau kalau putrinya yang dia lahirkan dengan taruhan nyawa di buang begitu saja." Naruto terdiam, dia bingung mau ngomong apa lagi.
Yang nggak mereka tau adalah, Minato yang berdiri di balik pintu kamar Kyuubi, niatnya mau berbicara baik-baik ke putrinya. Tapi ternyata ia malah mendapatkan sesuatu yang membuatnya tersadar akan kesalahannya. Bahkan dia nggak tau kalau Kyuubi sangat membenci dirinya.
Ternyata selama ini Minato menutup mata dan telingannya dengan keadaan Kyuubi yang sangat membencinya. Ia merasa sangat bodoh karena pernah membuang putri bungsunya. Ia merasa malu pada sang istri tercinta.
"betapa bodohnya diriku, Kushina… apa kau akan memaafkanku…? Kurasa nggak, karena aku telah membuang putri kita. Putri yang kau nanti kelahirannya." Tanpa terasa, air matana mengalir dari kedua manic biru indah itu. Minato menangis dalam diam meratapi kebodohannya selama ini.
Cklek…
Pintu kamar Kyuubi terbuka, dengan Naruto yang masih setia memegang gagang pintu saat ia melihat Minato menangis. Rencananya dia mau mengambilkan Kyuubi minuman agar lebih tenang.
"ano… maaf paman, kalau paman mau berbicara dengan kak Kyuu, sebaiknya nanti saja. Saat ini kondisi kak Kyuu nggak memungkinkan." Kata Naruto sehalus mungkin, dia nggak mau membuat Minato tersinggung.
Minato mendongakkan kepalanya dan mendapati sepasang blue sapphire yang sangat indah, namu terhalangi kaca mata tebal yang di kenakan si blondie.
Deg
Jantung Minato seolah berhenti berdetak saat melihat betapa miripnya wajah gadis yang berdiri di depannya ini dengan wajah mendiang istrinya. Rambut blonde, kulit tan, manic blue sapphire. Kenapa cirri-ciri itu sama persis dengan putrinya yang ia buang dulu?
"ng… permisi paman." Naruto berjalan melewati Minato, menuju kea rah dapur. Meninggalkan Minato yang masih mematung.
"Kushina, apakah ini tandanya kau memaafkanku?" gumam Minato lirih, dia masih setia memandangi punggung Naruto yang menghilang di balik pilar besar di rumahnya. Meskipun masih menitikan air mata, tapi hatinya terasa sangat bahagia.
.
Saat Naruto kembali ke kamar Kyuubi membawa segelas air, ia tak menemuka Minato di sana, mungkin sudah kembali ke ruangannya. Naruto pun memasuki kamar Kyuubi, terlihat Kyuubi masih duduk di sofa seperti saat ia tinggalkan tadi.
"kak Kyuu, ayo minum dulu. Biar lebih tenang." Naruto menyerahkan segelas air putih ke Kyuubi.
"makasih Naru. Kamu nggak minum?" Tanya Kyuubi, sepertinya dia udah lebih tenang saat ini.
"nggak kak, masih belum haus kok. Kakak gimana? Udah lebih tenang kan?" Tanya Naruto, duduk di samping Kyuubi. Kyuubi mengangguk aja sebagai jawabannya.
'aku ngomong nggak ya, soal paman tadi?' batin Naruto bingung. Kyuubi yang menyadari Naruto tengah memikirkan sesuatu akhirnya bertanya.
"ada yang mengganggu di pikiranmu?"
"ah, nggak kok kak. Cuman, tadi aku kan belum ijin ayah. Takutnya beliau khawatir," dia jadi ingat akan hal itu. Bisa gawat kalau sampai ia membuat Iruka khawatir.
"kenapa nggak kamu telfon aja?" Naruto diam, bukannya dia malu, tapi dia merasa nggak enak mau bilangnya.
"kenapa, Naru?" Kyuubi penasaran akan diamnya Naruto, mau nggak mau Naruto harus menjawabnya juga.
"aku kan nggak punya ponsel kak. Ng, boleh pinjam telepon rumah kakak nggak?" ytanya Naruto. Meski nggak punya ponsel, tapi kan di rumah ada telepon.
"pake aja ini." Kyuubi menyodorkan gadgetnya ke Naruto. Ragu Naruto untuk menggunakannya, tapi karena Kyuubi seperti memaksanya, akhirnya ia menelpon rumah dengan gadget milik Kyuubi.
"…"
"gimana?"
"nggak di angkat, mungkin ayah lembur lagi." Naruto menyerahkan gadget milik Kyuubi, dia beranjak dari duduknya.
"mau kemana?" Kyuubi masih nggak rela kalau Naruto mau pulang sekarang.
"aku pulang dulu ya kak, udah sore nih. Lagi pula aku juga belum masak untuk ayah."
"aku antar ya. Tunggu sebentar." Kyuubi segera beranjak dan ganti baju, Naruto hanya menurut dan menunggu Kyuubi. Setelahnya ia hendak pamit ke Minato.
"udah nggak usah pamit sama dia." Cegah Kyuubi.
"tapi kan nggak sopan kak."
"biar aja, orang dia juga nggak tau kalau kamu disini." Dan itu membuat Naruto teringat akan pertemuannya dengan Minato tadi.
"sebenarnya tadi aku ketemu paman di depan kamar kakak." Jelas Naruto. Membuat Kyuubi menatapnya, meminta penjelasan.
"saat aku mau mengambilkan minum buat kakak tadi, paman sedang berdiri di depan kamar kakak, mungkin mau bicara sama kakak." Kyuubi hanya diam, lalu membawa Naruto menuju ke ruang kerja sang ayah.
