Title: Sensitive Pornograph

Chapter: 3/6

Cast: Jung Yunho, Kim Jaejoong

Rate: M

Genre: Romance, Drama

Warning: BL, Yaoi, NC (failed)

.

Remake dari oneshoot chapter ketiga manga Sensitive Pornograph ©Ashika Sakura, 2003

Ide cerita seluruhnya milik Ashika Sakura-sensei, ane cuma remake jadi YunJae version, yang ga suka ya ga usah baca.

.

Note: tolong dibaca sampai bawah agar ga ada kesalahpahaman

.

Happy Reading

.

.

.

.

.

Chapter 3: Adult Issue

.

.

Kenangan masa lalu seharusnya menjadi kenangan indah yang tersimpan selama bertahun-tahun di masa depan. Itu yang selalu aku percayai.

"Jangan menangis, Jaejoongie. Tunggu aku hingga dewasa, aku akan kembali padamu. Aku berjanji"

"Hiks... Ne, aku akan menunggumu"

Aku tidak pernah berpikir sebelumnya jika kenangan indah itu seharusnya tersimpan dan terkubur, tapi malah ada seseorang yang membuatku mengingatnya kembali.

"Yunho, ireona"

Yunho yang sedang nyaman dalam dunia mimpinya merasa ada yang mengganggu tidurnya, Yunho lalu menarik tangan seseorang yang sedang menggoyang-goyangkan tubuhnya yang sudah membuatnya meninggalkan alam mimpi.

"Yunho..."

"Jaejoong?" ucap Yunho sedikit terkejut saat melihat sesosok namja cantik yang sedang duduk di dekatnya saat pertama membuka mata.

"Huaaa!" reflek Yunho saat melihat yang dipegang tangannya adalah tangan Jaejoong dan langsung melepaskannya yang malah membuat Jaejoong menatapnya bingung.

"Apa yang kau lakukan, Jae?" tanya Yunho setelah tersadar dari keterkejutannya.

Yunho yang kelelahan setelah bekerja, jatuh tertidur di kursi dan Jaejoong tidak membangunkannya hingga waktunya makan malam.

"Aku cuma ingin membangunkanmu karena sudah waktunya makan malam, aku membuat spaghetti special untukmu" ucap Jaejoong dengan senyum lebar. "Ayo kita makan malam"

Jaejoong lalu berdiri dari kursi panjang yang Yunho tiduri dan beranjak menuju dapur diikuti oleh Yunho.

Karena pekerjaan ayahku, kami sekeluarga pindah ke Chungnam saat aku masih di junior school, disana pulalah aku pertama kali bertemu Jaejoong dan kami bisa langsung akrab karena usia kami yang seumuran.

Untuk anak seusia kami saat itu, aku terlihat cukup manly dan Jaejoong terlihat lebih cantik dari yeoja manapun, bahkan aku sempat mengira Jaejoong adalah yeoja saat pertama kali melihatnya. Kami yang semakin hari semakin akrab, merasakan sebuah perasaan untuk saling memiliki, lalu kami memutuskan untuk menjalin hubungan dan menjadi sepasang kekasih, tapi kemudian kami sadar bahwa hubungan yang kami lakukan sudah terlalu jauh, kami sudah melakukan hubungan yang seharusnya tidak kami lakukan. Aku dan Jaejoong sudah melakukan hubungan intim, dan itu kami lakukan saat kami kelas dua high school.

Kemudian pekerjaan ayahku kembali membuat kami sekeluarga pindah dan menetap di Seoul hingga sekarang, dan membuat hubunganku dan Jaejoong berakhir saat itu. Aku tidak pernah lagi mendengar kabar tentang Jaejoong, hingga beberapa hari yang lalu Jaejoong datang ke apartemenku dengan sebuah tas besar dipunggungnya dan tersenyum lebar.

"Yunho, lama tidak bertemu. Apa kabar?" ucap Jaejoong dengan senyum manis.

"Apa kau Jaejoong?" tanya Yunho saat melihat namja berwajah cantik yang sedang berdiri di depan pintu apartemennya.

