Matahari bahkan belum menunjukkan dirinya, tapi seorang pria berusia akhir 20-an itu sudah duduk manis di takhta empuknya, hanya ditemani dengan sinar lampu yang minim. Beberapa kali pria itu tersenyum tipis memandangi buku yang sejak tadi dibacanya. Tapi ia tidak membaca keseluruhan buku, melainkan sejak tadi ia hanya membolak-balikkan dua lembar, di mana terpampang dua buah foto di halaman terpisah beserta data diri mereka.
Tok tok.
Jung Yunho—nama pria itu—langsung mengangkat wajahnya ketika seseorang mengetuk pintunya dan membukanya perlahan. Urat di lehernya sempat menegang—tidak menyangka ada orang yang datang di waktu sepagi ini—tapi, ia langsung mendesah mendapati wajah Changmin, salah satu staf petinggi dan guru bidang Biologi sekolah Jungshin ini.
"Maaf mengganggu, Yunho-ssi," kata Changmin dengan sopan. "Tapi, ada yang mau kubicarakan dengan Anda."
Yunho segera mempersilakan Changmin untuk duduk di hadapannya. "Apa itu?"
Bukannya segera mengatakan apa yang ingin didiskusikannya bersama Yunho, malah Changmin lebih tertarik dengan buku siswa di atas meja. "Hm? Itu kan Byun Baekhyun, anak muridku."
Yunho memandangi halaman itu, kemudian tersenyum. "Yeah... Aku tahu..."
Menyadari ada sesuatu yang lain dari senyuman Yunho, Changmin menyipitkan matanya seraya bertanya, "Apa yang Anda ingin lakukan pada anak muridku?"
"Jangan curiga dulu, Changmin-ah," sahut Yunho dengan tenang. "Kau tahu Poems Party, kan?"
"Oh, festival puisi yang suka bikin heboh di kalangan sekolah-sekolah itu," Changmin langsung menanggapinya dengan santai. Tapi sedetik kemudian ia menyadari sesuatu. "Ah—jangan bilang kalau Anda..."
"Yap," sela Yunho. "Aku mau meminta dia ikut lomba itu. Sudah lama sekali semenjak lulusnya Yesung dan Henry, kita tidak pernah mengikuti lomba itu lagi. Oh, saat itu adalah masa-masa kejayaan sekolah kita, di mana kita banyak sekali menyabet titel juara...," Yunho mendesah dramatis. "Kudengar Baekhyun punya bakat menyanyi yang cukup mengagumkan di sekolahnya. Bagaimana kalau kita memanfaatkan dia?"
Changmin mengangguk setuju. "Aku juga pernah mendengarnya. Tapi... Anda hanya mengikutsertakan Baekhyun saja?"
Yunho menggeleng. "Tentu saja tidak," katanya sambil tersenyum penuh arti. Ia membalikkan kertasnya ke halaman berikutnya. Terpampanglah wajah yang sama familiarnya di kertas itu. "Kudengar mereka sering bertengkar akhir-akhir ini. Tentu saja aku tidak ingin membuat sekolah ini menjadi sarang perkelahian. Jadi, aku akan memasangkan Baekhyun dengannya. Berharap supaya mereka menjadi akur lewat perlombaan ini."
Changmin mengernyitkan dahinya melihat ke arah foto itu.
"Park... Chanyeol?"
...
.
.
.
.
Poems Party
#2
.
Disclaimer: The casts aren't mine. This fic is originally mine.
Pairing(s): Chanbaek/Baekyeol; slight HunBaek.
Genre(s): Romance (hate-love relationship), drama, a lil' bit of comedy.
Warnings: AU. OOC. Sho-ai. Boys Love. Kalimat amberegul. Garing. Jayus. Fool-mouthing. Narasi membosankan.
6K+ words masbruh~
Don't like it? Don't read, please!
Sorry for any typos or mistakes!
.
Enjoy~
.
.
.
...
Sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya, Baekhyun menembus keramaian lorong sekolah sendirian. Perbuatannya itu sama saja seperti bunuh diri lantaran setiap kali ia berjalan, pasti ada saja orang yang langsung memasang pose mencurigakan, kemudian terdengarlah bisik-bisik yang membuat telinga siapapun panas, terutama telinga Baekhyun. Tapi, Baekhyun—syukurlah—sudah mulai kebal dengan semuanya itu, jadi ia hanya bisa menampilkan wajah yang seolah mengatakan, "Bahasa-bahasa alien macam apakah ini?"
Ini sudah hari ketujuh Baekhyun diterpa gosip gay. Ia kira gosip itu akan mereda 2-3 hari lagi, tapi rupanya gosip itu malah semakin memanas seperti ada yang melemparkan obor lagi supaya semakin panas. Bahkan gosip-gosip itu mulai menyeleweng ke mana-mana. Semakin tidak masuk akal.
Salah satu contoh gosip yang membuat Baekhyun harus menyabarkan saraf-saraf emosinya adalah gosip bahwa ia punya affair dengan salah satu guru di sekolah. Sinting! Baekhyun saja berusaha keras untuk tidak dekat dengan guru mana pun, apalagi untuk punya ketertarikan seksual dengan salah satu dari mereka?
Lantas, dari manakah gosip aneh-minta-dibakar-banget ini berasal?
Tentu saja dari Chanyeol keparat, pemuda tiang listrik galah bambu yang minta dipatahkan kakinya. Si sialan itu sudah mengubah hari-hari Baekhyun semenjak pertemuan buruk mereka di lorong sekolah. Tentu saja "mengubah hari-hari" itu dalam artian negatif—sangat negatif—tidak seperti di novel-novel atau film-film yang di mana maksudnya "mengubah hari-hari" itu kebanyakan berkonotasi positif.
Padahal, yang memulai perang itu adalah Chanyeol, tapi kenapa malah Baekhyun yang kena getahnya? Bukan hanya getah lagi, tapi sampai ke anak-cucu-cicit getah! Buruk sekali, pokoknya.
Tapi, sekali lagi, karena Baekhyun orang yang tidak mau menambah keribetan hidupnya lagi, ia berusaha untuk mengabaikan ulah kekanak-kanakkan si jangkung itu—walaupun kadang-kadang amarahnya meledak juga. Syukurlah, ada Kyungsoo, satu-satunya sahabat yang ia punya di sekolah ini, yang mau mendukungnya, walaupun sekarang ia hanya bisa mendukung Baekhyun dari belakang karena takut menambah gosip lagi kalau Baekhyun mendekati Kyungsoo karena ada maksudnya.
Baekhyun mendesah panjang dan lelah. Karena mahakarya Chanyeol, bahkan Kyungsoo juga ikut kena getahnya, walaupun hanya secuil.
"Memang harusnya kemarin itu aku benar-benar melemparinya dengan pot bunga," desis Baekhyun ketika mengingat kejadian yang baru saja terjadi kemarin.
Jangan kira kalau ulah Chanyeol hanya sampai di gosip gay itu saja. Ulahnya sudah menyebar ke mana-mana. Chanyeol bahkan dengan tega membuat jebakan batman di kursi Baekhyun kemarin pagi, menyebabkan Baekhyun harus menahan malu karena harus memakai celana training yang jelas tidak cocok dengan baju kemejanya lantaran celana bahannya harus di-laundry betul-betul, bahkan kalau bisa diganti dengan celana yang baru.
"Kau ini! Kau itu tidak puas apa mengganggu hidupku, hah?!" bentak Baekhyun karena tidak tahan lagi dengan sikap tuan muda sok ini.
Aku tidak tahan lagi untuk menonjok muka sok tahu itu. Semoga Kyungsoo mau memaafkanku. Semoga...
