Nothing On You, Sungmin-ah

.

.

Cast:

Cho Kyuhyun (namja)

Lee Sungmin (yeoja)

.

Rate: M

.

Chaptered, Genderswitch

.

Fanfic ini remake dari fanfiction dengan judul "Nothin' On You" milik author yesungspy. Semua ini hasil karya author yesungspy dan ada beberapa sedikit yang saya ubah.

Selamat Membaca!

Chapter 3

*still flashback*

Suasana di ruang pertemuan sudah penuh dengan pegawai dari divisi dimana Sungmin bekerja selama ini. Entahlah, ini tidak seperti biasanya. Biasanya pertemuan seperti ini hanya dipimpin oleh kepala divisi saja, namun kali ini dipimpin oleh CEO dari perusahaan adidaya ini.

Sungmin mendengar bisik-bisik percakapan beberapa karyawan yang cukup lama bekerja di perusahaan ini. Kabarnya memang CEO ini tidak pernah memimpin pertemuan untuk karyawan kalangan rendah, ya seperti divisi Sungmin ini. Lalu ada apa? Sungmin menghembuskan napas panjangnya. Ia sangat terganggu dengan pikirannya akhir-akhir ini. Pekerjaan. Kehidupannya. Semuanya.

Suasana mulai riuh, karena sang CEO belum menampakkan batang hidungnya. Terdengar kekecewaan dari beberapa karyawan wanita, apalagi mereka yang masih berstatus single. Karena ini merupkan kesempatan yang sangat langka bertemu dan bertatap muka dengan CEO mereka yang menjadi incaran para gadis-gadis. Tampan, muda, single dan kaya raya tentunya.

Sungmin mendengus sebal. Kenapa semua mengelu-elukan CEO mereka. Pasti sangat membosankan dekat dengan seorang workaholic. Yang ia ingin sekarang adalah makan, karena ia sangat lapar.

Seketika ruangan ini hening. Manager Kim berdiri dengan senyum cerah terkembang di wajahnya. Ini jarang terjadi, wajah manager Kim selalu terlihat sangat serius jika mengadakan pertemuan atau rapat dan semacamnya.

Setelah mengucapkan beberapa patah kata, manager Kim turun dari podium kebesarannya dan sekarang sosok yang ditunggu pun masuk perlahan. Melangkahkan kakinya menaiki podium dan seketika Sungmin tahu siapa yang berdiri dihadapannya. Ia memang berdiri jauh dari podium tapi ia masih bisa melihat dengan jelas wajah siapa disana.

Mulutnya terbuka lebar. Badannya lemas seketika. Jantungnya berdebar dengan sangat kencang. Padahal mata pria itu tidak menatapnya, oh belum menatapnya. Buktinya sekarang pria itu mengedarkan pandangannya. Dan bingo! Sorot mata tajam itu menemukannya. Menemukan dirinya. Ia yakin karena ketika ia bergerak sorot mata itu juga mengikutinya. Ya. Ia yakin. Napas Sungmin tercekat ketika memang benar tatapan itu tertuju padanya. Tidak salah lagi. Sungmin mencoba menghirup udara disekitarnya sebanyak-banyaknya. Ia akan mati karena tatapan pria itu. Dia Cho Kyuhyun.

Bumi, tolong telan aku sekarang! Batin Sungmin berteriak.

Dia tidak percaya, pria yang brengsek dan kurang ajar adalah CEO dimana dia bekerja selama ini. Pemilik dari gedung dimana dia bekerja. Pemilik seluruh ratusan ribu anak perusahaan dibawah kepemimpinan orang yang bernama Cho Kyuhyun? Dia bodoh atau apa tidak tahu CEO-nya? Yang Sungmin tahu memang namanya tuan Cho Kyuhyun. Dan nama Kyuhyun memang tidak sedikit kan di Seoul? Ya Tuhan, Sungmin. Kau dalam masalah besar sekarang.

