Disclaimer : Masashi Kishimoto
Genre : Mystery
Rated : T
"The Cases are Not Over!"
Chapter 3
"Pada waktu itu, pria bercincin ini pernah datang ke rumahku. Awalnya aku sungguh tak tahu siapa sebenarnya. Lama-kelamaan, saat ia datang dan ingin menemui ibuku, aku mulai ingin tahu siapa orang itu. Keadaan ekonomi keluargaku dulu sangat malang. Ibuku meminjam uang 5000 yen kepada mereka. Keluargaku tak bisa membayarnya. Karena terus dikejar-kejar, ibuku pergi dari rumah dan tak kembali. 1 minggu kemudian, ada yang mengirim paket ke rumahku. Aku pikir itu adalah kiriman untuk ayahku. Saat aku buka aku sungguh tak menyangka, isi paket itu adalah potongan tubuh ibuku. Bagian kepala, tanga, kaki, dan tubuhnya sudah terpisah. Tepat saat itu juga, ayah dan adikku terbunuh. Hanya tinggal aku yang tersisa." jelas Matsuri hingga meneteskan air mata.
Semua yang berada di sana merasakan kesedihan yang dirasakan Matsuri, terkecuali Gaara. Sejak kapan Gaara merasa sedih? Terakhir kali ia sedih sejak pengkhianatan Yashamaru.
"Sasuke. Dimana ia sekarang? Apakah orang-orang misterius itu membunuh Sasuke?" ucap Sakura. Butiran air mata mendesak keluar hingga membasahi pipi Sakura dengan derasnya.
"Bagaimana dengan Shino?" Kiba menundukkan kepalanya.
"Ini bukan saatnya untuk bersedih, hati kalian sungguh lemah." ucap Gaara dengan datar.
"Gaara!" tegur Temari.
"Kau tidak memiliki hati, Gaara." terdengar suara yang amat serak dari arah Sai. Ino telah sadarkan diri dan ia mendengar perkataan demi perkataan.
"Ino!" Sai berkata bahagia lalu membantu Ino duduk di sampingnya lalu memeluknya.
'Andaikan di saat Sakura menangis aku bisa memeluknya seperti yang dilakukan oleh Sai.' batin Naruto.
..
..
Keesokan harinya, penyelidikan di Sunagakure. Mereka tidak membagi team karena Sunagakure tidak terlalu besar dan sebagian besar pemuda Konoha tidak tahu jalan di sana.
Kali ini, Matsuri ikut dalam penyelidikan. Jalanan di Desa Suna benar benar sepi, hanya suara burung hantu yang terdengar. Desa ini merupakan desa yang cukup menakutkan bagi orang-orang.
"Hoam, tidak ada serangan musuh." Naruto mulai malas.
"Temari, tolong jangan beri tahu yang lain tentang yang kita lakukan di Konoha kemarin." ucap Shikamaru sedikit berbisik kepada Temari. Temari membalasnya dengan anggukan dan sedikit tersipu malu. Lalu Shikamaru menghampiri Gaara.
"Gaara, jangan beri tahu yang lain apa yang telah aku dan Temari lakukan saat penyelidikan di Konoha." ucap Shikamaru.
"Ya, jika aku tidak lupa." jawab Gaara tanpa menoleh.
"Jika kau memberi tahu, akan kuberi tahu kau kemarin kencan dengan Matsuri kepada yang lainnya." ucap Shikamaru tersenyum licik. Matsuri mendengar perkataan Shikamaru, lalu tersenyum malu.
Tiba-tiba Baki-sensei berlari dan menghampiri mereka.
"Tolong! Temari, Kankuro, Gaara, tolong aku!" seru Baki-sensei.
"Ada apa?" tanya Kankuro.
DARR!
Terdengar ledakan keras dekat gedung Kazekage. Semuanya terkejut. Tanpa disadari, di belakang mereka ada sebuah peledak juga, dan ...
DARR!
