Dengan kacamatanyalah, ia dapat mengenang segala hal yang dilihatnya tentang pemuda pemilik hawk eye yang semakin menjauh itu.

.

.

.

Kuroko's basketball © tadatoshi fujimaki

.

Glasses © kapten pelangi

.

Takao Kazunari x fem!Midorima Shintarou

.

Warning :

out of character, typo, miss typo, gaje, dan hal-hal lain yang nggak bisa ditulis oleh author bejat.

.

.

.


i. hujan


Hujan yang turun membasahi tanah membuat gadis dengan surai hijau itu tidak dapat pulang. Bukannya ia tidak dapat berlari menembus hujan untuk kembali kerumahnya, hanya saja, rumahnya cukup jauh —dan makasih, ia tidak ingin diomeli saat kembali kerumah.

Gadis tersebut mendesah, menatap rintik-rintik hujan, napasnya mengeluarkan partikel-partikel embun.

"Shin-chan?" sebuah suara membuat gadis tersebut menghela napas berat. Ia kenal dengan suara ceria nan berat tersebut, sangat mengenalnya malah. "Sedang apa di sini? Menunggguku?"

Gadis tersebut berbalik, menatap wajah orang yang memanggilnya dengan surffix 'chan' dan nama depan.

"Bermimpilah, Bakao. Hujan deras dan kau tahu rumahku jauh," gadis tersebut membalas dengan dingin, "dan aku tidak membawa payung nanodayo."

Pemuda yang dipanggil 'Bakao' —namanya Takao Kazunari, omong-omong— itu mengangguk-ngangguk tanda mengerti, "Bagaimana jika kau —tunggu, aku lupa, aku tidak mambawa rickshaw!"

Midorima Shina —si gadis bersurai hijau— hanya memutar kedua bola mata hijaunya.

"Ah! Kalau begitu, Shin-chan pakai payungku, ya?" Si Pemuda mengeluarkan payung, melempar pada gadis bersurai hijau.

Midorima menerima payung tersebut dan menatapnya, "lalu kau bagaimana nanodayo? Bu-bukannya aku peduli padamu, hanya saja," ia menghela napas, "jika kau sakit, aku yang repot."

Tsundere, pikir Takao dengan tawa.

"Tenang saja, rumahku, 'kan, dekat! Aku juga nggak gampang sakit, kok. Jaa na, Shin-chan!"

Belum sempat sang gadis tersebut protes, pemuda tersebut telat menembus hujan, melindungi kepalanya dengan tas. Membuat sang gadis menatap punggung tegap yang menjauh itu.

.


ii. bekal

Midorima tidak dapat memasak. Oke, mungkin, memasak telur, atau membuat onigiri ia bisa. Maksudnya, oh, sebagai seorang wanita, ia harus bisa memasak, setidaknya yang simpel-simpel gitu.

Gadis tersebut bersandar pada pagar pembatas yang ada diatap. Jam makan siang sudah menunjukkan waktunya —dan ia cukup lapar karena menghitung segala rumus fisika.

"Uwaaa, Shin-chan!" sebuah suar berisik terdengar akrab bagi si gadis, "kau yang membuatnya? Apa ibumu?"

"Okaa-san nanodayo," jawab sang gadis.

Takao tersenyum kecil, "Oooh... Shin-chan, mau kuajarkan memasak?"

Pipi sang gadis bersemu merah, "Ti-tidak perlu!" Ujarnya.

"Heeee... padahal aku berharap, setelah itu kau akan membuatkan bekal khusus untukku." Pinta Takao dengan senyuman jahil.

—Oke, Midorima Shina dinyatakan tersedak setelah mendengar kalimat sang point guard.

.


iii. senyuman


Midorima Shina sangat menyukai gelak tawa serta senyuman pemuda yang lahir pada tanggal 21 November tersebut. Sangat suka, malah.

Caranya tertawa, caranya membicarakan sesuatu, caranya menghibur Midorima, dan—

—Caranya tersenyum sambil menyatakan cinta pada gadis bersurai hijau tersebut.

Midorima mungkin tidak mengakuinya, mengakui bahwa ia menyukai senyuman Takao Kazunari —ups ,Midorima tsundere, sih.

Tapi, walaupun begitu, Midorima selalu memperhatikan senyuman tersebut. Senyuman yang ditunjukkan padanya.

.


.

A/N :

Plis someone give me something. I'm so hungry now— #efekbelummakannaskdarisiang

AAAAAAAAAAAAH— SAYA LAPEEEEEEEEEEEEERRRRRR—! MANA LAGI DIRUMAH SAKIT, LAGI—!

Ah, tau deh. jangan lupa jejak kaki tinggalin, ya(?)