Itik Buruk Rupa
Chap 11: The Truth part 2
.
Naruto © M-K
Itik Buruk Rupa © A-K
Rate T
.
.
.
"Namikaze-san. Ini hasil tes DNA anda. Mau dibacakan oleh dokter atau anda sendiri yang membacanya?" kata seorang perawat yang baru saja keluar dari ruang laboratorium, bersama seorang dokter muda yang ada dibelakangnya.
"biarkan dokter saja yang membacanya."
"baiklah… hasil tes menunjukan bahwa…."
.
.
Itik Buruk Rupa.
.
.
"hasil tes menunjukan bahwa DNA Namikaze-sama dengan Naruto-san cocok. Hasilnya positif" jelas dokter tersebut, membacakan hasil tes yang dijalani Minato dan Naruto. Tentu saja hal tersebut disambut senang oleh Kyuubi dan Minato. Kyuubi langsung memeluk Naruto dengan erat, menyalurkan rasa sayang sekaligus senang diwaktu bersamaan.
"ternyata firasatku selama ini benar! Kau benar-benar adikku, Naru!" seru Kyuubi senang, sedangkan Naruto yang dipeluk Kyuubi hanya diam saja.
"Naruto-chan... putriku..." Minato ikut memeluk Naruto, yang otomatis memeluk Kyuubi juga. Memeluk penuh dengan kasih sayang yang terluapkan. Iruka yang melihat adegan tersebut terdiam, ada perdebatan didalam hatinya, antara senang dan juga kecewa. Senang karena akhirnya dia tau siapa keluarga sebenarnya Naruto dan juga ternyata keluarga kandungnya sangat menayayanginya, tapi dia juga kecewa karena sikap Minato yang dulu tega membuang Naruto.
"Naru..? kenapa diam saja? Bukankah kamu senang?" tanya Kyuubi khawatir, karena dari tadi Naruto hanya diam saja.
"aku senang kok... ya, aku senang karena ternyata aku masih punya keluarga kandung di dunia ini. Tapi aku tidak bisa begitu saja meninggalkan ayahku, mau bagaimanapun juga, dialah yang telah merawatku, menyayangiku dan memberikan sebuah kehangatan keluarga yang sangat kubutuhkan sejak kecil. Jadi rasanya ayah Iruka saja sudah cukup untukku, tidak butuh keluarga lain lagi karena ada ayah Iruka." Penolakan halus Naruto ini membuat gurat bahagia yang tadi terpampang diwajah Kyuubi dan Minato menghilang begitu saja.
"jadi... kamu tidak mau mengakuiku dan ayah?"
"bukan begitu kak Kyuu... hanya saja… aku ragu untuk menerima kalian... apakah benar kalian sayang padaku? Atau tidak." Baik Minato maupun Kyuubi merasa kaget mendengar penuturan Naruto ini. Bagaimana mungkin gadis pirang ini berpikir kalau mereka tidak menyayangi Naruto. Tapi mengingat bagaimana Naruto sampai terpisah dari keluarga aslinya, Kyuubi terdiam. Benar, wajar bagi naruto berpikir kalau kasih sayang yang ia dan Minato berikan adalah palsu, karena kesalahan yang mereka perbuat dimasa lalu.
"Naruto... jangan bicara seperti itu kepada keluarga kandungmu, nak." Tegur Iruka. Ayah angkat Naruto ini memang bijak, meskipun dia juga kesal tapi Iruka tetap berpikir positif.
"maaf ayah..." ujar Naruto lirih dengan kepala menunduk. Iruka menepuk pelan kepala pirang tersebut, lalu menatap kearah Minato.
"jadi, Minato-san mau melakukan apa setelah tau kalau Naruto adalah putrimu?"
"ah, aku ingin mengajaknya tinggal bersama kami. Aku ingin menebus semua kesalahanku yang telah kuperbuat selama 15 tahun ini" aku Minato. Dia merasa seperti diadili de depan hakim.
"untuk masalah itu… tanyakan saja langsung pada Naruto, Minato-san." Jawab Iruka kalem. Meskipun begitu terbesit rasa sedih di hati Iruka, mana rela dia melepaskan putri yang sudah selama 15 tahun ini dia rawat dan sayangi selayaknya putri kandungnya sendiri, tapi kalau Naruto menginginkan untuk tinggal bersama keluarga kandungnya, maka dia tidak bisa berbuat apa-apa, lagipula Naruto juga butuh untuk tinggal bersama keluarga kandungnya bukan.