Semua terlempar. Secepat kilat Gaara membentuk perisai dari pasir untuk melindungi dirinya dari ledakan. Ino berlari ke dekat Gaara untuk mendapat perlindungan.
"Lindungi aku." ucap Ino ketakutan.
"Pergilah. Aku tak menawarkan pertolongan." ucap Gaara datar.
"Kasar sekali kau!" ucap Ino mengecutkan bibirnya.
"Jangan sekali-kali kasar kepada Ino, pria monster!" Sai sangat marah melihat perlakuan Gaara kepada Ino.
"Hentikan! Seharusnya kita pergi ke sumber ledakan itu!" seru Tenten.
Mereka pun memutuskan pergi ke sumber ledakan itu. Di sekitar gedung Kazekage sudah banyak korban yang berjatuhan.
"Baki-sensei, tadi kau melihat apa?" tanya Temari.
"Saat aku berjalan, 3 orang berjubah misterius itu datang dan merampok bank di sebelah gedung Kazekage." jelas Baki-sensei.
Bank Suna sudah hancur, mereka memutuskan untuk masuk ke dalam reruntuhan bangunan itu. Korban bertebaran dimana-mana. Mata mereka semua memindai untuk mencari kejanggalan. Matsuri menginjak seseorang. Ia melihat Sari, sahabat terbaiknya sudah terkapar tak bernyawa.
"Sari! Mengapa kau bisa berada di tempat ini? Aku tak punya siapa-siapa lagi sekarang" Matsuri menangis tersedu-sedu.
"Kau masih memiliki kami, Matsuri." Sakura mengelus rambutnya.
"Mengapa aku tidak mati saja di sini?" Matsuri menenggelamkan dirinya dalam pelukan Sakura.
Gaara yang terlihat acuh, hatinya mulai meluluh melihat Matsuri. Ia menghampiri Matsuri dan membuat Matsuri berdiri dengan pasirnya.
"Kau tak perlu sedih, aku sudah pernah merasakan hal yang sama." ucap Gaara. "Ayo, lanjutkan penyelidikan." lanjut Gaara kepada yang lainnya dengan datar lalu berjalan memimpin.
Matsuri merasa senang, walau perkataan dingin yang keluar dari mulut Gaara, namun itu bagaikan musik di telinganya. Ia pun mencoba merelakan kepergian Sari.
"Selamat tinggal, Sari. Terimakasih telah bersama denganku sejauh ini." Matsuri mencium kening Sari untuk yang terakhir kalinya. Telah banyak hal yang mereka lalui bersama.
Mereka menyusuri gedung yang kini telah menjadi bangunan yang amat gelap. Neji langsung berlari ke depan Gaara dan menghentikan perjalanan mereka.
"Berhenti, ada seseorang di sana." tunjuk Neji ke arah gelap di sudut ruangan.
Tak satupun dapat melihat ke arah sana.
"Hey! Apa maumu? Mengapa kau terus menyerang desa kami? Sejak kapan kami mengusik keberadaan kalian?" tanya Naruto.
Seseorang di sana melemparkan sebuah kantung berukuran besar ke arah mereka. Kankuro membukanya. Jika diperhatikan, kantung itu seperti berisi... berisi manusia. Benar saja, Kankuro membukanya dan ...
"Kiba, ini yang kau cari?" Kankuro menunjukkan isi kantung itu.
"Shino! Tidak!" Kiba berlari menghampiri Kankuro dan kantung itu. Ia mendapati Tubuh Shino yang masih utuh, tak terluka sedikit pun. Hanya saja ... sudah tak bernyawa. Kiba merasa amat sedih. Shino adalah sahabat terbaiknya tetapi sekarang ia sudah tak memilikinya lagi.
"Hey! Ayo maju! Lawan aku!" seru Kiba. Kiba mencoba berlari ke arah seseorang di sana, namun Gaara menarik tangannya.
