WHAT?! (Anggrek Ungu : Membangkitkan Misteri)-Chapter 4


Sebelumnya…

"Kau tak apa?" Sedikit banyak, Pangeran Cho ini merasa ada yang tidak beres dengan tunangannya ini.

Apa aku lupa memberitahu kalian bahwa Pangeran Kyuhyun ini hanya menganggap Putri Rayoung sebagai adik?
Well begitulah, Pangeran tampan tersebut hanya pasrah akan pilihan orang tuanya.

"Engg.. Tak apa" Sungmin masih canggung, dia hanya menjawab seadanya pada pria yang telah mencuri hatinya pada pandangan pertama. Jatuh cinta pada orang yang salah.

Dan Sungmin amat menyadari itu…

-In Other Place-

"Aku merasa ada yang aneh dengan gadis itu"

"Takdir kerajaan ini akan berubah besar-besaran"

"Harus segera dihentikan sebelum ada yang terluka dalam hal ini"

Author : Jeje1003 a.k.a Istrinya Yesung

Title : What?! (Anggrek Ungu:Membangkitkan Misteri)-Chap 4

Main Cast : Lee Sungmin, Cho Kyuhyun

Genre : Fantasy, Drama, Romance, GS

Rate : T (pengennya sih M *taboked)

Story © Jeje1003

Cast(s) © God

WARNING! GAK SUKA? JANGAN DIBACA!

MASIH NGEYEL? JANGAN SALAHIN SAYA KALO KALIAN MUNTAH. SAYA UDAH KASIH PERINGATAN!

Di ff ini, saya akan sangat jarang ngasih tau POV nya siapa aja.

Kalian tebak sendiri aja lah ya 8-)

KATAKAN TIDAK PADA PLAGIAT DAN COPAST!


_Dapur Istana_

"Nona muda itu sangat sombong!" Gosip lagi.

"Hah! Aku setuju denganmu. Dia juga selalu menatap orang dengan tatapan intensnya yang mau tidak mau membuatku serba salah dihadapannya. Menyebalkan." Kau yang menyebalkan bodoh!

"Hey! Tapi yang kudengar dari percakapan Dayang Lee dengan Yang Mulia Raja Shion bahwa sebenarnya Nona muda itu baik. Ck! Aku tidak percaya" Kalau tak percaya kenapa kau harus menyebarkannya pada rekanmu, bodoh?

"Apa yang kalian bicarakan?" Eh? Itu suara siapa? Sepertinya aku baru dengar.

"Oh Tuhan! Penasihat Jung. E-eh be-begini, ka-kami tidak membicarakan apapun"

Penasihat Jung? Apa 'Jung' yang mereka maksud itu Jung Hyerim?

"Kembalilah bekerja! Atau kalian hanya ingin tinggal dirumah saja?"

Langkah itu terdengar semakin dekat. Bahkan suaranya terdengar semakin jelas.

Aku tahu artinya. Yang orang itu ucapkan seperti berarti 'Cepat bekerja! Atau kalian kupecat'.
Hmm.. aku suka gayanya.
Kurang lebih seperti itu kan?
Tapi tidak-kah itu terlalu kejam?

"Ba-baiklah. Maafkan kami Penasihat Jung"

Para dayang tukang gosip itu membungkukkan badannya kemudian pergi dengan tidak elitnya. Lari terbirit-birit maksudku. Ah, baiklah. Lupakan saja!

"Keluarlah dari persembunyianmu Nona Lee!"

DEG!

Ja-jadi? Dia tahu aku bersembunyi dibalik tembok ini?

"Tentu aku tahu. Maka dari itu cepatlah keluar sebelum kau dikira pencuri"

Dia.. Dia tahu apa yang kuucapkan dalam hatiku? Kenapa semua warga istana ini begitu menyebalkan? Sialan!

"Cepatlah!" Dia menegaskan kembali.

Seakan tersadar dari lamunanku kilatku, kuberanikan diri untuk membalikkan badan dan menatap langsung wajah orang atau lebih tepatnya wanita yang ada dibelakangku.

Cantik sekali. Sama sekali tidak ada keriput pada wajahnya. Apa dia masih muda?

Wanita itu tertawa kecil melihat wajahku yang seperti orang bodoh. Wanita bertubuh sedang itu semakin mendekat padaku kemudian menepuk bahuku.

