Itik Buruk Rupa

Chapter 12

Naruto by Masashi Kshimoto

Itik Buruk Rupa by Akuma-Kurama

Rate T

Romance, little bit family

Warn: fem!naru, OOC, typo. Bahasa tidak baku.

A/N: mungkin mulai dari sini, kuu akan tampilin sedikit lebih banyak genre romancenya. Dan yah, mungkin Itik Buruk Rupa akan tamat dalam beberapa chap kedepan. Yang jelas kuu nggak akan buat cerita ini sampai cahpter 20 kok. Hehe.

.

.

Itik Buruk Rupa

.

.

Saat sedang berjalan di taman kampus, tiba-tiba ada yang menubruknya dari belakang, tentu saja itu membuat Naruto terkejut bukan main.

"Naru-chan..." panggil orang yang tadi menabrak sekaligus memeluk Naruto, yang sepertinya Naruto sudah tahu siapa pemilik suara tersebut.

"kakak... ada apa?" tanya Naruto, membenahi letak kacamatanya yang hampir saja terjatuh gara-gara pelukan maut Kyuubi.

"hehe... nggak kok, cuma senang aja karena mulai minggu depan kita bisa satu rumah." Jawab Kyuubi dengan nada riang, untung saja taman saat ini lumayan sepi karena kegiatan perkuliahan masih dimulai sekitar 2 jam lagi, kalau tidak pasti banyak mahasiswa yang shock melihat tingkah Kyuubi yang sangat Out Of Character ini.

"oh, begitu. Kupikir ada apa." Sahut Naruto, lebih terdengar dingin dari pada cuek. Tentu saja hal tersebut membuat Kyuubi mengernyit heran, kenapa adiknya yang manis saat ini berubah menjadi dingin.

"ada apa? Apa kamu nggak suka tinggal bersama kami?" tanya Kyuubi, mulai melepaskan pelukkannya.

"nggak juga kok. Cuma sedang malas saja."

"ada masalah?" Naruto diam sejenak, memikirkan akan menjawab apa.

"iya, akhir-akhir ini Sasori-senpai jarang terlihat dikampus. Apa Sasori-senpai sakit ya? Aku cemas kak." Kyuubi mengusap kepala Naruto pelan, maklum dengan sikap Naruto yang mencemaskan Sasori, memang selama adiknya ini mengenal Sasori, mereka berdua terlihat akrab dan sering bersama.

"mungkin saja dia sibuk, kenapa nggak coba menghubunginya aja?" Naruto menggeleng pelan.

"nggak mau. Aku takut." Lagi-lagi Kyuubi mengusap pelan kepala adiknya ini. Dasar anak kecil, batin Kyuubi.

"mau kuhubungi dia untukmu?" tawar Kyuubi, Naruto yang awalnya menunduk langsung mendongak menatap Kyuubi.

"benarkah kak Kyuu mau?" ada sedikit nada antusias di pertanyaan Naruto tadi, membuat senyum Kyuubi terlihat.

"tentu saja. Bagaimana?" Naruto mengangguk dengan segera, seulas senyum cerah terpampang diwajah manis Namikaze bungsu tersebut. Kyuubi mengeluarkan ponselnya, lalu mulai men-dial nomer yang beberapa hari lalu tersimpan di phone box miliknya.

/moshi-moshi?/

"Sasori? Dimana kau sekarang?"

/ini siapa?/

"Kyuubi."

/oh kau Kyuu, aku di Suna, ada urusan keluarga. Ada apa?/

"Suna? Sejak kapan?"

/sejak seminggu lalu. Memangnya kenapa?/

"hahh... Naruto mencarimu. Dia pikir kau sakit. Lalu kapan kau akan kembali?"

/eh? Naru mencariku? Kenapa tidak menelponku saja? Hmm... mungkin besok aku sudah kembali ke kampus./

"ah kalau masalah itu... Naruto takut menghubungimu." Bisik Kyuubi di kalimat akhirnya.

/begitukah? Haha, bisa aku bicara dengannya?/ Kyuubi melirik kearah Naruto, seolah berkata apakah gadis pirang tersebut mau bebicara dengan Sasori atau tidak. Naruto menggeleng panik, entah karena apa Naruto terlihat panik dengan wajah yang merona.

