Itik Buruk Rupa
Chapter 14
Naruto by Masashi Kishimoto
Tapi cerita ini asli punya kuu.
Pair: SasoriFemNaruto
Rate T
Genre: Romance
Words: 2450
a/n: hay hay… lama nggak jumpa minna… akhirnya kuu dapet ilham juga buat nyelesai-in nih cerita. Dan Poof! Ini dia chapter terakhir dari Itik Buruk Rupa, jadi, selamat membaca….
.
.
Itik Buruk Rupa
.
.
"ini…" gumam Naruto, dia sedikit tidak percaya dengan hadiah yang diterimanya dari Sasori. Sebuah kotak kecil yang ada di telapak tangannya, entah apa isi dari kotak tersebut
"buatmu. Tapi kalau kamu nggak mau, bisa kamu buang kok." Jelas Sasori disertai senyuman lembut diwajah tampannya.
"eh? Aku mau kok. Pasti kujaga dan kusimpan." Sahut Naruto, memeluk sebuah kotak berukuran 7cm persegi berwarna putih tersebut, meskipun dia tidak yakin dengan apa isinya, tapi Naruto senang mendapatkan hadiah dari Sasori.
"apa boleh kubuka?" Sasori mengangguk, dan memperhatikan Naruto membuka kotak tersebut dengan senyuman yang masih tercetak diwajahnya.
"waah... bagus..." Naruto mengeluarkan sebuah gelang manik-manik dengan warna baby blue yang terlihat manis dan pas di pergelangan tangannya. [gelangnya kurang lebih sama kayak yang ada di anime Sukitte ii na yo]
"kamu suka?"
"uhm!" angguk Naruto dengan antusias. Sasori mengambil gelang tersebut dan memasangkannya di tangan kiri Naruto.
"apa ini ada pasangannya, senpai?" tanya Naruto dengan wajah penasaran. Sasori sedikit tersentak kaget, sebenarnya dia membeli gelang pasangan, tapi yang satunya memang sengaja ia sembunyikan.
"memangnya kenapa?"
"uhmm... nggak, nggak ada kok." Jawab Naruto, dia malu sendiri karena telah bertanya hal seperti itu. Hey mereka ini bukan sepasang kekasih, jadi untuk apa Naruto mengharapkan sesuatu hal yang akan membuat salah paham.
"begitu? Naruto... kalau aku punya pasangan dari gelang ini, apa kamu tetap mau memakainya?" tanya Sasori, ambigu sih, kalau dia tidak menjelaskan maksud tersembunyi dari pertanyaannya tersebut, bisa-bisa Naruto tidak paham apa yang Sasori maksudkan.
"kenapa aku harus menolak memakainya?"tanya Naruto, tuh kan benar.
"takut orang lain salah paham mungkin."
"senpai… aku… " Naruto terlihat bingung bagaimana mau mengungkapkannya, Sasori yang melihat wajah Naruto menjadi gemas sendiri. Dia mengambil sebuah gelang yang disimpannya di saku jaketnya, lalu memakai gelang tersebut.
"pasangan. Aku memang sengaja membeli gelang ini, maksudku… Naruto, kamu mau menerima gelang dan perasaanku?" akhirnya Sasori mengungkapkannya juga, dia menggenggam kedua tangan Naruto dan menatap langsung kedalam mata gadis didepannya ini.
"e-eh?" kaget, itu lah yang Naruto rasakan pertama kali, tapi tidak berselang lama, rona merah sudah memenuhi wajahnya. Ah betapa senang hatinya saat ini. Bahkan dia kini dapat melihat hamparan taman bunga imajiner di sekelilingnya.
"kamu...mau?" dengan wajah yang sudah merah dan gugup, Naruto menganggukan kepalanya. Tanda bahwa dirinya menerima perasaan Sasori saat ini. Membuat tiga orang yang sedari tadi memperhatikan tingkah mereka berdua dengan gemas, kini sama-sama menghela napas lega.