"Aku sudah 43 tahun"

Aku tersentak. Bukan karena dia mampu membaca pikiranku lagi, tapi… apa benar dia sudah 43 tahun?

"Kekuatan, kepercayaan, teguh dan semangat itu kuncinya"

Eh? Ck. Apa sih maksudnya?

"Apa ada lagi yang ingin kau tanyakan, Nona Lee?"

Kutatap sebentar wanita didepanku ini dengan tajam. Kenapa wanita ini seperti mempunyai aura yang… berbeda? Ah entahlah.

"Kau siapa?" Tanyaku berusaha sopan. Setidaknya aku harus mulai belajar tata krama istana ini. Lagipula, aku tidak mau di-cap sebagaii 'putri' yang tidak punya sopan santun, tata krama, etika, dan apapun itu yang berhubungan dengan kehormatan.

"Jung Hyerim. Penasihat istana ini."

"Kenapa kau bisa membaca pikiranku?"

Sedikit banyak aku penasaran juga. Kenapa mereka bisa melakukan itu? Ini menakjubkan! Sebelumnya, aku tidak pernah bertemu dengan orang seperti mereka yang mampu membaca pikiran.

"Bukan mauku. Semua sudah dirancang sebelum kelahiranku. Begitupun Kepala Dayang Lee, dan beberapa petinggi istana lainnya."

Jadi semua yang ada pada mereka juga sudah dirancang?
Sudah berapa kali aku dibuat menahan napas disetiap detiknya? Oke ini berlebihan. Kuakui itu. Tapi.. Oh ayolah! Kerajaan ini begitu penuh dengan kejutan. Aku menyukainya, hanya saja aku masih shock. Bahkan, kejutan sebelum ini masih belum bisa diterima akal sehatku.

"Kalau begitu, bisakah kau ceritakan kejadian yang membuat Putri Ahn Rayoung seperti itu? Err.. Kalau kau tidak mau tidak apa. Aku hanya penasaran. Aku juga ingin tahu apakah kejadian yang ada didongeng sama dengan cerita anda nantinya. Itu saja." Kutatap wanita itu hati-hati. Bagaimanapun aku harus sopan bukan? Hei! Dia ini seorang Penasihat istana.

Wanita itu menatap lurus kedepan seakan menerawang sesuatu didepannya. Penasihat cantik itu memberikan aku isyarat untuk duduk disebuah kursi yang cukup panjang disampingnya.
Ia menghembuskan napas perlahan sebelum memulai ceritanya.

"Semua yang terjadi berawal saat Putri Rayoung dan Permaisuri ingin mengunjungi Kerajaan Cho. Dipertengahan jalan, mereka tidak sadar jika sedari tadi mereka dikuntit hingga akhirnya dihadang oleh sekawanan perampok yang sepertinya kejadian ini sudah direncanakan sejak awal. Aku tidak tahu pasti. Karena para perampok itu melakukan bunuh diri setelahnya. Itu sebabnya sampai saat ini kami tidak tahu apa-apa saja yang ada dalam pendayangan kejadian ini. Kami tahu kejadian ini saja karena salah seorang dayang yang mencoba bertahan untuk menyampaikan apa saja yang dilihatnya. Dalam kejadian itu Permaisuri meninggal saat mencoba melindungi Putri Rayoung dari pedang tajam yang diarahkan pada Putri Rayoung. Alhasil, Permaisuri yang berhati baik itu yang tertusuk. Namun sayangnya pengorbanan yang dilakukan Permaisuri masih kurang. Karena saat itu juga dia harus melihat putri bungsunya sendiri jatuh kedalam jurang. Hingga.. ya begitulah"

"Ceritanya sama persis dengan yang ada di buku dongeng" Gumamku pelan

Mataku bergerak resah. Kenapa semua ini semakin terasa sulit?

"Sebelum meninggal, Permaisuri menyempatkan diri untuk menyampaikan pesan pada dayang yang masih hidup saat itu untuk mengatakan kepada Yang Mulia Raja Shion agar membahagiakan putri kecilnya. Naluri seorang ibu memang kuat. Walaupun Permaisuri melihat anaknya jatuh kedalam jurang, dia masih yakin bahwa putrinya masih hidup. Mengagumkan."

