Title: Sensitive Pornograph
Chapter: 6/6 (End)
Cast: Jung Yunho, Kim Jaejoong
Rate: M
Genre: Romance, Drama
Warning: BL, Yaoi, NC (failed)
.
Remake dari oneshoot chapter keenam manga Sensitive Pornograph ©Ashika Sakura, 2003
Ide cerita seluruhnya milik Ashika Sakura-sensei, ane cuma remake seenak jidat Yoochun jadi YunJae version, yang ga suka ya ga usah baca.
.
Happy reading
.
.
.
.
Chapter 6: Come Home (End)
.
.
.
Hidupku...
Dimulai saat aku berkencan dengannya.
"Ummm, Yun. Aku... Aku..."
Merasa namanya dipanggil, namja bermata mirip rubah menoleh pada sosok berkulit putih yang sedang memunggunginya. Yunho -nama si namja bermata rubah- lalu memeluk tubuh polos namja berkulit putih dari belakang dan menciumi lehernya.
"BooJaejoongie..." ucapnya saat menciumi dan menghisap leher si namja berkulit putih.
"Yun, ada suatu hal yang ingin kusampaikan padamu" tahan Jaejoong -si namja berkulit putih- saat Yunho mulai menyentuh area sensitifnya.
Bukannya berhenti, Yunho malah meremas penis Jaejoong dan memilin nipplenya.
"Aahh..." desah Jaejoong saat kedua titik sensitifnya di sentuh dan malah membuat libido Yunho meningkat.
"Andwae... Yun... aahh" Yunho mulai memasukan penisnya ke hole Jaejoong dari belakang dan mulai menggerakan pinggulnya maju mundur membuat Jaejoong mendesah seiring gerakan pinggul Yunho.
"Aahh... aahh... aahh... aahh..."
Desahan Jaejoong semakin kencang membuat Yunho memasukan penis miliknya lebih dalam lalu membalikan tubuh Jaejoong sehingga menghadap dirinya, dan semakin mempercepat gerakannya hingga akhirnya sampai pada titik akhir.
"Yun... aaahh... Yunho!"
Desah panjang Jaejoong menandakan dirinya sudah mencapai orgasme bersamaan dengan Yunho.
"Mian... mianhae, Yunho-ah" ucap Jaejoong lalu memeluk Yunho setelah keduanya mencapai orgasme.
"Ayo kita putus"
"Hah?!" Yunho terkejut mendengar ucapan Jaejoong yang tiba-tiba memintanya putus.
"Aku akan segera menikah, itu sebabnya kita putus saja. Karena aku tidak akan bisa lagi bersamamu"
.
.
"Yunho!"
Terdengar teriakan menggelegar dari sebuah rumah bergaya minimalis.
"Ini sudah hampir siang dan kau masih saja tidur, jangan karena ini hari minggu kau bisa seenaknya berbaring di ranjang sepanjang hari. Kenapa tidak kau habiskan waktu berkencan dengan pacarmu!"
"Dasar nenek tua" gumam Yunho kesal jam tidurnya diganggu oleh ummanya, yeoja yang dia panggil nenek tua.
Mimpi itu lagi, mimpi sama seperti kejadian enam tahun yang lalu. Mimpi kenangan burukku dengannya.
Dia adalah tetanggaku, Kim Jaejoong. Aku sudah mengenalnya saat masih di taman kanak-kanak, tentu saja aku pernah berpikir jika kami akan selalu bersama dan akhirnya kami memutuskan untuk menjalin hubungan. Tapi kami putus sejak enam tahun yang lalu, lebih tepatnya dia yang memutuskan hubungan denganku.