"Ne. Aku diusir oleh keluargaku dan sekarang aku tidak punya tempat tinggal. Itu semua karena salahmu, karena aku mengatakan jika aku adalah gay lalu mereka mengusirku" ucap Jaejoong masih tersenyum manis.

"Gay? Kau jadi penyuka sesama jenis?" Yunho sedikit terkejut dengan ucapan Jaejoong.

"Ne. Dan itu semua adalah salahmu, kaulah yang sudah membuatku seperti ini" ucap Jaejoong dengan jari terarah ke wajah Yunho.

Itulah yang dia katakan saat pertama datang lalu menciumku setelahnya, mencium bibirku, dan itu membuatku shock. Kenangan indahku tentangnya berubah seketika, dulu dia sangat manis, dan mungil. Sekarang dia sudah tumbuh besar, bahkan tingginya hampir menyamaiku, hanya wajahnya saja yang tidak berubah, malah semakin cantik.

"Bagaimana rasanya? Aku tahu pasti rasanya tidak seenak buatan restoran, tapi aku sudah berusaha membuatnya semirip mungkin" ucap Jaejoong dengan senyum lebar dan menatap Yunho dengan mata berbinar saat keduanya berada di dapur menikmati makan malam buatan Jaejoong.

"Cukup enak" jawab Yunho singkat saat memakan spaghetti yang Jaejoong buat.

Jaejoong yang mendapat pujian merasa senang lalu mulai melahap spaghetti yang dia buat dengan semangat.

Namja ini sudah beberapa hari ini tinggal bersamaku dan aku masih tidak mengetahui alasan sebenarnya dia memilih tinggal bersamaku, tapi masakan buatannya sangat enak.

"Jae, seperti yang sudah kukatakan sebelumnya. Masa lalu adalah masa lalu dan saat ini semua sudah berubah, aku tahu kita dulu memiliki hubungan yang sangat dekat, tapi sekarang aku sudah tidak lagi memiliki ketertarikan pada namja, jadi kuharap kau mengerti maksudku" ucap Yunho tiba-tiba.

Jaejoong yang hendak menyuap spaghettinya berhenti dan menatap Yunho.

"Aku mengerti. Mianhae karena sudah banyak menyusahkanmu, aku akan segera pergi jika sudah mendapatkan pekerjaan baru, jadi ijinkan aku tinggal beberapa hari lagi, ne" ucap Jaejoong dengan senyum tetap terpasang di wajahnya.

"Apa sesuatu yang ekstrim telah terjadi? Setahuku sebagian besar keluarga tidak akan mengusir anak mereka hanya karena mengalami penyimpangan seksual, apalagi kau satu-satunya anak laki-laki di keluargamu" tanya Yunho yang penasaran alasan Jaejoong memilih tinggal di apartemennya.

"Aku berasal dari daerah dimana pemikiran mereka masih kolot, sedangkan kau tumbuh di kota, jadi kurasa kau tidak mungkin bisa mengerti pemikiran mereka yang sedikit ekstrim" ucap Jaejoong dengan tatapan sendu.

"Aku sudah kenyang" ucap Jaejoong yang sudah tidak berselera lagi dengan makanannya yang masih tersisa banyak lalu membereskan peralatan makannya dan menaruhnya di tempat cucian piring.

"Yunho, seandainya waktu itu kita tidak berpisah, apa kita masih bisa bersama? Tumbuh besar dan mengalami sesuatu yang tidak normal, kurasa seseorang harus tahu batasnya, bukan?" ucap Jaejoong yang membelakangi Yunho dengan tatapan kosong.

"Apa maksudmu?" tanya Yunho yang tidak mengerti dengan ucapan Jaejoong.

"Eh! Itu bukan apa-apa, lupakanlah. Anggap saja aku tidak pernah berkata apapun. Jika sudah selesai berikan piringmu padaku, aku akan mencucinya" Jaejoong yang tersadar akan ucapannya langsung berusaha mengalihkan pembicaraan.