"Aku juga berpikir demikian." Ucapku lirih

"Aku.. sejujurnya aku mempunyai firasat buruk tentangmu Nona Lee. Kumohon bertanggung jawablah dengan keputusanmu. Maaf jika aku harus berkata sekasar ini. Bahagiakan Putri Rayoung. Hiraukan saja apa yang kau rasakan saat ini. Kumohon" Penasihat Jung menatapku penuh harap.

Apa maksudnya? Memang dia tahu apa kurasakan?

Kutundukkan kepalaku sembari menutup. Berpikir terbuka dengan segala hal yang menimpa putri Rayoung hingga aku harus terbawa arus permasalahan yang tidak aku perbuat sama sekali. Tapi sekali lagi, aku sudah mempunyai niatan untuk membantu mereka semua. Dengan hal ini, maka aku harus menerima segala konsekuensi yang akan datang. Entah apa konsekuensi itu sendiri, aku tidak tahu.

"A-ah! Aku akan berusaha semampuku" Balasku seadanya.

Penasihat Jung tersenyum tipis. Aku tidak tahu arti senyum itu. Tapi aku yakin sekali! Dalam senyumannya seperti mengandung makna besar.

"Terima kasih. Aku permisi dulu"

Penasihat Jung membungkukkan badannya begitupun denganku.

Oh Tuhan… Kenapa semua semakin rumit?

Tanpa mereka berdua ketahui seorang lelaki berambut ikal menatap mereka dengan tatapan tak percaya. Tak ada satupun kalimat yang mampu menggambarkan apa yang dia rasakan.

"Siapa kau sebenarnya?" Ucapnya lirih nyaris tak terdengar


_Taman_

Tempat indah yang sangat kusukai dari istana ini. Taman Sakura. Ternyata yang ada didongeng itu 99% mirip sekali dengan kenyataannya. Taman ini memang indah.

Udara yang segar. Burung berkicau indah. Dan mata yang termanjakan pemandangan hamparan pohon Sakura beserta bunga indahnya. Benar-benar menyenangkan. Ya setidaknya bisa menghilangkan beban sejenak.

"Hai" Seseorang menepuk bahuku

Kutolehkan kepalaku kebelakang dan hampir saja aku terjungkal saking kagetnya.

"Ah! Pangeran Kyuhyun! Bagaimana bisa kau disini?" Tanyaku sembari memiringkan kepalaku dan menatapnya dengan pandangan heran. Dan.. risih.

Sebisa mungkin aku membiasakan diri dengan yang namanya 'keakraban' karena sejujurnya itu menggangguku. Aku adalah seseorang yang tidak mudah bergaul. Maka dari itu, aku merasa sedikit risih dengan peran yang kumainkan. Karena itu berarti, aku harus membiasakan diri dengan pergaulan atau semacamnya untuk membuat siapapun percaya jika aku adalah putri Rayoung. Bukankah pangeran Cho sangat dekat dengan putri Rayoung?

Pangeran Kyuhyun menatapku sekilas kemudian tersenyum kecil.

"Jangan canggung begitu Youngie-ah atau harus kupanggil kau..…"

.

.

.

.

.

"…..Nona Lee Sungmin?"

DEG!

"Ka-kau?"

"Kau ketahuan Nona" Pangeran Kyuhyun mengeluarkan smirknya

Hehh?

Astaga, Ini sama sekali tidak menghilangkan beban!

-TeBeCe-

Yooohooooooo #tepar #Lap_keringet akhirnya chap ini selesai juga. Sekali lagi aku minta maaf atas keterlambatan ff ini dan aku tau ini ff pendek -_- seperti biasa, aku sibuk sama sekolah. Bentar lagi juga ngambil raport :3 doakan aku ya kawan supaya bisa dapet 5 besar/duagh/ kalo masih ada yang belum ngerti tanya aja ya, biar gak bingung. Karena jujur aja, aku lebih suka bikin dialog daripada penjelasannya. Makanya pasti ada yang bingung. Maafkan aku ok :'( Silakan tanya aja gapapa dan errr bisakah aku minta tolong sama kalian? Tolong hargai aku dengan sekedar komentar, beberapa patah kata pun juga gapapa. Nggak rugi kan? Seenggaknya aku tahu bagian mana yang perlu diperbaiki. Aku penulis baru di sini. Jadi masih agak canggung juga + minder juga sih sama para author hebat yang udah jago -_- mohon bantuannya ^^ *bow

Salam hangat,

^Jeje1003^

Mind to Review?