Tanpa aba-aba, Sasori segera membawa Naruto kedalam pelukkannya, ah betapa hari ini adalah hari yang paling membahagiakan bagi Sasori selama 19 tahun hidupnya. Cinta pertamanya berjalan dengan sukses, begitu juga dengan Naruto, cinta pertama juga pacar pertamanya. Sebuah awal yang bagus.
.
.
Itik Buruk Rupa
.
.
"akhirnya mereka resmi juga. Benar-benar deh." Gerutu Kyuubi greget. Beda Kyuubi, beda juga Menma, kelihatan sekali pemuda ini masih tidak rela kalau gadis pujaan hatinya sudah menjadi milik orang lain.
"sudahlah Menma, kau ini kan sepupunya. Nggak baik menharapkan adik sepupumu untuk menjadi pacarmu." Nasehat Nagato dengan bijak, meskipun dalam hati dia juga mengerutu tidak suka, dasar munafik, kakak adik sama aja.
"biarkan saja."
"kalian berdua, berhentilah berdebat." Kesal Kyuubi.
"iya iya.. oh ya Kyuu, kenapa reaksimu biasa aja saat Sasori mengungkapkan perasaannya pada Naru-chan?" Nagato cukup penasaran dengan sikap tenang yang Kyuubi perlihatkan. Bagaimana tidak penasaran, kalau hampir setiap saat gadis yang sudah resmi menjadi kekasih Uchiha Itachi ini selalu saja berkoar-koar tidak rela memberikan adiknya yang manis itu pada orang lain.
"kalau buat kalian berdua, aku nggak akan merestui. Kalian sendiri juga tau kan, kalau sebenarnya mereka itu saling menyukai, tapi emang dasar Sasorinya aja yang pengecut, baru berani bilang sekarang." Jawab Kyuubi panjang. Mereka terlalu asyik mengobrol, sampai nggak sadar kalau pasangan SasoNaru sudah pergi dari tadi.
"ngomong-ngomong, ada yang tau kemana Sasori dan Naruto pergi?" tanya Menma yang menyadari ketiadaan Sasori dan Naruto. Dan, Kyuubi kalang kabut mencari keberadaan sang adik.
.
.
Itik Buruk Rupa
.
.
"senpai..." panggil Naruto.
"Naru, panggil namaku aja, nggak usah pake senpai." Pinta Sasori.
"uhm, baiklah... Sasori...?" Sasori memberikan perhatiannya pada Naruto, menunggu kelanjutan kalimat Naruto.
"begini… ayahku mau bertemu denganmu, apa kamu ada waktu?" tanya Naruto, jelas sekali nada gugupnya.
"paman Iruka?" Naruto menggelengkan kepalanya.
"lalu?"
"begini... sebenarnya ayah Iruka itu ayah yang mengasuhku. Ayah kandungku adalah ayah Minato." Sasori sama sekali tidak terlihat terkejut.
"jadi, paman Minato mau bertemu denganku?" kini Naruto mengangguk.
"baiklah...kapan?"
"uhm.. kalau malam ini bagaimana? Kebetulan nanti malam ayah juga akan datang ke rumah."
"baiklah. Nanti malam aku pasti datang. Oh ya kamu sudah makan?" Naruto baru saja mau menjawab sudah, tapi sial baginya karena perutnya tidak mau diajak kompromi.
"dasar. Ayo ke kantin." Sasori menarik tangan Naruto lembut, membawa tangan mungil tersebut kedalam genggamannya. Sedangkan yang menjadi objek penarikan saat ini tengah menundukan kepalanya, wajahnya merah merona, malu juga senang.
.
.
Itik Buruk Rupa
.
.
"mau makan apa?" tanya Sasori, setelah mereka tiba di kantin.
