Nothing On You
.
.
Cast:
Cho Kyuhyun (namja)
Lee Sungmin (yeoja)
.
Rate: M
.
Chaptered, Genderswitch
.
Fanfic ini remake dari fanfiction dengan judul "Nothin' On You" milik author yesungspy. Semua ini hasil karya author yesungspy dan ada beberapa sedikit yang saya ubah.
Selamat Membaca!
Chapter 2
*flashback*
Gila. Pria ini gila. Bagaimana bias mengajukan penawaran seperti ini. Apa dia kira Sungmin sama seperti perempuan murahan yang ada disini. Sungmin menatap tajam kearah Kyuhyun. Bahkan napas mereka saling beradu. Tidak bisakah pria ini tidak mempesona. Batin Sungmin. Okay, dia harus fokus sekarang.
"Kau pikir aku pelacur?!" Sungmin geram. Baru kali ini ada pria sebrengsek dia yang terang-terangan ingin menidurinya. Sungguh, ia tidak habis pikir. Apa memang seperti ini kehidupan club malam? Sungguh membuatnya mual.
"Aku tidak tertarik. Maaf." Sungmin mendengar suara gertakan gigi Kyuhyun
"Oh, aku minta maaf karena membuatmu menolongku. Sekali lagi, maaf dan terima kasih, tuan?"
"Kyuhyun." rahang pria ini mengeras. Terlihat marah.
"Ah, tuan Kyuhyun. Terima kasih atas pertolongannya. Dan, masih banyak wanita penghibur disini yang mau kau tiduri." lanjut Sungmin kesal. Sebelum Sungmin berbalik, ada seseorang yang menepuk pundaknya. Ia hafal tangan siapa itu. Ya, kakak sepupunya.
"Minnie-ya, kau baik-baik saja?" tanya Jungmo cemas. Kemudian Sungmin berbalik dan menatap kakak sepupunya, tapi Jungmo menatap Kyuhyun yang ada dihadapannya dengan tatapan terkejut. "Anda…" belum selesai Jungmo berbicara, Kyuhyun mengangkat tangannya keatas, menunjukkan kata 'stop'. Jungmo mengerjap dan menatap Sungmin.
"Aku baik-baik saja. Ayo pergi." Sungmin segera pergi tanpa menoleh ke belakang. Sedangkan Jungmo hanya membungkuk singkat kearah Kyuhyun yang masih berdiri menatap punggung Sungmin yang menjauh, lalu dia segera beranjak pergi.
Kekesalan Sungmin tidak sampai disitu saja, bukan kekesalan sebenarnya, ini lebih dari pada sakit hati. Baru pertama kali ada pria yang dengan brengseknya meminta tidur dengannya karena ia baru menolongnya dari pelecehan. Bukankah sama saja? Keluar dari kandang macan, masuk ke kandang singa.
"Sebenarnya ada yang ingin aku sampaikan malamini selain kesuksesanku Minnie-ya." Ujar Jungmo memecah keheningan saat mengantar Sungmin pulang.
"Apa?" tanya Sungmin berusaha menormalkan raut wajahnya karena sedari tadi ia masih memikirkan pria sinting bernama Kyuhyun.
Jungmo berdehem sejenak, "Aku akan menikah." Diam sejenak. Sungmin mencerna kata-kata Jungmo barusan.
Seperti mendapat pukulan keras di dadanya. Sakit. Nyeri sampai ke ulu hatinya. "Me..menikah?" tanyanya lagi. Tidak, jangan membohongiku Kim Jungmo. Jangan! Batin Sungmin menjerit.
"Iya, menikah. Gadis ini impianku, kau tahu itu kan?" Jungmo menerawang kedepan. Sungmin tahu, hari ini akan datang. Hari dimana impiannya musnah. Hari dimana hatinya hancur.
"Juyeon, dia mau menikah denganku. Aku bahagia sekali." Ucap Jungmo berbinar.
"Oh…" Sungmin mengerjapkan matanya. Jangan menangis. Tidak, dia pantas bahagia dengan gadis impiannya, gadis yang ia cintai.
"Minnie-ya, kau kenapa?" Tanya Jungmo cemas. "Kau masih kesal dengan—"
"Tidak. Aku bahagia akhirnya kau menikah dengan Juyeon. Kapan?" Sungmin mencoba tegar
"Keluarga kami akan bertemu kembali untuk membicarakan tanggalnya, tapi aku dan Juyeon setuju menikah secepatnya. Mungkin sebulan lagi."