Yunho yang sudah menghabiskan makan malamnya, memberikan piringnya pada Jaejoong dan beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya, tidak lama Yunho keluar lalu masuk ke dalam kamarnya memutuskan untuk melanjutkan tidurnya yang sebelumnya diusik Jaejoong.

"Yun..."

Yunho kembali terusik saat ada seseorang yang memanggilnya saat dirinya sedang terlelap lalu memutuskan membuka matanya. Namun setelah Yunho membuka matanya, Yunho terkejut saat melihat Jaejoong sedang berdiri di hadapannya tanpa sehelai benang menutupi tubuhnya polosnya dan tersenyum manis.

"Jaejoong? Apa terjadi? Kenapa kau telanjang?" tanya Yunho tanpa menyadari jika dirinya sama polosnya dengan Jaejoong.

"Yun...ho..." ucap Jaejoong sedikit mendesah.

Jaejoong mendekati Yunho, mencium bibirnya lembut dan meremas penis Yunho hingga menjadi hard lalu duduk di pangkuannya. Yunho semakin terkejut saat Jaejoong memposisikan penis miliknya yang sudah hard dilubang Jaejoong lalu memasukannya perlahan-lahan.

"Aaaahhh" desah Jaejoong saat penis Yunho sudah masuk sepenuhnya dan Jaejoong mulai menggerakan tubuhnya naik turun dan mendesah erotis.

"Waaaaa!" teriak Yunho yang terbangun tiba-tiba dengan nafas terengah-engah.

Shit, apa maksud mimpi barusan...

"Ngghh"

Yunho yang mendengar sebuah lenguhan menoleh kearah samping dan melihat Jaejoong sedang tertidur pulas di kasur lipat miliknya yang sudah beberapa hari ini Jaejoong gunakan sebagai alas tidurnya di lantai. Apartemen Yunho hanyalah sebuah apartemen sederhana yang memiliki satu kamar tidur, jadi Jaejoong memilih tidur di lantai dengan kasur lipat karena Yunho tidak mau berbagi ranjang -yang bisa menampung dua orang- dengannya dan itu tidak menjadi masalah bagi Jaejoong.

Yunho melihat wajah Jaejoong yang tertidur nyenyak terfokus pada bibir merah Jaejoong -bibir yang dulu sering Yunho lumat saat mereka masih menjadi sepasang kekasih- yang terlihat sedikit basah dan menggoda, Yunho lalu mendekatkan wajahnya ke wajah Jaejoong.

"Damn! Aku harus segera ke toilet!" ucap Yunho lalu berlari keluar kamar saat merasakan sesuatu yang aneh setelah menempelkan bibirnya ke bibir Jaejoong yang sedang terlelap.

Blam

Jaejoong membuka matanya saat mendengar Yunho menutup pintu sedikit kencang dan hanya menatap heran pintu yang baru saja dibanting Yunho.

"Ada apa dengannya?" ucap Jaejoong bingung. "Hoam"

Jaejoong yang menutup mulutnya saat menguap, merasakan bibirnya basah.

"Pasti liurku keluar lagi deh" ucap Jaejoong lalu melanjutkan tidurnya.

Tidak lama kemudian Yunho kembali ke kamarnya dan melihat Jaejoong masih tertidur pulas, Yunho kembali ke ranjangnya dan memutuskan untuk tidur kembali, tapi sayang matanya tidak juga bisa terpejam. Karena mimpi yang sebelumnya Yunho alami tersebut terus berputar dibenaknya, dan membuatnya terjaga hingga pagi hari.

.

.

"Yunho-ssi... Yunho-ssi..."

"Hah?" Yunho yang sedang berdiri di depan mesin foto kopi tersadar dari alam bawah sadarnya saat seseorang memanggilnya.

Karena terjaga sepanjang malam dan kurang tidur akibat mimpi semalam, Yunho jadi kurang konsentrasi. Bahkan saat di tempat kerjanya, sudah seharian Yunho melakukan kesalahan.

"Apa aku baik-baik saja?" tanya seorang yeoja yang cukup cantik pada Yunho.

"Ah, ne. Waeyo, Ara-ssi?"