"ramen." Jawab Naruto, lengkap dengan senyuman khas miliknya, yang membuat Sasori menggelengkan kepalanya.
"seharusnya tadi aku nggak usah bertanya ya..." canda Sasori. Naruto tertawa kecil mendengarnya, bisa dibilang karena Sasori sudah terbiasa dan hapal dengan makanan yang akan dipesan kekasihnya ini jika mereka makan dikantin. Sasori pergi memesan makanan sedangkan Naruto mencari tempat duduk. Sekitar 10 menit kemudian Sasori kembali dengan nampan di tangannya.
"semangkuk ramen dan segelas jus jeruk. Ada yang lain lagi?" canda Sasori, bertingkah seolah dirinya adalah pelayan.
"Sasori... cocok sekali jadi pelayan...hihi" Naruto tertawa geli dengan tingkah Sasori. Sedangkan yang menjadi objek hanya tersenyum kecil, lalu segera duduk.
"Sasori nggak makan?" tanya Naruto saat menyadari isi nampan yang tadi dibawa Sasori hanya berisi makanannya saja.
"nggak... tadi udah makan kok." Jawab Sasori disertai senyuman kecil.
"uhmm... mau makan bersamaku nggak?" tawar Naruto, merupakan suatu hal yang amat sangat jarang terjadi, atau mungkin tidak pernah terjadi, seorang maniak ramen seperti dirinya mau berbagi dengan orang lain.
"kamu aja yang makan." Tolak Akasuna muda tersebut, yah sebenarnya dia tidak keberatan semangkuk berdua dengan gadisnya ini, tapi Sasori yang memang paham betapa Naruto sangat menyukai ramen di tambah gadis kecil didepannya ini belum sarapan, jadi harus menolak tawaran mengiurkan tersebut.
Naruto menatap Sasori sebentar sebelum mulai memakan ramennya, tentu saja ditemani Sasori yang setia memandangi Naruto melahap makanannya. Tanpa dia duga, Naruto menyuapkan mie kenyal dengan kuah kental tersebut ke mulutnya.
"ayo buka mulutmu, aaah.." ucap Naruto, seperti sedang menyuapi anak kecil. Meskipun geli dengan sikap dan perhatian unik Naruto, Sasori membuka mulutnya dan melahap suapan tersebut.
"hihi, bayi besar..." kikik Naruto, memperhatikan Sasori yang mencerna makanannya.
"dasar..." Sasori merebut sumpit yang dipegang Naruto dan menyumpit ramen tersebut, lalu menyuapkannya pada Naruto.
"bilang aaah.."
"aaahm.." dengan senang hati, Naruto memakan mie ramen yang disuapkan Sasori padanya. Entah kenapa hal tersebut membuat hatinya berdetak kencang dan perasaannya menghangat.
"bagaimana? Enak?" tanya Sasori.
"uhm. Enak sekali. Rasanya beda saat kamu yang menyuapiku." Jawab Naruto jujur, meskipun di kedua pipinya ada rona merah, gadis pirang tersebut merasa sangat bahagia.
"lagi?" tawar Sasori, bukannya menjawab, Naruto malah merebut sumpit tersebut dan gantian menyuapi Sasori. Dan mereka berdua saling menyuapi, meskipun hanya semangkuk ramen, tapi terasat sangat enak dan istimewa bagi sepasang kekasih ini.
.
.
Itik Buruk Rupa
.
.
Sasuke meremat gelas berisi jus tomat miliknya dengan kesal dan marah. Mengingat kejadian siang tadi di kanti, hatinya panas. Dia sangat tidak suka melihat Narutonya menjadi milik Sasori, bahkan dengan berani Sasori menyuapi Naruto, membuat kejengkelan di hati Sasuke semakin bertambah.
"kalau kau merematnya begitu, bisa pecah gelasnya, Sasuke." Tegur Itachi, dirinya baru saja pulang dari mengantar sang kekasih ke rumahnya.