Oh Tuhan, tidak adakah hari seburuk hari ini? Batin Sungmin semakin menjerit.
Setelah kejadian itu, Sungmin mengalami yang namanya patah hati. Sebenarnya ia sudah sering mengalami sakit hati, tapi kali ini lebih dari itu. Ia malah tidak yakin bisa memulai kehidupan setelah melihat pria idamannya berdiri di altar bersama gadis lain.
Sudah tiga hari ini Sungmin absen, masa bodoh jika perusahaan memecatnya, toh ia tidak peduli lagi. Ia bekerja hanya untuk membuktikan bahwa ia bisa seperti gadis-gadis pintar lainnya, bukan gadis lemah dan manja seperti kekasih Jungmo. Ia masuk ke perusahaan ternama di Seoul juga karena Jungmo. Ia ingin membuktikan bahwa kekasih Jungmo bukan apa-apa dibanding dirinya.
Hari keempat, ia terpaksa bangkit dari keterpurukannya. Sebenarnya ia belum pulih benar, tapi ia menyesali tidak ada gunanya juga kan? Lagi pula ia perlu kesibukan untuk mengalihkan semuanya. Dia juga sedikit lelah dengan omelan teman-temannya yang terus merengek supaya dia masuk kerja.
Tidak membutuhkan waktu lama, ia sudah siap bekerja hari ini. Dengan memakai setelan rok span diatas lutut abu-abunya dan atasan kemeja siffon merah marun melekat pas di tubuhnya. "Dengan begini, tidak terlalu menyedihkan." Gumamnya didepan kaca, kemudian memakai make-up tipis di wajahnya yang pucat. Kantung matanya sedikit tebal.
Sungmin tiba di depan geedung yang sangat megah, semua orang pasti bangga jika berstatus karyawan Cho International Commerce Centre. Tidak terkecuali Lee Sungmin. Sungmin menempelkan kartu identitasnya pada pintu otomatis khusus karyawan, kemudian berjalan menuju lift. Pintu lift terbuka, beberapa karyawan masuk beserta Sungmin. Lift terus berjalan mengantar Sungmin yang ruangannya berada di lantai 20.
Lift berhenti tepat di lantai 16, pintu terbuka. Semua orang tercengang melihat siapa yang berdiri didepan mereka. Sungmin mengikuti arah pandang mereka dan dia cukup terkejut melihat apa yang menjadi pusat perhatian orang. Mulutnya menganga menatap sosok pria yang berdiri diambang pintu lift. Dia bertemu kembali dengan pria itu. Pria ini masih tetap tampan, bahkan lebih tampan. Kedua tangannya yang dimasukkan ke dalam saku celana hitamnya. Sempurna. Seperti kemarin malam, dia selalu terlihat mempesona dengan setelan jas yang melekat pas di tubuh tegapnya.
Tidak. Tidak, kau tidak boleh terpesona olehnya. Pria ini menginginkan kau tidur di ranjangnya untuk melakukan seks. Hanya itu Minnie-ya, ingat itu. Batin Sungmin mengingatkan.
"Silahkan Sajangnim, kami bisa menggunakan lift lain." Ucap salah satu pria yang ada di dalam lift. Apa? Pria yang mengajaknya tidur dipanggil Sajangnim? Dan kenapa semua orang disini menghormatinya seolah ia orang penting? Sungmin menggelengkan kepalanya, tidak mungkin. Kemudian Sungmin mengangkat kepalanya dan menatap pria yang berdiri didepan pintu lift ini, sorot matanya yang tajam membuat jantung Sungmin kembali berdegub dengan kencang.
Dengan anggukan singkat, semua orang keluar dari dalam lift, kecuali Sungmin. Dengan segera ia sadar dan hendak keluar dari lift. Namun tiba-tiba sebuah tangan menahannya. Sungmin membulatkan matanya. "Apa?" dia berdesis. "Ikut aku." Kyuhyun berbisik dekat sekali dengan wajahnya, membuatnya merona seketika. Sungmin mengumpat dalam hati, bisa-bisanya dia merona disaat seperti ini? Ini gila!
