Title: Sensitive Pornograph

Chapter: 4/6

Cast: Jung Yunho, Kim Jaejoong

Rate: M

Genre: Romance, Drama

Warning: BL, Yaoi, NC (failed)

.

Remake dari oneshoot chapter manga Sensitive Pornograph ©Ashika Sakura,2003

Ide cerita sepenuhnya milik Ashika Sakura-sensei, ane cuma remake seenak jidat lebar Yoochun jadi Yunjae version, jadi buat yang ga suka ya ga usah baca

.

Setiap chapter dari FF ini semuanya oneshoot yang terdiri dari 6 cerita berbeda, satu cerita diantaranya bergenre shounen-ai (chap 2 ) dan yang lainnya yaoi.

.

Happy reading

.

.

.

Chapter 4: Be More Honest

.

.

"Ini untukmu" ucap seorang namja bermata musang menyerahkan selembar foto pada namja berwajah cantik.

Doe eyes namja cantik membesar seketika saat melihat foto yang diberikan oleh si namja bermata musang. Sebuah gambar cukup erotis terlihat di foto tersebut, dimana bagian privat seorang namja berkulit putih terlihat dengan jelas dan namja lainya yang berkulit tan membenamkan kejantannya didalam hole si namja berkulit putih yang dipenuhi cairan putih kental yang merembes keluar dan juga membasahi perut ratanya, dan si namja cantik sangat mengenali siapa objek dari foto tersebut walau bagian wajahnya tidak terlihat.

"Bukankah itu foto yang bagus? Tenang saja aku menyimpannya khusus untuk diriku sendiri, dan aku juga masih memiliki banyak foto seperti itu" ucap si namja bermata musang lalu mendekatkan wajahnya dan berbisik di telinga si namja cantik yang bertubuh lebih pendek darinya.

"Kuharap kau bisa datang lagi ke kamarku, aku akan menunggu kedatanganmu" bisiknya lalu pergi meninggalkan si namja cantik yang sedang shock mendekap foto yang diberikan namja bermata musang didadanya.

'Kenapa aku harus selalu menuruti semua hal aneh yang kau katakan padaku' itu adalah kata-kata yang ingin kuucapkan padamu, tapi aku terlalu pengecut untuk mengucapkannya dan lidahku kelu setiap berhadapan denganmu. Aku ingat saat pertama kali kau melakukan hal itu padaku.

.

.

"Oi, Jaejoong-ah! Bawa peralatan ini ke dalam mobil!"

"Ne, sajangnim" ucap namja berwajah cantik yang dipanggil Jaejoong menarik sebuah tas berukuran cukup besar dan sebuah tas lainnya menggantung dibahunya sedikit kepayahan. "Uggh, beratnya..."

Greb

Tiba-tiba tas yang ditarik Jaejoong terasa lebih ringan, dan saat Jaejoong menoleh dia melihat seorang namja bermata musang sedang mengangkat tas -yang bagi Jaejoong berat- tanpa beban.

"Yunho?" ucap Jaejoong saat melihat namja yang membantunya.

"Kemana appa akan pergi hari ini?" tanya Yunho saat melihat tas yang dibawa Jaejoong.

"Seoul Art Museum, sajangmin akan melakukan pameran disana" jawab Jaejoong lalu meletakan tas di dalam mobil milik bosnya.

Aku bekerja di studio foto pribadi milik Jung Jihoon sajangnim, dimana aku bekerja sebagai salah satu karyawan Jung sajangnim yang seorang fotografer profesional, beliau juga sering sekali melakukan pameran hasil jepretan kameranya, dan Yunho adalah anak dari Jung sajangnim.

Rumah Jung sajangnim berada tepat diatas studio, oleh karena itu aku sering melihat Yunho dan sedikit mengenalnya. Yunho sangat ramah dan tinggi, bahkan tingginya melebihi tinggi badanku yang hanya sebahunya, padahal tinggiku seratus tujuh puluh tujuh sentimeter. Dia juga jauh lebih manly dariku, padahal usianya lima tahun lebih muda dariku dan masih menjadi siswa di salah satu senior high school terbaik di Seoul. Aku juga sedikit menyukainya.

