Disclaimer : Masashi Kishimoto
Genre : Mystery
Rated : T
"The Cases are Not Over!"
Chapter 5
"Ayo! Segera ke sana!" seru Neji.
Mereka berlari menuju rumah Sai dan mendapati Ino tak henti-hentinya menangis
"Siapa pembunuh sebenarnya?" tanya Naruto.
"Kita beri tahu para sensei. Ayo!" ajak Shikamaru.
"Tunggu, Bagaimana dengan Sai?" tanya Ino.
"Bawa dia." ucap Shikamaru.
..
..
Mereka tiba di tempat para sensei. Melihat tubuh Sai yang sudah kaku, para sensei memutuskan untuk menyelidiki lebih jauh lagi dan meminta Hokage untuk membantu menangani hal ini.
"Mengapa bisa seperti ini?" tanya Kakashi-sensei.
"Aku tidak tahu, saat aku dan Hinata datang, Sai sudah seperti ini." jelas Ino.
"Ini, aku sudah membuat surat pernyataan untuk Hokage. Sebaiknya kita pergi ke gedung Hokage sekarang. Kalian percayakan kepada kami. Jaga diri kalian baik-baik." ucap Yamato-sensei.
"Arigatou, sensei." ucap Naruto menunduk hormat.
..
..
Sakura dan Tenten sedang berjalan-jalan sambil memikirkan hal yang sering terjadi ini. Mereka melihat Ino dan Hinata berjalan menuju toko bunga milik Ino. Terlihat ada yang aneh, Sakura dan Tenten menghampiri mereka.
"Ino! Hinata!" panggil Tenten.
"Oh, hai." sapa Hinata.
"Ino? Mengapa menangis?" tanya Sakura.
"Sai dibunuh, aku tak tahu pasti kejadiannya tapi ketika aku mengantarkan makanan, ia sudah tak bernyawa dengan simbahan darah di tempat tidurnya." jelas Ino.
"Apa? Mengapa kalian tidak memberi tahu kami?" tanya Tenten.
"Ah, sudahlah. Aku ingin menenangkan diri."
Terlihat Matsuri jalan dengan terburu-buru melewati mereka.
"Matsuri? Terburu-buru sekali." ucap Tenten.
"Kau ada di Konoha? Wah, sejak kapan? Mengapa tidak mampir ke rumahku?" tanya Sakura.
"Um, a-aku .. aku hanya me-menginap sa-saja." ucap Matsuri gugup.
"Menginap? Maksudmu?" Sakura keheranan.
"Oh, kau Matsuri. Hajimemashite, Watashi wa Hinata desu." ucap Hinata yang belum pernah melihat Matsuri.
Matsuri hanya tersenyum.
"Kemarin terjadi badai pasir di Sunagakure. Aku tinggal sendiri di sana jadi aku hanya bisa membeli makanan siap saji, tapi kedainya tutup. Saat aku akan membeli bahan makanan mentah, makanannya terlihat tidak segar seperti bermandikan pasir. Maka aku menginap di penginapan Konoha." jelas Matsuri.
"Bagitu, ya? Kau tahu Sai dan Lee? Mereka dibunuh. Lee dibunuh sekitar 2 hari lalu dan Sai sepertinya tadi malam." ucap Tenten.
"Apa? Kalian melihat Sai terbunuh tadi malam?" ucap Matsuri tiba-tiba yang membuat semua merasa heran.
"Maksudmu? Jadi kau tahu?" tanya Sakura.
"Ti-tidak. Ma-maksudku. Bagaimana kalian tahu Sai terbunuh tadi malam? Apa kalian melihat pelakunya?" wajah Matsuri kini bercucuran keringat dingin.
"Sepertinya begitu karena ia terlihat dalam posisi tidur ketika aku mengantarkan makanan." ucap Ino.
"Matsuri? Kau berkeringat. Kau sakit? Dan kau terdengar gugup sekali." ucap Hinata tiba-tiba.
"Ah, aku.. aku baik-baik saja. Aku hanya merasa takut jika mendengar kabar pembunuhan, mengingatkanku pada kejadian itu. Aku harus pergi sekarang, sumimasen." jelas Matsuri lalu pergi meninggalkan mereka.
"Sepertinya terukir luka mendalam di hati Matsuri." ucap Tenten.
..
..
Sang Hokage yang sedang sibuk mengurusi dokumen-dokumen, kedatangan para sensei akademi.
"Hokage-sama, ada yang ingin menemuimu." ucap asisten Hokage yang senantiasa memeluk babi kecil.
"Suruh mereka masuk, Shizune." perintah Sang Hokage. Shizune mempersilakan mereka masuk.