"sepertinya dia tidak mau bicara denganmu." Kyuubi menyeringai, sebenarnya kalimat yang Kyuubi lemparkan ini adalah kalimat biasa yang menyatakan keputusan Naruto apa adanya, tapi dia tahu bahwa Sasori akan menanggapinya dengan berbeda.

/eh? Kenapa? Apa dia marah padaku? Atau Naruto membenciku?/ tuh kan benar, memang sangat menyenangkat mengerjai orang yang sedang jatuh cinta seperti mereka ini. Tapi karena Kyuubi tidak mau mengerjai adiknya, maka Sasorilah yang menjadi sasaran Kyuubi.

"entahlah, kau tanyakan sendiri saja. Mungkin dia marah karena kau pergi tanpa pamit dan tanpa kabar." Sifat jahil Kyuubi mulai bangkit, sepertinya akan ada kejadian menarik sebentar lagi.

/jangan bercanda Kyuu! Berikan ponselmu pada Naruto, aku ingin bicara dengannya./ perintah Sasori tidak sabaran. Keluar dari sifat aslinya deh. Kyuubi menahan tawanya. Benar-benar hiburan yang menarik.

"tadi kan sudah kubilang, dia tidak mau bicara denganmu." Kyuubi melirik kearahNaruto yang terlihat gelisah duduk di bangku taman, beberapa langkah dari Kyuubi berdiri.

/sudah berikan saja ponselmu, rubah!/

"enak saja kau memerintahku. Kenapa kau nggak menelpon dirinya saja sih."

/kalau aku punya nomer ponselnya, sudah pasti kutelpon dia dari kemarin, baka./ Kyuubi tertawa mengejek.

"kau memang jenius dalam hal merakit dan merancang robot, Akasuna. Tapi dalam hal cinta kau benar-benar payah ya." Ejek Kyuubi, sebuah geraman kesal terdengar diseberang sana, membuat tawa Kyuubi meledak.

/cih, awas kau Kyuu...tutt...tutt../ dan sambungan telponpun diputus Sasori, menyisakan Kyuubi yang masih tertawa lepas.

"kak Kyuu, kenapa?" Naruto mendekati Kyuubi yang masih tertawa sambil memegangi perutnya, entah kenapa mendengar suara kesal Sasori menjadi hiburan tersendiri baginya. Andai saja saat ini Sasori ada dihadapannya, mungkin pemuda Akasuna itu sudah memukul dirinya sekarang.

"ahh... nggak kok. Oh ya, kamu udah makan? Mau makan bareng nggak?" ajak Kyuubi, sepertinya Namikaze sulung ini nggak akan menceritakan tentang ke-Out Of Character-an yang baru saja ditunjukan Sasori.

"uhm... boleh. Anoo... jadi bagaimana kak? Apa Sasori senpai baik-baik saja?" Kyuubi tersenyum, tapi dirinya hampir saja kelepasan tertawa saat mengingat bagaimana sikap Sasori tadi.

"dia baik kok. Sangat baik malah, sekarang sedang ada di Suna, ada urusan keluarga." Naruto terlihat menghela napas lega saat mendengar jawaban Kyuubi.

"ayo kekantin. Biar kutraktir ramen." Mendengar kata traktir ramen, Naruto langsung semangat dan menatap Kyuubi dengan mata berbinar-binar.

"benarkah? Horeee!" seru Naruto senang, ahh gampang sekali membujuk gadis manis ini. Kyuubi menarik kedua pipi Naruto dengan gemas.

"pantas saja pipimu gembil begini, kalau makanan terfavoritmu adalah ramen."

"auww... shwakwit kwak..." rengek Naruto, karena tak tahan dengan rengekan sang adik, Kyuubi melepaskan tarikannya dan ganti mencubit hidung Naruto gemas.

"adikku ini manis sekali sih. Ayo." Sambil mengusap kedua pipinya, Naruto berjalan mengikuti Kyuubi menuju ke kantin.

.

.

Itik Buruk Rupa

.

.

"Naru-chan..." sapa Uzumaki bersaudara, Menma dan Nagato. Dua pemuda Uzumaki ini duduk di samping kiri dan kanan Naruto. Tidak memperdulikan delikan tajam dari Kyuubi.

"senpai.. ada apa?"

"nggak kok. Hari ini Naru-chan nggak bawa bekal?" tanya Nagato, karena Naruto jarang datang ke kantin.