"Jadi tidak ada siapapun di studio hari ini?" tanya Yunho tiba-tiba setelah membantu Jaejoong memasukan tas ke dalam mobil milik appanya.

"Ne. Tapi aku tetap tinggal di studio, karena aku masih harus menyelesaikan beberapa tugas dari Jung sajangnim" jawab Jaejoong singkat lalu kembali ke dalam studio.

"Hmmm" gumam Yunho saat mendengar ucapan Jaejoong lalu mengekorinya.

Tapi...

Bruk

"Ap-apa yang kau lakukan, Yunho?" tanya Jaejoong yang tiba-tiba di dorong ke ranjang hingga jatuh terkelungkup setelah sebelumnya diseret oleh Yunho ke kamarnya saat hendak masuk ke dalam studio.

"Aku tahu kau selalu memperhatikanku dari jauh, dan aku yakin jika kau adalah gay. Aku tahu dari caramu melihatku, jadi aku yakin kau pasti akan menyukai ini" ucap Yunho di telinga Jaejoong dengan tangannya menyusup masuk ke dalam celana Jaejoong.

"Andwae! Jangan lakukan, kumohon jangan" Jaejoong memohon dengan air mata menggenang di doe eyes miliknya.

Jaejoong memang menyukai Yunho, tapi Jaejoong tidak pernah berpikir untuk melakukan hubungan intim dengannya, dan Jaejoong sendiri belum pernah melakukan hal tersebut dengan siapapun.

Yunho yang tidak memperdulikan permohonan Jaejoong menurunkan celana yang Jaejoong pakai lalu memasukan penisnya yang besar ke dalam hole Jaejoong hingga terbenam sempurna.

"Aarrghhh...! Sakit...!" jerit Jaejoong saat merasakan sakit yang luar biasa di holenya, rasa sakit luar biasa yang pertama kali dia rasakan seolah mengoyak bagian bawah tubuhnya.

Yunho menulikan telinganya dan terus menggerakan pinggulnya membuat penis besarnya bergerak di dalam hole Jaejoong yang sempit.

Jaejoong tahu jika yang pertama kali memang sakit, tapi Jaejoong tidak pernah menyangka jika rasa sakitnya luar biasa menyakitkan dan dirinya juga mengalami pemaksaan.

"Hentikan... aku mohon hentikan... rasanya sakit sekali... berhenti..."

Perasaan sakit yang mengerikan itu tidak berhenti dan terus menyakitiku, bahkan air mataku tidak berhenti mengalir akibat rasa sakit itu, dan dia sama sekali tidak menghentikan perbuatannya.

Clik

Itu adalah suara yang terakhir kudengar sebelum aku terbungkus dalam kegelapan dan rasa sakit yang kurasakan di sekujur tubuhku terutama bagian holeku, terasa seolah tercabik dari dalam, dan aku tahu jika itu adalah suara kamera.

.

Clik

Suara kamera kembali terdengar di telinga Jaejoong dan membuatnya membuka doe eyes bening miliknya, Jaejoong terbangun di ranjang Yunho tanpa sehelai benang dan hanya selimut tipis yang menutup bagian bawah tubuhnya yang terasa panas, perih dan juga lengket karena cairan putih kental yang mengalir keluar dari holenya. Jaejoong sendiri paham dengan apa yang baru terjadi padanya.

"Kau mengambil gambarku lagi?" tanya Jaejoong pada Yunho yang sedang mengarahkan kamera ke arahnya. Jaejoong ingat jika sebelumnya Yunho mengambil fotonya saat sedang membenamkan penisnya.

Yunho yang mendengar ucapan Jaejoong, memunggungi Jaejoong lalu menaruh kamera di meja nakas. Yunho yang sama polosnya dengan Jaejoong kemudian menoleh ke arah Jaejoong dan berjalan mendekatinya.