"Konnichiwa, Hokage-sama. Langsung saja pada tujuan kami, kau tahu soal pembunuhan yang sering terjadi di Konohagakure, bukan?" tanya Kakashi-sensei.
Sang Hokage yang sedang sibuk menulis dokumen kini meletakkan penanya. Lalu tertunduk dan ditahan dengan tangannya.
"Tak hanya kalian yang mendatangiku. Sudah banyak orang yang datang kemari. Sudah kukerahkan pasukan ANBU untuk pengawasan setiap malam tapi tetap saja. Aku sudah mengirim surat kerjasama kepada Kazekage karena kudengar Sunagakure mengalami hal yang sama. Sepertinya Kazekage pun akan mengutus seseorang datang kemari." jelas Tsunade.
"Baiklah. Murid kami terus berkurang hari demi hari. Semoga dengan ini penanganannya tepat." ucap Kurenai-sensei.
"Arigatou gozaimasu, Hokage-sama" ucap Yamato-sensei.
..
..
Keadaan Kankuro sudah membaik, bahkan sekarang ia mampu bertarung lagi. Temari, Kankuro, dan Gaara kembali menjadi team yang hebat. Baki-sensei mendatangi rumah sand siblings.
TOK! TOK! TOK!
"Oh, Baki-sensei. Okaerinasai." Temari menyambut kedatangan gurunya.
"Tujuanku kemari, aku ingin menyampaikan sesuatu kepada kalian. Kazekage mendapat surat dari Hokage untuk bekerja sama. Kazekage mengutusku untuk menangani hal ini. Tapi aku tak mungkin melakukannya sendiri. Kalian adalah murid terbaik. Kupilih kalian untuk misi bersamaku. Bagaimana?" jelas Baki-sensei.
"Boleh saja." ucap Kankuro.
"Sebaiknya kita ke Konoha sekarang." ucap Baki-sensei.
Mereka pun pergi ke Konohagakure.
Sampailah mereka di Konoha. Mereka tidak memakan waktu perjalanan yang lama karena mereka shinobi dan kunoichi yang sangat kuat dan terlatih. Mereka langsung menuju gedung Hokage.
"Hokage-sama, mereka sudah datang." ucap Shizune.
"Sambut mereka, Shizune." perintah Tsunade.
"Okaerinasai." sambut Shizune dengan senyum termanisnya.
Pertama ia melempar senyumnya kepada Gaara, tapi Gaara hanya menatapnya datar. Mungkin akan terjadi badai besar jika Gaara membalas senyum seseorang. Shizune memperhatikan penampilan mereka satu per satu. 'Mengapa orang Sunagakure berpenampilan aneh? Gentong pasir, kipas raksasa, karasu? Ah, sudahlah.' pikir Shizune.
"Bagaimana? Kalian menerima ajakan kerja samaku?" tanya Tsunade.
"Ya. Apa rencanamu?" tanya Baki-sensei.
"Aku sedang menyusun rencana itu. Sebaiknya kalian bermalam di Konoha."
"Maaf, Hokage-sama, bukankah Konohagakure merupakan desa dengan kekuatan militer terkuat diantara desa lainnya? Mengapa kau mengajak kerja sama seperti ini? Apa di amegakure, otogakure, dan desa lain tidak terjadi hal seperti ini?"
"Konohagakure itu desa yang paling sering diserang. Sekali pun kami kuat, tapi tak ada salahnya jika bekerja sama, bukan? Aku hanya mendengar Sunagakure yang mengalami hal ini. Lagipula kekerabatan Konohagakure dangan Sunagakure adalah yang paling dekat." jelas Tsunade.
"Baiklah jika begitu. Arigatou, Hokage-sama."
"Dou itashimashite. Shizune, suruh pengawal mengantar mereka ke penginapan." perintah Tsunade.
Pengawal pria berseragam rapi pun datang. Ia langsung mengantar Baki-sensi dan sand siblings ke penginapan dekat gedung Hokage. 1 kamar berukuran sedang untuk Baki-sensei dan 1 kamar berukuran sangat besar untuk sand siblings. Kankuro dan Temari memilih untuk beristirahat, sementara Gaara pergi berjalan-jalan.
Gaara berjalan menyusuri gedung-gedung dan rumah-rumah di Konohagakure. Konohamaru sedang berlari-lari, ia tak melihat bahwa Gaara sedang berjalan dihadapannya.
DUK!
Konohamaru terjatuh karena menabrak tubuh keras Gaara. Gaara menatapnya dengan lekat. Itu membuat Konohamaru terkejut. Pasir pun bergerak mengelilingi tubuh Konohamaru, bahkan kini menyelimutinya.
"Sabakukyu!" Gaara menggunakan jutsu yang mematikan untuk membunuh Konohamaru.