Dia pergi begitu saja dan setelahnya aku tidak pernah mendengar kabar apapun tentangnya sejak hari itu. Dan untukku sendiri, aku mencoba untuk memulai hidup baru, aku berkenalan dengan seorang yeoja dan memutuskan untuk menjalin hubungan dengannya hingga kami memutuskan untuk bertunangan. Tapi saat kami sudah mempersiapkan pernikahan kami, dia berkata 'Aku tidak ingin menikah dan hidup dengan gay' lalu dia pergi meninggalkanku. Entah dari mana dia mengetahui hubunganku dengan Jaejoong sebelumnya, tapi setelah itu dia terlihat membenciku. Jika dipikir lagi, aku memang terlihat sangat menyedihkan.
Dan inilah aku sekarang, membayar cicilan rumah selama tiga puluh tahun dengan gaji yang kudapat setiap bulannya dari perusahaan tempatku bekerja. Aku memang hanya karyawan biasa, tapi setidaknya gajiku masih bisa untuk makan dan membayar cicilan rumah.
"Pagi umma, mana sarapanku?" tanya Yunho setelah keluar dari kamarnya dengan sebatang rokok terselip di bibirnya.
"Ini sudah jam sebelas dan masih kau bilang pagi? Kita kedatangan tamu, Yun. Lihat siapa yang datang? Kalian berdua selalu bermain bersama saat kecil" ucap nyonya Jung membuat Yunho terkejut dan tidak percaya dengan apa yang sedang dilihatnya.
"Aku minta maaf, anak bodoh ini baru saja bangun tidur. Masuklah dulu, aku akan membuatkan teh untuk kalian" ucap nyonya Jung pada namja cantik yang sedang berdiri di depan pintu.
Yunho terkejut bukan main saat melihat sesosok namja cantik yang sudah lama menghilang sedang berdiri di depan pintu rumahnya bersama dua orang namja cilik yang memiliki wajah sama. Jaejoong, namja cantik yang menghilang dari kehidupan Yunho enam tahun yang lalu sedang berdiri dihadapannya, masih terlihat cantik bahkan semakin cantik, membuat Yunho sedikit terkejut.
"Sudah lama tidak bertemu, Yunho-ah. Aku kembali, aku tinggal di rumah lamaku selama beberapa hari" ucap Jaejoong dengan senyum terhias di wajahnya, senyum yang sama seperti enam tahun yang lalu.
"Boojae?" ucap Yunho tanpa sadar memanggil nama panggilan Jaejoong.
"Kau masih memanggilku seperti itu, kau benar-benar tidak banyak berubah, Yun" ucap Jaejoong masih tersenyum manis.
"Aku sebenarnya hanya ingin menyapamu dan menemuimu, mianhae jika mengganggumu. Itu saja, aku permisi" ucap Jaejoong lalu membawa kedua namja cilik yang bersamanya keluar dari rumah Yunho.
"Boo... Boojae..."
Yunho yang baru saja tersadar dari keterkejutannya berusaha mengejar Jaejoong tapi malah tersandung dan jatuh tepat di depan pintu.
"Aku sudah membuat teh. Eh! Apa yang kau lakukan, Yun? Mana Jaejoongie?" tanya nyonya Jung saat melihat Jaejoong sudah tidak ada dan Yunho yang sedang terkelungkup di depan pintu.
"Ini tidak mungkin" gumam Yunho.
Dia kembali, Boojaeku kembali. Dia terlihat sangat lelah dan seperti menanggung banyak beban pikiran, sangat berbeda dengan Boojaeku yang dulu, dia juga memiliki dua orang anak yang sudah cukup besar.
"Yunho, apa yang sedang kau lakukan? Jika masih ingin tidur, pergilah ke kamar, jangan tidur di depan pintu seperti itu. Aigo, ternyata kelakuanmu tetap tidak berubah walau sudah tinggal terpisah dari kami. Jika seperti ini terus sebaiknya kau cari istri, tidak mungkin kan kau mengandalkan ummamu terus" ucap nyonya Jung sedikit menusuk. "Contohlah Jaejoongie, dia sudah menikah dan mempunyai dua orang anak"
"Jangan pedulikan aku, umma. Anggap saja umma tidak melihatku dan lanjutkan saja pekerjaan umma" ucap Yunho masih dalam keadaan terkelungkup di lantai.