"Itu, apa kau memerlukan sampai sebanyak itu?" tanya yeoja bernama Ara sambil menunjuk tumpukan kertas hasil foto kopi milik Yunho.

"Mwo? Sebenarnya aku hanya butuh tiga lembar saja, kenapa jadi banyak begini? Aku jadi membuang kertas percuma" ucap Yunho sedikit panik saat melihat hasil foto kopinya sangat banyak, tanpa sadar Yunho menekan tombol print terlalu lama sehingga menghasilkan berlembar-lembar kertas kopian miliknya.

"Apa ada yang mengganggu pikiranmu?" tanya Ara penasaran.

Go Ara adalah salah satu karyawan di tempat Yunho bekerja namun berbeda bagian, dia juga menaruh hati pada Yunho dan selalu berusaha untuk mendapatkan perhatian dari Yunho, tapi sayang Yunho tidak peka akan situasi di sekitarnya.

"Sebenarnya semalam aku kurang tidur akibat mimpi buruk" jawab Yunho singkat.

"Oh, jadi itu sebabnya kau mengalami hari yang buruk. Bagaimana jika kau ikut kami pergi ke tempat karaoke setelah pulang kerja" Ara berusaha mengajak Yunho untuk bisa lebih dekat dengannya. "Aku dan beberapa temanku bermaksud untuk merayakan kenaikan jabatan salah satu rekan kami, kurasa itu mungkin bisa mengurangi beban pikiranmu"

"Apa tidak menjadi masalah, aku tidak terlalu akrab dengan mereka?" tanya Yunho sedikit khawatir.

"Tidak apa, lagipula kau cukup terkenal di kantor ini. Siapa yang tidak kenal dengan Jung Yunho, dan kurasa mereka akan senang jika kau bisa ikut" ucap Ara masih terus meyakinkan Yunho.

"Baiklah, aku ikut" ucap Yunho menerima ajakan Ara dengan senyum mengembang di wajahnya.

Itu benar, aku bukan gay. Dan seharusnya aku memang berhubungan dengan yeoja, bukan dengan namja. Lagipula Go Ara sepertinya menyukaiku dan dia juga cukup cantik walau Jaejoong masih lebih cantik. Mianhae Jaejoong-ah, aku tidak bisa kembali seperti dulu.

.

.

Tik tok tik tok

Jam sudah menunjukan pukul sepuluh malam, tapi Yunho belum juga pulang. Jaejoong yang menunggunya merasa sedikit khawatir sambil terus menatap jam di dinding.

"Tidak biasanya sudah selarut ini Yunho belum pulang, semoga saja tidak terjadi sesuatu" ucap Jaejoong seperti istri yang sedang mengkhawatirkan suaminya.

Cklek

Blam

Jaejoong yang mendengar seseorang masuk ke dalam apartemen Yunho, langsung beranjak menuju pintu dengan senyum mengembang diwajahnya.

"Selamat da... tang" ucap Jaejoong saat melihat Yunho pulang bersama seorang yeoja yang bergelayut manja di lengannya.

"Eh? Kau tidak tinggal sendiri?" tanya si yeoja saat melihat Jaejoong yang tidak lain adalah Go Ara sedikit terkejut.

"Dia Jaejoong, temanku dari Chungnam. Selama beberapa hari ini dia akan tinggal bersamaku hingga dia mendapat pekerjaan" Yunho memberikan penjelasan pada Ara.

"Annyeong" sapa Jaejoong sambil tersenyum, berusaha bersikap sopan.

Ara sendiri hanya tersenyum singkat dan malah melingkarkan tangannya semakin erat dan bergelayut manja di lengan kekar Yunho, karena tujuannya mendekati Yunho adalah untuk bisa mendapatkan Yunho, setidaknya dia bisa melakukan one night stand dengan Yunho dan siapa yang sangka jika Yunho malah mengajaknya ke apartemennya.

"Umm, Jae. Bisakah kau keluar selama beberapa jam saja, kau pasti tahu apa yang kumaksud?" ucap Yunho saat melewati Jaejoong.