Kyuhyun berbalik dan tangannya tetap mencengkeram tangan Sungmin sambil menatap beberapa karyawan yang masih berdiri di luar lift sambil menatap mereka berdua dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Apa yang kau lakukan?!" Sungmin melepas pergelangan tangannya dari genggaman Kyuhyun saat lift mulai berjalan. Kyuhyun menatapnya dengan tatapan geram, "Kau tahu apa mauku kan? Apa harus aku memperjelasnya lagi?!" Kyuhyun mengucapkannya dengan penuh penekanan dengan tetap mencengkeram tangan Sungmin.
Sungmin mengerjapkan matanya melihat posisi tubuhnya sekarang yang memang sangat dekat dengan Kyuhyun. Tanpa Sungmin duga, Kyuhyun memasukkan kunci panel lift dan tersenyum miring kearahnya, "Apa kau—"
"Aku butuh privasi denganmu!" potong Kyuhyun seolah tahu apa maksud Sungmin, dan Sungmin mencoba berpikir. Sajangnim? Tunggu... dan kunci panel lift?! Tidak mungkin. Tidak mungkin pria ini seorang...? ia lantas menggelengkan kepalanya. "Ma..maaf, kau pasti sudah gila. Aku bukan wanita murahan kalau kau mengira aku seperti pelacur di club malam itu." Sungmin sebenarnya takut, bayangkan ia terkunci di lift berdua!
"Hey, siapa yang bilang kau wanita murahan? Aku. Hanya. Ingin. Bersamamu. Di ranjangku. Itu saja, nona Lee Sungmin." Ucap Kyuhyun tenang.
DEG! Dada Sungmin berdebar hebat. Pria ini tahu namanya. Ah, jelas. Kartu identitas yang masih menggantung ditubuhnya.
Kyuhyun bergerak semakin dekat, menyudutkan Sungmin. Sungmin merasa terjepit. Terjebak dalam hawa panas di dalam dengan Kyuhyun membuatnya berdebar walau hanya bertatapan saja.
"Kau harus mau. Apapun caranya!" Kyuhyun berbisik, tangannya memenjarai tubuh Sungmin hingga Sungmin tidak bisa berkutik. Aroma maskulin yang segar menguar dari tubuh Kyuhyun yang secara otomatis tercium oleh Sungmin, merusak kerja syaraf sel otaknya. Harum tubuh Kyuhyun benar-benar membuatnya merasa nyaman dan juga gugup. Hatinya mengatakan kau tertarik dengannya Lee Sungmin. Pria ini mempesonamu!
"Ak—ku tidak bisa." Sungmin berbisik. Sial, kenapa ia begitu terlihat lemah. Ia bisa melihat Kyuhyun terus menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan. Ia lemas, tidak mampu berdiri. Bahkan saat ia dekat dengan Jungmo rasanya tidak seperti ini.
"Kenapa? Aku akan membuat kesepakatan denganmu, Sungmin-ah..." Kyuhyun berbisik dengan suara seraknya membuat wajah Sungmin panas seketika. Pipinya 'merona hebat. "Aku segera mengaturnya, aku tahu kau juga tertarik padaku." Nada suara Kyuhyun terdengar percaya diri dan tak terbantahkan. Kenapa pria ini sangat blak-blakan mengucapkan kalimat mesumnya. Sungmin menggeleng lemah. Tapi tubuhnya bereaksi sebaliknya.
"Tidak." Jawab Sungmin tegas. Keduanya saling bertatapan dekat. "Tidak untuk tidur dengan pria brengsek sepertimu!"
"Apa? Brengsek? Kau tidak tahu aku—" Kyuhyun menghela napas panjang, jakunnya terlihat naik-turun. Baru kali ini ada seorang gadis jual mahal dan mengatainya brengsek.
"Arraseo, terserah apa katamu, yang penting kau mau bersamaku untuk jangka waktu yang akan kita tentukan—"
"Kau gila!" potong Sungmin berdesis. Kyuhyun menundukan wajahnya hingga tepat berhadapan dengan wajah Sungmin.
"Aku memang gila. Maka kita buat kesepakatan. Segera. Ya ampun, Sungmin-ah. Aromamu..." Kyuhyun memejamkan matanya sambil menghela napasnya, napasnya pendek-pendek seperti kekurangan oksigen. Sepertinya menghirup aroma Sungmin membuatnya kehilangan pasokan oksigen.