Nyonya Jung hanya bisa menggelengkan kepalanya lalu meninggalkan anaknya yang sedang bertingkah aneh lalu melanjutkan membersihkan rumah Yunho yang setiap minggu dia lakukan, nyonya Jung hanya bisa berdoa agat putranya segera menikah dan memiliki istri agar ada yang mengurus putranya.
"Aku tidak ingin melihatnya lagi, aku berharap tidak akan pernah bertemu lagi dengannya, tidak akan pernah" gumam Yunho lebih tepatnya sebuah permohonan pada Tuhan.
.
.
Namun tampaknya doa Yunho sama sekali tidak terkabul, keesokan harinya saat pulang kerja, Yunho malah bertemu kembali dengan Jaejoong.
"Ah, Yunho-ah. Kau baru pulang kerja?" tanya Jaejoong saat berpapasan dengan Yunho saat akan membawa kedua anaknya ke taman di dekat rumah Yunho.
"Ah, ne" jawab Yunho singkat.
Sepertinya doaku benar-benar tidak terkabul, itu pasti karena aku banyak dosa karena sering menyuruh umma membersihkan rumahku, dan sepertinya aku memang ditakdirkan untuk bertemu denganya, ingin rasanya aku kabur tapi itu tidak sopan.
"Mawmah!"
Yunho terkejut saat melihat salah satu anak Jaejoong sedang memandangnya dengan tatapan berbinar.
"Mianhae, Yun. Tidak biasanya mereka seperti ini. Yunjae-ya, Jaeho-ya, ahjussi ini bukan mama, tapi Yunho ahjussi. Dia teman papa, kalian mengerti?" ucap Jaejoong pada kedua anaknya.
Apa-apaan nama mereka, kenapa aneh begitu? Dan apa maksudnya dengan aku bukan mama? Apa aku mirip umma mereka? Tapi jika dilihat wajah keduanya mirip seperti seseorang.
"Memangnya kemana umma mereka?" tanya Yunho tanpa sadar.
Bodoh, kenapa aku malah bertanya seperti itu.
"Meninggal karena kecelakaan sepuluh hari yang lalu" ucap Jaejoong sendu memaksaan tersenyum.
"Apa kau punya waktu, sudah lama sekali aku tidak berbicara denganmu, bagaimana jika kita ke taman" ajak Jaejoong.
Jaejoong dan Yunho akhirnya memutuskan duduk di bangku kayu di taman, sementara kedua anak kembar Jaejoong bermain bola tidak jauh dari mereka.
"Terasa seperti sedang bernostalgia, kita dulu sering bermain sepanjang waktu di taman ini. Kau ingat kan, Yun?" ucap Jaejoong teringat masa kecilnya bersama Yunho saat melihat kedua anaknya sedang bermain bola.
"Kecelakaan apa yang membuat istrimu meninggal?" pertanyaan Yunho membuat Jaejoong kembali dari lamunannya.
"Kecelakanan mobil"
"Apa kau juga terluka?" tanya Yunho saat melihat perban melilit di tangan kanan Jaejoong juga plester yang menempel di dahi dan wajah mulusnya.
"Ah, bukan. Ini bukan akibat kecelakaan, istriku sangat keras kepala dan kami sedikit terlibat pertengkaran pada hari itu"
Yunho sedikit terkejut mendengar Jaejoong bertengkar dengan istrinya. "Kau mengalami KDRT?"
Jaejoong hanya tersenyum lalu menggelengkan kepala. "Aku selalu lamban dan ceroboh dalam bekerja, jadi perusahaan tempatku bekerja memecatku. Saat dia tahu aku dipecat, dia menjadi kesal dan sedikit emosi hingga akhirnya kami bertengkar. Karena pertengkaran itu dia keluar dari rumah dalam keadaan emosi dan dia tertabrak mobil di perempatan lampu merah saat akan menyebrang jalan"
"Dia tidak mengalami luka terbuka, tapi benturan keras membuatnya mengalami pendarahan dalam, sedangkan mobil yang menabraknya mengalami penyok yang cukup besar. Dia yeoja yang sangat kuat, dan wajahnya sangat mirip denganmu" ucap Jaejoong tersenyum manis.