Sungmin berpegangan pada lengan Hyukjae yang ada di sebelahnya, yang sedari tadi temannya ini tidak berhenti memuji ketampanan dan betapa berkharismanya CEO mereka. Sekarang wajah Sungmin terlihat pucat da ia begitu lemas. Keringat dingin keluar dari tubuhnya. Ia tidak menyimak apa yang Kyuhyun katakan. Pikirannya tertuju pada club malam itu, dan tawaran gila pria yang sedang berpidato didepan sana. Terlebih tadi pagi, ciuman panas di lift. Tidak. Ia harus bagaimana? Apa CEO mereka itu sering mengaja karyawannya tidur diranjangnya? Ia gadis ke berapa yang diajak tidur? Lalu kenapa semua karyawan seolah tidak tahu tabiat buruk CEO mereka? Ini membuat Sungmin mual. Ya, Tuhan. Dia semakin pusing

Sungmin samar-samar mendengar Kyuhyun memberikan semangat pada divisi mereka atas keberhasilan dan kerja tim yang bagus. Setelah itu kepala Sungmin semakin berat. Ia seolah berputar sekarang. Matanya masih sempat menatap tatapan Kyuhyun dari atas podium, tatapannya tertuju padanya. Hanya padanya. Ia melihat tatapan Kyuhyun tajam dan ada sedikit kekhawatiran. Tidak. Tidak. Sungmin menggeleng lemah. Kemudian semuanya serba putih. Ia tidak kuasa menahan berat tubuhnya sendiri dan akhirnya limbung.

Ia masih bisa mendengar suara riuh karyawan disini dan kepanikan Hyukie. Tiba-tiba ia mendengar suara, "panggil tim medis. Sekarang! Cepat!" masih terdengar riuh karyawan, Sungmin hafal suara siapa barusan. Jantungnya masih berdebar kencang disaat ia kehilangan separuh kesadarannya.

"Aku bilang CEPAT!" suara Kyuhyun meninggi terdengar geram dan marah. Ia dekat dengan Sungmin. Sungmin bisa merasakan aura Kyuhyun di sekitar tubuhnya. Apa yang pria ini lakukan? Kemudian Sungmin merasakan tubuhnya terangkat. Siapa yang menggendongnya? Ia ingin bergerak tapi tidak bisa, dan ia masih bisa mencium aroma ini. Ini...aroma Kyuhyun! Pria ini menggendongnya? Seketika seluruh kesadarannya terenggut.

.

.

Sungmin mendengar samar-samar suara seorang pria yang ia kenal. "Bagaimana keadaannya?" terdengar cemas. Tapi Sungmin tidak ingin bertemu dengan pria ini, dan kenapa Jungmo sampai tahu keadaannya yang seperti ini.

"Aigo, Minnie-ya..." gumam Jungmo lagi. Kemudian dengan kekuatannya ia membuka matanya. Saat terbuka ia menatap Jungmo yang terlihat cemas. Kemudian menatap sekelilingnya. Ruangan siapa ini? Yang pasti ia tidak tidur di sofa. Ini mirip sebuah kamar. Entahlah. Sungmin menghela napas panjang. Ini memalukan, pingsan disaat pertemuan dengan CEO mereka. Tunggu! Dimana Kyuhyun? Yang mebawa dia tadi Kyuhyun kan? Pria yang mengajaknya tidur. Oh ya Tuhan... kenapa malah mengingat pria itu.

"Kenapa kau ada disini?" tanyanya lagi, bingung.

"Aku tadi mendapat telepon dari managermu, katanya kau pingsan dan belum sadarkan diri. Hyukjae terdengar panik saat menelponku tadi, lalu mereka menyuruhku datang untuk membawamu pulang." Jelas Jungmo.

Kenapa dia seolah spesial? Bukan karena Jungmo, tapi perlakuan orang-orang kantornya. Ini tidak biasa terjadi.

"Masih pusing?" tanya Jungmo sambil menyodorkan air putih padanya. Sungmin menggeleng lemah. "Kau pucat, ayo aku antar pulang supaya kau bisa istirahat."

"Tapi—" Sungmin hendak membantah tapi kemudian dari arah pintu ia melihat Hyukjae sedang membawa tas dan juga blazernya. "Kau boleh pulang, Minnie-ya..." Hyukjae terlihat cemas, Sungmin tersenyum geli melihat temannya mengkhawatirkan dia.