Ara semakin senang mendengar ucapan Yunho yang terkesan seolah mengusir Jaejoong dan Ara sangat yakin jika setelahnya Yunho akan membawanya ke kamar dan menghabiskan malam panas bersama.

"Ne, arraseo" ucap Jaejoong singkat.

Jaejoong hanya memandang punggung Yunho yang membawa Ara ke kamarnya lalu memakai jaketnya dan pergi keluar, Jaejoong sangat paham dengan apa yang akan Yunho lakukan setelah ini, dan Jaejoong sendiri tidak bisa mencegahnya, jadi Jaejoong memutuskan mengikuti apa yang Yunho katakan padanya.

'Keluar dan menghabiskan beberapa jam di taman bukanlah pilihan buruk', seperti itulah yang ada dipikiran Jaejoong saat melangkahkan kakinya keluar dari apartemen Yunho.

Yunho sendiri melihat Jaejoong yang sedang berjalan menuju taman dekat apartemennya dari jendela kamarnya.

Ternyata dia benar-benar mengetahui apa yang harus dia lakukan. Aku tahu ini sedikit kejam, tapi mau bagaimana lagi aku bukanlah gay seperti dirinya, dan aku juga tidak ingin Ara berpikir seperti itu.

"Apa yang sedang kau lihat?" tanya Ara sambil memeluk Yunho dari belakang.

"Tidak ada, ayo kita lanjutkan" ucap Yunho dengan senyum terhias diwajahnya lalu membalikan tubuhnya dan memeluk Ara.

Yunho mencium Ara penuh nafsu lalu menidurkannya di ranjang dan melucuti pakaian Ara hingga polos. Yunho memeluk dan mulai mencumbui Ara.

"Aaahhhh" desah Ara saat Yunho menyentuh titik-titik sensitifnya.

"What the..."

Tiba-tiba saja Yunho merasakan sesuatu yang aneh saat sedang mencumbui Ara.

"Ada apa?" tanya Ara saat Yunho tiba-tiba berhenti mencumbui dirinya.

Yunho hanya memandang yeoja yang berada dibawahnya dengan tatapan kosong.

Plak

Blam

Yunho terduduk di ranjangnya hanya bisa memandang ke arah pintu kamarnya dengan tatapan kosong, Ara pergi meninggalkannya dengan raut wajah kesal setelah menampar wajahnya. Yunho yang teringat Jaejoong kemudian meraih pakaiannya yang bercecean di lantai dan memakainya lalu keluar mencari Jaejoong.

Yunho melangkahkan kakinya ke taman di dekat apartemennya dan melihat Jaejoong sedang duduk sendirian di bangku kayu yang ada di taman, lalu berjalan mendekatinya.

"Yunho?" ucap Jaejoong saat melihat Yunho berdiri di sampingnya.

"Apa sudah selesai? Kenapa cepat sekali? Aku pikir aku akan menunggu sampai pagi disini dan kenapa dengan wajahmu? " tanya Jaejoong sedikit terkejut saat melihat sebuah tanda merah di wajah Yunho yang Jaejoong tahu jika itu bekas sebuah tamparan. "Apa terasa sakit?" Jaejoong menyentuh tanda merah di pipi kiri Yunho dengan jarinya.

Yunho memilih duduk di samping Jaejoong sebelum menjawab pertanyaan dari Jaejoong. "Seharusnya kau sudah paham saat melihatnya, jadi jangan bertanya. Aku tidak percaya aku menyuruhnya pergi begitu saja tanpa melakukan apapun padanya, dan dia menjadi sangat marah"

"Kurasa akan ada sebuah gosip yang akan menyebar di tempat kerjaku besok, dan itu semua adalah salahmu" ucap Yunho lalu menoleh ke arah Jaejoong.

"Salahku? Kenapa?" tanya Jaejoong bingung.

"Dia pasti akan mengatakan pada semua orang jika aku mengalami penyimpangan seksual dan kau adalah pasangan gay-ku" ucap Yunho singkat.