Chanyeol yang saat itu sedang mendengarkan musik lewat smartphone-nya langsung melepaskan headset dari telinganya, lalu memandangi Baekhyun dari ujung kaki ke ujung kepala. "Wow," Chanyeol bersiul girang, "pakaianmu bagus. Nice suit."
"Nais syut, nais syut!" Baekhyun berdecak sebal. "Lihat apa yang kau perbuat, hah?! Ganti celanaku, idiot!"
"Lho? Memangnya aku adalah pelakunya?" tanya Chanyeol sok innocent.
Baekhyun menggeram rendah. "Aku tahu—aku selalu tahu—kalau kau adalah dalang di balik semua ini!" tudingnya tepat di depan dahi Chanyeol. "Lagipula, saksi matanya banyak, kok!"
"Lalu...," Chanyeol menopang dagunya dengan sikap tenang, "...kau mau aku berbuat apa?"
Sikap tenang Chanyeol itu tentu saja semakin membakar emosi Baekhyun. "YA, TANGGUNG JAWAB LAH, MORON!" teriaknya, mulai mengundang rasa penasaran orang-orang yang berada di kelas itu sehingga mereka mulai mengerubungi keduanya.
Chanyeol mengorek telinganya, seakan baru saja ada serangga yang masuk. "Hell, bisa tidak sih kamu ini tidak senorak itu berteriak-teriak?" lengosnya. "Atau... apakah ini memang perilaku murid golongan tiga yang memang dari sananya suka bertindak kurang ajar?"
Ucapan Chanyeol langsung mengundang dengusan tawa dari para golongan satu dan dua, kecuali golongan tiga yang hanya dapat menggertakkan gigi. Termasuk Baekhyun.
Baekhyun ingin sekali berteriak lagi, tapi...
Tarik napas, Baek. Kau sudah mempermalukan dirimu sendiri. Bahkan si idiot ini mulai mengungkit-ungkit golongan lagi.
Baekhyun segera menelan teriakannya bulat-bulat, lalu menarik napas dalam. "Dan apakah ini adalah perilaku murid golongan satu? Suka mencari perhatian dengan orang golongan tiga sepertiku? Aw, orang tuamu tidak memberimu perhatian ya, jadi kau senang sekali mencari masalah denganku?" kata Baekhyun tenang sambil menyeringai puas dengan apa yang baru saja dikatakannya.
Kali ini giliran Chanyeol yang terlihat seperti orang yang tercekik. Wajahnya memerah sampai ke telinga. Wajah konyol yang baru ditampilkan Chanyeol itu membuat Baekhyun kepengin ketawa ngakak sampai berguling-guling.
"APA KAU BILANG, HAH?!"
Bingo! Inilah balasan dari Chanyeol yang diharapkan oleh Baekhyun. "God, bahkan telingamu juga bermasalah. Mau kueja, ya? Atau... mungkinkah aku harus menuliskannya di kertas dan mengajarmu membaca sekalian?"
Baekhyun melihat wajah Chanyeol semakin memerah saja seperti tomat. Itu benar-benar membuat perutnya geli sekali. God, Baekhyun merasa ia menang. Yap, ia menang...
Brak!
Tanpa Baekhyun duga, tiba-tiba Chanyeol menggebrak meja, lalu bangkit berdiri seraya menarik kerah kemeja Baekhyun ke atas. "KAU—!" dengusnya amat-sangat jengkel. Napasnya yang beraroma mint menerpa wajah Baekhyun saking intimnya jarak antara kedua wajah mereka.
Sebelum Chanyeol melanjutkan ucapannya, Baekhyun langsung menepis tangan Chanyeol dari kerahnya, lalu mundur beberapa langkah untuk menjauh dari Chanyeol yang mulai bersikap beringas.
"Tidak usah sentuh-sentuh aku sembarangan!" bentak Baekhyun dengan sebal.
"Seharusnya itu kalimatku, udik! Dasar, gay sinting!"
"Heh, tiang listrik, aku ini bukan gay!"
"Homo!"
"Diam kau, dasar tukang gosip kayak cewek!"
Sementara percakapan Baekhyun dan Chanyeol semakin memanas, penonton di sekitar juga semakin memanas. Mereka mulai menyorakkan jagoan mereka masing-masing, yang tentu saja mayoritas mendukung Chanyeol sebagai pemenang adu mulut ini.
"Heh, aku ini bicara sesuai fakta saja, ya," jawab Chanyeol dengan angkuh.
"Fakta? Apanya yang fakta, hah?"
"Faktanya adalah kalau kau menyukai Se—"
Tiba-tiba saja seseorang memotong ucapan Chanyeol dengan menyelipkan badan tingginya ke antara Baekhyun dan Chanyeol. Orang itu membelakangi Chanyeol dan merentangkan kedua tangannya lebar-lebar, seolah ia adalah tembok yang bisa menghalangi serangan jenis apapun.
Rasanya seperti déjà vu ketika Sehun lagi-lagi memposisikan dirinya di antara Baekhyun dan Chanyeol.
Dan seperti biasa, lagi-lagi Baekhyun maupun Chanyeol hanya bisa tercengang.
Tapi, bukan hanya keduanya yang tercengang, para penonton pun juga sama tercengangnya. Bahkan tidak hanya tercengang saja, ada beberapa dari mereka yang memekik senang karena kedatangan salah satu murid tertampan di Jungshin.
Kali ini Sehun membalikkan badannya ke arah Chanyeol. "Argh, Park Chanyeol, aku menunggumu ke kantin, tapi kau tidak datang-datang. Tega sekali kau meninggalkan sepupumu di sana sendirian!" gerutunya.
Chanyeol mengerutkan keningnya. "Argh, cadel... Minggir kau sana! Aku ada urusan penting dengan si kurcaci ini!"
"Siapa yang kau sebut kurcaci hah, tiang listrik?!" protes Baekhyun tidak terima sambil mengepalkan tinjunya.
"Hei, sudah, sudah," Sehun berusaha menenangkan keduanya, terutama Chanyeol. "Chanyeol, aku sebenarnya datang ke sini karena ada hal genting yang mau kubicarakan padamu sekarang."
"Hal genting apa lagi, sih?!" protes Chanyeol. "Dari kemarin kau selalu menghalangiku. Ada hal penting lah, ada hal genting lah. Apa maksudmu sih, Oh Sehun?!"
Sehun tidak lagi membalas Chanyeol dengan kata-kata, melainkan ia langsung menarik Chanyeol sekuat tenaga dan menyeret pemuda tinggi itu keluar dari kelas.
"Hei—!" protes Chanyeol sebelum akhirnya ia ditelan pintu kelas.
Baekhyun lagi-lagi ditinggal dengan mode masih tercengang dengan sikap heroik Sehun yang kembali menyelamatkannya dari malapetaka yang hendak dibuat Chanyeol. Tidak hanya Baekhyun, semuanya juga tercengang dengan sikap Sehun.
Sambil menghela napas berat, Baekhyun segera meninggalkan kelas tersebut sebelum yang lainnya mulai menggosipinya lagi.
.
.
xxx
.
.
"Kau lagi..."
Suara berat itu menyentakkan Baekhyun ke dunia nyata. Baekhyun menghentikan langkahnya. Kedua mata sipitnya berkedip-kedip sejenak sebelum akhirnya ia dapat menangkap sosok—
Ya, Tuhan... Kenapa harus dia lagi?
"...Byun Baekhyun," sambung pemuda tinggi yang tidak lain tidak bukan adalah Park Chanyeol.
Baekhyun menarik napasnya dalam-dalam, berusaha tenang. "Hm, kau mau mencari ribut lagi, hah?"
"Tidak," balas Chanyeol dengan tenang. "Hanya ingin menyapa orang gay dari golongan tiga saja, kok. Kasihan sekali tidak ada yang menyapamu setiap datang ke sekolah. Baik sekali kan aku?"
