Hai aku kembali dengan ff yang absurd, gomawo yang sudah review. Aku gak percaya banyak tanggapan dari ff saya ini. Ini chapter tiganya, happy reading~
Kyungsoo tersentak kaget saat ia tak sengaja melukai tangannya, lalu kenapa pikirannya menuju Chanyeol? Xiumin yang baru saja keluar dari kamar mengkerutkan keningnya saat melihat Kyungsoo melamun padahal tangannya terluka.
"Ada apa denganmu? Kemarikan tanganmu" tanya Xiumin lalu mengobati luka Kyungsoo.
"Sepertinya Chanyeol dalam bahaya.." gumam Kyungsoo dengan tatapan kosong.
'Dia benar-benar mencintai namja itu, tapi dia brengsek aku takut kau akan diperlakukan sama dengan Baekhyun' batin Xiumin seraya mengobati luka Kyungsoo.
"Eonnie bantu aku please, cari keberadaan Chanyeol untuk ku. Kalau dia dalam bahaya, bagaimana ia bertanggung jawab?" Xiumin menutup kotak obat lalu menghela napas.
"Baiklah, hanya kali ini saja" Kyungsoo mengangguk lalu memeluk Xiumin.
Luhan memijat pelipisnya, masalahnya datang lagi. Tadi ia mendapat kabar kalau ibunya masuk rumah sakit karena penyakit kanker otaknya yang semakin parah. Luhan sangat ingin melihat ibunya yang ada di China, tapi ia tak mungkin meninggalkan Baekhyun yang sedang ditangani dokter. Tiba-tiba ada seseorang menyodorkan minuman padanya, saat Luhan mendongak ia mendapati namja menyebalkan (menurut Luhan) yang menyerahkan minuman itu.
"Ambilah" ucap Sehun atau mungkin memerintah Luhan. Dengan terpaksa Luhan mengambilnya, dia benar-benar frustasi.
"Kau jangan percaya diri dulu" Hell? Bahkan Luhan tak memikirkan itu sama sekali.
"Percaya diri? Memang apa yang kuharapkan dengan namja muka datar sepertimu?" Sehun ingin menjawab, tapi dokter yang menangani Baekhyun keluar.
"Bagaimana keadaan adik saya dan bayinya uisanim?" tanya Luhan khawatir.
"Mereka baik-baik saja sepertinya pasien sedang banyak pikiran. Baiklah saya permisi"
"Gamshamnida usianim" ucap Luhan lalu bernapas lega. Ngomong-ngomong kemana Kai?
"Hey muka datar, Kai kemana?" Sehun hanya diam. Luhan kesal lalu menarik telinga Sehun.
"Aw..aw.. lepaskan!" Luhan melepas tarikan di telinga Sehun.
"Aku bertanya padamu tapi kau diam saja"
"Jadi, tadi kau bertanya padaku?" Luhan menghela napas kasar ingin sekali ia menghajar wajah datarnya itu.
"Baiklah, aku bertanya padamu dan jawab yang benar. Dimana Kai?"
"Dia sedang ada urusan dengan agensinya" Luhan berdecak.
'Dasar artis' gumam Luhan dalam hati.
Xiumin menengok kanan dan kiri, sekarang ia berada di sebuah rumah dekat hutan yang ia tahu banyak hewan liar di sekitar sini. Xiumin menghentikan langkahnya saat ia merasa ada seseorang di belakangnya. Saat dirinya berbalik ia langsung menggenggam balok kayu yang hampir mengenai tengkuknya.
"Jika kau ingin menyerangku, jangan diam-diam. Pengecut!" ucap Xiumin menatap sang pelaku yang bentuk wajahnya hampir kotak itu.
"Wow! Hebat juga kau! Kau ingin menyelamatkan brengsek itu kan? Tapi sayangnya dia sudah nyaman istirahat bersama harimau hahaha..." Tawa Chen meledak.
'Luhan, dia suruhan Luhan. Jiwa psikopatnya tak pernah hilang' batin Xiumin yang masih menatap namja yang di depannya.
"Telpon Luhan, aku ingin bicara dengannya!" Chen berdecak kagum.
"Wow, kau benar-benar membuatku takjub manis. Aku akan menghubunginya untukmu" Xiumin hanya memutar bola matanya malas.
"Yeoboseyo Lu?"
"Ada apa? Aku tak punya banyak waktu bodoh"
"Santai saja, ada yang ingin bicara denganmu" ucap Chen melirik Xiumin yang terus memperhatikannya.
"Siapa? Katakan padaku!" Chen menyerahkan ponselnya pada Xiumin.
