Disclaimer : Masashi Kishimoto
Genre : Mystery
Rated : T
"The Cases are Not Over!"
Chapter 4
Para pemuda Konohagakure langsung mendatangi kediaman sand siblings, namun para sensei memilih untuk mengamankan Rock Lee dan mencari jejak pelaku sebenarnya. Mereka tiba di gerbang Sunagakure.
"Pasir-pasir ini menenggelamkan kakiku." ucap Ino.
"Kurasa tadi tidak begini." Sakura mengeluh karena tempat pijakan di Sunagakure bagaikan banjir pasir yang mengotori sepatu mereka semua.
"Udara di sini pun tidak menyejukkan, banyak pasir beterbangan. Mungkin karena tadi belum menginjak siang hari maka tak terasa seperti ini." ucap Naruto.
..
..
DUG! DUG! DUG!
Suara palu yang memukul terdengar dari arah kamar Gaara. Gaara yang amat kesal secara sengaja mematahkan pegangan palu itu dalam genggamannya.
"Lihat saja jika kita bertemu, Naruto!" gumamnya.
Para pemuda Konohagakure tiba.
"Gaara! Kami meminta pertanggungjawabanmu!" seru seseorang dari luar rumah.
Temari yang sedang membersihkan kaca jendela di samping rumah pun menghampiri mereka.
"Pertanggungjawaban? Apa maksud kalian?" Temari kebungungan. Gaara pun menghampiri mereka.
"Gaara! Apa kau belum puas atas kemenanganmu di ujian Chuunin? Rock Lee sudah mengakui kekalahannya, tapi kau balas dendam. Apa Lee melukai tubuhmu separah itu hingga kau melakukan hal seperti ini?!" Naruto berbicara dengan satu tarikan napas.
"Hn, bodoh." sindir Gaara.
"Bagaimana bisa Gaara melakukan hal yang kalian sebut tadi? Jelas sekali sejak kalian pulang, Gaara tetap berada di sini memperbaiki kerusakan pintu kamarnya. Ada satu hal lagi, tidakkah kau sadar betapa banyak pasir yang kalian injak dan lihat, sekotor apakah rumah kami? Baru saja badai pasir itu berhenti. Sejak kalian pulang, badai itu datang dan peraturan di sini tak memperbolehkan siapapun keluar rumah pada saat badai. Dimana otak kalian?" jelas Temari dan tentu saja dengan perasaan kesal.
"Gaara adalah seorang pengendali pasir, mana mungkin ia takut badai?" ucap Neji.
"Bahkan ia bisa membuat badai sendiri." tambah Sai.
"Bolehkah aku bicara? Jika menurut pemikiranku, Gaara bukan pelakunya. Lihat, ia masih menggunakan pakaian jaring-jaring yang di gunakan pada saat malam. Tak ada satu kain pengangkut gentong pasir miliknya yang terikat di tubuhnya. Lalu, pernahkah kalian melihat Gaara hanya mengenakan pakaian jaring-jaring ke luar rumah? Bagaimanapun juga ia selalu memakai pakaian tertutup." jelas Shikamaru yang benar-benar membuat Temari terkagum-kagum, ia saja tak terpikirkan akan hal itu.
"Kau berusaha mengambil hati Temari, ya?" ucap Tenten.
"Tidak. Perhatikan saja."
"Ada apa ini? Ahh.." Kankuro keluar rumah dengan sedikit rintihan kesakitan akibat lukanya. "Jelaskan." tambahnya.
"Saat kami pulang ke Konoha, kami menemui para sensei. Lee pergi ke ruangan Guy-sensei dan kami mendengar teriakan. Kami menghampiri teriakan itu dan saat kami lihat, Lee sudah terbunuh dengan simbahan darah di lantai. Saat kami melihat pelakunya, tubuhnya tidak terlalu tinggi, ya, setinggi Gaara. Rambutnya pun merah, seperti Gaara. Maka kami semua berpikiran sama bahwa itu adalah Gaara. Lagipula hanya ia yang pernah memiliki dendam terhadap Lee." jelas Sakura.
"Siapa sensei yang memiliki bekas luka sayatan di wajahnya?" Gaara beranjak dari diamnya.
"Iruka-sensei." jawab Tenten.
"Jika Naruto dibunuh oleh seseorang yang berambut seperti Shikamaru, tetapi kalian belum melihat wajahnya, apakah kalian akan menyangka dan langsung meminta pertanggungjawaban Shikamaru?" Gaara angkat bicara.