Aku tidak ingin kau samakan aku dengan yeoja mengerikan seperti itu, bagaimana bisa bertabrakan dengan mobil malah membuat mobilnya penyok. Kau juga katakan wajahku mirip dengannya, sungguh mengerikan. Itu sebabnya kedua anakmu memanggilku mama dan wajah kedua anakmu juga mirip dengan...
Tunggu dulu!
Yunho menyadari suatu hal yang selama ini menjadi pertanyaan yang selalu berputar di benaknya. "Boo... Apa karena dia mirip denganku, jadi kau membuangku dan menikah dengannya?"
Pertanyaan Yunho membuat raut wajah Jaejoong berubah kembali menjadi sendu.
"Itu karena kita tidak akan bisa bersama selamanya dan aku tidak bisa selalu bergantung terus padamu, Yun. Aku..." Jaejoong menundukan kepalanya.
Ah, aku selalu menyukai pemikirannya. Hal itulah yang membuatku menyukainya dari dulu, Jaejoong selalu berusaha kuat dan tegar walau kenyataannya dia tidak sekuat dan setegar yang dia kira, oleh karena aku selalu ingin dia bersandar padaku dan membagi semua beban yang dia rasakan padaku.
"Yunho... Yun..." ucap Jaejoong sedikit terkejut saat Yunho mulai mendekatkan wajahnya.
"Mawmah"
Yunho menolehkan kepalanya saat merasakan ada yang menarik celananya, dan saar dia menoleh dua anak kembar Jaejoong sedang menatapnya dengan air mata berlinang dipelupuk matanya.
"Jangan sakiti pawpah" ucap Yunjae.
"Mawmah, jangan sakiti pawpah" ucap Jaeho meniru Yunjae.
"Kalian berdua ini, aku tidak sedang menyakiti appa kalian, aku hanya sedikit menggodanya. Jadi kalian jangan sedih, ne" ucap Yunho sambil mengusap kepala Yunjae dan Jaeho.
Jaejoong yang melihat keakraban Yunho dan kedua anaknya sedikit merasakan perasaan aneh di dadanya.
"Yun, kami harus pulang, sudah sore" ucap Jaejoong lalu membawa kedua anaknya pulang.
"Boo, apa yang akan kau lakukan setelah ini?" tanya Yunho sebelum Jaejoong pergi.
"Aku akan menyewa sebuah flat di dekat sini, karena adikku dan suaminya tinggal di rumah lamaku, jadi kami bertiga memutuskan untuk keluar. Kau tidak perlu mengkhawatirkan kami" ucap Jaejoong lalu meninggalkan Yunho yang hanya bisa menatap punggungnya.
Walau dia bilang begitu, tetap saja aku khawatir. Aku tahu orang seperti apa Jaejoong itu, aku mengetahui semua tentang dirinya, semuanya...
.
.
"Bukankah sudah kukatakan jangan mengkhawatirkan kami, tapi kenapa kau malah datang ke rumahku!"
Jaejoong yang kesal menaikan sedikit nada bicaranya saat melihat Yunho sedang bermain dengan kedua anaknya di flat yang dia sewa saat dirinya baru pulang dari berbelanja.
"Kau itu mempunyai dua orang anak yang masih kecil dan kau juga harus mencari pekerjaaan, bagaimana bisa tidak membuatku khawatir jika kau meninggalkan mereka sendirian. Aku hanya menjaga mereka sampai kau pulang" ucap Yunho santai.
"Aku tahu aku salah, tapi aku tidak bisa bergantung terus padamu, Yun!" ucap Jaejoong masih dengan nada kesal.