Baekhyun mendelik kesal. "Kalau kamu mau mengajakku berantem, sebaiknya jangan sekarang, deh. Mood-ku lagi buruk banget. Bisa-bisa kau mati suri kalau kau berani memancing emosiku sekarang."
Chanyeol menaruh tangannya di dada. Wajahnya menunjukkan ekspresi terluka yang dibuat-buat. "Ouch, itu menyakitkan, Baekhyun...," desahnya dramatis. "Aku hanya ingin berbaik hati dan kau malah mengancamku? Bad manner, bad manner..."
Baekhyun lagi-lagi hanya mendelik kesal. Ia berusaha untuk berjalan melewati Chanyeol, tapi tubuh tingginya itu segera menghalangi jalan Baekhyun.
"Ergh, menyingkirlah," geram Baekhyun sambil mencoba mengambil lajur kanan.
Tapi, lagi-lagi Chanyeol menghalanginya.
"Menyingkir kubilang, brengsek," geram Baekhyun tak tahan. Ia berusaha bergerak ke kanan dan ke kiri dengan cepat supaya bisa mengecoh Chanyeol. Tak berapa lama, Baekhyun bisa meloloskan diri dari The Great Wall of Chanyeol—kalau bisa dibilang begitu. Tapi...
"ARGH! SIALAN—AKU TERCEKIK!"
Baekhyun berteriak sambil meronta-ronta ketika Chanyeol berhasil menahannya dengan menarik dasinya kuat-kuat. Karena tidak ingin mati konyol akibat tercekik dasi, Baekhyun akhirnya mundur selangkah-dua langkah supaya ikatan dasi di lehernya itu mengendur sedikit demi sedikit.
Setelah merasa tidak tercekik lagi, Baekhyun langsung melepaskan dasinya, membiarkan dasi hitam itu dipegang Chanyeol, lalu memutar badannya ke arah Chanyeol. "KAU MAU MEMBUNUHKU, HAH?!" teriaknya marah.
Chanyeol tersentak ke belakang. "Ups, sori...," ucapnya, tapi terdengar seperti main-main karena jelas-jelas ia sedang menahan tawa.
Baekhyun yang mood-nya sudah berantakan sekali langsung mengangkat tangannya, hendak melayangkan tinju yang sudah lama diidam-idamkannya terbenam di salah satu pipi Chanyeol.
Tapi...
"HEI, KALIAN BERDUA!"
Pertengkaran mereka harus terusik karena suara itu. Sontak keduanya segera menoleh ke sumber suara dan menemukan sesosok pria tinggi sedang berlari-lari ke arah mereka dengan wajah tegas.
Mampus—itu kan Changmin-saem! teriak Baekhyun dan Chanyeol serentak dalam hati.
Dengan takut-takut karena ketahuan bertengkar oleh guru, Chanyeol segera mengembalikan dasi Baekhyun kepada pemiliknya, sementara Baekhyun menarik tinjunya dan menyembunyikan kedua tangannya di belakang.
Setelah Changmin sudah benar-benar berada di hadapan mereka, guru Biologi itu segera berkata, "Kalian berdua—Byun Baekhyun dan Park Chanyeol—sekarang, ikut saya."
Apalah daya kedua pemuda itu selain menuruti perintah Changmin. Keduanya segera mengekori Changmin dengan Baekhyun di depan, sementara Chanyeol beberapa meter di belakang Baekhyun.
Karena alasan konyol Chanyeol yang tidak ingin langkahnya dipimpin oleh murid golongan tiga—dengan catatan orang ini adalah gay—seperti Baekhyun, ia mempercepat langkahnya supaya setara dengan Baekhyun, kalau bisa satu-dua meter di depan pemuda pendek ini.
Tapi, tindakannya itu terlalu berlebihan sehingga tidak sengaja ia menyenggol lengan Baekhyun. Baekhyun yang risih langsung menoleh dan mendelik tajam, "Apaan, sih?!"
"Kau mundur sana. Aku yang di depan!" perintah Chanyeol dengan suara kecil supaya Changmin tidak mendengarnya.
"Enak saja!" sahut Baekhyun tidak terima. "Kau saja yang mundur sana!"
"Kau saja! Aku kan golongan satu, seharusnya aku yang berjalan lebih dulu. Golongan rendah mah harus berada di paling belakang!"
"Heh, dengar ya, Tuan Muda Sok Kaya! Kalau dalam perang, orang terdepan lah yang paling cepat mati. Nah, kalau kau mau mati duluan sih tidak apa-apa."
Chanyeol melotot. "Ap—"
"Hei, kalian berdua!" Suara menggelegar milik Changmin menginterupsi pertengkaran mereka lagi. Keduanya sempat mengira Changmin marah karena pertengkaran mereka. Tapi, ternyata bukan. "Kalian masuk ke sini," perintahnya seraya menunjuk ruangan yang sudah dikenal jelas dengan ruangan guru. The most haunted-spookiest-scariest room di setiap sekolah setelah ruangan kepala sekolah.
Chanyeol langsung menatap horor ruangan itu. "Changmin-saem mau menghukumku?"
Baekhyun juga tak kalah ngerinya. "K-karena kami bertengkar tadi?"
Bukannya mengiyakan, malah Changmin mengerutkan kening dan memiringkan kepalanya. "Hah? Tidak, kok," ucapnya.
Baekhyun dan Chanyeol sama-sama menghembuskan napas lega.
"Tapi, kalian dipanggil oleh Yunho-saem."
Keduanya langsung melotot.
What the—ini malahan lebih mengerikan daripada sekadar dihukum di ruangan guru. Super-duper mengerikan. Astaga, apakah pertengkaran mereka sudah diendus oleh kepala sekolah mereka?
"Cepatlah," kata Changmin, menyentakkan Baekhyun dan Chanyeol dari pikiran mereka. "Yunho-saem ingin cepat-cepat bertemu kalian sekarang."
Baik Baekhyun maupun Chanyeol cepat-cepat memasuki ruangan guru menuju pintu cokelat yang ada di ujung sana. Setelah mengetuk-ngetuk pintu itu lebih dulu, Chanyeol membuka perlahan pintu itu, menampilkan sebuah ruangan super apik nan rapi yang hanya dimiliki oleh Yunho-saem, kepala sekolah mereka yang perfeksionis.
"Ehm, selamat pagi, Yunho-saem," ucap Baekhyun lebih dulu setelah Chanyeol menutup rapat-rapat pintu itu.
"Selamat pagi, Yunho-saem." Dibandingkan dengan nada Baekhyun yang takut-takut, Chanyeol menyapa Yunho dengan lebih percaya diri.
Yunho yang tadinya sedang menatap ke luar jendela di belakangnya, lambat-lambat memutar kursinya. "Oh, kalian. Silakan, duduklah di depan saya."
Dengan gerakan canggung, keduanya segera duduk di dua tempat duduk yang sudah tersedia di depan meja. Tapi, kedua kursi itu begitu dekat, menimbulkan pertengkaran kecil yang tidak penting.
"Ih, minggir kau," desis Chanyeol dengan suara kecil. "Aku tidak sudi duduk dekat-dekat denganmu!"
Baekhyun melotot sambil menggeser tempat duduknya ke kanan. "Puas kau, hah?!"
"Seperti biasanya, kalian selalu bertengkar," ucap Yunho dengan tenang, membuat kedua pemuda itu tercekat dan memandangi kepala sekolah mereka dengan gugup.
"M-maaf, Yunho-saem," ujar Baekhyun lebih dulu.
"Saya sudah mendengar tentang pertengkaran kalian. Rupanya, di saat seperti ini pun kalian masih bisa bertengkar, ya?"
Chanyeol mendengus. "Dia yang mulai, Yunho-saem," tuduhnya sambil menunjuk Baekhyun dengan jempolnya.
