Disclaimer : Masashi Kishimoto

Genre : Mystery

Rated : T

"The Cases are Not Over!"

Chapter 2

Gaara mulai membentuk pelindung pasir yang bergerak memutari dirinya. Naruto mulai cemas mengingat Gaara adalah shinobi yang kejam dan perikemanusiaannya rendah. Keringat dingin mengalir deras di wajah Naruto. Ia menoleh pada teman-temannya dan wajahnya memberi isyarat 'Bagaimana ini?'.

"Naruto, lawanlah! Kalahkan Gaara!" seru Hinata. Naruto terkejut mendengar Hinata.

Karena menurut Gaara ini semua terlalu memakan waktu, maka ia memiliki sebuah ide untuk membuat Naruto menyerangnya.

Bush!

Semburan pasir menyerang Hinata hingga terpental. Semua yang melihat hal itu terkejut terutama Naruto.

"Hey, kau! Apa urusanmu dengannya? Rasakan ini!" Naruto mulai menyerang dengan melontarkan pukulan-pukulannya. Sayang sekali, tak satu pun pukulannya yang berhasil mendarat di tubuh Gaara. Sementara mereka bertarung. Teman-teman Naruto berusaha menegakkan kembali tubuh Hinata.

"Hinata, kau baik-baik saja?" tanya Kiba.

"Aku baik-baik saja." Jawabnya sambil membersihkan pasir-pasir yang mengotori rambutnya.

"Lihat saja sampai Naruto mengalahkannya!" seru Ino.

Beberapa jutsu telah dilontarkan oleh Naruto dan Gaara. Gaara dengan gaya diamnya tetap membiarkan pasir-pasirnya melawan Naruto, sedangkan Naruto bergerak dengan cepat supaya dapat menembus perisai pasir milik Gaara.

"Ini adalah pertarungan yang membosankan. Hoam." ucap Sasuke yang lalu duduk menjauh dari teman-temannya.

Tak terasa, pertarungan sudah berlangsung sangat lama. Hasilnya Naruto hanya berhasil satu kali menmbus perisai Gaara hingga membuat goresan cukup dalam pada lengan Gaara dengan kunainya. Naruto sendiri terkena banyak hantaman pasir dari Gaara. Tampaknya Naruto sudah mulai kelelahan, maka ini terasa menjadi sasaran mudah bagi Gaara. Gaara melontarkan semburan pasirnya hingga membuat Naruto terjatuh, lalu Gaara berjalan mendekati Naruto. Semua yang melihat pertarungan ini mulai panik.

"Naruto, kau tidak boleh kalah." Sakura berkata perlahan sambil mengepalkan tangannya.

Di sisi lain, Temari dan Kankuro tersenyum licik. Bagaimana dengan Shikamaru? Ah, tentu saja. Shikamaru sama sekali tidak panik. Ia hanya memandangi Temari saja. Bahkan jika ditanya apa saja yang dilakukan Gaara pada Naruto, Shikamaru tak akan bisa menjawab karena ia tak melihat pertarungannya.

Pasir-pasir Gaara mulai bergerak memutari Naruto. Semakin tinggi, semakin tinggi, semakin tinggi hingga hampir menutupi seluruh tubuh Naruto. Kali ini, Gaara membuat sedikit pergerakan. Perlahan demi perlahan, ia mengepalkan tangannya dan itu membuat pasir-pasirnya menyempit seolah-olah akan mencekik seluruh tubuh Naruto. Temari dan Kankuro terbelalak melihatnya, mereka tak menyangka Gaara bisa melakukan hal itu.

"Hentikan! Naruto bisa mati!" Hinata mulai berteriak dengan meneteskan air matanya.

Tiba-tiba...

"AAAAHHHH!" teriakan yang memecah keheningan membuat semua perhatian tertuju padanya. Sakura berteriak sangat ketakutan.

"Sasuke! Sasuke hilang! Tadi ia masih duduk di belakang sana. Pintu keluar hanya satu, tidak mungkin ia pergi." jelas Sakura.

"Temari! Kankuro! Pasti kalian yang melakukan semua ini!" ucap Tenten dengan kesal.

"Jika kalian memiliki otak, tentulah kalian tak akan menuduh kami yang melakukan itu berhubung kalian tahu dari tadi kami berada di hadapan kalian! Bodoh!" ucap Temari dengan penuh emosi.

Pasir yang mencekik tubuh Naruto kini mulai melemah cengkramannya. Saat itu adalah saat yang terbaik bagi Naruto untuk menyerang Gaara karena Gaara mengalihkan perhatiannya pada hilangnya Sasuke, namun Naruto lebih memilih menghampiri teman-temannya. Pada saat itu juga, Gaara, Kankuro dan Temari menghampiri para pemuda Konoha.