Yunho hanya memandang Jaejoong datar, sifat Jaejoong yang keras kepala memang terkadang sedikit membuatnya kesal. Tapi Yunho lebih memilih diam daripada terlibat pertengkaran dengan Jaejoong.
Sreet
Yunho sedikit kaget saat merasakan lengannya terasa berat, dan saat menoleh, Yunho melihat kedua anak Jaejoong sedang bergelayut di lengannya. Keduanya bahkan terlihat sedikit aneh.
"Ada apa dengan kalian berdua?" ucap Yunho pada kedua anak Jaejoong. "Boo, sepertinya mereka..."
"Pulanglah! Pulanglah, Yun!" usir Jaejoong tepat sebelum Yunho menyelesaikan ucapannya.
Yunho yang merasa diusir, memilih keluar dan pergi dari flat Jaejoong walau sebenarnya dia tidak ingin pergi. Jaejoong langsung menutup pintu flatnya sedikit kencang setelah Yunho keluar.
"Pawpah"
Jaejoong yang merasa dipanggil oleh anaknya menoleh, dan matanya langsung membulat saat melihat kedua anaknya tergeletak di lantai dengan nafas terengah dan suhu tubuh yang tinggi.
"Yunjae, Jaeho, apa yang terjadi dengan kalian?" ucap Jaejoong panik melihat keadaan kedua anaknya.
Jaejoong yang sedikit panik, tanpa pikir panjang keluar dari flatnya dan memanggil Yunho yang belum jauh meninggalkan flatnya.
"Yunho! Tolong aku, Yunjae dan Jaeho, mereka... Aku tidak tahu apa yang terjadi dengan mereka" ucap Jaejoong panik.
Yunho menolehkan kepala saat ada yang memanggilnya namanya, dan sedikit terkejut saat melihat Jaejoong memanggilnya terlihat panik menyebut kedua anaknya. Tanpa pikir panjang, Yunho langsung berlari kembali ke flat Jaejoong dan langsung membawa kedua anak Jaejoong ke rumah sakit.
"Anak kalian hanya mengalami deman biasa, hal ini sering terjadi pada anak-anak saat mereka beradaptasi dengan lingkungan yang baru" ucap dokter yang menangani kedua anak Jaejoong mengira jika Yunho dan Jaejoong adalah orang tua Yunjae dan Jaeho.
"Apa itu tidak berbahaya? Karena baru kali ini mereka mengalami hal seperti ini" tanya Jaejoong sedikit khawatir.
"Anda tidak perlu khawatir, tapi untuk lebih baik biarkan mereka tinggal semalam agar kami bisa melakukan observasi lebih lanjut, anda berdua bisa pulang dan serahkan saja semuanya pada kami"
Merasa tidak ada yang perlu dikhawatirkan, Yunho mengajak Jaejoong pulang. "Ayo Boo, kita pulang"
"Tapi, Yun. Yunjae dan Jaeho... mereka..." ucap Jaejoong masih diliputi kekhawatiran.
"Banyak yang akan mengawasi mereka, aku yakin mereka akan baik-baik aja. Kau juga harus istirahat" bujuk Yunho yang akhirnya berhasil membuat Jaejoong menurut padanya.
Sepanjang perjalanan pulang Yunho dan Jaejoong diam tanpa ada satupun yang memulai pembicaraan, hingga akhirnya Yunho mengantar Jaejoong ke flat sewaannya.
"Hey, Boo" panggil Yunho saat melihat Jaejoong berjalan masuk ke dalam flatnya melewati Yunho seperti orang yang kehilangan roh.
"Dia yang pertama kali mendekatiku" ucap Jaejoong tiba-tiba.
"Hah?" Yunho bingung dengan ucapan Jaejoong.