Jaejoong sendiri hanya menundukan wajahnya. "Mianhae"

"Maafkan aku karena sudah menyusahkamu, dan berbohong padamu. Sejujurnya keluargaku tidak pernah mengusirku, aku hanya takut untuk pulang ke rumah dan membuat keluargaku malu karena aku seorang gay" ucap Jaejoong pelan.

"Semua itu berawal sejak kau pergi meninggalkanku, aku tidak lagi memiliki ketertarikan pada yeoja. Hingga akhirnya saat aku bekerja aku menjalin hubungan dengan bosku, tapi hubungan kami terungkap dan berita itu menyebar dengan cepat. Lalu dia memutuskan hubungan denganku dan menikah dengan yeoja untuk menghindari skandal, saat itu aku bingung dan tidak memiliki tempat tinggal karena aku memutuskan untuk keluar dari tempat kerjaku dan aku takut untuk pulang ke rumah. Saat itu tiba-tiba aku teringat akan dirimu, jadi aku memutuskan untuk mencarimu" Jaejoong memilih menatap langit malam menghindari tatapan Yunho yang menatapnya tajam karena merasa dibohongi oleh Jaejoong.

"Aku tidak perduli walau itu sangat memalukan, tapi entah kenapa aku merasa sangat ingin bertemu denganmu. Dan saat aku berhasil menemukanmu, aku sadar jika aku masih sangat menyukaimu dan aku berharap bisa bersamamu kembali. Aku juga merasa senang saat kau mengijinkanku tinggal bersamamu, jadi maafkan aku jika selama ini aku sudah terlalu banyak menyusahkanmu" ucap Jaejoong berusaha tersenyum walau dengan raut sendu.

Yunho yang mendengar penjelasan Jaejoong hanya terdiam dan tanpa sadar tangannya menyentuh wajah Jaejoong.

"Yunho?" Jaejoong terkejut saat Yunho tiba-tiba memeluk dirinya.

"Jangan katakan lagi, aku mengerti perasaanmu. Aku sudah tidak perduli lagi kau itu namja atau yeoja, dan aku baru menyadarinya jika aku juga masih menyukaimu" ucap Yunho lalu mencium bibir Jaejoong. "Kau tahu, karena aku memikirkanmu saat mencumbui Ara aku jadi tidak bisa hard dan bercinta dengannya oleh karena itu dia menamparku lalu pergi, dan kurasa saat ini aku sudah menjadi gay sepertimu"

Jaejoong tertawa mendengar ucapan Yunho. "Lalu apa kau akan hard jika melakukannya denganku?"

"Mungkin" ucap Yunho singkat

"Ayo kita lakukan! Seperti dulu!" ucap Jaejoong semangat dengan mata berbinar.

Yunho tertawa melihat reaksi Jaejoong yang lucu lalu menarik tangan Jaejoong dan membawanya pulang ke apartemennya. Saat mereka masuk ke dalam apartemen, Yunho langsung mendorong tubuh Jaejoong hingga membentur pintu lalu menghimpitnya. Yunho melumat kasar bibir Jaejoong dan memasukan lidahnya ke dalam mulut Jaejoong sementara tangannya menyusup masuk ke dalam baju Jaejoong lalu melepasnya satu persatu, Jaejoong sendiri hanya bisa pasrah memerima serangan Yunho.

"Nnngggh" desahan Jaejoong membuat Yunho menjadi hard dan semakin bersemangat untuk menyentuh Jaejoong.

"Tunggu, Yun" cegah Jaejoong saat Yunho akan melepas celananya. "Kita lakukan di kamar, ne. Aku tidak mau melakukannya di depan pintu seperti ini"

Yunho membawa Jaejoong ke kamarnya lalu melepaskan pakaian yang tersisa di tubuh Jaejoong dan juga melepaskan pakaiannya sendiri. Jaejoong sendiri berjongkok di hadapan Yunho lalu meraih penis Yunho yang sudah hard dan memasukannya ke dalam mulutnya, membuat Yunho mendesah nikmat.