"buruan pamit. Aku tunggu di mobil deh." Setelah bicara seperti itu, Kyuubi beranjak meninggalkan Naruto di depan pintu ruang kerja Minato.
Tok tok
Naruto mengetuk pintu ruangan itu, ingat kalau kita harus sopan di rumah orang.
"masuk." Jawab Minato dari dalam, setelah mendapat ijin, Naruto memasuki ruangan itu.
"ano… paman, saya permisi pulang dulu." Pamit Naruto sambil membungkukkan badannya dengan hormat. Minato menatapnya sejenak,
"iya, hati-hati. Diantar Kyuu kan?"
"iya paman, permisi." Setelahnya Naruto segera keluar dari ruangan itu. Meninggalkan Minato yang masih menatap pintu ruangannya dengan tatapan yang sulit diartikan.
"anak yang sopan." Gumamnya seraya tersenyum, senyum yang telah lama menghilang sejak kematian Kushina.
.
"makasih ya kak udah mau anterin aku sampe rumah." Kata Naruto, keluar dari mobil Kyuubi.
"aku yang seharusnya bilang makasih. Makasih ya Naru, udah mau main ke rumahku. Jangan kapok ya main ke rumahku lagi."
"iya kak. Ng, mau mampir makan malam kak?" tawar Naruto. Kyuubi langsung mengangguk setuju.
"tapi maaf nih sebelumnya, kalau nanti masakannya nggak seenak dan sesuai selera kak Kyuu. Ayo masuk dulu kak." Ajak Naruto, mulai memasuki rumahnya, diikuti Kyuubi.
Naruto mengajak Kyuubi ke ruang tamu, dan memintanya duduk, sedangkan ia ke kamarnya untuk berganti baju dan mengambil tas belanja.
"ne, aku tinggal belanja dulu nggak apa kan kak?"
"boleh aku ikut?" Tanya Kyuubi, Naruto tampak memikirkannya sejenak.
"tapi apa kakak nggak masalah?"
"yups. Jalan kaki kan?" Naruto mengangguk, lalu merekapun segera beranjak meuju ke pasar yang ada di dekat rumah Naruto.
Ini adalah kali pertama Kyuubi menjejakkan kakinya di pasar sederhana seperti ini. Dan dia merasa excited, bukan merasa jijik seperti yang Naruto bayangkan sebelumnya.
"kita mau masak apa hari ini?" Tanya Kyuubi, dengan semangat belanja yang luar biasa, maklum di rumah ia kan jarang sekali belanja kebutuhan dapur seperti ini.
"mmm.. sup miso dan ikan kering bagaimana? Atau kakak mau ramen miso buatanku?" mendengar kata 'buatanku' membuat Kyuubi semakin excited, tentu saja dia akan memilih ramen miso buatan Naruto.
"ramen miso!" dan acara belanja meekapun dimulai. Meskipun belanja adalah hal biasa bagi Naruto, tapi entah kenapa saat ia berbelanja bersama Kyuubi rasanya beda.
Kyuubi membeli banyak bahan, sayuran, buah-buahan, ikan segar, udang, kepiting, cumi-cumi, dan bumbu dapur lainnya. Naruto yang melihat hasil belanjaan Kyuubi hanya meneguk ludah.
'cukup nggak nih uangnya' batinnya cemas, jangan-jangan uangnya nggak akan cukup lagi.
"ayo pulang. Udah nih." Kyuubi menarik tangan Naruto, ternyata belanjaan yang Kyuubi beli udah di bayarnya sendiri.
"Eh? Kenapa kakak yang bayar sih?" protes Naruto, Kyuubi hanya cengengesan mendengar protesan Naruto.
"tenang aja, kan aku yang belanja. Lagi pula, kamu kan bayar belanjaanmu sendiri, dan ini belanjaanku. Tugasmu adalah memasak makan malam untukku dan ayahmu." Jelas Kyuubi, keliatan banget nggak mau kalah, Naruto pun hanya menghela napas lelah.
.
Mereka akhirnya tiba di rumah Naruto, dan mulai memasak makan malam. Karena bingung mau bantu apa, akhirnya Kyuubi hanya diam dan menonto Naruto dari belakang.
"Naru, mau aku bantu nggak?" Tanya Kyuubi untuk yang kesekian kalinya.
"hahh… kak Kyuu cuci ikan, udang, kepiting dan cumi-cuminya aja. Bisa kan?" Kyuubi mengangguk semangat dan segera menjalankan tugas yang di berikan untuknya.\
Saat mencuci ikan, itu bukan hal besar buat Kyuubi. Begitu juga saat mencuci cumi-cumi dan udang, tapi saat mencuci kepiting, tanpa sengaja jarinya tercapit sampai berdarah.
"aduh!" serunya, seraya melepaskan kepitingnya di dalam bak, Naruto yang mendengar seruan Kyuubi pun mendekat.
"ya ampun, kalau kakak nggak bisa mencuci kepiting, kenapa nggak bilang aja sih? Ayo aku obtain dulu." Kyuubi hanya mengangguk dan mengikuti Naruto.
.
.
.
.
Kyuubi serasa hidup bersama sang adik saat ia bersama Naruto, dan itu membuatnya bahagia. Begitu juga Naruto, dia jadi merasa seperti mempunyai seorang kakak.
Apa yang akan menanti mereka di kedepannya?
Tunggu chapter selanjutnya ya… [kalo ada banyak yang mereview, akan Kuu buat lagi deh lanjutannya.]
To be continued…
Mind to review?
See ya…