"Dia sangat mirip denganmu, bahkan aku seperti melihatmu saat menatapnya. Jadi aku mulai berkencan dengannya saat kita masih bersama tanpa sepengetahuanmu, dan aku melakukan sebuah kesalahan. Aku tidur dengannya dan dia hamil, aku berusaha untuk bertanggungjawab dengan menikahinya. Itu sebabnya kita putus" ucap Jaejoong memunggungi Yunho.
"Tapi aku tidak bisa melupakanmu, aku masih tetap menyukaimu walau kita sudah putus dan aku menikah dengannya. Itu sebabnya aku menamai kedua anaku dengan gabungan nama kita. Hubungan kami tidak berjalan dengan baik semenjak kami menikah, tepatnya saat dia tahu dia sudah dihamili dan dinikahi oleh namja yang memiliki hubungan dengan namja lain. Setiap hari istriku menghabiskan waktunya dengan alkohol, untungnya janinnya tidak bermasalah. Semakin hari makin banyak masalah yang menimpa kami, tapi aku tidak bisa meninggalkannya begitu saja. Dan saat kejadian itu, kau tidak bisa menolongnya karena aku berusaha menenangkan kedua anakku yang menangis saat melihat pertengkaaran kami"
Yunho tiba-tiba memeluk Jaejoong dari belakang dan bisik di telinga Jaejoong. "Jangan katakan apapun lagi, semakin banyak yang kudengar, semakin membuatku ingin marah"
Jaejoong menolehkan kepalanya lalu menatap Yunho. "Yunho"
"Diam dan dengarkan aku, kau adalah milikku sejak awal dan akan selalu menjadi milikku" ucap Yunho lalu mencium bibir Jaejoong.
Hey yeoja yang sudah merebut Jaejoong dariku, kau boleh pergi sejauh yang kau mau dan meninggalkan Jaejoong selamanya, tapi yang perlu kau tahu, akulah yang sekarang menjaga Jaejoong dan kedua anaknya. Karena Jaejoong adalah milikku jauh sebelum kau merebutnya dariku, dan sekarang dia sudah kembali padaku.
"Aaahh... Yun..." desah Jaejong saat Yunho menciumi leher jenjangnya dan meninggalkan tanda di sana. "Empat puluh sembilan hari belum lewat, ini sama saja dengan aku mengkhianati istriku"
"Aku tidak perduli, kau tahu berapa lama aku menantikan ini?" tanya Yunho sambil melepas bajunya. "Enam tahun! Dan kau harus membayar semuanya sekarang!"
Jaejoong terkejut mendengar ucapan Yunho yang sudah mau menunggunya selama enam tahun untuk bisa memilikinya kembali, dan tanpa disadarinya Jaejoong memeluk Yunho. "Yunho... mianhae..."
Yunho melepaskan baju Jaejoong hingga dadanya terekspos, lalu menurunkan celana Jaejoong dan melakukan persiapan untuk memasuki Jaejoong.
Yunho mengulum dua jari miliknya hingga basah akan saliva lalu memasukannya ke hole Jaejoong dan menggerakanya secara perlahan, Jaejoong sendiri hanya bisa mendesah saat merasakan kembali sensasi yang sudah enam tahun ini tidak pernah Jaejoong rasakan.
"Aahhhh... Yun..."
Desahan Jaejoong yang terdengar sexy di telinga Yunho, membuatnya tidak sabar untuk memasuki Jaejoong.
"Boo, bolehkah aku memasukimu seperti dulu?" bisik Yunho di telinga Jaejoong dengan jari tangan tetap bergerak di hole Jaejoong.
"Aahh...Neehh... Lakukanlah, Yun... aahh.." desah Jaejoong saat merasakan tubuhnya mulai merespon permainan jari Yunho di holenya.
Tubuh Jaejoong semakin panas dan meminta lebih dari permainan Yunho atas tubuhnya, walau itu artinya sama saja dengan mengkhianati istrinya yang sudah meninggal. Dan Jaejoong sudah tidak perduli akan hal tersebut, yang dia inginkan hanyalah sentuhan Yunho di tubuhnya, sentuhan hingga kedalam tubuhnya.