"AAAAAA!" Konohamaru berteriak.
Belum sempat Gaara mengepalkan tangannya, Naruto datang.
"Gaara! Jangan! Ia temanku! Hentikan!" seru Naruto.
Naruto sangat takut Gaara mengepalkan tangannya. Jika sudah dikepal, darah Konohamaru tumpah di tangan Gaara. Gaara pun akhirnya membiarkan pasir itu kembali masuk ke gentongnya. Lalu ia berjalan melanjutkan perjalanannya. Naruto menahan tangan Gaara.
"Apa yang kau lakukan kepadanya? Konohamaru masih sangat kecil, apa salahnya kepadamu?" tanya Naruto.
"Lepaskan aku." ucap Gaara lalu tetap berjalan.
"Orang aneh, seperti monster." ucap Konohamaru.
"Ah, sudahlah. Lain kali kau berhati-hati jika bertemu dengannya. Eh? Gaara? Jadi Gaara yang ikut menjalankan misi kerja sama antara Konoha dan Suna yang dimaksud Kakashi-sensei?" ucap Naruto.
"Apa maksudmu?" tanya Konohamaru.
"Tidak, sampai nanti!" Naruto berlari mengejar Gaara dan meninggalkan Konohamaru. "Gaara!" panggilnya lalu menyusul jalan Gaara.
"Gaara, kau ikut misi kerja sama itu?" tanya Naruto.
"Hn."
"Benarkah? Kita menjalankan misi bersama lagi? Wah."
"Pergi sana."
"Apa maksudmu? Aku memang akan pergi. Aku hanya ingin menanyakan hal itu saja." Naruto pun berjalan berlawanan arah Gaara.
Gaara bertemu dengan Matsuri yang sedang jalan terburu-buru ke arah berlawanan dengan Gaara.
"Ga-Gaara? Kau di sini?" tanya Matsuri.
"Hn." Gaara menjawab tanpa menoleh dan tetap berjalan.
Matsuri cemas karena takut Gaara mengetahui bahwa ia telah menjadi pembunuh.
"Ga-Gaara-kun, apa kau tahu pembunuh Sai?" Matsuri berlari menyusul Gaara.
"Bukan urusanku." ucap Gaara datar, tanpa menoleh, dan tetap berjalan. Matsuri pun terdiam.
..
..
Pemuda Konoha sedang berkumpul di taman. Mereka memperbincangkan misi baru mereka yang mereka belum ketahui pasti tugasnya.
"Kalian tahu? Sejak awal misi kita belum pernah melibatkanmu, Choji." ucap Shikamaru.
"Ya, ini adalah misi pertamaku bersama kalian." ucap Choji.
"Tadi aku bertemu Gaara. Ia ikut misi ini juga." ucap Naruto.
"Gaara di sini? Apa ada Temari juga?" tanya Shikamaru dengan rona merah.
"Mungkin." jawab Naruto.
"Aku malas ikut misi ini. Sangat merepotkan. Tapi jika Temari ikut. Baiklah aku ikut." ucap Shikamaru.
"Kau tak serius menjalani misi ini." ucap Ino.
Sand siblings pun datang.
"Kami ditugaskan untuk membuat rencana bersama kalian." ucap Temari.
"Oh, Temari." raut wajah Shikamaru berubah ketika melihat Temari, begitupun sebaliknya.
Dan mereka pun memperbincangkan rencananya.
..
..
Malam telah tiba. Ino menutup tokonya lebih awal.
"Sekarang baru pukul 7 malam, tapi sudah sepi." ucapnya.
Ino melihat seseorang dengan jubah merah memakai masker di seberang tokonya. Orang itu tak lain adalah Matsuri. Matsuri menuju toko Ino. Ino mulai takut, tapi pelaku pembunuhan itu berjubah hitam bukan merah. Lagipula jubah merah itu tidak menutupi sekujur tubuh, hanya sepanjang paha dan telapak tangannyapun masih terlihat. Matsuri masuk toko Ino.
"Sumimasen. Aku mencari bunga." ucap Matsuri yang menyamar itu.
"Si-silakan. Pilih saja." Ino mulai takut dan tangan kirinya sudah menggenggam kunai yang disembunyikan di balik punggungnya.
Matsuri memilih-milih bunga Shiragiku.
'Shiragiku? Wanita ini memilih bunga kematian? Mengerikan sekal malam-malam begini ke pemakaman.' batin Ino.
"Aku beli bunga Shiragiku 10 tangkai." ucap Matsuri.
"6 yen."
"Baiklah." Matsuri memasukan tangannya ke dalam jubah namun bukan untuk mengambil uang, melainkan mengeluarkan pedang katananya.
SRING!