Baekhyun langsung menatap Chanyeol dengan tajam. "Kau..."
Chanyeol dengan cuek menanggapi kemarahan Baekhyun. Ia kembali menatap Yunho-saem. "Jadi, Anda ingin menghukum kami gara-gara pertengkaran kami?" tanyanya to the point.
Baekhyun mengira, Yunho akan tersinggung dengan sikap direct Chanyeol. Tapi di luar dugaan, Yunho malah tersenyum seakan-akan apa yang barusan diucapkan Chanyeol itu adalah sebuah lelucon. "Tenang saja, Nak," katanya geli. "Saya tidak akan menghukum kalian berdua hanya karena masalah sepele itu."
Baekhyun agak tidak terima dengan ucapan Yunho yang barusan mengatakan kalau masalah perangnya dengan Chanyeol hanyalah sebuah masalah sepele. Apakah tindakan Chanyeol yang menyebarkan gosip gay dan selalu mengerjainya itu termasuk yang namanya "masalah sepele"?
Tidak, Yunho-saem. Itu adalah MASALAH BESAR dengan huruf kapital semua! gerutu Baekhyun dalam hati.
"Jadi, kenapa Anda memanggil kami berdua?" tanya Baekhyun akhirnya, berusaha mengalihkan kekesalan yang sempat muncul di hatinya.
"Kalian tahu Poems Party?"
Baekhyun langsung mengangakan mulutnya. Sebuah gagak imajiner seakan-akan sedang lewat di atas kepalanya.
What da—apa yang barusan dikatakan Yunho-saem?
Berbeda 180 derajat dengan Baekhyun yang tidak mengerti dengan topik yang sedang diangkat Yunho, Chanyeol malah mengangguk-angguk paham. Baekhyun melirik Chanyeol dengan wajah tak percaya kalau jangkung sialan ini mengerti ucapan Yunho. Tapi, setelah Chanyeol membuka mulutnya, ia langsung menarik segala ketidakpercayaannya itu.
"Maksud Anda, festival puisi itu?" tanya Chanyeol.
Yunho langsung mengangguk-angguk. "Yap," katanya. "Poems Party akan diselenggarakan beberapa bulan lagi. Beberapa tahun yang lalu, sekolah kita sudah memenangkan Poems Party selama enam tahun berturut-turut. Itu prestasi yang benar-benar mengangkat derajat kita di antara sekolah lainnya."
Baekhyun dapat merasakan kebanggan luar biasa tercetak di wajah Yunho.
"Tapi, karena murid kebanggaan kami sudah lulus, kami kehilangan gelar itu selama dua tahun ini, sampai akhirnya kalian berdua datang..."
"Tunggu dulu," sela Baekhyun yang sepertinya mulai mengerti apa yang ingin disampaikan Yunho. "Jadi, Anda bermaksud untuk mengikutsertakan aku ke Poems Party itu?"
Bukannya Baekhyun alergi puisi atau bagaimana—malah ia sangat menghargai karya bahasa tersebut. Hanya saja, ia benar-benar buta soal puisi. Betul, deh. Waktu sekolah dasar dulu, ia pernah membuat satu puisi, dan semenjak itu Baekhyun jadi trauma membuat puisi gara-gara sekelas menertawakan puisinya. Bukan karena isi puisinya jelek atau bagaimana, tapi caranya membaca puisi itulah yang membuat orang terpingkal-pingkal.
Ugh, pokoknya itu adalah kenangan tersuram antara dirinya dengan puisi.
"Bukan kamu saja," Yunho menunjuk Baekhyun dan Chanyeol secara bergantian, "tapi kalian berdua. Satu kelompok. Bersama-sama."
Rahang bawah kedua pemuda itu langsung terjatuh ke lantai.
.
.
xxx
.
.
Baekhyun ingat kalau ia pernah berdoa sungguh-sungguh supaya Tuhan menumpahkan karma kepada Chanyeol. Ia bahkan berjanji untuk tidak lagi mengintip majalah dewasa milik sepupunya, Daehyun, supaya doanya terkabulkan oleh Tuhan. Biasanya, doa orang baik dan tertindas kan selalu didengar Tuhan. Jadi, dengan jarang membaca majalah itu dan berubah menjadi lebih baik lagi, Baekhyun berharap supaya Tuhan mau membuat Tuan Muda Chanyeol itu kena karma atas segala hal yang telah dilakukannya pada Baekhyun.
Tapi...
...KENAPA JUSTRU SEMUANYA JADI SEMAKIN PARAH BEGINI?!
Begitu teganya Yunho-saem memasangkan dirinya dengan Chanyeol untuk sebuah perlombaan puisi yang kayaknya tidak penting-penting amat.
Why, God? Oh, why...
Baekhyun yang terlalu syok saat itu akhirnya hanya bisa keluar dari ruangan Yunho ketika Yunho menyuruh mereka untuk segera masuk ke kelas. Bahkan Baekhyun tidak sempat mengangguk atau menggeleng dengan permintaan Yunho saking blunt-nya.
Rasanya, Tuhan malah menjatuhkan karma padanya, bukan pada Chanyeol.
Dan kedepresian Baekhyun akhirnya dituangkannya dengan cara membolos kelas sehabis istirahat pertama dengan mengurung diri di dalam perpustakaan. Untung saja Ryeowook, sang penjaga perpustakaan, sudah kenal baik dengan Baekhyun, jadi mudah diajak kerjasama untuk tidak memberitahukan bolosnya Baekhyun ke guru-guru.
Ia berusaha untuk membaca sebaris kalimat di dalam novel Sherlock Holmes-nya, tapi entah mengapa selalu gagal lantaran sosok Chanyeol selalu membayangi pikiran Baekhyun setiap detik. Seolah-olah ia sedang mengantarkan sebuah pesan menjelang kematian pada Baekhyun.
"Ingatlah, Byun Baekhyun~ Kita akan terus bersama-sama karena lomba puisi ini~ HUAHAHAHA~"
Baekhyun langsung meremat rambutnya dengan frustrasi. Untung saja ia bisa menahan diri untuk tidak melemparkan bukunya ke sembarang arah, karena kalau tidak, bisa habis dirinya dihajar Ryeowook.
"ARGH! Bisa gila aku!" kekinya.
"Gila kenapa?"
Suara ringan itu membuat Baekhyun menoleh ke belakang. Mungkin karena kekesalannya yang terlalu maksimal kepada Chanyeol, Baekhyun sampai tidak dapat fokus melihat sosok menyilaukan itu.
"Heunggg...," Baekhyun mendengking aneh, "...kamu siapa, ya?"
Baekhyun dapat mendengar sosok itu tertawa geli, kemudian ia meloncat dan duduk tepat di samping Baekhyun. Nah, dari jarak sedekat ini, barulah Baekhyun bisa mengenali wajahnya.
"Oh, astaga—" Baekhyun terkesiap, "—kau... Sehun... Oh Sehun...?"
Sehun lagi-lagi tertawa. "Apakah gara-gara kamu sudah gila betulan, jadinya kamu tidak bisa mengenaliku?"
Entah karena dorongan apa, Baekhyun cepat-cepat menegakkan punggungnya dan merapikan dirinya, lalu tersenyum kikuk ke arah Sehun. "Ehm... yeah... maafkan aku, Sehun..."
Sehun tersenyum adem. "Slow down, Baek..."
Untuk sesaat, Baekhyun kira Sehun memanggilnya "babe", tapi akal sehatnya cepat-cepat menampar imajinasinya yang sudah kelewatan itu.
Anak idiot. Itu "Baek", bukan "babe", moron!—kata akal sehatnya itu.
Tapi, kenapa Sehun hanya memanggilnya Baek? Bahkan mereka belum kenal sedekat itu...
"...hyun," lanjut Sehun tanpa diduga Baekhyun.