"Kau tahu? Melihatmu yang sedang telanjang seperti ini membuatku jadi hard lagi, kau harus bertanggungjawab dengan memuaskanku lagi" ucap Yunho lalu melebarkan paha Jaejoong dan memasukan penis besarnya kembali ke dalam hole Jaejoong yang lebih mudah dari sebelumnya karena dipenuhi sperma miliknya.

"Mwo? Andwae!"

"Nnngh... aahh..." desah Jaejoong saat Yunho memasukan penisnya ke dalam hole Jaejoong secara perlahan hingga terbenam seluruhnya.

Sebuah seringai tercipta di sudut bibir Yunho saat mendengar desahan Jaejoong yang mulai menikmati sentuhannya, dan Yunho melakukannya dengan lebih lembut dari sebelumnya karena Jaejoong yang sedang mendesah terlihat sexy dimatanya.

"Aahh...ahh...ahh..aahh... "desah Jaejoong saat Yunho menggerakan pinggulnya dan mengenai titik sensitifnya.

Jaejoong yang merasakan sakit tapi juga nikmat yang datang secara bersamaan hanya bisa meremas kencang selimut yang sudah berantakan untuk menyalurkan rasa sakit yang dirasakannya, Yunho sendiri merasakan kembali nikmat yang sebelumnya dia rasakan dan kali ini jauh lebih nikmat.

"Apa yang kurasakan saat ini?" tanya Yunho disela-sela hentakannya. "Apa rasanya enak?"

"Aku... rasanya... aahhh... ne..."

Jaejoong tidak pernah menyangka rasa sakit yang sebelumnya dia rasakan bisa berubah menjadi sangat nikmat seiring hentakan Yunho.

Seringai muncul di sudut bibir Yunho saat mendengar ucapan Jaejoong, lalu dengan mudahnya Yunho membalikan tubuh Jaejoong menjadi menungging dan memunggunginya. Yunho lalu memasukan kembali penisnya ke hole Jaejoong dan meremas penis Jaejoong perlahan. sementara tangannya yang lain bermain di dada Jaejoong dan memilin nipplenya hingga membuat Jaejoong mendesah kencang.

Sruut

"Aaahh... Yunho..." desah Jaejoong saat mencapai orgasme dengan sperma miliknya yang membasahi tangan dan ranjang Yunho lalu ambruk disusul Yunho yang juga mengalami orgasme dan mengeluarkan kembali sperma miliknya di hole Jaejoong.

.

.

"Eh, jadi ini foto yang kau maksud? Tidak buruk, malah sangat bagus karena diambil dari sudut yang pas. Tidak heran jika dia adalah anak dari seorang fotografer profesional, dia memiliki bakat yang hebat" ucap seorang namja yang cukup cantik menilai foto milik Jaejoong yang sebelumnya diberikan oleh Yunho.

"Buka itu masalahnya, Heechul hyung" ucap Jaejoong pada namja yang sama cantik dengan dirinya yang sudah dianggap hyungnya.

Setelah Yunho memberinya foto erotis, Jaejoong langsung pergi menemui Heechul, namja yang merupakan sunbaenya saat kuliah dulu yang sudah dianggap sebagai hyungnya dan sudah banyak membantunya selama kuliah. Namja cantik yang suka seenaknya berpikir tanpa beban dan kadang ucapannya sering menusuk, tapi sebenarnya penuh perhatian.

"Lalu apa masalahnya? Bukankah kau juga menyukainya? Dan dia juga masih sekolah di senior high school, kau benar-benar membuatku iri, Joongie-ah" ucap Heechul sedikit menggoda Jaejoong. "Aku yakin dia pasti hebat di ranjang, dan kurasa itu tidak menjadi masalah jika kau seorang pedofil"

Jaejoong memajukan bibir merahnya dan menatap kesal pada Heechul saat menyebutnya pedofil.

"Tapi dia menyerangku secara tiba-tiba, itu namanya pemaksaan! Dan itu rasanya sakit, sangat sakit seperti dicabik-cabik dari dalam" ucap Jaejoong lirih lalu membenamkan wajahnya diatas lengannya yang dilipat diatas meja saat keduanya berada di dapur di apartemen Heechul.