"bukan urusanmu." Jawab Sasuke ketus, ah sepertinya Itachi tau apa yang menyebabkan adik kesayangannya ini bad mood.
"kau nggak seperti biasanya, hilang kontrol begitu."
"Itachi... kau sama sekali nggak tau rasa yang sedang kualami. Bagaimana perasaanmu kalau rubah kesayanganmu itu bermesraan dengan lelaki lain." Geram Sasuke, moodnya yang sudah buruk, semakin buruk saat Itachi berkomentar seolah apa yang dia alami saat ini bukanlah apa-apa.
"dia nggak akan berbuat begitu." Jawab Itachi santai.
"bayangkan saja. Kemungkinan itu selalu ada, aniki." Tandas Sasuke, dengan begitu ia segera berlalu dari dapur dan menuju ke kamarnya.
"hahh... Uchiha memang menyeramkan kalau menyangkut seseorang yang mereka cintai. Dan itu juga berlaku untukku ya..." gumam Itachi pelan, dia berjalan menuju kamarnya tanpa mau membayangkan apa Sasuke katakan tadi. Dan seandainya hal tersebut benar-benar terjadi, maka dirinya tidak akan segan menyingkirkan lelaki tersebut. Uchiha dan cinta yang mereka miliki memang berbahaya.
.
.
Itik Buruk Rupa
.
.
Naruto tampak sibuk didalam kamarnya. Semua bajunya ia keluarkan dan berserakan diatas kasur. Saat ini dirinya bingung mau memakai apa untuk acara makan malam 1 jam lagi. Hampir semua bajunya itu dia coba, dan dia tetap merasa tidak ada yang cocok.
"astaga… ada apa ini?" tanya Kyuubi saat memasuki kamar Naruto, betapa kagetnya dia melihat sang adik yang tengah sibuk mematut diri didepan cermin bengan baju yang ada.
"kakak… aku harus pake baju yang mana…" rengek Naruto, jarang sekali adik dari Namikaze Kyuubi ini merengek seperti anak kecil.
"emangnya kamu mau kemana Naru-chan?" tanya Kyuubi, memunguti baju yang terjatuh keatas karpet dan menatanya, dia mendekati sang adik yang membawa beberapa baju ditangannya.
"Sasori akan makan malam dirumah malam ini, tadi aku udah bilang ayah. Tapi aku bingung mau pake baju apa. Kenapa nggak ada yang cocok.." keluh Naruto, semua baju yang ia coba terasa kurang pas dengannya.
"oh ya ampun, adikku ini ternyata sedang bingung toh... sini." Kyuubi menarik Naruto ke meja rias, lalu melepaskan kacamata nerd milik sang adik dan menata rambut Naruto sedemikian rupa, setelahnya Kyuubi mengambil baju yang ada di lemari Naruto yang lain, baju yang dibelikan Minato untuk putri bungsunya ini.
"coba pakai ini.." Kyuubi memasangkan dress lengan pendek selutut berwarna orange didepan tubuh Naruto.
"terlihat manis, cocok sekali denganmu.." Naruto memperhatikan pantulan dirinya dicermin, sedikit mengkerutkan dahinya.
"ini nggak cocok kak..." tolak Naruto.
"hey, Sasori itu temanku, dan aku tau seleranya. Sudah kamu pakai saja. Kakak jamin Sasori pasti terpana melihatmu nanti." Perintah Kyuubi, dia mulai melepaskan pakaian yang dikenakan Naruto saat ini.
"kakak! Aku belum mandi..." jerit Naruto, meskipun kakak beradik, tapi dirinya malu kalau harus bertelanjang di depan Kyuubi, ditambah lagi ia belum mandi.
"belum mandi, tapi sudah bingung dengan pakaian apa yang akan kau pakai? Astaga, ternyata kau benar-benar jatuh cinta padanya ya..." goda Kyuubi, wajah Naruto sudah semerah buah apel kesukaan sang kakak.