Nah, bahkan bukan hanya "Baek"! Tapi keseluruhan namamu! Jangan ge-er dulu, deh!
Baekhyun buru-buru menyembunyikan rona merah yang nyaris saja ditampilkannya. Sambil mendeham, ia berusaha untuk menenangkan kegugupannya itu dengan bertanya, "Hm, jadi, Sehun... kau juga sedang membolos?"
"Juga?" Sehun mengerutkan keningnya sebelum akhirnya menyeringai jahil. "Woahhh, ternyata kau sedang membolos, ya?"
Baekhyun tersentak dengan wajah memerah. "A-aku tidak...," ia berhenti sejenak, "Lah? Lantas kamu juga ngapain di sini? Kamu bolos, kan?"
"Ouh, sayang sekali aku sedang tidak membolos. Aku sedang melakukan misi rahasia."
Melihat Sehun yang mulai bertingkah sok misterius membuat Baekhyun tanpa sadar mendecih. "Memangnya misi rahasia apa?"
"Yang namanya rahasia, berarti kau dan siapapun tidak boleh tahu," balas Sehun sambil menaruh telunjuknya di bibir.
You don't say, Baekhyun melengos malas. Apakah semua murid dari golongan satu semenyebalkan ini? Tidak Sehun, tidak Kyungsoo, tidak Chanyeol—ini yang paling utama...
Argh, lagi-lagi ia mengingat si Chanyeol sialan itu lagi!
"Tapi, karena berhubung mukamu kayak penasaran begitu, jadi, aku kasih tahu petunjuknya, deh," sambung Sehun, membuat Baekhyun mengerjapkan matanya.
"Ih, siapa yang penasaran—"
"Kamu mau tahu tidak?"
Baekhyun melengos lagi. "Kayaknya kalau aku bilang tidak, kamu juga bakalan kasih tahu, deh."
Sehun tersenyum geli. "Begini, Baekhyun-ah, aku sedang menjalani misi rahasia—"
"...ya, kamu sudah bilang tadi...," sela Baekhyun.
"—kalau aku harus mengistirahatkan diriku sejenak—"
"...mm-hmm..."
"—dari segala kegiatan pembelajaran ini..."
Ucapan terakhir Sehun membuat Baekhyun blank untuk beberapa saat. Setelah mendengar suara "klik" berulang kali di dalam otaknya, Baekhyun langsung melebarkan matanya dan memukul lengan atas Sehun berkali-kali.
"Itu sama saja kalau kau membolos, Sehun!" geramnya setelah sadar. Bahkan Baekhyun sampai lupa kalau yang sedang dipukulnya ini adalah murid golongan satu. Kalau ketahuan murid yang lain, bisa kena habis sehabis-habisnya deh Baekhyun.
Tapi, Sehun juga tidak mau menghindar. Malah, dengan gestur main-main, Sehun menghindari pukulan Baekhyun. Sesekali ia membalas pukulan Baekhyun.
Setelah Baekhyun selesai melampiaskan emosinya, ia kembali berteriak, "Yach! Kenapa kau membalas pukulanku, hah?!"
Sehun menyengir, sama sekali tidak tersinggung. "Ikut naluri."
Baekhyun mendengus kesal sebelum akhirnya duduk dengan tegak lagi di tempatnya. Ia merapikan rambutnya sejenak sebelum akhirnya mendesah pelan, "Maaf, ya..."
Sehun mengerutkan kening. "Hm? Maaf kenapa?"
Baekhyun menggigit bibir bawahnya seraya mengangkat jari telunjuknya untuk menunjuk sesuatu di dada Sehun. "Kau... kan dari golongan satu, tapi malah aku memukulmu."
"Oh, tidak masalah, kok," jawab Sehun dengan ringan.
"Kau tidak marah padaku? Tersinggung, gitu?"
Sehun menggeleng. "Tidaklah. Hanya pukulan sekecil itu saja," jawabnya santai. "Lagipula, kan aku sudah bilang kalau aku tidak peduli dengan golongan-golongan itu."
Sesaat Baekhyun menatap Sehun dengan tatapan terpana. "Wow," gumamnya. "Aku... baru kali ini menemukan murid golongan satu seperti ini selain Kyungsoo."
"Maksudnya?"
"Hm, well, yang berpikiran terbuka seperti kalian berdua. Yang tidak terlalu terpaku dengan golongan-golongan itu."
Sehun langsung menyengir bangga. "Apakah itu berarti aku ini keren?"
"Tidak," balas Baekhyun cepat. "Tapi, kau aneh."
"Hei—!" protes Sehun yang buru-buru dipotong oleh Baekhyun.
"Kau aneh, tapi... aku suka itu..." Baekhyun tersenyum tulus, membuat Sehun tertegun.
.
.
xxx
.
.
Berulang kali Baekhyun mengerjapkan mata ke arah langit, tapi entah mengapa yang keluar adalah sosok albino ganteng itu. Sehingga Kyungsoo yang duduk di sebelahnya hanya bisa memandangi sahabatnya itu dengan aneh.
Ini adalah jam istirahat kedua. Biasanya Baekhyun ke perpustakaan. Tapi, berhubung ia sudah eneg ke perpustakaan selama tiga jam pelajaran berturut-turut, Baekhyun memutuskan untuk menarik Kyungsoo ke halaman belakang sekolah yang selalu sepi untuk berdiskusi dari hati ke hati dengan Kyungsoo.
Hm, atau lebih tepatnya disebut dengan "sesi curhat".
Yap, Baekhyun benar-benar tidak bisa membendung perasaannya setelah kejadian di perpustakaan tadi pagi itu. Dengan lancar dan detail, Baekhyun menceritakan tentang kejadiannya bersama Sehun hingga ke akar-akarnya. Ujung-ujungnya, Kyungsoo hanya mengatakan satu kata.
"Jadi?"
Baekhyun menggembungkan pipinya, mengerucutkan bibir ke depan, lalu memukul lengan atas Kyungsoo dengan gemas. "Yach! Kyungsoo-yah! Jadi, selama aku cerita panjang-lebar ini, yang bisa kau bilang cuman, 'Jadi?'?! Keterlaluan!"
"Ih, aku kan tidak menyuruhmu bercerita. Kamu sendiri yang nafsuan banget cerita tentang kamu dan si whatever-his-name itu."
"Namanya Sehun. Oh-Se-Hun," eja Baekhyun pelan-pelan.
"Whatever," Kyungsoo mengibaskan tangannya dengan cuek. "Jadi, ceritanya kamu ini suka dengan cowok ini?"
Baekhyun langsung melotot. "Tidak! Bukan suka!" bantahnya. "Tapi, lebih ke... emm, yeah... tertarik...?"
"Heol-_-" Kyungsoo melengos, "Apa bedanya?"
"Jelas beda lah!" sahut Baekhyun dengan bersemangat. Bahkan seperti ada api yang berkobar-kobar di belakangnya. "Kalau suka itu, aku mau dia jadi pacarku. Tentu saja tidak, karena aku ini bukan gay. Tapi aku ini lebih ke 'tertarik' karena aku suka dengan prinsipnya soal golongan itu. Dan lagipula, wajahnya menarik juga, sih."
Kyungsoo memutar bola matanya. Memang kalau bicara dengan Baekhyun sama saja seperti bicara dengan cermin. Apa yang kita bicarakan, pasti seolah Baekhyun akan membantah dan malah membeokan kembali apa yang barusan kita ucapkan. Capek.
"Terserah kamu saja, deh," lengos Kyungsoo dengan datar. Tapi sedetik kemudian, wajahnya berubah panik. "Eh, by the way, Baek, aku tinggal sebentar dulu, ya. Mau ke toilet."