"Hey, mengapa aku yang jadi perumpamaan?" Naruto sedikit tidak suka atas pernyataan Gaara.
"Tentu saja!" ucap Ino diiringi anggukan yang lainnya terkecuali Shikamaru.
"Begitu? Padahal sebenarnya pelakunya adalah Iruka-sensei. Jadi hanya karena kesamaan ciri-ciri yang belum pasti kalian akan menyangka kepada orang yang kalian ketahui saja?" ucap Gaara dengan datar namun tetap tenang.
Semua terdiam, tak ada yang berani angkat bicara. Semua menyadari pernyataan Gaara itu benar. Bahkan Temari dan Kankuro tak menyangka atas apa yang diucapkan Gaara. Keheningan pun berlangsung. Mereka semua bingung apa yang harus mereka jawab kepada Gaara. Tak lama, Gaara mengepalkan tangannya. Keluarlah jarum-jarum pasir dari dalam rumah Gaara, tepatnya dari gentong pasirnya. Jarum-jarum itu melesat sangat cepat ke arah para pemuda Konoha. Naruto, Neji, dan Tenten bisa menghindar dengan cepat. Sisanya terkena jarum-jarum itu hingga terluka terkecuali Shikamaru yang tidak diserang sama sekali.
"Pergi dari sini!" kemarahan Gaara mulai memuncak. Ia tak terima namanya tercemar begitu saja.
"Kau membuat serangan tiba-tiba. Kami tak menyerangmu, Gaara!" Ino sangat marah.
Secara diam-diam, Sakura melempar shuriken ke arah Gaara, namun pasir yang selalu aktif melindunginya berhasil menepis serangan itu hingga berbalik menyayat tubuh Sakura.
"Pergi dari sini, atau sekarang juga aku akan habisi kalian seperti Tenten saat ujian Chuunin! Cepat!" ucap Temari.
"Rasakan ini!" Naruto mulai membentuk rasengan dari tangannya.
"Hentikan, ayo pulang." ucap Shikamaru.
"Kau tidak diserang, diam saja!" ucap Naruto.
"Mereka terluka, kita harus mengobatinya. Jika kita ingin bertarung dengan mereka, pilihlah tempat yang sesuai. Ini desa mereka, apakah pantas ninja mengacaukan desa orang lain?" ucap Shikamaru yang lagi-lagi dianggap sangat benar oleh para pemuda Konoha.
"Tunggu pembalasan kami, Gaara!" seru Neji. Lalu mereka pergi meninggalkan sand siblings. Shikamaru menoleh ke belakang dan mengedipkan sebelah matanya ke arah Temari. Jelas sekali, wajah Temari mulai memerah.
..
..
Pemuda Konoha kembali ke desanya dengan perasaan kesal. Mereka bingung, jika bukan Gaara pembunuhnya lalu siapa? Tapi jelas sekali, Gaara menyerang mereka saat tadi di rumahnya. Di sisi lain, pernyataan Shikamaru dan Gaara memang benar.
"Jika dipikir lagi, mungkin pelakunya memang bukan Gaara." ucap Neji.
"Darimana kau tahu?" tanya Sai.
"Kita menyangka pria berambut merah itu Gaara, tapi siapa pelaku lainnya? Mungkin pengguna kugutsu bisa kita katakan itu adalah Kankuro. Tapi yang lainnya? Jika penduduk Sunagakure, sebagian besar dari mereka itu takut pada Gaara, tak mungkin ada yang mau diajak bersekutu bersama Gaara." jelas Neji.
"Kalian ingat ledakan di bank Suna? Sand siblings bersama kita dan aku tidak menemukan hal yang mencurigakan dari mereka." ucap Tenten.
"Sebaiknya kita percepat langkah kita. Kita harus temui para sensei, mungkin mereka menemukan petunjuk. Abaikan luka sayatan di tubuh kita." ucap Sakura.
..
..
Mereka telah tiba di tempat para sensei. Asuma-sensei terkejut melihat beberapa pemuda Konoha yang terluka.
"Apa yang terjadi dengan kalian?" tanya Asuma-sensei.
"Gaara menyerang kami, mungkin karena kami telah menyangka bahwa ia pelakunya." jelas Ino.
"Sepertinya memang bukan Gaara pelaku pembunuh Lee. Tadi kami sempat mengejar pelakunya, ia menyerang kami dengan pedang. Saat sepintas kulihat wajahnya, di dahinya tidak ada lambang 'ai'." jelas Kurenai-sensei.