Yunho yang mendengar Jaejoong mengijinkannya menyentuh hingga ke dalam, mengeluarkan jarinya dari hole Jaejoong lalu memasukan penisnya perlahan dan membuat Jaejoong kembali mendesah. Yunho mendiamkan penisnya di dalam hole Jaejong setelah seluruhnya terbenam, merasakan sensasi nikmat saat hole sempit Jaejoong meremas erat penisnya, sensasi yang Yunho tidak rasakan saat berhubungan sex dengan yeoja mantan tunangannya.
"Yun, bergeraklah dan jangan ditahan" ucapan Jaejoong menimbulkan seringai di sudut bibir Yunho.
"Aahh... aahh... aahh... aahh..." desah Jaejoong saat Yunho menggerakan pinggulnya, membuat penisnya keluar masuk di hole Jaejoong.
Yunho membalik tubuh Jaejoong menjadi memunggunginya, lalu memasukan kembali penisnya yang terlepas saat membalik tubuh Jaejoong dan membuat Jaejoong kembali mendesah saat merasakan penis Yunho yang masuk semakin dalam di holenya. Tangan Yunho tidak tinggal diam, tangan kanannya meremas pelan penis Jaejoong sedangkan tangan kirinya memilin nipple Jaejoong. Membuat Jaejoong merasakan tiga sensasi kenikmatan berbeda di tiga titik sensitifnya secara bersamaaan.
Yunho merasakan kedutan di penis Jaejoong yakin jika tidak lama lagi Jaejoong akan orgame, bahkan cairan precum Jaejoong sudah mengalir keluar.
"Yun, aku akan keluar" ucap Jaejoong saat merasakan dirinya akan orgame.
Yunho menghentikan gerakan pinggulnya lalu membalik tubuh Jaejoong, Yunho sangat ingin melihat ekspresi Jaejoong saat orgasme.
"Kita keluarkan bersama, Boo" ucap Yunho mencium bibir merah Jaejoong lalu melebarkan kaki Jaejoong dan menahannya, membuat penisnya kembali terbenam hingga ke dalam.
Dalam beberapa kali hentakan, keduanya mencapai orgasme.
Sruut
"Aaaahh... Yunho!" desah Jaejoong saat mencapai orgasme dan spermanya membasahi perutnya, dan Yunho sendiri mengeluarkannya di hole Jaejoong.
Jaejoong terengah menikmati sisa-sia orgasme dan hanya bisa pasrah saat Yunho kembali menciumi leher putihnya yang sedikit ternoda akibat ulah Yunho yang meninggalkan tanda merah keunguan di leher jenjangnya, tanda kepemilikan atas dirinya yang sering Yunho buat saat mereka masih bersama.
"Saat ini aku memang hanya memiliki rumah dengan cicilan selama tiga puluh tahun, tapi maukah kau tinggal bersamaku dan kembali seperti dulu?" tanya Yunho di sela-sela ciuman dan hisapan di leher Jaejoong yang sudah berpindah ke dada Jaejoong.
"Bagaimana dengan kedua anakku?" ucap Jaejoong tanpa sadar.
Yunho menghentikan hisapan di nipple Jaejoong lalu menatap Jaejoong yang sedang menutup mulutnya dengan tangan dan wajah yang merah.
Apa ucapannya barusan? Dia bertanya tentang kedua anaknya dan sekarang wajahnya merah? Apa itu artinya dia masih mencintaiku? Jika benar seperti itu, aku akan sangat bahagia.
"Apa kau masih mencintaiku?" Jaejoong menganggukan kepalanya dan membuat Yunho tersenyum. "Baiklah kita tinggal bersama sepertu dulu lagi. Aku, kau dan kedua anak kita"
"Mereka berdua anakku, Yun" protes Jaejoong.