"Tidakkah kau berpikir ada jebakan di sana?" ucap Gaara lalu pasirnya melaju sangat cepat ke arah seseorang yang berdiri itu. Pasir itu berhasil menembus tubuhnya lalu Gaara menarik tubuh orang berjubah itu. Setelah mulai terlihat wujudnya, ternyata itu hanyalah boneka. Kankuro terkejut, ternyata seorang kugutsu menjadi pelaku kasus yang sering terjadi.
Sudah hampir 1 jam mereka mengelilingi setiap sudut gedung itu. Mereka tak menemukan apapun di sana. Mereka memutuskan untuk pulang. Mengingat hari ini sudah terlalu larut, Kankuro mengajak semua pemuda Konoha bermalam di kediamannya. Hal itu jelas membuat Gaara tidak suka.
..
..
Sesampainya di kediaman sand siblings, Kankuro mulai membagi kamar di rumahnya untuk ditiduri oleh pemuda-pemuda Konoha.
"Baiklah, kamar di rumah ini ada 4. 1 kamar tidak diizinkan dipakai karena di sana terdapat peninggalan orang tua kami. Para wanita, kalian di kamar Temari." ujar Kankuro yang dijawab dengan anggukan.
"Naruto, Kiba, dan Shikamaru bersama ..." ucapan Kankuro terpotong.
"Jangan dikamarku! Aku ingin sendiri." potong Gaara lalu langsung memasuki kamarnya.
"Ayolah, hanya 1 malam. Baik, kalian bertiga barsama Gaara. Buka saja pintu kamarnya secara paksa. Rusak pun tidak apa-apa." ucap Kankuro.
"Yeah!" seru Naruto.
"Sisanya, bersamaku. Ayo." ajak Kankuro.
Naruto dengan semangat membuka pintu kamar Gaara. Pintunya terkunci.
"Oh, dikunci." ucapnya sambil berusaha membuka.
"Kankuro berpesan 'rusak pun tidak apa-apa'. Jadi?" ucap Kiba dengan senyum seringai dan mengangkat alisnya.
BRAKK!
Pintu kamar Gaara terbuka dengan engsel pintu yang patah.
"Ini pesan Kankuro." ucap Shikamaru dengan tertawa.
"Begini saja menutupnya." Naruto mendorong meja balajar ke balik pintu untuk menahan agar pintu tetap berdiri. "Selesai." lanjutnya lalu langsung memlemparkan diri ke tempat tidur Gaara.
"Kalian datang kemari hanya bermalam tetapi merepotkan sekali!" ucap Gaara dengan kesal.
"Tidak baik marah malam-malam. Hoam!" Shikamaru menyusul Naruto ke tempat tidur dengan posisi yang menghabiskan tempat.
"Hey, rambut nanas, beri aku tempat!" ucap Kiba.
Gaara hanya merasa kesal melihat mereka. Karena tidak ada tempat, Gaara hanya bersandar di pinggir tempat tidur dan duduk di lantai kamarnya. 'Kankuro licik. Membiarkan manusia-manusia bodoh ini tertidur di kamarku.' batinnya.
Di kamar Temari, para wanita bagaikan sedang melakukan pesta bantal. Masing-masing dari mereka saling meminta didandani, ditata rambutnya, dan mencoba pakaian-pakaian Temari yang menurut mereka sangat modis. Kamar Temari adalah yang paling luas, maka mampu menampung 5 orang didalamnya tanpa merasa sempit. Tenten dan Temari saling menatakan rambut masing-masing dari mereka, Sakura dan Matsuri saling mendandani, dan Ino mencoba pakaian-pakaian Temari.
"Temari, pakaian-pakaianmu bagus sekali. Di Konoha tidak ada yang seperti ini." ucap Ino sambil mencoba memakai gaun pesta berwarna ungu milik Temari yang sangat cantik dengan dihiasi bunga.
"Nanti aku ingin mencoba pakaianmu." ucap Sakura.
"Temari, tanpa ikatan rambut kau sangat cantik." puji Tenten yang menatakan rambut Temari."