"Tapi kalian masih tetap melanjutkannya kan?"

Skakmat, ucapan Heechul membuat Jaejoong tidak bisa berkata apa-apa lagi dan malah membuat wajah Jaejoong merona hebat. Bukan hanya melanjutkan permainan ranjangnya dengan Yunho, Jaejoong malah menikmati setiap sentuhan Yunho di tubuhnya.

"It-itu karena dia mengambil foto telanjangku, ja-jadi aku tidak bisa menolaknya" ucap Jaejoong gugup saat melihat Heechul menatapnya dengan sebuah seringai terhias dibibirnya.

"Dan aku jadi merasa sulit untuk kembali ke studio" ucap Jaejoong lagi lalu menundukan kepalanya.

Aku tidak pernah mengerti apa yang sedang dia pikirkan, apa alasannya melakukan itu padaku.

"Apa kau ingin mengundurkan diri?" tanya Heechul.

"Tidak semudah itu. Aku bekerja di sana karena aku menyukai pekerjaannya dan Jung sajangnim juga sangat baik padaku, lagipula gaji yang kuterima cukup banyak dan dapat memenuhi kebutuhan hidupku selama sebulan. Walau bagian terburuknya adalah dia sudah memperlakukanku seperti itu, aku masih tetap menyukainya. Menyukai seorang Jung Yunho" ucap Jaejoong dengan senyum terukir di wajah cantiknya.

"Jika kau berpikir seperti itu, maka jangan kau pikirkan lagi masalahmu. Ayo kita minum saja" ucap Heechul berusaha membuat Jaejoong melupakan masalahnya kemudian mengeluarkan beberapa kaleng bir dan sebotol soju. "Satu minuman akan menyelesaikan ribuan masalah, bersulang!"

Jaejoong lalu tersenyum dan minum bersama dengan Heechul, dan tidak berapa lama Heechul tumbang, berbeda dengan Jaejoong yang memiliki toleransi alkohol yang tinggi masih tersadar penuh saat Heechul mulai mengoceh tidak karuan. Jaejoong akhirnya memutuskan menginap dirumah Heechul dan menemani Heechul yang sudah mabuk berat.

Jaejoong lalu memandangi foto yang diberikan oleh Yunho dengan beribu pertanyaan berputar di kepalanya.

'Kenapa dia memberikan foto ini padaku?' ucap Jaejoong dalam hati lalu memejamkan matanya menyusul Heechul yang sudah menuju alam mimpi sambil memeluk botol soju setelah sebelumnya membawa Heechul yang mabuk ke kamarnya dan ikut merebahkan dirinya di atas ranjang Heechul.

.

.

Keesokan harinya Jaejoong memutuskan kembali ke studio tempatnya bekerja dan berniat menemui Yunho untuk meminta penjelasan darinya.

Jaejoong melangkahkan kakinya menuju kamar Yunho yang berada tepat di atas studio milik Jung sajangnim setelah sebelumnya menyelesaikan pekerjaannya. Jaejoong menghembuskan nafasnya sebelum mengetuk pintu kamar Yunho, lalu memberanikan diri untuk mengetuk pintunya.

Cklek

Suara pintu terbuka sebelum Jaejoong mengetuknya dan muncul Yunho dari balik pintu tersebut.

"Aku mendengar langkah kakimu saat menaiki tangga, masuklah" ucap Yunho menyuruh Jaejoong masuk lalu duduk di atas ranjang miliknya dan menatap Jaejoong.

Jaejoong mengikuti Yunho masuk ke dalam kamarnya, kamar yang sebelumnya memberikan kenangan yang tidak bisa Jaejoong lupakan, terlebih ranjang yang sedang Yunho duduki.

"Kau datang setelah selesai bekerja?" tanya Yunho.

"Umm, Ne" jawab Jaejoong singkat.

Aku ingin bertanya padanya, aku ingin mengetahui apa yang dipikirkan olehnya, tapi aku tidak bisa melakukannya, aku terlalu pengecut.