"kak Kyuu menyebalkan!" dan Narutopun berlari menuju kamar mandi, meninggalkan Kyuubi yang tergelak dengan polah sang adik.
"hahaha, dasar... manis sekali adikku ini... cepatlah, atau Sasori harus rela kuusir nanti." Kata Kyuubi, memberikan ancaman yang pasti ampuh untuk membuat Naruto bergegas mandi. Kyuubi terkadang memang suka menjahili Naruto.
"awas kau kak! Kulaporkan ke kak Itachi nanti kalau kau berani mengusir Sasori..." teriak Naruto dari dalam kamar mandi, menambah kencang suara tawa Kyuubi yang sudah berlalu dari kamar sang adik.
.
.
Itik Buruk Rupa
.
.
Suara bel berbunyi, menandakan kalau ada tamu yang bertandang ke kediaman Namikaze, dengan segera Naruto turun dari kamarnya dan berjalan ke pintu depan untuk membukakan pintu. Dia yakin kalau yang datang adalah Sasori, karena kekasihnya tersebut berjanji akan datang tepat jam 7 malam.
"selamat malam..." Sapa tamu tersebut, yang ternyata adalah sang kekasih hati. Saat memperhatikan Naruto, Sasori benar-benar terpesona, pasalnya dirinya baru pertama kali ini melihat Naruto tanpa kacamata dengan rambut yang digerai, benar-benar cantik dan manis.
"malam... ayo masuk." Ajak Naruto, membuyarkan lamunan Sasori tadi,
"kamu cantik" puji Sasori tulus, mengikuti Naruto dari belakang. Naruto yang mendengar pujian Sasori, langsung merona.
"makasih…" jawabnya pelan. Naruto membawa Sasori ke ruang tamu, dan menyuruh pemuda tersebut untuk duduk.
"Sasori mau minum apa?"tanya Naruto.
"nggak usah. Nanti aja" Sasori menarik Naruto untuk duduk disebelahnya.
"Sasori… makasih ya kamu udah mau datang" ucap Naruto, membuka percakaoan setelah hampir 10 menit keduanya terdiam.
"iya." Dan mereka berdua kembali terdiam, polah dua sejoli ini mmebuat Minato yang sedari tadi mengintip merasa gregetan, sedangkan Iruka dan Kyuubi yang sudah biasa melihat tingkah keduanya hanya memperhatikan saja.
"mereka itu… apa benar mereka berpacaran? Kok seperti orang canggung begitu." Gerutu Minato, dirinya sudah tidak sabar untuk segera menemui kekasih putri bungsunya tersebut.
"ayah masih mending, baru kali ini melihat sikap mereka. Sedangkan aku hampir setiap kali melihat mereka bersama, pasti greget." Timpal Kyuubi, sedangkan Iruka hanya diam meskipun dia juga setuju dengan Kyuubi. Ayah angkat Naruto ini juga merasa gregetan dengan keduanya.
"ahh, mereka ini benar-benar deh, bikin greget aja." Dan Minato akhirnya keluar dari persembunyiannya, diikuti Kyuubi dan Iruka.
"Naruto... kenapa nggak panggil ayah kalau ada tamu?" tanya Minato, mengagetkan keduanya. Sasori yang menggenggam tangan Narutopun segera melepaskannya dan berdiri, memberi hormat pada Minato.
"maaf ayah, aku lupa..."
"selamat malam paman..." sapanya dengan sopan seraya membungkukkan badan, selayaknya orang Jepang.
"malam... kau Sasori?" tanya Minato, memastikan
"iya paman, nama saya Akasuna Sasori, kekasih putri anda, Naruto." Katanya memperkenalkan diri, Sasori juga membungkuk hormat saat melihat Iruka yang ada dibelakang Minato.
"selamat malam paman Iruka.."
"selamat malam Sasori."