"Terimakasih. Baiklah, kita jangan tertidur sampai pagi. Anggap saja ini pesta." ucap Temari.
"Aku sering melakukan hal ini bersama Sari." ucap Matsuri. "Ternyata aku masih bisa merasakannya." tambahnya dengan tersenyum bahagia.
Di kamar Kankuro, mereka semua serius memikirkan kasus ini. Masing-masing dari mereka memikirkan strategi untuk mencari tahu siapa orang-orang dibalik jubah itu.
"Bagaimana menurut kalian? Apa penyelidikan ini harus terus berlangsung?" tanya Neji.
"Kita pikirkan." jawab Sai.
"Apa artinya merumuskan semua ini jika tanpa makanan?" ucap Lee dengan tertawa.
"Oh, ya, baik. Aku ambil." Kankuro pergi ke dapur mengambil makanan.
Saat Kankuro mengambil makanan dari lemari kaca di dapur, kaca itu memantulkan bayangan. Kankuro melihat seseorang berjubah di belakangnya, namun saat Kankuro menoleh tidak ada siapapun di sana. 'Mungkin itu hanya halusinasiku' pikirnya. Ia melanjutkan mengambil makanan. Ia mengambil 3 buah toples kaca berisikan kue-kue kering. Tiba-tiba ...
BRANG!
Seseorang memukul Kankuro hingga toples kacanya terjatuh dan pecah. Semuanya terkejut dan berlari ke luar kamarnya, terkecuali seisi kamar Gaara yang kesulitan membuka pintu karena dihalangi meja belajar yang berat.
"Sudah kubilang ini ide buruk." ucap Kiba.
"Benarkah Kankuro mengizinkan pintu ini rusak?" tanya Gaara.
Semuanya mengangguk.
"Mundurlah." Gaara mengambil ancang-ancang lalu berlari melompa ke atas meja tersebut dan mendobrak pintu itu ke arah berlawanan dengan punggungnya hingga membuka. Mereka yang masih di dalam hanya tercengang dan langsung melompati meja belajar itu untuk keluar kamar.
Saat semuanya berada di sumber suara, mereka mendapati Kankuro terkapar dengan kesakitan.
"Apa yang terjadi, Kankuro?" tanya Shikamaru.
"'Mereka' ada di rumah ini. Ahh.." jawab Kankuro merintih kesakitan.
"Kankuro, kau baik-baik saja?" tanya Temari. Shikamaru melihat penampilan baru temari tanpa ikatan rambut dan langsung terpesona melihat rambutnya yang dibiarkan menjuntai. Shikamaru tidak berkedip melihatnya. "Cantiknya.." ucapnya dengan pandangan menetap. Temari menoleh dan ..
Tiba-tiba lampu rumah padam.
"Oh, jangan lagi." ucap Ino yang teringat kejadian di tokonya itu.
"Tenanglah." Sai mendekap Ino.
Neji menyelidiki setiap sudut rumah dengan byakugan miliknya.
"Semuanya berlindung di satu kamar." ucap Lee.
"Kamar Temari paling luas. " ucap Kankuro.
"Jangan! Kamarku berantakan." Temari berkata dengan sedikit terkekeh. "Kamar Gaara saja. Kamarnya selalu rapi." tambah Temari.
"Pintunya rusak. Gaara mendobraknya." ucap Naruto tanpa merasa bersalah padahal ia yang merusaknya pertama kali.
"Apa?!" ucap Temari kesal.
"Kau merusaknya pertama ... Argh! Sudahlah." tunjuk Gaara kepada Naruto.
"Ayo ke kamarku, ah.." ucap Kankuro tetap merintih karena tubuhnya terkena pecahan kaca.
Jam demi jam, menit demi menit, detik demi detik, telah dilewati bersama di kamar Kankuro. Sebagian ada yang tertidur dan sebagian ada yang terjaga. Gaara, Neji, Sai, Temari, dan Sakura terjaga dan sisanya tertidur. Hanya saja Sakura sibuk mengobati luka Kankuro dengan dibantu cahaya lilin.