"Jangan bergerak!" ucap Yunho membuat Jaejoong tersadar dari lamunannya.

Clik

Jaejoong mendengar suara jepretan kamera dan kilauan blitz terarah padanya dan ternyata Yunho mengambil gambarnya kembali, terlihat Yunho sedang memegang sebuah kamera dan diarahkan ke arah Jaejoong.

"Kenapa kau mengambil gambarku? Dan semenjak saat itu kau selalu mengambil gambarku, apa kau bermaksud memerasku?" tanya Jaejoong sedikit kesal.

"Tidak" jawab Yunho singkat lalu menaruh kameranya di meja kemudian berjalan kearah Jaejoong.

Tanpa Jaejoong duga, tiba-tiba Yunho mengangkat tubuh mungilnya lalu dilempar ke atas ranjang miliknya dan menindihnya. Jaejoong terkejut saat Yunho mulai mencium dan melumat bibirnya.

"Jangan!" cegah Jaejoong saat merasakan tangan Yunho menyusup masuk kedalam celananya.

Yunho tidak memperdulikan ucapan Jaejoong yang mencegahnya menyentuh tubuhnya kembali.

"Tunggu, jawab aku terlebih dahulu. Aku sungguh tidak mengerti kenapa kau mengambil gambarku, dan apa alasanmu melakukan semua itu?" tanya Jaejoong berusaha menahan tubuh Yunho yang berada diatasnya agar tidak menindihnya.

Yunho tidak menjawab pertanyaan Jaejoong dan malah memilih bangun dari atas tubuh Jaejoong dan memunggunginya.

"Aku sudah tidak mood lagi dengan tubuhmu, kau bisa pergi" usir Yunho tanpa sedikitpun menoleh ke arah Jaejoong.

Setelah kejadian itu, aku tidak pernah melihat Yunho lagi, dia seolah menghindariku. Dan kemudian sesuatu yang lebih mengejutkan terjadi padaku.

.

"Jaejoong-ah, kemarilah" panggil Jung sajangnim saat melihat Jaejoong baru datang ke studio miliknya. "Ada yang ingin kutunjukan padamu"

"Ada apa, sajangnim?" tanya Jaejoong bingung.

"Ini, lihatlah terlebih dahulu" ucap Jung sajangnim lalu memberikan sebuah majalah pada Jaejoong.

"Majalah Hello? Bukankah majalah ini tidak pernah bekerja sama dengan studio kita" ucap Jaejoong sedikit bingung saat melihat majalah yang diberikan oleh Jung sajangnim padanya.

Jung sajangnim bukanlah tipe orang yang memilih bisnis daripada hobinya, oleh karena itu Jung sajangnim hanya melakukan kerja sama dengan beberapa majalah yang mau memakai jasanya dan lebih memilih melakukan pameran untuk karyanya. Itu juga karena bayaran Jung sajangnim sangat mahal, jadi hanya beberapa majalah saja yang sanggup untuk membayarnya.

"Itu benar, tapi coba kau lihat halaman yang sudah kuberi tanda" ucap Jung sajangnim menunjuk sebuah tanda berwarna merah diantara sela-sela halaman majalah yang dia berikan pada Jaejoong.

Jaejoong lalu mengikuti perintah Jung sajangnim, dan matanya membesar seketika saat melihat sebuah foto yang tercetak di majalah tersebut, bahkan nama Yunho tertulis jelas di samping foto tersebut.

Jaejoong melihat foto seorang namja yang sedang tidur dengan posisi terkelungkup dengan punggung yang terekspos tanpa sehelai benang menutupi punggung mulusnya dan dipenuhi peluh.

"Aku sangat terkejut saat pertama kali melihatnya, aku tidak menyangka jika Yunho juga menyukai fotografi" ucap Jung sajangnim dengan senyum di wajahnya.

Ini kan fotoku...

Jaejoong menyadari jika objek foto itu adalah dirinya walau wajahnya tidak terlihat.