Pedang itu menyayat lengan Ino dan hampir memenggal kepalanya, namun Ino menahan dengan kunainya dan kunainya pun melukai tangan Matsuri. Pedang itu dengan cepat berpindah ke sisi lain tubuh Ino yang melukainya lebih dalam. Itu membuat Ino melepas kunainya.
"Ah!" Ino merintih.
"Kubuat kau bertemu dengan pasangan hidupmu, Sai!" Matsuri tidak sadar, masker penutup mulutnya menurun sehingga terlihat wajahnya.
"Hey! Aku tahu siapa dirimu! Matsuri?"
BUSSHH!
Pedang katana milik Matsuri berhasil menembus tubuh Ino dengan tempat yang sama persis ketika menusuk tubuh Sai.
Saat Ino sudah terkapar, Matsuri menaruh bunga Shiragiku dipelukan Ino karena bunga itu dimaksudkan untuk kematian Ino. Lagi-lagi Matsuri meneteskan air matanya. Ia merasa sangat bersalah. Ia mengambil kunai yang tergeletak dan berniat untuk membunuh dirinya sendiri. Namun dari luar ia mendengar celotehan berisik Naruto, maka ia bersembunyi.
"La.. la.. la..la... malam yang indah!" seru Naruto sambil bersenandung.
Rupanya Naruto hanya lewat saja. Matsuri memutuskan untuk menyerang Kiba. Ia mengurungkan niatnya untuk bunuh diri. Segeralah ia keluar. Pria bertopeng tiba-tiba ada dihadapan Matsuri.
"Besok adalah hari dimana kau harus membawa seorang jinchuriki. Siapa incaranmu?" tanya pria bertopeng itu.
"Ga-Gaara." jawabnya.
"Buat pria itu tidak membawa senjata apapun. Mengerti?" lalu pria bertopeng itu berlari dan menghilang bagai tertiup angin.
Matsuri bergegas ke rumah Kiba. Sama halnya dengan Sai, ia mendapati Kiba tertidur dan masuk melewati jendela kamarnya. Saat katana sudah diberdirikan tegak lurus dengan tubuh Kiba. Tiba-tiba ..
GUK! GUK! GUK!
Akamaru menggonggong dengan keras dan membuat Kiba bangun.
"Kau ingin membunuhku? Sayangnya tak akan bisa. HAHAHA!" Kiba segera bangkit dari tempat tidur dan mengejar Matsuri. Matsuri langsung mundur dan berlari ke luar jendela saat Kiba terbangun.
"Hey! Berhenti!" Kiba dan Akamaru mengejar Matsuri.
Penutup kepala Matsuri terbuka tertiup angin hingga rambutnya terlihat jelas.
"Kurasa aku tahu siapa dirimu!" ucap Kiba.
Matsuri tak berani menoleh. Ia merasa lelah, maka berbelok ke jalan kecil dan bersembunyi di tumpukan sampah. Kiba merasa kehilangan jejak namun penciumannya yang tajam menuntun langkahnya ke tempat persembunyian Matsuri.
'Seseorang, tolong aku!' batin Matsuri. Air mata membasahi pipi Matsuri, ia merasa putus asa karena kali ini ia gagal dan Kiba hampir mengetahui siapa dirinya sebenarnya.
Pria bertopeng aneh itu datang dan menghadang Kiba dan Akamaru.
"Kalian mencariku?" tanya pria itu.
"Bukan, aku tak punya urusan denganmu. Aku mencari wanita berjubah merah, bukan pria aneh sepertimu." jawab Kiba.
"Aku dapat mengubah wujudku."
"Buktikan saja. Jika benar, maka aku berurusan denganmu." jawaban-jawaban Kiba membuat pria bertopeng itu kebingungan.
Tiba-tiba datang pria berambut merah yang menusukkan sesuatu kepada Kiba dan Akamaru, seperti obat bius. Saat itu juga mereka tak sadarkan diri.
"Matsuri, kau boleh keluar sekarang." ucap pria berjubah itu. "Mengapa kau bodoh sekali? Seharusnya tak ada yang boleh melihatmu!" tambahnya.
"Gomenasai, gomenasai. Sudah kukatakan bahwa kemampuanku di bawah tingkat Genin." ucap Matsuri.
"Jika hal ini terulang, jangan harap kami datang membantu." ucap pria berambut merah itu lalu mereka berdua pergi menghilang.
Matsuri terdiam, ia merasa bersalah karena dirinya benar-benar sudah menjadi pembunuh. Ia pun segera pergi. Ia takut Kiba dan Akamaru sudah sadar kembali. Mereka dibiarkan terkapar di jalanan, sedangkan Matsuri melarikan diri.
To be continue...
Review? Fav? Follow?
Thanks for reading.
Sorry for my mistakes.