Merasa permainan Jaejoong cukup di penisnya dan Yunho sudah tidak sabar ingin memasuki Jaejoong, Yunho mencabut penisnya dari mulut Jaejoong dan membaringkan tubuh Jaejoong di ranjang.

Yunho melebarkan paha Jaejoong lalu memposisikan penisnya di lubang Jaejoong dan memasukannya secara perlahan lalu mulai bergerak maju mundur setelah penisnya terbenam seluruhnya.

"Aaahhh... Yunhoo..." desah Jaejoong saat Yunho memasukan penisnya dan mulai menggerakan pinggulnya

Bosan dengan posisi yang biasa, Yunho memposisikan tubuh Jaejoong menjadi menungging dan terus menggerakkan tubuhnya membuat desah Jaejoong semakin kencang. Yunho memeluk tubuh Jaejoong dari belakang sementara tangan kanannya meremas penis Jaejoong dan tangan kirinya bermain di nipple Jaejoong.

"Nnghh... aahhhh... Yun..." desah Jaejoong saat merasakan sensasi luar biasa ditubuhnya, sensasi yang sudah lama tidak pernah Jaejoong rasakan semenjak sex pertamanya dengan Yunho saat high school dulu. Bahkan sensasi tersebut tidak pernah Jaejoong rasakan saat tidur dengan mantan kekasihnya.

Yunho membalikan kembali tubuh Jaejoong dan memeluknya sementara gerakan pinggulnya semakin kencang. Jaejoong sendiri merasakan perasaan bahagia meledak di dadanya, hingga tanpa dia sadari air matanya menetes.

"Yunho... aahhh..."

Yunho mendudukan Jaejoong di pangkuannya lalu mencium dan menghisap bibir merah Jaejoong.

"Aku... aku akan keluar" ucap Jaejoong saat dirinya akan mencapai orgasme.

Sruut

"Yunho!"

Tubuh Jaejoong jatuh ke ranjang dan terengah setelah mencapai orgasme disusul Yunho yang terjatuh diatas tubuhnya.

"Yun, aku takut... Aku takut jika kau melakukan ini dengan yeoja saat aku sedang bersamamu dan aku tidak bisa melakukan apapun untuk mencegahmu, tapi aku bahagia karena kau juga menyukaiku. Benar-benar bahagia, hingga aku ingin menangis" ucap Jaejoong saat terbaring berbantalkan lengan kekar Yunho dan cairan bening mengalir dari doe eyes miliknya.

Saat aku kecil, aku pernah berfikir jika aku menjadi dewasa apakah bisa bersama dengan orang yang kusukai sepeti kanjiku pada Jaejoong...

"Ne, aku menyukaimu. Dan bukankah aku dulu pernah berjanji padamu jika dewasa aku akan kembali padamu, jadi berhentilah menangis karena aku akan bersamamu selamanya" ucap Yunho sambil menghapus air mata Jaejoong lalu mencium bibir Jaejoong.

"Saranghae, Kim Jaejoong"

"Nado... hiks... saranghae... hiks... Yunho..."

Dan sekarang aku sadar, jika janji kami benar-benar terwujud. Akhirnya aku bisa bersama dengan orang yang kusayangi walau dialah yang mencari dan menemukanku saat kami dewasa.

"Kau tahu, aku sudah tidak perduli lagi Ara akan menyebarkan berita jika aku adalah gay. Selama aku bisa bersamamu, aku rela jika harus menjadi gay" ucap Yunho mencium dahi Jaejoong lalu membawa Jaejoong dalam dekapannya, Jaejoong sendiri hanya tersenyum dalam dekapan hangat Yunho yang membuatnya nyaman.

.

.

.

.

.

Chapter 3: Adult Issue

- END -

.

.

Sensitive Pornograph

(T)indih (B)oojae (C)entil

.

.

.

Kuro's note:

Ini oneshoot chapter ketiga dari manga Sensitive Pornograph, masih ada tiga oneshoot lagi, ya beb.

Ane agak kurang yakin sama chap ini, jadi tolong masukannya.

Dan buat yang udah nge-fav, follow sama review... arigatou, gomawo, xie xie, thank you

-Kuro-