"Dimana Guy-sensei?" tanya Tenten.
"Ia tak ingin diganggu. Kematian Rock Lee yang tiba-tiba membuat luka yang dalam di hatinya." ucap Kakashi-sensei.
..
..
Malam telah tiba. Setelah keluarganya dibantai habis, Matsuri tinggal sendiri. Kali ini ia benar-benar tinggal sendiri karena sahabatnya telah pergi menyusul keluarganya. Ia hanya terdiam di kursi sambil meratapi kesedihannya memandangi foto Sari, sahabatnya. 'Haruskah setiap aku butuh pertolongan aku mendatangi Gaara, Temari, dan Kankuro?' pikirnya.
GULP!
Lampu rumah Matsuri tiba-tiba padam. Entah sejak kapan di sakunya terdapat sebuah lilin yang langsung ia nyalakan. Dalam hatinya ia berharap akan ada seseorang yang menolongnya, dan orang itu adalah Gaara.
"Matsuri..." suara bisikan terdengar jelas di telinga Matsuri.
"Ah! Siapa kalian?" Matsuri mengarahkan lilinnya ke sumber suara tersebut. Terlihat sesosok pria dengan topeng aneh.
"Kau ingat kejadian yang menimpa keluargamu? Hahaha!"
"Mengapa kau tidak membunuhku saja? Bunuh aku! Bunuh aku!"
"Aku tak akan membunuhmu, tapi aku akan membuatmu menderita. Jika kau mau bekerja sama denganku, kau akan bebas dari penderitaan."
"Tidakkah kau puas melihat hidupku sekarang? Kau membunuh keluargaku dan kau membunuh sahabatku. Mengapa tidak kau bunuh aku dan sahabatku ketika kami sedang bersama?"
"Tidak, kau adalah incaran kami, Matsuri. Hahaha! Jika kau tidak mau menjalankan misi ini, hidupmu tidak akan pernah tenang."
Kedua mata Matsuri sudah berkaca-kaca, terasa semakin panas karena air mata yang mendesak keluar. Tak sanggup membendung air matanya, ia pun menangis.
"Apa yang kalian inginkan dariku?" tanya Matsuri.
"Mudah saja. Aku ingin kau membunuh pemuda-pemuda Konoha agar tidak ada yang menghalangimu."
"Maksudmu?"
"Bawa seorang Jinchuriki kehadapanku pada saat bulan baru muncul. Sekitar 3 hari lagi. Bawa Jinchuriki itu ke bukit pasir. Pasti banyak rintangan, yaitu pemuda-pemuda Konoha. Maka bunuh mereka satu per satu."
"Membunuh para ninja? Bagaimana bisa? Kemampuanku masih jauh dibawah mereka. Tingkatan kemampuanku saja masih jauh dibawah Genin."
"Itu terserah padamu." pria bertopeng itu menepis lilin dari tangan Matsuri hingga apinya padam.
Tak lama, lampu rumah Matsuri kembali menyala dan pria itu sudah menghilang. 'Apa aku harus melakukan itu? Tetapi Jinchuriki yang kutahu hanyalah Gaara. Haruskah aku menyerahkannya?' pikir Matsuri diiringi dengan tangisan.
Ia mengambil sebuah kotak berdebu dari gudang. Kotak itu berisi pedang peninggalan ayahnya. 'Sesungguhnya aku sangat takut dengan senjata. Tapi aku harus melakukannya.' batinnya.
Ia berlatih menggunakan pedangnya, ia menganggap tiang-tiang penyangga gudang dan benda tak berguna lainnya adalah musuhnya. Ia tak menyangka ketika ia mampu menggunakan pedang itu.
"Aku siap!" seru Matsuri lalu pergi ke Konoha. Ia mengenakan jubah panjang dengan penutup kepala dan kerah yang tinggi berwarna merah tua.
'Aku berjanji setelah misi ini selesai, aku akan membunuh para pelaku sebenarnya yang telah merenggut kebahagiaanku. Aku janji!' batinnya.
..
..
Matsuri tiba di Konoha sekitar pukul 2 pagi. Ia mengincar rumah Sai karena ia berpikir kemampuan Sai tidak terlalu hebat. Ia mengendap-ngendap dan menemukan jendela kamar Sai. Sai masih tertidur. Beruntung sekali, jendela kamar Sai tidak dikunci maka Matsuri bisa dengan mudah masuk ke sana. Tanpa disadari, di bawah jendela itu ada sebuah meja dengan tumpukan buku. Matsuri tidak sengaja menendang buku-buku itu hingga terjatuh.