"jadi, sudah berapa lama kalian menjalin hubungan?" tanya Minato, setelah semuanya duduk.
"uhm.."
"mereka resmi baru tadi di kampus." Kyuubi memotong ucapan Naruto, lebih tepat mungkin jika dibilang Kyuubi membantu Naruto dan Sasori menjawab pertanyaan Minato tadi.
"ayah bertanya pada Naruto dan Sasori, Kyuu. Bukan padamu." Tegur Minato, sedangkan yang ditegur terlihat cuek dan tidak peduli.
"hmm… Sasori, tolong jaga putriku. Jangan sampai kau membuatnya menangis." Pinta Minato, bagaimanapun juga dia hanya ingin putri bungsunya bahagia.
"saya berjanji pada paman. Saya akan menjaga Naruto dan membuatnya bahagia." Sasori kembali menggenggam tangan Naruto. Dia menatap iris berwarna sapphire tersebut lembut, yang disambut dengan sebuah senyum bahagia dari sang pemilik.
"ekhem.." Kyuubi berdehem cukup keras, membuat Sasori dan Naruto kembali ke dunia nyata.
"hahaha… kau jangan mengganggu momen mereka Kyuu…" kata Minato, merasa kasihan juga dengan putri bungsunya yang kini tengah merona malu.
"aku hanya berdehem ayah. Siapa juga yang mengganggu mereka" kilahnya, tapi nada suara yang ia gunakan jelas menunjukan maksud sebenarnya.
"kakak! Kalau iri, kenapa nggak pergi kerumah kak Itachi aja." Sungut Naruto, dia sedikit kesal juga digoda sang kakak, yang memang seharian ini dirinya selalu digoda Kyuubi.
"kena telak." Sambung Sasori yang melihat Kyuubi langsung diam dengan sikap yang salah tingkah. Sedangkan Minato dan Iruka tertawa renyah menyaksikan interaksi muda-mudi di depan mereka.
"ah, sudah waktunya makan malam, Sasori sebaiknya kau juga makan malam bersama kami.." pinta Minato, undangan Minato tentu saja diterima Sasori, karena sang kekasih memintanya datang ke kediaman Namikaze memang dengan tujuan tersebut. Dan makan malam kali ini terasa berbeda dengan adanya Sasori. Hampir sepanjang makan malam Kyuubi menggoda adiknya tersebut dan juga Sasori.
Bahkan Kyuubi mengungkit kebingungan Naruto dalam memilih pakaian yang hedak dikenakannya untuk makan malam bersama Sasori, yang tentu saja membuat Naruto malu setengah mati dan merasa kesal pada kakaknya. Cinta memang dapat merubah seseorang, dan membuat seorang gadis terlihat cantik saat merasakannya. Dari itik buruk rupa menjadi seekor angsa yang anggun nan menawan.
.
.
.
.
.
Fin.
Ahahaha... akhirnya Kuu buat ending yang gak jelas. Tapi yang penting happy end deh. Khukhukhu. :3
Maaf ya minna… cuman ini yang bisa Kuu lakuin, jadi wajar aja kalau kalian kecewa. Makasih buat kalian semua yang udah dukung Itik Buruk Rupa sampai sekarang. Jujur aja Kuu nggak nyangka kalau respon kalian positif. Dan lagi ini pertama kalinya Kuu dapet reviewer sampai 200. Ahh, hounto ni arigatou gozaimasu… #deepbow.
Oh iya, kalau kalian ada yang mau sequelnya, mungkin Kuu bakal buatin. Kuu tiba-tiba aja dapet ide, inget sama fict yang pernah Kuu baca, lupa judul ma authornya, hehe. Tapi Kuu nggak janji ya…
Ah, sekian cuap-cuap dari Kuu, Kuu kebanyakan ngomong nih, see you at the other fiction. ^^/
Last, review kudasai….
Salam,
Akuma-Kurama