"aku tidak mau tinggal bersama kalian. Aku nyaman tinggal bersama ayah." Belum juga Minato bertanya pada putri bungsunya, tapi naruto sudah lebih dulu menegaskan penolakannya.
"Naru... kenapa kau menolak tinggal bersama kami? Jangan hukum kami seperti ini..." pinta Kyuubi memelas, dia benar-benar tidak tahan kalau harus tinggal terpisah lagi dengan Naruto. Naruto hanya diam dan berlalu pergi.
"Naruto..." panggil Iruka lirih, tapi gadis pirang yang dipanggil tidak merespon dan tetap berjalan pergi.
"maafkan sikapnya. Mungkin Naruto masih berat untuk menerima kenyataan ini. Harap kalian maklum, aku akan mencoba untuk membujuknya. Permisi." Setelah melihat putrinya menghilang di ujung koridor, Irukapun pamit pada keluarga Namikaze yang masih mematung ditempat.
.
.
Itik Buruk Rupa
.
.
"kamu benar-benar tidak mau memperhitungkan untuk tinggal bersama ayah dan kakak kandungmu, Naruto?" tanya Iruka lagi, saat ini Naruto dan Iruka tengah menikmati makan malam.
"nggak. Aku tetap pada pendirianku ayah. Aku sudah nyaman kok tinggal bersama ayah, jadi buat apa aku tinggal bersama mereka."
"tapi mereka keluargamu nak, keluarga kandungmu. Ayah nggak suka melihat anak ayah membenci orang lain seperti ini" tegur Iruka, dia sedikit kesal juga dengan sikap kekanakan Naruto, tapi apa mau dikata, Naruto kan memang masih anak-anak.
"aku nggak membenci mereka kok. Aku hanya nggak mau meninggalkan ayah sendirian. Itu saja. Apa ayah nggak suka kalau aku tinggal bersama ayah?" pertanyaan Naruto ini tak pelak mengenai hati Iruka. Tidak, bukan berarti Iruka menolak ataupun ingin mengusir Naruto dari rumah, toh ini juga rumah milik Naruto, tapi dia hanya tidak mau kalau dilihat sebagai orang yang tidak berperasaan, karena memisahkan Naruto dari keluarga kandungnya.
"bukan begitu sayang. Ayah sangat senang karena Naruto lebih memilih tinggal bersama ayah, tapi apa Naruto nggak kasihan dengan Minato-san dan Kyuubi? Mereka keluarga kandungmu, dan mereka hanya berusaha untuk menebus semua kesalahan yang pernah mereka lakukan dimasa lalu." Jelas Iruka. Naruto anak yang cerdas, dan dia paham apa yang dimaksudkan ayahnya ini, tapi Naruto hanya ingin mempertahankan keluarganya, mempertahankan sosok Iruka sebagai ayahnya selama hidupnya ini, dan tidak mau menyandingkannya dengan hal lain, termasuk keluarga kandungnya sendiri.
"tapi aku nggak mau meninggalkan ayah sendiri. Kalau disuruh memilih, maka aku akan memilih ayah." Jawab Naruto final, membuat Iruka menghela napas lelah.
"ayah juga nggak mau berpisah denganmu sayang. Bagaimana kalau kamu tinggal bersama keluarga Namikaze selama satu minggu, lalu satu minggu kemudia kamu tingan bersama ayah, begitu seterusnya. Bagaimana? Bukankah ini pilihan yang lebih baik? Tentu saja Naru boleh mengunjungi ayah selama satu minggu kamu tinggal bersama keluarga Namikaze. Rumah ini akan selalu terbuka untukmu nak." Tawar Iruka memberikan saran, pilihan ketiga memang selalu menjadi jalan tengah yang baik. Terbukti dengan keterdiaman Naruto.
"boleh begitu ya? Tapi bagaimana kalau nanti Minato-san dan kak Kyuu nggak memperbolehkanku untuk mengunjungi ayah? Bagaimana kalau mereka nggak memberiku ijin untuk tinggal seminggu dengan ayah? Bagaimana kalau mereka nggak menyetujui usulan ayah ini?" tanya Naruto beruntun, terlalu banyak bagaimana yang membuat Iruka tersenyum maklum dengan rasa paranoid putrinya ini.