"Sungguh mengejutkan dia mengambil foto dengan objek manusia, karena foto seperti itu sangat tergantung pada emosi dari si fotografer, jadi sangat sulit untuk memghasilkan sebuah foto yang sangat bagus" jelas Jung sajangnim. "Dan bukankah kau yang menjadi objek foto itu, Jaejoong-ah?"

"Sa-sajangnim, a-aku..." Jaejoong gugup saat diberikan pertanyaan seperti itu dari Jung sajangnim.

"Aku tidak akan mempermasalahkan hubungan antara kau dengan Yunho karena itu adalah pilihannya, hanya saja pastikan jika hubungan kalian tidak mengganggu pekerjaanmu. Aku mengerti apa yang kau rasakan, jadi tenanglah" Jung sajangnim menepuk bahu Jaejoong. "Dan sesuai perkiraanku, putraku memiliki ketertarikan yang sama denganku. Kau sangat mirip dengan istriku"

"Hah? Mwo?" ucap Jaejoong bingung.

Aku ingat, mantan istri Jung sajangnim adalah yeoja cantik yang selalu menjadi objek foto Jung sajangnim, hingga akhirnya mereka memutuskan berpisah.

"Sebagai ayahnya, aku pasti akan memujinya. Tapi sejujurnya foto ini sangat bagus, foto ini juga menggambarkan perasaanya padamu. Benar-benar foto yang sangat bagus" puji Jung Sajangnim.

Tiba-tiba sebuah perasaan hangat menyusup ke dalam dada Jaejoong sebuah senyuman terhias diwajahnya saat mendengar ucapan Jung sajangnim yang memuji hasil foto Yunho, dan tanpa berpikir panjang, Jaejoong melangkahkan kakinya memuju kamar Yunho.

Tok tok

Sebuah ketukan terdengar di pintu kamar Yunho.

"Masuklah" ucap Yunho yang sedang membaca sebuah majalah.

Mata Yunho membesar seketika saat melihat Jaejoong berdiri di depan pintu kamarnya, seketika terbangun dari duduknya tanpa dia sadari karena terkejut. "Jaejoong?"

Sementara Yunho terkejut, Jaejoong hanya menatapnya dengan ekspresi yang sulit Yunho tebak.

"Aku tahu ini sedikit terlambat, tapi aku takut jika tidak kutanyakan sekarang, aku akan menyesal nantinya" Jaejoong menggigit bibirnya dan berjalan mendekati Yunho. "Apa kau menyukaiku, Yunho-ah?"

Blush

Yunho tiba-tiba menutup wajahnya dengan tangan dan menunduk, tapi Jaejoong dapat melihatnya dengan jelas karena tubuh Jaejoong yang lebih pendek dari Yunho.

Wajah Yunho memerah, apa itu artinya dia menyukaiku? Jadi selama ini dia tidak pernah jujur padaku, tapi dari foto itu aku melihat kebenarannya, sekarang aku mengerti apa yang Yunho pikirkan selama ini.

"Aku menyukaimu, Yunho-ah" ucap Jaejoong pelan namun masih terdengar di telinga Yunho.

Grep

Yunho tiba-tiba saja memeluk tubuh Jaejoong "Aku juga menyukaimu, maafkan aku jika selama ini tidak jujur padamu"

Yunho lalu mencium bibir Jaejoong dan mendorong tubuh Jaejoong hingga terbaring di ranjang. Yuhno menyingkap baju yang dipakai Jaejoong lalu menghisap nipplenya, sedangkan Jaejoong hanya bisa mendesah dan menikmati permainan lidah Yunho di dadanya.

Yunho melepaskan satu persatu pakaian yang dikenakan Jaejoong hingga tidak tersisa satupun dan juga melakukan hal sama pada dirinya, lalu memasukan penisnya secara perlahan ke lubang Jaejoong.

"Aahhh... Yunho..." desah Jaejoong saat Yunho membenamkan seluruh penisnya di lubang Jaejoong dan mendiamkannya sesaat agar Jaejoong terbiasa, dan merasakan sensasi lubang sempit Jaejoong yang meremas penisnya.