Sial. Pria ini kenapa bisa membuatku seperti ini. Kenapa dengan aroma tubuhku? Aku selalu memakai parfum. Batin Sungmin. "Lepaskan aku, aku sudah melewati kantorku. Kau membuatku kehilangan pekerjaan kalau—"
"Tidak. Kau tidak akan dipecat." Potong Kyuhyun. Sungmin semakin kesulitan bernapas. Ya Tuhan. Kyuhyun semakin mendekatkan dirinya, bahkan wajahnya tepat didepan wajah Sungmin. Bibir Kyuhyun sangat dekat dengan bibir Sungmin seolah ia ingin mencium bibir Sungmin.
"Kau bukan bos ku!" tegas Sungmin. "Aku ingin, kau menghindar dari tubuhku sekarang. Aku mohon." Sungmin berbisik. Pandangan Kyuhyun menggelap mendengar suara Sungmin barusan. Kyuhyun mengeluarkan ponsel dari saku jasnya kemudian menekan touchscreen dengan cepat. Menelpon seseorang.
"Yeoboseyo Manager Kim, ini aku—" Sungmin melotot ke arah Kyuhyun. Manager kim? Itu managernya! Ada apa pria sinting ini menelponnya, bahkan ia belum memberi tahu dia bekerja di bidang apa. Dan kenapa dia tahu atasan Sungmin?
"Lee Sungmin. Ya, aku ada perlu dengannya. Dia bersamaku. Makanya aku tahan dia sebentar." Kyuhyun mengakhiri percakapannya. Dasar tidak sopan.
"Apa yang baru saja kau lakukan? Dia atasanku. Apa kau sinting? Memang kau siapa—" Sungmin bungkam seketika saat bibir Kyuhyun menyentuh bibirnya. Menekan keras dan lidahnya membelai lembut bibir Sungmin. Sungmin lemas seketika merasakan betapa kuat tekanan bibir Kyuhyun menyusuri dan melumat bibirnya dengan sangat dalam dan tergesa-gesa. Dadanya berdesir, jantungnya berpacu dengan cepat.
Kyuhyun merapatkan tubuhnya ke tubuh Sungmin yang semakin terpojok dan tangannya memegang kepala Sungmin dan satu tangannya berada di pinggang Sungmin, mengusap pelan dengan jarinya. Membuat Sungmin menegang dan merasa tubuhnya panas seketika. Sungmin akhirnya menyerah, ia menikmati ciuman Kyuhyuh, tangannya secara reflek mengalung di leher Kyuhyun. Ia tidak sanggup berdiri ketika ciuman Kyuhyun semakin intens. Dengan lidahnya yang menyusuri rongga mulut Sungmin dan lidah mereka saling membelit satu sama lain. Sungmin membalas lumatan bibir Kyuhyun yang menuntut. Walau ia tidak pandai berciuman, tetapi ia melakukannya mengikuti alur permainan bibir Kyuhyun, bukankah ini gila? Apa dia frustasi karena kehidupan percintaannya yang gagal.
Sial. Dia tidak bisa bernapas. Setiap menjauhkan kepalanya, Kyuhyun memiringkan kepalanya dan menangkup wajah Sungmin, melumat dan menyusupkan lidahnya lalu kembali bertautan panas. Kyuhyun begitu ahli berciuman, batin Sungmin. Sedangkan dia? Tsk! Kyuhyun mengerang saat tangannya mengusap dan menekan punggung Sungmin hingga ia bisa merasakan dada Sungmin bersentuhan dengan dadanya. Sial, kalau begini caranya ia tidak bisa berhenti. Hasrat keduanya bergejolak hebat. Kyuhyun merasakan sesak di bagian bawah tubuhnya.
"Hhh...hhh..." Sungmin menghirup udara sebanyak-banyaknya saat bibir mereka terpisah. Begitu juga Kyuhyun. Hidung mancung mereka saling bersentuhan. Sungmin bisa merasakan napas Kyuhyun di wajahnya. Begitu panas. Dia menginginkan pria ini. Ini tidak mungkin. Bagaimana efek ciuman bisa sedahsyat ini?
"Nghh... ya ampun, Ming." Gumam Kyuhyun di bibirnya. "Kau harus mau. Harus!"