"Sudah kukatakan bahwa bukan kami pelaku semua itu dan kami meminta maaf telah menuduh kalian melakukan hal yang sama di Sunagakure." ucap Kankuro dengan bijaksana.

"Kami pun meminta maaf." ucap Rock Lee, Neji dan Sai bersamaan.

"Temari, tadi aku menuduhmu maafkan aku." ucap Tenten yang lalu meraih tangan Temari. Temari hanya tersenyum dan senyumannya memabukan Shikamaru.

"Ya, Gaara, aku pun meminta maaf." ucap Naruto yang lalu mengulurkan tanggannya untuk bersalaman dan memberikan seringai senyumnya. Gaara hanya memandangnya tanpa ada jawaban lalu pergi berbalik dari Naruto.

"Hah? Ya, tidak apa-apa, Naruto." Naruto menjawab permintaan maafnya sendiri dan tangan kanannya menjabat tangan kirinya sendiri. "Daripada tidak ada jawaban, lebih baik aku menjawabnya sendiri." lanjutnya.

Mereka semua berunding untuk mempersiapkan rencana. Kiba ingin Shino kembali, Sakura ingin Sasuke kembali, Naruto ingin membalaskan dendam atas pembunuhan Ichiraku, dan yang lainnya ingin membunuh pelakunya.

"Seperti apa ciri-ciri pelakunya di Sunagakure?" tanya Neji.

"Berjubah hitam dengan wajah tertutup." jawab Kankuro.

"Uhm, Temari, jika mereka menyerangmu, beri tahu aku. Aku siap melindungimu. Mereka tak boleh menyakiti wanita cantik sepertimu." ucap Shikamaru yang membuat wajah Temari memerah bagaikan tomat.

"Aku bisa melawannya." jawab Temari tanpa menoleh dan merasa bodoh, bagaimana bisa ia tersipu malu atas perkataan Shikamaru. Apa ia menyukainya?

"Perbincangan kemarin Ino dan Sai yang berkencan, sekarang Temari dan Shikamaru yang berkencan." ucap Rock Lee. Lalu, dua hantaman dari sebelah kanan dan kiri wajah Rock Lee mendarat. Kepalan tangan Ino dan Temari yang mendarat di wajahnya membuat Sai dan Shikamaru tertawa.


..

..

Dua belas pemuda berencana akan melakukan patroli malam-malam. Hari pertama di Konohagakure, hari kedua di Sunagakure. Mereka membaginya ke dalam 4 team. Team ke-1 beranggotakan Naruto, Sakura, dan Rock Lee. Team ke-2 beranggotakan Gaara, Temari, dan Shikamaru. Team ke-3 beranggotakan Kiba, Ino, dan Sai. Team ke-4 beranggotakan Neji, Tenten, dan Kankuro.

"Kemana Hinata?" tanya Kiba.

"Aku tak membiarkannya ikut. Tadi ia terkena semburan pasir yang cukup keras, maka sebaiknya ia beristirahat." ucap Sakura dengan sedikit sindiran kepada Gaara.

Mereka semua memulai penyelidikannya. Team 1 ke bagian utara Desa Konoha, team 2 ke bagian timur, team 3 ke bagian selatan, dan team 4 ke bagian barat.


..

..

Team 1

Bagian utara Desa Konoha terasa lebih sepi dari sebelumnya. Mungkin semuaa warga desa takut sesuatu terjadi lagi menimpa mereka. Sakura merasa sedih karena Sasuke menghilang dan tak tahu bagaimana keadaannya sekarang. Naruto dan Rock Lee pun merasa demikian. Bagian utara adalah bagian yang cukup rindang karena banyak terdapat pohon di sana.

Srek.. srek..

Terdengar gemuruh di semak-semak yang mereka lewati. Mereka bersiap siaga untuk serangan tiba-tiba. Keluarlah seekor anjing putih. Itu terlihat seperti anjing milik Kiba, Akamaru.

"Huh, Akamaru, kau mengejutkan kami saja." Sakura mengelus-ngelus kepala anjing yang berbulu putih lebat itu.

Tiba-tiba, mata Akamaru berubah menjadi merah dan terbuka lebar. Semuanya terkejut. Akamaru membuka mulutnya dan keluar sebuah tembakan shuriken yang menyayat kening Sakura. Lalu Akamaru berlari menjauh.