Tanpa menunggu reaksi Baekhyun, Kyungsoo langsung melesat dalam kecepatan cahaya meninggalkan Baekhyun sendirian di halaman belakang itu. Baekhyun hanya mendesah capek. Untung saja ada pohon pinus yang rindang di sini, jadi Baekhyun bisa berbaring santai memutar balik lagi rekaman memorinya dengan Sehun, lalu menghirup oksigen yang dihasilkan pohon ini sepuas-puasnya.
Tapi, tanpa Baekhyun sadari, rupanya sejak tadi ada orang yang sudah mengintip dirinya dari balik pohon di seberang sana. Orang itu mendengarkan keseluruhan isi curhatan Baekhyun, membuat si pengintip itu tersenyum sangat culas.
Setelah teman Baekhyun itu meninggalkannya, lantas terlintas di pikiran orang itu: "Kenapa aku tidak sekalian mengancamnya saja? Pasti akan menjadi lebih menarik." Makanya, orang itu dengan perlahan berjalan menuju Baekhyun yang sedang menutup matanya, masih tidak sadar dengan kehadiran orang itu.
"Hm, jadi kau ini benar-benar menyukai Sehun?"
Baekhyun langsung membuka matanya. Jantungnya langsung berdetak tak karuan. Apalagi saat bertatap mata dengan sumber suara yang mengejutkannya itu. Malah jantungnya semakin berdebar amat kencang—karena marah, tentunya.
"CHANYEOL!" teriaknya sambil bangkit dari tidurnya. "KAU MENGUPING, YA?!"
"Bisa tidak sih kamu tidak berteriak setiap kali bertemu denganku?" gerutu Chanyeol sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya, berusaha bergaya (sok) keren.
Baekhyun mengerutkan keningnya dalam. Benar juga, sih. Selama ia bertemu dengan Chanyeol, Baekhyun sama sekali tidak dapat mengendalikan pita suaranya untuk tidak berteriak sekaliii saja. Tapi, mau apa lagi? Kehadiran Chanyeol di depan matanya itu selalu membuatnya ingin berteriak seperti Hulk yang sedang mengamuk tepat di depan mukanya. Kalau bisa, sampai wajah menyebalkan itu lepas dari tengkoraknya.
"Suka-suka aku!" semprot Baekhyun akhirnya. "Dan, ergh, sudah kubilang kalau aku tidak suka pada Sehun!"
Chanyeol menyeringai. "Tapi... tadi aku dengar, lho, kalau kamu bilang dia punya prinsip, terus ganteng, terus..."
Baekhyun cepat-cepat menyela. "Tapi, bukan berarti aku suka padanya, idiot!"
"Kalau kau mengagumi ketampanan seseorang, itu berarti kau suka padanya, dong. Berarti kau itu gay," ucap Chanyeol, tak mau kalah.
"Terus kalau ada cewek yang mengagumi wajah cewek yang cantik itu disebut lesbian, hah?" Baekhyun mengangkat alisnya sambil menuding Chanyeol. "Pikiranmu terlalu sempit, Tuan Muda!"
"Siapa yang pikirannya sempit—"
"Ya, pikiranmu lah! Siapa lagi?!" potong Baekhyun lagi. "Tidak punya kaca di rumah, ya?! Tidak pernah belajar bahasa juga, ya?! Tidak tahu apa bedanya kata 'suka' dan 'tertarik', hah?!"
"Tapi, kata 'suka' dan 'tertarik' itu kan sama saja!"
"Menurutmu sama keluargamu saja!"
Chanyeol yang pengin meninju Baekhyun banget langsung menarik tangannya dari saku, lalu melipatnya di depan dada. "Aku yakin, temanmu tadi juga berpendapat sama denganku."
"Tidak mungkin!" elak Baekhyun. "Aku saja yang sahabatnya ini terkadang suka tidak tahu isi pikiran Kyungsoo. Apalagi kamu yang bahkan tidak tahu namanya?!"
Chanyeol menggeram rendah. Tidak tahu apa yang mau dikatakannya lagi.
Sialan, apa yang mau kukatakan, nih? Chanyeol membatin dengan panik. Dan dengan cepat ia tahu bagaimana cara membalikkan kata-kata Baekhyun padanya.
"Whatever, deh!" Chanyeol mengibaskan tangannya. "Tapi, yang jelas...," Chanyeol berpikir sejenak untuk meyakinkan dirinya, "...aku punya rekaman pengakuanmu yang suka pada Sehun..."
Suara berat Chanyeol itu langsung terngiang-ngiang di dalam pikiran Baekhyun seperti gema.
"Aku punya rekaman pengakuanmu yang suka pada Sehun..."
Berarti Chanyeol barusan merekam sesi curhatnya dengan Kyungsoo? M-m-merekamnya...? MEREKAMNYAAA...?!
Baekhyun bangkit berdiri, lalu menyodorkan tangannya, membuka tangannya lebar-lebar. "Beri padaku rekaman itu, dasar tukang intip!" perintahnya, walaupun ia tahu itu sia-sia saja.
"Tidak mau," Chanyeol memeletkan lidahnya.
Baekhyun maju selangkah. Ia ingin sekali melayangkan tinju yang berkali-kali tertunda sebelumnya. Ia ingin sekali menyarangkan tinju kesayangannya ini di pipi mulus pemuda tinggi itu.
Tapi, mendadak ia berhenti, mengurungkan niatnya.
Baekhyun, tanpa diduga Chanyeol, melipat kedua tangannya di depan dada, lalu ia menyeringai ringan. Bahkan Baekhyun tertawa kecil.
Chanyeol memberikan tanda tanya besar lewat ekspresinya. "Heol? Kenapa ketawa? Kau gila, huh?"
"Tidak, tidak," Baekhyun menggelengkan kepala, tetap menyeringai culas. "Kau... pasti kau bohong tentang rekaman itu, kan?"
Seketika itu juga, badan Chanyeol menegang. Sialan, dia tahu! umpatnya dalam hati.
Dengan wajah mengeras, Chanyeol menjawab, "Heh? Buat apa aku berbohong padamu? Tidak guna."
Tapi, Baekhyun malah memberikan pandangan tak percaya, seolah mengatakan, "Masa, sih?"
Karena sudah kepalang basah ketahuan bohongnya, Chanyeol mengibaskan tangannya dengan gerakan kaku. "Ya, sudah, kalau tidak mau percaya."
Sekali lagi, Chanyeol merasa pelipisnya berkedut jengkel ketika melihat Baekhyun masih saja mengangkat alis kanannya tinggi-tinggi. Karena itu, Chanyeol kembali mengibaskan tangannya. "Sebodo amat, deh!" serunya.
Baekhyun mempertahankan posisi itu sejenak sebelum akhirnya ia mendesah. "Tapi, omong-omong..."
"Ya?" Chanyeol menatap Baekhyun dengan mata melebar.
Baekhyun mengetuk-ngetukkan kaki kanannya dengan gelisah. "Yunho-saem serius dengan lomba puisi itu? Dan segala ancamannya itu?"
Ya, Yunho memang sempat mengancam mereka berdua kalau tidak mau mengikuti lomba itu. Ancaman pertama adalah ia akan menyusahkan baik Baekhyun maupun Chanyeol dalam pendaftaran mereka ke perguruan tinggi. Ancaman kedua adalah mereka tidak akan diperbolehkan mengikuti ujian akhir nanti.
"Kalau menurut pengalamanku, kalau Yunho-saem sudah tersenyum, itu tandanya dia memang benar-benar serius," jawab Chanyeol akhirnya.
Baekhyun langsung mendesah dan meremat rambutnya kuat-kuat. "Argh, kenapa aku harus terjebak di dalam bencana ini, sih?! Bersamamu pula! Argh..."
Chanyeol ikut berdecak sebal. "Ini salahmu, sih! Dasar golongan rendahan!" tuduhnya tiba-tiba.