"Jika kau tinggal bersamaku, maka mereka berdua juga menjadi anakku"
Air mata Jaejoong mengalir dari sudut doe eyesnya, sebuah perasaan bahagia menyusup dihatinya.
"Gomawo sudah mau menerimaku kembali" ucapnya lalu mencium bibir Yunho. "Juga kedua anakku"
.
.
Aku rasa aku harus mulai berhemat dengan uangku mulai sekarang.
"Mawmah..."
"Mawmah..."
"Sudah berapa kali aku katakan, aku bukan umma kalian" ucap Yunho pada kedua anak Jaejoong yang bergelayut di tubuhnya.
"Hey, Boo. Apa aku sangat mirip dengan umma mereka?" tanya Yunho pada Jaejoong yang tersenyum melihat keakraban Yunho dengan kedua anaknya.
"Ne. Kau sangat mirip dengannya dan kalian terlihat seperti ibu dan anak" ucap Jaejoong dengan senyum terhias di bibir merahnya.
Yunho memandang datar ke arah Jaejoong. "Sebenarnya aku tidak ingin berkata seperti ini, tapi kau benar-benar memiliki selera yang buruk"
"Tapi kau masih tetap menyukaiku, kan?"
Yunho tidak menjawab pertanyaan Jaejoong, tapi malah menarik Jaejoong dan mencium bibir merahnya.
"Ne. Aku masih menyukaimu lebih tepatnya mencintaimu, karena kau adalah milikku" Yunho kembali mencium bibir Jaejoong. "Milik Jung Yunho"
Jaejoong merasakan perasaan hangat di dadanya sehingga membuat wajahnya merona.
"Yun, anak-anak melihat kita" ucap Jaejoong malu lalu menundukan kepalanya dengan wajah memerah.
"Kau malu?" goda Yunho.
"Lagipula mereka senang melihat 'umma' mereka mencium appa mereka. Benarkan, Yunjae? Jaeho?" tanya Yunho pada anak-anak Jaejoong yang dibalas anggukan dengan mata berbinar dari kedua anak Jaejoong.
"Mawmah cium pawpah" ucap Yunjae dan Jaeho bersamaan membuat Jaejoong semakin merona.
"Yunnie, kau membuatku malu!" ucap Jaejoong memukul lengan Yunho.
"Jika masih malu, sini kucium lagi" ucap Yunho lalu memajukan bibir sexy-nya.
"Andwae!"
Ne, aku harus mulai berhemat karena saat ini aku mulai tinggal bersama mereka, dan aku bahagia karena kami terlihat seperti keluarga pada umumnya. Walau kedua bocah lucu yang wajahnya mirip denganku selalu memanggilku mama, tapi tetap saja selama di ranjang, papa mereka adalah bottomku.
Tapi aku sedikit heran, Jaejoong semakin hari semakin terlihat seperti yeoja, semakin cantik, sexy, pandai mengurus rumah dan memuaskanku di ranjang, benar-benar seperti istri idaman. Rasanya aku ingin segera menikahinya dan menjadikannya istriku lalu mengubah marga Yunjae dan Jaeho menjadi margaku, Jung. Seperti paket lengkap, beli satu gratis dua. Aku beruntung, aniya?
.
.
.
.
.
Chapter 6: Come Home
- END -
.
.
Sensitive Pornograph
(End)
.
.
Note:
Last chapter update! Oneshoot terakhir dari manga Sensitive Pornograph.
Chapter 1: Sensitive Pornograph
Chapter 2: Please Kiss Me
Chapter 3: Adult Issue
Chapter 4: Be More Honest
Chapter 5: House of the White Little Rabbit / Trophies Belong in the Bedroom
Chapter 6: Come Home
Gomawo buat yang udah follow, favorite dan review FF absurd buatan ane, juga buat sider.
Silahkan untuk masukan, kritik dan saran agar next FF buatan ane bisa lebih bagus lagi.
Arigatou gozaimasu
- Kuro -