"Itu bukan Akamaru." ucap Rock Lee. Rock Lee menyobek kain putih yang biasa selalu digulung di tangannya untuk menghentikan darah yang mengalir dari kening Sakura.

"Terimakasih, Lee."

"Lihat saja, jika aku bertemu Kiba akan kuhabisi. Tak ingat ketika ia ujian bertarung melawanku? Ia kalah!" Naruto penuh emosi mengarahkan tinjunya ke atas.

"Jangan, Naruto. Akamaru belum pernah jauh dari Kiba, jadi menurutku itu bukan Akamaru." ucap Sakura berusaha menenangkan Naruto. Keluarlah sesosok pria berjubah hitam dan melemparkan shuriken ke arah mereka bertiga, dengan cepat mereka menghindar.

Dengan kain yang digulungkan di tangan, Rock Lee berusaha menggapai pria berjubah tersebut namun pria itu bagaikan memiliki senjata di setiap bagian tubuhnya sehingga kain itu putus begitu saja sebelum mengenai tubuh pria itu oleh pisau yang muncul dari punggungnya.

"Siapa kau sebenarnya?" tanya Naruto.

Naruto melemparkan kunainya tepat menancap di jubahnya hingga tersangkut di tanah. Belum sempat Naruto, Sakura, dan Rock Lee menghampirinya, pria itu melemparkan sesuatu ke tanah yang menyebabkan kabut tebal. Selagi mereka tak bisa melihat pria itu, pria tersebut melepas kunai yang menancap lalu kabur.

"Ah, aku tak bisa melihat. Kemana pria itu?" tanya Rock Lee. Kabut pun menipis hingga mereka melihat bahwa pria tadi menghilang.


..

..

Team 2

Bagian Timur adalah pemukiman yang cukup ramai karena di sana adalah pusat berbelanja 24 jam. Walau sudah banyak kejadian aneh, tempat ini masih saja ramai. Suasana ramai dan keadaan yang hangat membuat patroli ini terasa seperti kencan bagi Temari dan Shikamaru, namun sangat membosankan bagi Gaara.

"Ayo! Kemari! Potongan harga menantimu." seorang pelayan kedai teh menawarkan promosi kepada Temari, Shikamaru, dan Gaara.

"Kau lelah tidak? Bagaimana jika beristirahat di kedai ini sejenak?" tanya Shikamaru. Temari tidak bisa berkata apa-apa karena merasa gugup maka ia hanya mengangguk.

"Apa ini? Tujuan kita adalah menyelidiki, bukan berkencan!" ucap Gaara datar namun tetap bernada sedikit tidak suka.

"Um, Gaara, mungkin memang sebaiknya ..." ucapan Temari terpotong.

"Mungkin tuan tampan berambut merah ini tak memiliki teman kencan maka bersikap seperti ini." potong pelayan itu dengan senyuman manis.

"Ayo masuk." ajak Shikamaru menarik tangan Temari. Lalu mereka cepat-cepat masuk menuju tempat dekat jendela yang terasa begitu romantis dengan sorotan sinar bulan.

"Tenanglah tuan, nanti akan aku carikan pasangan untukmu. Mari aku antar mencari tempat." ucap pelayan kedai tersebut. "Oh, tuan, maaf sekali, mejanya sudah terisi semua." lanjut pelayan itu setelah matanya memindai ke seluruh ruangan. Gaara berjalan menuju meja Temari dan Shikamaru.

"Maaf, tuan. Tak baik mengganggu kencan orang lain." pelayan itu menarik tangan Gaara. Gaara melepaskan tangan pelayan tersebut dengan kasar. "Sebaiknya kau duduk bersama wanita berambut cokelat itu, ia tak memiliki pasangan. Permisi." lanjut pelayan tersebut yang lalu meninggalkan Gaara. 'Apa boleh buat?' pikir Gaara.

Gadis berambut cokelat itu hanya memutar sendok di gelasnya saja sambil memandangi pusaran air tehnya. Gaara melepas gentong pasirnya dan meyandarkannya di dinding lalu duduk di hadapan gadis itu. Gadis itu terkejut dan menjadi gugup.

"K-kau si-siapa?" tanya Gadis itu dengan takut dan setangah terkesima melihat Gaara.

"Tak ada meja kosong, maka aku duduk di sini." jawab Gaara yang sama sekali bukan jawaban dar pertanyaan gadis itu.

"Si-silakan.K-kau siapa?" tanyanya.

"Gaara."

"Oh, aku Matsuri."

"Aku tidak bertanya namamu."

