Chap 10
"cih, menyebalkan…. Kenapa mereka harus selalu menempel sih?" gerutu Sasuke, kalau di anime atau manga, pasti diatas kepalanya telah mengepul asap saking emosinya. Sedangkan Itachi? Dia terlihat diam, bagaimanapun gadis pujaan hatinya kan tidak terlalu dekat dengan pemuda bersurai merah itu.
"hm, sebaiknya kau cepat menyatakan perasaanmu, otuotu. Setelah itu barulah kau bebas cemburu." Saran Itachi ini sama sekali tidak membantu Sasuke, yang ada malah membuat Sasuke semakin kesal dengan kakaknya ini.
"kau menyebalkan aniki. Kau tak tau bagaimana perasaanku. Coba saja kalau rubah itu yang dekat dengan laki-laki lain, pasti kau lebih parah dariku." Rutuk Sasuke kesal, dua bersaudara inimemang selalu bersikap di luar Uchiha kalau sudah bersangkutan dengan gadis pujaan hati mereka. Ucapak Sasuke berhasil membuat Itachi bungkam, adiknya itu memang benar.
"hah... kenapa kita jadi seperti penguntit begini ya. Nggak Uchiha banget." Demi mengalihkan perhatian, akhirnya putra sulung Fugaku itu membahas hal yang selama ini mereka lakukan.
A-K
Itik Buruk Rupa © Akuma-Kurama
Naruto © Masashi Kishimoto
Rate T
Drama, Family, little Romance
Chapter 10: The Truth part 1
Warn! Banyak sekali typo, cerita pasaran, femnaru, femkyuu, gaje, bahasa ambrul adul, nggak sesuai EYD dan bahasa Indonesia yang baik dan benar.
A-K: gomeeeeeeeeeen... minna-san. Kuu baru bisa update. alasannya karena dua faktor yang pertama karena kagak bisa login, dan kedua karena Kuu kena WB [WB apaan ya?] pokoknya ide yang menghilang.. hehe. jadi buat nebus kesalahan Kuu update 2 chapter, tapi yaa... nggak ada yang bisa diharapkan dari Kuu. word nya thu ya cuma segitu-segitu aja. nggak bisa ningkatin. karena faktor alur cerita juga sih. saa...
Happy Reading Minna..
A-K
"yatta..! akhirnya robot buatanku sendiri sudah selesai..." seru Naruto senang, dan lagi-lagi secara reflek Naruto memeluk Sasori dengan girang.
"hmm.. kamu hebat…" puji Sasori tulus, reflek dia juga balas memeluk Naruto, mengusap lembut punggu gadis kecil tersebut. Sifat kekanakan Naruto memang sangat menggemaskan dimata Sasori.
"senpaii…. Arigato na…. senang sekali rasanya. Senpai benar-benar pandai mengajariku." Setelah meluapkan semua rasa senangnya, Naruto mengambil robot hasil karyanya, lalu mulai mencoba untuk menerbangkannya.
"bukan aku, tapi kamulah yang cerdas, Naruto. Untuk ukuran pemula sepertimu, waktu seminggu termasuk kedalam waktu singkat. Benar-benar hebat." Puji Sasori lagi. Dia mengacak surai pirang Naruto dengan lembut, membuat wajah tan imut itu merona malu. Bahkan jantungnya berdetak dengan keras.
"senpai…. Jangan terlalu memujiku..." protes Naruto, walaupun dia senang dipuji oleh pemuda yang disukainya.
"hmm, kamu pantas untuk dipuji. Nah, mau makan sesuatu?" ajak Sasori, Naruto mengangguk dan menyimpan robot hasil karyanya tersebut ke dalam tempat khusus yang telah disediakan Sasori, kemudian disimpannya ditempat penyimpanan milik Sasori.
A-K
"Sasori-senpai... arigatou..."
"hm? Untuk apa? Bukankah tadi sudah berterima kasih?"
"uhm, terima kasih untuk waktu seminggu yang senpai luangkan. Aku senang sekali bisa merakit sebuah robot bersama senpai." Senyum senang dari tadi tak lepas dari wajah manis Naruto.
"sama-sama Naru. Aku juga senang, karena ada gadis kecil yang tertarik dengan robot sepertimu." Lagi-lagi, Sasori mengacak surai pirangnya.
"ish... siapa yang gadis kecil? Jangan acak-acak rambutku terus senpai..." rengek Naruto, tapi Sasori malah semakin mengacak rambut Naruto gemas.
"kau kan memang masih gadis kecil. Gadis kecil yang cerdas." Mereka berdua tertawa bersama. Ini adalah pertama kalinya Sasori tertawa lepas dan merasa rileks, ucapkan terima kasih pada gadis kecil disampingnya ini.
"senpai selalu saja memujiku… jangan membuatku tersanjung senpai..."
"ah, gomen kalau kamu tidak suka. Hm, aku pergi dulu, ada mata kuliah yang harus kuikuti sekarang" Sasori pamit, dia sekali lagi mengusap rambut Naruto lembut, lalu beranjak meninggalkan Naruto.