"Hyukie-ya, gomawo." Ucap Sungmin lemah, "sstt...cepat sembuh. Ada banyak hal yang ingin aku ceritakan padamu dan kau harus menjelaskan banyak hal yang tidak aku ketahui. Sekarang istirahatlah. Aku akan menjengukmu..." Hyukjae berbisik.

Sungmin menatap temannya itu bingung. Ada apa? Kelihatannya sangat penting.

.

.

Sungmin membuka matanya dan melihat kearah jam yang sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Lumayan lama ia tidur, badannya juga sudah mendingan walaupun nyeri di kepalanya masih terasa.

Dilihatnya meja di samping ranjangnya sudah penuh dengan makanan. Oh, ibunya selalu saja berlebihan. Dia ingat saat pulang tadi, tanpa berbicara pada ibunya, ia langsung tidur. Dimana ibunya sekarang? Saat akan beranjak, pintu kamarnya terbuka.

"Juyeon ingin bertemu denganmu sayang," ibunya seperti meminta izin kepadanya. Sungmin mengangguk kemudian Juyeon masuk. Ya seperti biasa, tatapan sinis ditujukan kepadanya. Tanpa berkata banyak Juyeon duduk di kursi disebelah ranjang Sungmin.

"Hah..." Juyeon epertinya sangat tidak suka Sungmin seperti ini. "Katakan apa perlumu kesini?" ujar Sungmin masih dengan suara lemahnya.

"Kau tahu tanpa aku jelaskan," Juyeon berdecak kesal. "Sampai kapan kau akan tergantung pada Jungmo oppa, huh?" ujar Juyeon dengan suara tegas dan sedikit meninggi. Sungmin bisa melihat dari tatapan mata Juyeon padanya.

"Aku tidak memintanya mengantarku pulang—" belum selesai Sungmin berbicara, Juyeon sudah berdiri dengan amarahnya.

"Memang bukan kau. Aku harap ini yang terakhir. Kau tahu kan aku dan Jungmo oppa akan menikah. Apa kurang banyak kau mengganggu hubungan kami, huh?!" suara Juyeon meninggi. Ya. Juyeon seorang perempuan, ia tahu perasaan seorang perempuan jika tertarik pada seorang laki-laki. Jadi, sikap Sungmin yang menyukai Jungmo terbaca dengan mudah oleh Juyeon.

"Kau bisa pastikan ini yang terakhir, huh?!" mata Juyeon memerah, ia cemburu. Tapi Sungmin juga sakit hati. Tidak sepantasnya ia menerima teriakan dan makian dari gadis ini, kan?

"Ya...ini yang terakhir." Jawab Sungmin tegas, Juyeon tersenyum sinis.

"Kau yakin?" tanya Juyeon dengan senyum meremehkannya.

"Ya! Aku bisa menjaminnya, Juyeon-ssi." Sungmin menghela napas panjang, "Aku juga tidak gila pria sepertimu. Banyak pria yang mau denganku—"

"Oh, ya? Lalu mengapa kau belum menikah? Belum mempunyai seorang kekasih hingga sekarang? Menunggu Jungmo berpisah denganku? Jangan harap!"

"Tidak akan!" jawab Sungmin dengan mata memerahnya. "Percayalah, aku tidak akan mengganggu hubungan kalian berdua. Aku jamin!" Sungmin menatap Juyeon tajam.

"Tidak semudah itu Lee Sungmin. Kau menikah dulu dengan pria lain. Baru aku percaya!" Sungmin menoleh ke arah Juyeon, menatap Juyeon dengan tatapan tidak percaya. Menikah?

"Apa?" gumam Sungmin.

"Ya, kau tidak tuli. Baiklah, aku pergi. Semoga kau menemukan pria yang pas untukmu, adik ipar." Ujar Juyeon dengan menekan kata 'pas' pada kalimatnya yang ditujukan untuk Sungmin.

Sungmin memejamkan matanya, sakit kepala menderanya lagi. Kata pas tadi memang ditegaskan, berarti Jungmo bukan yang pas untuknya. Memang bukan. Bagaimana bisa serumit ini? Mengapa ia bisa mencintai kakak sepupunya sendiri?