"nggak senpai, nggak sempat buat tadi."

"kalaupun Naru bawa bekal, pasti kalian hanya ingin memintanya saja kan? Jadi lebih baik kalau Naru nggak usah bawa bekal saja." Sahut Kyuubi.

"kenapa jadi kau yang sewot Kyuu. Toh Naru-chan juga nggak masalah kok berbagi bekal dengan kami."

"itu karena Naru terlalu baik. Lagian kalian ini kan punya uang, dirumah juga ada pelayan. Kenapa nggak minta dibuatkan bekal saja coba."

"kau ini sirik aja." Debat Menma, membantu saudaranya.

"yee... siapa juga yang sirik, kalau mau makan makanan buatan naruto, aku bisa datang berkunjung kerumahnya." Sahut Kyuubi nggak mau kalah. Naruto hanya memperhatikan pertikaian kecil yang terjadi antara saudara sepupu tersebut.

"itu berarti kau sama sekali nggak ada bedanya dengan kami kan."

"tentu saja beda, aku kan bantuin dia masak. Sedangkan kalian hanya makan saja bisanya."

"kalau begitu... Naru-chan, biarkan kami membantumu membuat bekal. Boleh kan?" tanya dua bersaudara itu kompak, Naruto tersenyum dan mengangguk menyetujui usulan Menma dan Nagato. Menuai teriakan senang dan tatapan protes dari Kyuubi.

"jangan mau Naru. Yang ada nanti dapur jadi berantakan." Ucap Kyuubi. Mendapat delikan kesal dari Menma dan Nagato. Lalu tawapun pecah dikumpulan empat bersaudara itu. Membuat dua pasang mata yang sedari tadi memperhatikan Namikaze bersaudara ini mendecih sebal.

.

.

Itik Buruk Rupa

.

.

"cih. Menyebalkan."

"kalau kau mau, kenapa kau nggak mendekatinya saja?"

"jangan menasehatiku, kau saja pengecut."

"hey, jangan mengatai kakakmu sebagai pengecut, dasar adik bodoh."

"lalu apa? Kau ini suka padanya, tapi malah bersikap menjadi lelaki yang dibencinya."

"nggak ada bedanya denganmu kan. Kau juga bersikap menyebalkan dihadapan gadis yang kau sukai, Sasuke."

"diam kau Itachi. Si dobe itu saja yang terlalu bodoh karena nggak menyadari perasaanku."

"kuberitahu kau satu hal ya Sasuke, gadis setipe Naru-chan itu adalah gadis polos, apalagi melihat usianya yang masih muda. Kalau kau nggak berinisiatif untuk mendekatinya, maka jangan salahkan aku kalau dia menjadi milik Sasori." Kata Itachi memberi peringatan pada Sasuke.

"Sasori?"

"ya, kau itu bagaimana sih? Kau nggak lihat ya tatapan Naru-chan pada Sasori?" mengerti arah pembicaraan Itachi, Sasuke segera pergi dari tempatnya berada.

"daripada memikirkan sikapku, kau juga sebaiknya hati-hati. Rubah kesayanganmu itu bisa hilang." Balas Sasuke.

"tenang saja, dia nggak akan hilang dari genggamanku, adik kecil." Seringaian yang terpampang diwajah Itachi membuat Sasuke mendecih tidak suka, kakaknya itu memang selalu mendapatkan apa yang dia mau. Tapi bukan berarti dirinya tidak bisa seperti itu. Seorang Uchiha akan selalu mendapatkan apa yang dia mau.

.

.

Itik Buruk Rupa

.

.

To be continued...

Yaak! Akhirnya chap 12 selesai, Kuu ngebut buat chap ini. Barengan sama buat yang the half-vampire chap 4. Tapi sekali lagi kuu minta maaf, buat Itik Buruk Rupa, wordnya nggak akan kuu buat diatas 2k ataupun dibawah 1k. jadi buat kalian yang minta dipanjangi, kuu menyesal karena nggak bisa memenuhi permintaan kalian, hehe. Sankyuu minna-san.

thanks to: amayah 21, uzumaki senpai tebayo, oka, Luca Marvell, tokyo karan koron, kasumi uzumaki, Arum Junnie, Kevin913, Dewi15, , mifta cinya, yukiko senju.

And last, review kudasai…