"Kok salahku, sih?" protes Baekhyun tidak terima.
"Karena sejak awal memang semuanya itu salah kamu!" bentak Chanyeol. "Mulai dari kamu menyenggolku sampai sekarang... Pokoknya itu salahmu!"
Baekhyun mengepalkan tangannya. Ia ingin marah-marah lagi, tapi ia sadar kalau ia terus begini dengan Chanyeol, perdebatan mereka tidak akan menyelesaikan semua masalah ini. Jadi, Baekhyun memutuskan untuk bersikap dewasa saja dengan menarik napas dalam-dalam, menyabarkan hati, lalu menghempaskan bokongnya di atas rerumputan.
"Kenapa kamu diam saja, udik?" delik Chanyeol.
"Karena kalau aku bicara lagi, itu tidak akan menyelesaikan masalah kita," jawab Baekhyun bijak.
Chanyeol langsung bersiul karena kagum dengan kebijaksanaan Baekhyun yang tiba-tiba itu. Tentu saja, ia bersiul dengan maksud main-main. "Wow, dapat pencerahan dari mana, petapa? Dari Sehun yang kau sebut ganteng itu, hah?" godanya.
Baekhyun mendelik tajam kepada Chanyeol. "Mati saja kau," desisnya.
Chanyeol tertawa jahat. "Jadi, bagaimana kita harus menyikapi masalah ini, petapa suci?"
Baekhyun ingin sekali mendamprat Chanyeol, tapi lagi-lagi ia menahan diri untuk tetap sabar. "Heunggg...," ia mendengking aneh untuk yang kedua kalinya hari ini, "kurasa kita harus latihan untuk lomba itu. Tapi—oh, God—aku sama sekali tidak jago baca puisi!"
Chanyeol berkacak pinggang. "Tapi, kau bisa menyanyi, kan? Setidaknya Yunho-saem mengatakan itu tadi pagi."
"Bisa, sih," kata Baekhyun dengan ragu. "Tapi..."
"Tapi apa? Kita lagipula tidak membaca puisi, kok. Cuman menyanyikan puisi itu saja."
"Heunggg...," Baekhyun kembali mendengking, "memangnya puisi itu bisa dinyanyikan, ya?"
Chanyeol langsung menepuk dahinya. "Sudah miskin, golongan tiga, udik, gay, bodoh pula!" makinya. "Kamu ini tidak pernah dengar yang namanya musikalisasi puisi?"
"Hah?" Baekhyun cengo sejenak. "M-musikasilasasi puisi?"
Chanyeol kembali menepuk dahinya. "Mu-si-ka-li-sa-si pu-i-si, bodoh," ejanya pelan-pelan.
"Oh," Baekhyun menanggapinya dengan santai. "Apa itu?"
"Astaga," Chanyeol berdecak tidak sabar. "Kau ini betul-betul buta puisi, ya?"
"Memang iya!" sahut Baekhyun setuju.
Chanyeol kembali berdecak sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. "Begini, udik, golongan rendahan yang buta puisi—"
"Ergh, bisa tidak sih kamu tidak menghinaku untuk sedetik saja! Kamu boleh menghinaku buta puisi—karena itu memang benar—tapi, jangan panggil aku udik atau golongan rendah lagi!" potong Baekhyun emosi.
Tapi, Chanyeol tidak peduli. "—musikalisasi puisi itu adalah puisi yang dinyanyikan supaya orang yang mendengarnya bisa lebih memahami maksud puisi itu."
"Seperti lagu?"
"Iya," Chanyeol mengangguk. "Tapi, yang ini tidak ada bagian refrain dan tidak boleh ada pengulangan."
"Maksudmu, kita hanya menyanyikan isi puisi itu secara gamblang tanpa ada tambahan atau diulang-ulang apapun?"
Chanyeol mengangguk lagi. Tak percuma orang golongan tiga ini masuk di golongan itu. Otaknya cukup encer juga untuk memahami satu kali penjelasan.
"Jadi, kapan kita mau latihan?" tanya Baekhyun kemudian.
Chanyeol mengerjapkan matanya. Lalu, matanya menyipit. "Memangnya kita tidak bisa latihan sendiri-sendiri saja, ya? Aku tidak sudi latihan bareng sama kamu."
"Manusia idiot," maki Baekhyun. "Ya, bagaimana mau membuat performance yang bagus kalau kita tidak punya chemistry saat tampil nanti, hah?"
"Tidak perlu tampil. Aku akan memaksa Yunho-saem lagi untuk membatalkan penampilanku. Biar kau saja yang tampil sendirian," kata Chanyeol dengan santai. "Kalau bisa akan kuancam balik dia..."
"Dengan uang, gitu?" sela Baekhyun sambil mengangkat satu alisnya tinggi-tinggi.
Chanyeol mengangguk. "Memangnya dengan apa lagi? Aku yakin pasti dia akan menurutiku."
"Cuih!" Baekhyun mendecih. "Aku malah tidak yakin kalau Yunho-saem bisa disuap begitu. Dasar, orang kaya otak pendek! Selalu merasa uang itu adalah penyelesaian segala masalah!"
"Memang begitulah dunia sekarang, kan?" Chanyeol memandang Baekhyun dengan rendah. "Kamu yang tidak punya uang sih tidak akan mengerti tentang ini."
Baekhyun menggeram. Tangannya terkepal erat. "Dasar payah! Dasar lemah! Bisanya cuman bersembunyi di balik kekayaan saja!" makinya. "Huh, tak kusangka orang sebesarmu bisa dikendalikan oleh uang yang ukurannya cuman, well, tidak lebih besar dari buku tulisku."
Chanyeol ikut menggeram. "Akan kutunjukkan kalau Yunho-saem bisa disuap dengan uang!" tantangnya.
"Coba saja!" tantang Baekhyun balik. "Kalau tidak bisa, kita harus latihan di rumahku yang jelata ini. Kalau kau bisa, aku akan menjadi babumu selama seminggu. Bagaimana, hah?"
Tanpa berpikir lagi, Chanyeol langsung mengiyakan. "Deal!"
.
.
xxx
.
.
"Akan kubuktikan si idiot gay itu kalau aku bisa menyuap Yunho-saem!" geram Chanyeol berulang kali setelah ia meninggalkan Baekhyun di halaman belakang sekolah.
Saat ini ia sedang berjalan sepanjang lorong sekolah dengan wajah kacau. Kacau yang dimaksud adalah biasanya ia selalu berjalan sambil menebar senyumannya yang paling oke sampai-sampai yang melihatnya bisa meleleh, tapi kali ini ia berjalan dengan wajah tertekuk bete.
"Hei, Chanyeol—"
Saking betenya, bahkan sapaan dari Krystal, salah satu gadis tercantik di Jungshin pun diabaikannya.
Dengan langkah terburu-buru, akhirnya Chanyeol sampai juga di ruangan guru. Tanpa mengatakan "permisi" terlebih dahulu, Chanyeol berjalan lurus ke arah pintu cokelat di ujung sana. Ia mengetuk pintu itu tiga kali, lalu membuka pintu itu perlahan. Terlihatlah Yunho yang duduk dengan posisi membelakanginya, seperti tadi pagi.
Belum sempat Chanyeol mengucapkan salam, tiba-tiba Yunho mengangkat sebelah tangannya. "Hm, biar kutebak dari langkah kakinya...," ujarnya. "Pasti kau adalah Park Chanyeol, kan?"
Chanyeol langsung menahan napasnya, terkesiap. Gila, mistis banget!
"I-iya, Pak," jawab Chanyeol akhirnya.
Yunho memutar kursinya, lalu menatap Chanyeol lurus-lurus. "Silakan duduk kalau begitu, Chanyeol."