"dengar sayang, mereka pasti menerima saran ayah, kalau mereka benar-benar ingin menebus kesalahan mereka. Tergantung bagaimana keputusanmu, kalau Naru menerima usulan ayah, maka ayah akan mengabari Minato-san."
"uhmm... tapi ayah, aku nggak mau margaku diganti…" rengek Naruto, ah sepertinya usulan Iruka tadi disetujuinya.
"kalau untuk marga... akan lebih baik kalau kamu menggunakan marga aslimu nak. Bagaimanapun Namikaze adalah keluarga aslimu."
"tapi aku lebih suka marga yang ayah berikan, lagipula aku kan sudah menjadi anak ayah di catatan sipil." Kilah Naruto.
"baiklah... besok kita bicarakan masalah ini dengan Minato-san. Dan Naru, tolong kamu biasakan untuk memanggil Minato-san dengan sebutan ayah. Mengerti?"
"kenapa harus begitu?"
"jangan menyakiti hati orang lain sayang. Bukankah ayah sudah mengajarkan hal itu dari dulu? Apa Naru mau membuat hati Minato-san terluka? Karena anak kandungnya sendiri nggak mau memanggilnya ayah?" mendengar penuturan Iruka, membuat Naruto mem-pout-kan pipinya lucu.
"iya, iya... Naru usahakan deh." Dengan itu makan malam keluarga kecil tersebut berakhir, Naruto membereskan semua peralatan makan lalu segera pergi tidur setelah disuruh sang ayah.
.
.
Itik Buruk Ruoa
.
.
"begitukah? Syukurlahh... aku sama sekali nggak masalah dengan persyaratan yang diajukan Naruto sama sekali, asalkan dia sudah mau menerima kami." Ucap Minato penuh rasa syukur. Setelah tadi Iruka menghubunginya untuk bertemu dan membahas masalah ini.
"Minato-san tinggal berusaha untuk membuat Naruto dapat menerima kalian sepenuhnya. Tapi kalau Naruto sampai bersedih, maka jangan salahkan saya kalau saya memisahkan kalian dari Naruto." Tegas Iruka. Katakana Iruka berani mengancam kepala keluarga Namikaze, memang benar, apapun akan ia lalui untuk melindungi senyuman di wajah putri angkatnya.
"kau tenang saja Iruka-san. Aku akan menjaga dan menyayangi Naruto sepenuh hatiku. Aku akan menebus semua kesalahanku dengan mencurahkan kasih sayang yang kumiliki untuk putriku." Menangkap nada yakin dari ucapan Minato barusan membuat hati Iruka lega.
"jadi mulai kapan Naruto akan tinggal bersama kami?" tanya Kyuubi. Terlihat jelas raut gembira dan berharap dari gadis yang biasanya bertampang dingin ini.
"kalau masalah itu, mungkin minggu depan."
"baiklah, terima kasih karena telah membujuk Naruto, Iruka-san dan juga terima kasih karena telah menjaga dan merawat Naruto selama ini."
"untuk masalah itu, memang sudah menjadi kewajiban saya, Minato-san. Oh iya… Naruto meminta, untuk masalah marga, dia nggak mau marganya diganti."pernyataan Iruka membuat Minato maupun Kyuubi berjengit heran.
"kenapa? Dia bagian dari keluarga Namikaze, kenapa dia menolaknya?" Kyuubi langsung menyuarakan apa yang dia pikirkan.
"anak itu bilang, karena sejak kecil sudah memakai marga milik saya. Kalau boleh saya sarankan, akan lebih baik jika kalian mengganti marganya saat dia benar-benar sudah mau menerima kalian sepenuhnya." baik Minato maupun Kyuubi terlihat memikirkan usulan Iruka sejenak.
"ya, sepertinya itu adalah jalan terbaik. Sekali lagi, terima kasih banyak Iruka-san. Kami benar-benar berhutang banyak padamu." Ucap Minato, sebelum akhirnya mereka mengakhiri pertemua kecil tersebut. Iruka pamit karena masih ada pekerjaan yang menunggunya, begitu juga dengan Minato. Sedangkan Kyuubi lebih memilih pergi ke kampus untuk menemui sang adik tercinta.
.
.
Itik Buruk Rupa
.
.
To be continued...