"tapi... kalau senpai selalu membuatku tersanjung... bisa-bisa aku benar-benar jatuh cinta pada senpai..." lirih Naruto, diusapnya rambut yang tadi diacak Sasori, sebuah senyum manis terukir diwajah tan miliknya.
"Naru-chan? Ada apa? Mana Sasori?" tanya Kyuubi yang baru saja datang menghampiri Naruto.
"Sasori-senpai ada mata kuliah yang harus diikuti. Ne, nee-chan... aku berhasil membuat robotku." lapor Naruto, wajahnya yang berseri-seri membuat Kyuubi ikut senang.
"syukurlah... aku senang mendengarnya.. jadi mana robot itu?" tanya Kyuubi, mencari-cari keberadaan robot yang Naruto rakit.
"disimpan di tempat yang aman. Nanti saja kalau nee-chan mau melihatnya, kita tunggu Sasori-senpai.."
"hey sayang.. kamu benar-benar menyukai pemuda itu ya?" tanya Kyuubi. Dia mendudukan dirinya disamping Naruto,
"uhmm.. iya nee-chan. Entah kenapa rasanya senang sekali bisa menghabiskan waktu bersama Sasori-senpai... apa perasaanku ini salah?" tanya Naruto. Secerdas apapun dirinya, Naruto tetaplah gadis kecil berusia 15 tahun, yang masih sangat polos tentang perasaan cinta.
"perasaan itu tidak salah sayang… hanya saja kamu harus bisa mengendalikan perasaan tersebut. Oh ya, Tou-san memintamu datang untuk makan malam nanti, bersama Iruka-san juga. Kamu bisa datang kan?" Naruto mengangguk, lalu obrolan mereka pun berlanjut seputar keseharian yang dilalui Naruto selama merakit robot.
A-K
Malam ini, Naruto dan Iruka bertandang ke kediaman keluarga Namikaze. Suasana makan malam di kediaman Namikaze terasa berbeda dari malam-malam sebelumnya. Karena biasanya ruang makan hanya berisi dua orang saja, Minato dan Kyuubi.
"terima kasih atas makan malamnya..." ucap Naruto dan Kyuubi serempak, diikuti Minato dan Iruka.
"oh ya Iruka-san, aku pinjam Naru dulu ya.. ayo Naru ikut aku." Ajak Kyuubi, dia bahkan sudah menarik lengan Naruto untuk mengikutinya menuju lantai dua, dimana kamarnya berada.
"bukankah mereka berdua terlihat sangat dekat, seperti kakak adik." Ucap Minato, membuka percakapan yang menjadi tujuan utamanya mengundang Naruto dan Iruka.
"anda benar, Minato-san. Naruto dan Kyuubi sangta akrab, bahkan saya sedikit heran dengan Naruto, karena anak itu bukanlah tipe anak yang mudah bergaul." Sahut Iruka, masih melihat kearah dimana Kyuubi dan Naruto menghilang tadi. Kini diruang makan hanya ada Minato dan Iruka, ditemani sepoci teh hijau serta sepiring cookies yang telah disediakan pelayan.
"bicara tentang kakak beradik…. Ada hal yang ingin kupastikan Iruka-san, karena itulah aku mengundang kalian kemari." Mendengar penuturan sang kepala keluarga Namikaze, Iruka langsung memperhatikan Minato.
"maksud anda?"
"dulu aku pernah membuat sebuah kesalah besar yang tak akan pernah terlupakan. Hanya gara-gara emosi sesaat yang kualami karena istriku meninggal dunia, aku tega membuang putriku sendiri ke panti asuhan. Karena hal itu, Kyuubi sempat marah dan hampir saja pergi meninggalkanku, kemudian setelah ditemui mendiang istriku dimimpi, membuatku kembali sadar dan berusaha keras untuk mencari putriku. Tapi ternyata Kami-sama sangat adil, jadi aku seperti terkena hukuman dari-Nya. Tentu saja aku putus asa, tapi kemudian, Naruto muncul."
"dan anda berfikir kalau Naruto adalah putri anda yang anda tinggalkan di panti asuhan?" potong Iruka.
"benar. Bukankah Naruto berasal dari panti asuhan?"
"sayangnya Minato-san, Naruto bukanlah dari panti asuhan. Saya menemukan Naruto ditepi jalan didekat kedai ramen." Jawaban Iruka tentu saja membuat Minato sangat terkejut. Dia sangat yakin kalau Naruto adalah putrinya, tapi kenapa Iruka menemukan Naruto ditepi jalan?
"tapi, aku tetap ingin membuktikan bahwa Naruto adalah putriku, apakah kau memberi ijin untuk melakukan tes DNA, Iruka-san?"