"Yeoboseyo Ludeer, kau masih ingat padaku?" Chen mengkerutkan keningnya.
"Xi..Xiumin jie?"
Kai menutup kedua telinganya, musik memekakan telinga dan lampu kerlap-kerlip menyilaukan mata. Sebenarnya ia tak mau meninggalkan Baekhyun yang ia masih belum tahu kabarnya demi pergi ke bar ini, namun seseorang mengancam bunuh diri jika Kai tidak datang. Lay atau Zhang Yixing atau.. ah Kai sangat malas mengakuinya sebenarnya, kalau Lay itu mantan kekasihnya. Kai langsung berlari mendengar pecahan botol wine, Lay akan memulai aksinya. Dan saat Kai sudah berada di dekat Lay, ia lalu menepis tangan Lay yang memegang pecahan botol.
"Kau gila, Zhang Yixing" bentak Kai saat itu juga, tak mempedulikan orang-orang yang melihat kearah mereka.
"Haha kau datang juga huks" ucap Lay setengah sadar.
"Apa maumu? Aku sudah ada disini"
"Kembali huks padaku" Kai memandang penuh tanya.
"Kembali? Dalam mimpimu. Dulu siapa yang pergi? Siapa?" tanya Kai emosi
"Mianhae, jeongmal mianhae. Aku tahu, aku salah Kai. Kalau kau tak mau kembali padaku, kenapa kau tak membiarkan aku mati huh?" Kai membuang muka. Ia tak mungkin membiarkan yeoja malang ini mati, sama saja membuat (mantan) sahabatnya makin membencinya.
"Kau tak perlu tahu alasannya" ucap Kai tanpa memandang wajah Lay.
Luhan menutup pintu mobilnya dan menatap seseorang yang sudah jarang ditemuinya, biasanya mereka hanya bertukar pesan singkat selayaknya sahabat. Xiumin sudah berdiri tepat beberapa meter di depan Luhan. Xiumin menghampirinya karena merasa Luhan masih tak percaya kalau ia ada disini hanya untuk menolong Chanyeol.
"Anyeong Ludeer, penampilanmu berubah ya?" Luhan hanya tersenyum tipis.
"Jujur saja, aku malas menyelamatkan si brengsek itu. Tapi aku ini manager Do Kyungsoo, ia memintaku dan mengatakan ini terakhir kalinya dalam hal mengenai namja bernama Park Chanyeol itu. Dan kau, pikir baik-baik jika kau membunuhnya apa adikmu bahagia?" Luhan menggeleng.
"Kau tahu jawabannya, sekarang aku akan membawanya sebelum dia sadar apa yang terjadi" ucap Xiumin melangkah meninggalkan Luhan, namun Luhan menahannya.
"Jie gomawo kau menyadarkanku lagi, tapi aku tidak berjanji tidak menyakitinya. Aku hanya bisa janji, tak ada... pembunuhan"
"Itu terserah padamu sekarang, aku hanya akan menyadarkanmu kali ini saja" ucap Xiumin tersenyum simpul, Chen yang melihatnya melongo.
"Tunjukan dimana kau sembunyikan dia!" Chen tersadar dari lamunannya lalu mendengus.
"Bisanya menyuruh saja" gumam Chen lirih tapi Xiumin mendengarnya.
"Kau bilang apa?" tanya Xiumin kesal.
"Memang aku bilang apa tadi?" elak Chen dan Xiumin hanya memutar bola matanya malas.
"Dia ada di dalam ruangan ini, berhati-hatilah karena tadi aku taruh ular dan kalajengking disini. Berdoa saja semoga binatang itu tak menyakiti si brengsek. Aku pergi!" ucap Chen panjang lebar lalu meninggalkan Xiumin.
"Kalau bukan karena Kyungsoo, aku tak akan menyelamatkan dia" gumam Xiumin yang sedang membuka pintu.
Kai merogoh sakunya saat ponselnya berdering keras, sebenarnya ia sibuk dan sudah mencoba mengabaikannya. Tapi entah kenapa ponsel itu tak berhenti berdering membuatnya jengah.
"Yeoboseyo?"
"..." Mata Kai membulat.
"Iya, saya teman dari Zhang Yixing. Ada apa?"
"..."
"Mwo? Dia kecelakaan? Baik-baik saya segera kesana"
TBC!
Aku minta maaf atas segala kekurangan dari ff ku ini. Aku bakal berusaha perbaiki lagi kok. Pilih Chanbaek atau Kaibaek hayoo? Kira-kira Lay bakal selamat nggak ya? Okey, sekian cuap-cuapku. Review juseyo~