"Um.. Aku hanya memperkenalkan diriku saja." Matsuri tertunduk karena malu memperlihatkan wajahnya yang merah. Gaara sedikit tersenyum.

"Kau manis." puji Gaara.

"Apa?" Matsuri terkejut.

"Ah, tidak. Maksudku, tehnya manis."

"Bagaimana bisa kau tahu tehnya manis, kau saja belum memesan teh." Matsuri sedikit terkekeh. "Biar aku pesankan." Matsuri memanggil pelayan dan memesankan teh untuk Gaara.

Gaara baru menyadari hal itu dan merasa bodoh akan perkataannya. Matsuri terlihat aneh melihat gentong pasir yang dibawa oleh Gaara.

Telah banyak perbincangan antara Shikamaru dan Temari. Mereka seperti merasakan sesuatu, sesuatu yang berbeda.

"Lihat, adikmu sepertinya mendapat pasangan baru." ucap Shikamaru. Temari hanya menoleh dan tertawa.

"Temari, aku ingin mengatakan sesuatu." ucap Shikamaru.

"Apa itu?" tanya Temari.

"Sejak pertama aku melihatmu, aku sudah menyimpan perasaan kepadamu dan aku ingin ..." ucapan Shikamaru terpotong.

"AAA! Tolong! Tolong!"

Seruan meminta pertolongan terdengar dari luar kedai. Sebagian orang muncul ke luar dan mencoba menolong, sebagian lagi bersembunyi karena takut. Gaara, Temari, dan Shikamaru keluar. Ada dua orang manusia berjubah berlari melintasi mereka. Gaara dengan pasirnya menghantam dari belakang hingga salah satu dari manusia berjubah tadi terjatuh, lalu langsung berlari lagi. Shikamaru dan Temari lari mengejar. Gaara menghampiri ke sebuah kotak kecil tergeletak di jalan saat manusia berjubah itu terjatuh. Lalu mengambilnya.

"Mungkin ini petunjuk." ucap seseorang dari belakang Gaara.

"Matsuri-san? Kau sebaiknya bersembunyi."

"Tidak. Aku harus pulang ke Sunagakure malam ini juga."

"Kau dari Sunagakure?"

"Ya. Aku pernah melihat Gaara-kun ada di Sunagakure juga hanya saja aku belum mengenalmu, kau dari sana juga?"

"Ya."

"Baiklah, aku harus pulang sekarang."

"Tunggu, Matsuri-san. Sebaiknya kau ikut aku bermalam di Konohagakure. Banyak bahaya di luar sana." pipi Matsuri merona merah sekali. Ia tak menyangka Gaara memperhatikan dirinya. Ia pun mengangguk karena perkataan Gaara ada benarnya juga.


..

..

Team 3

Sebuah sungai yang sangat panjang dan beraliran air deras membuat Akamaru tergiur untuk berenang. Kiba, Ino, dan Sai berjalan menyusuri sungai yang amat jernih hingga mereka bisa melihat cerminan diri mereka.

"Ino, lihat pantulan sinar bulan di air sungai. Ada kita berdua di tengahnya. Um, Kiba, bisakah kau bergeser sekitar 1 meter menjauh dari cerminan sinar bulan di air ini?" ucap Sai.

"Apa? Merepotkan sekali. Kita bukan untuk melihat pemandangan." jawab Kiba yang lalu menjauh.

"Berkencanlah dengan Akamaru." ucap Ino mengedipkan sebelah mata kepada Kiba.

Akamaru yang tidak bisa diam, langsung melompat ke sungai.

"Hey, Akamaru! Jangan!" seru Kiba.

"Sepertinya Akamaru saja tidak ingin berkencan denganmu." ucap Ino menjulurkan lidahnya, Sai tertawa terbahak-bahak.

Akamaru tidak muncul ke permukaan air. Itu membuat Kiba cemas. Ino dan Sai sedang asyik dengan perbincangan mereka.

"Teman-teman, Akamaru tidak muncul sejak tadi." ucap Kiba. Ino dan Sai menghampirinya.

Air tempat Akamaru menyelam tiba-tiba menjadi berwarna merah. Mereka terkejut.

"Darah?" tanya Sai.

"Tidak! Akamaru!" teriak Kiba.

Gulungan putih menyembul dari dalam air. Kiba mengambilnya dengan dahan pohon lalu ia mendapati Akamaru yang tubuhnya telah tersayat-sayat dan ada satu tusukan di punggungnya.

"Cepat kita berkumpul ke tempat awal bersama teman-teman." ujar Ino.