Tidak lama setelah Juyeon pergi, Sungmin beranjak keluar dari kamarnya. Ibunya terlihat melambaikan tangan kearah Juyeon yang sudah keluar dari rumahnya.

"Makan yang banyak sayang, maag-mu kambuh dan anemia seperti biasa, tapi kali ini jauh lebih parah." Ibunya mengusap wajahnya lembut, lalu menuntun Sungmin duduk di ranjangnya lagi. "Istirahat yang banyak. Kata dokter, kau sulit tidur akhir-akhir ini." Nyonya Lee, ibu Sungmin, menyuapkan bubur padanya. "Eomma, jangan terlalu cemas. Nanti juga sembuh." Sungmin tersenyum simpul.

"Minnie-ya, Eomma boleh bertanya?" tanya ibunya ragu, "Ya..." Sungmin menjawab, ibunya kini menatap Sungmin dalam-dalam, kemudian menyuapkan sesendok bubur lagi untuk Sungmin.

"Apa kau mempunyai kekasih yang memang satu perusahaan denganmu, sayang?" tanya ibunya hati-hati. Sungmin mendengarnya langsung melotot tidak percaya dan hampir tersedak. Beruntung ibunya segera menyodorkan segelas air putih.

"Eomma, kenapa bertanya seperti itu?" Sungmin mengusap bibirnya yang sedikit belepotan, ibunya tersenyum geli. "Tadi ada yang menelpon eomma, suara seorang pria. Dia bilang dia teman kerjamu." Sungmin berpikir, teman kerja pria nya banyak. Tapi, siapa? Kenapa ibunya berasumsi dia berpacran dengan teman prianya itu? Tunggu! Dari mana mendapat nomor telepon rumah Sungmin?

"Dia begitu mengkhawatirkanmu, sayang. Terdengar dari nada suaranya, eomma kira begitu. Tadi, sebelum kau tiba, dia menelpon eomma berulang kali, bertanya apakah kau sudah sampai atau belum. Dan kalau sudah sampai, jangan lupa memastikan dia istirahat dengan baik. Yah, seperti seorang yang mencemaskan kekasihnya." Ibunya menatap Sungmin lekat. Sungmin berdebar-debar, tangannya berkeringat dingin. Dia sepertinya tahu. Tapi, ah tidak mungkin pria itu.

"Dia seperti tidak yakin Jungmo mengantarkanmu pulang sampai ke rumah." Ibunya terkekeh mengingatnya. "Namanya, apa eomma menanyakan namanya?" tanya Sungmin hati-hati.

"Ya. Namanya, Kyuhyun."

DEG! Jantungnya kembali berpacu dengan cepat. Ya, Tuhan. Pria itu lagi. Kenapa ia selalu berurusan dengan pria itu? Pria itu tidak main-main Lee Sungmin.

.

.

Keesokan paginya, Sungmin masih belum bekerja. Ia meminta izin tidak masuk. Berjalan ke dapur dan ia mendapati meja makan yang sudah penuh dengan makanan. Ibunya tersenyum manis padanya.

"Appa pergi pagi-pagi sekali tadi, kemarin malam saat dia pulang, kau sudah terlelap." Sungmin tersenyum mendengar pernyataan ibunya.

"Ne, Eomma. Arraseo. Tadi pagi Appa ke kamarku, seperti biasa. Morning kiss.." jawab Sungmin tersenyum. Ibunya yang tahu kebiasaan itu memasang wajah iri nya. "Eomma... jangan cemburu." Goda Sungmin.

"Kau ini..." Ibunya menyodorkan coklat hangat untuknya. "Kemarin malam, pria itu menelpon lagi." Gumam ibunya saat duduk didepan Sungmin.

"Apa?!" pekik Sungmin, "Pri..pria mana?" tanyanya gugup.

"Kekasihmu, Kyuhyun."

"Eomma!" pekik Sungmin. Ibunya terkekeh mendengar anak semata wayangnya protes. Ia senang, Sungmin sudah membaik. Tidak seperti kemarin yang pucat pasi seperti mayat hidup.