"Aaahhh... nngh... oohhh... " desah Jaejoong saat Yunho mulai menggerakkan penisnya dengan ritme teratur, Jaejoong memeluk tubuh Yunho dan sedikit mencakarnya untuk menyalurkan sensasi antara sakit dan nikmat yang dia rasakan.

"Sssss..." desis Yunho saat merasakan sakit dipunggungnya akibat cakaran Jaejoong.

Yunho akhirnya membalik tubuh Jaejoong menjadi menungging karena tidak tahan dengan cakaran Jaejoong dan membuat penisnya masuk lebih dalam ke lubang Jaejoong.

Yunho lalu meraih rahang Jaejoong dan cium bibirnya, setelah beberapa kali hentakan, kedua mencapai orgasme bersama lalu terbaring di ranjang, memikirkan suatu hal yang memenuhi pikirannya.

Yunho meraih celana miliknya dan memakainya lalu duduk memunggungi Jaejoong yang masih terbaring di ranjang menikmati sisa-sisa orgasmenya

"Hey, foto yang kau berikan padaku, itu foto pertamaku yang kau ambil kan? Kenapa kau masih terus mengambil gambarku setelahnya?" tanya Jaejoong yang masih berbaring di ranjang.

Yunho menoleh ke arah Jaejoong. "Sebenarnya aku mengambil gambarmu karena kau terlihat sexy dan cantik, oleh karena itu aku ingin mengambil gambarmu dalam berbagai ekspresi. Kau mungkin tidak akan percaya padaku, tapi aku tidak pernah berniat menggunakan foto itu untuk memerasmu. Itu karena aku..."

Yunho tidak bisa melanjutkan ucapannya karena wajahnya sudah memerah dan itu membuat Jaejoong ingin tertawa.

"Ya Tuhan, kau itu... coba sedikit lebih jujur, pasti tidak akan ada kesalahpahaman seperti ini. Kau tahu kan jika aku sangat menyukaimu, dan kau juga menyukaiku. Jadi kenapa kita tidak pacaran saja? Jung sajangnim juga sudah mengijinkan, asal..."

Ucapan Jaejoong dipotong seenaknya oleh Yunho. "Benarkah?!"

"Ne, selama hubungan kita tidak mengganggu pekerjaanku" lanjut Jaejoong membuat Yunho sedikit tersenyum

"Jadi sekarang kita pacaran?" tanya Yunho antusias.

"Menurutmu?"

"Baiklah, mulai sekarang kau adalah kekasihku dan aku meminta jatahku" ucap Yunho lalu menindih Jaejoong kembali.

"Mwo? Andwae! Yang barusan masih sakit, Yun. Masih sakit! Buttku masih sakit!" tolak Jaejoong sedikit mendorong dada Yunho.

"Bohong, kita sudah beberapa kali melakukannya, masa masih sakit" ucap Yunho berusaha menyingkirkan tangan Jaejoong yang mencobanya menghalangi niatnya mencumbui Jaejoong

"Itu karena milikmu yang besar, Yun" ucap Jaejoong dengan wajah memerah.

"Tapi kau suka kan?" goda Yunho.

"Iya sih. Eh? Andwae!"

"Aku akan membuatmu mendesahkan namaku seharian" ucap Yunho dengan ekspresi mesum.

"Andwae! Aku harus kerja, aku tidak mau dipecat!"

Sekarang aku mengerti perasaanmu yang sebenarnya, benar-benar mengerti. Jika kau ternyata selama ini menyukaiku dan aku juga sangat-sangat menyukaimu.

.

.

.

.

.

Chapter 4: Be More Honest

- END -

.

.

Sensitive Pornograph

- (T)abok (B)eruang me(C)um -

.

.

.

Kuro's note:

Next chap adalah part kedua dari anime Sensitive Pornograph.

Gomen kalau chap ini kurang memuaskan, apalagi dipart NC. Ane ga ahli bikin yang begituan.

Buat yang udah review, follow dan favorite FF absurd ini, arigatou gozaimasu. Next FF mungkin lebih absurd dari ini.

-Kuro-