Dengan gerakan ragu, Chanyeol langsung menempati kursi yang ada di hadapan Yunho. Dan seperti biasanya, ia tidak mau duduk di tempat duduk bekas Baekhyun tadi pagi.
"Jadi, ada sesuatu yang mau kau protes dengan saya?" tanya Yunho kemudian. "Atau... jangan-jangan kamu ingin mengiming-imingi saya dengan sesuatu?"
Lagi-lagi Chanyeol menahan napasnya. Gila, ini benar-benar mistis. Bagaimana bisa Yunho bisa menebak pikiran Chanyeol sebegitu mudahnya? Apakah ia hanya bercanda atau...
Chanyeol menyipitkan matanya. Kalau Yunho tersenyum atau tertawa, itu tandanya ia serius. Tapi, kalau ia berwajah datar seperti sekarang...
Ini mah bercanda saja, Chanyeol! sorak Chanyeol dalam hati.
"Ehm, begini, Yunho-saem...," Chanyeol memainkan jari-jarinya dengan gelisah, "...saya tidak bisa mengikuti Poems Party."
"Kenapa?" Yunho mengangkat satu alisnya.
"Karena...," Chanyeol mendesah berat, "...saya punya hubungan yang tidak baik dengan orang itu..."
"Orang itu? Siapa?"
"Byun... Baekhyun...?"
Tiba-tiba Yunho menepuk tangannya sekali dengan sangat keras, sampai-sampai Chanyeol nyaris saja meloncat dari tempat duduknya saking kagetnya. "Kalau hubungan kalian tidak baik, seharusnya lomba seperti ini membuat kalian bisa menyelesaikan masalah hubungan kalian, kan. Saya tidak mau murid-murid saya berkelahi seperti ini...," sahutnya sambil tersenyum.
"T-tapi, Yunho-saem," ujar Chanyeol, "serius deh, saya sama Baekhyun itu... sudah tidak ada harapan lagi."
Tadinya, Chanyeol mau bilang kalau golongan satu dan golongan tiga itu tidak akan pernah bisa menyatu. Tapi, mau disemprot satu sekolahan apa dia kalau membocorkan sistem golongan itu masih dilakukan kepada kepala sekolah?
"Tidak ada harapan bagaimana?"
"Yah... begitu deh, Yunho-saem..."
Yunho mulai menyipitkan matanya, penuh kewaspadaan sekaligus kecurigaan yang membuat Chanyeol gugup di tempat.
What should I do...?
Ingin segera lepas dari kegugupan ini, Chanyeol langsung mengepalkan tangannya di atas meja Yunho, lalu berkata dengan wajah serius, "Begini, Sonsengmin. Saya mau menawarkan sumbangan yang cukup besar ke sekolah ini karena perusahaan kami baru saja mengekspansi cabang ke distrik Gangnam. Sebagai gantinya, saya mau minta agar Yunho-saem mau membatalkan saya—"
Yunho langsung menyetop ucapan Chanyeol, lalu menggelengkan kepalanya tegas. "Maaf, Nak. Saya tidak bisa," katanya sambil tersenyum, lalu memutar kursinya dengan santai.
"T-tapi, Yunho-saem... Saya dengar kalau sekolah ini butuh—"
"Tetap tidak bisa, Chanyeol-ssi. Saya tidak bisa menerima iming-iming apapun dari kamu ataupun yang lainnya. Kalau perintah, itu perintah yang harus dijalankan."
"T-tapi..."
Yunho memutar kursinya, lalu menopang dagu. Sambil tersenyum lebar sampai-sampai matanya ikut berbentuk segaris saja, ia kembali menyergah, "Saya rasa diskusi ini cukup sampai di sini. Kamu tahu kan pintu keluar ada di mana?"
Walaupun Yunho memang tersenyum, tapi itu tidak berarti aura menyeramkan tidak menguar di sekitarnya. Sambil menahan kengeriannya, Chanyeol beranjak dari kursi, lalu membungkuk sekali. "Permisi, Pak," ucapnya kemudian bergegas keluar dari ruangan tersebut.
Setelah keluar dari sana, Chanyeol memejamkan matanya sejenak, menarik napas sedalam-dalamnya seraya mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat. Sial, baru kali ini ia merasa sekalah ini. Kalah yang sekalah-kalahnya. Kalah telak. Kalah apapun itu lah.
Dan yang memalukannya lagi, ia kalah taruhan dengan si udik Baekhyun itu.
Sial. Sial. Sial.
Lalu, apa taruhannya tadi? Latihan di rumah si udik itu?
Chanyeol semakin mengepalkan tangannya. Mana sudi ia menginjakkan kaki di rumah rakyat jelata? Tidak selevel banget. Bagaimana kalau rumahnya kecil? Berlumpur? Ada kandang ayamnya pula?
Ya, Tuhan—aku memilih mati...
Tidak, tidak. Chanyeol tidak serius dengan kata-katanya barusan. Ia belum puas menuntaskan dendamnya pada Baekhyun. Ia tidak mau mati cepat-cepat.
.
"Pffffftttt—"
Chanyeol langsung menoleh mendengar suara dengusan tawa yang tidak asing itu.
"Dilihat dari wajahnya sih, kayaknya kamu gagal kan menyuap Yunho-saem?" Baekhyun melipat tangannya di dada dengan wajah paling angkuh yang belum pernah ditampilkannya.
Chanyeol mendelik kesal. "Sok tahu!"
"Lah, memang iya, kan? Sudah, akui saja kekalahanmu," Baekhyun menyeringai penuh kemenangan. "Kau—kalah—taruhan—Tuan—Muda..."
Chanyeol menggeram rendah mendengar ucapan Baekhyun bernada mengejek itu. "ARGH! Iya, iya! Aku akan latihan di rumah udikmu yang busuk itu, golongan rendah!"
Baekhyun mendecakkan lidah. "Well, well. Besok, pulang sekolah, Rongdae-gil nomor enam. Jangan lupa, jangan telat, jangan merepotkan. Arasseo?" katanya jahil sambil mengerlingkan sebelah matanya, lalu berlalu begitu saja seperti angin sebelum Chanyeol sempat bereaksi lagi.
Akhirnya, Chanyeol cuma bisa menggeram lagi seperti harimau kalah perang. OH-MY-GOD—ini benar-benar membuatnya marah setengah mati...
Astaga—daripada ia stress sendiri, lebih baik ia mencoba mengambil hikmah dari kejadian ini, deh.
Mengunjungi rumah rakyat jelata? Mungkin ada keuntungannya juga. Selama ini ia tidak pernah berkunjung ke rumah-rumah kecil. Mungkin dengan kedatangannya ke rumah kecil milik golongan tiga Baekhyun yang gay itu, ia bisa mengacak-acak rumah itu.
Yap, mengacak-acak rumah itu...
Menyadari ide brilian tersebut, Chanyeol menyeringai licik. Di otaknya, sudah terbayang-bayang bagaimana menyenangkannya tidak sengaja merusak barang-barang di sana. Tidak peduli soal orang tuanya, yang penting tidak hanya mengacak-acak kehidupan Baekhyun, tapi ia juga bisa mengacak-acak rumahnya.
Mungkin terdengar cemen banget, kayak anak kecil, tapi Chanyeol tidak peduli lagi. Yang penting, Baekhyun bisa teracak-acak seutuhnya bak scramble egg yang disukainya itu.
"Kalau bisa, lebih hancur lagi...," desis Chanyeol.
.
.
.
.
.
.
To be continued.
xxx
THANKYOU buat reviewer yg kemarin:
"habyunnie25 ; Rnine21 ; Baekhugs0420 ; sanyakie ; hunniehan ; Caramelyeol ; 48BemyLight"
Pokoknya laf banget buat semua yg udah baca, review, fav, follow, maupun yg silent reader. Cacimaki, masukan, tambahan—silakan ditumpahkan di kotak Review ya^^