Saat ibunya beranjak ke dapur, ponsel di saku celananya berbunyi. Ia segera mengeluarkan dari sakunya, dan melihat ada panggilan dari nomor asing. Sungmin mengernyitkan dahinya. Kemudian ia menekan tombol berwarna hijau pada ponsel touchscreen-nya.

"Ya..?" jawabnya.

"..." tidak ada jawaban, Sungmin menatap ponselnya yang masih menyala.

"Yeoboseyo?"

"Sudah membaik?" suara dari seberang terdengar tidak asing baginya. Suara ini milik...

DEG!

Jantungnya berpacu dengan cepat, hatinya berdesir seketika. Pria ini lagi...

"Ka...kau?" Sungmin gugup, "Darimana kau tahu nomorku?" Sungmin kau sudah gila? Bagaimana bisa kau hafal dengan suara seorang pria yang baru saja kau kenal? Ini aneh.

"Aku CEO di tempatmu bekerja." Jawabnya tegas seakan mengingatkan Sungmin bahwa ia bos ny. Sungmin! Kau bodoh. Ia masih belum bisa menguasai dirinya, ia butuh pasokan udara lebih. Sesak sekali. Bagaimana suaranya bisa begitu mengintimidasinya?

"Ya. Aku tahu." Jawabnya kesal. "Aku sudah membaik. Aku ingin istirahat, aku tutup teleponnya dan jangan pernah kau menghubungiku—"

"Dan, Minnie-ya. Kau masih ingat permintaanku kan? Pertimbangkan! Selamat beristirahat."

Sungmin makin gugup mendengar kata-kata Kyuhyun barusan. Bagaimana pria ini begitu tenang saat mengucapkan kata-kata barusan, sedangkan ia begitu gugup dan seakan mau pingsan lagi.

"Oh ya. Aku mengirimkan sesuatu ke rumahmu. Aku harap itu bisa membuatmu cepat sembuh. Selamat pagi."

Sungmin hendak protes, namun teleponnya sudah ditutup. Sial, dia tahu alamat rumahnya. Sungmin merenung sejenak. Jantungnya masih berdebar. Sungmin, tidak mungkin kau secepat ini menyukaipria semacam itu? Apakah dia terbiasa merayu semua karyawannya untuk tidur dengannya?

Tak lama kemudian, terdengar suara ibu memanggilnya. "Sayang, lihat ini..."

Sungmin segera beranjak ke ruang depan. Ia terkejut ada bingkisan begitu banyak. Ya Tuhan... Dia tidak main-main mengajak kau tidur di ranjangnya.

.

.

Sungmin sebenarnya malas menatap dua orang yang ada di kamarnya ini. Ya, Jungmo dan Juyeon datang untuk menjenguknya. Ia masih teringat dengan apa yang dikatakan Juyeon kemarin malam. Sangat memuakkan.

"Makanlah. Apa mau aku suapi, eoh?" goda Jungmo. "Sini—" Jungmo hendak mengambil makanan yang dibelinya untuk Sungmin.

"Tidak. Tidak perlu." Tolaknya, ia sedikit melirik ke arah Juyeon yang terlihat kesal. "Aku masih kenyang. Ibu membuatkan banyak makanan, jadi aku memakannya lahap."

"benarkah?" Jungmo tidak percaya. Ia hafal sifat Sungmin yang malas makan jika sedang sakit. Jungmo menatap di sekitarnya, ada banyak sekali bingkisan.

"Apa ada yang datang menjengukmu?" tanya Jungmo.

"Eh, itu tadi aku—"

BRAK!

Tiba-tiba pintu kamar Sungmin terbuka lebar. Semua mata tertuju ke arah pintu.

Sesosok pria membuka pintu kamarnya tanpa permisi. Tatapan pria itu terlihat tajam, marah dan tepat mengarah pada Sungmin yang kini membulatkan matanya tidak percaya. Dia...kenapa ada disini? Batin Sungmin. Seketika hatinya berdesir dan jantungnya berdebar kencang. Selalu seperti ini reaksi tubunhya jika bertemu dengan Kyuhyun.

"Ka..kau—"

.

.

.

TBC