Seseorang muncul dari dalam air dengan lompatannya yang tinggi lalu menghantam kepala Ino dari belakang dengan benda tumpul. Seketika Ino tak sadarkan diri dan seseorang tadi lari dengan sangat cepat hingga tak terlihat lagi bayangannya.

"Ino! Ayo kita pergi!" ucap Sai.


..

...

Team 4

Kawasan yang sangat sepi, bahkan napas mereka saja dapat terdengar. Bagian barat adalah kawasan yang sangat sepi baik siang maupun malam. Neji, Tenten, dan Kankuro tampak malas menjalankan misi ini.

"Sepanjang jalan kita tidak menemukan apapun. Membosankan." ucap Kankuro.

"Ya, lebih baik aku beristirahat saja." ucap Neji.

Di jalan yang mereka lalui, terlihat banyak kertas berceceran. Tenten mencoba membaca kertas itu. Setelah menyadari bacaannya ...

"Mundur!" Tenten melompat mundur lalu mendorong Kankuro dan Neji ke arah belakang juga.

Kertas yang berserakan itu meledak satu per satu. Setelah asap yang tebal mereka melihat sosok berjubah.

"Bagaimana bisa kalian menyadari kertas-kertas ini?" tanya sosok berjubah itu dengan kesal. Ternyata dibalik jubahnya, ia adalah seorang wanita dengan suara yang sedikit tegas.

Wanita itu langsung pergi melompat ke atas pohon dan menghilang.

"Hey! Tunggu!" seru Tenten.

"Sudahlah." ucap Neji.

Dari jauh, seperti ada sesuatu yang berlari ke arah mereka. Semakin dekat, semakin dekat, hingga akhirnya Kankuro dapat menangkap bentuk makhluk itu. Seperti... anjing? Tunggu, itu Akamaru? Tembakan shuriken dilontarkan oleh anjing yang dianggap Akamaru itu. Mereka semua berhasil menghindar. Mereka merasakan ada kejanggalan dari Akamaru. Kankuro menyadari sesuatu.

"Itu? Boneka?" heran Kankuro. Saat Akamaru melompat dan berusaha melontarkan shuriken lagi, Kankuro langsung mengendalikan kugutsunya untuk mengendalikan boneka Akamaru itu. Setelah tertangkap, Kankuro membawanya dan mereka kembali ke tempat perkumpulan.

"Ayo, sudah kudapat barang bukti." ucap Kankuro.


..

..

Mereka semua berkumpul lagi dan team yang pertama sampai adalah team 2 tetapi team 4 belum datang juga. Masing-masing dari mereka menceritakan yang mereka alami.

"Ino belum sadar juga. Saat tadi ia terkena hantaman dari dalam sungai." ucap Sai sambil menidurkan Ino di pangkuannya.

"Lihat Akamaru! Oh, malangnya, ia terluka. Syukurlah masih hidup." ucap Kiba dengan wajah sedih.

"Akamaru? Tadi ia menyerang kami dengan lemparan shuriken dari mulutnya seperti mesin hingga Sakura terluka." ucap Naruto.

"Akamaru daritadi bersamaku." ucap Kiba merasa tidak terima anjingnya disebut 'mesin pencetak shuriken'

"Hai, wanita cantik. Kau kekasih Gaara? Sayang sekali wanita sepertimu dimiliki orang seperti dirinya." ucap Rock Lee menggoda Matsuri. Matsuri merasa terganggu hingga memalingkan mukanya.

"Setidaknya aku lebih berbakat darimu. Aku menemukan petunjuk, tidak seperti dirimu." ucap Gaara mengejek Lee.

Semua perhatian tertuju pada kotak kecil berwarna cokelat yang Gaara bawa. Itu terlihat seperti kotak cincin. Tiba-tiba, team 4 datang.

"Lihat kami membawa Akamaru." ucap Kankuro yang lalu terlihat aneh ketika melihat Akamaru yang ada di pelukan Kiba. "Aku kira ini Akamaru asli yang dibuat menjadi boneka." lanjutnya.

"Berisik, Kankuro. Lihat, aku, Gaara, dan Shikamaru mendapat apa." ujar Temari.

Saat kotak itu dibuka, terdapat cincin berukuran besar.

"Besar sekali." Sakura mengangkat cincin itu ke tarangnya sinar bulan.

"Oh, tidak! Pemakai cincin ini! Jadi benar, pelaku yang sama dengan pembunuh orang tuaku 3 tahun silam." ucap Matsuri terkejut.

"Apa?" Semua terkejut juga mendengar pernyataan Matsuri.

"Pada waktu itu ..."


Review? Follow? Fav?

Thanks for reading.