BUK!
"Hn, siapa di sana? Hoam!" Sai terbangun dengan mata yang belum terbuka sempurna.
Matsuri segera mendekati Sai. Ia takut Sai sadar bahwa ada orang asing di kamarnya. Dengan posisi Sai yang sedang duduk, Matsuri mengarahkan pedangnya lurus ke arah Sai dan ...
BUSS!
Pedang itu menusuk jantung Sai dan menembus tubuhnya. Mata Sai terbuka lebar dan seketika itu juga ia mati. Matsuri mencabut pedangnya dan memasukannya kembali ke tampatnya yang diikat di pinggangnya. Matsuri memperbaiki posisi Sai agar seperti orang tertidur. Darah terus mengalir dari tubuh Sai. Selimut Sai berwarna merah tua sehingga tidak terlihat bercak-bercak darah, Matsuri memakaikan selimut itu dengan rapi. Ia membereskan buku-buku yang tadi terjatuh supaya tidak menimbulkan jejak apapun.
Sebelum keluar, Matsuri menoleh kepada Sai. Seketika itu juga ia menangis dan tiba-tiba duduk berlutut. Air yang mengalir deras tak sanggup dihentikan dengan cepat. Ia sadar dirinya telah menjadi pembunuh.
"Sai, maafkan aku. Aku tak punya pilihan. Maafkan aku." sebelum ada yang menyadari, Matsuri segera pergi. Tak lupa, ia pun menutup kembali jendela kamar Sai.
..
..
Pagi hari, Ino menyiapkan makanan untuk diantarkan ke rumah Sai. Ia mengemasnya dengan rapi. Ia keluar rumah dan berpapasan dengan Hinata.
"Ohayou, Hinata-chan." sapa Ino.
"Ohayou. Ino, kau mau pergi kemana? Boleh aku ikut? Ada yang ingin kutanyakan." tanya Hinata.
"Mengantarkan makanan ke rumah Sai. Ayo, Hinata. Dengan senang hati."
"Baiklah. Ino, apa benar Lee telah dibunuh dan pelakunya Gaara?"
"Ya. Lee dibunuh. Namun bukan Gaara pembunuhnya. Awalnya kami kira begitu, tapi penjelasan Shikamaru, Gaara, dan Kurenai-sensei membuktikan bahwa itu bukan Gaara."
"Toko bungamu baik-baik saja?"
"Syukurlah, Hinata. Tak ada yang menyerangku lagi. Kita sampai."
TOK! TOK! TOK!
Ino mengetuk pintu rumah Sai tetapi tidak dibuka.
"Mungkin Sai belum bangun. Kita buka saja." ucap Ino.
Mereka masuk, keadaan rumah sangat sepi. Kamar Sai pun tidak dikunci. Mereka melihat sai masih tertidur. Ino meletakan makanannya di meja.
"Sai, bangunlah. Kubuatkan makanan untukmu. Ayo, bangun. Tak biasanya kau terlambat bangun." ucap Ino.
"Um, Ino, lihat." Hinata menunjuk ke arah tetesan darah dari selimut Sai.
"Sai?" Ino membuka selimut itu dengan panik. "Tidak! Sai!" lalu Ino memeluk Sai.
Hinata membuka jendela untuk mencari pertolongan. Ia melihat Kiba sedang berjalan-jalan bersama Akamaru.
"Kiba! Kemari!" panggil Hinata.
"Ada apa?" Kiba menghampiri dan masuk ke kamar kiba melalui jendela.
"Lihat, ada yang membunuh Sai." ucap Hinata.
"Mati atau tidak, kulitnya tetap saja sama-sama seperti mayat. Hahaha! Benar, 'kan, Akamaru?" Kiba tertawa atas ejekannya.
"Ini serius, Kiba. Cepat panggil yang lain. Kumohon." Ino menangis tersedu-sedu melihat Sai yang sudah tak bernyawa.
Kiba berlari bersama Akamaru untuk mencari teman-temannya. Ia melihat Naruto, Shikamaru, dan Neji sedang berjalan.
"Hey! Kalian semua! Sai dibunuh!" teriak Kiba.
"Apa? Sai?" ucap Naruto.
To be continue ..
Review? Fav? Follow?
Thanks for reading
Just wait for the next chapter.