"andai saja memang benar bahwa Naruto adalah putri anda, kenapa anda begitu tega membuang darah daging anda sendiri di tepi jalan seperti itu, Minato-san?" pertanyaan Iruka menohok Minato. Dia benar-benar merasa bersalah, tapi mana mungkin dirinya tega membuang bayi yang masih begitu kecil ditepi jalan?
"kau salah paham Iruka-san. Aku sangat yakin kalau putriku kuletakkan tepat didepan pintu asuhan, bahkan aku memastikan kalau putriku telah digendong masuk ke dalam panti asuhan tersebut." Jawab Minato.
"kalau begitu, mana mungkin Naruto adalah putri anda, Minato-san." Tandas Iruka.
"meskipun begitu, aku hanya ingin memastikan bahwa instingku selama ini benar atau salah. Bahkan Kyuubi juga memiliki firasat kalau Naruto adalah adik kandungnya."Iruka hanya menghela napas lelah, bagaimanapun dirinya menyanggah, kepala keluarga Namikaze ini sangatlah keras kepala. Namun apa salahnya memberikan ijin? Dan juga semua keputusan ada ditangan putrid angkatnya itu.
"baiklah, tapi keputusan tetap ada ditangan Naruto. Tergantung Naruto, apakah dia mau melakukan tes DNA atau tidak. Kita tidak bisa memaksa."
"ya. Aku yakin, Kyuubi pasti akan membuat Naruto setuju dengan tes DNA ini." Minato terlihat tersenyum sumringah. Dan dapat Iruka pastikan bahwa ini adalah sebuah kebahagiaan besar bagi Minato, padahal hasil tesnya saja belum jelas.
A-K
Dikamar sebuah kamar yang berhiaskan warnah orange dan hitam, terdapat dua gadis yang sedang asik membaca sebuah majalah tentang robot yang tadi dibeli Kyuubi, ya kamar itu adalah kamar milik Kyuubi. Naruto tiduran di karpet bulu yang terlihat elegan dan terasa sangat lembut, pasti harganya sangat mahal, sedangkan Kyuubi duduk bersandar pada bagian bawah ranjang, disamping Naruto.
"ne Naru… kamu tau, aku mempunyai sebuah firasat yang sangat kuat." Sembari membuka-buka majalah ditangannya, Kyuubi mulai berbicara.
"firasat tentang apa? Apakah firasat buruk?" sahut Naruto, menghentikan bacaannya dan duduk bersandar, seperti Kyuubi.
"bukan, melainkan sebuah firasat baik. Kau tau, kalau firasatku ini tidak pernah meleset. Apa kau mendengarnya?" Naruto mengangguk antusias, sepertinya rencana Kyuubi akan berjalan lancar.
"aku merasa kalau kau adalah adik kandungku yang pernah hilang. Entah kenapa hatiku sangat yakin akan hal itu." Naruto diam memperhatikan Kyuubi, emnunggu kelanjutan cerita Kyuubi. Tapi ternyata mereka sama-sama diam selama beberapa saat.
"Naru?"
"ya?"
"jadi..."
"lanjutannya? Apa hanya begitu saja nee-chan?"
"ah, ahahaha…. Maaf, hanya itu saja. Aku hanya mau memastikan kalau kamu benar-benar adikku, jadi... kau mau melakukan tes DNA tidak?" dengan tawa garing, Kyuubi menjelaskan maksud sebenarnya.
"uhm… baiklah. Tapi kenapa nee-chan bisa sangat yakin kalau kita saudara sekandung?"
"kan sudah kubilang, kalau aku mempunyai firasat yang kuat. Apa kamu juga tidak merasakannya?" tanya Kyuubi, Naruto diam terpekur, memikirkan ucapan Kyuubi. Kalau diingay lagi, dia memang bersikap sedikit aneh jika bersama Kyuubi, seperti memiliki seorang kakak.
"humm... iya sih. Aku juga merasa seperti mempunyai kakak." Kyuubi tersenyum mendengar jawaban Naruto, dia memeluk gadis disampingnya dengan penuh sayang.
"dan aku sangat berharap kalau kita benar-benar saudara kandung." Naruto diam, tapi dia membalas pelukan Kyuubi. Lalu mereka berdua terlarut dalam obrolan yang menarik, andai saja Iruka tidak memanggil Naruto, mungkin dua gadis manis ini akan betah semalam suntuk membahas obrolan mereka.
A-K
Satu minggu telah berlalu, kini tinggal menunggu hasil tes yang akan keluar beberapa saat lagi. Dirumah sakit Konoha, Minato dan Kyuubi menunggu dengan perasaan was-was. Disana juga ada Naruto dan Iruka yang terlihat lebih tenang.
"Namikaze-san. Ini hasil tes DNA anda. Mau dibacakan oleh dokter atau anda sendiri yang membacanya?" kata seorang perawat yang baru saja keluar dari ruang laboratorium, bersama seorang dokter muda yang ada dibelakangnya.
"biarkan dokter saja yang membacanya."
"baiklah… hasil tes menunjukan bahwa…."
.
.
.
.
.
To be Continued….
Review please…?
A-K