Sungmin memberanikan diri menatap tepat di manik mata Kyuhyun. Pria ini seolah sudah mengenalnya dengan memanggil namanya begitu tenang.
"Bagaimana mungkin aku melepas keperawananku pada pria sepertimu. Bagaimana bisa huh?! Kau bahkan bukan suamiku!" ucapnya dengan segala kekuata yang ia miliki karena sepertinya energinya habis karena ciuman hebat barusan.
Sorot mata Kyuhyun menggelap, tatapannya hampir tidak percaya. Sungmin menutup mulutnya dengan tangannya. Ia baru membuka rahasia penting dirinya sendiri. Ini kesalahan besar Sungmin-ah. Ia kemudian menggeleng lemah. Bodoh. Sudah pasti pria ini akan menertawakannya.
.
.
Sungmin menghempaskan tubuhnya ke kursi kerjanya. Seluruh karyawan di sekitarnya menatapnya aneh. Ada apa dengan mereka? Mereka pasti mengira Sungmin dimarahi habis-habisan oleh supervisornya. Dan hal itu tidak terjadi, bahkan manager Kim sendiri yang bilang pada Sungmin, itu tidak masalah. Gila. Dia pegawai baru kan?
"Kau dimarahi nenek sihir itu?" Sungmin tersenyumkecut mendengar teman yang mejanya berdampingan denganny, Lee Hyukjae. "Kau bahkan tidak percaya Hyukie-ya, aku bahkan tidak dimarahi sedikitpun." Jawab Sungmin santai.
"Apa?!" pekik Hyukjae, kebiasaan. Sungmin segera melotot kearahnya karena pegawai lain menatap kearah mereka berdua. "Apa yang kau bilang tadi tidak bercanda, Minnie-ya?" Hyukjae berbisik.
"Ya." Jawab Sungmin tegas, "Aku tidak berbohong. Tapi ini rahasia kita berdua."
"Kenapa?" tanya Hyukjae, "Apa nenek sihir mengancammu atau apa?" Hyukjae sangat ingin tahu rupanya. Ya begitulah kepribadian seorang Hyukjae. Cerewet. Dan selalu ingin tahu.
"Tidak Hyukie sayang, dia tidak mengancam apa-apa. Dia hanya diam seperti patung hahaha..." Sungmin tertawa disusul Hyukjae.
"Bahkan manager Kim yang menanyaiku saja tidak memarahiku sama sekali." Sungmin menghendikkan bahunya, "Tapi, aku curiga jangan-jangan—" Ia seketika teringat dengan pria yang bernama Kyuhyun yang menelpon manager Kim dan menciumnya dengan hebat tadi di lift. Tanpa diduga ia merona dengan sendirinya. Tidak mungkin karena pria itu, memangnya siapa dia sampai bisa mempengaruhi managernya. Tidak mungkin...
"Hey, Minnie-ya kau kenapa? Curiga apa?" tanya Hyukjae bingung.
"Ani. Aniyeo, gwaenchana." Sungmin sedikit gugup mengingat ciuman hebat tadi.
"Kalian mau sampai kapan mulai bekerja dengan baik nona Lee?" mereka berdua tersadar saat Kim Saeun, si nenek sihir sudah berdiri tidak jauh dari tempat mereka berdua bekerja. Tatapan tidak suka seperti ditujukan pada Sungmin. Hyukjae dan Sungmin segera merapikan posisi duduk mereka berdua.
"Semua, tolong dengarkan baik-baik! Akan ada pertemuan nanti sebelum makan siang diruang utama divisi kita. Jadi harap berkumpul tepat jam setengah dua belas."
"Yang memimpin adalah CEO perusahaan kita sekaligus pemilik perusahaan dan gedung yang kita tempati untuk bekerja sekarang ini." Kenapa pemilik sekaligus petinggi perusahaan ini memimpin pertemuan pada divisi kecil di perusahaan ini? Ini aneh. Suara orang-orang di ruangan Sungmin terdengar riuh.
"Dan kau, Lee Sungmin!" Sungmin mengangkat kepala menatap orang yang sering memarahinya ini. "Ne?." Jawabnya pelan, "Aku harap kau hadir juga. Arraseo?" Sungmin menganggukkan kepalanya. "Ne, arraseo."
Sungmin berpikir, ada apa denganku? Tentu saja aku hadir. Aku masih ingin kerja disini.
.
.
.
TBC