Pagi hari telah tiba, lampu tiba-tiba menyala. Mereka bersyukur selama akhirnya berhasil melewati malam itu. Pemuda Konoha dan Matsuri berpamitan untuk pulang. Temari dan Gaara seharian penuh akan menjaga Kankuro dan mengobati lukanya. Setelah cukup lama, Temari teringat pintu kamar Gaara yang rusak. Ia memarahi Gaara dan menghukumnya untuk memperbaikinya. 'Keterlaluan Naruto!' batin Gaara. Melihat kamarnya yang sangat kacau itu, Gaara sungguh malas membereskannya.
"Bukannya membantu. Dengan enaknya ia pulang ke Konoha." gumam Gaara yang mulai memperbaiki pintu kamarnya itu.
..
..
Sesampainya di Konohagakure. Masing-masing dari mereka berkumpul di taman desa. Mereka memikirkan apa yang akan mereka lakukan untuk mengungkap misteri ini.
"Bagaimana sekarang? Ah, Shino. Aku ingat bagaimana ia menjahiliku dengan serangga-serangganya. Sekarang? Siapa lagi orang dengan klan 'Aburame' seperti Shino yang bisa berteman denganku?" Kiba mulai sedih. "Aku harus pulang, aku harus melihat keadaan Akamaru sekarang." Kiba pergi meninggalkan yang lainnya.
"Sampai jumpa, Kiba!" teriak Naruto.
"Haruskah kita menemui Hokage?" tanya Tenten.
"Tidak! Aku takut bertemu wanita menyeramkan itu." Shikamaru menolak.
"Lalu bagaimana?" tanya Ino. "Aku tak sanggup hidup begini." lanjutnya.
"Bagaimana jika kita temui Kakashi-sensei?" tanya Naruto.
"Ya, Kakashi-sensei pasti sedang bersama Guy-sensei." Lee mengangguk setuju.
"Langsung saja temui semua sensei, seperti Kurenai-sensei dan Iruka-sensei." ucap Neji.
Mereka langsung pergi ke tempat para sensei. Sesampainya di sana, mereka menceritakan semua yang mereka alami sejak awal penyelidikan beserta barang bukti. Rock Lee lupa untuk mempromosikan pakaian elastisnya sehingga ia pergi ke ruangan Guy-sensei.
Saat di ruangan Guy-sensei, ia merasa ada sesuatu yang aneh. Lampu ruangan tiba-tiba meredup. Ia cepat-cepat membawa pakaian-pakaian itu.
BRAK!
Pintu ruangan tertutup dan terkunci dengan sendirinya.
"Seseorang! Tolong aku!" teriak Lee sambil mengetuk pintu dengan keras.
Dari ruang perkumpulan, mereka semua mendengar teriakan Lee.
"Ada apa itu? Ayo lihat!" ajak Kurenai-sensei.
Mereka mencoba membuka pintu itu, namun tak bisa.
"Ruangannya gelap. Lee! Lee!" ucap Guy-sensei.
"Lihat dari jendela!" ucap Kakashi-sensei.
Dari dalam terlihat seseorang berdiri di depan Lee yang sedang terkapar di lantai dengan pedang yang meneteskan darah. Apa? Meneteskan darah? Orang itu membunuh Lee! Semua yang berada di luar hanya terpaku melihatnya. Lantai yang semula bersih, kini bersimbahkan darah. Mereka tak tahu pasti apa yang dilakukan orang itu karena orang berjubah itu menghalangi Rock Lee dari pandangan mereka yang berada di luar. Mereka memperhatikan orang yang sedang membelakanginya itu, orang tersebut memiliki postur tubuh tidak terlalu tinggi dan berambut merah. Berambut merah? Semua terkejut.
"Gaara?!" teriak Naruto, Sakura, Tenten, Neji, Sai, Ino, dan Shikamaru serentak.
To be continue ...
Review? Follow? Fav? Thanks before.
Thank you for reading.
What do you think?
